Você está na página 1de 20

LAPORAN KASUS

ANAK DENGAN DENGUE SHOCK SYNDROME (DSS)

Diajukan untuk memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan melengkapi salah satu syarat
Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Di RSUD dr. H. Soewondo Kendal

Pembimbing:
dr. Dewi Laksmi, Sp.A, M.Kes .

disusun oleh :
Andini Rizky Budiati
30101407134

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2019
CATATAN MEDIK

IDENTITAS
Pasien
• Nama Penderita : An. R
• Umur : 8 tahun 1 bulan
• Jenis Kelamin : Laki-laki
• Pendidikan : SD
• Alamat : Karangayu, Cepiring, Kab. Kendal
• Tanggal lahir : 29 Januari 2011
• No. RM : 575xxx

Wali
• Nama Ayah : Tn. R
• Umur : 32 tahun
• Pendidikan : SMA
• Agama : Islam
• Pekerjaan : Wiraswasta
• Alamat : Karangayu, Cepiring, Kab. Kendal

Wali
• Nama Ibu : Ny. W
• Umur : 28 tahun
• Pendidikan : SMA
• Agama : Islam
• Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
• Alamat : Karangayu, Cepiring, Kab. Kendal
A. DATA DASAR
Alloanamnesis dengan orang tua penderita dilakukan pada tanggal 25 Februari 2019
pukul 10.30 WIB di IGD.

Keluhan Utama : Demam


Keluhan tambahan : Telapak kaki dan tangan dingin.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dibawa oleh orang tuanya ke IGD RSUD DR. H Soewondo
Kendal dengan keluhan demam sejak kurang lebih 3 hari yang lalu sebelum masuk RS.
Demam timbul mendadak dan dirasakan naik turun, tidak ada keluhan mual, muntah,
ataupun mencret. Saat dibawa ke RS telapak kaki dan tangan pasien dingin, pasien
tampak lemas, dan tidak ada mual serta muntah. Sebelumnya pasien sudah diberikan obat
penurun panas, demam turun sesaat tetapi muncul kembali. Pasien tidak mengeluh batuk
dan pilek, tidak ada sakit telinga maupun cairan yang keluar dari telinga, pasien tidak
menggigil. Buang air besar tidak ada keluhan, pasien terakhir buang air kecil 1 hari
sebelum masuk RS pada jam 19.00.

 RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


- Anak sering demam, batuk dan pilek sebelumnya tapi tidak pernah rawat inap.
- Riwayat berpergian jauh disangkal.

Penyakit lain yang pernah diderita anak


Flek/ TB : disangkal
Faringitis : disangkal
Pneumonia : disangkal
Pertusis : disangkal
Varicella : disangkal
Bronkitis : disangkal
Malaria : disangkal
Polio : disangkal
Trauma : disangkal
Reaksi obat/ alergi : disangkal
Difteri : disangkal

 RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Keluarga tidak ada yang sakit seperti ini.
Keluarga tidak ada riwayat sakit seperti ini sebelumnya.
 RIWAYAT SOSIAL EKONOMI
Ayah merupakan wiraswasta dan Ibu merupakan ibu rumah tangga. Pasien berobat
dengan biaya Umum.
Kesan ekonomi: Cukup.

B. DATA KHUSUS
1. Riwayat Persalinan dan Kehamilan
Anak laki-laki lahir dari ibu P1A0 hamil 38 minggu, antenatal care teratur di bidan,
tidak ada penyakit selama kehamilan, tidak ada riwayat konsumsi obat atau jamu
selama hamil, lahir secara spontan ditolong di bidan, berat badan lahir 2800 gram,
panjang badan, lingkar kepala dan dada saat lahir ibu lupa, anak lahir langsung
menangis, tidak kebiruan, tidak ada kekuningan
Kesan : bayi aterm sesuai masa kehamilan.

2. Riwayat Pemeliharaan Prenatal


Ibu pasien memeriksakan kehamilannya kebidan, rutin setiap bulan. Sakit selama
hamil (-), demam (-), kuning (-), keputihan (-), perut tegang (-), BAK sakit dan
anyang-anyangan (-), kencing manis (-), dan darah tinggi (-).
Kesan : Perawatan antenatal ibu pasien baik

3. Riwayat Pemeliharaan Postnatal


Pemeliharaan postnatal dilakukan di bidan setelah beberapa saat pasien lahir, tidak
ada kelainan pada anak.
Kesan : Pemeliharaan postnatal baik

4. Riwayat Makan – Minum


ASI diberikan sejak lahir sampai usia 2 tahun.
Sejak usia >6 bulan diberikan ASI dan makanan pendamping ASI berupa bubur bayi
sebanyak 3x sehari.
Kesan: Kualitas dan kuantitas cukup.

IMT :
Berat Badan (Kg) / Tinggi Badan (m) x Tinggi badan (m) = 23 kg / 1,26 ² m
= 14,55 (Normal)

Kesan : Status gizi baik.

5. Riwayat Imunisasi Dasar


Vaksin Umur
0 bulan 1 bulan 2 bulan 3 bulan 4 bulan 9 bulan 18 bulan
BCG √
DPT √ √ √ √
Polio √ √ √ √ √
Campak √
Hepatitis B √ √ √ √
Hib √ √ √

Kesan imunisasi dasar: lengkap

C. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan


- Pertumbuhan gigi pertama : 6 bulan
- Gangguan perkembangan mental : Tidak ada
- Psikomotor :
Senyum : 2 bulan
Miring : 3 bulan
Tengkurap : 5 bulan
Duduk : 8 bulan
Berdiri berpegangan : 9 bulan
Berjalan : 13 bulan
Berbicara : 17 bulan
Bertepuk tangan : 24 bulan
Saat ini anak laki-laki berusia 8 tahun 1 bulan, BB 23 kg dan TB 126 cm, anak aktif dan
mau bila diajak bersosialisasi dengan teman di lingkungan rumahnya.
Kesan : Pertumbuhan sesuai usia, perkembangan sesuai usia.

D. PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada tanggal 25 Februari 2019 jam 10.30 WIB
Keadaan Umum : Lemah
Kesadaran : Composmentis
 Umur : 8 tahun 1 bulan
 Berat badan : 23 kg
 Tinggi badan : 126 cm
 Tekanan darah : 120/90 mmHg
 Suhu badan : 36,5 ºC (axilla)
 Nadi : 88 kali/menit, irama regular, isi dan tegangan lemah, teraba lemah.
 Frekuensi nafas : 24 kali/menit
Status Internus
Kepala : mesocephale.
Rambut : hitam, tidak mudah dicabut.
Kulit : petekie (-), sianosis (-), turgor kembali cepat.
Mata : oedem palpebra (-/-), sklera ikterik (-/-), konjungtiva anemis (-/-), mata
cekung (-).
Hidung : epistaksis (-/-), nafas cuping hidung (-/-), sekret (-/-)
Telinga: discharge (-/-), nyeri (-/-)
Mulut : bibir kering (-/-), bibir sianosis (-), lidah kotor (-), gusi berdarah (-)
Leher : simetris, pembesaran kelenjar limfe (-)
Tenggorok : faring hiperemis (-), tonsil T1-T1
Thorax
Paru-paru :
 Inspeksi : Hemithorax dextra sama dengan sinistra
 Palpasi : Strem fremitus dextra dan sinistra simetris
 Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru
 Auskultasi : Suara Dasar Vesikuler, Wheezing (-), Ronkhi (-)

Jantung:
 Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
 Palpasi : ictus cordis tidak kuat angkat

 Perkusi :
 Batas kiri : ICS IV, linea midclavicula sinistra
 Batas atas : ICS II, linea parasternal sinistra
 Batas kanan : ICS IV, linea sternalis dextra
 Batas pinggang : ICS III linea parasternal kiri

 Auskultasi : BJ I-II normal regular, bising (-)

Abdomen
Inspeksi : datar tak tampak gerak peristaltik
Auskultasi : Bising Usus (+) normal 6x / menit
Perkusi : Timpani seluruh lapang abdomen
Palpasi : nyeri tekan (-), supel, hepar dan lien tidak teraba pembesaran
Alat kelamin : laki-laki, tidak ada kelainan

Ekstremitas : Atas (ka/ki) Bawah (ka/ki)


 Capilary refill : < 2” < 2”

 Akraldingin : +/+ +/+

 Sianosis : -/- -/-

Pemeriksaan Neurologis
 Motorik : Koordinasi baik, kekuatan 5/5
 Sensorik : sensorik baik
 Tonus : ( - )
 Klonus : ( - )
 Reflek Fisiologis : (+/+)
Reflek Patologis :
 R. Babinsky :(-/-)
 R. Chaddock :(-/-)
Meningeal Sign :
 Kaku kuduk :(-)
 Brudzinsky I :(-)
 Brudzinsky II :(-)
 Kernig sign :(-)

Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium

Tanggal 25 Febreuari 2019 ( pukul 07.30 ) :

PEMERIKSAAN HASIL NILAI NORMAL

HB 15 g/l 11,5 - 16,5 g/dl

LEUKOSIT 4600 /uI 4000-11.000 /uI

TROMBOSIT 156.000 / uI 150.000 - 500.000/uI

HEMATOKRIT 44,6 % 35 – 49 %
RESUME :

Pasien anak laki-laki usia 8 tahun datang ke RSUD dr. H Soewondo Kendal dengan keluhan
demam 3 hari yang lalu, demam mendadak dan naik turun, datang disertai dengan akral
dingin pada ekstremitas atas kanan dan kiri serta ekstremitas bawah kanan dan kiri. BAK
terakhir 1 hari yang lalu pukul 19.00 WIB.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya akral dingin, dan pada pemeriksaan laboratorium
darah rutin ditemukan hasil masih dalam batas normal.

E. ASSESMENT
Diagnosis Banding
1. Dengue Syok Syndrom
2. Dengue Hemmoragic Fever (DHF)
3. Demam Typhoid
4. Malaria

Diagnosis kerja
Dengue Syok Syndrom (DSS)
INITIAL PLAN :
1. IP DX :
- Pemeriksaan laboratorium : darah rutin, imunoserologi.
- Pemerikaan radiologi : X-Foto thorax
2. IP TX :
 Medikamentosa :
- Infus RL 20ml/kgBB secepatnya (maksimal 30 menit), ulangi jika tidak ada perbaikan
klinis
- Infus RL maintanance 30 tpm.
- Oksigen nasal kanul 2 lpm
- Injeksi Ranitidin 2x ½ ampul
 Non-Medikamentosa :
- Tirah baring
- Pemberian asupan cairan dalam jumlah banyak untuk cegah dehidrasi.
3. IP MX :
- Awasi KU dan tanda vital serta tanda syok setiap jam.
- Periksa nilai hematokrit setiap 6 jam.
4. IP EX :
- Memberikan pengetahuan tentang DBD dan cara penanganannya.
- Memberikan informasi tentang kemungkinan adanya syok berulang.
- Pemberian obat dan cairan secara tepat, dengan memperhatikan efek samping
pemberian.

PROGNOSIS
 Ad vitam : Dubia ad bonam
 Ad Functionam : Dubia ad bonam
 Ad Sanationam : Dubia ad bonam

FOLLOW UP PASIEN DI RUMAH SAKIT


25 Februari 2019
S Demam (+) Hari ke 3, akral dingin (+)
O - KU lemah - Kesadaran composmentis
- HR : 88 x/menit - T : 36,5 º C
- RR : 24 x/menit - SpO2 : 97%
- akral dingin (+)
- nadi : 88 x/menit kuat angkat lemah , isi dan tegangan lemah.
A Pre syok, susp. DHF
P - Infus RL 30 tpm
- Oksigen nasal kanul 2 lpm
- Injeksi Ranitidin 2x ½ ampul
- Monitor KU dan TTV, serta tanda syok.
Tanggal 25 Februari 2019 (pukul 17.00) :

PEMERIKSAAN HASIL NILAI NORMAL

HB 12,2 g/l 11,5 - 16,5 g/dl


26
LEUKOSIT 4600 /uI 4000-11.000 /uI

TROMBOSIT 123.000 / uI 150.000 - 500.000/uI

HEMATOKRIT 37,5 % 35 – 49 %

IGM SALMONELLA Negatif Negatif


TYPHI
Februari 2019
S Demam (-), akral dingin (+)
O - KU : lemah - Kesadaran : composmentis
- TD : 100/70 mmHg - SpO2 : 99%
- HR : 72 x/menit - T : 36,3 º C
- RR : 24 x/menit - akral dingin (+)
- nadi : 72 x/menit reguler, kuat angkat, isi dan tegangan cukup.
A DSS hari ke 4
P - Infus RL 30 tpm
- Oksigen nasal kanul 2 lpm
- Injeksi Ranitidin 2x ½ ampul
- Monitor KU dan TTV, serta tanda syok

Tanggal 26 Februari 2019 (pukul 06.30) :

PEMERIKSAAN HASIL NILAI NORMAL

HB 12,6 g/l 11,5 - 16,5 g/dl

LEUKOSIT 6800 /uI 4000-11.000 /uI

TROMBOSIT 106.000 / uI 150.000 - 500.000/uI

HEMATOKRIT 38,3 % 35 – 49 %

IGM DENGUE Negatif Negatif

IGG DENGUE Positif Negatif


Tanggal 26 Februari 2019 (pukul 16.30) :
PEMERIKSAAN HASIL NILAI NORMAL

HB 11,6 g/l 11,5 - 16,5 g/dl

LEUKOSIT 6300 /uI 4000-11.000 /uI

TROMBOSIT 101.000 / uI 150.000 - 500.000/uI

27 HEMATOKRIT 35,9 % 35 – 49 %
Februari 2019
S Demam (-), akral dingin (+)
O - KU : baik - kesadaran : composmentis
- HR : 60 x/menit - T : 35,1º C - TD : 110/70 mmHg
- RR : 20 x/menit - SpO2 : 99%
- nadi : 60 x/menit kuang angkat lemah, isi dan tegangan cukup.
A DSS hari ke 5
P - Infus RL 30 tpm
- Oksigen nasal kanul 2 lpm
- Injeksi Ranitidin 2x ½ ampul
- Monitor KU dan TTV, serta tanda syok

Tanggal 27 Februari 2019 (pukul 06.30) :

PEMERIKSAAN HASIL NILAI NORMAL

HB 11,1 g/l 11,5 - 16,5 g/dl

LEUKOSIT 5780 /uI 4000-11.000 /uI

TROMBOSIT 91.000 / uI 150.000 - 500.000/uI

HEMATOKRIT 32,1 % 35 – 49 %
Tanggal 27 Februari 2019 (pukul 17.30) :

PEMERIKSAAN HASIL NILAI NORMAL

HB 10,8 g/l 11,5 - 16,5 g/dl

LEUKOSIT 5600 /uI 4000-11.000 /uI

TROMBOSIT 96.000 / uI 150.000 - 500.000/uI

HEMATOKRIT 32,8 % 35 – 49 %
28 Februari 2019

S Demam (-), akral dingin (-)


O - KU : baik - Kesadaran : composmentid
- HR : 100 x/menit - T : 36,5º C - TD : 110/70 mmHg
- RR : 20 x/menit - SpO2 : 96%
- nadi : 100 x/ menit reguler, kuat angkat, isi dan tegangan cukup.
A DHF
P - Infus RL 18 tpm
- Infus lasix 2x 10 mg
- Monitor KU dan TTV, serta tanda syok

Tanggal 28 Februari 2019 (pukul 06.50) :

PEMERIKSAAN HASIL NILAI NORMAL

HB 10,7 g/l 11,5 - 16,5 g/dl

LEUKOSIT 5200 /uI 4000-11.000 /uI

TROMBOSIT 124.000 / uI 150.000 - 500.000/uI

HEMATOKRIT 32,9 % 35 – 49 %
Tanggal 28 Februari 2019 (pukul 17.45) :

PEMERIKSAAN HASIL NILAI NORMAL

HB 10,4 g/l 11,5 - 16,5 g/dl

LEUKOSIT 5300 /uI 4000-11.000 /uI

TROMBOSIT 159.000 / uI 150.000 - 500.000/uI

HEMATOKRIT 32,3 % 35 – 49 %
01 Maret 2019
S Demam (-), akral dingin (-)
O - KU : baik - Kesadaran : composmentid
- HR : 98 x/menit - T : 36,6 º C
- RR : 24 x/menit - SpO2 : 95 %
- nadi : 98 x/menit reguler, kuat angkat, isi dan tegangan cukup.
A DHF
P - Infus RL 18 tpm
- P.o lasix 2x 10 mg
- Monitor KU dan TTV, serta tanda syok
- BLPL
TINJAUAN PUSTAKA

I. DEFINISI

Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)


adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis
demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati,
trombositopenia, dan diatesis hemoragik. Demam Berdarah Dengue adalah suatu
penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue terutama menyerang anak-anak
dengan ciri-ciri demam tinggi mendadak, disertai manifestasi perdarahan dan
berpotensi menimbulkan renjatan/syok yang sering disebut Dengue Shock Syndrome
(DSS), serta dapat pula menyebabkan kematian.

II. ETIOLOGI
Penyakit demam berdarah dengue ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti
yang banyak ditemukan dan hampir selalu menggigit di dalam rumah pada waktu
siang hari. Penyebabnya adalah virus dengue yang termasuk dalam genus Flavivirus,
keluarga Flaviviridae. Terdapat 4 serotip virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan
DEN-4 yang ditularkan melalui vektor nyamuk Aedes aegypti, nyamuk Aedes
albopictus, Aedes polynesiensis dan beberapa spesies lain merupakan vektor yang
kurang berperan. Infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi
seumur hidup terhadap serotipe besangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap
serotipe lain.

III. PATOFISIOLOGI
Hal pertama yang terjadi setelah virus masuk ke dalam tubuh penderita adalah
viremia yang mengakibatkan penderita mengalami demam, sakit kepala, mual, nyeri
otot, pegal-pegal diseluruh tubuh, ruam atau batuk, bintik-bintik merah pada kulit
(ptekie), hiperemi tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi seperti pembesaran
kelenjar getah bening, pembesaran hati (hepatomegali) dan pembesaran limpa.
Peningkatan permeabilitas dinding kapiler mengakibatkan berkurangnya volume
plasma, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi dan hipoproteinemia serta efusi dan
renjatan (syok).
Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit lebih dari 20%) menggambarkan
adanya kebocoran (perembesan) plasma sehingga nilai hematokrit menjadi penting
untuk patokan pemberian cairan intravena. Oleh karena itu, pada penderita DHF
sangat dianjurkan untuk memantau hetokrit darah berkala untuk mengetahui berapa
persen hemokonsentrasi terjadi.

PATWAY
IV. TANDA DAN GEJALA
Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis menurut WHO terdiri dari
kriteria klinis dan laboratoris.
a) Kriteria klinis:
1) Demam tinggi mendadak tanpa sebab jelas berlangsung 2-7 hari, biasanya
bifasik (fase kritis : pada hari ke 2-3 demam turun).
2) Terdapat manifestasi perdarahan termasuk uji torniquet postif, petekia,
ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis dan atau melena
3) Pembesaran hati
Ditemukan pada permulaan demam, sifatnya nyeri tekan dan tanpa disertai
ikterus.
4) Terdapat tanda-tanda kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lemah,
penurunan tekanan nadi, hipotensi, kaki dan tangan dingin, kulit lembab dan
pasien tampak gelisah
b) Kriteria laboratoris
1) Trombositopenia (≤ 100.000/mm3)
2) Hemokonsentrasi, dapat dilihat dari kenaikan hematokrit 20% atau lebih
menurut standar umur dan jenis kelamin, atau terdapat bukti kebocoran plasma
lainnya (hipoalbuminemia, efusi pleura, asites)
3) Penurunan hematokrit >20 % setelah pemberian cairan.
Dua kriteria klinis pertama ditambah trombositopenia dan hemokonsentrasi atau
peningkatan hematokrit cukup untuk menegakkan diagnosis klinis DBD.
Efusi pleura dan atau hipoalbuminemia dapat memperkuat diagnosis terutama
pada pasien anemia dan atau terjadi perdarahan. Pada kasus syok, peningkatan
hematokrit dan adanya trombositopenia mendukung diagnosis DBD.
Untuk Sindrom Syok Dengue (SSD) memiliki seluruh kriteria diagnosis DBD
dan disertai dengan kegagalan sirkulasi dengan manifestasi klinis sebagai berikut :
1) Nadi cepat dan lemah.
2) Tekanan darah turun (<20 mmHg)
3) Kulit dingin atau akral dingin
4) Gelisah

V. DERAJAT PENYAKIT VIRUS DENGUE


Penyakit virus dengue diklasifikasikan berdasarkan derajat beratnya penyakit,
secara klinis dibagi menjadi:
I.) Demam Dengue
Demam disertai 2 atau lebih tanda sakit kepala, nyeri retro-orbital, mialgia,
artralgia
II.) DBD Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan, trombositopenia
dan hemokonsentrasi. Uji tourniquet (+).
III.) DBD Derajat II
Derajat I dan disertai pula perdarahan spontan pada kulit atau tempat lain.
IV.) DBD Derajat III
Ditemukan kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan darah
rendah (hipotensi), gelisah, sianosis sekitar mulut, hidung dan jari (tanda-tanda
dini syok).
V.) DBD Derajat IV
Syok berat disertai dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG


a) Pemeriksaan Laboratorium

Darah :

- Kadar trombosit darah menurun (trombositopenia), biasanya pada hari ke 3-8.

- Hematokrit meningkat lebih dari 20%, merupakan indikator akan timbulnya


rejatan.

- Hemoglobin meningkat lebih dari 20%.

- Lekosit dapat normal atau menurun (lekopenia) pada hari kedua atau ketiga.
Dapat ditemukan limfositosis relatif (>45% dari total leukosit), dan ada
limfosit plasma biru (LPB) > 15% dari total leukosit.

- Hemostatis : dapat dilakukan PT, APTT, FDP pada keadaan yang dicurigai
terjadi perdarahan atau kelainan pembekuan darah.

- Protein rendah (hipoproteinemia), akibat kebocoran plasma.

- Natrium rendah (hiponatremia)

- SGOT/SGPT bisa meningkat

- Imunoserologi : IgM dan IgG terhadap dengue.

Urine :

Kadar albumin urine positif (albuminuria)

b) Pemeriksaan Imaging
 Foto thoraks
 USG
 CT-Scan Kepala tanpa kontras
c) DIAGNOSIS BANDING
Pada saat fase demam sebagai diagnosis banding adalah berbagai macam infeksi
virus, parasit, dan bakteri misalnya demam tifoid, penyakit demam oleh karena virus
dengan manifestasi perdarahan, leptospirosis, malaria, sedangkan tonsilpharyngitis
sering sebagai diagnosis pada saat infeksi dengue di awal demam. Pada manifestasi
demam dengan perdarahan seperti idiopatic Trombositopeni Purpura (ITP) atau awal
suatu Leukimia kadang perlu diperhitungkan sebagai diagnosis banding dari DBD
derajat II.
d) PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan penderita dengan DBD dengan syok adalah sebagai berikut :

1) Berikan oksigen dengan nasal kanul 2-4 liter/menit.


2) Berikan 20ml/kgBB larutan kristaloid.
3) Jika tidak ada perbaikan klinis, ulang pemberian kristaloid 20ml/kgBB secepatnya
(maksimal 30 menit) atau pertimbangkan pemberian koloid 10-20ml/kgBB/jam
maksmimal 30ml/kgBB/24 jam.
4) Jika tetap tidak ada perbaikan klinis tetapi hematokrit dan hemoglobin menurut
pertimbangkan terjadinya perdarahan tersembunyi, berikan transfusi darah/komponen.
5) Jika terdapat perbaikan klinis (pengisian kapiler dan perfusi perifer mulai membaik,
tekanan nadi melebar), jumlah cairan dikurangi hingga 10ml/kgBB/jam dalam 2-4
jam, dan bertahap diturunkan tiap 4-6 jam sesuai kondisi klinis dan laboratorium.
6) Cairan intravena dapat dihentikan dalam 36-48 jam, untuk menghindari komplikasi
pemberian cairan terlalu banyak.

e) KOMPLIKASI
1) Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)
2) Acute Respiratory Distress Syndrome
3) Enchephalopathy, perdarahan intrakranial
4) Disfungsi liver

DAFTAR PUSTAKA
1. World Health Organization. Pocket Book of Hospital Care for Children, Guidelines
for the Management of Common Illnesses with Limited Resources. WHO Indonesia.
Jakarta : 2008;
2. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi VI. Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta : 2010.
3. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK Unhas. Standar Pelayanan Medik. Bagian
Ilmu Kesehatan Anak FK Unhas Makassar.
4. Keddy KH, Sooka A, Letsoalo ME, Hoyland G, Chaignat CL, Morrissey, et al. Bull.
World Health Organisation. 2011 Sep 1;89(9):640-7.
http://www.who.int/bulletin/online_fist/11-087627.pdf. [31 Mei 2013].
5. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Ilmu Kesehatan Anak. Bagian Ilmu
KesehatanAnak FKUI Jakarta. 1985
6. Haslam Robert H. A. Sistem Saraf, dalam Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Vol. 3, Edisi
15. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta : 2000;