Você está na página 1de 3

Diujicobakan, Terapi Musik untuk Pemulihan Pasien

Stroke
Kamis, 13 April 2017 11:00 WIB

Para peneliti di Australia berharap dapat memanfaatkan respon alami manusia terhadap musik
untuk menciptakan terapi bagi pemulihan pasien stroke.
Pakar saraf dari Murdoch University, Ann-Maree Vallence, mengatakan ketika kita
mendengarkan musik maka "otak kita menjadi liar".

"Mungkin Anda menyadari jika mendengarkan lagu atau musik maka Anda mulai
mengetukkan kaki atau bahkan jari-jari Anda," katanya kepada ABC Radio Perth.

"Ada hubungan kuat antara bagian otak yang untuk memproses rangsangan pendengaran
seperti musik, dengan bagian-bagian penting otak untuk melakukan gerakan," jelasnya.
Dr Vallence mengatakan reaksi alamiah dari otak terhadap musik membantu merangsang
aktivitas otak. Stimulasi tersebut, katanya, juga bisa membantu bagian-bagian otak yang
mengatur keterampilan motorik.
"Salah satu kasus stroke yang paling umum adalah stroke pada arteri serebri," katanya.

"Kasus stroke tipikal ini berupa penyumbatan yang berdampak pada area motorik otak, yaitu
bagian otak yang penting untuk gerakan," tambahnya.

"Jika kita bisa mengimbangi bagian-bagian otak yang rusak tersebut, maka kita seharusnya
dapat memulihkan gerakan," jelas Dr Vallence.
Dia mengatakan terlalu banyak pasien stroke yang berakhir dengan gangguan gerakan untuk
jangka panjang.

Bahkan pergerakan kecil saja dapat membuat perbedaan bagi kehidupan sehari-hari bagi pasien
stroke.

"Kita membayangkan hari-hari ketika kita mengambil air atau memasak tanpa berpikir
mengenai gerakan yang dibutuhkan untuk hal-hal seperti itu," katanya.

"Tetapi jika Anda kehilangan kemampuan tersebut, maka akan nyata sekali seberapa besar
dampaknya pada kehidupan sehari-hari," ujarnya.
Mekanisme penelitian

Dr Vallence kini merekrut pasien stroke untuk berpartisipasi dalam penelitian berbasis musik,
program terapi individual menggunakan aplikasi smartphone GotRhythm, yang dikembangkan
para ilmuwan olahraga di University of Western Australia.
Aplikasi ini akan terhubung dengan sensor nirkabel yang akan dikenakan pada lengan dan
tangan peserta.
Mereka akan mengaktifkan aplikasi GotRhythm dan menyelesaikan sesi latihan selama 30
menit menggunakan sensor tersebut. Tujuannya, melakukan hal sehari-hari seperti mengambil
cangkir. Musik hanya akan dimainkan jika mereka menyelesaikan tindakan secara benar.

Aktivitas otak mereka akan diukur sebelum dan setelah sesi untuk melihat apakah terjadi
perubahan.

Harapannya bahwa gerakan yang dihargai dengan musik akan merangsang otak dan dengan
latihan yang rutin fungsi motorik mereka akan dapat ditingkatkan.

"Ini bisa berupa hal sederhana seperti menekan, membuka dan menutup tangan, menjangkau
sesuatu, menggerakan tangan menjauh dari tubuh," papar Dr Vallence.

"Jika musik dapat menjadi sebuah isyarat... maka seharusnya musik juga dapat mengarah pada
peningkatan kemampuan fungsional," katanya.

Sementara bagian-bagian otak yang telah mengalami kerusakan berkelanjutan tidak dapat
diperbaiki, menjadikan bagian-bagian lain dari otak kembali bisa berbicara satu sama lain akan
bisa mengimbangi sejumlah gangguan.
"Kami berharap setelah pasien menggunakan aplikasi GotRhythm, maka sel-sel otak akan jauh
lebih aktif," kata Dr Vallence.
Terapi murah

Dr Vallence berharap fisioterapi berbasis musik ini nantinya bisa membuat upaya pemulihan
fungsi gerakan jangka panjang dan berulang dapat lebih mudah dilakukan pada pasien stroke.
"Saya pikir hal paling menonjol adalah bahwa terapi ini menyenangkan," katanya.
"Kami mampu mengembangkan sesuatu yang cukup murah dan pasien dapat melakukan terapi
ini di rumah," katanya.

"Kami pikir manfaatnya tepat jika mereka ingin melakukannya, akan terlibat lebih sering,
sehingga pencapaian fungsional akan lebih besar," katanya lagi.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Diujicobakan, Terapi Musik untuk Pemulihan
Pasien Stroke, http://www.tribunnews.com/australia-plus/2017/04/13/diujicobakan-terapi-musik-untuk-
pemulihan-pasien-stroke.
Pembahasan :
Penyakit stroke adalah salah satu penyebab utama kematian dan kelumpuhan permanen
di dunia. Stroke adalah penyakit yang disebabkan gangguan pembuluh darah di otak.
Penyakit ini berbahaya selain mematikan, juga menyebabkan kecacatan yg
menghilangkan tingkat produktivitas penyandang stroke. Penyakit Stroke muncul saat
aliran darah ke otak tersumbat, dapat membuat jaringan otak tak berfungsi. Penderita
stroke yang rajin mendengarkan musik setiap hari, menurut hasil riset, ternyata mengalami
peningkatan pada ingatan verbalnya dan memiliki mood yang lebih baik ketimbang
penderita yang tidak menikmati musik. Musik memang telah lama digunakan sebagai
salah satu terapi kesehatan, namun penelitian yang dimuat dalam jurnal Brain itu adalah
riset pertama yang membuktikan efeknya pada manusia. Temuan ini adalah bukti pertama
bahwa mendengarkan musik pada tahap awal pasca stroke dapat meningkatkan pemulihan
daya kognitif dan mencegah munculnya perasaan negatif, kata tim peneliti
(http://www.terapimusik.com/terapi_musik_pasca_stroke.htm).
Mendengarkan musik dikaitkan dengan neuropastisitas yaitu restorasi fungsi otak
ditingkat secara alami dan menstimulasi neural sehingga berkontribusi dalam pemulihan
fungsi otak, disamping itu ada penelitian yang menyebutkan efek musik menstimulasi
auditorik , hemodinamik otak dan memberikan peran efektif dalam neurorehabilitasi pada
penderita stroke.
Penderita stroke sangat rentan terhadap perubahan suasana hati/perasaan (mood).
Perubahan mood pada pasien stroke lebih rentan terjadi kearah kecemsan dan berakhir
sebagai depresi. menurut Auryn (2007) depresi pada pasien stroke terjadi akibat karena
adanya ketidakmampuan dalam melakukan Activity Daily Living yang biasanya dapat
dikerjakan sebelum terkena stroke. Untuk itu terapi musik pada pasien stroke penting
untuk dilakukan.

(http://www.sitikhodijah.com/index.php/article/id/18/Terapi+Musik+Pada+Penderi
ta+Stroke).