Você está na página 1de 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut Toy, et al (2011) dan Garna, dkk (2012), Otitis media akut merupakan
peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid,
dan sel-sel mastoid. Keadaan seperti ini mengakibatkan nyeri telinga dan juga mengakibatkan
membram timpani menjadi merah, opak, kaku, dan benjol. Prevalensi terjadinya otitis media di
seluruh dunia untuk usia 10 tahun sekitar 62 % sedangkan anak-anak berusia 3 tahun sekitar 83
%. Di Amerika Serikat, diperkirakan 75 % anak mengalami minimal 1 episode otitis media
sebelum usia 3 tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya 3 kali atau lebih. Di
Inggris, setidaknya 25 % anak mengalami minimal 1 episode sebelum usia 10 tahun. Di negara
tersebut otitis media paling sering terjadi pada usia 3-6 tahun. Resiko kekambuhan otitis media
terjadi pada beberapa faktor, antara lain usia <5 thn, otitis prone (pasien yang mengalami otitis
pertama kali pada usia <6 bln, 3 kali dalam 6 bln terakhir), infeksi pernapasan, perokok, dan laki-
laki. (Padang, 2013).
Insidens otitis media pada anak-anak di Indonesia berbeda-beda, disimpulkan rata-rata
14-62 %. Penelitian sebelumnya yang dilakukan di Jakarta di TK dan SD Al-Azhar pada usia 4-
12 tahun didapatkan prevalensi otitis media efusi sebesar 23,71 %. Bahkan prevalensi OM yang
berkembang menjadi supuratif kronik (OMSK) di Bantul mencapai angka 5,28% (Padang, 2013).
Dari data Puskesmas Kartasura pada bulan april 2013 ditemukan penderita Hipertensi sebanyak
225 pasien, Diabetes Mellitus sebanyak 75 pasien, Asma sebanyak 39 pasien, hipertensi saat
hamil sebanyak 10 pasien, Bronkitis kronis sebanyak 15 pasien, Infeksi Saluran Pernapasan
Akut sebanyak 10 pasien, Bronkitis akut sebanyak 9 pasien, Febris sebanyak 7 pasien, Diare
sebanyak 5 pasien dan Thypus abdominalis sebanyak 3 pasien. Sedangkan data yang didapat
dari bidan Puskesmas Kartasura menyebutkan bahwa ada sebanyak 17 pasien anak – anak
yang terkena otitis media akut.

B. TUJUAN
1. Untuk mengetahui tentang konsep penyakit Otitis Media.
2. Untuk memahami Asuhan keperawatan pada Penyakit Otitis Media.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Otitis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh mukosa telinga
tengah, tuba Eustachius, Antrum Mastoid, dan sel-sel mastoid. Infeksi saluran telinga
meliputi, infeksi saluran telingga luar (otitis eksternal), saluran telinga tengah (otitis
media), mastoid (mastoiditis) dan telinga bagian dalam (labyrinthitis). Otitis media
adalah suatu inflamsi telinga tengah berhubungan dengan efusi telinga tengah yang
merupakan penumpukan cairan ditelinga tengah (Brunner & Suddarth, 2011).
Klasifikasi otitis media :
1. Otitis media akut terjadi karena faktor pertahanan tubuh terganggu
2. Otitis media sub akut terjadi pada infeksi akut ditelinga tengah, biasanya
berlangsung kurang dari 6 minggu.
3. Otitis media kronik terjadi infeksi dengan peforasi membrane timpani dan secret
yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul. Secret mungkin
encer atau kental, bening atau berupa nanah. Otitis media akut menjadi otitis media
kronik apabila proses infeksi lebih dari 2 bulan.

B. Etiologi
Otitis media (OM) sering terjadi setelah infeksi saluran nafas atas oleh bakteri
atau virus yang menyebabkan peradangan dimukosa, gangguan drainase telinga
tengah dan menyebabkan penumpukan cairan steril. Bakteri atau virus masuk ke
telinga tengah melalui tuba eustachius yang menyebabkan infeksi telinga tengah.
Kuman penyebab utama otitis media akut adalah bakteri piogenik seperti Streptococcus
Hemolitikus, Stapilococcus Aureus, Diplococcus Pneumokukus. Selain itu kadang
ditemukan juga hemofilus infulens sering ditemukan pada anak yang berusia dibawah 5
tahun, Escherichia Colli, Streptokokus Anhemolitikus, Proteus Vulgaris dan
Pseudomonas Aurugenos ( Huda, 2016).

2
1. Bakteri
Bakteri piogenik merupakan penyebab OMA yang tersering. Menurut penelitian,
65-75% kasus OMA dapat ditentukan jenis bakteri piogeniknya melalui isolasi bakteri
terhadap kultur cairan atau efusi telinga tengah. Kasus lain tergolong sebagai non-
patogenik karena tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya. Tiga jenis bakteri
penyebab otitis media tersering adalah Streptococcus Pneumoniae (40%), diikuti
oleh Haemophilus Influenzae (25-30%) dan Moraxella catarhalis (10-15%). Kira-kira
5% kasus dijumpai patogen-patogen yang lain seperti Streptococcus Pyogenes
(group A Beta-Hemolytic), Staphylococcus Aureus, dan organisme gram negatif.
Staphylococcus aureus dan organisme gram negatif banyak ditemukan pada anak
dan neonatus yang menjalani rawat inap di rumah sakit. Haemophilus Influenzae
sering dijumpai pada anak balita. Jenis mikroorganisme yang dijumpai pada orang
dewasa juga sama dengan yang dijumpai pada anak-anak.

2. Virus
Virus juga merupakan penyebab OMA. Virus dapat dijumpai tersendiri atau
bersamaan dengan bakteri patogenik yang lain. Virus yang paling sering dijumpai
pada anak-anak, yaitu Respiratory Syncytial Virus (RSV), Influenza Virus, atau
Adenovirus (sebanyak 30-40%). Kira-kira 10-15% dijumpai para Influenza Virus,
Rhinovirus atau Enterovirus. Virus akan membawa dampak buruk terhadap fungsi
tuba Eustachius, menganggu fungsi imun lokal, meningkatkan adhesi bakteri,
menurunkan efisiensi obat antimikroba dengan menganggu mekanisme
farmakokinetiknya (Kerschner, 2007). Dengan menggunakan teknik polymerase
chain reaction (PCR) dan virus specific enzyme-linked immunoabsorbent assay
(ELISA), virus-virus dapat diisolasi dari cairan telinga tengah pada anak yang
menderita OMA pada 75% kasus.

Gambar 2.1 Otitis Media

3
C. Anatomi fisiologi

4
D. Patofisiologis

Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas yang menyebar ke
telinga tengah lewat saluran Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius,
mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan
di sekitar saluran, tersumbatnya saluran menyebabkan transudasi, dan datangnya sel-
sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri
dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam
telinga tengah. Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu
karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan
organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Selain itu telinga juga
akan terasa nyeri. Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya
dapat merobek gendang telinga karena tekanannya. Otitis media akut yang berlansung
selama lebih dari 2 bulan dapat berkemban menjadi otitis media supuratif kronis apabila
factor higine kurang diperhatikan, terapi yang terlambat, pengobatan tidak adekuat, dan
adanya daya tahan tubuh yang kurang baik.

Gambar 2.2 fase otitis media

5
E. Manifestasi Klinis
1. Otitis Media Akut
Berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah, OMA dapat dibagi atas 5 stadium
yaitu sebagia berikut :
a. Stadium Radang Ruba Eustachii (Salpingitis)
Stadium ini ditandai dengan adanya gambaran retraksi membran timpani akibat
terjadinya tekanan negatif di dalam telinga tengah, karena adanya absorbs udara.
Kadang-kadang membran timpani sendiri tampak normal atau bewarna keruh
pucat. Efusi mungkin telah terjadi, tetapi tidak dapat dideteksi. Dari penderita
sendiri biasanya mengeluh telinga terasa tersumbat (oklusi tuba), gemrebeg
(tinnitus low frequence), kurang dengar, seperti mendengar suara sendiri (otofoni)
dan kadang-kadang penderita merasa pengeng tapi belum ada rasa otalgia.
b. Stadium Hiperemis (Presupurasi)
Pada stadium hiperemis, tampak pembuluh darah yang melebar di membran
timpani atau seluruh membrane timpani. Mukosa cavum timpani mulai tampak
hiperemis atau oedem. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat
aksudat yang serosa sehingga sukar terlihat. Pada stadium ini penderita
merasakan otalgia karena kulit di membran timpani tampak meregang.
c. Stadium Supurasi
Odema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel
superficial serta terbentuknya eksudat yang purulen di cavum timpani,
menyebabkan membran timpani menjadi menonjol (bulging) kea rah telinga luar.
Pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta
rasa nyeri ditelinga bertambah hebat. Pada anak-anak sering disertai kejang dan
anak menjadi rewel. Apabila tekanan eksudat yang purulen di cavum timpani tidak
berkurang, maka terjadi iskemik akibat tekanan pada kapiler-kapiler serta terjadi
trombophlebitis pada vena-vena kecil dan nekrosis mukosa dan submukosa.
Nekrosis ini pada membrane timpani terlihat sebagai daerah yang lebih lembek
dan bewarna kekuningan, ditempat ini akan terjadi ruptur. Sehingga bila tidak
dilakukan incisi membran timpani (miringitomi) maka kemungkinan besar
membran timpani akan ruptur dan discharge keluar ke liang telinga luar. Dengan
melakukan miringitomi luka incisi akan menutup kembali karena belum terjadi
perforasi spontan dan belum terjadi nekrosis pada pembuluh darah.

6
d. Stadium Perforasi
Stadium ini terjadi apabila terjadi ruptur pada membran timpani yang bulging pada
saat stadium supurasi. Lubang tempat rupture (perforasi) tidak mudah menutup
kembali.
e. Stadium Resolusi
Membran timpani yang utuh, bila terjadi kesembuhan maka keadaan membrane
timpani perlahan-lahan akan normal kembali. Sedangkan pada membrane timpani
yang utuh tapi tidak terjadi kesembuhan, maka akan berlanjut menjadi glue ear.
Pada keadaan ini sebaiknya dilakukan incisi pada membran timpani (miringitomi)
untuk mencegah terjadinya perforasi spontan. Pada membran timpani yang
mengalami perforasi, bila terjadi kesembuhan dan menutup maka akan menjadi
sikatrik, bila terjadi kesembuhan dan tidak menutup maka akan menjadi dry ear
(secret berkurang dan akhirnya kering). Sedangkan bila tidak terjadi kesembuhan
maka akan berlanjut menjadi otitis media supuratif kronik (OMSK) dimana sekret
akan keluar terus menerus atau hilang timbul (Huda, 2016).
2. Otitis media sub akut
Otitis media akut adalah infeksi akut ditelinga tengah, biasanya berlangsung kurang
dari 6 minggu. Patogen yang menyebabkan otitis media akut biasanya adalah
Streptococcus pneumonia, Haemophilus influenza, dan Moraxella catarrhalis yang
memasuki telinga tengah setelah tuba eustasius mengalami disfungsi akibat obstruksi
yang disebabkan oleh infeksi pernapasan atas, inflamasi jaringan sekitar (misal
rinosinusitis, hipertrofi adenoid) atau reaksi alergi (misal rhinitis alergik). Bacteria
dapat memasuki tuba eustasius dari sekresi yang terkontaminasi didalam nasofaring
dan telinga tengah akibat perforasi membrane timpani. Gangguan ini paling sering
terjadi pada anak-anak (Brunner & Suddarth, 2011).
3. Otitis media kronik/ menetap
Otitis media kronis disebabkan oleh episode otitis media akut yang menyebabkan
patologis jaringan permanen (ireversibel) dan perforasi persisten pada membrane
timpani. Infeksi kronis pada telinga tengah menyebabkan kerusakan membrane
timpani, yang dapat menghancurkan osikel dan dapat mengenai mastoid (Brunner &
Suddarth, 2011).

7
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Otitis media inteksiosa (akut) akan tampak sebagai penonjolan gendang telinga
yang merah pada pemeriksaan autoskop. Gambaran tulang dan reflek cahaya
mungkin kabur.
2. Otitis media seroti akan tampak sebagai gendang telinnga yang berwarna abu-
abu dan menonjol atau cekung kedalam.
3. Pemeriksaan audiologi mungkin memperlihatkan penurunan pendengaran.
4. Otoscope untuk melakukan auskultasi pada bagian telinga luar.
5. Timpanogram untuk mengukur kesesuaian dan kekakuan membrane timpani.
6. Kultur dan uji sensitifitas ; dilakukan bila dilakukan timpanosentesis (Aspirasi
jarum dari telinga tengah melalui membrane timpani).
7. Otoskopi pneumatik (pemeriksaan telinga dengan otoskop untuk melihat
gendang telinga yang dilengkapi dengan udara kecil). Untuk menilai respon
Gendang telinga terhadap perubahan tekanan udara.

G. Komplikasi
 Otitis media akut
1. Abses subperiosteal
2. Abses otak dapat timbul di serebellum di fossa kranii posterior, atau pada lobus
temporal di fossa kranii media. Abses otak biasanya terbentuk sebagai perluasan
langsung infeksi telinga atau tromboflebitis. Suatu abses epidural biasanya
terbentuk mendahului abses otak. Serebritis lokal (ensefalitis), menyebabkan
timbulnya nekrosis dan liquefaksi, dimana pada dindingnya terbentuk fibrosis dan
jaringan granulasi. Abses dapat mengalami ruptur ke daerah ventrikel dan rongga
subarachnoid, akibatnya terjadi meningitis dan berakhir dengan kematian. Pada
umurnnya organisme penyebab abses sangat beragam, diantaranya yaitu dari
spesies streptokokus dan stapilokokus, bakteri gram negatif seperti pseudomonas,
proteus dan Escherichia coli serta bakteri-bakteri anaerob.
3. Meningitis dapat terjadi disetiap saat dalam perjalanan komplikasi infeksi telinga.
Jalan penyebaran yang biasa terjadi yaitu melalui penyebaran langsung, jarang
melalui tromboflebitis. Pada waktu kuman menyerang biasanya streptokokkus,
pneumokokkus, atau stafilokokkus atau kuman yang lebih jarang H. Influenza,
koliform, atau piokokus, menginvasi ruang sub arachnoid, pia-arachnoid bereaksi

8
dengan mengadakan eksudasi cairan serosa yang menyebabkan peningkatan
ringan tekanan cairan spinal.
 Otitis media kronis
1. Membran timpani pecah.
Salah satu kemungkinan komplikasi infeksi telinga adalah pecahnya gendang
telinga atau membran timpani. Membran timpani dapat pecah ketika cairan
menekannya yang mengurangi aliran darah dan menyebabkan jaringannya
melemah. Pecahnya membran ini tidak sakit dan banyak orang bahkan merasa
lebih baik karena tekanan dilepaskan. Untungnya, membran timpani biasanya
pulih dengan cepat setelah pecah dalam beberapa jam atau hari.
2. Penumpukan cairan.
Cairan yang mengumpul di belakang gendang telinga (efusi) dapat bertahan
selama berminggu-minggu sampai berbulan-bulan setelah rasa sakit dan infeksi
menghilang. Efusi menyebabkan gangguan pendengaran sementara, namun
biasanya hilang sendiri tanpa pengobatan. Efusi ini perlu dipantau dari waktu ke
waktu, yang mencakup pengujian telinga dan pendengaran oleh dokter setiap
tiga sampai enam bulan sampai menghilang. Jika efusi tetap ada sampai waktu
lama, anak Anda mungkin perlu perawatan. Keputusan perawatan didasarkan
pada seberapa banyak efusi memengaruhi pendengaran dan menimbulkan
masalah berbicara.
H. Penatalaksanaan
1. Otitis Media Akut
Terapi bergantung pada stadium penyakitnya. Pengobatan pada stadium awal
ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas, dengan pemberian antibiotik,
dekongestan lokal atau sistemik, dan antipiretik.

a. Stadium Oklusi
Terapi ditujukan untuk membuka kembali tuba Eustachius sehingga tekanan
negatif di telinga tengah hilang. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,25 %
untuk anak < 12 tahun atau HCl efedrin 0,5 % dalam larutan fisiologis untuk anak
diatas 12 tahun dan dewasa. Sumber infeksi lokal harus diobati. Antibiotik
diberikan bila penyebabnya kuman.

9
b. Stadium Presupurasi
Diberikan antibiotik, obat tetes hidung dan analgesik. Bila membran timpani sudah
terlihat hiperemis difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Dianjurkan pemberian
antibiotik golongan penisilin atau eritromisin. Jika terjadi resistensi, dapat
diberikan kombinasi dengan asam klavulanat atau sefalosporin. Untuk terapi awal
diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah
sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung, gangguan pendengaran sebagai
gejala sisa dan kekambuhan. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari.

c. Stadium Supurasi
Selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran
timpani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur.

d. Stadium Perforasi
Terlihat sekret banyak keluar, kadang secara berdenyut. Diberikan obat cuci
telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu.
Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup sendiri dalam 7-10 hari.

e. Stadium Resolusi
Membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi, dan perforasi
menutup. Bila tidak, antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila tetap,
mungkin telah terjadi mastoiditis.

 Pengobatan Farmakologi

a. Pemberian Antibiotik

1. OMA umumnya adalah penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya.


2. Sekitar 80% OMA sembuh dalam 3 hari tanpa antibiotik. Penggunaan
antibiotik tidak mengurangi komplikasi yang dapat terjadi, termasuk
berkurangnya pendengaran.
3. Observasi dapat dilakukan pada sebagian besar kasus. Jika gejala tidak
membaik dalam 48-72 jam atau ada perburukan gejala, antibiotik diberikan.

10
 Sumber seperti AAFP (American Academy of Family Physician)
menganjurkan pemberian 40 mg/kg berat badan/hari pada anak dengan risiko
rendah dan 80 mg/kg berat badan/hari untuk anak dengan risiko tinggi.
 Risiko tinggi yang dimaksud antara lain adalah usia kurang dari dua tahun,
dirawat sehari-hari di daycare, dan ada riwayat pemberian antibiotik dalam
tiga bulan terakhir.
 WHO menganjurkan 15 mg/kg berat badan/pemberian dengan maksimumnya
500 mg.
 AAP menganjurkan dosis 80-90 mg/kg berat badan/hari.6 Dosis ini terkait
dengan meningkatnya persentase bakteri yang tidak dapat diatasi dengan
dosis standar di Amerika Serikat. Sampai saat ini di Indonesia tidak ada data
yang mengemukakan hal serupa, sehingga pilihan yang bijak adalah
menggunakan dosis 40 mg/kg/hari. Dokumentasi adanya bakteri yang resisten
terhadap dosis standar harus didasari hasil kultur dan tes resistensi terhadap
antibiotik.
 Antibiotik pada OMA akan menghasilkan perbaikan gejala dalam 48-72 jam.
 Dalam 24 jam pertama terjadi stabilisasi, sedang dalam 24 jam kedua mulai
terjadi perbaikan. Jika pasien tidak membaik dalam 48-72 jam, kemungkinan
ada penyakit lain atau pengobatan yang diberikan tidak memadai. Dalam
kasus seperti ini dipertimbangkan pemberian antibiotik lini kedua. Misalnya:
 Pada pasien dengan gejala berat atau OMA yang kemungkinan disebabkan
Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis, antibiotik yang kemudian
dipilih adalah amoxicillin-clavulanate.6 Sumber lain menyatakan pemberian
amoxicillin-clavulanate dilakukan jika gejala tidak membaik dalam tujuh hari
atau kembali muncul dalam 14 hari.
 Jika pasien alergi ringan terhadap amoxicillin, dapat diberikan cephalosporin
seperti cefdinir, cefpodoxime, atau cefuroxime.
 Pada alergi berat terhadap amoxicillin, yang diberikan adalah azithromycin
atau clarithromycin
 Pilihan lainnya adalah erythromycin-sulfisoxazole atau sulfamethoxazole-
trimethoprim.
 Namun kedua kombinasi ini bukan pilihan pada OMA yang tidak membaik
dengan amoxicillin.

11
 Jika pemberian amoxicillin-clavulanate juga tidak memberikan hasil, pilihan
yang diambil adalah ceftriaxone selama tiga hari.
 Perlu diperhatikan bahwa cephalosporin yang digunakan pada OMA
umumnya merupakan generasi kedua atau generasi ketiga dengan spektrum
luas. Demikian juga azythromycin atau clarythromycin. Antibiotik dengan
spektrum luas, walaupun dapat membunuh lebih banyak jenis bakteri,
memiliki risiko yang lebih besar. Bakteri normal di tubuh akan dapat terbunuh
sehingga keseimbangan flora di tubuh terganggu. Selain itu risiko
terbentuknya bakteri yang resisten terhadap antibiotik akan lebih besar.
Karenanya, pilihan ini hanya digunakan pada kasus-kasus dengan indikasi
jelas penggunaan antibiotik lini kedua.
 Pemberian antibiotik pada otitis media dilakukan selama sepuluh hari pada
anak berusia di bawah dua tahun atau anak dengan gejala berat.

 Pada usia enam tahun ke atas, pemberian antibiotik cukup 5-7 hari. Di
Inggris, anjuran pemberian antibiotik adalah 3-7 hari atau lima hari.
 Tidak adanya perbedaan bermakna antara pemberian antibiotik dalam jangka
waktu kurang dari tujuh hari dibandingkan dengan pemberian lebih dari tujuh
hari. Dan karena itu pemberian antibiotik selama lima hari dianggap cukup
pada otitis media. Pemberian antibiotik dalam waktu yang lebih lama
meningkatkan risiko efek samping dan resistensi bakteri.

b. Pemberian Analgesia/pereda nyeri

 Penanganan OMA selayaknya disertai penghilang nyeri (analgesia).


 Analgesia yang umumnya digunakan adalah analgesia sederhana seperti
paracetamol atau ibuprofen.
 Namun perlu diperhatikan bahwa pada penggunaan ibuprofen, harus
dipastikan bahwa anak tidak mengalami gangguan pencernaan seperti
muntah atau diare karena ibuprofen dapat memperparah iritasi saluran cerna.

c. Obat lain

 Pemberian obat-obatan lain seperti antihistamin (antialergi) atau dekongestan


tidak memberikan manfaat bagi anak.

12
 Pemberian kortikosteroid juga tidak dianjurkan.
 Myringotomy (myringotomy: melubangi gendang telinga untuk mengeluarkan
cairan yang menumpuk di belakangnya) juga hanya dilakukan pada kasus-
kasus khusus di mana terjadi gejala yang sangat berat atau ada komplikasi.
 Cairan yang keluar harus dikultur.
 Pemberian antibiotik sebagai profilaksis untuk mencegah berulangnya OMA
tidak memiliki bukti yang cukup.

2. Otitis Media Kronis


Penyebab penyakit telinga kronis yang efektif harus didasarkan pada faktor-
faktor penyebabnya dan pada stadium penyakitnya. Dengan demikian pada waktu
pengobatan haruslah dievaluasi faktor-faktor yang menyebabkan penyakit menjadi
kronis, perubahan-perubahan anatomi yang menghalangi penyembuhan serta
menganggu fungsi, dan proses infeksi yang terdapat ditelinga. Bila didiagnosis
kolesteatom, maka mutlak harus dilakukan operasi, tetapi obat -obatan dapat
digunakan untuk mengontrol infeksi sebelum operasi. Prinsip pengobatan tergantung
dari jenis penyakit dan luasnya infeksi, dimana pengobatan dapat dibagi atas :
Konservatif dan Operasi.

1. OMK BENIGNA

a. OMSK BENIGNA TENANG

Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan, dan dinasehatkan untuk jangan


mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi, dilarang berenang
dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. Bila fasilitas
memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi (miringoplasti,
timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran.

b. OMSK BENIGNA AKTIF

Prinsip pengobatan OMSK adalah :

1. Pembersihan liang telinga dan kavum timpan ( toilet telinga)Tujuan toilet


telinga adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai untuk perkembangan
mikroorganisme, karena sekret telinga merupakan media yang baik bagi

13
perkembangan mikroorganisme ( Fairbank, 1981). Cara pembersihan liang
telinga ( toilet telinga) :

• Toilet telinga secara kering ( dry mopping).

Telinga dibersihkan dengan kapas lidi steril, setelah dibersihkan dapat di beri
antibiotik berbentuk serbuk. Cara ini sebaiknya dilakukan diklinik atau dapat
juga dilakukan oleh anggota keluarga. Pembersihan liang telinga dapat
dilakukan setiap hari sampai telinga kering.

• Toilet telinga secara basah ( syringing).

Telinga disemprot dengan cairan untuk membuang debris dan nanah,


kemudian dengan kapas lidi steril dan diberi serbuk antibiotik. Meskipun cara
ini sangat efektif untuk membersihkan telinga tengah, tetapi dapat
mengakibatkan penyebaran infeksi ke bagian lain dan kemastoid ( Beasles,
1979). Pemberian serbuk antibiotik dalam jangka panjang dapat menimbulkan
reaksi sensitifitas pada kulit. Dalam hal ini dapat diganti dengan serbuk
antiseptik, misalnya asam boric dengan Iodine.

• Toilet telinga dengan pengisapan (suction toilet)

Pembersihan dengan suction pada nanah, dengan bantuan mikroskopis


operasi adalah metode yang paling populer saat ini. Kemudian dilakukan
pengangkatan mukosa yang berproliferasi dan polipoid sehingga sumber
infeksi dapat dihilangkan. Akibatnya terjadi drainase yang baik dan resorbsi
mukosa. Pada orang dewasa yang koperatif cara ini dilakukan tanpa anastesi
tetapi pada anakanak diperlukan anastesi. Pencucian telinga dengan H2O2
3% akan mencapai sasarannya bila dilakukan dengan “ displacement
methode” seperti yang dianjurkan oleh Mawson dan Ludmann.

2. Pemberian antibiotik topical

Terdapat perbedaan pendapat mengenai manfaat penggunaan antibiotik topikal


untuk OMSK. Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang
banyak tanpa dibersihkan dulu, adalah tidak efektif. Bila sekret berkurang/tidak

14
progresif lagi diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid.
Rif menganjurkan irigasi dengan garam faal agar lingkungan bersifat asam dan
merupakan media yang buruk untuk tumbuhnya kuman. Selain itu dikatakannya,
bahwa tempat infeksi pada OMSK sulit dicapai oleh antibiotika topikal. Djaafar
dan Gitowirjono menggunakan antibiotik topikal sesudah irigasi sekret profus
dengan hasil cukup memuaskan, kecuali kasus dengan jaringan patologis yang
menetap pada telinga tengah dan kavum mastoid. Mengingat pemberian obat
topikal dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah, maka tidak dianjurkan
antibiotik yang ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1
minggu.Cara pemilihan antibiotik yang paling baik dengan berdasarkan kultur
kuman penyebab dan uji resistesni. Obat-obatan topikal dapat berupa bubuk
atau tetes telinga yang biasanya dipakai setelah telinga dibersihkan dahulu.
Bubuk telinga yang digunakan seperti :

a. Acidum boricum dengan atau tanpa iodine

b. Terramycin.

c. Asidum borikum 2,5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg

Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMK aktif
yang dikombinasi dengan pembersihan telinga, baik pada anak maupun
dewasa. Neomisin dapat melawan kuman Proteus dan Stafilokokus aureus
tetapi tidak aktif melawan gram negatif anaerob dan mempunyai kerja yang
terbatas melawan Pseudomonas karena meningkatnya resistensi. Polimiksin
efektif melawan Pseudomonas aeruginosa dan beberapa gram negatif tetapi
tidak efektif melawan organisme gram positif (Fairbanks, 1984). Seperti
aminoglokosida yang lain, Gentamisin dan Framisetin sulfat aktif melawan basil
gram negatif dan gentamisin kerjanya “sedang” dalam melawan Streptokokus.
Tidak ada satu pun aminoglikosida yang efektif melawan kuman anaerob.
Biasanya tetes telinga mengandung kombinasi neomisin, polimiksin dan
hidrokortison, bila sensitif dengan obat ini dapat digunakan sulfanilaid-steroid
tetes mata.

15
Kloramfenikol tetes telinga tersedia dalam acid carrier dan telinga akan sakit
bila diteteskan. Kloramfenikol aktif melawan basil gram positif dan gram
negative kecuali Pseudomonas aeruginosa, tetapi juga efektif melawan kuman
anaerob, khususnya B. fragilis ( Fairbanks, 1984). Pemakaian jangka panjang
lama obat tetes telinga yang mengandung aminoglikosida akan merusak
foramen rotundum, yang akan menyebabkan ototoksik. Antibiotika topikal yang
dapat dipakai pada ot itis media kronik adalah :

- Polimiksin B atau polimiksin E

Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif,


Pseudomonas, E. Koli Klebeilla, Enterobakter, tetapi resisten
terhadap gram positif, Proteus, B. fragilis Toksik terhadap ginjal dan
susunan saraf.

- Neomisin

Obat bakterisid pada kuma gram positif dan negatif, misalnya :


Stafilokokus aureus, Proteus sp. Resisten pada semua anaerob dan
Pseudomonas. Toksik terhadap ginjal dan telinga.

- Kloramfenikol

Obat ini bersifat bakterisid terhadap : Stafilokokus, koagulase


positif, 99% Stafilokokus, koagulase positif, 95% Stafilokokus group
A, 100% E. Koli, 96% Proteus sp, 60% Proteus mirabilis, 90%
Klebsiella, 92% Enterobakter, 93% Pseudomonas, 5% Dari
penelitian terhadap 50 penderita OMSK yang diberi obat tetes
telinga dengan ofloksasin dimana didapat 88,96% sembuh,
membaik 8,69% dan tidak ada perbaikan 4,53%.

3. Pemberian antibiotik sistemik

A. Pemilihan antibiotik sistemik untuk OMSK juga sebaiknya berdasarkan kultur


kuman penyebab. Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus
disertai pembersihan sekret profus. Bila terjadi kegagalan pengobatan , perlu

16
diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut.
Dalam pengunaan antimikroba, sedikitnya perlu diketahui daya bunuhnya
terhadap masing- masing jenis kuman penyebab, kadar hambat minimal
terhadap masing-masing kuman penyebab, daya penetrasi antimikroba di
masing jaringan tubuh, toksisitas obat terhadap kondisi tubuhnya . dengan
melihat konsentrasi obat dan daya bunuhnya terhadap mikroba, antimikroba
dapat dibagi menjadi 2 golongan. Golongan pertama daya bunuhnya tergantung
kadarnya. Makin tinggi kadar obat, makin banyak kuman terbunuh, misalnya
golongan aminoglikosida dengan kuinolon. Golongan kedua adalah antimikroba
yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik. Peninggian dosis
tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan ini, misalnya golongan beta
laktam. Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis media kronik
adalah Kuman aerob Antibiotik sistemik Pseudomonas Aminoglikosida atau
karbenisilin :

- P. Mirabilis Ampisilin atau sefalosforin.


- P. Morganii Aminoglikosida atau Karbenisilin.
- P. Vulgaris.
- Klebsiella Sefalosforin atau aminoglikosida.
- E. Koli Ampisilin atau sefalosforin.
- S. Aureus Anti-stafilikokus penisilin, Sefalosforin, eritromosin,
aminoglikosida.
- Streptokokus Penisilin, sefalosforin, eritromisin
- Aminoglikosida.

B. fragilis Klindamisin

Antibiotika golongan kuinolon ( siprofloksasin, dan ofloksasin) yaitu dapat derivat


asam nalidiksat yang mempunyai aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan
peroral. Tetapi tidak dianjurkan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun.
Golongan sefalosforin generasi III ( sefotaksim, seftazidinm dan seftriakson) juga
aktif terhadap pseudomonas, tetapi harus diberikan secara parenteral. Terapi ini
sangat baik untuk OMA sedangkan untuk OMK belum pasti cukup, meskipun
dapat mengatasi OMK. Metronidazol mempunyai efek bakterisid untuk kuman
anaerob. Menurut Browsing dkk metronidazol dapat diberikan dengan dan tanpa

17
antibiotik ( sefaleksin dan kotrimoksasol) pada OMSK aktif, dosis 400 mg per 8
jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 2-4 minggu.

2. OMK MALIGNA

Pengobatan yang tepat untuk OMK maligna adalah operasi. Pengobatan


konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara
sebelum dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal, maka insisi
abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan
mastoidektomi. Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat
dilakukan pada OMK dengan mastoiditis kronis, baik tipe benigna atau maligna,
antara lain (Soepardi, 2001):

- Mastoidektomi sederhana

Dilakukan pada OMK tipe benigna yang tidak sembuh dengan


pengobatan konservatif. Pada tindakan ini dilakukan pembersihan ruang
mastoid dari jaringan patologik, dengan tujuan agar infeksi tenang dan
telinga tidak berair lagi.

- Mastoidektomi radikal

Dilakukan pada OMK maligna dengan infeksi atau kolesteatom yang


sudah meluas.Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani
dibersihkan dari semua jaringan patologik. Dinding batas antara liang
telinga luar dan telinga tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan,
sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu ruangan. Tujuan
operasi ini adalah untuk membuang semua jaringan patologik dan
mencegah komplikasi ke intrakranial.

- Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (Operasi Bondy)

Dilakukan pada OMK dengan kolesteatom di daerah attic, tetapi belum


merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding
posterior liang telinga direndahkan. Tujuan operasi adalah untuk

18
membuang semua jaringan patologik dari rongga mastoid dan
mempertahankan pendengaran yang masih ada.

- Miringoplasti

Dilakukan pada OMK tipe benigna yang sudah tenang dengan ketulian
ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani. Operasi
ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan, dikenal juga
dengan nama timpanoplasti tipe 1. Rekonstruksi hanya dilakukan pada
membran timpani. Tujuan operasi adalah untuk mencegah berulangnya
infeksi telinga tengah ada OMSK tipe benigna dengan perforasi yang
menetap.

- Timpanoplasti

Dikerjakan pada OMK tipe benigna dengan kerusakan yang lebih berat
atau OMSK tipe benigna yang tidak bisa diatasi dengan pengobatan
medikamentosa. Tujuan operasi adalah menyembuhkan penyakit serta
memperbaiki pendengaran. Pada operasi ini selain rekonstruksi membran
timpani seringkali harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran.
Berdasarkan bentuk rekonstruksi tulang yang dilakukan maka dikenal
istilah timpanoplasti tipe II, III, IV dan V.

- Timpanoplasti dengan pendekatan ganda (Combined Approach


Tympanoplasty)

Dikerjakan pada kasus OMK tipe maligna atau OMK tipe benigna dengan
jaringan granulasi yang luas. Tujuan operasi untuk menyembuhkan
penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik
mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior liang
telinga). Yang dimaksud dengan combined approach di sini adalah
membersihkan kolesteatom dan jaringan granulasi di kavum timpani
melalui dua jalan, yaitu liang telinga dan rongga mastoid dengan
melakukan timpanotomi posterior. Namun teknik operasi ini pada OMK
tipe maligna belum disepakati oleh para ahli karena sering timbul kembali
kolesteatoma.

19
I. Pencegahan
Radang telinga bisa dihindari dengan cara menjaga pola hidup sehat dan rajin
berolahraga. Usahakan supaya jangan sampai terjadi Infeksi Saluran Pernapasan Atas
(ISPA). Karena itu diajurkan rajin rajin mencuci tangan karena ISPA mudah menyebar
melalui tangan. Jangan membersihkan telinga dengan benda yang ujungnya keras. "Di
samping itu, kurangi tingkat polusi udara terutama di dalam rumah dengan tidak
merokok, perbaiki sarana sanitasi, gunakan air bersih, serta kecukupan ventilasi
ruangan, memperbaiki daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan yang bergizi,
meningkatkan kebersihan diri dan jangan terlalu lama berada dalam air ketika berenang
kalau tidak menggunakan pelindung telinga.
I. Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian
a. Pengumpulan Data

- Identitas Pasien : Nama pasien, umur, suku/bangsa, agama,


pendidikan, pekerjaan, alamat.
- Riwayat Penyakit Sekarang : Riwayat adanya kelainan nyeri pada telinga,
penggunaan minyak, kapas lidi, peniti untuk membersihkan telinga.
- Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat infeksi saluran atas yang berulang, riwayat
alergi, riwayat OMA berkurang, riwayat penggunaan obat( sterptomisin, salisilat,
kuirin, gentamisin ), riwayat operasi.
- Riwayat penyakit keluarga : Apakah keluarga klien pernah mengalami penyakit
telinga, sebab dimungkinkan OMK berhubungan dengan luasnya sel mastoid
yang dikaitkan sebagai faktor genetik
b. Pengkajian Persistem

- Tanda-tanda vital : Suhu meningkat, keluarnya otore.


- B2 ( Blood ) : Nadi meningkat.
- B3 (Brain) : Nyeri telinga, perasaan penuh dan pendengaran menurun,
vertigo, pusing, refleks kejut.
- B5 (Bowel) : Nausea vomiting.
- B6 (Bone) : Malaise, alergi.
c. Pengkajian Psikososial

20
1. Nyeri otore berpengaruh pada interaksi
2. Aktivitas terbatas
3. Takut menghadapi tindakan pembedahan
4. Pemeriksaan diagnostik
a. Tes audiometri : pendengaran menurun
b. Xray : terhadap kondisi patologi, misal kolestetoma, kekaburan mastoid

e. Pemeriksaan pendengaran

- Tes suara bisikan, tes garputala.

2. Diagnosa Keperawatan

A. Pre-operasi :
1. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan.
2. Ansietas (cemas) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan prosedur bedah
dan peristiwa pre-operasi.
3. Resiko pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan gannguan nervus trigeminus (gangguan menelan).
4. Ganguan body image berhubungan dengan keluarnya secret berbau tidak
sedap.
5. Gangguan presepsi sensori pendengaran berhubungan dengan penurunan
fungsi pendengaran.
B. Post-operasi
1. Nyeri yang berhubungan dengan pembedahan.
2. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan.

21
3. Intervensi keperawatan

DIAGNOSA KEPERAWATAN INTERVENSI RASIONAL

1. Nyeri berhubungan dengan 1. Kaji Nyeri. 1. Mengetahui daerah


proses peradangan. 2. Ajarkan teknik nyeri, kualitas, kapan
relaksasi pada pasien. nyeri dirasakan, factor
Dengan kriteria hasil : 3. Berikan analgesic pencetus, berat
- Adanya penurunan intensitas sesuai progam. ringannya nyeri yang
nyeri. 4. Observasi TTV. dirasakan.
- Ketidaknyamanan akibat nyeri 2. Untuk mengajarkan
berkurang pasien apabila nyeri
- Tidak menunjukkan tanda- timbul.
tanda fisik nyeri. 3. Untuk mengurangi rasa
nyeri.
4. Untuk mengetahui
keadaan umum pasien.

2. Ansietas berhubungan 1. Jelaskan prosedur 1. Informasi yang demikian


dengankurangnya pengetahuan bedah kepada klien dapat mengurangi rasa
prosedur bedah dan peristiwa dan keluarga dengan takut dan kecemasan
perioperasi. menggunakan istilah dengan mempersiapkan
yang sederhana. klien dan orangtua,
Dengan kriteria hasil : Apabila klienmenjalani untuk mengatisipasi
- Klien dan keluarga mengalami anestesia lokal, peristiwa apa yang akan
penurunan rasa cemas yang jelaskan bahwa ia terjadi selama
ditandai oleh ungkapan akan terbangun pembedahan.
pemahaman tentang prosedur selama prosedur
pembedahan dari lingkungan sehingga ahli bedah

22
pembedahan. dapat menguji
pendengarannya.
Jawab setiap
pertanyaannya dengan
sederhana dan jujur.
2. Klien mungkin menjadi
2. Jelaskan bahwa takut jika ia tidak
tergantung waktu memperoleh makanan
pembedahan, klien atau minuman
mungkin tidak diberi sepanjang malam, atau
makan atau minum pada pagi hari sebelum
setelah tengah malam pembedahan.
pada hari pembedahan Menjelaskan hal ini
dilakukan untuk kepada klien
mencegah klien sebelumnya dapat
muntah dan aspirasi mengurangi rasa cemas
selama pembedahan. dan takut.

3. Jelaskan kepada 3. Pembedahan tidak dapat


keluarga bahwa dilakukan dalam kondisi
pembedahan mungkin ini, sehubungan dengan
tidak dilakukan jika risiko septikemia atau
klien memiliki tanda infeksi yang meluas.
dan gejala infeksi akut,
termasuk peningkatan
suhu, hidung terdapat
sekret, dan nyeri pada
telinga, pada hari
pembedahan.
4. Tidak mengetahui
4. Beri tahu keluarga berapa lama
tentang kemungkinan pembedahan
lama pembedahan dan berlangsung dapat
tempat mereka dapat membuat keluarga

23
menunggu selama cemas selama
prosedur dan priode pembedahan.
pemulihan. Pastikan Mengetahui berapa lama
mereka mengetahui pembedahan akan
orang yang akan berlangsung, dan siapa
menghubungi mereka, orang yang akan
ketika prosedur selesai berbicara dengannya
dilakukan. setelah prosedur, dapat
mengurangi rasa takut
dan khwatiran mereka.

5. Jelaskan kepada klien 5. Memahami apa yang


dan keluarga tentang akan terjadi setelah
kemungkinan kondisi prosedur, dapat
pascaoperasi, mengurangi rasa cemas.
termasuk drainase
telinga, kehilangan
pendengaran, dan
nyeri.

3. Resiko pemenuhan nutrisi kurang 1. Kaji intake klien. 1. Sebagai informasi dasar
dari kebutuhan tubuh b.d 2. Tingkatan intake untuk perencanaan awal
gangguan menelan makanan melalui : dan validasi data.
Dengan kriteria hasil : - Kurangi gangguan 2. - Cara khusus tingkatkan
- Pemenuhan nutrisi klien dari luar. nafsu makan.
terpenuhi. - Sajikan makanan -Memudahkan makanan
- BB klien meningkat. dalam kondisi masuk.
- IMT klien 18,5 hangat. - meningkatkan intake
- Tidak terjadi mual dan - Selangi makan makanan.
muntah. dengan minu.

4. Body image b.d keluarnya scret 1. Anjurkan klien untuk menilai 1. Agar klien tahu seberapa
berbau tidak sedap di telinga. kekuatan pribadinya. kekuatan pribadinya.
Dengan kriteria hasil : 2. anjurkan kontak mata 2. Agar klien lebih percaya

24
- Mampu menyesuaikan dalam berkomunikasi dengan diri.
dengan perubahan fungsi orang lain. 3. Agar klien bisa
tubuh. 3. fasilitasi lingkungan dan melakukan aktifitas.
- Puas dengan penampilan aktifitas yang kan 4. Memantau kondisi klien.
tubuh. meningkatkan harga diri klien.
4. monitor tingkat harga diri
klien dari waktu ke waktu
dengan tepat.
1. Gangguan presepsi 1. Kaji ketajaman 1. Untuk mengetahui
pendengaran b.d penurunan pendengaran pasien. tingkat ketajaman
fungsi pendengaran. 2. Anjurkan kepada pendengaran pasien.
Dengan kriteria hasil : keluarga atau orang 2. Untuk menghindari
- Gangguan presepsi sensori terdekat klien untuk perasaan terisolasi klien.
berkurang atau hilang. tinggal bersama klien
dan memenuhi progam
terapi.
3. Nyeri yang berhubungan dengan 1. Kaji klien untuk 1. klien mungkin terlalu
pembedahan. mengetahui iritabilita, muda usianya untuk
Dengan kriteria hasil : kehilangan selera mengekspresikan rasa
- klien dapat mempertahankan makan, dan tidak nyaman melalui
tingkat kenyamanan yang kegelisahan setiap 2 kata-kata, petunjuk
ditandai oleh iritabilitas yang jam setelah perilaku adalah satu-
berkurang. pembedahan. satunya indikasi nyeri.

2. Beri obat analgesik 2. Obat analgesik dapat


sesuai indikasi. mengurangi nyeri.

3. Lakukan aktivitas 3. Aktivitas pengalihan


pengalihan memfokuskan kembali
perhatian klien,
mengurangi persepsinya
terhadap nyeri.

4. Resiko infeksi berhubungan 1. Bersihkan lingkungan 1. meminimalkan resiko infeksi.

25
dengan prosedur pembedahan setelah dipakai klien lain. 2. memninimlakan pathogen
Kriteria hasil : 2. intruksikan pengunjung yang ada di sekeliling pasien.
- Tidak ada tanda-tanda infeksi. untuk mencuci tangan saat 3. mengurangi mikroba bakteri
- Menunujukkan pemahaman berkunjung dan setelah yang dapat menyebabkan
dalam proses perbaikan kulit berkunjung. infeksi,
dan mencegah terjadinya 3. Gunakan sabun anti 4. menegah terjadinya infeksi
cidera berulang. mikroba untuk cuci tangan. Nosokomial.
- Menunjukkan terjadinya 4. cuci tangan sebelum dan
proses penyembuhan. sesudah tindakan
keperawatan.

26
BAB III

STUDI KASUS

Tn. R, 28 tahun, seorang petani dating ke poliklinik THT RS Ahmad Yani dengan
keluhan mulut mencong ke kiri sejak ± 2 hari sebelum berobat ke rumah sakit, namun bicara
masih jelas. Keluhan kelemahan pada anggota gerak pada pasien disangkal. Pasien juga
mengeluh telinga kanan keluar cairan terus menerus sejak ± 4 bulan yang lalu. Cairan yang
keluar dari telinga berwarna kuning dan lengket serta berbau dan tidak bercampur darah.
Keluhan lainnya yaitu pendengaran berkurang serta telinga kanan berdenging. Demam pada
pasien disangkal. Keluhan telinga berair pernah dialami pasien beberapa tahun yang lalu.
Pasien sering mengalami batuk pilek. Pasien juga mengatakan tidak pernah mengkomsumsi
Obat-obatan. Pasien biasanya membersihkan cairan yang keluar dengan cotton bud. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, tekanan darah 110/80
mmHg, nadi 86x /menit, frekuensi pernafasan 22x/menit, suhu 36,7oC.

Pada pemeriksaan telinga kanan pada liang telinga didapatkan sekret purulen dan
berbau, setelah dibersihkan didapatkan kolesteatom dan pada membrane timpani didapatkan
perforasi attic tepi rata. Pada pemeriksaan nervus fasialis didapatkan wajah asimetris, tidak
dapat mengangkat alis kanan dan kerutan pada dahi tidak simetris. Pemeriksaan penun jang
darah lengkap, audiometri serta rontgen tidak dilakukan. Pasien didiagnosis otitis media
supuratif kronis maligna auricula dextra dengan parese nervus fasialis perifer. Tatalaksana
pada pasien ini yaitu irigasi liang telinga dengan NaCl 0,9% serta pembersihan kolesteatoma
dan pemberian antibiotic ofloxacin tetes telinga dua tetes diberikan dua kali sehari, ciprof
loxacin tablet 500 mg diberikan tiga kali sehari dan metilprednisolon 16 mg diberikan tiga kali
sehari dan pasien disarankan mastoidktomi. Pasien di edukasi untuk menghindari air masuk ke
telinga ketika mandi dan hindari aktivitas yang berhubungan dengan air yang memungkinkan air
masuk ke telinga seperti berenang.

27
BAB IV

PEMBAHASAN KASUS

Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) adalah perforasi membran timpani dengan
drainase dari telinga tengah dengan waktu lebih dari 6-8 minggu. Supurasi kronis dapat terjadi
dengan atau tanpa kolesteatoma. OMSK terbagi menjadi dua yaitu OMSK tipe tubotimpani atau
benigna atau tipe aman dan OMSK tipe atticoantral atau maligna atau tipe bahaya. Pasien
didiagnosis OMSK tipe maligna dikarenakan pada pasien didapatkan secret purulen dan berbau
busuk yang keluar pada telinga kanan dan terdapat perforasi attic dan terdapat kolesteatoma.
Kolesteatoma adalah lesi masa kistik non-kanker yang terbentuk dari pertumbuhan abnormal
dari epitel gepeng berkreatin, debris kreatin dengan atau tanpa reaksi inflamasi pada tulang
temporal. Pertumbuhan abnormal ini progresif, invasive dan menyebabkan destruksi dari
struktur tulang di telinga tengah dan telinga dalam. Kolesteatoma dibagi menjadi dua
berdasarkan patogenesis penyakitnya yaitu kolesteatoma kongenital dan kolesteatoma didapat.
Kolesteatoma didapat terjadi sekunder dari migrasi epitel ke telinga tengah melewati membrane
timpani yang perforasi oleh karena infeksi, trauma, iatrogenesis. Pasien didapatkan riwayat
batuk pilek berulang. Infeksi kronik atau berulang dari saluran napas atas (ISPA) menyebabkan
terjadinya edema serta obstruksi tuba auditoria.

ISPA yang disebabkan oleh virus menyebabkan replikasi dari infeksi bakteri dan
meningkatkan inflamasi di nasofaring dan tuba auditoria. Hal ini merupakan faktor predisposisi
terjadinya kronisitas otitis media. Kondisi lain yang dapat menjadi faktor risiko OMSK yaitu
deviasi septum nasi, tuberkulosis, tonsilitis kronik dan pembesaran adenoid. Pasien mengeluh
pendengaran berkurang. Untuk menentukan jenis tuli dan derajat ketulian pada pasien
dibutuhkan pemeriksaan garputala dan audiometri. Kehilangan pendengaran merupakan
komplikasi yang paling sering pada OMSK. Tuli konduktif pada OMSK disebabkan oleh karena
obstruksi dari transmisi gelombang suara dari telinga tengah ke telinga dalam oleh karena
adanya cairan (pus) dan perforasi membran timpani menghilangkan konduksi suara ke telinga
dalam. Infeksi kronik dari telinga tengah menyebabkan edema dari lapisan telingah tengah,

28
perforasi membrane timpani dan rusaknya ossikula auditiva yang menyebabkan tuli konduktif.
OMSK juga dapat menyebabkan tuli sensorineural akibat rusaknya telinga dalam (koklea)
terutama pada jalur saraf yang membawa sinyal dari telinga dalam ke otak.17,18,19 Pada
pasien didapatkan mulut mencong ke kanan serta pasien tidak dapat mengangkat alis mata
kanan sehingga pada pasien dapat didiagnosis parese nervus fasialis perifer. Parese nervus
fasialis merupakan salah satu komplikasi dari OMSK. Parese nervus fasialis yang berhubungan

dengan OMSK onsetnya bisa tiba-tiba atau bertahap. Onset yang tiba-tiba biasanya
disebabkan oleh eksaserbasi dari infeksi akut pada OMSK, sedangkan onset yang bertahap
terjadi karena kompresi dari kolesteatoma atau jaringan granulasi.

Etiologi pasti dari parese nervus fasialis pada infeksi telinga kronis tidak sepenuhnya
diketahui, akan tetapi keterlibatan inflamasi langsung dari nervus fasialis melalui kompresi tuba
akibat edema berpengaruh dalam patofisiologi parese nervus fasialis. Teori lainnya
mempercayai bahwa kolesteatoma dapat menyebabkan parese nervus fasialis melalui bahan
neurotoksik yang dihasilkannya atau menyebabkan kerusakan tulang melalui berbagai aktivitas
enzim. Tatalaksana pada pasien berupa terapi konservatif yaitu toilet telinga, pemberian
antibiotik serta kortikosteroid. Pasien ini dilakukan irigasi telinga dengan NaCl 0,9%. Toilet atau
pembersihan telinga dilakukan untuk menjaga agar telinga tetap bersih dan kering. Toilet telinga
dapat menggunakan kapas lidi steril atau suctioning untuk menghilangkan pus dan debris.
Toilet telinga dapat dilakukan 2-3x perhari. Terapi kombinasi antibiotik topikal dan sistemik
diberikan pada pasien OMSK dengan komplikasi. Antibiotik topikal yang diberikan pada pasien
yaitu ofloxacin tetes telinga dua tetes dua kali sehari. Golongan kuinolon merupakan pilihan
utama antibiotik topical karena memiliki efek samping yang rendah dan lebih baik dari
aminoglikosida. Kuinolon efektif terhadap kuman P. aeruginosa dan tidak menyebabkan efek
samping seperti kokleotoksisitas dan vestibulotoksisitas.

Pada pasien diberikan antibiotic sistemik ciprofloxacin 500 mg tiga kali sehari. Antibiotik
yang paling efektif untuk kuman P. aeruginosa dan meticilin - resistant S. aureus (MRSA) yang
merupakan penyebab paling sering dari OMSK adalah ciproflox acin dan kombinasi dari
vancomycin dan trimethoprim-sulfamethoxazole. M etilprednisolon 16 mg diberikan tiga kali
sehari sebagai terapi awal untuk mencegah komplikasi dan kerusakan nervus fasialis yang lebih
lanjut sebelum pembedahan dilakukan. Terapi pembedahan timpano-mastoidektomi
diindikasikan pada OMSK dengan komplikasi seperti gangguan penden garan, palsi nervus
fasialis, abses subperiosteal, petrositis, meningitis, abses serebral dan fistula labirin. Terapi

29
operatif lainnya yang disarankan adalah miringotomi dan dekompresi nervus fasialis. Edema
dan kompresi saraf ditatalaksana dengan dekompresi dan menghilangkan matriks kolesteatoma
atau jaringan granulasi terinfeksi. Pasien diedukasi untuk menghindari masuknya air ke telinga
(menjaga telinga tetap kering) untuk mengurangi rekurensi penyakit serta bertambah beratnya
penyakit. Prognosis pada pasien ditentukan dari onset paralisis nervus fasialis sampai
dilakukannya operasi. Durasi yang lama dapat menyebabkan kerusakan yang lebih parah dari
nervus fasialis dan hasil pembedahan yang buruk. Perforasi membran timpani dapat menutup
secara spontan, akan tetapi gangguan pendengaran ringan sampai sedang masih dapat
menetap. Frekuensi komplikasi dapat berkurang jika diterapi dengan efektif dan tepat, akan
tetapi masih erosif dan efek penyebaran dari kolesteatoma yang menyebabkan prognosis yang
parah. Diagnosa yang muncul pada kasus di atas adalah :

a. Nyeri b.d proses perdangan.


b. Gangguan body image b.d keluarnya secret berbau tidak sedap.
c. Gangguan presepsi sensori pendengaran b.d penurunan fungsi pendengaran.
d. Kurangnya pengetahuan b.d proses penyakit.

30
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pendengaran sebagai salah satu indera, memegang peranan yang sangat penting
karena perkembangan bicara sebagai komponen utama komunikasi pada manusia
sangat tergantung pada fungsi pendengaran. Apabila pendengaran mengalami
gangguan pada telinga seperti otitis media yang tekait dengan kasus ini.

B. Saran
Sebaiknya tidak mencoba pemindahan serumen telinga di rumah dengan cotton bud,
jepit rambut, pensil, atau peralatan lain apa pun. Tindakan seperti itu biasanya hanya
memasukkan lilin lebih banyak dan bisa merusakkan gendang pendengar dan akan
mengalami penyumbatan pada bagian telinga dalam.Sabun dan air di atas sehelai
waslap menyediakan higienis telinga eksternal yang memadai.

31
Daftar pustaka

Umar Sakina, Restuti Dwi Ratna, & Suwento Ronny. ( Priyono Harim et al., 2013) Prevalensi
dan factor resiko otitis media akut pada anak-anak di kota madya Jakarta timur. Jakarta
Indonesia.

Munilson Jacky, Edward Yan, & Yolazenia (2014). Penatalaksanaan Otitis Media Akut. Padang
Indonesia.

Soepaedi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Tuti R D. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorokan Kepala dan Leher edisi 7. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. (2012)

Amin Huda Nurafif, H.K. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Bedasarkan Diagnosa Medis
dan Nanda. Yogyakarta : Media Action

T.H. Herdman, S. K. (2016). Diagnosa Keperawtan. Jakarta : EGC

32