Você está na página 1de 7

ISLAM DAN PERADABAN

ALIRAN QODARIYAH
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata kuliah Islam dan Peradaban

Oleh :
Nama : Feraldi Akbar Destian
NPM : 10070217068
Kelas :B

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2019 M / 1440 H
Berbicara masalah aliran pemikiran dalam Islam berarti berbicara tentang Ilmu Kalam.
Kalam secara harfiah berarti “kata-kata”. Kaum teolog Islam berdebat dengan kata-kata dalam
mempertahankan pendapat dan pemikirannya sehingga teolog disebut sebagai mutakallim yaitu
ahli debat yang pintar mengolah kata. Munculnya berbagai kelompok teologi dalam Islam tidak
terlepas dari faktor historis yang menjadi landasan kajian. Bermula ketika Nabi Muhammad SAW
wafat, riak-riak perpecahan di antara kaum Muslim timbul kepermukaan. Perbedaan pendapat
dikalangan sahabat tentang siapa pengganti pemimpin setelah Rasul, memicu pertikaian yang tidak
bisa dihindari. Semua terbungkus dalam isu-isu yang bernuansa politik, dan kemudian berkembang
pada persoalan keyakinan tentang tuhan dengan mengikutsertakan kelompok-kelompok mereka
sebagai pemegang “predikat kebenaran”.
Ada beberapa kelompok besar yang pemahamannya sangat ekstrim (berlebihan) dan saling
bertolak belakang. Kelompok ini muncul di akhir era para sahabat. Diantara kelompok tersebut
adalah Qadariyah, pemikiran qadariyah ini bercorak liberal.
A. ALIRAN QODARIYAH
1. Pengertian dan Asal-usul Qodariyah
Kata Qadariyah berasal dari bahasa Arab qadara yang berarti kemampuan dan kekuatan.
Nama Qadariyah juga berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai qudrah atau
kemampuan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kehendaknya sendiri, bukan berasal dari
pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar atau ketentuan Allah. Dalam istilah
Inggrisnya paham ini dikenal dengan nama free will dan free act.
Aliran-aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala
perbuatannya. Seseorang dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri.
Aliran ini lebih menekankan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbuatan-
perbutannya. Harun Nasution menegaskan bahwa aliran ini berasal dari pengertian bahwa manusia
mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa
manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan.
Asal-Usul Kemunculan Qadariyah
1.1 Pendapat Ahmad Amin
Kapan Qadariyah muncul dan siapa tokoh-tokohnya? Merupakan dua tema yang masih
diperdebatkan. Menurut Ahmad Amin, ada ahli teologi yang mengatakan bahwa Qadariyah
pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad Al-Jauhani dan Ghailan Ad-Dimasyqy. Ma’bad adalah

1
seorang atba’ tabi’i yang dapat dipercaya dan pernah berguru pada Hasan Al-Basri. Adapun
Ghalian adalah seorang orator berasal dari Damaskus dan ayahnya menjadi maula Usman bin
Affan.
1.2 Pendapat Ibnu Nabatah
Ibnu Nabatah dalam kitabnya Syarh Al-Uyum, seperti dikutip Ahmad Amin, memberi
informasi lain bahwa yang pertama kali memunculkan faham Qadariyah adalah orang Irak yang
semula beragama kristen kemudian beragama islam dan balik lagi keagama kristen. Dari
oranginilah Ma’bad dan Ghailan mengambil faham ini. Orang Irak yang dimaksud sebagaimana
dikatakan Muhammad Ibnu Syu’ib yang memperoleh informasi dari Al Auza’i adalah Susan.
1.3 Pendapat W. Montgomery
Sementara itu, W. Montgomery watt menemukan dokumen lain melalui tulisan Hellmut Ritter
dalam bahasa jerman yang dipublikasikan melaului majalah Der Islam pada tahun 1933. Artikel
ini menjelaskan bahwa faham Qadariyah terdapat dalam kitab Risalah dan ditulis untuk Khalifah
Abdul malik olah Hasan Al-Basri termasuk orang Qadariyah atau bukan. Hal ini memang menjadi
perdebatan, namun yang jelas, berdasarkan catatannya terdapat dalam kitab.
2. Doktrin-Doktrin Qodariyah
Dalam kitab Al-Milal wa An-Nihal, pembahasan masalah Qadariyah disatukan dengan
pembahasan tentang doktrin-doktrin Mu’tazilah, sehingga perbedaan antara kedua aliran ini
kurang begitu jelas.
Ahmad Amin juga menjelaskan bahwa doktrin qadar lebih luas di kupas oleh kalangan
Mu’tazilah sebab faham ini juga menjadikan salah satu doktrin Mu’tazilah akibatnya, orang
menamakan Qadariyah dengan Mu’tazilah karena kedua aliran ini sama-sama percaya bahwa
manusia mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tindakan tanpa campur tangan tuhan.
Manusia Mempunyai Qudroh
Ali Mushthafa Al Gurobi antara menyatakan “bahwa sesungguhnya Allah telah
menciptakan manusia dan menjadikan baginya kekuatan agar dapat melaksanakan apa yang
dibebankan oleh Tuhan kepadanya, karena jika Allah memberi beban kepada manusia, maka
beban itu adalah sia-sia, sedangkan kesia-siaan itu bagi Allah itu adalah suatu hal yang tidak
boleh terjadi”.
Pemahaman yang dimiliki Qodariyah ditujukan kepada qudrat yang dimiliki manusia.
Namun terdapat perbedaan antara qudrat manusia dengan qudrat Tuhan. Qudrat Tuhan bersifat

2
abadi, kekal, berada pada zat Allah, tunggal, tidak berbilang. Sedangkan qudrat manusia adalah
sementara, berproses, bertambah dan berkurang, dapat hilang.
Pendapat Aliran Qodariyah Tentang Taqdir
Faham takdir dalam pandang Qadariyah bukanlah dalam pengertian takdir yang umum
di pakai bangsa Arab ketika itu, yaitu faham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah di
tentukan terlebih dahulu. Dalam perbuatan-perbuatannya, manusia hanya bertindak menurut nasib
yang telah di tentukan sejak azali terhadap dirinya. Dalam faham Qadariyah, takdir itu ketentuan
Allah yang di ciptakan-Nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya, sejak azali, yaitu hukum
yang dalam istilah Al-Quran adalah sunatullah.
Hampir semua paham-paham Qadariyah bertentangan dengan apa yang dipahami ahlu al-
sunnah wa al-jamaah. Adapun paham yang dikembangkan kaum qadariyah diantaranya adalah:
1. Meletakkan posisi manusia sebagai makhluk yang merdeka dalam tingkah laku dan semua
perbuatan, baik dan buruknya. Mereka meyakini bahwa manusia mempunyai kekuatan
untuk menentukan nasibnya tanpa ada intervensi dari Allah Swt. Jadi manusia
mendapatkan surga dan neraka karena kehendak mereka sendiri bukan karena taqdir.
Paham ini merupakan ajaran terpenting dalam keyakinan qadariyah.
2. Kaum qadariyah mengatakan bahwa Allah itu Esa, dalam artian bahwa Allah tidak
memiliki sifat-sifat Azaly, seperti ilmu, kudrah dan hayat. Menurut mereka Allah
mengetahui semuanya dengan zatNya, dan Allah berkuasa dengan zatNya, serta hidup
dengan zatNya, bukan dengan sifat-sifat qadimNya tersebut. Mereka juga mengatakan,
kalau Allah punya sifat qadim tersebut, maka sama dengan mengatakan bahwa Allah lebih
dari satu.
3. Takdir merupakan ketentuan Allah SWT terhadap hukum alam semesta sejak zaman azali,
yaitu hukum yang dalam Al-Qur’an disebut sunnatullah, seperti matahari terbit dari timur,
rotasi bumi dll. Tidak termasuk perbuatan dan tingkah laku manusia.
4. Kaum qadariyah berpendapat bahwa akal manusia mampu mengetahui mana yang baik
dan mana yang buruk, walaupun Allah tidak menurunkan agama. Agama tidak
menyebabkan sesuatu menjadi baik karena diperintahkannya, dan tidak pula menjadi buruk
karena dilarangnya. Bahkan perintah atau larangan agama itu justru mengikuti keadaan
segala sesuatu, kalau sesuatu itu buruk, tentu saja agama melarangnya, begitu sebaliknya.

3
Sebenarnya dalam golongan Qadariyah sendiri ada perbedaan pendapat dan pemahaman
seputar masalah taqdir. Ada golongan qadariyah yang berpendapat bahwa kebaikan berasal dari
Allah Ta’ala, sedangkan keburukan berasal dari manusia itu sendiri. Pemahaman ini sama dengan
menganggap ada dua pencipta. Ada yang berpendapat bahwa semua kebaikan dan keburukan
penciptanya adalah pelakunya sendiri. Sebagian golngan qadariyah lainnya menyebutkan bahwa
setelah Allah menciptakan makhluk, lalu Allah menciptakan kemampuan pada makhluk tersebut
untuk berbuat sesuai kemauannya tanpa ada pengaturan lagi dari Allah. Pemahaman ini berarti
setelah Allah menciptakan alam. semesta Allah menganggur, hanya menonton kejadian yang
terjadi di alam.
Karena pendapat dan pemahaman-pemahaman seperti inilah muncul celaan-celaan
terhadap qadariyah. Sebagaimana Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a, ia berkata, "Rasullah
saw. bersabda, “Qadariyah adalah majusi ummat ini. Jika mereka sakti jangan kalian jenguk dan
jika mereka mati jangan kalian saksikan jenazahnya," (Hasan, Silsilah Jaami' ash-Shaaghiir
[4442]). Ibnu Abi 'Izz al-Hanafi dalam kitab al-Aqidah ath-Thahaawiyah (hal.524) berkata, "Akan
tetapi penyerupaan mereka dengan Majusi sangatlah nyata. Bahkan keyakinan mereka lebih buruk
dari majusi. Karena Majusi meyakini adanya dua pencipta sedangkan qadariyah meyakini adanya
banyak pencipta."
Dalam kitab Al Ibana al-Kubra Li Ibni Batha, disebutkan bahwa Imam Al- Au'zai
mengatakan :
‫القدرية خصماء هللا عز وجل في األرض‬
"Qadariyyah adalah musuh Allah di dunia", Yang dimaksud musuh Allah di sini adalah musuh
mengenai taqdir Allah, karena taqdir Allah terdiri dari kebaikan dan keburukan. Demikian pula
perbuatan manusia terdiri dari dua macam yaitu baik dan buruk.
Dalam kitab As-Sunnah, Ibn Abi 'Ashim meriwayatkan dari Sa'ad bin Abd al-Jabbar,
katanya: "Saya mendengar Imam Malik bin Anas berkata: Pendapat saya tentang kelompok
Qadariyyah adalah, mereka itu disuruh bertaubat. Apabila tidak mau, mereka harus dihukum mati".
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa pemahaman seperti kelompok
Qadariyyah itu sesat dan menyesatkan. Karena itu kaum muslimin hendaklah berhati-hati terhadap
orang atau kelompok yang memiliki pendapat seperti mereka. Allah yang Maha Suci, tidak
mungkin kekuasaan-Nya ditembus oleh sesuatu tanpa kehendak-Nya. Memang seorang hamba
memiliki keinginan dan kehendak, akan tetapi semua itu tetap mengikut kehendak dan keinginan

4
Allah. Manusia memiliki kebebasan untuk berbuat, namun kebebasan yang mengikuti kehendak
dan keinginan yang memberi kebebasan yaitu Allah.
3. Dalil-Dalil yang menjadi Dasar Ajaran Qodariyah
Doktrin-doktrin ini mempunyai tempat pijakan dalam doktrin Islam sendiri. Ada beberapa
dalil al-Quran yang dijadikan landasan untuk mendukung paham-paham Qadariyah. Dalil-dalil
tersebut diantaranya: Dalam surat Al-Kahfi ayat 29: Dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya
dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa
yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu
neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka
akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah
minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.
Qs.Ar-raad:11: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran,
di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah
tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri
mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada
yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. [767] Bagi tiap-
tiap manusia ada beberapa Malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula
beberapa Malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah
Malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut Malaikat Hafazhah [767]. Tuhan tidak akan
merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka [768].

5
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/9397452/Makalah_Ilmu_Kalam_Aliran_Qadariyah_dan_Jaba
riyah