Você está na página 1de 12

MAKALAH

“MEMBUMIKAN ISLAM DI INDONESIA MELALUI


AKULTURASI BUDAYA”
Dosen Pemnbimbing :
Agung Ari Subagio

DISUSU OLEH :

1. UMMI KHOIRIYAH (18060484008)


2. RICKY HIDAYAT S (18060484032)
3. RADITYA MAHARDIKA DWIFANI (18060484027)

JURUSAN PENDIDIKAN KESEHATAN DAN REKREASI


PROGRAM STUDI S1- ILMU KEOLAHRAGAAN
FAKULTAS ILMU OLAHRAGA
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2018
KATA PENGANTAR

Sebelumnya kami mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kami , sehingga saya dapat

menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

Ucapan terima kasih dan puji syukur kami sampaikan kepada Allah dan

semua pihak yang telah membantu kelancaran, memberikan masukan serta ide-

ide untuk menyusun makalah ini.

Semoga makalah ini dapat memenuhi kewajiban saya Saya menyadari bahwa

makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu Saya mengharapkan kritik dan

saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

10 Oktoberr 2018

Penyusun,
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................................... i
KATA PENGANTAR......................................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.......................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah..................................................................................................... 2
C. Tujuan & Masalah................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN..
A. PENGERTIAN KEBUDAYAAN ISLAM..................................................... 2
B. DASAR – DASAR KEBUDAYAAN ISLAM........................................... 2
C. PERAN DAN FUNGSI BUDAYA DALAM ISLAM............................... 2
D. WUJUD AKULTURASI KEBUDAYAAN INDONESIA DAN KEBUDAYAA
ISLAM,............................................................................................................3
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan..............................................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................... 9
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam Islam, agama merupakan sesuatu yang diwahyukan oleh Allah dan
menjadi petunjuk bagi manusia untuk menjalani lehidupan. Agama merupakan
sumber nilai yang harus menjadi rujukan bagi segala tindakan manusia sehingga
setiap tindakan manusia merupakan bagian dari pengabdiannya (ibadah) kepada
Allah. Sementara itu, dalam filsafat positivisme Barat, agama tidak lebih dari
hasil ciptaan manusia dan sekedar menjadi bagian dari kebudayaan secara
umum.
Kenyataan di berbagai negara yang meyoritas berpenduduk muslim
menunjukan bahwa Islam mengungkapkan dirinya secara sangat beragam sesuai
dengan karakteristik masyarakat dan kebudayaan masing-masing. Meskipun
secara teoritik, perbedaan antara agama dan budaya bisa tampak jelas, dalam
realitas kehidupan masyarakat di negara-negara tersebut, agama dan budaya
saling mempengaruhi dan saling mengisi sedemikian rupa sehingga keduanya
seringkali sulit dibedakan.
Banyak orang mempertentangkan agama dan budaya, bahkan ada juga
yang menyamakan agama dan budaya. Islam mengajarkan
keselarasan/keharmonisan hubungan dengan Allah (hablum minAllah) dan
hubungan dengan manusia (hablum minalnas). Segala hal yang berhubungan
dengan Allah adalah agama. Dan segala hal yang berhubungan antara manusia
dengan manusia dan manusia dengan lingkungannya adalah budaya. Budaya
adalah laku manusia yang merupakan bagian kecil dari laku agama, atau
sebaliknya agama dijalankan oleh manusia salah satunya dengan budaya.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu Kebudayaan Islam, Dasar-dasar Kebudayaan Islam, serta Peran dan
Fungsi Budaya dalam Islam?
2. Bagaimana Wujud Ajaran Agama Islam dengan Budaya di Indonesia?

C. TUJUAN DAN MANFAAT


1. Menjelaskan konsep dan budaya Islam, dasar-dasarnya, peran fungsinya.
2. Memahami perwujudan pembumian Islam di Indonesia melalui akulturasi ajaran
Islam dan budaya.
3. Mengetahui dan memahami tentang proses akulturasi dan perkembangan budaya
Islam di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN KEBUDAYAAN ISLAM


Budaya adalah hasil olah akal, buda,cipta rasa, karsa dan karya manusia.
Kebudayaan adalah merupakan hasil suatu totalitas kegiatan manusia yang
meliputi kegiatan akal,hati dan tubuh yang menyatu dalam suatu perbuatan.
Wujud kebudayaan nampak pada adat istiadat, bahasa, peralatan
hidup(teknologi), organisasi sosial-politik, religi dan seni. Budaya tidak
mungkin terlepas dari nilai-nilai kemanusian, namun bisa jadi lepas dari nilai-
nilai kebutuhan. Apa yang dimaksud Kebudayaan Islam adalah semua hasil akal,
budi, cipta rasa, dan karya manusia yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam dan
tidak bertentangan dengannya. Aturan – aturan Allah dan rasulNya menjadi
inspirator sekaligus sebagai penuntun dan pengarah lahirnya kebudayaan Islam.

B. DASAR – DASAR KEBUDAYAAN ISLAM


Pada awal tugas kerasulannya, Nabi Muhammad SAW meletakkan dasar-dasar
kebudayaan Islam yang kemudian berkembang menjadi sebuah peradaban Islam.
Dasar-dasar kebudayaan Islam yang juga merupakan inti pokok ajaran Islam
adalah tauhid(akidah), syariat(hukum islam) dan maslahat (akhlak).
Tauhid menjadikan kebudayaan unsur ketuhanan (theosentris), menjadikan al-
Qur’an dan hadist sebagai sumber inspirasi dan idealisme berkebudayaan punya
kendali, punya mata untuk dapat memilah antara kesesatan dan kebenaran.
Sedangkan akhlak atau maslahat menjadikan kebudayaan bermartabat dan
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan (anthroposentris). Dengan demikian
kebudayaan Islam bukanlah kebudayaan sekuler yang bebas dari nilai dan norma
agama. Kebudayaan Islam adalah Kebudayaan yang mempunyai unsur dan
menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus (theo-
anthroposentris).

C. PERAN DAN FUNGSI BUDAYA DALAM ISLAM


Bagi mazhab positivis, agama sebagiamana juga seni dan sains, adalah bagian
dari puncak eksperesi kebudayaan sehingga keduanya sering dikategorikan
sebagai peradaban(civilization), bukan sekedar culture. Namun bagi islam
kebudayaan adalah perpanjangan dari perilaku agama. Agama bagaikan ruh yang
datang dari langit, sedangkan budaya adaah jasad bumi yng siap menerima ruh
agama sehingga pertemuan antara keduanya melahirkan peradaban. Ruh tidasak
bisa beraktifitas dalam pelataran sejarah tanpa jasad, sedangkan jasad akan mati
dan tidak sanggup terbang menggapai langit-langit makna ilahi tanpa ruh agama.
Sejarah adalah lokus bagi kehadiran asma-asma Tuhan untuk mengekspresikan
diriNya dalam wajah budaya. Tidak ada peristiwa sejarah dan budaya tanpa
kehadiran dan keterlibatan Tuhan didalamnya. Budaya adalah tempat Tuhan
untuk berinkarnasi melalui asma, kehendak dan ilmuNya untuk menguatkan
diriNya, dan manusia adalah agen Tuhan yang menghubungkan antara kehendak
Khalik dilangit dengan realitas makhluk , akhlak manusia selalu
mengorientasikan diri pada kualitas ilahi disatu sisi dan berbuat baik pada
sesama makhluk hidup.

D. WUJUD AKULTURASI KEBUDAYAAN INDONESIA DAN KEBUDAYAA


ISLAM
Sebelum Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corak
kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha seperti yang pernah
Anda pelajari pada modul sebelumnya. Dengan masuknya Islam, Indonesia
kembali mengalami proses akulturasi (proses bercampurnya dua (lebih)
kebudayaan karena percampuran bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi),
yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia. Masuknya
Islam tersebut tidak berarti kebudayaan Hindu dan Budha hilang. Bentuk budaya
sebagai hasil dari proses akulturasi tersebut, tidak hanya bersifat
kebendaan/material tetapi juga menyangkut perilaku masyarakat Indonesia.
1) Seni Bangunan
Wujud akulturasi dalam seni bangunan dapat terlihat pada bangunan
masjid, makam, istana. Wujud akulturasi dari masjid kuno memiliki ciri sebagai
berikut:
a. Atapnya berbentuk tumpang yaitu atap yang bersusun semakin ke atas semakin
kecil dari tingkatan paling atas berbentuk limas. Jumlah atapnya ganjil 1, 3
atau 5. Dan biasanya ditambah dengan kemuncak untuk memberi tekanan akan
keruncingannya yang disebut dengan Mustaka.
b. Tidak dilengkapi dengan menara, seperti lazimnya bangunan masjid yang ada
di luar Indonesia atau yang ada sekarang, tetapi dilengkapi dengan kentongan
atau bedug untuk menyerukan adzan atau panggilan sholat. Bedug dan
kentongan merupakan budaya asli Indonesia.
c. Letak masjid biasanya dekat dengan istana yaitu sebelah barat alun-alun atau
bahkan didirikan di tempat-tempat keramat yaitu di atas bukit atau dekat
dengan makam.

Mengenai contoh masjid kuno dapat memperhatikan Masjid Agung


Demak, Masjid Gunung Jati (Cirebon), Masjid Kudus dan sebagainya. Selain
bangunan masjid sebagai wujud akulturasi kebudyaan Islam, juga terlihat pada
bangunan makam. Ciri-ciri dari wujud akulturasi pada bangunan makam terlihat
dari:
a. Makam-makam kuno dibangun di atas bukit atau tempat-tempat yang keramat.
b. Makamnya terbuat dari bangunan batu yang disebut dengan Jirat atau
Kijing,nisannya juga terbuat dari batu.
c. Di atas jirat biasanya didirikan rumah tersendiri yang disebut dengan cungkup
atau kubba.
d. Dilengkapi dengan tembok atau gapura yang menghubungkan antara makam
dengan makam atau kelompok-kelompok makam. Bentuk gapura tersebut ada
yang berbentuk kori agung (beratap dan berpintu) dan ada yang berbentuk candi
bentar (tidak beratap dan tidak berpintu).
e. Di dekat makam biasanya dibangun masjid, maka disebut masjid makam dan
biasanya makam tersebut adalah makam para wali atau raja. Contohnya masjid
makam Sendang Duwur di Tuban.
Bangunan istana arsitektur yang dibangun pada awal perkembangan Islam,
juga memperlihatkan adanya unsur akulturasi dari segi arsitektur ataupun ragam
hias, maupun dari seni patungnya contohnya istana Kasultanan Yogyakarta
dilengkapi dengan patung penjaga Dwarapala (Hindu).
2) Seni Rupa
Tradisi Islam tidak menggambarkan bentuk manusia atau hewan. Seni ukir
relief yang menghias Masjid, makam Islam berupa suluran tumbuh-tumbuhan
namun terjadi pula Sinkretisme (hasil perpaduan dua aliran seni logam), agar
didapat keserasian, ditengah ragam hias suluran terdapat bentuk kera yang distilir.
Ukiran ataupun hiasan, selain ditemukan di masjid juga ditemukan pada gapura-
gapura atau pada pintu dan tiang. Untuk hiasan pada gapura.
3) Aksara dan Seni Sastra
Tersebarnya agama Islam ke Indonesia maka berpengaruh terhadap bidang
aksara atau tulisan, yaitu masyarakat mulai mengenal tulisan Arab, bahkan
berkembang tulisan Arab Melayu atau biasanya dikenal dengan istilah Arab
gundul yaitu tulisan Arab yang dipakai untuk menuliskan bahasa Melayu tetapi
tidak menggunakan tandatanda a, i, u seperti lazimnya tulisan Arab. Di samping
itu juga, huruf Arab berkembang menjadi seni kaligrafi yang banyak digunakan
sebagai motif hiasan ataupun ukiran.
Sedangkan dalam seni sastra yang berkembang pada awal periode Islam
adalah seni sastra yang berasal dari perpaduan sastra pengaruh Hindu – Budha dan
sastra Islam yang banyak mendapat pengaruh Persia. Dengan demikian wujud
akulturasi dalam seni sastra tersebut terlihat dari tulisan/ aksara yang
dipergunakan yaitu menggunakan huruf Arab Melayu (Arab Gundul) dan isi
ceritanya juga ada yang mengambil hasil sastra yang berkembang pada jaman
Hindu.
Bentuk seni sastra yang berkembang adalah:
a. Hikayat yaitu cerita atau dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau tokoh
sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat
ditulis dalam bentuk gancaran (karangan bebas atau prosa). Contoh hikayat
yang terkenal yaitu Hikayat 1001 Malam, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat
Pandawa Lima (Hindu), Hikayat Sri Rama (Hindu).
b. Babad adalah kisah rekaan pujangga keraton sering dianggap sebagai peristiwa
sejarah contohnya Babad Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad Cirebon.
c. Suluk adalah kitab yang membentangkan soal-soal tasawwuf contohnya Suluk
Sukarsa, Suluk Wijil, Suluk Malang Sumirang dan sebagainya.
d. Primbon adalah hasil sastra yang sangat dekat dengan Suluk karena berbentuk
kitab yang berisi ramalan-ramalan, keajaiban dan penentuan hari baik/buruk.
Bentuk seni sastra tersebut di atas, banyak berkembang di Melayu dan Pulau Jawa.
4) Sistem Pemerintahan
Dalam pemerintahan, sebelum Islam masuk Indonesia, sudah berkembang
pemerintahan yang bercorak Hindu ataupun Budha, tetapi setelah Islam masuk,
maka kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu/Budha mengalami keruntuhannya
dan digantikan peranannya oleh kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam seperti
Samudra Pasai, Demak, Malaka dan sebagainya.
Sistem pemerintahan yang bercorak Islam, rajanya bergelar Sultan atau
Sunan seperti halnya para wali dan apabila rajanya meninggal tidak lagi
dimakamkan dicandi/dicandikan tetapi dimakamkan secara Islam.
5) Sistem Kalender
Sebelum budaya Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia sudah
mengenal Kalender Saka (kalender Hindu) yang dimulai tahun 78M. Dalam
kalender Saka ini ditemukan nama-nama pasaran hari seperti legi, pahing, pon,
wage dan kliwon. Apakah sebelumnya Anda pernah mengetahui/mengenal hari-
hari pasaran? Setelah berkembangnya Islam Sultan Agung dari Mataram
menciptakan kalender Jawa, dengan menggunakan perhitungan peredaran bulan
(komariah) seperti tahun Hijriah (Islam).
Pada kalender Jawa, Sultan Agung melakukan perubahan pada nama-nama
bulan seperti Muharram diganti dengan Syuro, Ramadhan diganti dengan Pasa.
Sedangkan nama-nama hari tetap menggunakan hari-hari sesuai dengan bahasa
Arab. Dan bahkan hari pasaran pada kalender saka juga dipergunakan.
Kalender Sultan Agung tersebut dimulai tanggal 1 Syuro 1555 Jawa, atau
tepatnya 1 Muharram 1053 H yang bertepatan tanggal 8 Agustus 1633 M.

Demikianlah uraian materi tentang wujud akulturasi kebudayaan Indonesia


dan kebudayaan Islam, sebenarnya masih banyak contoh wujud akulturasi yang
lain, untuk itu silahkan diskusikan dengan teman-teman Anda, mencari wujud
akulturasi dari berbagai pelaksanaan peringatan hari-hari besar Islam atau
upacara-upacara yang berhubungan dengan keagamaan.

Sejarah masuknya Islam di Nusantara menimbulkan banyak tafsiran dari


para ahli sejarah dengan argumentasinya yang mempertanyakan kapan, dimana
dan bagaiaman proses masuknya Islam di Indonseia. Wacana ini sudah
diungkapkan melalui berbagai seminar yang dilakukan para ahli sejarah baik Barat
maupun Timur. Barat cenderung mengatakan masuknya Islam di Nusantara abad
ke-13 M, yang antara lain dipelopori oleh Snouck Hugronye, J.P. Moquete, R.A.
Kern Pijnappel. Sementara para ahli Sejarah Timur lebih memusatkan perhatian
pada baad ke-7 M dipelopori oleh Prof. Hamka, T. W. Arnold, Syed Naguib Al
Atta yang berpendapat bahwa sebelum abd ke-7 M sudah terjalin hubunngan
perdagangan dan pelayaran bangsa Arab, India dan Cina di Indonesia (Nusantara),
melalui Pantai Timur Sumatera. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada beberapa
teori yang diungkapakan para ahli sejarah tentang deskripsi masuknya Islam di
Nusantara yaitu sebagai berikut :

1. Teori Gujarat (India)


Teori ini berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonseia pada abad
ke-13 dan pembawanya berasal dari Gujarat (Cambay), India. Dasar teori ini
adalah: Pertama, kurangnya fakta yamg menjelasakan peranan bangsa Aab dalam
penyebaran di Indonesia.Kedua, karena adanya hubungan dagang Indonesia
dengan India telah lama melalui jalur Indonesia-Cambay-Timur Tengah-
Eropa. Ketiga, adanya batu nisan Sultan Samudera Pasai yaitu Malik Al Saleh
tahun 1297 yang bercorak khas Gujarat (Azra, 2002, hlm 22).

2. Teori Arab (Mekkah)


Teori ini merupakan teori yang baru muncul sebagai sanggahan terhadap
teori lama yaitu Gujarat. Teori Makkah berpendapat Islam masuk ke Indonesia
pada abad ke-7 dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir). Dasar teori ini adalah
:Pertama, pada abad ke-7 yaitu tahun 674 di panatai Barat Sumatera sudah
terdapat perkampungan Islam (Arab), dengan pertimbangan bahwa pedagang
Arab sudah mendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga
sesuai dengan berita Cina. Kedua, Kerajaan Samudera Pasai menganut aliran
mazhab Syafi’i, dimana pengaruh mazhab Syafi’I terbesar pada waktu itu adalah
Mesir dan Mekkah. Sedangkan Gujarat atau India adalah penganut mazhab
Hanafi. Ketiga, Raja-raja Samudera Pasai menggunakan gelar Al-Malik, yaitu
gelar tersebut bersala dari Mesir.

3. Teori Cina
Teori ini menyatakan bahwa Islam datang bukan dari Timur Tengah, Arab
maupun Gujarat ataupun India tetapi dari daratan Cina, dimana pada abad ke-9 M
banyak orang Muslim Cina di Kanton dan wilayah Cina Selatan yang mengungsi
ke Jawa, sebagian ke Kedah dan Sumatera karena “pada masa pemrintahan Huan
Chou terjadi penumpasan terhadap penduduk Kanton dan wilayah Cina Selatan
yang mayoritas pendudknya beragama Islam” (Alqurtuby, 2003, hlm. 215).
Memang tidak dapat dipungkiri penagruh Cina sangat kental dalam
arsitektur pada Masjid kuno di Demak, Banten. Selain itu perlu diketahui juga
“pada abad ke-8 M s/d 11 M sudah ada pemukiman Arab Muslim di wilayah
Cina dan di Campa yang memnag sudah mengadakan hubungan perdagangan
dengan Indonesia” (Yusuf, 2006, hlm.42).

4. Teori Persia
Dalam teori ini lebih menekankan pada Islam masuk ke Indonsia abad ke-
13 dan pembawanya berasal dari Persia (Iran). Dasar teori ini adalah kesamaan
budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam Indonesia. Yang diungkapakan
oleh Hosein Djajadininggrat (1963, hlm. 102) menyatakan bahwa :
“Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 M di Sumatera yang berpusat
di Samudera Pasai, pembawanya bersal dari Persia (Iran) dengan argumentasinya
adanya persamaan budaya yang berkembang dikalangan masyarakat Indonesia
dengan budayua yang ada di Persia seperti adanya peringatan 10 Muhram atau
Asyura yang merupakan tradisi yang berkembang dalam masyarakat Syiah untuk
memperingati hari kematian Hasan dan Husein cucu Nabi Muhammad. Di
Sumatera Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut.
Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro. Kemudian
adanya persamaan antara ajaran al-Hallaj, tokoh sufi Iran Syeikh Siti Jenar”.
Menyimak uraian di atas, dapatlah dipahami bagaimana masing-masing
para sejarawan menyimpulkan dengan teori-teori yang dikemukakannya lebih
banyak merefleksikan argumentasinya pada masalah masuknya Islam di Indonesia
sebagai akibat dari adanya hubungan antara para pedagang Arab, India, Cina,
Persia, yang didukung oleh letak geografis Indonesia yang sangat strategis sebagai
jalur pelayaran dan perdagangan antar pedagang anatar pedagang tersebut, yang
lebih terfokuskan pada wilayah ujung Barat dan Timur Sumatera karena daerah
ini sebagai kota bandar yang harus disinggahi lebih dahulu sebelum selat Malaka
menuju kawasan Asia Timur terutama daratan Cina.
Tentu keempat teori tersebut masing-masing memliki kebenaran dan
kelemahannya. Dengan berbagai deskripsi yang dipaparkan maka Islam masuk ke
Indonesia dengan jalan damai pada abad ke-7 dan mengalami perkembangannya
pada abad ke-13 sebagai kekuatan politik. Yang memegang peranan dalam
penyebarannya adalah para pedagang bangsa Arab, Persia dan Gujarat (India) dan
para pedagang Cina yang sudah memeluk ajaarn Islam.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berkembangnya kebudayaan islam di Kepulauan Indonesia telah menambah


khasanah budaya nasional Indonesia, serta ikut memberikan dan menentukan corak
kebudayaan bangsa Indonesia. Akan tetapi karena kebudyaan yang berkembang di
Indonesia sudah begitu kuat di lingkungan masyarakat maka berkembangnya
kebudayaan Islam tidak menggantikan atau memusnahkan kebudayaan yang sudah ada.
Dengan demikian, terjadi akulturasi antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan yang
sudah ada. Hasil proses akulturasi antara kebudayaan sebelum Islam dengan ketika
Islam masuk tidak hanya berbentuk fisik kebendaan seperti seni bangunan, seni ukir,
dan karya sastra tetapi juga menyangkut pola hidup dan kebudayaan non fisik lainnya.
Akulturasi Islam juga menunjukkan betapa besar sikap toleransi bangsa
Indonesia terhadap kebudayaan dan agama yang masuk ke Indonesia. Walaupun bangsa
Indonesia bersikap terbuka, mereka tetap memegang teguh kebudayaan asli Indonesia,
Untuk itu, dalam dunia globalisasi seperti sekarang ini seharusnya bangsa Indonesia
bias selektif dalam menerima kebudayaan asing agar bangsa Indonesia tetap memiliki
kepribadian positif yang sudah ada sejak dulu dan dimiliki bangsa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Sejarah Indonesia kelas x kurikulum 2013/Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan-Jakarta


http://variansaramadhan.wordpress.com/2012/07/22/proses-islamisasi-di-indonesia/
https://id-
id.facebook.com/permalink.php?story_fbid=10150387275621778&id=370369016777
http://indonesianto07.wordpress.com/2008/11/09/perkembangan-dan-akulturasi-islam-di-
indonesia/