Você está na página 1de 6

PREPARAT APUSAN DARAH

LAPORAN PRAKTIKUM

Oleh:
Ipraditya Langgeng Prayoga (180342618508)
Kelas G - Offering G

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PASCASARJANA
PROGRAM STUDI S2 BIOLOGI
Maret 2019
A. LATAR BELAKANG
Darah merupakan suatu suspensi sel dan fragmen sitoplasma yang dapat
dianggap sebagai jaringan pengikat dalam arti luas, karena pada dasarnya terdiri atas
unsur-unsur sel dan substansi interseluler yang berbentuk plasma. Fungsi utama dari
darah adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel diseluruh tubuh. Darah
juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisametabolisme,
dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang
bertujuanmempertahankan tubuh dari berbagai penyakit.
Darah manusia berwarna merah, antara merah terang apabila kaya oksigen
sampai merah tuaapabila kekurangan oksigen. Warna merah pada darah disebabkan
oleh hemoglobin, protein pernapasan (respiratory protein), yang terdapat dalam eritrosit
dan mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya molekul-
molekul oksigen. Darah jugamengangkut bahan bahan sisa metabolisme, obat-obatan
dan bahan kimia asing ke hati untuk diuraikan dan ke ginjal untuk dibuang sebagai air
seni.
Pada manusia umumnya memiliki volume darah sebanyak kurang lebih 5 liter
dengan unsur-unsur pembentuknya yaitu sel-sel darah, platelet, dan plasma. Sel darah
terdiri dari eritrosit danleukosit, platelet yang merupakan trombosit atau keping darah,
sedangkan plasma darah padadasarnya adalah larutan air yang mengandung :Air
(90%)Zat terlarut (10%) yang terdiri dari :- Protein plasma (albumin, globulin,
fibrinogen) 7%- Senyawa Organik (As. Amino, glukosa, vitamin, lemak) 2.1%- Garam
organik (sodium, pottasium, calcium) 0.9%.Preparat apus darah merupakan preparat
permanen, yaitu preparat yang keawetannya bertahun-tahun. Preparat permanen ini
proses pembuatannya cukup sukar, memerlukan berbagai macam zat kimia, perlu
perencanaan yang matang dan ketelitian. Tujuan pembuatan preparat permanen adalah
untuk menyediakan obyek yang bersangkutan selalu tersedia pada setiap waktu
diperlukan secara umum, prosedur pembuatan preparat permanen melalui tahapan:
fiksasi, pencucian, dehidrasi dengan disisipi staining, dealkoholisasi/clearing, mounting
atau penutupan dan labeling (Rudyatmi, 2014).
Preparat apus atau smear adalah preparat yang proses pembuatannnya dengan
metode apus atau smear, yaitu dengan cara mengapuskan atau membuat lapisan tipis
atau film suatu bahan yang berupa cairan atau bukan cairan diatas gelas benda yang
bersih dan bebas lemak. Selanjutnya melakukan fiksasi, mewarnai, dan menutupnya
dengan gelas penutup untuk diamati dibawah mikroskop. Preparat apus darah adalah
untuk mempelajari struktur eritrosit, leukosit, dan trombosit.
Pada pembuatan preparat apus darah menggunakan zat warna giemsa atau
disebut juga pewarnaan Romanowski. Prinsip dari pewarnaan giemsa adalah presipitasi
hitam yang terbentuk dari penambahan larutan methylene blue dan eosin yang
dilarutkan di dalam methanol. Pewarnaan giemsa digunakan untuk membedakan inti sel
dan morfologi sitoplasma dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan
trombosit.
Lebih dari separuh bagian dari darah merupakan cairan (plasma), yang sebagian
besar mengandung garam-garam terlarut dan protein. Protein utama dalam plasma
darah adalah albumin. Protein lainnya adalah antibody (imunoglobin) dan protein
pembekuan. Pada dasarnya, darah mempunyai 3 fungsi utama, yaitu membantu
pengangkutan zat-zat makanan, perlindungan atau proteksi dari benda asing dan
mengatur regulasi kandungan air jaringan, pengaturan suhu tubuh dan pengaturan pH
(Subowo, 1992).
1. Sel darah merah (Eritrosit)
Eritrosit berbentuk diskus bikonkaf, yaitu bulat dengan lekukan pada
sentralnya dan berdiameter 7,65 mikrometer. Eritrosit merupakan sel yang
paling banyak dibandingkan dengan sel lainnya. Eritrosit mengandung
hemoglobin, yang berfungsi untuk mengikat sel darah merah dan membawa
oksigen dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh jaringan tubuh.
2. Sel darah putih (leukosit)
Jumlahnya lebih sedikit, dengan perbandingan sekitar 1 sel darah putih untuk setiap
660 sel darah merah. Terdapat 5 jenis utama dari sel darah putih yang bekerjasama
untuk membangun mekanisme utama tubuh dalam melawan infeksi, termasuk
menghasilkan antinodi. Dibedakan berdasarkan ada tidaknya granula terbagi atas
granulosit (Neutrofil, Eusinofil, dan basofil) dan agranulosit (limfosit dan monosit).
B. TUJUAN
1. Untuk menganalisis preparat apus darah dengan melihat bentuk maupun struktur
dari sel darah

C. HASIL
Sel darah merah atau eritrosit terlihat bening tampak keabu-abuan, sedangkan
leukosit tampak terwarna jelas, yaitu intinya terwarna ungu dan sitoplasma terwarna
ungu muda. Preparat tampak rapat namun sudah cukup baik karena tidak banyak sel-sel
darah yang bertumpuk, selain itu preparat tampak bersih dari kotoran. Paling banyak
teramati adalah eritrosit, sedangkan leukosit yang tampak yaitu neutrofil dan monosit,
terdapat juga eosinofil dalam jumlah terbatas. Titik kecil yang terwarna ungu
merupakan plasma darah. Eritrosit teramati terwarna agak bening transparan. Eritrosit
berbentuk bulat, dengan bentuk seperti cekungan (cakram) pada sisi dalam (tengah) dan
tak berinti. Leukosit ditunjukkan dengan sel yang memiliki inti berwarna ungu. Warna
ungu disebabkan oleh inti leukosit yang basa sehingga mudah menyerap zat warna
giemsa

D. PEMBAHASAN
Pembuatan preparat apus darah ini, dilakukan dengan metode apus/smear/oles.
Sampel darah yang digunakan yaitu darah manusia. Berdasarkan hasil dan foto yang
didapatkan saat pengamatan di bawah mikroskop, preparat apus darah dengan
pewarnaan Giemsa ini terlihat cukup baik dan dapat terlihat adanya eritrosit dan
beberapa macam leukosit yang tampak menonjol dengan warna ungu. Jumlah eritrosit
tampak paling menonjol jika dibandingkan dengan leukosit.
Eritrosit yang tampak di mikroskop berwarna bening transparan dengan bentuk
bulat seperti cekungan (cakram) pada posisi dalam (tengah) dan tidak berinti,
sedangkan leukosit terlihat seperti sel yang memiliki inti berwarna ungu. Warna ungu
yang tampak pada leukosit tersebut disebabkan oleh inti leukosit yang bersifat basa
sehingga mudah menyerap zat warna Giemsa. Leukosit yang terlihat hanya beberapa
tidak terlihat keseluruhan macam dari eritrosit diantaranya eosinophil, limfosit dan
netrofil. mungkin karena masih terdapat film darah yang bertumpuk tumpuk karena
saat pembuatan film darah kurang tipis dan rata, preparat yang dihasilkan tidak
semuanya menampakkan hasil yang bagus, hal ini dapat disebabkan oleh beberapa
kesalahan :
1. Kesalahan prosedur yang dilakukan oleh praktikan pada saat pembuatan apusan
atau film darah, sehingga sel-selnya ada yang rusak karena tertekan.
2. Kurangya keterampilan praktikan dalam penggunaan mikroskop, sehingga dalam
pencahayaan dan pemfokusan kurang.
3. Banyaknya tetesan darah saat pembuatan film darah melebihi kapasitas, sehingga
tidak terjadi kapilaritas tetapi terjadi penumpukan lapisan darah.
4. Penempatan posisi gelas benda B tidak mencapai 45° pada ujung sisi pendeknya
sehingga gesekan film darah tidak berbuahmaximal.
Pada perbesaran 10 x 10 masih terlihat apusan darah yang bertumpukrapat dan
yang terlihat jelas hanya eritrosit dengan bentuk bikonkaf sedangkan struktur dan
macam-macam bentuk leukosit baru dapat teramati jelas pada perbesaran 40 x 10.
Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sekitar 45-50 menit. Ditemukannya
leukosit dalam jumlah banyak pada preparat apus darah menunjukkan bahwa pendonor
sedang mengalami sakit berkaitan dengan fungsi leukosit sebagai bentuk pertahanan
tubuh manusia.
Pada pembuatan preparat apus darah ini menggunakan beberapa larutan,
diantaranya yaitu Alkohol 70% yang berfungsi untuk mensterilkan jari tengah dan
peralatan seperti jarum franked an gelas benda, metil alcohol berfungsi untuk fiksator
dalam proses fiksasi dan larutan Giemsa 3% berfungsi untuk melakukan pewarnaan
seluruh permukaan film darah. Maksud dari pembuangan tetesan darah pertama saat
pembuatan film darah yaitu agar darah tidak terkontaminasi dengan alcohol sewaktu
jari tengah dibersihkan dan tetesan kedua dan ketiga dianggap sudah steril dan baru
bisa diambil untuk dijadikan sample dan diamati bagian-bagian maupun morfologinya.

E. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan dan analisis, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
Pewarnaan apus dengan zat pewarna giemsa dapat membedakan eritrosit yang tidak
terwarnai giemsa dengan jelas dan leukosit yang terwarna dengan kontras dan dapat
membedakan bagian nukleus dengan bagian sel yang lain.Bentuk sel darah merah
(eritrosit) berbentuk bulat bikonkaf dan tidak memiliki inti sedangkan sel darah putih
(leukosit) ukuranyya tampak lebih besar dengan bentuk yang bermacam-macam,
dengan dua jenis yaitu ada yang granulosit maupun agranulosit. Leukosit memiliki inti.
Pada preparat apus darah ini tampak kontras dengan warna ungu dari zat warna Giemsa.

F. SARAN
1. Untuk menghapus darah atau saat pembuatan film darah harus dilakukan setipis
mungkin sehingga preparat tidak terlalu rapat atu bertumpuk.
2. Untuk pewarnaan Giemsa pastikan zat warna terlihat belum rusak atau
terkontaminasisehingga hasil pewarnaa baik.
3. Dalam proses pembuatan preparat harus dilakukan secara sistematis berdasarkan
prosedur dan dibutuhkan ketelitian maupun keterampilan yang baik.

G. DAFTAR PUSTAKA
Marianti, Aditya.2014. Petunjuk Praktikum fisiologi Hewan. Semarang : Biologi
FMIPA UNNES.
Rudyatmi,Eli. 2014. Bahan Ajar Mikroteknik. Semarang: Jurusan Biologi FMIPA
UNNES.
Subowo. 1992. Histologi umum. Jakarta: PT.Bumi Aksara.