Você está na página 1de 15

ALAT-ALAT PENELITIAN

MAKALAH

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH


Metodologi Penelitian Pendidikan
Yang dibimbing oleh Prof. Hj. Mimien Henie Irawati Al‐Muhdar, M.S

Oleh:
Kelompok 2
Offering A / S1 Pendidikan Biologi

Fatimatuzzahro’ Intan Pertiwi 160341606097


Mamik Rizkiatul L 160341606051
Novela Memiasih 160341606093

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
JANUARI 2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Secara
teoritis, hakikat pendidikan merupakan belajar yang berlangsung sepanjang
hayat (life long learning). Oleh karena itu, pendidikan harus dilakukan sejak
usia dini melalui program pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai lanjut
usia (lansia).

Ilmu pengetahuan yang merupakan inti dari pendidikan itu sendiri terus
berkembng seiring dengan berjalannya waktu. Perkembangan ilmu
pengetahuan ini tidak lepas dari adanya kegiatan penelitian guna mencari
penemuan – penemuan baru. Dalam setiap penelitian, pasti terdapat alat-alat,
variabel, tujuan dan hasil. Tujuan penelitian merupakan rumusan kalimat
yang menunjukkan adanya hasil, sesuatu yang diperolah setelah penelitian
penelitian selesai, sesuatu yang akan dicapai/dituju dalam sebuah penelitian.

Oleh karena itu, kami menyusun makalah dengan judul ‘Alat-Alat


Penelitian’ untuk mempelajari proses dan kelengkapan untuk melakukan
penelitian. Baik bagi guru, siswa, dan lembaga dalam sebuah pembelajaran.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan beberapa masalah yang akan
dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Apakah yang dimaksud dengan alat-alat penelitian ?
2. Apa sajakah yang termasuk sebagai alat-alat penelitian ?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan yang ingin dicapai dari
penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui definisi dari alat-alat penelitian
2. Untuk mengetahui macam-macam alat penelitian
BAB II

ISI

2.1 Macam-Macam Alat Penelitian


2.2.1 Perpustakaan Sebagai Alat Penelitian
Perpustakaan merupakan sebuah tempat yang tidak hanya menampung
buku saja, namun merupakan sebuah tempat yang menampung semua informasi.
Pada jaman sekarang informasi merupakan sebuah kebutuhan primer, sehingga
dengan bertambahnya informasi orang tersebut dapat menambah wawasan dan
ilmu pengetahuannya. Seiring dengan perkembangan jaman masyarakat selalu
ingin memperbaharui informasi yang mereka punya agar mereka dapat
mengetahui hal apa saja yang sedang terjadi pada saat ini. Dalam hal ini
perpustakaan memiliki peran besar sebagai sarana untuk memperoleh informasi
(Sani, 2013).
Fungsi perpustakaan sebagai pusat informasi yang mengumpulkan dan
menyebarkan berbagai jenis karya baik dalam yang dikategorikan ilmiah maupun
yang tidak (Hazrati, 2017). Perpustakaan memiliki peranan strategis dalam
mencerdaskan kehidupan anak bangsa, baik di negara maju maupun negara
berkembang. Perpustakaan merupakan pusat sumber informasi, ilmu pengetahuan,
teknologi, kesenian, dan kebudayaan. Perpustakaan bisa berfungsi sebagai wahana
pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan
kecerdasan dan keberdayaan bangsa (Junaeti & Arwani, 2016).
Zaman dahulu, jika ingin mencari buku atau sumber di perpustakaan,
harus melalui katalog dan mencari buku secara manual di rak-rak buku yang
sangat banyak sehingga perpustakan lama atau tradisional banyak menghabiskan
waktu dan tidak efisien dalam memperoleh sumber. Namun, perpustakaan modern
zaman sekarang lebih simpel dan mudah karena database dalam komputer dapat
langsung menemukan artikel atau buku yang dicari melalui komputer yang akan
langsung menunjukkan nomor rak beserta judulnya (Leedy & Ormrod, 2005).
Dokumen dan literatur di dalam perpustakaan terus bertambah setiap
waktu seiring berkembangnya zaman dan semakin lengkap. Perkembangan
perpustakaan semakin hari semakin canggih karena banyak informasi yang
ditemukan di perpustakaan mulai dari puluhan tahun yang lalu sampai penelitian
yang terbaru. Selain itu, metode dan model perpustakaan juga semakin bagus
dimana perpustakaan yang sekarang dilengkapi dengan adanya akses internet dan
online database (Leedy & Ormrod, 2005).
Perkembangan teknologi informasi yang terjadi sepuluh tahun terakhir
sangatlah pesat, fenomena ini melebihi satu abad sebelumnya. Saat ini
bermunculan software-software perpustakaan baik yang berbayar maupun gratis.
Software-software ini sangat membantu dalam penerapan otomasi perpustakaan.
Otomasi Perpustakaan adalah sebuah sebuah proses pengelolaan perpustakaan
dengan menggunakan bantuan teknologi informasi (TI) (Junaeti & Arwani, 2016).
Menurut Lewis dalam Hazrati (2017) perpustakaan dapat berperan dalam
penelitian dengan melalui melalui beberapa cara berikut ini:
a. Digitalisasi koleksi khusus, saat ini beberapa perpustakaan sudah melakukan
digitalisasi koleksinya dan hasilnya dapat diakses dengan mudah.
b. Membangun tempat penyimpanan (repositories) yang menyediakan akses dan
mengarsip data serta dokumen digital yang dihasilkan dari karya-karya hasil
penelitan dan untuk kepentingan peneliti.
c. Menyedikan infrastruktur untuk publikasi dengan akses terbuka (open
access), khususnya akses ke jurnal ilmiah.
2.2.2 Komputer Sebagai Alat Penelitian
Komputer yang merupakan suatu sistem yang terdiri atas perangkat
software dan hardware mengalami pertumbuahan yang pesat, bahkan komputer
disebut-sebut sebagai tonggak awal rovulusi teknologi digital. Kemajuan
teknologi komputer membuat aktivitas menjadi serba cepat serta kehidupan dunia
seperti tanpa batas melalui komputer jaringan (internet) yang tersebar di seluruh
penjuru dunia. Berbagai jenis informasi dapat diakses dengan cepat, akurat dan
murah. Komputer dapat melakukan banyak hal yang bisa menjadi alat untuk
mengakses segala macam informasi dan data mengenai sumber penelitian
(Hardianto, 2012).
Internet merupakan jaringan informasi terluas saat ini. Internet adalah
jaringan komputer yang saling terhubung ke seluruh dunia tanpa mengenal batas
teritorial, hukum dan budaya. Internet adalah jaringan informasi komputer
mancanegara yang berkembang sangat pesat dan pada saat ini dapat dikatakan
sebagai jaringan informasi terbesar di dunia, sehingga sudah seharusnya para
profesional mengenal manfaat apa yang dapat diperoleh melalui jaringan ini.
Internet memberikan kesempatan untuk mendapatkan informasi secara cepat dan
tidak terbatas. Perkembangan teknologi internet akan berdampak pada semua
bidang termasuk untuk penelitian (Sukojo, 2013). Menurut Leedy & Ormrod
(2005) menggunakan komputer sebagai alat penelitian menurut adalah dengan
beberapa langkah yaitu:
a. Merencanakan topik penelitian
b. Mengkaji literatur.
c. Studi implementasi dan pengumpulan data.
d. Analisis dan interpretasi.
e. Pelaporan.
2.2.3 Teknik Pengukuran Sebagai Alat Penelitian
Pengukuran adalah membatasi data dari setiap fenomena substansial atau tidak
substansial sehingga data tersebut dapat dibandingkan dengan kualitatif atau
kuantitatif yang dapat diterima. Menurut Leedy (2005) Pengukuran adalah
membatasi data dari berbagai fenomena—substansial maupun tidak substansial—
sehingga data tersebut dapat ditafsirkan, dan pada akhirnya dibandingkan untuk
mendapatkan standar kualitatif dan kuantitatif yang di setujui.
1. Skala Pengukuran
a. Skala Nominal
Skala nominal adalah pengelompokkan atau pengkategorisasian
fenomena atau kejadian ke dalam kelas-kelas atau kategori, sehingga
yang masuk dalam satu kelas atau kategori adalah sama dalam hal
atribut atau sifat (Djali, 2007). Dengan skala ini kita dapat menemukan
presentase dari orang-orang dalam beragam subkelompok didalam
sebuah kelompok total. Sebagai contoh kita dapat menghitung
presentase jumlah anak laki-laki dan perempuan dalam sebuah kelas.
Kita dapat menggunakan tes chi-square untuk membandingkan
frekuensi relatif dari orang-orang pada kategori yang beragam.
Menurut Suharsaputra (2012) Skala nominal adalah skala yang
hanya mendasarkan pada pengelompokkan atau pengkategorian
peristiwa atau fakta dan apabila menggunakan notasi angka hal itu
sama sekali tidak menunjukkan perbedaan kuantitatif tetapi hanya
menunjukkan perbedaan kualitatif. Adapun ciri-ciri dari skala nominal
adalah:

a) Kategori data bersifat mutually exclusive (saling memisah).


b) Kategori data tidak mempunyai aturan yang logis (bisa sembarang).
Hasil perhitungan dan tidak ditemui bilangan pecahan. Angka yang
tertera hanya lebel semata. Tidak mempunyai ukuran baru dan tidak
mempunyai nol mutlak.

b. Skala Ordinal
Menurut Suharsaputra (2012) skala ordinal adalah pengukuran
yang mana skala yang digunakan disusun secara runtut dari yang
rendah sampai yang tinggi. Skala ordinal adalah skala yang diurutkan
dari jenjang yang lebih tinggi sampai skala yang terendah atau
sebaliknya. Adapun ciri-ciri dari skala ordinal antara lain : kategori
data saling memisah, kategori data memiliki aturan yang logis,
kategori data ditentukan skala berdasarkan jumlah karakteristik khusus
yang dimilikinya.
Pada jenis skala pengukuran ini, angka yang diberikan
mengandung pengertian tingkatan. Skala ini tidak memberikan nilai
yang absolut terhadap objek, tetapi hanya memberikan urutan
(ranking) saja (Nazir, 2005). Oleh sebab itu, data ordinal disebut juga
sebagai data berurutan, data berjenjang, data berpangkat, data tata
jenjang, data ranks, dan data petala, data bertangga atau data
bertingkat.
c. Skala Interval
Skala interval adalah skala yang menunjukkan jarak satu data
dengan data yang lain dengan bobot nilai yang sama, menurut
Suharsaputra (2012) skala interval adalah skala pengukuran yang mana
jarak satu tingkat dengan yang lain sama. Pada skala interval,
pembedaan peristiwa dapat diurutkan. Antara peringkat satu dengan
yang lain memiliki arti. Dengan kata lain, dapat dibuat dalam peringkat
data dapat pula dikuantitatifkan. Salah satu jenis pengukuran dimana
angka-angka yang dikenakan memungkinkan kita untuk
membandingkan ukuran dari selisih antara angka-angka. Selisih antara
1 dan 2 setara dengan selisih antara 2 dan 3, selisih antara 2 dan 4 dua
kali lebih besar dari selisih antara 1 dan 2, dan begitu seterusnya.
Contoh lainnya adalah massa, misalnya ada laki-laki A memiliki berat
badan 50 kg dan laki lagi B 100 kg. Maka dapat dikatakan berat badan
dari laki-laki B 2 kali berat laki-laki A.
d. Skala Rasio
Menurut Suharsaputra (2012), skala rasio adalah skala yang
benar-benar memiliki nilai nol mutlak. Dengan demikian sekala rasio
menunjukkan jenis pengukuran yang sangat jelas dan akurat.
Karakteristik dari skala pengukuran rasio adalah adanya unit
pengukuran yang sama dan adanya nilai 0 yang mutlak, nilai 0 mutlak
tersebut merupakan skala yang merefleksikan ketidak hadiran total dari
suatu karakteristik yang diukur. Salah satu jenis pengukuran yang
memiliki nol alamiah atau nol absolute, sehingga memungkinkan kita
membandingkan magnitude angka-angka absolute.
2. Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kesahihan
suatu tes. Suatu tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang
hendak diukur. Tes memiliki validitas yang tinggi jika hasilnya sesuai
dengan kriteria, dalam arti memiliki kesejajaran antara tes dan kriteria
(Arikunto, 1999: 65). Menurut Azwar (2000) Validitas adalah sejauh
mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan
fungsinya. Validitas instrumen pengukuran adalah sejauh mana instrumen
mengukur ukuran yang diharapkannya. Tentu tidak ada yang akan
mempertanyakan gagasan bahwa tolok ukur adalah alat yang valid untuk
mengukur panjang. Contoh penerapan validitas adalah untuk menguji
validitas setiap butir soal maka skor-skor yang ada pada butir yang
dimaksud dikorelasikan dengan skor totalnya. Skor tiap butir soal
dinyatakan skor X dan skor total dinyatakan sebagai skor Y, dengan
diperolehnya indeks validitas setiap butir soal, dapat diketahui butir-butir
soal manakah yang memenuhi syarat dilihat dari indeks validitasnya
(Arikunto, 1999: 78). Juga kebanyakan orang tidak akan ragu bahwa
termometer mengukur suhu; Misalnya, dalam termometer merkuri, tingkat
kemacetan merkuri adalah dungsi berapa banyak yang meluas, yang
merupakan fungsi dari tingkat dimana ia panas atau dingin.
Penggunaannya yang pratical sebagai alat ukur untuk tujuan penelitian.
3. Realibilitas
Istilah reliabitas atau keandalan adalah konsep yang digunakan untuk
pengujian atau mengevaluasi penelitian kuantitatif, dan konsep ini paling
sering digunakan dalam semua jenis penelitian. Jika kita melihat ide
pengujian atau evaluasi sebagai cara mendapatkan informasi elisitasi maka
yang paling penting dari setiap studi kualitatif adalah mengevaluasi
kualitasnya. Sebuah studi kualitatif yang baik dapat membantu kita
"memahami situasi yang membingungkan" (Eisner, 1991). Menurut
Sumadi Suryabrata (2004), reliabilitas menunjukkan sejauhmana hasil
pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya. Hasil pengukuran harus
reliable dalam arti memiliki tingkat konsistensi dan kemantapan.
Reliabilitas alat ukur adalah ketetapan atau keajegan alat tersebut dalam
mengukur apa yang diukurnya. Artinya, kapan pun alat ukur tersebut
digunakan akan memberikan hasil ukur yang sama. Contoh paling nyata
adalah timbangan atau meteran.
2.2.4 Statistik Sebagai Alat Penelitian
Statistik merupakan metode ilmiah yang terdiri dari proses pengumpulan
data, mengorganisasi data tersebut sehingga lebih berarti. Statistik memiliki fungsi
pokok yaitu membantu peneliti dalam mendeskripsikan data dan menarik
kesimpulan dari data. Statistik dapat memadatkan data yang berlimpahan menjadi
sejumlah informasi yang dapat lebih mudah dipahami akal peneliti. Dalam
rosesnya, statistic dapat membantu peneliti “melihat” pola dan hubungan pada
data yang mungkin dilain pihak tidak di perhatikan. Lebih umumnya, statistic
membantu akal manusia memahami data yang berbeda sebagai kesatuan yang
teratur.
Peran statistik dalam penelitian menurut Sugiyono (2006) adalah sebagai
berikut:
1. Penentuan sampel. Statistik diperlukan untuk menghitung berapa jumlah
sampel yang diperlukan agar merepresentasikan populasi.
2. Mengumpulkan data. Dalam pengumpulan data diperlukan suatu instrumen
yang valid dan reliabel. Statistik berperan dalam menguji apalah instrumen
yang digunakan sudah valid dan reliabel.
3. Menyajikan data. Dalam menyajikan data yang begitu banyak, diperlukan
suatu teknik agar data tersebut lebih interaktif dan mudah dipahami oleh
orang awam, misalnya dengan dibuat tabel atau diagram.
4. Analisis data. Tentu saja kegunaan utama statistik adalah untuk analisis data
dalam menguji hipotesis. Dalam hal ini ada beberapa teknik yang digunakan,
seperti regresi, anova, dll.

Statistik biasanya lebih berguna dalam beberapa disiplin akademik dari


pada di tempat lain misalnya, para periset menggunakannya dengan cukup sering
di bidang psikologi, sosiologi, dan pendidikan. Mereka yang menggunakannya
lebih jarang di bidang seperti sejarah, musikologi, dan sastra. Tapi setiap kali kita
menggunakan statistik, kita harus ingat bahwa nilai statistik yang kita dapatkan
bukan jawaban akhir untuk masalah penelitian. Bagi banyak peneliti awal,
statistik memiliki daya tarik serupa. Dengan menundukkan data pada rutinitas
statistik yang elegan, dapat menarik perhatian peneliti dari pemikiran mereka
bahwa mereka telah membuat penemuan yang substansial, padahal sebenarnya
mereka hanya menghitung beberapa angka yang membantu mereka menafsirkan
data.

2.2.5 Pemikiran Sebagai Alat Penelitian


Perhitungan statistik dapat menjelaskan kondisi data yang kita kelolah,
seperti bagaimana validitasnya, dan bagaimana hubungan antara variabel yang ada
dalam suatu penelitian. Namun, statistik tidak dapat meninterpretasikan data-data
tersebut hingga mencapai kesimpulan logis seperti yang dimaksudkan oleh data
tersebut. Hanya pemikiran penelitinya sajalah yang mampu melakukan hal
tersebut.
Pemikiran manusia tidak diragukan lagi sebagai alat utama yang
digunakan dalam melakukan suatu penelitian. Pemikirian manusia mampu
mengembangkan sejumlah strategi untuk membantu mereka dalam mengetahui
segala sesuatu yang belum mereka ketahui. Kunci perkembangan pemikiran
tersebut diantaranya logika deduktif, alasan induktif, metode penelitian, berfikir
kritis dan kolaborasi (Leedy, 2005).
1. Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif bermula dari suatu asumsi. Penalaran deduktif terjadi
ketika seorang peneliti bekerja dari informasi yang lebih umum menuju yang lebih
spesifik. Terkadang hal ini disebut pendekatan "top-down" karena peneliti
memulai di bagian atas dengan cakupan informasi yang sangat luas dan mereka
bekerja dengan cara mengacu pada kesimpulan tertentu. Misalnya, seorang
peneliti mungkin memulai dengan teori tentang topik yang diminati. Dari sana, ia
akan mempersempit yang turun menjadi hipotesis yang lebih spesifik yang dapat
diuji. Logika deduktif sangat diperlukan untuk merumuskan suatu hipotesis
penelitian dan juga menguji keabsahan suatu teori (Leedy, 2005).
2. Penalaran Induktif
Berbeda dengan penalaran deduktif, penalaran induktif tidak bermula dari
suatu asumsi melainkan berawal dari suatu kejadian atau observasi (Leedy, 2005).
Penalaran induktif berlawanan dengan penalaran induktif, karena pada penalaran
induktif berlangsung dari pengamatan khusus untuk generalisasi yang lebih luas
dan teori (Ashley, Tanpa tahun).
3. Metode Saintifik
Metode saintifik terlahir karena adanya penemuan dari peneliti yang
mempelajari suatu data yang sebelumnya tidak diketahui menjadi memiliki arti.
Metode saintifik merupakan metode yang mencari sebuah pengetahuan. Metode
ini dimulai sekitar pada abad pertengahan yaitu abad 16 oleh beberapa orang
diantaranya Paracelcus, Copernicus, Vesalius, Galileo. Terdapat beberapa tahapan
metode saintifik yaitu: 1) identifikasi masalah, 2) menentukan hipotesis, 3)
mengumpulkan data, 4) analisis. Untuk membuat sebuah hipotesis diperlukan
adanya teknik yang bisa berupa deduktif yaitu berdasarkan teori maupun induktif
yang berdasarkan observasi langsung pada sampel.
4. Berpikir Kritis
Berpikir kritis merupakan kebutuhan bagi seorang peneliti dalam
menyelesaikan permasalahannya. Berkipir kritis bisa memiliki berbagai bentuk
yang menurut konteks yang bisa saja merupakan beberapa hal dibawah ini
(diadaptasi dari Halpern, 1998):
 Alasan verbal: memahami dan mengevaluasi teknik persuasif yang ditemukan
dalam bahasa ucapan maupun tertulis
 Analisis argumen: memilah dari alasan yang mendukung dan tidak pada
kesimpulan
 Membuat keputusan: identifikasi dan menetapkan beberapa alternatif dan
memilih alternatif terbaik
 Analisis kritis dari penelitian penting: mengevaluasi nilai dari data dan hasil
penelitian dalam metode yang digunakan untuk mendapatkan kesimpilan
kusus.
5. Kolaborasi Dengan Orang Lain

Pada dasarnya sejak dahulu kala memiliki dua kepala lebih baik dari pada
satu kepala. Hal tersebut merupakan pengistilahan untuk pasangan dalam
melakukan suatu hal yang memiliki dampak positif. Dalam penelitian memiliki
banyak anggota bisa membuka banyak pandangan, asumsi dan pemikiran yang
bisa mmebantu dalam penelitian tersebut. Dengan demikian akan diperoleh suatu
pemecahan masalah yang lebih baik dari pada diselesaikan sendiri. Begitulah
bahwa untuk peneliti semua proses tersebut baik dari logika deduktif, alasan
induktif, metode saintifik, berpikir kritis, dan kolaborasi membantu peneliti dalam
mengambil keuntungan dari pikiran manusia sebagai alat penelitian.

2.2.6 Bahasa Sebagai Alat Penelitian


Bahasa memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan manusia, tidak
hanya memungkinkan kita untuk berkomunikasi, tetapi bahasa juga
memungkinkan kita untuk berfikir lebih efektif. Seseorang akan bisa berfikir
dengan jelas dan efektif tentang sebuah topik ketika yang difikiran mereka dapat
diungkapkan dengan kata-kata tertentu. Konsep yang diwakili dengan kata-kata
akan mempermudah beberapa hal seperti bahasa dapat mengurangi kompleksitas
dunia, seperti mengklasifikasikan benda dan peristiwa serupa ke dalam istilah
kata-kata tertentu membuat pengalaman kita lebih mudah dipahami (Leedy &
Ormrod, 2005).
Semua penelitian, yang secara umum dapat diakses oleh komunitas ilmiah
yang lebih besar bagi masyarakat secara keseluruhan, akhirnya dipresentasikan
sebagai dokumen tertulis. Untuk menghasilkan dokumen semacam itu, peneliti
harus memiliki kemampuan untuk menggunakan bahasa dengan tingkat
keterampilan dan ketepatan yang dengan jelas akan menggambarkan semua aspek
proses penelitian. Dokumen tertulis sering disebut sebagai laporan penelitian.
Persyaratan dasar untuk menulis laporan semacam itu adalah kemampuan untuk
menggunakan bahasa secara jelas dan koheren (Leedy & Ormrod, 2005). Fungsi
bahasa ada beberapa macam, di antaranya adalah sebagai alat komunikasi. Peneliti
berupaya mengomunikasikan hasil penelitiannya kepada pembaca (Jamilah,
2017).
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Alat penelitian adalah alat atau tempat yang luas untuk mencari banyak
sumber yang bisa diinterpretasikan pada proses penelitian.
2. Alat penelitian terdiri atas perpustakaan dan sumbernya, komputer dan
perangkat lunaknya, teknik pengukuran, statistika, pemikiran manusia dan
bahasa.

3.2 Saran
Saran dari makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Saran untuk penyusun makalah agar mencari rujukan yang lebih banyak agar
dapat mengulas lebih dalam dan memberikan lebih banyak informasi kepada
pembaca serta tetap memperhatikan tata acar penulisan yang telah diatur
dalam PPKI terbaru.
2. Saran untuk penulis lain yang akan menulis materi dengan topik yang sama
yaitu untuk membaca banyak sumber yang terpercaya agar dapat memahami
lebih banyak sub-sub materi.
3. Saran untuk pembaca agar membaca makalah ini dari awal hingga akhir dan
juga membaca rujukan lain dengan topik yang sama agar dapat menambah
pemahaman.
DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi. 1999. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Rineka


Cipta. Jakarta.
Azwar, S. 2000. Sikap Manusia, Teori dan Pengukuranya. Jogjakarta: Pustaka.
Pelajar Jogja Offset.
Djaali. 2007. Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: Grasindo.
Eisner, E. W. (1991). The enlightened eye: Qualitative inquiry and the
enhancement of educational practice. New York, NY: Macmillan.
Hardianto, Deni. 2012. Pemanfaatan Software Komputer Untuk Meningkatkan
Kecerdasan Emosi (EQ) Anak. Yogyakarta: Universitas Negeri
Yogyakarta.

Hazrati, Khairina. 2017. Peran perpustakaan sebagai media komunikasi ilmiah.


Jurnal Iqra’. Vol. 11. No. 1.

Jamilah. 2017. Penggunaan Bahasa Baku Dalam Karya Ilmiah Mahasiswa. Jurnal
Tarbiyah (Jurnal Ilmiah Kependidikan). Vol. 6. No. 2. e-ISSN: 2548-
8376.

Junaeti., Arwani, A. 2016. Peranan Perpustakaan Dalam Meningkatkan Kualitas


Perguruan Tinggi (Konstruksi Pelayanan, Strategi, dan Citra
Perpustakaan). Jurnal Libraria. Vol. 4. No.1. Pekalongan: STAIN
Pekalongan.

Leedy, P. D. And Ormrod, J.E. 2005. Practical Research. Planning and Design.
Eighth Edition. Upper Saddle River, New Jersey: Pearson, Merril Prentice
Hall.

Nazir, Mohamad. 2005. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.


Sani, Ekky. 2013. Pemanfaatan Buletin Pustakawan Oleh Pustakawan Di Kota
Semarang. Jurnal Ilmu Perpustakaan. Vol. 2. No. 3. Semarang:
Universitas Diponegoro.

Suharsaputra, Uhar. 2012. Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif dan


Tindakan. Bandung: PT. Refika Aditama

Sukojo. 2013. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai Media


Pembelajaran di SMP Negeri 1 Geger Madiun. Jurnal Kebijakan dan
Pengembangan Pendidikan. Vol. 1. No. 1. ISSN: 2337-7623

Suryabrata, Sumadi. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Rajagrafindo


Persada