Você está na página 1de 5

TUGAS

ARTI KEJUJURAN

Disusun Oleh :
Tria Miraz Chairani

Konsulen Pengampu :
dr. Utomo Budidarmo, Sp.OG, M.Kes
KOMPOL NRP. 82051588

KEPANITERAAN KLINIK ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
RUMAH SAKIT BHAYANGKARA Tk. I R.S. SUKANTO
PERIODE 28 JANUARI 2019 – 5 APRIL 2019
I. Pengertian Sikap jujur

Menurut Mu’in (2011), sikap merupakan predisposisi untuk melakukan atau


tidak melakukan sesuatu perilaku tertentu sehingga sikap bukan hanya gambaran
kondisi internal psikologis yang murni dari individu (putely psychic inner state),
melainkan sikap lebih merupakan proses kesadaran yang sifatnya individual. Artinya,
proses ini terjadi proses kesadaran yang sifatnya individual. Artinya, proses ini terjadi
secara subjektif dan unik pada diri setiap individu. Keuinikan ini dapat terjadi karena
adanya perbedaan individual yang berasal dari nilai-nilai dan norma yang ingin
dipertahankan dan dikelola oleh individu. Sikap itu sangat penting dan mempengaruhi
kehidupan seseorang. Salah satu sikap yang harus dimiliki oleh seseorang adalah
sikap jujur. (Mu'in, 2011)
Menurut Naim (2011), jujur merupakan nilai penting yang harus dimiliki oleh
setiap orang, jujur tidak hanya diucapkan, tetapi juga harus tercermin dalam perilaku
sehari-hari (Naim, 2012). Samani dan Hariyanto (2012) mengemukakan, jujur adalah
menyatakan apa adanya, terbuka, konsisten antara yang dikatakan dan dilakukan
(berintegritas), berani karena benar, dapat dipercaya (amanah, trustworthisness), dan
tidak curang (no cheating) (Muchlas & Hariyanto, 2012).
Jujur termasuk akhlak utama yang terbagi menjadi beberapa bagian. Al-Harits al-
Muhasibi rahimahullah berkata: “Ketahuilah –semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala
memberi rahmat kepadamu – sesungguhnya jujur dan ikhlas adalah pondasi segala
sesuatu. Maka dari sifat jujur, tercabang beberapa sifat, seperti: sabarm qana’ah,
zuhud dan ridha. Dan sifat ikhlas tercabanglah beberapa sifat, seperti: yakin, khauf
(takut), mahabbah (cinta), ijal (membesarkan), haya’ (malu), dan ta’dzim
(pengagungan). Jujur terdiri dari tiga bagian yang tidak sempurna kecuali dengannya:
(1) kejujuran hati dnegan iman secara benar

(2) niat yang benar dalam perbuatan

(3) kata-kata yang benar dalam ucapan (Al-Khazandar, 2008)

Dan tatkala kejujuran mempunyai ikatan kuat dengan iman, maka Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam memaafkan (memakluminya) terjadi sifat yang tidak
terpuji dari seorang mukmin, namun beliau menolak bahwa seorang mukmin
terjerumus dalam kebohongan, karena sangat jauhnya hal itu dari seorang mukmin.
(Al-Khazandar, 2008)
II. Kejujuran dalam Kedokteran

Tertera pada kode Etik Kedokteran Indonesia, pada padal 7b. Seorang dokter
harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya yang dia
ketahui memiliki kekurangan dalam karakter atau kompetensi, atau yang melakukan
penipuan atau penggelapan, dalam menangani pasien (Majelis Kehormatan Etik
Kedokteran Indonesia, 2012).
Hal ini menjelaskan pada pasal sebelumnya, yaitu pasal 7. Seorang dokter
hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri
kebenarannya. Hampir setiap hari kepada seorang dokter diminnta keterangan tertulis
mengenai bermacam-macam hal antara lain, tentang:
a. Cuti sakit

b. Kelahiran dan kematian

c. Cacat

d. Penyakit menular

e. Visum et repertum (pro justicia)

f. Keterangan kesehatan untuk asuransi jiwa, untuk lamaran kerja, untuk kawin
dan sebagainya.

g. Lain-lain. (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Indonesia, 2012)

Hal yang perlu diperhatikan oleh seorang dokter pada waktu memberikan:
a. keterangan cuti sakit dan keterangan tentang tingkat cacat

Waspadalag terhadap sandiwara (“simulasi”) melebih-lebihkan (“aggravi”)


mengenai sakit atau kecelakaan kerja.

b. keterangan kelahiran dan kematian

Agar keterangan mengenai kelahiran/kematian seseorang diisi sesuai keadaan


yang sebenarnya. Seorang dokter sesuai dengan undang-undang Wabah
berkewajiban melaporkan adanya penyakit menular walaupun kadang-kadang
keluarga tidak menyukainya,
c. Visum et repertum (pro justicia)

Kepolisian dan kejaksaan sering meminta visum et repertum kepada seorang


dokter dalam hal perkara penganiayaan dan pembunuhan sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlaku. Visum agar dibuatkan dengan teliti dan
mudah dipahami berdasarkan apa yang dilihat. Selain itu visum et repertum
haruslah objektif tanpa pengaruh dari yang berkepentingan dalam perkara itu.

d. Laporan pengujian kesehatan untuk asuransi jiwa

(1) Laporan dokter harus objektif jangan dipengaruhi oleh keinginan dari agen
perusahaan asuransi yang bersangkutan atau calon yang bersangkutan

(2) Sebaiknya jangan menguji kesehatan seorang calon yang masih atau
pernah menjadi pasiennya sendiri, untuk menghindarkan timbulnya
kesukaran dalam mempertahankan rahasia jabatan.

(3) Jangan memberitahukan kepada calon tentang kesimpulan dari hasil


pemeriksaan medik. Serahkan hal itu kepada perusahaan asuransi jiwa itu
sendiri.

(4) Penyerahan informasi medih dari peserta asuransi jiwa dapat diserahkan
kepada perusahaan asuransi jiwa yang bersangkutan bila ada persetujuan
tertulis dari peserta asuransi yang bersangkutan.

e. Keterangan mengenai kebaikan bahan makananpaten dan khasiat suatu obat.

Seorang dokter boleh memberitahukan keterangan tentang bahan makanan


paten dan kasiat suatu obat kalau segala syarat ilmiah sudah dipenuhi.
Pemeriksaan dan keterangan mengenai suatu bahan makanan atau obat,
sebaiknya diserahkan kepada lembaga pemerintahan. (Majelis Kehormatan
Etik Kedokteran Indonesia, 2012)

DAFTAR PUSTAKA
Mu'in, F. (2011). Pendidikan Karakter, Konstruksi Teoretik dan Praktik. Ar-
Ruzz Media .
Muchlas, S., & Hariyanto. (2012). Pendidikan Karakte. PT Remaja
Rosdakarya .
Naim, N. (2012). Character Building Optimalisasi peran pendidikan dalam
pengembangan ilmu dan pembentukan karakter bangsa. Ar-Ruzz Media .
Al-Khazandar, M. M. (2008). Kejujuran. Maktab Dakwah dan Bimbingan
Jaliyat Rabwah .
Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Indonesia. (2012). Kode Etik
Kedokteran Indonesia dan Pedoman Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia.
MKEK .