Você está na página 1de 10

MK.

Sosiologi Umum (KPM130) Hari/tanggal : Jumat, 22 Februari 2019


Praktikum ke-4 Ruangan : RK. CCR 2.08

Asisten Praktikum :
Aldy Ilham

Kelompok 8

Nama / NIM :
Fauzan Dwicahyo Muzaffar C44180042
Meida Safira C34180049
Naufal Faiz Falah Abdillah E34180099
Risna Candra Rinanda C24180017
Zafira Khoirunnisa C34180082

ANALISIS MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN

TUGAS PRAKTIKUM

1. Analisis bacaan “Rasim, Motor Ekonomi Desa” oleh Megandika Wicaksono, Kompas,
27 Februari 2018” dengan menggunakan alat analisis wujud kebudayaan. Tunjukkan tiga
fakta untuk setiap wujud kebudayaan yang ada pada bacaan diatas!
No Jenis Wujud Wujud Kebudayaan dalam Kutipan dalam Teks
Kebudayaan Teks
1. Idiil (pola 1. Rasim berpandangan bahwa ”Saya terinspirasi kata-kata
bersikap) suatu desa harus dapat Bung Karno tentang desa yang
berdikari, artinya dapat berdikari. Kalau desa mau
mandiri secara ekonomi maju, harus memiliki usaha
supaya desa tersebut maju. sendiri,”

2. Rasim mempunyai gagasan ”Tanah ini adalah ladang tadah


bahwa ladang tadah hujan hujan. Dengan ditanami kelapa
dapat ditanami kelapa genjah, nantinya dapat
ganjah untuk menambah produktivitas gula
meningkatkan kelapa...”
produktivitas desa
Langgongsari.

3. Rasim ingin menerapkan “...bahkan menentang sistem


sistem pertanian pertanian terintegrasi dengan
terintegrasi dengan peternakan yang diusulkan
peternakan di desanya. Rasim.”

2. Aktifitas pola 1. Rasim membangun berbagai “Desa Langgongsari


(pola kelakuan) bidang usaha pertanian, memperoleh dana desa sebesar
perkebunan, perikana, Rp 315 juta pada 2015, Rp 600
hingga agrowisata dari juta pada 2016, dan Rp 922
dana desa yang didapatkan. juta pada 2017. Rasim
menggunakannya untuk
membangun berbagai bidang
usaha, mulai dari pertanian,
perkebunan,perikanan,
peternakan...”

2. Desa Langgongsari bekerja “Desa Langgongsari


sama dengan Perhutani dan mendapatkan akses air bersih
Dinas Cipta Karya untuk melalui kerja sama dengan
menyediakan air bersih Perhutani dan Dinas Cipta
bagi warga desa. Karya.”

3. Rasim bersosialisasi ke “Ia datangi pertemuan-


warga desa untuk pertemuan
mengelola usaha sistem RT untuk memberikan
pertanian terintegrasi. pemahaman tentang manfaat
2. Analisis kebudayaan mahasiswa daerah dengan menggunakan alat analisis unsur
kebudayaan (Kluckhohn 1953) dan wujud kebudayaan (Koentjaraningrat 1979; Redfield
1956).

Analisis menurut unsur kebudayaan (Kluckhohn 1953)

1. Sistem religi
Sistem religi di Bali tidak hanya agama Hindu saja, melainkan di Bali juga terdapat
semua agama yang ada di Indoneisa. Masyarakat di Bali juga banyak yang menganut
agama selain Hindu, tetapi sebagian besar memang masyarakat di Bali menganut agama
Hindu. Hal ini dikarenakan agama Hindu adalah agama pertama kali yang diperkenalkan
ke masyarakat Bali. Ajaran ini dibawah oleh para pendeta dari India yang berkelana di
Nusantara dan kemudian memperkenalkan sastra Hindu-Buddha kepada suku Bali
berabad-abad yang lalu. Masyarakat menerimanya dan mengkombinasikannya dengan
mitologi pra-Hindu yang diyakini mereka.

Suku Bali Hindu percaya adanya satu Tuhan dengan konsep Trimurti yang terdiri atas
tiga wujud, yakni sebagai berikut :

 Brahmana : menciptakan;
 Wisnu : yang memelihara;
 Siwa : yang merusak.

Tempat ibadah agama Hindu disebut pura. Pura di Bali memiliki sifat berbeda-beda,
antara lain :

 Pura Besakih: sifatnya umum untuk semua golongan.


 Pura Desa (kayangan tiga): khusus untuk kelompok sosial setempat. Pura ini
merupakan pura yang wajib ada di setiap desa di daerah Bali. Masyarakat Bali
melakukan semua kegiatan yang berhubungan dengan keagamaan di pura ini.
Misalnya kegitan ibadah hari raya Nyepi atau hari raya Galungan.
2. Upacara religi
 Upacara Hari Raya Nyepi
Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun Baru Saka, atau
setiap 320 tahun sekali. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang
dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera
yang membawa intisari amerta air hidup.

Rangkaian Upacara Hari Raya Nyepi antara lain :

a) Upacara Melasti

Upacara Melasti adalah upacara penyucian yang dilakukan 2-3 hari sebelum
Hari Raya Nyepi.

b) Ogoh-ogoh

Tepat sehari sebelum Hari Raya Nyepi, masyarakat Bali akan melakukan
pawai Ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh biasanya dibuat jauh-jauh hari sebelum Nyepi.
Ogoh-ogoh adalah sebuah patung raksasa simbol dari Bhuta Kala yang biasa
digambarkan sebagai wujud kejahatan dan menyeramkan. Di akhir parade, ada
masyarakat yang membakar ogoh-ogoh untuk mengusir roh jahat agar tidak lagi
mengganggu persiapan untuk perayaan Nyepi di keesokan harinya.

c) Puncak perayaan Nyepi

Setelah melakukan Upacara Melasti dan pawai ogoh-ogoh, pada keesokan


harinya, masyarakat Bali akan merayakan Nyepi. Saat Nyepi, seluruh tempat di
Bali ditutup. Tidak boleh ada yang melakukan aktivitas apapun di luar rumah,
bahkan tempat wisata yang biasanya ramai pengunjung akan terlihat sepi. Hal
ini karena umat Hindu di Bali melakukan Catur Brata Penyepian. Kegiatan
tersebut terdiri dari amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak
melakukan pekerjaan), amati lelanguan (menghentikan kesenangan), amati
lelungaan (tidak berpergian).
d) Ngembak Geni

Sehari setelah Hari Raya Nyepi, masyarakat Bali akan melakukan upacara
Ngembak Geni dengan bersembahyang di pura. Dalam Ngembak Geni,
masyarakat diperbolehkan untuk melakukan aktivitas seperti biasa. Setelah
selesai, mereka akan melakukan dharma shanti, yakni ketika orang-orang saling
meminta maaf dan memaafkan satu sama lain.

 Upacara Ngaben
Ngaben adalah upacara pembakaran jenazah yang dilakukan untuk
menyempurnakan jenazah. Upacara ini dilakukan jika ada orang yang meninggal
baik secara langsung maupun tidak. Biasanya orang-orang dengan tingkat ekonomi
tinggi bisa melakukan Ngaben dalam waktu relatif cepat atau sekitar 3-7 hari saja.
Ngaben jenis ini disebut juga dengan Ngaben Sawa Wedana. Pada Ngaben jenis ini
individu yang telah meninggal akan dibakar sesuai dengan tanggal baik yang telah
ditentukan oleh pendeta. Saat menunggu upacara Ngaben berlangsung, jenazah akan
disimpan dalam peti terlebih dahulu di tempat kediaman keluarganya. Jenazah yang
akan dibakar akan di hias terlebih dahulu sesuai dengan adat Bali, seperti memakai
kebaya bagi jenazah perempuan.
Ngaben jenis lain yang sering dilakukan di Bali adalah Ngaben Asti Wedana di
mana jenazah telah dikubur terlebih dahulu sehingga kelak yang dibakar hanyalah
tulangnya saja atau apabila tulang jenazah sudah tidak ada maka prosesi Ngaben
hanya memakai perumpamaan tanah kuburnya saja. Ngaben jenis ini biasanya
dilakukan secara massal oleh satu desa. Pelaksanaan ngaben ini dilakukan menunggu
waktu yang cukup lama karena keluarga mungkin terbentur masalah biaya atau
aturan adat desa yang mengikat.

 Upacara Galungan Kuningan


Umat Hindu di Bali merayakan Galungan setiap 210 hari dengan
menggunakan penghitungan kalender Bali. Galungan merupakan bentuk peringatan
kemenangan dharma atau kebaikan melawan adharma atau kejahatan. Galungan
dapat dimaknai sebagai bentuk keheningan atas kemakmuran dan kesejahteraan yang
dilimpahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Galungan merupakan tangga menuju
kehidupan yang lebih bersih. Diharapkan pada hari ini, pikiran yang suci dan bersih
dapat menghilangkan semua pengaruh yang membawa dampak negatif.

 Upacara Bulan Purnama dan Upacara Tilem (bulan mati)


Sesuai dengan namanya pelaksanaan upacara ini berlangsung saat bulan
Purnama, yaitu jatuh pada setiap malam bulan penuh (Sukla Paksa). Rerahinan
Purnama jatuh setiap 30 hari atau 29 hari sekali. Pada hari ini seluruh pura-pura di
Bali biasanya ramai oleh umat yang melakukan persembahyangan.

Tilem adalah rerahinan atau hari suci bagi umat Hindu, dirayakan untuk
memohon berkah dan karunia dari Ida Sang Hyang Widhi. Tilem dirayakan setiap
malam pada waktu bulan mati (Krsna Paksa). Hari suci Tilem dirayakan setiap 30
atau 29 hari sekali. Pada hari suci Tilem, bertepatan dengan Sanghyang Surya
beyogya memohonkan keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi.

3. Sistem dan organisasi kemasyarakatan


Masyarakat di Bali tidak murni hanya dari suku Bali saja, tetapi juga sudah banyak
pendatang dari daerah-daerah lain yang menetap tinggal di Bali. Dahulu masyarakat Bali
memang menerapkan sistem kasta, tetapi seiring dengan berkembangnya jaman, sistem
tersebut lama-kelamaan sudah mulai pudar. Semua individu dianggap sama, baik yang
dari kalangan biasa maupun dari kalangan yang memiliki tingkat ekonomi yang tinggi.
Terdapat aturan khusus dalam pernikahan masyarakat Bali yaitu wanita harus mengikuti
pria. Apabila si wanita memiliki kasta dan si pria tidak, maka wanita tersebut akan
mengikuti jejak suaminya yang tidak memiliki kasta. Berlaku juga sebaliknya apabila si
wanita tidak memiliki kasta, sedangkan si pria memiliki kasta, maka si wanita tersebut
juga akan memiliki kasta yang sebanding dengan suaminya. Kasta dalam masyarakat
Bali adalah suatu tingkatan masyarakat yang digolongkan berdasarkan jeni-jenis tertentu.

Organisasi kemasyarakatan antara lain :


 Truna truni merupakan organisasi anak-anak muda di desa seperti karang taruna.
Organisasi ini biasanya yang mempersiapkan segala kegiatan desa di pura. Misalnya
acara Hari Raya Nyepi, Galungan atau acara adat lainnya.
 Kesenian belajar ngegong merupakan perkumpulan warga desa yang difokuskan
untuk belajar kesenian gamelan Bali.
 PKK ibu-ibu desa yang biasanya akan melakukan penyambutan-penyabutan tamu
penting. PKK ibu-ibu desa ini juga melakukan berbagai kegiatan ibu-ibu di desa,
misalnya kegiatan untuk mempersiapkan acara adat.
 Organisasi keamanan yang biasanya dijalankan oleh bapak-bapak.

4. Sistem Pendidikan
Pendidikan di Bali sudah maju, hal ini terbukti dari sistem pendidikan di Bali dari Tk
sampai SMA sudah terdapat di desa-desa kecil. Pemerintah Bali juga sangat
meperhatikan pendidikan. Terdapat banyak beasiswa-beasiswa yang diberikan oleh
Pemerintah Bali untuk kalangan yang kurang mampu secara eknomi. Selain itu
pendidikan di Bali juga memfokuskan di bidang pariwisata, disana terdapat Sekolah
Tinggi Ilmu Pariwisata yang sejajar dengan perguruan tinggi.

5. Bahasa
Bahasa sehari-hari yang digunakan di Bali adlah bahasa Bali, setiap daerah memiliki
logatnya masing-masing. Bahasa Bali halus terdapat di Kabupaten Gianyar dan Bahasa
Bali kasar terdapat di Kabupaten Buleleng.

6. Kebudayan Masyarakat
Kebudayan Masyarakat Bali antara lain tari Pendet merupakan tari penyambutan
yang ditujukan untuk menyambut tamu-tamu agung, tari kecak (tari saklar yang diakui
oleh masyarakat Bali) merupakan salah satu jenis tari pertunjukan. Tari Sembayang
Rejang juga merupakan salah satu jenis tari pertunjukan. Adapun tari yang digunakan
untuk pertunjukan pariwisata salah satunya adalah tari Barong, tarian ini biasanya
ditampilkan kepada wisatawan-wisatawan yang datang ke Bali. Leak bukan kesenian,
tetapi adalah suatu iblis yang dianggap mengerikan bagi masyarakat Bali.

7. Pekerjaan
Sebagian besar masyarakat Bali memiliki mata pencaharian sebagai petani. Selain
padi, pertanian yang lain yaitu palawija, kopi, dan kelapa. Peternakan di Bali juga maju,
yaitu ternak babi dan sapi. Selain itu juga dikembangkan peternakan kambing, kerbau,
dan kuda. Perikanan juga dikembangkan antara lain perikanan darat dan laut, perikanan
laut terdapat di pinggir pantai. Para nelayan menggunakan jangkung (perahu penangkap
ikan) untuk mencari ikan tongkol, udang, dan cumi-cumi. Di Bali juga banyak terdapat
industri kerajinan, kerajinan yang dibuat meliputi: benda-benda anyaman, kain tenun,
pabrik rokok, dan tekstil. Selain itu juga banyak perusahaan yang menjual jasa, seperti
biro perjalanan, hotel, rumah makan, taksi, dan toko kesenian. Tempat usaha terbesar
terdapat di Gianyar, Denpasar, dan Tabana. Dikarenakan di Bali sebagian besar
didonimasi oleh pariwisata, sehingga banyak masyarakat yang bekerja disektor
pariwisata. Selain itu masyarakat juga banyak yang bermatapencaharian sebagai
pedagang ataupun wiraswasta.

8. Sistem Teknologi dan Peratalatan


Di Bali sistem teknologi sudah maju, listrik sudah sangat baik berkembang di
daerah-daerah terpencil. Peralatan teknologi lainnya pun sudah mengalami kemajuan
semisal gadget maupun alat elektronik lainnya.
Analisis Wujud Kebudayaan (Koentjaraningrat 1979 & Redfield 1956)

Wujud Kebudayaan Idiil Wujud Kebudayaan Wujud Kebudayaan


Aktivitas Fisik
Wujud idiil kebudayaan Wujud kebudayaan Hasil kebudayaan
masyarakat Bali dapat dilihat aktivitas masyarakat Bali masyarakat Bali yang paling
pada nilai-nilai/norma-norma seperti ritual upacara terkenal adalah tas rotan,
masyarakat Bali yang masih keagamaan. Misalnya baju barong, ukir-ukiran
mengacu ke adat. Di Bali Upacara Nagben, Upacara khas Bali, pahatan dari kayu
masyarakat yang beragama Hari Raya Galungan atau batu, dan kain-kain
Hindu sangat menghormati Kuningan, Upacara Bulan tenun khas budaya Bali.
masyarakat yang beragama lain, Purnama dan Tilem, dan Selain itu makanan khas
toleransi agama sangat dijunjung Upacara Hari Raya Nyepi. Bali seperti pay susu, ayam
tinggi. Selain itu, terdapat empat Selain itu, wujud kebudayaan betutu, dan sate lilit. Wujud
kasta dalam masyarakat Bali ini dapat dilihat pada acara kebudayaan berupa fisik
yang diambil dari sistem warna, penyambutan tamu-tamu juga dapat dilihat pada
yaitu Brhmana, Ksatria, Waisya, agung yang disambut dengan patung ogoh-ogoh yang
dan Sudra. Dari keempat kasta tarian-tarian adat Bali seperti digunakan sebagai simbol
tersebut yang paling tertinggi Tari Pendet dan Tari kejahatan saat prosesi
adalah kasta Brahmana. Sembayang Rejang. Upaara Galungan.
Brahmana adalah kasta tertinggi
yang perintahnya harus ditaati
dan didengar. Golongan ini
terdiri dari golongan pendeta dan
pimpinan agama. Golongan
Ksatria terdiri dari para
bangsawan. Golongan Waisya
terdiri dari para pedagang. Kasta
Sudra menjadi kasta yang paling
rendah kedudukannya dan harus
melayani kasta-kasta diatasnya.
Pada saat ini, sistem kasta di
Bali sudah tidak menjadi acuan
dalam kehidupan masyarakat
Bali. Hal ini dikarenakan
semakin berkembangnya jaman
dan saat ini masyarakat Bali
yang ada tidak murni dari
masyarakat Bali sendiri
melainkan sudah banyak
pendatang dari daerah lain yang
menetap di Bali. Wujud
kebudayaan idiil pada
masyarakat Bali yang lain dapat
pula dilihat dari sistem
perkawinan masyarakat Bali.
Terdapat aturan khusus dalam
pernikahan masyarakat Bali
yaitu wanita harus mengikuti
pria. Apabila si wanita memiliki
kasta dan si pria tidak, maka
wanita tersebut akan mengikuti
jejak suaminya yang tidak
memiliki kasta. Berlaku juga
sebaliknya apabila si wanita
tidak memiliki kasta, sedangkan
si pria memiliki kasta, maka si
wanita tersebut juga akan
memiliki kasta yang sebanding
dengan suaminya.