Você está na página 1de 2

PENANGANAN

CARDIORESPIRATORY
ARREST
No. Dokumen : 184/SOP/UKP/2016
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit : 10 Februari 2016
Halaman :

UPTD PUSKESMAS dr. Oneng Soekiraten


MUARA BUNGO 1 NIP. 198009202008032004

1. Pengertian Cardiorespiratory Arrest (CRA) adalah kondisi kegawatdaruratan karena


berhentinya aktivitas jantung paru secara mendadak yang mengakibatkan
kegagalan sistem sirkulasi. Hal ini disebabkan oleh malfungsi mekanik
jantung paru atau elektrik jantung. Kondisi yang mendadak dan berat ini
mengakibatkan kerusakan organ.
Henti jantung adalah konsekuensi dari aktivitas otot jantung yang tidak
terkoordinasi. Dengan EKG, ditunjukkan dalam bentuk Ventricular
Fibrillation (VF). Satu menit dalam keadaan persisten VF, aliran darah
koroner menurun hingga tidak ada sama sekali. Dalam 4 menit, aliran
darah katoris tidak ada sehingga menimbulkan kerusakan neurologi secara
permanen.
2. Tujuan Sebagai acuan dalam penatalaksanaan cardiorespiratory arrest dan
mencegah komplikasi untuk semua pasien yang menderita
cardiorespiratory arrest yang datang di Puskesmas Muara Bungo 1
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas No. 445/045/PKM-MB1/2016 tentang Penyusunan
Rencana Layanan Medis dan Rencana Layanan Terpadu
4. Referensi Permenkes No. 5 Tahun 2014 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi
Dokter di Fasilitas Layanan Kesehatan Primer
5. Prosedur 1. Melakukan anamnesa
a. Sapa keluarga pasien dengan ramah
b. Tanyakan keluhan:
i. Pasien dibawa karena pingsan mendadak dengan henti
jantung dan paru. Sebelumnya, dapat ditandai dengan
fase prodromal berupa nyeri dada, sesak, berdebar dan
lemah.
ii. Hal yang perlu ditanyakan kepada keluarga pasien
adalah untuk mencari penyebab terjadinya CRA antara
lain oleh:
iii. 5H (hipovolemia, hipoksia, hidrogen ion atau asidosis,
hiper atau hipokalemia dan hipotermia)
iv. 5T (tension pneumothorax, tamponade, tablet atau
overdosis obat, trombosis koroner, dan thrombosis
pulmoner), tersedak, tenggelam, gagal jantung akut,
emboli paru, atau keracunan karbon monoksida.
2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan tanda vital ditemukan:
a. Pasien tidak sadar
b. Tidak ada nafas
c. Tidak teraba denyut nadi di arteri-arteri besar (karotis dan
femoralis)
3. Pemeriksaan penunjang
Tidak dapat dilakukan di fasilitas pelayanan primer
4. Penatalaksanaan
a. Melakukan resusitasi jantung paru pada pasien, sesegera
mungkin tanpa menunggu anamnesis dan EKG.
b. Pasang oksigen dan IV line
c. Monitor selalu kondisi pasien hingga dirujuk ke spesialis.
5. Konseling dan edukasi
Memberitahu keluarga mengenai kondisi pasien dan tindak lanjut dari
tindakan yang telah dilakukan, serta meminta keluarga untuk tetap
tenang pada kondisi tersebut.
6. Kriteria rujukan
Setelah sirkulasi spontan kembali (Return of Spontaneous
Circulation/ROSC) pasien dirujuk ke layanan sekunder untuk
tatalaksana lebih lanjut.
6. Unit Terkait UGD, Apotek, Laboratorium
7. Dokumen terkait Buku laporan kegiatan, rekam medis