Você está na página 1de 15

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

“PAGET’S DISEASE”

Oleh :

Kelompok VIII

1. Rosmianti 5. Sudarman

2. Narniati 6. Rudiansa

3. Reny Herfa Putri 7. Sarniy

4. Tety 8. Sulfaningsih Aprymawati

Kelas F4 Keperawatan

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

MANDALA WALUYA

KENDARI

2014
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, sebagai wujud kefitraan hati, penyusun menghaturkan sembah sujud, dan puji syukur
kehadirat Allah S.W.T. sekaligus penghambaan kepada-Nya, serta shalawat dan salam penyusun
tunjukan kepada Nabi Muhammad S.A.W sebagai junjungan penyusun, sehingga penyusun
dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Pasien Penyakit
Paget” dengan tepat waktu.

Dalam penyelesaian makalah ini tidak luput penyusun mengucapkan terima kasih kepada teman-teman,
atas segala bantuan, saran, arahan, serta dukungan yang diberikan sebagai motivasi sehingga kita
semua dapat menyelesaikan makalah ini. Sesuai dengan judul makalah ini yaitu “Asuhan Keperawatan
Pada Pasien Penyakit Paget”, makalah ini menguraikan tentang asuhan keperawatan alzheimer yang
terjadi pada lansia.

Penyusun menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kekeliruan dalam penyusunan makalah ini,
hal ini disebabkan oleh keterbatasan penyusun dalam segi pengetahuan, tenaga, materi, maupun
waktu. Oleh karena itu, saran, kritikan, dan sebagainya yang bersifat membangun sangat dibutuhkan
demi kesempurnaan makalah ini.

Kendari, April 2014

Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman Sampul ................................................................................................................. i

Kata Pengantar .................................................................................................................. ii

Daftar Isi ........................................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

a. Latar Belakang..........................................................................................1

b. Rumusan Masalah .................................................................................... 2

c. Tujuan Penulisan ...................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN TEORI

a. Defenisi ...................................................................................................... 2

b. Etiologi ....................................................................................................... 2

c. Manifestasi Klinis .......................................................................................3

d. Patofisiologi ................................................................................................4

e. Pemeriksaan Penunjang..............................................................................4

f. Penatalaksanaan ........................................................................................ 5

g. Komplikasi ................................................................................................ 6

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

a. Pengkajian .................................................................................................. 7

b. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan ..................................................8-13

c. Implementasi...............................................................................................13

d. Evaluasi......................................................................................................13
BAB IV PENUTUP

a. Kesimpulan ............................................................................................. 14

b. Saran ....................................................................................................... 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit paget merupakan penyakit gangguan pada osteoklas dimana osteoklas lebih aktif dibanding
osteoblast, sehingga terjadi absorbsi tulang yang berlebihan dan diikuti oleh pembentukan tulang baru
yang juga berlebihan oleh osteoblas. Tulang menjadi lebih besar dari normal, namun struktur dalam
tulangnya sangat kacau. Hal ini dapat menyebabkan nyeri tulang, deformitas, dan kerapuhan tulang.
Sampai saat ini penyebab penyakit paget masih belum diketahui secara pasti. Selain itu, penyakit paget
juga mempunyai tanda dan gejala yang sangat susah untuk diketahui sejak dini, karena tanda dan gejala
awal yang muncul sangat susah dibedakan dengan penyakit tulang lainnya. Sehingga sebagian besar
penderita penyakit ini mengetahui bahwa dirinya menderita penyakit paget secara pasti setelah adanya
pemeriksaan-pemeriksaan yang mendukung untuk penyakit ini. Oleh sebab itu, diperlukan pembelajaran
yang lebih lanjut dalam memahami penyakit paget ini.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana konsep medis paget’s disease ?

2. Bagaimana konsep asuhan keperawatan paget’s disease ?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah :

a. Mahasiswa mampu memahami pengertian, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, pemeriksaan


penunjang, penatalaksanaan , dan komplikasi penyakit paget.

b. Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, pemeriksaan


penunjang, penatalaksanaan , dan komplikasi penyakit paget.

c. Meningkatkan pengetahuan dan menemukan wawasan tentang keperawatan khususnya Asuhan


Keperawatan pada pasien gangguan Sistem Skeletal (penyakit paget).
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi

Penyakit Paget (Osteitis Deformans) merupakan salah satu gangguan metabolisme tulang yang ditandai
dengan proses remodelling tulang yang abnormal. Penyebabnya masih belum diketahui secara pasti,
namun umumnya abnormalitas fungsi osteoklast atau osteoblast pada penderita penyakit paget menjadi
sangat aktif sehingga mengubah homoestasis normal dari remodelling tulang. Laju pertumbuhan tulang
lebih cepat dari seharusnya, sehingga tulang bisa berubah bentuk, lunak dan rentan terhadap patah
tulang. Kelainan ini dapat mengenai tulang manapun, tetapi yang paling sering terkena adalah tulang
panggul, tulang paha, tulang tengkorak, tulang kering, tulang belakang, tulang selangka dan tulang
lengan atas.

Penyakit Paget dibagi menjadi tiga fase yaitu:

1. Fase Osteolitik, ditandai dengan resorpsi tulang oleh sejumlah osteoklast yang abnormal. Kemudian
adanya reaksi dari osteoblast dalam memproduksi tulang baru secara berlebihan namun sangat tidak
terkontrol.

2. Fase Menengah Pada tahap ini aktivitas osteoblast mendominasi. Hal ini ditunjukkan dengan
perubahan struktur tulang atau deformitas.

3. Fase Quiescent Pada fase ini aktivitas osteoblastik berkurang. Tulang menjadi diam dan proses
remodelling tulang tidak mengalami peningkatan. Tulang membesar dan melebar dari ukuran normal.
Jaringan vaskular fibrosa menggantikan sumsum.

B. Etiologi

Faktor-faktor yang dianggap sebagai penyebab penyakit paget ini adalah:

1. Autoimun

2. Kelainan Endokrin yang berhubungan dengan penyakit hiperparatiroid


3. Kelainan kongenital pada jaringan ikat

4. Kelainan vaskular

5. Kelainan sistem saraf otonom

6. Infeksi virus paramyxoviruses

7. Kelainan genetik (teori ini masih sangat lemah)

8. Faktor lingkungan

C. Manifestasi Klinis

Kebanyakan penderita tidak sadar bahwa dirinya telah menderita penyakit paget, karena kebanyakan
gejala yang muncul biasanya tidak terlalu signifikan atau bahkan tidak menunjukkan gejala sama sekali.
Kelainan biasanya didapat ketika melakukan pemeriksaan radiologis ataupun pemeriksaan penunjang
lainnya. Jika yang terkena adalah tulang tengkorak, maka kepala tampak membesar dan kening terlihat
lebih menonjol. Pembesaran tulang tengkorak dapat menyebabkan:

· Ketulian karena rusaknya telinga sebelah dalam ( koklea )

· Sakitkepalakarenapenekanansaraf

· Penonjolan vena di kulitkepalakarenaadanyapeningkatanalirandarahkekepala

· Gigi mulaigoyahdantanggal.

· Saraf yang menuju kemata mungkinakan terpengaruh, menyebabkan beberapa kehilangan visual
Jika yang terkena adalah tulang belakang, maka keluhan utamanya adalah nyeri punggung bagian
bawah. Kanalis spinalis menjadi sempit (keadaan ini disebut sebagai stenosis spinalis) dan bisa
menyebabkan mati rasa atau lumpuh. Patah tulang kompresi pada tulang belakang bisa menyebabkan
tulang belakang melengkung. Tulang belakang bisa membesar, menjadi lemah
danmelengkung,sehinggatinggibadanberkurang. Padaanggotagerak (terutamatungkai yang
menyanggaberatbadan),tulangmudahmengalamipatah, denganmasapenyembuhan yang lebih
lamadanmulaimelengkungataumengalamikelainanbentuk.Kakimenjadibengkokdanlangkahmenjadipend
ekdansedikitgoyah.Kerusakanpadatulangrawansendibisamenyebabkanterjadinyaartritis.

Dapat disimpulkan bahwa beberapa tanda dan gejala yang timbul pada penderitapenyakit paget adalah:

· Nyeri dan kaku didaerah yang terkena penyakit

· Osteoarthritis sekunder (ketika penyakit paget terjadi disekitar sendi)

· Deformitas tulang
· Panas tinggi ( karena adanya hipervaskularity)

· Komplikasi neurologis (adanya kompresi jaringan saraf)

D. Patofisiologi

Infeksi Virus Genetik Lingkungan Faktor pencetus lainnya Abnormalitas Osteoklast Resopsi tulang
meningkat Mekanisme kompensasi fisiologis oleh osteoblast Peningkatan kinerja Osteoblast Proses
remodelling tulang meningkat Tulang baru abnormal (lunak, membesar dan rentan) Gangguan citra
Resiko tinggi cedera Deformitas Nyeri tubuh maupun fraktur Resiko HDR Intoleransi Aktivitas Kurang
Pengetahuan Koping tidak efektif Ansietas.

E. Pemeriksaan Penunjang

1. Radiologis

Tampilan dari radiologis sangatlah karakteristik untuk penyakit paget, sehingga diagnosis jarang
meragukan. Saat fase resorpsi tampak daerah osteolisis yang terlokalisasi; gambaran yang paling khas
adalah gambaran seperti api yang memanjang sepanjang diafisis dari tulang (flame shaped lesion atau
blade of grass), atau bercak osteoporosis berbatas tegas di tulang tengkorak (osteoporosis
circumscripta). Kemudian tulang menjadi menebal dan sklerotik dengan gambaran trabekula yang kasar.

2. CT-Scan dan MRI

CT-Scan dan MRI tidak diperlukan dalam penegakan diagnosis penyakit paget, namun keduanya sangat
berguna untuk mengevaluasi komplikasi penyakit paget, seperti degenerasi ganas, kelainan artikular,
dan keterlibatan tulang belakang dengan gangguan neurologis. Kelainan pada sendi membutuhkan CT-
Scan atau MRI untuk menggambarkan sejauh mana komplikasi sendi yang terjadi. CT-Scan dan MRI juga
berguna untukmendiagnosa dan mengevaluasi komplikasi neurologis seperti invaginasi basilar,kompresi
medulla spinalis, atau hydrocephalus. Stenosis spinal dan keterlibatan vertebra paling baik di evaluasi
menggunakan CT-Scan atau MRI CT-Scan memberikan visualisasi yang lebih baik untuk tulang dan fossa
posterior, sedangkan MRI memberikan gambaran yang lebih detil untuki otak, medulla spinalis, cauda
equina, dan jaringan lunak. Oleh karena itu, perubahan neoplastik seperti sarcoma paget dan
penyebarannya lebih baik dievaluasi menggunakan MRI.

3. Investigasi Biokimia

Kadar serum kalsium dan fosfat biasanya normal, namun pasien yang imobilisasi dapat mengalami
hiperkalsemia. Test rutin yang paling berguna untuk mendiagnosa penyakit paget adalah penilaian
konsentrasi serum alkaline phospatase (merefleksikan aktifitas osteoblas dan menunjukkan tingkat
keparahan penyakit), dan kadar hydroxyproline di urine selama 24 jam (berkorelasi dengan proses
resoprsi tulang).
4. Bone Scan

Pemindaian tulang adalah alat bantu diagnostik yang sangat sensitif untuk mengevaluasi sejauh mana
lesi tulang yang terkena penyakit paget. Namun pemindaian tulang kurang spesifik daripada foto
radiologis polos, sehingga perubahan yang dideteksi pada skintigrafi harus dikonfirmasi oleh adanya
perubahan pada minimal satu tempat pada tulang dengan foto radiologis polos.

F. Penatalaksanaan

Biasanya, tak ada tindakan yang dianjurkan bagi pasien tanpa gejala. Nyeri biasanya berespon dengan
pemberian NSAID. Biphosphonate adalah obat antiresorptive yang paling banyak digunakan dan saat ini
dianggap sebagai pilihan utama untuk terapi penyakit paget. Banyak klinis yang merasa
aminobiphosphonates seperti pamidronate, risedronate, dan zoledronic acid lebih baik daripada jenis
biphosphonate yang lama seperti etidronate dan tiludronate karena aminobiphosphonates lebih efektif
dalam mengurangi bone turnover. Biphosphonate dapat diberikan secara oral maupun secara intravena.
Kalsitonin, suatu hormon polipeptid dapat memeperlambat resorbsi tulangdengan menurunkan jumlah
dan ketersediaan osteoklas. Terapi kalsitonin memungkinkan remodelling tulang pagetik abnormal
menjadi tulang lamelar normal, mengurangi nyeri tulang dan membantu mengurangi komplikasi
neurologis dan biokimia. Kalsitonin diberikan secara subkutan. Efek samping berupa aliran panas pada
wajah dan mual dapat diatasi dengan memakai obat sebelum tidur atau bersama dengan antihistamin.
Efek ini cenderung kurang bersama dengan waktu. Terapi kalsitonin dilanjutkan untuk 3 bulan. Disodium
Etidronat (EHDP), suatu senyawa difosfat, menghasilkan pengurangan pergantian tulangcepat dan
mengurangi nyeri. Juga menurunkan peningkatan fosfatase alkali serum dan kadar hidroksiprolin urine.
Makanan dapat menghambat penyerapannya. Efek samping mual, kram perut dan diare dapat terjadi
dan dapat dikurangi dengan menurunkan dosis. Dosis tinggi dapat mencegah penyembuhan fraktur dan
dapat berperan terjadinya osteomalasia. Kalsitonin dan EHDP dapat dikombinasikan dan diberikan
kepada pasien dengan penyakit yang sangat aktif.

Plikamisin (Mithrachin), suatu antibiotik sitotoksik, dicadangkan bagi pasien berat dengan gangguan
neurologis atau bagi mereka yang resisten terhadap terapi yang lain. Obat ini memiliki efek dramatik
pada pengurangan nyeri dan pada kalsium serum, alkali fosfatase dan kadar hidroksiprolin urine.
Diberikan secara infus intra vena dan perlu pemantauan fungsi hepar, ginjal dan sumsum tulang selama
terapi. Fraktur ditangani sesuai lokasinya. Penyembuhan dapat terjadi bila reduksi, imobilisai dan
stabilitasnya memadai. Tidak adanya penyatuan fraktur leher femur perlu ditangani dengan
pemasangan dengan endoprostesis. Kehilangan pendengaran ditangani dengan alat bantu dengar dan
teknik komunikasi dilakukan pada orang yang menderita gangguan pendengaran (mis. Membaca bibir,
bahasa tubuh). Operasi Orthopaedi Biasanya operasi dilakukan jika ada salah satu komplikasi berikut : -
Osteoarthritis yang menyebabkan nyeri - Fraktur pada tulang panjang - Deformitas berat - Nerve
entrapment - Spinal stenosis - Osteosarcoma yang dapat didiagnosis dini

G. Komplikasi
1. Fraktur

2.Gagal jantung dapat terjadi karena tingginya kebutuhan aliran darah pada tulang yang mengalami
remodelling (gagal jantung high-output)

3.Gagal napas dapat terjadi apabila tulang toraks terkena dan mengalami deformitas

4. Penyakit paget merupakan salah satu faktor resiko terjadinya sarkoma (kanker tulang), mungkin hal
ini berkaitan dengan tingginya kecepatan siklus sel yang terjadi pada penyakit ini.

BAB III

KONSEP KEPEWATAN

A. PENGKAJIAN

1.Ativitas/istirahat

Keterbatasan/kehilanganfungsipadabagian yang terkena, nyeri(


mungkinsegeraatauterjadisecarasekunderdaripembengkakanjaringan ).

2.Sirkulasi

Hipertensi( kadang-kadangterlihatsebagairesponterhadapnyeri /ansietas ),


pembengkakanjaringanataumassa, hematoma, padasisicedera, kadangmunculkeluhansakitkepala.

3.Neurosensori

Deformitas, kesemutan, kelemahanatauhilangfungsi, penurunan visual, auditori, hilanggerakan/sensasi,


spasmeotot, terjadipenekanansaraf cranial dankanalisspinalis.

4.Nyeriataukenyamanan

Nyerisecaratiba-tibasaatcedera( mungkinterlokalisasipada area


jaringan/kerusakandapatberkurangpadaimmobilisasi, spasmeataukramotot ( setelahmobilisasi ).

5.Keamanan
Laserasikulit, avulsijaringan, perdarahan, perubahanwarna, pembengkakanlokal(
dapatmeningkatsecarabertahapatautiba-tiba ).

6.Penyuluhan/pembelajaran

Lingkungancedera, memerlukanbantuandengantransportasi,
aktivitasperawatandiridantugaspemeliharaandanperawatanrumah.

B. DIAGNOSA DAN RENCANA TINDAKAN ASUHAN KEPERAWATAN

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera.

NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN DAN KRITERIA INTERVENSI


HASIL

1. 1. Nyeri akut berhubungan dengan agen NOC: NIC:


cedera.
Setelah dilakukan - Lakukan pengkajian
tindakan keperawatan nyeri secara
selama 3 x 24 jam. komprehensif
Pasien tidak mengalami termasuk lokasi,
nyeri dengan kriteria karakteristik, durasi,
hasil : frekuensi, kualitas dan
faktor presipitasi.
- Mampu mengontrol
nyeri. - Observasi reaksi
nonverbal dan
- Melaporkan bahwa ketidaknyamanan.
nyeri berkurang dengan
menggunakan - Kontrol lingkungan
manajemen nyeri. yang dapat
mempengaruhi nyeri
- Mampu mengenali seperti suhu ruangan,
nyeri (skala, intensitas, pencahayaan dan
frekuensi dan tanda
kebisingan.
nyeri).
- Kurangi faktor
- Melaporkan rasa
presipitasi nyeri.
nyaman setelah nyeri
berkurang. - Kaji tipe dan sumber
nyeri untuk
- Menunjukan tanda menentukan
vital dalam rentang
intervensi.
normal.
- Ajarkan tentang
- Tidak mengalami teknik non
gangguan tidur. farmakologi: napas
dalam, relaksasi,
distraksi, kompres
hangat/dingin.

- Berikan analgetik
untuk mengurangi
nyeri.

- Tingkatkan istrahat.

- Berikan informasi
tentang nyeri seperti
penyebab nyeri,
berapa lama nyeriakan
berkurang dan
antisipasi
ketidaknyamanan dari
prosedur.

- Monitor vital sign


sebelum dan sesudah
pemberian analgetik
pertama kali.

2. Resiko tinggi cedera (fraktur) b.d penurunan masa tulang, penurunan fungsi tubuh, dampak
sekunder perubahan skeletal.

NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN DAN KRITERIA INTERVENSI


HASIL

2. Resiko tinggi cedera (fraktur) b.d NOC: NIC: Environment


penurunan masa tulang, penurunan Management
fungsi tubuh. Setelah dilakukan tindakan (Manajemen
keperawatan selama 3 x 24
Lingkungan)
jam. Klien tidak mengalami
cedera dengan kriteria hasil - Sediakan
: lingkungan yang aman
untuk pasien.
- Terbebas dari cedera.
- Identifikasi
- Mampu menjelaskan kebutuhan keamanan
cara/metode untuk pasien, sesuai dengan
mencegah cedera. kondisi fisik dan fungsi
- Mampu menjelaskan kognitif pasien dan
faktor resiko dari riwayat penyakit
lingkungan/ perilaku terlebih dahulu.
personal. - Memasang side
- Memodifikasi gaya rail tempat tidur.
hidup untuk mencegah - Menyediakan
cedera. tempat tidur yang
- Mampu menggunakan nyaman dan bersih.
fasilitas yang ada. - Membatasi
- Mengenali perubahan pengunjung.
status kesehatan. - Mengontrol
lingkungan dari
kebisingan.

- Mengontrol
barang-barang dari
yang dapat
membahayakan.

- Berikan
penjelasan pada
pasien dan keluarga
atau pengunjung
adanya perubahan
status kesehatan dan
penyebab penyakit.

3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan deformitas skeletal, nyeri, penurunan kemampuan otot.
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN DAN KRITERIA INTERVENSI
HASIL

3. Intoleransi aktivitas berhubungan NOC: NIC:


dengan nyeri, penurunan
Setelah dilakukan tindakan - Observasi adanya
kemampuan otot.
keperawatan selama 3 x 24 pembatasan klien
jam. Pasien bertoleransi dalam melakukan
terhadap aktivitas dengan aktivitas.
kriteria hasil :
- Kaji adanya faktor
- Berpartisipasi dalam yang menyebabkan
aktifitas tanpa disertai kelelahan.
peningkatan tekanan
- Monitor nutrisi
darah, nadi, dan RR.
dan sumber energi
- Mampu melakukan yang adekuat.
aktivitas sehari-hari (ADLs)
- Monitor pola tidur
secara mandiri.
dan lamanya tidur/
- Mampu istrahat pasien.
menyeimbangkan antara
- Bantu klien untuk
aktivitas danistrahat.
mengidentivikasi
aktivitas yang mampu
dilakukan.

- Bantu klien
mendapatkan alat
bantuan aktivitas
seperti kursi roda,
krek.

- Sediakan
penguatan positif bagi
yang aktif beraktifitas.

- Monitor respon
kardiovaskuler
terhadap
aktivitas (takikardi,
distrimia, sesak nafas,
diaporesis, pucat,
perubahan
hemodinamik)

- Monitor respon
fisik, emosi, sosial dan
spiritual.

4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan deformitas skeletal, ketidak seimbangan mobilitas fisik.

NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN DAN KRITERIA INTERVENSI


HASIL

4. Gangguan citra tubuh berhubungan NOC: NIC:


dengan ketidakseimbangan mobilitas
Setelah dilakukan tindakan - Kaji secara verbal
fisik.
keperawatan selama 3 x 24 dan nonverbal respon
jam. Gangguan citra tubuh klien terhadap
pasien teratasi dengan tubuhnya.
kriteria hasil:
- Monitor frekuensi
- Mampu mengidentifikasi mengkritik dirinya
kekuatan personal
- Jelaskan tentang
- Mendiskripsikan secara pengobatan,
faktual perubahan fungsi perawatan, kemajuan
tubuh dan prognosis penyakit

- Mempertahankan - Dorong klien


interaksi sosial mengungkapkan
perasaannya

- Identifikasi arti
pengurangan melalui
pakaian alat bantu.

C. IMPLEMENTASI

Implementasi merupakan tahap keempat dari proses keperawatan yang dimulai setelah perawat
menyusun rencana keperawatan. Implementasi keperrawatan adalah serangkaian kegiatan yang
dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi kestatus
kesehatan yang baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan(Gordon, 1994, dalam Potter &
Perry, 1997).

D. EVALUASI

Tahap evaluasi merupakan perbandingan yang sistematik dan terencana tentang kesehatan klien
dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga
kesehatan lainnya. Evaluasi dalam keperawatan merupakan kegiatan dalam menilai tindakan
keperawatan yang telah ditentukan, untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan klien secara optimal dan
mengukur hasil dari proses keperawatan.

BAB IV

PENTUP

A. Kesimpulan

Penyakit Paget (Osteitis Deformans) merupakan salah satu gangguan metabolisme tulang yang ditandai
dengan proses remodelling tulang yang
abnormal.Osteitisdeformansadalahsuatupenyakitmetabolismepadatulang,
dimanatulangtumbuhsecaratidak normal, menjadilebihbesardanlunak.Osteitisdeformans /paget disease
dapatdisebabkanolehinfeksi virus (paramyxoviruses) disampingfaktorgenetik. Penyakitinijarang di
diagnosis/ditemukanmenyerangpada orang dibawahumur 40 tahun.Laki-lakidanperempuansama-
samaterpengaruh.

B. Saran

Setelah penulisan makalah ini, kami mengharapkan masyarakat pada umumnya dan mahasiswa
keperawatan pada khususnya mengetahui pengertian, tindakan penanganan awal, serta mengetahui
asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit paget.