Você está na página 1de 9

ASUHAN KEPERAWATAN KASUS ANAK AUTISME

KEPERRAWATAN ANAK II

DOSEN PENGAMPU : Nor Isna Tauhidah, Ns,. M.Kep

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 3

FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN

TAHUN AJARAN 2018


NAMA ANGGOTA KELOMPOK 3

No Nama NPM

1 Cici Eka Pertiwi Sumarna 1614201110012

2 Cintia Riska Apriliani 1614201110013

3 Dessy Rahmawati 1614201110014

4 Ella Cendrika 1614201110015

5 Elta Nur Afifah 1614201110016

6 Muhammad Sahal 1614201110033

7 M. Syarif Hiyatullah 1614201110034

8 Nisfi Hidayati 1614201110037

9 Nortisari 1614201110040

10 Novia Annisa 1614201110041

11 Sisi Marsilawati 1614201110052

12 Siti Sarah 1614201110055

13 Syaril Malikky 1614201110056

14 Syifa Uzzahra 1614201110067


A. KASUS
Anak NA usia 3 tahun jenis kelamin perempuan lahir di Pasuruan tanggal 2 Maret
2011 agama Islam, suku Jawa. Pasien dibawa ke poli ARLAN (Anak Remaja dan
Lansia) RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang dengan keluhan anak belum dapat
berbicara dengan jelas pada saat usia saat ini. Ibu pasien mengatakan jika anak belum
dapat berbicara dengan jelas hingga usia 3 tahun. Hal ini dirasakan oleh ibu sejak
kurang lebih 2 bulan yang lalu anak pasien hanya bisa mengucapkan kata ayah, dan
ibu. Ibu juga mengatakan kalau anaknya tidak bisa fokus. Ketika pemeriksa
memanggil nama pasien tidak ada kontak mata dan tidak ada respon secara verbal.
Pasien hanya berbicara sendiri yang tak jelas kalimatnya. Pada saat pemeriksa
meminta pasien untuk menggambar sesuatu dengan pulpen, pasien tidak merespon
dan tetap asik dengan memencet-mencet tombol handphone. Ibu pasien mengatakan
pasien kurang disenangi oleh teman bermainnya karena sering memukul teman
bermainnya tanpa sebab.

Riwayat perkembangan anak, anak lahir cukup bulan dan mengaku normal. Lahir di
rumah sakit dan persalinan dibantu oleh dokter spesialis kandungan, namun sang ibu
bercerita ketika persalinan ibu tidak kuat mengejan hingga pingsan yang akhirnya
melakukan tindakan vakum, setelah bayi lahir (tidak menangis). Selama kehamilan
ibu pasien mengaku tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan atau jamu. Pasien
mendapatkan ASI hingga umur 2 tahun. Pasien mulai diajarkan toilet training pada
umur 3 tahun. Pasien dapat duduk, berjalan, bicara terlambat dari teman sebayanya.
Hasil pemeriksaan DDST (Denver Development Screening Test) bagian bahasa anak
belum mampu mengkombinasikan dua kata. Hasilnya adalah “suspect” TTV pasien
N: 100 x/menit, R: 18 x/menit, S: 36,5’C, keadaan umum: Compos Mentis, Thorax:
S1 S2 tunggal reguler, abdomen: bising usus (+), Ekstremitas: akral teraba hangat.
B. PENGKAJIAN

1. Keluhan Utama : Anak belum dapat berbicara dengan jelas pada usia saat ini (3
tahun).
2. Hetero Anamnesis : Pasien dibawa ke poli ARLAN (Anak Remaja dan Lansia)
RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang dengan keluhan anak belum dapat
berbicara dengan jelas pada saat usia saat ini. Ibu pasien mengatakan jika anak
belum dapat berbicara dengan jelas hingga usia 3 tahun. Hal ini dirasakan oleh ibu
sejak kurang lebih 2 bulan yang lalu, ketika ibu membawa anaknya untuk
berkunjung kerumah saudara. Ibu menyadari jika anaknya tidak sama dengan anak
lainnya yang seusia pasien saat ini. Jika anak lainnya sudah bisa mengeluarkan
banyak kata-kata dengan jelas, anak pasien hanya bisa mengucapkan kata ayah,
dan ibu. Ibu juga mengatakan kalau anaknya tidak bisa fokus.
3. Keluhan dan keterangan penderita (autoanamnesis) antara lain:
a. Alasan datang ke rumah sakit (maksud dan tujuan anak datang kerumah sakit):
ketika pemeriksa memanggil nama pasien tidak ada kontak mata dan tidak ada
respon secara verbal. Pasien hanya berbicara sendiri yang tak jelas kalimatnya.
b. Hobi dan perhatian anak pada sesuatu (bakat, hobi, dan perhatian pada sesuatu
hal): pada saat pemeriksa meminta pasien untuk menggambar sesuatu dengan
pulpen, pasien tidak merespon dan tetap asik dengan memencet-mencet tombol
handphone.
c. Hubungan sosial anak (dengan tetangga, disekolah dan tempat lain, yang
disenangi/tidak): informasi didapatkan dari ibu (pasien kurang disenangi oleh
teman bermainnya karena sering memukul teman bermainnya tanpa sebab).
d. Hubungan dengan teman dekat dan sebaya/peer relation: informasi didapatkan
dari ibu (di lingkungan rumah pasien tidak ada yang ingin bermain dengan pasien
karena pasien dianggap nakal).
e. Hubungan anak dengan keluarga rumah: (info dari ibu) pasien sangat di
perhatikan dan di manja oleh keluarga.
f. Pembicaraan tambahan/khusus pada persoalan atau kesulitan: belum bisa
berbicara jelas.
g. Status kesehatan anak: -
h. Fantasi (dibawah 9 tahun):-
i. Kesadaran sosial anak: (info ibu pasien) jarang bermain di sekitar lingkungan
rumah.
4. Riwayat perkembangan anak : Lahir cukup bulan dan mengaku normal. Lahir di
rumah sakit dan persalinan dibantu oleh dokter spesialis kandungan, namun sang
ibu bercerita ketika persalinan ibu tidak kuat mengejan hingga pingsan yang
akhirnya melakukan tindakan vakum, setelah bayi lahir (tidak menangis). Selama
kehamilan ibu pasien mengaku tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan atau
jamu. Pasien mendapatkan ASI hingga umur 2 tahun. Pasien mulai diajarkan toilet
training pada umur 3 tahun. Pasien dapat duduk, berjalan, bicara terlambat dari
teman sebayanya.
5. Riwayat sakit sebelumnya : Tidak ditemukan.
6. Riwayat sekolah : Pasien belum bersekolah.
7. Riwayat Keluarga :
a. Pasien diasuh oleh ibu kandung.
b. Pasien merupakan anak tunggal.
8. Pemeriksaan Generalis:
a. Tensi : - mmhg
b. Nadi : 100 x/menit
c. Respirasi : 18 x/menit
d. Suhu : 36,5’C
e. Keadaan Umum : Compos Mentis
f. Kepala/Leher :-
g. Thorax : Cor : S1 S2 tunggal Reguler
Murmur (-)
Pulmo :Vesiculer +/+, Rh -/-, Wh -/-
h. Abdomen : Supel, Bising usus (+), meteorismus (-)
i. Ekstremitas : Akral hangat +/+
Oedem -/-
9. Pemeriksaan Saraf
a. GCS : 4-5-6
b. Meningeal Sign : Kaku kuduk (-).
c. Refleks Fisiologik : BPR +2/+2 APR +2/+2 KPR +2/+2
TPR +2/+2
d. Refleks Patologik : Babinski (-) / (-)
Tromer (-) / (-)
Chaddock (-) / (-)
10. Pemeriksaan Psikiatri:
a. Kesan Umum : Pasien berpakaian rapi, roman wajah sesuai dengan usianya,
pasien tidak berbau, pasien hiperaktif dan Tidak kooperatif, tidak ada kontak
mata
b. Kontak : Verbal (-)

Non verbal (-)

c. Daya ingat : Tidak ditemukan kelainan.


d. Persepsi : Halusinasi visual (-) auditorik (-).
e. Proses berpikir: Bentuk: sulit dievaluasi, Arus : sulit dievaluasi,
f. Afek/emosi : Tidak ada gangguan.
g. Kemauan : ADL (+) Social (-) pekerjaan (-).
h. Psikomotor : Meningkat.
C. DIAGNOSA

NO DATA MASALAH ETIOLOGI

1 DS: Ibu pasien mengatakan jika Hambatan Defek anatomis


anak belum dapat berbicara komunikasi
dengan jelas hingga usia 3 tahun. verbal
DO:
- Ketika pemeriksa memanggil
nama pasien tidak ada kontak
mata dan tidak ada respon
secara verbal.
- Pasien hanya berbicara sendiri
yang tak jelas kalimatnya
- hasil pemeriksaan DDST bagian
bahasa anak belum mampu
mengkombinasikan dua kata.
Hasilnya adalah “suspect” .

D. INTERVENSI

NO TUJUAN & KRITERIA INTERVENSI RASIONAL


HASIL
1 Setelah dilakukan asuhan a. Anjurkan a. Untuk
keperawatan selama 3x24 jam, kunjungan mengurangi
diharapakan pasien mampu keluarga secara ansietas anak
menunjukkan komunikasi, teratur untuk b. Memberikan
dengan kriteria hasil: memberi waktu pada
a. Anak mampu bertukar stimulasi pada anak untuk
pesan secara akurat komunikasi. memahami
dengan orang lain. b. Bicara perlahan, pembicaraan.
b. Menggunakan bahasa jelas dan c. Menguatkan
tertulis, berbicara, tenang, bicara dan
nonverbal. menghadap mendorong
c. Menggunakan bahasa kearah pasien. pemahaman.
isyarat. c. Gunakan kartu d. Untuk
baca, bahasa memudahkan
tubuh, dan komunikasi
gambar untuk nonverbal.
memfasilitasi e. Agar anak tidak
komunikasidua mempelajari
arah yang kebiasaan
optimal. komunikasi
d. Bantu keluarga yang buruk.
mendapatkan
alat elektronik
(microphone).
e. Beritahu ahli
terapi wicara
dengan lebih
dini.
DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association Diagnostic and Stastical Manual of Mental Disorder,


Fourth Edition, Text revision. Washington, DC, American Psychiatric Association, 2000.

Cvejib, Mental Handicap-Mental illness (Dual Diagnosis). Dalam simposium Masalah


Perilaku Pada Anak, Penanggulangan, dan Dampaknya terhadap Masa Depan. Jakarta 22
Oktober 1996.

Departemen Kesehatan RI Direktorat Jendral Pelayanan Medik. Pedoman Penggolongan


dan Diagnosis Gangguan Jiwa Di Indonesia III (PPDGJ). 1993.