Você está na página 1de 15

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

FINANCIAL SHENANIGANS MENDETEKSI FRAUD DAN GIMMICK


AKUNTANSI DALAM LAPORAN KEUANGAN

Jenis Financial Shenanigans

1. Mengakui adanya pendapatana sebelum waktunya, atau mengakui pendapatan


yang kualitasnya masih dipertanyakan:
a. Mengakui pendapatan saat masih ada jasa yang belum diserahkan.
b. Mengakui pendapatan sebelum pengiriman barang atau sebelum barang
diterima dengan sah oleh konsumen.
c. Mengakui pendapatan meskipun atas transaksi tersebut konsumen tidak
wajib melakukan pembayaran.
d. Melakukan transaksi penjualan pada pihak afiliasi
e. Menyerahkan sesuatu yang berharga kepada konsumen sebagai “quid-pro-
quo”; pada dasarnya transaksi yang terjadi adalah pertukaran yang
seimbang.
f. Melakukan gross-up atas pendapatan.
2. Mengakui adanya pendapatan palsu sebagai pendapatan:
a. Mengakui penjualan yang tidak memiliki substansi ekonomis
b. Mengakui kas yang diterima dalam transaksi pinjaman sebagai pendapatan
c. Mengakui laba investasi sebagai pendapatan
d. Mengakui potongan harga dari pemasok atas transaksi pembelian dimasa
yang akan datang sebagai pendapatan.
e. Mencatatkan pendapatan yang sebelumnya dengan sengaja tidak diakui
dalam proses merger.
3. Meningkatkan laba dengan keuntungan insidental:
a. Meningkatkan laba dengan menjual aset yang undervalued
b. Menyertakan keuntungan atau laba investasi sebagai bagian dari
pendapatan.
c. Melaporkan keuntungan atau laba investasi sebagai pengurang atas beban
operasi
d. Memunculkan laba dengan melakukan reklasifikasi atas akun laporan
posisi keuangan.
4. Merubah periode pencatatan beban tahun berjalan ke periode sebelum atau
setelahnya:
a. Mengkapitalisasi biaya operasional, khususnya ketika sebelumnya entitas
langsung membebankan biaya tersebut.
b. Merubah kebijakan akuntansi dan merubah periode pencatatan beban
tahun berjalan ke periode sebelumnya yang telah lalu
c. Mengakui amortisasi dengan sngat lambat, masa manfaat diperpanjang.
d. Tidak melakukan pencatatan penurunan nilai pada aset yang telah turun
nilainya.
e. Mengurangi cadangan aset.
5. Tidak melakukan pencatatan atau dengan sengaja mengurangi nilai liabilitas:
a. Tidak melakukan pencatatan atas beban dan liabilitas terkait ketika
kewajiban masa depan masih ada.
b. Mengurangi nilai liabilitas dengan merubah asumsi akuntansi
c. Mencatatkan cadangan yang diragukan dalam laporan laba rugi
d. Menciptakan rabat (potongan harga) palsu.
e. Mencatatkan pendapatan ketika kas diterima, meskipun sebenarnya masih
ada kewajiban masa depan atas penerimaan kas tersebut.
6. Memindahkan pencatatan pendapatan periode berjalan ke periode yang akan
datang.
a. Menciptakan cadangan dan mencatatkannya sebagai laba di periode yang
akan datang.
b. Dengan sengaja menunda pencatatan pendapatan samapi dengan proses
akuisisi selesai.
7. Memindahkan beban masa depan ke periode berjalan sebagai kerugian
insidental.
a. Dengan sengaja memperbesar nilai yang diakui sebagai kerugian
insidental.
b. Dengan sengaja menghapuskan nilai biaya penelitian dan pengembangan
yang masih berjalan dari perhitungan akuisisi.
c. Mempercepat beban diskresioner pada periode berjalan.

Mendeteksi Financial Shenanigans

Ukuran yang dapat digunakan sebagai indikasi awal adanya financial shenanigans
adalah:

1. Entitas dengan penurunan Arus Kas dari Kegiatan Operasi yang sangat
tajam relatif terhadap laba bersih.
2. Entitas dengan pertumbuhan penjualan tahunan yang tinggi, namun
kemudian diikuti dengan pertumbuhan yang rendah atau negatif.
3. Entitas dengan pertumbuhan piutang yang tinggi relatif terhadap penjualan
– gunakan rasio Perputaran Piutang.
4. Entitas dengan tingkat persediaan yang tinggi relatif terhadap penjualan
dan harga pokok penjualan – gunakan rasio Perputaran Persediaan.
5. Entitas dengan penurunan laba kotor yang paling relatif rendah atau paling
tinggi.
6. Entitas dengan peningkatan yang signifikan pada aset tak berwujudnya.
7. Entitas dengan nilai pendapatan tangguhan yang tinggi

Penyaringan juga dapat dilakukan pada entitas dengan kata kunci berikut ini:

1. Pertumbuhan prinsip atau estimasi akuntansi


2. Adanya pendanaan oleh konsumen atau perpanjangan jangka waktu kredit
3. Perubahan kebijakan akuntansi
4. Perubahan klasifikasi akun
5. Perubahan Auditor eksternal
6. Perpanjangan pada termin pembayaran
7. Bill and hold
8. Termin kredit yang lebih liberal
9. Insider stock sales
10. Transaksi nonkeuangan
11. Transaksi pihak berelasi
12. Decline in backlog
13. Layaway sales

Apabila ditemukan adanya entitas yang memenuhi kriteria penyaringan awal di


atas, langkah selanjutnya adalah penelusuran lebih lanjut informasi yang
dikeluarkan oleh entitas berupa:

1. Laporan Auditor Independen


a. Ada tidaknya opini audit WTP
b. Reputasi auditor
2. Catatan atas Laporan Keuangan
a. Kebijakan akuntansi dan perubahan atas kebijakan akuntasi
b. Transaksi hubungan istimewa
c. Kontinjensi dan komitmen
3. Laporan Tahunan
a. Laporan Direksi
• Penyampaian laporan, apakah langsung pada fokusnya atau tidak
b. Diskusi dan Analisis
• Pengungkapan spesifik
• Konsistensi dengan CALK
• Bagaimana entitas menilai kondisi keuangan, likuiditas, dan rencana
biaya modal untuk periode yang akan datang.
c. Lainnya
• Litigasi dan tuntutan hukum lainnya
• Remunerasi direksi dan komisaris
• Transaksi hubungan istimewa
4. Prospektus
• Kinerja masa lalu
• Kualitas manajemen, direksi, dan komisaris

Hal - hal lain yang perlu diperhatikan:

1. Keberatan dan indenpedensi Komite Audit


2. Penggunaan kebijakan akuntansi yang agresif.
3. Ada tidaknya tuntutan hukum yang masih berjalan, khususnya yang
memiliki konsekuensi tinggi bagi entitas.
4. Ada tidaknya komitmen dalam bentuk kontrak pembelian jangka panjang,
khususnya jika klausul dalam kontrak ternyata merugikan entitas.
5. Ada tidaknya perubahan pada estimasi atau prinsip akuntansi yang
digunakan.
6. Penekanan pada penjelasan dari Direktur Utama, Khususnya untuk menilai
integritas manajemen: apakah penjelasan yang diberikan merupakan
pengalih perhatian dari kondisi keuangan sebenarnya dan apakah terjadi
pergantian yang cukup sering pada jajaran manajemen atas

Analisis atas Laporan Keuangan.

Analisis atas laporan keuangan entitas dilakukan dengan tiga langkah utama
berikut ini:

1. Melakukan common soze analysis atas Laporan Posisi Keuangan dan


Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif lain.
2. Membaca dengan seksama Catatan Atas Laporan Keuangan dan
penjelasan kualitatif lainnya sesuai daftar yang ada di atas.
3. Membandingkan Arus Kas dari Kegiatan Operasi entitas dengan Laba
Bersihnya.

Common Size Analysis

Common Size Analysis adalah teknik yang digunakan oleh analis untuk
menetukan porsi dari komponem Laporan Posisi Keuangan dan Laporan Laba
Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain terhadap suatu angka tertentu, yaitu
Nilai total Aset untuk komponem Laporan Posisi Keuangan, dan Nilai Total
Pendapatan untuk komponem Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif
Lain. Hasil dari Common Size Analysis dapat digunakan untuk menentukan
tingkat kesehatan dan kemampuan suatu entitas. Common Size Analysis dapat
dilakukan dalam bentuk vertikal dan horizontal.
Analisis vertikal dilakukan untuk suatu periode tertentu, sementara analisis
horizontal dilakukan untuk beberapa periode dengan suatu periode dijadikan
sebagai periode dasar. Analisis vertikal memungkinkan analis untuk melihat
struktur dan perubahan dalam struktur Laporan Posisi Keuangan dan Laporan
Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain. Aturan umumnya adalah:

• Struktur komponem kedua laporan tersebut akan relatif stabil tanpa


banyak perubahan yang signifikan.
• Persentase perubahan pendapatan akan tercemen dalam perubahan akun
beban dan modal kerja entitas.

Tabel 1. Daftar indikasi adanya shenanigans (warning signs)

Dalam Laporan Posisi Keuangan dan Laporan Laba Rugi dan Penghasilan
Komprehensif Lain
No Tanda - tanda Potensi Masalah/Shenanigans
Nilai Kas dan Kas Ekuivalen Masalah likuiditas, ada kemungkinan
1 yang turun lebih rendah dari perlu melakukan pinjaman
penurunan Nilai Total Aset
Nilai Piutang yang tumbuh lebih Kemungkinan aanya Pengakuan
cepat dari pada pertumbuhan Pendapatan yang terlalu agresif -
2 Nilai Penjualan/Pendapatan pengakuan pendapatan dipercepat atau
pemberian perpanjangan waktu
piutang pada konsumen
Nilai Piutang yang meningkat Piutang kemungkinan diklasifikasikan
3 lebih lambat dari pada dalam kategoti aset lain
peningkatan Nilai
Penjualan/Pendapatan
Pencadangan (penurunan nilai) Kemungkinan penggelembungan laba
4 piutang menurun relatif terhadap
nilai piutang
Nilai piutang yang belum Proporsi pendapatan yang diakui
ditagihkan tumbuh lebih cepat berdasarkan metode percentage-of-
5 dari pada pertumbuhan completion meningkat
penjualan atau piutang yang
telah ditagihkan
Nilai persediaan tumbuh lebih Persediaan kemungkinan telah usang,
6 cepat dari pada penjualan, harga membutuhkan penghapusan, atau
pokok, atau utang usaha entitas lalai membebankan sebagaian
harga pokok penjualan
Pencadangan (penurunan nilai) Kemungkinan pengglembungan laba
7 persediaan menurun secara
relatif terhadap nilai persedian
Persentase Beban Dibayar Kemungkinan terjadinya kapitalisasi
8 Dimuka terhadap Total Aset yang tidak wajar terhadap beban
entitas meningkat tajam operasi
Persentase Aset Lainnya Kemungkinan terjadinya kapitalisasi
9 terhadap Total Aset entitas yang tidak wajar terhadap beban
meningkat secara signifikan operasi
Persentase Harga Perolehan Aset Kemungkinan terjadinya kapitalisasi
10 Tetap terhadap Total Aset entitas atas Beban Perawatan dan Perbaikan
meningkat tajam
Persentase Harga Perolehan Aset Kegagalan Investasi pada Aset Tetap
11 Tetap Terhadap Total Total Aset di tahun berjalan
entitas menurun tajam
Nilai Akumulasi Penyusutan Kelalaian dalam pengakuan ilai
12 mengalami penurunan saat nilai pensutan yang wajar –
Harga Perolehan Aset Tetap penggelembungan laba
mengalami peningkatan
Persentase Goodwill terhadap kemungkinan pengklasifikasian aset
13 Total Aset entitas menigkat berwujud sebagai goodwill untuk
tajam menghindari pengakuan beban
penyusutan
Pertumbuhan Utang Usaha yang Kelalaian dalam melakukan
jauh lebih tinggi dari pada pembayaran atas utang terkait
14 pertumbuhan Pendapatan pembelian persediaandan
perlengkapan – potensi pengeluaran
kas yang tinggi pada periode yang
akan datang
Persentase Beban yang masih Kemungkinan Pengglebungan laba
15 harus dibayar terhadap Total
Aset entitas mengalami
penurunan
Nilai Pendapatan yang Bisnis entitas mengalami penurunan
16 Ditangguhkan mengalami atau entitas menggelembungkan
penurunan saat nilai Pendapatan pendapatan
meningkat
Persentase Harga Poko terhadap Kemungkinan adanya tekanan atas
17 Penjualan meningkat dengan kebijakan penetapan harga sehingga
cepat laba kotor menurun
Persentase Harga Pokok Kemungkinan entitas lalai untuk
18 terhadap Penjualan mengalami mengalihkan biaya produk dari
penurunan persediaan ke harga pokok
Persentase Harga Pokok Laba kotor yang tidak stabil dapat
19 terhadap Penjualan mengalami menunjukan adanya accounting
fluktuasi yang signifikan secara irregularities.
periodic
Persentase Beban Operasional Kemungkinan terjadinya kapitalisasi
20 terhadap Pendapatan mengalami yang tidak wajar terhadap beban
penurunan tajam operasi
Persentase Beban Operasional Kemungkinan adanya penurunan
21 terhadap Pendapatan mengalami efisiensi entitas, menghasilkan beban
peningkatan secara signifikan lebih tinggi untuk setiap unit yang
terjual.
Sebagian besar Laba Bersih Bisnis utama entitas mengalami
22 sebelum Pajak berasal dari penurunan
Keuntungan insidentil
Persentase Beban Bunga Potensi pengeluaran kas yang lebih
23 terhadap Nilai Utang Jangka tinggi
Panjang mengalami peningkatan
yang signifikan
Persentase Beban Bunga Kemungkinan terjadinya kapitalisasi
24 terhadap Nilai Utang Jangka yang tidak wajar terhadap beban
Panjang mengalami penurunan bunga
yang signifikan

Dalam Laporan Arus Kas


No Tanda - tanda Potensi Masalah / Shenanigans
Nilai Arus Kas dari Kegiatan Kualitas Laba dipertanyakan atau
Operasi entitas jauh lebih renda pengeluaran untuk modal kerja terlalu
1
dibandingkan dengan nilai Laba tinggi
Bersih
Entitas lalai untuk Entitas kemungkinan berusaha untuk
2 mengungkapkan rincian Arus menyembunyikan sumber masalah
Kas dari Kegiatan Operasi dari masalah arus kas operasional
Penerimaan kas entitas Tanda-tanda kelemahan entitas,
sebagaian besar berasal dari khususnya apabila penerimaan kas
3
penjualan aset, pinjaman, atau hanya berasal dari penjualan aset,
tambahan modal pinjaman, atau tambahan modal

Dalam Catatan atas Laporan Keuangan, Laporan Tahunan, Laporan Audit


Independen
No Tanda - tanda Potensi Masalah/Shenanigans

1 Perubahan Kebijakan Akuntansi Usaha untuk menyembunyikan


masalah operasional
2 Perubahan Estimasi Akuntansi Usaha untuk menyebunyikan masalah
operasional
3 Perubahan Klasifikasi Akuntansi Usaha untuk menyembunyikan
masalah operasional
4 Perubahan KAP yang Tanda – tanda klien yang beresiko
melakukan eksternal auditor
5 Perubahan Chief Financial Tanda – tanda klien yang beresiko
Officer
6 Adanya investigasi dari Dapat mengakibatkan adanya
Bapepam atau OJK restatement atas laporan keuangan
7 Komitmen Jangka
Kemungkinan adanya pengeluaran kas
Panjang/Kontinjensi yang besar dimasa depan
8 Adanya tuntutan hukum atau Kemungkinan adanya pengeluaran kas
potensial adanya tuntutan hukum
yang besar dimasa depan
Kemungkinan
Kebijakan akuntansi yang liberal adanya
9 penggelembungan laba dalam laporan
keuangan
Insentif manajemen yang Kemungkinan adanya financial
10 misguided shenanigans sebagai sarana untuk
meningkatkan laba, bonus, dan harga
saham
11 Lingkungan pengendalian yang Menimbulkan kesempatan untuk
lemah melakukan financial shenanigans
12 Kekhawatiran auditor Tanda – tanda klien yang beresiko
Manajemen yang promosional Kemungkinan penggunaan financial
13 shenanigans yang lebih tinggi
dibandingkan manajemen yang lebih
konservatif
Pengendalian metode percentage Adanya kemungkinan
14 of completion untuk pengakuan penggelembungan pendapatan
pendapatan
Penggunaan metode bill and Ada kemungkinan penggelembungan
15 hold untuk pengakuan pendapatan
pendapatan
Ketergantungan yang berlebihan Potensi masalah bisnis dan keuangan
16 pada beberapa konsumen di masa depan jika salah satu
konsumnen meninggalkan entitas
Konsumen utama mengalami Bisnis dan Keuangan entitas dapat
17 masalah keuangan melemah bila konsumen utama
mengalami kebangkrutan
Penjual mendanai konsumen Ada kemungkinan penggelembungan
18 pendapatan, dan bisnis entitas
kemungkinan lebih lemah dari yang
dibayangkan
19 Konsumen memiliki hak untuk Kemungkinan pendapatan diakui
mengembalikan produk sebelum waktunya
20 Transaksi barter Ada kemungkinan penggelembungan
pendapatan
21 Penjual memberikan waran Ada kemungkinan penggelembungan
saham kepada konsumen pendapatan
22 Adanya kapitalisasi atas bunga Ada kemungkinan penggelembungan
atau software Laba
Adanya liabilitas yang tidak Kewajiban atas kas di masa depan
23 tercatat, seperti opsi saham lebih tinggi dari ekspektasi dan ada
kemungkinan penggelembungan laba
24 Kelalaian dalam menentukan Ada kemungkinan bank akan menarik
debt covenant pinjaman yang berdampak buruk pada
posisi kas entitas
Tidak adanya pihak independen Lingkungan pengendalian yang lemah
25 pada jajaran direksi/komisaris dapat menimbulkan kesempatan bagi
manajemen untuk melakukan
financial shenanigans
Beban operasi masa depan telah Dapat mengakibatkan
26 dibayar dimuka penggelembungan pada laba operasi
di masa depan

Checklist 1 : Tanda-tanda Kemungkinan adanya Laporan Keuangan yang


Menyesatkan
Pemilihan Kebijakan AKuntansi Terlalu Liberal
Merubah kebijakan akuntansi Tidak memiliki dasar/alasan yang jelas
Menangguhkan Biaya Laba akan overstated
Melakukan income smooting Laba akan understated
Mengakui pendapatan lebih cepat Laba akan overstated
Kurang menyisihkan cadangan untuk beban Laba akan overstated
Merubah biaya diskresioner Manipulasi laba
Kualitas pengendalian yang rendah Resiko adanya shenanigans
Mengganti KAP Resiko adanya shenanigans
Melakukan “big bath” Laba masa depan akan meningkat

Area Permasalahan Utama

Berdasarkan contoh kasus yang dibahas dalam buku teks, sebagian besar financial
shenanigans berasal dari 2 (dua) area permasalahan utama:

1. Akuntansi untuk akuisisi


2. Akuntansi untuk pengakuan pendapatan

Kemungkinan shenanigans terkait akuntansi untuk akuisisi:

1. Melakukan akuisisi dengan menggabungkan entitas yang tidak


menghasilkan laba. Penggabungan ini hanya akan meningkatkan
pendapatan, laba, dan harga saham secara jangka pendek. Akan
memberikan keuntungan bagi yang melakukan penggabungan, namun
akan merugikan bagi investor jangka panjang.
2. Menggeser kerugian ke periode “stub”. Stub-period adalah suatu periode
yang muncul karena perbedaan periode pelaporan antara entitas yang
mengakuisisi dengan entitas yang diakuisisi. Stub-period ini dapat
dimanfaatkan untuk melakukan menahan pengakuan pendapatan dan
meningkatkan pengakuan beban.
3. Melakukan write-off sebelum dan sesudah akuisisi
4. Melepaskan cadangan yang tercipta akibat adanya write-off.
5. Merubah Alokasi harga akuisisi terjadi, meningkatkan alokasi harga
akuisisi pada goodwill dan mengakui beban akuisisi sebagai aset.
6. Melakukan akuisisi dengan meminta adanya potongan harga akuisisi, yang
kemudian diakui sebagai pendapatan bagi entitas yang melakukan akuisisi.
7. Memberikan waran saham sebagai pemanis untuk komitmen pembelian
masa depan.

Beberapa transaksi yang dikhawatirkan akan menimbulkan kesempatan untuk


melakukan financial shenanigans terkait dengan akuntansi untuk pengakuan
pendapatan adalah:

1. Pendapatan dari kontrak kontruksi jangka panjang.


Kontrak jangka panjang memberikan alternatif pengakuan pendapatan
pada saat penyelesaian kontrak atau sesuai dengan persentase
penyelesiannya.
Pengakuan pendapatan menggunakan metode persentase penyelesaian
mengandung ketidakpastian yang tinggi karena melibatkan estimasi atas
biaya masa depan dan kejadian masa depan.
Tanda-tanda yang perlu diperhatikan adalah jika nilai Piutang yang Belum
Ditagihkan tumbuh lebih cepat dari nilai Piutang atau Penjualan, maka
penggunaan metode persentase penyelesaian kemungkinan tidak tepat atau
digunakan dengan agresif.
2. Penjualan konsinyasi.
Perhatikan apakah entitas (sebagai consignor) mencatat pendapatan saat
pengiriman produk kepada retailer (sebagai consignee)
3. Penjualan cicilan
4. Pendapatan dari penyewaan aset (leasing)
Yang perlu diperhatikan adalah:
a. Apakah entitas telah merubah pengakuan dari operating lease menjadi
finance lease, (dalam hal ini sales-type lease). Pendapatan jangka
pendek dari sales-type lease akan lebih tinggi dibandingkan sekedar
penerimaan sewa dalam operating lease.
b. Apakah ada perubahan pada asumsi finance lease, khususnya pada
tingkat diskonto dan nilai sisa. Tingkat diskonto yang leboh rendah dan
nilai sisa yang lebih tinggi akan menggeser pendapatan ke tahun awal
periode sewa.

Analisis Menggunakan Rasio Keuangan

Rasio Protabilitas – Mengukur kinerja keuangan entitas dalam suatu periode


tertentu.

a. Gross profit margin = Laba kotor/penjualan


b. Operating margin= laba operasi/penjualan
c. Net profit margin= laba bersih setelah pajak (LBSP)/penjualan
d. Return on asset (ROA) = LBSP/total aset
e. Retuen on equity (ROE) = LBSP/total ekuitas
f. Earnings per share (EPS) = LBSP/jumlah saham beredar

Rasio Likuiditas – mengindikasikan jumlah kas atau aset jangka pendek (seperti
piutang dan persediaan) yang tersedia. Apabila tingkat likuiditas meningkat terlalu
tinggi, maka entitas mengorbankan profitabilitasnya: apabila tingkat likuiditas
turun terlalu rendah, entitas menghadapi potensi tidak dapat membayar
kewajibannya.

a. Current ratio =aset lancar/liabilitas lancar


b. Working capital= aset lancar – liabilitas lancar
c. Quick ratio= (kas+piutang)/liabilitas lancar

Semakin tinggi nilai working capital, maka cadangan yang tersedia untuk
memenuhi kebutuhan kas tak terduga semakin tinggi.

Rasio solvency – merefleksikan kemampuan entitas untuk memenuhi


kewajibannya, mengindikasikan bagaimana entitas mendanai kegiatan operasinya.

Apabila entitas memiliki tingkat leverage yang tinggi, maka risiko yang dihadapi
juga semakin besar; apabila tingkat leverage-nya rendah, maka kemungkinan
entitas tersebut tidak menggunakan kesempatan yang ada untuk mendapatkan
pendanaan jangka panjang untuk melakukan pertumbuhan.

a. Debt to asset= total utang/total aset


b. Debt to equity= total utang/total ekuitas
c. Long-term debt to equity = utang jangka panjang/total ekuitas
d. Intersr coverage ratio =laba operasi/beban bunga

Rasio aktivitas – mengidedikasikan efisiensi produktif dari entitas. Secara umum,


rasio aktivitas yang kuat dapat dikaitkan dengan tingkat profitabilitas yang tinggi,
sebagai hasil dari tingginya efisiensi produktif.

a. Inventory turnover= harga pokok /rerata persedian


b. Average days inventory= 365/inventory/rerata piutang
c. Receivable turnover= penjualan/rerata piutang
d. Average receivable collection period = 365/receivable turnover

Semakin tinggi nilai inventory turnover, semakin lama persediaan berada dalam
entitas dan tidak terjual. Semakin tinggi receivable turnover, semakin lama
piutang tidak terbayarkan.

Analisis menggunakan rasio keuangan dapat dilakukan dengan membandingkan


rasio keuangan periode tertentu dengan periode sebelumnya, atau antara rasio
keuangan entitas tertentu dengan entitas lain dan dengan industrinya. Penggunaan
rasio memang mudah dan sederhana, namun demikian tetap memiliki kelemahan,
diantaranya:
• Rasio hanya merupakan cerminan untuk ukuran tertentu seingga tidak
perlu dianggap sebagai ukuran yang paling tepat.
• Apabila terjadi manipulasi atas laporan keuangan, maka rasio yang
digunakan tidak akan akurat.
• Rasio hanya melibatkan informasi kuantitatif dalam laporan keuangan

Untuk memastikan bahwa pelaporan keuanan telah akurat, analis dan pembaca
laporan keuangan perlu memperhatikan beberapa prinsip berikut ini:

1. Pendapatan seharusnya diakui setelah proses perolehannya selesai


dilakukan dan pertukaran dengan barang dan jasa telah terjadi. Sejala
dengan hal itu, keuntungan seharusnya diakui ketika suatu aset non
operasional dijual pada harga di atas harga bukunya.
2. Entitas melakukan pencatatan atas biaya yang telah terjadi dalam bentuk
kapitalisasi sebagai aset jika ada manfaat masa depan atas biaya tersebut;
dan membebankannya dalam periode berjalan bila tidak ada manfaat masa
depan atas biaya tersebut.
3. Seiring dengan adanya manfaat aset yang diterima oleh entitas, entitas
akan mengakui manfaat tersebut sebagai beban dalam periode berjalan.
4. Ketika terjadi penurunan nilai aset yang terjadi tiba-tiba dan sangat
signifikan, penurunan nilai tersebut harus segera diakui seluruhnya pada
periode berjalan.
5. Entitas harus mencatatkan adanya liabilitas jika telah muncul kewajiban
untuk melakukan pengorbanan aset di masa depan
6. Pendapatan dicatatkan pada periode terjadinya.
7. Beban dicatatkan pada periode ketika entitas menerima manfaat dari beban
tersebut.
Referensi

Modul Charatered Accountant: Pelaporan Korporat. 2015. Ikatan Akuntan


Indonesia