Você está na página 1de 6

ARTIKEL

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK II

OLEH:

Nama : HAMDAN AZIZ


Kelas :VA
Fakultas : EKONOMI/AKUNTANSI

PRODI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI


UNIVERSITAS GUNUNG RINJANI LOMBOK TIMUR
TAHUN 2019
Pelaporan Keuangan PEMDA

Definisi
Laporan keuangan pemerintah daerah itu sendiri adalah gambaran mengenai
kondisi dan kinerja keuangan entitas tersebut. Salah satu pengguna laporan
keuangan pemerintah daerah adalah pemerintah pusat. Pemerintah pusat
berkepentingan dengan laporan keuangan pemerintah daerah karena pemerintah
pusat telah menyerahkan sumber daya keuangan kepada daerah dalam rangka
pelaksanaanotonomidaerah.

Komponen LKPD Komponen dari Laporan Keuangan Pemerintah Daerah adalah


sebagai berikut

1.Laporan Realisasi APBD (LRA)

2. Neraca

3. Laporan Arus Kas (LAK)

4. Catatan Atas Laporan Keuangan (komite standar akuntasi pemerintah pusat dan
daerah).
5. Selain empat bentuk unsur laporan keuangan yang dikemukakan di atas,
masing-masing daerah diharuskan menyampaikan informasi yang berkaitan
dengan keuangan daerah, yaitu laporan keuangan badan usaha milik daerah dan
data yang berkaitan dengan kebutuhan dan potensi ekonomi daerah.

Pengguna LKPD

1. Pemerintahan daerah (internal)

2. Pemerintahan daerah (eksternal) seperti:

• DPRD
• Badan pengawas keuangan

• Investor, kreditur, dan donator

• Analis ekonomi dan pemerhati pemda

• Pemerintahan provinsi

• Pemerintah pusat

• Masyarakat

• SA-PPKD sebagai pengguna anggaran (entitas akuntansi) yang akan


menghasilkan laporan keuangan PPKD yang terdiri dari LRA PPKD, Neraca
PPKD, dan CaLK PPKD.
• SA-Konsolidator sebagai wakil pemda (entitas pelaporan) yang akan mencatat
transaksi resiprokal antara SKPD dan PPKD (selaku BUD) dan melakukan proses
konsolidasi lapkeu (lapkeu dari seluruh SKPD dan PPKD menjadi lapkeu pemda
yang terdiri dari Laporan Realisai APBD (LRA), Neraca Pemda, LAK, dan CaLK
Pemda).

Sistem akuntansi pemerintah daerah Akuntansi Keuangan Pemerintahan sekarang


memasuki Era Desentralisasi, maka pelaksanaan akuntansi pemerintahan itu ada
di daerah-daerah (Provinsi ataupun Kabupaten), kemudian daerah-daerah tersebut
menyampaikan laporannya ke Pemerintah Pusat. Oleh pemerintah pusat dibuatkan
menjadi Laporan Konsolidasi yang merupakan Laporan Keuangan Pemerintah RI.
Akuntansi keuangan daerah adalah suatu sistem informasi pengidentifikasian,
pencatatan, pengklasifikasian, mengikhtisarkan dan mengkomunikasikan kegiatan
suatu daerah berupa pelaporan untuk pengambilan keputusan.

Akuntansi keuangan daerah terdiri atas: Akuntansi keuangan pemerintahan


Provinsi, Akuntansi keuangan pemerintahan Kabupaten. Untuk perlakuan
akuntansi keuangan daerah penyusunannya harus mengikuti PSAP yang telah
dikeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tanggal 13 juni 2005, yaitu PSAP
Nomor 1 sampai dengan Nomor 11, dimana hasil proses akuntansinya adalah:
Neraca

Laporan Realisasi Anggaran

Laporan Arus Kas

Catatan Atas Laporan Keuangan

Tiap-tiap daerah merupakan satu entitas-entitas yang akan membuat laporan


keuangannya dan akan diserahkan ke Pemerintah Pusat. Pemerintah pusat yang
juga sebagai suatu entitas akan menggabungkan laporan keuangan daerah-daerah
tersebut kemudian membuat laporan keuangan Negara RI yang telah
dikonsolidasikan sesuai dengan PSAP Nomor 11.

Akuntansi PPKD adalah sebuah entitas akuntansi yang dijalankan oleh fungsi
akuntansi di SKPKD, yang mencatat transaksi-transaksi yang dilakukan oleh
SKPKD dalam kapasitas sebagai pemda. Sistem akuntansi PPKD ini meliputi:

1. Akuntansi Pendapatan PPKD Akuntansi pendapatan PPKD adalah langkah-


langkah teknis yang harus dilakukan dalam perlakuan akuntansi untuk pendapatan
pada level pemda seperti Dana Perimbangan. Dokumen sumber untuk
penjurnalannya adalah Laporan Posisi Kas Harian yang dibuat oleh BUD. Dari
Laporan Posisi Kas Harian tersebut, PPKD dapat mengidentifikasi penerimaan
kas yang berasal dari dana perimbangan.

2. Akuntansi Belanja PPKD Akuntansi Belanja PPKD adalah langkah-langkah


teknis yang harus dilakukan dalam perlakuan akuntansi untuk belanja bunga,
subsidi, hibah, bantuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan, dan belanja
tidak terduga.

3. Akuntansi Pembiayaan PPKD Pembiayaan daerah meliputi semua transaksi


keuangan untuk menutup defisit atau memanfaatkan surplus. Jika APBD
mengalami defisit, pemerintah dapat menganggarkan penerimaan- pembiayaan, di
antaranya dapat bersumber dari sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) tahun
anggaran sebelumnya, pencairan dana cadangan, hasil penjualan kekaya-an daerah
yang dipisahkan, penerimaan pinjaman, dan penerimaan kembali pemberian
pinjaman atau penerimaan piutang.

4. Akuntansi Aset PPKD Prosedur akuntansi aset pada PPKD merupakan


pencatatan atas pengakuan aset yang muncul dari transaksi pembiayaan yang
dilakukan oleh pemda, misalnya peng- akuan atas Investasi Jangka Panjang dan
Dana Cadangan. PPKD akan mencatat transaksi perolehan maupun pelepasan aset
ini dalam jurnal umum berdasarkan bukti memorial. Bukti memorial dibuat oleh
PPKD sesuai dengan bukti transaksi yang ada

5. Akuntansi Utang PPKD


Seperti halnya aset, utang atau kewajiban pemda muncul sebagai akibat dari
transaksi pembiayaan yang dilakukan oleh pemda. Prosedur akuntansi utang
PPKD merupakan pencatatan atas pengakuan utang jangka panjang yang muncul
dari transaksi penerimaan pembiayaan serta pelunasan/pembayaran utang
(pengeluaran pembiayaan).

6. Akuntansi Selain Kas PPKD Prosedur akuntansi selain kas pada PKPD
meliputi:
a. Koreksi kesalahan pencatatan Merupakan koreksi terhadap kesalahan dalam
membuat jurnal dan telah dipindahkan ke buku besar
b. Pengakuan aset, utang, dan ekuitas

c. Jurnal terkait transaksi yang bersifat accrual dan prepayment


Merupakan jurnal yang dilakukan dikarenakan adanya transaksi yang sudah di-
lakukan PPKD namun pengeluaran kas belum dilakukan (accrual) atau terjadi
transaksi pengeluaran kas untuk belanja di masa yang akan datang (prepayment).

Kerangka umum sistem akuntansi pemerintah daerah


1. Satuan kerja memberikan dokumen-dokumen sumber (ds) seperti surat perintah
membayar uang (spmu) dan surat tanda setoran (sts) dari transaksi keuangannya
kepada unit keuangan pemerintah daerah.
2. Unit pembukuan dan unit perhitungan melakuan pembukuan bulanan (ds)
tersebut dengan menggunakan komputer akuntansi (komputer yang telah
disiapkan untuk keperluan akuntansi) termasuk perangkat lunak (software)
akuntansi.
3. Dari proses akuntansi tersebut dihasilkan jurnal yang sekaligus diposting ke
dalam buku besar dan buku pembantu secara otomatis untuk setiap satuan kerja.
• Bila dokumen di atas telah di verifikasi dan benar maka dilanjutkan dengan
proses komputer untuk pembuatan laporan pertanggungjawaban (lpj).
• Lpj dikirimkan kepada kepala daerah sebagai pertanggungjawaban satuan kerja
atas pelaksanaan anggaran, satu copy dikirim kepada satuan kerja yang
bersangkutan untuk kebutuhan pertanggungjawaban dan manajemen. Satu copy
untuk arsip unit perhitungan.
• Lpj konsolidasi juga harus diberikan kepada kepala daerah agar dapat
mengetahui keseluruhan realisasi apbd pada suatu periode.