Você está na página 1de 25

5

BAB II
DASAR TEORI

2.1 Bejana Tekan (Pressure Vessel)


Bejana tekan merupakan suatu wadah tertutup sebagai penampungan fluida
bertekanan, di mana fluida yang disimpan dapat mengalami perubahan fase saat
berada di dalam bejana tekan. Di mana fluida yang disimpan dapat mengalami
perubahan fase saat berada di dalam bejana tekan. Tekananan dalam bejana tekan
biasanya lebih tinggi daripada tekanan luar. Penggunaan bejana tekan biasa
digunakan untuk menggabungkan antara tekanan tinggi dan suhu tinggi, fluida yang
mudah terbakar, atau material dengan tingkat radio aktif tinggi (Syaefrudin, 2010).
Berdasarkan dimensi dinding, bejana tekan dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Bejana tekan dinding tebal, memiliki ketebalan dinding (sheel) lebih dari 1/20
diameter sheel.
2. Bejana tekan dinding tipis, memiliki ketebalan dinding (sheel) kurang dari 1/20
diameter sheel.

Gambar 2.1 (a) Bejana tekan dinding tipis (b) Bejana tekan dinding tebal
(Sumber: Dennis R. Moss, edisi ke-3, 2004)

Perbedaan bejana tekan dinding tipis dengan dinding tebal berada pada
distribusi tegangan yang terjadi pada dinding bejana tekan tersebut, pada bejana tekan
6

dinding tipis, distribusi tegangan dapat diabaikan karena perbedaan diameter luar
dengan diameter dalam sangat tipis sehingga distribusi tegangan yang terjadi sangat
kecil, sedangkan pada bejana tekan dinding tebal distribusi tegangan harus
diperhitungkan, dapat dilihat pada gambar 2.1 (Desnis R. Moss, 2004).
Berdasarkan posisinya, bejana tekan dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu
posisi vertikal dan posisi horizontal.
1. Posisi vertikal yaitu posisi tegak lurus terhadap sumbu netral axis, dimana bejana
tekan reaktor tipe PWR 1000 MWe juga merupakan bejana tekan vertikal.
2. Posisi horizontal.

Gambar 2.2 Bejana Tekan Vertikal (kiri) dan Horizontal (kanan).


(Sumber: http://atom.belta.by)

Bejana tekan telah digunakan dalam sejumlah industri, seperti industri


pembangkit listrik dengan bahan bakar fosil dan nuklir, industri petrokimia sebagai
tempat penyimpanan dan pengolahan minyak bumi (tempat penyimpanan pada
stasiun bahan bakar), dan beberapa industri kimia (pada reaktor kimia).
Penggunaannya telah berkembang di seluruh dunia. Bejana tekan dan tangki
merupakan elemen penting pada industri perminyakan, kimia, petrokimia, dan
industri nuklir. Hal ini dikarenakan peralatan tersebut merupakan tempat terjadinya
suatu proses, pemisahan, dan penyimpanan bahan baku. Ukuran dan bentuk bejana
tekan sangat beragam, silindris besar sampai kecil yang digunakan pada tekanan
7

tinggi sebagai penyimpanan gas, sebagai tabung fluida dalam suatu sistem hidrolik
pada pesawat terbang dan alat berat. Sedangkan bentuknya, seringkali berbentuk bola
atau silinder dengan ujung berkubah. Bejana tekan silinder lebih sering dipilih karena
lebih sederhana dalam pembangunannya dan memiliki kesesuaian ruang yang lebih
baik. Peletakannya juga beragam, ada yang ditanam di dalam tanah atau jauh di
dalam laut, di atas tanah, atau pun ditumpu pada platform (J. Purnomo, 2012).
2.1.1 Reaktor Air Bertekanan (Pressurized Water Reactor, PWR)
Dalam reaktor air bertekanan, air ringan (H2O) digunakan sebagai pendingin
dan medium pelambat neutron (moderator neutron). Sistem pendingin yang melalui
teras reaktor ini disebut sistem pendingin primer. Di dalam sistem pendingin primer
tidak diperbolehkan terjadi pendidihan, karena itu sistem dibuat bertekanan tinggi.
Dari sistem pendingin primer yang bertekanan tinggi dan bertemperatur tinggi ini, air
pendingin dialirkan ke pipa-pipa dalam sistem pembangkit uap. Di luar pipa ini air
menerima panas dari air pendingin primer dan mengalami penguapan. Uap yang
terjadi dari air pendingin sekunder ini kemudian dialirkan ke turbin untuk memutrar
generator listrik. Reaktor air tekan pada awalnya dikembangkan oleh perusahaan
Westinghouse dan Puslit pemerintah Amerika Serikat di Argonne. Pada mulanya
reaktor ini dikembangkan untuk penggerak kapal selam. Nautilus adalah salah satu
nama kapal selam bertenaga nuklir yang beroperasi dari tahun 1954 sampai tahun
1980. Berbekal keberhasilan membuat reaktor untuk kapal selam, perusahaan
Westinghouse membangun reaktor untuk pembangkitan listrik di pelabuhan dengan
daya 100 MWe. Reaktor ini beroperasi dari Desember 1957 hingga Oktober 1982.
Reaktor ini dikenal sebagai reaktor air tekan berdaya besar pertama di dunia. Dalam
pengoperasiannya untuk tujuan percobaan, pada saluran pendingin primer yang
masuk dan keluar bejana reaktor ditempatkan saluran nosel. Pada teras reaktor
dilakukan uji coba dengan menempatkan konstruksi selimut (seed-blanket), dan
menggunakan batang kendali hafnium berbentuk silang. Berbeda dengan reaktor air
tekan standar, pada reaktor ini pembangkit uap masih diletakkan dengan posisi
horisontal (mendatar). Beberapa lama kemudian didirikan reaktor air tekan dengan
menggunakan stainless-steel sebagai bahan kelongsong, dan batang kendali
8

berpenampang silang. Baru pada tahun 1970, yaitu pada PLTN Beznau dan Ginna,
dibangun reaktor air tekan dengan kelongsong Zirkalloy-4, kendali kompensasi
kimiawi (chemical-sim), kluster batang kendali, dan pembangkit uap yang diletakkan
berdiri tegak. Reaktor ini menjadi standar reaktor air tekan hingga saat ini. Pemasok
atau pembuat reaktor air tekan di antaranya adalah Westinghouse, Brown Boveri
Combustion Engineering Nuclear Power dan Bibcock & Wilcock Co. dari Amerika
Serikat. Pemasok dari Eropa adalah Framatome-Perancis, Siemens-Jerman dan
Mintyazhmash (Ministry of Heavy Industries) Rusia. Pemasok reaktor air tekan dari
Jepang hanya perusahaan Mitsubishi. Hingga pada tahun 1999, dari 341 buah reaktor
air ringan yang beroperasi, 73 % di antaranya adalah tipe reaktor air tekan (PWR).
Dari seluruh reaktor air ringan yang sedang dibangun (35 buah), 83 % di antaranya
adalah tipe reaktor air tekan (Batan, 2003).
2.1.2 Komponen Utama Bejana Tekan Reaktor
Komponen-komponen dari suatu bejan tekan reaktor terdiri dari beberapa
bagian utama seperti: dinding (sheel), kepala bejana tekan, lobang orang (manhole),
nosel-nosel (nozzles), penyangga (saddle), dan aksesoris lainnya yang digunakan
sebagai alat pendukung, baik komponen yang berada di dalam maupun luar, sebagai
suatu alat proses pemisahan dan penampunga. Deskripsi sistem utama reaktor air
bertekanan diperlihatkan pada Gambar 2.3. Dalam reaktor air bertekan terdapat
konstruksi sistem pendinginan primer (sistem reaktor) dan sistem pendingin sekunder
(sistem uap). Keduanya mengungkung material radioaktif agar tidak menyebar keluar
dari reaktor. Pada sistem pendingin primer air tidak diperbolehkan mendidih dengan
cara memberi tekanan yang cukup tinggi. Air pendingin bertekanan tinggi dan
bertemperatur tinggi (tekanan 157 kg/cm2 dan temperatur 325 oC) dari sistem primer
dialirkan ke perangkat pembangkit uap (steam generator) dengan pompa sirkulasi
primer. Setelah melepaskan energi panasnya, air ini kemudian dikembalikan ke
bejana reaktor. Pada perangkat pembangkit uap, panas dialihkan ke pendingin pada
sistem sekunder. Dengan panas tersebut air sistem sekunder diubah menjadi uap
dalam perangkat pembangkit uap. Temperatur uap di sistem sekunder pada saat
reaktor beroperasi adalah 277 oC dan tekanannya 62 kg/cm2. Uap yang terbentuk ini
9

kemudian dialirkan untuk menggerakkan turbin yang digandengkan dengan generator


listrik. Uap dari turbin dialirkan ke kondenser untuk diembunkan (diubah menjadi
fase cair), selanjutnya air ini dikembalikan ke pembangkit uap dengan bantuan pompa
sekunder. Cara kerja sistem primer dan sekunder yang dijelaskan di atas dianut oleh
reaktor air bertekanan buatan Westinghouse dan Mitsubishi (Batan, 2003).
2.1.3 Thermal Stress Pada Bejana Silinder Dinding Tipis
Thermal stress adalah "tegangan sekunder" karena dapat membatasi diri.
Artinya, yielding atau deformasi tegangan terjadi dalam batas lentur atau elastis.
Tegangan termal tidak akan menyebabkan kegagalan karena pecahnya bahan ulet
kecuali dengan fatigue pengulangan berlebihan dapat menyebabkan kegagalan oleh
deformasi yang berlebihan. Dalam studi tegangan sekunder yang diijinkan, masih
dalam batas tegangan elastis yang dihitung sama dengan dua kali tegangan luluh,
maka diterapkan; 2 Sy adalah nilai maksimum tegangan elastis sekunder (IAEA,
1999).
Pada sebuah bejana silinder dinding tipis, ketika terjadi suatu peningkatan
suhu radial. Suhu di dinding bagian dalam adalah T1 dan lebih besar dari temperatur
T2 di dinding luar. Jika bejana ditahan pada satu arah saja dan bebeas berdeformasi
ke arah lainnya, maka tegangan tegangan termal σth dapat ditentukan dengan
persamaan (2.1)

................................................................................................ (2.1)

dimana: α = koefisien ekspansi termal, dan v = Poisson rasio (Dennis R. Moss, 2004).
10

Gambar 2.3 Konstruksi Bejana tekan reaktor PWR.


(Sumber: www.batan.go.id)
11

2.1.4 Tegangan Internal Pada Silinder


Ketika silinder tipis diberikan tekanan internal, ada tiga tegangan principal
yang saling tegak lurus yaitu, tegangan tekanan-melingkar (hoop), tegangan
longitudinal, dan tegangan radial yang bereaksi di dalam material silinder, seperti
pada gambar 2.4.

σr

σl
σh

Gambar 2.4 Tegangan yang terjadi pada bejana tekan dinding tipis.
(Sumber: Clemens Kaminski, 2005)

Jika rasio ketebalan t dan diameter dalam dari dt silinder kurang dari 1:20, teori
membran dapat dipakai dan dapat diasumsikan bahwa hoop dan tegangan
longitudinal adalah konstan pada ketebalan dinding. Besarnya tegangan radial
sangatlah kecil dan dapat diabaikan. Hal ini harus dipahami bahwa pendekatan yang
disederhanakan ini dapat digunakan secara luas untuk desain bejana tekan silinder
dinding tipis. Namun, dalam kenyataannya, tegangan radial bervariasi mulai dari nol
pada permukaan luar dengan nilai yang sama dengan tekanan internal di permukaan
dalam, dimana ujung silinder diasumsikan tertutup. Tegangan hoop diatur agar dapat
mengimbangi efek pecah dari tekanan yang diaplikasikan pada bejana dan dengan
mengambil keseimbangan, setengah dari bejana silinder, seperti pada gambar 2.5.
12

Gambar 2.5 Tegangan hoop pada dinding bejana tekan.


(Sumber:Sachindranarayan Bhaduri, 2005)

Untuk menentukan tegangan hoob pada dinding silinder dinding tipis dapat dihitung
dengan persamaan berikut:

........................................................................................................... (2.2)

atau

...............................................................................................................................(2.3)

Meskipun sederhana, Persamaan (2.2) dan (2.3) memiliki aplikasi yang luas dalam
penggunaannya yang melibatkan boiler drum, akumulator, pipa, bejana pengolahan
zat kimia, dan bejana tekan reaktor nuklir. Persamaan (2.2) dan (2.3) memberikan
tegangan tangensial maksimum pada dinding bejan dengan asumsi bahwa penutupan
akhir tidak memberikan gaya apapun, seperti halnya dengan silinder panjang dan
pipa.
13

Gambar 2.6 Tekanann internal pada bejana tekan dinding tipis.


(Sumber: E.J. Hearn, 1997)

Kesetimbangan gaya dalam arah aksial dirumuskan sebagai tegangan


longitudinal:

........................................................................................................... (2.4)

atau

............................................................................................................. (2.5)

Tegangan yang terjadi pada arah radial dianggap sama dengan tekanan internal dan
berbanding terbalik dirumuskan pada persamaan (2.6).

............................................................................................................ (2.6)

(E.J. Hearn, 1997):


14

2.1.5 Faktor Keamanan dan Tegangan Izin (σs)


Faktor keamanan dalam desain harus mempertimbangkan hampir semua
faktor yang mungkin meningkatkan terjadinya kegagalan. Dalam dunia modern faktor
keamanan umumnya antara 1,2 – 3. Dalam modern engineering practice faktor
keamanan dihitung terhadap significant strength of material, jika kegagalan
melibatkan yield maka significant strength of material adalah yield, jadi tidak harus
terhadap ultimate atau tensile strength. Dengan demikian faktor keamanan
didefinisikan sebagai:

......................................................... (2.7)

Pada bejana tekan reaktor PWR 1000 MWe, nilai intensitas tegangan izin
ditetapkan berdasarkan standar desain dan fabrikasi ASME section III. Untuk
menentukan desain tegangan izin pada bejana tekan terhadap beban kombinasi
termal yang dikategorikan secondary stress dan beban tekanan internal dikategorikan
primary stress. ditentukan berdasarkan nilai intensitas stress pada tabel 2.1 (IAEA,
1999).

Tabel 2.1 Batas intensitas tegangan dan potensi kegagalan pada setiap kategori stress
(IAEA, 1999).
Aplikasi Tegangan Batas Intensitas Tegangan
Primary + Secondary 3.0 . Sm

Di mana nilai intensitas stress (Sm) diambil berdasarkan kode desain ASME section
III untuk baja feritik yaitu 1/3 dari kekuatan tarik maksimum (tensile strength) atau
2/3 dari kekuatan yielding (yield strength) dapat dilihat pada persamaan (2.8).

2.1.6 Teori Kegagalan Statik


Kegagalan pada suatu struktur elemen dapat terjadi dalam berbagai wujud
seperti misalnya yielding, retak, patah, scoring, pitting, korosi, aus, dan lain-lain.
15

Penyebab kegagalan juga bermacam-macam seperti misalnya salah design, beban


operasional, kesalahan perawatan, cacat material, temperatur, lingkungan, waktu, dan
lain-lain. Tingkat kegagalan untuk material ulet akan dibatasi oleh kekuatan yield,
dan material getas dibatasi oleh kekuatan ultimate. Analisis menunjukkan bahwa
untuk material ulet, kegagalan lebih ditentukan oleh kekuatan geser, sedangkan untuk
material getas, kegagalan lebih ditentukan oleh kekuatan tensile. Material yang ulet
akan patah jika tegangan akibat beban statik diatas kekuatan tarik ultimatenya.
Teori kegagalan ini diperkenalkan oleh Huber (1904) dan kemudian
disempurnakan melalui kontribusi Von Mises dan Hencky. Tegangan efektif Von
Mises (σ’) didefinisikan sebagai tegangan tarik uniaksial yang dapat menghasilkan
energy distorsi yang sama dengan yang dihasilkan oleh kombinasi tegangan yang
bekerja.

........................................................... (2.8)

Maka, bejana tekan reaktor akan mengalami kegagalan. Persamaan 2.8 menunjukan
kriteria kegagalan statik bejana tekan reaktor (IAEA 1999).

.................... (2.9)

2.2 Konsep Finite Element Method (FEM)


FEM adalah singkatan dari Finite Element Method, dalam bahasa Indonesia
disebut Metode Elemen Hingga. Konsep paling dasar FEM adalah, menyelesaikan
suatu problem dengan cara membagi obyek analisa menjadi bagian-bagian kecil,
kemudian dianalisis dan hasilnya digabungkan kembali untuk mendapatkan
penyelesaian untuk keseluruhan daerah. Kata “finite atau terhingga” digunakan untuk
menekankan bahwa bagian-bagian kecil tersebut tidak terhingga, seperti yang lazim
digunakan pada metode integral analitik. Finitie Element adalah salah satu dari
metode numerik yang memanfaatkan operasi matrix untuk menyelesaikan masalah-
16

masalah fisik. Metode lain yang adalah metode analitik, yang untuk melakukannya
diperlukan suatu persamaan matematik yang merupakan model dari perilaku fisik.
Semakin rumit perilaku fisiknya (karena kerumitan bentuk geometri, banyaknya
interaksi beban, constrain, sifat material, dll) maka semakin sulit atau bahkan
mustahil di bangun suatu model matematik yang bisa mewakili permasalahan
tersebut. Alternatif metodenya adalah dengan cara membagi kasus tadi menjadi
bagian-bagian kecil yang sederhana pembagian ini disebut diskritisasi yang mana
pada bagian kecil tersebut kita bisa membangun model matematik dengan lebih
sederhana. Kemudian interaksi antar bagian kecil tersbut ditentukan berdasarkan
fenomena fisik yang akan diselesaikan. Metode ini dikenal sebagi metode elemen
hingga, karena kita membagi permasalahan menjadi sejumlah elemen tertentu (finite)
untuk mewakili permasalah yang sebenarnya jumlah elemennya adalah tidak
berhingga (kontinum). Diskritisasi yang dilakukan dapat dilakukan dengan
menggunakan elemen satu dimensi (elemen garis), dua dimensi (elemen bidang,
ataupun tiga dimensi (elemen solid/kontinum). Pendekatan menggunakan elemen
kontinum untuk menentukan pendekatan penyelesaian masalah yang lebih mendekati
sebenarnya. Langkah-langkah singkat diskritisasi digambarkan pada ilustrasi gambar
2.7 (Yang T. Y. 1986).

Gambar 2.7 Ilustrasi langkah-langkah dalam FEM.


(Sumber: http://www.infometrik.com/2009/07/konsep-dasar-finite-element-method)
17

2.2.1 Struktru dan Matrik Kekakuan


Metode kekakuan (stiffness method) ini adalah mencari hubungan gaya dan
perpindahan. Kekakuan adalah aksi yang diperlukan untuk menghasilkan unit
displacemen, yang secara matematis dapat dinyatakan:

..................................................................................................... (2.10)

di mana {F} menyatakan gaya-gaya yang timbul pada titik-titik diskrit akibat
terjadinya perpindahan {D} pada titik tersebut. Sedangkan [K] menyatakan kekakuan
dari struktur. Secara garis besar metode kekakuan didasarkan pada tiga langkah
utama yang merupakan prinsip dasar analisi struktur yaitu:
a. Keselarasan deformasi (compatibility), yaitu kriteria yang mengatur hubungan
dari komponen perpindahan satu dengan yang lainnya, sehingga kontinuitas
perpindahan terjamin di seluruh ataupun sebagian struktur.
b. Persamaan hubungan tegangan dan regangan (stress-strain relationship), yaitu
mencari besarnya gaya-gaya dalam yang timbul sebagai akibat terjadinya
perpindahan atau deformasi pada elemen-elemen struktur tersebut.
c. Keseimbangan (equilibrium) sebagai langkah terakhir yang menyatakan
hubungan antara gaya-gaya luar yang bekerja di titik diskrit dengan gaya-gaya
dalam atau mencari besar gaya luar yang tepat diimbangi oleh gaya-gaya
dalam elemen di titik-titik diskrit.
Prosedur analisis struktur pada metode matrik kekakuan dimulai dengan
mengubah sistem struktur yang ada menjadi struktur yang tergolong kinematis
tertentu, tahap-tahap perhitungan adalah sebagai berikut:
a. Tentukan model diskritisasi struktur yang digunakan untuk mempresentasikan
struktur dalam analisis. Tetapkan jumlah elemen, titik simpul serta derajat
kebebasan struktur.
b. Tetapkan jenis elemen yang perlu digunakan serta memodelkan medan
perpindahan struktur.
18

c. Untuk masing-masing elemen, susunan matrix kekakuan dalam tata sumbu


lokal [ki], vektor beban ekivalen pada titik diskrit [fi], matrix transformasi [Ti]
serta vektor tujuan {Ds}.
d. Rotasikan matriz kekakuan dan vektor vevan ekivalen ke tata sumbu global
[Ki] = [Ti]T[ki][Ti] dan {Fie} = [Ti]T [fi]
e. Rakitkan matrix kekakuan dan vektor beban ekivalen serta beban titik simpul
ke dalam persamaan keseimbangan global dengan rumus [Ks] = Σ[Ti]T[ki][Ti]
dan {Fs} = {Fsj} + Σ[Ti]T{fi}
f. Berdasarkan hasil pada poin (e), sistem persamaan kesetimbangan dalam tata
sumbu global dapat dinyatakan dalam [Ks]{Ds} = {Fs}
g. Jika terdapat kekangan, modifikasi persamaan keseimabangan pada poin (f)
sesuai dengan kondisi batas yang ada, sehingga diperoleh [Ks1]{Ds} = {Fs1} di
mana [Ks1] dan {Ds} merupakan matrix kekakuan dan vektor beban dalam tata
sumbu global yang termodifikasi akibat adanya syarat pengekangan.
h. Bila telah diketahui medan perpindahan {Ds}, maka perpindahan setiap
elemen dalam tata sumbu local dapat dihitung dengan: {di} = [Ti]{Di} serta
gaya dalam masing-masing elemen {fi} = [ki]{di}-{fi0}, di mana {fi0}
merupakan vektor ekivalen di titik nodal (S. Widodo).
Contoh struktur sederhana menggunakan prinsip kekakuan:
19

Gambar 2.8 Struktur beam sederhana

Maka matrix kekakuan menggunakan persamaan berikut:

................................................................................... (2.11)

................................................................................... (2.12)

................................................................................... (2.13)

Kemudian masukan ke dalam persamaan (2.12), maka akan diperoleh persamaan


(2.16)

...........................................................(2.14)

2.2.2 Kesalahan Komputasi dan Diskritisasi Dalam Analisis FEM


20

Metode elemen hingga adalah metode numerik domain diskritisasi dari


struktur secara berkelanjutan sehingga kesalahan mungkin terjadi. Kesalahan yang
mungkin terjadi yaitu :
1. Kesalahan komputasi
Kesalahan ini adalah karena perhitungan komputer dan formulasi dari skema
integrasi numerik yang digunakan. Untuk tujuan komersial kebanyakan kode batasan
elemen adalah berkonsentrasi pada pengurangan dalam kesalahan ini dan akibatnya
analisis umumnya berkaitan dengan diskritisasi faktor.
2. Kesalahan diskritisasi
Geometri dan distribusi perpindahan struktur yang sebenarnya terus menerus
bervariasi. Menggunakan jumlah elemen terbatas untuk model struktur dapat
menerangkan kesalahan dalam pencocokan geometri dan distribusi perpindahan
karena keterbatasan matematika yang melekat pada elemen. Berikut ini adalah contoh
kesalahan dalam diskritisasi dengan ketebalan yang konstan pada strukur plat tipis
ditunjukan pada Gambar 2.11 (a) dan (b) (Y. A. Nugroho, 2012):

Gambar 2.9 (a) Pemberian beban pada suatu plat, (b) Model elemen hingga
(Sumber: eprints.undip.ac.id/41551/3/3-BAB_II.pdf).
Sebuah model elemen hingga dari komponen atau sistem adalah gambaran
matematis menggunakan ukuran, berbentuk sederhana, entitas kecil, terbatas dan
terhubung (yaitu garis, permukaan, solid) yang disebut elemen hingga. Pemodelan
meshing terdiri dari beberapa proses, yaitu:
a. Buat geometri yang sesuai
21

• parametrik atau non-parametrik


• Hapus fitur yang tidak diperlukan, misalnya sudut kecil
b. Tentukan topologi elemen (misalnya parabola) dan ukuran
c. Tentukan mesher, misalnya Tetmesh, untuk masing-masing daerah
d. Tentukan bagaimana kerapatan meshers (MSC Software, 2012)

2.3 Tetrahedral Mesh


Meshing sering digunakan untuk mensimulasikan fenomena fisik numerik
pada komputer. Dalam rekayasa, simulasi numerik meshing dapat membantu desain
dan uji pesawat terbang, jembatan atau komponen-komponen sebelum dirakit. Hal ini
dapat mengurangi biaya dan meningkatkan kecepatan pembangunan prototipe. Pada
kebanyakan aplikasi, tetrahedral sering digunakan, sementara bentuk tetrahedral yang
ideal dapat lihat gambar 2.10.

Gambar 2.10 Bentuk tetrahedral pada metode numerik.


(Sumber: Francois Labelle, 2007)

Sebuah tetrahedra memiliki 6 sudut dihedral (ɵ) satu per tepi tetrahedron dan 12
sudut bidang (φ) 3 di masing-masing 4 permukaan segitiga. Sudut dihedral di tepi
adalah sudut antara insiden dua wajah segitiga (Francois Labelle, 2007).

2.4 Konsep Simulasi


MSC Nastran dikembangkan dan dikelola oleh The Mac-Neal Schwendler
Corporation, sebuah organisasi internasional yang berbasis di Los Angeles dan
22

dengan kantor-kantor di seluruh dunia. MSC Nastran telah digunakan selama lebih
dari lima belas tahun oleh para insinyur dan peneliti untuk memecahkan berbagai
masalah mekanik, dan teknik kedirgantaraan. Kode ini terutama alat analisis
struktural untuk statika dan dinamika, termasuk perilaku nonlinier-linier dan juga
dapat digunakan untuk heat transfer, aeroelasticity, dan interaksi struktur juga
masalah elektromagnetik (www.mscsoftware.com).
MSC Nastran adalah aplikasi analisis struktural multidisiplin yang digunakan
oleh para insinyur untuk melakukan analisis statis, dinamis, dan termal di seluruh
domain linear dan nonlinear, dilengkapi dengan optimasi struktural otomatis dan
memenangkan tertanam teknologi analisis kelelahan penghargaan, semua diaktifkan
oleh komputasi kinerja tinggi. Insinyur menggunakan MSC Nastran untuk
memastikan sistem struktural memiliki kekuatan sesuai kebutuhan, kekakuan, dan
jangka waktu pemakaian untuk mencegah kegagalan (kelebihan tekanan, resonansi,
buckling, atau deformasi merugikan) yang mungkin membahayakan fungsi struktural
dan keselamatan. MSC Nastran juga digunakan untuk meningkatkan ekonomi dan
kenyamanan pengguna dari desain structural (MSC Software, 2015).
Memilih MSC Nastran sebagai pilihan dengan kode analisis di MSC Patran,
untuk mengaktifkan proses kustomisasi. Kustomisasi ini memastikan bahwa data
cukup dan tepat yang dibutuhkan untuk antarmuka MSC Patran-MSC Nastran. Secara
khusus, bentuk MSC Patran di daerah-daerah utama yang dimodifikasi:
• Material
• Properti Element
• Finite Elemen dan Meshing
• Beban dan Kondisi Batas
• Analisis Struktur
MSC Nastran bekerja dimulai dengan tiga proses yang berlainan, yaitu :
1. Pre-processing yaitu kegiatan dalam pembuatan geometri, yang mana pada
penggambaran ini dapat di import dari Computer Aided Design (CAD) ataupun
dibuat dalam nastran itu sendiri, kemudian memasukkan jenis dan sifat material.
23

2. Meshing, dapat dibuat dengan berbagai metode, yaitu Generate


Between, Generate Region, On Geometri, Boundary Mesh dan transition.
3. Post-processing yaitu proses penganalisaan dari geometri tersebut (MSC Nastran,
1997).
2.4.1 Penggunaan MSC Nastran
MSC Nastran memiliki dua program utama yaitu :
1. Pre/post processor yang disebut Femap. Femap berfungsi untuk merancang
model, memvalidasi dan melihat hasil analisis metode elemen hingga.
2. MSC Nastran merupakan program/kode utama metode elemen hingga yang
berorientasi numerik/text yang berfungsi menganalisa model yang diinginkan,
sehingga didapat hasil sesuai dengan jenis analisisnya.
Work flow yang terdapat pada Patran adalah:
1. Pilih kode analysis dan import geometri
2. Geometri
3. Create analysis model
4. Perform the analysis
5. Evaluate dan publish analysis results (MSC Software, 2012).

Gambar 2.11 Main menu pada MSC Nastan/Patran.


(Sumber: MSC Software, 2012)
24

1. Menu File pada Patran dengan analisis kode MSC Nastran berfungsi membuat
data base untuk tipe analisis dan
2. import atau build geometri. Format geometri yang dapat diimport dari
computer aided design (CAD) adalah:
 CATIA
 I-DEAS
 Pro/ENGINEER
 Unigraphics
 Parasolid xmt
 ACIS
 IGES
Pengguna dapat mengimport file dari computer aided design (CAD) dengan:
klik menu file > import > object: model, source: IGES > apply.

Gambar 2.12 Pilihan pada jendela import file


(Sumber:MSC Software, 2012)

3. Membuat model analisis terbagi menjadi tiga tahap yaitu meshing,


load/boundary condition, dan properties material. Pengenalan bentuk
algoritma meshing dapat dilihat pada gambar 2.13.
25

 Meshing algoritma:
a. Iso Mesh (Mapped Mesher)
b. Paver (Free Mesher)
c. Tet Mesh
d. Sweep Mesh

(a) (b)

(c) (d)
Gambar 2.13 (a) Iso Mesh, (b) Paver Mesh, (c) Tet Mesh, (d) Sweep Mesh.
(Sumber: MSC Software, 2012)

 Load/Boundary condition
Bidang beban dan kondisi batas ditentukan dengan cara pilih tipe
pembebanan: Force, Temperature, pressure, kemudian input nilai beban
dengan klik input data > isi nilai beban sesuai arah sumbu x,y,z > klik
26

bidang yang akan diberi pembebanan > apply. Kondisi batas diatur dengan
mengklik displacement constraint: plotkan nilai-nilai pada sumbu x,y,z
translasi dan rotasi sesuai yang dengan kondisi batas yang diinginkan pada
model.
 Properties material
Element Properties muncul ketika mengklik Element Properties, terletak
pada form utama MSC Patran. Ada beberapa menu pilihan yang tersedia
saat membuat properties elemen. Pilihan pada menu Element Properties
akan menentukan properti elemen form yang muncul, kemudian
karakteristik material MSC Nastran akan dibuat. Properties material diisi
dengan nama material dan karakteristik material yang digunakan seperti
modulus elastisitas, poison rasio, desnsitas material, konduktivitas termal.
Gambar 2.14 memberikan pengenalan bentuk properties material.

Gambar 2.14 Jendela properties material.


(Sumber: MSC Software, 2012)

4. Analysis model pada MSC Nastran dilakukan dengan memilih entire model
pada menu Analysis > action: analysis > object: entire model > method: full
run > solution type: linear static > apply.
27

5. Evaluasi hasil analisis klik XDB > pilih nama model file > ok > action:
analyze > object: attach XDB > method: result entities > apply. Pada menu
result pilih: fringe/deformation > action: create > object: quik plot > apply.
Klik report > action: create > object: quik plot > method: append file > apply.
Ringkasan alur simulasi yang terjadi pre-processing hingga post-processing adalah
sebagai berikut:
a. Pre-Processing
 Import atau membuat geometri
 Create finite element mesh
 Apply boundary condition
 Apply loads
 Create material properties
 Create element properties
 Menganalisa model pada solver
b. Solver
 Penyelesaian untuk displacement
 Menghitung strains
 Menghitung stresses
c. Post-Processing
 Deformation plots
 Stress fringe plots
 Pelaporan (MSC Software, 2012).
2.4.2 Pre/Post-Processing Software
Patran adalah software pre / post-processing untuk Analisis Elemen Hingga
(FEA) yang paling banyak digunakan dunia. Patran menyediakan pemodelan solid,
meshing, setup analisis dan pengolahan pasca untuk beberapa pemecah termasuk
MSC Nastran. Patran menyediakan set alat yang mengefektifkan proses analisis
model linear, nonlinear, dinamika eksplisit, termal, dan solusi elemen hingga lainnya.
Meshing mudah dibuat pada permukaan dan solid secara otomatis atau secara manual
28

yang memberikan kontrol lebih, atau kombinasi dari keduanya. Aplikasi beban,
kondisi batas, dan setup analisis untuk pemecah finit elemen dapat diterapkan dengan
mudah dengan Patran. Patran menampilkan hasil untuk struktural, termal, fatigue,
fluida, analisis magnetik, atau dalam kaitannya dengan aplikasi lain di mana nilai
yang dihasilkan terkait dengan elemen hingga atau node. Imaging meliputi
kemampuan grafis yang lengkap dalam produk Patran, termasuk shading grafis dan
verifikasi visual sebelum analisis. Imaging memiliki sejumlah pilihan yang
memanfaatkan kemampuan perangkat keras khusus, termasuk lokal pandangan
manipulasi, shading lokal, dan transparansi. Pengguna juga dapat mengekspor
gambar dan film dalam berbagai format standar untuk disertakan dalam dokumen dan
pelaporan berbasis web (MSC Software, 2015).
2.4.3 Fitur MSC Nastran
MSC Nastran didasarkan pada Metode Elemen Hingga. Masalah nonlinier
finit elemen dapat diselesaikan, baik dengan bentuk numerik teknik implisit atau
eksplisit. Sejumlah algoritma optimasi yang tersedia, termasuk kemampuan uji
fatigue pada MSC Nastran dan telah dikembangkan bersama oleh Code International
Ltd. dan MSC Software. Adapun keunggulan MSC Nastran adalah sebagai berikut:
1. Multidisiplin structural analysis
Solusi analisis struktur umum yang didedikasikan untuk satu atau disiplin ilmu
analisis beberapa. Untuk membangun tingkat komprehensif engineering kemampuan
analisis, beberapa solusi perangkat lunak harus diperoleh, dan pengguna harus dilatih
dengan masing-masing alat baru. MSC Nastran memiliki berbagai disiplin ilmu
analisis, memungkinkan pelanggan dengan satu solusi analisis struktural untuk
berbagai macam masalah teknik.
a. Menggunakan salah satu bentuk plat untuk melakukan analisis linear atau
nonlinear untuk disiplin berikut: statis, dinamis (NVH & Akustik termasuk),
termal, dan buckling, dan mengurangi ketergantungan pada beberapa program
analisis struktur dari berbagai vendor.
b. Menjalankan analisis kelelahan dengan teknologi kelelahan ditanamkan dan
mengurangi waktu biasanya berhubungan dengan penentuan umur kelelahan.
29

c. Mengkaji perilaku komposit lanjutan dan diperkuat serat plastik dengan


dibangun di Analisis Kegagalan Progresif dan Ditetapkan Pengguna Layanan
untuk Berarti lapangan Homogenisasi menggandeng dengan Digimat.
2. Komputasi performa tinggi
Model analisis bisa sangat besar dalam ukuran, membutuhkan jangka waktu untuk
menyelesaikan. Model tersebut membutuhkan jam atau hari untuk memecahkan
dengan aplikasi FEM tradisional. MSC Nastran dengan kemampuan High
Performance Computing memungkinkan para insinyur untuk memecahkan masalah
besar dengan cepat.
a. Mengambil keuntungan dari kelompok multi-core dan multi-node dengan
teknologi paralelisasi: Memori Bersama Paralel dan Terdistribusi Memory
Paralel.
b. Memanfaatkan kartu GPU Nvidia untuk mempercepat analisis model terdiri
dari finit elemen tiga dimensi (3D).
3. Costumer service
MSC Software menyediakan sejumlah sumber daya untuk mendukung penggunaan
MSC Nastran. Layanan yang tersedia meliputi:
a. MSC Learning Center, pelanggan diberikan hak untuk mengakses seluruh
katalog pelatihan MSC Nastran.
b. Keahlian MSC Nastran, MSC Software adalah salah satu pengembang asli
dari kode NASTRAN pertama dan telah terus dikembangkan MSC Nastran
selama lebih dari 40 tahun (MSC Software, 2015).