Você está na página 1de 8

PEMIKIRAN TOKOH TASAWUF di INDONESIA

Siti Nurlaila
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Sumatera Utara Medan
Jl. William Iskandar
e-mail : sitinurlaila1426@gmail.com

Pendahuluan

Sejarah islam dan berbagai cabangnya, termasuk sejarah tasawuf dan pengikutnya sangat penting
untuk diperkenalkan dan dibahas, diantaranya adalah mengenai tokoh-tokoh dari ajaran tasawuf di
Indonesia ini. Karena, tasawuf terus mengalami perkembangan dan memberi pengaruh penting di
Indonesia. Sejak permulaan sejarah Islam di wilayah tersebut hingga hari ini, selama beberapa abad
permulaan sejarah, terutama pada abad ke-10 H/ 16 M dan ke-11/ 17 M, tasawuf memainkan
peranan terbesar dan paling menentukan dalam membentuk pandangan religius, spiritual, dan
intelektual di kepulauan Indonesia dan kepulauan disekitarnya.

Disini kami akan menjabarkan tentang beberapa tokoh-tokoh ulama tasawuf di Indonesia.
Diantaranya Syeikh Hamzah Fansuri, Syeikh Nawawi al- Bantani, Syeikh H. Abdul Malik Karim
Amrullah (HAMKA), Walisongo dan Syeikh Siti Jenar.

Pembahasan

1. Syeikh Hamzah Fansuri

Hamzah Fansuri dilahirkan di kota Barus atau Fansur, sekarang merupakan kota kecil Pantai Barat
Sumatra, antara Sibolga (Sumatra Utara) dan Singkel (Aceh Selatan). Hamzah Fansuri belajar di
berbagai tempat, seperti; Aceh, Jawa, Tanah Melayu, India, Persia, Arab, dsb. Diantara guru yang
paling berpengaruh adalah Ibrahim Bin Hasan al- Kurani (Madinah). Keahlian beliau terletak pada
bidang ilmu fiqh, tasawuf, mantiq, sejarah, filsafat, dan sastra. Di bidang tasawuf misalnya, beliau
merupakan salah seorang ulama yang mengajarkan Wahdatul Wujud. Jalan pikiran tasawufnya
banyak dipengaruhi oleh Ibnu Arabi, Abdul Karim Jili, Husain Mansur al-Hallaj, al-Bistami,
Fariduddin Attar Jalaluddin Rumi, Syah Nikmatullah, dan lain-lain. Kecenderungannya terhadap
mereka bisa dilihat ketika ia mengajarkan bahwa Tuhan lebih dekat daripada urat leher manusia

1
sendiri, dan bahwa Tuhan tidak bertempat, sekalipun sering dikatakan bahwa Ia ada di mana-mana.
Seperti ayat berikut:

ُ‫ن اِلَ ْي ُِه أَ ْق َربُ َونَحْ ن‬ ُِ ‫ْال َو ِر ْي ُِد َح ْب‬


ُْ ‫ل ِم‬

…Dan Kami lebih dekat kepadanya (manusia) daripada urat lehernya. Beliau memaknai ayat itu,
adalah ”Kami terlebih dekat-yakni bercampur dan mesra, serta bersatu wujud Allah dengan insan-
daripada urat lehernya”. Akan tetpi, beliau menolak ajaran pranayama dalam agama Hindu yang
membayangkan Tuhan berada di bagian tertentu seperti ubun-ubun yang dipandang sebagai jiwa
dan dijadikan tiik konsentrasi dalam uaha mencapai persatuan. Meski demikian, Hamzah juga
mengembangkan ajaran-ajaran tersebut berdasarkan pengalaman rohaniahnya sendiri.

Beliau juga menguasai bahasa Arab, Persia, Urdu, dan merupakan penulis yang produktif, yang
menghasilkan bukan hanya risalah- risalah keagamaan, tapi juga karya- karya prosa yang sarat
dengan gagasan- gagasan mistis. Beberapa buku-buku syairnya, antara lain; Syair Burung Pingai,
Syair Dagang, Syair Pungguk, Syair Sidang Faqir, Syair Ikan Tongkol, dan Syair Perahu. Adapun
karangan-karangannya dalam bentuk kitab ilmiah, antara lain; Asrarul ’Arifin, Fii Bayaani ’Ilmis
Suluuki wat Tauhid, Syarbul ’Asyiqin, Al- Muhtadi, Ruba’i Hamzah al Fansur.

2. Syeikh Nawawi al- Bantani

Syekh Nawawi bukan ulama yang ahli dalam sau bidang ilmu saja, bahkan Abdurrahman Mas’ud
menyebut dia sebagai ”Kiai Intelektual Ensklopedi”. Ilmu yang dia ajarkan hampir semua cabang
ilmu agama Islam seperti fiqh, tauhid, tata bahasa Arab, dan bahkan tafsir al-Qur’an. Sesudah
menuntut ilmu selama 30 tahun dari para ulama dan tinggal di Makkah, Syekh Nawawi tidak saja
mampu membaca al-Qur’an secara sempurna, tetapi juga menghapalkannya. Banyak murid belajar
tafsir kepadanya, diantaranya adalah K.H Hasyim Asy’ari (pendiri NU dan Pahlawan nasional),
K.H Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadyah), dan Kiai Kholil Bangkalan (tokoh kharismatik dari
Madura). Mereka kemudian meminta syekh untuk membukukan tafsir al-Qur’an yang dia ajarkan
kepada mereka. Kitab tafsirini pada akhirnya terbit dan dikenal sebagai Tafsir Marah Labid atau
Tafsir al-Munir atau Tafsir an-Nawawi.

Tidak seperti sufi Indonesia lainnya yang lebih banyak porsinya dalam menyadur teori-teori
genostik Ibnu Arabi, Nawawi justru menampilkan tasawuf yang moderat antara hakikat dan syariat.
Dalam formulasi pandangan tasawufnya tampak terlihat upaya perpaduan antara fiqh dan tasawuf.
Ia lebih Gazalian (mengikuti Al-Ghazali) dalam hal ini. Bagi Nawawi Tasawuf berarti pembinaan

2
etika (Adab). Penguasaan ilmu lahiriah semata tanpa penguasaan ilmu batin akan berakibat
terjerumus dalam kefasikan, sebaliknya seseorang berusaha menguasai ilmu batin semata tanpa
dibarengi ilmu lahir akan terjerumus ke dalam zindiq. Jadi keduanya tidak dapat dipisahkan dalam
upaya pembinaan etika atau moral (Adab).

3. Syeikh H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)

Beliau aktif dalam soal keagamaan dan politik, selain itu ia merupakan seorang wartawan, penulis,
editor, dan penerbit.. Sejak tahun 1920-an, ia menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti
Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah.Pada yahun 1928, ia
menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar.

Untuk menimbulkan persepsi yang berbeda di kalangan khalayak ramai tentang tasawuf, Hamka
kemudian memunculkan istilah tasawuf modern. Hal ini berdasar pada prinsip tauhid, bukan
pencarian pengalaman mukasyafah. Jalan tasawufnya dibangun lewat sikap zuhud yang dapat
dirasakan melalui peribadatan resmi. Penghayatan tasawufnya berupa pengalaman takwa yang
dinamis, bukan keinginan untuk bersatu dengan Tuhan (univate state), dan refleksi tasawufnya
berupa penampakan semakin tingginya semagat dan nilai kepekaan social-relligius (social
keagamaan), bukan karena ingin mendapatkan karamah (kekeramatan) yang bersifat magis,
metafisis, dan yang sebagainya. Konsep-konsep tasawuf yang diterangkan Hamka sangat dinamis.
Ia memahami tasawuf dengan pemahaman yang lebih tepat dengan roh dan semangat ajaran Islam.
Hamka tidak memahami tasawuf sebagaimana gerakan tarekat dan sufistik pada umumnya.
Tasawuf model Hamka ini menandingi tasawuf tradisional yang cenderung membawa bibit-bibit
ke-bid’ah-an, khurafat, dan kesyirikan. Sementara Hamka adalah ulama modernis (Mujaddid) yang
begitu anti dengan hal-hal tersebut. Dengan demikian, dapat dikatakan, corak tasawuf Hamka
adalah tasawuf pemurnian.

Tahun 1962 Hamka mulai menafsirkan al-Qur’an, yakni “Tafsir al-Azhar” 30 juz (5 jilid). Tafsir ini
sebagian besar dapat terselesaikan selama di dalam tahanan. (Hari senin tanggal 12 Ramadhan 1385,
bertepatan dengan 27 Januari 1964 sampai Juli 1969). Bulan Juli 1975, Musyawarah Alim Ulama
Seluruh Indonesia dilangsungkan. Hamka dilantik sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia pada
tanggal 26 Juli 1975 bertepatan dengan 17 Rajab 1395 M.

Hamka telah berpulang ke Rahmatullah pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih
terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam.

3
4. Walisongo

Maraknya pengajian tasawuf dewasa ini, dan kian bertambahnya minat masyarakat terhadap
tasawuf memperlihatkan bahwa sejak awal tarikh Islam di Nusantara, tasawuf berhasil memikat
hati masyarakat luas. Dalam banyak buku sejarah diuraikan bahwa tasawuf telah mulai berperanan
dalam penyebaran Islam sejak abad ke-12 M. Peran tasawuf kian meningkat pada akhir abad ke-13
M dan sesudahnya, bersamaan munculnya kerajaan Islam pesisir seperti Pereulak, Samudra Pasai,
Malaka, Demak, Ternate, Aceh Darussalam, Banten, Gowa, Palembang, Johor Riau dan lain-lain.
Itu artinya Wali Songo yang sangat berperan dalam penyebaran Islam di Indonesia khususnya
Tanah Jawa, mempunyai andil yang besar dalam mengajarkan tasawuf kepada masyarakat. Pada
abad ke-12 M, peranan ulama tasawuf sangat dominan di dunia Islam. Hal ini antara lain
disebabkan pengaruh pemikiran Islam al-Ghazali (wafat 111 M), yang berhasil mengintegrasikan
tasawuf ke dalam pemikiran keagamaan madzab Sunnah wal Jamaah menyusul penerimaan tasawuf
di kalangan masyarakat menengah. Hal ini juga berlaku di Indonesia, sehingga corak tasawuf yang
berkembang di Indonesia lebih cenderung mengikuti tasawuf yang diusung oleh al-Ghazali,
walaupun tidak menutup kemungkinan berkembang tasawuf dengan corak warna yang lain.

Abdul Hadi W. M. dalam tesisnya menulis : “Kitab tasawuf yang paling awal muncul di Nusantara
ialah Bahar al-Lahut (lautan Ketuhanan) karangan `Abdullah Arif (w. 1214). Isi kitab ini banyak
dipengaruhi oleh pemikiran yang wujudiyah Ibn `Arabi dan ajaran persatuan mistikal (fana) al-
Hallaj”. Ini menunjukan bahwa bahwa disamping tasawuf sunni juga berkembang tasawuf falsafi
di masyarakat. Sehingga sejarah mencatat di samping Wali Songo sebagai pengusung tasawuf sunni
juga muncul Syekh Siti Jenar sebagai penyebar tasawuf falsafi dengan ajaran ‘manunggaling kawula
gusti’. Dengan demikian secara garis besar aliran tasawuf yang berkembang pada zaman Wali
Songo dapat dikelompokan menjadi dua,yaitu:

1. Tasawuf Sunni[2]

Tasawuf sunni adalah bentuk tasawuf yang memagari dirinya dengan Al-Qur'an dan Al Hadits
secara ketat, serta mengaitkan ahwal (keadaan) dan maqamat (tingkat rohaniah) mereka pada dua
sumber tersebut. Tasawuf sunni adalah tasawuf yang mengedepankan praktis, maka termasuk di
dalamnya tasawuf akhlaki dan amali. Dalam tasawuf sunni terdapat tiga langkah utama yang yang
harus dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT :

4
 Senantiasa mengawasi jiwa (muraqabah) dan menyucikannya dari segala kotoran. Firman
Allah SWT: "Dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan
kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang
mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya rugilah orang yang mengotorinya". [Asy-Syams :
7-10]
 Memperbanyak zikrullah. Firman Allah SWT: "Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah
(dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya". [Al-Ahzab: 41]. Sabda
Rasulullah SAW "Senantiasakanlah lidahmu dalam keadaan basah mengingat Allah SWT".
 Zuhud di dunia, tidak terikat dengan dunia dan gemarkan akhirat. Firman Allah SWT:
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan
sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka
tidakkah kamu memahaminya?". (Al-Anaam : 32)

2. Tasawuf Falsafi

Tasawuf Falsafi adalah sebuah konsep ajaran tasawuf yang mengenal Tuhan (ma'rifat) dengan
pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju ke tinggkat yang lebih tinggi, bukan hanya mengenal
Tuhan saja (ma'rifatullah) melainkan yang lebih tinggi dari itu yaitu wihdatul wujud (kesatuan
wujud). Bisa juga dikatakan tasawuf filsafi yakni tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran
filsafat.

Di dalam tasawuf falsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf sunni, kalau
tasawuf sunni lebih menonjol kepada segi praktis, sedangkan tasawuf falsafi menonjol kepada segi
teoritis sehingga dalam konsep-konsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio dengan
pendektan-pendekatan filosofis, yang ini sulit diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari
khususnya bagi orang awam, bahkan bisa dikatakan mustahil.

5. Konsentrasi Tasawuh Syeikh Siti Jenar

Salah satu bagian ajaran yang disampaikan Syek Siti Jenar adalah ajaran "Sangkan Paraning
Dumadi" artinya asal dari segala ciptaan. Menurut Syek Siti Jenar bahwa pangkal dari segala ciptaan
adalah Dzat Wajibul Wujud yang tak terdefiniskan yang diberi istilah "awang uwung" (Ada tetapi
Tidak Ada, Tidak Ada tetapi Ada) yang keberadaannya hanya mungkin ditandai oleh kata "tan kena
kinaya ngapa" yang disebut dalam Al Quran "Laisa Kamitslihi Syaiun" artinya " tidak bisa

5
dimisalkan dengan sesuatu”. Inilah tahap Ahadiyah. Dari keberadaan Yang Tak Terdefinisikan
itulah Dzat Wajibul Wujud. Yang Tak Terdefinisikan mewahyukan Diri sebagai Pribadi Ilahi yang
disebut Allah. Inilah tahap Wahdah dimana Yang Tak Terdefinisikan mewahyukan diri menjadi
Rabbul Arbab. Dari tahap wahdah ini kemudian mewahyukan Diri sebagai Nur Muhammad. Inilah
tahap Wahidiyah dimana Yang Tak Terdefinisikan mewahyukan diri sebagai Rabb. Nur
Muhammad ini kemudian mewahyukan Diri menjadi semua ciptaan yang disebut mahluk, baik
yang kasat mata maupun tidak kasat mata. Dengan pandangan itu konsep keesaan (tauhid) Ilahi
yang diajarkan Syekh Siti Jenar tidak bisa disebut wahdatul wujud, karena di dalam doktrinnya
disebutkan bahwa "Dia Yang Esa sekaligus Yang Banyak (al wahid al katsir), Dia adalah Yang
Wujud secara bathin dan Yang Maujud secara dhahir, sehingga disebut Yang Wujud sekaligus Yang
Maujud (Ad-Dhahir Al Bathin)". Berbagai pandangan muncul dalam memberi tanggapan terhadap
tasawuf Syekh Siti Jenar dengan ajaran “manunggaling kawula gusti”-nya, diantaranya :

1. Menganggap Syekh Siti Jenar Sesat, dengan alasan ajaran tasawufnya telah tercampuri ajaran
filsafat, yang mengatakan bahwa makhluk itu merupakan pancaran dari sang Khalik (Teori
Emanasi), sehingga dia berani menyatakan diri sebagai tuhan karena dirinya mewarisi sifat-sifat
tuhan.

2. Menganggap Syekh Siti Jenar Tidak Sesat, dengan alasan ajaran Syekh Siti Jenar lebih
memberikan tekanan pada filsafat ketuhanan dan filsafat kebenaran dengan kata lain bukan lagi
berhenti pada tataran syariat, tetapi telah melangkah pada tataran yang lebih tinggi yakni hakekat.
Sebagaimana diketahui tahapan tasawuf itu meliputi syariat, tarekat, hakekat dan makrifat. Hanya
saja ketika ajaran ini disampaikan kepada orang awam maka akan menimbulkan penafsiran yang
berbeda tentang Tuhan. Karena itu Wali Songo sepakat untuk melenyapkan Syekh Siti Jenar dalam
rangka melindungi pemahaman ketauhidan mayoritas orang awam pada saat itu.

Penutup

6
Seiring dengan masuk dan berkembangnya agama islam di Indonesia, tasawuf juga mengalami
perkmbangn yang sangat pesat. Di Indonesia sendiri tasawuf terpecah menjadi dualiran yaitu
tasawuf suni dan tasawuf falsafi.

Karena perkembangannya sangat pesat, maka banyak bermunculan aliran-aliran tarekat untuk
mempelajari tasawuf.

Perkembangan taswuf di Indonesia mempunyai hakikat tujuan yakni islamisasi penduduk


Indonesia yang masih menganut kepercayaan tradisional yang bersifat animisme, dinamisme
dengan pengaruh mistiknya, sementara itu tasawuf digunakan oleh para wali untuk mengadakan
pendekatan dengan masyarakat. Perkembangan tasawuf bukan hanya di pulau jawa akan tetapi di
pulau-pulau lain kepulauan nusantara.

Berdasarkan hal diatas , perkembangan Islam di Indonesia sangat terkait sejarah dan pemikirian
tasawuf. Atau dengan kata lain penyebaran Islam di Nusantara tidak dapat dipisahkan dari tasawuf.
Bahkan " Islasm Pertama " yang dikernal di Nusantara ini sesungguhnya adalah Islam yang
disebarkan dengan sufistik. Para penyebar Islam di Indonesia itu umunya pada Da'i yang memiliki
pengetahuan dan pengamalan tasawuf. Dianatar mereka juga banyak yang menjadi pangamal dan
penyebar tarekat di Indonesia.

Daftar Pustaka

7
Dr. H. Abuddin Nata, M.A. AKHLAK TASAWUF. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta:2002

Dr. Hj. Sri Mulyati, MA. Mengenal & Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia.
Prenada Media, Jakarta:2005

Dr. Hj. Sri Mulyati, MA.Tasawuf Nusantara RangkaianMutiara Sufi Terkemuka. Prenada Media,
Jakarta:2005

Drs. Kharisudin Aqib, M.Ag. Al Hikmah Memahami Theosofi Tarekat Qadiriyah wa


Naqsyabandiyah. Dunia Ilmu Offset:1998

Drs. Mahyuddin. Kuliah Akhlak Thaswuf. Kalam Mulia, Jakarta:2005

Prof Dr. Ahmad Daudy, MA. Tasawuf Aceh. Bandar Publishing, Aceh;2008.

http://daritemanuntukteman.blogspot.com/2009/07/sebuah-catatan-kecil-dari-tasawuf-di.html

Sri Mulyani,Tasawuf Nusantara, Kencana, Jakarta, 2006, hal, 1

http://izubed.blogspot.com/2012/05/perkembangan-tasawuf-dan-tarekat.html

http://taurylubiz.blogspot.com/2011/05/tokoh-tokoh-tasawwuf-di-indonesia.html

http://jawharie.blogspot.com/2010/12/perkembangan-t

asawuf-pada-zaman-wali.html