Você está na página 1de 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perkembangan perekonomian global membawa pengaruh terhadap perkembangan


hukum terutama hukum dagang yang merupakan roda penggerak perekonomian.
Erman Radjagukguk menyebutkan bahwa globalisasi hukum akan menyebabkan
peraturan-peraturan Negara-negara berkembang mengenai investasi,perdagangan,
jasa-jasa dan bidang perekonomian lainnya mendekati Negara-negara maju.
(Convergency).Dalam rangka menyesuaikan dengan perekonomian global, Indonesia
melakukan revisi terhadap seluruh hukum ekonominya.Namun demikian tidak dapat
disangkal bahwa perubahan terhadap hukum ekonomi Indonesia dilakukan juga
karena tekanan dari badan-badan dunia seperti WTO, IMF dan Worl Bank. Bidang
hukum yang mengalami revisi antara lain adalah hukum kepailitan. Hukum kepailitan
sendiri merupakan warisan dari pemerintahan Kolonial Belanda yang notabenenya
bercorak sistem hukum Eropa Kontinental. Di Indonesia saat ini dalam hukum
ekonomi mendapat pengaruh yang cukup kuat dari sistem hukum Anglo Saxon.

Pada dasarnya Kepailitan dapat terjadi karena makin pesatnya perkembangan


perekonomian dan perdagangan dimana muncul berbagai macam permasalahan utang
piutang yang timbul dalam masyarakat. Begitu juga dengan krisis moneter yang
terjadi di Indonesia telah memberikan dampak yang tidak menguntungkan terhadap
perekonomian nasional sehingga menimbulkan kesulitas besar terhadap dunia usaha
dalam menyelesaikan utang piutang untuk meneruskan kegiatan usahanya.

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1 Apa yang dimaksud dengan Kepailitan Perusahaan ?
1.2.2 Apa saja syarat – syarat kepailitan ?
1.2.3 Apa itu Prosedur Kepailitan ?
1.2.4 Apa saja Konsekuensi Yuridis dari Kepailitan ?
1.2.5 Bagaimana peran Kurator dalam suatu proses kepailitan ?
1.2.6 Bagaimana prosedur penundaan kewajiban pembayaran utang ?
1.2.7 Apa saja perbedaan Pailit dengan PKPU ?
1.2.8 Apa itu Likuidasi Perusahaan ?

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kepailitan Perusahaan

Kepailitan perusahaan merupakan suatu fenomena yang sering terjadi disekitar


lingkungan kita dan hukum perseroan yang sangat ditakuti, baik oleh pemilik
perusahaan atau oleh manajemennya. Suatu perusahaan dikatakan pailit atau istilah
populernya adalah “bangkrut” manakala perusahaan tersebut tidak sanggup atau
tidak mau membayar hutang-hutangnya. Oleh karena itu, daripada pihak kreditur
ramai-ramai mengeroyok debitur dan saling berebutan harta debitur tersebut. Hukum
memandang perlu mengaturnya, sehingga hutang-hutang debitur dapat dibayar secara
tertib dan adil.

Dengan demikian, yang dimaksud dengan kepailitan adalah suatu sitaan umum
yang dijatuhkan oleh pengadilan khusus, dengan permohonan khusus, atas seluruh
aset debitur yang mempunyai lebih dari 1 (satu) hutang/kreditur dimana debitur dalam
keadaan berhenti membayar hutang-hutangnya, sehingga debitur segera membayar
hutang-hutangnya tersebut.

2.2 Syarat – Syarat Kepailitan


Agar seorang debitur dapat dinyatakan oleh pengadilan, dalam hal ini Pengadilan
Niaga, maka berbagai persyaratan yuridis harus dipenuhi. Persyaratan-persyaratan
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Debitur tersebut haruslah mempunyai lebih dari 1 hutang.
2. Minimal 1 hutang sudah jatuh tempo dan dapat ditagih.
3. Permohonan pailit dimintakan oleh pihak yang diberikan kewenangan untuk itu,
yaitu pihak-pihak sebagai berikut:
a. Pihak debitur
b. Pihak kreditur
c. Pihak jaksa (untuk kepentingan umum)
d. Bank Indonesia, jika debiturnya adalah bank.

2
e. Bapepam, jika debiturnya adalah Perusahaan Efek, Bursa Efek Lembaga
Kliring dan Penjaminan, dan Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian.
f. Menteri Keuangan, jika debiturnya adalah Perusahaan Asuransi, Perusahaan
Reasuransi, Dana Pensiun, atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang
bergerak dibidang kepentingan publik.

Setelah permohonan pailit dikabulkan oleh hakim, maka segera diangkat pihak-
pihak sebagai berikut:

1. Panitia kreditur jika diperlukan.


2. Seorang atau lebih kurator.
3. Seorang hakim pengawas.

Kepailitan atas debitur tersebut baru akan berakhir manakala:

1. Setelah adanya perdamaian yang telah dihomologasikan.


2. Setelah insolvensi dan pembagian.
3. Atas saran kurator karena harta debitur tidak ada atau tidak cukup.
4. Dicabutnya kepailitan atas anjuran hakim pengawas.
5. Jika putusa pailit dibatalkan di tingkat kasasi atau peninjauan kembali.
6. Jika seluruh hutang di bayar lunas oleh debitur.

Mengenai diri pailit menurut pasal 22 Peraturan Kepailitan, dinyatakan bahwa :


Dengan dinyatakan pailit, maka si berutang demi hukum kehilangan haknya untuk
berbuat bebas terhadap kekayaannya yang termasuk dalam kepailitan, begitu pula hak
untuk mengurusnya, terhitung mulai hari dimana keputusan kepailitan itu diputuskan

2.3 Prosedur Kepailitan


Prosedur untuk kepailitan adalah di pengadilan khusus, yaitu di Pengadilan Niaga
dengan tata cara dan prosedur yang khusus pula. Tata cara berperkara dengan
prosedur khusus tersebut pada prinsipnya menyimpang dari prosedur hukum acara
yang umum. Akan tetapi jika tidak diatur secara khusus dalam hukum acara kepailitan
tersebut, maka yang berlaku adalah hukum acara perdata yang umum.
Adapun yang merupakan kekhususan dari hukum acara kepailitan dibandingkan
dengan hukum acara perdata yang umum adalah sebagai berikut:

3
1. Di tingkat pertama hanya pengadilan khusus yang berwenang, yaitu Pengadilan
Niaga.
2. Adanya hakim-hakim khusus di Pengadilan Niaga.
3. Jangka waktu berperkara yang singkat dan tegas.
4. Prosedur perkara dan pembuktiannya simpel.
5. Tidak mengenal upaya banding, tetapi langsung kasasi dan peninjauan kembali ke
Mahkamah Agung.
6. Adanya badan-badan khusus yang berhak mengajukan permohonan pailit untuk
perusahaan tertentu.
7. Adanya lembaga hakim pengawas, panitia kreditur dan kurator.
8. Penangguhan hak eksekusi dari pemegang hak jaminan.

Menurut Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan, prosedur


permohonan Pailit adalah sebagai berikut:

1. Permohonan pernyataan pailit diajukan kepada Ketua Pengadilan melalui


Panitera. (Pasal 6 ayat 2).
2. Panitera menyampaikan permohonan pernyataan pailit kepada Ketua Pengadilan
paling lambat 2 (dua) hari setelah tanggal permohonan didaftarkan. Dalam jangka
waktu 3 (tiga) hari setelah tanggal permohonan didaftarkan, pengadilan
menetapkan hari sidang.
3. Sidang pemeriksaan dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 20 (dua puluh)
hari setelah tanggal permohonan didaftarkan (pasal 6).
4. Pengadilan wajib memanggil Debitor jika permohonan pailit diajukan oleh
Kreditor, Kejaksaan, Bank Indonesia, Badan Pengawas Pasar Modal atau Menteri
Keuangan (Pasal 8).
5. Pengadilan dapat memanggil Kreditor jika pernyataan pailit diajukan oleh Debitor
dan terdapat keraguan bahwa persyaratan pailit telah dipenuhi (Pasal 8).
6. Pemanggilan tersebut dilakukan oleh juru sita dengan surat kilat tercatat paling
lama 7 hari sebelum persidangan pertama diselenggarakan (Pasal 8 ayat 2).
7. Putusan Pengadilan atas permohonan pailit harus dikabulkan apabila terdapat
fakta terbukti bahwa persyaratan pailit telah terpenuhi dan putusan tersebut harus
diucapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah didaftarkan (Pasal 8).

4
8. Putusan atas permohonan pernyataan pailit tersebut harus memuat secara lengkap
pertimbangan hukum yang mendasari putusan tersebut berikut pendapat dari
majelis hakim dan harus diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum dan
dapat dilaksanakan terlebih dahulu, sekalipun terhadap putusan tersebut ada upaya
hukum (Pasal 8 ayat 7)

2.4 Konsekuensi Yuridis dari Kepailitan


Kepailitan membawa konsekuensi yuridis tertentu, baik terhadap kreditur maupun
debitur. Di antara konsekuensi-konsekuensi yuridis tersebut yang terpenting adalah
sebagai berikut:
1. Berlaku penangguhan eksekusi selama maksimum 90 hari.
2. Boleh dilakukan kompensasi antara hutang debitur dengan piutang debitur.
3. Kotrak timbal balik boleh dilanjutkan.
4. Demi hukum berlaku sitaan umum atas seluruh harta debitur.
5. Kepailitan berlaku juga terhadap suami/istri.
6. Debitur atau direksi dari debitur kehilangan hak mengurus.
7. Perikatan setelah debitur pailit tidak dapat dibayar.
8. Gugatan hukum haruslah oleh atau terhadap kurator.
9. Semua perkara pengadilan ditangguhkan dan diambil alih oleh kurator.
10. Pelaksanaan putusan hakim dihentikan.
11. Semua penyitaan dibatalkan.
12. Putusan pailit dan hakim bersifat serta-merta.
13. Berlaku juga ketentuan pidana bagi debitur.
14. Pelelangan yang sedang berjalan dilanjutkan
15. Balik nama atau pendaftaran jaminan hutang atas barang tidak bergerak dicegah
16. Daluarsa dicegah
17. Transaksi forward dihentikan
18. Sewa menyewa dihentikan
19. Karyawan debitur di PHK
20. Warisan dapat diterima atau ditolak oleh kurator;
21. Hak retensi tidak hilang;
22. Debetur pailit atau direksinya dapat disandera (gijzeling);
23. Debitur pailit demi hukum dicekal;
24. Harta pailit dapat disegel;

5
25. Surat-surat kepada debitur pailit dapat dibuka oleh kurator;

2.5 Peran Kurator Dalam Proses Kepailitan

Kurator adalah pihak yang memiliki peran sentral dalam suatu proses kepailitan.
Setelah ditunjuk oleh pengadilan maka kuratorlah yang mengurus dan membereskan
proses kepailitan sampai akhir. Jadi kurator hanya ada dalam proses kepailitan,
sedangkan dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang semacam peran
kurator dilaksanakan oleh pihak yang disebut dengan “pengurus” Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Kurator dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Balai Harta Peninggalan.


2. Kurator swasta, yang dapat berupa:
3. Lewyer
4. Akuntan Publik

Apabila para pihak tidak menunjuk kurator, maka Balai Harta Peninggalan
bertindak menjadi kurator. Akan tetapi, jika kurator swasta yang dipilih, maka dia
tidak boleh mempunyai konflik kepentingan dengan kreditur maupun debitur.

Disamping kurator (kurator tetap), terdapat juga apa yang disebut dengan kurator
sementara (interim receiver). Kurator sementara ini dapat diangkat (tetapi tidak wajib)
dan penunjukkannya dilakukan sebelum putusan pailit dijatuhkan, dengan tujuan agar
harta perusahaan yang akan pailit tersebut ada yang mengurusnya dan tidak
disalahgunakan oleh pihak debitur. Setelah pailit, tidak diperlukan lagi kurator
sementara dan posisinya digantikan oleh kurator tetap.

Kurator mempunyai tugas utama untuk membereskan harta pailit sampai tuntas,
mulai dari menghitung kewajiban debitur pailit, membuat pengumuman dan
pemberitahuan-pemberitahuan, menjual aset, dan membagi-bagikannya kepada
kreditur yang berhak. Kurator dapat melakukan hampir segala hal yang menyangkut
dengan pemberesan perusahaan debitur, dengan atau tanpa persetujuan pihak tertentu.
Memang dalam menjalankan tugasnya, pihak kurator adakalanya wajib memperoleh
izin dari pihak tertentu, bergantung jenis tugas yang dilakukan oleh kurator, izin atau
persetujuan tersebut adalah berupa izin atau persetujuan dari hakim pengawas atau

6
dari majelis hakim ataupun kadang-kadang diperlukan persetujuan dari panitia
kreditur.

Di antara kewenangan yang penting dari kurator dalam membereskan harta


pailit adalah sebagai berikut:

1. Mengalihkan harta pailit sebelum pemberesan.


2. Menjual barang-barang yang tidak diperlukan dalam melanjutkan usaha.
3. Menjual harta pailit dalam pemberesan.
4. Meminjam uang dari pihak ketiga.
5. Membebankan hak jaminan atas harta pailit.
6. Menghadap di muka pengadilan.
7. Melanjutkan usaha debitur sebelum insolvensi.
8. Melanjutkan usaha debitur setelah insolvensi.

Dalam melakukan pemberesan, salah satu pedoman yang harus selalu dipenuhi
oleh kurator adalah prinsip menguangkan sedapat mungkin seluruh harta pailit atau
yang dikenal dengan sebutan Cash is the King. Karena itu, menagih piutang dan
menjual aset debitur adalah di antara tugas-tugas kurator yang sangat penting. Kurator
berwenang menjual aset debitur dalam hal-hal sebagai berikut:

1. menjual aset debitur yang hasilnya akan diserahkan kepada pihak yang
berwenang.
2. menjual aset untuk menutupi ongkos kepailitan.
3. menjual aset, karena menahan aset tersebut dapat mengakibatkan kerugian.
4. menjual barang jaminan hutang dalam masa penangguhan eksekusi jaminan
hutang atau setelah masa penangguhan eksekusi jaminan hutang.
5. menjual aset yang tidak diperlukan untuk kelangsungan usaha.

2.6 Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang


Di samping proses kepailitan atas suatu perusahaan atau atas pribadi, maka terdapat
juga prosedur lain yang disebut dengan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
(PKPU), yang diatur satu paket dengan ketentuan tentang kepailitan. Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang ini juga dapat dijatuhkan oleh pengadilan (Pengadilan
Niaga), baik terhadap debitur pribadi maupun terhadap debitur badan hukum.

7
1) Pengertian Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) ini dalam bahasa Inggris
disebut dengan Suspension of Payment atau dalam bahasa Belanda disebut
dengan Surseance van Betaling. Yang dimaksud dengan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang (PKPU) ini adalah suatu periode waktu tertentu yang diberikan
oleh undang-undang melalui putusan pengadilan niaga di mana dalam periode
waktu tersebut kepada kreditur dan debitur diberikan kesempatan untuk
memusyawarahkan cara-cara pembayaran hutangnya dengan memberikan rencana
pembayaran (composition plan) terhadap seluruh atau sebagian hutangnya itu,
termasuk apabila perlu merestrukturisasi hutangnya tersebut. Dengan demikian,
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) merupakan semacam
moratorium, dalam hal ini legal moratorium.
Orang yang diangkat untuk mengurus harta debitur Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang (PKPU) adalah pihak yang disebut dengan pengurus
(administrator). Tugas pengurus dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang (PKPU) mirip dengan tugas kurator (receiver) dalam proses kepailitan.
Bahkan syarat-syarat untuk menjadi pengurus sama dengan syarat-syarat untuk
menjadi kurator.
2) Prosedur Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)
Pihak yang berinisiatif untuk mengajukan Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang (PKPU) adalah pihak debitur itu sendiri, yang dalam hal ini diajukan ke
Pengadilan Niaga dengan permohonan yang mesti ditandatangani oleh debitur
bersama-sama dengan lawyer yang mempunyai izin praktek. Secara strategis,
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dimohonkan oleh debitur
dengan maksud-maksud sebagai berikut:
2.1) Ingin Agar Hutangnya Direstrukturisas
Adakalanya suatu Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)
dimohonkan oleh debitur memang dengan maksud agar dilakukan suatu proses
restrukturisasi hutang, yang diawasi oleh pengadilan. Dalan hal ini ada 2 (dua)
manfaat dari restrukturisasi hutang lewat Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang (PKPU) ini, yaitu sebagai berikut:
 Bermanfaat bagi kreditur karena pelaksananya diawasi oleh pengadilan.

8
 Bermanfaat bagi debitur karena persetujuan kepada restrukturisasi hutang
tidak memerlukan persetujuan semua kreditur, tetapi cukup persetujuan
sebagian besar dari kreditur yang hadir dalam rapat kreditur.
2.2) Sebagai Upaya Melawan Kepailitan
Sebenarnya permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
(PKPU) oleh debitur terpaksa dilakukan dengan tujuan untuk melawan
permohonan pailit yang telah diajukan oleh para krediturnya. Jika diajukan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) padahal permohonan pailit
telah dilakukan, maka hakim harus mengabulkan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang (PKPU), dalam hal ini Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang (PKPU) sementara untuk jangka waktu paling lama 45 hari, sementara
gugatan pailit gugur demi hukum. Sepintas kelihatannya hal ini sangat
menguntungkan debitur, tetapi sebenarnya posisi pihak debitur juga cukup
riskan. Sebab, apabila nanti setelah berakhir masa Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang (PKPU) sementara, Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang (PKPU) tetap tidak diterima dalam voting di antara kreditur yang hadir,
atau jika proposal perdamaian tidak dapat disetujui oleh voting kreditur dalam
masa Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) tetap, maka demi
hukum pihak debitur dinyatakan pailit, tanpa ada lagi upaya banding maupun
kasasi.

Dengan demikian, prosedur Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)


pada pokoknya adalah sebagai berikut:
 Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) oleh debitur
bersama dengan lawyer yang memiliki izin.
 Pemberian Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) sementara oleh
Pengadilan Niaga.
 Persetujuan terhadap Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) tetap oleh
kreditur.
 Persetujuan terhadap rencana perdamaian oleh kreditur.
 Pengesahan perdamaian oleh Pengadilan Niaga.

Dalam hal ini jika Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) tetap atau
rencana perdamaian ataupun pengesahan rencana perdamaian tidak dapat diterima,

9
maka demi hukum pihak debitur dinyatakan pailit, tanpa boleh mengajukan rencana
perdamaian baru.

2.7 Perbedaan antara Pailit dengan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)
Banyak perbedaan antara lembaga kepailitan dengan lembaga Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Di antara perbedaan yang penting adalah
sebagai berikut:
1) Kewenangan debitur
Dalam proses kapailitan, debitur pailit sama sekali tidak mempunyai
kewenangan dalam mengurus perusahaan pailit atau harta pailit. Akan tetapi,
debitur perusahaan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) masih
memiliki kewenangan seperti sediakala, hanya dalam menjalankan kegiatannya
harus selalu bersama-sama dengan pengurus Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang (PKPU).
2) Jangka waktu penyelesaian
Proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) harus diselesaikan
dalam maksimum 270 hari setelah diputuskan Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang (PKPU) oleh Pengadilan Niaga. Akan tetapi, dalam proses kepailitan,
setelah pengadilan memutuskan debitur pailit, maka tidak ada batas jangka waktu
untuk pemberesannya.
3) Fungsi perdamaian
Perdamaian dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)
sangat luas cakupannya, mencakup berbagai aspek tentang restrukturisasi hutang.
Akan tetapi, perdamaian dalam proses kepailitan hanyalah sebatas perdamaian
yang berkenaan dengan pemberesan harta pailit tersebut.
4) Antara pengurus Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dengan
curator
Dalam menjalankan tugasnya selaku kurator, maka pihak kurator tidak perlu
harus bersama-sama dengan debitur atau direksi dari debitur, sementara dalam
proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), dalam menjalankan
tugasnya, pengurus harus selalu bersama-sama atau didampingi oleh debitur atau
direksi dari debitur. Di samping itu, dalam proses kepailitan ada yang disebut
dengan kurator sementara (interim receiver), sementara dalam proses Penundaan

10
Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), tidak ada yang namanya pengurus
sementara.
5) Perbedaan Pihak yang Mengajukan permohonan pailit dengan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)
Pihak yang mengajukan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang (PKPU) adalah debitur itu sendiri, sedangkan pihak yang mengajukan pailit
adalah sebagia berikut :
 Debitur.
 Kreditur
 Jaksa (untuk kepentingan umum)
 Bank Indonesia, jika yang pailit adalah bank.
 Badan Pengawas Pasar Modal, jika yang pailit adalah perusahaan efek.
6) Jangka waktu penangguhan eksekusi jaminan hutang
Dalam proses kepailitan, jangka waktu penangguhan eksekusi jaminan hutang
adalah maksimum 90 hari, sedangkan dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang (PKPU) selama proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)
tersebut, yaitu maksimum 270 hari.

11
2.8 Pengertian Likuidasi Perusahaan

Likuidasi perusahaan dalam bahasa Inggris adalah winding up atau liquidation. Yang
dimaksud dengan likuidasi perusahaan adalah suatu tindakan untuk membubarkan,
menutup dan menghentikan semua kegiatan dari suatu perusahaan dan membereskannya
serta membagi-bagikan aktiva tersebut kepada pihak kreditur dan pemegang saham.

Dengan demikian, elemen-elemen hukum dari suatu likuidasi perusahaan adalah


sebagai berikut:

1. Penutupan atau penghentian bisnis perusahaan.


2. Pemberesan perusahaan (menjual dan membagi-bagikan aset).
3. Pembubaran (termasuk pelaporan, pendaftaran dan pengumuman tentang
pembubaran)

Likuidasi suatu perusahaan dapat terjadi karena sebab-sebab sebagai berikut:

1. Sewaktu-waktu karena kehendak dari Rapat Umum Pemegang Saham (dengan


kuorum dan voting supermajority).
2. Jangka waktu berdiri perusahaan sudah berakhir (tidak diperpanjang).
3. Berdasarka penetapan pengadilan, yakni dalam hal-hal sebagai berikut:
4. Permohonan dari pihak kejaksaan.
5. Permohonan paling sedikit 10% pemegang saham.
6. Permohonan kreditur (setelah pailit atau setelah pailit dicabut).
7. Permohonan pihak perseroan dengan alasan karena adanya cacat hukum dalam akta
pendirian.
8. Sebagai akibat dari merger atau konsolidasi perusahaan (yang memerlukan likuidasi).

Akibat hukum dari adanya likuidasi perusahaan adalah sebagai berikut:

1. Perusahaan tidak bisa berbisnis lagi.


2. Perusahaan dapat melaksanakan kegiatan tertentu sejauh yang menyangkut dengan
pemberesan kekayaannya.
3. Di belakang nama perusahaan dibubuhkan kata “dalam likuidasi”.
4. Pengangkatan likuidator.
5. Kewajiban pemberesan hak dan kewajiban perusahaan.

12
6. Pembubaran perusahaan.

Dalam hal likuidasi perusahaan ini, diangkatlah seorang atau lebih likuidator untuk
menyelesaikan persoalan-persoalan yang berkenaan dengan likuidasi ini. Tugas likuidator
dalam proses likuidasi perusahaan mirip dengan tugas kurator dalam proses kepailitan
perusahaan. Likuidator diangkat oleh:

1. Rapat Umum Pemegang Saham jika likuidasi ditetapkan oleh rapat umum pemegang
saham, atau
2. Pengadilan, jika likuidasi atas perintah pengadilan.
3. Adapun mereka-mereka yang diangkat untuk menjadi likuidator adalah sebagai
berikut:
4. Pihak dalam perusahaan, dalam hal ini direksi (ditambah dengan pihak lain, seperti
komisaris atau manajer bila perlu).
5. Pihak luar perusahaan, seperti lawyer atau akuntan publik.
6. Kombinasi antara pihak dalam dengan pihak luar perseroan.
7. Direksi (demi hukum) jika dalam suatu likuidasi ternyata tidak ditunjuk seorang
likuidator.

Seperti yang telah disebutkan bahwa seorang likuidator mempunyai tugas yang mirip
dengan tugas seorang kurator dalam proses kepailitan perusahaan. Dalam proses
pemberesan perusahaan seorang likuidator mempunyai tugas-tugas yuridis sebagai
berikut:

1. Likuidator bertugas sebagaimana layaknya seorang direksi perusahaan.


2. Pencatatan dan pengumpulan kekayaan perusahaan.
3. Penjualan aset-aset perseroan (jika diperlukan).
4. Penagihan piutang perseroan.
5. Melanjutkan bisnis perseroan sebelum dijual aset jika hal tersebut dianggap yang
terbaik buat perolehan perusahaan yang optimal.
6. Pemanggilan kreditur dan pemberitahuan kepada kreditur dan publik.
7. Penentuan tata cara pembagian aset perseroan sesuai aturan main yang berlaku.
8. Pembayaran kepada kreditur.
9. Pembagian sisa kekayaan hasil likuidasi kepada pemegang saham.

13
Sedangkan dalam proses pembubaran perusahaan, para likuidator mempunyai tugas-
tugas yuridis sebagai berikut:

1. Mendaftarkan likuidasi dalam daftar perusahaan.


2. Mengumumkan likuidasi dalam berita negara.
3. Mengumumkan likuidasi dalam 2 surat kabar harian.
4. Melakukan pemberitahuan kepada Menteri Kehakiman.
5. Mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) terakhir dan likuidator
bertanggung jawab kepada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atas hasil
likuidasi yang telah dilakukannya.
6. Mendaftarkan hasil akhir proses likuidasi dalam daftar perusahaan.
7. Mengumumkan hasil akhir proses likuidasi dalam berita negara.
8. Mengumumkan hasil akhir proses likuidasi dalam 2 surat kabar harian.

Apabila likuidaror dapat menjalankan tugasnya secara benar, maka pada prinsipnya
dia dibebaskan dari tanggung jawabnya demi hukum. Akan tetapi, pembebasan tanggung
jawab tersebut dapat juga dilakukan dengan pemberian pembebasan tanggung jawab
(etquit et de charge) dalam rapat umum pemegang saham yang terakhir.

Jika pihak likuidator belum melakukan pendaftaran (dalam daftar perusahaan) dan
pengumuman (dalam berita negara), maka proses likuidasi beserta seluruh konsekuensi
hukumnya belum berlaku terhadap pihak ketiga, tetapi hanya berlaku secara intern
perusahaan.

Di samping itu, yang mesti diwanti-wanti adalah bahwa jika ada tugas likuidatro akan
bertanggung jawab secara pribadi (jika likuidator tunggal) atau secara renteng (jika
likuidator berbentuk tim).

14
Perbedaan Pailit dengan Likuidasi

Menurut pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan


dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (UU Kepailitan), kepailitan adalah:

“...sita umum atas semua kekayaan Debitor Pailit yang pengurusan dan
pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini“

Sedangkan likuidasi, menurut Black's Law Dictionary 6th Edition adalah:

“With respect with winding up of affairs of corporation, is process of reducing assets to


cash, dischargng liabilities and dividing surplus or loss. Occurs when a corporation
distributes its net assets to its shareholders and ceases its legal existence.”

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, likuidasi adalah:

“Pembubaran perusahaan sebagai badan hukum yang meliputi pembayaran kewajiban


kepada para kreditor dan pembagian harta yang tersisa kepada para pemegang saham”

Dalam peraturan perundang-undangan kita, istilah likuidasi digunakan, antara lain,


dalam;

a. Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) yaitu


dalam Bab XI tentang Pembubaran, Likuidasi, dan Berakhirnya Status Badan
Hukum Perseroan (pasal 142 – pasal 152). Dalam UUPT likuidasi dilakukan
sehubungan dengan pembubaran perseroan yang terjadi karena sebab-sebab yang
diatur dalam pasal 142 ayat (1). Salah satu sebab terjadi pembubaran perseroan adalah
karena harta pailit Perseroan yang telah dinyatakan pailit berada dalam keadaan
insolvensi sebagaimana diatur dalam UU tentang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang (pasal 142 ayat [1] huruf e). Selanjutnya, dalam pasal
143 ayat (1) diatur bahwa pembubaran Perseroan tidak mengakibatkan Perseroan
kehilangan status badan hukum sampai dengan selesainya likuidasi dan
pertanggungjawaban likuidator diterima oleh RUPS atau pengadilan.Dalam
penjelasan pasal 143 ayat (1) ditegaskan antara lain bahwa pernyataan pailit tidak

15
mengubah status Perseroan yang telah dibubarkan dan karena itu Perseroan
harus dilikuidasi.
b. Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang Pencabutan Izin Usaha,
Pembubaran dan Likuidasi Bank (Perpres No. 25 Tahun 1999). Pasal 1 angka 4
Perpres No. 25 Tahun 1999 menyebutkan bahwa likuidasi bank adalah:

“Tindakan penyelesaian seluruh hak dan kewajiban bank sebagai akibat


pencabutan izin usaha dan pembubaran badan hukum bank”

Dasar hukum:

1. Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban


Pembayaran Utang
2. Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
3. Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang Pencabutan Izin Usaha,
Pembubaran dan Likuidasi Bank

16
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
3.1.1 Kepailitan perusahaan adalah tidak sanggupnya perusahaan membayar hutang –
hutangnya, Sehingga perusahaan mengalami kebangkrutan.
3.1.2 Syarat – syarat kepailitan
1. Debitur mempunyai lebih dari 1 hutang
2. Minimal 1 hutang sudah jatuh tempo
3. Permohonan Pailit dimintakan oleh pihak yang diberikan kewenangan seperti pihak
debitur, pihak kreditur, pihak jasa, dll.
4. Bapepam jika debiturnya perusahaan efek.
5. Menteri Keuangan jika debiturnya perusahaan asuransi, BUMN.
3.1.3 Prosuder Kepailitan
1. Pengadilan khusus yaitu di Pengadilan Niaga dengan tata cara dan prosedur yang
khusus.
2. Di atur UU No. 37 Tahun 2004
3.1.4 Konsekuensi Yuridis dari Kepailitan diantaranya
1. Berlaku penangguhan eksekusi selama maksimum 90 hari.
2. Boleh dilakukan kompensasi antara hutang debitur dengan piutang debitur.
3. Kontrak timbal balik boleh dilanjutkan.
3.1.5 Peran Kurator dalam suatu proses kepailitan yakni mengurus dan membereskan proses
kepailitan sampai akhir, dari menghitung kewajiban debitur pailit, membuat
pengumuman dan pemberitahuan – pemberitahuan, menjual aset, dan membagi –
bagikannya kepada kreditur yang berhak.
3.1.6 Prosedur penundaan kewajiban pembayaran hutang yakni pihak yang berinisiatif untuk
mengajukan penundaan kewajiban Pembayaran Utang adalah pihak debitur itu sendiri
mengajukan kepengadilan Niaga dengan permohonan yang ditanda tangani oleh
debitur bersama – sama dengan Lawyer yang mempunyai izin praktek.
1.3.7 Perbedaan Pailit dengan penundaan kewajiban Pembayaran Utang diantaranya:
1.) Kewenangan Debitur
Debitur tidak mempunyai kewenangan dalam mengurus perusahaan, harta pailit,
tetapi PKPU masih memiliki kewenangan seperti sediakala.

17
2.) Jangka Waktu Penyelesaian

PKPU di selesaikan maksimum 270 hari setelah diputuskan Pengadilan Niaga,


proses kepailitan tidak ada batas jangka waktu untuk pemberesan.

3.) Fungsi Perdamaian

Perdamaian PKPU mencakup aspek restrukturisasi hutang, perdamaian dalam


proses kepailitan hanya sebatas perdamaian yang berkenaan dengan pemberesan
harta pailit tersebut.

1.3.8 Likuidasi Perusahaan adalah suatu tindakan untuk membubarkan, menutup dan
menghentikan semua kegiatan dari suatu perusahaan dan membereskannya serta
membagi – bagikan aktiva tersebut kepada pihak kreditur dan pemegang saham.

3.2 Saran – Saran

Makalah ini masih banyak kekurangannya dan demi kesempurnaan makalah ini
kedepannya penulis akan lebih focus menjelaskan tentang makalah diatas dengan
sumber – sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan.

18
DAFTAR PUSTAKA

http://annisawally0208.blogspot.co.id/2017/01/proses-terjadinya-kepailitan-perusahaan.html?m=1
https://leninurmayanti04.wordpress.com/2014/04/06/kepailitan-dan-likuidasi-perusahaan/

19