Você está na página 1de 77

KEANEKARAGAMAN DAN KOMPOSISI SPESIES SEMUT

(HYMENOPTERA: FORMICIDAE) PADA VEGETASI MANGROVE


KABUPATEN KOLAKA SULAWESI TENGGARA DAN
MUARA ANGKE JAKARTA

DAKIR

S E K O ~ A HPASCASA~JANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMAS1

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Keanekaragaman d m Komposisi


Spesies Semut (Hymenoptera: Formicidae) pada Vegetasi Mangrove Kabupaten
Kolaka, Sulawesi Tenggara dan Muara Angke, Jakarta adalah karya saya dengan
arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada
perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya
yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam
teks dan tercantum dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Mei 2009

Dakir
NRP G352070251
ABSTRACT
DAKIR. The Species Composition and Diversity of Ants (Hymenoptera: Formicidae)
in Mangrove Vegetation, in Kolaka, South East Sulawesi and Muara Angke, Jakarta.
Supervised by R K A RAFFIUDIN and ROSICHON UBAIDILLAH.

Mangrove forests are plant communities defined by the existence of several


species of trees and shrubs growing in the transitional area between land and sea
(tidal zone). Mangrove forests consist of three zonations clearly distinguished by
three tree types; Sonneratia, Rhizophora, and Bruguiera. Mangrove ecosystems have
played an important role in the socio-economic development of costal communities in
Indonesia. However, the fauna, especially the ants, remain poorly understood, despite
ants being the dominant insect group in any ecosystem. The aims of this study were
to investigate the species composition, diversity, domination, dispersion, and
abundance estimates of ants in the mangrove communities of Kolaka, South East of
Sulawesi, and Muara Angke, Jakarta. Ants were collected at three stations (50 m
transectlstation) using baiting, sweep netting, and beating methods. Efforts resulted in
the collection of four subfamilies, 16 genera, and 18 species of ants from Sonneratia,
Rhizophora, and Bruguiera trees in Kolaka and four subfamilies, eight genera, and 11
species from Sonnerafia trees in Muara Angke. Several ant species were recorded on
only one species of tree while other ant species were found on two or three tree
species. Results show that ant diversity in Kolaka and Muara Angke is moderate and
no dominant species exist. Ant dispersion was found to be very low since several
species were rare with only a few individuals collected. The use of three collection
methods in this study provides an accurate estimate of the entire ant community
thought to exist in Kolaka and Muara Angke mangrove forests.

Keywords : ants, mangrove, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Kolaka, Sulawesi


Tenggara, Muara Angke, Jakarta.
DAKIR. Keanekaragaman dan Komposisi Spesies Semut (Hymenoptera:
Formicidae) pada Vegetasi Mangrove Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara dan
Muara Angke, Jakarta. Dibimbing oleh RIKA RAFFIUDIN dan ROSICHON
UBAIDILLAH.

Salah satu kelompok fauna yang memiliki kelimpahan tertinggi pada filum
Arthropoda adalah kelompok serangga. Serangga merupakan fauna avertebrata
yang memiliki peranan penting dalam berbagai ekosistem. Salah satu kelompok
serangga yang memiliki peranan ekologi yang sangat penting adalah semut
(Hymenoptera: Formicidae). Semut merupakan serangga eusosial yang
penyebarannya sangat luas dan dapat ditemukan pada berbagai habitat mulai
hutan tropis, padang rumput dan beberapa habitat lainnya. Semut memiliki
keanekaragaman yang tinggi dan memiliki kemampuan adabtasi sehingga
keberadaannya dapat ditemukan disemua habitat . Selain pada daerah teresterial
semut juga dapat ditemukan di daerah pesisir pantai karena terdapat habitat yang
memungkinkan keberadaan semut yaitu vegetasi mangrove antara lain Sonnerafia,
Rhizophora dan Bruguiera.
Kabupaten Kolaka dan Muara Angke adalah sebagian dari daerah pesisir
pantai di Indonesia yang memiliki vegetasi mangrove. Kedua wilayah tersebut
diduga memiliki keragaman semut yang cukup tinggi dau berbeda. Perbedaan
yang terjadi disebabkan kondisi habitat dan faktor lingkungan. Oleh karena itu
kedua daerah tersebut dijadikan lokasi penelitian. Pada vegetasi mangrove
Kabupaten Kolaka lokasi pengambilan semut dilakukan pada tiga stasiun yaitu
pada stasiun Latambaga, Samaturu dan Wolo, sedangkan pada vegetasi mangrove
Muara Angke dilakukan pada satu stasiun yaitu pada kawasan Suaka Margasatwa
Muara Angke (SMMA).
Dari hasil penelitian, pada kawasan mangrove Kabupaten Kolaka dan Suaka
Margasatwa Muara Angke ditemukan empat subfamili semut yaitu
Dolichoderinae, Formicinae, Myrmicinae dan Pseudomyrmicinae dengan 23
spesies. Pada lokasi vegetasi mangrove Kabupaten Kolaka dikoleksi 18 spesies
semut dan pada lokasi vegetasi Muara Angke dikoleksi 11 spesies semut. Di
kedua lokasi terdapat persamaan dan perbedaan spesies semut. Semut-semut yang
dikoleksi sarna adalah Technomyrmex sp., Forelophillus sp., Polyrhachis spl.,
Crematogaster spl., Crematogaster sp2. dan Tetraponera yunctulata. Semut yang
berbeda adalah semut 0. snzaragdina, Camponotus sp., Pseudolasius sp.,
Cladomyrma sp. dan Monomorium sp. yang dikoleksi pada pohon Sonneratia
mangrove Kabupaten Kolaka dan semut Tapinoma sp., Polyrhachis bohoni,
Cardiocandyla sp., Cataulacus sp. serta Tetraponera sp. adalah semut yang
dikoleksi pada pohon Sonnerutin mangrove Suaka Margasatwa Muara Angke.
Pengoleksian semut dilakukan dengan menggunakan tiga teknik koleksi
yaitu dengan pemberian umpan (bait) keju, jaring (sweeping) serangga serta
penadah (beating). Pada vegetasi mangrove Kabupaten Kolaka, semut yang
memiliki kelimpahan tinggi adalah Oechophylla smaragdina, Pseudolasius sp.
dan Crematogaster sp., sedangkan pada mangrove Muara Angke Technomyrmex
sp., Cardiocandyla sp., dan Crematogaster sp. Keragaman semut pada mangrove
Kabupaten Kolaka dan Muara Angke berdasarkan analisis Shannon-Wiener (H')
dikategorikan keragaman sedang karena hasil koleksi pada masing-masing lokasi
penelitian memiliki kategori nilai l<H'<3. Di kedua lokasi penelitian tidak
terdapat dorninasi semut tertentu terhadap semut lain yang dinyatakan dengan
nilai indeks dominansi Simpson (D') yaitu D ' 4 . Namun, kemerataan semut di
masing-masing lokasi penelitian sangat rendah karena ditemukan beberapa spesies
semut dengan jumlah individu yang kurang dibandingkan spesies lain, ha1 tersebut
berdasarkan indeks kemerataan Evenness (E') yaitu E'cl.
Estimasi kelimpahan semut dikawasan mangrove Kabupaten Kolaka
berdasarkan Species Abundance-based Coverage Estimate (SACE) adalah 973 1%
dan Estimasi presence-absence semut berdasarkan Species Insidence-based
Coverage Estimate (SICE) adalah 84,99%. Berbeda dengan lokasi penelitian pada
mangrove Muara Angke yang hanya terdiri dari satu stasiun pengamatan yaitu
pada SMMA dan hanya dilakukan pada pohon Sonneratia. Nilai estimasi spesies
semut pada mangrove Muara Angke berdasarkan Species Abundance-based
Coverage Estimate (SACE) adalah 100% dan estimasi presence-absence semut
berdasarkan Species Insidence-based Coverage Estimale (SICE) adalah 95,99%.
Persentase pendugaan kelimpahan semut di kedua lokasi penelitian berbeda
disebabkan perbedaan jenis pohon, luasan lokasi penelitian dan frekuensi koleksi.
Namun secara keseluruhan estimasi tentang keberadaan semut pada mangrove
Kabupaten Kolaka dan Muara Angke sudah memberikan gambaran yang cukup
baik tentang keanekaragaman semut pada daerah mangrove.
Beberapa faktor yang mempengaruhi keberadaan jenis semut di mangrove
adalah sumber makanan, sarang dan gangguan. Sumber makanan beberapa semut
pada daerah mangrove adalah cairan embun madu yang dihasilkan coccids yang
terdapat di dam atau di ranting pohon. Selain itu, semut dengan sifatnya sebagai
predotor juga memangsa beberapa jenis serangga yang ditemukan sebagai perusak
pada pohon Sonneratia, Rhizophora dan Bruguiera. Hal lain yang menyebabkan
keberadaan semut pada daerah mangrove adalah peristiwa pasang dan surut air
laut. Hal tersebut dapat terlihat pada pohon Sonneratia yang terletak pada bagian
depan zonasi mangrove yang memiliki frekunsi genangan air laut yang cukup
lama sehingga pohon Sonneratia terkadang membentuk pulau tersendiri. Hal ini
yang menyebabkan beberapa spesies dapat terspesialisasi untuk menetap pada
pohon Sonneratia seperti semut Cladomyrma sp., Technomyrmex sp.,
Camponolus sp. dan Tetraponera sp.
Berdasarkan keanekaragaman spesies semut, pohon Rhizophora merupakan
habitat yang memiliki keanekaragaman yang tinggi dibandingkan pohon
Sonneratia dan Bruguiera. Morfologi Rhizophora terutama kondisi batang yang
berkulit keras dan membentuk celah memudahkan beberapa semut untuk tinggal
dan berlindung khususnya semut yang memiliki ukuran tubuh lebih kecil dan
ramping seperti Pseudolasius sp., Crematogasteu sp., dan Monornorium sp. serta
letak pohon Rhizophora pada zona tengah sebagai zona aman pada kawasan
mangrove memungkinkan ditemukan semut lebih banyak.
Selain semut, ditemukan pula ordo dan serangga lain. Hal tersebut karena
bervariasinya teknik yang digunakan seperti penggunaan jaring dan penadah.
Beberapa kelompok arthropods yang ikut terkoleksi adalah Araneae, Himeptera,
Homoptera, Diptera, Hymenoptera, Coleoptera, Lepidoptera, Tysanoptera dan
Mantodea. Beberapa ordo tersebut merupakan kelompok herbivora pada vegetasi
mangrove. Ordo Araneae ditemukan lebih hanyak dari ordo lain karena Araneae
juga merupakan salah kelompok predator bagi serangga lain. Dengan dikoleksinya
beberapa ordo dan serangga lain, maka dimungkinkan adanaya jejaring ekologi
yang cukup kompleks antara organisme-organisme yang ada di dalam vegetasi
mangrove. Semut dan beberapa serangga lain yang dikoleksi merupakan salah
satu komponen ekosistem yang penting di wilayah pesisir. Oleh karena itu, maka
perlu adanya strategi dalam membuat kebijakaan konservasi alam khususnya
diwilayah mangrove. Beberapa kemungkinan prinsip yang dapat dilakukan adalah
(1) perlindungan terhadap ekosistem pesisir pantai dengan memperhatikan
kekayaan fauna khususnya serangga sebagai bioindikator dan biokontrol terhadap
terpeiiharanya proses ekologis, (2) pengawetan keanekaragaman guna pelestarian
ekosistem dengan mengatur dan mengendalikan cam-cara pemanfaatan yang lebih
bijaksana, sehiigga dapat diperoleh manfaat yang optimal dan berkesinambungan.
0Hak Cipta rnilik IPB, tahun 2009
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumhzn
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipun haizya untuk kepentingan
pendidikan penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan
kritik, atau tinjauan sualu masalah; dun pengutipan tersebuf tidak merugikan
kepeniingan yang wajar IPB
Dilarang menguinumkan dun rnemperbanyak sebagian atau seluruh kaiya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
KEANEKARAGAMAN DAN KOMPOSISI SPESIES SEMUT
(HYMENOPTERA: FORMICIDAE) PADA VEGETASI
MANGROVE KABUPATEN KOLAKA, SULAWESI TENGGARA
DAN MUARA ANGKE, JAKARTA

DAKIR

Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains pada
Mayor Biosains Hewan .

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009
Judul Tesis : Keanekaragaman dan Komposisi Spesies Semut (Hymenoptera:
Formicidae) pada Vegetasi Mangrove Kabupaten Kolaka,
Sulawesi Tenggara dan Muara Angke, Jakarta.
Nama : Dakir
NRP : G 352070251
Program Studi : Biosains Hewan

Disetujui
Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Rika Raffiudin, M.Si


Ketua

Diketahui

Tanggal Ujian : 27 Mei 2009 Tanggal Lulus : f 7 J U L 2009


PRAKATA

Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


memberikan kesehatan dan kemampuan sehingga penulis dapat menyelesaikan
tesis dengan judul "Keanekaragaman dan Komposisi Spesies Semut pada Vegetasi
Mangrove Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara dan Muara Angke, Jakarta".
Tesis ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Magister Sains di
Institut Pertanian Bogor.
Penulis menyadari bahwa tesis ini tidak akan tersusun tanpa bantuan dari
berbagai pihak. Sehubungan dengan itu, dengan segala kerendahan hati penulis
ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dr. Ir. Rika Raffiudin, M.Si dan
Dr. Rosichon Ubaidillah, DIC, M.Phil selaku komisi pembimbing yang telah
memberikan bimbingan dengan sabar dan tulus dalam penyelesaian penulisan
tesis ini serta Dr. Ir. Damayanti Buchori, M.Sc selaku penguji luar komisi
pembimbing.
Ucapan terima kasih secara pribadi penulis sampaikan kepada Departemen
Agama RI yang telah memberikan beasiswa pendidikan Pascasarjana di Institut
Pertanian Bogor, kepada Dr. Bambang Suryobroto, Dr. Dedi Duryadi Solichin,
Dr. Akhmad Farjallah, Dr. RR. Dyah Penvitasari, Dr. Tri Atmowidi, Ir. Tri Heru
Widarto, M.Si, Ben Juliandi, M.Si, Dra. T ~ N NSri Prawasti dan teknisi
laboratorium yang telah memberikan ilmu dan pengalaman yang tak ternilai
harganya. Tidak lupa pula penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh
rakan-rekan mahasiswa Mayor Biosain Hewan atas bantuan, dukungan,
kebersamaan dan doa yang diberikan.
Ucapan terima kasih yang paling tulus penulis sampaikan kepada kedua orang
tua, istri dan anak-anak saya tercinta yang menjadi penyemangat sehingga dapat
menyelesaikan tugas mulia ini.
Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kesempumaan. Kritik dan
saran sangat penulis harapkan untuk kesempumaan tulisan ini. Semoga tesis ini
dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Bogor, Mei 2009


D a k i r
Penulis dilahirkan di Kendari pada tanggal 22 Maret 1971 sebagai putra
ketiga dari enam bersaudara pasangan Haji Torang ( a h ) dan ibu Indo Rewe
(alm). Pada tahun 1990 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Kendari dan pada tahun
yang sama lulus seleksi masuk perguruan tinggi negeri pada Universitas Haluoleo
melalui jalur seleksi penerimaan mahasiswa baru pada Program Diploma 111.
Pendidikan Diploma ditempuh di Program Studi Biologi Jurusan MIPA Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Haluoleo dan lulus pada tahun 1993.
Pendidikan Sarjana ditempuh di Program Studi Biologi Jurusan MIPA Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Haluoleo dan lulus pada tahun 2001.
Kesempatan untuk mengikuti program pascasarjana pada Mayor Biosains Hewan
Departemen Biologi Institut Pertanian Bogor diperoleh pada tahun 2007.
Beasiswa pendidikan pascasarjan diperoleh dari Departemen Agama Republik
Indonesia melalui Beasiswa Utusan Daerah.
Saat ini penulis bekerja sebagai staf pengajar pada unit pendidikan Madrsah
Aliyah Swasta Al-Mawaddah Warrahmah Kabupaten Kolaka dan SMP Negeri 1
Latambaga. Selama mengikuti program S2, penulis aktif mengikuti kegiatan
perkuliahan dan praktek lapangan, aktif sebagai anggota forum mahasiswa pasca
sarjana (forum wacana) Sulawesi Tenggara di IPB tahun 2007-2008 dan sebagai
koordinator praktikum mata kuliah Avertebrata tahun 2008-2009.
DAFTAR IS1
DAFTAR TABEL .......................................................... xi
DAFTAR GAMBAR .......................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................... xiv

1 PENDAHULUAN
Latar Belakang ........................................................ 1
..
Tujuan Penel~tlan..................................................... 3
Manfaat Penelitian................................................. 3
Ruang Lingkup ........................................................ 3

2 KERAGAMAN SPESIES SEMUT PADA VEGETASI MANGROVE


Pendahuluan .......................................................... 4
Bahan dan Metode ................................................ 8
Hasil .................................................................... 12
Simpulan ............................................................. 24

3 STRUKTUR DAN KOMPOSISI SPESIES SEMUT (HYMENOPTERA:


FORMICIDAE) PADA VEGETASI MANGROVE
Pendahuluan ......................................................... 25
Bahan dan Metode ................................................... 27
Hasil .................................................................. 28
Pembahasan ......................................................... 40
Simpulan .............................................................. 47

4 PEMBAHASAN UMUM ................................................ 48


5 SIMPULAN DAN SARAN ............................................... 52
DAFTAR PUSTAKA ......................................................... 54
Halaman

1. Spesies semut yang dikoleksi pada mangrove Kabupaten Kolaka dan


Muara Angke ......................................................................... I2
2. Jumlah semut yang koleksi pada pohon Sonneratia, Rhizophora dan
Brugueira pada tiga stasiun di Kabupaten Kolaka dengan
menggunakan tiga teknik koleksi ................................................ 30
3. Nilai indeks H', D', dan E' semut disetiap stasiun pada lokasi
Kabupaten Kolaka ............................................................... 32
4. Estimasi kelimpahan semut disetiap stasiun pada lokasi Kabupaten
Kolaka ................................................................................. 32
5. Jumlah semut yang dikoleksi pada pohon Sonneratia satsiun Suaka
Margasatwa Muara Angke ........................................................ 34
6. Nilai indeks D', H' dan E' semut pada pohon Sonneratia stasiun
Suaka Margasatwa Muara Angke ............................................... 35
7. Estimasi kelimpahan semut pada stasiun penelitian Suaka Margasatwa
Muara Angke ........................................................................ 35
8. Indeks Sorensen semut antara pohon Sonneratia, Rhizophora dan
Biuguiera pada lokasi Kabupaten Kolaka .................................... 36
9. lndeks Sorensen semut antara pohon Sonneratia Kabupaten Kolaka
dan Suaka Margasatwa Muara Angke .......................................... 37
10. Jumlah semut yang dikoleksi berdasarkan teknik koleksi umpan
dan bukan umpan pada lokasi Kabupaten Kolaka dan Muara Angke .. 38
1 I. Arthropods dan serangga lain yang dikoleksi pada vegetasi
mangrove ............................................................................. 39
DAF'TAR GAMBAR

Hataman

1. Morfologi semut ................................................................... 4


2 . Peta lokasi penelitian di Kabupaten Kolaka ................................... 8
3 . Peta lokasi penelitian di Jakarta Utara .......................................... 9
4 . Desain transek penelitian keragaman semut pada lokasi Kab. Kolaka
dan Muara Angke .................................................................. 9
5 Tekcik koleksi semut: (2)umpsn, (b) j~ring,(c) penadah .................. 10
6. Proses mounting semut ........................................................... 11
7. Ciri Subfamili Dolichoderinae ................................................... 19
8. Ochetellus sp.. (a) sisi anterior, (b) sisi lateral .................................. 19
9. Technornyrmex sp.. (a) sisi anterior, (b) sisi lateral ............................. 19
10. Turneria sp.. (a) sisi anterior, (b) sisi lateral .................................... 19
11. Tapinoma sp.. (a) sisi anterior, (b) sisi lateral ................................... 19
12. Iridornyrmex sp .. (a) sisi anterior, (b) sisi lateral ............................... 20
13. Ciri Subfamili Formicinae .......................................................... 20
14. 0. smaragdina: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral ................................. 20
15. Camponotus sp.. (a) sisi anterior, (b) sisi lateral ................................ 20
16. Opisfhopsistnayor Forel: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral ..................... 20
17.Forelophillus sp.. (a) sisi anterior. (b) sisi lateral ............................... 21
18. Echinopla sp.. (a) sisi anterior, (b) sisi lateral ................................... 21
19. Pseudolasius sp.. (a) sisi anterior, (b) sisi lateral ............................... 21
20. Cladomyrma sp.. (a) sisi anterior. (b) sisi lateral ............................... 21
21 . Polyrhachis spl .. (a) sisi anterior, (b) sisi lateral ............................... 21
22. Polyrhachis sp2.. (a) sisi anterior, (b) sisi lateral .............................. 22
23. Polyrhachis bohoni: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral .......................... 22
24 . Ciri Subfamili Myrmicinae ........................................................ 22
25 . Crematogaster sp1 .. (a) sisi anterior, (b) sisi lateral ........................... 22

xii
26. Cremafogaster sp2.. (a) sisi anterior, (b) sisi lateral .......................... 22
27. Monomorium sp.. (a) sisi anterior, (b) sisi lateral ............................. 23
2 8. Cataulacus sp .. (a) sisi anterior, (b) sisi lateral ................................ 23
29. Cardiocandyla sp.. (a) sisi anterior. (b) sisi lateral ............................ 23
30. Wasmanniapunctata : (a) sisi anterior. (b) sisi lateral ........................ 23
31. Ciri Subfamili Pseudomyrmecinae .............................................. 23
32. T. punctulata: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral .................................. 24
33. Tetraponera sp: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral ................................ 24
3 4. Grafik distribusi semut pada pohon Sonneratia. Rhizophora dan
Bruguiera di mangrove Kabupaten Kolaka .................................... 31
35 . Kurva akumulasi spesies semut pada mangrove Kabupaten Kolaka ....... 33
36. Kurva akumulasi spesies semut pada mangrove Muara Angke ............ 36

xiii
Halaman

1. Data koleksi semut pada lokasi Kabupaten Kolaka ........................ 57


2. Data koleksi semut pada lokasi Muara Angke .............................. 60

xiv
1. PENDAHULUAN

Latar Belakang
Semut (Hymenoptera: Formicidae) adalah salah satu kelompok serangga
eusosial yang memiliki kelimpahan tertinggi dan bersifat kosmopolit (Wilson
1971). Semut menyusun i 10% total biomassa dalam hutan tropis, padang rumput
dan tempat lain pada biosfer (Agosti el al. 2000). Keberadaan organisme pada
suatu habitat tergantung dari kemampuan distribusi dan adaptasi organisme
tersebut pada kondisi-kondisi yang berubah (Whittaker 1988). Perilaku tersebut
merupakan alasan utama semut sangat sukses dalam adabtasi.
Keanekaragaman semut di wilayah tropis urnurnnya dipengaruhi oleh
beberapa faktor diantaranya adanya predasi, kelembaban, tempat membuat sarang,
ketersediaan makanan, struktur dan komposisi tanaman serta topografi (Wilson
1958; Bestelmeyer & Wiens 1996; Vasconcelos 1999). Keanekaragaman dan
kekayaan spesies semut akan mengalami penurunan berdasarkan ketinggian yaitu
dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi. Hal tersebut sangat dipengaruhi
oleh faktor mikroiklim yaitu temperatur dan kelembaban (Noor 2008).
Oleh sebab itu, berdasarkan pola hidup serta sifat ekologisnya, semut dapat
dijadikan sebagai salatt satu bioindikator lingkungan (McGeoch 1998). Beberapa
contoh yang diketahui antara lain terjadi penurunan kelimpahan semut dengan
meningkatnya kandungan SO2 (Andersen el al. 2002). Selain itu, terlihat korelasi
antara kekayaan semut dengan biomassa mikroba pada lapisan tanah di daerah
pertambangan (Andersen & Sparling 1997). Selain sebagai bioindikator, semut
juga dijadikan sebagai pengendali hayati (biokontrol) bagi serangga pengganggu
(hama) seperti Helopeltis spp dan Saranus indecora yang merupakan hama pada
tanaman coklat dan jambu mente di daerah perkebunan Sumatera, Jawa dan
Sulawesi (Atmadja 2003). Semut 0. smaragdina juga ditemukan sebagai
biokontrol bagi Hypsipyla robusta (Hymenoptera: Lepidoptera) pada tanaman
mahoni (Lim GT 2007).
Semut adalah serangga yang memiliki daerah penyebaran yang sangat luas.
Kondisi suatu daerah akan memberikan dampak terhadap kekayaan spesies semut.
Daerah yang mendapat gangguan rendah memiliki kekayaan spesies semut yang
lebih banyak dibandingkkan daerah yang mendapat gangguan sedang atau bahkan
tinggi. Kondisi habitat sebagai daerah jelajah akan mempengaruhi aktifitas semut
dalam pencarian makanan (Graham et al. 2004). Beberapa penelitian tentang
distribusi semut adalah penelitian yang dilakukan pada daerah konservasi
Kepulauan Seribu dengan ditemukan lima subfamili, 28 genus dan 48 spesies
semut (Rizali 2006). Selain didaerah teresterial, beberapa semut juga ditemukan
terdisitribusi pada daerah pesisir pantai khususnya pada vegetasi mangrove. Lima
genus semut yang ditemukan pada pohon Sonneratia di daerah mangrove
Darwin, Australia yaitu Camponotus, Crematogaster, Tetruponera, Tapinoma.
dan Monomorium (Nielsen 2000).
Selain keanekaragaman flora, pada ekosistem mangrove juga ditemukan
keanekaragaman fauna yang meliputi organisme vertebrata hingga avertebrata
termasuk semut (Noor el al. 2006). Hutan mangrove adalah salah satu sumber
daya alam yang memiliki potensi ekonomi dan potensi ekologi. Hutan mangrove
memiliki ciri khas dan mempunyai fungsi pokok yaitu pengawetan
keanekaragaman turnbuhan dan satwa serta ekosistemnya (Noor et al. 2006).
Informasi mengenai fauna pada daerah mangrove masih didominasi oleh
informasi tentang hewan-hewan vertebrata. Data tentang keanekaragaman,
distribusi dan kelimpahan serangga khususnya semut belum banyak diketahui,
informasi masih terbatas pada distribusi semut di wilayah teresterial di dunia
(McGlynn 1999). Oleh karena itu penulis ingin inempelajari ekologi semut di
daerah pesisir pantai dengan mengeksplorasi tanaman khas pada vegatasi
mangrove.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan :
1. Mempelajari karakteristik spesies semut pada vegetasi mangrove.
2. Mempelajari keanekaragaman, dominansi, kemerataan dan prediksi
kelimpahan spesies semut berdasarkan habitat pada vegetasi mangrove
3. Mempelajari teknik koleksi spesies semut pada vegatasi mangrove
4. Mempelajari struktur dan komposisi spesies semut pada masing-masing tipe
vegetasi mangrove serta jejaring ekologinya.

Manfaat Penelitian
Memberikan informasi tentang keanekaragaman spesies semut dan jejaring
ekologi pada vegatsi mangrove. Informasi yang diperoleh dapat dijadikan sebagai
gambaran tentang kondisi ekologi vegetasi mangrove, khususnya di wilayah
mangrove Kabupaten Kolaka dan Muara Angke.

Ruang Lingkup Penelitian


Ruang lingkup penelitian ini adalah (I) vegetasi mangrove yang terdiri
dari pohon Sonnerotia, Rhizophora dan Bruguiera, ( 2 ) karakteristik dan analisis
keberadaan spesies semut di masing-masing pohon pada vegetasi mangrove, (3)
teknik koleksi semut pada vegetasi mangrove, dan (4) koleksi beberapa serangga
lain pada vegetasi mangrove.
2. KEANEI(ARAGAMAN SPESIES SEMUT
(HYMENOPTERA: FORMICIDAE) PADA VEGETASI
MANGROVE

PENDAHULUAN

Karakteristik Semut
Sama seperti serangga pada umumnya, tubuh semut terdiri atas tiga segmen
(tagma) yaitu kepala, toraks, dan abdolnen (Brian 1976). Ciri morfologi tubuh
selnut sama dengan serangga lain, perbedaannya hanya pada mas abdolnen yang
bersatu dan Inenyeinpit (mengecil) pada ruas ke-3 dan ke-4 di belakang toraks.
Selain itu, antena selnul lnelnbentuk siku (genikulatus) dengan ine~nilikimas
pangkal yang panjang dilanjutkan dengan ruas-ruas pendek di depannya (Bolton
2003). Karena kekhususan ~norfologi selnut ini, tubuh selnut dibagi lnenjadi
elnpat bagian, yaitu: kepala, mesoso~na(toraks dan ruas abdomen pertalna =

propodium), peduncule (mas abdolnen ke-2 dan atau ke-3 menyempit), dan gaster
(Gambar 1).

**
KEPALA MESOSOMA
8

2 ,
1
GASTER

i"""'
stpetiole

Gambar 1 Morfologi Seinut

Perbedaan selnut dengan serangga lain karena adanya penggentingan


(pengecilan) ruas ke-2 dan atau ke-3 bempa petiole dan postpetiole. Oleh karena
itu ha1 pertalna yang dia~natidalain proses identifikasi seinut adalah bagian
pinggang (waist) yang mengalaini penggentingan. Penggentingan pinggang
menjadi salah satu penanda awal untuk memulai identifikasi di tingkat subfamili
(Hasmi et a(. 2006). Semut-semut yang memiliki petiole ditemukan pada
Subfamili Cerapachynae, Dolichoderinae, Dorylinae, Formicinae, Ponerinae dan
yang memiliki dua penggentingan yaitu petiole dan postpetiole ditemukan pada
Subfamili Ecitoninae, Leptanilloidinae, Mymeciinae, Myrmicinae, dan
Pseudomyrmecinae (Bolton 1994).
Bagian penting lainnya yang sering dipakai dalam identifikasi adalah
karakter alat mulut (mandibula, klipeus, palpus), antena, mata dan lobus fiontal.
Semut memiliki bentuk mandibula triangular dan memanjang. Antena semut
memiliki 4 sampai 12 mas dan ujung antena dapat berbentuk pemukul (club).
Posisi mata pada semut biasa ditemukan pada posisi garis tengah kepala atau
mengarah ke bagian belakang dengan ukuran yang besar, sedang dan lebih kecil.
Mesosoma tersusun dari protoraks, mesotoraks, metatoraks, dan propodeum.
Protoraks, mesotoraks, dan metatoraks adalah bagian dari toraks, sementara
propodeum adalah bagian dari abdomen. Setiap ruas toraks terdiri dari notum,
pleuron, dan sternum. Pinggang terdiri dari satu atau dua ruas abdomen yang
menyempit antara gaster dan mesosoma. Ruas pertama pinggang di belakang
propodeum disebut petiole. Ruas selanjutnya disebut postpetiole (Agosti el al.
2000).
Ruas abdomen seringkali dinamakan berdasarkan urutannya. Propodeum
disebut ruas pertama abdomen, petiole adalah ruas kedua abdomen, dan
seterusnya. Karakter pada ruas pinggang yang sering dipakai dalam identifikasi
adalah jumlah ruas pinggang, bentuk petiole, embelan subpetioler. Petiole
biasanya membentuk tegakan yang disebut nodus atau sisik petiole. Peduncule
adalah bagian petiole yang membentuk tangkai panjang di depan nodus petiole.
Bila tangkai tidak ada, petiole itu disebut sebagai petiole yang sesil. Bila tangkai
pendek, petiole disebut petiole yang subsesil. Embelan subpetioler adalah struktur
yang tnencuat dibawah petiol (Bolton 2003).
Gaster adalah bagian tubuh paling belakang yang membulat. Gaster seinut
tersusun dari ruas ketiga atau keempat abdomen hingga ruas ketujuh abdomen.
Ruas gaster juga memiliki cara penamaan berdasarkan urutannya. Ruas pertama di
belakang pinggang disebut ruas pertama gaster, ruas kedua di belakang pinggang
disebut ruas dua gaster, dan seterusnya. Bagian gaster yang penting dalam
identifikasi adalah acidopore, yaitu lubang melingkar yang ditumbuhi rambut-
rambut halus pada ujung gaster pada beberapa jenis. Pada ujung gaster umumnya
juga ditemui duri (sting). Selain itu, karakter penting lainnya yang juga menjadi
ukuran dalam identifikasi semut adalah tungkai, terdiri dari mas-ruas coxa, femur,
tibia, dan tarsus (Bolton 2003).

Gambaran Lokasi Penelitian


Kabupaten Kolaka
Vegetasi mangrove di Sulawesi Tenggara digolongkan kedalam tiga tipe
yaitu (1) ovenvash mangrove forest yaitu mangrove yang selalu tergenang oleh air
laut, (2)fiingemangrove forest yaitu hutan mangrove yang berbentuk rumbai tipis
yang elevasinnya lebih tinggi dari pasang rata-rata dan memiliki sistem akar
tunjang yang berkembang baik, dan (3) riverine nzangrove forest yaitu mangrove
pinggiran sungai yang terjadi karena hamparan lumpur sepanjang aliran sungai
dan teluk.
Zona pertumbuhan vegetasi mangrove di Sulawesi Tenggara dibagi menjadi
tiga yaitu zona yaitu Sonneratia, Rhizophora dan Bruguiera. Zona tersebut
banyak terdapat di Kabupaten Kolaka. Jenis pohon pada wilayah mangrove yang
sering dijumpai adalah Rhizophora nzucronata, Rhizophora apiculata, Rhizophora
Sfylosa, dan Sonarafio alba. Daerah mangrove Kabupaten Kolaka dijadikan
stasiun penelitian karena kondisi vegetasi mangrove masih memperlihatkan
formasi zonasi vegetasi mangrove yaitu zona Sonneratia, Rhizophora dan
Brzcgzriera. Luas hutan mangrove Kabupaten Kolaka adalah 4,096.73 ha (sumber:
BPDAS Sampara, Provinsi Sulawesi Tengara 2001)

Muara Angke
Di wilayah Jakarta bagian utara yaitu pada daerah Muara Angke terdapat
vegetasi mangrove yang terletak di kawasan Suaka Margasahva Muara Angke
(SMMA) yang merupakan sisa hutan terakhir di daratan Jakarta. Kawasan
vegatasi mangrove tersebut berada di sekitar aliran sungai dan telah mengalami
reklamasi menjadi kawasan pemukiman Pantai Indah Kapuk. Wilayah ini telah
mengalami pencemaran yang sangat kompleks mulai dari pencemaran air, tanah
maupun udara bempa limbah, sampah, bahan bakar dan pembuangan asap pabrik.
Berbeda dengan daerah pantai lainnya, jenis pohon mangrove yang
ditemukan pada kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke hanya didominasi oleh
pohon Sonneratia caseoaris dan Nypa fmcticans. Daerah vegetasi mangrove
Suaka Margasatwa Muara Angke ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan
Suaka Margasatwa yang berfungsi sebagai pusat pendidikan lahan basah. Luas
kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke adalah 25,02 ha.
Dari gambaran tentang karakteristik habitat spesies semut dan vegetasi
mangrove pada lokasi penelitian, maka tujuan penelitian ini adalah mempelajari
komposisi dan distribusi spesies semut pada vegetasi mangrove khususnya di
wilayah mangrove Kabupten Kolaka dan Muara Angke. Habitat semut yang akan
dijadikan tempat koleksi adalah pohon Sonneratia, Rliizophora dan Bruguiera.
BAHAN DAN METODE

Lokasi Peneiitian
Penelitian dilakukan pada dua lokasi yaitu di kawasan mangrove Kabupaten
Kolaka, Sulawesi Tenggara dan Muara Angke, Jakarta. Waktu pengambilan
sarnpel dilaksanakan pada bulan Juli salnpai dengan September 2008.

Kabupaten Kolaka
Pada lokasi Kabupaten Kolaka terdapat tiga stasiun penelitian yaitu stasiun
Latambaga (04~01'01"S - 121' 29'56" E), stasiun Samaturu (04006'57" S - 121'
29'13" E), dan stasiun Wolo (04~00'57"S - 121' 29'13" E) (Gambar 2).

Garnbar 2 Peta Lokasi Penelitian di Kabupaten Kolaka. Stasiun Latalnbaga (I),


stasiun Samaturu (2), dan stasiun Wolo ( 3 ).
Muara Angke

Pada lokasi Muara Angke terdapat satu stasiun yaitu pada kawasan mangrove
Suaka Margasatwa Muara Angke (06"06'52,8" S - 106°46'05" E) (Gambar 3).

Gainbar 3 Peta lokasi penelitian di Jakarta Utara. Stasiun penelitian SMMA (4).

Pembentukan transek koleksi semut


Pada inasing-inasing stasiun penelitian dibuat satu transek dengan ukuran
panjang 50 ineter sepanjang pesisir pantai. Setiap transek dibagi inenjadi einpat
plot. Di dalain plot pada stasiun mangrove Kabupaten Kolaka terdapat tiga jenis
pohon yaitu Sonnercilia, Rlzizoplzora dan Bruguieru yang lnerupakan zona
vegetasi mangove (Ga~nbar4). Plot pada transek yang dibuat di stasiun Suaka
Margasatwa Muara Angke hanya terdapat pohon Somzeralia.
.#..
rr~la::ah l a u t Plot 1 Plot1 Plot3 Plot4

Pcsisir

Gambar 4 Desain transek penelitian keanekaragalnan selnut pada lokasi Kab.


Kolaka dan Muara Angke. zona Sonneratia (S), Rlzizoplzora (R), dan
Bruguiera (B).
Teknik koleksi semut
Koleksi selnut dilakukan antara pukul 09.00 sainpai dengan 12.00. Teknik
koleksi yang digunakan adalah teknik pasif yaitu pemberian umpan (buit) keju
dan teknik aktif yaitu lnenggunakan jaring (sweeping) dan penadah (beating)
(Gambar 5). Teknik uinpan dilakukan dengan ineletakkan umpan pada cabang
pohon, penggunaan teknik jaring serangga dengan cara jaring diayunkan disekitar
dedaunan dan penggunaan teknik penadah dengan meneinpatkan kain putih
berukuran 1 m2 di bawah tangkailranting pohon keinudian tangkailranting pohon
dipukullgoyangkan (Yamane & Magata 1989; Agosti et a/. 2000; Gullan &
Cranston 2005).
Teknik ulnpan dimaksud untuk mendapatkan spesimen semut yang tertarik
terhadap umpan. Uinpan diletakkan pada cabang pohon di setiap zona mangrove
sebanyak SO titik secara acak dan pengalnbilan selnut dilakukan setelah 30 inenit.
Koleksi semut inenggunakan jaring dan penadah dimaksud untuk mengoleksi
seinut yang bersifat soliter, aktif bergerak pada batang, ranting, dan daun. Kedua
teknik tersebut dilakukan tiga kali penga~nbilandisetiap zona mangrove selama 3-
5 menit. Semut dikoleksi lnenggunakan aspirator ke~nudiandimasukkan ke dala~n
botol yang berisi alkohol 70% yang telah diberi label berdasarkan stasiun, zonasi,
plot dan teknik koleksi. Identifikasi semut dan analisis data dilakukan di bagian
Fungsi dan Perilaku Hewan, Departeinen Biologi, Fakultas MIPA, Institut
Pertanian Bogor dan Laboratoriurn Entomologi, Museum Zoologi, Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia.

Ga~nbar5 Teknik koleksi semut: (a) umpan, (b) jaring, (c) penadah
Hasil koleksi semut kemudian diidentifikasi yang didahului dengan proses
mounting (Gambar 6). Proses identifikasi dilakukan dengan menggunakan
mikroskop stereo tipe Nikon SMZ 1000 yang dihubungkan dengan kamera digital
Nikon FDX-35 dan diidentifikasi dengan menggunakan panduan The
ZdentiJicationGuide to the Ant Genera of the World (Bolton 1994).

Gambar 6 Proses mounting semut (Gullan & Cranston 2005)


HASIL

Berdasarkan hasil identifikasi spesies semut pada vegetasi mangrove


Kabupaten Kolaka dan Muara Angke ditemukan empat subfamili semut yaitu
Dolichoderinae, Formicinae, Myrmicinae dan Pseudomyrmicinae dengan 23
spesies (Tabel 1).

Tabel 1 Spesies semut yang dikoleksi pada mangrove Kolaka dan Muara Angke.

Lokasi
No Subfamili Spesies Kolaka M. Angke
Sonnerolio Rhiiop1u)ro Br,rrrpaimo So,u,eratic
1 Ochelellus sp. +
2 Technon~yrmersp. + + +
3 Dolichoderinae Turtleria sp. +
4 Tapinonla sp. +
5 Irido,n,yrnzer sp. +
6 Oecltophylla srnarogdim + + +
7 cn,npo,loll,s sp. + + +
8 Opisfl~opsis
mayor Forel. + +
9 l:oreiophilirrs sp. + + +
10 Fomicinae Echbropla sp. +
II Pseudolasius sp. + + +
12 Cladornyr~~ta
sp. +
13 Polyltochi.~spl. + +
14 Polyrhachis sp2. + +
15 Polyrhachis bohoni
16 Cre,narogasler sp I. + + +
17 Crenralogaslersp2. i- + +
18 Myrmicinae Monomori~rmsp. + + +
19 Cardioco~~dyla
sp.
20 iYasn~anniaa~~ropawcrara +
21 Catoltlnc~rssp. +
22 Pseudomyrmicinae Tcrraponerapuncrulafa + + + +
23 Terraponera sp. +
Jun~lah 11 15 10 II

Keterangan : + = dikoleksi; - = tidak dikoleksi.


Deskripsi morfologi semut pada vegetasi mangrove berdasarkan ciri
morfologi yang teridentifikasi adalah sebagai berikut:

Subfamili Dolichoderinae
Ciri tubuh pada subfamili ini adalah memiliki satu ruas antara mesosoma
dan gaster yang disebut petiole (p). Pada ujung hypopygium tidak ada acidopore
(a) dan sting. Hypopygium pada sisi lateral tidak memiliki duri. Soket antena
terletak dekat di belakang klipeus (c). Tergit pada helcium berbentuk U (Gambar
7). Pada Subfamili ini ditemukan semut Ochetellus sp. Technonzyrmex
sp., Turneria sp., Tapinoma sp. dan Iridomyrnlex sp.

a. Spesies Ochetellus sp. dengan ciri-ciri:


Petiole berbentuk lurus, lebih rendah dan selalu tampak (Gambar 8). Kepala
dan mesosoma biasanya pendek dan luas tidak memanjang, kulit tipis, sudut
posterodorsal pada propodeum tidak tampak. Mandibula berbentuk triangular,
propodeal spirakel disamping, adanya alur metanotal dan metathoracis spirakel
dorsal. Rumus palp 6,4. Bentuk propodeum dengan lereng yang cekung .

b. Spesies Technomyrnzex sp. dengan ciri-ciri:


Petiole berbentuk sederhana dan tidak terlihat pada saat mesosoma dangan
gaster pada bidang yang sama (Gambar 9). Bila dilihat dari dorsal, tergit
berjumlah 5 dengan anal dan orifice terletak di bagian apical gaster. Mandibula
memiliki gigi yang tajam.

c. Spesies Turneria sp. dengan ciri-ciri:


Bentuk petiole lurus, lebih rendah dan selalu tampak. Kepala dan
mesosoma biasanya pendek dan luas tidak memanjang. Kulit tipis, terbentuk
sudut posterodorsal pada propodeum. Posisi propodeal spirakel lebih keatas
(Gambar 10).

d. Spesies Tapinonla sp. dengan ciri-ciri:


Petiole berbentuk sederhana dan terlihat agak membulat dan tidak terlihat
pada saat mesosoma dan gaster pada bidang yang sama . Bila dilihat dari
dorsal, tergit berjumlah 4 dengan anal dan orifice terletak di bagian ventral
(Gambar 11).

e. Spesies Iridoinyrtnex sp. dengan ciri-ciri:

Kepala biasanya pendek dan melebar, petiolc umumnya jarang membentuk


tonjolan, madibula berbentuk segitiga, terdapat spirakel pada sisi atas metatorical
propodeal, propodeum berbentuk cekung. Occipital pada bagian kepala berbentuk
cekung. Mata tampak jelas pada agak kebelakang kepala (Gambar 12).

Subfamili Formicinae
Tubuh terdiri dari satu ruas antara mesosoma dan gaster yang disebut
petiole (p), segmen pertama pada gaster bersatu dengan segmen kedua. Di ujung
hypopygium terdapat acidopor berupa kerucut berlubang yang biasanya ditumbuhi
barisan seta di tepiannya (Gambar 13a). Terkadang acidopor tertutup oleh
pygidium dan tidak ditemukan sengat. Bila acidopor tersembunyi, maka soket
antena terletak jauh di belakang tepian belakang klipeus (Gambar 13c). Pada
subfamili ini ditemukan spesies 0. smaragdina, Camponatus sp., Ophisthopsis
sp., Forelophilus sp., Echinopla sp., Pseudolasius sp., Cladoinyrma sp. dan
Polyrhachis sp.

a. Spesies 0.slnaragdina dengan ciri-ciri:


Antena dengan 12 segmen. Mandibula berbentuk segitiga memanjang tidak
melebar. Posisi soket jauh dibagian belakang klipeus. Petiole tereduksi
memanjang dan puncaknya rendah (Gambar 14).

b. Spesies Camponatus sp. dengan ciri-ciri:


Antena dengan 12 segmen. Mandibula berbentuk segitiga rnemanjang tidak
melebar. Posisi soket jauh di bagian belakang klipeus. Petiole memiliki nodus
yang lurus. Mata sedang dan biasanya terletak dibagian belakang tengah kedua
sisi kepala. Metathorical spirakel pada alithrunk biasanya berbentuk tuberculiform
prominences yang terletak dibelakang. Ujung antena funikulus tidak berbentuk
club. Terdapat metapleural gland orifice. Tergit pada gaster segmen pertama lebih
kecil, petiole tidak memiliki duri atau bergerigi. Mandibel dengan 5 gigi,
membentuk suatu cuping sempit kedepan di atas mandibels (Gambar 15).

c. Spesies Opislhopsis ntayor Fore1 dengan ciri-ciri:


Antena dengan 12 segmen. Mandibula berbentuk segitiga memanjang tidak
melebar. Posisi soket jauh dibagian belakang klipeus. Petiole memiliki nodus
yang lums (Gambar 16). Mata sangat besar yang letaknya di bagian samping
belakang kepala. Spesies ini merupakan new record untuk wilayah mangrove di
Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Beberapa penelitian sebelumnya yang
telah dilakukan di wilayah mangrove tidak menemukan spesies ini. Wilayah
distribusi spesies ini adalah daerah savanna dan ditemukan di bagian dasar
vegetasi dan arboreal (Anderson dasn Clay 1996).

d. Spesies Forelophilzrs sp. dengan ciri-ciri:


Antena dengan 12 segmen (Gambar 17). Mandibula berbentuk segitiga
memanjang tidak melebar. Posisi soket jauh dibagian belakang klipeus. Petiole
memiliki nodus yang lurus. Mata sedang dan biasanya terletak dibagian belakang
tengah kedua sisi kepala. Metathorical spirakel pada alithrunk berbentuk
tuberculifornt pro~ninencesyang terletak dibelakang, pronotum dan node petiole
tidak memiliki duri.

e. Spesies Echinopla sp. dengan ciri-ciri:


Antena dengan 12 segmen. Mandibula berbentuk segitiga memanjang tidak
melebar (Gambar 18). Posisi soket jauh dibagian belakang klipeus. Petiole
memiliki nodus yang lums. Mata sedang dan biasanya terletak dibagian belakang
tengah kedua sisi kepala. Metathorical spirkel pada alithrunk biasanya berbentuk
tu6erculiform prontinences yang terletak dibelakang. Ujung antena funikulus
tidak berbentuk club. Terdapat metapleural gland orifce. Tergit pada gaster
segmen pertama besar.

f. Spesies Pseudolasius sp. dengan ciri-ciri:


Antena dengan 12 segmen. Mandibula berbentuk segitiga memanjang tidak
melebar (Gambar 19). Posisi antenna1 soket pendek dibagian belakang klipeus,
metapleuron memiliki jarak dengan metapleural gland orifice dan spirakel
propodeal berada di atas coxa di bagian belakang. Palpus maksila 4 segmen. Pada
alithrunk bentuk mesonotum dan anepisternum bersama-sama membentuk
segitiga yang jelas.

g. Spesies Cladomyrma sp. dengan ciri-ciri:


Antena 8 segmen. Antena scape, jika ditelungkupkan posisinya ditengah agak
diatas posisi mata (Gambar 20). Ujung garis tepi rahang bawah dengan 4 gigi.

h. Genus Polyrhchis dengan ciri-ciri:


Pada genus ini ditemukan tiga spesies yaitu Polyrhachis spl. (Gambar 21),
Polyrhachis sp2 (Gambar 22). dan Polyrhachis sp3 (Gambar 23). Ciri-ciri genus
ini adalah antena dengan 12 segmen. Mandibula berbentuk segitiga memanjang
tidak melebar. Posisi soket jauh dibagian belakang klipeus. Petiole memiliki
nodus yang lurus. Mata sedang dan biasanya terletak dibagian belakang tengah
kedua sisi kepala. Metathorical spirakel pada alithrunk biasanya berbentuk
tuberculiform prominences yang terletak dibelakang. Ujung antena funukulus
tidak berbentuk pemukul. Tidak ada metapleural gland orifice. Tergit segmen
pertama gaster besar. Tergit pertama berjarak panjang dengan yang kedua. Ada
duri pada pronotum, propedium, petiole dua atau seluruhnya. Perbedaan yang
terlihat dari ketiga spesies adalah posisi duri pada petiole (datar, menjulang dan
pendek), warna gaster (hitam dan merah) dan integumen tubuh (kasar dan halus).

Subfamili My rmicinae
Tubuh terdiri dari dua ruas antara mesosoma dan gaster yaitu petiole (a) dan
post petiole (b) (Gambar 24). Permukaan pygidium selalu cembung dan tidak
diterdapat senjata pada daerah lateral atau bagian belakang dengan duri-duri
pendek. Tidak terdapat frontal lobes (c), antenna1 soket terlihat sempurna
dipermukaan wajah. Mata ada dan menyolok dengan banyak ommatidia (d). Tidak
terbentuk jelas atau tidak ada sutura promesonotal (e), tibia paling belakang
memiliki taji pada ujungnya.
Pada Subfamili ini terdiri dari genus :
a. Genus Crematogaster dengan ciri-ciri:
Pada genus ini ditemukan dua spesies yaitu Crematogaster spl (Gambar 25)
dan Crematogaster sp2. (Gambar 26). Ciri-ciri genus ini adalah tidak ada antenal
scrobes atau ada tetapi berada diatas mata. Pospetiole bersambung dengan
permukaan segmen pertama gaster bagian dorsal. Mata tampak jelas. Perbedaan
kedua spesies adalah integumen Crematogaster spl. lebih kasar dan warnanya
lebih gelap dibandingkan Crematogaster sp2.

b. Spesies Monomorium sp. dengan ciri-ciri:


Antena 11 ruas. Bagian atas kepala tanpa alur dan tanpa antenal scrobes.
Petiole tanpa peduncule, petiole lebih besar dibandingkan postpetiole. Propodeum
tidak memiliki duri, datar dan membulat (Gambar 27).

c. Spesies Cataulacus sp. dengan ciri-ciri:


Terdapat antenal scrobes dan mata bearada di bagian bawah garis tepi atas
antenal scrobes. Antena memiliki 11 mas. Tanpa peduncle bagian depan petiole.
Bagian depan gaster bergabung dengan tergit pertama (Gambar 28).

d. Spesies Cardiocandyla sp. dengan ciri-ciri:


Tidak ada antenal scrobes. Bagian atas kepala tidak membumbung. Petiole
tidak rata, menlbentuk tangkai dan membengkak. Postpetiole berhubungan
langsung dengan permukaan gaster segmen pertama. Antena 12 Segmen dan pada
ujung antend membentuk 2 segment club (Gambar 29).

e. Spesies Wasmannia auropunctata dengan ciri-ciri:


Terdapat antenal scrobes yang luas. Postpetiole berhubungan langsung
dengan permukaan gaster segmen pertama Pada ujung antena terdapat dua segmen
yang membesar membentuk pemukut. Klipeus terletak agak ke depan dan
cembung. Antenal dengan 11 segmen (Gambar 30).

Subfamili Pseudomyrmicinae
Tubuh terdiri dari dua ruas antara mesosoma dan gaster yaitu petiole (a) dan
post petiole (b). Permukaan pygidium selalu cembung dan tidak terdapat senjata
pada daerah lateral atau bagian belakang dengan duri-duri pendek. Tidak terdapat
frontal lobes (c), antennal soket terlihat sempuma dipermukaan wajah Mata ada
dan menyolok dengan banyak ommatidia. Ada promesonotal sutura (d), garis tepi
dibagian belakang clypeus tidak memproyeksikan antara antennal soket (Gambar
3 1).

Ciri Subfamili Pseudomyrmicinae:


Genus Tetraponera .
Pada genus ini ditemukan dua spesies yaitu T. punctulatu dan Tetraponera
spl. Ciri-ciri dari genus ini adalah antena dengan 12 segmen. Tepi rahang tanpa
duri, mata lebih luas. Perbedaan yang nampak dari kedua spesies adalah ukuran
tubuh T. puctulatu (Gambar 32) lebih kecil dan warna tubuh hitam sedangkan
untuk spesies Tetraponera spl (Gambar 33). Ukuran tubuhnya lebih besar dan
wama mesosoma, petiole dan postpetiole lebih cerah.
Gainbar 7 Ciri Subfainili Dolichoderinae

Gambar 8 Oclze/e//ussp.: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral

Gainbar 9 Technonzymzes sp.: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral

Galnbar 10 Turneria sp.: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral

Gambar 11 Tapino7?zusp.: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral


Gambar 12 Iridornyrine-x ssp.: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral

Galnbar 13 Ciri Subfamili For~nicinae

Ga~nbar14 0. sniaragdinu: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral

Gambar 15 Culnponotus sp.: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral

Gambar 16 Opisrhopsis rnuyor Forel: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral
Gambar 17 Foreloplzilus sp.: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral

Gambar 18 Eclzinoplu sp.: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral

Gambar 19 Pseudolusius sp.: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral

-
Garnbar 20 Cludo~~zyrr~zu
sp.: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral

Gambar 21 Polyrhuclzis spl.: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral


Gambar 22 Polyrhuclzis sp2.: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral

Galnbar 23 Polyrhuclzis bolzoni: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral

Ga~nbar24 Ciri Subfainili Mynnicinae

Gambar 25 Cre~?zatoguster
spl.: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral

Gainbar 26 Crenzatoguster sp2.: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral


Gambar 27 Mononzoriut~zsp.: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral

Ga~nbar28 Cutuuluct~ssp.: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral

Gainbar 29 Cardiocundylu sp.: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral

Gambar 30 lYusr?zunniuuuropunctutu: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral

Galnbar 3 1 Ciri Subfalnili Pseudoinyrinicinae


Gambar 32 T. punctula/a: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral

Gambar 33 Tetraponeru sp.: (a) sisi anterior, (b) sisi lateral

SIMPULAN

Semut-semut yang ditelnukan pada vegetasi mangrove Kabupaten Kolaka


dan Muara Angke inemilih persamaan khususnya pada pohon Sonneratia. Semut-
semut yang dikoleksi sama adalah Teclznonzyr~izex sp., Foreloplzilus sp.,
Polyraclzis spl ., (:re~?ratogcister spl ., Crenzutogaste~ sp2. dan Tetraponera
punctuluta.
Pada vegetasi mangrove Icabupaten Icolaka subfainili Dolichoderinae
dikoleksi tiga spesies, Forrnicinae dikoleksi sepuluh spesies, Myrrnicinae
dikoleksi enam spesies, Pseudolnyrmicinae dikoleksi satu spesies serta dikoleksi
selnut Opkistopsis nzayor Forel. yang inerupakan spesies new record pada
vegetasi mangrove Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Pada vegetasi
inangrove Muara Angke subfamili Dolichoderinae dikoleksi dua spesies,
Formicinae dikoleksi tiga spesies, Myrmicinae dikoleksi ernpat spesies dan
Pseudomynnicinae dikoleksi dua spesies.
3. STRUKTUR DAN KOMPOSISI SPESIES SEMUT
(HYMENOPTERA: FORMICIDAE) PADA VEGETASI
MANGROVE

Semut merupakan salah satu kelompok serangga yang dominan di daerah


tropis (Kempf 1964; Agosti ei al. 2000)). Jumlah genus semut yang teiah
dideskribsi sebanyak 296 genus dengan wilayah distribusi meliputi Paleartic,
Afrotropical, Malagasy, Oriental, Indo-Australia, Australian, Neartic dan
Neotropical. Indonesia merupakan salah satu negara tropis yang memiliki
keanekaragaman semut yaitu sekitar 126 genus dari 296 genus dan sembilan
subfamili dari 16 subfamili yang diketahui (Bolton 1994).
Keanekaragaman spesies menggambarkan kekayaan spesies (McGeoch
1988). Keanekaragaman spesies secara umum dapat menjelaskan tentang
komposisi, kelirnpahan, dominansi, kemerataan penyebaran spesies berdasarkan
data penelitian (Magurran 1988). Distribusi atau sebaran spesies semut disetiap
habitat sangat dipengaruhi oleh ketersediaan surnber makanan, daerah pembuatan
sarang serta daerah jelajah. Aktifitas manusia juga mempengaruhi keberadaan
semut (Graham et al. 2004). Beberapa spesies semut hahkan telah beradaptasi
dengan keberadaan manusia. Beberapa semut hersifat invasif dan sering membuat
sarang disekitar lokasi aktifitas manusia.
Semut merupakan serangga yang lebih maju dalam evolusinya sehingga
sukses dalam beraktifitas yaitu dapat berperan sebagai predator, scavenger,
herbivora, detritivor serta memiliki peranan yang unik dalam interaksinya dengan
organisme lain seperti tumbuhan atau serangga lain pada habitatnya (Holdobler &
Wilson 1990). Pada daerah teresterial semut membuat sarang di tanah, hebatuan,
kayu lapuk, dan dalam serasah (Holldober & Wilson 1990; Taylor 1991). Pada
daerah tropis khususnya pada mangrove semut umumnya berada pada bagian
arboreal yaitu pada daun, batang, dan ranting bahkan bersimbiosis dengan
beberapa pohon yang dapat membuat kondisi semut menjadi terlindungi.
Vegetasi mangrove sangat memungkinkan ditemukan berbagai serangga
termasuk semut karena ditumbuhi berbagai jenis pohon yang bervariasi. Jenis,
karakter dan habitat pohon pada vegetasi mangrove sangat dipengaruhi oleh
kondisi lingkungan yang berkadar garam, jenuh air, kondisi tanah yang tidak
stabil dan anaerob (Bengen 2000). Beberapa jenis pohon pada vegetasi mangrove
sangat mempengaruhi keberadaan fauna serangga khususnya semut. Spesies
semut 0. snzaragdina, Cremalogaster sp., Canzponotus sp., Tetraponera
punctulata, Tapinonla sp. dan Moi~omorium sp. adalah semut yang sudah
teridentifikasi pada pohon Sonneratia mielsen 1997). Semut 0. snzaragdina juga
ditemukan pada pohon Rhizophora niucronata (Offenberg et al. 2004). Semut
Polyrhachis conslricta dan P. socolova ditetnukan membuat sarang pada bagian
akar dari pohon Rhizophora (Andersen & Clay 1996; Nielsen 1997).
Teknik koleksi yang umum dilakukan untuk mengoleksi dan mendapatkan
data tentang keanekaragaman semut umumnya dilakukan dengan teknik umpan
atau piflail trap (Agosti el al. 2000, Gullan & Cranston 2005). Namun, kondisi
daerah mangrove yang sering digenangi oleh air laut dan keadaan daerah dasar
vegetasi yang tidak stabil tidak memungkinkan dilakukan teknik koleksi seperti
pitfall trap di daerah dasar vegetasi. Variasi teknik koleksi seperti penggunaan
umpan, jaring, dan panadah sangat mendukung pada kondisi mangrove, ha1 ini
berhubungan dengan sifat biologi beberapa semut yaitu soliter dan umumnya
berada di bagian arboreal.
Berdasarkan informasi di atas, maka tujuan penelitian ini adalah (1)
mempelajari keanekaragaman, dominansi, kemerataan dan prediksi kelimpahan
semut berdasarkan habitat vegetasi mangrove, (2) mempelajari beberapa teknik
koleksi semut pada vegetasi mangrove, dan (3) mempelajari jejaring ekologi pada
vegetasi mangrove.
BAHAN DAN METODE

Analisis
Hasil identifikasi semut pada mangrove Kabupaten Kolaka dan Suaka
Margasatwa Muara Angke ( Bab 2 ) dikelompokan berdasarkan stasiun
pengambilan semut dan teknik koleksi. Frekuensi pengambilan sa~npel
berdasarkan tiga teknik koleksi disetiap jenis pohon diseluruh stasiun Kabupaten
Kolaka adalah 27 kali dan pada stasiun Suaka Margasatwa Muara Angke adalah 3
kali. Data hasil identifikasi semut dikelompokan dan dianalisis berdasarkan:
1. Analisis keanekaragaman semut dengan menggunakan software Primer 5 for
Windows ver 5.1.2 untuk menghitung :
a. Indeks Shannon Wiener (H') untuk mengetahui keanekaragaman semut
pada vegetasi mangrove.
b. lndeks dominansi Simpson (D') untuk mengetahui semut yang
mendominasi vegetasi mangrove.
c. Indeks kemerataan Evenness (E') untuk mengetahui kemetraan individu
semut pada vegetasi mangrove.
2. Analisis Spesies Abundance-based Coverage Esinzates (SACE) untuk
memprediksi kelimpahan spesies semut dan analisis Spesies Incidence-based
Coverage Esimafes (SICE) untuk memprediksi kekayaan spesies semut
berdasarkan data presence-absence pada vegetasi mangrove dengan
menggunakan software Estimates Win 7.52.
3. Analisis kesamaan Sorensen (IS) untuk mengetahui kesamaan spesies semut
pada vegetasi mangrove (Magurran 1988).
4. Jumlah individu semut pada pohon Sonneratia, Rhizopohra, dan Bruguiera
pada vegetasi mangave dikategorikan dalam enam kategori skor yaitu: skor 0
= 0 individu; skor 1 = I individu; skor 2 = 2-10 individu; skor 3 = 11-20
individu; skor 4 = 21- 50 individu; skor 5= > 51 individu (Andersen & Clay
1996).

Mengidentifikasi beberapa arthropoda dan serangga lain yang ikut terkoleksi


dengan menggunakan teknik jaring dan penadah. Identifikasi Arthropoda dan
serangga lain dilakukan sampai pada tingkat Ordo (Borror et al. 1989).
HASIL

Kondisi Lokasi Penelitian d i Kabupaten Kolaka

Vegetasi mangrove Kabupaten Kolaka umumnya di tumbuhi oleh pohon


jenis Sonneratia, Rhizophora dan Bruguiera. Jenis pohon Sonnerafia tumbuh
pada bagian depan pesisir pantai yang berhadapan langsung dengan laut. Substrat
tempat tumbuh pohon tersebut adalah pasir berbatu. Jenis pohon Rhizophora
adalah jenis pohon mangrove yang tumbuh pada daerah pertengahan dengan
subshat berlumpur. Daerah yang lebih mengarah ke darat pada umumnya tumbuh
pohon Biuguiera, namun jumlah pohon tersebut sudah semakin berkurang karena
mengalami eksploitasi oleh masyarakat untuk dijadikan lahan tambak. Kondisi
iklim dan cuaca pada waktu pengambilan sampel adalah cerah dengan kisaran
suhu antara 2 6 , 5 ' ~sampai dengan 32,9'C dan kisaran kelembaban udara adalah J-
68% dipagi hari dan * 36% disiang hari.
Keanekaragaman, dominansi, dan kemerataan spesies semut pada mangrove
~ a b u ~ a t ~e on i a k a .

Berdasarkan hasil koleksi di tiga stasiun pada mangrove Kabupaten Kolaka,


dikoleksi empat subfamili semut yaitu Dolichoderinae, Formicinae, Myrmicinae
dan Pseudomyrmicinae dengan jumlah 18 spesies (Tabel 2). Dari keempat
subfamili, Formicinae dikoleksi lebih banyak yaitu sembilan spesies semut,
Myrmicinae dikoieksi empat spesies semut, Dolichoderianae dikoleksi empat
spesies semut dan Pseudomyrmicinae dikoleksi satu spesies semut.
Pada umumnya semut yang dikoleksi di tiga stasiun pada mangrove
Kabupaten Kolaka adalah spesies semut yang sama yaitu semut 0. sniaragdina,
Camponolus sp., 0pisfhopsi.s sp., Polyrhachis sp., Crematogaster sp.,
Monoinoriun~sp., dan Tetraponerapunclulata. Namun, ada beberapa semut hanya
dikoleksi pada stasiun tertentu (Tabel 2). Semut Ochetellus sp. hanya dikoleksi
pada stasiun Latambaga, semut Wasmannia sp. hanya dikoleksi pada stasiun
Samaturu, semut Tztrneria sp. dan Cladomyrn~asp. hanya dikoleksi pada stasiun
Wolo.
Pada vegetasi mangrove Kabupaten Kolaka beberapa semut terdistribusi
diseturuh jenis pohon Sonneratia, Rhizophora dan Bruguiera seperti semut 0.
smaragdina, Camponotus sp., Pseudolasius sp., Cremafogaster sp., Mononiorium
sp., dan Tefraponera punctulata. Namun ada beberapa spesies semut juga
dikoleksi pada satu atau dua jenis pohon. Semut Cladomyrnza sp. adalah semut
yang hanya dikoleksi pada pohon Sonneratia. Semut Ochetellus sp., Turneria sp.,
Iridomyr~i~ex
sp., Echinopla sp. dan Wasmannia sp. adalah semut yang hanya
dikoleksi pada pohon Rhizophora. Sedangkan pada pohon Bruguiera tidak
ditemukan spesies semut khusus. Semut 0. smaragdina, Cremafogaster sp. dan
Mononioriuni sp. merupakan semut yang memiliki kelimpahan tinggi disemua
lokasi dan semua jenis pohon. Semut Pseudolasius sp. dikoleksi melimpah hanya
pada stasiun Wolo (Tabel 2).
Tabel 2 Ju~nlahsemut yang dikoleksi pada pohon Sonneratia, Rhizophora dan Bruguiera pada tiga stasiun di Kabupaten Kolaka dengan
menggunakan tiga teknik.

Stasiun Pohon Teknik


No Subfamili Spesies Latambaga Samaturu Wolo Sonnemfia Rhizophoru B n r ~ ~ r i e r a Umpan Jaring Penadah Jumlah
1 Dolichoderiliae OchefeNas sp. 17 0 0 0 17(3) 0 17(3) 0 0 17
2 Techno,ny,me,r sp. 0 I 68 68(5) 0 0 0 69(5) 69
3 Trrrneria sp. 0 0 2 0 20) 0 0 2(2) 0 2
4 Iridomyrmex sp. 0 1 I 0 2(2) 0 0 2
5 Formicinae 0.smaragdina 570 699 760 1 146(5) 525(5) 358(5) 1419(5) 330(5) 280(5) 2029
6 sp.
Compono~~rs 8 II 20 20(3) 7(2) 12(3) 35(4) 4(2) 0 39
7 Opislhopsis mayor Forel. 8 15 2 0 17(3) 8(2) I(]) 8(2) 25
8 Forelophillrrs sp. 3 2 0 3(2) 2(2) 0 2(2) 0 3(2) 5
9 Echinopla sp. 0 7 5 0 120) 0 2(2) 9(2) ](I) 12
10 sp.
Pselrdolasi~rs I 0 1221 2(2) 1217(5) 3(2) 1 196(5) 5(2) 2 1(4) 1222
II sp.
Cladomp~a 0 0 36 36(4) 0 0 36(4) 0 0 36
12 Polyrhachis sp I. 2 3 2 ](I) 0 6(2) 0 4(2) 3(2) 7
13 Polyrhachis sp2. 1 1 3 0 4(2) 0 3(2) 2(2) 5
I4 ivlyrmicinae C~emofogasfersp I . 759 1355 206 1934(5) 28(4) 358(5) 1439(5) 491(5) 390(5) 2320
15 Crea~arogasrersp2. 106 219 210 401(5) 103(5) 31(4) 278(5) 145(5) 112(5) 535
16 iC/onomo~inmsp. 176 136 34 85(5) 106(5) 155(5) 345(5) 0 ](I) 346
17 CYasrnannia o~rrop~rncfa~a 0 I 0 0 l(1) 0 0 0 l(1) I
18 Pseudomyrmicinae T. prrnct~rlata 58 99 II 145(5) 1 8(3) 5(2) 123(5) 15(3) 30(4) 168
Z: Tota individu 1714 2545 2581 6840
): Spesies 12 14 15 11 16 10 12 12 14 18
Keterangan : ( ) nilai skor
Gambar 34 Grafik distribusi semut pada pohon Sonneratia, Rhizophora dan
Bruguiera di mangrove Kabupaten Kolaka.

Analisis keanekaragaman semut disetiap stasiun penelitian berdasarkan nilai


indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H') adalah 1,372; 1,2S dan 1,433
berturut-turut untuk indeks keanekaragaman semut di stasiun Latambaga,
Samaturu dan Wolo. Hasil ini menyatakan bahwa keanekaragaman semut di tiga
statsiun pada lokasi Kabupaten Kolaka dikategorikan keanekaragaman sedang
karena diperoleh nilai 1<H'<3. Tidak ada tekanan lingkungan sehingga tidak
terdapat dominasi semut tertentu terhadap semut lain. Hal tersebut terlihat dari
nilai indeks dominansi yaitu 0,324; 0,369 dan 0,325 berturut-turut pada stasiun
Latambaga, Samaturu dan Wolo dengan kriteria indeks dominansi Simpson (D')
yaitu D'<l. Namun, nilai kemerataan semut sangat rendah karena terdapat
beberapa semut yang dikoleksi memilii jumlah individu yang sangat kurang
dibandingkan dengan beberapa semut lainnya. Hal ini terlihat dari nilai indeks
kemerataan yaitu 0,552; 0,485 dan 0,529 berturut-turut pada stasiun Latambaga,
Samaturu dan Wolo dengan kriteria indeks Evenness (E') yaitu E'<1 (Tabel 3).
Tabel 3 Nilai indekiD', IT dan E' semut di setiap stasiun pada lokasi Kabupaten
Kolaka.

Indeks Nilai indeks


Latambaga Samaturu Wolo Mangrove Kolaka
H' 1,372 1,28 1,433 1,65
D' 0,324 0,369 0,325 0,244
E' 0,552 0,485 0,529 0,571
Keterangan: H' = indeks Shannon-Wiener, D' = indeks Simpson, E' = indeks Evenness

Estimasi kelimpahan spesies semut pada mangrove Kabupaten Kolaka

Jumlah semut berdasarkan hasil observasi pada stasiun Latambaga,


Samaturu dan Wolo berturut-turut 12, 14 dan 15 spesies (Tabel 2). Hasil analisis
dengan menggunakan analisis SACE memperlihatkan bahwa persentase prediksi
kelimpahan semut pada stasiun Latambaga, Samaturu dan Wolo berturut-turut
adalah 87,02; 65,51; dan 97,21% (Tabel 4). Persentase prediksi kekayaan spesies
semut berdasarkan SICE pada stasiun Latambaga, Samaturu dan Wolo berturut-
turut adalah 67,85; 74,39; dan 67,33%. Persentase tersebut memperlihatakan
presence-absence spesies semut yang dikoleksi. Secara keseluruhan pada
mangrove Kabupaten Kolaka, persentase kelimpahan dan keberadaan spesies
semut dengan menggunakan analisis SACE dan SICE masih tergolong baik dan
cukup tinggi yaitu 97,51% dan 84,99%.

Tabel 4 Estimasi kelimpahan semut di setiap stasiun pada lokasi Kabupaten


Kolaka.

Stasiun N Sobs S ACE %ACE S ICE %ICE


Latambaga
- 1714 12 13,79 87,02 17.18 69.85
Samaturu 2545 14 21i37 65;51 18182 74i39
Wolo 2581 15 15,43 97,21 22,28 67,33
Kolaka 6840 18 18,46 97,51 21,18 84,99
Keterangan: N = jumlah indivudu; Sobs= jumlah semut hasil obeservasi; S ACE = predisi
kelimpahan semut; S ICE = prediksi presence-absence spesies semut; % =
persentase spesies hasil observasi dengan spesies hasil prediksi.
Nilai estimasi yang didapatkan berdasarkan andisis SACE dan SICE
memperlihatkan fluktuasi nilai jumlah spesies semut. Fluktuasi tersebut terlihat
pada kisaran pengoleksian 1 sampai 4. Prediksi terhadap keanekaragaman dan
kekayaan spesies semut akan lebih baik jika fiekuensi koleksi dilakukan lebih
banyak (Gambar 35).

--
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112131415161718192021222324252627

Frekuensi koleksi

Gambar 35 Kurva akumulasi spesies semut pada mangrove Kabupaten Kolaka

Kondisi Lokasi Penelitian di Muara Angke

Vegetasi mangrove Suaka Margasatwa Muara Angke didominasi oleh jenis


pohon Sonneratia caseoaris. Iklim dan cuaca pada waktu pengambilan sampel
dengan kondisi cerah. Kisaran suhu pada lokasi pengambilan sampel antara
30,8O~sampai dengan 42,1°c dan kisaran kelembaban udara adalah * 78% di pagi
hari dan * 37% di siang hari.
Keanekaragaman, dominansi dan kemerataan spesies semut pada mangrove
Suaka Margasatwa Muara Angke

Berdasarkan hasil koleksi semut pada stasiun Suaka Margasatwa Muara


Angke, dikoleksi empat subfamili yaitu Dolichoderinae, Formicinae, Myrmicinae
dan Pseudomyrmicinae dengan jumlah 11 spesies. Subfamili Dolichoderinae
dikoleksi dua spesies semut, Formicinae dikoleksi tiga spesies semut, Mynnicinae
dikoleksi empat spesies sernut dan Pseudomyrmicinae dikoleksi dua spesies
semut. Semut Polyrhachis, Cremajogasjer dan Tetraponera masing-masing
dikoleksi dua spesies yaitu Polyrhachis sp2., Polyrhachis bohoni, Crematogastet.
spl., Crematogaster sp2., T. punctulata, Tetraponera sp. Semut yang memiliki
jumlah melimpah adalah Cardiocandyla sp. dan Crematogaster sp. (Tabel 5).

Tabel 5 Jumlah semut yang di koleksi pada pohon Sonneratia stasiun SMMA.

No Subfamili Spesies Teknik x


umpan jaring penadah
1 Dolichoderinae Technomyrmex sp. 80 0 3 83
2 Tapiriorna sp. 25 3 4 32
3 Formicinae Forelophillus sp. 9 2 0 11
4 Polyrhachis sp2. 3 5 8 16
5 Polyrhachis bohoni 0 1 2 3
6 Myrmicinae Cardiocandyla sp. 392 7 3 402
7 Crematogaster sp I. 224 28 54 306
8 Cremalogaster sp2. 149 16 3 168
9 Catazrlacus sp. 6 4 0 10
10 Pseudomyrmicinae T. Punctulata 10 16 5 31
11 Terraporiera sp. 0 2 0 2
1 Spesies 9 10 8 11

Berdasarkan analisis indeks Shannon-Wiener (H') diperoleh nilai indeks


keanekaragaman pada vegetasi mangrove Suaka Margasatwa Muara Angke
adalah 1,608. Hasil ini menyatakan bahwa keanekaragaman semut pada vegetasi
mangrove Suaka Margasatwa Muara Angke dikategorikan keanekaragaman
sedang karena memiliki nilai 1<H'<3. Berdasarkan analisis indeks dominansi
Simpson (D') diperoleh nilai indeks sebesar 0,259, nilai tersebut menyatakan
tidak ada semut yang dominan dan mendominasi semut lain pada habitat
Sonneratia berdasarakan kategori D'<l. Indeks kemertaan semut berdasarkan
nilai indeks Evennes adalah 0,67 yang menyatakan bahwa kemerataan spesies
masih rendalr berdasarkan kategori E'<l. Hal tersehut dikarenakan masih terlihat
beberapa semut yang dikoleksi memiliki jumlah individu yang kurang dan
berbeda dengan beberapa semut laimya (Tabel 6).
35

Tabel 6 Nilai indeks D', H' dan E' semut pada pohon Sonneratia stasiun SMMA.

Indeks Nilai indeks


H' 1,608

Keterangan: H' = indeks Shannon-Wiemer, D' = indeks Simpson, E' = indeks Evenness.

Estimasi kelimpahan semut pada mangrove Suaka Margasatwa Muara


Angke.

Hasil analisis dengan menggunakan analisis estimasi memperlihatkan


bahwa persentase prediisi kelimpahan berdasarakan SACE semut pada stasiun
Suaka Margasahva Muara Angke adalah 100% dan persentase prediksi
keberadaan spesies semut berdasarkan SICE adalah 95,99%. Persentase tersebut
menggambarkan bahwa prediisi kelimpahan semut pada mangrove Suaka
Margasatwa Muara Angke adalah stabil sesuai hasil observasi dan prediksi
keberadaan semut yang masih tinggi.

Tabel 7 Estimasi kelimpahan semut pada stasiun SMMA.

Stasiun N Sobs SACE %ACE SICE %ICE

Muara Angke 1064 11 11 100 11,46 95,99

Keterangan: N = jumlah indivudu; Sobs= jumlah semut hasil obesewasi; S ACE = prediksi
kelimpahan semut; S ICE = prediksi presence-absence spesies semut; % =
persentase spesies h a i l obsewasi dengan spesies hasit prediksi.

Nilai estimasi yang didapatkan berdasarkan analisis SACE dan SICE


memperlihatkan prediksi yang lebih sempuma. Hal tersebut disebabkan karena
habitat tempat melakukan koleksi sangat terbatas yaitu hanya pada tanaman
Sonneratia dengan frekwensi koleksi yang cukup maksimal. (Gambar 35).
0 L___
1 2 3
Frekuensi koleksi

Gambar 36 Kurva akumulasi spesies semut pada mangrove Muara Angke

Kesamaan Semut pada Habitat Mangrove Kabupaten Kolaka dan Muara


Angke.

Persamaan dan perbedaan hasil koleksi semut digambarkan antara jenis


pohon yaitu Sonneratia, Rhizophora dan Bruguiera serta antara lokasi yaitu
mangrove Kabupaten Kolaka dan Muara Angke. Persamaan dan perbedaan semut
dapat digambarkan dengan melakukan analisis indeks Sorensen (IS). Variabel
yang menjadi pembanding adalah semut yang hanya dikoleksi pada satu
habiatat'lokasi tertentu (A atau B) dan semut yang dikoleksi dengan spesies yang
sarna pada dua habitattlokasi (C). Nilai indeks Sorensen yang tinggi antara habitat
yang dibandingkan mengindikasikan banyaknya persamaan semut yang mendiami
habitat'lokasi. (Tabel 8).

Tabel 8 Indeks Sorensen semut antara pohon Sonneratia, Rhizopora dan


Bruguiera pada lokasi Kabupaten Kolaka.

Jenis Pohon A B C IS
(A) (B)
Sonneratia + Rhizophora 2 7 9 2
Sonneratia + Bruguiera 3 2 8 3.2
Rhizophora + Bruguiera 7 1 9 2.25
Beberapa semut yang dikoleksi sama antara mangrove Kabupaten Kolaka
dan mangrove Muara Angke khususnya pada pohon Sonneratia adalah semut
Technomyrmex sp., Forelophillus sp., Crematogaster spl., Crematogaster sp2.,
T. punctulata. Kedua lokasi masing-masing mengoleksi semut sebanyak I1
spesies.
Selain memiliki persamaan, beberapa spesies semut juga dikoleksi berbeda
antara kedua lokasi. Semut 0. smaragdina, Camponotus sp., Pseudolasius sp.,
Cladomyrma sp., Polyrhachis spl., dan Monomorium sp. adalah semut yang
dikoleksi pada pohon Sonneratia mangrove Kabupaten Kolaka, sedangkan semut
Tapinoma sp., Polyrhachis sp2., Polyrhachis bohoni, Cardiocandyla sp.,
Cataulacus sp., dan Teh~aponeraspl. adalah semut yang dikoleksi pada pohon
Sonneratia pada mangrove Muara Angke.

Tabel 9 Indeks Sorensen semut pada pohon Sonneratia Kabupaten Kolaka dan
Muara Angke.

Pohon Sonneratia A B C IS

Kolaka (A) + Muara Angke (B) 5 5 6 1.2

Efektifitas Penggunaan Teknik Koleksi Semut

Pada daerah arboreal khususnya pada vegetasi mangrove beberapa semut


dapat dikoleksi dengan menggunakan teknik koleksi umpan, jaring dan penadah
seperti semut 0. smaragdina, Crematogaster sp, Pseudolasius sp.. dan T.
punctulata. Namun, ada beberapa semut hanya dapat dikoleksi dengan satu atau
dua teknik koleksi. Beberapa semut dikoleksi secara khusus pada pohon tertentu
dengan teknik tertentu. Semut Ochetellus sp. hanya dikoleksi pada pohon
Rhizophora dengan menggunakan teknik koleksi umpan, semut Turneria sp.
hanya dikoleksi pada pohon Rhizophora dengan menggunakan teknik koleksi
jaring, semut Echinopla sp. hanya dikoleksi pada pohon Rhizophora dengan
menggunakan teknik koleksi umpan, jaring dan penadah, Cladomyrma sp.
dikoleksi pada pohon Sonneratia sp. dengan menggunakan teknik koleksi umpan
dan Wasmannia auropunctata dikoleksi pada pohon Rhizophora sp. dengan
menggunakan teknik koleksi penadah.
Hasil koleksi semut tersebut memperlihatkan pengaruh teknik koleksi pasif
(umpan) dan aktif (jaring dan penadah) terhadap jumlah koleksi. Dari hasil
koleksi terlihat perbedaan semut yang dikoleksi dengan menggunakan umpan dan
bukan umpan (Tabel 10).

Tabel 10 Jumlah semut yang diioleksi dengan teknik koleksi urnpan dan bukan
umpan berdasarkan skor pada lokasi Kabupaten Kolaka dan Muara
Angke.

Nilai Skor
No Subfnmili Spesies Kolaka Muara Angke
bukan bukan
Umpan umpan umpan umpan
1 Ochetellus sp. 3 0 0 0
2 Technomyrmex sp. 0 5 5 2
3 Dolichoderinae Tapinonlo sp. 0 0 4 2
4 Tzwneria sp. 0 2 0 0
5 Iridotnyrmex sp. 0 2 0 0
6 0. snzarugdina 5 5 0 0
7 Componottrs sp. 4 2 0 0
8 Opisllzolxis nrayor Forel I 4 0 0
9 I;orelophilltts sp. 2 2 2 2
10 Fomicinae Echinopla sp. 2 2 0 0
II Pse~idolosiussp. 5 4 0 0
12 Clodomyrmo sp. 4 0 0 0
13 I'olyrlrochis spl . 0 2 0 0
14 Po1.vrhachis sp2. 0 2 2 3
15 Polyrhachis sp3. 0 0 0 2
I6 Cardiocandylo sp. 0 0 5 2
17 Crematogaster sp I . 5 5 5 5
18 Myrmicinae Crenzatogartrr sp2. 5 5 5 3
19 Cotaulacrrs sp. 0 0 2 2
20 Monomorittnr sp. 5 1 0 0
21 IVosr~ta~tniao!rroprinctata 0 1 0 0
22 Pseudom)~micinae T pr~nctuloto 5 4 2 4
23 Tetroponera sp. 0 0 0 2
7.Spesies I2 16 9 I1
70 66.7 88,9 81,2 100

Persentase hasil koleksi semut pada mangrove Kabupaten Kolaka dan


Muara Angke diperoleh dari hasil perbandingan jumlah semut yang dikoleksi
dengan teknik koleksi tertentu dengan jumlah total semut secara keseluruhan
diwilayah pengambilan sampel. Pada lokasi Kabupaten Kolaka dengan teknik
umpan dikoleksi 12 spesies dengan persentase 66,7%, koleksi dengan teknik
bukan umpan dikoleksi 16 spesies semut dengan presentase 88,9%. Pada lokasi
Muara Angke dengan teknik umpan dikoleksi 9 spesies dengan persentase 8 1,2%
dan koleksi dengan teknik bukan umpan diioleksi 11 spesies semut dengan
presentase 100% (Tabel 10).

Komposisi Arthropoda dan Serangga Lain pada Vegetasi Mangrove

Selain semut, beberapa arthropoda dan serangga lain dikoleksi dengan


menggunakan teknik koleksi jaring dan penadah. Perbedaan komposisi arthropoda
dan serangga lain pada vegetasi mangrove Kabupaten Kolaka dan Suaka
Margasatwa Muara Angke khususnya pada pohon Sonneratia tidak jauh berbeda.
Araneae mempakan ordo yang paling mendominasi daerah pepohonan mangrove
di kedua lokasi penelitian. Beberapa ordo lain yang dikoleksi dengan jumlah yang
cukup tinggi adalah Hemiptera, Homoptera, Coleoptera dan Diptera. Perbedaan
hanya terlihat pada ordo Lepidoptera dan Tysanoptera yang dikoleksi pada
mangrove Kabupaten Kolaka dan Ordo Mantodea yang dikoleksi pada mangrove
Muara Angke. Ketiga ordo tersebut memiliki jumlah yang kecil dibandingkan
ordo lainnya (Tabel 11).

Tabel 11 Arthropoda dan serangga lain yang dikoleksi pada lokasi Kabuptaen
Kolaka dan Muara Angke.
No Ordo Jenis Pohon
Sonneratia Rhizophora Bruguiera Jumlah
Kabupaten Kolaka
1 Hymenoptera 9 5 I 15
2 Araneae 147 98 74 3 19
3 Hemiptera 63 6 5 74
4 Homoptera 104 9 3 116
5 Diptera 18 8 17 43
6 Coleoptera 17 50 7 74
7 Lepidoptera I 0 0 1
8 Tysanoptera 1 3 0 4
Muara Angke
1 Hymenoptera 6 0 0 6
2 Araneae 351 0 0 351
3 He~niptera 49 0 0 49
4 Homoptera 4 0 0 4
5 Diptera 89 0 0 89
6 Coleoptera 22 0 0 22
7 Mantodea 1 0 0 1
PEMBAHASAN

Keanekaragaman Spesies Semut pada Vegetasi Mangrove


Spesies semut yang dikoleksi pada vegetasi mangrove Kabupaten Kolaka
lebih bervariasi yaitu diioleksi sebanyak 18 spesies dari 16 genus dibandingkan
pada vegetasi mangrove Suaka Margasatwa Muara Angke yang hanya dikoleksi
11 spesies semut dari delapan genus. Perbedaan keanekaragaman tersebut karena
variasi pohon habitat semut berada. Pada mangrove Kabupaten Kolaka ditemukan
semut dengan spesies sama yang terdistribusi pada tiga stasiun bahkan pada jenis
pohon mangrove yang berbeda yaitu pada pohon Sonneratia, Rhizophora dan
B~uguiera.Hal ini diduga bahwa semut-semut tersebut merupakan semut yang
mampu beradaptasi dengan kondisi diketiga lokasi pengambilan sampel. Semut-
semut tersebut juga memiliki kemampuan mobilisasi yang tinggi sehingga mampu
menyebar dengan baik. Berdasarakan kemampuan adaptasinya, semut-semut
tersebut merupakan semut yang umum dan selalu ditemukan disetiap habitat
diseluruh wilayah penyebaran seperti semut 0. smuragdina, Camponotus sp.,
Polyrhachis sp., Crematogaster sp., Monotnorium sp., dan Tetraponera
punctulata (Agosti el al. 2000).
Variasi spesies semut antara jenis pohon yang berbeda tidak tejadi pada
vegetasi mangrove Suaka Margasatwa Muara Angke. Hal ini karena pada
kawasan tersebut jenis pohon yang ditemukan hanya pohon jenis Sonneratia
caseoaris dan Nypa fuucticans. Untuk melihat adanya variasi semut antara
mangrove Kabupaten Kolaka dan Muara Angke, maka perbandingan jenis semut
dilakukan pada pohon Sonneratia. Hasil koleksi semut di kedua lokasi ternyata
memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaan yang terlihat adalah dikoleksi 11
spesies semut di kedua lokasi. Semut dengan spesies yang sama d'ioleksi
sebanyak lima spesies dan yang berbeda sebanyak enam spesies (Tabel 1). Spesies
yang sama mungkin disebabkan semut-semut tersebut merupakan semut yang
mampu beradaptasi dengan kondisi pada pohon Sonneratia. Sedangkan semut-
semut yang ditemukan berbeda adalah semut-semut yang memiliki respon
terhadap kondisi lingkungan dimasing-masing lokasi.
Beberapa spesies semut m e m i l i perbedaan adaptasi dalam ha1 membuat
sarang dan mencari makan pada setiap habitat. Oleh karena itu dalam
pengoleksian terlihat semut-semut yang lebib respon terhadap umpan serta hidup
berkoloni dan semut-semut yang lebih soliter. Pada pohon Sonneratia, beberapa
spesies semut seperti Crematogaster sp. sering hidup berkoloni dan sangat aktif
mencari makan di bagian atas pohon. Sarang utamanya di balik kulit batang atau
kulit cabang pohon. Semut Crematogaster sp. sering ditemukan bersama dengan
koloni kutu putih (coccids) di daun atau di ranting pohon karena memanfaatkan
embun madu yang dihasilkan coccids (Nielsen 1997). Berbeda dengan semut
Crematogaster sp., semut Camponoius sp. lebih banyak ditemukan membuat
sarang di dalam batang dan ranting kayu pada pohon Sonneratia dan jarang
ditemukan di luar sarang. Ratu semut Ca~nponolussp. membuat lubang sarang
pada batang yang ditumbuhi tunas daun. Semut ini tidak memanfaatkan coccids,
tetapi manfaatkan dinding sarang pada batang pohon melalui floem untuk
mendapatkan cairan. Semut Carnponotus sp. bersifat Polydomous dimana ratu dan
pekeja memiliki sarang yang berbeda tetapi dengan lokasi yang berdekatan.
Terkoleksinya semut tersebut mun&n disebabkan letak umpan sangat dekat
dengan sarang semut sehingga menyebabkan semut tersebut keluar. Kemungkinan
besar semut Cladornyrma sp., Mononzorium sp., T. punctulata merupakan semut
yang memiliki sifat yang sama dengan semut Carnponotus sp. karena semut-semut
tersebut juga dikoleksi dengan umpan.
Semut yang ditemukan memiliki adaptasi tinggi yaitu semut Tapinoma sp.
Semut tersebut memiliki ukuran yang sangat kecil, ditemukan bersarang pada
posisi bagian bawah pohon Sonneratia dan berada dibawah kondisi pasang yang
maksimum. Kondisi tersebut meyebabkan semut Tapinoma sp. melakukan
adaptasi yang lebih tinggi yaitu membuat sarang menjadi kering dengan
membentuk lapisan yang sangat tipis pada pintu sarang dengan tegangan
permukaan yang mencegah air masuk ke sarang (Nielsen 2000). Semut tersebut
tidak pernah ditemukan berada pada daerah daun atau ranting untuk
memanfaatkan coccids, namun diduga mencari makan di luar sarang pada bagian
bawah batang pohon setelah air s m t .
Kondisi pasang air laut juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan
pembatas bagi mobilisasi semut. Pada kondisi air laut pasang khususnya pohon
Sonneratia yang terletak pada bagian depan zonasi mangrove dan memiliki
frekuensi genangan air cukup lama menjadikan zona tersebut terkadang
membentuk pulau (Nielsen 2000). Hal ini yang menyebabkan beberapa spesies
terspesialisasi untuk menetap pada pohon Sonneratia seperti semut Cladomyrma
sp., Technomyrmex sp., Camponotus sp. dan Tetraponera sp.
Selain dibatasi oleh kondisi lingkungan seperti pasang surut, perbedaan
jenis spesies semut dapat disebabkan adaptasi spesies semut terhadap jenis pohon
sebagai habitat untuk pembuatan sarang. Namun, beberapa persamaan spesies
semut antara jenis pohon di daerah mangrove juga dapat terjadi. Selain
terspesialisasi pada pohon Sonneratia, beberapa semut juga ditemukan sama
antara pohon Sonnertia dan Rhizophora mungkin disebabkan karena ranting atau
cabang yang merupakan sarang semut patah dan j a h h akibat tiupan angin laut ke
arah darat yang menyebabkan perpindahan semut kepohon Rhizophora. Selain itu
didukung oleh kondisi pohon antara zonasi yang masih saling berhubungan
(overlap)sehingga perpindahan spesies semut lebih mudah terjadi.
Dari jumlah spesies semut yang dikoleksi, pada pohon Sonneratia dan
Bruguiera jumlah spesies semut lebih sedikit dibandingkan pada pohon
Rhizophora yang jumlahnya lebih banyak (Tabel 2). Hal ini mungkin disebabkan
morfologi batang pada pohon Rhizophora yang lebih keras dan membentuk celah-
celah yang memungkinkan beberapa semut untuk berlindung dan menetap, selain
itu mungkm disebabkan karena zona Rhizopohora berada pada wilayah tengah
kawasan mangrove. Zona Rhizophora merupakan zona yang memiliki kondisi
substrat yang tidak stabil (berlumpur) sehingga menjadi pembatas terhadap
gangguan. Aktifitas untuk menuju ke zona Rhizophora bagi beberapa hewan lain
akan terhalang dengan kondisi substrat yang berlumpur dibandingkan zona
Bruguiera yang memiliki substrat lebih padat. Zona Bruguiera merupakan daerah
penghubung (interface) antara zona Sonneratia dan Rhizophora dengan daratan.
Di beberapa daerah termasuk mangrove Kabupaten Kolaka, daerah interface
yang banyak ditumbuhi oleh pohon Bruguiera umurnnya telah dimanfaatkan
sebagai lokasi tambak. Kondisi tersebut yang menyebabkan berkurangknya
populasi pohon Bruguiera dan mungkin akan berdampak pada keanekaragaman
spesies semut khususnya pada jenis pohon Bruguiera. Selain itu, gangguan ternak
seperti kambing dan sapi yang berkeliaran dan memakan dedaunan khususnya
tanaman Bruguiera. Oleh karena itu beberapa semut yang dikoleksi pada pohon
Rhizophora diduga merupakan semut yang berasal dari pohon Bruguiera yang
pindah karena adanya gangguan-gangguan tersebut.
Perbedaan spesies semut yang ditemukan antara mangrove Kabupaten
Kolaka dan Muara Angke khususnya pada pohon Sonneratia dapat dijadikan
indikator terhadap kondisi lingkungan. Beberapa spesies yang dapat dijadikan
bioindikator lingkungan antara lain keberadaan semut 0. smargadina yang
melimpah di semua stasiun bahkan disemua jenis pohon pada daerah mangrove
Kabupaten Kolaka, namun tidak ditemukan pada mangrove Muara Angke.
Melimpahnya semut tersebut di mangrove Kabupaten Kolaka mungkin
disebabkan kondisi lingkungan dan kebersihan udara pada vegetasi mangrove
tersebut masih cukup normal. Semut 0. smargadina sering dijadikan bioindikator
pencemaran udara berkaitan dengan lokasi pembuatan sarang di daun yang
berhubungan langsung dengan udara luar. Berbeda dengan vegetasi mangrove
pada Suaka Margasatwa Muara Angke, semut 0. smargadina tidak ditemukan
sama sekali. Ketidakhadiran semut 0. sma~gadinadan beberapa spesies semut
lain mungkin karena pencemaran pada mangrove Suaka Margasatwa Muara
Angke. Pencemaran lingkungan pada mangrove Suaka Margasatwa Muara Angke
berupa pencemaran udara yang berasal dari asap pabrik dan kendaraan,
pencemaran air berupa limbah alat transportasi laut bahkan sampah pemukiman
yang dapat menyebabkan terganggunya ekosistem mangrove.
Dari keseluruhan semut yang dikoleksi semut invasive yaitu spesies
Wasmannia sp. Semut tersebut merupakan semut api dengan ukuran yang lebih
kecil dan mempakan semut cryptic dan biasa hidup secara berkoloni (Causton et
al. 2005). Semut tersebut dikoleksi dengan jumlah yang sangat kurang, selain itu
ukurannya yang lebih kecil membuat semut tersebut susah terkoleksi karena
terdapat di dalam celah kulit pohon Rhizophora. Tidak melimpahnya semut ini
dan tidak ditemukannya beberapa semut invasive lainnya seperti semut Solenopsis
sp. dan Pheidole sp. mungkin disebabkan habitat semut-semut invasive Iainnya
bukan pada arboreal tetapi pada daerah tanah dan bebatuan.
Pada penelitian ini dikoleksi pula semut new record pada vegetasi mangrove
Kabupaten Kolaka yaitu semut Opisthopsis mayor Forel yang memiliki habitat
pada pohon Rhizophora dan Bruguiera. Data tentang semut Opisthopsis mayor
Forel di wilayah Indonesia baru ditemukan pada daerah Halmahera dan
Kepulauan Aru (Bolton 2006). Semut Opisthopsis mayor Fore1 hidup secara
soliter sehingga tidak dapat dikoleksi dalam jumlah yang banyak. Semut tersebut
juga ditemukan pada habitat savana dengan lokasi sarang pada daerah dasar
vegatasi dan arboreal (Andersen & Clay 1996). Semut tersebut juga ditemukan
ditemukan diwilayah pesisir Papua dan kemungkinan memiliki sarang pada
daerah pandanus (Rosichon Ubaidillah, komunikasi pribadi).

Komposisi Spesies Semut pada Vegetasi Mangrove


Berdasarkan analisis keanekaragaman, dominansi dan kemerataan spesies
semut pada mangrove Kabupaten Kolaka dan Suaka Margasatwa Muara Angke,
ternyata keanekaragaman spesies semut masih dalam kategori sedang dan tidak
ditemukan semut yang mendominasi semut lain. Analisis tersebut memberikan
gambaran bahwa struktur komunitas semut masih dalam kategori stabil.
Kestabilan terlihat dari jumlah spesies yang dikoleksi yaitu pada stasiun
Lata~nbaga 11 spesies semut, Samaturu 14 spesies semut, Wolo 15 spesies semut
dari 18 spesies semut yang di koleksi pada mangrove Kabupaten Kolaka dan pada
mangrove Suaka Margasatwa Muara Angke dikoleksi 11 spesies semut. Namun,
kemerataan spesies semut yang dikoleksi sangat rendah. Ke~nerataanyang rendah
terlihat dari kekayaan individu yang dimiliki masing-masing spesies sangat jauh
berbeda.
Perediksi kelimpahan terendah berdasarkan analisis Spesies Abundance-
based Coverage Esintates (SACE) pada mangrove Kabupaten Kolaka adalah
stasiun Samaturu yaitu 65,51% dan tertinggi adalah statsiun Wolo yaitu 97,51%.
Tinggi rendahnya persentase SACE yang diperoleh sangat dipengaruhi oleh
adanya spesies yang dikoleksi dengan jumlah yang sangat kurang. Pada stasiun
Samaturu terdapat empat spesies yang dikoleksi dengan jumlah satu individu yaitu
Technomyrmex sp., Iridomyrmex sp., Polyrhachis sp2. dan Wasmannia
auropunctata dan pada stasiun Wolo hanya terdapat satu spesies yang memiliki
satu individu yaitu Zridomyrmex sp. (Tabel 2). Namun secara keseluruhan
persentase berdasarkan SACE pada mangrove Kabupaten Kolaka masih cukup
tinggi yaitu 97,51%.
Prediksi kekayaan spesies semut berdasarkan data presence-absence dengan
menggunakan analisis Spesies Incidence-based Coverage Esimates (SICE) pada
mangrove Kabupaten Kolaka diperoleh persentase terendah pada Stasiun Wolo
yaitu 67,33% dan tertinggi pada stasiun Samaturu yaitu 74,39%. Secara
keseluruhan presentase berdasarkan SICE pada mangrove Kabupaten Kolaka
adalah 84,99%. Rendahnya prediksi kekayaan spesies semut berdasarakan SICE
diseluruh stasiun mungkin disebabkan rnasih kurangnya frekuensi koleksi.
Frekuensi koleksi yang kurang akan mempengaruhi prediksi kelimpahan dan
kekayaan spesies semut. Semakin banyak frekuensi koleksi yang dilakukan
berdasarkan karakter dan luasan lokasi, prediksi kelimpahan dan kekayaan spesies
semakin mendekati komposisi spesies yang sebenarnya.
Pada mangrove Suaka Margasatwa Muara Angke Perediksi kelimpahan
berdasarkan analisis SACE adalah loo%, ha1 ini disebabkan karena tidak
ditemukan spesies semut yang memiliki jumlah satu individu (Tabel 5). Prediksi
kekayaan spesies semut berdasarkan data presence-absence dengan menggunakan
analisis SICE pada mangrove Suaka Margasatwa Muara Angke yaitu 95,99%.
Persentase tersebut cukup maksimal untuk memperlihat keberadaan spesies semut
pada mangrove Suaka Margasatwa Muara Angke. Pada mangrove Suaka
Margasatwa Muara Angke koleksi hanya di pada pohon Sonneratia dengan tiga
teknik koleksi. Habitat yang kurang luas dengan teknik koleksi yang lebih banyak
dan bervariasi akan memberikan prediksi yang lebih baik.
Walaupun masih terdapat beberapa kekurangan seperti frekuensi koleksi
pada daerah mangrove Kabuapten Kolaka yang memiliki wilayah pengambilan
sampel lebih luas dibandingkan mangrove Muara Angke, namun secara
keseluruhan pengambilan contoh semut yang dilakukan sudah memberikan
gambaran tentang keanekaragaman semut pada daerah mangrove.
Maksimalnya hasil dari penelitian ini tidak terlepas dari penggunaan teknik
yang lebih bervariasi. Dari tiga teknik koleksi temyata teknik jaring dan penadah
lebih efektif digunakan mengoleksi keanekaragaman semut karena dilakukan
secara aktif pada dam, ranting maupun cabang pohon. Kedua teknik tersebut
memiliki pelung mengoleksi spesies yang lebih beranekaragam dibandingkan
teknik umpan yang hanya mengoleksi spesies semut tertentu yaitu semut yang
hanya respon terhadap urnpan. Hal tersebut terlihat dari perbandingan persentase
koleksi (Tabel 10). Beberapa keuntungan lain yang diperoleh dengan
menggunakan teknik koleksi yang bervariasi khususnya teknik jaring dan penadah
adalah dikoleksinya beberapa arthropods dan jenis serangga lain yang mungkin
menjadi informasi tentang jejaring ekologi dalam ekosistem mangrove (Tabel 11).
Berdasarakan analisis keanekaragaman diperoleh bahwa pada vegetasi
mangrove Kabupaten Kolaka dan Muara Angke kornunitas spesies sernut
tergolong stabil dengan kategori keanekaragaman sedang dimana tidak didapatkan
dominasi semut tertentu terhadap semut lain. Namun, kemerataan spesies semut
disemua lokasi tergolong rendah karena distribusi semut tidak merata. Hal
tersebut disebabkan adanya semut yang memiliki jumlah indvidu yang sangat
sedikit dibandingkan beberapa semut yang lainnya.
Penggunaan analisis Spesies Abundance-based Coverage Esitrzates (SACE)
dan Spesies Incidence-based Coverage Esimates (SICE) adalah analisis yang
sangat baik memberikan pendugaan tentang kelimpahan dan kekayaan spesies
berdasarkan data presence dan absence spesies yang dikoleksi.
Metode koleksi spesies semut berupa umpan, jaring dan penadah merupakan
teknik yang lebih efektif pada vegetasi mangrove karena kondisi vegetasi yang
selalu terendam oleh air laut dan semut selalu beraktifitas pada bagian arborel.
Beberapa spesies semut yang diioleksi merupakan semut yang umum ditemukan
di beberapa wilayah. Namun, ada beberapa semut yang khusus ditemukan pada
jenis pohon mangove tertentu. Metode jaring dan penadah juga dapat mengoleksi
beberapa arthropods dan serangga lain yang dapat memberikan informasi tentang
jejaring ekologi pada vegetasi mangrove.
4. PEMBAHASAN UMUM

Vegetasi Mangrove
Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI (2008) berdasarkan Direktoral
Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (Ditjen RLPS) Departemen
Kehutanan melaporkan bahwa potensi luasan hutan mangrove Indonesia adalah
9.204.840.32 ha dengan luasan yang berkondisi baik 2.548.209,42 ha, kondisi
rusak sedang 4.5 10.456,6 1 ha dan kondisi rusak 2.146.174,29 ha. Berbagai
laporan dan publikasi ilmiah menunjukkan bahwa hutan mangrove tersebar
hampir diseluruh pesisir pantai propinsi di Indonesia.
Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis dan subtropis
yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove. Pohon-pohon tersebut
tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut yang berkadar garam, jenuh
air, kondisi tanah yang tidak stabil dan anaerob (Bengen 2000). Hutan mangrove
merupakan suatu ekosistem hutan yang sangat unik yang berperan sebagai
penyambung (interface) antara ekosistem daratan dengan ekosistem lautan.
Walaupun keadaan hutan mangrove tidak dipengaruhi oleh iklim, namun
umumnya hutan ini tumbuh dan berkembang pada kawasan pesisir yang
terlindung dari hempasan ombak, serta ditopang oleh adanya aliran air sungai
yang selalu membawa material (Pramudji 2008).
Dari sekian banyak jenis mangrove di Indonesia jenis pohon yang banyak
ditemukan antara lain adalah jenis api-api (Avicenia sp.), bakau (Rhizophora sp.),
tancang (Bruguiera sp.), dan bogem atau pedada (Sonneratia sp.), yang
merupakan tumbuhan mangrove utama. Jenis-jenis mangrove tersebut beradabtasi
dengan membentukan zonasi atau pemintakatan (Pramudji 2008).
Dibeberapa wilayah di Sulawesi komposisi hutan mangrove masih
ditemukan vegetasi mangrove yang sesuai dengan formazi zonasi yang umum.
Salah satu wilayah yang memperlihatkan formasi vegatasi mangrove yaitu pada
pesisir pantai Teluk Mandar yaitu ditemukan jenis Avicenia ttiarina, Sonneratia
alba pada zona garis pantai, jenis Rhizophora apictrlata, Bruguiera gyntnorhiza,
Luninitzera lottorea pada zona tengah dan pada aliran sungai ditemukan Nypa
fiuticans, jenis Ceriops tagal, Aegiceras corniculatum, Xylocarpus granatum,
Camptostemon shulfzli pada zona belakang, jenis Achantus ilicifolius, Hibiscus
tiliaceous, Pandanus tectorius, Thespesia populena pada zona yang berbatasan
dengan daratan (Pramudji 2008).
Di pulau Jawa sebaran vegetasi mangrove sudah banyak yang tereklamasi.
Vegetasi mangrove banyak ditemui di propinsi Yogyakarta dengan luasan yang
kecil dan tidak membentuk tegakan yang kompak sehingga tidak dikategorikan
sebagai hutan. Didaerah Jakarta juga ditemukan daerah yang merupakan sisa
hutan mangrove akibat reklamasi pantai yaitu pada daerah Muara Angke dan tidak
memperlihatkan fonnasi mangrove berdasarkan jenis pohon.
Hutan mangrove merupakan habitat bagi berbagai fauna, baik fauna khas
mangrove maupun fauna yang berasosiasi dengan mangrove. Berbagai fauna
tersebut menjadikan mangrove sebagai tempat tinggal, mencari makan, bermain
atau tempat berkembang biak (Feller & Sitnik 1996). Faktor lingkungan berupa
kondisi pasang sumt air iaut merupakan faktor pembatas terhadap mobilisasi
beberapa fauna avertebrata seperti semut karena pohon-pohon terendam oleh air
laut dan membentuk pulau (Nielsen 2000). Kondisi tersebut membuat pemilihan
metode koleksi menjadi iebih utama untuk memperoleh keanekaragaman spesies
semut. Karakteristik habitat berdasarkan jenis pohon akan memberikan gambaran
tentang keanekaragaman semut pada vegetasi mangrove.

Spesies Semut pada Vegetasi Mangrove


Kondisi hutan mangrove yang terdiri dari beberapa jenis pohon memiliki
potensi keanekaragaman serangga khususnya semut. Potensi tersebut karena jenis
pohon yang bervariasi dan adabtasi spesies semut pada kodisi lingkungan pesisir
pantai. Secara umum selnut yang dikoleksi pada mangrove Kabupaten Kolaka dan
Suaka Margasatwa Muara Angke memiliki keanekaragaman yang cukup tinggi
dibandingkan dengan beberapa daerah vegetasi mangrove lainnya.
Beberapa koleksi spesies semut mangrove antara lain semut Canlponotus
sp., Crematogasfer sp., Tetraponera punctulafa, Tapinoma sp. dan Mononioritini
sp. yang terdistribusi pada pohon Sonneratia alba di wilayah Darwin, Australia
(Nielsen 2000). Semut Polyrhachis socolova Forel dan P. constricts Emery
dite~nukanmembentuk sarang pada akar tanaman Rhizophora diwilayah Australia
(Andersen & Clay 1996). Semut Crenzatogaster ashmeadi, Xenomyrntex
floridanus, Zacryptocerus varians, Catnponotus sp. dan Pseudomyrnzex elongatus
adalah semut yang dikoleksi pada pohon Rhizophora vegetasi mangrove
kepulauan Florida (Cole 1983).
Spesies semut yang ditemukan pada dua lokasi penelitian memiliki
kesamaan dengan beberapa spesies di wilayah Australia. Kondisi ini
menggambarkan bahwa mangrove di lokasi penelitian memiliki kesamaan
karakter habitat. Keberadaan suatu spesies di suatu wilayah juga diduga dan
dipengamhi oleh sejarah pembentukan pulau. Diduga pembentukan pulau
Sulawesi khususnya semenanjung tenggara (Sulawesi Tenggara) berasal dari
wilayah benua Australia. Kondisi ini membuktikan bahwa pada vegetasi
mangrove Kabupaten Kolaka, Muara Angke dan Darwin, Australia merupakan
suatu wilayah penyebaran semut yang sama yaitu wilayah Indo-Australia (Bolton
1994). Faktor lain yang menyebabkan persamaan tersebut adalah migrasi spesies
semut oleh mobilisasi manusia. Namun, spesies semut pada daerah mangrove di
kepulauan Florida sangat berbeda dengan semut pada wilayah Indo-Australia
khususnya pada pohon Rhizophora. Persamaan hanya ditemukan pada satu spesies
yaitu Camponofus sp. Kondisi ini menggambarkan wilayah Florida memiliki
kondisi lingkungan yang berbeda dengan wilayah di Indo-Australia.
Perbedaan jenis pohon pada mangrove Kabupaten Kolaka dan Suaka
Margasatwa Muara Angke memberikan dampak terhadap keanekaragaman spesies
semut pada vegetasi mangrove. Pada mangrove Kabupaten Kolaka
keanekaragaman spesies lebih banyak dibandingkan dengan mangrove pada
Suaka Margasatwa Muara Angke. Perbedaan ini telihat dari jenis pohon yang
terdapat pada lokasi penelitian yaitu pada mangrove Kabupaten Kolaka
pengoleksian dilakukan pada tiga jenis pohon yaitu Sonneratia, Rhizophora dan
Bruguiera, sedangkan pada mangrove Suaka Margasatwa Muara Angke hanya
dilakukan pada satu jenis pohon yaitu Sonneratia. Beberapa semut sangat khusus
ditemukan pada pohon Sonneratia dan Rhizophora. Semut-semut khusus tersebut
di duga hanya mampu beradabtasi dengan kondisi masing-masing pohon sebagai
habitatnya. Pada pohon Bi-zlguiern tidak ditemukan semut khusus. Semut-semut
yang dikoleksi pada pohon tersebut sama dengan sem~it-semutyang ditemukan
pada pohon Rhiziphora. Persamaan spesies semut diduga akibat (1) semut pada
pohon Bruguiera bermigrasi ke zona Rhizophora karena angin, gangguan aktifitas
manusia dan temak, (2) adanya Overlap zonasi, dan ( 3 ) pohon Bruguiera dan
Rhizophora termasuk ke dalam famili yang sama yaitu Rhizophoraceae sehingga
tidak menjadi pembatas bagi semut untuk tinggal dan membuat sarang di kedua
jenis pohon tersebut.
Metode koleksi semut yang bervariasi yaitu umpan, jaring dan penadah
dalam penelitian ini merupakan metode yang sangat efektif khususnya pada
daerah arboreal. Pada umumnya semut yang dikoleksi dengan menggunakan
jaring dan penadah adalah semut-semut yang aktif di daun, ranting dan batang
pohon sebagai predator. Selain semut, beberapa ordo yang ikut terkoleksi adalah
Hymenoptera, Araneae, Hemiptera, Homoptera, Diptera, Coleoptera, Lepidoptera,
Tysanoptera dan Mantodea. Araneae adalah ordo yang paling banyak dikoleksi
selain semut. kelompok spider ini yang bersifat predator bagi beberapa serangga
dan atrhtropda lain. Namun, beberapa penelitian tentang fauna pada mangrove
hanya mencatat tentang keberadaan arthropoda dan beberapa serangga. Informasi
tentang keberadaan Arthropoda dan serangga lain pada kawasan mangrove dapat
memberikan gambaran tentang komponen ekosistem pada vegetasi mangrove.
5. SIMPULAN DAN SARAN

SIMPULAN

Pada Lokasi mangrove Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara yang


didominasi oleh pohon Sonneratia, Rhizophora, dan Brziguiera dikoleksi 16 genus
dari 18 spesies semut. Pada lokasi mangrove Muara Angke, Jakarta vegetasi
mangrove hanya terdapat pohon Sonneratia, dikoleksi delapan genus dari 11
spesies semut. Selain itu, juga dikoleksinya semut new record yaitu spesies
Ophistopsis mayor Fore1 pada pohon Rlzizopora dan Bruguiera pada wilayah
mangrove Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Keanekaragaman dan kekayaan
spesies semut serta dikoleksinya spesies new record, sangat dipengaruhi oleh
penggunaan teknik koleksi yang lebih b e ~ a r i a s iyaitu teknik umpan, jaring dan
penadah yang sangat efektif khususnya pada daerah arboreal.
Keanekaragaman spesies semut di kedua lokasi penelitian tergolong sedang,
tidak terlihat adanya semut yang medominansi semut lain,tetapi penyebaran
individu masih rendah karena adanya spesies yang dikoleksi dengan jumlah
individu yang ~nasihkurang ( 4 0 ) . Namun, secara keseluruhan kondisi habitat di
kedua lokasi menggambarkan bahwa struktur komunitas semut masih dalam
kategori stabil.
Berdasarkan estimasi kelimpahan semut berdasarkan analisis Species
Abundance-based Coverage Esliiitates (SACE), pada mangrove Kabupaten
Kolaka diperoleh nilai prediksi adalah 9731% dan pada mangrove Suaka
Margasatwa Muara Angke diperoleh nilai prediksi adalah 100%. Selain itu
dipeoleh nilai estimasi presence-absence spesies semut berdasarkan analisis
Spesies Incidence-based Coverage Esimates (SICE). Pada mangrove Kabupaten
Kolaka diperoleh nilai prediksi adalah 84,99% dan pada mangrove Suaka
Margasatwa Muara Angke diperoleh nilai prediksi adalah 95,99%. Perbedaan
hasil nilai estimasi antara kedua lokasi sangat dipengaruhi oleh frekuensi koleksi
dan luasan habitat tempat koleksi.
Selain semut, penggunaan teknik jaring dan penadah juga ~nengoleksi
beberapa arthropoda dan serangga
. . lain yang
. . merupakan jejaring
. . ekologi
. pada ~

vegetasi mangrove. Arthropods dan serangga lain yang ditemukan dari ordo
Araneae, Hemiptera, Hornoptera, Diptera, Hymenoptera, Lepidoptera,
Tysanoptera dan Mantodea.

SARAN

1. Perlunya menggali informasi tentang keberadaan semut Opisthopsis nlayor


Forel yang merupakan new record pada vegetasi mangrove di Kabupaten
Kolaka, Sulawesi Tenggara.
2. Perlunya identifikasi habitat penghubung antara vegetasi mangrove dan daerah
teresterial untuk mengetahui mobilisasi semut.
3. Perlunya penelitian ianjutan untuk mengetahui peranan ekologi semut terhadap
pelestarian hutan pesisir.
DAFTAR PUSTAKA

Agosti D, Majer DJ, Alonso LE, Schultz TR. 2000. ANTS. Standard Methods For
Measuring and Monitoring Biodiversity. Washington: Smithsonian
Institution Pr.

Andersen AN, Clay RE. 1996. Ant fauna of a mangrove community in the
Australian seasonal tropics, with particular reference to zonation.
Australia J Zoo 44: 521-33.

Andersen AN, Sparling GP. 1997. Ants as indicators of restoration succcess,


relationship with soil microbial biomass in the Australian seasonal tropics.
Rest Ecol5: 109-1 14.

Andersen AN, Hoffmam BD, Muller WJ, Griffrths AD. 2002. Using ants a
bioindicators in land management: simplifying assessment of ant
community responses. J Appli Ecol39: 8-1 7.

Atrnadja WR. 2003. Status Helopetis anlonii sebagai hama pada beberapa
tanaman perkebunan dan pengendaliannya. J Litbang Pertanian 22: 57-63.

Bengen DG. 2000. Pedornan Teknis Pengenalan dun Pengelolaan Ekosistem


Mangrove. Pusat Kajian Sunlber Daya Pesisir dan Kelalrtan Faktrltas
Perikanana dun Kelat~tan.Bogor: IPB.

Bestelmeyer BT, Wiens JA. 1996. The effects of land use on the structure of
ground-foraging ant corn~nunities in the Argentine Chaco. Ecol Appl
6: 1225-1240.

Bolton B. 1994. The Identijcation Guide to the Ant Genera of The World.
Cambridge Massachusetts: Haward Univ. Pr.

Bolton B. 2003. Synopsis and ClasiJcation of Formicidae. The American


Entomological Institute.

Bolton B, Alpert G, Ward PS, Naskrecki P. 2006. Bolton's Catalogue of the


World: 1758-2005. Cambridge Massachusetts: Haward Univ. Pr.

Borror DJ, Triplehorn CA, Johnson NF. 1989. An Introdtcction to the Study of
Insect. Philadelphia: W.B. Saunders.

Brian MV. 1976. The New NatzfralisfAnt.CoNins. London: ST James's Place.

Causton CE, Sevilla CR, Porter SD. 2005. Eradicationof the littlefire ant,
Wasmannia auropunclata (Hymenoptera: Formicidae), from Marchena
Island, Galaphagos: on the edge of success. Florida Ento 88(2) 159-168.
Cole BJ. 1983. Assembly of mangrove ants communities: patterns of geographical
distribution. J Animal Ecol52: 339-347.

Cogni R, Freitas AVL, Oliveira PS. 2003. Interhabitat differences in ant activity
on plant foliage: ants at extrafloral nectaris of Hibiscuspernan~bucensisin
sandy and mangrove forest. Ent Exp et Appl107: 125 - 131

Feller IC, Sitnik M. 1996. Mangrove Ecology: A Manual for a Field Course A
Field Manual Focused on the Biocomplexity on Mangrove Ecosystems.
Washington. DC: Smithsonian Institution Pr.

Gullan PJ, Cranston C. 2005. The insects An Outline of Entomology. California:


Blackwell Sci.

Gunarto. 2004. Konsewasi mangrove sebagai pendukung sumber hayati perikanan


pantai. J Litbang Pertanian 23: 15-21.

Graham JH et al. 2004. Habitat distubance and the diversity and abundance of
ants (Formicidae) in the Southeastern Fall-line Sandhills. J insect sci 4: 1-
15.

Hasmi A, LeBrun E, Plowes R. 2006. A Field Key to the Ants flymenoplera,


Formicidae) found at Brackenridge Field Laboratories (Rev). Texas:
University of Texas at Austin.

Holldobler B, Wilson EO. 1990. The Ants. Canada: Haward Univ.Fr.

Kempf WW. (1964). On the numbers of species of ants in the neotropical region.
Studia Ento 8: 161-200.

Lim GT. 2007. Enhancing the weaver ant, Oecophylla srnaragdina (Hymenoptera:
Formicidae), or biological control of a shoot borer, Hypspyla robzrsta
(Lepidoptera: Pyralidae), in Malaysian mahogany plantations [disertasi].
Virginia: Virginia Polytechnic Institute and State University.

Magunan AE. 1988. Ecological Diversity and its Measuremenf. New Jersey:
Princeton Univ. Pr.

McGeoch M. 1988. The selection, testing and application of terrestrial insect as


bioindicators. Bio Rev 73: 181-201.

McGlynn TP.1999. The Worldwide transfer of ants : geographical distribution and


ecological invasions. JBiogeo 26: 535 - 548.

Nielsen MG. 1997. Nesting biology of the mangrove mud-nesting ant Polyrhachis
Sokolova Forel ( Hymenoptera: Formicinae) in northern Australia. Insectes
soc44: 15-21.
Nielsen MG. 2000. Distribusi of the ant (Hymenoptera : Formicidae) fauna in the
canopy of the mangrove tree Sonneratia alba J. Smith in northem Utara.
Australia JEnto 39: 275 - 279.

Noor MF. 2008. Diversitas semut (Hymenoptera: Formicidae) di beberapa vertikal


ketinggian di kawasan Cagar Alam Telaga Wama Jawa Barat [tesis].
Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Noor RY, Khazali M, Suryadiputra INN. 2006. Panduan Pengenalan Mangrove


di Indonesia. Bogor: Wetlands International Indonesia Programme.

Offenberg J et al. 2004. Obsevations on the Ecology of Weaver Ants (Oecophylla


smaragdina Fabricius) in a Thai Mangrove Ecosystem and Their Effect on
Herbivory of Rhyzophora mucronata. Biotropica 36: 344 - 351.

Osbome LS, Pena JE, David HO. 1995. Predation by Tapinoma melanocephalum
(Hymenoptera: Formicidae) on twospotted spider mites (Acari:
Tetranychidae) in Floridae greenhouse. Florida Ento 78(4): 565-570.

Pramudji. 2008. Mangrove di Indonesia dun Upaya Pengelolaannya. Jakarta:


Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Rizali A. 2000. Keanekaragaman Sen~utdi Kepulauan Seribu, Indonesia [tesis].


Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Taylor RW. 1991. Formicidae. Pp. 980-989. In: Nauman ID, Carne PB (eds). The
Insect of Australia. A Texbook for student and research workers.
Melbourne: Univ. Pr.

Vasconcelos HL. 1999. Effects of forest disturbance on the structure of ground


foraging ant communities in central Amazonia. Biodiv Consew 8: 409-
420.

Whittaker RJ. 1988. Island Biogeography : Ecology,Evolution and Conservation.


New York: Oxford Univ. Pr.

Wilson EO. 1958. Patchy distributions of ants species in New Geinue rain forests.
Psyche (Cambridge)65:26-38.

Wilson EO. 1971. The Insect Societies. Cambridge Massachusetts: The Belknap
of Harvard Univ Pr.

Yamane S, Magata K. 1989. Recruitmen Patter n in a Japanese Myrmicine Ant,


Pheidole indica (liymenoptera: Formicidae). J Jpn Ento 57(2): 448-458.
LAMPIRAN
Lampiran 1 Data koleksi semut pada vegetasi mangrove lokasi Kabupaten Kolaka

Stasiun Latambaga
No Subfamili Spesies Sonneratia Rizophora Bruguiera Jumlah
umpan jaring penadah umpan jaring penadah umpan jaring penadah
I Ochetelltlssp. 0 0 0 17 0 0 0 0 0 17
2 Dolichoredinae Tech~tomiij~rn~ex
sp. 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
3 Tzrrneria sp. 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
4 Iridomyrmer sp. 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
5 Oecophylla sp. 152 41 104 102 13 22 86 44 6 570
G Camnponoltrs sp. 1 0 0 2 0 0 5 0 0 8
7 Ophisropsis mayor Forel 0 0 0 0 2 2 0 3 1 8
8 Formicinae Forelophiltrs sp. 0 0 3 0 0 0 0 0 0 3
9 Echii~oplasp. 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
10 Psetrdolasitis sp. 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1
Cladomyrma sp. 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Polyrachis sp I. 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2

15 Myrmicinae Crenfatogaster sp2. 0 7 26 0 63 0 0 10 0 106


16 Monomorit/m sp. 84 0 0 24 0 1 67 0 0 176
17 FYasmannia azrropuncrata 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
18 Pseudomyrmicinae Tetraponero sp. 32 I 11 6 0 6 0 1 1 58
s z * c
N N "

O N O C

O O O C

O O O C

O O O C
Lampiran 2 Data koleksi semut pada vegetasi mangrove lokasi Muara Angke Kolaka

No Subfamili Spesies Teknik C


Umpan jaring penadah
1 Dolichoderinae Technomyrmex sp. 80 0 3 83
2 Tapinoma sp. 25 3 4 32
3 Forelophillus sp. 9 2 0 11
4 Formicinae Polyrhachis sp2. 3 5 8 16
5 Polyrhachis bohoni 0 1 2 3
6 Cardiocandyla sp. 392 7 3 402
7 Myrmicinae Crematogaster spl . 224 28 54 306
8 Crematogaster sp2. 149 16 3 168
9 Cataulacus sp. 6 4 0 10
10 Pseudomyrmicinae T. Punctulata 10 16 5 31
11 Tetraponera sp 1. 0 2 0 2
C Spesies 9 10 8 11