Você está na página 1de 15

Tinjauan Normatif Penerapan Sanksi Kepada Perusahaan Yang Tidak

Menjalankan Tanggung Jawab Sosial Perusahan


(Corporate Social Responsibility)
Oleh: Ardi Armandanu
Pembimbing I : Dr. Firdaus, SH.,MH
Pembimbing II : Dasrol, SH.,MH
Alamat: Jalan Kembang Harapan Gang Seliangguri No. 11 D Kel. Cintaraja, Kec. Sail
Pekanbaru - Riau
Email: ardiarmandanu@ymail.com

Abstract
Since 2007, indonesia becoming one thing only country requiring implementation of csr, with its
approved law no. 40 year 2007 on limited liability company and is added to the law no. 25 year 2007 on
investment. But since then was, obligations with sanctions, only limited word not much implies. Confusion
legislators in formulating sanctions provisions, being great opportunities for the company to not carry
out corporate social responsibility. Normatively, there is no rule of law that governs about csr
implementation mechanism in one rule of law.
Interest thesis writer namely; first, to determine the setting of sanctions to companies that do not
run the social responsibility of companies in indonesia; second, to determine the mechanism of sanctions
to the company that are not running a corporate social responsibility (corporate social responsibility).
What kind of legal research used writer is a kind of normative legal research or legal research
literature.from the findings of researchers, there are two main thing that can be inferred. First, there is a
lot of laws and regulations governing corporate social responsibility, namely the law of state owned
enterprises (soes), law investment law corporate law, law of mineral and coal, and many others, however
of the many rule of law which set of corporate social responsibility (csr) there is inconsistency makers act
are the terms of use csr that would potentially lead to multiple interpretations in practice, then not all the
laws that set about csr also includes rules sanctioned therein, and those laws yang the rules include
sanctions, also does not explain how the mechanism of sanctions to be implemented. Second, the
mechanism of sanctions can only seen in regulation (regulation csr), the automatic mechanism of
sanctions is not set in size and only limited to local areas that govern only. Bylaw csr even this will not be
able to walk without a forum its function as containers container aspirations, composer planning, also
serves to conduct monitoring and evaluation of the implementing csr, as well as provide recommendation
results evaluation report addressed to the head of the region is to review furthermore, the regional
administrations can be present the or precisely memberian sanctions

JOM Fakultas Hukum Volume III No. 2 Oktober 2016 Page 1


BAB I yang diatur dalam pasal 7 PP TJSL PT maupun
PENDAHULUAN pasal 74 ayat (3) UUPT semua dilimpahkan
A. Latar Belakang Masalah kepada Peraturan perundang-undangan terkait..
Perkembangan aktivitas perusahaan Hal ini yang masih perlu ditinjau
memiliki kontribusi positif maupun negatif. kembali bahwa apakah benar peraturan
Tersedianya lapangan kerja, dihasilkannya perundang-undangan terkait sebagaimana yang
produk barang dan jasa, serta adanya insentif dimaksud telah dapat dan siap untuk menjawab
pajak bagi pendapatan negara merupakan permasalahan ketentuan penerapan sanksi bagi
kontribusi yang dirasakan besar manfaatnya. perusahaan yang tidak menjalankan CSR.
Namun di satu sisi, eksploitasi sumber daya Dalam ilmu hukum, sanksi bukanlah
alam (SDA) secara berlebihan, baik perusakan sesuatu yang esensial. Sanksi merupakan
maupun pencemaran lingkungan telah elemen tambahan. Unsur esensial di dalam
mematikan sumber pencaharian masyarakat, hukum adalah bahwa aturan tersebut dapat
insentif pajak yang diberikan perusahaan tidak diterima oleh masyarakat sehingga aturan
serta merta dapat langsung dirasakan tersebut mempunyai sifat mengikat.1 Benar
manfaatnya, diperparah dengan kurang memang, dengan diterimanya aturan hukum,
ditanggapinya berbagai tuntutan masyarakat maka dengan sendirinya hukum itu akan
dalam permasalahan lingkungan, sehingga atas ditaati. Namun, yang harus diingat bahwa
dasar permasalahan tersebut penting kiranya kenyataan diterima atau tidaknya sebuah aturan
memunculkan suatu konsep tentang tanggung hukum tergantung pada kesadaran hukum yang
jawab sosial bagi perusahaan yang dikenal dimiliki oleh para subjek hukum (person dan
dengan Corporate Sosial Responsibility (CSR). rechtperson). Lantas apakah kita harus
Melihat fenomena ini, Pemerintah lalu menunggu sampai para subjek hukum itu sadar.
hadir antara legislatif dan eksekutif yang Maka hadirnya negara harus mampu
kemudian melahirkan Undang Undang Nomor memberikan ketegasan, ketegasan untuk
40 tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, memberi kepastian, kepastian agar
yang didalamnya mengatur tentang CSR. terlindungnya sebuah kepentingan, yaitu
Namun, hadirnya UU ini justru menimbulkan kepentingan rakyat banyak.
reaksi keras dari para pelaku dunia usaha Anggota DPRD Provinsi Riau Dapil
dengan mengajukan yudisial review, khususnya Rokan Hilir, Karmila Sari menyampaikan
terhadap ketentuan pasal 74 dan penjelasannya, bahwa selama ini pemerintah tidak memiliki
yang mewajibkan pelaku usaha untuk data lengkap pelaksanaan CSR yang dilakukan
melaksanakan CSR. Tetapi, Mahkamah oleh perusahaan di Provinsi Riau.2 Tidak
Konstitusi melalui Putusan Mahkamah adanya data tersebut menyebabkan tidak
Konstitusi Nomor 53/PUU-VI/2008 menolak berjalannya pengawasan oleh pemerintah, hal
permohonan pengujian pemohon untuk inilah yang juga menjadi hambatan pemerintah
seluruhnya. Penolakan ini memberikan angin dalam memberikan sanksi kepada perusahaan
segar terhadap kepastian hukum bahwa yang tidak melaksanakan tanggung jawab
tanggung jawab sosial perusahaan tetaplah sosial perusahaan.
merupakan suatu kewajiban yang harus Berdasarkan latar belakang yang telah
dilaksanakan oleh perusahaan, sehingga apabila diuraikan diatas, maka penulis tertarik untuk
perusahaan tidak melaksanakannya maka wajib melakukan penelitian yang berkaitan dengan
dikenakan sanksi seperti telah diwajibkan penerapan sanksi kepada perusahaan yang tidak
dalam uupt. menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan
Namun, sejak keluarnya putusan dengan judul: “Tinjauan Normatif
Mahkamah Konstitusi Nomor 53/PUU-VI/2008 Penerapan Sanksi Bagi Perusahaan Yang
ditambah dengan lahirnya Peraturan Tidak Menjalankan Tanggung Jawab Sosial
Pemerintah Nomor 47 Tahun 2012 Tentang Perusahaan (Corporate Social
Tanggung Jawab Sosial Dan Lingkungan Responsibility)”.
Perseroan Terbatas (PP TJSL PT). Tidak ada
satupun kejelasan mengenai sanksi apa yang
1
diberikan kepada perusahaan yang tidak Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana
melaksanakan csr. Ketentuan penerapan sanksi Prenada Media, Jakarta, 2005, hlm. 9.
2
Riau Pos Hari Sabtu Tanggal 16 April 2016, hlm. 28.
JOM Fakultas Hukum Volume III No. 2 Oktober 2016 Page 2
B. Rumusan Permasalahan Yaitu diharapkan hasil penelitian ini
Adapun permasalahan yang penulis angkat dapat menjadi bahan pedoman serta bahan
adalah sebagai berikut : informasi sekaligus masukan kepada
1. Bagaimanakah pengaturan sanksi kepada pemerintah, yaitu pemerintah pusat dan
perusahaan yang tidak menjalankan pemerintah daerah baik itu pemerintah
tanggung jawab sosial perusahaan provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota
(corporate social responsibility) di untuk dapat memberikan perhatian khusus
indonesia? dalam hal koordinasi program, pelaksanaan
2. Bagaimanakah mekanisme penerapan sanksi pengawasan, serta transparansi pelaporan,
kepada perusahaan yang tidak menjalankan dan bertindak secara tegas dalam hal
tanggung jawab sosial perusahaan pemberian sanksi kepada perusahaan yang
(corporate social responsibility)? tidak menjalankan tanggung jawab sosial
perusahaan.
C. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penulisan D. Kerangka Teoritis
Sesuai dengan rumusan permasalahan, 1. Teori Ko-Eksistensi
tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian Teori ini diperkenalkan oleh
ini adalah : Firdaus dalam tulisannya yang berjudul
a. Untuk mengetahui pengaturan sanksi kepada “Normativitas Corporate Social
perusahaan yang tidak menjalankan Responsibility Antara Idealita Dan
tanggung jawab sosial perusahaan Realitas”. Teori ini menyatakan bahwa
(corporate social responsibility) di tidak akan ada perusahaan tanpa adanya
indonesia. masyarakat. Masyarakat dan perusahaan
b. Untuk mengetahui mekanisme penerapan seperti dua sisi mata uang, tak akan ada
sanksi kepada perusahaan yang tidak orang yang mendirikan perusahaan tanpa
menjalankan tanggung jawab sosial ada masyarakat sebagai pasar bagi
perusahaan (corporate social responsibility). produk barang atau jasa yang ditawarkan
oleh perusahaan.3
2. Kegunaan Penelitian Sony keraf mengutarakan
Selanjutnya penelitian ini sangat perusahaan tidak berdiri sendiri, ia
diharapkan akan dapat bermanfaat dan berguna tumbuh dan berkembang dan sebaliknya
antara lain: hancur juga oleh karena masyarakat.4
a. Bagi penulis Tidak ada perusahaan baik besar maupun
1) Yaitu diharapkan hasil penelitian ini kecil yang tidak membutuhkan kolaborasi
dapat menjadi bahan dan wawasan bagi sosial.5 Perusahaan sangat ditentukan
penulis terkait dengan tanggung jawab kemampuan perusahaan untuk
sosial perusahaan. melaksanakan csr kepada masyarakat.
2) Sebagai salah satu syarat untuk Perkembangan ruang lingkup CSR,
memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S- baik secara internal maupun eksternal
1) ilmu hukum pada Fakultas Hukum adalah respon hukum terhadap tuntutan
Universitas Riau. masyarakat terhadap eksistensi
b. Bagi dunia akademik perusahaan, karena sejatinya perusahaan
Yaitu diharapkan hasil penelitian ini
dapat memberikan sumbangan pemikiran 3
Firdaus, Normativitas Corporate Social Responsibility
bagi pengembangan ilmu hukum pada Antara Idealita Dan Realitas, Jurnal Ilmu Hukum, Fakultas
umumnya dan hukum tanggung jawab sosial Hukum Universitas Riau, Vol. 4, No.1 September 2014,
perusahaan pada khususnya, dan juga dapat hlm. 180.
4
menjadi bahan referensi kepustakaan bagi A. Sony Keraf, Etika Bisnis Tuntutan dan
Relevansinya, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2009, hlm. 50
pembaca yang ingin melakukan
dalam Firdaus, Ibid, hlm. 180-181.
pengembangan penelitian lebih lanjut dalam 5
Francis Fukuyama, Trust: Social Virtues and The
pokok permasalahan yang sama. Creation of Prosferity, diterjemahkan oleh Ruslani, Trust:
c. Bagi instansi Kebajikan Sosial dan Penciptaan Kemakmuran, Penerbit
Qalam, Cetakan Kedua, Yogtakarta, 2007, hlm. 7 dalam
Firdaus, Ibid, hlm. 181.
JOM Fakultas Hukum Volume III No. 2 Oktober 2016 Page 3
adalah ko-eksistensi masyarakat. berpotensi memberi sumbangan pada
Keberadaan perusahaan sejatinya karena percepatan pertumbuhan perekonomian
keberadaan masyarakat. Perusahaan tidak mikro.9
akan menyediakan atau menawarkan
barang/jasa yang diperdagangkan tanpa 3. Teori Negara Hukum Kesejahteraan
ada masyarakat yang membutuhkan.6 (Walfare-Rechtstate)
Teori negara hukum kesejahteraan
2. Konsep Trible Bottom Line (walfare-rechstate) merupakan
Dalam menjalankan aktivitas perpaduan atau campuran dari konsep
bisnis, perusahaan tidak boleh hanya negara hukum (rechtstaat) dengan
berfokus pada single bottom line, yaitu konsep negara kesejahteraan (walfare
nilai perusahaan (corporate velue) yang state).10
direfleksikan dalam kondisi keuangan Menurut burkens, negara hukum
saja, namun juga harus berpijak pada (rechtstaat) adalah negara yang
konsep trible bottom line, yaitu selain menempatkan hukum sebagai dasar
aspek finansial juga peduli terhadap kekuasaan negara dan penyelenggaraan
aspek sosial dan lingkungan.7 kekuasaan tersebut dalam segala
Konsep trible bottom line ini bentuknya dilakukan dibawah kekuasaan
diperkenalkan oleh John Elkington pada hukum.11 Adapun konsep negara
tahun 1998 dalam bukunya yang kesejahteraan adalah menempatkan peran
berjudul “Cannibals With Forks: The negara tidak hanya sebatas sebagai
Trible Bottom Line In 21st Century penjaga ketertiban semata seperti halnya
Business 1998”.8 dalam konsep nachtwakerstaat, akan
Menurut konsep ini jika sebuah tetapi negara juga dimungkinkan untuk
perusahaan ingin mempertahankan ikut serta dalam kegiatan ekonomi
kelangsungan hidupnya maka harus sebagai penyelenggara kesejahteraan
memperhatikan “3P” yaitu: profit, rakyat.12
people, dan planet, dimana selain Tujuan negara dalam konsep
kewajibannya untuk memperoleh negara hukum kesejahteraan (walfare-
keuntungan (profit), perusahaan juga rechstate) tidak lain adalah untuk
harus memperhatikan dan terlibat penuh mewujudkan kesejahteraan setiap warga
pada kesejahteraan masyarakat (people) negaranya. Berdasar tujuan negara
dan turut berkontribusi aktif dalam tersebut, maka negara diharuskan untuk
kelestarian lingkungan (planet). ikut serta dalam segala aspek kehidupan
Ketiga dimensi ini dalam konsep sosial khususnya dalam kegiatan
daya saing menunjukkan bahwa ekonomi masyarakat.
penerapan CSR yang secara simultan Teori ini memberikan penekanan
membidik ketiga bidang ini akan bahwa negara harus hadir dalam
menjamin terwujudnya manfaat membuat pengaturan yang secara jelas
keberlanjutan bagi perusahaan maupun dan spesifik, kemudian melakukan
masyarakat. Meskipun tidak pengawasan terhadap pelaksanaannya,
dimaksudkan untuk menggantikan peran serta memberikan tindakan tegas atas tak
pemerintah dalam menyediakan layanan terlaksananya tanggung jawab sosial
publik atau infrastruktur, namun kegiatan
CSR terutama dinegara berkembang, 9
Sri Urip, Strategi CSR; Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan untuk peningkatan daya saing perusahaan di
6
Firdaus, “Corporate Social Responsibility: Pasar Negara Berkembang, Literasi Imprint, Tangerang,
Transformasi Moral Ke Dalam Hukum Dalam Membangun 2014, hlm. 111.
10
Kesejahteraan Masyarakat”, Jurnal Ilmu Hukum, Fakultas Aminuddin Ilmar, Hak Menguasai Negara Dalam
Hukum Universitas Riau, Edisi I, No.1 Agustus 2010, hlm. Privatisasi BUMN, Kencana Prenada Media Group, Jakarta,
19-20. 2012, hlm. xi.
7 11
Hendrik Budi Untung, Corporate Social Responsibility, M. Rusli Karim, Negara: Suatu Analisis Mengenai
Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hlm. 25. Pengertian Asal Usul dan Fungsi, Tiara Wacana,
8
Hendrik Budi Untung, CSR Dalam Dunia Bisnis, Andi Yogyakarta, 1997, hlm.1.
12
Offset, Yogyakarta, 2014, hlm. ix. Ibid.
JOM Fakultas Hukum Volume III No. 2 Oktober 2016 Page 4
perusahaan di lapangan, sebagai wujud memberikan batasan-batasan definisi
nyata fungsi negara dalam bidang antara lain:
perekonomian, guna meningkatkan 1. Perusahaan adalah setiap bentuk badan
kesejahteraan masyarakat. usaha yang menjalankan setiap jenis
usaha yang bersifat tetap dan terus
4. Teori Jenjang Norma (Stufen Theory) menerus didirikan bekerja, serta
Dalam pembentukan peraturan berkedudukan dalam wilayah negara
perundang-undangan dikenal teori indonesia dengan tujuan memperoleh
jenjang hukum (stufentheory / stufenbau keuntungan/laba.14
des rechts theorie) yang dikemukakan 2. Pembangunan Berkelanjutan menurut
oleh hans kelsen dalam bukunya yang World Commission On Environtment
diterjemahkan ke dalam bahasa inggris And Development (wced) adalah
dengan judul general theory of law and pembangunan yang memenuhi
state oleh anders wedberg. kebutuhan generasi saat ini tanpa
Dalam teori jenjang norma tersebut mengurangi kemampuan generasi
hans kelsen berpendapat bahwa hukum mendatang untuk memenuhi
mengatur pembentukannya sendiri karena kebutuhan mereka sendiri.15
norma hukum yang satu menentukan cara 3. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
untuk membentuk norma hukum yang adalah komitmen untuk berperan serta
lain, dan juga sampai derajat tertentu, dalam pembangunan ekonomi
menentukan isi norma lainnya tersebut.13 berkelanjutan guna meningkatkan
Teori jenjang norma (stufen kualitas kehidupan dan lingkungan
theory) digunakan untuk memberikan yang bermanfaat, baik bagi perseroan
acuan pemikiran tentang ketentuan itu sendiri, komunitas setempat,
bahwa aturan ketentuan penerapan sanksi maupun masyarakat pada umumnya.16
kepada perusahaan yang tidak 4. Sanksi adalah ancaman hukuman yang
menjalankan tanggung jawab sosial merupakan suatu alat pemaksa guna
perusahaan sebagaimana telah diatur ditaatinya suatu kaidah, undang-
dalam UUPT dan PP TJSL PT, namun undang, dan norma-norma hukum.17
terkait dengan mekanisme belum diatur 5. Sumber Daya Alam adalah unsur
secara jelas, oleh karena itu teori dapat lingkungan hidup yang terdiri atas
digunakan untuk merekomendasikan sumber daya hayati dan nonhayati
penulis mengkaji peraturan-peraturan yang secara keseluruhan membentuk
dibawahnya tentang ada tidaknya kesatuan ekosistem.18
pengaturan tentang mekanisme 6. Badan Hukum adalah badan yang
penerapan sanksi kepada perusahaan menurut hukum berkuasa menjadi
yang tidak menjalankan tanggung jawab pendukung hak, yang tidak berjiwa
sosial perusahaan dengan acuan pada atau lebih tepat yang bukan manusia.
asas “lex special derogat lex generalis” Badan hukum sebagai gejala
yaitu aturan perundang-undangan yang kemasyarakatan adalah suatu gejala
khusus mengenyampingkan peraturan yang riil merupakan fakta yang benar-
perundang-undangan yang umum. benar dalam pergaulan hukum biarpun
tidak berwujud manusia atau benda
A. Kerangka Konseptual
Untuk tidak menimbulkan salah 14
Pasal 1 Undang Undang Nomor 3 Tahun 1982
penafsiran, serta untuk pijakan bagi Tentang Wajib Daftar Perusahan.
15
penulis dalam menentukan langkah- 16
Totok Mardikanto, Op.Cit. 15.
langkah penelitian, maka penulis Gunawan Wijaya dan Yemima Ardi Pranata, Risiko
Hukum & Bisnis Perusahaan Tanpa CSR, Forum Sahabat,
Jakarta, 2008, hlm. 7
13 17
Hans Kelsen, General Theory Of Law And State, 1973 Soesilo Prajogo, Kamus Hukum Internasional &
yang di terjemahkan oleh Soemardi, Teori Umum Hukum Indonesia, Wacana Intelektual Press, 2007, hlm. 436.
18
Dan Negara; Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Pasal 1 angka 9 Undang Undang Nomor 32 Tahun
Ilmu Hukum Deskriptif Empirik, Bee Media Indonesia, 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Jakarta, 2007, hlm. 155 Hidup.
JOM Fakultas Hukum Volume III No. 2 Oktober 2016 Page 5
yang dibuat dari besi, kayu dan perundang-undangan, buku-buku,
sebagainya.19 literatur serta pendapat para ahli yang
7. Perseroan adalah badan usaha yang berkaitan dengan permasalahan
dibentuk berdasarkan undang-undang, penelitian ini yang terdiri dari:
mempunyai eksistensi yang terpisah a. Bahan Hukum Primer
dari para pemiliknya dan dapat Bahan hukum primer
melakukan usaha dalam batas-batas merupakan bahan hukum yang
tertentu sebagaimana lazimnya bersifat autoritatif artinya
20
manusia biasa. mempunyai otoritas. Bahan
hukum primer terdiri dari
E. Metode Penelitian perundang-undangan, catatan-
1. Jenis Penelitian catatan resmi atau risalah dalam
Jenis penelitian hukum yang pembuatan perundang-undangan
digunakan penulis adalah jenis dan putusan-putusan hakim.23
penelitian hukum normatif atau intinya bahwa bahan hukum
penelitian hukum kepustakaan. primer merupakan peraturan
Penelitian hukum normatif atau perundang-undangan yang masih
penelitian hukum kepustakaan tersebut menjadi hukum positif yaitu:
mencakup:21 b. Bahan Hukum Sekunder
1. Penelitian terhadap asas-asas Bahan hukum sekunder yaitu
hukum bahan yang memberikan
2. Penelitian terhadap sistematik penjelasan mengenai bahan
hukum hukum primer yang berupa buku-
3. Penelitian terhadap sinkronisasi buku yang ditulis oleh para ahli
vertikal dan horizontal hukum.
4. Perbandingan hukum c. Bahan Hukum Tersier
5. Sejarah hukum Bahan hukum tersier yaitu bahan
Dalam penelitian ini penulis hukum lain yang menjelaskan
mengkaji terhadap sinkronisasi hukum lebih lanjut bahan hukum primer
mengenai bagaimana pengaturan dan bahan hukum sekunder,
sanksi tanggung jawab sosial antara lain kamus besar bahasa
perusahaan didalam peraturan indonesia (kbbi) dan kamus
perundang-undangan, selain itu bahasa inggris-indonesia.
penelitian ini juga mengkaji mengenai 3. Teknik Pengumpulan Data
pelaksanaan penerapan sanksi Teknik pengumpulan data
tanggung jawab sosial perusahaan. dalam penelitian adalah kajian
kepustakaan yaitu penulis mengambil
2. Sumber Data kutipan dari buku bacaan, literatur,
Pada penelitian normatif, atau buku pendukung yang memiliki
bahan pustaka merupakan data dasar kaitannya dengan permasalahan yang
yang dalam (ilmu) penelitian akan diteliti. Penelitian kepustakaan
digolongkan sebagai data sekunder.22 dilakukan:
Data sekunder adalah data yang a. Perpustakaan Wilayah Riau;
diperoleh peneliti dari berbagai studi b. Perpustakaan Universitas Riau;
kepustakaan serta peraturan c. Perpustakaan Fakultas Hukum
Universitas Riau.
19
Neni Sri Imaniyati, Hukum Bisnis Telaah Tentang 4. Analisis data
Pelaku dan Kegiatan Ekonomi, Graha Ilmu, Yogyakarta, Dalam penelitian ini analisis
2009, hlm. 124.
20
Sentosa Sembiring, Hukum Perusahaan Tentang
yang dilakukan adalah analisis
Perseroan Terbatas, Nuansa Aulia, Bandung, 2012, hlm. 2. kualitatif merupakan tata cara
21
Soerjono Soekamto dan Sri Mamudji, Penelitian
Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Rajawali Pers,
23
Jakarta, 2012, hlm. 12. Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana
22
Ibid. hlm. 24. Prenada Media, Jakarta, 2005, hlm. 141.
JOM Fakultas Hukum Volume III No. 2 Oktober 2016 Page 6
penelitian yang menghasilkan ata Menurut Abdulkadir Muhammad,
deskripstif, yaitu apa yang dinyatakan perusahan dapat diklasifikasikan menjadi
secara tertulis.24 Yakni pemaparan perusahaan dilihat dari jumlah pemilik yaitu
kembali dengan kalimat yang perusahaan perseorangan28 atau perusahaan
sistematis untuk dapat memberikan persekutuan.29 Dilihat dari status pemilik,
gambaran secara jelas jawaban atas perusahaan bisa dibagi menjadi perusahaan
permasalahan sebagai berikut: swasta dan perusahaan negara, sedangkan bila
1. Bagaimanakah pengaturan tentang dilihat dari bentuk hukumnya perusahaan
penerapan sanksi kepada dapat dibagi menjadi perusahaan berbadan
perusahaan yang tidak hukum dan perusahaan bukan berbadan
menjalankan tanggung jawab hukum.30
sosial perusahaan. Menurut Ulya Kencana, pengertian
2. Bagaimanakah pelaksanaan badan hukum ialah pendukung hak dan
penerapan sanksi kepada kewajiban yang tidak berjiwa sebagai lawan
perusahaan yang tidak pendukung hak dan kewajiban yang berjiwa
menjalankan tanggung jawab yakni manusia. Ia juga menambahkan bahwa
sosial perusahaan. badan hukum adalah subjek hukum dalam arti
Yang pada akhirnya yuridis, sebagai gejala dalam hidup
dinyatakan dalam bentuk deskriptis bermasyarakat, sebagai badan ciptaan
analisis. Selanjutnya, penulis menarik manusia berdasarkan hukum, mempunyai hak
suatu kesimpulan secara deduktif, dan kewajiban seperti manusia pribadi.31
yaitu menarik kesimpulan dari hal-hal Berdasarkan pasal 1 angka 1 undang
yang bersifat umum kepada hal-hal undang nomor 40 tahun 2007 tentang
yang bersifat khusus. Dimana dalam perseroan terbatas, berbunyi:
mendapatkan suatu kesimpulan “perseroan terbatas yang selanjutnya
dimulai dengan melihat faktor-faktor disebut perseroan, adalah badan
yang nyata dan diakhiri dengan hukum yang merupakan persekutuan
penarikan suatu kesimpulan yang juga modal, didirikan berdasar perjanjian,
merupakan fakta dimana kedua fakta melakukan kegiatan usaha dengan
tersebut di jembatani oleh teori-teori.25 modal dasar yang seluruhnya terbagi
dalam saham dan memenuhi
BAB II persyaratan yang ditetapkan dalam
TINJAUAN PUSTAKA undang undang ini serta peraturan
A. Tinjauan Umum Perusahaan pelaksananya”.
Sejak dicabutnya istilah pedagang dan Bertitik tolak dari ketentuan pasal 1
bukan pedagang di dalam Kitab Undang- angka 1 diatas, elemen pokok yang
Undang Hukum Dagang (KUHD) maka melahirkan suatu perseroan sebagai badan
muncul istilah perusahaan.26 Perusahaan
adalah suatu pengertian ekonomi yang banyak
dipakai dalam kitab undang-undang hukum 28
Menurut H.M.N. Purwosutjipto, bentuk perusahaan
dagang (kuhd), namun kuhd sendiri tidaklah perseorangan secara resmi tidak ada. Namun dalam dunia
memberikan penafsiran maupun penjelasan bisnis, masyarakat telah mengenal dan menerima bentuk
resmi tentang apakah perusahaan itu.27 perusahaan perseorangan ini. Pada umumnya masyarakat
yang ingin menjalankan usahanya dalam bentuk perusahaan
perseorangan ini menggunakan bentuk Perusahaan Dagang
24
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI (PD) atau Usaha Dagang (UD). https://
Press, Jakarta: 1983, hlm. 32. materimahasiswahukumindonesia. blogspot.co.id/ 2015/01/
25
Aslim Rasyad, Metode Ilmiah: Persiapan Bagi perusahaan-perorangan.html, diakses, tanggal 19 Juli 2016.
29
Peneliti, UNRI Press, Pekanbaru: 2005, hlm. 20. Abdul R. Saliman, Hukum Bisnis Untuk Perusahaan;
26
Berdasarkan Stb. 1938 No.276 yang mulai berlaku Teori dan Contoh Kasus, Kencana, Jakarta, 2011, hlm. 98.
30
pada tanggal 17 Juli 1938, Bab Kesatu tentang Pedagang Ibid.
31
dan perbuatan dagang atau pasal 2-5 KUHD dinyatakan Ulya Kencana, “Tanggung Jawab Perusahaan
dihapus. Terhadap Masyarakat (CSR): (Kajian Hukum Ekonomi
27
C.S.T. Kansil dan Christine S.T. Kansil, Hukum Indonesia)”, Jurnal Hukum, Program Studi Ilmu Hukum
Perusahaan Indonesia; Aspek Hukum Dalam Ekonomi, Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya, Edisi I, Vol.
Pradnya Paramita, Jakarta, 2005, hlm. 67. VI, No. 1 Januari 2008, hlm. 48.
JOM Fakultas Hukum Volume III No. 2 Oktober 2016 Page 7
hukum (rechtspersoon / legal person / legal dilaksanakan dengan cara: pertama, dengan
entity), harus terpenihi syarat-syarat berikut. menelaah pandangan-pandangan pemangku
a. Merupakan persekutuan modal kepentingan (stakeholder) terhadap isu-isu
b. Didirikan berdasarkan perjanjian prioritas yang diperlukan dalam menentukan
c. Melakukan kegiatan usaha strategi pembangunan berkelanjutan. Kedua,
d. Memperoleh pengesahan oleh pemerintah memprakirakan keuntungn dan kerugian yang
dapat diperoleh dari implementasi strategi
B. Tinjauan Umum Pembangunan pembangunan yang telah dirumuskan.35
Berkelanjutan Perlu dikemukakan disini bahwa
Konsep pembangunan berkelanjutan langkah-langkah untuk mewujudkan
(sustainable development), pertama kali pembangunan berkelanjutan tidak harus
dipublikasikan oleh The World Conservating dilaksanakan dengan cara yang kaku (rigid).
Strategy (WCS) pada tahun 1980 di gland, Sebab, dalam prakteknya banyak diantara
swiss dan menjadi pusat pemikiran untuk langkah-langkah tersebut perlu dilaksanakan
pembangunan dan lingkungan. secara bersamaan dan beberapa dilaksanakan
Konsep pembangunan berkelanjutan ketika muncul kesempatan.36
ini kemudian dipopulerkan melalui laporan Kaitan csr dengan pembangunan
Our Common Future (Masa Depan Bersama) berkelanjutan adalah bisnis yang
yang disiapkan oleh World Commission On berkelanjutan (business sustainability) bukan
Environtment And Development (WCED) sekedar keuntungan yang bersifat jangka
yaitu komisi dunia tentang lingkungan dan pendek tetapi beralih kepada kesadaran akan
pembangunan yang dikenal dengan Komisi pentingnya kelestarian lingkungan hidup.
Bruntland (1987), yang diketuai oleh Ny. Gro Saprudin hamdani damanik dari masyarakat
Harlem Bruntland (Perdana Menteri agrobisnis dan agroindustri indonesia (mai)
Norwegia).32 laporan ini mendefinisikan mengatakan bahwa program csr merupakan
pembangunan berkelanjutan sebagai kewajiban bagi perusahaan untuk turut serta
pembangunan yang memenuhi kebutuhan dalam program pemberdayaan masyarakat
generasi saat ini tanpa mengurangi sebab csr bukan hanya program bagi-bagi kue
kemampuan generasi mendatang untuk tetapi harus menjadi sebuah program yang
memenuhi kebutuhan mereka sendiri.33 berkesinambungan.37
Pembangunan berkelanjutan adalah
konsep yang luas karena menggabungkan C. Tinjaun Umum Tanggung Jawab Sosial
faktor ekonomi, keadilan sosial, ilmu Perusahaan
lingkungan, manajemen bisnis, politik, dan Menurut Kamus Besar Bahasa
hukum. Ini adalah konsep dialektik seperti Indonesia (KBBI), tanggung jawab adalah
keadilan, demokrasi, dan konsep sosial kewajiban menanggung segala sesuatunya
penting lainnya. Pembangunan berkelanjutan bila terjadi apa-apa boleh dituntut,
juga tidak bisa hanya diserahkan kepada dipersalahkan, dan diperkarakan. Sedangkan
regulator pemerintah dan pembuat kebijakan, dalam kamus hukum, tanggung jawab adalah
namun juga membutuhkan peran serta dari suatu keseharusan bagi seseorang untuk
para pelaku industri.34 melaksanakan apa yang telah diwajibkan
Banyak langkah untuk mewujudkan kepadanya.38 Menurut hukum tanggung jawab
pembangunan berkelanjutan, antara lain, adalah suatu akibat atas konsekuensi
strategi pembangunan berkelanjutan versi kebebasan seorang tentang perbuatannya yang
Organization For Economic Cooperation And
Development (OECD, 2001). Menurut konsep
OECD, pembangunan berkelanjutan 35
Chay Asdak, Kajian Lingkungan Hidup Strategis;
Menuju Pembangunan Berkelanjutan, Gadja Mada
32 University Press, Yogyakarta, 2014, hlm. 37.
Bruce Mitchell, et. al., Pengelolaan Sumberdaya Dan
36
Lingkungan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, Ibid.
37
2010, hlm. 31. http://konsillsm.or.id/aturan-csr-yang-jelas-sangat-
33
Totok Mardikanto, Op. Cit, hlm. 15. diperlukan/ diakses, tanggal, 27 Juli 2016.
34 38
Budi Untung, CSR Dalam Dunia Bisnis, ANDI, Andi Hamzah, Kamus Hukum, Ghalia Indonesia,
Yogyakarta, 2014, hlm. 34. 2005.
JOM Fakultas Hukum Volume III No. 2 Oktober 2016 Page 8
berkaitan dengan etika atau moral dalam undangan, tanggung jawab hukum dapat
melakukan suatu perbuatan.39 dibagi dalam 3 (tiga) bidang hukum yaitu:
Tanggung jawab hukum dalam hukum
perdata berupa tanggung jawab seseorang a. Hukum Administrasi
terhadap perbuatan melawan hukum. Pertanggungjawaban hukum
Perbuatan melawan hukum memiliki ruang dalam bidang hukum administrasi
lingkup yang lebih luas dibandingkan dengan terhadap tanggung jawab sosial
perbuatan pidana, perbuatan melawan hukum perusahaan dapat diberikan oleh badan
tidak hanya menyangkut perbuatan yang atau pejabat pemerintah terhadap
bertentangan dengan undang-undang pidana pelanggaran ketentuan yang telah
saja, akan tetapi juga perbuatan yang dilanggarnya. Secara teoritis, penerapan
bertentangan dengan undang-undang lainnya sanksi administrasi tidak bisa terlepas
dan bahkan dengan ketentuan-ketentuan dari pembahasan tentang tindakan
hukum yang tidak tertulis. Ketentuan pemerintah (bestuurshandelingan).
perundang-undangan dan perbuatan melawan Tindakan pemerintah meliputi semua
hukum bertujuan untuk melindungi dan perbuatan yang dilakukan oleh organ
memberikan ganti rugi kepada pihak yang administrasi dalam rangka
dirugikan. menyelenggarakan tugas pemerintah.41
Sedangkan, pengertian dari tanggung Secara garis besar tindakan
jawab sosial perusahaan adalah tanggung pemerintah digolongkan menjadi 2 (dua)
jawab yang melekat pada setiap perusahaan yaitu: (1) tindakan hukum
penanaman modal untuk tetap menciptakan (rechtshandelingen) yaitu tindakan-
hubungan yang serasi, seimbang, dan sesuai tindakan yang menurut hakikatnya
dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya diarahkan pada suatu akibat hukum
masyarakat setempat. tertentu, dan (2) tindakan nyata (feitelijke
Untuk memenuhi kontrak sosialnya handelingen) yaitu tindakan-tindakan
terhadap masyarakat, perusahaan dihadapkan yang dilakukan berdasarkan inisiatif dari
pada beberapa tanggung jawab sosial secara pemerintah.42
simultan.tanggung jawab sosial perusahaan Berhubung bahwa kewajiban
(corporate social responsibility) merupakan tanggung jawab sosial perusahaan adalah
salah satu dari tanggung jawab perusahaan pada perusahaan yang menjalankan usaha
terhadap pemangku kepentingan dibidang atau berkaitan dengan sumber
(stakeholders). Ada 3 macam jenis-jenis daya alam, maka aturan sanksi
tanggung jawab perusahaan, yaitu: administratif dapat mengacu kepada
1. Tanggung Jawab Ekonomi (Economic peraturan menteri lingkungan hidup
Responsibility) nomor 2 tahun 2013 tentang jenis jenis
2. Tanggung Jawab Hukum (Legal sanksi administratif. Adapun jenis-jenis
Responsibility) sanksi administratif yang diatur dalam
3. Tanggung Jawab Sosial (Social peraturan ini berupa:
Responsibility) 1) Teguran tertulis;
Pertanggungjawaban manusia secara 2) Paksaan pemerintah;
hukum memiliki dua aspek hubungan, yaitu 3) Pembekuan izin lingkungan;
pertanggungjawaban dengan sesama manusia 4) Pencabutan izin lingkungan; dan
dan alam semesta (horizontal), serta 5) Denda administratif.
pertanggungjawaban kepada penciptanya
(vertikal).40 Dalam peraturan perundang- b. Hukum Perdata
Menurut ilmu hukum perdata,
39 setiap perbuatan yang bertentangan
http://digilib.unila.ac.id diakses pada Tanggal 10 Juli
2016. dengan hukum dipertanggungjawabkan
40
Ulya Kencana, “Tanggung Jawab Perusahaan
41
Terhadap Masyarakat (CSR): (Kajian Hukum Ekonomi Bachrul Amiq, Penerapan Sanksi Administrasi dalam
Indonesia)”, Jurnal Hukum, Program Studi Ilmu Hukum Hukum Lingkungan, Laksbang Mediatama, Yogyakarta,
Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya, Edisi I, Vol. 2013, hlm.15.
42
VI, No. 1 Januari 2008, hlm. 45-46. Ibid, hlm. 16.
JOM Fakultas Hukum Volume III No. 2 Oktober 2016 Page 9
atas sejumlah kerugian yang diderita pertanggungjawaban tanpa unsur
pihak lain.43 Subekti menyebutkan bahwa kesalahan (no liability without fault).
suatu perbuatan, menurut perkembangan Menurut munir fuady perbuatan
pemikiran ilmu hukum, terutama melalui melawan hukum adalah suatu kumpulan
yurisprudensi, tidak saja mencakup dari prinsip-prinsip hukum yang
perbuatan yang bertentangan dengan bertujuan untuk mrngontrol dan mengatur
hukum dan hak dari pihak lain, tetapi prilaku bahaya, untuk memberikan
juga setiap perbuatan yang bertentangan tanggung jawab atas suatu kerugian yang
dengan kepatutan dalam pergaulan terbit dari interaksi sosial, dan untuk
masyarakat, baik dalam hubungannya menyediakan ganti rugi terhadap korban
dengan pribadi maupun harta benda dengan suatu gugatan yang tepat.46
orang lain.44 Suatu proses tanggung Berdasarkan pasal 1656 kuh
jawab membayar ganti rugi, lazimnya perdata (burgerlijk wetboek) terdapat
dikaitkan dengan hal tertentu yang pembatasan mengenai tanggung jawab
menjadi penyebab timbulnya kerugian, perusahaan yang dilakukan oleh para
yaitu terdapatnya unsur kesalahan pada pengurusnya yang menyatakan bahwa:
pihak pelaku perbuatan.45 ”segala perbuatan untuk mana
Jika dilihat dalam hukum perdata, para pengurusnya tidak berkuasa
pertanggungjawaban hukum perdata dari melakukannya, hanyalah
perseroan didasarkan pada perbuatan mengikat perkumpulan sekedar
melawan hukum (onrechtmatigsdaad), perkumpulan itu sungguh-
sebagaimana diatur dalam pasal 1365 kuh sungguh telah mendapat manfaat
perdata yang berbunyi: karenanya atau sekedar
“setiap perbuatan melanggar perbautan-perbuatan itu
hukum yang membawa kerugian terkemudian telah disetujui
pada orang lain, mewajibkan secara sah.”
orang yang karena salahnya Hal ini menjelaskan secara tegas
menimbulkan kerugian itu, harus bahwa tanggung jawab perbuatan badan
mengganti kerugian tersebut” hukum, dimana orang yang bertindak
Adapun unsur-unsur perbuatan untuk dan atas nama badan hukum yang
melawan hukum (onrechtmatigsdaad) bersangkutan maupun dalam peraturan
menurut pasal 1365 kuh perdata ini lainnya, yaitu organ badan hukum tidak
adalah sebagai berikut: dapat berbuat sewenang-wenang, sebab
1) Perbuatan itu harus bersifat melawan tindakan organ badan hukum yang
hukum; melampaui batas-batas yang telah
2) Terdapatnya kesalahan pada pelaku; ditentukan tidak menjadi tanggung jawab
3) Timbul kerugian; badan hukum akan tetapi menjadi
4) Terdapat hubungan kausalitas antara tanggung jawab pribadi organ, terkecuali
perbuatan dengan kerugian. jika apa yang dilakukan itu
Pasal tersebut merupakan formula menguntungkan perusahaan.
yang memuat prinsip tanggung jawab
secara kesalahan (fault). Asas c. Hukum Pidana
pertanggungjawaban secara kesalahan Berdasarkan sanksi yang diatur
(fault) didasarkan pada adagium dalam pasal 10 kuhp menyebutkan bahwa
(pepatah) bahwa tidak ada pidana pokok yang dapat dijatuhkan
yaitu:
1) Pidana mati.
43
2) Pidana penjara.
N.H.T. Siahaan, Hukum Lingkungan dan Ekologi
Pembangunan, Erlangga, Jakarta, 2004, hlm. 306.
3) Pidana kurungan.
44
Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Jakarta, 1975. 4) Pidana denda.
Dalam N.H.T. Siahaan, ibid.
45
Komar Kantaatmadja, Ganti Rugi Internasional
46
Pencemaran Minyak laut, Alumni, 1981 Dalam N.H.T. Munir Fuady, Perbuatan Melawan Hukum, Citra
Siahaan, ibid. Adytia Bakti, Bandung, 2002, hlm.3.
JOM Fakultas Hukum Volume III No. 2 Oktober 2016 Page 10
Namun pidana yang dapat Dengan Usaha Kecil Dan Program Bina
dikenakan pada korporasi berdasarkan Lingkungan.
pasal 10 kuhp hanya pidana denda saja. Bagi kalangan dunia usaha diatur
Seperti yang diungkapkan oleh barda dalam Uu Nomor 25 Tahun 2007 Tentang
nawawi arief walaupun korporasi diakui Penanaman Modal, Uu Nomor 40 Tahun
sebagai subjek hukum yang dapat 2007 Tentang Perseroan Terbatas yang di
bertindak sesuai dengan hukum dan dapat lengkapi dengan aturan pelaksana Peraturan
dimintai pertanggungjawabannya namun Pemerintah Nomor 47 Tahun 2012 Tentang
pertanggungjawaban tersebut terdapat Tanggung Jawab Sosial Lingkungan
beberapa pengecualian, yaitu:47 Perseroan Terbatas, Uu Nomor 4 Tahun 2009
a. Dalam perkara yang menurut kodrat Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara
tidak dapat dilakukan oleh korporasi, dan aturan pelaksana Peraturan Pemerintah
seperti perkosaan dan sumpah palsu. Nomor 23 Tahun 2010 Tentang Kegiatan
b. Dalam perkara yang satu-satunya Usaha Pertambangan Mineral Dan Batubara,
pidana yang tidak mungkin serta Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor
dikenakan kepada korporasi seperti 6 Tahun 2012 Tentang Tanggung Sosial
pidana penjara atau pidana mati. Perusahaan Di Provinsi Riau. Serta masih
Perusahaan (Corporate) dapat banyak aturan lainnya.
melakukan perbuatan melawan hukum, Namun dari banyaknya aturan CSR
baik yang bersifat perdata maupun pidana dalam peraturan perundang undangan ada
(civil and criminal wrongs), dan pada beberapa catatan peneliti mengenai hal ini:
umumnya pengurus harus bertanggung 1. Ketidak-konsistenan penggunaan istilah
jawab atas perbuatan melawan hukum CSR, terdapat beragam istilah yuridis
itu. Perbuatan melawan hukum itu dapat seperti tanggung jawab sosial dan
langsung dilakukan oleh perusahaan lingkungan dalam UUPT, tanggung
melalui organ-organnya atau sebaliknya jawab sosial perusahaan dalam UUPM,
perbuatan melawan hukum itu dilakukan Pembinaan Usaha Kecil/Koperasi Dan
oleh pegawai perusahaaan dan Pembinaan Masyarakat dalam UU
perusahaan yang harus mempertanggung BUMN, dan Program Pengembangan
jawabkannya. Dan Pemberdayaan Masyarakat dalam
BAB UU Minerba. Ketidak-konsistenan
BAB III penggunaan istilah dapat dipandang
Hasil Penelitian Dan Pembahasan sebagai kelemahan karena potensial
menimbulkan multitafsir dan secara
A. Pengaturan Sanksi Kepada Perusahaan praktis setidaknya menyulitkan untuk
Yang Tidak Mejalankan Tanggung Jawab mengidentidikasi pengaturan csr.
Sosial Perusahaan (Corporate Social 2. Tidak semua perundang-undangan
Responsibility) Di Indonesia. mengatur persoalan sanksi bagi
Pengaturan kewajiban bagi perusahaan perusahaan yang melanggar kewajiban
untuk menjalankan tanggung jawab sosial csr, kalaupun ada masih terdapat masalah
perusahaan (CSR) telah banyak diatur dalam yuridis berupa tidak adanya alternatif
aturan perundang undangan, begitu juga sanksi selain sanksi administrasi guna
penegasan tentang adanya sanksi. Bagi membantu menegakan norma. Ada
perusahaan negara baik bumn maupun bumd beberapa aturan perundang-undangan
telah diatur dalam UU Nomor 19 Tahun 2003 yang mengatur tentang kriteria sanksi
Tentang Badan Usaha Milik Negara yang kepada perusahaan yang tidak
kemudian dijelaskan secara rincin dalam menjalankan tanggung jawab sosial
Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor. perusahaan diantaranya ialah:
Per-07/MBU/2015 tentang Program a. UU Nomor 25 Tahun 2007 Tentang
Kemitraan Badan Usaha Milik Negara Penanaman Modal Pasal 34 yang
menegaskan adanya sanksi
47
administratif yaitu berupa:
Barda Nawawi Arief, Perbandingan Hukum Pidana, 1) Peringatan tertulis;
Rajawali Pres, Jakarta, 1990, hlm. 37
JOM Fakultas Hukum Volume III No. 2 Oktober 2016 Page 11
2) Pembatasan kegiatan usaha; gubernur dapat memberikan sanksi yaitu
3) Pembekuan kegiatan usaha sanksi administratif.
dan/atau fasilitas penanaman Namun saat ini pelaksanaan tanggung
modal; atau jawab sosial perusahaan (CSR) belum
4) Pencabutan kegiatan usaha terlaksana dengan baik dikarena forum yang
dan/atau fasilitas penanaman diharapakan menjadi wadah bagi semua
modal. pemangku kepentingan dan akan mampu
b. Uu Nomor 4 Tahun 2009 Tentang menjawab semua permasalahan csr ternyata
Pertambangan Mineral Dan Batubara di Provinsi Riau maupun Indonesia secara
Pasal 105 ayat (2) yang menegaskan keseluruhan belum terbentuk.
adanya sanksi administratif yaitu:
1) Peringatan tertulis;
2) Penghentian sementara sebagian
atau seluruh kegiatan eksplorasi
atau operasi produksi; dan/atau
3) Pencabutan IUP, IPR, atau BAB V
IUPK. PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Mekanisme Penerapan Sanksi Kepada 1. Pengaturan kewajiban bagi perusahaan
Perusahaan Yang Tidak Menjalankan untuk menjalankan tanggung jawab sosial
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan perusahaan (CSR) telah banyak diatur
(Corporate Social Responsibility). dalam aturan perundang undangan,
Mekanisme penerapan sanksi kepada begitu juga penegasan tentang adanya
perusahaan yang tindak menjalankan sanksi. Namun dari banyaknya aturan
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan CSR dalam peraturan perundang
(Corporate Social Responsibility) tidak diatur undangan tidak adanya kejelasan tentang
dalam undang undang terkait, namun penggunaan istilah CSR, hal inilah yang
mekanisme ini dapat dilihat dalam Perda dapat menimbulkan multitafsir dan secara
Provinsi Riau dan Peraturan Gubernur Riau praktis setidaknya menyulitkan untuk
Nomor 142 Tahun 2015 Tentang Tata Cara mengidentidikasi pengaturan csr. Lalu
Pelaporan Pelaksanaan Tanggung Jawab dari banyaknya aturan perundang-
Sosial Perusahaan di Provinsi Riau, yang di undangan tersebut hanya ada 2 (dua)
buat sebagai pengisi kekosongan hukum Peraturan Perundang-undangan yang
dalam UU Nomor 40 Tahun 2007 dan PP mengatur tentang sanksi csr yaitu UU
Nomor 47 Tahun 2012 yaitu dimulai dengan Nomor 25 Tahun 2007 Tentang
dibentuknya Forum Tanggung Jawab Sosial Penanaman Modal dan UU Nomor 4
Perusahaan (Forum TJSP) yang akan Tahun 2009 tentang Pertambangan
mewadahi semua pemangku kepentingan baik Mineral Dan Batubara
dari Pemerintah, DPRD, Akademisi, Asosiasi 2. Mekanisme penerapan sanksi kepada
Pengusaha, Lembaga Swadaya Masyarakat, perusahaan yang tindak menjalankan
untuk duduk bersama menyusun program. tanggung jawab sosial perusahaan
Pelaksanaan program ini kemudian (corporate social responsibility) tidak
diawasi diawasi dan dievaluasi oleh SKPD- diatur dalam undang undang terkait,
SKPD terkait yang kemudian menyampaikan namun mekanisme ini dapat dilihat dalam
laporan kepada Forum TJSP, dan Forum Perda Provinsi Riau dan dan Peraturan
TJSP ini akan melanjutkan laporan itu kepada Gubernur Riau Nomor 142 Tahun 2015
BPMP (Badan Penanaman Modal Dan tentang Tata Cara Pelaporan Pelaksanaan
Promosi) yang kemudian melaporkan kepada Tanggung Jawab Sosial Perusahaan di
gubernur, jika laporan pelaksanaan itu baik Provinsi Riau yang di buat sebagai
maka gubernur dapat memberikan pengisi kekosongan hukum dalam UU
penghargaan, sedangkan jika pelaksanaan Nomor 40 Tahun 2007 dan PP Nomor 47
program itu buruk atau sama sekali Tahun 2012 .
perusahaan tidak berkontribusi maka

JOM Fakultas Hukum Volume III No. 2 Oktober 2016 Page 12


B. Saran Indonesia; Aspek Hukum Dalam
1. Perlu adanya suatu aturan perundang Ekonomi, Pradnya Paramita,
undangan yang secara khusus mengatur Jakarta.
tentang Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan, agar tercipta sebuah Kelsen, Hans. 2007, General Theory Of
kepastian hukum dalam pelaksanaan Law And State, 1973 yang di
tanggung jawab sosial perusahaan. terjemahkan oleh Soemardi,
2. Diperlukannya kerjasama semua pihak Teori Umum Hukum Dan Negara;
baik dari perusahaan, pemerintah, dan Dasar-Dasar Ilmu Hukum
masyarakat untuk ikut serta dalam Normatif Sebagai Ilmu Hukum
membentuk Forum CSR, di setiap Deskriptif Empirik, Bee Media
Provinsi, Kabupaten/Kota, yang Indonesia, Jakarta.
terintegrasi dengan Forum CSR di tingkat
nasional, agar pelaksanaan tanggung Karim, M. Rusli, 1997, Negara: Suatu
jawab sosial perusahaan tidak berjalan Analisis Mengenai Pengertian
sendiri-sendiri. Asal Usul dan Fungsi, Tiara
Wacana, Yogyakarta.
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku Lubis, Solly, 1990, Ilmu Negara, Mandar
A. Keraf, Sonny, 1998, Etika Bisnis; Maju, Bandung.
Tuntutan dan Relevansinya, Mahmud Marzuki, Peter, 2005, Penelitian
Kanisius, Yogyakarta. Hukum, Kencana Prenada Media,
Jakarta.
Ali, Zainuddin, 2010, Metode Penelitian
Hukum, Sinar Grafika, Jakarta. ______________________, 2009,
Amiq, Bachrul, 2013, Penerapan Sanksi Pengantar Ilmu Hukum, Kencana
Administrasi dalam Hukum Prenada, Jakarta.
Lingkungan, Laksbang
Mediatama, Yogyakarta. Mardikanto, Totok, 2014, Corporate
Social Responsibility (Tanggung
Asdak, Chay, 2014, Kajian Lingkungan Jawab Sosial Korporasi),
Hidup Strategis; Menuju Bandung.
Pembangunan Berkelanjutan,
Gadja Mada University Press, Marzuki, H.M.Laica, 1995, Siri’ Bagian
Yogyakarta. Kesadaran Hukum Rakyat Bugis
Makasssar (sebuah Telaah
Asyhadie, Zaini, 2008, Hukum Bisnis; Filsafat Hukum), Hassanuddin
Prinsip dan Pelaksanaan di University Press, Ujung Pandang.
Indonesia, Raja Grafindo
Persada, Jakarta. Mitchell, Bruce et. al., 2010, Pengelolaan
Sumberdaya Dan Lingkungan,
Azheri, Busyra, 2011, Corporate Social Gadjah Mada University Press,
Responsibility Dari Volunteer Yogyakarta.
Menjadi Mandatory, Rajawali
Pers, Jakarta. Nadapdap, Binoto, 2013, Hukum
Perseroan Terbatas (Berdasarkan
Ilmar, Aminuddin, 2012, Hak Menguasai Undang Undang Nomor 40 Tahun
Negara Dalam Privatisasi 2007), Permata Aksara, Jakarta.
BUMN, Kencana Prenada Media
Group, Jakarta. Rasyad, Aslim, 2005, Metode Ilmiah:
Persiapan Bagi Peneliti, UNRI
Kansil, C.S.T dan Christine S.T. Kansil, Press, Pekanbaru.
2005, Hukum Perusahaan

JOM Fakultas Hukum Volume III No. 2 Oktober 2016 Page 13


Saliman, Abdul R, 2011 Hukum Bisnis (Studi Tentang Tanggung Jawab
Untuk Perusahaan; Teori dan Sosial Dan Lingkungan
Contoh Kasus, Kencana, Jakarta. Perusahaan Perkebunan Kelapa
Sawit Terhadap Hak Ekonomi
Sembiring, Sentosa, 2012, Hukum Dan Sosial Masyarakat Lokal Di
Perusahaan Tentang Perseroan Provinsi Riau)”, Disertasi
Terbatas, Nuansa Aulia, Program Doktor (S3) Ilmu
Bandung. Hukum Program Pascasarjana
Siahaan, N.H.T, 2004, Hukum Fakultas Hukum Universitas
Lingkungan dan Ekologi Islam Indonesia, Yogyakarta,
Pembangunan, Erlangga, Jakarta. 2013.

Soehino, 1996, Ilmu Negara, Liberty, C. Jurnal/Kamus/Makalah


Yogyakarta. Firdaus, 2010, “Corporate Social
Responsibility: Transformasi
Soekamto, Soerjono dan Sri Mamudji, Moral Ke Dalam Hukum Dalam
2012, Penelitian Hukum Normatif Membangun Kesejahteraan
Suatu Tinjauan Singkat, Rajawali MAsyarakat”, Artikel Pada Jurnal
Pers, Jakarta. Ilmu Hukum, Fakultas Hukum
Universitas Riau, Edisi. I, No. 1,
Soerjono Soekanto, Soerjono, 1983, Agustus.
Pengantar Penelitian Hukum, UI
Press, Jakarta. Firdaus, 2012, “Corporate Social
Responsibility Dalam Tafsir
Solihin, Ismail , 2009, Corporate Social konstitusi”, Jurnal Konstitusi,
Responsibility From Charity to Fakultas Hukum Universitas Riau,
Sustainability, Salemba Empat, Vol. I, No. 1, November.
Jakarta.
Firdaus, 2014, Normativitas Corporate
Sri Imaniyati, Neni, 2009, Hukum Bisnis Social Responsibility Antara
Telaah Tentang Pelaku dan Idealita Dan Realitas, Jurnal Ilmu
Kegiatan Ekonomi, Graha Ilmu, Hukum, Fakultas Hukum
Yogyakarta. Universitas Riau, Vol. 4, No.1
September.
Untung, Budi , 2014, CSR Dalam Dunia
Bisnis, ANDI, Yogyakarta. Lestari Wuryanti, 2013, “Tinjauan Tentang
Implementasi Corporate Social
Urip, Sri, 2014, Strategi CSR; Tanggung Responsibility (CSR) Pada
Jawab Sosial Perusahaan untuk Perusahaan”, Jurnal Riset
peningkatan daya saing Akuntansi dan Manajemen,
perusahaan di Pasar Negara Fakultas Ekonomi Universitas
Berkembang, Literasi Imprint, Malahayati, Vol. 2, No. 2,
Tangerang. Desember.

Wijaya, Gunawan dan Yemima Ardi Prajogo, Soesilo, 2007, Kamus Hukum
Pranata, 2008, Risiko Hukum & Internasional & Indonesia,
Bisnis Perusahaan Tanpa CSR, Wacana Intelektual Press.
Forum Sahabat, Jakarta.
Syahrul, et. al., 2000, Kamus Lengkap
B. Disertasi Ekonomi, Citra Harta Prima,
Firdaus, “Tanggung Jawab Sosial Dan Jakarta.
Lingkungan Perseroan Terbatas
Terhadap Hak Asasi Manusia

JOM Fakultas Hukum Volume III No. 2 Oktober 2016 Page 14


Ulya Kencana, 2008 “Tanggung Jawab
Perusahaan Terhadap Masyarakat Peraturan Menteri Sosial Republik
(CSR): (Kajian Hukum Ekonomi Indonesia Nomor 13 Tahun 2012
Indonesia)”, Jurnal Hukum, Tentang Forum Tanggung Jawab
Program Studi Ilmu Hukum Sosial Dunia Usaha dalam
Program Pascasarjana Universitas Penyelenggaraan Kesejahteraan
Sriwijaya, Edisi I, Vol. VI, No. 1 Sosial.
Januari.
Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor.
Yossi Niken Respati, 2012,“Tanggung Per-07/MBU/2015 Tentang
Jawab Sosial dan Lingkungan Program Kemitraan Badan Usaha
Sebagai Perangkat Pengelolaan Milik Negara dengan Usaha Kecil
Lingkungan Hidup”, Artikel Pada dan Program Bina Lingkungan
JurnalLaw Review, Fakultas
Hukum Universitas Pelita Keputusan Menteri Perindustrian dan
Harapan, Vol. XI, No. 3, Maret. Perdagangan Nomor :
121/MPP/Kep/2/2002 tentang
D. Majalah/Buletin/Surat Kabar Ketentuan Penyampaian Laporan
Riau Pos, Tanggal 16 April 2016. Keuangan Tahunan Perusahaan
E. Peraturan Perundang-Undangan dan
Putusan Pengadilan Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 6
Undang Undang Dasar Negara Republik Tahun 2012 Tentang Tanggung
Indonesia Tahun 1945 Jawab Sosial Perusahaan di
Provinsi Riau.
Undang Undang Nomor 19 Tahun 2003
Tentang Badan Usaha Milik Peraturan Gubernur Riau Nomor 142
Negara. Tahun 2015 tentang Tata Cara
Undang Undang Nomor 25 Tahun 2007 Pelaporan Pelaksanaan Tanggung
Tentang Penanaman Modal Jawab Sosial Perusahaan di
Provinsi Riau.
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007
Tentang Perseroan Terbatas Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor
Lembaran Negara Republik 53/PUU-VI/2008
Indonesia Tahun 2007 Nomor F. Website
106. Http://pustakabakul.blogspot.co.id/2013/0
4/teori-triple-bottom-line.html, diakses,
Undang Undang Nomor 4 Tahun 2009 tanggal 2 Maret 2016.
Tentang Pertambangan Mineral
Dan Batubara. Https://m.facebook.com/InfoTeknikSipil/po
sts/471590749603617, diakses, tanggal, 10
Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 Mei 2016.
Tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup

Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun


2007 Tentang Tanggung Jawab
Sosial Lingkungan Perseroan
Terbatas.

Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun


2010 Tentang Kegiatan Usaha
Pertambangan Mineral dan
Batubara

JOM Fakultas Hukum Volume III No. 2 Oktober 2016 Page 15