Você está na página 1de 15

MAKALAH

SEJARAH BERDIRINYA BUDI UTOMO

DISUSUN OLEH :
Kelompok 5
1. .
2. .
3.
4.
5. .

KELAS VIII A

MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI


TAHUN AJARAN 2017 / 2018
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-
Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul "Sejarah Berdirinya Budi
Utomo". Dalam menyelesaikan makalah ini, kami banyak menerima bantuan dari berbagai
pihak sehingga dalam waktu yang relatif singkat makalah yang sederhana ini dapat
terwujud. Oleh karena itu, kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada
semua pihak yang membantu. Semoga Allah S.W.T berkenan mencatatnya sebagai amal
shaleh.
Kami sadar bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,
kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Dengan iringan
doa semoga makalah ini bisa bermanfaat dalam pengembangan pendidikan dan wacana
berpikir kita bersama. Amin.

Nanga Pinoh, Januari 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................. i


DAFTAR ISI ............................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 3
1.3 Tujuan Penulisan ..................................................................................... 3
1.4 Manfaat Penulisan .................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Latar Belakang Lahirnya Budi Utomo ..................................................... 4
2.2 Asas dan Tujuan Budi Utomo .................................................................. 5
2.3 Reaksi Belanda terhadap berdirinya Organisasi Budi Utomo di
Indonesia .................................................................................................. 6
2.4 Perkembangan Organisasi Budi Utomo di Indonesia .............................. 7
2.5 Penyebab ketidakhadiran Organisasi Budi Utomo dalam Lapangan
Politik Indonesia ...................................................................................... 8
2.6 Berakhirnya Organisasi Budi Utomo ..................................................... 9

BAB III PENUTUP


3.1 Simpulan .................................................................................................. 11
3.2 Saran ........................................................................................................ 11

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 12

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Istilah ‘pergerakan’ mengandung pengertian khas, berlainan dengan
pengertian ‘perjuangan’ yang dimaksud disini ialah perjuangan untuk mencapai
kemerdekaan dengan menggunakan organisasi yang teratur. Dan dengan istilah
‘nasional’ dimaksudkan untuk membatasi pokok pembicaraan kita tentang
pergerakan-pergerakan yang bercita-cita nasional yakni cita-cita mencapai
kemerdekaan Bangsa. Sudah banyak dikemukakan pendapat, bahwa timbulnya
pergerakan nasional tidak bisa dipisahkan dari bangkitnya nasionalisme di Asia, yang
dianggap reaksi terhadap Imprealisme (penjajahan). Atau kalau kita memunjam
istilahnya Prof. Toynbee, nasionalisme itu merupakan jawaban bangsa Asia atau
Indonesia terhadap tantangan barat.
Menurut pendidikian Prof. Toynbee, reaksi bangsa asia terhadap kolonialisme
dan imprealisme barat itu ada dua macam bentuknya yaitu ;
1. Reaksi yang dinakaman dengan istilah Zelotisme yakni reaksi yang berupa
menutup pintu rapat-rapat bagi pengaruh barat atau istilah Isolasi. Dapat juga
dinamakan perlawanan pasif yakni menolak pengaruh barat.
2. Reaksi yang dinamakan dengan istilah Herodinamisme yakni dengan membuka
pintu lebar-lebar bagi pengaruh barat, meniru cara-cara barat dan kalau telah
kuat digunakan untuk mengukur imprealisme barat. Dapat juga dikatakan
perlawanan aktif yakni menentang pengaruh barat dengan menggunakan alat-
alat dan senjata dari barat sendiri.
Bangkitnya nasionalisme di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari
bangkitnya nasionalismre di Asia. Namun mengatakan bahwa timbulnya pergerakan
nasionalisme itu disebabkan oleh pengaruh-pengaruh dari luar Indonesia saja seperti
misalnya karena pengaruh kemenangan Jepang atas Rusia di tahun 1905, harus kita
terioma secara hati-hati. Sebab-sebab bangkitnya nasionalisme di Indonesia dan
tumbuhnya pergerakan nasional Indonesia itu, tidak harus dicari diluar pagar tanah
air, sebab-sebab itu telah tertanam subur di bumi Indonesia sendiri.
Reaksi pada masa-masa sebelum tahun 1905 pernah dicetuskan dengan
perlawanan senjata dan dilakukan oleh misalnya Sultan Agung Mataram, pangeran
di Ponogoro, Cik Ditiro, dan lain-lainnya namun perlawanan mereka gagal tetapi ini

1
telah membuktikan nyata bahwa semangat nasional telah lama bergejolak pada dada
bangsa Indonesia sebagai reaksi terhadap penderitaan lahir dan batin akibat
kolonialisme itu. Kegagalan perlawanan bersenjata oleh beberapa pejuang telah
menyadarkan pemimpin-pemimpin Bangsa pada waktu itu untuk merubah taktik dan
cara-cara perlawanan. Semula dicoba dengan gerakan-gerakan yang disebut dengan
gerakan emansipasi. Gerakan ini pada hakekatnya merupakan penjelmaan
kebangkitan suatu bangsa dan cita-cita.
Dalam cita-cita ke bangsaan ini ada dua tujuan yang penting yakni tujuan
kemerdekaan bangsa serta cita-cita membentuk suatu bangsa. Kedua cita-cita ini
dapat pada pergerakan. Disamping itu organisasi pergerakan itu mempunyai suatu
ikatan yang menyatukan mereka yakni antara lain :
a. Pertentangan dengan kekuasaan politik.
b. Keinginan mereka mengapuskan sistem kolonial dan mencapai kemerdekaan
Demikianlah maka pergerakan nasional di Indonesia tumbuh dan
berkembang sebagai reaksi-reaksi terhadap stelsel kolonial dan kelahirannya
dipercepat oleh beberapa kejadian yang anatara lain dapat disembuhkan seperti
misalnya:
1. Tersia-sia rakyat Indonesia dalam bidang pengajaran dan pendidikan.
2. Perlakuan pemerintah kolonial yang sangat melukai hati rakyat.
3. Suara beracun pers Belanda serta sikap angkuh dari masyarakat Belanda
Indonesia.
4. Adanya gerakan orang-orang cina dengan didirakannya perguruan bagi
masyarakat mereka sendiri yakni Tionghoa Hawee Kwan (1901).
Kejadian-kejadian seperti diatas inilah yang mempercepat proses lahirnya
pergerakan nasional di Indonesia. Penderitaan lahir batin yang tak tertahankan lagi
ditambah pengaruh kejadian-kejadian didalam dan diluar tanah air yang merupakan
dorongan yang mempercepat lahirnya pergerakan nasional dan titik berangkat itu
dimulai pada tanggal 20 mei 1908 yakni tahun berdirinya Budi Utomo sebagai
pergerakan rakyat yang mula-mula lahir. Berdirinya organisasi Budi Utomo
merupakan oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo dan mendapat persetujuan dan pelajar-
pelajar STOVIA seperti Sutomo, Gunawan, Gumbreg, dan lain-lainnya yang
dimana organisasi Budi Utomo ini bertujuan untuk membantu beasiswa kepada
pelajar-pelajar Bumi Putera (Kansil dan Julianto, 1990. 15-22).

2
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas , dapat dirumuskan beberapa masalah yang
ingin dipecahkan yaitu :
1. Bagaimana latar belakang lahirnya organisasi Budi Utomo di Indonesia ?
2. Bagaimana asas dan tujuan berdirinya Budi Utomo di Indonesia ?
3. Apa yang menyebabkan berakhirnya organisasi Budi Utomo di Indonesia?

1.3 Tujuan Penulisan


Sejalan dengan rumusan masalah diatas maka yang menjadi tujuan utama
dalam makalah ini adalah untuk:
1. Untuk mengetahui latar belakang lahirnya organisasi Budi Utomo di Indonesia.
2. Untuk mengetahui asas dan tujuan berdirinya Budi Utomo di Indonesia.
3. Untuk mengetahui menyebabkan berakhirnya organisasi Budi Utomo di
Indonesia.

1.4 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat dari penulisan makalah ini sebagai berikut.
1. Bagi penulis
Dengan dibuatnya makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan dan
pengetahuan penulis tentang organisasi pergerakan nasional di Indonesia.
2. Bagi masyarakat
Bagi masyarakat, diharapkan makalah ini dapat memberikan pengetahuan
tambahan tentang organisasi pergerakan nasional di Indonesia dalam
memperjuangkan kemerdekaan.
3. Bagi pemerintah
Makalah ini diharapkan bermanfaat bagi pemerintah dalam meningkatkan
sosialisasi mengenai perjuangan pada masa pergerakan nasional di Indonesia.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Latar Belakang Lahirnya Budi Utomo


Budi Utomo merupakan sebuah organisasi modern pertama kali di Indonesia
yang didirikan oleh dr. Sutomo pada tanggal 20 Mei 1908. Menurut beberapa
sarjana, perkataan Budi Utomo berasal dari kata Sansekerta, yaitu bodhi atau budhi,
berarti “keterbukaan jiwa”,”pikiran”,” kesadaran”, “akal”, atau “pengadilan”. Tetapi
juga bisa berarti “ daya untuk membentuk dan menjunjung konsepsi dan ide-ide
umum”. Sementara itu, perkataan Jawa utomo berasal dari uttama, yang dalam
bahasa Sansekerta berarti “ tingkat pertama” atau “ sangat baik”( Gonda dalam Akira
Nagazumi, 1989: 58).
Dr. Wahidin Sudirohusodo (1857-1917) merupakan pembangkit semangat
organisasi Budi Utomo. Sebagai lulusan sekolah dokter Jawa di Weltvreden (sesudah
tahun 1900 dinamakan STOVIA), ia merupakan salah satu tokoh intelektual yang
berusaha memperjuangkan nasib bangsanya. Pada tahun 1901 Dr. Wahidin
Sudirohusodo menjadi direktur majalah Retnodhoemilah (Ratna yang berkilauan)
yang diterbitkan dalam bahasa Jawa dan Melayu, yang dikhususkan untuk kalangan
priyayi. Hal ini mencerminkan perhatian seorang priyayi terhadap masalah-masalah
dan status golongan priyayi itu sendiri. Ia juga berusaha memperbaiki masyarakat
Jawa melalui pendidikan Barat (Ricklefs, 1991:248- 249).
Namun tidak semua golongan priyayi mendukung berdirinya Budi Utomo
tersebut. Hal ini disebabkan kaum priyayi birokrasi dari golongan ningrat atau
aristikrat mengadakan reaksi jika gerakan tersebut mengancam kedudukan kaum
aristokrasi yang menginginkan situasi status quo, yaitu keadaan yang dapat
menjamin kepentingan mereka (Sartono Kartodirdjo, 1993:102). Gerakan kaum
terpelajar tersebut akan membawa perubahan dalam struktur sosial sehingga kaum
intelektual akan mengurangi ruang lingkup kekuasaan elite birokrasi.
Program utama dari Budi Utomo adalah mengusahakan perbaikan pendidikan
dan pengajaran. Programnya lebih bersifat sosial disebabkan saat itu belum
dimungkinkan didirikannya organisasi politik karena adanya aturan yang ketat dari
pihak pemerintah Hindia Belanda. Disamping itu, pemerintah Hindia Belanda sedang
melaksanakan program edukasi dari politik ethis sehingga terdapat kesesuaian kedua
program (Kansil, 1986:22-23). Budi Utomo merupakan organisasi pelajar dengan

4
para pelajar STOVIA sebagai intinya dengan gerakan awal jangkauannya hanya
terbatas pada Jawa dan Madura. Jangkauan wilayah yang terbatas ini, menjadikan
Budi Utomo dianggap sebagai organisasi yang bersifat kedaerahan, karena salah satu
programnya berbunyi “ de harmonische ontwikkeling van land en volk van Jawa en
Madura” (kemajuan yang harmonis bagi nusa Jawa dan Madura). Dengan demikian,
mencerminkan kesatuan administrasi kedua pulau tersebut yang mencakup juga
masyarakat Sunda yang kebudayaannya mempunyai kaitan dengan Jawa meski yang
dipakai sebagai bahasa resmi organisasi adalah bahasa Melayu (Ricklefs, 1991:24).
Pada tanggal 5 Oktober 1908, Budi Utomo mengadakan konggresnya yang
pertama di Yogyakarta. Konggres ini berhasil menetapkan tujuan organisasi yaitu ;
Kemajuan yang harmonis antara bangsa dan negara, terutama dalam memajukan
pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, tehnik , industri serta kebudayaan.
Sebagai ketua Pengurus Besar yang pertama terpilih R.T Tirtokusumo,bupati
Karanganyar sedangkan anggota-anggota Pengurus Besar pada umumnya pegawai
pemerintahan atau mantan pegawai pemerintahan dengan pusat organisasi berada di
Yogyakarta (Pringgodigdo, 1984:1). Pengurus hasil konggres ini merupakan dewan
pimpinan yang didominasi oleh para pejabat generasi tua yang mendukung
pendidikan yang semakin luas dikalangan priyayi dan mendorong pengusaha Jawa
(Ricklefs, 1991: 250).
Setelah cita-cita Budi Utomo mendapat dukungan semakin luas dikalangan
cendekiawan Jawa maka para pelajar tersebut memberi kesempatan kepada golongan
tua untuk memegang peranan yang lebih besar bagi gerakan ini. Ini dibuktikan
dengan terpilihnya golongan tua sebagai pengurus dalam konggres Budi Utomo I di
Yogyakarta. Ketua terpilih R.T Tirtokusumo, sebagai seorang bupati lebih
memperhatikan reaksi daro pemerintah kolonial Belanda dibanding reaksi dari warga
pribumi (Nugroho Notosusanto, 1975:182).

2.2. Asas dan Tujuan Budi Utomo


Asas dan tujuan Budi Utomo adalah menyadarkan kedudukan Bangsa Jawa,
Sunda, dan Madura pada diri sendiri dan berusaha mempertinggi akan kemajuan
mata pencaharian serta penghidupan Bangsa disertai dengan jalan memperdalam
keseniaan dan kebudayaan (Wirjosuparto, 1958 : 102). Selain tujuannya yang lain
adalah menjamin kehidupan sebagai Bangsa yang terhormat dengan menitik beratkan
pada soal pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan atau secara samar-samar

5
menyebutkan kemajuan bagi Bangsa Hindia dimana jangkuan geraknya terbatas pada
Jawa dan Madura serta baru meluas untuk penduduk Hindia seluruhnya dengan tidak
memperhatikan perbedaan keturunan, kelamin, dan agama (Poeponegoro dan
Notosusanto, 1992 : 178). Jika dicermati dari pernyataan tersebut, maka secara
tersirat nampak pada Budi Utomo yakni kehormatan Bangsa. Bangsa yang terhormat
adalah Bangsa yang memiliki derajat yang sama dengan Bangsa lain. Karena Bangsa
Indonesia pada waktu itu tidak terhormat karena dijajah Belanda.
Teranglah sudah bahwa Budi Utomo telah mempunyai cita-cita tersembunyi
yang kemudian menjadi cita-cita kaum Nasional Indonesia. Maka tepatlah kalau
pemerintah mengakui secara resmi hari lahirnya Budi Utomo sebagai hari
kebangkitan nasional, karena Budi Utomo bercita-cita nasional dan pergerakannya
merupakan organisasi modern pada saat itu (Kansil dan Julianto, 1990 : 23).
Pada tahun 1928 Budi Utomo menambahkan suatu asas perjuangan yaitu
“ikut berusaha melaksanakan cita-cita Bangsa Indonesia”. Sungguh suatu langkah
maju, karena waktu itu gelora persatuan telah berkumandang di udara pergerakan
kita. Disitu nampak bahwa Budi Utomo sedang berusaha memperluas ruang
geraknya. Tidak hanya menuju kehidupan harmonis bagi Jawa dan Madura tetapi
lebih luas lagi yakni bagi persatuan Indonesia (Kansil dan Julianto, 1990 : 23).
Walaupun pada awalnya Budi Utomo tidak berperan sebagai organisasi politik,
namun dalam perjalanannya Budi Utomo terjun kepolitik. Hal ini terbukti pada tahun
1915 Budi Utomo ikut aktif dalam “Inlandsche Militie” dan waktu Volksraad
dibentuk. Budi Utomo juga tergabung dalam “Radicale Concentratic” yakni
persatuan aliran-aliran yang dicap kiri dalam Volksraad.

2.3. Reaksi Belanda terhadap berdirinya Organisasi Budi Utomo di Indonesia


Kehadiran Budi Utomo di Indonesia mengundang reaksi yang kurang enak
dari orang Belanda yang tidak senang dengan kehadiran “si Molek “ dan mengatakan
bahwa orang Jawa makin banyak “cincong”. (Prof.Dr.Suhartono : 2001 : 30)
Lain halnya menurut M.C.Ricklefs dalam bukunya Sejarah Indonesia Modern
yang menyebutkan bahwa Gubernur Jenderal van Heutsz yang menyambut baik Budi
Utomo, sebagai tanda keberhasilan politik ethis yang menghendakaki adanya suatu
organisasi pribumi yang progresif-moderat yang dikendalikan oleh para pejabat yang
maju. Namun pejabat –pejabat Belanda lainnya mencurigai Budi Utomo yang
dianggap sebagai gangguan yang potensial.

6
2.4 Perkembangan Organisasi Budi Utomo di Indonesia
Pancaran eksistensi Budi Utomo di Indonesia dibuktikan dengan diadakannya
konggresnya yang pertama di Yogyakarta pada tanggal 3-5 Oktober 1908. Dalam
waktu singkat Budi Utomo mengalami perubahan orientasi. Kalau semula
orientasinya terbatas pada kalangan priyayi maka menurut edaran yang dimuat dalam
Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 23 Juli 1908, Budi Utomo cabang Jakarta
menekankan cara baru bagaimana memperbaiki kehidupan rakyat.
Di dalam konggres tersebut menghasilkan beberapa keputusan,sebagai berikut :
1. Tidak mengadakan kegiatan politik
2. Bidang utama adalah pendidikan dan kebudayaan
3. Terbatas wilayah Jawa dan Madura
4. Mengangkat Raden Adipati Tirtokusumo (Bupati Karanganyar) sebagai ketua
Budi Utomo.
Semenjak dipimpin oleh Raden Adipati Tirtokoesoemo, banyak anggota baru
BU yang bergabung dari kalangan bangsawan dan pejabat kolonial, sehingga banyak
anggota muda yang memilih untuk menyingkir. Dibawah kepengurusan generasi tua,
kegiatan Budi Utomo yang awalnya terpusat di bidang pendidikan, sosial, dan
budaya, akhirnya mulai bergeser di bidang politik. Strategi perjuangan BU juga ikut
berubah dari yang awalnya sangat menonjolkan sifat protonasionalisme menjadi
lebih kooperatif dengan pemerintah kolonial belanda.
Perkembangan selanjutnya merupakan periode yang paling lamban bagi Budi
Utomo. Aktivitasnya hanya terbatas pada penerbitan majalah bulanan Goeroe Desa
dan beberapa petisi, yang di buatnya kepada pemerintah berhubung dengan usaha
meninggikan mutu sekolah menengah pertama. Tatkala kepemimpinan pengurus
pusat makin melemah, maka cabang-cabang BU melakukan aktivitas sendiri yang
tidak banyak hasilnya. Pemerintah yang mengawasi perkembangan BU sejak
berdirinya, dengan penuh perhatian dan harapan akhirnya menarik kesimpulan
bahwa pengaruh BU terhadap penduduk pribumi tidak begitu besar.
Pada tahun 1912 terjadi pergantian pemimpin dari Tirtokusumo ke tangan
Pangeran Noto Dirodjo yang berusaha dengan sepenuh tenaga mengejar ketinggalan.
Dengan ketua yang baru itu,perkembangan Budi Utomo tidak begitu pesat lagi.
Hasil-hasil yang pertama di capainya yaitu perbaikan pengajaran di daerah
kesultanan dan kasunanan. Budi utomo mendirikan organisasi darmoworo. Tetapi
hasilnya tidak begitu pesat. Dalam masa kepemimpinannya terdapat dua organisasi

7
nasional lainnya yaitu syarekat Islam dan Indische Partij. Kedua partai tersebut
merupakan unsur-unsur yang tidak puas terhadap Budi Utomo.
Kekuatan Budi Utomo kembali bangkit sejak mulai pecahnya Perang Dunia I
pada tahun 1914. Berdasarkan adanya kemungkinan intervemsi kekuasaan asing
maka Budi Utomo melancarkan isu pentingnya pertahanan sendiri dan yang pertama
mengajukam gagasan wajib militer pribumi. Diskusi yang terjadi berturut-turut
dalam pertemuan-pertemuan setempat justru menggeser perhatian rakyat dari soal
wajib militer kearah soal perwakilan rakyat, sehingga dikirimlah ebuah misi kenegri
Belanda oleh komite” Indie Weerbaar “ untuk pertahanan India dalam tahun 1916-
1917 yang merupakan pertanda masa yang amat berhasil bagi Budi Utomo.
Dwidjosewoyo sebagai wakil Budi Utomo dalam misi tersebut berhasil
mengadakan pendekatan dengan pemimpin-pemimpin Belanda terkemuka
keterangan menteri urusan jajahan tentang pembentukan Volksraad (Dewan Rakyat)
yang waktu itu dibicarakan didalam dewan perwakilan rakyat Belanda, dimana ia
menekankan badan itu akan dijadikan Dewan Perwakilan Rakyat yang nantinya akan
menggembirakan anggota misi Budi Utomo. Undang-undang wajib militer gagal
sebaliknya undang-undang pembentukan Volksraad disahkan pada bulan November
1914 .
Di dalam sidang Volksraad wakil-wakil Budi Utomo masih tetap berhati-hati
dalam melancarkan kritik terhadap kebijaksanaan politik pemerintah. Sebaliknua
para anggota pribumi yang lebih radikal dan juga anggota sosialis Belanda di dalam
Volksraad melaukan kritik terhadap pemerintah dengan memakai kesempatan adanya
krisis bulan November 1918 di negeri Belanda mereka menuntut perubahan bagi
Volksraad dan kebijakan politik negeri Belanda umumnya sampai akhirnya dibentuk
sebuah komisi pada tahun 1919.

2.5 Penyebab ketidakhadiran Organisasi Budi Utomo dalam Lapangan Politik


Indonesia
Mengapa Budi Utomo tidak langsung terjun ke lapangan politik seperti
organisasi yang kemudian lahir? Rupanya Budi Utomo menempuh cara dan
menyesuaikan dengan situasi dan kondisi pada waktu itu sehingga wajar jika Budi
Utomo berorientasi pada kultural. Tindakan yang tepat ini berarti Budi Utomo
tanggap terhadap politik kolonial yang sedang berlaku. Contohnya ialah bahwa
pemerintah sudah memasang rambu Regeerings Reglement (RR) pasal 111 yang

8
bertujuan membatasi hak untuk rapat dan berbicara, dengan perkataan lain adanya
pembatasan hak berpolitik.
Selama RR masih berlaku maka kegiatan Budi Utomo hanya terbatas pada
bidang sosio-kultural. Ini merupakan bukti bahwa Budi Utomo selalu menyesuaikan
diri dengan keadaan sehingga gerakan kultural lebih mewarnai kegiatan Budi Utomo
pada fase awal. Kebudayaan sendiri dijunjung tinggi guna menghargai harkat diri
agar mampu menghadapi kultur asing yang masuk. (Prof.Dr. Suhartono : 2001 : 32)

2.6 Berakhirnya Organisasi Budi Utomo di Indonesia


Runtuhnya organisasi budi Utumo yaitu pada tahun 1935, hal ini di sebabkan
karena adanya tekanan terhadap pergerakan nasional dari pemerintah kolonial
membuat Budi Utomo kehilangan wibawa, sehingga terjadi perpisahan kelompok
moderat dan radikal dalam pengaruh Budi Utomo makin berkurang. Pada tahun 1935
organisasi ini bergabung dengan organisasi lain menjadi Parindra (Suhartono, 2001 :
31). Sejak saat itu Budi Utomo terus mundur dari arena politik dan kembali
kekeadaan sebelumnya. Dalam bukunya Pringgodigdo, 1998:2-3, menyebutkan
bahwa keruntuhan Budi Utomo disebabkan karena adanya propaganda kemerdekaan
Indonesia yang dilakukan Indische Partji berdasarkan ke Bangsaan sebagai indier
yang terdiri dari Bangsa Indinesia, Belanda Peranakan, dan Tionghoa. Banyak orang
yang memandang Budi Utomo lembek oleh karena menuju “kemajuan yang selaras
buat tanah air dan Bangsa” serta terlalu sempit keanggotaannya (hanya untuk Bangsa
Indonesia dari Jawa, Madura, Bali, dan Lombok yaitu daerah yang berkebudayaan
Jawa semata-mata) meninggalkan Budi Utomo.
Berdirinya Muhamadyah merugikan Budi Utomo, karena Budi Utomo tidak
mencampuri agama. Jadi Budi Utomo kehilangan kedudukan monopolinya yang
menyebabkan timbulnya perkumpulan beraliran Indisch-Nasionalisme Radikal yang
beraliran demokratis dengan dasar agama dan yang beraliran keinginan mengadakan
pengajaran modern berdasarkan agama dan ke Bangsaan diluar politik. Beranjak
dipemerintahan kolonial menyebut Budi Utomo sebagai tanda keberhasilan politik
Etis dimana memang itu yang dikehendakinya: suatu organisasi pribumi progresif-
moderta serta dikendalikan oleh para pejabat. Pejabat-pejabat Belanda lainnya
mencurigai Budi Utomo atau menganggapnya sebagai gangguan potensial. Desember
1909 Budi Utomo dinyatakan sebagai organisasi sah. Adanya sambutan hangat dari

9
Batavia menyebabkan banyak orang Indonesia tidak puas dengan pemerintah yang
mencurigai itu (Ricklefs, 2005 : 250-251).

10
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Budi Utomo didirika pada tanggal 20 Mei 1908 oleh Sutomo dan kawan-
kawanya dari pelajar-pelajar Stovia. Dimana anggota-anggota Budi Utomo adalah
dari kalangan budaya priyayi. Asas dan tujuan budi utomo adalah menyadarkan
kedudukan Bangsa Jawa, Sunda, dan Madura pada diri sendiri dan berusaha
mempertinggi akan kemajuan mata pencaharian serta penghidupan bangsa disertai
dengan jalan memperdalam keseniaan dan kebudayaan. Selain itu tujuannya yang
lain adalah menjamin kehidupan sebagai bangsa yang terhormat dengan menitik
beratkan pada soal pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan.
Berakhirnya organisasi budi Utomo yaitu pada tahun 1935, hal ini di
sebabkan karena adanya tekanan terhadap pergerakan nasional dari pemerintah
kolonial membuat Budi Utomo kehilangan wibawa, sehingga terjadi perpisahan
kelompok moderat dan radikal dalam pengaruh Budi Utomo makin berkurang.
Dalam bukunya Pringgodigdo, 1998 :2-3, menyebutkan bahwa berakhirnya Budi
Utomo disebabkan karena adanya propaganda kemerdekaan Indonesia yang
dilakukan Indische Partji berdasarkan kebangsaan sebagai indier terdiri dari bangsa
Indonesia, Belanda Peranakan, dan Tionghoa. Berdirinya Muhamadiyah merugikan
Budi Utomo, karena Budi Utomo tidak mencampuri agama. Jadi Budi Utomo
kehilangan kedudukan monopolinya yang menyebabkan timbulnya perkumpulan
beraliran Indisch-Nasionalisme Radikal yang beraliran demokratis dengan dasar
agama dan yang beraliran keinginan mengadakan pengajaran modern berdasarkan
agama dan kebangsaan diluar politik.

3.2 Saran
Organisasi pergerakan nasional seperti Budi Utomo sangat diharapkan
menjadi suatu motivasi bagi para generasi muda dalam mempertahankan
kemerdekaan yang nantinya dapat menuju kehidupan berbangsa dan bernegara yang
lebih baik kedepannya.

11
DAFTAR PUSTAKA

Akira, Nagazumi.1989. Bangkitnya Nassionalisme Indonesia, Budi Utomo 1908-


1918. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti.
Nugroho Notosusanto, 1975. Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta: Balai Pustaka
Poesponegoro dan Notosusanto, 1992. Sejarah Indonesia V. Jakarta : Dian Rakyat.
Priggodigdo, 1980. Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia. Jakarta : Dian Rakyat.
Kansil,C.S.T. dan Julianto.1988. Sejarah Perjuangan Pergerakan Kebangsaan
Indonesia. Jakarta: Erlangga.
M.C Ricklefs.1991. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada Press.
Suhartono. 2001. Sejarah Pergerakan Nasional. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Wirjosuparto Sujipto. 1958. Dari Lima Zaman Penjajhan Menuju Zaman Kemerdekaan.
Jakarta : Indira.

12