Você está na página 1de 9

AKUNTANSI PERHOTELAN

RUANG LINGKUP DAN STRUKTUR


ORGANISASI USAHA PERHOTELAN
SAP 2

OLEH KELOMPOK 3:

Ni Kadek Lia Indahyani (1607532081)


Ni Kadek Dwi Aryandari (1607532086)
Alif Noer Wahyuni (1607532092)

PROGRAM REGULER DENPASAR


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2019
1
Ruang Lingkup dan Struktur Organisasi Usaha Perhotelan

Jawaban Soal-soal:
1. Berdasarkan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
No.PM.53/MH.001/2013, tentang Standar Usaha Hotel menyebutkan hotel adalah usaha
penyediaan akomodasi berupa kamar-kamar di dalam suatu bangunan, yang dapat
dilengkapi dengan jasa pelayanan makan dan minum, kegiatan hiburan dan/atau fasilitas
lainnya secara harian dengan tujuan memperoleh keuntungan,
Keputusan Menparpostel No.KM 37/PW.340/MPPT-86, tentang peraturan usaha
dan penggolongan hotel menyebutkan hotel adalah suatu jenis akomodasi yang
mempergunakan sebagian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa penginapan,
makanan dan minuman serta jasa penunjang lainnya bagi umum yang dikelola secara
komersial.

2. Kata hotel dulunya berasal dari kata Hospotium (Bahasa Latin) artinya ruang tamu.
Dalam jangka waktu lama kata hospitium mengalami proses perubahan pengertian dan
untuk membedakan antara Guest Room dan Mosion House yang berkembang pada saat
itu, maka rumah-rumah besar disebut hostel. Kata hostel lambat laun dihilangkan orang,
sehingga kata hostel berubah menjadi hotel seperti yanf dikenal sekarang.
Pada tahun 3000 Sebelum Masehi telah ada penginapan pertama yang berbentuk
“inn”, yaitu rumah-rumah pribadi dengan beberapa kamar yang disediakan bagi pejalan
kaki untuk istirahat atau tidur. Kemudian tahun 961 Sesudah Masehi, di Swiss-Alpine,
Agustinian Monks membangun hotel Le Grand Saint Betnard Hospice yang
diperuntukkan bagi orang yang berziarah dari dan ke Roma.
City Hotel dibangun pertama kali di New York pada tahun 1794. Tahun 1800-an,
Amerika menjadi negara pengembang usaha hotel yang utama, tapi karena harganya
mahal hanya kaum hartawan yang dapat menikmati menginap di hotel mewah bergaya
Eropa. Kemudian pada tahun 1829, Hotel Tremont House di Boston Amerika yang
pertama kali melengkapi hotelnya dengan lobby dan menyediakan kamar privat dengan
pintu kamar dipasang kunci pengaman.

2
Awal tahun 1990-an, pelayanan hotel secara professional mulai dikembangkan
oleh Ellswort M. Statler, seorang operator hotel Amerika, yang melengkapi kamar
dengan kamar mandi privat dan kaca rias yang lebar. Pada pertengahan tahun 1900-an,
mulai berkembangnya hotel-hotel yang dikelola oleh suatu mata rantai pengelola usaha
hotel (individua tau suatu perusahaan yang memiliki beberapa hotel).

3. Faktor-faktor yang menentukan penggolongan usaha perhotelan, yaitu:

Tipe Hotel Berdasarkan Tipe dan Kategori


No Dasar Pengelompokan Tipe atau Kategori
1 Kelas atau tingkatan Hotel Melati
Hotel Bintang satu (*)
Hotel Bintang dua (**)
Hotel Bintang tiga (***)
Hotel Bintang empat (****)
Hotel Bintang lima (*****)
2 Lamanya tamu menginap Transient Hotel
Residiential Hotel
Resort Hotel
3 Lokasi Hotel Resort Hotel
City Hotel
4 Jaringan Pemasarannya International hotel chains
National hotel chains
Independen hotel
5 Tipe harga kamar (plan) European Plan (EP)
Amerika Plan (AP)
Continental Plan (CP)
Bermuda Plan (BP)
6 Kepemilikan dan manajemennya Propretary ownership
Franchise
Manageent Contract
7 Jumlah tempat tidur di kamar Singel Room
Twin Room
Double Room
Triple Room
8 Menurut harga dan fasilitas Standard Room
Superior Room
Moderate Room
Suite Room
Penthouse
Junior suite room
President suite room

3
9 Segi status (pihak pengelola) Hotel owner
Hotel operator
Hotel franchisor
Standart usaha hotel merupakan rumusan kualifikasi atau penggolongan usaha hotel yang
mencakup:
a. Aspek produk,
b. Aspek pelayanan, dan
c. Aspek pengelolaan hotel.
Penilaian standart usaha hotel digunakan untuk melakukan penggolongan kelas
hotel bintang dan non bintang berdasarkan persyaratan dasar, kriteria mutlak dan kriteria
tidak mutlak.

4. Struktur organisasi menunjukkan suatu tingkatan hirarkis, di mana dari struktur


organisasi tersebut dapat diketahui bagian-bagian yang ada di hotel, hubungan antara
bagian di hotel serta hubungan antara atasan dan bawahan. Dasar penyusunan organisasi
antara hotel yang satu dengan hotel lainnya mempunyai kesamaan, karena setiap hotel
mempunyai produk layanan yang sama, yaitu: sewa kamar, makanan dan minuman,
sport, kasino dan produk lainnya. Akan tetapi bentuk dan luas organisasi hotel antara
hotel yang satu dengan hotel yang lain akan berbeda. Perbedaan tersebut disebabkan
karena adanya perbedaan:
a. Type dan jenis hotel
b. Size hotel
c. Fisik bangunan hotel
d. Kemampuan tenaga kerja yang ada di dalamnya
e. Sistem manajemen dan pengelolaan yang diberlakukan

Struktur organisasi dirancang sesuai dengan kebutuhan hotel, semakin besar dan
lengkap fasilitasnya maka struktur organisasinya juga semakin komplek. Berdasarkan
struktur organisasi dapat ditentukan perkiraan jumlah karyawan yang dibutuhkan secara
keseluruhan. Struktur organisasi pada hotel biasanya disusun berdasarkan fungsionalnya,
seperti: marketing, accounting, personel, dan produksi. Struktur organisasi merupakan
bagan organisasi dan rantai perintah.

4
5. Adapun departemen-departemen yang ada pada usaha hotel adalah:

Room Departement
a. Front Office, berfungsi dalam memberikan pelayanan pada bagian depan hotel
b. Room Division, berfungsi dalam administrasi yang berkaitan dengan kamar
c. Housekeeping, berfungsi dalam masalah penyiapan dan pembersihan kamar
d. Reservation, berfungsi dalam menerima reservasi dari tamu atau agen
e. Roommaid/Roomboy, berfungsi dalam menyiapkan dan membersihkan kamar
f. Bellboy, berfungsi dalam memberikan pelayanan mengantar dan membantu tamu
membawa barang
g. Operator, berfungsi dalam memberikan pelayanan melalui telepon.

Food & Beverage Departement


a. Cook, berfungsi dalam menyiapkan menu sesuai order dan bertugas pada F&B
produksi
b. Steward, berfungsi dalam membantucook dan membersihkan peralatan di dapur
c. Waiter/Waitress, berfungsi dalam memberikan pelayanan pada tamu dan bertugas
pada F&B service

Accounting Departement
a. General Cashier, berfungsi mengadministrasikan penerimaan dan pengeluaran kas
dan bertugas pada back office
b. Income Auditor, berfungsi dalam melaporkan pendapatan hotel dan bertanggung
jawab atas pengendaliannya
c. Credit, berfungsi dalam melakukan analisa kredit dan kebutuhan modal kerja hotel
d. Staff (Account Recievable, Account Payable), berfungsi dalam membantu
pengadministrasian piutang dan hutang
e. Bookkeeper, berfungsi dalam membuat penyesuaian dan memposting data akuntansi
serta menyusun laporan keuangan
f. Marketing/Sales, berfungsi dalam administrasi pemasaran hotel
g. Personnel, berfungsi dalam administrasi karyawan hotel

Minor Departement
a. Operator, berfungsi dalam memberikan pelayanan telepon
b. Laundry, berfungsi memberikan pelayanan laundry
c. Sport, berfungsi memberi pelayanan fasilitas olah raga
d. Sauna dan lain-lain

5
Fungsi Lain
a. Purchasing, berfungsi melakukan pembelian barang keperluan hotel
b. Security, berfungsi menjaga keamanan hotel
c. Houseman, berfungsi melakukan pembersihan area di luar kamar

Jawaban Kasus dan Latihan:


1. Kami disini memilih Desa Katung Kintamani Bangli, karena salah satu anggota
kelompok kami berasal dari daerah tersebut. Kintamani memiliki daya tarik Pariwisata
yang tinggi sehingga tidak jarang wisatawan yang datang ke Pulau Bali khususnya ke
obyek wisata Kintamani hanya untuk menikmati keindahan alam yang ada di bali.
Kintamani selain terkenal karena banyak keindahan alam seperti Danau Batur dan
Gunung Batur yang memiliki keindahan alam yang sangat memukau bagi wisatawan.
Selain obyek wisatanya yang sudah terkenal Kintamani juga memiliki ciri khas dengan
hasil perkebunanya. Disini kita mengambil daerah Desa Katung Kintamani Bangli. Di
daerah tersebut menghasilkan hasil perkebunan yang sangat melimpah, seperti buah
jeruk, sayur kol, sawi, terong, jeruk peras, jagung, labu siam, cabai kecil dan masih
sangat banyak yang lainnya. Di daerah tersebut masih dapat dikatakan budaya bali asli,
karena masih kentalnya budaya terdahulu yang khususnya di Desa Adatnya. Masyarakat
disana umumnya menyambung hidup dengan bertani dan berdagang. Contohnya bulan
Juli sampai September di Desa Katung Kintamani panen buah jeruk yang cukup banyak.
Dari pengamatan tersebut, jika kita sebagai pengusaha di bidang pariwisata, maka kami
akan mengembangkan restaurant dan pengelolaan obyek wisata. Kami memilih
pengembangan tersebut, dari pertimbangan beberapa aspek:
1) Dari aspek pemasaran. Pengembangan restaurant dan pengelolaan obyek wisata
dapat dipasarkan kepada wisatawan, mengingat banyak wisatawan yang
berkunjung ke daerah Kintamani untuk berwisata.
2) Dari aspek teknis dan teknologi. Dari pengembangan yang lain, masyarakat di
daerah tersebut dapat belajar mengenai teknologi lebih mendalam dan membantu
mempromosikan restaurant dan obyek wisata yang lain akan dikembangkan
melalui internet dan social media.

6
3) Dari aspek lingkungan. Mengingat daerah Kintamani masi asri dan jauh dari
polusi serta daerah ini memiliki keindahan alam yang sangat indah, perkebunan
yang sangat sejuk sehingga kita kalau berada di daerah tersebut akan merasa
sangat nyaman.
4) Dari aspek ekonomi dan sosial. Pengembangan restaurant dan pengelolaan
obyek wisata dapat membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar, mengingat
daerah tersebut masih terbilang aman dan jauh dari kejahatan sosial. Bagi warga
yang bertani dapat menitipkan hasil taninya untuk dijual di restaurant kemudian
diolah menjadi makanan dan minuman, sehingga dapat dimanfaatkan menjadi
daya tarik obyek wisata. Selain itu juga banyak masyarakat yang menjualnya
langsung ke pasar.

2. Menurut pendapat kelompok kami, keluhan yang dialami pelaku pariwisata tersebut
adalah wajar. Apabila pemerintah mengeluarkan larangan instansi pemerintah
menyelenggarakan meeting atau rapat dihotel, maka hal tersebut akan sangat merugikan
pelaku pariwisata. Pendapatan di daerah tersebut juga akan mengalami penurunan,
terutama pendapatan usaha perhotelan itu sendiri. Dimana pendapatan utama perhotelan
bersumber dari meeting, incentive, convention, and exhibiton (MICE). Sebaiknya
pemerintah mengkaji ulang larangan tersebut, karena akan sangat merugikan banyak
pihak terutama pelaku pariwisata.
Pelaku pariwisata sangat menyayangkan larangan terhadap instansi pemerintah
mengadakan kegiatan dinas di hotel, kami menilai hal itu mematikan dunia usaha
khususnya perhotelan di daerah. Dengan keluarnya larangan tersebut, terutama bagi
instansi pemerintah yang berada di daerah, seperti kabupaten/kota dan provinsi, maka
secara otomatis pendapatan pihak hotel dan restoran yang mengandalkan dari pemberian
fasilitas hotel untuk MICE akan menjadi hilang. Kalau instansi pemerintah tidak boleh
mengadakan pelatihan atau acara lain di hotel, maka bisnis usaha hotel dan restoran akan
mati secara perlahan. Sebab sekitar 50 persen dari pendapatan hotel diperoleh dari
kegiatan-kegiatan instansi pemerintah.
Kebijakan larangan pemerintah tersebut harus ditinjau kembali, karena berpotensi
besar mematikan usaha jasa hotel di daerah. Namun, di sisi lain pemerintah juga tidak

7
mempunyai cukup dana untuk mengadakan rapat-rapat pemerintahan di hotel maupun
restoran. Sebaiknya pemerintah mencarikan solusi untuk mengatasi hal tersebut agar
tidak merugikan salah satu pihak. Dengan cara pemerintah menggandeng pihak ketiga
sebagai sponsor. Ada beberapa daerah yang memakai skema serupa sukses menghemat
anggaran tapi tingkat okupansi hotel tetap penuh. Sehingga pemerintah masih bisa
menghemat anggaran Negara, tapi di sisi lain tidak juga mematikan usaha masyarakat
perhotelan.

8
REFERENSI

Widanaputra, AAGP., Suprasto, H Bambang., Ariyanto, Dodik., Sari, Maria M Ratna.2009.


Akuntansi Hotel (Pendekatan Sistem Informasi).Yogyakarta:Graha Ilmu.