Você está na página 1de 6

Artikel

Trauma Kehamilan

Kelompok 6

Indana Fitriani Rahmah 15.IK.453

Mahmuddin Rahma 15.IK.431

Muhammad Al-hanip 15.IK.433

Novia Christina 15.IK.438

Program Studi Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sari Mulia

Banjarmasin

2018
Artikel Trauma Kehamilan

Trauma adalah tekanan yang ditimbu lkan baik oleh benda tajam
maupun benda tumpul yang dapat mencederai janin maupun ibu itu sendiri. Trauma
abdominal dapat berakibat fatal bagi wanita dan janin terutama dapat
mempengaruhi janin. Pukulan langsung pada abdomen maternal tanpa adanya
cedera terbuka pada maternal, akibat kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh atau
penyerangan, mungkin tidak berdampak besar bagi wanita tapi memiliki signifikasi
yang sangat besar terhadap kesejahteraan dan kemampuan janin untuk bertahan
hidup. Penyebab dari trauma kehamilan bervariasi, bisa terjadi akibat KDRT
(Kekerasab dalam rumah tangga), KLL(Kecelakaan lalu lintas), luka tembak, jatuh,
bahkan faktor resiko trauma kehamilan itu sendiri seperti; usia kehamilan, budaya,
lingkungan yang membahayakan, fasilitas yang kurang memadai, usia yang lebih
muda, penggunaan narkoba, dan sejarah penyimpangan perilaku kekerasan oleh
pasangan intim.
Sebagian besar trauma (rata-rata 75% sampai 85%) yang dialami oleh
wanita hamil merupakan trauma minor. Insidensi terjadinya trauma minor
meningkat seiring dengan usia kehamilan, dengan insidensi jatuh sekitar 80%
yang terjadi setelah usia kehamilan 32 minggu. Wanita hamil sering jatuh selama
trimester kedua akibat pembesaran abdomen yang mempengaruhi
keseimbangan, keletihan, hipotensi, hiperventilasi, dan kekenduran pada sendi
pelvic. Trauma akibat penyerangan (pukulan pada abdomen) sangat jarang terjadi
pada usia kehamilan 36 minggu, kemungkinan terjadi akibat stigma sosial yang
berhubungan dengan pemukulan pada wanita yang benar-benar terlihat hamil.
Walaupun trauma ini termasuk pada trauma minor (ringan) tetapi dapat
berpengaruh pada janin. Misalkan pada saat terjatuh atau terpeleset, lalu si ibu
mengalami syok atau setidaknya kaget. Perasaan inlah yang yang dapat
berdampak pula pada janin. Karena kondisi syok dapat mempengaruhi sirkulasi
makanan dan oksigen ke janin yang selnjutnya akan mempengaruhi tumbuh
kembang janin.
Trauma sedang sampai mayor bisa berupa patah tulang panjang, patah
tulang iga, dan memar, serta laserasi dan benturan yang luas. Sekitar 9% sampai
10% cedera yang terjadi pada wanita hamil merupakan trauma sedang,
sedangkan 2% sampai 3% merupakan trauma mayor dan kondisi kritis. Wanita
yang mengalami trauma mayor serring kali berada dalam kondisi sakit yang kritis
saat mereka dibawa ke unit gawat darurat di rumah sakit. Kematian maternal
biasanya diakibatkan oleh cedera didaerah kepala dan dada ketimbang trauma
abdominal. Penyebab utama terjadinya kematian janin akibat trauma adalah
kematian maternal. Sebagian besar kematian janin pada wanita yang dapat
bertahan hidup adalah akibat solusio plasenta yang disebabkan oleh syok
maternal atau adanya kerusakan plasenta atau uterus. Persalinan preterm
merupakan masalah umum, yang terjadi pada sekitar 20% wanita hamil yang
mengalami trauma sedang sampai mayor. Kontraksi setelah adanya trauma pada
abdomen lazim terjadi, yang disebabkan oleh kontusio uterus dengan ekstravasasi
darah dari kapiler miometrium dan kemudian iritabilitas. Ketika eksrtavasasi darah
diserap kembali maka iritabilitas uterus akan berkurang. Pada sekitar 90% wanita,
kontraksi akan berhenti tanpa pemberian tokolisis, obat-obatan yang digunakan
untuk mencegah terjadinya persalinan preterm. Walaupun demikian, tokolisis
dapat menutupi aktifitas uterus pada keadaan solusio plasenta, yang menimbulkan
peningkatan ancaman terhadap kemampuan janin untuk bertahan hidup. Transfusi
fetomaternal terjadi pada sekitar 30% cedera abdomen mayor selama kehamilan,
terutama ketika plasenta terletak dibagian depan. Pecah ketuban dan
abnormalitas denyut jantung janin juga dapat terjadi, sering kali bersamaan
dengan persalinan preterm atau solusio plasenta. Berupa cedera yang ditimbulkan
seperti perdarahan, pecahnya ketuban, atau terjadinya kontraksi sebelum
waktunya. Umumnya trauma langsung membutuhkan penanganan yang lebih
cepat karena dapat membahayakan janin dan ibunya.
Dalam menangani ibu dengan trauma kehamilan perlu untuk diketahui
penilaian dan manajemennya. Prioritas dalam menilai dan mengelola pasien
trauma hamil adalah sama dengan prioritas untuk pasien tidak hamil: dukungan
saluran napas, ventilasi, dan sirkulasi yang memadai dengan tindakan
pencegahan tulang belakang; kontrol perdarahan; dan percepatan cepat,
stabilisasi, dan transportasi cepat ke fasilitas medis. Menyadarkan ibu adalah
kunci untuk kelangsungan hidup ibu dan janin. jadi selama tahap pertama
penilaian dan manajemen, status ibu harus menjadi fokus. Meskipun keparahan,
semua pasien trauma kehamilan harus diberikan oksigen konsentrasi tinggi dan
diangkut untuk evaluasi dokter. Pemeriksaan harus menyeluruh. paramedis harus
mendeteksi, mengidentifikasi, dan mengelola cedera yang berkontribusi pada
hipovolemia atau hipoksia. dengan peningkatan volume darah ibu yang normal,
ibu dapat mentoleransi lebih banyak darah yang hilang sebelum menunjukkan
tanda dan gejala syok. pengurangan 30% hingga 35% volume darah dapat
menghasilkan perubahan minimal dalam tekanan darah tetapi mengurangi aliran
darah uterus sebesar 10% hingga 20%. sehingga ibu dapat mempertahankan
tekanan darah yang memadai dengan mengorbankan janin. jumlah kehilangan
darah yang sebenarnya mungkin sulit untuk dideteksi. pemantauan janin adalah
indikator terbaik yang tersedia untuk janin setelah trauma. Namun, transportasi
pasien tidak boleh ditunda untuk menilai denyut jantung janin. Percepatan denyut
jantung janin di atas garis dasar berhubungan dengan gerakan dan kontraksi janin.
Namun, ini juga bisa menjadi tanda awal gangguan janin. penurunan gerakan janin
dan peningkatan denyut jantung janin dapat mengindikasikan syok ibu.
Pada tahap pre-hospital hal yang perlu dilakukan juga sama seperti
penangan trauma pada umumnya. Yaitu dengan survei ABC. Airway ( jalan napas)
pastikan kepatenan jalan nafas bila ada sumbatan baik cairan lakukan saction atau
benda asing lakukan finger swab. Breathing (pernapasan) observasi pola nafas
secara berkala tergantung tingkat trauma yang dialami ibu. karena letak atau posisi
diafragma berada lebih atas dari pada wanita yang tidak hamil. Circulation
(sirkulasi atau aliran darah ibu) jangan sampai menghambat vena cava, posisikan
untuk miring atau fowler. Hal yang perlu diwaspadai adalah kontrol adanya
problem perdarahan. Observasi sirkulasi pastikan tidak muncul tanda gejala syok.
Dalam menstransport pasien terutama pasien hamil perlu strategi
transportasi yang sesuai demi keselamatan ibu dan janin. Pasien hamil lebih dari
3 sampai 4 bulan gesture tidak boleh diangkut dalam posisi terlentang karena
berpotensi untuk hipotensi supine. tanpa adanya cedera tulang belakang yang
dicurigai, pasien harus ditransmisikan dalam posisi telentang lateral kiri. jika
cedera tulang belakang dicurigai, pasien harus siap untuk transportasi dengan
cara sepenuhnya melumpuhkan pasien pada papan tulang belakang yang
panjang, setelah imobilisasi, lilitkan papan dengan hati-hati di sisi kiri dengan
mencatat pasien 10 sampai 15 derajat, letakkan selimut, bantal, atau handuk di
bawah sisi kanan papan untuk memindahkan rahim ke sisi kiri.

Sesampainya di RS atau IGD RS penanganan harus segera kembali


dilakukan. Pertimbangan khusus dalam mengelola tekanan trauma hamil termasuk
oksigenasi, penggantian volume, dan kontrol perdarahan. persalinan merupakan
komplikasi trauma pada kehamilan. kru paramedis harus siap untuk menangani
persalinan aborsi spontan. Oksigenasi, memadai untuk perawatan saluran nafas
maternal dan tindakan oksigenasi sangat penting untuk pencegahan hipoksemia
janin. Kebutuhan oksigen adalah 10% hingga 20% lebih besar daripada pada
pasien tidak hamil normal. hipoksia janin dapat terjadi bahkan dengan perubahan
kecil dalam oksigenasi ibu. paramedis harus menerima oksigen pada 5 sampai 7
L / menit. Pulse oximetry harus digunakan untuk memonitor saturasi oksigen.
Penggantian Volume, tanda dan gejala hipovolemia mungkin tidak hadir sampai
kehilangan darah besar. Darah dihaluskan secara istimewa dari uterus untuk
mempertahankan tekanan darah ibu.Pendarahan juga bisa terjadi di dalam rahim.
rahim yang hamil dapat menyita hingga 2000 mL darah setelah pemisahan
plasenta dengan lottle atau tidak ada bukti penggabungan sagital. Penggantian
cairan kristaloid diindikasikan, bahkan ketika tekanan darah normal. Vasopresors
umumnya tidak dianjurkan. mereka mengurangi aliran darah uterus dan
pengiriman oksigen janin, vasodilator kadang-kadang diberikan kepada pasien
dengan preklamsi berat yang hipertensi. Kontrol Perdarahan, perdarahan
eksternal harus dikontrol dengan menggunakan teknik yang sama seperti untuk
pasien yang tidak hamil. Penggunaan pakaian antishock pneumatik kontroversial
dalam trauma, dan jarang digunakan saat ini. kebanyakan penelitian menunjukkan
bahwa peran pakaian antishock pneumatik untuk perdarahan internal sangat
terbatas. jika id pakaian anti guncang anti guncang diterapkan, hanya bagian cm
kaki yang harus dipompa. ini karena penggunaan kompartemen perut dapat
meningkatkan kehilangan darah dari cedera pelvis. kompartemen perut dapat
membengkak (dengan urutan arah metabolik) ketika kematian ibu dan janin adalah
kompartmen. Namun, ini jarang dilakukan. Perdarahan vagina mungkin
menunjukkan suksenturiata plasenta, plasenta previa, atau ruptur uterus. Hindari
pemeriksaan vagina. itu dapat meningkatkan perdarahan dan memicu persalinan.
ini mungkin perawatan secara akseptor di plasenta previa yang tidak terduga hadir
(dijelaskan dalam bab ini) Dokumentasikan jumlah dan warna perdarahan vagina.
Kumpulkan dan angkut semua jaringan yang dikeluarkan dengan pasien ke
fasilitas.
Daftar Pustaka

Bobak,dkk. 2005. Buku Ajar ( Keperawatan Maternitas – Edisi 4 ). EGC : Jakarta.

Sanders, M.J. (2012). Paramedic Textbook,4th edition. Missour: Mosby Elsevier

Prawirohardjo,S. 2009. Ilmu kebidanan. Yogyakarta YBPSP

Varney, Helen 2007. Buku Saku Bidan. Jakarta : EGC Boyle.M.2005.Kedaruratan

Dalam Persalinan.Jakarta: EGC