Você está na página 1de 17

ANDJAR ASMARA; KARIR DAN PERANNYA DALAM PERKEMBANGAN

SANDIWARA MODERN DAN FILM INDONESIA (1930-1961)

Oleh: Leni Nur’aeni


Email: lenylenz@upmk.co.id

Abstract: “Andjar Asmara; Karir dan Perannya dalam Perkembangan Sandiwara Modern
dan Film Indonesia (1930-1961) (Andjar Asmara; His career and role in the development of
modern drama and film in Indonesia 1930-1961)”. This research aimed to uncover the
question of what was Andjar Asmara’s role in the development of play and film in Indonesia.
This research used a historical method which has several steps: heuristic, critics,
interpretation and historiography. Through using this method work hopefully can reconstruct
Andjar Asmara’s efforts to change the way play was showed on the toneel stage.
This research shows how Andjar Asmara changed performance of the play on the toneel
stage by creating the play scenario. Andjar Asmara also gradually changed the stories
showed on the toneel stage which was usually based on the story of 1001 night to be based
on the story of daily life as could be seen in one of his work, Dr. Samsi. In addition, this
research, importantly, also discovers the role of Andjar Asmara’s role in the development of
Indonesian movies.

Abstrak: “Andjar Asmara; Karir dan Perannya dalam Perkembangan Sandiwara Modern dan
Film Indonesia (1930-1961)”. Penelitian ini bertunjuan untuk mencari tahu tentang apa saja
peran Andjar Asmara dalam perkembangan sandiwara dan film di Indonesia. Penelitian ini
menggunakan metode sejarah. Metode sejarah terdiri dari beberapa tahap yaitu heuristik,
kritik, interpretasi, dan historiografi. Melalui penggunaan metode sejarah tulisan ini
diharapkan mampu merekonstruksi pelbagai upaya Andjar dalam mengubah cara penyajian di
atas panggung toneel.
Berdasarkan penelitian sejarah ini dapat diketahui cara Andjar mengubah cara penyajian di
atas panggung toneel yaitu salah satunya dengan cara membuat naskah-naskah pementasan.
Melalui cara ini juga Andjar dengan sedikit demi sedikit berhasil mengubah cerita-cerita yang
disuguhkan di atas panggung toneel yang biasanya diambil dari cerita-cerita hikayat 1001
malam, menjadi cerita-cerita kehidupan sehari-hari seperti salah satu cerita hasil karyanya
yaitu Dr.Samsi. Selain itu juga dapat diketahui tentang peranan Andjar dalam dunia Film di
Indonesia.

Kata Kunci: Andjar Asmara, Sandiwara Modern, Film


PENDAHULUAN
Seni pertunjukan seperti sandiwara dan film di Indonesia sudah dikenal sejak awal
abad ke-20. Hal ini disebabkan oleh adanya penyerapan unsur-unsur budaya Barat seiring
kebutuhan orang-orang Belanda dan Eropa terhadap hiburan. Wujudnya ialah makin
menjamurnya perkumpulan-perkumpulan seni pertunjukan, antara lain: Langendrija 1, Abdoel
Moeloek2, Komidi Stamboel3, dan Dardanella4 (Oemarjati, 1971: 18-37).
Perkumpulan semacam itu lazimnya dibentuk oleh orang-orang Eropa, namun para
pemain dan pengasuhnya adalah dari kalangan bumiputra atau etnis Tionghoa peranakan.
Seorang bumiputra yang bernama Andjar Asmara juga pernah terlibat dalam perkumpulan
sandiwara Dardanella sejak tahun 1930. Andjar lebih dikenal sebagai penulis naskah
panggung dan sutradara yang banyak memperbaiki nilai pementasan rombongan ini. Akan
tetapi, tidak banyak orang yang mengetahui jejak karir Andjar Asmara dalam dunia seni
pertunjukan. Andjar Asmara lebih dikenal sebagai seorang wartawan di pelbagai surat kabar
dan majalah, antara lain: Sinar Soematra, Varia, Bintang Hindia, Doenia Film, dan Bintang
Timur. Ketenaran Dardanella yang sampai ke Singapura, Bombay, dan India, hal tersebut
pastinya tidak lepas pula dari peran Andjar Asmara selama berkarir bersama Dardanella. Saat
keluar dari Dardanella (1937), Andjar Asmara juga pernah mendirikan perkumpulan sejenis
dengan nama Tjahaja Timoer (1947) yang kemudian mengakhiri karir dengan terjun dalam
dunia perfilman.
Masuknya Andjar Asmara ke dunia film, maka sebagian besar tokoh Dardanella juga
ikut terjun ke dunia film, salah satunya Tan Tjeng Bok. Film pertama yang disutradarainya
adalah Kartinah. Kedatangannya ke dunia film dipandang sebagai tenaga yang bisa menjadi
tempat menggantungkan harapan untuk meningkatkan mutu film Indonesia masa itu. Andjar
Asmara begitu mencintai dunia sandiwara dan film yang telah membesarkan namanya.
Bahkan hingga akhir hayatnya, Andjar Asmara tetap mengabdikan hidupnya untuk kemajuan
dunia film Indonesia.
Berdasarkan penjelasan di atas, terdapat beberapa alasan mengapa perjalanan karir
Andjar Asmara dalam seni teater dan film pada periode 1930 hingga 1961 sangat menarik
untuk dikaji. Pertama, belum ada kajian yang secara spesifik dan dalam yang membahas
tentang perjalanan karir dan peranan Andjar Asmara dalam dunia pertunjukan, khususnya
dalam sandiwara dan film. Kedua, melalui perjalanan karir Andjar Asmara dapat juga dilihat
sisi lain perkembangan seni sandiwara modern dan cikal bakal tumbuhnya industri perfilman
di Indonesia hingga tahun 1961. Selain itu, penulis juga beranggapan bahwa sumber primer

1
Sebuah bentuk drama yang beraksentuasi pada tembang/gamelan, yang terinspirasi dari pertunjukan wayang
orang yang pada saat itu hanya dipertunjukan di kraton-kraton saja (Oemarjati, 1971 : 18).
2
Rombongan ini datang dari Malaka, khususnya Djohor. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Melayu.
Rombongan ini tidak dapat lama bertahan karena tidak mendapat sambutan dari publik Indonesia (Oemarjati,
1971 : 21).
3
Ialah cikal bakal sandiwara modern Indonesia yang didirikan oleh August Mahieu seorang Indo-Prancis pada
1891 (Hutari, 2009: 10).
4
Pendirinya ialah seorang pendatang berdarah Rusia yang bernama Willy Klimanoff. Ia kemudian mengganti
namanya menjadi A. Piedro lalu membentuk suatu perkumpulan teater bernama The Malay Opera
“Dardanella” pada tanggal 21 Juni 1926 (Oemarjati, 1971: 25).
dan skunder yang berkaitan dengan topik permasalahan ini cukup tersedia dan dapat dilacak
keberadaannya, sehingga memungkinkan dalam proses penggarapannya.
Pembicaraan mengenai karir dan peran Andjar Asmara dalam seni pertunjukan
modern secara garis besar memiliki kaitan batasan ruang (spasial) dan waktu (temporal). Seni
pertunjukan di Indonesia merupakan batasan ruang (spasial) yang dipilih karena perjalanan
karir Andjar Asmara sebagian besar dijalani dalam dunia pertunjukan yang ada di Indonesia.
Terkait dengan hal itu, tahun 1930 ditentukan sebagai titik awal pembahasan karena
pada saat itu Andjar Asmara memulai karir di dunia pertunjukan, dan tahun 1961 dipilih
sebagai titik akhir pembahasan karena pada tahun itu Andjar Asmara meninggal dunia.

METODE PENELITIAN
Metode penelitian dalam kajian ini yaitu menggunakan metode sejarah yang memiliki
empat tahapan, yaitu: tahap heuristik (pengumpulan data), tahap kritik, tahap interpretasi
(penafsiran), dan tahap historiografi (penulisan) (Gottschalk, 1985: 4).
Tahap pertama, yaitu tahap heuristik, merupakan proses menemukan dan
menghimpun sumber, baik yang merupakan sumber primer maupun sumber sekunder yang
berkaitan dengan permasalahan yang sedang diteliti. Kegiatan heuristik ini dilakukan melalui
studi kepustakaan. Studi kepustakaan antara lain dilaksanakan di Perpustakaan Sastra Unpad
(Jalan Raya Bandung-Sumedang Km. 21 Jatinangor), Perpustakaan Provinsi Jawa Barat
(Jalan Soekarno Hatta No. 629 Bandung), Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Jalan
Salemba Raya No. 28 A Jakarta), Perpustakaan Batu Api (Jalan Raya Jatinangor No. 142
Jatinangor), dan Perpustakaan Prof. H. B. Jassin serta Perpustakaan Usmar Ismail yang
keduanya berada di Jakarta.
Kemudian dilakukan penelahaan sumber-sumber melalui tahapan kritik. Tahapan
kritik ini terbagi menjadi dua, yaitu kritik ekstern dan kritik intern. Kritik ekstern dilakukan
untuk menentukan sejauh mana otentisitas sumber. Kritik intern bertugas untuk menjawab
pertanyaan apakah kesaksian yang diberikan oleh sumber itu kredibel atau dapat di percaya
(Lubis, 2008: 25-30).
Tahap selanjutnya adalah tahap interpretasi. Pada tahap ini, penulis
menginterpretasikan data-data yang telah terkumpul menjadi suatu keseluruhan fakta yang
harmonis dan masuk akal. Tahap ini merupakan kegiatan penulis untuk menyampaikan
tulisan hasil rekonstruksi imajinatif sesuai dengan fakta. Dengan pengertian lain, penulis
berupaya untuk menuangkan hasil interpretasi sumber-sumber terseleksi sedemikian rupa,
sehingga menghasilkan kisah atau kajian yang selaras (Kuntowijoyo, 2001: 102-105).
Tahapan terakhir dari metode sejarah adalah historiografi. Pada tahapan ini hasil
penafsiran atas sejumlah fakta itu dituliskan menjadi suatu kisah sejarah yang selaras
(Kosim, 1988: 42).

HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Latar Belakang Kehidupan Andjar Asmara (1902-1930)
Abisin Abbas atau yang lebih dikenal dengan nama Andjar Asmara, lahir di
Alahan Panjang5, 26 Februari 1902. Ayahnya adalah seorang guru kepala. Kakeknya
5
Alahan Panjang adalah sebuah desa di Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat bagian
selatan, berjarak 65 km dari Kota Padang.
bernama Marah Mohammad Zahab, yang akrab dipanggil dengan sebutan Marah Zahab.
Sewaktu muda kakeknya adalah seorang pengusaha sandiwara keliling yang bermain di
beberapa tempat di Minangkabau, bahkan hingga ke pulau Pagai6 (Pedoman, 3
September 1948). Sayang sekali dari semua sumber yang sudah berhasil penulis
kumpulkan, penulis tidak bisa menemukan informasi lainnya mengenai keluarganya.
Masa kecil Andjar sebagian besar dihabiskan di Kota Padang. Ketika Andjar
berusia 19 tahun, selepasnya bersekolah di Batavia, ia bekerja pada sebuah
Onderneming di daerah Sukabumi. Gouvernement’s Gutta Percha Onderneming Tjipetir
namanya. Andjar diterima bekerja sebagai calon asisten kebun. Sifat pekerjaan maupun
tempat tinggalnya sebenarnya sangat menguntungkan sekali baginya. Kehidupan dalam
Onderneming yang tidak menyita banyak waktu dan mempunyai gaji yang cukup
membuka kesempatan baginya untuk memperkuat diri dalam bidang karang-mengarang.
Terlebih lagi bahwa Andjar adalah pemuda yang tergolong rajin, tekun, dan punya sifat
sungguh-sungguh dalam segala hal.
Mengenai urusan percintaan, Andjar menjatuhkan pilihan hati yang pertama
kalinya kepada seorang gadis remaja anak angkat dari orang Belanda. Sutinah namannya,
berasal dari Jawa Timur dan menjadi anak angkat keluarga Visser yang bekerja pada
Onderneming Tjilentab. Onderneming yang letaknya tidak jauh dari tempat Andjar
berkerja. Tidak lama kemudian Andjar dan Sutinah menikah, lahir pula seorang anak
laki-laki yang diberi nama Boy Abbas yang merupakan buah hati bagi kedua orangtuanya
(Pedoman, 3 Djuli 1959).
Setelah menikah Andjar masih saja tidak dapat berpisah dari hobbinya yaitu
karang-mengarang. Akhirnya terjadilah suatu peristiwa yang membawa perubahan pada
hidup keluarga Andjar. Kerajinan dan ketekunannya dalam mengikuti isi majalah De
Zweep7 atau majalah-majalah lain semakin mengobarkan api kemauannya untuk masuk
ke dalam bidang jurnalistik. Apalagi setelah satu dua karangannya yang dikirim ke
redaksi surat kabar atau majalah di Batavia ada juga di antaranya yang dapat dimuat. Hal
ini menambah kuatnya dorongan hati dan kemauannya untuk mempertaruhkan nasibnya
di bidang kewartawanan. Kemauannya itu tidak dapat dibendung lagi, maka pada suatu
hari ia memutuskan untuk meminta berhenti bekerja dari Onderneming Tjipetir, dan
setelah semua urusan mengenai anak dan istrinya beres, maka berangkatlah Andjar ke
Batavia. Rencananya yang sudah bulat mendapat persetujuan istrinya yang memahami
benar kemauan suaminya. Jika Andjar mendapat ketetapan mata pencaharian di Batavia,
maka Andjar akan segera menjemput mereka dan membangun rumah tangga dan
kehidupan baru di sana.
Hidup dari honorarium yang tak menentu dan tidaklah besar jumlahnya, tentu saja
tidak mungkin ia dapat menepati janjinya untuk membangun rumah tangga baru dengan
anak dan isterinya, yang sementara itu tinggal pada salah satu keluarganya di Bogor.
Tanpa ia sadari, Andjar hanya ingin menuruti darah mudanya, seperti pemuda pada
biasanya, saja tanpa memikirkan faktor lain dalam hidupnya. Seolah-olah ia melepaskan

6
Pulau Pagai terletak di gugusan kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.
7
Majalah De Zweep berganti nama menjadi majalah D’Orient yang diterbitkan dari tahun 1924 hingga 1942.
Majalah mingguan ini berisi artikel-artikel tentang gaya hidup, berita, tips, dan lain-lain.
tanggung jawabnya sebagai seorang suami sekaligus ayah bagi anaknya (Pedoman, 3
Djuli 1959).
Banyak surat yang datang dari orang tua dan keluarga di kampung halaman yang
menyuruhnya untuk pulang ke Padang. Surat dari Padang yang menyuruhnya pulang
ternyata tidak hanya satu. Pada mulanya surat-surat tersebut tak diperdulikan sama
sekali. Bagaimana ia bisa pulang sementara jalan menuju cita-citanya selama ini sudah
mulai terbuka bagainya. Darah mudanya berontak setiap menerima surat dari
orangtuanya itu. Ia berada dalam perjuangan batin yang hebat antara tiga pilihan;
pertama ialah orang tua yang harus dipatuhi, kedua adalah istri dan anak yang berat
untuk ditinggalkan di rantau orang. Akan tetapi ini semua tertutup oleh keinginannya
yang ketiga, yaitu semangatnya yang ingin membuktikan kemampuan dan bakatnya.
Pada saat itu sudah banyak karya-karyanya yang mulai dimuat dalam koran dan majalah
(Pedoman, 3 juli 1959).
Setelah akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya (1928),
Andjar terjun langsung menjadi anggota Redaksi harian Sinar Soematra di Medan.
Andjar sebagai anggota redaksi mengerjakan Verslag8 sepakbola, resensi film, resensi
sandiwara, Verslag pengadilan, berita-berita kriminal, Verslag sidang gemeenteraad9,
penerjemah, Verslag rapat-rapat umum dan menulis kisah bersambung. Hari-harinya
cukup sibuk untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut. Namun ia tetap gembira dan
bersemangat, walaupun dari pagi hingga sore ia bekerja dan pada malam harinya ia harus
menghadiri rapat-rapat, pertunjukan-pertunjukan, dan pelbagai pertemuan. Ia tetap
bergembira dan bersemangat, karena kesempatan ini memberinya pengalaman, dan
pelajaran yang makin mendekatkannya kepada tujuan hidupnya (Varia, 27 Desember
1961).
Setelah sekitar dua tahun bekerja di Padang, ia memutuskan untuk kembali ke
Jakarta sekitar tahun 1930-an. Di Jakarta ia mendapatkan tawaran untuk memimpin
majalah Doenia Film, penerbitan pengusaha Belanda di Jalan Pecenongan dan mendapat
gaji 225 gulden. Ia mendiami sebuah rumah kecil yang cukup nyaman, bersama-sama
dengan Sjamsuddin Seotan Makmoer yang waktu itu menjadi redaktur Politiek Revue
dan J.Manoppo yang bekerja pada harian Belanda Het Nieuws van Den Hag ( Berita
Buana, 1977).

2. Karir Andjar Asmara Dalam Sandiwara Dan Film (1930-1949)


a. Naik Panggung Bersama Dardanella
Perkumpulan sandiwara Dardanella terbentuk di Sidoarjo pada 21 Juni 1926.
Dardanella didirikan oleh seorang Rusia yang bernama Willy Klimanoff atau yang
lebih dikenal sebagai A. Piedro (Ramadhan, 1984: 58). Piedro memiliki bakat
showmanship yang besar. Dardanella yang didirikannya langsung terkenal. Ia dengan
cerdik menarik penyanyi keroncong yang sedang naik namanya, Tan Tjeng Bok,
hingga bisa menarik penonton kalangan Cina (Misbach. 2009:14). Motto yang dipakai
dalam pertunjukannya, yaitu “ Memberi tontonan yang memuaskan publik”.

8
Berita; laporan.
9
Dewan perwakilan daerah kotapraja
Dalam Dardanella ini Andjar mengambil bagian yang menurutnya terpenting,
yaitu bagian reklame. Kegiatan Andjar di Dardanella antara lain menerbitkan naskah-
naskah panggung. Namun demikian, dalam Dardanella Andjar bukan hanya
bertanggung jawab dalam reklame, melainkan memberi andil besar dalam membuat
Dardanella setingkat lebih tinggi dari perkumpulan toneel lain. Untuk pertama kalinya
Andjar memperkenalkan penggunaan naskah sebagai pedoman untuk pertunjukan
Dardanella, Andjar juga menyumbangkan naskah baru bagi Dardanella yang dibuat
berdasarkan cerita sehari-hari yang banyak terjadi seperti Dr. Samsi, Haida, Ex
Sawahlunto, Si Bongkok, Tandak Buta, Gadis Desa, dan Singa Minangkabau. Cerita
Dr. Samsi segera menjadi lakon utama Dardanella (Abdullah, 1993:34).
Sebenarnya anak laki-laki yang diceritakan dalam cerita Dr.Samsi tersebut
adalah asosiasi dari anaknya sendiri Boy Abbas yang masih tetap tidak dapat
dijumpainya dan tidak ada kabar beritanya. Oleh karena itu, penyelesaian drama ini
pada hakekatnya mengandung hal yang membayangkan optimisme pada jiwa
pengarangnya di dalam usahanya mencari anaknya yang hilang. Dengan kepercayaan
dan optimisme besar, Andjar percaya bahwa suatu saat pasti dia dapat berjumpa
kembali dengan anak kandungnya (Pedoman, 8 juli 1959).
Ketika Dardanella tiba di Yogyakarta Andjar berkenalan dengan Suratna yang
berasal dari Bandung. Hanya selang tiga hari dari perkenalannya dengan Keluarga
Dardanella, Andjar dan Ratna pun menikah di tahun 1931. Pada akhirnya Ratna
Asmara tampil sebagai pelopor wanita sutradara yang menggarap film Sedap Malam
(1950). Langkah Ratna Asmara pun terdukung profesi suaminya, Andjar Asmara.
Kalaupun film karya Ratna Asmara tidak dibicarakan, nilai kepeloporannya terbingkai
dalam sejarah perfilman.
Dardanella bertambah tenar, orang-orang banyak membicarakannya bahkan
tulisan-tulisan di koran pun memuji-muji Dardanella. Dalam surat kabar
Pemandangan, H. Agus Salim menilai bahwa “Dardanella sebagai suatu kelahiran
baru dan bukan reinkarnasi dari tahap-tahap toneel yang terdahulu, dan jika kita
hendak mencari dengan apa hendak kita bandingkan kelahiran baru ini, niscayalah
kita harus melihat kepada contoh Barat” (Ramadhan, 1982: 119).
Tahun 1935 Dardanella memutuskan untuk melakukan pengembaraan ke luar
negeri yang disebutnya “Tour d’Orient” mereka akan berkeliling daratan Asia
termasuk Hongkong, Cina, Siam, Burma, Ceylon, bahkan juga ke Tibet. The Royal
Balinese Dancers”, itulah nama baru yang dipakai Dardanella selama berkeliling ke
luar negeri. Suka duka silih berganti selama perjalanan tersebut, tetapi semua tetap
bersemangat untuk melanjutkan keinginannya untuk berkeliling ke luar negeri.
Mereka tidak menyuguhkan toneel, melainkan pelbagai tari-tarian daerah, musik
keroncong, pencak Sunda, nyanyian Ambon, tarian Irian, dan lain-lain (Abdullah,
1993: 38).
Suatu kejadian istimewa muncul ketika rombongan “The Royal Balinese
Dancers” tiba di Calcutta, “Radha Film Co” yang menyampaikan ajakan perusahaan
film tersebut untuk membuat sebuah film. Naskah telah siap, rombongan mulai
berlatih, bukan untuk bermain di depan para penonton, melainkan untuk bermaian di
depan kamera yang tentunya ini sama sekali berlainan. Sutradaranya adalah Andjar
dan didampingi oleh Piedro.
Setelah pembuatan film Dr. Samsi selesai, mulai terjadi perpecahan di antara
rombongan yang disebabkan karena keadaan keuangan. Ditambah lagi ketika Piedro
sakit parah, dan menghabiskan sebagain besar uang hasil jerih payah mereka. Selain
itu mereka menuduh Ivera10 telah menghabiskan semua uangnya. Piedro tidak
sanggup lagi membayar tempat menginap untuk rombonagn yang pada saat itu
berjumlah kurang lebih 150 orang.
Ada sekitar 100 orang lebih termasuk Bachtiar Effendi dan Suska yang
memprotes keras untuk keluar dari rombongan. Andjar yang pada saat itu ditunjuk
sebagai perwakilan mereka untuk berunding dengan Piedro. Hasilnya seratus lebih
anggota tersebut akan dibelikan tiket untuk mereka kembali pulang, termasuk Andjar
dan Ratna, sedangkan Miss Dja, Ferry Kok, Mada, Gaduk, Ramli, Subandi, Astaman,
Mima, Wani, dan lain-lain yang semuanya berjumlah sekitar 36 orang akan tetap ikut
melanjutkan perjalanan bersama Piedro (Ramadhan, 1982:150-153).
Selepas berpisah dengan rombongan Dardanella dan kembali ke Batavia, pada
tahun 1937 Andjar bersama Soeska (Sutan Usman Karim), Inoe Perbatasari, dan
Bachtiar Effendy mendirikan kelompok baru dengan nama "Bolero", dengan andalan
pemainnya Ratna Asmara. Namun sayang usia rombongan ini tidak lama. Ternyata
mengelola sebuah rombongan toneel tidak gampang, Andjar kembali menekuni
bidang jurnalistik. Menjelang pecahnya perang Pasifik, Andjar bersama Karkono
Kamadjaja memimpin majalah tengah bulanan Poestaka Timoer, yang diterbitkan
oleh Kolff-Bunning di Jogja.
Setelah proklamasi, Andjar aktif lagi dalam bidang pers, dengan menerbitkan
harian Perjoeangan Rakjat yang beralamat di Purwakarta. Sayang harian yang
dipimpinnya kurang mendapatkan respon dan akhirnya terpaksa harus gulung tikar.
Kira-kira tiga tahun lamanya Andjar dan Ratna Asmara berhenti dari dunia
pertunjukan. Mereka seolah memejamkan mata, memekakkan telinga, dan melawan
panggilan-panggilan sahabatnya untuk kembali terjun di dunia pertunjukan. Namun
hal itu tidak berlangsung lama, Andjar dan Ratna pun kembali terjun ke dunia
pertunjukan, lebih tepatnya ke dunia perfilman.
b. Terjun Ke Dunia Film
1). Pembuatan Film di Hindia Belanda
Sebuah kejutan terjadi di akhir tahun 1900 melalui iklan dalam surat kabar
Bintang Betawi, 4 Desember 1900. Dalam surat kabar tersebut tertulis bahwa
Nederlandsche Bioscope Maatschappij (Perusahaan Bioskop Belanda), mulai
tanggal 5 Desember akan menyelenggarakan pertunjukan besar pertama yang
akan berlangsung tiap malam, mulai pukul 19.00 di sebuah rumah di Tanah Abang
Kebondjae (Manage)11, di sebelah pabrik kereta (bengkel mobil) Maatschappij
Fushss.
Pemberitaan dalam iklan ini memperlihatkan untuk pertama kalinya bentuk
seni pertunjukan film/gambar idoep. Film perdana ini adalah sebuah film
10
Ibu dari A.Piedro
11
Rumah tersebut kemudian berubah nama menjadi The Rojal Bioscope
dokumenter, sampai tahun 1902 belum ada satupun usaha untuk membuat sebuah
film cerita bisu (Arief, 2010: 13).
Film, seperti juga kebanyakan cerita yang dipublikasikan, selalu menampilkan
pertentangan baik dan buruk. Cerita yang positif biasanya hanya sampai pada
kesimpulan kebaikan pasti menang melawan kejahatan. Namun, yang dilihat para
penonton yang mayoritas masih buta huruf adalah gambaran mengenai kekerasan,
perceraian, yang merupakan kelaziman, dan perilaku lain yang menggugah
penilaian mereka terhadap budaya mereka sendiri.
Mereka tak begitu peduli atau mungkin juga tak begitu faham bahwa film
yang mereka tonton itu hendak menyatakan perceraian, gonta-ganti pasangan, dan
kekerasan adalah sesuatu yang buruk dan patut dihindari. Untuk mengantisipasi
hal ini, pemerintah untuk pertama kalinya mengeluarkan undang-undang yang
mengatur film dan Bioskop melalui Ordonansi Bioscoope di tahun 1916.
Ordonansi ini memberi hak pemeriksaan film oleh komisi regional yang ditunjuk
oleh Gubernur Jenderal (Jauhari, 1992: 15-16).
Sejalan dengan perkembangan toneel, bioskop pun makin menancapkan
jejaknya dan membawa pengaruh dalam kehidupan masyarakat Hindia Belanda.
Peraturan yang dibuat dan diterapkan secara longgar oleh pemerinyah Kolonial,
mengakibatkan banyak orang menganggap Bioskop telah membawa pengaruh
buruk bagi rakyat pribumi. Sir Hesketch Bell memberikan kesaksiannya lewat
buku Foreign Colonial Administration in the Far East:
“... dalam perjalanan di Asia, tak satupun manusia yang ditemui tak
sependapat bahwa dampak film sangat menyedihkan bagi
kewibawaan orang Eropa di Timur Jauh. Sebelum bioskop
menyajikan bagian yang tidak baik dari masyarakat kulit putih,
banyak bangsa kulit berwarna tidak mengetahui kejatuhan moral di
kalangan tertentu dalam masyarakat barat...”(Bell, 1926)
Jumlah penonton pribumi yang semakin banyak menggugah seorang belanda
bernama L. Heuveldrop untuk mendirikan sebuah perusahaan produksi film yang
diberi nama Java Film Company. Java Film Company ini kemudian menetapkan
seorang Indo bernama Krugers sebagai pimpinan produksi film. Film produksi
perdana perusahaan ini muncul pada 1926 dengan judul Loetoeng Kasaroeng12.
Salah satu cara untuk menarik minat penonton pribumi dengan melibatkan orang-
orang pribumi sebagai pemain film serta mengambil cerita dari legenda di Hindia
Belanda. Setahun kemudian di awal tahun 1927 diproduksi lagi film yang
berjudul Euis Atjih, Setelah kedua film tersebut, tidak ada lagi cerita mengenai
usaha Heuveldrop dan Krugers. Meskipun percobaan mereka tidak
mengecewakan namun dipasaran nampaknya mereka tidak berhasil. Oleh karena
modal mereka memang tidak terlalu besar, usaha tersebut terpaksa tidak mereka
lanjutkan (Salim, 1991: 26-27).
Sampai tahun 1930 ada delapan perusahaan produksi film di Hindia Belanda,
yaitu The Java Film dan Cosmos Film di Bandung, Tan goean Soan, Halimoen

12
De Locomotief, “Een Nederlandsch Indisch Film Bedrijf”, No. 70 Tahun 1926
Film, Krugers Film Bedrijf, Nansing Film, Batavia Motion Picture, dan Tan’s
Film yang berada di Batavia (Archipel, no.5 tahun 1973).
2). Perkembangan Perfilman di Hindia Belanda (Munculnya Film Bicara)
Pada 1929 di Hindia Belanda diperkenalkan film bicara dengan cerita non
dokumenter kepada penduduk, film itu berjudul The Rainbow Man (Doenia Film
dan Sport, 1929). Film pertama kali dibuat dinegeri ini pada tahun 1927 oleh
orang kulit putih bernama F. Carli dan Kruger. Ketika usaha F. Carli dan Kruger
mengalami hambatan keuangan, orang-orang Tionghoalah yang selanjutnya
mengabil alih. Disini beberapa faktor secara bersamaan membentuk watak bagi
film itu. Pertama, pemilik bioskop dan pemilik modal dan penonton potensial
adalah orang-orang Tionghoa. Kedua, bioskop waktu itu sudah terlebih dahulu
didominasi oleh film impor, artinya selera penonton dibentuk oleh para raja film
Hollywood dan kemudian Shanghai. Ketiga, pada masa itu tontonan umum yang
tradisional adalah sandiwara yang umumnya hanya mempertunjukan cerita
dongeng-dongeng yang nyaris tidak ada hubungannya dengan dunia sekitar kita
(Said, 1991: 21).
Berlainan pada masa sebelumnya pada saat sembarang orang bisa tampil di
depan kamera, kini harus orang pilihan sebab namanya ikut menentukan laku
tidaknya sebuah film. Oleh karena orang toneel yang lazim disebut anak wayang
itu sudah punya nama dan bisa pula bermain, maka mereka di ajak untuk masuk
kedalam pelbagai studio film, itulah riwayat hijrahnya orang panggung ke dunia
film seperti Andjar Asmara, Nyoo Cheong Seng dan istrinya, Fifi Young, Tan
Tjeng Bok, dan sebagainya. Keadaan ini kemudian mengakibatkan dunia pentas
kita masa itu dilanda krisis (Pertjatoeran Doenia dan Film, 1941).
Tahun 1940 sampai 1942 merupakan “ledakan” pertama dalam perfilman. Para
produser film banyak menarik bintang-bintang dari pelbagai perkumpulan toneel.
Pada awal 1940 The Teng Chun13 menarik Dewi Mada alias Miss Nonie dan
suaminya Ferry Kock, bekas aktor Dardanella yang baru saja kembali dari
Amerika, setelah mengikuti rombongan Miss Dja. Perusahaan Oriental Film
mengambil Fifi Young, dan Populer Film mengambil Dhalia. Bintang terkenal
pria juga menyusul ikut diboyong seperti Tan Tjeng Bok, Astaman, Rd. Ismail dan
lain-lain. Orang-orang belakang kamera semakin banyak pula yang diambil dari
panggung, terutama untuk pekerjaan artistik. Nyoo Cheong, Rd. Ariffien 14, Suska,
Andjar Asmara dan Inoe Perbatasari adalah contoh dari tokoh panggung yang
ditarik ke dunia film (Biran, 2009 : 204).
Nampaknya, hubungan dekat antara The Teng Chun dengan Andjar Asmara ini
mulai sejak adanya kontak antara JIF dengan penerbit Poestaka Timoer, Kolf
Buning Jogja untuk membukukan cerita Rentjong Atjeh. Redaksi penerbitan Kolf
itu dipimpin oleh Andjar Asmara. Teng Chun menyukai gagasan-gagasan Andjar,
apalagi saat itu ia sedang membutuhkan seseorang yang betul-betul handal dalam

13
The Teng Chun adalah satu-satunya produser dari masa perintisan yang mampu tetap bertahan dan membuat
film secara berkesinambungan. Perusahaannya, yang kemudian diberi nama Java Industrial Film atau lebih
dikenal dengan singkatan JIF, mampu melampaui masa-masa yang paling sulit.
14
Wartawan yang juga aktif di panggung
memahami selera penonton panggung. Adapun Andjar Asmara sendiri rupanya
sudah ingin berkecimpung di dunia film (Biran, 2009:212-213).
The Teng Chun mengakui bahwa ia mendapat pelajaran banyak dari Andjar
Asmara tentang betapa pentingnya publikasi15. Pada agustus 1940 atas prakarsa
Andjar Asmara, The Teng Chun menerbitkan JIF Journal untuk kepentingan
reklame film Alang-Alang dan Rentjong Atjeh, jurnal tersebut disebarkan disegala
pelosok. Pengeluaran besar untuk publisiti seperti itu belum pernah dilakukan
sebelumnya, akan tetapi hasilnya luar biasa. Rentjong Atjeh yang kurang baik itu
bisa menjadi box office.
Pada penghujung 1940, Andjar memutuskan untuk meninggalkan
pekerjaannya dan melangkah ke dunia film. Masuknya orang-orang panggung
seperti Andjar dan yang lainnya memberikan banyak fikiran baru mengenai
publikasi, wawasan yang luas serta pandangan yang maju mengenai segi
pertunjukan, hal ini disebabkan pengalaman mereka keliling di luar negeri (Biran,
2009 : 220). Andjar telah siap dengan dua cerita yang akan disutradarainya
sendiri, yaitu Kartini dan sebuah cerita Bali. Pada Desember 1940, diputuskan
untuk membuat film Kartini yang kemudian berganti judul menjadi Kartinah,
karena mendapat tentangan dari kaum wanita.
Pembuatan film ini banyak menarik perhatian, menurut Armijn Pane film ini
tidak mengutamakan fungsi film sebagai alat pendidikan dan penerangan,
melainkan lebih dibawa memenuhi selera penonton saat itu, seperti menampilkan
penerbangan yang hanya merupakan efek aksi dan keanehan belaka.
Film kedua yang disutradarai Andjar setelah film Kartinah adalah film Noesa
Peninda pada 1941. Film ini menceritakan tentang tragedi cinta di Bali yang
menonjolkan masalah kasta. Andjar ingin film ini dapat di terima golongan
terpelajar atau kaum pergerakan juga. Pemain utamanya adalah Ratna Asmara dan
Astaman. sayangnya film ini tidak sempat selesai karena Jepang Masuk.
Perubahan besar-besaran dalam pembuatan film di Indonesia selama
pendudukan Jepang itu ternyata mendapat sambutan yang sangat antusias
dikalangan orang-orang perfilman masa itu. Meskipun selama pendudukan Jepang
Andjar Asmara tidak membuat satu film pun suasana baru yang dilihatnya itu
mendorong untuk mengharapkan film bisa memainkan peranan sebagai “alat
pendidik rakyat yang sangat penting”, hal yang tidak terbayangkan pada zaman
sebelum perang. Pada sebuah artikelnya yang penuh semangat pada kesempatan
memperingati enam bulan mendaratnya bala tentara Jepang di Indonesia, Andjar
Asmara mengemukakan antara lain:
Pengaroeh politik djadjahan dimasa jang laloe, jaitoe tjangkokan
Barat jang ditanam dinegeri kita, telah mendasarkan segala
sesoeatoe pada nikmat mentjari oeang dengan pelbagai matjam
djalan, dengan tidak memperdoelikan halal ataoe tidak halalnja,
berdosa ataoe tidaknja terhadap bangsa dan masjarakat.
Toedjoeannja semata-mata oeang…, oeang! Tidaklah heran kaloe
15
Andjar Asmara memperdalam hal ini di Dardanella. Kesan pertama Andjar pada toneel ini pun oleh publisiti
yang unik dari perkumpulan tersebut.
keadaan sematjam ini kita melihat keadaan-keadaan jang pintjang
dalam masjarakat kita, masjarakat jang diperkosa dengan pelbagai
matjam djalan.
Salah satoe djalan oentoek melakoekan politik oeang jang disertai
perkosaan jang mentjolok mata ialah: film! Sesoedahnja Amerika
mendatangkan film-film berkelahi (Western-Films jang digolongkan
rakjat terkenal dengan nama “Film Cowboy”) ke negeri kita, maka
kaoem producers dinegeri ini melihat tanah jang soeboer oentoek
menjebarkan bibit itoe lebih loeas dan … mereka lebih berhasil!
Lebih berhasil karena oemoemnja jang disoeroeh bertinjoe,
mentjopet ataoe menipoe dalam “film berkelahi” itoe adalah bangsa
kita sendiri!
Sekarang zaman berobah.
Dai Nippon menjatakan keinginan hendak meninggikan deradjat
bangsa Asia oemeomnja dan bangsa Indonesia pada choesoesnja.
Langkah-langkah jang telah diambil dengan djalan pendidikan
rakjat oemoem, pendidikan oleh raga dan sebagian telah
memboektikan minat itoe. Dalam soal peroesahaan film toejoean
pemerintah ini tentoe akan mengambil bahagian jang penting poela,
itoelah jang kita harapkan dan kita jakin bahwa alat pendidik jang
sangat penting ini akan mendapat tempat jang seharoesnja diwaktoe
jang akan datang.
Menggoenakan film itoe sebagai alat pendidik, sebagai alat jang
sanagt berpengaroeh oentoek menjebarkan tjita-tjita bangsa,
meninggikan derajat bangsa haroeslah mendjadi sifat dari kaoem
producers, regisseurs dan penoelis-penoelis scenario film (buku
Peringatan Enam Boelan Bala Tentara Dai Nippon di Djawa).16
Bulan Juli 1948 South Pacific Film Corporation memulai produksi
pertamanya, yaitu Djaoeh Dimata yang disutradarai oleh Andjar. Ternyata film ini
sukses diputar di kota-kota yang diduduki Belanda yang memang sedang haus
hiburan. Andjar pun dipercaya kembali membuat film yang kedua. Setelah selesai
pembuatan film Jaoeh Dimata, film kedua berjudul Gadis Desa segera dibuat.

Tabel Jumlah film dan Perusahaan Film di Indonesia dari tahun 1936-1941
16
Andjar Asmara: “film dan Toneel kita” dalam buku Peringatan Enam Boelan Bala Tentara Dai Nippon di
Djawa. Buku aslinya tidak ditemukan lagi, yang tersisa adalah guntingan dari tulisan Andjar Asmara itu yang
kini tersimpan di Sinematek Indonesia.
Tahun Jumlah Produksi Jumlah Perusahaan
1936 2 2
1937 3 2
1938 4 3
1939 4 2
1940 13 7
1941 32 10
Sumber: Archipel. No. 5. 1973. Hal 61 dan 62

c. Akhir Karir di Dunia Pertunjukan


Kenyataan bahwa pemilik modal berada sepenuhnya di tangan orang yang
memang cuma dan semata-mata menganggap film sebagai barang dagangan, harus
diterima sebagai penjelasan terhadap suatu keadaan yang memang tidak
memungkinkan lahirnya film-film yang berorientasi kepada manusia dan
lingkungan sekelilingnya masa itu. Terhadap ini semua ternyata tokoh-tokoh
seperti Saroen, Andjar Asmara, dan lain-lain sama sekali tidak bisa berbuat lebih
jauh dari sekedar melaksanakan kehendak para tauke pemilik modal itu (Said,
1991:43).
Sejarah perfilman di negeri ini sebelum perang memang mencatat nama-nama
seperti Saeoen, Andjar Asmara, Raden Arifin, Soeska, Inoe Perbatasari, dan
sebagainya. Akan tetapi nama-nama ini ternyata sama sekali tidak berhasil
meninggalkan bekas dari usaha mereka mendekatkan film yang dibuat di negeri
ini dengan manusia dan masalah yang dihadapi sehari-hari. Terbukti dari makin
larinya film-film sebelum perang itu dari kenyataan, kemudian akhirnya kembali
ke cerita-cerita stambul sembari sekali-kali menyadur cerita film asing di awal
tahun 40-an.
Setelah menyelesaikan produksi film Gadis Desa Andjar memutuskan untuk
berhenti dari dunia film yang selama ini sudah melambungkan namanya. Hal ini
mungkin disebabkan karena faktor usia yang sudah tidak muda lagi dan tenaga
yang sudah semakin berkurang. Selain itu juga mungkin karena kesibukannya
sebagai direksi di penerbitan Gapura sekitar tahun 1948.

3. Pengabdian Di Masa Tua (1949-1961)


Setelah memutuskan untuk berhenti bekerja di dunia film karena
kesibukannya selaku direksi badan penerbitan Gapura yang mengeluarkan buku-buku
serial Roman Lajar Putih, Andjar tetap mengabdikan hidupnya dalam film dan
jurnalistik hanya saja cara yang dilakukannya sedikit berbeda. Dia masih tetap aktif
menulis di beberapa surat kabar untuk meyampaikan ide-ide yang dimilikinya untuk
perbaikan dunia film di Indonesia. Salah satu tulisannya dalan majalah Star News
Th.IV No. 1 tahun 1955 yang berjudul “Mendjelang Hari Datang: Film Indonesia”,
tulisannya tersebut sebenarnya adalah sumbangan Andjar yang diberikan kepada
Panitia Penyelenggara Festival Film Indonesia Pertama yang dimuat dalam buku
kenang-kenangan festival tersebut.
Melalui tulisannya Andjar mencoba membuat satu tinjauan yang didasarkan
pada kenyataan pada masa itu dan keharusan pertumbuhan di masa datang dengan
melihat kenyataan bahwa industri film kita pada masa itu dalam masa pertumbuhan.
Tinjauan tersebuat berdasarkan atas:
1. Kemajuan teknik film yang harus di kejar;
2. Kelapangan keuangan untuk melaksanakannya;
3. Pengalaman yang mendalam tentang soal regie dan scenario yang didasarkan atas
pengetahuan umum, ilmu jiwa dan ilmu kemasyarakatan;
4. Mutu permainan yang harus dipertinggi;
5. Menemukan corak film yang disukai semua golongan;
6. Bantuan pemerintah dalam soal mendapatkan bahan dan alat-alat dan fasilitas lainnya
yang harus menjadi pendorong bagi produser kita.
Pada kesempatan lain Andjar mengemukakan pendapat-pendapatnya
mengenai penerangan pertunjukan “Ramayana” yang diselenggarakan di Jogjakarta.
Ia mengemukakan bahwa segala kesalahan dan kekurangan yang terjadi dalam
pementasan tersebut menandakan ketiadaannya seorang yang mengerti dalam
mengatur lampu dalam panggung pementasan. Kita tidak tahu dimana letak
kesalahannya tetapi dari cara penerangan yang ia lihat lampu diatur oleh seseorang
yang tidak mengerti jalan cerita atau tidak mengerti apa yang penting dan apa yang
tidak penting, tidak bisa membedakan mana yang tepat harus diberikan penerangan
dan mana yang harus dimatikan. Akibatnya, hasilnya sangat tidak memuaskan dan
mengurangi keindahan pertunjukan. Itulah yang harusnya dipelajari lagi lebih dalam
sehingga bisa memperbaiki kekurangannya, agar segala sesuatu yang ditampilkan
tersebut bisa sempurna (Varia, 23 Agustus 1961).
Tulisan ini menunjukkan bahwa dengan membuat suatu film hiburan yang
baik, orang pun dapat berjasa. Dalam menjadikan tontonan kepada masyarakat harus
ada pelbagai corak, dan harus ada nilai budaya yang dipertahankannya. Peran Andjar
tidak hanya mememberikan penilaian, pemikiran, dan saran untuk kemajuan film
melalui tulisan-tulisannya di beberapa surat kabar. Namun juga ketika masuknya
Andjar Asmara menjadi anggota pertunjukan Dardanella, ia mulai memperkenalkan
dan menggunakan naskah sebagai panduan dalam pertunjukan Dardanella. Andjar
Asmara sebagai penulis naskahnya juga memperkenalkan cerita-cerita yang diambil
dari kehidupan sehari-hari. Penggunaan naskah dalam pertunjukan merupakan ciri
khas dari sandirwara modern saat itu (Soemardjo, 2004: 99-100) dan penggunaan
naskah dalam film masih digunakan hingga sekarang.
Lama tidak muncul Andjar kembali sebagai Pemimpin Redaksi majalah Varia
yang diterbitkan di Jakarta, dibantu oleh Raden Ariffin. Sayang, dalam sejarahnya
majalah Varia yang awalnya berhasil mendapatkan simpati dari sidang pembaca
mengalami masalah. Apalagi setelah Andjar wafat, majalah Varia menjadi terpecah-
pecah (Berita Buana, 1977).
Ketika Andjar meninggal ia masih menjabat sebagai ketua umum dari
gelanggang keseniaan Tjahaja Timoer dan pimpinan redaksi majalah Varia. Ada lima
buah perkumpulan yang mencatat nama Andjar Asmara sebagai anggota, yaitu
Persatuan Wartawan, Serikat Penerbit Surat kabar, Perkumpulan Memadjukan Ilmu
Pengetahuan, Badan Pengetahuan Musjawarah Kebudajaan Nasional, dan Gelanggang
Kesenian Tjahaja Timoer.
Perkumpulan yang dimasukinya ini melukiskan tujuannya sebagai pengarang
dan wartawan, yaitu seni budaya. Tujuan inilah juga yang menyebabkan ia mengambil
putusan pada masa mudanya untuk mengucapkan selamat tinggal pada dunia
perdagangan kopi, lalu memilih lapangan persuratkabaran sebagai langkah pertama
untuk mencapai cita-citanya. Ia sadar bahwa langkah pertamanya ini bukanlah suatu
langkah untuk mendapatkan uang banyak sebagai mana yang diperoleh dari
perdagangan kopi. Namun, cita-citanyalah yang mendorongnya dan membawanya
kepada suatu lapangan pekerjaan di mana suatu hari ia menjadi bintang lapangan itu,
namanya naik ke puncak kemasyhuran, dan hasil karyanya dihargai baik oleh
golongan rakyat jelata maupun golongan rakyat terdidik. Andjar Asmara adalah
seorang pemimpin yang disegani dan nasehatnya diikuti.

SIMPULAN
Andjar Asmara adalah seorang yang sangat mencintai dunia seni. Untuk kecintaannya
tersebut, ia hingga rela meninggalkan pekerjaan dan keluarganya. Oleh karena kecintaannya
terhadap dunia seni inilah ia berusaha mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya hingga
menjadikannya berperan dalam dunia seni yang ia cintai itu. Meskipun untuk menjadi orang
yang berperan dalam dunia seni itu banyak tantangan yang harus dihadapinya, Andjar
seorang yang teguh pendiriannya terus melangkah maju mengabaikan semua tantangan-
tantangan tersebut. Sumbangsih terbesar dari Andjar untuk dunia Sandiwara dan film adalah
ketika ia memperkenalkan penggunaan naskah sebagai pedoman dalam setiap
pementasannya, bahkan penggunaan naskah tersebut dipakai dalam pembuatan film hingga
sekarang.
Oleh karena kecintaannya pada dunia seni itu pula, Andjar Asmara juga senang
mencoba hal-hal yang baru yang berkaitan dengan dunia seni. Hal ini terbukti dengan
beberapa pekerjaan yang pernah digelutinya seperti menjadi seorang wartawan, penulis
cerita, sutradara, hingga menjadi pimpinan redaksi di majalah Doenia Film dan Sport dan
Majalah Varia yang masing-masing adalah majalah yang berhubungan dengan kesenian.
Selain itu, ia juga sempat mendirikan perkumpulan sandiwara sesaat setelah ia keluar dari
Dardanella. Kecintaannya terhadap dunia seni yang begitu besar tentu saja tidak terlepas dari
latar belakang keluarga yang juga pecinta dunia seni

DAFTAR PUSTAKA
Buku
Abdullah, Taufik. 1993. Film Indonesia Bagian I (1900-1950). Jakarta: Dewan Film
Nasional.

Arief, M.Sarief. 2010. Politik Film di Hindia Belanda. Jakarta: Komunitas Bambu.

Bell, Sir Hesketch. 1926. Foreign Colonial Administration in the Far East.

Biran, Misbach Yusa. 2009. Sejarah Film 1900-1950; Bikin Film di Jawa. Jakarta:
Komunitas Bambu.

---------------. Tt. Ichtisar Sejarah Film Indonesia. LPKJ

Brahim. 1968. Drama dalam Pendidikan; suatu tinjauan dengan Pusat Garapan Kumpulan
Sandiwara-Sandiwara Karya Armijn Pane: djinak-djinak Merpati. Djakarta: Gunung
Agung.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke II.
Jakarta: Balai Pustaka.

Gottschalk, Louis. 1985. Mengerti Sejarah. Jakarta : UI Press

Hutari, Fandy. 2009. Sandiwara dan Perang; Politisasi Terhadap Aktivitas Sandiwara
Modern Masa Jepang. Yogyakarta: Ombak.

Jauhari, Haris (ed). 1992. Layar Perak: 90 Tahun Bioskop di Indonesia. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama dan Dewan Film Nasional Jakarta.

Kartodirdjo, Sartono. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta:
Gramedia.

Kayam, Umar. 1981. Seni, Tradisi, Masyarakat. Jakarta: Sinar Harapan.

Kristanto, JB. 2005. Katalog Film Indonesia (1926-2005). Jakarta: Nalar.

K. H, Ramadhan. 1982. Gelombang Hidupku; Dewi Dja dari Dardanella. Jakarta: Sinar
Harapan.

K. M, Saini. 1994. Seni Pertunjukkan Indonesia: Jurnal Masyarakat Seni Pertunjukkan


Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Kosim, E. 1986. Metode Sejarah; Asas dan Proses. Bandung: Fasa UNPAD.

Kurosawa, Aiko. 1993. Mobilisasi dan Kontrol; Studi tentang perubahan sosial di pedesaan
Jawa 1942-1945.Jakarta: Gramedia.

Kurniawan, Fadly. 2007. Komedi Stamboel; Cikal Bakal Teater Modern di Indonesia (1981-
1940) (Skripsi). Jatinangor: Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.
Kuntowijoyo. 1997. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Lubis, H. Nina. 2008. Metode Sejarah. Bandung: Satya Historika.


Nasution, S. 1987. Sejarah Pendidikan Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Oemarjati, Boen Sri. 1971. Bentuk Lakon dalam Sastra Indonesia. Jakarta: Gunung Agung.

Pane, Armijn. 1953. Produksi Film Tjeritera di Indonesia. Jakarta: BKMN.

Said, Salim. 1943. Pantulan Layar Putih; Film Indonesia dalam Kritik dan Komentar.
Jakarta: Sinar Harapan.

---------------. 1991. Profil Dunia Film Indonesia. Jakarta: Grafitikartama.

Sedyawati, Edi. 2006. Budaya Indonesia; Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Jakarta:
Rajagrafindo Persada.

Siregar, Ahmad Sanusi, et al. 1985. Kamus Istilah Seni Drama. Jakarta: Depdikbud.

Soekanto, Soerjono. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Soemardjo, Jakob. 2004. Kesusasteraan Melayu Rendah Masa Awal. Yogyakarta: Galang
Press.

Artikel dalam Majalah dan Surat Kabar

Asby, H. “Karyawan dan Karyanja: Dr.Samsi Andjar Asmara” dalam Pedoman, 3 ,5 ,8 ,dan 9
Djuli 1959.

Arifin, Hasan Noel. “Andjar Asmara dibidang sastra dan kewartawanan”, dalam Varia, 22
November, 20 dan 27 Desember 1961

Asmara, Andjar. “Koendjoengan pada Java Industrial Film”, dalam Pustaka Timur, 1940.

Asmara, Andjar. “Pembikinan Film”, dalam Pertjatoeran Doenia dan Film. 1 Juli 1941.

Asmara, Andjar. “Apakah Ertinja Regie di dalam Film?”, dalam Pertjatoeran Doenia dan
Film 1941.

Asmara, Andjar. “Muziek dalam Film Indonesia”, dalam Pertjatoeran Doenia dan Film.
1September 1941.

Asmara, Andjar. “Crisis Tooneel Indonesia”, dalam Pertjatoeran Doenia dan Film, 1942.

Asmara, Andjar. “Suka duka dibelakang lajar sandiwara; Memories dari Andjar Asmara”,
dalam Pedoman, 3 dan 10 September 1948, 1 dan 29 Oktober 1948.

Asmara, Andjar. Menanti Kasih; “Langkah menudju perbaikan film hiburan”, dalam Aneka, 1
Mei 1950.
Asmara, Andjar. “Mendjelang hari datang: film Indonesia”, dalam Star News, 1959.

Asmara, Andjar. “Opera di Indonesia”, dalam Varia, 14 Djuni 1961.


Asmara, Andjar. “Sinar Bulan Purnama di Prambanan”, dalam Varia, 23 Agustus 1961.

Asmara, Andjar. “Film dan Tonil kita dimasa jang laloe dan dikemoedian hari”, dalam Buku
Peringatan “Enam bulan Bala Tentara Dai Nippon di Djawa”.

“Andjar Asmara meninggal dunia setjara mendadak”, dalam Purnama, 21 Oktober 1961.

Boestami, Boes. “Beberapa tjatatan tentang Andjar Asmara dalam bidang sandiwara” dalam
Varia, 8 November 1961.

De Locomotief, “Een Nederlandsch Indisch Film Bedrijf”, No. 70 Tahun 1926.

Effendi, Roestam. “Hanja semalam; gubahan Andjar Asmara”, dalam Varia 4 Djanuari 1961.

Franken, Manus. “Film Cerita di Indonesia” dalam Cinemagia, 1 Febuari 1950.

Kamidjaja. “Studio Reporter”, dalam Doenia Film dan Sport, 1941.

N, Soebagijo I. “Jagad Wartawan Indonesia: Abisin Abas (Andjar Asmara)”, dalam Berita
Buana. tt.

Risakota, Willy. “Film Dr.Samsi di buat di Calcutta”, dalam Varia, 4 September 1968.

“Special Dardanella Nummer; Dardanella’s Java Big Five”, dalam Doenia Film dan Sport,
15 November 1930.

“The Malay Opera Dardanella”, dalam Doenia Film dan Sport, 1929.

Tzu You. “Tooneel-Melajoe” dalam Sin Po, 2, 9, 16, 23 December 1939.

Z, Kesuma. “Pak Andjar; Tentang film dan perkembangannja sekarang”, dalam Aneka, 1950.

Surat Kabar dan Majalah


Archipel, no.5 tahun 1973
Bintang Betawi, 30 November 1900
Bintang Hindia, 18 Mei 1929
Universal News, 1924
Internet
“Andjar Asmara 1940-1949”
http://indonesianchinemateqhue.blogspot.com/search/label/AndjarAsmara1940-1949.html.
diakses pada 28062010 pukul 19:10:37