Você está na página 1de 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Salah satu pelayanan yang sentral di rumah sakit adalah pelayanan ICU
dan IGD. ICU dan IGD merupakan bagian rumah sakit yang membutuhkan
perawat yang terampil dan terdidik dalam memberikan pelayanan kesehatan
terhadap pasien (Mulyani, Risa, & Ulfah, 2017).
Instalasi Gawat Darurat merupakan unit penting dalam operasional suatu
rumah sakit, yaitu sebagai pintu masuk bagi setiap pelayanan yang beroperasi
selama 24 jam. Sebagai ujung tombak dalam pelayanan rumah sakit, IGD
harus melayani semua kasus yang masuk ke rumah sakit dan sesegera
mungkin memberikan pertolongan pertama pada pasien. Maka perawat IGD
harus melakukan tindakan keperawatan dengan sangat cepat dan cekatan
(Lumintang, 2015). Perawat juga dituntut untuk mampu bekerjasama dengan
tim kesehatan lain serta dapat berkomunikasi dengan pasien dan keluarga
pasien yang berkaitan dengan kondisi kegawatan kasus di ruang tersebut.
Tuntutan-tuntutan dalam lingkungan kegawatdaruratan membuat perawat
IGD beresiko terhadap terjadinya stres (Rahardjho, 2007 dalam Kurnianingsih
dkk, 2013).
Stres adalah respon tubuh yang tidak spesifik terhadap setiap kebutuhan
tubuh yang terganggu, suatu fenomena universal yang terjadi dalam
kehidupan sehari hari dan tidak dapat dihindari, setiap orang memahaminya,
stres memberi dampak secara total pada individu yaitu terhadap fisik,
psikologis, intelektual, sosial dan spiritual, stres dapat mengancam
keseimbangan fisiologis (Rasmun, 2014).
Berdasarkan survei di Inggris tahun 2014-2015 perawat memiliki tingkat
stres kerja tertinggi yaitu 3000 kasus per 100.000 orang yang dipekerjakan.
Data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukan bahwa
prevalensi penduduk Indonesia pada penduduk umur di atas 15 tahun yang
mengalami gangguan mental emosional atau stres adalah sebesar 6,0% atau
sekitar 37,728 orang. Data ini mengalami penurunan jika dibandingkan
dengan data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dimana
prevalensi penduduk Indonesia pada penduduk umur di atas 15 tahun yang
mengalami gangguan mental emosional atau stres adalah sebesar 11,6 %.
Banyak faktor yang dapt menyebabkan stres kerja pada perawat
diantaranya shift kerja, konflik peran ganda, kurangnya dukungan sosial,
konflik antara pekerjn dengan keluarga, tuntutan tugas yang beragam dan
tidak sesuai dengan kompetensi, beban kerja berlebih, kondisi kerja tidak
nyaman, ketidakpastian pekerjaan dan tidak seimbangnya jumlah rasio tenaga
perwat dengan jumlah pasien (Nurazizah, 2017).
Berdasarkan penelitian oleh Jundillah dkk tahun 2017 menyatakan bahwa
Seluruh perawat di Kabupaten Konawe Kepulauan mengalami stres kerja,
sebagian besar perawat lebih banyak mengalami perawat mengalami stres
ringan, beban kerja berat, kejenuhan kerja dan memiliki persepsi lingkungan
kerjanya kurang baik (Jundillah, Ahmad, & Saktiansyah, 2017). Pada
penelitian yang dilakukan oleh Yana tahun 2014, hampir separuh dari perawat
IGD RSUD Pasar Rebo memiliki stres tinggi (45,8%) (Yana, 2014).
Sedangkan penelitian yang dialakukan oleh Ayu Mallyya tahun 2015
menyatakan bahwa, Perawat IGD RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie
Kota Pontianak dominan menderita stres kerja tinggi yaitu 57,1% (Mallyya,
Rachmadi, & Hafizah, 2015).
Berdasarkaan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk meneliti faktor-
faktor yang mempengaruhi stres kerja perawat di IGD RSUD Sultan Syarif
Mohamad Alkadrie Kota Pontianak.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah apa faktor-faktor yang
mempengaruhi stres kerja perawat di IGD RSUD Sultan Syarif Mohamad
Alkadrie Kota Pontianak?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi stres kerja perawat di IGD RSUD Sultan Syarif Mohamad
Alkadrie Kota Pontianak.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi tingkat stres responden di IGD RSUD Sultan Syarif
Mohamad Alkadrie Kota Pontianak.
b. Mengidentifikasi faktor pekerjaan (lingkungan fisik, konflik peran,
ketaksaan peran, konflik interpersonal, ketidakpastian pekerjaan,
kurangnya kontrol, kurangnya kesempatan kerja, jumlah beban kerja,
variasi beban kerja, tanggung jawab terhadap orang lain, kemampuan
yang tidak digunakan, tuntutan mental, dan shift kerja) dengan stres
kerja perawat di IGD RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota
Pontianak.
c. Mengidentifikasi faktor di luar pekerjaan (aktivitas di luar pekerjaan)
dengan stres kerja perawat di IGD RSUD Sultan Syarif Mohamad
Alkadrie Kota Pontianak.
d. Mengidentifikasi hubungan antara faktor individual (umur, jenis
kelamin, status pernikahan, masa kerja, kepribadian tipe A dan
penilaian diri) dengan stres kerja perawat di IGD RSUD Sultan Syarif
Mohamad Alkadrie Kota Pontianak.
e. Mengidentifikasi hubungan antara faktor pendukung (dukungan sosial)
dengan stres kerja perawat di IGD RSUD Sultan Syarif Mohamad
Alkadrie Kota Pontianak.
f. Mengidentifikasi faktor yang paling dominan berhubungan dengan
stres kerja pada perawat di IGD RSUD Sultan Syarif Mohamad
Alkadrie Kota Pontianak.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk
kemajuan di bidang ilmu keperawatan terutama tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi stres perawat di IGD
1.4.2 Manfaat Praktik
1.4.2.1 Bagi Institusi
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi tambahan
perpustakaan yang berkaitan dengan manajemen stres keperawatan jiwa.
1.4.2.2 Bagi Tenaga Kesehatan
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan untuk
memahami faktor-faktor stres perawat di IGD sehingga perawat dapat
memanajemen tingkat stres kerja perawat.
1.4.2.3 Bagi RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie
Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi agar dapat
dilakukan upaya pencegahan dan pengendalian stres kerja pada perawat di
IGD.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perawatan Instalasi Gawat Darurat (IGD)


2.1.1 Definisi Perawat
Menurut Intenational Council of Nursing, perawat merupakan
seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan keperawatan yang
memenuhi syarat serta berwenang di negeri bersangkutan untuk
memberikan pelayanan keperawatan yang bertanggung jawab untuk
meningkatkan kesehatan, pencegahan penyakit dan pelayanan penderita
sakit (Suardana, 2012).
2.1.2 Definisi Instalasi Gawat Darurat (IGD)
Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit mempunyai tugas
menyelenggarakan pelayanan asuhan medis dan asuhan keperawatan
sementara serta pelayanan pembedahan darurat bagi pasien yang datang
dengan gawat darurat medis. IGD memiliki peran menjadi gerbang utama
masuknya penderita gawat darurat (Ali, 2014).
Menurut Depkes RI (2006), petugas tim kesehatan di IGD di
rumah sakit terdiri dari dokter ahli, dokter umum, atau perawat yang telah
mendapat pelatihan penanganan kegawatdruratan yang dibantu oleh
perwakilan unit-unit lain yang bekerja di IGD.
Pengertian Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit adalah
salah satu bagian dari rumah sakit yang menyediakan penanganan awal
bagi pasien yang menderita sakit dan cidera, yang dapat mengancam
kelangsungan hidupnya. Kementrian Kesehatan telah mengeluarkan
kebijakan mengenai Standar Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit
yang tertuang dalam Kepmenkes RI No. 856/Menkes/SK/IX/2009 untuk
mengatur standarisasi pelayanan gawat darurat di Rumah Sakit. Guna
meningkatkan kualitas IGD di Indonesia perlu komitmen Pemerintah
Daerah untuk membantu Pemerintah Pusat dengan ikut memberikan
sosialisasi kepada masyarakat bahwa dalam penanganan kegawatdaruratan
dan life saving tidak ditarik uang muka dan penanganan gawat darurat
dilakukan 5 (lima) menit setelah pasien sampai di IGD.
2.1.3 Pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD)
2.2 Stres Kerja
2.2.1 Definisi Stres
Menurut Robbins & Judge (dalam Sunyoto 2013) stress adalah kondisi
dinamis dimana seseorang dihadapkan pada suatu peluang, tuntutan, atau
sumber daya yang terkait dengan keinginan orang tersebut serta hasilnya
dipandang tidak pasti dan penting. Stress berkaitan dengan tuntutan/demand
dan sumber daya /resources.
Robbins (2007) mendefinisikan stress adalah kondisi dinamik yang
didalamnya individu menghadapi peluang kendala, atau tuntutan yang terkait
dengan apa yang sangat diinginkannya dan hasilnya dipersepsikan sebagai tidak
pasti tetapi penting. Stres kerja adalah kondisi ketergantungan yang
mempengaruhi emosi, proses berfikir dari seseorang. Orang orang yang
mengalami stres menjadi nervous dan merasakan kondisi kronis (Malayu S.P
Hasibuan, 2009).
2.2.2 Tingkat Stres
Klasifikasi stres dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu stres ringan,
sedang dan berat (Gamayanti & Syafei, 2018)
1) Stres ringan Pada tingkat stres ringan adalah stres yang tidak merusak
aspek fisiologis dari seseorang. Stres ringan umumnya dirasakan oleh
setiap orang misalnya lupa, ketiduran, dikritik, dan kemacetan. Stres
ringan sering terjadi pada kehidupan seharihari dan kondisi dapat
membantu individu menjadi waspada. Situasi ini tidak akan
menimbulkan penyakit kecuali jika dihadapi terus menerus.
2) Stres sedang Stres sedang terjadi lebih lama, dari beberapa jam hingga
beberapa hari. Respon dari tingkat stres ini didapat gangguan pada
lambung dan usus misalnya maag, buang air besar tidak teratur,
ketegangan pada otot, gangguan pola tidur, perubahan siklus
menstruasi, daya konsentrasi dan daya ingat menurun. Contoh dari
stresor yang menimbulkan stres sedang adalah kesepakatan yang
belum selesai, beban kerja yang berlebihan, mengharapkan pekerjaan
baru, dan anggota keluarga yang pergi dalam waktu yang lama.
3) Stres berat adalah stres kronis yang terjadi beberapa minggu sampai
beberapa tahun. Respon dari tingkat stres ini didapat gangguan
pencernaan berat, debar jantung semakin meningkat, sesak napas,
tremor, persaan cemas dan takut meningkat, mudah bingung dan
panik. Contoh dari stresor yang dapat menimbulkan stres berat adalah
hubungan suami istri yang tidak harmonis, kesulitan finansial, dan
penyakit fisik yang lama.
2.2.3 Definisi Stres Kerja
Stres kerja dapat diartikan sebagai tekanan yang dirasakan
karyawan karena tugas- tugas pekerjaan yang tidak dapat mereka penuhi.
Artinya, stres muncul saat karyawan tidak mampu memenuhi apa yang
menjadi tuntutan-tuntutan pekerjaannya (Rahmadyrza, 2015).
Stres akibat kerja merupakan gangguan fisik dan emosional
sebagai akibat ketidaksesuaian antara kapasitas, sumber daya atau
kebutuhan pekerja yang berasal dari lingkungan pekerjaan. Kondisi
tersebut dapat memicu terjadinya stres karena beban kerja yang tidak
sesuai, buruknya lingkungan sosial, konflik, yang terjadi, lingkungan kerja
yang berbahaya. Kondisi tempat kerja yang tidak nyaman tersebut menjadi
peranan yang penting dalam menyebabkan terjadinya stres kerja. Padahal
stres kerja secara langsung dapat mempengaruhi keselamatan dan
kesehatan pekerja. Hal ini dikarenakan stres kerja dapat memicu terjadinya
gangguan kesehatan bahkan terjadinya kecelakaan kerja (Jundillah et al.,
2017).
2.2.4 Faktor-Faktor Penyebab Stres Kerja
a.Faktor Pekerjaan
Faktor pekerjaan merupakan faktor yang meliputi lingkungan dan faktor
dari pekerjaan itu sendiri. Menurut HSE (2014) dan ILO (2016),
karakteristik pekerjaan yang dapat menyebabkan stres terdiri dari jumlah
beban kerja, variasi beban kerja, kemampuan yang tidak digunakan,
ketaksaan peran, ketidakpastian pekerjaan, shift kerja, konflik peran,
kurangnya kontrol, dan konflik interpersonal. Selain itu, terdapat beberapa
faktor pekerjaan lain yaitu lingkungan fisik, kurangnya kesempatan kerja,
tanggung jawab terhadap orang lain, dan tuntutan mental (NURAZIZAH,
2017).
b. Faktor di Luar Pekerjaan
Faktor di luar pekerjaan merupakan faktor yang berhubungan dengan
lingkungan di luar pekerjaan yang dapat mempengaruhi stres kerja pada
seseorang. Aktivitas di luar pekerjaan merupakan kategori pembangkit
stres potensial mencakup segala unsur kehidupan seseorang yang dapat
berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa kehidupan dan kerja di dalam satu
organisasi, dan dengan demikian memberi tekanan pada individu. Isu-isu
tentang keluarga, krisis kehidupan, kesulitan keuangan, keyakinan-
keyakinan pribadi dan organisasi yang bertentangan, konflik antara
tuntutan keluarga dan tuntutan perusahaan, semuanya dapat merupakan
tekanan pada individu dalam pekerjaannya, sebagaimana halnya stres
dalam pekerjaan mempunyai dampak yang negatif pada kehidupan
keluarga dan pribadi. Namun demikian, peristiwa kehidupan
pribadi/dukungan sosial dapat meringankan akibat dari pembangkit stres
organisasi dan kepuasan kerja dapat membantu individu untuk
menghadapi kehidupan pribadi yang penuh stres (Munandar, 2001). Hasil
penelitian Musangadah (2015) menunjukkan bahwa tuntutan dari luar
pekerjaan berpengaruh positif terhadap stres kerja. apabila tuntutan dari
luar mengalami peningkatan maka akan menyebabkan peningkatan pada
stres kerja.
c. Faktor Individual
Faktor indivudual merupakan faktor yang berkaitan dengan pribadi
seseorang. Faktor individual terdiri dari umur, jenis kelamin, status
pernikahan, masa kerja, kepribadian tipe A, dan penilaian diri
(NURAZIZAH, 2017)
2.3 Kerangka Teori

Faktor Pekerjaan Faktor di Luar


Pekerjaan
a. Lingkungan Fisik
a. Aktivitas di Luar
b. Konflik Peran Pekerjaanar Pekerjaan
c. Ketaksaan Peran

d. Konflik Interpersonal Faktor Individual


e. Ketidakpastian a. Umur
Pekerjaan
b. Jenis Kelamin
f. Kurangnya Kontrol
c. Status Pernikahan
g. Kurangnya Kesempatan
Kerja d. Masa Kerja

h. Jumlah Beban Kerja e. Kepribadian Tipe A

i. Variasi Beban Kerja j. f. Penilaian Diri


Tanggung Jawab terhadap
Orang Lain

k. Kemampuan yang Tidak Faktor Pendukung


Digunakan
a. Dukungan Sosial
l. Tuntutan Mental

m. Shift Kerja

Stres kerja

Sumber : Hurrel & McLaney (1988), HSE (2014), ILO (2016)


Gambar 2.1 Kerangka Teori
2.4 Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini yaitu;


a. Ho : Tidak ada hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi stres
(Faktor pekerjaan, faktor luar pekerjaan, faktor individual) pada perawat
di IGD RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak.
b. Ha : Ada hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi stres
(Faktor pekerjaan, faktor luar pekerjaan, faktor individual) pada perawat
di IGD RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak.
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Jenis pada penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, dengan
menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan jenis penelitian
cross sectional dimana objek penelitian diukur dan dikumpulkan secara
simultan, sesaat atau dalam waktu bersamaan dan tidak ada follow up.
Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif untuk mengidentifikasi
faktor-faktor yang mempengaruhi stres kerja perawat di IGD RSUD Sultan
Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak.
3.2 Populasi, Sampel, dan Setting Penelitian
3.2.1 Populasi
Populasi merupakan suatu wilayah generalisasi yang terdiri dari
subyek/obyek yang mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dapat dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya (Setiadi, 2013). Populasi yang ada di IGD RSUD Sultan Syarif
Mohamad Alkadrie Kota Pontianak adalah...
3.2.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki oleh
populasi yang digunakan untuk penelitian. Dengan kata lain, sampel
adalah elemen-elemen populasi yang dipilih berdasarkan kemampuan
mewakilinya(Setiadi, 2013; Sujarweni, 2014).
3.2.3 Teknik Pengambilan Sampling
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik non
probability sampling dengan metode sampling jenuh dimana semua
anggota populasi dijadikan sampel (Setiadi, 2013).
3.2.3.1 Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah kriteria yang perlu dipenuhi oleh setiap anggota

populasi yang dapat diambil sebagai sampel (Notoatmodjo, 2015). Kriteria

inkulsi dalam penelitian ini adalah :

a. Seluruh perawat yang sedang melakukan shift kerja di IGD

b. Perawat bersedia menjadi responden dan kooperatif

3.2.3.2 Kriteria Ekslusi


Kriteria ekslusi adalah kriteria tiap anggota populasi yang tidak dapat

diambil sebagai sampel (Notoatmodjo, 2015). Kriteria ekslusi pada

penelitian ini adalah :

a. Perawat yang bukan shift kerja di IGD

b. Perawat menolak menjadi responden

3.2.4 Setting Penelitian


a. Lokasi penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di IGD RSUD Sultan Syarif Mohamad
Alkadrie Kota Pontianak.
b. Waktu penelitian
Waktu pelaksanaan dilakukan pada bulan ....

3.3 Kerangka Konsep


Kerangka konsep penelitian (conseptual framework) adalah suatu uraian
atau visualisasi hubungan atau kaitan konsep satu terhadap konsep yang
lainnya, atau antara variabel yang satu dengan variabel yang lain dari masalah
yang ingin diteliti (Notoatmodjo, 2015).
Skema 3.1. Kerangka Kosep

Variabel Independen Variabel Dependen

Faktor-faktor yang Stres kerja perawat


mempengaruhi stres

3.4 Variabel Penelitian


3.4.1 Variabel Independen (Bebas)
Variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya
atau timbulnya variabel dependen (Sujarweni, 2014).
3.4.2 Variabel Dependen (Terikat)
Variabel yang dipengaruhi atau akibat karena adanya variabel
bebas (Sujarweni, 2014).
3.5 Definisi Operasional
Tabel 3.2 Definisi Operasional

no variabel Definisi Cara Alat ukur Hasil ukur skala


operasional ukur
1 Stres kerja Keluhan stres NIOSH kuesioner Rasio
berdasrkan Generic Job
perubahan Stress
fiologis, Questionnaire
psikologis dan
perilaku
responden
2 Lingkungan fisik Persepsi NIOSH Kuesioner Rasio
responden Generic Job
tentang Stress
lingkungan Questionnaire
disekitar
3 Konflik peran Tuntutan rumah NIOSH Kuesioner Rasio
sakit untuk Generic Job
mampu Stress
mengerjakan Questionnaire
banyak tugas
secara
bersamaan
4 Ketaksaan peran Kurangnya NIOSH Kuesioner Rasio
informasi untuk Generic Job
melaksanakan Stress
tugas dan peran Questionnaire
sehinggabtimbul
ketidakpahaman
mengenai
pekerjaan
5 Konflik Masalah antara NIOSH kuesioner Rasio
interpersonal responden dan Generic Job
orang Rasio Stress
disekitarnya Questionnaire
6 Ketidakpastian Ketakutan NIOSH Kuesioner Rasio
pekerjaan kehilangan Generic Job
pekerjaan Stress
Questionnaire
7 Kurangnya Kurangnya NIOSH Kuesioner Rasio
kontrol ototritas Generic Job
responden untuk Stress
melakukan Questionnaire
kontrol terhadap
pekerjaannya
8 Kurangnya Rendahnya NIOSH Kuesioner Rasio
kesempatan lapangan Generic Job
pekerjaan di Stress
rumah sakit lain Questionnaire
9 Jumlah beban Banyaknya NIOSH Kuesioner Rasio
kerja tugas atau Generic Job
pekerjaan yang Stress
dilakukan Questionnaire
10 Variasi beban Segala jenis NIOSH Kuesioner Rasio
kerja pekerjaan yang Generic Job
diberikan Stress
kepada Questionnaire
responden
dengan tuntutan
kemampuan
yang berbeda
11 Tanggung jawab Tanggung NIOSH Kuesioner Rasio
terhadap orang jawab Generic Job
lain responden Stress
terhadap orang Questionnaire
lain
12 Kemampuan Tidk NIOSH Kuesioner Rasio
yang tidak memaksimalkan Generic Job
digunakan kemampuan Stress
yang dimiliki Questionnaire
13 Tuntutan mental Tuntutan NIOSH Kuesioner Rasio
pekerjaan yang Generic Job
berkaitan Stress
dengan tuntutan Questionnaire
mentl responden
14 Shift kerja Pola pengaturan NIOSH kuesioner Rasio
Jam kerja Generic Job
responden Stress
Questionnaire
15 Aktivitas diluar Kegiatan diluar NIOSH Kuesioner Rasio
pekerjaan pekerjaan Generic Job
seperti Stress
lingkungan Questionnaire
keluarga dan
masyarakat
16 Umur Jumlah tahun NIOSH Kuesioner Rasio
yang dihitung Generic Job
dari tahun lahir Stress
hingga tahun Questionnaire
saat ini
17 Jenis kelamin Perbedaan NIOSH Kuesioner Rasio
biologis dan Generic Job
fisiologis dari Stress
lahir yaitu laki- Questionnaire
laki dan
perempuan
18 Status pernikahan Keterangan NIOSH Kuesioner Rasio
riwayat Generic Job
pernikahan Stress
responden Questionnaire
sesuai identitas
saat ini
19 Masa kerja Lamanya masa NIOSH Kuesioner Rasio
kerja responden Generic Job
Stress
Questionnaire
20 Kepribadian tipe Sifat yang bisa NIOSH Kuesioner Rasio
A diukur yang Generic Job
ditunjukan oleh Stress
seseorang Questionnaire
21 Penilaian diri Persepsi NIOSH Kuesioner Rasio
seseorang Generic Job
terhadap dirinya Stress
Questionnaire
22 Dukungan sosial Hubungan NIOSH Kuesioner Rasio
sosial responden Generic Job
yang terjalin Stress
dengan atasan, Questionnaire
rekan kerja dan
kerabat.

3.6 Instrumen Penelitian


Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner
stres kerja yang dikembangkan oleh National Institute of Occupational Safety
and Health yaitu NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (NIOSH, 2014).
Kuesioner ini terdiri dari 21 variabel penyebab stres dan tiga indikator stres
berupa gejala perubahan psikologis, fisiologis, dan perilaku.
3.7 Uji Validitas dan Reliabilitas
3.7.1 Uji Validitas
Validitas adalah kemampuan alat ukur untuk secara tepat
mengukur sesuatu yang ingin diukur (Al-Assaf, 2009). Kuesioner yang
digunakan dalam penelitian ini menggunakan kuesioner baku yang
dikembangkan oleh NIOSH. Kuesioner ini diadaptasi dari berbagai skala
yang memiliki validitas dan reliabilitas yang dapat dipercaya sehingga
dapat digunakan untuk mengukur stres kerja pada berbagai jenis pekerjaan
(HSE, 2001).
3.7.2 Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah sejauh mana alat ukur dapat menghasilkan nilai
yang sama atau konsisten (Swarjana, 2016). Uji reliabilitas menggunakan
cronbach alpha dimana instrumen penelitian dinyatakan reliabel bila
diperoleh nilai alpha minimal 0,60 (Budiharto, 2008). Beberapa penelitian
yang melakukan uji reliabilitas NIOSH Generic Job Stress Questionnaire
menunjukkan nilai cronbach alpha sebesar lebih dari 0,7 (Kazronian,
2013), 0,84 (Karima, 2014), dan 0,61-0,94 (Nakata, 2004).
3.8 Prosedur Pengumpulan Data
3.8.1 Tahap Persiapan
a. Perizinan pelaksanaan penelitian dari Dekan Fakultas Kedokteran
b. Penerimaan pelaksanaan penelitian dari Direktur RSUD Sultan Syarif
Mohamad Alkadrie Kota Pontianak.
3.8.2 Tahap Pelaksanaan
a. Peneliti melakukan penelitian di IGD RSUD Sultan Syarif Mohamad
Alkadrie Kota Pontianak
b. Peneliti meminta izin melalakukan perizinan di IGD RSUD Sultan
Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak dan memberikan penjelasan
mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan
c. Peneliti meberikan angket kepada responden, menjelaskan tujuan,
manfaat dan prosedur penelitian serta meminta persetujuan dari responden.
d. Responden menyatakan bersedia untuk mengikuti prosedur penelitian,
dan diminta untuk menandatangani lembar informed consent yang telah
disiapkan peneliti.
3.9 Prosedur Pengolahan Data
Data yang telah terkumpul selama penelitian akan diolah dan disajikan
dalam bentuk tabel sehingga memudahkan untuk dianalisa dan ditarik
kesimpulan.
Menurut Notoatmodjo (2015), cara yang dilakukan dalam pengolahan

data adalah sebagai berikut:

a. Editing

Merupakan kegiatan pengecekan terhadap lembar observasi.

Peneliti meneliti kembali data yang telah dikumpulkan, apakah telah

sesuai. Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau

setelah data terkumpul.

b. Coding (Memberi Kode)

Mengklasifikasi data dan jawaban menurut kategori masing-masing

sehingga memudahkan dalam pengelompokkan data. Coding dilakukan

saat pembuatan kuesioner untuk memudahkan peneliti dalam

pengolahan data selanjutnya.

c. Scoring

Skoring Instrumen NIOSH Generic Job Stress Questionnaire

Skor item positif

1= sangat tidak setuju

2= tidak setuju

3= netral

4= setuju

5= sangat setuju
Skor item negatif

5= sangat tidak setuju

4= tidak setuju

3=netral

2= setuju

1= sangat setuju

Skor 1-6 : tidak ada kecemasan

Skor 7-12 : kecemasan ringan

Skor 13-18 : kecemasan sedang

Skor 19-24 : kecemasan berat

Skor 25-30 : kecemasan berat sekali/panik

d. Procesing

Melakukan pemroresan data dengan menggunakan program

komputer untuk diolah. Dalam entry data diperlukan ketelitian agar

tidak terjadi bias.

e. Cleaning

Pengecekan kembali data-data yang sudah dimasukan ke program

atau sofware komputer untuk melihat kemungkinan tejadinya

ketidaklengkapan, kesalahan dan sebagainya. Kemudian dilakukan

pembetulan atau pengoreksian.

3.10 Analisa Data


3.10.1 Analisa Univariat
Analisis univariat bertujuan untuk mendeskripsikan masing-masing
variabel yang diteliti. Analisis akan menghasilkan distribusi frekuensi dan
presentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2015). Pada penelitian ini
analisis univariat digunakan terhadap data karakteristik usia, jenis kelamin,
pekerjaan dan pendidikan
3.10.2 Analisa Bivariat
Analisa bivariat adalah untuk mengetahui hubungan atau korelasi
antara dua variable yaitu variable dependen dan variabel independen
(Notoatmodjo, 2015). Analisa bivariat dilakukan dengan menggunakan uji
statistik berupa uji korelasi spearman dan uji mann whitney. Kedua uji
tersebut digunakan untuk mengetahui hubungan antar variabel independen
dengan variabel dependen. Uji korelasi spearman biasa digunakan ketika
terdapat minimal satu dari dua variabel yang berskala ordinal. Koefisien
korelasi yang ditunjukkan oleh korelasi spearman dihasilkan dari ranking
observasi, bukan berdasarkan nilai aktual dari observasi. Kemudian, uji
mann whitney merupakan bentuk non parametrik dari independent t-test.
Mann whitney digunakan untuk menguji perbedaan dua ranking skor dari
dua sampel independen. Uji mann whitney dapat digunakan ketika
independent t-test tidak memenuhi syarat (misalnya karena sampel terlalu
kecil atau data tidak berdistribusi normal) dan variabel independennya
berskala dikotomi dan variabel dependen berskala ordinal atau variabel
berskala nominal dengan ordinal (Swarjana, 2016).
3.10.3 Analisa Multivariat
Analisa multivariat dengan menggunakan uji regresi linier ganda yang
bertujuan untuk mengetahu faktor dominan yang paling berhubungan
dengan stres kerja. analisis regresi linier ganda merupakan analisis
hubungan antara beberapa variabel independen dengan satu variabel
dependen (Amran, 2012).
3.11 Pertimbangan Etika Penelitian

Penelitian ini berhubungan langsung dengan responden sebagai sampel

penelitian, sehingga peneliti harus menerapkan mengenai prinsip-prinsip


etika dalam penelitian. Menurut Dharma (2015), beberapa prinsip-prinsip

etik penelitian antara lain :

a. Beneficence

Prinsip Beneficence menekankan peneliti untuk melakukan penelitian

yang memberikan manfaat bagi responden. Prinsip ini memberikan

keuntungan dengan cara mencegah dan menjauhkan bahaya,

membebaskan responden dari eksploitasi serta menyeimbangkan antara

keuntungan dan risiko. Dalam penelitian ini manfaat dari relaksasi

genggam jari terhadap kecemasan yaitu mengurangi nyeri, takut dan

ansietas, mengurangi perasaan panik, meningkatkan kenyamanan dan rasa

damai pada tubuh, menenangkan dan mengontrol emosi (Astutik &

Kurlinawati, 2017).

b. Non Maleficence

Prinsip ini menekankan peneliti untuk tidak melakukan tindakan

yang menimbulkan bahaya bagi responden. Responden diusahakan

bebas dari rasa tidak nyaman. Penelitian ini menggunakan prosedur,

sehingga meminimalkan bahaya yang mungkin timbul pada responden.

c. Autonomy

Autonomy memberikan makna kebebasan bagi responden untuk

menentukan keputusan sendiri. Apabila responden menolak untuk

diteliti, maka tidak ada paksaan dari peneliti kepada responden serta

tetap menghormati dan menghargai keputusan, hak, pilihan dan privasi

responden. Dalam penelitian ini, peneliti tidak memaksa responden


untuk menjadi subjek penelitian. Subjek yang setuju menjadi responden

secara sukarela menandatangani informed consent.

d. Anonimity

Peneliti memberikan jaminan pada responden dengan cara tidak

akan mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya

menuliskan kode pada lembar pengumpulan data karakteristik dan hasil

penelitian yang disajikan. Peneliti juga akan menjamin kerahasian

semua informasi hasil penelitian yang telah dikumpulkan dari

responden.

e. Veracity

Prinsip Veracity atau kejujuran menekankan peneliti untuk

menyampaikan informasi yang benar. peneliti memberikan informasi

mengenai tujuan, manfaat dan prosedur penelitian tentang pengaruh

relaksasi genggam jari terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre

operasi bedah mayor di RSUD.Dr. Soedarso Pontianak.

f. Justice

Prinsip Justice atau keadilan menuntut peneliti tidak melakukan

diskriminasi saat memilih responden penelitian. Kelompok kontrol

pada penelitian ini yang tidak diberikan intervensi berupa relaksasi

genggam jari pada saat penelitian, diakhir penelitian ini akan dilakukan

intervensi relaksasi genggam jari pada kelompok kontrol.


REFERENSI

Health and Safety Executive. Work Related Stress Anxiety And Depression
Statistic In Great Britain 2015 dari http://www.hse.gov.uk/statistics/
causdis/stress/stress.pdf
Gamayanti, W., & Syafei, I. (2018). Self Disclosure dan Tingkat Stres pada
Mahasiswa yang sedang Mengerjakan Skripsi, 5(1984), 115–130.
https://doi.org/10.15575/psy.v5i1.2282

Jundillah, zhafarina nastiti, Ahmad, la ode li imran, & Saktiansyah, la ode


ahmad. (2017). Analisis kejadian stres kerja pada perawat di kabupaten
konawe kepulauan tahun 2017. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan
Masyarakat, 2(6), 1–11.

Lumintang, P. (2015). ejoural Keperawatan (e-Kep) Volume 3. Nomor 1. Maret


2015. E-Journal Keperawatan, 3(1), 1–6.

Mallyya, A., Rachmadi, F., & Hafizah, R. (2015). WORK-RELATED STRESS


DIFFERENCES BETWEEN EMERGENCY DEPARTMENT ( ED )
NURSES AND INTENSIVE CARE UNIT ( ICU ). Proners, 3(1), 1–13.

Mulyani, Y., Risa, E., & Ulfah, L. (2017). HUBUNGAN MEKANISME


KOPING DENGAN STRES KERJA PERAWAT IGD DAN ICU DI RSUD
ULIN BANJARMASIN. JURNAL ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA, 3(2),
513–524.

NURAZIZAH. (2017). FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


STRES KERJA PADA PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP KELAS III RS X
JAKARTA TAHUN 2017. UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA.

Rahmadyrza, M. I. (2015). FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


MUNCULNYA STRES KERJA PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP
CENDRAWASIH RSUD ARIFIN AHMAD PROVINSI RIAU
PEKANBARU. Jom FEKON, 2(1), 1–17.
Setiadi. (2013). konsep dan praktik penulisan riset keperawatan. Yogyakarta:
graha ilmu.

Sujarweni, v wiratna. (2014). metodologi penelitian keperawatan. Yogyakarta:


gava media.

Yana, D. (2014). Stres Kerja pada Perawat Instalasi Gawat Darurat di RSUD
Pasar Rebo Tahun 2014. Jurnal Administrasi Kebijakan Kesehatan, 1(2),
107–115.