Você está na página 1de 31

BAGIAN BEDAH LAPORAN

KASUS
FAKULTAS KEDOKTERAN NOVEMBER 2018
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

FIBROADENOMA MAMMA

DISUSUN OLEH :
Kurnia Idris
111 2016 2090
SUPERVISOR PEMBIMBING :
dr. Budiman Siri, Sp.B

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2018

BAB I

1
LAPORAN KASUS
I. Identitas pasien
Nama : Ny. H
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 39 tahun
Alamat : BTN Mitra Lapadde Indah, Parepare
Pekerjaan : PNS
No. RM : 156862
II. Anamnesis
Keluhan utama :
Benjolan pada kedua payudara
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke RSUD Andi Makkasau Parepare dengan keluhan benjolan
pada kedua payudara sejak ± 3 minggu yang lalu, bisa digerakkan, yang
ukurannya tidak bertambah besar sejak muncul. Benjolan pada payudara kanan
kadang terasa nyeri, benjolan pada payudara kiri tidak terasa nyeri. Tidak ada
cairan yang keluar dari benjolan. Pasien tidak mengeluhkan demam, pusing (-
), mual (-), muntah (-), sesak (-), nyeri ulu hati (-), BAB biasa dan BAK lancar.
Pasien sudah menikah, riwayat haid teratur, dan riwayat penggunaan
kontrasepsi hormonal selama satu tahun.

Riwayat Penyakit Dahulu

• Pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya


• Hipertensi (-)
• Diabetes melitus (-)
• Asma (-)
• Penyakit jantung (-)
• Alergi obat (-)

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga disangkal

2
Riwayat Pengobatan
Pasien mengaku belum pernah berobat sebelumnya
Riwayat Psikososial
Pasien mengaku tidak merokok dan mengonsumsi alkohol. Pasien sering
makan masakan dirumah daripada diluar rumah. Jarang mengonsumsi
makanan yang berlemak, seperti sate kambing atau daging lainnya.

III. Pemeriksaan Fisis


• Status Present

Keadaan umum : Sakit sedang / Gizi cukup


Kesadaran : E4V5M6 (GCS 15)
Tanda vital :
a. Tekanan darah : 130/90 mmHg
b. Nadi : 80 x/menit
c. Pernafasan : 20 x/menit
d. Suhu axilla : 36 ᵒC
• Status Generalisata
Kepala – Leher
a. Kepala : Normochepali, deformitas (-), tanda radang pada kulit
kepala (-)
b. Mata : Konjungtiva palpebra anemis -/-, sklera ikterus -/-, pupil
isokordiameter 2,5 mm / 2,5 mm, refleks pupil (+) RCL
(+/+) dan RCTL (+/+)
c. THT : Tidak ditemukan kelainan
d. Leher : Massa (-), tidak terdapat pembesaran KGB, tidak terdapat
pembesaran tiroid.
Thoraks – Kardiovaskuler
a. Inspeksi : Tampak pergerakan dinding thoraks simetris, iktus kordis
tidak tampak.
b. Palpasi : Teraba pergerakan dinding thorak simetris, iktus kordis
teraba pada ICS V midclavicular line.

3
c. Perkusi :
Paru : Sonor pada daerah dinding thorak sinistra dan dekstra
Jantung : Pekak dengan batas kanan atas ICS II parasternalis dekstra,
batas kiri atas pada ICS II parasternalis sinistra, batas kiri
bawah pada ICS V midclavicular line.
d. Auskultasi: Bunyi jantung S1 S2 reguler tunggal, suara murmur (-),
suara gallop (-)
Abdomen
a. Inspeksi : Kulit tampak normal, tidak terdapat distensi, tidak tampak
pelebaran pembuluh darah, tidak terdapat jaringan sikatrik,
tidak tampak massa.
b. Auskultasi: Peristaltik (+) kesan normal
c. Perkusi : Timpani pada lapang abdomen
d. Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), hepar tidak teraba, lien tidak teraba,
tidak teraba massa pada ke empat kuadran abdomen
• Status Lokalis
Mammae Sinistra
a. Inspeksi : Tidak tampak kemerahan pada bagian benjolan, mammae
tampak simetris kanan kiri, retraksi papil (-), dimpling (-),
peau d’orange (-), nipple discharge (-), ulkus (-)
b. Palpasi : Benjolan berukuran ± 1,5 cm x 1 cm pada upper inner
quadrant, bentuk bulat-oval, konsistensi padat kenyal,
mobile, nyeri tekan (-)
Mammae Dextra
a. Inspeksi : Tidak tampak kemerahan pada bagian benjolan, mammae
tampak simetris kanan kiri, retraksi papil (-), dimpling (-),
peau d’orange (-), nipple discharge (-), ulkus (-)
b. Palpasi : Benjolan berukuran ± 2 cm x 1,5 cm pada upper inner
quadrant, bentuk bulat-oval, padat kenyal, mobile, nyeri
tekan (-)

4
KGB Axilla Dextra dan Sinistra
Tidak teraba benjolan pada axilla dextra dan sinistra
KGB Supraklavikula Dextra dan Sinistra
Tidak teraba benjolan pada suprakalvikula dextra dan sinistra
IV. Pemeriksaan Penunjang
• Laboratorium
Darah rutin Hasil Satuan Nilai normal
Lekosit 12,39 10^3/ ul 5 – 10
Eritrosit 4,85 10^6/ uL 4.50 – 5.50
Hb 14,8 g/ dL 12.0 – 18.0
HCT 41,6 % 37.0 – 52.0
MCV 85,8 fL 80 – 99
MCH 30,5 Pg 27.0 – 32.0
MCHC 35,5 g/dL 33.0 – 37.0
Trombosit 233 10^3/ ul 150 – 450
KIMIA KLINIK (Serum)
GDS 125 mg/dL <140
SGOT 18 U/L <=31
SGPT 29 U/L <=31
Ureum 16 mg/dL 10-50
Creatinin 0,7 mg/dL 0.5 – 0.9
CT 9 menit <15’00”
BT 1 menit 1’00”-3’00”
HBSAG Non
reaktif

5
• Foto Thorax PA

Hasil :
- Corakan bronkovaskuler dalam batas normal
- Tidak tampak proses spesifik aktif pada kedua paru
- Cor : bentuk, ukuran dan letak normal, aorta normal
- Sinus dan diafragma baik
- Tulang-tulang intak
Kesan : Tidak tampak kelainan radiologik pada foto ini
• USG Mamma

- Mammae sinistra
Massa hyperechoic sebagian tepi lobulated batas tegas pada posisi
retropapilla, ukuran 1,39 cm x 0,7 cm. Tidak tampak dilatasi duktus
laktiferus

6
- Mammae dextra
Massa hyperechoic dengan batas tegas, tepi rata, ukuran 1,88 cm x 1,17.
Pada posisi jam 03.00 tidak tampak dilatasi duktus laktiferus. Tidak
tampak penebalan cutis
Kesan : massa mammae dextra dan sinistra (BIRAD III – IV)
• Histopatologi
- Makroskopik : diterima 2 buah jaringan, 1 jaringan ditandai dengan
benang dan tidak ditandai benang.
A. Tidak ditandai benang ukuran 2 cm x 2 cm x 2 cm dilapisi lemak,
penampang padat bernodul.
B. Yang ditandai benang burukuran 2,5 cm x 2 cm x 1,5 cm, penampang
putih padat bernodul-nodul
- Mikroskopik :
A. Sediaan jaringan berbatas tegas, terdiri dari proliferasi jaringan ikat
fibrous dan fibrimiksoid dengan duktus dan asini yang terjepit
diantaranya membentuk struktur perikanalikuler dan intrakanalikuler.
B. Sediaan jaringan berbatas tegas menunjukkan struktur noduler yang
terdiri dari proliferasi jaringan ikat fibrous dan fibromiksoid yang
menjepit duktus dan asini kelenjar mamma membentuk struktur
perikananlikuler dan intrakanalikuler. Tampak fokus duktus yang
melebar dilapisi epitel inti agak atipik membentuk struktur papiler.
- Kesimpulan : Fibroadenoma mammae dextra dan fibroadenoma dengan
intraduktal papiloma mammae sinistra
V. Resume
Pasien datang ke RSUD Andi Makkasau Parepare dengan keluhan benjolan
pada kedua payudara sejak ± 3 minggu yang lalu, bisa digerakkan, yang
ukurannya tidak bertambah besar sejak muncul. Benjolan pada payudara kanan
kadang terasa nyeri, benjolan pada payudara kiri tidak terasa nyeri. Pasien
sudah menikah, riwayat haid teratur, dan riwayat penggunaan kontrasepsi
hormonal selama satu tahun.

7
Dari pemeriksaan fisis status lokalis pada palpasi didapatkan benjolan pada
mammae dextra dengan ukuran ± 2 cm x 1,5 cm pada upper inner quadrant,
bentuk bulat-oval, konsistensi padat kenyal, mobile; pada mammae sinistra
dengan ukuran ± 1,5 cm x 1 cm pada upper inner quadrant, bentuk bulat-oval,
konsistensi padat kenyal, mobile.
Dari pemeriksaan penunjang laboratorium darah rutin, didapatkan leukosit
12,39 x 103 uL, dari USG didapatkan kesan massa mammae dextra dan sinistra,
dan dari pemeriksaan histopatologi didapatkan kesan fibroadenoma mammae
dextra dan fibroadenoma dengan intraduktal papiloma mammae sinistra.
VI. Differential Diagnosis
• Kista payudara
• Papiloma intraduktal
• Tumor filoides
VII. Diagnosis Kerja
Fibroadenoma mammae bilateral
VIII. Diagnosis Pasca Bedah
Fibroadenoma mammae bilateral
IX. Penatalaksanaan
• Medikamentosa
- IVFD RL 20 tpm
- Ceftriaxone 1 gr / 12 jam / iv
- Ketorolac 30 mg / 8 jam / iv
- Ranitidine 50 mg / 12 jam / iv
• Operatif
Wide eksisi tumor
• Laporan Operasi
• Diagnosis pra bedah : Tumor mamma bilateral
• Indikasi operasi : Removal tumor
• Nama operasi : Wide eksisi tumor
• Persiapan operasi : Pofilaksis Ceftriaone 1gr/12jam/iv
• Posisi pasien : Supine

8
• Desinfeksi : Povidone Iodine

X. Prognosis
Quo ad vitam : Dubia ad bonam
Quo ad sanam : Dubia ad bonam
Quo ad fungsionam : Dubia ad bonam
XI. Follow Up
Subjective (S), Objective (O),
Tanggal Planning (P)
Assesment (A)
S : benjolan pada kedua payudara R/ Rencana dilakukan
11-09-18
(+), nyeri (-) wide eksisi tumor tgl 12-
O : KU = SS/GC/GCS 15 11-18
TD : 130/90 mmHg, N: 80x/i, P: - Informed consent
20x/i, S: 36oC
- Lapor OK
Mamma sinistra : Benjolan
- Konsul anestesi
berukuran ± 1,5 cm x 1 cm pada
upper inner - Puasa 6-8 jam
quadrant, bentuk bulat-oval, - AB profilaksis
konsistensi padat kenyal, mobile,
(Ceftriaxone 1gr/iv)
nyeri tekan (-)
Mamma dextra : Benjolan berukuran
± 2 cm x 1,5 cm pada upper inner

9
quadrant, bentuk bulat-oval,
konsistensi padat kenyal, mobile,
nyeri tekan (-)
A : Tumor mamma bilateral
S : nyeri luka bekas operasi (+) - IVFD RL 20 tpm
12-09-18
O : KU = SS/GC/GCS 15 - Cetriaxone 1gr/12j/iv
TD : 120/80 mmHg, N: 88x/i, P: - Ranitidin 50mg/12j/iv
20x/i, S: 36oC - Ketorolac 30mg/8j/iv
Mamma sinistra et dextra : terpasang - Diet bebas bila sadar
verban kesan kering. baik
A : POH-0 Wide eksisi

S : nyeri luka bekas operasi - Aff infus


13-09-18
berkurang - Cefixime 200 mg 2 x 1
O : KU = SS/GC/GCS 15 - As. Mefenamat 500
TD : 110/60 mmHg, N: 75x/i, P: mg 3 x 1
19x/i, S: 36oC - Ranitidine 150 mg 2 x
Mamma sinistra et dextra : luka 1
terawat baik, terpasang verban kesan - Boleh rawat jalan
kering.
A : POH-1 Wide eksisi

10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I. Pendahuluan
Pada umumnya lesi yang terjadi pada payudara adalah jinak. Sebagian
besar pasien yang datang dengan keluhan pada payudara mempunyai lesi
yang jinak. Fibroadenoma mammae atau sering disingkat dengan FAM
merupakan tumor jinak pada payudara yang paling umum ditemukan.
Kejadian FAM merupakan sepertiga dari semua kejadian tumor jinak
payudara (TJP). Tumor ini dapat tumbuh di seluruh bagian payudara, namun
tersering pada kuadran atas lateral.
FAM adalah suatu neoplasma jinak berbatas tegas, padat kenyal,
berkapsul, berukuran 1-4 cm dan lesi payudara terlazim dalam wanita muda
(berusia di bawah 25 tahun). Setelah menopause, tumor tersebut tidak lagi
ditemukan. Pada masa remaja, FAM dapat dijumpai dalam ukuran yang
besar. Sebagian besar (80%) tunggal. Ia tergantung hormon dan bisa
berfluktuasi dalam diameter sebanyak 1 cm di bawah pengaruh estrogen
haid normal, kehamilan, laktasi atau penggunaan kontrasepsi oral.
Pertumbuhan cepat bisa jelas selama kehamilan atau laktasi.
II. Anatomi Payudara

Gambar 2.1
Kelenjar susu merupakan sekumpulan kelenjar kulit. Pada bagian
lateral atasnya, jaringan kelenjar ini keluar dari bulatannya ke arah axial,
disebut penonjolan Spence atau ekor payudara. Setiap payudara terdiri dari
12 - 20 lobulus kelenjar yang masing-masing mempunyai saluran ke papilla

11
mamma, yang disebut duktus laktiferus. Di antara kelenjar susu dan fasia
pektoralis, juga diantara kulit dan kelenjar tersebut mungkin terdapat
jaringan lemak. Di antara lobulus tersebut ada jaringan ikat yang disebut
ligamen cooper yang memberi rangka untuk payudara.
Vaskularisasi payudara terutama berasal dari cabang a. perforantes
anterior dari a. mamaria interna, a. torakalis lateralis yang bercabang dari a.
aksilaris dan beberapa a. interkostalis. Persarafan kulit payudara diatur oleh
cabang plexus servikalis dan interkostalis. Jaringan kelenjar payudara
sendiri diatur oleh saraf simpatik. Saraf pektoralis yang mengatur m.
pektoralis mayor dan minor, n. torakodorsalis yang mengatur m. latissimus
dorsi dan n. torakalis longus mengatur m. serratus anterior.
Penyalian limfe dari payudara ± 75 % ke axial, sebagian lagi ke kelenjar
parasternal, terutama dari bagian yang sentral dan medial, dan ada pula
penyaliran ke arah kelenjar interpektoralis.
Pada aksila terdapat rata-rata 50 (berkisar dari 10 sampai 90) buah
kelenjar getah bening yang berada di sepanjang arteri dan vena brakialis.
Saluran limfe dari seluruh payudara menyalir ke kelompok anterior aksila,
kelompok sentral aksila, kelenjar aksila bagian dalam, yang lewat sepanjang
v. aksilaris dan yang berlanjut langsung ke kelenjar servikal bagian kaudal
dalam di fossa supraklavikuler. Jalur limfe lain berasal dari daerah sentral
dan medial yang selain menuju ke kelenjar sepanjang pembuluh mamaria
interna, juga menuju ke aksila kontralateral, ke m. rektus abdominis lewat
ligamentum falsiparum hepatic ke hati, pleura, dan payudara kontralateral.
Payudara dibagi menjadi empat kuadran, yaitu upper inner quadrant
(UIQ), lower inner quadrant (LIQ), upper outer quadrant (UOQ), dan
lower outer quadrant (LOQ).

12
Gambar 2.2
III. Fisiologi
Payudara mengalami 3 macam perubahan yang dipengaruhi hormon.
Perubahan pertama ialah mulai dari masa hidup anak melalui masa pubertas,
masa fertilitas sampai klimakterium, dan menopause. Sejak pubertas
pengaruh estrogen dan progesteron yang diproduksi ovarium dan juga
hormon hipofise, telah mengakibatkan duktus berkembang dan timbul
asinus.
Perubahan kedua adalah perubahan sesuai daur haid. Sekitar hari ke-8
haid, payudara menjadi lebih besar dan beberapa hari sebelum haid
berikutnya terjadi pembesaran maksimal. Kadang timbul benjolan yang
nyeri dan tidak rata. Selama beberapa hari menjelang haid, payudara
menjadi tegang dan nyeri sehingga pemeriksaan fisik, terutama palpasi tidak
bisa dilakukan. Pada waktu itu, pemeriksaan foto mamografi tidak berguna
karena kontras kelenjar terlalu besar. Begitu haid mulai, semuanya
berkurang.
Perubahan ketiga terjadi pada hamil dan menyusui. Pada kehamilan,
payudara menjadi besar karena epitel duktus lobus dan duktus alveolus
berproliferasi, dan tumbuh duktus baru. Sekresi hormon prolaktin dari
hipofise anterior memicu laktasi. Air susu diproduksi oleh sel-sel alveolus,
mengisi asinus, kemudian dikeluarkan melalui duktus ke puting susu.
Sedangkan pada masa pramenopause dan perimenopause sistem
keseimbangan hormonal siklus haid terganggu sehingga beresiko terhadap

13
perkembangan dan involusi siklik fisiologis, seperti jaringan parenkim
atrofi diganti jaringan stroma payudara, dapat timbul fenomena kista kecil
dalam susunan lobular atau cystic change yang merupakan proses aging.
IV. Epidemiologi
Kejadian FAM merupakan sepertiga dari semua kejadian tumor jinak
payudara (TJP). Tumor ini merupakan TJP yang paling sering ditemui pada
wanita muda dan dewasa, yaitu pada wanita 3 dekade pertama kehidupan.
Frekuensi FAM yang paling tinggi adalah pada wanita yang berumur 20-25
tahun. Tumor ini ditemukan 2 kali lebih sering pada orang kulit hitam,
pasien dengan kadar hormon tinggi (remaja dan wanita hamil), dan pasien
yang mendapatkan terapi hormon estrogen. Penderita FAM memiliki risiko
2 kali lebih besar untuk menderita kanker payudara dikemudian hari
dibandingkan wanita yang tidak menderita FAM.
Di Indonesia data tentang FAM masih belum lengkap, namun
diperkirakan tiap tahun mengalami peningkatan. Data dari Jakarta Breast
Center, klinik di Jakarta yang mengkhususkan untuk penanganan keluhan
pada payudara, menunjukkan bahwa dari 2.495 pasien yang datang pada
tahun 2001 sampai 2002, ternyata 79% menderita TJP dan hanya 14% yang
menderita kanker.
Fibroadenoma hampir terdistribusi merata pada payudara kanan dan
kiri. Kuadran lateral atas merupakan lesi yang paling umum dari
fibroadenoma. Tumor ini bervariasi dalam ukuran, paling sering ditemukan
dengan diameter 1 cm sampai 2 cm. Dari segi jumlah, FAM dapat timbul
single atau multiple. Pada payudara dapat timbul unilateral atau bilateral.
V. Etiologi
Penelitian saat ini belum dapat mengungkap secara pasti apa penyebab
sesungguhnya dari FAM, namun diketahui bahwa pengaruh hormonal
sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dari FAM, hal ini diketahui
karena ukuran fibroadenoma dapat berubah pada siklus menstruasi atau
pada saat kehamilan. Perlu diingat bahwa tumor ini adalah tumor jinak, dan
fibroadenoma ini sangat jarang atau bahkan sama sekali tidak dapat menjadi

14
kanker atau tumor ganas. Berikut beberapa faktor risiko yang
mempengaruhi timbulnya fibroadenoma :
• Umur merupakan faktor penting yang menentukan insiden atau
frekuensi terjadinya FAM. Fibroadenoma biasanya terjadi pada wanita
usia muda < 30 tahun. Terutama terjadi pada wanita dengan usia antara
15-25 tahun. Berdasarkan data dari penelitian di Depatemen Patologi
Rumah Sakit Komofo Anyoke Teaching di Ghana dilaporkan bahwa
rata-rata umur pasien yang menderita fibroadenoma adalah 23 tahun
dengan rentang usia 14-49 tahun.
• Riwayat perkawinan, dihubungkan dengan status perkawinan dan usia
perkawinan, paritas dan riwayat menyusui anak. Berdasarkan penelitian
di Iran menyatakan bahwa tidak menikah meningkatkan risiko kejadian
FAM kemungkinan 6,64 kali adalah wanita yang tidak menikah. Hasil
penelitian tersebut juga menyatakan bahwa menikah < 21 tahun
meningkatkan risiko kejadian FAM kemungkinan 2,84 kali adalah
wanita yang menikah pada usia < 21 tahun.
• Faktor genetika: Adanya kecenderungan pada keluarga tertentu yang
menderita kanker. Pada kembar monozigot terdapat kanker yang sama.
Terdapat kesamaan lateralis kanker payudara keluarga dekat dari
penderita kanker payudara.
• Penggunaan hormon, diperkirakan bahwa fibroadenoma mammae
terjadi karena kepekaan terhadap peningkatan hormon estrogen.
Penggunaan kontrasepsi yang komponen utamanya adalah estrogen
merupakan faktor risiko yang meningkatkan kejadian FAM.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Department of Surgery,
University of Oklahoma Health Sciences Center dilaporkan proporsi
penderita FAM yang menggunakan kontrasepsi dengan komponen
utama estrogen adalah sekitar 60%.
• Obesitas, berat badan yang berlebihan (obesitas) dan IMT yang lebih
dari normal merupakan faktor risiko terjadinya FAM. Berdasarkan
penelitian Bidgoli, et all diketahui bahwa IMT > 30 kg/m2

15
meningkatkan risiko kejadian FAM wanita dengan IMT > 30 kg/m2
memiliki risiko 2,45 kali menderita FAM dibandingkan wanita dengan
IMT < 30 kg/m2.
• Riwayat keluarga, tidak ada faktor genetik diketahui mempengaruhi
risiko fibroadenoma. Namun, riwayat keluarga kanker payudara pada
keluarga tingkat pertama dilaporkan oleh beberapa peneliti
berhubungan dengan peningkatan risiko tumor ini. Dari beberapa
penelitian menunjukkan adanya risiko menderita FAM pada wanita
yang ibu dan saudara perempuan mengalami penyakit payudara.
Dilaporkan 27 % dari penderita FAM memiliki riwayat keluarga
menderita penyakit pada payudara. Tidak seperti penderita dengan
fibroadenoma tunggal, penderita multiple fibroadenoma memiliki
riwayat penyakit keluarga yang kuat menderita penyakit pada payudara.
• Stres berat, dapat meningkatkan produksi hormon endogen estrogen
yang juga akan meningkatkan insiden FAM. Berdasarkan penelitian
Bidgoli, et all diketahui orang yang mengalami stress memiliki risiko
lebih tinggi 1,43 kali menderita FAM dibandingkan dengan orang yang
tidak stress.
VI. Klasifikasi
a. Common Fibroadenoma
Common fibroadenoma memiliki ukuran 1-3 cm, disebut juga dengan
simpel fibroadenoma. Sering ditemukan pada wanita kelompok umur
muda antara 21- 25 tahun. Ketika fibroadenoma dapat dirasakan sebagai
benjolan, benjolan itu biasanya berbentuk oval atau bulat, halus, tegas, dan
bergerak sangat bebas. Sekitar 80% dari seluruh kasus fibroadenoma yang
terjadi adalah fibroadenoma tunggal.
b. Giant Fibroadenoma
Giant fibroadenoma adalah tumor jinak payudara yang memiliki
ukuran dengan diameter lebih dari 5 cm. Secara keseluruhan insiden giant
fibroadenoma sekitar 4% dari seluruh kasus fibroadenoma. Giant
fibroadenoma biasanya ditemui pada wanita hamil dan menyusui. Giant

16
fibroadenoma ditandai dengan ukuran yang besar dan pembesaran massa
enkapsulasi payudara yang cepat. Giant fibroadenoma dapat merusak
bentuk payudara dan menyebabkan tidak simetris karena ukurannya yang
besar, sehingga perlu dilakukan pemotongan dan pengangkatan terhadap
tumor ini.
c. Juvenile Fibroadenoma
Juvenile fibroadenoma biasa terjadi pada remaja perempuan, dengan
insiden 0,5-2% dari seluruh kasus fibroadenoma. Sekitar 10-25% pasien
dengan juvenile fibroadenoma memiliki lesi yang multiple atau bilateral.
Tumor jenis ini lebih banyak ditemukan pada orang Afrika dan India Barat
dibandingkan pada orang Kaukasia.
Fibroadenoma Mammae juga dapat dibedakan menurut gambaran
histologiknya, yaitu :
1. Fibroadenoma Pericanalicular
Kelenjar berbentuk bulat atau lonjong dilapisi epitel selapis atau
beberapa lapis.

Gambar 2.3 Fibroadenoma Pericanalucular


2. Fibroadenoma Intracalicular
Jaringan ikat mengalami proliferasi lebih banyak, sehingga kelenjar
berbentuk panjang-panjang atau tidak teratur dengan lumen yang sempit
atau menghilang.
Berbentuk lobulus-lobulus stroma miksoid berwarna biru pucat.
Tampak hanya kelenjar-kelenjar yang saling berdesakan. Gambaran

17
tersebut sering ditemukan pada mammae lactans dan disebut lactating
adenoma.

Gambar 2.4 Fibroadenoma Intracanaliculer

VII. Patofisiologi
Fibroadenoma mammae bukan merupakan satu-satunya penyakit pada
payudara, namun insiden kasus tersebut tinggi, tergantung pada jaringan
payudara yang terkena, estrogen dan usia permulaan. Tumor dapat terjadi
karena mutasi dalam DNA sel. Penimbunan mutasi merupakan pemicu
munculnya tumor. Penimbunan mutasi di jaringan fibrosa dan jaringan
epitel dapat menyebabkan proliferasi sel yang abnormal sehingga akan
tampak tumor yang membentuk lobus - lobus. Hal ini dikarenakan terjadi
gangguan pada nukleus sel yang menyebabkan sel kehilangan fungsi
deferensiasi yang disebut anaplasia. Dengan rangsangan estrogen
fibroadenoma mammae ukurannya akan lebih meningkat hal ini terlihat saat
menstruasi dan hamil. Nyeri pada payudara disebabkan karena ukuran dan
tempat pertumbuhan fibroadenoma mammae. Karena fibroadenoma
mammae merupakan tumor jinak maka pengobatan yang dilakukan adalah
dengan mengangkat tumor tersebut, untuk mengetahui apakah tumor itu
ganas atau tidak tumor yang sudah diambil akan dibawa ke laboratorium
patologi untuk pemeriksaan lebih lanjut.
VIII. Penegakkan Diagnosis
a. Anamnesis
Anamnesis harus diawali dengan pencatatan identitas pasien secara
lengkap, keluhan apa yang mendasari penderita untuk datang ke dokter.

18
Keluhan ini dapat berupa massa di payudara yang berbatas tegas atau tidak,
benjolan dapat digerakkan dari dasar atau melekat pada jaringan di
bawahnya, adanya nyeri, cairan dari puting, adanya retraksi puting
payudara, kemerahan, ulserasi sampai dengan pembengkakan kelenjar
limfe.
Perlu ditanyakan pula riwayat penyakit terdahulu hingga riwayat
penyakit sekarang. Tumor mulai dirasakan sejak kapan, cepat membesar
atau tidak terasa sakit atau tidak. Anamnesis penderita kelainan payudara
harus disertai pula dengan riwayat keluarga, riwayat kehamilan maupun
riwayat ginekologi.
Fibroadenoma memiliki gejala berupa benjolan dengan permukaan
licin dan merah, biasanya tidak nyeri, tetapi kadang terasa nyeri bila ditekan.
Terdapat kemungkinan patologis yang menyebabkan terdapatnya lesi
klinis pada payudara wanita dari berbagai umur, seperti yang terdapat pada
tabel berikut.
Tabel. 2.1 Hubungan umur dengan keadaan lesi

b. Pemeriksaan Fisis
- Inspeksi
Pasien diminta duduk tegak atau berbaring atau kedua duanya,
kemudian perhatikan bentuk kedua payudara, warna kulit, tonjolan,

19
lekukan, retraksi adanya kulit berbintik seperti kulit jeruk, ulkus dan
benjolan.
- Palpasi
Palpasi lebih baik dilakukan berbaring dengan bantal tipis
dipunggung sehingga payudara terbentang rata. Pemeriksaan ini dapat
dilakukan sendiri oleh pasien atau oleh klinisi menggunakan telapak
jari tangan yang digerakkan perlahan–lahan tanpa tekanan pada setiap
kuadran payudara. Benjolan yang tidak teraba ketika penderita
berbaring kadang lebih mudah ditemukan pada posisi duduk. Perabaan
aksila pun lebih mudah dilakukan dalam posisi duduk. Dengan memijat
halus puting susu dapat diketahui adanya pengeluaran cairan, darah,
atau nanah. Cairan yang keluar dari kedua puting susu harus
dibandingkan.
Gejala klinis yang sering terjadi pada fibroadenoma mammae
adalah adanya bagian yang menonjol pada permukaan payudara,
benjolan memiliki batas yang tegas dengan konsistensi padat dan
kenyal. Ukuran diameter benjolan yang sering terjadi sekitar 1 - 4 cm,
namun kadang dapat tumbuh dan berkembang dengan cepat dengan
ukuran benjolan berdiameter lebih dari 5 cm. Benjolan yang tumbuh
dapat diraba dan digerakkan dengan bebas. Umumnya fibroadenoma
tidak menimbulkan rasa nyeri atau tidak sakit.
Terdapat tanda atau gejala dari hasil pemeriksaan fisik yang
dapat menunjukkan bentuk lesi mamma, seperti pada tabel berikut.

20
Tabel. 2.2

c. Pemeriksaan Penunjang
Fibroadenoma dapat didiagnosa dengan tiga cara, yaitu dengan
pemeriksaan fisik (phisycal examination), pemeriksaan radiologi (dengan
foto thorax dan mammografi atau ultrasonografi), dengan Fine Needle
Aspiration Cytology (FNAC).
• Mammografi
Pemeriksaan mammografi terutama berperan pada payudara
yang mempunyai jaringan lemak yang dominan serta jaringan
fibroglanduler yang relatif sedikit. Pada mammografi, keganasan
dapat memberikan tanda-tanda primer dan sekunder. Tanda primer
berupa fibrosis reaktif, comet sign (Stelata), adanya perbedaan
yang nyata antara ukuran klinis dan radiologis, adanya
mikroklasifikasi, adanya spikulae, dan ditensi pada struktur
payudara. Tanda sekunder berupa retraksi, penebalan kulit,
bertambahnya vaskularisasi, keadaan daerah tumor dan jaringan
fibroglandular tidak teratur, infiltrasi dalam jaringan lunak di

21
belakang mamma dan adanya metastatis ke kelenjar (gambaran ini
tidak khas). Mammografi digunakan untuk mendiagnosa wanita
dengan usia tua sekitar 60-70 tahun.
• Ultrasonografi (USG)
Untuk mendeteksi luka-luka pada daerah padat payudara usia
muda karena fibroadenoma pada wanita muda tebal, sehingga tidak
terlihat dengan baik jika menggunakan mammografi. Pemeriksaan
ini hanya membedakan antara lesi atau tumor yang solid dan kistik.
Pemeriksaan gabungan antara USG dan mammografi memberikan
ketepatan diagnosa yang tinggi.

Gambar 2.5 Fibroadenoma Kecil (1cm)

Gambar 2.6 Fibroadenoma Besar (3cm)

22
Gambar 2.7 Fibroadenoma > 5 cm
• Fine Needle Aspiration Cytology (FNAC)
Dengan FNAC diperoleh diagnosis tumor apakah jinak atau
ganas, tanpa harus melakukan sayatan atau mengiris jaringan. Pada
FNAC diambil sel dari fibroadenoma dengan menggunakan
penghisap berupa sebuah jarum yang dimasukkan pada suntikan.
Dari alat tersebut dapat diperoleh sel yang terdapat pada
fibroadenoma, lalu hasil pengambilan tersebut dikirim ke
laboratorium patologi untuk diperiksa di bawah mikroskop. Di
bawah mikroskop tumor tersebut tampak seperti berikut :
a. Tampak jaringan tumor yang berasal dari mesenkim (jaringan
ikat fibrosa) dan berasal dari epitel (epitel kelenjar) yang
berbentuk lobus-lobus.
b. Lobuli terdiri atas jaringan ikat kolagen dan saluran kelenjar
yang berbentuk bular (perikanalikuler) atau bercabang
(intrakanalikuler).
c. Saluran tersebut dibatasi sel-sel yang berbentuk kuboid atau
kolumnar pendek uniform.
IX. Diagnosis Banding
Penyakit Penjelasan
a. Kista • Gejala : Nyeri bila dipalpasi, massa berbatas jelas,
payudara mobile, berisi cairan (keruh dan debris)
Massa kista dipastikan dengan aspirasi dan USG

23
• Etiologi : Belum jelas, kemungkinan akibat perubahan
hormonal.
• Epidemiologi : Pada dekade kelima, menurun setelah
wanita melewati menopause.
• Kista payudara berasal dari destruksi dan dilatasi lobulus
dan duktus terminalis payudara.
Kista dapat tunggal atau multipel, unilateral atau bilateral.
Perkembangan keganasan dari kista payudara sangat
jarang sekitar 0,1%.
b. Abses • Infeksi-infeksi bakterial sering terjadi pada pascapartum
payudara semasa awal laktasi jika organisme berhasil masuk dan
mecapai jaringan payudara melalui fisura pada puting.
Organisme yang paling sering adalah Staphilococcus
aureus.
• Payudara menjadi merah, panas jika disentuh,
membengkak dan nyeri tekan.
• Gejala : Demam tinggi, menggigil dan malaise.
c. Papiloma • Benjolan jinak yang biasanya soliter (satu) dan biasanya
Intraduktal ditemukan pada kelenjar utama dekat puting pada lokasi
subareolar.
• Papiloma intraduktal sering terjadi pada dekade ke-4.
• Gejala : Keluar cairan berupa darah dari salah satu
payudara tanpa teraba massa atau benjolan di payudara.
• Benjolan tidak teraba karena biasanya berukuran <5 mm.
d. Tumor • Neoplasma jinak, berasal dari jaringan penyokong
filoides neoepitel, bersifat menyusup secara lokal dan mungkin
ganas (10 – 15 %).
Pertumbuhannya cepat, ditemukan dalam ukuran besar.
• Epidemiologi : Terdapat pada semua usia, kebanyakan
pada usia sekitar 30 tahun.

24
• Penanganannya adalah eksisi luas. Jika tumor sudah besar
dilakukan masteoktomi radikal walaupun mungkin
bermetastasis secara homogen seperti sarkoma.
e. Kanker • Adanya hiperplasia epitel, terutama hiperplasia atipikal
payudara dalam penyakit fibrokistik, berkaitan dengan peningkatan
risiko berkembangnya kanker payudara.
• Kanker payudara mengenai 1 dari 8 perempuan dengan
lama hidup 85 tahun dan merupakan penyebab utama
kedua kematian akibat kanker di AS.
• Satu dari sejumlah indikator prognostik kanker payudara
yang paling penting adalah ada tidaknya metastasis
kelenjar getah bening aksilar.
• Pengobatan pembedahan kanker payudara meliputi
berbagai derajat eksisi terapi tambahan (terapi radiasi,
kemoterapi atau terapi hormonal) bila terdapat risiko
rekurensi yang tinggi.
• Faktor-faktor yang berkaitan dengan meningkatnya risiko
kanker payudara adalah letak geografis, kanker payudara
familial (terutam memiliki gen BRCA-1 atau BRCA-2),
penyakit oayudara proliferatif, awitan dini menarke,
kelahiran anak pertama yang lama, menopause lambat,
hormon estrogen, dan faktor diet (obesitas dan asupan
alkohol tinggi.

25
Gambar 2.8
X. Penatalaksanaan
Karena fibroadenoma mammae adalah tumor jinak maka pengobatan
yang dilakukan tidak perlu dengan pengangkatan mammae. Yang perlu
diperhatikan adalah bentuk dan ukurannya saja. Pengangkatan mammae
harus memperhatikan beberapa faktor yaitu faktor fisik dan psikologi
pasien. Apabila ukuran dan lokasi tumor tersebut menyebabkan rasa sakit
dan tidak nyaman pada pasien maka diperlukan pengangkatan. Terapi
pengangkatan tumor ini disebut dengan biopsi eksisi yaitu pembedahan
dengan mengangkat seluruh jaringan tumor beserta sedikit jaringan sehat
disekitarnya Terapi dengan operasi pengangkatan tumor ini tidak akan
merubah bentuk payudara tetapi hanya akan meninggalkan jaringan parut
yang akan digantikan jaringan normal secara perlahan.
Operasi dilakukan sejak dini, hal ini bertujuan untuk memelihara fungsi
payudara dan untuk mengindari bekas luka. Pemilihan tipe insisi dilakukan
berdasarkan ukuran dan lokasi dari lesi di payudara. Terdapat 3 tipe insisi
yang biasa digunakan, yaitu :
1. Radial incision, yaitu dengan menggunakan sinar
2. Circumareolar Incision
3. Curve/Semicircular Incision
Tipe insisi yang paling sering digunakan adalah tipe radial. Tipe
circumareolar, hanya meninggalkan sedikit bekas luka dan deformitas,

26
tetapi hanya memberikan pembukaan yang terbatas. Tipe ini digunakan
hanya untuk fibroadenoma yang tunggal dan kecil dan lokasinya sekitar 2
cm di sekitar batas areola. Semicircular incision biasanya digunakan untuk
mengangkat tumor yang besar dan berada di daerah lateral payudara.
Terdapat dua pendekatan baru untuk penatalaksanaan fibroadenoma,
yaitu eksisi perkutan dan in situ cryoblasi yang telah dikembangkan dan
kurang invasif dibandingkan eksisi bedah.
Cryoblasi perkutan aman dan efektif dengan hasil yang tahan lama.
Cryoblasi hanya membekukan benjolannya saja sehingga jaringan sehat
dapat mengambil alih. Prosedur ini relatif sederhana dan menghasilkan
bekas luka yang kecil.
Radiofrequency-ablation (RFA) adalah cara lain untuk mengambil
benjolan yang tidak diinginkan keluar dari payudara pasien tanpa operasi
terbuka. Tindakan ini menggunakan energi panas yang diaplikasikan pada
lokasi spesifik sehingga terjadi destruksi jaringan fokal.
XI. Komplikasi
Komplikasi FAM meliputi aspek psikologi, gangguan dalam aktivitas
sehari-hari, tumor jinak menjadi ganas, dan adanya metastasi ke jaringan
organ lain. FAM mempunyai risiko yang sangat rendah untuk menjadi
tumor ganas. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah berlakunya
pembesaran yang terlalu pada tumor tersebut yang bisa menyebabkan
terjadinya deformitas bentuk payudara penderita. Kasus tertentu sangat
jarang FAM yang kemudian akan berubah menjadi kanker.
XII. Pencegahan
• Pencegahan Primer
- Modifikasi Gaya Hidup
Di AS, menurut studi populasi menyatakan bahwa gaya hidup
(seperti penggunaan tembakau, konsumsi alkohol) merupakan hal
utama dalam menghindari kematian akibat kanker.
Adanya program terarah pada penghentian merokok serta
penerimaan sosial, dapat menjadi strategi dalam usaha menolong

27
pasien. Risiko dapat menurun tiap tahun setelah berhenti merokok.
Selain itu, diet merupakan bagian penting dalam pencegahan primer
kanker. Studi epidemiologi menyatakan bahwa asupan buah – buahan
dan sayuran dapat menjadi proteksi yang potensial dalam menurunkan
resiko kanker.
Banyaknya asupan lemak atau asam lemak tertentu (terutama
lemak jenuh), obesitas atau tingginya Indeks Massa Tubuh (IMT),
dapat meningkatkan risiko keganasan payudara, colon, prostat dan paru
– paru.
- Chemoprevention
Merupakan pencegahan dengan menggunakan bahan kimia yang
menghambat/mengganggu proses karsinogenik. Contoh senyawa yang
biasa digunakan antara lain: isoretinoin & asyclic retinoids, apirin
(NSAID lain), beta karoten & vitamin E, kalsium & selenium,
tamoxifen, raloxifen.
• Pencegahan Sekunder (Deteksi Dini)
Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) oleh seorang wanita
sebulan sekali sekitar hari ke-8 menstruasi dapat dianjurkan.
Pemeriksaan oleh dokter bila ada yang dicurigai, dan bila seseorang
tergolong dalam risiko tinggi, diperlukan pada waktu tertentu, terutama
bila usianya di atas 35 tahun. Bila perlu dapat dibuat mammografi.
Apakah mammografi perlu dilakukan secara rutin masih dipertanyakan
mengingat bahwa bahaya radiasi sendri, kecuali dengan alat rontgen
penyaring yang mutakhir.
SADARI dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Berdiri di depan cermin, perhatikan payudara. Dalam keadaan
normal, ukuran payudara kiri dan kanan sedikit berbeda. Perhatikan
perubahan perbedaan ukuran antara payudara kiri dan kanan dan
perubahan pada puting susu (misalnya tertarik ke dalam) atau
keluarnya cairan dari puting susu. Perhatikan apakah kulit pada
puting susu berkerut.

28
2. Masih berdiri di depan cermin, kedua telapak tangan diletakkan di
belakang kepala dan kedua tangan ditarik ke belakang. Dengan
posisi seperti ini maka akan lebih mudah untuk menemukan
perubahan kecil akibat tumor. Perhatikan perubahan bentuk dan
kontur payudara, terutama pada payudara bagian bawah.
3. Kedua tangan diletakkan di pinggang dan badan agak condong ke
arah cermin, tekan bahu dan sikut ke arah depan. Perhatikan
perubahan ukuran dan kontur payudara.
4. Angkat lengan kiri. Dengan menggunakan 3 atau 4 jari tangan
kanan, telusuri payudara kiri. Gerakkan jari-jari tangan secara
memutar (membentuk lingkaran kecil) di sekeliling payudara, mulai
dari tepi luar payudara lalu bergerak ke arah dalam sampai ke puting
susu. Tekan secara perlahan, rasakan setiap benjolan atau massa di
bawah kulit. Lakukan hal yang sama terhadap payudara kanan
dengan cara mengangkat lengan kanan dan memeriksanya dengan
tangan kiri. Perhatikan juga daerah antara kedua payudara dan
ketiak.
5. Tekan puting susu. Lakukan hal ini secara bergantian pada payudara
kiri dan kanan.
6. Berbaring terlentang dengan bantal yang diletakkan di bawah bahu
kiri dan lengan kiri ditarik ke atas. Telusuri payudara kiri dengan
menggunakan jari-jari tangan kanan. Dengan posisi seperti ini,
payudara akan mendatar dan memudahkan pemeriksaan. Lakukan
hal yang sama terhadap payudara kanan dengan meletakkan bantal
di bawah bahu kanan dan mengangkat lengan kanan, dan
penelusuran payudara dilakukan oleh jari-jari tangan kiri.
7. Pemeriksaan no. 5 dan 6 akan lebih mudah dilakukan ketika mandi
karena dalam keadaan basah tangan lebih mudah digerakkan dan
kulit lebih licin.

29
SADARI secara visual dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:

Gambar 2.9 SADARI

30
XIII. Prognosis
Jarang terjadi transformasi dari fibroadenoma menjadi kanker.
Fibroadenoma sering mengalami resolusi, didukung dengan pendekatan
konservatif dan management follow up.
Pada sebuah studi yang diikuti oleh wanita muda menginjak 29 tahun,
mengalami regresi atau resolusi yang komplit dari fibroadenoma berkisar
16-59%. Selain itu, life time bagi penderita fibroadenoma kurang lebih 5
tahun. 50% diantaranya tidak mengalami regresi spontan, setengahnya tidak
mengalami perubahan sedangkan 25% diantaranya bertambah ukurannya
selama follow up. Wanita dengan fibroadenoma mempunyai resiko yang
cukup tinggi resiko kanker payudara pada kehidupan ke depannya. benjolan
yang tidak dieksisi harus selalu difollow up secara rutin dengan pemeriksaan
fisik dan tes imaging, serta mengikuti anjuran dokter.

31