Você está na página 1de 43

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit tropis merupakan penyakit yang sering terjadi pada wilayah
tropis dan subtropis yang umumnya berupa infeksi tetapi juga berupa
noninfeksi. Menurut WHO penyakit tropis mencakup semua penyakit yang
berada di daerah tropis. Penyakit tropis merupakan salah satu bentuk penyakit
yang sering terjadi di daerah beriklim tropis dan subtropis, tidak hanya di
Indonesia tapi hampir semua negara berkembang penyakit tropis ini dapat
mewabah dengan cepat dan menjadi salah satu faktor mordibitas dan
mortalitas, untuk mengurangi angka kematian tersebut, perlu adanya
penanggulangan guna menekan penyebarluasan penyakit tropis adalah
lingkungan atau tempat tingal yang kotor beberapa penyakit tropis dan infeksi
yaitu diare, tetanus, tifoid penyakit tropis jeni ini dapat disebabkan bakteri
maupun virus.
Hasil penelitian menunjukkan diare merupakan penyebab utama kematia
bayi dan anak balita (anak usia 1 bulan - <5 bulan) di Indonesia (Riskesdes,
2007), sedangkan tetanus WHO mencatat bahwa 787.000 bayi meninggal
karena tetanus neoonartum ( NT) dan tifoid menurut WHO diperkirakan
terjadi 16 juta kasus per tahun dan 600 ribu diantaranya berakhir dengan
kematian demam tifoid ini merupakan masalah global terutama di Negara
dengan hygiene buruk. Penatalaksanaan penyakit tropis dan infeksi dengan
cara penggunaan air sumur, yang sehat dan imunisasi vaksin serta
meningkatkan sanitasi lingkungan.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana aplikasi keperawatan pada bayi/anak dengan masalah tropic dan
infeksi : campak, tetanus, dan DHF ?

1
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Agar mahasiswa dapat memahami aplikasi keperawatan pada bayi/anak
dengan masalah tropic dan infeksi : campak, tetanus, dan DHF

1.3.2 Tujuan Khusus


a. Mengetahui aplikasi keperawatan pada bayi/anak dengan masalah
tropic dan infeksi : campak.
b. Mengetahui aplikasi keperawatan pada bayi/anak dengan masalah
tropic dan infeksi : tetanus.
c. Mengetahui aplikasi keperawatan pada bayi/anak dengan masalah
tropic dan infeksi : DHF.

2
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Konsep Medis Campak


2.1.1 Definisi Campak
Campak menurut Anies (21:1997) merupakan salah satu jenis penyakit
menular yang umum terjadi pada anak-anak di bawah usia 10 tahun.
Penyakit ini disebabkan oleh jenis virus yang sangat menular dan
berpindah dari satu anak ke anak yang lain dalam waktu singkat.
Sedangkan menurut Rampengan dan Laurentz (90:1997) campak atau
morbili ialah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan
3 stadium yaitu : stadium inkubasi, stadium prodromal, dan stadium
erupsi.
Dan menurut Maryunani (129:2010) mengemukakan beberapa
pengertian dari imunisasi campak antara lain :
a. Imunisasi campak adalah imunisasi yang digunakan untuk
mencegah terjadinya penyakit campak pada anak karena penyakit
ini sangat menular.
b. Imunisasi campak adalah imunisasi yang diberikan untuk
menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit campak
(morbili/measles).
c. Sebenarnya, bayi sudah mendapat kekebalan campak dari ibunya.
Namun seiring bertambahnya usia, antibodi tambahan lewat
pemberian vaksin campak. Untungnya campak hanya diderita
sekali seumur hidup. Jadi, sekali terkena campak, setelah itu
biasanya tidak akan terkena lagi.

3
2.1.2 Etiologi
Penyebab penyakit ini menurut Rampengan dan Laurentz (90:1997)
adalah sejenis virus yang tergolong dalam famili Paramyxovirus yaitu
jenis genus morbili.
Virus inii sangat sensitif terhadap panas dan dingin, dan dapat
diinaktifkan pada suhu 30◦C dan -20◦C, sinar ultraviolet, eter, tripsin
dan betaptopiolakton. Sedang formalin dapat memusnahkan daya
infeksinya tetapi tidak mengganggu aktivitas komplemen. Penyakit ini
dapat disebarkan melalui udara.
2.1.3 Patofisiologi
Menurut Rampengan dan Laurentz (1997) morbili merupakan infeksi
umum dengan lesi patologis yang khas. Pada stadium prodromal
terdapat hyperplasia, jaringan limfe pada tonsil, adenoid, kelenjar limfe,
lien, dan appendiks.
Gambaran patologis yang karakteristik ialah distribusi yang luas dari
multinucleated giant cell akibat dari fusi sel-sel.
Sebagai reaksi terhadap virus maka terjadi eksudat yang serous dan
proliferasi sel mononukleus dan beberapa sel polimorfonuklues
disekitar kapiler. Kelainan ini terjadi pada kulit, selaput lendir
nasofarings, bronkus dan konjungtiva.

4
2.1.4 Tanda dan Gejala
Menurut Cave (169:2003) sekitar empat hari sebelum dan sampai enam
hari sesudah gejala muncul, seseorang yang terjangkit campak akan
menular. Gejala pertama yang muncul adalah batuk kering, letih, sakit
tenggorokan, hidung berair, konjungtivis (merah dan peradangan pada
bagian dalam kelopak mata), dan demam. Konjungtivis bisa disertai
keluarnya lendir atau kerak. Bagian belakang tenggorok sering kali
sangat merah dan lidah serta tonsil diselaputi selaput kuning. Sekitar
empat hari sesudah gejala ini muncul, mulai timbul bintil ruam yang
merah, biasanya pada leher dan wajah. Secara bertahap ruam menyebar
ke batang tumbuh, lengan, dan tungkai dalam beberapa hari berikutnya
sementara ruam dari wajah memudar. Kadang – kadang bintilnya
membentuk area kumpulan bintil yang luas.
Gambaran klinis menurut Rampengan dan Laurentz (92:1997) penyakit
ini merupakan salah satu self limiting disease dengan ditandai oleh 3
stadium, yaitu :
a. Stadium inkubasi, 10-12 hari, tanpa gejala.
b. Stadium prodromal, dengan gejala-gejala panas sampai sedang,
coryza, batuk, konjungtivitis, fotofobia, anoreksia, malaise, dan
Koplik’s spot pada mukosa buccalis.

5
c. Stadium erupsi, dengan adanya rash makulopapous pada seluruh
tubuh dan panas tinggi.
d. Stadium konvalensi atau penyembuhan. Ruam menghilang dengan
meninggalkan bekas campak – kulit berwarna ungu-kecoklatan.
Deskuamasi ringan. Ringan, timbul bila anak mempunyai risiko dan
sebelumya sudah mendapat imunisasi. Berat, timbul pada bayi, anak
yang lemah dan pada populasi yang sebelumnya tidak terinfeksi
(murni).
Rampengan dan Laurentz (1997) mengemukakan bahwa setelah masa
inkubasi mulai timbul gejala-gejala panas dan malaise. Dalam 24 jam
timbul coryza, konjungtivitis dan batuk. Gejala-gejala ini bertambah
hebat secara bertahap dan mencapai puncaknya pada saat timbulnya
erupsi pada hari keempat. Kira-kira 2 hari sebelum timbul rash, terlihat
Koplik’s spot di mukosa buccalis pada sisi yang berlawanan dengan
gigi molar. Panas dan Koplik’s spot menghilang pada hari kedua
timbulnya rash. Coryza dan konjungtivitis menghilang pada hari ketiga
rash. Lamanya eksantema menghilang jarang melebihi 5-6 hari.
2.1.5 Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Medis
Menurut Rampengan dan Laurentz (1997) morbili merupakan suatu
penyakit self-limiting, sehingga pengobatannya hanya bersifat
simptomatis yaitu :
1) Memperbaiki keadaan umum
2) Antipiretika bila suhu tinggi
3) Sedativum
4) Obat batuk
Antibiotika diberikan bila ternyata terdapat infeksi sekunder.
Kortikosteroid dosis tinggi biasanya diberikan kepada penderita
morbili yang mengalami ensefalitis yaitu :
1) Hidrokortison 100-200 mg/hari selama 3-4 hari.
2) Prednison 2 mg/kg.bb/hari untuk jangka waktu 1 minggu.

6
Menurut Wong (663:2003) penderita campak diberi suplemen
vitamin A. Tirah baring selama periode demam, antipiretik,
antibiotik untuk mencegah infeksi bakteri sekunder pada anak risiko
tinggi.
b. Penatalaksanaan Keperawatan
Anies (21:1997) mengemukakan bahwa beberapa hal penting dalam
perawatan penyakit campak pada anak-anak anatar lain : istirahat di
tempat tidur, memperhatikan makanan dan minumannya, perawatan
mata dan hidung.
Serangan penyakit ini dapat diperpendek dengan banyak beristirahat
selama beberapa hari di tempat tidur, terutama bila serangan
penyakit cukup hebat, artinya bintik-bintik sangat merah dan suhu
badan tinggi.
Menurut Wong (663:2003) pertimbangan perawatan pada penderita
campak adalah :
1) Isolasi sampai ruam hari ke-5, bila dihospitalisasi, lakukan
kewaspadaan pernapasan.
2) Pertahankan tirah baring selama prodromal, berikan aktivitas
tenang.
3) Perawatan mata, beri cahaya redup bila terjadi fotofobia,
bersihkan kelopak mata dengan larutan salin hangat untuk
menghilangkan sekres, jaga anak tidak menggosok mata.
4) Batuk, lindungi kulit sekitar hidung dengan lapisan petroleum,
anjurkan untuk mengonsumsi cairan dan makanan yang halus
dan lembut.
5) Perawatan kulit, jaga agar kulit tetap bersih, gunakan mandi air
hangat bila perlu.

7
c. Pencegahan
Pencegahan campak adalah dengan pemberian vaksin campak. Saat
ini ada dua jenis :
1) Vaksin yang berasal dari virus campak yang dilemahkan. Lebih
lanjut dapat dimodifikasi dengan pemberian globulin anti-
campak. Akibatnya dapat menimbulkan serangan campak,
meskipun ringan. Lebih sering tidak.
2) Antiserum khusus campak atau gammaglobulin, yang seringkali
diberikan untuk mencegah serangan csmpak pada individu yang
rentan.
Rampengan dan Laurentz (98:1993) menyatakan bahwa morbili
dapat dicegah dengan pemberian imunisasi. Imunisasi yang
diberikan dapat berupa pasif dan aktif.
1) Imunisasi Aktif
Vaksin yang diberikan ialah “Live attenuated measles vaccine”.
Mula-mula diberikan strain Edmonson B, tetapi ‘strain’ ini dapat
menimbulkan panas tinggi dan eksanthem pada hari ketujuh-
kesepuluh post vaksinasi, sehingga strain vaksin ini sering
diberikan bersama-sama dengan Gamma-globulin dilengan lain.
Vaksin ini diberikan secara subkutan sebanyak 0,5 ml pada
umur 9 bulan. Pada anak di bawah umur 9 bulan umumnya tidak
dapat memberikan kekebalan baik, karena gangguan dari
antibodi yang dibawa sejak lahir.
Menurut Maryunani (219:2010) imunisasi campak diberikan 1
kali pada usia 9 bulan, dan dianjurkan pemberiannya sesuai
jadwal. Selain karena antibodi dari ibu sudah menurun diusia
bayi 9 bulan, penyakit campak umumnya menyerang anak usia
balita. Jika sampai usia 12 bulan anak belum mendapat
imunisasi campak, maka pada usia 12 bulan ini anak harus
diimunisasi MMR (Measles Mumps Rubella).

8
Efek samping menurut Rampengan dan Laurentz (98:1993)
adalah sebagai berikut :
a) Hiperpireksia (5-51%)
b) Gejala infeksi saluran pernapasan atas (10-20%)
c) Morbili form rash (3-15%)
d) Kejang demam (0,2%)
e) Ensefalitis (1 antara 1,16 juta anak)
f) Demam (13,95%)
Maryunani (219:2010) mengemukakan bahwa kontra-indikasi
pemberian imunisasi campak adalah anak :
a) Dengan penyakit infeksi akut yang disertai demam.
b) Dengan penyakit gangguan kekebalan.
c) Dengan penyakit TBC tanpa pengobatan.
d) Dengan kekurangan gizi berat.
e) Dengan penyakit keganasan.
f) Dengan kerentanan tinggi terhadap protein telur, kanamisin
dan eritromisin (antibiotik).
2) Imunisasi Pasif
Tidak banyak dianjurkan, karena risiko terjadinya ensefalitis dan
aktivasi tuberkulose. Menurut Newell (234:2003) dalam
menentukan jadwal imunisasi, dibutuhkan dua pertimbangan
dasar :
a) Kemungkinan anak mendapat penyakit tersebut, kematian
atau kecacatan yang mungkin ditimbulkan penyakit
tersebut, serta bahaya dan efektivitas prosedur imunisasi.
Semakin sering ditemukan dan semakin berbahaya
penyakitnya, serta semakin aman imunisasinya, maka
semakin besar kebutuhan imunisasi.
b) Pada usia berapa anak dapat memberi respon terhadap
vaksin yang diberikan.

9
d. Komplikasi
Cave (172:2003) menyatakan sekitar 6-8 persen yang mendapat
penyakit campak, juga mendapat pneumonia, infeksi telinga, atau
diare. Pada kasus yang jarang terjadi (satu dari seribu kasus), virus
campak mengenai otak dan menyebabkan peradangan (ensefalitis).
Gejala ensefalitis biasanya termasuk kejang, bingung, dan kadang-
kadang koma.
Menurut Rampengan dan Laurentz (1997) komplikasi dari campak
adalah sebagai berikut :
1) Pneumoni
2) Gastroenteritis
3) Esefalitis
4) Otitis Media
5) Mastoiditis
6) Gangguan Gizi
2.1.6 Aplikasi Keperawatan Pada Bayi/Anak Dengan Masalah Tropic
dan Infeksi : Campak
a. Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses
keperawatan secara keseluruhan. Menurut Allen (1994) tujuan dari
tahap pengkajian adalah untuk mengumpulkan informasi dan
membuat data dasar klien. Klien dikaji saat memasuki sistem
pemberian perawatan kesehatan.
Adapun yang perlu dikaji pada klien dengan penyakit campak
adalah :
1) Identitas Klien, meliputi :
a) Biodata pasien penyakit campak meliputi nama lengkap
penderita. Karena pasien pada bayi maka anamnesa dari ibu
bapak pasien.
b) Yang dikaji selanjutnya adalah faktor usia.

10
c) Tanggal/jam lahir digunakan untuk mengetahui kapan bayi
tersebut lahir/umur.
d) Jenis kelamin, untuk mengetahui jenis kelamin tersebut.
e) Berat badan bayi tersebut.
f) Panjang badan bayi.
g) Nama Ibu/Ayah : untuk identifikasi bayi/pasien.
h) Umur Ibu/Ayah : untuk identifikasi bayi/pasien.
i) Pendidikan yang perlu dikaji adalah pendidikan ibu dan
ayah pasien untuk mengetahui tingkat pengetahuan pasien,
hal ini berhubungan erat dengan rencana dalam memberikan
penjelasan tentang keadaan penyakitnya sehingga mudah
diterima dan dimengerti.
j) Alamat perlu dikaji untuk mengetahui kondisi tempat
tinggal klien.
k) Agama untuk mengetahui adanya suatu budaya tertentu
yang dianut.
l) Pekerjaan seperti halnya dengan pendidikan, yang perlu
dikaji adalah pekerjaan orang tua dari pasien, untuk
mengetahui status social ekonomi dan pendapatan.
2) Riwayat Kesehatan
a) Keluhan Utama
Keluhan utama merupakan suatu keadaan dimana seorang
klien terdorong untuk ke unit pelayanan kesehatan untuk
dirawat. Keluhan utama ini sangat penting untuk
menentukan tindakan keperawatan yang akan dilakukan.
Keluhan utama pada klien campak adalah timbul gejala-
gejala panas, malaise, coryza, konjungtivitis dan batuk.
b) Riwayat Penyakit Sekarang
Merupakan uraian tentang bagaimana klien sampai masuk
rumah sakit, klien dengan campak mula-mulanya badannya
panas tinggi.

11
c) Riwayat Penyakit Kehamilan
Untuk mengetahui penyakit yang pernah diderita selama
kehamilan.
d) Riwayat Sakit dahulu
Untuk mengetahui riwayat sakit yang pernah diderita oleh
klien tersebut.
e) Riwayat Kesehatan Keluarga
Yang perlu dikaji adalah mengenai keturunan anggota
keluarga yang menderita suatu penyakit kronis atau
menular.
3) Pola Aktivitas sehari-hari
Merupakan kebiasaan klien meliputi : pola makan atau minum,
pola eliminasi baik BAK maupun BAB, pola istirahat tidur,
personal hygieen dan kegiatan serta aktivitas lainnya.
4) Pemeriksaan
Merupakan keadaan umum klien, suhu, pernapasan, nadi, berat
badan sekarang dan antropometri.
5) Pemeriksaan fisik secara sistematik
Merupakan pemeriksaan yang kompleks dari kepala sampai
ujung kaki dengan inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.
6) Pemeriksaan penunjang
Merupakan pemeriksaan pendukung, seperti : hasil
laboratorium, dan sebagainya.
b. Analisa Data
Setelah data terkumpul, selanjutnya dilakukan analisa data yang
merupakan proses intelektual yang meliputi kegiatan menstabilkan
data, menentukan kesenjangan informasi, melihat pola data,
membandingkan dengan standart, menginterprestasikan dan
akhirnya membuat kesimpulan dalam bentuk diagnosa keperawatan.

12
c. Diagnosa Keperawatan
Menurut Hidayat (122:2006) diagnosis atau masalah keperawatan
yang terjadi pada anak dengan morbili adalah sebagai berikut :
1) Hipertermia.
2) Kurang nutrisi (kurang dari kebutuhan).
3) Risiko cedera.
Adapun diagnosa keperawatan pada klien morbili adalah :
1) Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi.
2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan.
3) Risiko cedera berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh.
d. Rencana Keperawatan / Intervensi
1) Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi
a) Tujuan
Terjadinya hipertermia pada anak dengan morbili ini dapat
disebabkan oleh adanya reaksi virus, yang masuk ke dalam
tubuh. Untuk mengatasinya adalah dengan tujuan
mempertahankan kondisi suhu tubuh dalam batas normal
dengan cara menurunkannya.
b) Kriteria Waktu
Batasan selama pemberian asuhan keperawatan.
c) Kriteria Keberhasilan
Suhu pasien kembali normal
d) Tindakan Keperawatan
 Monitor perubahan suhu tubuh, denyutan nadi.
 Lakukan tindakan yang dapat menurunkan suhu tubuh
seperti lakukan kompres, berikan pakaian tipis dalam
memudahkan proses penguapan.
 Berikan antipiretik dan antibiotik sesuai dengan
ketentuan.

13
 Libatkan keluarga dalam perawatan serta ajari cara
menurunkan suhu dan mengevaluasi perubahan suhu
tubuh.
e) Rasional
Rasionalnya untuk mengkompensasi adanya peningkatan
suhu tubuh dan merangsang nafsu makan.

2.2. Konsep Medis Tetanus


2.2.1 Definisi Tetanus
Tetanus atau lockjaw merupakan penyakit akut yang disebabkan oleh
Clostridium tetani, yaitu kuman yang berbentuk batang Gram-positif
yang hidupnya anaerob. Spora Clostridium tetani banyak ditemukan
dalam tanah, kotoran, gigi hewan. Sifat spora yaitu tahan dalam air
mendidih selama 4 jam dan tahan terhadap antiseptic. Akan tetapi,
spora ini akan mati dalam autoklaf pada pemanasan 121◦C selama 20
menit. Di tanah, spora dapat bertahan hidup sampai bertahun-tahun jika
tidak terkena cahaya. Spora ini dapat menyebabkan infeksi selama lebih
dari 40 tahun.
2.2.2 Klasifikasi Tetanus
a. Tetanus Neonatus
Penyakit yang sering terjadi di seluruh dunia, mengenai bayi baru
lahir di minggu pertama kehidupan akibat ujung umbilikal yamg
terinfeksi atau teknik sirkumsisi (Arnon, 2007).
b. Tetanus Lokal
Bentuk tetanus ini jarang ditandai dengan spasme otot lokal dalam
area luka.
c. Tetanus Sefalik
Yang berkaitan dengan otitis media atau trauma kepala yang terjadi
baru-baru ini.

14
d. Tetanus Generalista
Bentuk yang paling sering dan menyebabkan spasme yang terjadi
dalam cara desenden dimulai di rahang. Otot sering terkena adalah
leher dan punggung (Marni, 2016).
2.2.3 Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani, yaitu kuman
yang berbentuk batang Gram-positif yang hidupnya anaerob. Spora
Clostridium tetani banyak ditemukan dalam tanah, kotoran, dan gigi
hewan. Sifat spora yaitu tahan dalam air mendidih selama 4 jam dan
tahan terhadap antiseptik. Akan tetapi, spora ini akan mati dalam
autoklaf pada pemanasan 121◦C selama 20 menit. Di tanah, spora dapat
bertahan hidup sampai bertahun-tahun jika tidak terkena cahaya. Spora
ini dapat menyebabkan infeksi selama lebih dari 40 tahun.
2.2.4 Manifestasi Klinis
Masa inkubasi penyakit tetanus umumnya antara 7-21 hari, walaupun
ada yang lebih cepat atau lebih lambat. Penyakit ini biasaya timbul
mendadak dengan ketegangan otot pada rahang dan leher. Dilihat dari
klinisnya/klasifikasinya (tetanus umum, tetanus lokal, dan tetanus
sefalik).
2.2.5 Patofisiologi
Bakteri Clostridium tetani dalam bentuk spora masuk ke dalam tubuh
melewati luka tusuk, misalnya akibat tertusuk paku, lecet, otitis media
yang terkontaminasi dengan tanah, kotoran hewan, pupuk, dan besi
berkarat. Luka yang terkontaminasi tersebut keadaan anaerob yang
ideal untuk berkembang biaknya Clostridium tetani. Kuman ini tdak
invasi. Jika dinding sel kuman lisis, maka akan melepaskan eksotoksin
yaitu tetanospasmin dan tetanolisin.
Tetonospasmin merupakan toksin kuat dan neurotropik yang dapat
menyebabkan ketegangan dn spasme otot yang akan mempengaruhi
sistem saraf pusat, sedangkan tetanosilin kurang begitu signifikan.
Toksin akan diabsorbsi oleh susunan limfatik dan masuk ke dalam

15
sistem saraf pusat melalui peredaran darah. Namun, toksin yang ada
dalam peredaran darah dapat dengan mudah dinetralkan oleh antitoksin.
Toksin juga dapat diabsorpsi oleh ujung saraf motorik dan melalui aksis
silindrik menuju ke korne anterior susunan saraf pusat. Toksin akan
bereaksi pada pada myoneural junction yang mengakibatkan spasme
otot dan mudah sekali terangsang terjadinya kejang (Marni, 2016).
2.2.6 Pemeriksaan Penunjang
Pada penyakit tetanus, pemeriksaan kurag menunjang untuk
menegakkan diagnosis. Pada pemeriksaan darah rutin, tidak ditemukan
hasil yang spesifik. Pada pemeriksaan mikrobiologi, sampel dibagi dari
luka yang mengandung pus, atau jaringan nekrotik yang dibiakkan pada
kultur darah atau kaldu daging. Pemeriksaan darah yang perlu
dilakukan yaitu pemeriksaan kalium dan fosfat. Selain itu, dapat juga
dilakukan pemeriksaan cairan serebospinalis dan elektroensefalogram.
Tetapi sering kali hasilnya normal, walaupun didapatkan peningkatan
tekanan akibat kontraksi otot (Marni, 2016).
2.2.7 Penatalaksanaan
Anak yang tertusuk paku atau duti sebaiknya segera dibawa ke petugas
kesehatan untuk diberikan suntikan profilaksis 20.000 U secara IM
yang terlebih dahulu dilakukan uji kulit dan mata. Jika anak mengalami
kejang, maka berikan antikejang dan penenang, misalnya fenobarbital
jika terjadi kejang hebat dengan dosis 50 mg untuk anak < 1 tahun, dan
75 mg untuk anak > 1 tahun. Selanjutnya, diberikan dosis 5
mg/kgBB/hari yang terbagi dalam 6 dosis. Obat penenang lain yang
dapat dberikan pada pasien ini yaitu diazepam atau klorpromazin
dengan dosis 4 mg/kgBB/hari yang terbagi dalam 6 dosis.
Antibioik penisilin prokain (PP) perlu diberikan untuk mengobati
infeksi. Dosis yang dianjurkan yaitu 50.000 U/kgBB/hari dan diberikan
secara IM selama 3 hari berturut-turut sampai demam turun. Obat lain
yang berfungsi sebagai antibiotik yaitu metronidazol yang diberikan
secara IV dengan dosis awal 15 mg/kgBB/hari dilanjutkan dengan dosis

16
30 mg/kgBB/hari dengan interval 6 jam selama 7-10 hari (Simanjuntak,
2013). Anak yang terkena luka tusuk, luka kotor, dan luka yang
tercemar spora tetanus harus segera menjalani perawatan luka yaitu
untuk mencegah timbulnya jaringan anaerob. Luka perlu dibersikan dari
benda asing dan jaringan nekrotik.
Selain obat, penatalaksanaan yang penting yaitu dengan nutrisi yang
adekuat, antara lain memberikan makanan yang mengandung tinggi
kalori tinggi protein (TKTP). Selain itu, juga dapat dilakukan tindakan
dengan menempatkan pasien pada ruangan yang tenang, nyaman, dalam
cahaya yang redup, dan menjauhkan pasien dari kebisingan. Pemberian
oksigen diperlukan untuk memenuhi kebutuhan oksigen dalam tubuh.
Jika pasien tidak mampu makan secara oral, maka NGT dapat dipasang
jika perlu. Intubasi, trakeostomi, dan terapi IV dapat dilakukan jika
terdapat indikasi. Selain itu, debridemen atau pembersihan luka dengan
cara pembedahan juga dapat dilakukan untuk mengeluarkan racun yang
masuk ke dalam tubuh.
2.2.8 Pencegahan
Pencegahan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit
tetanus yaitu dengan pemberian imunisasi DPT. Anak dianjurkan untuk
selalu menggunakan alas kaki pada saat berjalan/bermain untuk
mencegah masuknya kuman pada saat tertusuk paku atau duri akibat
tidak menggunakan alas kaki.
2.2.9 Aplikasi Keperawatan Pada Bayi/Anak Dengan Masalah Tropic
dan Infeksi : Tetanus
a. Pengkajian
Pengkajian yang perlu dilakukan pada pasien dengan tetanus yaitu :
kaji keluhan anak; kaji rwayat penyakit saat ini dan faktor yang
mencetuskan; kaji manifestasi kejang atau aktivitas kejang,bedakan
meningitis dan epilipsi. Lakukan pemeriksaan fisik pada anak,
apakah terdapat kaku kuduk, opistotonus, trismus, strabismus, atau
kekakuan pada ekstremitas. Lakukan pemeriksaan sistem persarafan

17
kaji respon keluarga dalam menghadapi anak yang menderita
tetanus.
b. Diagnosis dan Intervensi Keperawatan
Diagnosis 1 : Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan
dengan peningkatan produksi sekret.
Kriteria Hasil : Bersihan jalan napas efekif, pernapasan normal-
normal yang ditandai dengan frekuensi, kedalaman, suara napas,
dan irama sesuai usia anak, serta anak tampak tenang.
Intervensi
Intervensi Rasional
Kaji keluhan-keluhan pasien Informasi ini menentukan data
dasar kondisi pasien dan memandu
intervensi keperawatan
Observasi pernapasan pasien Untuk mendeteksi tanda awal
(frekuensi, kedalaman, apakah bahaya pada pasien
terdapat kesulitan bernapas, dan
suara napas tambahan)
Baringkan pasien di tempat yang Kesejajaran tubuh yang tepat dapat
rata dengan kepala ekstensi membantu melancarkan pernapasan
(ganjal bantal dibawah baju)
Isap lendir sampai bersih Pengisapan lendir membantu untuk
mengeluarkan sekret dan
mempermudah pernapasan karena
anak tidak dapat mengeluarkan
lendir sendiri

Diagnosis 2 : Risiko aspirasi berhubungan dengan kesukaran


menelan dan spasme otot faring.
Kriteria Hasil : Tidak terjadi aspirasi, anak mampu menelan air
liurnya, dan tidak terjadi spasme otot lagi.

18
Intervensi
Intervensi Rasional
Observasi kondisi pasien Untuk mendeteksi tanda awal
bahaya pada pasien
Isap lendir sesering mungkin Pengisapan lendir membantu untuk
mengeluarkan sekret dan
mempermudah pernapasan karena
anak tidak dapat mengeluarkannya
sendiri
Berikan makanan cairan melalui Melalui selang NGT
sonde memungkinkan anak dapat
menerima nutrisi yang adekuat
Berikan penenang jika perlu Meringankan spasme pada otot

Diagnosis 3 : Resiko cedera berhubungan dengan aktivitas kejang.


Kriteria Hasil : Tidak terjadi cedera pada anak dan kejang
terkontrol atau tidak kejang.
Intervensi
Intervensi Rasional
Observasi aktivitas kejang pasien Untuk mendeteksi tanda awal
bahaya pada pasien
Baringkan pasien ditempat yang Kesejajaran tubuh yang tepat dapat
rata, bahu diganjal oleh bantal membantu melancarkan pernapasan
Miringkan wajah untuk Mengeluarkan produk muntahan
menghindari aspirasipasang mayo sehingga tidak masuk ke paru atau
untuk mencegah lidah jatuh ke lambung lagi
belakang
Anjurkan keluarga untuk Menemani anak digunkan sebagai
menemani pasien dasar penyuluhan

19
Diagnosis 4 : Nyeri berhubungan dengan toksin dalam sel saraf
dan aktivitas kejang.
Kriteria Hasil : Anak merasa nyaman, kejang berkurang atau
hilang, ekspresi wajah tampak tenang, dan anak tidak rewel.
Intervensi
Intervensi Rasional
Kaji keluhan pasien Informasi ini menentukan data
dasar kondisi pasien dan memandu
inervensi keperawatan
Observasi nyeri dan Memahami keparahan dan lokasi
ketidaknyamanan pasien nyeri anak membantu untuk
menentukan uopaya kontrol nyeri
yang tepat. Intervensi meliputi
medikasi, pengaturan posisi,
pengalihan, imajinasi, relaksi, dan
teknik pernapasan
Rawat pasien dalam ruangan yang Kelelahan dapat mengurangi
tenang dan nyaman toleransi terhadap nyeri
Pada saat tidur, jangan Memberikan rasa nyaman terhadap
dibangunkan untuk memberi obat pasien
penenang atau nyeri

Diagnosis 5 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan disfagia trismus.
Kriteria Hasil : Nutrisi pasien terpenuhi, berat badan stabil atau
naik, anak mampu makan atau menelan, serta tidak terjadi trismus
dan disfagia.

20
Intervensi
Intervensi Rasional
Kaji kurangnya nutrisi pada Informasi ini menentukan data
pasien dasar kondisi pasien dan memandu
intervensi keperawatan
Observasi kondisi pasien, berat Informasi ini menentukan dasar
badan, dan antropometri kondisi pasien dan memandu
intervensi keperawatan
Berikan makanan cair jika anak Untuk memenhi nutrisi yang
mampu makan sendiri, gunakan adekuat
sedotan
Berikan makanan cair per sonde Memenuhi kebutuhan nutrisi pasien
setiap 3 jam, jika pasien diberikan walaupun pasien tidur karena diberi
obat penenang obat penenang

Diagnosis 6 : Kurang perawatan diri berhubungan dengan tirah


baring dan aktivitas kejang.
Kriteria Hasil : Badan anak bersih, kebutuhan toileting dan
berpakaian terpenuhi, serta kejang berkurang atau hilang.
Intervesi
Intervensi Rasional
Kaji keluhan pasien Informasi ini menentukan data
dasar kondisi pasien dan memandu
intervensi keperawatan
Observasi kondisi pasien Untuk mendeteksi tanda awal
bahaya pada pasien
Bantu pasien untuk membersihkan Memberikan rasa nyaman pada
diri dengan memandikan pasien pasien
Bantu pasien toileting Meminimalkan energi pasien
Anjurkan orang tua untuk selalu Menemani anak digunakan sebagai

21
menemani pasien dasar penyuluhan

Diagnosis 7 : Kurang pengetahuan berhubungan dengan


penatalaksanaan gangguan kejang.
Kriteria Hasil : Pengetahuan orang tua atau pasien bertambah
tentang tetanus, keluarga mengetahui penyebab penatalaksanaan,
tanda dan gejala, serta komplikasi kejang.
Intervensi
Intervensi Rasional
Jelaskan penyebab sakit pada Memberikan informasi kepada
orang tua orang tua tentang penyeab sakit
anak
Jelaskan manfaat PHBS Membuat saling percaya antara
orang tua dan anak dengan tim
medis bahwa anak menerima
perawatan terbaik
Jelaskan manfaat imunisasi Memberikan informasi kepada
orang tua tentang perawatan
Ajarkan orang tua agar obat Dapat membantu program terapi
diminum sampai habis anak

2.3 Konsep Medis DHF


2.3.1 Definisi Dengue Heamorrhagic Fever (DHF)
Infeksi dengue merupakan penyakit demam akut yang disebabkan oleh
virus dengue (kelompok flavivirus yang termasuk dalam family
Togaviridae), yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti serta spesies
Stegomya lainnya seperti A. albopictus, polynesiensis, scutellaris.
Penyakit DBD tidak ditularkan langsung dari orang ke orang.Penderita
menjadi infektif bagi nyamuk pada saat uremia, yaitu beberapa saat
menjelang timbulnya demam hingga saat masa demam
berakhir.Nyamuk Aedes Aegypti menjadi infektif 8 -12 hari sesudah

22
menghisap darah penderita DBD sebelumnya. Selama periode ini
nyamuk Aedes yang telah terinfeksi oleh virus dengue ini akan tetap
infektif selama hidupnya dan potensial menularkan virus dengue kepada
manusia yang rentan lainnya.
Sesuai dengan patokan yang disebut terdahulu, WHO (1975) membagi
derajat penyakit DHF dalam empat derajat, yaitu sebagai berikut.
Derajat I : demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya
manifestasi perdarahan ialah uji tourniquet positif.
Derajat II : derajat satu disertai perdarahan spontan di kulit atau
perdarahan lain.
Derajat III : ditemukannya kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan
lembut, tekanan nadi menurun (kurang dari sama dengan 20 mmHg)
atau hipotensi disertai kulit yang dingin, lembab, dan penderita menjadi
gelisah.
Derajat VI : renjatan berat dengan nadi yang tidak dapat diraba dan
tekanan darah yang tidak dapat diukur.
2.3.2 Etiologi Dengue Heamorrhagic Fever (DHF)
Sekurang-kurangnya ada empat tipe virus dengue yang berbeda (tipe 1-
4) yang telah diisolasi dari penderita demam berdarah.Empat tipe virus
dengue (serotype) di Indonesia, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan
DEN-4. Ternyata DEN-2 dan DEN-3 merupakan serotype yang paling
banyak sebagai penyebab. Nimmannitya (1975) di Thailand melaporkan
bahwa serotype DEN-2 yang dominan. Sedang di Indonesia terutama
oleh DEN-3, walaupun akhir-akhir ini ada kecenderungan dominasi
oleh virus DEN-2.
Di samping itu urutan infeksi serotype merupakan suatu faktor risiko
karena lebih dari 20% urutan infeksi virus DEN-1 yang disusul DEN-2
mengakibatkan renjatan, sedangkan faktor risiko terjadinya renjatan
untuk urusan virus DEN-3 yang diikuti oleh DEN-2 adalah 6% dan
DEN-4 yang diikuti oleh DEN-2 adalah 2%.

23
2.3.3 Patofisiologi Dengue Heamorrhagic Fever (DHF)
Ada dua perubahan patofisiologi yang terjadi pada DBD:
a. Meningkatnya permeabilitas pembuluh darah mengakibatkan
kebocoran plasma, hipovolemia, dan syok. DHF memiliki ciri yang
unik karena kebocoran plasma khusus ke arah rongga pleura dan
peritoneum. Selain itu, periode kebocoran cukup singkat (24 - 48
jam).
b. Hemostasis abnormal terjadi akibat vaskulopati, trombositopenia,
sehingga terjadi berbagai jenis manifestasi perdarahan.

2.3.4 Tanda dan Gejala Dengue Heamorrhagic Fever (DHF)


Patokan klinik WHO (1975) untuk membuat diagnosis DHF ditetapkan
sebagai berikut.
a. Demam tinggi dengan mendadak dan terus-menerus selama 2-7
hari.
b. Manifestasi perdarahan, termasuk setidak-tidaknya uji toureniquet
positif dan salah satu bentuk lain (petekia, purpuran, ekimosis,
epistaksis, perdarahan gusi), hematemesis dan atau melena.
c. Pembesaran hati.

24
d. Renjatan yang ditandai oleh nadi lemah, cepat disertai tekanan nadi
menurun (menjadi 20 mmHg atau kurang), tekanan darah menurun
(tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg atau kurang) disertai
kulit yang teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung,
jari dan kaki, penderita menjadi gelisah, timbul sianosis di sekitar
mulut.
1) Fase pertama
Relatif ringan dengan demam mulai mendadak, malaise,
muntah, nyeri kepala, anoreksia, dan batuk disertai sesudah 2—
5 hari oleh deteriorasi klinis cepat dan kollaps.
2) Fase kedua
Penderita biasanya menderita ekstremitas dingin, lembab,badan
panas, muka merah, keringatbanyak, gelisah, iritabel, dan nyeri
mid-epigastrik. Seringkali ada petekie tersebar pada dahi dan
tungkai, ekimosis spontan mungkin tampak, danmudah memar
serta berdarah pada tempat pungsi vena adalah lazim.Ruam
macular atau makulopapular mungkin muncul, dan mungkin
ada sianosis sekililing mulut dan perifer.Pernafasan sering cepat
dan berat.Nadi lemah, cepat, kecil, dan suara jantung
halus.Tekanan nadi seringkali sempit (20 mmHg atau kurang),
tekanan darah dapat rendah dan sukar diperoleh.Hati mungkin
membasar 4—6 cm di bawah tepi kosta dan biasanya keras
serta agak nyeri.Kurang dari 10% penderita menderita ekimosis
atau perdarahan saluran cerna yang nyata, biasanya pasca syok
yang tidak terkoreksi. Sesudah 24—36 jam masa kritis,
konvalesen cukup cepat pada anak yang sembuh. Suhu dapat
kembali normal sebelum atau selama fase syok.Bradikardi dan
ekstrasistol ventrikel lazim selama konvalesen.Jarang ada
cedera otak sisa yang disebabkan oleh syok lama atau kadang-
kadang karena perdarahan intracranial. Strain virus dengue tiga
yang bersirkulasi di daerah utama Asia Tenggarasejak tahun

25
1983 disertai terutama sindrom klinis berat, yang ditandai oleh
ensefalopati, hipoglikemia, kenaikan enzim hati yang mencolok
dan kadang-kadang ikterus. Berbeda dengan pola yang sangat
khas pada anak yang sangat berat, infeksi dengue sekunder
relatif ringan pada sebagian besar keadaan, berkisar dari infeksi
yang tidak jelas sampai penyakit saluran pernafasan atas yang
tidak terdeferensiasi.
e. Data Laboratorium
Kelainan hematologis yang paling sering selama syok klinis adalah
kenaikan hematokrit 20% atau lebih besar melebihi niai hematokrit
penyembuhan, trombositopenia, leukositosis ringan (jarang
melebihi 10.000/mm3) waktu perdarahan memanjang, dan kadar
protrombin menurun sedang (jarang kurang dari 40% control).
Kadar fibrinogen mungkin subnormal dan produk-produk pecahan
fibrinogen naik. Kelainan lain adalah kenaikan sedang kadar
transaminase serum, konsumsi komplemen, asidosis metabolic
ringan dengan hiponatremia, dan kadang-kadang hipokloremia,
sedikit kenaikan urea nitrogen serum, dan hipoalbuminemia.
Roentgenogram dada menunjukkan efusi pleura pada hampir
semua penderita.
2.3.5 Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan Dengue Heamorrhagic
Fever (DHF)
Tata laksana DBD sebaiknya berdasarkan pada berat ringannya
penyakit yang ditemukan antara lain:
a. Kasus DBD yang diperkenankan berobat jalan
Penderita diijinkan berobat jalan jika hanya mengeluh panas, tetapi
keinginan makan dan minum masih baik. Untuk mengatasi panas
tinggi yang mendadak diperkenankan memberi obat panas
paracetamol 10-15 mg/kg BB setiap 3-4 jam diulang jika symptom
panas masih nyata diatas 38,50C. Obat panas salisilat tidak
dianjurkan karena mempunyai risiko terjadinnya perdarahan dan

26
asidosis.Sebagian besar kasus DBD yang berobat jalan ini adalah
kasus DBD yang menunjukkan manifestasi panas hari pertama dan
hari kedua tanpa menunjukkan penyulit lainnya. Apabila penderita
DBD ini menunjukkan manifestasi penyulit hipertermi dan konvulsi
sebaiknya dianjurkan untup dirawat inap.
b. Kasus DBD derajat I dan II
Pada hari ke-3, 4, dan 5 panas dianjurkan rawat inap karena
penderita ini mempunyai risiko terjadinya apabila syok.Untuk
mengantisipasi kejadian syok tersebut, penderita disarankan diinfus
cairan kritaloid dengan tetesan brdasarkan 7, 5, 3.Pada saat fase
panas, penderita dianjurkan banyak minum air buah atau oralit yang
biasa dipakai untuk mengatasi diare, hematocrit yang meningkat
lebih dari 20% dari harga normal merupakan indicator adanya
kebocoran plasma dan sebaiknya penderita dirawat di ruang
observasi di pusat rehidrasi selama kurun waktu 12-24 jam.
c. Penatalaksanaan DBD (derajat III dan IV)
“Dengue Shock Syndrome” (sindrom reniatan dengue) termasuk
kasus kegawatan yang membutuhkan penanganan secara cepat dan
perlu memperoleh cairan pengganti secara cepat.Biasanya dijumpai
kelainan asam basa dan elektrolit (hiponatremi).Dalam hal ini perlu
dipikirkan kemungkinan dapat terjadinya DIC.Terkumpulnya asam
dalam darah mendorong terjadinya DIC yang dapat menyebabkan
terjadinya perdarahan hebat dan renjatan yang sukar diatasi.
Penggantian secara cepat plasma yang hilang digunakan larutan
garam isotonic (ringer laktat, 5% dektrose dalam larutan ringer
laktat atau 5% dektrose dalam larutan ringer asetat dan larutan
normal garam faali)dengan jumlah 10-20 ml/kg/1 jam.
Pada kasus yang sangat berat (derajat IV) dapat diberikan bolus 10
ml / kg (1 atau 2x). jika syok berlangsung terus dengan hematocrit
yang tinggi, larutan koloidal (dekstran dengan berat molekul 40.000

27
di dalam larutan normal garam faal atau plasma) dapat diberikan
dengan jumlah 10-20 ml/kg/jam.
d. Obat penenang
Pada beberapa kasus obat penenang dibutuhkan terutama pada kasus
yang sangat gelisah. Obat yang hipatoksik sebaiknya dihindari,
chloral hidrat oral atau rektal dianjurkan dengan dosis 12,5-50
mm/kg (tetapi jangan lebih 1 jam) digunakan sebagai satu macam
obat hipnotik.
e. Terapi oksigen
f. Transfusi darah
g. Monitoring
Tanda vital dan kadar hematokrit harus dimonitor dan dievaluasi
secara teratur untuk menilai hasil pengobatan.
h. Kriteria memulangkan pasien
Pasien dapat dipulangkan apabila :
1) Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik.
2) Nafsu makan membaik.
3) Tampak perbaikan secara klinis.
4) Hematokrit stabil.
5) Tiga hari setelah syok teratasi.
6) Jumlah trombosit 200.000-300.000 /mm3.
7) Tidak disertai distress pernapasan.
8) Ruang khusus darurat penderita Dengue Haemorragic Fever
(DHF)
2.3.6 Pencegahan Dengue Heamorrhagic Fever (DHF)
Prinsip yang tepat dalam pencegahan DHF (Dit.Jen.P3M., Dep. Kes.
R.I., 1976) ialah sebagai berikut.
a. Memanfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh
alamiah dengan melaksanakan pemberantasan vector pada saat
sedikit terdapatnya kasus DHF/DSS.

28
b. Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan
vector pada tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan
penderita viremi sembuh secara spontan.
c. Mengusahakan pemberantasan vector di pusat daerah penyebaran,
yaitu sekolah dan rumah sakit, termasuk pula daerah penyangga di
sekitarnya.
d. Mengusahakan pemberantasan vector di semua daerah berpotensi
penularan tinggi.

Pencegahan DHF mencakup:

a. Pemberantasan nyamuk dewasa


Upayakan membersihkan tempat-tempat yang disukai oleh nyamuk
(misalnya menggantung baju bekas pakai), pasang kasa nyamuk
pada ventilasi dan jendela rumah, penyemprotan dengan zat kimia,
pengasapan dengan insektisida (fogging), menembus daur hidup
dengan menggunakan ikan cupang di tempat penampungan air.
b. Pemberantasan jentik nyamuk
Dengan melakukan 3M (menguras, menutup, dan mengubur)
artinya kuras bak mandi seminggu sekali, tutup tempat
penyimpanan air dengan rapat, kubur kaleng bekas pada kolam
ataua tempat penampungan air yang sulit dikuras dapat ditularkan
bubuk Abate. Pedoman penggunaan bubuk Abate (abatisasi): 1
sendok makan peres (10 g) untuk 100 liter air. Dinding jangan
disikat setelah ditaburi abate bubuk abate akan menempel di
dinding bak atau tempayan kolam. Bubuk abate tetap efektif sampai
3 bulan.
c. Penyuluhan bagi masyarakat
Karena DBD belum ada obat yang dapat membunuh virus dengue
ataupun vaksin DBD, maka upaya untuk pencegahan DBD
sangatlah penting.Gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN)
sangatlah penting untuk pencegahan DBD.Gerakan PSN harus

29
dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh lapisan masyarakat
baik di rumah, di sekolah, di rumah sakit, dan tempat-tempat umum
seperti tempat ibadah, makam.Dengan demikian masyarakat dapat
mengubah perilaku hidup sehat terutama meningkatkan kebersihan
lingkungan.
2.3.7 Komplikasi Dengue Heamorrhagic Fever (DHF)
a. Ensefalitis seperti kejang dan koma mungkin muncul sehingga
komplikasi pada kasus syok yang cukup lama yang disertai dengan
perdarahan berat.
b. Intoksikasi air, satu komplikasi introgenik yang relative umum yang
dapat menyebabkan enselopati.
c. Manifestasi tidak biasa yang jarang tampak pada infeksi DF/DHF
mencakup gagal ginjal akut dan sindrom uremik hemolitik.
2.3.8 Aplikasi Keperawatan Pada Bayi/Anak Dengan Masalah Tropic
dan Infeksi : DHF
a. Pengkajian
1) Identitas Pasien
Nama, umur (pada DHF paling sering menyerang anak-anak
dengan usia kurang dari 15 tahun), jenis kelamin, alamat,
pendidikan, nama orang tua, pendidkan orang tua, dan pekerjaan
orang tua.
2) Keluhan Utama
Alasan/keluhan yang menonjol pada pasien DHF untuk datang
ke rumah sakit adalah panas tinggi dan anak lemah.
3) Riwayat Penyakit Sekarang
Didapatkan adanya keluhan panas mendadak yang disertai
menggigil dan saat demam kesadaran kompos mentis.Turunnya
panas terjadi antara hari ke-3 dan ke-7, dan anak semakin
lemah.Kadang-kadang disertai dengan keluhan batuk, pilek,
nyeri telan, mual, muntah anoreksia, diare/konstipasi, sakit
kepala, nyeri otot dan persendian, nyeri ulu hati dan pergerakan

30
bola mata terasa pegal, serta adanya manifestasi perdarahan
pada kulit, gusi (grade III, IV), melena atau hematemesis.
4) Riwayat Penyakit yang Pernah Diderita
Penyakit apa saja yang pernah diderita. Pada DHF, anak bias
mengalami serangan ulangan DHF dengan tipe virus yang lain.
5) Riwayat Imunisasi
Apabila anak mempunyai kekebalan yang baik, maka
kemungkinan akan timbulnya komplikasi dapat dihindarkan.
6) Riwayat Gizi
Status gizi anak yang menderita DHF dapat bervariasi.Semua
anak dengan status gizi baik maupun buruk dapat berisiko,
apabila terdapat factor prediposisinya.Anak yang menderita
DHF sering mengalami keluhan mual, muntah, dan nafsu makan
menurun.Apabila kondisi ini berlanjut dan tidak disertai dengan
pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka anak dapat
mengalami penurunan berat badan sehingga status gizinya
menjadi kurang.
7) Kondisi Lingkungan
Sering terjadi di daerah yang padat penduduknya dan
lingkungan yang kurang bersih (seperti air yang menggenang
dan gantungan baju di kamar).
8) Pola Kebiasaan
a) Nutrisi dan metabolisme: frekuensi, jenis, pantangan, nafsu
makan berkurang, dan nafsu makan menurun.
b) Eliminasi alvi (buang air besar). Kadang-kadang anak
mengalami diare/konstipasi. Sementara DHF pada grade III-
IV bias terjadi melena.
c) Eliminasi Urine (buang air kecil): perlu dikaji apakah sering
kencng, sedikit/banyak, sakit/tidak. Pada DHF grade IV
sering terjadi hematuria.

31
d) Tidur dan Istirahat. Anak sering mengalami kurang tidur
karena mengalami sakit/nyeri otot dan persendian sehingga
kuantitas dan kualitas tidur maupun istirahatnya kurang.
e) Kebersihan. Upaya keluarga untuk menjaga kebersihan diri
dan lingkungan cenderung kurang terutam untuk
membersihkan tempat sarang nyamuk aedes aegypti.
f) Perilaku dan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta
upaya untuk menjaga kesehatan.
g) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi, dan
perkusi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Berdasarkan
tingkatan (grade) DHF, keadaan fisik anak adalah sebagai
berikut:
 Grade I: kesadaran kompos mentis, keadaan umum
lemah, tanda-tanda vital dan andi lemah.
 Grade II: kesadaran kompos mentis, keadaan umum
lemah, ada perdarahan spontan petekia, perdarahan gusi
dan telinga, serta nadi lemah, kecil, dan tidak teratur.
 Grade III: kesadaran apatis, somnolen, keadaan umum
lemah, nadi lemah, kecil, dan tidak teratur, serta tensi
menurun.
 Grade IV: kesadaran koma, tanda-tanda vital: nadi tidak
teraba, tensi tidak terukur, pernapasan tidak teratur,
ekstremitas dingin, berkeringat, dan kulit tampak biru.
9) Sistem Integumen
a) Adanya petekia pada kulit, turgor kulit menurun, dan
muncul keringat dingin, dan lembab.
b) Kuku sianosis/tidak.
c) Kepala dan leher. Kepala terasa nyeri, muka tampak
kemerahan karena demam (flusy), mata anemis, hidung
kadang mengalami perdarahan (epistaksis) pada grade II, III,

32
IV. Pada mulut didapatkan bahwa mukosa mulut kering,
terjadi perdarhan gusi, dan nyeri telan. Sementara
tenggorokan mengalami hyperemia pharing dan terjadi
perdarahan telinga (pada grade II, III, IV).
d) Dada. Bentuk simetris dan kadang-kadang terasa sesak. Pada
foto thorax terdapat adanya cairan yang tertimbun pada paru
sebelah kanan (efusi pleura), rales (+), ronchi (+) yang
biasanya terdapat pada grade III dan IV
e) Abdomen. Mengalami nyeri tekan, pembesaran hati
(hepatomegaly), dan asites.
f) Ekstremitas. Akral dingin, serta terjadi nyeri otot, sendi serta
tulang.
10) Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan dijumpai:
a) Hb dan PCV meningkat (lebih dari sama dengan 20%).
b) Trobositopenia kurang dari sama dengan 100.000/ml).
c) Leukopenia (mungkin normal atau lekositosis).
d) Ig. D. dengue positif.
e) Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan:
hipoproteinemia, hipokloremia, dan hiponatremia.
f) Urium dan pH darah mungkin meningkat.
g) Asidosis metabolic: pCO2 < 35-40 mmHg dan
HCO3 rendah.
h) SGOT/SGPT mungkin meningkat.
b. Masalah/ Diagnosis
1) Diagnose medis: dugaan (suspect) DHF.
2) Adapun diagnosa keperawatan yang sering dijumpai pada pasien
DHF:
a) Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan
infeksi virus dengue.

33
b) Defisit volume cairan tubuh berhubungan dengan
ketidakseimbangan input dan output cairan.
c) Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual,
muntah, anoreksia.
d) Resiko tinggi terjadinya syok hipovolemik berhubungan
dengan perdarahan hebat, penurunan tekanan osmotik.
e) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
f) Resiko terjadinya perdarahan lebih lanjut berhubungan
dengan trombositopenia.
g) Kecemasan orang tua atau keluarga berhubungan dengan
kurangnya pengetahuan, dan kurang informasi.
c. Perencanaan
Untuk mengatasi permasalahannya, perencanaan yang diperlukan
adalah:
1) Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan
infeksi virus dengue.
Tujuan keperawatan :
Peningkatan suhu tubuh dapat teratasi, dengan kriteria:
a) Suhu tubuh normal (35°C- 37,5°C).
b) Pasien bebas dari demam .
Rencana intervensi:
INTERVENSI RASIONAL
Kaji saat timbulnya demam. Untuk mengidentifikasi pola
demam pasien.
Observasi tanda-tanda vital tiap Tanda-tanda vital merupakan acuan
3jam. untuk mengetahui keadaan umum
pasien.

Beri kompres hangat pada dahi. Kompres hangat dapat


mengembalikan suhu normal

34
memperlancar sirkulasi.
Beri banyak minum (± 1-1,5 Mengurangi panas secara konveksi
liter/hari) sedikit tapi sering. (panas terbuang bersama urine dan
keringat sekaligus mengganti cairan
tubuh karena penguapan).
Ganti pakaian klien dengan Pakaian yang tipis menyerap
bahan tipis menyerap keringat. keringat dan membantu
mengurangi penguapan tubuh
akibat dari peningkatan suhu dan
dapat terjadi konduksi.
Beri penjelasan pada keluarga Penjelasan yang diberikan pada
klien tentang penyebab keluarga klien bisa mengerti dan
meningkatnya suhu tubuh. kooperatif dalam memberikan
tindakan keperawatan.
Kolaborasi pemberian obat Dapat menurunkan demam.
antipiretik.

2) Defisit volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan (defisit


volume cairan) tubuh berhubungan dengan ketidakseimbangan
input dan output cairan.
Tujuan intervensi:
Volume cairan tubuh seimbang, dengan kriteria:
a) Turgor kulit baik
b) Tanda-tanda vital dalam batas normal
Rencana intervensi:
INTERVENSI RASIONAL
Kaji keadaan umum klien dan Mengetahui dengan cepat
tanda-tanda vital. penyimpangan dari keadaan
normalnya.
Kaji input dan output cairan. Mengetahui balance cairan dan

35
elektrolit dalam tubuh atau
homeostatis.
Observasi adanya tanda-tanda Agar dapat segera dilakukan
syok. tindakan jika terjadi syok.
Anjurkan klien untuk banyak Asupan cairan sangat diperlukan
minum. untuk menambah volume cairan
tubuh.
Kolaborasi dengan dokter dalam Pemberian cairan IV sangat penting
pemberian cairan I.V. bagi klien yang mengalami defisit
volume cairan untuk memenuhi
kebutuhan cairan klien.

3) Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual,


muntah, dan anoreksia.
Tujuan intervensi:
Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi, dengan kriteria:
a) Porsi makan yang disajikan dihabiskan.
Rencana intervensi :
INTERVENSI RASIONAL
Kaji keadaan umum klien. Memudahkan untuk intervensi
selanjutnya.
Beri makanan sesuai kebutuhan Merangsang nafsu makan klien
tubuh klien sehingga klien mau makan.
Anjurkan orang tua klien untuk Makanan dalam porsi kecil tapi
memberi makanan sedikit tapi sering memudahkan organ
sering. pencernaan dalam metabolisme.
Anjurkan orang tua klien Makanan dengan komposisi TKTP
memberi makanan TKTP dalam berfungsi membantu mempercepat
bentuk lunak. proses penyembuhan.
Timbang berat badan klien tiap Berat badan merupakan salah satu

36
hari. indikator pemenuhan nutrisi
berhasil.
Kolaborasi pemberian obat Menambah nafsu makan.
reborantia.

4) Resiko tinggi terjadinya syok hipovolemik berhubungan dengan


perdarahan hebat, penurunan tekanan osmotik.
Tujuan:
Tidak terjadi syok hipovolemik, dengan kriteria:
a) Keadaan umum membaik.
b) Tanda-tanda vital dalam batas normal.
Rencana intervensi :
INTERVENSI RASIONAL
Monitor keadaan umum klien. Memantau kondisi klien selama
masa perawatan terutama saat
terjadi perdarahan sehingga tanda
prasyok, syok dapat ditangani.
Observasi tanda-tanda vital. Tanda vital dalam batas normal
menandakan keadaan umum klien
baik.
Monitor tanda-tanda perdarahan. Perdarahan yang cepat diketahui
dapat teratasi sehingga klien tidak
sampai pada tahap syok
hipovolemik akibat perdarahan
yang hebat.
Anjurkan pada pasien atau Keterlibatan keluarga untuk segera
keluarga untuk segera melapor melaporkan jika terjadi perdarahan
jika ada tanda-tanda perdarahan. terhadap pasien sangat membantu
tim perawatan untuk segera
melakukan tindakan yang tepat.

37
Cek hemoglobin, hematokrit, Untuk mengetahui tingkat
dan trombosit kebocoran pembuluh darah yang
dialami klien dan untuk acuan
melakukan tindak lanjut terhadap
perdarahan.

5) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.


Tujuan :
Klien mampu melakukan aktivitas sehari-hari, dengan kriteria:
a) Kebutuhan aktivitas sehari-hari terpenuhi.
b) Klien mampu mandiri setelah bebas demam.
Rencana intervensi:
INTERVENSI RASIONAL
Kaji hal-hal yang mampu Mengetahui tingkat ketergantungan
dilakukan klien. klien dalam memenuhi
kebutuhannya.
Bantu klien memenuhi Bantuan sangat diperlukan klien
kebutuhan aktivitasnya sesuai pada saat kondisinya lemah dalam
dengan tingkat keterbatasan pemenuhan kebutuhan sehari-hari
klien. tanpa mengalami ketergantungan
pada orang lain.
Beri penjelasan tentang hal-hal Dengan penjelasan, pasien
yang dapat membantu dan termotivasi untuk kooperatif selama
meningkatkan kekuatan fisik perawatan terutama terhadap
klien. tindakan yang dapat meningkatkan
kekuatan fisiknya.
Libatkan keluarga dalam Keluarga merupakan orang terdekat
pemenuhan ADL klien. dengan klien.
Jelaskan pada keluarga dan klien Untuk mencegah terjadinya
tentang pentingnya bedrest keadaan yang lebih parah.

38
ditempat tidur.

6) Resiko terjadinya perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan


trombositopenia.
Tujuan:
Tidak terjadi perdarahan intra abdominal, dengan kriteria:
a) Tidak terjadi tanda-tanda perdarahan.
b) Jumlah trombosit meningkat.
Rencana intervensi :
INTERVENSI RASIONAL
Monitor tanda-tanda penurunan Penurunan jumlah trombosit
trombosit yang disertai tanda- merupakan tanda-tanda adanya
tanda klinis. kebocoran pembuluh darah yang
dapat menimbulkan tanda klinis
berupa perdarahan nyata, seperti
epistaksis, petechiae.
Beri penjelasan tentang pengaruh Agar pasien atau keluarga
trombositopenia pada keluarga. mengetahui hal-hal yang mungkin
terjadi pada pasien dan dapat
membantu mengantisipasi
terjadinya perdarahan karena
trombositopenia.
Monitor jumlah trombosit setiap Dengan jumlah trombosit yang
hari. dipantau setiap hari dapat
diketahui tingkat kebocoran
pembuluh darah dan kemungkinan
perdarahan yang dialami oleh
klien.
Anjurkan klien untuk banyak Aktivitas klien yang tidak
istirahat. terkontrol dapat menyebabkan

39
terjadinya perdarahan.
Beri penjelasan pada pasien atau Keterlibatan keluarga dengan
keluarga untuk segera melapor segera melaporkan terjadinya
jika ada tanda-tanda perdarahan perdarahan akan membantu pasien
lebih lanjut seperti: hematemesis, mendapatkan penanganan sedini
melena, epistaksis. mungkin.

7) Kecemasan keluarga berhubungan dengan kurangnya


pengetahuan dan kurang informasi.
Tujuan :
Kecemasan keluarga teratasi, dengan kriteria:
a) Orang tua tidak bertanya lagi tentang penyakit anaknya.
b) Ekspresi wajah ceria.
Rencana intervensi :
INTERVENSI RASIONAL
Kaji tingkat kecemasan orang tua. Mengetahui kecemasan orang tua
dan memudahkan menentukan
intervensi selanjutnya.
Jelaskan prosedur pengobatan Untuk menambah pengetahuan
perawatan anaknya. dan informasi kepada klien yang
dapat mengurangi kecemasan
orang tua.
Beri kesempatan pada orang tua Untuk memperoleh informasi
untuk bertanya tentang kondisi yang lebih banyak dan
anaknya. meningkatkan pengetahuan dan
mengurangi stress.
Beri penjelasan tiap prosedur atau Memberikan penjelasan tentang
tindakan yang akan dilakukan proses penyakit, menjelaskan
terhadap pasien dan manfaatnya tentang kemungkinan pemberian
bagi pasien. perawatan intensif jika memang

40
diperlukan oleh pasien untuk
mendapatkan perawatan yang
lebih optimal.
Beri dorongan spiritual. Memberi ketenangan kepada klien
dengan berserah diri kepada
Tuhan Yang Maha Esa.

41
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Penyakit tropis merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri,
virus, jamur. Penyakit ini merupakan penyakit yang banyak terjadi di daerah
tropis maupun subtropis. Penyebaran penyakit tropis dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu lingkungan, perubahan iklim, dan cuaca, untuk itu
penanganan penyakit tropis dapat dilakukan dengan cara selalu menjaga
sanitasi lingkungan. Karena lingkungan merupakan elemen penting agar kita
bisa terhindar dari penyakit tropis serta selalu menjaga kesehatan dengan
memakan makanan yang bergizi agar saat terjadi perubahan cuaca tubuh kita
tidak akan lemah.
3.2 Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, untuk itu kami
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca guna memperbaiki isi makalah.

42
DAFTAR PUSTAKA

http://makalahpenyakittropis.blogspot.com/2018/03/makalah-penyakit-tropis-dan-
infeksi.html?m=1
http://cufing.blogspot.com/2015/01/lp-imunisasi-campak.html?m=1
http://cufing.blogspot.com/2015/01/askep-dengue-heamorrhagic-fever.html/=1

43