Você está na página 1de 11

Nama : Daniel Sihotang

NIM : 1751003
Jurusan/Tingkat : Ilmu Keperawatan S1 Sec B/II
Mata Kuliah : Keperawatan Maternitas I
Dosen : Sapti Heru Widiarti, S.Kep., Ners., MPH.

Tugas : 1. Proses pembentukan plasenta dan air ketuban (cairan amnion)


2. pembelahan sel dan diferensiasi sel (dari fertilisasi sampai diferensiasi sel)

PLASENTA
Plasenta adalah suatu barier (penghalang) terhadap bakteri dan virus, akan tetapi tidak efektif dan
dewasa ini diragukan sekali bakteri2 dan virus-viruz tertentu di dalam darah ibu dapat melewati
placenta dan menyebabkan kelainan pada janin yang terkenal adalah pada penyakit rubela. Dan
pembuatan hormon-hormon, khususnya korionik gonadotropin, korioniksomato-mammotropin
(placental laktogen), estrogen dan progesteron. Korionik tirotropin dan relaksin pun dapat diisolasi
dari jaringan placenta. Kemungkinan bahwa masih ada hormon-hormon lain dalam rangka fungsi
plasenta, khususnya dalam fungsi hormonal dalam kehamilan masih haruz diselidiki lebih lanjut.
A. Struktur Plasenta
Placenta berbentuk bundar/hampir bundar : diameter 15-20cm & tebal ±2,5cm, berat rata-rata 500gr.
Umumnya placenta terbentuk lengkap pada kehamilan < 16 mgg dengan ruang amnion telah mengisi
seluruh kavum uteri. Letak placenta umumnya di depan/di belakang dinding uterus, agak ke atas
kearah fundus uteri. Karena alasan fisiologis, permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas, sehingga
lebih banyak tempat untuk berimplementasi. Jika diteliti benar, maka placenta sebenarnya berasal dari
sebagian besar dari bagian janin, yaitu villi koriales/jonjot chorion & sebagian kecil dari bagian ibu
yang berasal dari desidua basalis.
B. Letak Plasenta
Letak plasenta umumnya di depan atau di belkang dinding uterus,agak ke atas arah fundus uteri.Hal
ini ialah fisologis karena permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas,sehingga lebih banyak tempat
untuk berimplantasi.Bila di teliti benar,maka plasenta sebenrnya berasal dari sebagian besar dari
bagian janin,yaitu villi koriales yang berasal dari korion dan sebagian kecil dari bagian ibu yang
berasal dari desidua basalis.
Darah ibu yang berada di ruang interviller berasal dari spiral arteries yang berada di desidua
basalis.Pada sistol darah disemprotkan dengan tekanan 70-80 mmHg seperti air mancur kedalam
ruamg interviller sampai mencapai chorionic plate pangkal dari kotiledon-kotiledon janin. Darah
tersebut membasahi semua villi koriales dan kembali perlahan-lahan dengan tekanan 8 mmHg ke
vena-vena di desidua.
Di tempat-tempat tertentu ada implantasiplacenta terdapat vena-vena yang lebar (sinus) untuk
menampung darah kembali. Pada pinggir placenta di beberapa tempat terdapat pula suatu ruang vena
yang luas untuk menampung darah yang berasal dari ruang interviller diatas. Ruang ini disebut sinus
marginalis.
C. Pembentukan plasenta
Pada hari 8-9, perkembangan trofoblas sangat cepat, dari selapis sel tumbuh menjadi berlapis-lapis.
Terbentuk rongga-rongga vakuola yang banyak pada lapisan sinsitiotrofoblas (selanjutnya disebut
sinsitium) yang akhirnya saling berhubungan. Stadium ini disebut stadium berongga (lacunar stage).
Pertumbuhan sinsitium ke dalam stroma endometrium makin dalam kemudian terjadi perusakan
endotel kapiler di sekitarnya, sehingga rongga-rongga sinsitium (sistem lakuna) tersebut dialiri masuk
oleh darah ibu, membentuk sinusoid-sinusoid. Peristiwa ini menjadi awal terbentuknya sistem
sirkulasi uteroplasenta / sistem sirkulasi feto-maternal.
Sementara itu, di antara lapisan dalam sitotrofoblas dengan selapis sel selaput Heuser, terbentuk
sekelompok sel baru yang berasal dari trofoblas dan membentuk jaringan penyambung yang lembut,
yang disebut mesoderm ekstraembrional. Bagian yang berbatasan dengan sitotrofoblas disebut
mesoderm ekstraembrional somatopleural, kemudian akan menjadi selaput korion (chorionic plate).
Bagian yang berbatasan dengan selaput Heuser dan menutupi bakal yolk sac disebut mesoderm
ekstraembrional splanknopleural. Menjelang akhir minggu kedua (hari 13-14), seluruh lingkaran
blastokista telah terbenam dalam uterus dan diliputi pertumbuhan trofoblas yang telah dialiri darah
ibu. Meski demikian, hanya sistem trofoblas di daerah dekat embrioblas saja yang berkembang lebih
aktif dibandingkan daerah lainnya.
Di dalam lapisan mesoderm ekstraembrional juga terbentuk celah-celah yang makin lama makin besar
dan bersatu, sehingga terjadilah rongga yang memisahkan kandung kuning telur makin jauh dari
sitotrofoblas. Rongga ini disebut rongga selom ekstraembrional (extraembryonal coelomic space) atau
rongga korion (chorionic space)
Di sisi embrioblas (kutub embrional), tampak sel-sel kuboid lapisan sitotrofoblas mengadakan invasi
ke arah lapisan sinsitium, membentuk sekelompok sel yang dikelilingi sinsitium disebut jonjot-jonjot
primer (primary stem villi). Jonjot ini memanjang sampai bertemu dengan aliran darah ibu.
Pada awal minggu ketiga, mesoderm ekstraembrional somatopleural yang terdapat di bawah jonjot-
jonjot primer (bagian dari selaput korion di daerah kutub embrional), ikut menginvasi ke dalam jonjot
sehingga membentuk jonjot sekunder (secondary stem villi) yang terdiri dari inti mesoderm dilapisi
selapis sel sitotrofoblas dan sinsitiotrofoblas.
Menjelang akhir minggu ketiga, dengan karakteristik angiogenik yang dimilikinya, mesoderm dalam
jonjot tersebut berdiferensiasi menjadi sel darah dan pembuluh kapiler, sehingga jonjot yang tadinya
hanya selular kemudian menjadi suatu jaringan vaskular (disebut jonjot tersier / tertiary stem villi)
(selanjutnya lihat bagian selaput janin).
Selom ekstraembrional / rongga korion makin lama makin luas, sehingga jaringan embrional makin
terpisah dari sitotrofoblas / selaput korion, hanya dihubungkan oleh sedikit jaringan mesoderm yang
kemudian menjadi tangkai penghubung (connecting stalk). Mesoderm connecting stalk yang juga
memiliki kemampuan angiogenik, kemudian akan berkembang menjadi pembuluh darah dan
connecting stalk tersebut akan menjadi TALI PUSAT.
Setelah infiltrasi pembuluh darah trofoblas ke dalam sirkulasi uterus, seiring dengan perkembangan
trofoblas menjadi plasenta dewasa, terbentuklah komponen sirkulasi utero-plasenta. Melalui
pembuluh darah tali pusat, sirkulasi utero-plasenta dihubungkan dengan sirkulasi janin. Meskipun
demikian, darah ibu dan darah janin tetap tidak bercampur menjadi satu (disebut sistem hemochorial),
tetap terpisah oleh dinding pembuluh darah janin dan lapisan korion.
Dengan demikian, komponen sirkulasi dari ibu (maternal) berhubungan dengan komponen sirkulasi
dari janin (fetal) melalui plasenta dan tali pusat. Sistem tersebut dinamakan sirkulasi feto-maternal.
Plasenta “dewasa” / lengkap yang normal :
1. bentuk bundar / oval
2. diameter 15-25 cm, tebal 3-5 cm.
3. berat rata-rata 500-600 g
4. insersi tali pusat (tempat berhubungan dengan plasenta) dapat di tengah / sentralis, di samping /
lateralis, atau di ujung tepi / marginalis.
5. di sisi ibu, tampak daerah2 yang agak menonjol (kotiledon) yang diliputi selaput tipis desidua
basalis.
6. di sisi janin, tampak sejumlah arteri dan vena besar (pembuluh korion) menuju tali pusat. Korion
diliputi oleh amnion.
7. sirkulasi darah ibu di plasenta sekitar 300 cc/menit (20 minggu) meningkat sampai 600-700
cc/menit (aterm).
d. Hormon yang dihasilkan Plasenta
Hormon yang dihasilkan Plasenta antara lain :
· Human chorionic gonadotropin (HCG),
· Chorionic somatomammotropin (placental lactogen),
· Estrogen,
· Progesteron,
· Tirotropin korionik dan relaksin,
· Hormon-hormon lain.

D. Fungsi Placenta
Fungsi placenta ialah mengusahan janin tumbuh dengan baik. Untuk pertumbuhan ini dibutuhkan
adanya penyaluran zat asam, asam amino, vitamin dan mineral dari ibu ke janin, dan pembuangan
CO2 serta sampah metabolisme janin ke peredaran darah ibu. Dapat dikemukakan bahwa fungsi
placenta adalah:
1. Sebagai alat yang memberi makanan pada janin (nutritif).
2. Sebagai alat yang mengeluarkan metabolisme (ekskresi).
3. Sebagai alat yang memberi zat asam, dan mengeluarkan zat CO2 (respirasi)
4. Endokrin : menghasilkan hormon-hormon : hCG, HPL, estrogen,progesteron, dan sebagainya (cari /
baca sendiri).
5. Imunologi : menyalurkan berbagai komponen antibodi ke janin
6. Farmakologi : menyalurkan obat-obatan yang mungkin diperlukan janin, yang diberikan melalui
ibu.
7 Proteksi : barrier terhadap infeksi bakteri dan virus, zat-zat toksik (tetapi akhir2 ini diragukan,
karena pada kenyataanya janin sangat mudah terpapar infeksi / intoksikasi yang dialami ibunya).
perlu dikemukakan bahwa plasenta dapat pula dilewati kuman-kuman dan obat-obat tertentu.
Penyaluran zat makanan dan zat lain dari ibu ke janin dan sebaliknya harus melewati lapisan trofoblas
placenta. Cepatnya penyaluran zat-zat tersebut tergantung pada konsentrasinya dikedua belah lapisan
trofoblas, tebalnya lapisan trofoblas, besarnya permukaan yang memisahkan dan jenis zat.
Janin sendiri hanya mempunyai kemampuan terbatas untuk membentuk antibodi. Untungnya molekul
antibodi tertentu dari ibu dapat masuk ke janin, sehingga dapat melindungi janin secara pasif.
Umpanya, jika ibu dapat vaksinasi cacar (pariola), difteria, poliomielitis atau jika ibu waktu hamil
menderita sakit campak, dapat suntikan tetanus toksoid dan sebagainya. Kekebalan yang diperoleh
janin dapatberlangsung terus hingga6 bulan setelah dilahirkan.
E. Sirkulasi placenta
Darah ibu yg berada di ruang interviller berasal dari spiral arteries yangn berada di desidua basalis.
Pada sistosel darah disemprotkan dengan tekanan 70-80mmhg seperti air mancur ke dalam ruang
interviler sampai mencapai chorionic plate, pangkal kotiledon-kotiledon janin. Darah tersebut
membasahi semua villi koriales & kembali perlahan-lahan dengan tekanan 80mmhg ke vena-vena di
desidua.
Di tempat-tempat tertentu ada implantasiplacenta terdapat vena-vena yang lebar (sinus) untuk
menampung darah kembali. Pada pinggir placenta di beberapa tempat terdapat pula suatu rung vena
yang luas untuk menampung darah yang berasal dari ruang interviller diatas. Ruang ini disebut sinus
marginalis.
Darah ibu yang mengalir di seluruh placenta diperkirakan menaik dari 300 ml tiap menit pada
kehamilan 20 minggu sampai 600 ml tiap menit pada kehamilan 40 minggu. Seluruh ruang interviller
tanpa villi koriales mempunyai volume lebih kurang 150-250 ml. Permukaan semua villi koriales
diperkirakan seluas lebih kurang 11 m2. Dengan demikian pertukaran zat-zat makanan terjamin benar.
Perubahan-perubahan terjadi pula pada jonjot-jonjot selama kehamilan berlangsung. Pada kehamilan
24 minggu lapisan sinsitium dari villi tidak berubah, akan tetapi dari lapisan sititrofoblas sel-sel
berkurangdan hanya ditemukan sebagai kelompok sel-sel, stroma jonjot menjadi lebih padat,
mengandung fagosit-fagosit, dan pembuluh-pembuluh darahnya menjadi lebih besar dan lebih
mendekati lapisan trofoblas. Pada kehamilan 36 minggu sebagian besar sel-selsitotrofoblas tak ada
lagi, akan tetapi antara sirkulasi ibu dan janin selalu ada lapisan trofoblas. Terjadi klasifikasi
pembuluh-pembuluh darah dalam jonjot dan pembentukan fibrin di permukaan beberapa jonjot.
Kedua hal terakhir ini mengakibatkan pertukaran zat-zat makanan, zat asam, dan sebagainya antara
ibu dan janin mulai terganggu.
Deposit fibrin ini dapat terjadi sepanjang masa kehamilan sedangkan banyaknya juga berbeda-beda.
Jika banyak, maka deposit ini dapat menutup villi dan villi itu kehilangan hubungan dengan darah ibu
lalu berdegenerasi. Dengan demikian, timbullah infark.
F. Tipe-Tipe Plasenta
1. Menurut Bentuknya
· plasenta normal
· plasenta membranasea (tipis)
· plasenta suksenturiata (satu lobus terpisah)
· plasenta spuria
· plasenta bilobus (2 lobus)
· plasenta trilobus ( 3 lobus)
2. Menurut Pelekatan dengan Dinding Rahim
· plasenta adhesiva (melekat)
· plasenta akreta (lebih melekat)
· plasenta inkreta (sampai ke otot polos)
· plasenta perkreta (sampai ke serosa)

PEMBENTUKAN CAIRAN AMNION

Amnion manusia pertama kali dapat diidentifikasi pada sekitar hari ke-7 atau ke-8
perkembangan mudigah. Pada awalnya sebuah vesikel kecil yaitu amnion, berkembang menjadi
sebuah kantung kecil yang menutupi permukaan dorsal mudigah. Karena semakin membesar, amnion
secara bertahap menekan mudigah yang sedang tumbuh, yang mengalami prolaps ke dalam rongga
amnion.

Cairan amnion pada keadaan normal berwarna putih agak keruh karena adanya campuran
partikel solid yang terkandung di dalamnya yang berasal dari lanugo, sel epitel, dan material sebasea.
Volume cairan amnion pada keadaan aterm adalah sekitar 800 ml, atau antara 400 ml -1500 ml dalam
keadaan normal. Pada kehamilan 10 minggu rata-rata volume adalah 30 ml, dan kehamilan 20 minggu
300 ml, 30 minggu 600 ml. Pada kehamilan 30 minggu, cairan amnion lebih mendominasi
dibandingkan dengan janin sendiri.

Cairan amnion diproduksi oleh janin maupun ibu, dan keduanya memiliki peran tersendiri
pada setiap usia kehamilan. Pada kehamilan awal, cairan amnion sebagian besar diproduksi oleh
sekresi epitel selaput amnion.

Dengan bertambahnya usia kehamilan, produksi cairan amnion didominasi oleh kulit janin
dengan cara difusi membran. Pada kehamilan 20 minggu, saat kulit janin mulai kehilangan
permeabilitas, ginjal janin mengambil alih peran tersebut dalam memproduksi cairan amnion.

Pada kehamilan aterm, sekitar 500 ml per hari cairan amnion di sekresikan dari urin janin dan
200 ml berasal dari cairan trakea. Pada penelitian dengan menggunakan radioisotop, terjadi
pertukaran sekitar 500 ml per jam antara plasma ibu dan cairan amnion.

Pada kondisi dimana terdapat gangguan pada ginjal janin, seperti agenesis ginjal, akan
menyebabkan oligohidramnion dan jika terdapat gangguan menelan pada janin, seperti atresia
esophagus, atau anensefali, akan menyebabkan polihidramnion .

A. Fungsi Cairan Amnion

Cairan amnion merupakan komponen penting bagi pertumbuhan dan perkembangan janin
selama kehamilan. Pada awal embryogenesis, amnion merupakan perpanjangan dari matriks
ekstraseluler dan di sana terjadi difusi dua arah antara janin dan cairan amnion. Pada usia kehamilan 8
minggu, terbentuk uretra dan ginjal janin mulai memproduksi urin. Selanjutnya janin mulai bisa
menelan. Eksresi dari urin, sistem pernafasan, sistem digestivus, tali pusat dan permukaan plasenta
menjadi sumber dari cairan amnion. Telah diketahui bahwa cairan amnion berfungsi sebagai kantong
pelindung di sekitar janin yang memberikan ruang bagi janin untuk bergerak, tumbuh meratakan
tekanan uterus pada partus, dan mencegah trauma mekanik dan trauma termal.
Cairan amnion juga berperan dalam sistem imun bawaan karena memiliki peptid
antimikrobial terhadap beberapa jenis bakteri dan fungi patogen tertentu. Cairan amnion adalah 98%
air dan elektrolit, protein , peptide, hormon, karbohidrat, dan lipid. Pada beberapa penelitian,
komponen-komponen cairan amnion ditemukan memiliki fungsi sebagai biomarker potensial bagi
abnormalitas-abnormalitas dalam kehamilan. Beberapa tahun belakangan, sejumlah protein dan
peptide pada cairan amnion diketahui sebagai faktor pertumbuhan atau sitokin, dimana kadarnya akan
berubah-ubah sesuai dengan usia kehamilan. Cairan amnion juga diduga memiliki potensi dalam
pengembangan medikasi stem cell

B. Volume Cairan Amnion

Volume cairan amnion pada setiap minggu usia kehamilan bervariasi, secara umum volume
bertambah 10 ml per minggu pada minggu ke-8 usia kehamilan dan meningkat menjadi 60 ml per
minggu pada usia kehamilan 21 minggu, yang kemudian akan menurun secara bertahap sampai
volume yang tetap setelah usia kehamilan 33 minggu. Normal volume cairan amnion bertambah dari
50 ml pada saat usia kehamilan 12 minggu sampai 400 ml pada pertengahan gestasi dan 1000 – 1500
ml pada saat aterm. Pada kehamilan postterm jumlah cairan amnion hanya 100 sampai 200 ml atau
kurang.

Brace dan Wolf menganalisa semua pengukuran yang dipublikasikan pada 12 penelitian
dengan 705 pengukuran cairan amnion secara individual. Variasi terbesar terdapat pada usia
kehamilan 32-33 minggu. Pada saat ini, batas normalnya adalah 400 – 2100 ml 1,2,3,4.

C. Pengukuran Cairan Amnion

Terdapat 3 cara yang sering dipakai untuk mengetahui jumlah cairan amnion, dengan teknik
single pocket ,dengan memakai Indeks Cairan Amnion (ICA), dan secara subjektif pemeriksa.

Pemeriksaan dengan metode single pocket pertama kali diperkenalkan oleh Manning dan Platt
pada tahun 1981 sebagai bagian dari pemeriksaan biofisik, dimana 2ccm dianggap sebagai batas
minimal dan 8 cm dianggap sebagai polihidramnion.

Metode single pocket telah dibandingkan dengan AFI menggunakan amniosintesis sebagai
gold standar. Tiga penelitian telah menunjukkan bahwa metode pengukuran cairan ketuban dengan
teknik Indeks Cairan Amnion (ICA) memiliki korelasi yang lemah dengan volume amnion sebenarnya
(R2 dari 0.55, 0.30 dan 0.24) dan dua dari tiga penelitian ini menunjukkan bahwa teknik single pocket
memiliki kemampuan yang lebih baik.

Kelebihan cairan amnion seperti polihidramnion, tidak mempengaruhi fetus secara langsung,
namun dapat mengakibatkan kelahiran prematur. Secara garis besar, kekurangan cairan amnion dapat
berefek negatif terhadap perkembangan paru-paru dan tungkai janin, dimana keduanya memerlukan
cairan amnion untuk berkembang 6,

D. Distribusi Cairan Amnion

1. Urin Janin

Sumber utama cairan amnion adalah urin janin. Ginjal janin mulai memproduksi urin sebelum akhir
trimester pertama, dan terus berproduksi sampai kehamilan aterm. Wladimirof dan Campbell
mengukur volume produksi urin janin secara 3 dimensi setiap 15 menit sekali, dan melaporkan bahwa
produksi urin janin adalah sekitar 230 ml / hari sampai usia kehamilan 36 minggu, yang akan
meningkat sampai 655 ml/hari pada kehamilan aterm.

Rabinowitz dan kawan-kawan, dengan menggunakan teknik yang sama dengan yang dilakukan
Wladimirof dan Campbell, namun dengan cara setiap 2 sampai 5 menit, dan menemukan volume
produksi urin janin sebesar 1224 ml/hari. Pada tabel menunjukkan rata-rata volume produksi urin per
hari yang didapatkan dari beberapa penelitian. Jadi, produksi urin janin rata-rata adalah sekitar 1000-
1200 ml/ hari pada kehamilan aterm.

2. Cairan Paru

Cairan paru janin memiliki peran yang penting dalam pembentukan cairan amnion. Pada penelitian
dengan menggunakan domba, didapatkan bahwa paru-paru janin memproduksi cairan sampai sekitar
400 ml/hari, dimana 50% dari produksi tersebut ditelan kembali dan 50% lagi dikeluarkan melalui
mulut. Meskipun pengukuran secara langsung ke manusia tidak pernah dilakukan, namun data ini
memiliki nilai yang representratif bagi manusia. Pada kehamilan normal, janin bernafas dengan
gerakan inspirasi dan ekspirasi, atau gerakan masuk dan keluar melalui trakea, paru-paru dan mulut.
Jadi jelas bahwa paru-paru janin juga berperan dalam pembentukan cairan amnion.

3. Gerakan menelan

Pada manusia, janin menelan pada awal usia kehamilan. Pada janin domba, proses menelan semakin
meningkat seiring dengan meningkatnya usia kehamilan. Sherman dan teman-teman melaporkan
bahwa janin domba menelan secara bertahap dengan volume sekitar 100-300 ml/kg/hari.

Banyak teknik berbeda yang dicoba untuk mengukur rata-rata volume cairan amnion yang ditelan
dengan menggunakan hewan, namun pada manusia, pengukuran yang tepat sangat sulit untuk
dilakukan. Pritchard meneliti proses menelan pada janin dengan menginjeksi kromium aktif pada
kompartemen amniotik, dan menemukan rata-rata menelan janin adalah 72 sampai 262 ml/kg/hari.

Abramovich menginjeksi emas koloidal pada kompartemen amniotik dan menemukan bahwa volume
menelan janin meningkat seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. Penelitian seperti ini tidak
dapat lagi dilakukan pada masa sekarang ini karena faktor etik, namun dari penelitian di atas jelas
bahwa kemampuan janin menelan tidak menghilangkan seluruh volume cairan amnion dari produksi
urin dan paru-paru janin, karena itu, harus ada mekanisme serupa dalam mengurangi volume cairan
amnion.

4. Absorpsi Intramembran

Satu penghalang utama dalam memahami regulasi cairan amnion adalah ketidaksesuaian antara
produksi cairan amnion oleh ginjal dan paru janin, dengan konsumsinya oleh proses menelan. Jika
dihitung selisih antara produksi dan konsumsi cairan amnion, didapatkan selisih sekitar 500-750
ml/hari, yang tentu saja ini akan menyebabkan polihidramnion. Namun setelah dilakukan beberapa
penelitian, akhirnya terjawab, bahwa sekitar 200-500 ml cairan amnion diabsorpsi melalui
intramembran. Gambar menunjukkan distribusi cairan amnion pada fetus. Dengan ditemukan adanya
absorbsi intramembran ini, tampak jelas bahwa terdapat keseimbangan yang nyata antara produksi
dan konsumsi cairan amnion pada kehamilan normal.

E. Kandungan Cairan Amnion

Pada awal kehamilan, cairan amnion adalah suatu ultrafiltrat plasma ibu. Pada awal trimester kedua,
cairan ini terdiri dari cairan ekstrasel yang berdifusi melalui kulit janin sehingga mencerminkan
komposisi plasma janin. Namun setelah 20 minggu, kornifikasi kulit janin menghambat difusi ini dan
cairan amnion terutama terdiri dari urin janin.

Urin janin mengandung lebih banyak urea, kreatinin, dan asam urat dibandingkan plasma. Selain itu
juga mengandung sel janin yang mengalami deskuamasi, verniks, lanugo dan berbagai sekresi. Karena
zat-zat ini bersifat hipotonik, maka seiring bertambahnya usia gestasi, osmolalitas cairan amnion
berkurang. Cairan paru memberi kontribusi kecil terhadap volume amnion secara keseluruhan dan
cairan yang tersaring melalui plasenta berperan membentuk sisanya. 98% cairan amnion adalah air
dan sisanya adalah elektrolit, protein, peptid, karbohidrat, lipid, dan hormon.

Terdapat sekitar 38 komponen biokimia dalam cairan amnion, di antaranya adalah protein total,
albumin, globulin, alkalin aminotransferase, aspartat aminotransferase, alkalin fosfatase, γ-
transpeptidase, kolinesterase, kreatinin kinase, isoenzim keratin kinase, dehidrogenase laktat,
dehidrogenase hidroksibutirat, amilase, glukosa, kolesterol, trigliserida, High Density Lipoprotein
(HDL), low-density lipoprotein (LDL), very-low-density lipoprotein (VLDL), apoprotein A1 dan B,
lipoprotein, bilirubin total, bilirubin direk, bilirubin indirek, sodium, potassium, klorid, kalsium,
fosfat, magnesium, bikarbonat, urea, kreatinin, anion gap , urea, dan osmolalitas.

Faktor pertumbuhan epidermis (epidermal growth factor, EGF) dan factor pertumbuhan mirip EGF,
misalnya transforming growth factor-α, terdapat di cairan amnion. Ingesti cairan amnion ke dalam
paru dan saluran cerna mungkin meningkatkan pertumbuhan dan diferensiasi jaringan-jaringan ini
melalui gerakan inspirasi dan menelan cairan amnion.

Beberapa penanda (tumor marker) juga terdapat di cairan amnion termasuk α-fetoprotein (AFP),
antigen karsinoembrionik (CEA), feritin, antigen kanker 125 (CA-125), dan 199 (CA-199).
PROSES PERKEMBANGAN EMBRIO PADA MANUSIA
Proses Perkembangan Embrio pada Manusia – Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna
baik dalam sisi agama maupun science. Tingkat kekompleksan tubuh manusia adalah yang tertinggi
diantara organisme lainnya. Meski demikian, tahap pertumbuhan dan perkembangan manusia sama
seperti kelompok hewan lainnya terutama dari bangsa Hominidae. Tahap pertumbuhan dan
perkembangan manusia semua berawal dari satu “titik” zigot yang merupakan hasil penyatuan dua inti
sel gamet, sperma dan ovum. Selanjutnya zigot ini bertumbuh dan berkembang menjadi embrio,
semacam bahan yang siap menjadi manusia mini, janin dan siap untuk menantang dunia. Proses
perkembangan embrio pada manusia, seutuhnya terjadi di dalam tubuh induk betina. Manusia
merupakan organisme vivipar yaitu melahirkan. Proses embriogenesis yang berlangsung di dalam
tubuh induk ini memerlukan waktu sekitar 9 minggu 10 hari atau sekitar 38 minggu untuk embrio
(janin) yang mencapai perkembangan sempurna dan siap untuk dilahirkan. Berikut ulasan terkait
perkembangan embrio (embriogenesis) pada manusia:
1.Tahap fertilisasi
Fertilisasi merupakan proses penyatuan inti sel gamet jantan (sperma) dengan inti sel gamet betina
(ovum).
2.Tahap pembelahan ( Cleavage)
Tak lama setelah terbentuk zigot, sel ini akan langsung beranjak ke tahap pembelahan membentuk
banyak sel. Pembelahan yang berlangsung ialah pembelahan mitosis yang berlangsung sangat cepat
diawli dengan pembelahan dua sel, empat sel, delapan sel, dan seterusnya sampai terbentuk morula
(tahap 32 sel).
3.Tahap blastulasi
Tahap blastulasi ialah tahap pembentukan blastula (bola berongga) dari morula (bola padat). Pada
tahap sebelumnya zigot membelah membentuk banyak sel (sampai 32) yang disebut morula. Tahap
morula ialah tahap 32 sel – sel zigot yang tersusun padat. Kemudian tiap – tiap sel akan terus
melanjutkan tahapan pembelahan dalam rangka pertumbuhan dan perkembangan hingga mencapai
angka 64 sampai 100 sel.

Tahap Embrio, pertumbuhan dan perkembangan manusia

Tahap Embrio
Tahap embrio dimulai dari proses fertilisasi (penyatuan sel telur dan sperma), kemudian terbentuk
zigot yang mengalami proses pembelahan. Tahap embrio dikelompokkan menjadi beberapa fase, yaitu
fase morula, fase blastula, fase gastrula, fase diferensiasi, serta organogenesis. Kita akan membahas
setiap fase pertumbuhan dan perkembangannya berikut ini.
Fase Morula
Pada fase ini zigot mengalami pembelahan. Pembelahan sel dimulai dari satu menjadi dua, dua
menjadi empat, dan seterusnya. Pada saat pembelahan sel terjadi pembelahan yang tidak bersamaan.
Pembelahan yang cepat terjadi pada bagian vertikal yang memiliki kutub fungsional atau kutub hewan
(animal pole) dan kutub vegetatif (vegetal pole). Antara dua kutub ini dibatasi oleh daerah sabit
kelabu (grey crescent).setelah pembelahan terjadi pada bagian vertikal, kemudian dilanjutkan dengan
bagian horizontal yang membelah secara aktif sampai terbentuk 8 sel. Pembelahan sel berlanjut
sampai terbentuk 16-64 sel. Embrio yang terdiri dari 16-64 sel inilah yang disebut morula.
Fase Blastula
Pada fase blastula terjadi pembagian sitoplasma ke dalam dua kutub yang dibentuk pada fase moruta.
Konsentrasi sitoplasma pada kedua kutub tersebut berbeda. Pada kutub fungsional terdapat sitoplasma
yang lebih sedikit dibandingkan dengan kutub vegetatif. Konsentrasi sitoplasma yang berbeda
menentukan arah pertumbuhan dan perkembangan hewan selanjutnya. Pada fase ini kutub fungsional
dan kutub vegetatif telah selesai dibentuk. Hal ini ditandai dengan dibentuknya rongga di antara kedua
kutub yang berisi caftan dan disebut blastosol. Embrio yang memiliki blastosol disebut blastula.
Proses pembentukan blastosol disebut blastulasi. Setelah fase blastula selesai ditanjutkan dengan lase
gastrula.
Fase Gastrula
Pada fase gastrula, embrio mengalami proses diferensiasi dengan mulai menghilangkan blastosol. Sel-
sel pada kutub fungsional akan membelah dengan cepat. Akibatnya, sal-sel pada kutub vegetatif
membentuk lekukan ke arah dalam (invaginasi). Invaginasi akan membentuk dua formasi, yaitu
lapisan luar (ektoderm) dan lapisan dalam (endoderm).
Bagian ektoderm akan menjadi kulit dan bagian endoderm akan menjadi berbagai macam saluran.
Bagian tengah gastrula disebut dengan arkenteron. Pada perkembangan selanjutnya, arkenteron akan
menjadi saluran pencernaan pada hewan vertebrata dan beberapa invertebrata. Bagian luar yang
terbuka pada gastrula menuju arkenteron disebut dengan blastofor. Bagian ini dipersiapkan menjadi
anus dan pada bagian ujung akan membuka dan menjadi mulut. Pada fase ini akan terjadi lanjutan
diferensiasi sebagian endoderm menjadi bagian mesoderm. Pada akhir fase gastrula telah terbentuk
bagian endoderm, mesoderm, dan ektoderm.
Diferensiasi dan Organogenesis
Pada Ease ini mulai terjadi diferensiasi dan organogenesis pada struktur dan fungsi set untuk menjadi
jaringan yang spesifik. Proses ini dikendalikan oleh faktor hereditas (gen) yang dibawa pada saat
terjadi pembentukan kutub fungsional dan kutub vegetatif. Pada akhirnya masing-masing bagian
endoderm, mesoderm, dan ektoderm akan mengalami diferensiasi menjadi organ-organ sebagai
berikut.
• Ektoderm akan mengalami diferensiasi menjadi epidermis, rambut, kelenjar minyak, kelenjar
keringat, email gigi, sistem saraf, dan saraf reseptor.
• Mesoderm akan mengalami diferensiasi menjadi tulang, jaringan ikat, otot, sistem peredaran darah,
sistem ekskresi misalnya duktus deferens, dan sistem reproduksi.
• Endoderm akan mengalami diferensiasi menjadi jaringan epitel pencernaan, sistem pernapasan,
pankreas dan hati, serta kelenjar gondok.
Dalam proses diferensiasi dan organogenesis, bagian yang berdekatan sating mempengaruhi. Sebagai
contoh, bagian mesoderm akan mempengaruhi ektoderm dalam diferensiasi untuk perkembangan alat
gerak, yaitu sebagian berasal dari set ektoderm dan sebagian dari mesoderm. Setelah tahap embrio
selesai, embrio yang disebut janin siap dilahirkan.
SUMBER :
https://www.scribd.com/document/370172156/Proses-Perkembangan-Embrio-Pada-Manusia
https://www.scribd.com/doc/51629434/FISIOLOGI-DAN-PATOLOGI-CAIRAN-AMNION
https://www.scribd.com/document/92673934/Cairan-Amnion