Você está na página 1de 129

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY.

L
DI BIDAN PRAKTIK MANDIRI SRI REZEKI
KECAMATAN MUARA DUA
KOTA LHOKSEUMAWE

Laporan Tugas Akhir

Disusun oleh:

Maria Fitriana Ulfa


NPM: 34400615079

AKADEMI KESEHATAN
PEMERINTAH KABUPATEN ACEH UTARA
PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN
2018

1
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. L
DI BIDAN PRAKTIK MANDIRI SRI REZEKI
KECAMATAN MUARA DUA
KOTA LHOKSEUMAWE

Laporan Tugas Akhir

Untuk memenuhi Sebagian Persyaratan Menyelesaikan Pendidikan


Pada Program Studi Diploma III Kebidanan
Akademi Kesehatan Pemkab Aceh Utara

Disusun oleh:

Maria Fitriana Ulfa


NPM: 34400615079

AKADEMI KESEHATAN
PEMERINTAH KABUPATEN ACEH UTARA
PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN
2018

1
HALAMAN PERSETUJUAN

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. L


DI BIDAN PRAKTIK MANDIRI SRI REZEKI
KECAMATAN MUARA DUA
KOTA LHOKSEUMAWE

Dipersiapkan dan disusun oleh:

Maria Fitriana Ulfa


NPM : 34400615079

Telah disetujui oleh

Pembimbing I Pembimbing II

ROSYITA,SST NOVA SUMAINI P,SST.,MPH


Nip:198102072006042023 Nip:197008281994032005

1
HALAMAN PENGESAHAN

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY.L


DI BIDAN PRAKTEK MANDIRI SRI REZEKI
KECAMATAN MUARA DUA
KOTA LHOKSEUMAWE

Dipersiapkan dan di susun oleh :

Maria Fitriana Ulfa


NIM : 34400615079

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji


Pada Tanggal 18 Juli 2018

Susunan Dewan Penguji

Penguji I: Rosyita, SST ( )


NIP. 19810207 200604 2 023

Penguji II: Erlina, SST.,MM.Kes ( )


NIP. 19670430 198910 2 001

Penguji III: Yenni Fitri Wahyuni, S.SiT ( )


NIP. 19800812 2008001 2 003

Mengetahui
DIREKTUR AKADEMI KESEHATAN
PEMERINTAH KABUPATEN ACEH UTARA

Anda Syahputra, S.Kep., M.Kes


NIP. 19781225 200604 1 005

1
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji bagi ALLAH SWT yang telah

memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan

Tugas Akhir (LTA) ini dengan judul: “ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF

pada Ny. L di BIDAN PRAKTIK MANDIRI (BPM) SRI REZEKI KECAMATAN

MUARA DUA KOTA LHOKSEUMAWE Tahun 2018”. Shalawat dan salam tidak

lupa penulis sampaikan kepada Baginda Rasullah Muhammad SAW yang telah

membawa umat manusia dari alam yang dipenuhi dengan ilmu pengetahuan.

Dalam penyusunan LTA ini penulis banyak menghadapi berbagai kesulitan,

tetapi berkat bimbingan, pengarahan dan bantuan berbagai pihak terutama do’a serta

dukungan dari Ayahan dan Ibunda tercinta maka LTA ini dapat terwujud. Oleh karena

itu penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih dan penghargaan yang setinggi-

tingginya kepada:

1. Bapak Anda Syahputra, S.Kep, M.kes, selaku Direktur Akademi Kebidanan

Pemerintah Kabupaten Aceh Utara.

2. Ibu Jasmiati, SST., M.Keb selaku Wakil Direktur Bidang Akademi jurusan

Kebidanan pada Akademi Kesehatan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara.

3. Ibu Elizar MPH,selaku Wakil Direktur Bidang administrasi dan keuangan

Akademi Kesehatan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara.

4. Ibu Nova Sumaini Prihatin,SST.,MPH. Selaku Wakil Direktur Bidang

Kemahasiswaan Akademi Kesehatan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dan

1
selaku pembimbing II yang sudah banyak membantu penulis dalam

menyelesaikan LTA.

5. Ibu Rosyita,SST. Selaku pembimbing I yang telah banyak membimbing dan

memberi banyak masukan kepada penulis dalam menyelesaikan LTA ini.

6. Ibu Erlina, SST.,M.Kes selaku penguji II serta Ibu Yenni Fitri Wahyuni, S.SiT

selaku penguji III yang telah banyak memberi masukan kepada penulis dalam

menyelesaikan LTA ini.

7. Ibu Sri Rezeki selaku Bidan yang telah memberikan izin kepada penulis untuk

melakukan penelitian.

8. Ny. L pasien yang telah bersedia menjadi pasien saya sehingga saya dapat

menyelesaikan Laporan Tugas Akhir.

9. Dosen dan Staf pelajar yang telah memberikan banyak ilmu, nasehat dan

petunjuk selama dalam pendidikan.

10. Teristimewa untuk Ayahanda dan Ibunda tercinta yang telah memberikan

semangat dan do’a untuk keberhasilan penulis dalam menempuh pendidikan.

11. Adik-adik, Calon Pedampingku, dan sahabaku “POKEMON” yang telah

memberikan semangat dan membantu untuk menyelesaikan Laporan Tugas Akhir

Ini.

12. Teman-teman seangkatan Akademi Kesehatan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara

yang telah memberikan masukan dan kerjasama dalam penyusunan Laporan

Tugas Akhir Ini.

1
Penulis menyadari bahwa Laporan Tugas Akhir ini tidak lepas dari kesalahan

baik dalam merangkai kata maupun dalam pengetikan. Oleh karena itu, penulis

dengan lapang dada menerima kritikan dan saran yang sifatnya membangun dan

penulis berharap LTA yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Lhokseumawe, Juli 2018

Penulis

DAFTAR ISI

1
HALAMAN JUDUL…………………………………………………………. i

HALAMAN PERSETUJUAN......................................................................... ii

HALAMAN PENGESHAN............................................................................. iii

HALAMAN PERSEMBAHAN....................................................................... iiii

KATA PENGNTAR.......................................................................................... iv

DAFTAR ISI..................................................................................................... v

DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................... vi

DAFTAR SINGKATAN................................................................................... vii

INTISARI......................................................................................................... viii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 1

A. Latar Belakang..................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah................................................................................. 5

C. Ruang Lingkup..................................................................................... 6

D. Tujuan................................................................................................... 6

E. Manfaat................................................................................................. 7

BAB II TINJAUAN TEORITIS.................................................................... 9

A. Teoritis Kasus....................................................................................... 9

B. Stantar Asuhan Kebidanan.................................................................... 81

C. Kewenangan Bidan............................................................................... 89

D. Teori Menajemen Asuhan Kebidanan Menurut Hellen Varney

dan Soap............................................................................................... 93

BAB III STUDI KHASUS ............................................................................. 93

1
A. Jenis Laporan Kasus............................................................................. 98

B. Lokasi dan Waktu................................................................................. 98

C. Subjek Laporan Kasus.......................................................................... 98

D. Instrumen Laporan Kasus..................................................................... 99

E. Teknik Pengumpulan Data.................................................................... 99

F. Alat dan Bahan..................................................................................... 100

BAB IV TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN ................................. 102

A. Tinjauan Kasus……………………………………………………… 102

B. Pembahasan…………………………………………………………. 121

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.......................................................... 128

A. Kesimpulan........................................................................................... 128

B. Saran..................................................................................................... 129

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………….. 130

LAMAPIRAN

1
DAFTAR SINGKATAN

AKI : Angka Kematian Ibu

AKB : Angka Kematian Bayi

ANC : Ante Natal Care

ASI : Air Susu Ibu

APGAR : Appearance Pulse Grimace Activity Respiration

AKDR : Alat Kontrasepsi Dalam Rahim

APN : Asuhan Persalinan Normal

BB : Berat Badan

BBL : Bayi Baru Lahir

BBLR : Bayi Baru Lahir Rendah

BPM : Bidan Praktik Mandiri

CPD : Cepahalo Pelvic Dsproportion

1
DEPKES : Departemen Kesehatan

DTT : Desinfektan Tingkat Tinggi

DJJ : Detak Jantung Janin

GSI : Gerakan Sayang Ibu

HB : Hemoglobin

HCG : Human Chorionic Gonadotropin

HDK : Hipertensi Dalam Kehamilan

HPHT : Hari Pertama Haid Terakhir

INC : Intra Natal Care

IMD : Inisiasi Menyusui Dini

IMT : Indeks Massa Tubuh

IUGR : Intrauterine Growth Restriction

KEMENKES : Kementerian Kesehatan

KMS : Kartu Menuju Sehat

KIA : Kartu Identitas Anak

KB : Keluarga Berencana

KPD : Ketuban Pecah Dini

LTA : Laporan Tugas Akhir

LILA : Lingkar Lengan Atas

MENKES : Menteri Kesehatan

MAK III : Manajemen Aktif Kala Tiga

1
MAL : Metode Amenorea Laktasi

MDGS : Millenium Development Goals

PAP : Pintu Atas Panggul

PNC : Post Natal Care

PMS : Penyakit Menular Seksual

RISKESDAS : Riset Kesehatan Daerah

SAR : Segmen Atas Rahim

SBR : Segmen Bawah Rahim

SPOG : Spesialis Obstetri dan Ginekologi

SOAP : Subjek Objek Assesment Planning

SUPAS : Survei Penduduk Antar Sensus

SDKI : Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia

TD : Tekanan Darah

TT : Titanus Toxoid

TTP : Tanggal Taksiran Persalinan

TFU : Tinggi Fundus Uteri

UUB : Ubun-Ubun Besar

UUK : Ubun-Ubun Kecil

WHO : World Health Organization

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap jam, satu perempuan meninggal dunia ketika melahirkan atau karena

sebab-sebab yang berhubungan dengan kehamilan. Selain itu, setiap tiga menit di

manapun termasuk indonesia, satu anak balita meninggal dunia.Penurunan angka

kematian bayi baru lahir (neonatus)tampaknya terhenti (United Nations

Children’s Fund [UNICEF],2010).

Kementerian Kesehatan menyebutkan, Angka Kematian Ibu (AKI) di

Indonesia tercatat 350 per 100.000 kelahiran. Sementara tahun 2016 menunjukan

angka 4.834, di tahun 2015 angkanya mencapai 4.897, dan di tahun 2014

angkanya 5.048. Artinya Indonesia, dari angka yang dilaporkan saja, ada angka

400.000 ibu meninggal setiap bulan, dan 15 ibu meninggal setiap harinya,

1
penyebab tertinggi kematian ibu di tahun 2016, 32 persen diakibatkan

pendarahan. Sementara 26 persen diakibatkan hipertensi yang menyebabkan

terjadinya kejang, keracunan kehamilan sehingga menyebabkan ibu meninggal

(Kemenkes,2015).

(AKI) di Dunia sebanyak 289.000 jiwa, Amerika Serikat mencapai 9300

jiwa, Afrika Utara 179.000 jiwa. Untuk AKI di Negara-negara Asia Tenggara

yaitu Indonesia 214 per 100.000 kelahiran hidup, Filipina 170 per 100.000

kelahiran hidup, Vietnam 160 per 100.000 kelahiran hidup, Thailand 44 per

100.000 kelahiran hidup, Brunei 160 per 100.000 kelahiran hidup, dan Malaysia

39 per 100.000 kelahiran hidup (World Health Organization[WHO], 2014).


Millenium Development Goals (MDGs) berakhir pada akhir 2015 dan

digantikan dengan kerangka pembangunan yang baru yakni Sustainable

Development Goals (SDGs) yang lebih dikenal dengan AGENDA 2030 yang

disahkan diakhir bulan September 2015. AGENDA 2030 menargetkan AKI 70

per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) 12 per 1.000

kelahiran hidup di tahun 2030 (Rutgers, 2015).


Penurunan AKI di Indonesia terjadi sejak tahun 1991 sampai dengan 2007

sampai dengan 2013, yaitu dari 390 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup.

SDKI tahun 2012 menunjukkan peningkatan AKI dari 228 menjadi 359 kematian

ibu per 100.000 kelahiran hidup. Kemudian berdasarkan hasil Survei Penduduk

Antar Sensus (SUPAS) 2015, AKI kembali menunjukkan penurunan menjadi 305

kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup, AKB sebesar 22,23 per 1000

kelahiran hidup (Kemenkes 2015).

1
Lima penyebab kematian ibu terbesar adalah perdarahan, Hipertensi dalam

kehamilan (HDK), infeksi, partus lama/macet dan abortus. Kematian ibu di

Indonesia masih didominasi oleh tiga penyebab utama kematian yaitu

perdarahan, (HDK) dan infeksi. Proporsi ketiga penyebab kematian ibu telah

berubah dimana perdarahan dan infeksi mengalami penurunan, sedangkan HDK

semakin meningkat hampir 25% kematian ibu di Indonesia pada tahun 2013

disebabkan oleh HDK. Komplikasi yang menjadi penyebab kematian terbanyak

pada neonatal yaitu asfiksia, bayi berat lahir rendah dan infeksi. (Kemenkes RI

2015)
Penyebab AKI di Indonesia terutama sebagian akibat dari terlalu muda

melahirkan, terlalu tua melahirkan atau terlalu sering melahirkan, selain itu juga

karena terlambat penanganan. Sedangkan AKB lebih banyak terjadi didaerah

perdesaan dari pada perkotaan (Rutgers, 2015).


Upaya pemerintah untuk menurunkan AKI, AKB yaitu melalui Safe

Motherhood Initiative yang diluncurkan sejak tahun 1990 untuk memastikan

semua wanita mendapatkan perawatan yang dibutuhkan sehingga selamat dan

sehat selama kehamilan dan persalinan, kemudian melalui program Gerakan

Sayang Ibu (GSI) yang dibentuk pada tahun 1996 oleh Presiden RI dengan

menempatkan bidan di tingkat desa yang bertujuan untuk mendekatkan akses

pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir ke masyarakat (Kemenkes, 2015).

Upaya pemerintah Aceh dalam hal ini yaitu dengan memastikan jaminan

persalinan bagi setiap ibu hamil dan jaminan kesehatan untuk ibu dan bayi baru

lahir terlaksana dengan tepat sasaran serta memastikan setiap ibu melahirkan

1
didampingi oleh tenaga kesehatan yang terlatih serta meningkatkan penggunaan

kontrasepsi paska persalinan dan penanganan komplikasi maternal (Profil

Kesehatan Provinsi Aceh, 2015).


Asuhan yang komprehensif merupakan asuhan penting yang harus di

berikan bidan untuk dapat mendeteksi komlikasi pada masa kehamilan sampai

pada masa KB sehingga dapat dilakukan penangganan yang tepat terhadap

komplikasi yang dialami serta dapat menunjukan jumlah angka kematian ibu dan

angka kematian bayi (Kemenkes RI, 2017).

Penyebab kematian ibu terkait dengan gangguan kehamilan atau terlambat

penanganannya selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari

setelah melahirkan) yang didominasi oleh kematian pada ibu nifas sebanyak 70

jiwa (52%), ibu bersalin sebanyak 34 jiwa (25%) dan ibu dalam keadaan hamil

sebanyak 30 jiwa (23%). Sedangkan penyebab AKB disebabkan asfiksia (25%),

BBLR (21%), gangguan kelainan saluran penafasan (11%), kelainan cacat

kongenital (10%), gangguan kelainan partus (6%), demam (4%), gangguan

kelainan jantung (4%), gangguan kelainan saluran cerna (3%), aspirasi (3%),

diare (2%), pneumonia (2%), sepsis (2%), infeksi (1%) serta penyakit lainnya

(6%). (Profil Kesehatan Provinsi Aceh, 2015).

Berdasarkan Survei dari Dinas kesehatan Kota/Kabupaten Aceh jumlah

kematian ibu tahun 2015 yang dilaporkan adalah 134 ibu dari perhitungan AKI di

Aceh sebesar 134 per 100.000 kelahiran hidup. Bila dibandingkan pada tahun

2014, terjadi penurunan angka dari 149 per 100.000 kelahiran hidup menjadi 134

1
kematian per 100.000 kelahiran hidup. Dan jumlah kematian bayi Di Aceh tahun

2015 sebanyak 1.179 jiwa dan jumlah lahir hidup sebanyak 100,265 jiwa, maka

AKB di Aceh tahun 2015 sebesar 12 per 1000 kelahiran hidup. Angka ini

menurun dari tahun sebelumnya 15 per 1000 kelahiran hidup. Hal ini

menunjukkan semakin baiknya pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan.

(Dinas kesehatan Kota Lhokseumawe, 2015).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Kecamatan Muara Dua

Kota Lhokseumawe tahun 2017 cakupan K1 berjumlah 1.226 jiwa dan K4 1.178

jiwa. Aki berjumlah 3 jiwa, dan Akb berjumlah 6 jiwa, kunjungan ANC

berjumlah 1.226 orang, jumlah persalinan 225 orang dengan ibu bersalin resti 47

orang, jumlah kunjungan nifas 162 orang,jumlah kunjungan KB 1.387 orang

meliputi implan 1 orang, pil 602 orang suntik 971 orang KB aktif.

Berdasarkan data dari BPM Sri Rezeki Kecamatan Muara Dua Kota

Lhokseumawe pada tahun 2017 terdapat cakupan ANC 520 kunjungan, cakupan

KI berjumlah 240 jiwa, dan K4 berjumlah 174 jiwa, pertolongan persalinan

berjumlah 96, Cakupan nifas 166 orang, Bayi Baru Lahir ( BBL) sebanyak 96

dan kasus rujukan sebanyak : 29 orang, PNC 96 dan KB sebanyak 440.

Berdasarkan dari uraian di atas, penulis tertarik menyusun sebuah kasus

untuk dijadikan sebagai Laporan Tugas Akhir (LTA) dengan judul “Asuhan

Kebidanan Komprehensif pada Ny. L di Bidan Praktik Mandiri Sri Rezeki

Kecamatan Muara Dua Kota Lhokseumawe Tahun 2018”.

B. Rumusan Masalah

1
Salah satu tingginya angka kematian ibu (AKI) disebabkan karena

pendarahan yang salah satunya terjadi karena HDK (Hipertensi Dalam

Kehamilan), bila kasus tersebut tidak mendapatkan penanganan segera maka

akan semakin banyak kematian ibu dan terjadinya bayi berat lahir rendah dan

infeksi . Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka dapat dirumuskan

masalah “Bagaimana Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny.L di Bidan

Praktik Mandiri Sri Rezeki Kecamatan Muara Dua Kota Lhokseumawe Tahun

2018”

C. Ruang Lingkup

Adapun ruang lingkup Asuhan Kebidanan Komprehensif yang merupakan

proposal LTA adalah pelaksanaan manajemen pelayanan kebidanan dalam masa

kehamilan dimulai usia kehamilan 28 minggu, persalinan, bayi baru lahir, sampai

6 minggu post partum, dan asuhan KB.

D. Tujuan Penulisan

1. Tujuan umum

Mampu memberikan Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. L di

BPM Sri Rezeki Kecamatan Muara Dua Kota Lhokseumawe Tahun 2018

sesuai standar pelayanan kebidanan dengan pendekatan manajemen

Kebidanan Varney dan dokumentasi dengan metode SOAP.

2. Tujuan khusus

1
a. Mampu melaksanakan asuhan kehamilan pada Ny. L dengan standar

Antenatal Care (ANC)

b. Mampu melaksanakan asuhan persalinan pada Ny. L dengan standar

Asuhan Persalinan Normal (APN).

c. Mampu melaksanakan asuhan (BBL) pada bayi Ny. L dengan standar

asuhan BBL.

d. Mampu melaksanakan asuhan nifas pada Ny. L di dengan standar asuhan

nifas.

e. Mampu melaksanakan pelayanan (KB) pada Ny. L dengan standar

pelayanan keluarga berencana KB.

E. Manfaat

1. Manfaat teoritis
Dapat digunakan untuk menambah ilmu pengetahuan, wawasan dan

keterampilan secara langsung dalam memberikan asuhan yang komprehensif.


2. Manfaat praktis
a. Bagi institusi pendidikan
Sebagai metode penilaian pada mahasiswa dalam melaksanakan tugasnya

dalam menyusun laporan studi kasus, mendidik dan membimbing

mahasiswa agar lebih terampil dalam memberikan asuhan kebidanan

yang komprehensif.
b. Bagi lahan praktik
Sebagai bahan masukan agar dapat meningkatkan mutu pelayanan

kebidanan melalui pendekatan manajemen asuhan kebidanan pada ibu

hamil, bersalin, bayi baru lahir, nifas dan keluarga berencana secara

komprehensif.

1
c. Bagi klien
Mendapat pelayanan asuhan kebidanan secara komprehensif yang sesuai

dengan standar pelayanan kebidanan

BAB II

TINJUAN TEORITIS

A. Teori Klinis
1. Kehamilan
a. Pengertian kehamilan
Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, Kehamilan

di Definisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan

ovum dan di lanjutkan dengan nidasi atau impalantasi. Bila dihitung saat

fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung

dalam waktu 40 minggu atau 9 bulan menurut kalender internasional

(Prawirohardjo, 2010)
Menurut Rukiyah et al Anemia merupakan suatu keadaan adanya

penurunan kadar hemoglobin di bawah nilai normal. Pada penderita

anemia lebih sering di sebut dengan kuran darah, kadar sel darah merah di

bawah nilai normal. Anemia juga di sebabkan oleh kurangnya komsumsi

makanan mengandung zat besi atau adanya gangguan penyerapan zat besi

dalam tubuh (Rukiyah, Ai yeyeh, 2010)

1
b. Fisiologi kehamilan
Menurut Hani et al. (2011) secara garis besar, proses kehamilan

dimulia dari :
1) Pembuahan (fertilisasi), yaitu bertemunya sel telur dan sel sperma.

Saat terjadinya ejakulasi, kurangnya lebih dari 3 cc sperma

dikeluarkan dari organ reproduksi pria yang lebih berisi 300 juta

sperma. Setelah masuk ke organ genitalia interna wanita, sperma

akan menghadapi beberapa rintangan antara lain: lendir vagina yang

bersifat asam, lendir serviks yang kental, panjangnya uterus, serta

silia yang ada di tuba fallopi. Untuk bisa menghadapi rintanga

tersebut, maka sperma harus mempunyai akrosom dan melewati

proses kapasitasi. Sedangkan, ovum akan dikelurkan dari ovarium

sebanyak satu setiap bulan, ditangkap oleh fimbriae dan berjalan

menuju tuba fallopi. Tempat bertemunya ovum dan sperma paling

sering adalah didaerah ampula tuba.


2) Pembelahan (zigot), merupakan hasil dari pembuahan akan

membelah menjadi tingkat 2 sel (30 jam), 4 sel, 8 sel, sampai dengan

16 sel di sebut Blastomer (3 hari) dan membentuk sebuah gumpalan

bersusun longgar, setelah 3 hari sel-sel tersebut akan membelah

membentuk buah arbei dan 16 sel disebut Morula (4 hari). Saat

morula memasuki rongga rahim, cairan mulai merebus zona

pellsuida masuk kedalam ruang antar sel yang ada dimassa sel dalam.

Berangsur-angsur antar sel menyatu dan akhirnya terbentuklah

1
sebuah rongga atau blastokel sehingga disebut blastokista (4 ½-5

hari). Sel yang bagian dalam disebut embrioblas dan sel diluar

disebut trofoblas. Zona pellusida akhirnya menghilang sehingga

trofoblast bisa memasuki dinding rahim (endometrium) dan siap

berimplantasi (5 ½-6 hari) dalam bentuk Blastokista tingkat lanjut.


3) Nidasi/ Implantasi, adalah penanaman sel telur yang sudah dibuahi

(pada stadium blastokista) ke dalam dinding uterus pada awal

kehamilan. Proses nidasi blastokista tingkat lanjut diselubungi oleh

suatu simpai disebut trofoblas yang mampu menghancurkan dan

mencairkan jaringan.
4) Pertumbuhan dan perkembangan embrio, Setelah bernidasi erat

kurang lebih 10 hari setelah fertilisasi, maka akan di mulai proses

pertumbuhan dan perkembangan janin.


c. Tanda dan Gejala Kehamilan
Menurut Hani et al. (2011) untuk menegakkan adanya kehamilan

dengan penilaian terhadap tanda dan gejala sebagai berikut:


1) Tanda tidak pasti
Tanda tidak pasti adalah perubahan–perubahan fisisologi yang

dapat di kenali dari pengakuan atau yang dirasakan oleh wanita hamil.
a) Amenorea (berhentinya menstruasi) Konsepsi dan nidasi

menyebabkan tidak terjadi pembentukan folikel de Graf dan

ovulasi sehingga menstruasi tidak terjadi.


b) Mual dan muntah Pengaruh estrogen dan progesteron terjadi

pengeluaran asam lambung yang berlebihan dan menimbulkan

mual muntah yang terjadi terutama pada pagi hari yang di sebut

morning seedness.

1
c) Ngidam (mengingini makanan tertentu) Wanita hamil sering

menginginkan makanan tertentu, keinginan yang demikian di

sebut ngidam.
d) Syncope (pingsan) Terjadinya gangguan sirkulasi ke daerah

kepala (sentral) menyebabkan iskemia susunan saraf pusat dan

menimbulkan syncope atau pingsan.


e) Kelelahan, Sering terjadi pada trimester pertama akibat

penurunan kecepatan metebolisme pada kehamilan yang akan

meningkat seiring pertambahan usia kehamilan akibat aktivitas

metabolisme hasil konsepsi.


f) Payudara tegang, Estrogen meningkat perkembangan sistem

duktus pada payudara, sedangkan progesteron menstimulasi

perkembangan sisitem alveola payudara.


g) Sering miksi, Desakan rahim kedepan menyebabkan kandung

kemih cepat terasa penuh.


h) Konstipasi atau obstipasi, pengaruh progesteron dapat

menghambat paristaltik usus (tonus otot menurun) sehingga

kesulitan BAB.
i) Pigmentasi kulit, Pigmentasi terjadi pada usia kehamilan lebih

dari 12 minggu
j) Epulis, Hipertropi papila gingnggive/gusi, sering terjadi pada

trimester pertama.
k) Varises atau penampakan pembuluh darah Pengaruh estrogen

dan progesteron menyebabkan pelebaran pembuluh darah

terutama bagi wanita yang mempunyai bakat. Varises dapat

1
terjadi disekitar genitalia eksternal, kaki dan betis, serta

payudara, pembuluh darah ini dapat hilang setelah persalinan.


2) Tanda kemungkinan hamil
Tanda kemungkinan adalah perubahan–perubahan fisologis yang

dapat di ketahui oleh pemeriksa dengan melakukan pemeriksaan fisik

kepada wanita hamil


a) pembesaran perut; Merupakan pembesaran uterus. Hal ini terjadi

pada bulan keempat kehamilan .


b) tanda hegar; Merupakan pelunakan dan dapat di tekannya

isthmus uteri.
c) Tanda goodel; Merupakan pelunakan serviks. Pada wanita yang

tidak hamil serviks seperti ujung hidung, sedangkan pada wanita

hamil melunak seperti bibir


d) Tanda chadwicks; Merupakan perubahan warna terjadi keunguan

pada vulva dan mukosa vagina termasuk juga porsio dan serviks.
e) Tanda piscaseck; Merupakan pembesaran uterus yang tidak

simetris terjadi karena kehamilan ovum berimplantasi pada

daerah dekat dengan kornu sehingga daerah tersebut berkembang

lebih dulu.
f) Kontraksi braxton hicks; Merupakan peregangan sel-sel otot

uterus, akibat meningkatnya actomysin didalam otot uterus.


g) Teraba ballotement; Merupakan Ketukan yang mendadak pada

uterus menyebabkan janin bergerak dalam cairan ketuban yang

dapat di rasakan oleh tangan pemeriksa.


h) Pemeriksaan tes biologis kehamilan (planotes) positif;

Merupakan pemeriksaan human chorionic gonadotropin (HCG)

yang diproduksi oleh sinsiotropoblastik sel selama kehamilan.

1
Hormon ini disekresi di peredaran darah ibu (pada plasma

darah), dan diekskresi pada urien ibu.


3) Tanda pasti hamil
Tanda pasti adalah tanda yang menunjukan langsung keberadaan

janin, yang dapat dilihat langsung oleh pemeriksa.


a) Gerakan janin dalam rahim; harus dapat diraba jelas oleh

pemeriksan, gerakan janin baru dapat dirasakaan pada usia

kehamilan sekitar 20 minggu.


b) Denyut jantung janin; dapat didengar pada usia 12 minggu

dengan menggunakan alat fetal electrocardiograf (misalnya

doppler).
c) Bagian–bagian janin; bagian-bagian janin yaitu bagian besar

janin (kepala dan bokong) serta bagian kecil janin (lengan dan

kaki) dapat diraba dengan jelas pada usia kehamilan lebih tua

(trimester terakhir)
d) Kerangka janin; dapat di lihat dengan foto rongsen maupun USG
d. Perubahan fisiologis pada kehamilan
Menurut Susistyawati (2012); pada ibu hamil mengalami beberapa

perubahan antara lain:


1) Uterus
Ukuran pada kehamilan cukup bulan adalah 30x25x20cm dengan

kapasitas lebih dari 4.000 cc. hal ini memungkinkan bagi adekuatnya

akomodasi pertumbuhan janin. Berat uterus naik secara luar biasa

dari 30 gram menjadi 1.000 gram pada akhir kehamilan. Posisi rahim

dalam kehamilan dalam posisi antefleksi atau retrifleksi,

Vaskularisasi, arteri uterine dan ovarika bertambah diameter,

panjang, dan anak-anak cabangnya, pembuluh darah vena

1
mengembang dan bertambah. Serviks uteri, bertambah vaskularisasi

nya dan menjadi lunak, kondisi ini disebut dengan tanda goodell.

Kelenjar endosevikal membesar dan mengluarkan banyak cairan

mukus, oleh karna itu pertambahan dan pelebaran pembuluh darah,

warnanya manjadi livid, dan ini disebut dengan tanda Chadwick.


2) Ovarium
Ovulasi berhenti namun masih terdapat korpus luteum graviditas

sampai terbentuk plasenta yang akan mengambil alih pengeluaran

estrogen dan progesteron


3) Vagina dan Vulva
Merupakan pengaruh estrogen, terjadi hipervaskularisasi pada

vagina dan vulva sehingga pada bagian tersebut terlihat lebih merah

atau kebiruan, kondisi ini disebut dengan tanda chadwick.


4) Sistem Kardirdiovaskular
Selama kehamilan darah yang dipompa oleh jantung setiap

menitnya atau biasa disebut sebagai curah jantung (Cardiac Output)

meningkat sampai 30-50%. Peningkatan ini mulai terjadi pada usia

kehamilan 6 minggu dan mencapai puncak pada usia kehamilan 16-

18 minggu. Oleh karna itu curah jantung pada saat istirahat juga

meningkat (dalam keadaan normal 70 kali/menit menjadi 80-90

kali/menit). Jumlah sel darah putih (yang berfungsi melindungi tubuh

terhadap infeksi) agak meningkat selama kehamilan dan persalinan.

HB ditemukan adanya hematokrit yang cendrung menurun karena

kenaikan relatif volume plasma darah. Jumlah critrisit cendrung

1
meningkat untuk memenuhi kebutuhan transport O2 yang sangat

diperlukan selama kehamilan.


5) Sistem Urinaria
Selama kehamilan ginjal bekerja lebih berat, ginjal menyaring

darah yang volumenya meningkat (sampai 30-50% atau lebih) yang

puncaknya terjadi pada usia kehamilan 16-24 minggu sampai sesaat

sebelum persalinan (pada saat ini aliran darah keginjal berkurang

akibat penekanan rahim yang membesar).


6) Sistem Gastrointestinal
Rahim yang semakin membesar akan menekan rektum dan usus

bagian bawah, sehingga terjadi sembelit atau konstipasi. Sembelit

semakin berat karena gerakan otot didalam usus diperlambat oleh

tingginya kadar progesteror.


7) Sistem Metabolisme
Dengan terjadinya kehamilan metabolisme tubuh mengalami

perubahan yang mendasar dimana kebutuhan asupan kalsium sangat

diperlukan untuk menunjang kebutuhan, bagi ibu hamil untuk selalu

sarapan selalu sarapan karena kadar glukosa dasar ibu sangat

berperan dalam perkembangan janin, ibu hamil membutuhkan zat

besi rata-rata 3,5mg/hari.


8) Sistem Muskulosklatal
Estrogen dan progesteron memberikan efek maksimal pada

relaksasi otat dan ligamen pelvis pada akhir kahamilan, Relaksasi ini

digunakan oleh pelvis untuk meningkatkan kemampuan menguatkan

posisi janin pada akhir kehamilan dan pada saat kelahiran.


9) Kulit

1
Topeng kehamilan (cloasma gravidarum) adalah bintik-bintik

pigmen kecokelatan yang tampak dikulit kening dan pipi peningkatan

pigmentasi juga terjadi disekeliling puting susu sedangkan diperut

bawah bagian tengah biasanya tampak garis gelap, yaitu spinder

angioma (pembuluh darah kecil yang memberi gambaran seperti

laba-laba) bisa muncul dikulit dan biasanya diatas pinggang,

pelebaran pembuluh darah kecil yang berdinding tipis sering kali

tampak ditungkai bawah.


10) Payudara
Sebagai organ target untuk proses laktasi mengalami banyak

perubahan sebagai persiapan setelah janin lahir.


11) Sistem Endokrin
Selama siklus mentruasi normal, hipofisisanterior memproduksi

LH dan FSH. Follicle stimulating hormone (FSH) merangsang folikel

de graaf untuk menjadi metang dan berpindah kepermukaan ovarium

dimana ia dilepaskan, folikel yang kosang dikenal sebagai korpus

luteum dirangsang oleh LH untuk memproduksi progestreron.


12) Indeks Massa Tubuh (IMT) dan Berat Badan
Pertambahan berat badan ibu hamil menggambarkan status gizi

selama hamil, oleh karna itu perlu dipantau setiap bulan, jika terdapat

kelambatan dalam penambahan berat badan ibu dapat

mengindikasikan adanya malnutrisi sehingga dapat menyebabkan

gangguan pertumbuhan janin intra-uteri (Intra-Uterin Growth

retardation-IUGR).
13) Sistem Pernapasan

1
Wanita hamil bernapas lebih cepat dan lebih dalam karena

memerlukan lebih banyak oksigen untuk janin dan untuk dirinya,

lingkar dada wanita hamil agak membesar, lapisan saluran pernafasan

menerima lebih banyak darah dan menjadi agak tersumbat oleh

penumpukan darah (kongesti). Kadang hidung dan tenggorokan

mengalami penyumbatan parsial akibat kongesti ini. Tekanan dan

kualitas suara wanita hamil agak berubah.


e. Tanda-Tanda bahaya kehamilan
Menurut Sulistyawati (2012) Terdapat 7 tanda bahaya kehamilan,

yaitu:

1) Perdarahan pervaginam
a) Abortus
Menurut Kemenkes (2013) Abortus adalah ancaman atau

pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar

kandungan. WHO IMPAC menetapkan batas usia kehamilan

kurang dari 22 minggu, namun beberapa acuan terbaru

menetapkan batas usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau

berat janin kurang dari 500 gram. Jenis-jenis abortus antara lain :

abortus iminens, abortus insipiens, abortus inkomplit, abortus

komplit, abortus abortion (abortus tertunda).


b) Kehamilan molahidatidosa
Kehamilan anggur yaitu adanya chorionic villi yang tumbuh

berganda berupa gelumbung-gelumbung kecil yang mengandung

banyak cairan sehingga menyerupai anggur atau mata ikan.


c) Kehamilan ektopik

1
Kehamilan ektopik jika kehamilan dengan hasil konsepsi tidak

berada didalam endometrium uterus.


2) Sakit kepala yang hebat
Sakit kepala yang hebat dalam kehamilan menunjukkan masalah

yang serius, dan sakit kepala selama kehamilan gelajala pre-eklamsi.

3) Penglihatan kabur
Masalah visual yang mengindikasikan keadaan yang mengancam

jiwa adalah perubahan visual yang mendadak, misalnya pandangan

yang kabur atau berbayang secara mendadak.


4) Bengkak diwajah dan jari-jari tangan
Bengkak dapat menunjukkan adanya masalah serius jika muncul

pada muka dan tangan, tidak hilang setelah beristirahat, dan disertai

dengan keluhan fisik yang lain.


5) Keluar cairan pervaginam
Keluar cairan berupa air dari vagina pada trimester 3 ibu tidak

terasa, berbau amis, dan warna putih keruh, berarti yang keluar air

ketuban, jika kehamilan belum cukup bulan hati-hati dengan adanya

persalinan preterm dan komplikasi infeksi intrapartum.


6) Gerakan janin tidak terasa
Ibu hamil yang normal akan merasakan gerakan janin minimal 10

kali dalam 24 jam. Jika kurang dari itu, maka waspada akan adanya

gangguan janin dalam rahim, misalnya asfiksia janin sampai kematian

janin.
7) Nyeri perut yang hebat
Jika ibu merasakan nyeri yang hebat, tidak berhenti setelah

beristirahat, disertai dengan tanda-tanda syok yang membuat keadaan

umum ibu makin lama makin memburuk, dan disertai perdarahan

1
yang tidak sesuai dengan beratnya syok, maka kita harus waspada

akan kemungkinan terjadinya solusio plasenta.


f. Penatalaksaan dalam kehamilan
1) Pengertian Antenatal Care
Menurut Prawirohardjo (2011) Antenatal care adalah upaya

preventif program pelayanan kesehatan obstretik untuk obtimalisasi

luaran maternal dan neonatal melalui serangkaian kegiatan pemantau

rutin selama kehamilan.


2) Tujuan Antenatal Care
Menurut Hani et al. (2011) Tujuan asuhan kebidanan dalam

kehamilan pada prinsipnya adalah memberikan layanan atau bantuan

untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil dalam rangka mewujudkan

kesehatan keluarga.
a) Untuk memfasilitasi hasil yang sehat dan positif bagi ibu maupun

bayinya dengan cara membina hubungan saling percaya dengan

ibu.
b) mendeteksi komplikasi-komplikasi yang dapat mengamcam jiwa
c) Mempersiapkan kelahiran
d) Memberikan pendidikan.

3) Standar Pelayanan Antenatal Care


Menurut buku Pedoman Pelayanan Antenatal terpadu 2015, dalam

melakukan pemeriksaan antenatal, tenaga kesehatan harus

memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai standar terdiri dari :


a) Timbang berat badan dan ukur tinggi badan
Penimbangan berat badan pada setiap kali kunjungan

antenatal dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan

pertumbuhan janin. Penambahan berat badan yang kurang dari 9

1
kilogram selama kehamilan atau kurang dari 1 kilogram setiap

bulannya menunjukkan adanya gangguan janin


Pengukuran tinggi badan pada pertama kali kunjungan

dilakukan untuk menapis adanya faktor resiko pada ibu hamil.

Tinggi badan ibu hamil kurang dari 145 cm meningkatkan resiko

untuk terjadinya CPD (Cepahalo Pelvic Disproportion)


b) Ukur tekanan darah
Pengukuran tekanan darah pada setiap kali kunjungan

antenatal dilakukan untuk mendeteksi adanya hipertensi (tekanan

darah ≥ 140/90 mmHg) pada kehamilan dan preeklamsia

(hipertensi disertai bedema wajah dan atau tungkai bawah; dan

atau proteinuria)

c) Nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas /LILA)


Pengukuran LILA hanya dilakukan pada kontak pertama oleh

tenaga kesehatan di trimester I untuk skrining ibu hamil beresiko

kurang energi kronis (KEK), disini maksudnya ibu hamil yang

mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung lama (beberapa

bulan/tahun) dimana LILA kurang dari 23,5 cm. ibu hamil dengan

KEK akan dapat melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR).


d) Ukur tinggi fundus uteri
Pengukuran tinggi fundus uteri pada setiap kali kunjungan

antenatal dilakukan untuk mendeteksi pertumbuhan janin sesuai

atau tidak dengan umur kehamilan. Jika tinggi fundus uteri tidak

sesuai dengan umur kehamilan, kemungkinan ada gangguan

1
pertumbuhan janin. Standar pengukuran menggunakan pita

pengukur setelah kehamilan 24 minggu.


e) Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ)
Menentukan presentasi janin dilakukan pada akhir trimester II

dan selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. Pemeriksaan ini

dimaksudkan untuk mengetahui letak janin. Pada trimester III

bagian bawah janin bukan kepala, atau kepala janin belum masuk

ke pangul berarti ada kelainan letak, panggul sempit atau ada

masalah lain.
Penilaian DJJ dilakukan pada akhir trimester I dan

selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. DJJ lambat kurang

dari 120 kali/menit atau DJJ cepat dari 160 kali/menit menjukkan

adanya gawat janin.


f) Skrining status imunisasi tetanus dan berikan imunisasi tetanus

toksoid (TT) bila diperlukan


Untuk mencegah terjadinya tetanus neonatorum, ibu hamil

harus mendapatkan imunisasi TT> pada saat kontak pertama, ibu

hamil diskining status imunisasi T-nya. Pemberian imunisasi TT

pada ibu hamil, disesuai dengan status imunisasi T ibu saat ini.

Ibu hamil minimal memiliki status imunisasi T2 agar

mendapatkan perlindungan terhadap infeksi tetanus. Ibu hamil

dengan status imunisasi T5 (TT long life) tidak perlu diberikan TT

lagi.
g) Berikan tablet tambah darah (tablet besi)

1
Untuk mencegah anemia gizi besi, setiap ibu hamil harus

mendapatkan tablet tambahan darah (tablet zat besi) Dan Asam

Folat tambah darah (tablet zat besi) dan Asam Folat 90 tablet

selama kehamilan yang diberikan sejak kontak pertama.


h) Periksa laboratorium (rutin dan khusus)
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada ibu

kehamilan adalah pemeriksaan rutin dan khusus. Pemeriksaan

rutin adalah pemeriksaan laboratorium yang harus dilakukan pada

setiap ibu hamil yaitu golongan darah, hemoglobin darah dan

pemeriksaan spesifikasi daerah endermis (malaria, HIV, dll).

Sedangkan, pemeriksaan khusus adalah pemeriksaan

laboratorium yang dilakukan atas indikasi pada ibu hamil yang

melakukan kunjungan antenatal.


i) Tatalaksaan/penanganan kasus
Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal diatas dan hasil

pemeriksaan laboratorium, setiap kelainan yang ditentukan pada

ibu hamil harus ditangani sesuai dengan standar dan kewenangan

tenaga kesehatan. Kasus-kasus yang tidak dapat ditangani dirujuk

dengan sistem rujukan.


j) Temu wicara (konseling)
Temu wicara (konseling) dilakukan pada setiap kunjungan

antenatal meliputi kesehatan ibu, perilaku hidup bersih dan sehat,

peran suami/keluarga dalam kehamilan dan perencanaan

persalinan, tanda bahaya kehamilan, persalinan dan nifas serta

kesiapan menghadapi komplikasi, asupan gizi seimbang, gejala

1
penyakit menular dan tidak menular, penawaran untuk melakukan

testing dan konseling HIV didaerah terkonsentrasi HIV/bumil

resiko tinggi terinfeksi HIV, Inisiasi menyusui dini (IMD) dan

pemberian ASI eklusif, KB pasca persalinan, imunisasi,

peningkatan kesehatan intelegensia pada kehamilan (brain

booster).
4) Jadwal kunjungan dan asuhan Antenatal Care (ANC)
Menurut Dewi & Sunarsih, (2011) jadwal kunjungan dan asuhan

Antenatal Care
a) Trimester I (1x) 16 minggu, asuhan yang diberikan
(1) Penapisan dan pengobatan anemia
(2) Perencanaan persalinan
(3) Perencanaan kompikasi akibat kehamilan dan pengobatan
b) Trimester II (2x) 24-28 minggu dan 32 minggu, asuhan yang

diberikan
(1) Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatan
(2) Penapisan preeklamsia, gemili, infeksi alat reproduksi, dan

saluran perkemihan.
(3) mengulang perencanaan persalinan
c) Trimester III (1x) 36 minggu sampai lahir, asuhan yang diberikan
(1) Sama seperti kunjungan II dan III
(2) Mengenali adanya kelainan letak dan presentasi
(3) Memantau rencana persalinan
(4) Mengenali tanda-tanda persalinan

5) Pemeriksaan abdomen
Merurut Sulistyawati (2012), menggunakan cara leopold dengan

langkah sebagai berikut;


a) Leopold I

1
Bertujuan untuk mengetahui TFU dan bagian janin ada

difundus. Cara pelaksanannya: pemeriksa menghadap pasien,

kedua tangan meraba bagian fundus dan mengukur berapa tinggi

fundus uteri, meraba bagian apa yang ada difundus, jika teraba

benda bulat, melenting, mudah digerakkan, maka itu adalah

kepala. Namun jika teraba bulat, besar, lunak, tidak melenting,

dan susah digerakkan, maka itu adalah bokong janin.


b) Leopold II
Bertujuan untuk mengetahui bagian janin yang ada disebelah

kanan atau kiri ibu. Cara pelaksanannya: kedua tangan pemeriksa

berada disebelah kanan dan kiri perut ibu, ketika memeriksa

sebelah kanan, maka tangan kanan menahan perut sebelah kiri

kearah kanan, raba perut sebelah kanan menggunakan tangan kiri,

dan rasakan bagian apa yang ada disebelah kanan (jika teraba ada

tahanan, maka itu adalah punggung bayi, namun jika terba bagian-

bagian yang kecil dan menonjol, maka itu adalah bagian terkecil

janin).

c) Leopold III
Bertujuan untuk mengatahui bagian janin yang ada dibawah

uterus. Cara pelaksanaannya: tangan kiri menahan fundus uteri,

tangan kanan meraba bagian yang ada dibagian bawah uterus. Jika

teraba bagian yang bulat, melenting, keras, dan dapat

digoyangkan, maka itu adalah kepala. Namun jika teraba bagian

1
yang bulat, besar, lunak, dan sulit digerakkan, maka ini adalah

bokong. Jika dibagian bawah tidak ditemukan kedua bagian

seperti diatas, maka pertimbangan apakah janin letak melintang,

pada latak sungsang (melintang) dapat dirasakan ketika tangan

kanan menggoyangkan bagian bawah, tangan kiri akan merasakan

ballettement (pantulan dari kepala janin, ini ditemukan pada usia

kehamilan 5-7 bulan), tangan kanan meraba bagian bawah (jika

teraba kepal, goyangkan, jika masih mudah digoyangkan, berarti

kepala belum masuk panggul, namum jika tidak dapat

digoyangkan kepala sudah masuk panggul).


d) Leopold IV
Bertujuan untuk mengetahui bagian janin yang ada dibawah

dan untuk mengetahui apakah kepala sudah masuk panggul atau

belum. Cara pelaksanaannya; pemeriksa menghadap kaki pasien,

kedua tangan meraba bagian janin yang ada dibawah, jika teraba

kepala, tempatkan kedua tangan didua belah pihak yang

berlawanan dibagian bawah, jika kedua tangan konvergen (dapat

saling bertemu) berarti kepala belum masuk panggul, jika kedua

tangan divergen (tidak saling bertemu) berarti kepala sudah masuk

panggul.
2. Persalinan
a. Pengertian persalinan
Menurut Johariah & Ningrum (2012), Persalinan adalah proses

dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu pada

1
usia cukup bulan (setelah 37 minggu) tanda disertai adanya penyulit atau

tanpa bantuan.
Menurut Jannah (2014), Persalinan adalah proses pengeluaran hasil

konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus ke dunia luar. Persalinan

mencakup proses fisiologis yang memukinkan serangkaian perubahan

yang besar pada ibu untuk melahirkan janinnya melalui jalan lahir.

Persalinan dan kelahiran normal merupakan proses pengeluaran janin

yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan

dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa

komplikasi baik pada ibu maupun janin.


b. Fisiologi persalinan
Menurut Lailiana et al. (2011), fisiologi atau mekanisme persalinan

normal terjadi gerakan-gerakan penting dari janin yaitu;

1) Penurunan kepala
Pada primipara kepala janin turun kerongga panggul/masuk ke PAP

pada akhir minggu ke 36 kehamilan, sedangkan pada multipara terjadi

saat mulainya persalinan. Masuknya kepala janin melintasi PAP dapat

dalam keadaan sinklitismus atau asinklitismus, dapat juga dalam

keadaan melintang atau serong, dengan fleksi ringan (dengan diameter

kepala janin suboksipitofrontalis 11,25 cm) atau fleksi sedang (dengan

diameter kepala janin suboksipitofrontalis 11,25 cm). Penurunan

kepala janin terjadi selama persalinan karena daya dorong dari

kontraksi dan posisi serta peneranan (selama kala dua) oleh ibu.
2) Fleksi

1
Semakin turun ke rongga panggul, kepala janin semakin fleksi,

sehingga mencapai fleksi maksimal (biasanya di Hodge III) dengan

ukuran diameter kepala janin yang terkecil, yaitu diameter

suboksipitobregmatika (9,5 cm).


Menurut hokum Koppel, fleksi kepala jamin terjadi akibat sumbu

kepala janin yang eksentrik atau tidak simetris, dengan sumbu lebih

mendekati sub oksiput, maka tahanan oleh jaringan dibawahnya

terhadap kepala yang akan menurun, menyebabkan bahwa kepala

mengadakan fleksi didalam rongga panggul. Pada saat kepala berada

didasar panggul tahanannya akan meningkat sehingga akan terjadi

fleksi yang bertambah besar yang sangat diperlukan agar diameter

terkecil dapat terus turun.


3) Putaran Paksi Dalam
Kepala yang sedang turun melalui diafragma pelvis yang berjalan

dari belakang atas kearah depan. Akibat kombinasi elastisitas

diafagma pevis dan tekanan intra-uteri yang disebabkan oleh his yang

berulang-ulang, kepala mengadakan rotasi atau putaran paksi dalam,

yaitu ubun-ubun kecil memutar kearah depan (UUK berada didalam

simpisis).
4) Ekstensi
Sesudah kepala janin sampai didasar panggul dan ubun-ubun

kecil berada dibawah simpisis sebagai hipomoklion, kepala

mengadakan gerakan defleksi atau ekstensi untuk dapat dilahirkan,

1
maka lahirlah berturut-turut ubun-ubun besar, dahi, muka, dan

akhirnya dagu.
5) Putaran Paksi Luar
Setelah kepala lahir, kepala segera mengadakan rotasi (putaran

paksi luar) yaitu gerakan kembali sebelum putaran paksi dalam terjadi,

untuk menyesuaikan kedudukan kepala dengan punggung anak.


6) Ekspulsi
Setelah kepala lahir, bahu akan berada dalam posisi depan

belakang. Selanjutnya bahu depan dilahirkan terlebih dahulu baru

kemudian bahu belakang. Menyusul trokhanter depan terlebih dahulu,

kemudian trochanter belakang. Maka lahirlah bayi seluruhnya atau

ekspulsi.
c. Tanda-tanda dan gejala persalinan
Menurut Johariah & Ningrum (2012) Sebelum terjadinya persalinan

beberapa minggu wanita hamil memasuki tanda-tanda persalinan, antara

lain sebagai berikut:


1) Lightening atau Settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki

pintu atas panggul terutama pada Primigravida. Pada multigravida

tidak begitu kelihatan.


2) Perut kelihatan lebih melebar, Fundus uteri turun
3) Perasaan sering atau susah buang air kecil (polakisuria) karena

kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.


4) Perasaan sakit diperut dan dipinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi

lemah dari uterus,disebut”False labor pains.


5) Serviks menjadi lembek, mulai mendatar, dan sekresinya bertambah

biasa bercampur darah (bloody show)


d. Faktor yang mempengaruhi persalinan

1
Menurut Rohani et al. (2013) terdapat beberapa faktor yang

mempengaruhi persalinan:

1) Power (tenaga)
Kekuatan yang mendorong janin dalam persalinan adalah His,

kontraksi otot-otot perut, kontraksi diafagma,dan aksi dari ligamen,

kekuatan primer yang diperlukan dalam persalinan adalah His,

sedangkan sebagai kekuatan sekundernya adalah meneran ibu.


2) Passage (jalan lahir)
Terdiri dari atas panggul ibu, yakni bagian tulang dasar panggul,

vagina, dan introitus. Janin harus berhasil menyusuaikan dirinya

terhadap jalan lahir yang relatif kaku, oleh karna itu ukuran dan

bentuk panggu harus ditentukan sebelum persalinan dimulai.


3) Passanger (janin dan plasenta)
Cara penumpang (passenger) atau janin bergerak disepanjang

jalan lahir merupakan akibat interaksi beberapa faktor, yaitu ukuran

kepala janin, presentasi, letak, sikap, dan posisi janin.


Plasenta juga harus melalui jalan lahir sehingga dapat juga

dianggap sebagai penumpang yang menyertai janin. Namun, plasenta

jarang menghambat proses persalinan pada kelahiran normal.


4) Psikis (Psikologis)
Banyak wanita normal bisa merasakan kegairahan dan

kegembiraan saat merasa kesakitan diawal menjelang kelahiran

bayinya. Faktor psikologis meliputi bergai hal seperti; Melibatkan

psikologis ibu, emosi, dan persiapan intelektual, Pengalaman

1
melahirkan sebelumnya, kebiasaan adat, dukungan dari orang terdekat

pada kehidupan ibu


5) Penolong
Peran dari penolong persalinan adalah mengantisipasi dan

menangani komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dan janin, dalam

hal ini tergantung dari kemampuan dan kesiapan penolong dalam

menghadapi proses persalinan.


e. Perubahan dalam proses persalinan
Menurut Johariah & Ningrum (2012) terdapat beberapa perubahan

dalam proses adaptasi fisiologi persalinan, antara lain sebagai berikut:


1) Perubahan organ reproduksi
a) Otot uterus

Distribusi otot polos tidak merata, paling banyak disegmen atas

rahim (SAR) (perbandingan otot polos : jaringan ikat = 90:10). Di

segmen bawah rahim terdapat (20:80), sehingga kontraksi uterus

paling kuat pada SAR. Memiliki 3 lapisan anatomis yaitu: paling

luar (longitudinal dan sirkuler), lapisan tengah berbentuk spiral dan

banyak terdapat vaskularisasi, lapisan dalam berbentuk

longitudinal.

b) Kontraksi uterus.

Pada akhir kehamilan kadar progesteron menurun sehingga

timbul kontraksi.

c) Keadaan SAR dan SBR.

1
SAR dibentuk oleh Corpus Uteri, SBR dibentuk oleh isthmush

uteri

d) Perubahan bentuk rahim.

Pada setiap kontraksi sumbu panjang rahim bertambah panjang

sedangkan ukuran melintang berkurang.

2) Perubahan sistem kardiovaskuler

a) Tekanan darah

Pada setiap kontraksi 400 ml darah dikeluarkan dari uterus

kedalam sistem vaskuler maternal. Sehingga meningkatkan cardio

output/curah jantung (volume darah yang dipompa keluar oleh

jantung) 10-15% pada kala I.

b) Detak jantung

Berhubungan dengan peningkatan metabolisme, detak jantung

secara dramatis naik selama kontraksi. Antara kontaksi detak

jantung sedikit meningkat dari pada sebelum persalinan.

c) Perubahan metabolisme

Metabolisme aerobik dan anaerobik akan secara berangsur

meningkat disebabkan kekhawatiran dan aktivitas otot skeletal.

Peningkatan ini direfleksikan dengan peningkatan suhu tubuh,

1
denyut nadi, output kardiak, pernapasan dan kehilangan cairan

yang mempengaruhi fungsi renal.

d) Perubahan suhu tubuh

Berhubungan karena peningkatan metabolisme, pengeluaran

energi ekstra (berasal dari metabolisme glikogen didalam otot)

terutama saat terjadi kontaraksi. Suhu tubuh sedikit meningkat

selama persalinan terutama selama dan setelah persalinan.

e) Perubahan pernapasan

Berhubungan dengan peningkatan metabolisme, kenaikan

kecil pada laju pernapsan dianggap normal. Hiperventilasi yang

lama dianggap tidak normal.

f) Perubahan sistem renal

Poliuri sering terjadi selama persalinan, mungkin disebabkan

output kardiak, peningkatan angka filtrasi glomerular dan

peningkatan aliran plasma renal. Protein urine dianggap biasa

dalam persalinan.

g) Perubahan gastrointestinal

Motilitas lambung dan absorpsi makanan padat secara

subtansial berkurang selama persalinan

1
h) Perubahan hematologi

Haemoglobin meningkat 1,2 gr/100 ml selama persalinan dan

akan kembali pada tingkat seperti sebelum persalinan sehari

setelah pascasalin kecuali ada perdarahan kecuali ada perdarahan

post partum.

i) Perubahan endokrin

Sistem endokrin akan diaktifkan selama persalinan dimana

terjadi penurunan kadar progesteron dan peningkatan kadar

estrogen, prostaglandin dan oksitosin.

j) Perubahan sistem muskulouskeletal

Akibat peningkatan aktivitas otot menyebabkan terjadinya

nyeri pinggang dan sendi, yang merupakan akibat dari

peningkatan kelemahan sendi saat kehamilan aterem. Pada saat

persalinan ibu bersalin dapat merasakan kram kaki.

Perubahan-perubahan Psikologis yang terjadi pada masa persalianan

adalah:

1) Banyak wanita normal bisa merasakan kegairahan dan kegembiraan

disaat-saat merasakan kesakitan-kesakitan pertama menjelang

kelahiran bayinya.

1
2) Seorang wanita dalam proses kelahiran bayinya merasa tidak sabar

mengikuti irama naluriah dan mau mengatur sendiri, biasanya

menolak nasehat-nasehat dari luar.

3) Wanita mungkin menjadi takut dan khawatir jika dia berada pada

lingkungan yang baru, diberi obat, tidak mempunyai otonomi

sendiri, kehilangan identitas dan kurang perhatian.

f. Tahapan persalinan

Menurut Rohani et al. (2013) terdapat beberapa tahapan dalam

persalinan antara lain sebagai berikut;

1) Kala I (pembukaan)

Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan

pembukaan serviks hingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm),

persalinan kala I terbagi menjadi 2 fase

a) Fase laten

Dimana pembukaan serviks berlangsung lambat dimulai sejak

awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan

secara bertahap sampai pembukaan 3 cm, berlangsung selama 7-8

jam.

b) Fase aktif

Pembukaan serviks 4-10 berlangsung selama 6 jam dan dibagi

dalam 3 subfase;

1
(1)Periode Akselerasi: berlangsung selama 2 jam, pembukaan

menjadi 4 cm.

(2)Periode dilatasi maksimal: berlangsung selama 2 jam,

pembukaan cepat menjadi 9 cm.

(3)Periode deselerasi: berlangsung lambat dalam 2 jam

pembukaan menjadi 10 cm atau lengkap.

2) Kala II (pengeluaran janin)

Dimulai ketika pembukan pembukaan serviks sudah lengkap

(10cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala II pade primipara

berlangsung selama 2 jam dan pada multipara 1 jam.

3) Kala III (pengeluaran plasenta)

Dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya

plasenta dan selaput ketuban, seluruh proses biasanya berlangsung 5-

30 menit setelah lahirnya bayi.

4) Kala IV (pengawasan)

Dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir dua jam setelah

proses tersebut.

g. Partograf

1) Pengertian patograf

Menurut Lailiana et al (2011), Partograf adalah suatu grafik yang

menggambarkan kemajuan persalinan kala I fase aktif dengan

1
merekam kemajuan pembukaan serviks, penurunan bagian terendah

janin, keadaan his, kondisi ibu dan janin.

Partogaraf adalah alat bantu yang digunakan selama persalinan

dan kelahiran normal, akan membantu penolong persalinan untuk

mencatat kemajuan persalinan, kondisi ibu dan janin, asuhan yang

diberikan selama persalinan dan kelahiran, serta menggunakan

informasi yang tercatat, sehingga secara dini mengindefikasi adanya

penyulit persalinan, adan membuat dan membuat keputusan klinik

yang sesuai dan tepat waktu (Prawirohardjo 2011)

2) Tujuan partograf

Menurut Prawirohardjo (2011) tujuan utama penggunaan partograf

adalah untuk mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dan

mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal, juga

dapat mendeteksi secara dini, setiap kemungkinan terjadinya partus

lama.

3) Pengisian partograf

Menurut Prawiroharjo (2011) cara pengisian partograf sebagai

berikut:

a) Cara pengisian halaman depan partograf

(1) Informasi tentang ibu

Lengkapi bagian awal atas partograf secara teliti pada saat

memulai asuhan pesalinan. Waktu kedatangan (tertulis sebagai; “jam”

1
pada partograf) dan perhatikan kemungkinan ibu datang dalam fase

laten persalinan. Catat waktu terjadinya pecah ketuban.

(2) Kesehatan dan kenyamanan janin

Kolom, lajur, dan skala pada partograf adalah untuk pencatatan

(a) denyut jantung janin (DJJ)

Nilai dan cacat denyut jantung janin (DJJ) setiap 30 menit

(lebih sering jiaka ada tanda-tanda gawat janin). Skala angka

sebelah kiri menunjukkan DJJ, Catat DJJ dengan memberikan

tanda titik pada garis yang sesuai dengan angka yang

menunjukkan DJJ, kemudian hubungkan titik yang satu dengan

titik lainnya dengan garis yang tidak terputus. Kisaran normal

DJJ terpapar pada partograf diantara garis tebal angka 180 dan

100, akan tetapi penolong harus waspada bila DJJ dibawah 120

atau diatas 160.

(b) warna dan adanya air ketuban

Nilai air ketuban setiap dilakukan pemeriksaan dalam dan

nilai warna air ketuban jika selaput ketuban pecah. Catat temuan-

temuan dalam kontak yang sesuai dibawah lajur DJJ. Gunakan

lambang berikut;

U : ketuban utuh (belum pecah)

J : ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih

M : ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur mekonium

1
D : ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur darah

K : ketuban sudah pecah dan tidak ada air (kering)

(c) Molase (penyusupan tulang kelapa janin)

Penyusupan adalah indikator penting seberapa jauh kepala bayi

dapat menyesuaikan diri dengan bagian keras panggul ibu. Setiap kali

pemeriksaan dalam, nilai penyusupan kepala janin, catat temuan dikotak

yang sesui dibawah lajur air ketuban. Gunakan lambang-lambang

berikut;

1 :tulang-tulang kepala janin terpisah, satura dengan mudah dipalpasi.

2 :tulang-tulang kaepala janin hanya saling bersentuhan

3 :tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih, tapi masih dapat

dipisahkan

4 :tulang-tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan

(3) Kemajuan persalinan

Nilai dan catat pembukaan serviks setiap 4 jam (lebih sering

dilakukan jika ada tanda-tanda penyulit). Saat ibu berada dalam fase

aktif persalinan, catat pada patograf hasil temuan setiap pemeriksaan.

Tanda “X” harus ditulis digaris waktu yang sesuai dengan lajur besarnya

pembukaan serviks yang dilakukan pertama kali selama masa fase aktif

persalinan digaris waspada. Sedangkan bagian terbawah janin nilai dan

catat turunannya bagian bawah atau presentasi janin. Namun turunan

1
bagian terbawah atau presenatsi janin baru terjadi setelah pembukaan

serviks sebesar 7 cm, yang diukur secara palpasi bimanual.

(4) Kontraksi uterus

Setiap 30 menit raba dan catat jumlah kontarksi dalam 10 menit

dan lamanya kontraksi dalam satuan detik.

(5) Obat-obatan dan cairan yang diberikan

Jika tetesan (drip) oksitosin sudah dimulai, dekumentasikan setiap

30 menit jumlah unit oksitosin yang diberikan pervolume cairan I.V

dalam satuan tetesan permenit.

(6) Nadi, tekanan darah dan temperatur tubuh

(a) Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktif persalinan.

Berikan tanda pada kolom waktu yang sesuai (●)

(b) Nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase aktif

persalinan. Berikan tanda (↕)

(c) Nilai dan catat temperatur tubuh ibu setiap 2 jam, catat dalam

kontak yang sesuai.

(7) Volume urin, protein, atau aseton

Ukur dan catat jumlah produksi urin ibu sedikitnya setiap 2 jam,

jika mengungkinkan saat ibu berkemih, lakukan adanya aseton atau

protein dalam urin.

b) Cara pengisian halaman belakang partograf

(1) Data dasar

1
Data dasar terdiri dari atas tanggal, nama bidan, tempat

persalinan, alamat persalinan, catatan, alasan rujukan, tempat

rujukan dan pendamping pada saat merujuk.

(2) Kala I

Kala I terdiri atas pertanyaan-pernyataan tentang patograf saat

melewati garis waspada, masalah-masalah yang dihadapi,

penatalaksaan, dan hasil penatalaksaan

(3) Kala II

Kala II terdiri atas episiotomi pesalinan, gawat janin, distotosia

bahu, masalah penyerta, penatalaksaan dan hasilnya berikan tanda

“√”

(4) Kala III

Kala III terdiri dari lama kala III, pemberian oksitosin,

penanganan tali pusat terkendali, pemijatan fundus, plasenta lahir

lengkap, plasenta tidak lahir >30 menit, laserasi, atonia uteri,

jumlah pendarahan, masalah penyerta, penatalaksaan dan hasilnya

(5) Bayi baru lahir

1
Informasi bayi baru lahir terdiri atas berat dan panjang badan,

jenis kelamin, penilaian kondisi bayi baru lahir, pemberian ASI,

masalah penyerta, tatalaksana dan pilih hasilnya.

(6) Kala IV

Kala IV berisi tentang tekanan darah, nadi, suhu, tinggi

fundus, kontraksi uterus, kandung kemih, dan pendarahan.

h. Penatalaksanaan dalam proses persalinan

1) Penatalaksaan Asuhan Persalinan Normal (APN)

Dasar asuhan persalinan normal adalah asuhan yang bersih dan

aman selama persalinan dan setelah bayi lahir, serta upaya

pencegahan komplikasi terutama perdarahan pasca persalinan,

hipotermia, dan asfiksia bayi baru lahir. Sementara itu, focus

utamanya adalah mencegah terjadinya komplikasi, (Prawirohardjo

2011)

2) Tujuan Asuhan Persalinan Normal (APN)

Mengupayakan kelangsungan hidup dan mencapai derajat

kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui berbagai upaya

yang terintegrasi dan lengkap secara intervensi minimal sehingga

prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat

yang optimal, (Prawirohardjo 2011)

1
3) Penatalaksaan APN

Menurut Kemenkes (2013), Asuhan persalinan normal sebagai

berikut :

a) Kala I

(1) Beri dukungan dan dengarkan keluhan ibu

(2) Menjaga privasi ibu

(3) Izinkan ibu untuk mandi atau membasuh kemaluannya

setelah buang air kecil/besar

(4) Jaga kodisi ruangan sejuk

(5) Beri minum yang cukup untuk mehindari dehidrasi

(6) Sarankan ibu berkemih sesering mungkin

(7) Pantau parameter berikut secara rutin dengan menggunakan

partograf

(8) Pasang infus

(9) Isi dan letakkan partograf disamping tempat tidur dan

didekat pasien

(10) Lakukan pemeriksaan kardiotokografi jika memungkinkan

(11) Persiapan rujukan jika terjadi komplikasi

b) Kala II, III, IV

Tatalaksana pada kala II, III, dan IV tergabung dalam 60 langkah

APN yaitu:

I. Mengenali tanda dan gejala kala dua

1
1. Memeriksa tanda berikut :

a. Ibu merasakan adanya dorongan seperti ingin meneran.

b. Ibu merasa adanya tekanan pada anus dan rektum.

c. Periunium menonjol dan menipis.

d. Vulva-vagina dan sfingter ani membuka.

II. Menyiapkan Pertolongan Persalinan

2. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esesnsial.

a. Klem, gunting, benang tali pusat, penghisap lendir steril/DTT siap

dalam wadahnya.

b. Semua pakaian, handuk, selimut dan kain untuk bayi dalam kondisi

bersih dan hangat.

c. Timbangan, pita ukur, stetoskop bayi, dan termometer dalam kondisi

baik dan bersih.

d. Patahkan ampul oksitosin 10 unit dan tempatkan spuit steril sekali

pakai di dalam partus set atau wadah DTT.

e. Untuk resusitasi; tempat datar, rata, bersih, kering dan hangat, 3

handuk atau kain bersih dan kering, alat penghisap lendir, lampu

sorot 60 watt dengan jarak 60 cm diatas tubuh bayi.

f. Persiapan bila terjadi kegawatdaruratan pada ibu; cairan dan set infus

3. Kenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih, sepatu tertutup

kedap air, tutup kepala, masker, dan kacamata.

1
4. Lepas semua perhiasan lalu cuci tangan kedua tangan dengan sabun

bilas di bawah air yang mengalir dan kemudian keringkan dengan

handuk atau tisu kering dan bersih.

5. Pakai sarung tangan steril atau DTT untuk pemeriksaan dalam.

6. Ambil spuit dengan tangan yang bersarung tangan, isi dengan oksitosin

dengan 10 unit dan letakkan kembali pada partus set atau wadah DTT

tanpa mengontaminasi spuit.

III. Memastikan Pembukaan Lengkap dan Keadaan Janin Baik

7. Bersihkan vulva dan perinium, dari depan kebelakang dengan kapas

atau kasa yang dibasahi air DTT.

8. Lakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan pembukaan servik

sudah lengkap. Lakukan amniotomi jika selaput ketuban belum pecah,

dengan syarat; kepala sudah masuk kedalam panggul dan tali pusat tidak

teraba.

9. Dekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang

masih memakai sarung tangan kedalam larutan klorin 0,5%, kemudian

lepas sarung secara terbalik dan rendam dalam larutan klorin selama 10

menit cuci kedua tangan setelahnya.

10. Periksa denyut jantung janin (DJJ) segera setelah kontraksi berakhir

untuk memastikan DJJ dalam batas normal (120-160x/menit), ambil

tindakan sesuai jika DJJ tidak normal.

1
IV. Menyiapkan Ibu dan Keluarga untuk Proses Bimbingan Meneran

11. Beritahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik.

12. Minta bantuan keluarga untuk posisi ibu meneran

a) Bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ibu merasa

nyaman.

b) Anjurkan ibu untuk cukup minum.

13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang

kuat untuk meneran.

a) Perbaiki cara meneran apabila caranya tidak sesuai.

b) Nilai DJJ saat kontraksi

14. Anjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi yang

nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60

menit.

V. Mempersiapkan Pertolongan Kelahiran Bayi

15. Jika kepala bayi sudah sampai vulva dengan 5-6 cm, letakkan handuk

bersih diatas perut ibu untuk mengeringkan bayi.

16. Letakkan kain bersih 1/3 bagian dibawah bokong ibu.

17. Buka tutup partus set dan perhatikan kembali kelengkapan alat dan

bahan.

18. Pakai sarung tangan steril atau DTT pada kedua tangan.

VI. Membantu Lahirnya Kepala

1
19. Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm, lindungi

perenium dengan satu tangan yang dilapisi kain bersih dan kering,

sementara tangan lain menahan kepala bayi untuk menahan posisi

defleksi dan membantu lahirnya kepala.

a) Anjurkan ibu untuk meneran sambil bernafas cepat dan dangkal

20. Periksa lilitan tali pusat dan lakukan tindakan yang sesuai jika hal itu

terjadi.

a) Jika lilitan tali pusat di leher bayi masih longgar, selipkan tali pusat

lewat kepala bayi.

b) Jika lilitan tali pusat terlalu ketat, klem tali pusat di dua titik lalu

gunting di antara nya

21. Tunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara

spontan.

VII. Membantu lahirnya bahu

22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara biparietal.

Anjurkan ibu meneran saat kontrasi

a) Dengan lembut gerakan kepala ke arah bawah dan distal hingga bahu

depan muncul di bawah arkus pubis.

b) Gerakan atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang.

Membantu lahirnya badan dan tungkai

23. Setelah kedua bahu lahir, geser tangan yang ada di bawahke arah

perinium ibu untuk menyanga kepala , lengan dan siku sebelah bawah.

1
24. Setalah tubuh lengan bayi lahir, lanjutkan penelusuran tangan yang

berada di atas kepunggung, bokong, tunggai dan kaki bayi.

VIII. Pengangan bayi baru lahir

25. Lakukan penilaian selintas untuk menilai apakah ada asfiksia bayi:

a) Apakah kehamilam cukup bulan ?

b) Apakah bayi menangis, bernafas atau tidak megap megap?

c) Apakah tonus otot bayi baik atau bayi bergerak aktif ?

26. Bila tidak ada tanda asfiksia,lanjutkan manajemen baru lahir normal.

Keringkan dan posisikan bayi di atas perut lahir

a) Keringkan bayi dari muka, kepala, dan bagian tubuh lainnya

b) Ganti handuk basah dengan handuk kering

c) Pastikan bayi dalam kondisi baik di atas dada atau perut ibu

27. Periksa kembali perut ibu untuk memastikan bayi lain dalam uterus

IX. Manajemen Aktif Kala III

28. Beritahukan kepada ibu bahwa ibu akan disuntikan oksitosin untuk

membantu uterus berkontraksi baik.

29. Dalam waktu satu menit setelah bayi lahir , berikan suntikan oktsitosin

10 unit secara IM di sepertiga paha atas bagian distalateral (melakukan

aspirasi sebelum penyuntikan)

30. Dengan menggunakan klem, dua menit setelah bayi lahir, cepit tali

pusat pada sekitar 3 cm dari pusat (umbilikus) bayi. Dari sisi luar klem

1
penjepit, doromg isi tali pusat ke distal ibu dan lakukan penjepitan 2

cm distal dari klem pertama .

31. Potong dan ikat tali pusat

32. Tempatkan bayi untuk melakukan kontak kulit ibu ke kulit bayi.

Letakkan bayi dengan posisi tengkurap di dada ibu.

33. Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangan dan kering dan pasang topi

pada kepala bayi.

34. Pindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva.

35. Letakkan satu tangan di atas kain yang ada di perut ibu, tepat di tepi

atas simfisis dan tegangkan tali pusat dan klem dengan tangan yang

lain

36. Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat ke arah bawah sambil

tangan yang lain mendorong ujterus ke arah dorso-kranial secara hati

hati.

X. Mengeluarkan Plasenta

37. Lakukan penegangan dan dorong dorso-kranial hingga plasenta, lalu

minta ibu meneran sambil menarik tali pusat sejajar lantai dan ke arah

atas, mengikuti poros jalan laihir dengan tetap n melakukan tekannan

dorso-kramial.

38. Saat plasenta terlihat di introitus vagina, lanjutkan kelahiran plasenta

dengan kedua tangan.

1
39. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan masase

uterus selama 15 detik dengan meletakkan telapak tangan di fundus

dan lakukan masase dengan geraka melingkar secara lembut hingga

uterus berkontaksi.

XI. Menilai Perdarahan

40. Periksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu maupun janin

dan pastikan bahwa selaput lengkap dan utuh.

41. Evaluasai adanya laserasi pada vagina dan perenium dan melakukan

penjahitan bila laserasi menyebabkan pendarahan aktif.

XII. Melakukan Asuhan Pasca Persalinan (Kala IV)

42. Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi pendarahan

pervaginam.

43. Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan ke dala

larutan klorin 0,5%, membilas kedua tangan yang bersanrung tangan

tersebut dengan air desinfeksi tingkat tinggi dan mengeringkannya.

44. Melepaskan klem bedah dan meletakkan ke dalam larutan klorin 0.5%.

45. Mulai Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dengan cukup waktu melakukan

kontak kulit ibu bayi (di dada ibu minimal 1 jam)

a) Biarkan bayi mencari dan menemukan puting dan mulai menyusu.

b) Sebagian besar bayi akan berhasil dan melakukan IMD dalam waktu

60-90.

1
c) Tunda semua asuhan bayi baru lahir normal dan biarkan bayi berada di

dada ibu selama 1 jam.

46. Setelah kontak ibu – bayi dan IMD selesai :

a) Timbang dan ukur bayi

b) Beri bayi salep atau tetes mata antibiotika profilaktis (tetrasiklin 1%)

c) Suntikan vit K1 1 mg (0,5 ml umtuk persediaan 2 mg/ml) IM dipaha

kiri anterolateral bayi.

d) Pastikan suhu bayi normal (36,5-37,5 0C)

47. Satu jam setelah pemberian Vit K1, berikan suntikan imunisasi

hepatitis B di paha kanan anterolateral bayi.

48. Lanjutkan pemberitahuan kontraksi dan pencegahan perdarahan

pervaginam.

a) Setiap 15 menit pada satu jam pertama

pasca salin.

b) Setiap 30 menit pada jam pasca salin

49. Ajarkan ibu atau keluarga cara melakukan masase uterus dan kontraksi

XIII. Evaluasi

50. Melanjutkan pemantauan dan jumlah kehilangan darah.

51. Periksa tekanan darah, nadi dan keadaan kandung kemih ibu setiap 15

menit selama 1 jam pertama pasca salin dan 30 menit selama jam 2

pasca salin.

1
52. Periksa kondisi bayi untuk memastikan bahwa bernafas dengan baik

(40-60 x/menit) serta suhu tubuh normal (36.5-37,50C)

XIV. Kebersihan dan Keamanan

53. Tempatkan semua bekas pakai dalam larutan klorin 0.5 % untuk

dekontaminasi (10 menit )

54. Buang bahan bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang

sesuai .

55. Bersihkan badan ibu air DTT. Bersihkan sisa cairan ketuban, lendir

dan darah. Memakaikan pakaian yang bersih dan kering

56. Pastikan ibu merasa nyaman

57. Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5%

58. Celupkan sarung tangan kotor kedalam larutan klorin0,5 % balikan

bagian dalam keluar dan rendan dalam larutan klorin selama 10 menit

59. Cuci kedua tangan dengan sabun dengan air bersih mengalir kemudian

keringkan dengan tisu atau handuk yang kering dan bersih.

60. Lengkapi partograf.

4) Inisiasi menyusui dini (IMD)


a) Pengertian IMD
Inisiasi Menyusui Dini (IMD) atau early initiation adalah

permulaan menyusu dini atau bayi mulai menyusu sendiri segera

setelah lahir. Cara bayi melakukan inisiasi menyusu dini ini

dinamakan the breast crawl atau mereangkak mencari payudara.

Inisiasi Menyusu Dini akan sangat membantu dalam

1
berlangsungan pemberian ASI ekslusif (ASI saja) dan lama

menyusui. Dengan demikian, bayi akan terpenuhi kebutuhan

hingga 2 tahun, dan mencegah anak kurang gizi.


Pemerintah Indonesia mendukung kebijakan WHO dan Unicef

yang merekomendasikan inisiasi menyusu dini sabegai tindakan

‘penyelamat hidup, karena inisiasi menyusu dini dapat

menyelamatkan 22 persen dari bayi yang meninggal sebelum usia

satu bulan. “Menyusu satu jam pertama kehidupan yang diawali

dengan kontak kulit antara ibu dan bayi dinyatakan sebagai

indikatot global’’. Ini merupakan hal baru bagi Indonesia dan

program pemerintah, sehingga diharapkan semua tenaga kesehatan

tingkatkan pelayanan kesehatan baik swasta, maupun masyarakat

dapat mensosialisasikan dan melaksanakan mendukung suksesnya

program tersebut, sehingga diharapkan akan tercapai sumber daya

Indonesia yang berkualitas, (Sari &Rimandini 2014)


b) Tujuan IMD
Menurut Kementrian Kesehatan (2014) tujuan IMD antara lain:

1) Kontak kulit dengan kulit membuat ibu dan bayi lebih tenang.

2) Saat IMD bayi menelan bakteri baik dari kulit ibu yang akan

membentuk koloni dikulit dan usus bayi sebagai perlindungan

diri.

3) Kontak kulit dengan kulit antara ibu dan bayi akan

meningkatkan ikatan kasih sayang ibu dan bayi.

1
4) Mengurangi perdarahan setelah melahirkan.

5) Mengurangi terjadi anemia.

c) Manfaat IMD

Manfaat IMD bagi bayi adalah membantu stabilisasi

pernafasan, mengendalikan suhu tubuh bayi lebih baik

dibandingkan dengan inkubator, menjaga kolonisasi kuman yang

aman untuk bayi dan mencegah infeksi nosokomial. Kadar

bilirubin bayi juga lebih cepat normal karena pengeluaran

mekonium lebih cepat sehingga dapat menurunkan inseden ikterus

bayi baru lahir. Kontak kulit, dengan kulit juga membuat bayi

lebih tenang sehinnga didapat pola tidur yang lebih baik. IMD

dapat mengoptimalkan pengeluaran hormon oksitosin, prolaktin,

dan secara psikologis dapat menguatkan ikatan batin antara ibu

dan bayi. (Prawirohardjo 2011)

d) Cara melakukan IMD

Menurut Sari & Rimandini (2014) Tahapan-tahapan dalam

Inisiasi Menyusui Dini;

(1) Dalam proses melahirkan, ibu disarankan untuk

mengurangi/tidak menggunakan obat kimiawi. Jika ibu terlalu

banyak menggunakan obat kimiawi, dikhawatirkan akan

terbawa ASI ke bayi yang nantinya akan menyusu dalam

proses inisiasi menyusu dini.

1
(2) Para petugas kesehatan akan membantu ibu menjalani proses

melahirkan, akan melakuakn kegiatan penanganan kelahiran

seperti biasanya. Begitu pula jika ibu harus menjalani operasi

caesar.

(3) Setelah lahir, bayi secepatnya dikeringkan seperlunya tanpa

menghilangkan vernix (kulit putih) yang menyamakan kulit

bayi.

(4) Bayi kemudian diterungkupkan didada atau perut ibu, dengan

kulit bayi melekat pada kulit ibu. Untuk mencegah bayi

kedinginan, kepala bayi dapat dipakaikan topi. Kemudian,

jika perlu, bayi dan ibu diselimuti.

(5) Bayi yang ditengkurapkan didada atau perut ibu, dibiarkan

untuk mencari sendiri puting susu ibunya (bayi tidak

dipaksakan keputing susu). Pada dasarnya, bayi memiliki

naluri yang kuat untuk mencari puting susu ibunya.

(6) Saat bayi dibiarkan untuk mencari puting susu ibunya, ibu

perlu dukung dan dibantu untuk mengendali perilaku bayi

sebelum menyusu. Posisi ibu yang berbaring mungkin tidak

dapat mengamati dengan jelas apa yang dilakukan oleh bayi.

(7) Bayi dibiarkan tetap dalam posisi kulitnya bersentuhan

dengan kulit ibu sampai proses menyusu pertama selesai.

1
(8) Setelah selesai menysu awal, bayi baru lahir dipisahkan untuk

ditimbang, diukur, dicap, diberikan vitamin K dan tetesan

mata.

(9) Ibu dan bayi tetap bersama dan dirawat gabung.

Memungkinkan ibu menyusui bayinya kapan saja sibayi

mengiginkan, karena kegiatan menyusu tidak boleh

dijadwalkan. Rawat gabung juga dapat meningkatkan ikatan

batin antara ibu dan bayinya, bayi jadi jarang menangis

karena selalu merasa dekat dengan ibunya, dan selain itu

dapat mempermudahkan ibu untuk beristirahat dan menyusui.

3. Bayi Baru Lahir


a. Pengertian bayi baru lahir
Bayi baru lahir disebut juga dengan neonatus merupakan individu

yang sedang bertumbuh dan baru saja mengalami truma kelahiran serta

harus dapat melakukan penyusuaian diri dari kehidupan intrauterin ke

kehidupan ekstrauterin (Dewi, 2013)


b. Perubahan fisiologis pada bayi baru lahir
Menurut Johariyah & Ningrum (2012), Terdapat beberapa tahap

perubahan fisiologi yang terjadi pada bayi baru lahir, antara lain:
4) Perubahan Sistem Pernafasan
a) Perkembangan paru-paru
Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari

pharynx, yang bercabang dan kemudian bercabang kembali

membentuk struktur percabangan bronkus. Proses ini terus

berlanjut setelah kelahiran hingga sekitar usia 8 tahun sampai

1
jumlah bronkiolus dan lveolus akan sepenuhnya berkembang,

walou pun janin memperlihatkan adanya bukti gerakan nafas

sepanjang trimester kedua dan ketiga.


b) Awal adanya pernafasan
Pada rangsangan pernafasan pertama bayi, Hipoksia pada

akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang

merangsang pusat pernapasan diotak, Tekanan terhadap rongga

dada, yang terjadi karena kompresi paru-paru selama persalinan,

yang merangsang masuknya udara kedalam paru-paru secara

mekanis.
c) Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernafas
Upaya pernafasan pertama seorang bayi berfungsi untuk,

mengeluarkan cairan dalam paru-paru, mengembangkan jaringan

alveolus paru-paru untuk pertama kali.


d) Dari cairan menuju udara
Bayi cukup bulan mempunyai cairan dalam paru-paru, pada

saat bayi melalui jalan lahir selama persalinan, sekitar sepertiga

cairan ini diperas keluar dari paru-paru. Seorang bayi yang

dilahirkan melalui seksio sesaria kehilangan keuntungan dan

kompresi ranggo dada ini dapat menderita paru-paru basah dalam

jangka waktu lebih lama.


e) Fungsi sistem pernafasan dalam kaitannya sesuai dengan fungsi

kardiovaskular
Oksigenasi yang memadai merupakan faktor yang sangat

penting dalam mempertahankan kecukupan pertukaran udara.

1
Jika terdapat hipoksia, pembuluh darah paru-paru akan

mengalami vasokonstriksi.

5) Perubahan sistem sirkular


Setelah bayi baru lahir harus melewati paru untuk mengambil

oksigen dan mengaakan sirkulasi melalui tubuh guna mengantarkan

oksigen ke jaringan.
6) Perubahan sistem termoregulasi
Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuh mereka,

sehingga akan mengalami stress dengan adanya perubahan-

perubahan lingkungan. Pada saat bayi meninggalkan lingkungan

rahim ibu yang hangat, bayi tersebut kemudian masuk kedalam

lingkungan ruang bersalin yang jauh lebih dingin.


7) Perubahan sistem metabolisme
Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah

tertentu. Dengan tindakan penjepitan tali pusat dengan klem pada

saat bayi lahir seorang bayi harus mempertahankan kadar glokosa

darahnya sendiri.
8) Perubahan sistem gastrointestinal
Sebelum bayi, janin cukup bulan akan mulai menghisap dan

menelan. Refleks gumoh dan refleks batuk yang matang sudah

terbentuk dengan baik pada saat lahir. Kemampuan bayi baru lahir

cukup bulan untuk menelan dan mencerna makanan (selain susu)

masih terbatas

c. Tanda-tanda bayi lahir normal

1
Menurut Dewi (2013), tanda atau ciri-ciri bayi lahir normal antara

lain sebagai berikut;


1) Lahir aterem antara 37-42 minggu
2) Berat badan 2.500-4.000 gram
3) Panjang badan 48-52 cm
4) Lingkar dada 30-38 cm
5) Lingkar kepala 33-35 cm
6) Lingkar lengan 11-12 cm
7) Frekuensi denyut jantung 120-160 x/menit
8) Pernafasan ±40-60 x/menit
9) Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan yang

cukup.
10) Rambut lanugo tidak terlihat dan rambut kepala biasanya telah

sempurna.
11) Kuku agak panjang dan lemas.
12) Nilai APGAR ˃7.
13) Gerak aktif
14) Bayi lahir langsung menangis kuat.
15) Refleks rooting (mencari puting susu dengan rangsangan taktil dan

pipi dan daerah mulut) sudah terbentuk dengan baik.


16) Reflek sucking (isap dan menelan) sudah terbentuk dengan baik.
17) Reflek morro (gerakan memeluk bila dikagetkan) sudah terbentuk

dengan baik.
18) Reflek grasping (menggenggam) sudah baik
19) Genitalia.
a) Pada laki-laki kematangan ditandai dengan testis yang berada pada

skrotum dan penis yang berlubang.


b) Pada perempuan kematangan ditandai dengan vagina adanya utera

yang berlubang, serta adanya labia minora dan mayor.

20) Eliminasi baik yang ditandai dengan keluarnya mekonium dalam 24

jam pertama dan bewarna hitam kecoklatan.

1
d. Tanda-tanda bayi baru lahir abnormal

Menurut Dewi (2013) terdapat beberapa ciri-ciri bayi baru lahir

bermasalah, antara lain sebagai berikut; Bayi tidak bernapas/sulit

bernapas, Bayi sianosis/kebiruan dan sukar bernapas, Bayi berat lahir

rendah (BBLR), Letergi (tonus otot rendah dan tidak ada gerakan

sehingga sangat mungkin bayi sedang sakit berat), Hipotermi (suhu

˂360C), Kejang, Diare, Obstipasi (penimbunan feses yang keras akibat

adanya penyakit atau adanya obstruksi pada saluran cerna, fesas selama 3

hari atau lebih), Infeksi, Sindrom kematian bayi mendadak (Sudden

Inflant Death Syndrome/SIDS).

e. Penatalaksanaan

Menurut Marmi & Raharja (2013) untuk melakukan pencegahan

infeksi pada bayi baru lahir, adalah sebagaikan berikut;

1) Mencuci tangan secara seksama sebelum dan setelah melakukan

kontak dengan bayi

2) Memakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum

dimandikan.

1
3) Memastikan semua peralatan, termasuk klem gunting dan benang tali

pusat telah disinfeksikan tingkat tinggi atau steril. Jika menggunakan

bola karet penghisap, pakai yang bersih dan baru. Jangan pernah

menggunakan bola karet penghisap untuk lebih dari satu bayi.


4) Memastikan bahwa semua pakaian, handuk, selimut serta kain yang

digunakan untuk bayi, telah dalam keadaan bersih.


5) Memastikan bahwa timbangan, pita pengukur, termometer, stetoskop

dan benda-benda lainnya yang akan bersentuhan dengan bayi dalam

keadaan bersih (dekotanminasi dan cuci setiap kali setelah

digunakan).
6) Menganjurkan ibu menjaga kebersihan diri, terutama payudara

dengan mandi setiap hari (puting susu tidak boleh disabun)


7) Membersihkan muka, pantat dan tali pusat dengan air bersih, hangat

dan sabun setiap hari.


8) Menjaga bayi dari orang-orang yang menderita infeksi dan

memastikan orang yang memegang bayi sudah cuci tangan

sebelumnya.
f. Asuhan bayi baru lahir
Menurut Kemenkes (2016) asuhan yang yang dilakukan pada bayi

baru lahir antara lain:


1) Menilai Bayi Baru Lahir
Penilaian bayi baru lahir dilakukan dalam waktu 30 detik pertama.

Keadaan yang harus dinilai pada saat bayi baru lahir sebagai berikut.
a) Bayi cukup bulan.
b) Air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium.
c) Bayi menangis atau bernafas.
d) Tonus otot baik.
2) Menjaga Bayi Tetap Hangat
Mekanisme kehilangan panas tubuh bayi baru lahir

1
a) Evaporasi adalah jalan utama bayi kehilangan panas. Kehilangan

panas dapat terjadi karena penguapan cairan ketuban pada

permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri karena, setelah

lahir tubuh bayi tidak segera dikeringkan, bayi yang terlalu cepat

dimandikan, dan tubuhnya tidak segera dikeringkan dan

diselimuti.
b) Konduksi adalah kehilangan panas tubuh bayi melalui kontak

langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin.


c) Konverksi adalah kehilangan panas tubuh yang terjadi pada saat

bayi terpapar udara sekitar yang lebih dingin


d) Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi kerena bayi

ditempatkan dekat benda-benda yang mempunyai suhu lebih

rendah dari suhu tubuh.


3) Perawatan Tali Pusat
Lakukan perawatan tali pusat dengan cara mengeklem dan memotong

tali pusat setelah bayi lahir, kemudian mengikat tali pusat tanpa

membubuhkan apa pun.


4) Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
Segera setelah bayi lahir dan tali pusat diikat, kenakan topi pada bayi

dan bayi diletakkan secara tengkurap didada ibu, kontak langsung

antara kulit dada bayi dan kulit dada ibu, bayi akan merangkak

mencari puting susu ibu dan menyusu.


5) Pencegahan Infeksi Mata
Dengan memberikan salep mata antibiotika tetrasiklin 1% pada

kedua mata, setelah satu jam kelahiran bayi.


6) Pemberian Suntikan Vitamin K1

1
Semua bayi baru lahir harus diberi suntikan vitamin K1 1mg

intramuskular, dipaha kiri anterolateral segera setelah pemberian

salap mata. Suntikan vitamin K1 untuk mencegah pendarahan BBL

akibat defisiensi vitamin K.


7) Pemberian Imunisasi Bayi Baru Lahir
Imunisasi HB-0 diberikan 1 jam setelah pemberian vitamin K1

dengan dosis 0,5 ml intramuskular dipaha kanan anterolateral.

Imunisasi HB-0 untik mencegah infeksi Hepatitis B terhadap bayi.


4. Masa Nifas
a. Pengertian masa nifas
Masa nifas (purperium) adalah dimulai setelah plasenta lahir dan

berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti seperti keadan

sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu atau

42 hari, namun secara keseluruhan akan pulih dalam waktu 3 bulan. Masa

nifas atau post partum disebut juga puerperium yang berasal dari bahasa

latin yaitu dari kata “puer” yang artinya bayi dan “parous” berarti

melahirkan. Nifas yaitu darah yang keluar dari rahim karena sebab

melahirkan atau setelah melahirkan (Sari & Rimandini, 2014).


b. Fisiologi masa nifas
Menurut Nugroho et al. (2014) Masa nifas (puerperium) adalah masa

setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk

memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6-

12 minggu.

c. Perubahan yang terjadi pada masa nifas


Menurut Dewi & Sunarsih (2013) terdapat beberapa perubahan

fisiologis masa nifas anatara lain sebagai berikut;

1
1) Perubahan sistem reproduksi
a) Uterus
Pada uterus terjadi proses involusi. Proses involusi

kembalinya uterus kedalam keadaan sebelum hamil setelah

melahirkan. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar

akibat kontraksi otot-otot polos uterus.


b) Involusi tempat plasenta
Setelah persalinan, tempat plasenta merupakan tempat

dengan permukaan kasar, tidak rata, dan kira-kira sebesar telapak

tangan. Dengan cepat luka ini mengecil, pada akhir minggu ke-2

hanya sebesar 3-4 cm dan pada akhir nifas 1-2 cm.


c) Perubahan ligamen
Ligamen-ligamen dan diafragma pelvis, serta fasia yang

merenggang sewaktu kehamilan dan partus, setelah jalan lahir,

berangsur-angsur menciut kembali seperti sedia kala


d) Perubahan pada serviks
Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus. Perubahan-

perubahan yang terdapat pada serviks postpartum adalah bentuk

serviks yang akan menganga seperti corong.


e) Lochea
Dengan adanya involusi uterus, maka lapisan luar dari

desidua yang mengelilingi situs plasenta akan menjadi nekrotik.

Desidua yang mati akan keluar bersama dengan sisa cairan.

Campuran antara darah dan desidua tersebut dinamakan lochea.

Ada beberapa macam lochea yaitu: lochea rubra/merah

(kruenta) yang keluar pada hari pertama sampai hari ke-3 masa

postpartum, lochea sanguinolenta/warna kuning yang keluar

1
pada hari ke-3 sampai ke-5 hari postpartum, lochea

serosa/kecoklatan yang keluar pada hari ke-5 sampai hari ke-9

postpartum dan lochea alba/putih yang muncul lebih dari hari ke-

10 postpartum.
f) Perubahan pada vagina dan perineum
Estrogen pascapartum yang menurun berperan dalam

penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Vagina yang

semula sangat teregang akan kembali secara bertahap pada

ukuran sebelum hamil selama 6-8 minggu setelah bayi lahir.


2) Perubahan tanda-tanda vital
a) Suhu badan
Satu hari (24 jam) postpartum suhu badan akan naik sedikit

(37,5-38ºC) sebagai akibat kerja keras waktu melahirkan,

kehilangan cairan, dan kelelahan. Apabila keadaan normal, suhu

badan menjadi biasa.


b) Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 x/menit. Setelah

melahirkan biasanya denyut nadi itu akan lebih cepat.


c) Tekanan darah
Biasanya tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan

rendah setelah melahirkan karena ada pendarahan.


d) Pernapasan
Keadaan pernapasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu

dan denyut nadi. Bila suhu nadi tidak normal, pernapasan juga

akan mengikutnya, kecuali apabila ada gangguan khusus pada

saluran pernapasan.
3) perubahan sistem kardivaskular
a) Volume darah

1
Perubahan volume darah tergantung pada beberapa faktor,

misalnya kehilangan darah selama melahirkan dan mobilisasi, serta

pengeluaran cairan ekstravaskular (edema fisiologis). Pada minggu

ke-3 dan ke-4 setelah bayi lahir, volume darah biasanya menurun

sampai mencapai volume darah sebelum hamil.

b) Curah jantung
Denyut jantung, volume sekuncup, dan curah jantung

meningkat sepanjang masa hamil. Segera setelah wanita

melahirkan, keadaan ini meningkat bahkan lebih tinggi selama 30-

60 menit karena darah yang biasanya melintasi sirkulasi utero

plasenta tiba-tiba kembali ke sirkulasi umum.


c) Perubahan sistem hematologi
Selama kehamilan kadar fibrinogen dan plasma serta faktor-

faktor pembekuan darah meningkat. Pada hari pertama postpartum

kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun, tetapi darah

lebih mengental dengan peningkatan viskositas sehingga

meningkatkan faktor pembekuan darah.


4) Sistem pencernaan pada masa nifas
a) Nafsu makan
Ibu biasanya merasa lapar segera setelah melahirkan sehingga

ia boleh mengonsumsi makanan ringan.


b) Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motolitas otot traktus cerna

menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan

1
analgesia dan anastesia bisa memperlambat pengembalian tonus

dan motilitas ke keadaan normal

c) Pengosongan Usus
Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama 2 sampai 3

hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini bisa disebabkan karena

tonus otot usus menurun selama proses persalinan.


5) Perubahan sistem perkemihan
a) Fungsi sistem perkemihan
Hal yang mempengaruhi fungsi sistem perkemihan antara lain:

hemostatis internal, keseimbangan asam basa tubuh, megeluarkan

sisa metabolisme, racun, dan zat toksin.


b) Sistem urinarius
Perubahan hormonal pada masa hamil (kadar steroid yang

tinggi) turut menyebabkan peningkatan fungsi ginjal, sedangkan

kadar steroid setelah wanita melahirkan sebagian menjelaskan

penyebab penurunan fungsi ginjal selama masa postpartum. Fungsi

ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita

melahirkan.
c) Komponen urine
Glikosoria ginjal di induksikan oleh kehamilan menghilang.

Laktosuria positif pada ibu menyusui merupakan hal yang normal.

Blood Urea Nitrogen (BUN) yang meningkat selama pasca partum

d) Diuresis postpartum
Dalam 12 jam pasca melahirkan ibu mulai membuang

kelebihan cairan yang tertimbun di jaringan selama ia hamil. Salah

satu mekanisme untuk mengurangi cairan yang terentesi selama

1
masa hamil ialah dioforesis luas, terutama pada malam hari, selama

2-3 hari pertama setelah melahirkan. Diuresis pascapartum yang

disebabkan oleh penururnan kadar estrogen, hilangnya peningkatan

tekanan vena pada tingkat bawah, dan hilangnya peningkatan

volume darah akibat kehamilan merupakan metabolisme tubuh

untuk mengatasi kelebihan cairan.


d. Tanda bahaya pada masa nifas
Menurut Rukiyah et al. (2012), terdapat beberapa tanda-tanda bahaya

pada masa nifas yaitu:


1) Pendarahan hebat atau peningkatan pendarahan secara tiba-tiba

(melebihi haid biasa atau jika perdarahan tersebut membasahi lebih

dari 2 pembalut saniter dalam waktu setengah jam).


2) Pengeluaran cairan vagina dengan bau busuk yang keras.
3) Rasa nyeri diperut bagian bawah atau punggung.
4) Sakit kepala yang terus menerus, nyeri epigastrik, atau masalah

penglihatan.
5) Pembengkakan pada wajah dan tangan.
6) Demam, muntah, rasa sakit sewaktu baung air seni, atau merasa tidak

enak badan.
7) Payudara yang memerah, panas, dan sakit.
8) Kehilangan selera makan untuk waktu yang berkepanjangan.
9) Rasa sakit, warna merah, kelembutan atau pembengkakan pada kaki.
10) Merasa sangat sedih atau tidak mampu mengurus diri sendiri dan

bayi.
11) Merasa sangat letih atau bernafas terengah-engah.
e. Penatalaksaan masa nifas
Untuk menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir serta mencegah,

mendeteksi dan mengenangi komplikasi pada masa nifas (Sari &

1
Rimandani 2014). Kunjungan-kunjungan tersebut antara lain sebagai

berikut;
a) 6-8 jam setelah melahirkan
(1)Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.

(2)Mendeteksi dan merawat penyebab lain pendarahan, rujuk bila

pendarahan berlanjut.

(3)Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga

bagaimana mencegah pendarahan masa nifas karena atonia uteri.

(4)Pemberian ASI awal.

(5)Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.

(6)Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi.

b)6 hari setelah persalinan

(1)Memastikan involusi uterus berjalan dengan normal, uterus

berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada pendarahan

abnormal, tidak ada bau.

(2)Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, dan pendarahan

abnormal.

(3)Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan, dan

istirahat.

(4)Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan

tanda-tanda penyulit.

1
(5)Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi dan

perawatan tali pusat, serta menjaga bayi tetap hangat dan merawat

bayi sehari-hari.

c) 2 minggu setelah persalinan

Memastikan rahim sudah kembali dengan normal dengan

mengukur dan meraba bagian rahim.

d) 6 minggu setelah persalinan

(1) Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia alami

atau bayinya.

(2) Memberikan konseling untuk KB secara dini.

5. Keluarga Berencana

a. Pengertian KB
Menurut UU No.10 tahun (1992) dalam Yuhedi & Kurniawati (2015)

keluarga berencana merupakan upaya peningkatan kepedulian dan peran

serta masyarakat, untuk mengatur jaraknya kelahiran, pembinaan

ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk

mewujudkan keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera.


Kontrasepsi pasca persalinan merupakan inisasi pemakaian metode

kontrasepsi dalam waktu 6 minggu pertama pasca persalinan untuk

mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, khususnya pada 1-

2 tahun pertama pasca persalinan. Konseling tentang keluarga berencana

1
atau metode kontrasepsi sebaiknya diberikan sewaktu asuhan antenatal

maupun pasca persalinan.(Mulyani & Rinawati,2013)


1) Suntikan progestin
a) Mekanisme
Suntikan progestin mencegah ovulasi, mengentalkan lendir

serviks sehingga penatrasi sperma terganggu, menjadikan selaput

rahim tipis dan atrofi, dan menghambat transportasi gamet oleh

tuba. Suntiakn diberikan 3 bulan sekali (DMPA).

b) efektifitas
bila digunakan dengan benar, resiko kehamilan kurang dari 1

diantara 100 ibu dalam 1 tahun. Kesuburan tidak langsung

kembali setelah berhenti. Biasanya dalam waktu beberapa bulan.


c) Keuntungan khusus bagi kesehatan
Mengurangi resiko kanker endometrium dan fibroid uterus.

Dapt mengurangi resiko penyakit radang panggul simptomatik

dan anemia defisiensi besi. Mengurangi gejala endometriosis dan

krisis sel sabit pada ibu dengan anemia sel sait


d) Resiko bagi kesehatan
Tidak ada
e) Efek samping
Perubahan pola haid (haid tidak teratur atau memanjang

dalam 3 bulan pertama, haid jarang, tidak teratur atau tidak haid

dalam 1 tahun). Sakit kepala, pusing, kenaikan berat badan, perut

gembung atau tidak nyaman, perubahan suasana perasaan, dan

penurunan hasrat seksual.

1
b. Asuhan KB

Menurut Kemenkes (2016) asuhan yang diberikan pada akseptor

KB berupa konseling komunikasi interaktip antara tenaga kesehatan

dengan ibu dan keluarga. Selama proses tersebut, tenaga kesehatan

mendorong ibu dan keluarga untuk saling bertukar informasi ndan

memberikan dukungan dalam perencanaan atau pengambilan keputusan

serta tindakan yang dapat meningkatkan kesehatan ibu. Memastikan ibu

maupun keluarga mengerti tentang informasi yang disampaikan dan

diterapkan, dengan cara meminta ibu dan keluarga menjelaskan informasi

dan menyatakan bagaimana cara penerapannya.

1) Prinsip-prinsip dalam melakukan konseling

a) Buat ibu merasa nyaman dan diterima dengan baik.

b) Bersikap ramah, senantiasa menghargai, dan tidak menghakimi.

c) Gunakan bahasa yang mudah dimerngerti dan sederhana.

d) Setiap kali hendak melakukan pemeriksaan atau prosedur/

tindakan klien minta persutujuan dari ibu dan jelaskan prosedur

yang akan dilakukan.

e) Rangkum informasi-informasi yang penting termasuk informasi

mengenai hasil pemeriksaan laboratorium rutin dan pengobatan.

f) Pastikan ibu dan keluarga mengerti tanda-tanda bahaya

kegawatdaruratan, instuksi pengobatan, dan kapan ia harus

kembali berobat atau memeriksa diri.

1
g) Lakukan konseling, anamnesis, maupun pemeriksaan diruangan

yang pribadi dan tertutup dari pandangan orang lain.

h) Pastikan bahwa ketika berbicara mengenai hal sensitif/pribadi

tidak ada orang lain yang dapat mendengar pembicaraan tersebut.

i) Minta persetujuan ibu sebelum berbicara dengan keluarganya.

j) Jangan membahas rahasia ibu dengan rekan kerja ataupun pihak

lain.

k) Pastikan semua cacatan sudah dilengkapi dan tersimpan dengan

rapi serta terjaga kerahasiannya.

l) Batasi akses kedokumen-dokumen yang membuat informasi

terkait ibu hanya kepada tenaga kesehatan yang berkepentingan.

2) Langkah-langkah konseling

a) Anjurkan pertanyaan-pertanyaan untuk mengerti situasi ibu dan

latar belakangnya.

b) Identifikasi kebutuhan ibu, masalah ibu, dan informasi yang belum

diketahui ibu.

c) Tanyakan pendapat ibu mengenai solusi alternatif apa yang dapat

dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapai.

d) Identifikasi kebutuhan ibu terhadap informasi, sumber daya, atau

dukungan lain untuk memecahkan masalahnya.

e) Susun prioritas dengan membahas keuntungan dan kerugian dari

berbagai altenatif pemecahan masalah bersama ibu.

1
f) Minta ibu untuk menentukan solusi apa yang paling

memungkinkan untuk mengatasi masalahnya.

g) Buatlah rencana tidak lanjut bersama

h) Evaluasi pelaksanaan rencana tindak lanjut tersebut pada

pertemuan konseling berikutnya.

3) Tujuan pemberian konseling

a) Mampu memahami diri lebih baik sehingga mampu memecahkan

masalah yang dihadapi.

b) Mampu menyesuaikan diri dengan situasi dan lingkungan.

c) Bisa lebih berbahagia dengan kondisi sekarang.

d) Lebih realitis dalam melihat diri dan masalah yang dihadapi

4) Informasi yang diberikan

a) Menganjurkan agar ibu dan keluarganya memberikan MPASI

sehingga bayi hanya diberi ASI saja sampai usia 6 bulan (ASI

Eklusif).

b) Menjelaskan pada ibu dan keluarga deteksi dini tanda bahaya pada

ibu nifas dan bayinya

c) Menjelaskan pada ibu dan keluarga deteksi dini tanda bahaya pada

ibu nifas dan bayinya

d) Memberikan informasi tentang KB pascasalin dan memotivasi ibu

dan suami untuk segera menjadi akseptor KB.

e) Menjelaskan pada ibu untuk imunisasi lanjutan pada bayinya.

1
f) Memberikan informasi tentang hubungan seks pascasalin.

B. Standar Asuhan Kebidanan


Keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :

938/Menkes/SK/VIII/2007 Tentang Standar Asuhan Kebidanan


Standar asuhan kebidanan adalah acuan dalam proses pengambilan dan

tindakan yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup

praktik berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan. Mulai dari pengkajian, perumusan

diagnosa dan atau masalah kebidanan, perencanaan, implementasi, evaluasi dan

pencatatan asuhan kebidanan.

1. Standar I : Pengkajian

Bidan mengumpulkan semua informasi yang adekurat, relevan dan lengkap

dari semua sember yang berkaitan dengan kondisi klien

2. Standar II : Perumusan diagnosa dan masalah kebidanan

Bidan menganalisa data yang diperoleh pada pengkajian

menginterpretasikannya secara akurat dan logis untuk mencegah diagnosa

dan masalah kebidanan yang tepat

3. Standar III : Perencanaan

Bidan merencanakan asuhan kebidanan berdasarkan diagnosa dan masalah

yang ditegakkan.

4. Standar IV : Implementasi

Bidan melaksanakan rencana asuhan kebidanan secara komprehensif, efektif,

efisien dan aman berdasarkan evidence based kepada klien/pasien, dalam

1
bentuk upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative. Dilaksanakan

secara mandiri, kolaborasi dan rujukan.

5. Standar V : Evaluasi

Bidan melakukan evaluasi secara sistimatis dan berkesimnabungan untuk

melihat keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan, sesuai dengan

perubahan perkembangan kondisi klien.

6. Standar VI : Pencatatan asuhan kebidanan

Bidan melakukan pencatatan secara lengkap, akurat, singkat dan jelas

mengenai keadaan/kejadian yang ditemukan dan dilakukan dalam

memberikan asuhan kebidanan.

Standar pelayanan kebidanan menurut Sondakh et al (2014), antara lain

sebagai berikut :
1. Standar Pelayanan Umum
a. Standar 1 : Persiapan untuk hidup keluarga sehat
Pernyataan standar : Bidan memberikan penyuluhan dan nasihat kepada

perorangan, keluarga, dam masyarakat terhadap segala hal yang berkaitan

dengan kehamilan, termasuk penyuluhan kesehatan umum, gizi, keluarga

berencana, kesiapan dalam menghadapi kehamilan dan menjadi calon

orang tua, menghindari kebiasaan yang tidak baik dan mendukung

kebiasaan yang baik.


b. Standar 2 : Pencatatan dan pelaporan

1
Pernyataan standar : Bidan melakukan pencatatan semua kegiatan yang

dilakukannya, yaitu registrasi semua ibu hamil di wilayah kerja, Perincian

pelayanan yang diberikan kepada setiap ibu hamil/bersalin/nifas dan bayi

baru lahir, semua kunjungan rumah dan penyuluhan kepada masyarakat.

Disamping itu, bidan hendaknya mengikutsertakan kader yang mencatat

ibu hamil dan meninjau upaya masyarakat yang berkaitan dengan ibu dan

bayi baru lahir. Bidan meninjau secara teratur catatan tersebut untuk

menilai kinerja dan penyusunan rencana kegiatan untuk meningkatkan

pelayanannya.
2. Standar Pelayanan Antenatal
c. Standar 3 : Identifikasi ibu hamil
Pernyataan Standar : Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi

dengan masyarakat secara berkala untuk memberikan penyuluhan dan

memotivasi ibu, suami, serta anggota keluarganya agar mendorong ibu

untuk memeriksakan kehamilannya sejak dini dan secara teratur.


d. Standar 4 : Pemeriksaan dan pemantauan
Pernyataan standar : Bidan memberikan sedikitnya empat kali pelayanan

antenatal. Pemeriksaan meliputi anamnesis, serta pemantauan ibu dan janin

dengan seksama untuk menilai apakah perkembangan berlangsung normal.

Bidan juga harus mengenal kehamilan resiko tinggi atau kelaianan,

kususnya anemia, kurang gizi, hiper tensi, PMS atau infeksi HIV;

Memberikan pelayanan imunisasi, nasihat dan penyuluhan kesehatan serta

tugas terkait lainnya yang diberikan oleh puskesmas. Mereka harus

mencatat data yang tepat pada setiap kunjungan. Bila ditemukan kelainan,

1
mereka harus mampu mengambil tindakan yanmg diperlukan dan merujuk

nya untuk tindakan selanjutnya.


e. Standar 5 : Palpasi Abdominal
Pernyataan standar : Bidan melakukan pemeriksaan abdominal secara

saksama dan melakukan palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan,

serta bila umur kehamilan bertambah, memeriksa posisi, bagian terendah

janin, dan masuknya kepala janin ke dalam rongga panggul untuk mencari

kelainan serta melakukan rujukan tepat waktu.


f. Standar 6 : Pengelolaan Anemia Pada Kehamilan
Pernyataan standar : Bidan melakukan tindakan pencegahan, penemuan,

penanganan, dan atau rujukan semua kasus anemia pada kehamilan sesuai

dengan ketentuan yang tertentu.


g. Standar 7 : Pengelolaan Dini Hipertensi pada Kehamilan
Pernyataan standar : Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan

darah pada kehamilan dan mengenali tanda serta gejala preeklamsi lainnya,

serta mengambil tindakan yang tepat dan merujuknya.


h. Standar 8 : Persiapan persalinan
Pernyataan standar : Bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil,

suami serta keluarganya pada trimester ke tiga, untuk memastikan bahwa

persiapan persalinan yang bersih dan aman serta suasana yang menanyakan

akan direncanakan dengan baik disamping persiapan transportasi dan biaya

untuk merujuk, bila tiba-tiba terjadi keadaan gawat darurat. Bidan hendak

melakukan kunjungan rumah untuk hal ini.


3. Standar Pertolongan Persalinan
i. Standar 9 : Asuhan persalinan kala I
Pernyataan standar : Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah

mulai, kemudian memberikan asuhan dan pemantauan yang memadai

1
dengan memperhatikan kebutuhan klien selama proses persalinan

berlangsung.
j. Standar 10 : Persalinan kala II yang aman
Pernyataan standar : Bidan melakukan pertolongan persalinan yang aman

bersikap sopan dan penghargaan terhdap klien serta memperhatikan tradisi

setempat.
k. Standar 11 : Penatalaksanaan Aktif persalinan kala II
Pernyataan standar : Bidan melakukan penanganan tali pusat standar

dengan benar untuk membantu pengeluaran plasenta selaput ketuban

secara lengkap.
l. Standar 12 : Penanganan kala II dengan gawat janin melalui episiotomi
Pernyataan standar : Bidan mengenali secara tepat tanda-tanda gawat janin

pada kala II yang lama, dan segera melakukan episiotomi dengan aman

untuk memperlancar persalinan, diikuti dengan penjahitan perinium.

4. Standar Pelayanan Nifas


m. Standar 13 : Perawatan bayi baru lahir
Pernyataan standar : Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk

memastikan pernafasan spontan mencegah hipoksia sekunder, menemukan

kelainan, dan melakukan tindakan atau merujuk sesuai kebutuhan. Bidan

juga harus mencegah atau menangani hipotermia.


n. Standar 14 : Penanganan dua jam setelah persalinan
Pernyataan standar : Bidan melakukan Pemantauan ibu dan bayi terhadap

terjadinya komplikasi dalam dua jam setelah persalinan setelah melakukan

persalinan yang diperlukan. Disamping itu, bidan memberika penjelasan

tentang hal-hal yang mempercepar pemulihnya kesehatan ibu dan

membantu ibu untuk memulai pemberian ASI.


o. Standar 15 : Pelayanan bagi ibu dan bayi pada masa nifas

1
Pernyatann standar : Bidan memberika pelayanan selama masa nifas

melaui kunjungan rumah pada hari ketiga, minggu kedua, dan minggu

keenam setelah persalinan, untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi

melaui penanganan tali pusat yang benar; penemuan dini penangan atau

rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas; serta

memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan

perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi baru lahir, pemberian ASI,

imunisasi dan KB.

5. Standar Penanganan Kegawatan Obstetri Dan Neonatal


p. Standar 16 : Penanganan pendarahan dalam kehamilan pada trimester ke III
Pernyataan standar : Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala

pendarahan pada kehamilan, serta melakukan pertongan pertama dan

rujukannya.
q. Standar 17 : Penanganan kegawatdaruratan pada eklamsi
Pernyataan standar : Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala

eklamsia mengancam, serta merujukdan/atau memberikan pertolongan

pertama.
r. Standar 18 : Penanganan kegawat daruratan pada partus lama atau macet.
Pernyataan standar : Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala partus

lama atau macet serta melakukan penanganan yang memadai dan tepat

pada waktu atau rujukan.


s. Standar 19 : Persalinan dengan penggunaan vakum ekstraktor
pernyataan standar : Bidan menegnali kapan diperlukan ekstraksi vakum,

melakunnya secara benar dalam memberikan pertolongan persalinan

dengan memastikan keamanannya bagi ibu dan janin atau bayi.


t. Standar 20 : Penanganan retensio plasenta

1
Penanganan standar : Bidan mampu mengenali retensio plasenta, dan

memberikan pertolongan pertama termasuk plasenta manual dan

penanganan pendarahan, sesuai dengan kebutuhan.

u. Standar 21 : Penanganan pendarahan post partum primer


Penanganan standar : Bidan mampu menegnali pendarahan yang berlebihan

dalam 24 jam pertama setelah persalinan (perdarahan post-partum) dan

segera melakukan pertolongan pertama untuk mengendalikan perdarahan.


v. Standar 22 : penanganan perdarahan post-partum sekunder
Pernyataan standar : bidan mampu mengendali secara tepat dan dini tanda

serta gejala perdarahan post-partum sekunder, dan melakukan pertolongan

pertama untuk penyelamatan jiwa dan atau merujukannya.


w. Standar 23 : penanganan sepsis puerperalis
Pernyataan standar : bidan mampu mengendali secara tepat tanda dan

gejala sepsis puerperalis, serta melakukan pertolongan pertama atau

merujuknya.

x. Standar 24 : penanganan Asfiksia Neonatorum

Pertanyaan standar : bidan mampu mengndali dengan tepat bayi baru lahir

dengan asfiksia, serta melakukan resusitasi secepatnya, mengusahakan

bantuaan medis yang di perlukan dan memberikan perawatan lanjutan.

C. Kewenangan Bidan
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor

1464/Menkes/per/X/2010 tentang izin dan penyelenggaraan Praktik Bidan,

kewenangan yang dimiliki bidan meliputi:


1. Kewenangan normal:
a. Pelayanan kesehatan ibu
b. Pelayanan kesehatan anak

1
c. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana
2. Kewenangan dalam menjalankan program pemerintah.
3. Kewenangan bidan yang menjalankan praktik didaerah yang tidak memiliki

dokter.
Kewenangan normal adalah kewenangan yang dimiliki oleh seluruh bidan.

Kewenangan ini meliputi:


1. Pelayanan kesehatan ibu
a. Ruang lingkup:
1) Pelayanan konseling pada masa pra hamil
2) Pelayanan antenatal pada kehamilan normal
3) Pelayanan persalinan normal
4) Pelayanan ibu nifas normal
5) Pelayanan ibu menyusui
6) Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan
b. Kewenangan:
1) Episiotomi
2) Penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II
3) Penanganan kegawatdaruratan, dilanjutkan dengan rujukan
4) Pemberian tablet fe pada ibu hamil
5) Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas
6) Fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusu dini (IMD) dan promosi air susu

ibu (ASI) ekslusif


7) Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala III dan postpartum
8) Penyuluhan dan konseling
9) Bimbingan pada kelompok ibu hamil
10) Pemberian surat keterangan kematian
11) Pemberian surat keterangan cuti bersalin
2. Pelayanan kesehatan anak
a. Ruang lingkup:
1) Pelayanan bayi baru lahir
2) Pelayanan bayi
3) Pelayanan anak balita
4) Pelayanan anak pra sekolah
b. Kewenangan:
1) Melakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk resusitasi,

pencegahan hipotermi, Inisiasi Menyusu Dni (IMD), injeksi vitamin K.

1
Perawatan bayi baru lahir pada masa neonatal (0-28 hari), dan

perawatan tali pusat.


2) Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera merujuk
3) Penanganan kegawatdaruratan, dilanjutkan dengan perujukan
4) Pemberian imunisasi rutin sesuai program pemerintah
5) Pemantauan tumbuh kembang bayi, anaka balita dan anak pra sekolah
6) Pemberian konseling dan penyuluhan
7) Pemberian surat keterangan kelahiran
8) Pemberian surat keterangan kematian
3. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana meliputi:

a. Memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi perempuan

dan keluarga berencana.

b. Memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom.

Selain kewenangan normal sebagaimana tersebut diatas, khusus bagi bidan

yang menjalankan program pemerintah mendapat kewenangan tambahan

untuk melakukan pelayanan kesehatan yang meliputi:

1. Pemberian alat kontrasepsi suntikan, alat kontrasepsi alam rahim, dan

memberikan pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit.


2. Asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi khusus penyakit kronis

tertentu (dilakukan dibawah supervisi dokter).


3. Penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai pedoman yang ditetapkan.
4. Melakukan pembinaan peran serta masyarakat dibidang kesehatan ibu dan

anak, anak usia sekolah dan remaja, dan penyehatan lingkungan.


5. Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, anak pra sekolah, dan

anak sekolah.
6. Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas.

1
7. Melaksanakan deteksi dini, merujuk dan memberikan penyuluhan terhadap

Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk pemberian kondonm dan penyakit

lainnya.

8. Pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif

lainnya (NAPZA) melalui informasi dan edukasi.

9. Pelayanan kesehatan lain yang merupakaan program pemerintah

D. Tinjauan Teori Manajemen Asuhan Kebidanan


Menurut Helen Varney (2007:26) dalam buku Yulifah & surachmindari

(2013); Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang

digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan

dengan urutan logis dan perilaku yang diharapkan dari pemberian asuhan yang

berdasarkan ilmiah, penemuan, dan keterampilan dalam tahapan yang logis untuk

pengambilan keputusan yang berfokus pada klien.


Manajemen kebidanan terdiri dari 7 langkah menurut Varney, yaitu

sebagai berikut :
1. Langkah I : Pengkajian
a. Pada langkah pertama ini, dilakukan pengkajian dengan pengumpulan

semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan klien secara

lengkap.
b. Pemeriksaan fisik dimaksudkan untuk memperoleh data objektif.

Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi hal-hal sebagai berikut.


1) Pemeriksaan umum
2) Pengukuran tanda-tanda vital
3) Pemeriksaan fisik khusus
4) Pemeriksaan penunjang
a) Pemeriksaan laboratorium
b) Pemeriksaan rontgen

1
c) Pemeriksaan USG
2. Langkah II : Identifikasi Diagnosa dan Masalah
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosis atau

masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interprestasi yang benat atas data-

data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan

diinterprestasikan sehingga dapat merumuskan diagnosis dan masalah yang

spesifik.
3. Langkah III : Identifikasi Diagnosis dan masalah Potensial
Pada langkah ini, kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosis

potensial berdasarkan diagnosis/masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah

ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan

sambil mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila

diagnosis/masalah potensial ini benar-benar terjadi. Langkah ini penting sekali

dalam melakukan asuhan yang aman.


4. Langkah IV : Identifikasi Kebutuhan Segera
Pada langkah ini, bidan menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera,

melakukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan

kondisi klien. Setelah itu mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh

bidan atau dokter dan/ untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan

anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien. Langkah

keempat ini mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan

yang terjadi dalam kondisi darurat.


5. Langkah V : Menyusun Rencana Asuhan Menyeluruh (Intervensi)
Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah

teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan,

tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut, seperti

1
apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan

penyuluhan, konseling, dan apakah perlu merujuk klien bila ada masalah-

masalah yang berkaitan dengan social ekonomi, cultural, atau masalah

psikologis. Dengan kata lain, asuhan terhadap wanita tersebut sudah

mencakup setiap hal yang berkaitan dengan semua aspek asuhan kesehatan.

Pada langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan sesuai

dengan hasil pembahsan rencan asuhan bersama klien kemudian membuat

kesepakatan bersama sebelum melaksanakannya.


6. Langkah VI : Pelaksanaan Rencana Asuhan (Implementasi)

Pada langkah ini dilakukan pelaksanaan asuhan langsung secara efisien dan

aman. Pada langkah keenam ini, rencana asuhan menyeluruh seperti yang

telah di uraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman.

Perencanaan ini dapat dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh

klien atau anggota tim lainnya. Walau bidan tidak melakukan sendiri, ia tetap

memiliki tanggung jawab untuk mengerahkan pelaksanaannya (misal:

memastikan langkah tersebut benar-benar terlaksana).

7. Langkah VII : Evaluasi


Pada langkah ketujuh, ini dilakukan evaluasi keefektifan asuhan yang telah

diberikan. Hal yang dievaluasi meliputi apakah kebutuhan telah terpenuhi dan

mengatasi diagnosis dan masalah yang telah diidentifikasi. Rencana tersebut

dapat dianggap efektif jika memang benar-benar efektif dalam

pelaksanaannya. Langkah–langkah proses manajemen umumnya merupakan

1
pengkajian yang memperjelas proses pemikiran yang mempengaruhi tindakan,

serta berorientasi pada proses klinis.


Manajemen kebidanan SOAP
Menurut Yulifah & Surachmindari (2013) SOAP adalah catatan yang bersifat

sederhana, jelas, logis,dan tertulis. Seorang bidan hendaknya menggunakan SOAP

setiap kali ia bertemu dengan pasiennya. Selama masa anteparttum, seoarang

bidan dapat menuliskan satu catatan SOAP untuk setiap kali kunjungan; sementara

dalam masa intrapartum, seoarang bidan boleh menuliskan lebih dari satu catatan

untuk satu pasien dalam satu hari. Selain itu juga, seorang bidan harus melihat

catatan-catatan SOAP terdahulu bila mana ia merawat seorang klien untuk

mengevaluasi kondisinya yang sekarang.


Untuk mengetahui apa yang dilakukan oleh seorang bidan melalui proses

berpikir sistematis, didokumentasiakan dalam bentuk SOAP.


S : Subjektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui

anamnesis (langkah I varney)


O : Objektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil

laboratorium dan uji diagnosis lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk

mendukung asuhan (langkah I varney)


A : Pengkajian / Assessment

Menggambarkan pendokumentasian hasil analisis dan interprestasi data

subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi

a. Diagnosis / masalah

b. Antisipasi diagnosis/masalah potensial

1
c. Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter/konsultasi/kolaborasi dan

atau rujukan (langkah II, III dan IV Varney)

P : Plan

Menggambarkan pendokumentasian tindakan dan evaluasi perencanaan

berdasarkan assessment (langkah V, VI dan VII Varney).

BAB III

STUDI KASUS

A. Jenis Laporan Kasus

Laporan kasus ini telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan studi

kasus, dengan metode penulisan secara deskriptif. Studi kasus adalah yang

merupakan suatu kegiatan yang dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh

gambaran tentang Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. L di Bidan

Praktek Mandiri Sri Rezeki Kecamatan Muara Dua Kota Lhokseumawe.

Asuhan yang diberikan di mulai sejak kehamilan sampai dengan KB.

B. Lokasi dan Waktu

1
1. Lokasi
Lokasi kegiatan pelaksanaan asuhan kebidanan telah dilaksanakan di

Bidan Praktek Mandiri Sri Rezeki Kecamatan Muara Dua Kota

Lhokseumawe.

2. Waktu

Pelaksanaan kegiatan asuhan kebidanan pada Ny. L telah di lakukan

mulai Februari sampai dengan Juni Tahun 2018.

C. Subjek Laporan Kasus

Subjek dalam laporan kasus ini adalah ibu hamil bernama Ny. L, berumur 21

tahun, tinggal di Meunasah Me Kecamatan Muara Dua. Ny. L dengan kehamilan

yang ke-3 tidak pernah keguguran. Ny. L mengatakan hari pertama haid

terakhirnya (HPHT) : 27-07-2018 Pada awal kehamilan Ny. L hanya mengeluh

mual-mual di pagi hari dan itu tidak berlangsung lama, kira-kira 3 bulan pertama.

Pada saat ini Ny. L tidak ada keluhan yang dapat menyebabkan patologis. Dari

hasil pemeriksaan yang dilakukan di BPM Sri Rezkie tanggal tafsiran

persalinan : 03-04-2018

D. Intrumen Laporan Kasus

Instrumen yang digunakan dalam laporan kasus ini adalah format

manajemen pelayanan kebidanan menggunakan format pengkajian 7 langkah

1
varney yaitu format ANC (Antenatal Care), format INC (Intranatal Care),

format PNC (Postnatal Care), format BBL (Bayi Baru Lahir), dan format KB

(Keluarga Berencana).

E. Teknik Pengumpulan Data


1. Data Primer
Teknik pengumpulan data primer yaitu melaksanakan pemberian asuhan

kebidanan pada ibu hamil, ibu bersalin, bayi baru lahir, ibu nifas dan

keluarga berencana.

2. Data Sekunder

Teknik pengumpulan data sekunder yaitu data yang menunjang untuk

mengidentifikasi masalah dan untuk melakukan tindakan-tindakan, data

sekunder ini dapat diperoleh dengan mempelajari kasus atau

mendokumentasi pasien yang didapat dari bidan.

F. Alat dan Bahan


Alat dan bahan sesuai daftar tilik untuk menilai kegiatan yang dilakukan pada

klien, daftar tilik disesuaikan dengan kebutuhan yang mencakup kehamilan,

persalinan, bayi baru lahir, nifas, dan KB, yaitu sebagai berikut :
1. Asuhan kebidanan pemeriksaan kehamilan (ANC)
Tensi meter, stetoskop, monoral/dopler, HB sahli, lanset, termometer, set

pemeriksaan urine (protein, reduksi), Pita ukur, reflek hamer, timbangan,

aquades, bahan habis pakai (kapas DTT, tissue, sarung tangan), waslap, jam

dengan jarum detik.


2. Asuhan kebidanan persalinan
a. Shaft I

1
Partus set : 1 set (2 pasang handscun DTT, 1 gunting episiotomi, 1

gunting tali pusat, arteri klem 2 buah, 1 setengah koher, 1 buah kateter,

kasa 3 buah, benang tali pusat) monoral, kom obat berisi oksitosin 6

ampul, lidokain 3 ampul, ergometrin 3 ampul, spuit 3 cc jarum dan

catgu chromic, kom air DTT, betadin, klorin spray, hands sanitizer,

bengkok, lampu sorot, bak berisi (kasa DTT, kateter, sarung tangan

DTT).
b. Shaft II
Heating set, penghisap lendir, tempat plasenta, tempat klorin untuk

sarung tangan, tempat spuit bekas, tensimeter, stetoskop dan

thermometer.
c. Shaft III
Cairan RL 3, abbocats 3, infuse set 1, celemek 2, waslap 2, sarung

tangan steril 2, plastik kuning 1, handuk 1, duk 2, kain bedong 3, baju

bayi, popok, topi bayi, kacamata 1, masker 1, dan resusitasi set 1.


3. Asuhan kebidanan bayi baru lahir
Selimut atau kain bersih yang kering, termomenter, sarung tangan steril,

Desinfeksi Tingkat Tinggi (DTT), air mengalir bersih, sabun, lap kering, obat

tetes mata (eritrimisi 0,5%, garamisi 1%, kliramfenikol 1%, nitras argensi

1%), pita ukur, timbangan bayi, tempat untuk alat resusitasi, dan tempat tidur

bayi.
4. Asuhan kebidanan nifas
Tensimeter, stetoskop, termometer, sarung tangan, handuk tangan, senter,

pembalut, obat antiseptik untuk luka, tempat sampah.


5. Asuhan kebidanan KB
Tensimeter, stetoskop, alat KB (suntikan), kom berisi kapas sublimat dan

alkohol 0,5 %, bengkok, spuit 5 cc.

1
BAB IV

TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN

A. Tinjauan Kasus

1. Pendokumentasian Pada Ibu Hamil

a. Kunjungan ANC Pertama

Hari / Tanggal : Kamis / 22 Maret 2018 Pukul : 17.00 Wib

S : Ibu mengatakan merasa senang dengan kehamilannya, ibu juga

mengatakan merasa kondisi dirinya cepat lelah. Ibu mengatakan Hari

pertama haid terkhir pada tanggal 27 Juli 2017

O : Vital sign: TD 110/70 mmHg, Nadi 80 x/m, Pernafasan 20 x/menit,

Suhu 360C. Pemeriksaan kebidanan: Leopold I: TFU tiga jari dibawah

procesus xypoideus, menggunakan pita ukur (29 cm), Leopold II:

Punggung janin disebelah perut kiri ibu (PUKI), Leopold III: Bagian

terendah janin teraba bulat, keras melenting (presentasi kepala) kepala

sudah masuk PAP, Leopold IV: Divergen 3/5, DJJ 148 x/m, TBJ (29-11)

x 155 : 2.790 gram, HB 10 gr%, protein urine (-), glukosa urine (-), TTP

03 April 2018.

A : G:I P:0 A:0, usia kehamilan 38 minggu > 2 hari, dengan anemia ringan.

1
P : 1. Membina hubungan baik dengan ibu dan keluarga dengan cara

menyapa serta mendengarkan keluhan ibu dengan penuh empati.

2. Menginformasikan keadaan ibu dan janin sesuai dengan hasil

pemeriksaan bahwa ibu dan janin dalam keadaan normal.

3. Memberikan konseling tentang makanan bergizi yang mengandung

protein dan zat besi seperti kacang – kacangan dan sayuran hijau.

4. Memberikan konseling tentang ketidak nyamanan pada kehamilan

terutama kehamilan trimester III, seperti sering buang air kecil,

varises, keputihan, nyeri dibagian pinggang, insomnia dan sembelit.

5. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi tablet zat besi (Fe) 1 kali

sehari diminum pada waktu malam hari sebelum tidur.

6. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi buah bid untuk membantu

meningkatkan kadar heamoglobin dalam darah.

7. Menjelaskan pada ibu tanda bahaya pada masa kehamilan lanjut

seperti : perdarahan pervaginam, sakit kepala lebih dari biasa,

gangguan penglihatan, oedema pada tangan dan kaki, nyeri abdomen,

janin tak bergerak.

8. Menasehati ibu untuk mencari pertolongan segera, jika adanya

bahaya berikut : perdarahan pervaginam, sakit kepala lebih dari

biasa, gangguan penglihatan, oedema pada tangan dan kaki, nyeri

abdomen, janin tak bergerak.

1
9. Menjadwalkan kunjungan berikutnya pada tanggal 26 Maret 2018.

b. Kunjungan ANC ke II

Hari / Tanggal : Senin / 26 Maret 2018 Pukul : 16.30 Wib

S : Ibu mengatakan ini kehamilan pertama, dan ibu mengatakan merasa nyeri di

bagian pinggang
O : 1. Vital sign, TD 100/80 mmHg, Suhu 360C, Pernafasan 22 x/m, Nadi 80 x/m

2. Pemeriksaan kebidanan: Leopold I: TFU tiga jari dibawah procesus

xypoideus (29 cm), leopold II : punggung janin disebelah perut kiri ibu

(PUKI), leopold III: bagian terendah janin teraba bulat, keras melenting

(presentasi kepala), kepala tidak bisa digoyangkan lagi, Leopold IV: kepala

sudah masuk PAP (divergen), DJJ 148 x/m, TBJ (31-11) x 155 : 3.100 gram,

HB 11 gr%, protein urine (-), glukosa urine (-), TTP 03 April 2018.

A : G:I P:0 A:0 usia kehamilan 38 minggu > 5 hari.

P : 1. Menginformasikan keadaan ibu dan janin bahwa dalam keadaan normal.

Sesuai dengan hasil pemeriksaan dalam batas normal. Ibu mengerti apa

yang disampaikan bidan.


2. Memberitahukan pada ibu tanda-tanda persalinan seperti : kontraksi, nyeri

pinggang, keluar lendir bercampur darah dan mules. Ibu mengerti dan

dapat mennyebutkan tanda-tanda persalinan.

1
3. Memberikan konseling untuk persiapan persalinan seperti pakaian ibu dan

calon bayi. Ibu mengerti dan akan mempersiapkan perlengkapan

persalinan.

4. Menganjurkan ibu untuk banyak berjalan seperti berjalan santai dipagi

hari. Ibu bersedia mengikuti anjuran dari bidan.

5. Menganjurkan ibu untuk makan makanan bergizi dan minum air putih

minimal 2 liter per hari. Ibu mengerti dan akan melakukan anjuran bidan.

6. Menganjurkan ibu untuk mempersiapkan pakaian ibu dan bayi serta

administrasi yang dibutuhkan seperti KTP, KK, BPJS, Buku Nikah, dll.

7. Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang / kontrol kembali

jika ada keluhan.

2. Pendokumentasian Pada Ibu Bersalin

Hari / tanggal : Minggu/ 08 April 2018 Pukul : 04.50 Wib

a. Kala I Pembukaan

S : Ibu mengatakan merasa mules berat dan nyeri dibagian pinggang menjalar

sampai ke simpisis. ibu juga mengatakan merasa takut dan cemas.

O : Keadaan umum baik, vital sign : TD 110/70 mmHg, RR 24 x/menit,Nadi

80 x/menit, Suhu 36.50C. Pemeriksaan dalam pada pukul 04.30 wib,

pembukaan serviks 5 cm, Kontraksi/his 3x dalam 10 menit, lamanya his 30

1
detik, ketuban utuh, portio lunak, perenium tipis. Djj 148 x/menit,

penurunan kepala 3/5.

A : Inpartu kala I fase aktif.

P : 1) Menjaga hak dan privasi ibu dalam persalinan, antara lain dengan

menutup tirai dan tidak menghadirkan orang lain tanpa seizin ibu.
2) Memberikan dukungan/asuhan seperti mengatur ibu untuk mengubah

posisi sesuai dengan kenyamanan ibu, menganjurkan ibu untuk berjalan,

memberitahukan keluarga terdekat ibu untuk menemani ibu.


3) Mengajarkan ibu teknis bernafas : ibu diminta menarik nafas panjang,

menahan nafasnya sebentar kemudian dilepaskan dengan cara meniup

udara keluar sewaktu terasa kontraksi.


4) Menjelaskan kemajuan persalinan, perubahan yang terjadi serta

prosedur yang akan dilaksanakan dan hasil-hasil pemeriksaan.


5) Memenuhi kebutuhan ibu dan mencegah dehidrasi dengan cara

meberikan ibu cukup minum dan makan setelah kontraksi.


6) Memantau persalinan dengan menggunakan partograf.
b. Kala II Pengeluaran Bayi

Hari / Tanggal : Minggu / 08 April 2018 Pukul : 05.30 Wib

S : Ibu mengatakan ingin meneran, ibu mengatakan merasa nyeri yang hebat

dibagian pinggang, ibu mengatakan merasa seperti mau BAB, ibu

mengatakan adanya dorongan untuk mengedan.


O : Keluar darah bercampur lendir semakin banyak, perenium menonjol,

vulva membuka, kontraksi 5x dalam 10 menit dengan durasi 45 detik,

pembukaan 10 cm, penurunan kepala ubun ubun kecil, ketuban pecah

1
pada pukul 05.30 wib, portio tipis, bagian terbawah kepala, hodge II
A : Inpartu kala II persalinan normal.

P : 1) Menganjurkan ibu cara mengedan dan cara mengatur nafas yang baik

dan ibu mengedan dengan baik dan ibu telah mengerti cara yang di

ajarkan bidan.
2) Memberikan ibu minum agar tidak dehidrasi di sela kontraksi dan ibu

bersedia minum.
3) Memimpin mengedan saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk

meneran.
4) Meletakkan kain untuk mengeringkan bayi diatas perut ibu ketika

kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm.


5) Meletakkan kain bersih yang dilipat 1/3 dibawah bokong ibu.
6) Melindungi perenium saat kepala janin terlihat pada vulva dengan

diameter 5-6 cm dan tangan yang satu lagi menahan puncak kepala

bayi agar tidak terjadi defleksi yang terlalu cepat.


7) Memeriksa tali pusat untuk memastikan ada lilitan tali pusat,

hasilnya ada tiga lilitan tali pusat, kemudian menunggu putaran paksi

luar kemudian memegang dengan kedua belah tangan pada kepala

bayi, selanjutnya melakukan tarikan lembut kebawah untuk

melahirkan bahu depan dan tarikan lembut keatas untuk melahirkan

bahu belakang.
8) Menyelipkan satu tangan dileher dan lengan bagian belakang bayi

setelah kedua bahu lahir sambil menyanggah kepala dan selipkan satu

tangan lainnya ke punggung bayi untuk mengeluarkan tubuh bayi

seluruhnya.
9) Melakukan penilaian bayi selintas dan meletakkan bayi diatas

1
perut ibu dan mengeringkan tubuh bayi.
10) Melakukan IMD dan membiarkan bayi kontak kulit paling tidak

selama 1 jam.
11) Menyelimuti ibu dan bayi.

c. Kala III Pengeluaran Plasenta

Hari / Tanggal : Minggu / 08 April 2018 Pukul : 06.00 Wib

S : Ibu mengatakan bahagia dengan kelahiran bayinya, ibu mengatakan

perutnya masih terasa nyeri

O : Fundus sejajar dengan pusat, bayi telah lahir pukul 05.30 Wib
A : Kala III pengeluaran plasenta.

P : 1. Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi

kedua.
2. Memberitahu ibu bahwa ibu akan disuntik oksitoksin agar uterus

berkontraksi baik. Dan menyuntikkan oksitoksin 10 unit IM pada 1/3

paha atas bagian luar. Suntikan oksitoksin untuk merangsang uterus,

setelah uterus berkontraksi dan adanya tanda perlepasan plasenta.


3. Melakukan PTT setelah uterus berkontraksi dan adanya

pelepasan Plasenta
4. Menjepit tali pusat, potong tali pusat dan ikat tali pusat.
5. Mengecek tanda-tanda pelepasan plasenta.
6. Memeriksaan kelengkapan lahir plasenta dan selaput ketuban

(cotyledon), plasenta lahir lengkap pada pukul 06.00 wib, melakukan

masase fundus agar menimbulkan kontraksi, dan tidak ada laserasi

jalan lahir.

1
d. Kala IV Pengawasan

S : Ibu mengatakan keadaannya masih terasa sedikit lemas.

O : Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, tanda-tanda vital tekanan

darah 110/70 mmHg, Nadi 80 x/menit, RR 22 x/menit, Suhu 36.50C,

kontraksi uterus baik, TFU 3 jari dibawah pusat, kandung kemih

kosong, perdarahan ± 150 cc. Pengeluaran colostrums (+), perinium utuh

A : Ibu kala IV persalinan normal

P : 1. Memeriksa vital sign, kontraksi, tinggi fundus uteri, kandung kemih dan

perdarahan setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 30 menit pada

jam kedua dengan hasil (terlampir dalam tabel halaman berikut ini).

2. Membersihkan ibu dengan air DTT dan mengenakan pakaian yang

bersih dan kering.

3. Melakukan dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5%.

4. Merendam semua alat dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.

5. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

6. Memastikan ibu merasa nyaman.

7. Mengajarkan ibu cara masase yang baik.


8. Menganjurkan pemenuhan nutrisi ibu.
9. Melakukan dokumentasi dan lengkapi partograf

3. Pendokumentasian Pada Bayi Baru Lahir

1
a. Bayi baru lahir 1 jam

Tanggal Masuk : 08 April 2018 Pukul : 06.30 Wib

S : Ibu mengatakan bayinya sudah selesai menyusu

O : Denyut jantung 135 x/m, pernapasan 40x/m, suhu 360C, BB 3.800 gram,

PB 50 cm, jenis kelamin Laki-Laki, lingkar kepala 30 cm, mata simetris,

tidak ada infeksi, hidung simetris, mulut reflek hisap yang kuat, leher

normal, lingkar dada 32 cm warna normal, puting simetris, tangan gerakan

normal 10 jari, reflek normal, kelamin normal, kaki gerakan normal 10 jari,

punggung normal, reflek menghisap menelan positif, kelainan congenital

negatif. Pemeriksaan inspeksi dalam batas normal. Miksi sudah pada pukul

06.30 wib, mekonium sudah pada pukul 06.30 wib.

A : Bayi baru lahir usia 1 Jam, keadaan umum baik.

P : 1) Mempertahankan suhu tubuh bayi tetap hangat dan menganjurkan agar

tetap rooming in antara ibu dan bayi.

2) Membantu memandikan bayi setelah 6 jam.

3) Menganjurkan ibu untuk tidak menaburkan apapun pada tali pusat.

4) Memberitahukan ibu tanda bahaya pada bayi baru lahir.

5) Membantu memberikan asuhan bayi baru lahir normal.

b. Bayi baru lahir 6 jam

Tanggal Masuk : 08 April 2018 Pukul : 11.00 Wib

1
S : Ibu mengatakan bahagia dengan kelahiran bayinya, ibu mengatakan bayinya

sudah menyusu dan hisapannya kuat.

O : Denyut jantung 136 x/m, pernapasan 40x/m, suhu 360C, BB 3.800 gram,

lingkar kepala 30 cm, lingkar dada 32 cm, reflek moro (+), reflek rooting (+),

reflek walking (+), reflek graphs (+), reflek sucking (+), kelainan congenital

negatif. Miksi sudah pada pukul 06.30 wib, mekonium sudah pada pukul

06.30 wib. Pemeriksaan inspeksi dalam batas normal.

A : Bayi baru lahir usia 6 jam.

P : 1. Mempertahankan suhu tubuh bayi tetap hangat dengan cara memastikan

bayi tetap terjadi kontak kulit antara ibu dan bayi, mengganti handuk/kain

yang basah dan membungkus bayi dengan selimut yang kering dan bersih.
2. Memastikan bayi menyusu dan tidak diberikan makanan pendamping.
3. Menganjurkan pada ibu untuk tidak membubuhi apapun pada pusat bayi.
4. Mengajarkan pada ibu tanda bahaya pada bayi seperti jika suhu bayi terlalu

panas atau terlalu dingin, jika warna kulit bayi biru atau pucat, jika

diberikan ASI hisapan bayi lemah, mengantuk berlebihan, dan banyak

muntah.
5. Memandikan bayi setelah 6 jam.
c. Bayi Baru Lahir 6 hari

Tanggal : 14 April 2018 Pukul : 14.40 Wib

1
S : Ibu mengatakan bayinya bergerak aktif dan menangis dengan spontan dan

isapannya kuat saat menyusu. Ibu mengatakan tali pusat anaknya sudah jatuh

pada hari ke 5.

O : Denyut jantung 136 x/m, pernapasan 40x/m, suhu 360C, BB 3.900 gram,

lingkar kepala 32 cm, lingkar dada 33 cm, reflek moro (+), reflek rooting (+),

reflek walking (+), reflek graphs (+), reflek sucking (+), kelainan congenital

negatif.

A : Bayi baru lahir usia 6 hari

P : 1. Menjaga bayi agar tetap hangat dan bersih.


2. Memastikan bayi menyusu dan mendapatkan ASI Eksklusif dan tidak

diberikan makanan pendamping.


3. Menganjurkan pada ibu untuk tidak membubuhi apapun pada pusat bayi.
4. Mengajarkan pada ibu tanda bahaya pada bayi seperti jika suhu bayi terlalu

panas atau dingin, jika warna kulit bayi biru atau pucat, jika diberikan ASI

hisapan bayi lemah, mengantuk berlebihan, dan banyak muntah.


5. Menjelaskan kepada ibu bahwa berat badan bayi telah meningkat 400 gram

dari berat badan lahir.


6. Mengajarkan ibu untuk perawatan bayi sehari – hari seperti mengganti kain

popok jika basah, memandikan bayi.


d. Bayi baru lahir 2 minggu

Tanggal : 21 April 2018 Pukul : 16.00 Wib

S : Ibu mengatakan bayinya menyusu dengan kuat dan bayinya sehat. Ibu

1
mengatakan ASInya banyak dan lancar
O : Denyut jantung 128 x/m, pernapasan 40x/m, suhu 36.5 0C, BB 3.900 gram,

lingkar kepala 32 cm, lingkar dada 34 cm, reflek moro (+), reflek rooting (+),

reflek walking (+), reflek graphs (+), reflek sucking (+), kelainan congenital

negatif.

A : Bayi baru lahir usia 14 hari (2 minggu).

P : 1. Melakukan pemeriksaan fisik bayi, hasilnya dalam batas normal.


2. Memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan dengan cara menganjurkan. ibu

untuk memberikan ASI eklusif.


3. Menajarkan ibu cara perawatan bayi seperti mengganti kain popok jika

basah, memandikan bayi.


4. Mengajarkan pada ibu tanda bahaya pada bayi seperti jika suhu bayi terlalu

panas atau dingin, jika warna kulit bayi biru atau pucat, jika diberikan ASI

hisapan bayi lemah, mengantuk berlebihan, dan banyak muntah.


5. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayi sesering mungkin.
4. Pendokumentasian Pada Ibu Nifas

a. Post Natal Care 6 Jam

Tanggal : 08 April 2018 Pukul : 11.00 Wib

S : Ibu mengatakan kondisinya masih terasa lemas, Ibu mengatakan merasa

bahagia atas kelahiran bayi pertamanya

1
O : TFU 2 jari dibawah pusat, lochea rubra, perdarahan 10 cc, TD 110/70

mmHg, Nadi 80 x/menit, RR 24 x/menit, suhu 36.5 0C, mammae colustrum,

perenium utuh, kontraksi uterus baik dan kandung kemih kosong.

A : 6 jam post partum normal

P :1. Memberikan konseling

tentang kebersihan diri dan kecukupan istirahat.


2. Menganjurkan ibu

memberikan ASI pada bayinya sesuai dengan kebutuhan bayi.


3. Menganjurkan ibu makan 3x

sehari, cukup gizi dan protein.


4. Menganjurkan ibu untuk

istirahat yang cukup.


5. Menganjurkan ibu untuk

menyusui setiap 2 jam sekali.


6. Mengawasi jumlah darah yang

keluar antara lain: pengeluaran lokea warna merah (rubra), banyaknya 10

cc, berbau amis dan tidak ada bau busuk.


7. Menjelaskan tanda bahaya

pada masa nifas yaitu: pendarahan lewat jalan lahir, keluar cairan berbau

dari jalan lahir, deman, bengkak dimuka, tangan atau kaki disertai sakit

kepala dan atau kejang, nyeri atau panas didaerah tungkai, payudara

bengkak berwarna kemerahan, sakit, putting lecet, ibu mengalami depresi


b. Post Natal Care 6 Hari

Tanggal : 14 April 2018 Pukul : 14.40 Wib

1
S : Ibu mengatakan keadaannya sudah bisa beraktifitas secara perlahan, ibu

mengatakan bayinya sangat aktif menyusui, ibu mengatakan bayinya sedikit

rewel, ibu mengatakan tali pusat bayi puput pada hari ke 5.

O : Observasi keadaan umum ibu: TD 110/70 mmHg, Nadi 80 x/m, RR 24 x/m,

Suhu 36.50C, TFU pertengahan simfisis dan pusat, perdarahan normal,

lochea sanguinolenta. Pemeriksaan inspeksi dalam batas normal,

pengeluaran payudara ASI.

A : Post partum hari ke 6.

P : 1. Memastikan involusi uterus berjalan dengan baik dan normal dan tidak

ada tanda-tanda infeksi.

2. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup.

3. Menganjurkan pada ibu untuk memberikan ASI Eksklusif.

4. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi asupan makanan yang bergizi,

jelaskan kepada ibu tentang ASI Eksklusif.

5. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan bayi baru lahir, tali

pusat dan cara menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.

6. Menginformasikan pada ibu tentang gizi yang diperlukan oleh ibu selama

masa menyusui. Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan

protein, mineral dan vitamin yang cukup, minum sedikitnya 3 liter/hari

(minum setiap kali menyusui).

1
7. Menginformasikan pada ibu dan keluarga apabila ada tanda-tanda bahaya

pada ibu dan bayi segera mencari pertolongan pada fasilitas kesehatan

terdekat.

8. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi baru lahir,

dan cara menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.

9. Menginformasikan kepada ibu tentang gizi yang diperlukan oleh ibu

selama menyusui.

c. post partum 14 hari (2 minggu)

Tanggal : 21 April 2018 Pukul : 16.00 WIB

S : Ibu mengatakan keadaannya sudah membaik dan sudah melakukan perawatan

bayinya sendiri dibantu oleh keluarga, ibu mengatakan bayinya menyusu

dengan baik dan bayinya sehat, ibu mengatakan ASI nya sangat banyak dan

lancar.

O : Observasi keadaan umum ibu, TD 110/70 mmHg, Nadi 80 x /menit, Suhu

36.50C, Resp 24 x/menit, TFU 3 jari di atas simfisis, perdarahan normal,

lochea serosa.

A : Post partum hari ke 14 (2 minggu).

P : 1. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi asupan makanan yang bergizi,

yang dapat membantu proses pemberian ASI Eksklusif.

2. Menganjurkan agar ibu istirahat yang cukup.

1
3. Memberikan konseling pada ibu mengenai cara merawat bayi sehari-hari.

4. Menginformasikan kepada ibu dan keluarga apabila ada tanda – tanda

bahaya pada ibu dan bayi segera mencari pertolongan pada fasilitas

kesehatan terdekat.

5. Menjelaskan tentang metode penunda kehamilan ( KB) pada ibu.

d. Post Partum 6 minggu

Tanggal : 17 Mei 2018 Pukul : 16.00 Wib

S : Ibu mengatakan keadaannya sudah membaik dan sudah melakukan perawatan

bayinya sendiri, ibu mengatakan keadaan bayinya sehat dan kuat menyusu ,

ibu mengatakan ASI nya sangat banyak dan lancar.

O : Observasi keadaan umum ibu dan bayi, TD 110/70 mmHg, Nadi 80 x / menit,

suhu 36.50C, Resp 24 x/menit, TFU tidak teraba, keadaan umum ibu baik,

lochea alba.

A : Post partum 6 minggu

P : 1. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi asupan makanan yang bergizi,

jelaskan kepada ibu tentang ASI Eksklusif.

2. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi baru lahir,

perawatan dan cara menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-

hari.

1
3. Menginformasikan pada ibu tentang gizi yang diperlukan oleh ibu

selama masa menyusui.


4. Menginformasikan kepada ibu dan keluarga apabila ada tanda –tanda

bahaya pada ibu dan bayi segera mencari pertolongan pada fasilitas

kesehatan terdekat.
5. Memberikan konseling tentang kontrapsebsi (KB) pada ibu dan ibu

menatakan ibu ingin mengunakan alat kontrapsebsi suntik 3 bulan

Trycoflen.
6. Pendokumentasian Pada Keluarga Berencana

Hari/Tanggal : Jum’at, 18 Mei 2018 Pukul : 17.00 Wib

S : Ibu post partum 42 hari (6 minggu) mengatakan berkeinginan menunda

kehamilan. Ibu juga mengatakan tidak ingin menggunakan KB yang bisa

mengganggu produksi ASI.

O : Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Keadaan umum ibu baik, BB 50 kg,

TD 110/70 mmHg, Nadi 80x/menit, RR 24 x / menit, Suhu 36,50C.

A : Akseptor KB SUNTIK 3 bulan Trycoflen

P : 1. Memberikan konseling pada ibu tentang sunti 3 bulan Trycoflen, cara

kerja, kelebihan dan kekurangan dari kontrapsesi suntik 3 bulan

Terycoflen.

2. Menjelaskan cara pemakaian KB suntik 3 bulan

1
3. .Menjelaska efek samping atau pun keuntungan seperti menstruasi tidak

teratur penurunan produksi ASI yang menurut, dan ibu sudah mengerti.
4. Memberikan ibu suntik 3 bulan.
5. Memberitahu ibu jika ada keluhan segera kembali ke tempat bidan.
6. Menjadwalkan kunjungan ulang pada tanggal 11 agustus 2018

B. PEMBAHASAN

1. Ante Natal Care (ANC)

Berdasarkan hasil asuhan komprehensif di Bidan Praktik Mandiri Sri

rezeki Kecamatan Muara Dua Kota Lhokseumawe yang dilakukan dua kali

kunjungan yaitu kunjungan pertama tanggal 22-Maret-2018 dan kunjungan

kedua tanggal 26-Maret-2018 pada Ny. L telah dilakukan pemeriksaan

kehamilan di BPM Sri Rezeki. Pemeriksaan kehamilan pada tanggal 22-Maret-

2018 usia kehamilan 38 minggu >2 hari di jumpai standar pelayanan pada saat

ANC 10 T tetapi saat dilakukan di BPM Sri Rezeki pelayanan ANC pada Ny. L

hanya yang tidak dilakukan tes PMS, senam hamil, terapi yodium, terapi obat

malaria. Dari Pengkajian data subjektif ibu mengatakan kondisinya dalam

keadaan baik. Imunisasi TT dua kali. Pemeriksaan HB dilakukan dan

mendapatkan hasil 10 gram%. Dari hasil pengkajian data objektif Ibu dalam

kondisi baik dan digolongkan dalam kategori anemia ringan.

Asuhan yang diberikan pada ibu antara lain yaitu timbang berat badan

dan ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, nilai gizi (ukur lingkar lengan

atas/LILA), ukur tinggi fundus, tentukan presentasi dan denyut jantung janin

(DJJ),skrining status imunisasi tetanus dan berikan imunisasi tetanus toksoid

1
(TT), menganjurkan ibu untuk minum tablet fe, pemeriksaan laboratorium,

tatalaksaan/penanganan kasus, temu wicara/konseling. (pedoman pelayanan

antenatal terpadu, 2015)

Pada kunjungan ulang tanggal 26-Maret-2018 usia kehamilan 38 minggu

>5 hari. Dari pengkajian data subjektif Ny. L tidak mempunyai keluhan. Dari

pengkajian data objektif secara keseluruhan hasil pemeriksaan fisik dan

laboratorium tidak ditemukan masalah, dari pemeriksaan HB didapatkan ada

sedikit kenaikan dari pemeriksaan sebelumnya 10 gr% menjadi 11 gr%

dikarnakan ibu ada mengkonsumsi buah bit dan tablet Fe. Dari pemeriksaan

kehamilan Ny. L di BPM Sri Rezeki 2x kunjungan ditemukan kesenjangan

antara teori dan praktek yaitu tidak dilakukan pemeriksaan sesuai standar karna

tidak adanya Indikasi yang memerlukan pemeriksaan.

2. Intra Natal Care (INC)

Ny L datang ke BPM pada tanggal 08-04-2018 jam 06:00 wib, Asuhan

persalinan pada Ny L yang dilakukan pada tanggal 01-03-2017 menunjukkan

bahwa Ny L sudah mengalami nyeri dan mules dari belakang pinggang

menjalar kedepan dan ibu tersebut mengatakan bahwa sudah mengeluarkan

Blood Show, mules dirasakan sejak mulai tanggal 07-04-2018 pukul 12.00 wib

pada tanggal 08-04-2018 usia kehamilan Ny L adalah 40 minggu >2 hari .

Nyeri yang dirasakan Ny L seiring waktu menjadi semakin kuat dan

setelah diperiksa ditemukan vital sign dalam batas normal, pembukaan serviks

5 cm, kontraksi 3x dalm 10 menit durasi 30 detik, penurunan kepala 3/5,

1
ketuban utuh, DJJ 148 x/menit, kala I pada Ny L berlangsung selama 3 jam 45

menit, kemudian mencapai pembukaan lengkap pada pukul 05.30 wib.

Data subjektif yang ditemukan pada 05.00 wib bahwa ibu sudah ada rasa

meneran, dan data objektifnya adalah pembukaan 10 cm, penurunan kepala 0/5,

kontraksi 5 kali dalam 10 menit dengan durasi 45 detik, DJJ 150x/menit,

presentasi UUK, berdasarkan hal tersebut diatas, maka ibu sudah berada dikala

II persalinan hanya berlangsung selama 15 menit, sejak dipimpin dengan baik

dengan menghadirkan keluarga, sehinggga bayi lahir spontan pada pukul 05.30

wib dengan Apgar 10, kondisi bayi menangis kuat, warna kulit kemerahan lalu

segera dikeringkan untuk mencegah terjadinya hipotermia. Kemudian tali pusat

dijepit, dipotong dan diikat lalu ditelungkupkan diantara payudara ibu dimana

bayi akan mencari puting susu ibunya sendiri Inisiasi Menyusui Dini (IMD).

Hal ini didukung oleh teori Sari & Ramandini (2014) bahwa bayi yang

ditengkurapkan didada atau perut ibu, dibiarkan untuk mencari sendiri puting

susu ibunya (bayi tidak dipaksakan keputing susu). Pada dasarnya, bayi

memiliki naluri yang kuat untuk mencari puting susu ibunya.

Dalam memberikan asuhan persalinan mengacu pada standar asuhan

persalinan normal yang terdiri dari 60 langkah. Dalam hal ini tidak terdapat

kesenjangan teori dan praktik.

Pada kala III plasenta lahir 15 menit tanpa adanya masalah, plasenta lahir

lengkap dengan jumlah kotiledon 20 dan selaput ketuban yang tidak tertinggal,

lalu masase segera dilakukan untuk mencegah terjadinya atonia uteri.

1
Selama kala IV pada Ny L tinggi fundus uteri 3 jari dibawah pusat,

pengeluaran lochea rubra, kandung kemih kosong. Pengawsan kala IV

dilakukan selama 2 jam postpartum yaitu untuk memantau perdarahan, tanda-

tanda vital, kontraksi, tinggi fundus uteri, dan kandung kemih, pada 1 jam

pertama pemantauan dilakukan setiap 15 menit sekali, pada 1 jam berikutnya

dilakukan setiap 30 menit.

3. Bayi Baru Lahir

Bayi Ny. L dengan jenis kelamin Laki-laki dalam keadaan sehat, berat

badan 3800 gram dan panjang badan 50 cm. Bayi tidak menunjukkan adanya

tanda-tanda kelainan apapun. Bayi Ny. L telah lahir pada jam 05.15 wib setelah

1 jam lahir bayi tidak diberikan Vit K di paha luar sebelah kiri, lalu tidak

diberian salap mata dan satu jam kemudian tidak diberikan imunisasi HBo di

paha luar sebelah kanan bayi. Asuhan yang diberikan mengajarkan ibu teknik

menyusui yang benar, tidak membuang colostrums dan cara merawat tali pusat

yaitu dengan pertahankan sisa tali pusat dalam keadaan terbuka agar terkena

udara dan tutupi dengan kain bersih secara longgar, menganjurkan ibu untuk

tetap menjaga kehangatan dan kebersihan bayi serta memberikan ASI hingga

berumur 2 tahun dan ASI eksklusif hingga 6 bulan ditemukan kesenjangan

antara teori dan praktek yaitu tidak dilakukan pemberian salap mata, Vit K, dan

HBo

4. Post Natal Care (PNC)

1
Pada masa nifas dilakukan pemeriksaan sebanyak 4 kali, yaitu pada 6

jam post partum, 6 hari post partum, 2 minggu post partum dan 6 minggu post

partum. Masa Nifas Ny. L berlangsung normal dimana involusi uterus, berjalan

dengan normal dan ASI ibu lancar. Pada 6 jam post partum, ibu tidak

mengalami perdarahan, ibu sudah dapat berkemih secara lancar, mobilisasi ibu

baik, ASI Ny. L masih sedikit.

Pada hari ke- 6, keadaan ibu baik, hubungan ibu dan bayi pun baik, ASI

mulai banyak, tidak ada masalah dalam proses eliminasi (BAK dan BAB)

pengeluaran pervaginam (lochea sanguinolenta), hal ini sesuai dengan teori

Sari & Rimandani (2014) Memastikan involusi uterus berjalan dengan normal,

uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada pendarahan

abnormal, tidak ada bau, menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, dan

pendarahan abnormal, memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan,

dan istirahat, memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan

tanda-tanda penyulit, memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada

bayi dan perawatan tali pusat, serta menjaga bayi tetap hangat dan merawat

bayi sehari-hari.

Pada minggu ke 2 keadaan ibu baik, hubungan ibu dan bayi semakin

baik, ASI mulai banyak, tidak ada masalah dalam proses eliminasi (BAK dan

BAB). Uterus 1 jari di atas simpisis. Pengeluaran pervaginam (lochea serosa).

Minggu ke 6 keadaan ibu baik. Ibu memutuskan untuk memakai KB Suntik 3

Bulan.

1
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1
Setelah penulis melakukan Asuhan Manajemen Kebidanan yang

Berkesinambungan pada masa Kehamilan, Persalinan, Bayi Baru Lahir, Nifas

dan KB pada Ny. L umur 21 tahun dengan G:I P:0 A:0 usia kehamilan 38 minggu

> 2 hari di Bidan Praktik Mandiri Sri Rezeki Kecamatan Muara Dua Kota

Lhokseumawe maka penulis menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Asuhan kebidanan Antenatal Care telah dilakukan pada Ny. L sesuai dengan

Standar Antenatal Care (ANC) dengan stndr 10 T.


2. Asuhan kebidanan proses persalinan telah dilakukan pada Ny. L dengan

kehamilan aterm dalam usia kehamilan 38 minggu > 2 hari sesuai dengan

Standar Intranatal Care.


3. Asuhan kebidanan pada bayi Ny. L sesuai dengan standar asuhan Bayi Baru

Lahir (BBL).
4. Asuhan kebidanan Masa Nifas pada Ny. L telah dilakukan sesuai dengan

standar asuhan Postnatal Care.


5. Asuhan Kebidanan Keluarga Berencana pada Ny. L telah dilakukan sesuai

dengan Standar KB.


6. Telah Melaksanakan pendokumentasian dalam bentuk SOAP dengan 7 langkah

varney.

B. Saran

1. Bagi Institusi Pendidikan


Diharapkan kepada institusi pendidikan untuk meningkatkan kualitas,

sarana dan prasarana serta pengembangan ilmu.


Mahasiswi
Diharapkan mahasiswi untuk menjadi pengalaman diri agar mampu dan

siap melakukan asuhan komprehensif kepada masyarakat.

1
3. Pasien
Diharapkan kepada ibu untuk segera ke pelayanan kesehatan bila ditemui

kelainan atau komplikasi pada kehamilannya.


4. Bidan Praktik Mandiri
Diharapkan kepada tenaga kesehatan untuk meningkatkan pelayanan

kepada Ibu hamil, Bersalin, Nifas, Menyusui, dan Akseptor KB sesuai standar.

DAFTAR PUSTAKA

Dinkes (2015) Profil kesehatan provinsi Aceh [Internet], Tersedia dalam


<http://www.dinkes.acehprov.go.id/uploads/fultext_prof16.pdf> [Diakses
21 Januari 2017]

Dewi & Sunarsih (2011), Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas, Jakarta : Salemba
Medika.

Hani et al. (2011) Asuhan Kehamilan Berbasis Bukt, Jakarta : CV.Sagung Seto

Irawan (2015) Angka Kematian Ibu Masih Tinggi, Cita-cita RA Kartini Belum
Tercapai [Internet] <http://www.wartakesehatan.com/48612/angka-kematian-
ibu-masih-tinggi-cita-cita-ra-kartini-belum-tercapai> [Diakses 15 Februari
2017]

1
Johariah & Ningrum,E.(2012)Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru
Lahir,Jakarta : Trans info media

JNPK – KR (2015) Asuhan Persalinan Normal, Jakarta

Kemenkes RI (2015) Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu

Kementerian kesehatan RI (2017), Profil Kesehatan Indonesia , Jakarta : Kementerian


Kesehatan RI.2017

Lailiana et al (2011), Asuhan kehamilan,Jakarta : Salemba Medika

Marmi & Raharja (2013),Ilmu Kebidanan,Penyakit Kandungan,Dan Kb,Jakarta :EGC

Malyani & Rinawati (2013) Perubahan fisiologi,bayi baru lahir.Jakarta : Selemba


Medika

(2013) Rencana Aksi Nasional Pelayanan Keluarga Berencana 2014-2015,


Jakarta : BKKBN.

(2013) Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu. Jakarta: WHO

(2013) Standar Asuhan Kebidanan [Internet], Tersedia dalam


<http://perpustakaan.depkes.go.id:8180/123456789/584/3/KMK938-0807-
G.pdf > [Diakses 15 Februari 2017]

(2014) Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014, Jakarta : Kementerrian


Kesehatan RI.Sekretariat JenderaL.

(2015) Profil kesehatan indonesia [Internet], Tersedia Dalam


<http://www.depkes.go.id/profil-kesehatan-Indonesia/profil-kesehatan-
Indonesia-2015.pdf> [Diakses 21 Januari 2017]

Pantiawati,I & Saryono (2010), Asuhan Kebidanan 1 (Kehamilan),Yogyakarta :


Salemba Medika

Permenkes RI. (2015) Kesehatan Ibu. [Internet], Tersedia dalam:


<http://www.kesehatanibu.depkes.go.id/171> [Diakses 22 Januari 2017]

1
Prawirohardjo,s(2010),Ilmu Kebidanan,jakarta : Yayasan Bina Pustaka.

Rukiah,A & Yulianti,L & Liana,M(2011),Asuhan Kebidanan III Nifas,Jakarta :


Salemba Medika

Rutgers WPF Indonesia. (2015) Kertas Kajian SRHR dan Agenda 2030 [Internet],
Tersedia dalam <http://www.rutgerswpfindo.org/assets/upload/sdgs-peper-
digital-2015.pdf > [Diakses 21 Januari 2017] Sumarah & Widyastuti,Y &
Wlyati,N(2010) Perawatan Ibu Bersalin,Yogyakarta : Fitramaya.

Sumarah & Widyastuti,Y & Wlyani,N(2010) perawatan ibu bersalin ,Yogyakarta :


Fitramaya

Saminem,(2010),Dokumentasi asuhan kebidanan,Jakarta : EGC.

Sari & Rimandini (2014) Ilmu Kebidanan,Penyakit Kandungan,Dan Kb,Jakarta :EGC

Susistyawati, A. (2012) Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas, Jakarta: Salemba


Medika

Unicef (2010) Kesehatan Ibu dan Anak [Internet] Tersedia dalam


:<https://www.unicef:org/Indonesia/id/A5_-
_B_Ringkasan_Kajian_Kesehatan_Rev.pdf> [Diakses 15 Februari 2017]

Wulanda,(2011).Biologi Reproduksi,Jakarta : Salemba Medika.

WHO (2014) AKI dan AKB menurut WHO tahun 2014 [Internet] Tersedia dalam:
<http://repository.usu.ac.id/bitstrem/123456789/50561/5/chapter
%201.pdf>[Diakses 21 Januari 2017]