Você está na página 1de 178

FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU PEMBERIAN

ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA 6 – 12 BULAN DI KELURAHAN GEREM

WILAYAH KERJA PUSKESMAS GROGOL KOTA CILEGON TAHUN 2015

Skripsi

Oleh :

Ana Mahillatul Jannah

(109101000009)

PEMINATAN GIZI

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

1437 H / 2016
LEMBARPERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan .untuk memenuhi salah satu

persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri (UIN) SyarifHidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya canturnkan sesum

dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas

Islam Negeri (UIN) SyarifHidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya.. asli saya atau

merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang

berla:ku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN)

Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Juli 2016

Ana Mahillatul Jannah


ii

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH


JAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN GIZI

Skripsi, Juni 2016


Ana Mahillatul Jannah, NIM. 109101000009
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU
PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA 6 – 12 BULAN DI
KELURAHAN GEREM WILAYAH KERJA PUSKESMAS GROGOL
KOTA CILEGON TAHUN 2015
xviii + 120 halaman, 24 tabel, 3 gambar, 4 lampiran

ABSTRAK

Salah satu prioritas pembangunan nasional sebagaimana tertuang


pada dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menegah Nasional dan
Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014 adalah perbaikan
status gizi masyarakat. Di Indonesia, Departemen Kesehatan RI (Depkes)
melalui Program Perbaikan Gizi Masyarakat telah menargetkan cakupan
ASI eksklusif sebesar 80% sebagai salah satu indikator kegiatan
pembangunan gizi kesehatan masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran cakupan ASI
Eksklusif serta faktor yang berhubungan dengan perilaku pemberian ASI
eksklusif di Kelurahan Gerem wilayah kerja Puskesmas Grogol Kota
Cilegon tahun 2015. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan
desain cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah seluruh ibu menyusui
yang mempunyai bayi berusia 6-12 bulan, sebanyak 56 sampel secara
Proportional Random Sampling.
Analisis data penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat
dengan uji statistik Chi-square. Hasil penelitian didapatkan proporsi
pemberian ASI eksklusif di Kelurahan Gerem sebesar 48,2 %. Faktor yang
berhubungan dengan Pemberian ASI eksklusif di kelurahan Gerem adalah
paritas ibu (P=0,024), tingkat pendidikan ibu (P=0,004), pengetahuan ibu
(P=0,000), tempat persalinan (P=0,003), penolong persalinan (P=0,024),
dukungan petugas kesehatan (P=0,001), dan dukungan keluarga. (P=0,000).
Faktor yang tidak berhubungan adalah umur ibu (P=0,263) dan pekerjaan
ibu (P=1,000).
Saran untuk puskesmas Grogol adalah melakukan monitoring dan
evaluasi terkait adanya kegiatan pemberian PMT ASI agar pemberiannya
tepat sasaran serta memberikan edukasi dan informasi lengkap tentang ASI
eksklusif kepada ibu dan juga keluarganya (suami dan orang tua). Saran
untuk ibu adalah lebih aktif melakukan konsultasi pemeriksaan kehamilan
guna memperoleh informasi dan pengetahuan terkait ASI eksklusif. Saran
untuk peneliti selanjutnya adalah menganalisis faktor-faktor lainnya yang
belum diteliti dalam penelitian ini dengan desain studi yang berbeda dan
jumlah sampel yang lebih banyak.
Kata Kunci : ASI eksklusif, faktor yang berhubungan, perilaku ibu
iii

STATE ISLAMIC UNIVERSITY SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA


FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES
DEPARTEMENT OF PUBLIC HEALTH
SPECIALISATION NUTRITION

Undergraduated, June 2016


Ana Mahillatul Jannah, NIM. 109101000009

FACTORS - FACTORS ASSOCIATED WITH EXCLUSIVE


BREASTFEEDING IN INFANTS 6-12 MONTHS IN GEREM
VILLAGE THE WORK AREA OF GROGOL HEALTH CENTER
CILEGON CITY AT 2015
xviii + 120 pages, 24 tables, 3 image, 4 attachment

ABSTRACT

One of the priorities of national development as stated in the


document of the National Medium Term Development Plan and the
Strategic Plan 2010-2014 Ministry of Health is the improvement of the
public nutrition status. In Indonesia, the Ministry of Health through the
Public Nutrition Improvement Program has targeted the coverage of
exclusive breastfeeding by 80% as one indicator of the development
activities of public health nutrition.
This study aims to determine picture coverage exclusive
breastfeeding and the factors associated with exclusive breastfeeding in
Gerem Village the work area of Grogol health center Cilegon City in 2015.
This study uses a quantitative method with cross-sectional design. The
sample of this study are all mothers who have infant aged 6-12 months, as
many as 56 samples were Proportional Random Sampling. Analysis of the
data of the research is the analysis of univariate statistical tests with
bivariat and Chi-square.
This study shows that the proportion of breastfeeding in Gerem
Village is 48,2%. The factors associated with exclusive breastfeeding in
Gerem Village are mother’s parity (P=0,024), mother’s education
(P=0,004), mother’s knowledge (P=0,000), place of birth (P=0,003), birth
attendance (P=0,024), health worker’s support (P=0,001), and family’s
support. (P=0,000). The factors unassociated with the exclusive
breastfeeding is mother’s age (P=0,263) and mother’s working status
(P=1,000).
Suggestions for Grogol health centers are monitoring and evaluation
related to their activities for giving PMT ASI in order to gift right on target
as well as provide education and complete information about exclusive
breastfeeding to mother and her family (husband and parents). Suggestions
for the mother is more active to consultation of pregnancy in order to obtain
information and knowledge related to exclusive breastfeeding.. Suggestions
for further research is to analyze the other factors that have not been
examined in this study with a different study design and more of samples.

Keyword : Exclusive breastfeeding, factors Associated, mothers’s behavior


iv

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi Dengan Judul

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU

PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA 6-12 BULAN

DI KELURAHAN GEREM WILAYAH KERJA PUSKESMAS GROGOL

KOTA CILEGON TAHUN 2015

Telah disetujui, diperiksa dan dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi

Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri SyarifHidayatullah Jakarta

Jakarta, Juli 2016

Pembimbing I


Ratri Ciptaningtvas, SKM, MHS
NIP. 19840404 200912 2 007

Pembimbing II

--~
Dr. M. Farid Hamzens, M.Si
NIP. 19630621199403 1 001
v

PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDA YATULLAH JAKARTA

Jakarta, 20 Juni 2016

Penguji II

(Fajar Ariyanti{Jvi.Kes, Ph.D)


NIP: 19761209 200604 2 003

Penguji III

~
(Laily Hanifah, M.Kes)
vi

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Ana Mahillatul Jannah

Tempat/Tgl Lahir : Serang, 11 Januari 1991

Alamat : Jl. Sunan Drajat Link. Kubang Welut Widuri Rt.04 Rw.04

Kel. Kubangsari Kec. Ciwandan Kota Cilegon Banten

42445

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Status Materital : Belum Menikah

Kewarganegaraan : Indonesia

Telp/Hp : 081310945898

Email : ana.mj1991@gmail.com

RIWAYAT PENDIDIKAN FORMAL

1997 – 2003 : SDN Kubangsari I Ciwandan

2003 – 2006 : MTs Al-Khairiyah Kubangsari Ciwandan

2006 – 2009 : SMAN 2 Krakatau Steel Cilegon

2009 – sekarang : S-1 Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan


vii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT

karena rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan

judul “Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif

pada Bayi Usia 6-12 Bulan di Kelurahan Gerem Wilayah Kerja Puskesmas Grogol

Kota Cilegon Tahun 2015”.

Penulis menyadari dalam penyusunan skripsi ini banyak kesulitan yang

dihadapi. Namun, dengan dukungan dan bantuan dari berbagai pihak penulisan

skripsi ini dapat terselesaikan. Sehingga penulis sangat berterima kasih kepada

berbagai pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan skripsi ini,

diantaranya :

1. Bapak Dr. H. Arif Sumantri SKM. MKes. selaku Dekan Fakultas Kedokteran

dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ibu Fajar Ariyanti, M.Kes, Ph.d. selaku Ketua Program Studi Kesehatan

Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam

Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Ibu Iting Shofwati, ST, MKKK selaku dosen pembimbing akademik penulis.

4. Ibu Ratri Ciptaningtyas, SKM, MHS. selaku dosen pembimbing I yang telah

meluangkan waktu, tenaga, fikiran, keikhlasan, dan kesabaran dalam

membimbing peneliti.

5. Bapak Dr. M. Farid Hamzens, M.Si. selaku pembimbing II yang telah

meluangkan waktu, tenaga, fikiran, keikhlasan, dan kesabaran dalam

membimbing peneliti.
viii

6. Bapak dr. Yuli Prapanca Satar, MARS, Ibu Fajar Ariyanti, M.Kes, Ph.D, dan

Ibu Laily Hanifah, M.Kes. selaku penguji sidang skripsi, terima kasih atas

bimbingan, arahan serta kesediaan waktunya untuk membimbing peneliti

selama penyusunan skripsi.

7. Seluruh dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan

Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakart a yang

telah memberikan ilmu pengetahuannya selama duduk di bangku kuliah.

8. Kepala Puskesmas Grogol yang telah mengizinkan peneliti untuk

melaksanakan penelitian di salah satu wilayah kerjanya yaitu Kelurahan

Gerem. Ibu Rini selaku Kabid Gizi Puskesmas Grogol yang telah bersedia

direpotkan dan membantu peneliti dengan segala kebaikan hatinya dalam

mengadakan data-data sekunder yang dibutuhkan peneliti.

9. Kader-kader Posyandu Kelurahan Gerem yang banyak membantu peneliti

selama proses penelitian. Khususnya Bu Suemah selaku ketua kelompok

kader Kelurahan Gerem yang telah banyak direpotkan oleh peneliti selama

penulisan

10. Special thanks to keluarga tercinta, Ayahanda Hujaji Saliman dan Ibunda

Hurmayati, A’Ozi, A’Akhsan, Teh Husnul, Heru dan De Ais yang

senantiasa memberikan perhatian dan kasih sayang yang tak terhingga,

menyumbangkan fikiran secara moral, emosional dan financial, serta

senantiasa memberikan doa dan motivasi untuk Ana segera menyelesaikan

skripsi ini. Terimakasih Bapak, Ibu, Aa, Teteh, dan Adek. Ana sayang

kalian.

11. Sahabat-sahabat terbaik Vjeh, Nia, Denis, Heni, Fil dan Ubay yang sudah

terlebih dahulu menyelesaikan studinya, terimakasih selalu memberikan


ix

semangat dan motivasinya untuk penulis segera menyelesaikan skripsi ini.

Serta Sebay, sahabat yang berjuang bersama sampai akhirnya kita sama-

sama sidang di waktu yang bersamaan. Tetap semangat Sebaaaayyyy.

12. For the man who loves me, makasih untuk setiap support, motivasi,

perhatian dan pengertiannya untuk penulis selama ini. Thank you for being

the best for me Hon.

13. Mba Lulu dan Chimeh, terimakasih telah berbaik hati menampung penulis di

kosannya dan tempat sharing selama penulisan skripsi ini.

14. Rekan-rekan Gizi 2009, terimakasih untuk semua suport dan motivasi

kalian yang tidak pernah henti meskipun jarak kita saling berjauhan.

Terima kasih atas segala bantuan dalam bentuk apapun. Semoga

bantuan, petunjuk, bimbingan dan pengarahan yang diberikan kepada

penulis mendapat balasan dari Allah SWT.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih

jauh dari sempurna, meskipun demikian semoga masih dapat memberikan

sumbangan betapapun kecilnya kepada dunia ilmu pengetahuan,

masyarakat dan penulis lain.

Jakarta, Juli 2016

Penulis
x

DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN ................................................................................... i


ABSTRAK ............................................................................................................. ii
ABSTRACT .......................................................................................................... iii
PERNYATAAN PERSETUJUAN ..................................................................... iv
PENGESAHAN PANITIA UJIAN .......................................................................v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ............................................................................ vi
KATA PENGANTAR ......................................................................................... vii
DAFTAR ISI...........................................................................................................x
DAFTAR TABEL .............................................................................................. xvi
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xvi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................6

1.3 Pertanyaan Penelitian ...................................................................................7

1.4 Tujuan Penelitian .........................................................................................9

1.4.1 Tujuan Umum ..................................................................................9

1.4.2 Tujuan Khusus .................................................................................9

1.5 Manfaat Penelitian .....................................................................................10

1.5.1 Bagi Peneliti ...................................................................................10

1.5.2 Bagi Puskesmas .............................................................................10

1.5.3 Bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat ..................................11

1.6 Ruang Lingkup Penelitian..........................................................................11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pengertian ASI dan ASI Eksklusif .............................................................12
xi

2.2 Jenis - jenis ASI .........................................................................................13

2.2.1 Kolostrum ......................................................................................13

2.2.2 ASI Peralihan .................................................................................14

2.2.3 Asi Matur .......................................................................................14

2.3 Komposisi ASI ...........................................................................................14

2.4 Manfaat ASI ...............................................................................................17

2.4.1 Manfaat Bagi Bayi .........................................................................17

2.4.2 Manfaat Bagi Ibu ...........................................................................18

2.5 Teori Prilaku ...............................................................................................19

2.6 Faktor Penyebab Rendahnya Pemberian ASI Eksklusif ............................21

2.6.1 Umur ..............................................................................................22

2.6.2 Paritas .............................................................................................23

2.6.3 Pendidikan......................................................................................24

2.6.4 Pekerjaan ........................................................................................26

2.6.5 Pengetahuan ...................................................................................26

2.6.6 Kondisi Kesehatan .........................................................................27

2.6.7 Tempat Bersalin .............................................................................30

2.6.8 Penolong Persalinan .......................................................................31

2.6.9 Dukungan Petugas Kesehatan ........................................................32

2.6.10 Dukungan Keluarga .......................................................................33

2.7 Kerangka Teori ...........................................................................................34

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL


3.1 Kerangka Konsep .......................................................................................37

3.2 Definisi Operasional ...................................................................................42

3.3 Hipotesis .....................................................................................................47


xii

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN


4.1 Desain Penelitian ........................................................................................48

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ......................................................................48

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian .................................................................49

4.3.1 Populasi Penelitian .........................................................................49

4.3.2 Sampel Penelitian...........................................................................49

4.3.3 Teknik Sampling ............................................................................52

4.3.4 Prosedur Penelitian ........................................................................54

4.4 Instrumen Penelitian ...................................................................................57

4.5 Uji Validitas dan Uji Reliabilitas ...............................................................57

4.6 Metode Pengumpulan Data ........................................................................58

4.7 Pengolahan Data .........................................................................................59

4.8 Teknik dan Analisis Data ...........................................................................61

BAB V HASIL PENELITIAN


5.1 Gambaran Lokasi Penelitian ......................................................................63

5.2 Analisis Univariat ........................................................................................66

5.2.1 Gambaran Pemberian ASI Eksklusif .............................................67

5.2.2 Gambaran Umur Ibu ......................................................................68

5.2.3 Gambaran Paritas Ibu .....................................................................69

5.2.4 Gambaran Tingkat Pendidikan Ibu ................................................70

5.2.5 Gambaran Pekerjaan Ibu ................................................................71

5.2.6 Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu ..............................................72

5.2.7 Gambaran Tempat Persalinan ........................................................73

5.2.8 Gambaran Penolong Persalinan .....................................................73

5.2.9 Gambaran Dukungan Petugas Kesehatan ......................................74


xiii

5.2.10 Gambaran Dukungan Keluarga......................................................75

5.3 Analisis Bivariat .........................................................................................76

5.3.1 Hubungan Umur Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif ................76

5.3.2 Hubungan Paritas ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif ...............77

5.3.3 Hubungan Pendidikan Ibu dengan Peberian ASI Eksklusif ..........78

5.3.4 Hubungan Pekerjaan Ibu dengan Peberian ASI Eksklusif .............79

5.3.5 Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Peberian ASI Eksklusif ........80

5.3.6 Hubungan Tempat Persalinan dengan Peberian ASI Eksklusif .....81

5.3.7 Hubungna Penolong Persalinan dengan Peberian ASI Eksklusif ..82

5.3.8 Hubungan Dukungan Petugas Kesehatan dengan Peberian ASI

Eksklusif ........................................................................................83

5.3.9 Huungan Dukungan Keluarga dengan Peberian ASI Eksklusif ....85

BAB VI PEMBAHASAN
6.1 Keterbatasan Penelitian ..............................................................................87

6.2 Gambaran Pemberian ASI Eksklusif pada bayi Usia 6-12 Bulan di Kelurahan

Gerem Wilayah Kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon Tahun 2015 .......88

6.3 Analisis Hubungan Faktor Predisposisi dengan Pemberian ASI Eksklusif90

6.3.1 Analisis Hubungan Umur Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada bayi

Usia 6-12 Bulan di Kelurahan Gerem Wilayah Kerja Puskesmas Grogol

Kota Cilegon Tahun 2015 .....................................................................90

6.3.2 Analisis Hubungan Paritas Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada bayi

Usia 6-12 Bulan di Kelurahan Gerem Wilayah Kerja Puskesmas Grogol

Kota Cilegon Tahun 2015 .....................................................................93


xiv

6.3.3 Analisis Hubungan Pendidikan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada

bayi Usia 6-12 Bulan di Kelurahan Gerem Wilayah Kerja Puskesmas

Grogol Kota Cilegon Tahun 2015 .........................................................96

6.3.4 Analisis Hubungan Pekerjaan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada

bayi Usia 6-12 Bulan di Kelurahan Gerem Wilayah Kerja Puskesmas

Grogol Kota Cilegon Tahun 2015 .........................................................98

6.3.5 Analisis Hubungan Pengetahuan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada

bayi Usia 6-12 Bulan di Kelurahan Gerem Wilayah Kerja Puskesmas

Grogol Kota Cilegon Tahun 2015 .....................................................100

6.4 Analisis Hubungan Faktor Pemungkin dengan Pemberian ASI Eksklusif103

6.4.1 Analisis Hubungan Tempat Persalinan dengan Pemberian ASI Eksklusif

pada bayi Usia 6-12 Bulan di Kelurahan Gerem Wilayah Kerja

Puskesmas Grogol Kota Cilegon Tahun 2015 ................................103

6.4.2 Analisis Hubungan Penolong Persalinan dengan Pemberian ASI

Eksklusif pada bayi Usia 6-12 Bulan di Kelurahan Gerem Wilayah

Kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon Tahun 2015 ...................106

6.5 Analisis Hubungan Faktor Penguat dengan Pemberian ASI Eksklusi ..109

6.5.1 Analisis Hubungan Dukungan Petugas Kesehatan dengan Pemberian

ASI Eksklusif pada bayi Usia 6-12 Bulan di Kelurahan Gerem Wilayah

Kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon Tahun 2015 ...................109

6.5.2 Analisis Hubungan Dukungan Keluarga dengan Pemberian ASI

Eksklusif pada bayi Usia 6-12 Bulan di Kelurahan Gerem Wilayah

Kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon Tahun 2015 ...................112


xv

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN


7.1 Simpulan...................................................................................................116

7.2 Saran .........................................................................................................118

7.2.1 Bagi Puskesmas ...........................................................................118

7.2.2 Bagi ibu dan keluarga ..................................................................119

7.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya .............................................................120

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xvi

DAFTAR TABEL

3.1 Definisi Operasional .................................................................................................42

4.1 Perhitungan Jumlah Sampel Berdasarkan Hasil Penelitian Terdahulu .....................51

5.1 Jadwal Kegiatan Posyandu Kelurahan Gerem ..........................................................64

5.2 SKDN Kelurahan Gerem tahun 2015 .......................................................................65

5.3 Distribusi responden menurut pola pemberian ASI eksklusif ..................................67

5.4 Distribusi Alasan Responden Tidak Memberikan ASI Eksklusif.............................68

5.5 Distribusi responden menurut umur ibu ...................................................................68

5.6 Distribusi Responden Menurut Paritas Ibu ..............................................................69

5.7 Gambaran Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ..........................................70

5.8 Distribusi Responden Menurut Kategori Pendidikan Ibu .........................................71

5.9 Distribusi responden menurut pekerjaan ibu ............................................................71

5.10 Distribusi Responden Menurut Tingkat Pengetahuan Ibu ........................................72

5.11 Distribusi Responden Menurut Tempat Persalinan ..................................................72

5.12 Distribusi Responden Menurut Penolong Persalinan ...............................................74

5.13 Distribusi responden menurut dukungan petugas kesehatan ....................................74

5.14 Distribusi responden menurut dukungan keluarga ...................................................75

5.15 Hubungan antara Umur Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif ................................76

5.16 Hubungan antara Paritas Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif ...............................77

5.17 Hubungan Antara Pendidikan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif ......................78

5.18 Hubungan Antara Pekerjaan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif .........................79

5.19 Hubungan Antara Pengetahuan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif ....................80

5.20 Hubungan Antara Tempat Persalinan dengan Pemberian ASI Eksklusif .................81

5.21 Hubungan Antara Penolong Persalinan dengan Pemberian ASI Eksklusif ..............82

5.22 Hubungan Antara Dukungan Petugas Kesehatan dengan Pemberian ASI


xvii

Eksklusif ..................................................................................................................84

5.23 Hubungan Antara Dukungan Keluarga dengan Pemberian ASI Eksklusif ..............85
xviii

DAFTAR GAMBAR
2.1 Kerangka Teori ......................................................................................................36

3.1 Kerangka Konsep ...................................................................................................41

4.1 Skema Penelitian ....................................................................................................56


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masalah Gizi di Indonesia sampai saat ini masih memprihatinkan.

Terbukti dengan masih tingginya angka kejadian malnutrisi di Indonesia

dan angka kematian ibu, kematian bayi dan balita. Data Riset Kesehatan

Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menyebutkan prevalensi balita kurang gizi

(underweight) sebesar 19,6 %, prevalensi balita pendek dan sangat pendek

(stunting) sebesar 37,2 %, serta prevalensi balita kurus dan sangat kurus

(wasting) sebesar 12,1%. Sedangkan berdasarkan Survei Demografi

Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 diperoleh bahwa angka kematian

ibu adalah 359/100.000 KH, angka kematian balita sebesar 40/1000 KH,

dan angka kematian bayi sebesar 19/1000 KH Hal ini mendasari masalah

gizi menjadi salah satu faktor penting penentu pencapaian MDGs

(Millenium Development Goals) yang kini juga menjadi target pencapaian

SDGs 2015-2030 untuk mengurangi segala bentuk malnutrisi dan

kematian Ibu, bayi dan balita.

Riset terbaru World Health Organization (WHO) pada tahun 2005

menyebutkan bahwa 42 persen penyebab kematian balita di dunia adalah

akibat penyakit, yang terbesar adalah pneumonia (20 persen), selebihnya

(58 persen) terkait dengan malnutrisi yang seringkali terkait dengan

asupan air susu ibu (ASI) (Siswono, 2006).

1
2

Berdasarkan laporan profil kesehatan Puskesmas Grogol, angka

kematian bayi dan balita sebesar 1/1000 KH dan kejadian tersebut terjadi

hanya di Kelurahan Gerem, sedangkan angka kasus penderita balita

pneumonia di Kelurahan Gerem adalah sebanyak 410 balita dan Kelurahan

Gerem berada di tingkat ke-2 tertinggi dengan prosentase sebesar 34%.

Selain itu terdapat 9 balita dengan kasus gizi buruk di wilayah kerja

Puskesmas Grogol, namun dari 9 balita gizi buruk yang ada jumlah

tertinggi terdapat di kelurahan Gerem yaitu terdapat 8 balita gizi buruk.

Sebagaimana di ketahui, menurut UNICEF penyebab langsung

kejadian gizi buruk adalah pola asuh pemberian makan yang dilakukan

keluarga terutama ibu. Pola asuh makan diantaranya meliputi aspek

pemberian makanan, pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif, dan umur

penyapihan (Fivi, 2006). Shrimpton (2001) juga mengungkapkan bahwa

penyebab utama terjadinya gizi buruk dan hambatan pertumbuhan anak

adalah akibat dari rendahnya pemberian ASI eksklusif dan maraknya

praktek pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) secara dini.Hal

tersebut juga sesuai dengan penelitian kualitatif yang dilakukan oleh

Minsarnawati dan Safitri (2012) yang mengatakan bahwa pemberian

makanan prelakteal merupakan penghambat perilaku pemberian ASI

eksklusif pada Ibu di wilayah kerja Puskesmas Cibeber Kota Cilegon.

Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan

mengamanatkan bahwa upaya perbaikan gizi bertujuan untuk

meningkatkan mutu gizi perseorangan dan masyarakat, antara lain melalui

perbaikan pola konsumsi makanan, perbaikan perilaku sadar gizi, dan


3

peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi dan kesehatan. Upaya

pembinaan gizi dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan

sesuai dengan pentahapan dan prioritas pembangunan nasional.

Salah satu prioritas pembangunan nasional sebagaimana tertuang

pada dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menegah Nasional

(RPJMN) dan Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan 2010-

2014 adalah perbaikan status gizi masyarakat.di Indonesia, Departemen

Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) melalui Program Perbaikan

Gizi Masyarakat telah menargetkan cakupan ASI eksklusif sebesar 80%

sebagai salah satu indikator kegiatan pembangunan gizi kesehatan

masyarakat.

Dalam Kepmen No. 450 tahun 2004 WHO menganjurkan agar bayi

diberi ASI eksklusif selama enam bulan, karena berdasarkan hasil

konvensi Expert Panel Meeting menyimpulkan bahwa periode enam bulan

merupakan usia bayi yang optimal. Kesimpulan tersebut diadopsi sebagai

resolusi World Health Assembly (WHA) pada bulan Mei 2001 (Gibney,

2009).

Bayi yang mendapat ASI tidak eksklusif memiliki resiko 3 sampai

4 kali lebih besar kemungkinan terkena infeksi saluran pernafasan (ISPA)

(Depkes RI, 2005). Selain itu juga beresiko kematian karena diare 3,94

kali lebih besar dibandingkan bayi yang mendapat ASI eksklusif. Begitu

pula penelitian di Amerika Latin menyatakan bahwa 13,9% dari semua

penyebab kematian bayi dapat dicegah dengan ASI eksklusif untuk 3

bulan pertama kaehidupan (Betran AP, Onis M, Lauer JA, Villar J, 2001).
4

Hal ini disebabkan karena ASI mengandung zat-zat gizi bernilai tinggi

yang struktur dan kualitasnya sangat cocok dan mudah diserap oleh

bayi,adanya antibodi, sel-sel leukosit, enzim, hormon, dan lain-lain yang

melindungi bayi terhadap berbagai infeksi (Roesli, 2000).

Pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan telah terbukti baik untuk

kesehatan.Pemberian ASI eksklusif sangat penting bagi tumbuh kembang

yang optimal baik fisik maupun mental dan kecerdasan bayi.Selain dapat

meningkatkan perkembangan kognitif, pemberian ASI Eksklusif juga

memberikan manfaat bagi ibu yaitu akan menurunkan resiko perdarahan

pasca melahirkan, resiko terkena kanker payudara, dan menunda

kehamilan (sebagai alat kontrasepsi alami/MAL) (KNPP RI, 2008).

Oleh karena itu pemberian ASI perlu mendapat perhatian para ibu

dan tenaga kesehatan agar proses menyusui dapat terlaksana dengan benar

(Siregar, 2004).

Menurut Profil Kesehatan Indonesia tahun 2012 cakupan ASI

Eksklusif secara nasional adalah 48,6 %. Dan berdasarkan Riskesdas

tahun 2013 cakupan ASI Eksklusif yaitu sebesar 38 %. Capaian tersebut

masih sangat jauh dari target yang telah ditentukan pemerintah.

Berdasarkan temuan peneliti saat melakukan magang di Dinas

Kesehatan Kota Cilegon tahun 2012, Puskesmas Grogol merupakan salah

satu Puskesmas yang memiliki pos pemulihan gizi aktif yang berpusat di

Kelurahan Gerem.Namun dalam temuannya dari 32 balita gizi buruk, 12

diantaranya merupakan sasaran kelurahan Gerem. selain itu temuan

cakupan pemberian ASI eksklusif di kelurahan Gerem masih jauh dari


5

target pencapaian Dinas Kesehatan Kota Cilegon yaitu sebesar 9,1 % dan

merupakan prosentase terendah di Wilayah Kerja Puskesmas Grogol tahun

2012.

Berdasarkan laporan hasil kegiatan program gizi Puskesmas

Grogol Kota Cilegon, terdapat peningkatan prosentase cakupan ASI

ekslusif pada tahun 2013 dan 2014. Pada tahun 2013 presentase cakupan

ASI Eksklusif pada usia 0-6 bulan sebesar 55,1 % dan 59,5 % pada tahun

2014. Angka tersebut masih terbilang rendah dan jauh dari target

pencapaian puskesmas dan Dinas Kesehatan setempat. Adapun target

pencapaian program ASI Eksklusif di puskesmas dan Dinas Kesehatan

Kota Cilegon adalah sebesar 80%. Angka tersebut sesuai dengan standar

pelayanan minimum bayi yang menerima ASI Eksklusif berdasarkan

SK/Menkes No. 1457/2003.

Meskipun pemerintah telah menghimbau pemberian ASI eksklusif,

namun data-data tersebut menunjukkan masih rendahnya tingkat

pemberian ASI Eksklusif yang dilakukan oleh ibu kepada bayinya.

Padahal program peningkatan pemberian ASI eksklusif merupakan

prioritas karena dampaknya yang luas terhadap status gizi dan kesehatan

bayi.

Sehubungan dengan itu, penulis tertarik untuk mengetahui

mengapa tingkat pemberian ASI eksklusif di Kelurahan Gerem masih

rendah sedangkan wilayah tersebut merupakan salah satu wilayah

percontohan yang memiliki Pos Gizi aktif di Kota Cilegon. Dimana salah

satu tujuan dari kegiatannya adalah mencegah kekurangan gizi pada anak-
6

anak yang akan lahir dalam masyarakat tersebut, dengan mengubah

norma-norma masyarakat mengenai perilaku pola asuh ibu dimana

perilaku pemberian ASI eksklusif juga termasuk didalamnya.

Rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif di kelurahan Gerem

wilayah kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon menjadi perhatian peneliti.

Mengingat besarnya manfaat pemberian ASI eksklusif dan juga kerugian

yang ditimbulkan dari kegagalannya, maka perlu dilakukan penelitian

tentang “Faktor - Faktor yang Berhubungan DenganPerilaku Pemberian

ASI EksklusifPada Bayi Usia 6 – 12 Bulan Di Kelurahan Gerem Wilayah

Kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon Tahun 2015”, sehingga diharapkan

nantinya dapat menyusun perencanaan guna meningkatkan pencapaian

pemberian ASI Eksklusif berdasarkan target pencapaian standar pelayanan

minimal (SPM) kabupaten/Kota di masa yang akan datang sertamenjamin

pemeliharaan kesehatan masyarakat dan peningkatan SDM di wilayah

kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon umumnya dan kelurahan Gerem

khususnya.

1.2 Rumusan Masalah

Pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan merupakan salah satu

faktor penting untuk meningkatkan kesehatan bayi khususnya dalam hal

pertumbuhan dan perkembangan kognitifnya.Apabila bayi tidak diberi ASI

secara Eksklusif, maka akantimbul beberapa dampak negatif ada bayi

seperti rentan terhadap penyakit diare dan penyakit infeksi lainnya yang

dapt berujung pada kematian.


7

Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Grogol,Kota

Cilegon dari sekian banyak masalah program gizi yang belum

tertanggulangi, pencapaian ASI Eksklusif masih menjadi prioritas masalah

di puskesmas tersebut. Berdasarkan laporan hasil kegiatan program gizi

Puskesmas Grogo Kota Cilegonl tahun 2013 presentase cakupan ASI

Eksklusif pada usia 0-6 bulan sebesar 55,1 % dan 59,5 % pada tahun 2014.

Angka tersebut masih terbilang rendah dan jauh dari target pencapaian

puskesmas dan Dinas Kesehatan setempat. Adapun target pencapaian

program ASI Eksklusif di puskesmas dan Dinas kesehatan Kota Cilegon

adalah sebesar 80%.

Sampai saat ini, banyak informasi dan berita mengenai rendahnya

persentase pemberian ASI eksklusif pada bayi usia sampai 6 bulan dan

pengaruhnya terhadap status gizi dan kesehatan bayi. Sehingga, rendahnya

pemberian ASI eksklusif masih perlu pengkajian dan pembelajaran,

terutama dari faktor penyebab. Masalah inilah yang mendasari peneliti

untuk melakukan penelitian terkait dengan “Faktor – Faktor Yang

Berhubungann Dengan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif Pada Bayi Usia

6-12 Bulan Di Kelurahan gerem wilayah kerja puskesmas grogol kota

cilegon Tahun 2015”.

1.3 Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana gambaran cakupan ASI Eksklusif di kelurahan gerem

wilayah kerja puskesmas grogol kota cilegon tahun 2015?


8

2. Bagaimana gambaran faktor predisposisi (umur ibu, paritas ibu,

pendidikan ibu, pekerjaan ibu, dan pengetahuan ibu) di kelurahan

gerem wilayah kerja puskesmas grogol kota cilegon tahun 2015?

3. Bagaimana gambaran faktor pemungkin (Tempat persalinan dan

penolong persalinan) di kelurahan gerem wilayah kerja puskesmas

grogol kota cilegon tahun 2015?

4. Bagaimana gambaran faktor Penguat (dukungan keluarga, dan

dukungan petugas kesehatan) di kelurahan gerem wilayah kerja

puskesmas grogol kota cilegon tahun 2015?

5. Adakah hubungan faktor predisposisi (umur ibu, paritas ibu,

pendidikan ibu, pekerjaan ibu, dan pengetahuan ibu)

denganpemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan di kelurahan

gerem wilayah kerja puskesmas grogol kota cilegon tahun 2015 ?

6. Adakah hubungan faktor pemungkin (Tempat persalinan dan penolong

persalinan) denganpemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan

di kelurahan gerem wilayah kerja puskesmas grogol kota cilegon tahun

2015?

7. Adakah hubungan faktor penguat (dukungan keluarga, dukungan

petugas kesehatan) dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6-

12 bulan di kelurahan gerem wilayah kerja puskesmas grogol kota

cilegon tahun 2015?


9

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum

1. Diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI

eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan di Kelurahan Gerem wilayah kerja

Puskesmas Grogol Kota Cilegon tahun 2015

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Diketahuinya gambaran pemberian ASI eksklusif di Kelurahan Gerem

wilayah kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon tahun 2015

2. Diketahuinya gambaran faktor predisposisi (umur ibu, paritas ibu,

pendidikan ibu, pekerjaan ibu, dan pengetahuan ibu) yang

berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12

bulan di Kelurahan Gerem wilayah kerja Puskesmas Grogol Kota

Cilegon tahun 2015

3. Diketahuinya gambaran faktor pemungkin (Tempat persalinan dan

penolong persalinan) yang berhubungan dengan pemberian ASI

eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan di Kelurahan Gerem wilayah

kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon tahun 2015

4. Diketahuinya faktor penguat (dukungan keluarga, dukungan petugas

kesehatan) yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada

bayi usia 6-12 bulan di Kelurahan Gerem wilayah kerja Puskesmas

Grogol Kota Cilegon tahun 2015

5. Diketahuinya hubungan antara faktor predisposisi (umur ibu, paritas

ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, dan pengetahuan ibu) yang

berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12


10

bulan di Kelurahan Gerem wilayah kerja Puskesmas Grogol Kota

Cilegon tahun 2015

6. Diketahuinya hubungan antara faktor pemungkin (Tempat persalinan

dan penolong persalinan) yang berhubungan dengan pemberian ASI

eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan di Kelurahan Gerem wilayah

kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon tahun 2015

7. Diketahuinya hubungan antara faktor penguat (dukungan keluarga,

dukungan petugas kesehatan) yang berhubungan dengan pemberian

ASI eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan di Kelurahan Gerem wilayah

kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon tahun 2015

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Bagi Peneliti

1. Meningkatkan pengetahuan dan wawasan serta menambah pengalaman

juga meningkatkan kesadaran untuk mengembangkan diri secara lebih

optimal daam memecahkan masalah kesehatan khususnya didalam

pemberian ASI Eksklusif

2. Sebagai aplikasi nyata dari keilmuan yang diperoleh selama

perkuliahan

1.5.2 Bagi Puskesmas

1. Dengan mendapatkan informasi mengenai faktor yang berperan

terhadap rendahnya cakupan ASI Eksklusif di Kelurahan Gerem

wilayah kerja Puskesmas Grogol, sehingga dapat dilakukan perbaikan

dan intervensi dalam rangka peningkatan cakupan ASI Eksklusif


11

2. Dapat menjadi bahan masukan untuk lebih memotivasi ibu dalam

pemberian ASI Eksklusif

1.5.3 Bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat

1. Sebagai referensi keilmuan mengenai gizi, khususnya faktor yang

berperan terhadap rendahnya cakupan ASI Eksklusif

2. Sebagai informasi dan dokumentasi data penelitian serta dapat menjadi

referensi tambahan bagi penelitian serupa

3. Sebagai wujud peran akademisi dalam penerapan keilmuan dibidang

gizi

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran cakupan ASI

Eksklusif serta faktor yang berhubungan terhadap perilaku pemberian ASI

eksklusif yang dilakukan diKelurahan Gerem wilayah kerja Puskesmas

Grogol Kota Cilegon. Penelitian ini dilakukan pada bulan maret –

november tahun 2015. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif

dengan desain cross sectional karena pengambilan variabel independen

dan variabel dependen dilakukan dalam waktu bersamaan.

Dalam pengumpulan data, peneliti melakukan pengumpulan data

primer dan sekunder.Data primer didapatkan melalui wawancara langsung

pada responden dengan instrumen berupa kuesioner.Data sekunder didapat

dari Profil Puskesmas Grogol.Adapun sampel pada penelitian ini adalah

ibu-ibu yang memiliki bayi berusia 6 – 12 bulan di Kelurahan Gerem

Wilayah Kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian ASI dan ASI Eksklusif

Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan

protein, laktosa dan garam-garam organik yang disekresikan oleh kedua

belah kelenjar payudara ibu, dan berguna sebagai makanan bayi

(Kristiyansari, 2009).

ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja kepada bayi tanpa

tambahan makanan atau minuman lain seperti air putih, susu formula,

jeruk, madu, air the, pisang, bubur susu, biscuit, bubur nasi tim kecuali

vitamin, mineral, obat, dan ASI yang diperah yang diberikan selama 6

bulan (Depkes RI, 2009).

Pada tahun 2004, sesuai dengan anjuran World Health

Organization (WHO), pemberian ASI eksklusif ditingkatkan menjadi 6

bulan sebagaimana dinyatakan dalam Keputusan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia nomor 450/MENKES/SK/VI/2004 tahun 2004 tentang

pemberian ASI secara eksklusif pada bayi di Indonesia, ASI adalah

makanan terbaik bagi bayi karena mengandung zat gizi paling sesuai untuk

pertumbuhan dan perkembangan bayi. Pemberian ASI secara eksklusif

bagi bayi di Indonesia sejak bayi lahir sampai dengan bayi berumur 6

(enam) bulan dan dianjurkan dilanjutkan sampai anak berusia 2 (dua)

tahun dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai (Roesli, 2000).

12
13

Memberikan ASI secara eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan

akan menjamin tercapainya pengembangan potensial kecerdasan anak

secara optimal. Selain sebagai nutrient yang ideal dengan komposisi yang

tepat serta disesuaikan dengan kebutuhan bayi, ASI juga mengandung

nutrient-nutrien khusus yang diperlukan otak bayi agar tumbuh optimal

(Roesli, 2009)

2.2 Jenis-jenis ASI

Jika dilihat dari waktu produksinya, ASI dapat dibedakan menjadi

3 jenis, yaitu : Kolostrum, ASI peralihan dan ASI matur.

2.2.1 Kolostrum

Kolostrum merupakan ASI yang dihasilkan pada hari

pertama sampai hari ketiga setelah bayi lahir. Kolostrum adalah

susu pertama yang dihasilkan oleh payudara ibu berbentuk cairan

yang agak kental berwarna kekuning-kuningan, lebih kuning

dibandingkan dengan ASI matur, bentuknya agak kasar karena

mengandung butiran lemak dan sel-sel epitel, dengan khasiat :

a. Sebagai pembersih selaput usus bayi baru lahir sehingga

saluran pencernaan siap untuk menerma makanan.

b. Mengandung kadar protein yang tinggi terutama gama globulin

sehingga dapat memberikan perlindungan tubuh terhadap

infeksi.

c. Mengandung zat antibody sehingga mampu melindungi tubuh

bayi dari berbagai penyakit infeksi untuk jangka waktu sampai

dengan 6 bulan.
14

2.2.2 ASI Peralihan

ASI peralihan merupakan ASI yang dihasilkan mulai hari

keempat sampai hari kesepuluh. Pada masa ini, susu transisi

mengandung lemak dan kalori yang lebih tinggi dan protein yang

lebih rendah dari pada kolostrum.

2.2.3 ASI Matur

ASI matur merupakan ASI yang dihasilkan mulai hari

kesepuluh sampai seterusnya. ASI matur merupakan nutrisi bayi

yang terus berubah disesuaikan dengan perkembangan bayi sampai

usia 6 bulan. ASI ini berwarna putih seperti susu krim dan

mengandung lebih banyak kalori dari pada susu kolostrum ataupun

transisi.

2.3 Komposisi ASI

a) Air

Air merupakan kebutuhan yang sangat vital dan tanpa air akan

terjadi dehidrasi. Kandungan air di dalam ASI sangat besar yaitu 88 %

dimana kegunaannya untuk melarutkan zat – zat yang terdapat dalam

ASI dan juga bisa meredakan rangsangan haus.

b) Protein

ASI memiliki kandungan protein yang berbeda dari susu

mamalia lainnya, baik secara kualitas maupun kuantitas. ASI

mengandung asam amino seimbang yang cocok untuk bayi. Dalam 100

ml ASI terdapat 0,9 gr protein, jumlah ini lebih sedikit dibandingkan

protein pada mamalia lainnya. Kelebihan protein dapat menyebabkan


15

kerusakan pada ginjal bayi (WHO, 2009).ASI mengandung protein

khusus yang dirancang untuk tumbuh kembang bayi manusia.

ASI mengandung protein whey dan casein. Whey adalah protein

yang halus, lembut dan mudah dicerna sedangkan kasein adalah

protein yang bentuknya kasar, menggumpal dan susah dicerna.

Perbandingan antara whey dan casein dalam ASI adalah 60:40

Sedangkan pada susu sapi 20:80. ASI mengandung alfa lactalbumin

sedangkan susu sapi mengandung beta lactoglobulin yang sering

menyebabkan alergi (WHO, 2010).

Selain alfa lactalbumin , protein unik yang dimiliki ASI dan

tidak terdapat dalam susu formula adalah taurin, lactoferin dan

lysosom. Taurin diperlukan untuk perkembangan otak, susunan saraf,

dan pertumbuhan retina. Selain Taurin, protein unik yang ada dalam

ASI adalah lactoferin. Lactoferin membiarkan bakteri usus baik yang

menghasilkan vitamin untuk tumbuh dan menghancurkan bakteri yag

jahat. Lisosom merupakan antibiotik alami dalam ASI yang dapat

menghancurkan bakteri berbahaya (Roesli, 2000).

c) Karbohidrat

Karbohidrat utama dalam ASI adalah Laktosa.Dimana 100 ml

ASI mengandung 7 gr laktosa atau 20-30% lebih banyak daripada susu

sapi. Laktosa mudah dicerna dan merupakan sumber energi.Di dalam

usus laktosa diubah menjadi asam laktat yang berfungsi untuk

membantu penyerapan kalsium yang penting untuk pertumbuhan

tulang. Selain itu, laktosa juga diperlukan untuk pertumbuhan otak,


16

makin tinggi kadar laktosa pada susu mamalia, maka makin besar juga

ukuran otaknya. ASI mengandung kadar laktosa yang paling tinggi

dibandingkan susu mamalia lain (Riordan, 2004).

Karbohidrat dalam ASI juga dapat mencegah infeksi lewat

peningkatan pertumbuhan bakteri baik usus, lactobacillus bifidus dan

menghambat bakteri berbahaya dengan cara fermentasi laktosa

menjadi asam laktat sehingga menyebabkan suasana lambung menjadi

asam dan menghambat pertumbuhan bakteri berbahaya.

d) Lemak

Sumber kalori utama dalam ASI adalah lemak.Lemak ASI

merupakan lemak yang tepat untuk pertumbuhan dan perkembangan

bayi karena mengandung jumlah lemak yang sehat dan tepat secara

proporsional. Kadar lemak dalam ASI antara 3,5% - 4,5%. Walaupun

kadar lemak dalam ASI tinggi, tetapi mudah diserap oleh bayi karena

trigliserida dalam ASI lebih dulu dipecahkan menjadi asam lemak dan

gliserol oleh enzim lipase yang terdapat dalam ASI. Lemak utama ASI

adalah lemak ikatan panjang yang mengandung omega-3, omega-6,

DHA, ARA. Lemak berikatan panjang tersebut penting untuk

pertumbuhan syaraf dan pertumbuhan otak .

Lemak pada ASI juga mengandung kolesterol yang berguna

untuk meningkatkan pertumbuhan otak bayi. Pada saat pertumbuhan

otak yang cepat, diperlukan kadar kolesterol yang tinggi. Kolesterol

dalam ASI juga berfungsi dalam pembentukan enzim untuk

metabolisme kolesterol yang berfungsi untuk membentuk enzim


17

metabolisme kolesterol sehingga dapat mencegah serangan jantung dan

arteriosclerosis pada usia muda ( Roesli, 2000).

e) Vitamin dan Mineral

ASI mengandung vitamin yang cukup untuk bayi, walaupun

ibunya mengalami defisiensi vitamin. Vitamin K yang berfungsi

sebagai katalisator pada proses pembentukan darah terdapat dalam ASI

dengan jumlah cukup dan mudah diserap. Dalam ASI juga terdapat

vitamin D dan E terutama dalam kolostrum.

Mineral berupa zat besi (Fe) dan Zinc terdapat di ASI dalam

jumlah sedikit, tetapi dengan bioavailibilitas dan penyerapan tinggi.

2.4 Manfaat ASI

2.4.1 Manfaat Bagi Bayi

Adapun manfaat ASI Eksklusif bagi bayi yaitu (Roesli, 2005) :

1. ASI sebagai nutrisi dimana ASI sebagai makanan tunggal

untuk memenuhi semua kebutuhan pertumbuhan bayi sampai

usia 6 bulan.

2. ASI meningkatkan daya tahan tubuh bayi karena mengandung

berbagai zat anti kekebalan sehingga akan lebih jarang sakit.

ASI juga mengurangi terjadinya mencret, sakit telinga dan

infeksi saluran pernafasan serta terjadinya serangan alergi.

3. ASI Eksklusif meningkatkan kecerdasan karena mengandung

asam lemak yang diperlukan untuk pertumbuhan otak sehingga

bayi ASI Eksklusif potensial lebih pandai.


18

4. ASI Eksklusif meningkatkan jalinan kasih sayang sehingga

dapat menunjang perkembangan kepribadian, kecerdasan

emosional, kematangan spiritual dan hubungan sosial yang

baik.

2.4.2 Manfaat Bagi Ibu

Adapun manfaat ASI Eksklusif bagi ibu bila memberikan

ASI Eksklusif, yaitu (Roesli, 2005) :

1. Mengurangi perdarahan pasca persalinan

Apabila bayi disusukan segera setelah dilahirkan, maka

kemungkinan terjadinya perdarahan setelah melahirkan

berkurang karena pada ibu menyusui terjadi peningkatan kadar

oksitosin yang berguna juga untuk konstriksi/penutupan

pembuluh darah sehingga perdarahan akan lebih cepat berhenti.

2. Mengurangi terjadinya anemia akibat kekurangan zat besi

karena menyusui mengurangi perdarahan.

3. Menjarangkan kehamilan

Menyusui merupakan cara kontrasepsi yang aman, murah, dan

cukup berhasil. Selama ibu memberi ASI eksklusif dan belum

haid, 98% tidak akan hamil pada 6 bulan pertama setelah

melahirkan dan 96% tidak akan hamil sampai bayi berusia 12

bulan.

4. Mengecilkan rahim karena kadar oksitosin ibu menyusui yang

meningkat membantu rahim ke ukuran sebelum hamil.


19

5. Lebih cepat langsing kembali karena menyusui membutuhkan

energi maka tubuh akan mengambilnya dari lemak yang

tertimbun selama hamil.

6. Mengurangi kemungkinan penderita kanker, seperti kanker

payudara dan indung telur. Pada ibu yang menyusui, angka

kejadian kanker payudara berkurang 25%, sedangkan risiko

kanker indung telur berkurang sampai 20-25%.

7. Lebih ekonomis dan murah karena dapat menghemat

pengeluaran untuk susu formula, perlengkapan menyusui dan

persiapan pembuatan susu formula.

8. Tidak merepotkan dan hemat waktu karena ASI dapat

diberikan segera tanpa harus menyiapkan atau memasak air.

9. Portabel dan praktis karena mudah dibawa kemana-mana

sehingga saat bepergian tidak perlu membawa berbagai alat

ntuk menyusui.

10. Memberi ibu kepuasan, kebanggaan dan kebahagiaan yang

mendalam karena telah berhasil memberikan ASI Eksklusif.

2.5 Teori Perilaku

Perilaku merupakan faktor terbesar kedua setelah faktor

lingkungan yang mempengaruhi kesehatan individu, kelompok dan

masyarakat. Oleh sebab itu untuk mencapai target pemberian ASI

eksklusif maka intervensi terhadap perilaku menjadi sangat strategis

(Notoatmodjo, 2003).
20

Teori yang telah dicoba untuk mengungkapkan determinan

perilaku dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku,

khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan yaitu teori

PRECEDE (Predisposing, Reinforcing, and Enabling Causes in

Educational Diagnosis and Evaluation) yang dikembangkan oleh Green

(1980). Teori PRECEDE menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi

perilaku kesehatan ada 3 faktor yaitu predisposing, enabling, dan

reinforcing. Setiap faktor tersebut memiliki pengaruh yang berbeda

terhadap perilaku.

a. Predisposing factors atau faktor predisposisi merupakan faktor-

faktor yang mendahului perilaku untuk menetapkan pemikiran

ataupun motivasi. Faktor predisposisi diantaranya pengetahuan,

sikap, kepercayaan, dan nilai. Umur, status ekonomi, jenis kelamin,

dan besarnya keluarga yang merupakan variabel demografi juga

merupakan faktor predisposisi, namun variabel tersebut diluar

pengaruh langsung terhadap program pendidikan kesehatan.

b. Enabling factors atau faktor pendukung merupakan kemampuan

dari sumber daya yang penting membentuk perilaku. Faktor-faktor

ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas bagi

kesehatan masyarakat. Faktor ini termasuk di dalamnya adalah skill

personal dan sumber-sumber seperti halnya sumber dari komunitas.

Beberapa sumber-sumberyang termasuk dalam faktor pendukung

ini adalah fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah


21

sakit, poliklinik, posyandu, polndes, dan lain-lain. Akses terhadap

sumber tersebut juga merupakan bagian dari faktor pendukung.

c. Reinforcing factors atau faktor pendorong merupakan faktor yang

memberikan dukungan untuk perilaku yang dilakukan. Dukungan

yang diberikan dapat berupa dukungan positif atau negatif

tergantung pada perilaku setiap orang, beberapa orang bisa lebih

mempengaruhi yang lainnya. Faktor ini termasuk di dalamnya

adalah sosial.

2.6 Faktor Penyebab Rendahnya Pemberian ASI Eksklusif

Selain teori perilaku diatas, ada beberapa hal yang mempengaruhi

rendahnya perilaku tidak memberikan ASI eksklusif.Berbagai studi

menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif yang kurang baik ini

dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari diri ibu sendiri ataupun dari

lingkungan (Gerung, 1989 dalam Nasir, 2002). Karakteristik ibu ( umur,

paritas, pendidikan, status pekerjaan dan sosial ekonomi), faktor psikologis

ibu dalam hal ini adalah pengetahuan, tempat persalinan, promosi susu

formula, kurangnya dukungan keluarga, dan kurangnya dukungan petugas

kesehatan berupa penyuluhan dan pelayanan sejak masa antenatal dan

pascanatal adalah hal-hal yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif

(Ebrahim, 1986; Helsing dan King dalam Febriana, 2000).

Sedangkan Akre (1994) berpendapat bahwa berhasil atau tidaknya

pemberian ASI eksklusif dipengaruhi oleh kondisi kesehatan (faktor fisik

ibu dan faktor bayi).


22

2.6.1 Umur

Usia dapat mempengaruhi cara berfikir, bertindak, dan

emosi seseorang. Usia yang lebih dewasa umumnya memiliki

emosi yang lebih stabil dibandingkan usia yang lebih muda. Usia

ibu akan mempengaruhi kesiapan emosi ibu. Usia ibu yang terlalu

muda ketika hamil bisa menyebabkan kondisi fisiologis dan

psikologisnya belum siap menjadi ibu. Hal ini dapat mempengaruhi

kehamilan dan pengasuhan anak (Hurlock 1995).

Umur mempengaruhi bagaimana ibu menyusui mengambil

keputusan dalam pemberian ASI eksklusif, semakin bertambah

umur (tua) maka pengalaman dan pengetahuan semakin bertambah

(Notoatmodjo, 2003).

Dalam kurun waktu reproduksi sehat dikenal bahwa usia

aman untuk kehamilan, persalinan dan menyusui adalah 20-35

tahun. Oleh sebab itu, yang sesuai dengan masa reproduksi sangat

baik dan sangat mendukung dalam pemberian ASI Eksklusif,

sedangkan umur yang kurang dari 20 tahun dianggapmasih belum

matang secara fisik, mental dan psikologi dalam menghadapi

kehamilan, persalinan serta pemberian ASI. Umur lebih dari 35

tahun dianggap berbahaya, sebab baik alat reproduksi maupun fisik

ibu sudah jauh berkurang dan menurun, selain itu bias terjadi resiko

bawaan pada bayinya dan juga dapat mengakibatkan kesulitan pada

kehamilan, persalian dan nifas.


23

Berbeda halnya dengan hasil penelitian Fikawati dan Syafiq

(2009) yang menyatakan bahwa umumnya informan ASI eksklusif

6 bulan lebih tua daripada informan yang tidak ASI eksklusif

dengan perbedaan rata-rata umur 4 tahun. Rata-rata informan ASI

eksklusif berusia 30 tahun dan rata-rata informan ASI tidak

eksklusif berusia 26 tahun.

2.6.2 Paritas

Menurut Soetjiningsih (1997), kenaikan jumlah paritas

menyebabkan ada sedikit perubahan produksi ASI yaitu pada anak

pertama: jumlah ASI ± 580 ml/24 jam, anak kedua: jumlah ASI ±

654 ml/24 jam, anak ketiga: jumlah ASI ± 602 ml/24 jam,

kemudian anak kelima: jumlah ASI ± 506 ml/24 jam. Dari

penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin banyak

jumlah paritas, maka produksi ASI semakin menurun.

Gatti (2008) dalam penelitiannya mengenai persepsi ibu

tentang kekurangan/ketidakcukupan suplai ASI menyebutkan

bahwa paritas dan pengalaman menyusui berpengaruh secara

signifikan terhadap kesuksesan menyusui, dimana wanita yang baru

pertama kali menyusui biasanya selalu berfikir akan resiko dan

masalah menyusui atau penghentian menyusui di awal

dibandingkan dengan wanita yang sudah pernah menyusui

sebelumnya.

Suradi (2007) dalam Handayani (2009), bahwa salah satu

faktor yang mempengaruhi pemberian ASI meliputi karakteristik


24

ibu yaitu pengalaman ibu menyusui. Perbedaan jumlah anak akan

berpengaruh terhadap pengalaman ibu dalam hal menyusui.

Seorang ibu yang telah sukses menyusui pada lahir sebelumnya

akan lebih mudah serta yakin akan dapat menyusui pada lahir

berikutnya. Seorang ibu muda dengan anak pertama akan merasa

sulit untuk dapat menyusui (Solihah, 2010 dalam Anggraeni,

2012).

Hasil penelitian Arasta (2010) menunjukkan sebagian besar

ibu yang gagal memberikan ASI selama dua bulan yaitu ibu yang

melahirkan anak ≥3 (multipara). Paritas diperkirakan ada

kaitannya dengan arah pencarian informasi tentang pengetahuan

ibu nifas/menyusui dalam memberikan ASI ekslusif.

Penelitian Fikawati dan Syafiq (2009) menyatakan bahwa

informan ASI eksklusif mempunyai paritas rata-rata lebih tinggi

(3 anak) daripada informan ASI tidak eksklusif (2 anak). Perbedaan

jumlah anak akan mempengaruhi terhadap pengalaman ibu dalam

hal menyusui.

2.6.3 Pendidikan

Tingkat pendidikan dan akses ibu terhadap media masa

juga mempengaruhi pengambilan keputusan, dimana semakin

tinggi pendidikan semakin besar peluang untuk memberikan ASI

Eksklusif.Sebaliknya akses terhadap media berpengaruh negatif

terhadap pemberian ASI, dimana semakin tinggi akses ibu pada


25

media semakin tinggi peluang untuk tidak memberikan ASI

Eksklusif (Abdullah dkk, 2004).

Namun penelitian yang dilakukan oleh Ambarwati (2004)

di Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang menunjukkan bahwa

persentase kegagalan pemberian ASI Eksklusif pada ibu yang

berpendidikan dasar hamper sama banyaknya dengan ibu yang

berpendidikan lanjutan. Pola ini menggambarkan tidak ada

hubungan antara pendidikan ibu dengan kegagalan pemberian ASI

Eksklusif.

Tingkat pendidikan formal yang tinggi memang dapat

membentuk nilai-nilai progresif pada diri seseorang, terutama

dalam menerima hal-hal baru, termasuk pentingnya pemberian ASI

secara eksklusif pada bayi. Namun karena sebagian besar ibu

dengan pendidikan tinggi bekerja di luar rumah, bayi akan

ditinggalkan di rumah di bawah asuhan nenek, mertua atau orang

lain yang kemungkinan masih mewarisi nilainilai lama dalam

pemberian makan pada bayi.

Dengan demikian, tingkat pendidikan yang cukup tinggi

pada wanita di pedesaan tidaklah menjadi jaminan bahwa mereka

akan meninggalkan tradisi atau kebiasaan yang salah dalam

memberi makan pada bayi, selama lingkungan sosial di tempat

tinggal tidak mendukung ke arah tersebut (Suyatno, 2000).


26

2.6.4 Pekerjaan

Salah satu alasan yang paling sering dikemukakan bila ibu

tidak menyusui adalah kerena mereka harus bekerja. Wanita selalu

bekerja, terutama pada usia subur, sehingga selalu menjadi masalah

untuk mencari cara merawat bayi. Bekerja bukan hanya berarti

pekerjaan yang dibayar dan dilakukan di kantor, tapi bisa juga

berarti bekerja di ladang, bagi masyarakat di pedesaan (King,

1991).

Pada Pekan ASI Sedunia tahun 1993 diperingati dengan

tema Tempat Kerja Sayang Bayi (Mother Friendly Workplace),

menunjukkan bahwa adanya perhatian dunia terhadap peran ganda

ibu menyusui dan bekerja. Salah satu kebijakan dan strategi

Departemen Kesehatan RI tentang Peningkatan Pemberian ASI

(PP-ASI) pekerja wanita adalah mengupayakan fasilitas yang

mendukung PP-ASI bagi ibu yang menyusui di tempat kerja

dengan menyediakan sarana ruang memerah ASI, menyediakan

perlengkapan untuk memerah dan menyimpan ASI, menyediakan

materi penyuluhan ASI, dan memberikan penyuluhan (Depkes RI,

2004).

2.6.5 Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah

orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.

Pengindraan terjadi melalui pancaindra, yakni indra penglihatan,

pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba. Sebagian besar


27

pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga

(Notoatmodjo, 2003).

Pengetahuan ibu tentang ASI merupakan salah satu faktor

yang penting dalam kesuksesan proses menyusui. Thaib et al

dalam Abdullah et al (2004) menyatakan bahwa tingkat

pengetahuan, pendidikan, status kerja ibu, dan jumlah anak dalam

keluarga berpengaruh positif pada frekuensi dan pola pemberian

ASI. Penelitian yang dilakukan oleh Ambarwati (2004) di

Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang menunjukkan bahwa

persentase kegagalan pemberian ASI Eksklusif lebih tinggi terjadi

pada para ibu dengan pengetahuan tentang ASI yang kurang

daripada para ibu yang memiliki pengetahuan tentang ASI yang

lebih baik.

2.6.6 Kondisi Kesehatan

Akre (1994) berpendapat bahwa berhasil atau tidaknya

pemberian ASI secara eksklusif dipengaruhi oleh faktor fisik ibu

dan faktor bayi.Yang termasuk faktor fisik ibu menurutnya adalah

penyakit pada ibu, ibu yang menderita sakit atau kelelahan

sehingga tidak memberikan ASI kepada bayinya dapat

menyebabkan gagalnya ASI eksklusif. Sedangkan faktor bayi

adalah berbagai kondisi bayi yang membuatnya sulit menyusu

kepada ibunya antara lain adanya kelainan metabolisme sejak lahir,

bibir sumbing dan bayi berat lahir rendah (BBLR) (WHO, 1998).
28

Hampir semua ibu dapat menyusui bayinya sejak awal

kelahiran bayi hingga 6 bulan dan meneruskan menyusui hingga

usia 2 tahun (WHO, 2009). Namun, sejumlah kecil kondisi

kesehatan ibu dan bayi dapat membenarkan alasan ibu tidak

menyusui secara permanen atau sementara.

Berdasarkan Peraturan pemerintah No. 33 Tahun 2012

tentang ASI, Setiap ibu harus memberikan ASI eksklusif kepada

bayi yang dilahirkannya terkecuali jika Ibu tersebut mengalami

indikasi medis, ibu tidak ada dan ibu terpisah dari bayi. Indikasi

medis yang tidak memungkinkan pemberian ASI eksklusif antara

lain :

a) Bayi yang hanya dapat menerima susu dengan formula khusus,

yaitu Bayi dengan kriteria:

1. Bayi dengan galaktosemia klasik, diperlukan formula

khusus bebas galaktosa

2. Bayi dengan penyakit kemih beraroma sirup maple (maple

syrup urine disease), diperlukan formula khusus bebas

leusin, isoleusin, dan valin

3. Bayi dengan fenilketonuria, dibutuhkan formula khusus

bebas fenilalanin, dan dimungkinkan beberapa kali

menyusui, di bawah pengawasan.

b) Bayi yang membutuhkan makanan lain selain ASI selama

jangka waktu terbatas, yaitu:


29

1. Bayi lahir dengan berat badan kurang dari 1500 (seribu

lima ratus) gram (berat lahir sangat rendah);

2. Bayi lahir kurang dari 32 (tiga puluh dua) minggu dari usia

kehamilan yang sangat prematur; dan/atau

3. Bayi baru lahir yang berisiko hipoglikemia berdasarkan

gangguan adaptasi metabolisme atau peningkatan

kebutuhan glukosa seperti pada Bayi prematur, kecil untuk

umur kehamilan atau yang mengalami stress

iskemik/intrapartum hipoksia yang signifikan, Bayi yang

sakit dan Bayi yang memiliki ibu pengidap diabetes, jika

gula darahnya gagal merespon pemberian ASI baik secara

langsung maupun tidak langsung.

Kondisi medis ibu yang tidak dapat memberikan ASI

Eksklusif karena harus mendapat pengobatan sesuai dengan

standar. Kondisi ibu tersebut antara lain:

a) ibu yang dapat dibenarkan alasan tidak menyusui secara

permanen karena terinfeksi Human Immunodeficiency Virus.

b) ibu yang dapat dibenarkan alasan menghentikan menyusui

sementara waktu karena:

1. penyakit parah yang menghalangi seorang ibu merawat

Bayi, misalnya sepsis (infeksi demam tinggi hingga tidak

sadarkan diri);

2. infeksi Virus Herpes Simplex tipe 1 (HSV-1) di payudara;

kontak langsung antara luka pada payudara ibu dan mulut


30

Bayi sebaiknya dihindari sampai semua lesi aktif telah

diterapi hingga tuntas

Ibu yang menderita penyakit jantung sebaiknya tidak

menyusui bayinya yang apabila menyusui dapat terjadi gagal

jantung. Selain itu, pemberian ASI juga menjadi kontraindikasi

bagi bayi yang menderita galaktosemia yaitu keadaan kongenital

dimana dalam hal ini bayi tidak mempunyai enzim galaktase

sehingga galaktosa tidak dapat dipecah menjadi glukosa dan akan

berpengaruh pada perkembangan bayi (Kosim, Yunanto, Dewi,

Sarosa, Usman, 2010).

Kondisi kesehatan bayi juga dapat mempengaruhi

pemberian ASI Eksklusif. Ada berbagai kondisi bayi yang

membuatnya sulit menyusu kepada ibunya antara lain bayi yang

lahir prematur, kelainan pada bibir bayi dan penyakit kuning pada

bayi yang baru lahir (Prasetyono, 2012). Bayi diare tiap kali

mendapat ASI, misalnya jika ia menderita penyakit bawaan tidak

dapat menerima laktosa, gula yang terdapat dalam jumlah besar

pada ASI (Pudjiadi, 2001).

2.6.7 Tempat Bersalin

Tempat bersalin memiliki peranan dalam pencapaian

pemberian ASI eksklusif.Penelitian yang dilakukan Kusnadi (2007)

dalam Lestari (2009) menunjukkan proporsi pemberian ASI

eksklusif pada ibu yang melakukan persalinan menggunakan

fasilitas kesehatan lebih besar jika dibandingkan dengan ibu yang


31

tidak menggunakan fasilitas kesehatan.Hal ini dapat disebabkan

oleh ibu yang melakukan persalinan di fasilitas kesehatan

mendapatkan info lebih baik tentang ASI eksklusif daripada yang

bersalin di fasilitas non kesehatan.

2.6.8 Penolong persalinan

Keberhasilan menyusui bayi tidak hanya dipengaruhi oleh

tempat ibu bersalin tetapi juga sangat bergantung terhadap petugas

kesehatan. Penolong persalinan penting untuk keberhasilan

pemberian ASI eksklusif karena penolong persalinan adalah orang

yang akan memantapkan menyusui pada periode awal pasca

persalinan. Tenaga kesehatan dengan pengetahuan cukup tentang

ASI akan memungkinkan ibu lebih berhasil dalam menyusui

(Depkes, 2007)

Hasil penelitian Amalia dan Yovsyah (2009) menunjukkan

adanya hubungan signifikan antara perilaku penolong persalinan

dengan pemberian ASI eksklusif. Hal ini diperkuat dengan

penelitian Linda Amelia (2006) menunjukkan hubungan yang

sigifikan antara penolong persalinan dengan tindakan pemberian

ASI segera pada bayi baru lahir. Dari penelitian ini terlihat bahwa

kemungkinan pembe rian ASI segera pada bayi baru lahir pada

perilaku penolong persalinan yang memberikan bayi pada ibu

untuk disusui lebih besar untuk memberikan ASI dibandingkan

dengan perilaku penolong persalinan yang hanya menganjurkan ibu

untuk memberikan ASI segera pada bayi baru lahir.


32

2.6.9 Dukungan Petugas Kesehatan

Menurut Green (1980) dalam Notoatmodjo (2003) perilaku

terbentuk karena faktor pendorong yang terwujud dalam sikap dan

perilaku petugas kesehatan, atau petugas lain yang merupakan

referensi dari perilaku masyarakat. Sebagai seorang yang

dipercayai ibu-ibu dalam mengatasi masalah bayi, tenaga

kesehatan hendaknya memberikan nasihat kepada seorang ibu

permulaan menyusui, agar dapat mengukuhkan kepercayaan

dirinya atas kesanggupan menyusui dan bersikap mendukung

penilaian bahwa menyusui adalah suatu fungsi alamiah yang

sempurna (Jellife, 1994)

Menurut Soetjiningsih (1997) pemberian ASI belum secara

optimal diberikan oleh ibu-ibu disebabkan karena keterbatasan

pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan dalam

memberikan penyuluhan mengenai cara pemberian ASI yang baik

dan benar kepada ibu dan keluarga. Bebrapa penelitian

membuktikan bahwa sikap petugas kesehatan sangat

mempengaruhi pemilihan makanan bayi oleh ibunya.Pengaruh ini

dapat berupa sikap negatif secara pasif, yang dinyatakan dengan

tidak menganjurkan dan tidak membantu bila ada kesulitan laktasi.

Sikap ini bisa pula secara aktif misalnya bila ada kesulitan laktasi,

malah petugas sendiri yang menganjurkan untuk memberikan susu

botl kepada bayi.


33

Berdasarkan penelitian Pinem (2010) menyebutkan faktor

petugas kesehatan sangat berpengaruh terhadap pemberian ASI

Eksklusif.Sebanyak 60% responden mengatakan tidak pernah

mendapat informasi tentang ASI Eksklusif dari petugas kesehatan.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa ibu yang mendapat

dukungan dari tenaga kesehatan berpeluang 5,627 kali dalam

pemberian ASI eksklusif dibandingkan dengan yang tidak

mendapat dukungan dari petugas kesehatan (Nupelita, 2007).

2.6.10 Dukungan Keluarga

Dorongan keluarga merupakan sesuatu yang cukup penting

untuk menentukkan kegagalan atau keberhasilan seorang ibu dalam

pemberian ASI eksklusif pada bayinya (Green, 1980).

Keluarga (suami, orang tua, mertua, ipar, dan sebagainya)

perlu diinformasikan bahwa seorang ibu perlu dukungan dan

bantuan keluarga agar ibu berhasil menyusui secara eksklusif,

misalnya untuk menggantikan sementara tugas rumah tangga ibu

seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah (Afifah,

2009).

Dorongan keluarga untuk melakukan ASI eksklusif

umumnya adalah suami dan orang tua.Suami dan orang tua adalah

orang terdekat yang dapat mempengaruhi seorang ibu untuk tetap

menyusui secara eksklusif atau malah memberikan makanan/

minuman tambahan kepada bayi.Bentuk dukungan suami berupa

nasihat untuk memberikan hanya ASI eksklusif saja kepada


34

bayinya, membantu ibu bila lelah, dan membantu melakukan

pekerjaan rumah. Sedangkan dukungan orang tua lebih terlihat

untuk mempengaruhi ibu memberikan makanan atau minuman

tambahan sebelum bayi mereka berusia 6 bulan (Fika dan Syafiq,

2009). Studi pada tahun 2010 menunjukkan 13 % ibu memutuskan

untuk memberikan ASI atau susu formula karena pengaruh dari ibu

dan saudara perempuannya (Swarts, Kruger, dan Dolman, 2010).

Hasil penelitian kualitatif Fika dan Syafiq (2009)

menyatakan bahwa sebagian besar ibu yang memberikan ASI

eksklusif kepada bayinya mendapatkan dukungan dari

suaminya.Sedangkan pada orang tua perannya kurang terlihat.

Namun, pada ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif sangat

terlihat bagaimana peran orang tua untuk mempengaruhi

pemberian makanan tambahan. Sedangkan peran suami ada yang

mendapat dukungan, tapi sebagian lainnya menyerahkan keputusan

menyusui kepada ibu, artinya suami tidak memberikan dorongan

kepada ibu untuk menyusui.

2.7 Kerangka Teori

Kerangka teori dalam penelitian ini mengacu pada model

PRECEDE (Predisposing, Reinforcing, and Enabling Causes in

Educational Diagnosis and Evaluation) yang dikembangkan oleh Green

(1980), yang dimodifikasi dengan teori Unicef (1990) , Ebrahim (1986),

dan Akre (1994).


35

Praktek pemberian ASI eksklusif berhubungan dengan faktor

predisposisi (umur ibu, paritas ibu, pekerjaan ibu, pendidikan ibu, sosial

ekonomi, kondisi kesehatan dan pengetahuan), faktor pemungkin (tempat

persalinan, penolong persalinan), dan faktor penguat (dukungan keluarga,

dukungan tenaga kesehatan dan promosi susu formula). Dari praktek

pemberian ASI tersebut maka didapat jumlah konsumsi ASI. Konsumsi

ASI dan faktor infeksi pada anak akan menentukkan derajat status gizi

anak. Adapun kerangka teorinya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
36

Gambar 2.1

Kerangka Teori

Faktor Predisposisi
 Karakteristik Ibu
 Umur
 Paritas
 Pendidikan
 Pekerjaan
 Sosial Ekonomi
 Kondisi Kesehatan
Infeksi
(Faktor fisik ibu
dan bayi)
 Pengetahuan

Faktor Pemungkin

 Tempat Persalinan
 Penolong persalinan
PemberianASI Status Gizi
Faktor Penguat Eksklusif Anak

 Dukungan Keluarga
 Dukungan Petugas
Kesehatan Konsumsi ASI
 Promosi susu formula Eksklusif

Sumber : Modifikasi teori L. Green (1980), Unicef (1990), Ebrahim (1986) dan

Akre (1994)
37

BAB III

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep

Pemberian ASI Eksklusif melibatkan banyak faktor didalamnya.

Berdasarkan kerangka teori yang disebutkan pada bab sebelumnya, tidak

semua faktor dapat diteliti dalam penelitian ini. Variabel yang digunakan

dalam penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku

pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan adalah variabel terikat

(dependent) yaitu pemberian ASI eksklusif. Sedangkan variabel bebas

(independent) yaitu umur ibu, paritas ibu, pengetahuan ibu, pendidikan ibu,

pekerjaan ibu, tempat bersalin, penolong persalinan, dukungan keluarga, dan

dukungan petugas kesehatan. Berikut adalah alasan variabel-variabel tersebut

diteliti:

1. Umur ibu diteliti karena umur ibu dapat menentukan kesehatan maternal

yang juga berkaitan dengan kondisi kehamilan ibu, persalinan dan nifas

serta cara mengasuh dan menyusui bayinya.

2. Paritas ibu diteliti karena diperkirakan ada kaitannya dengan pencarian

informasi tentang pengetahuan ibu menyusui. Dan hal ini berhubungan

dengan pengalaman ibu menyusui, baik pengalaman sendiri maupun

37
38

pengalaman orang lain terhadap pengetahuannya yang dapat

mempengaruhi perubahan perilaku ibu menyusui.

3. Pendidikan ibu diteliti karena ada kaitannya dengan pengetahuan ibu

menyususi dalam memberikan ASI eksklusif, dimana seseorang yang

berpendidikan tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih

dibandingkan dengan sesorang yang berpendidikan rendah.

4. Pekerjaan ibu diteliti karena banyak asumsi yang menyebutkan bahwa

ibu di daerah pedesaan yang mayoritas tidak bekerja seharusnya dapat

memberikan ASI secara ekskusif. Namun kenyataannya di Kelurahan

Gerem, meskipun mayoritas ibunya tidak bekerja tetapi tingkat

pemberian ASI eksklusifnya masih rendah.

5. Pengetahuan ibu diteliti karena proes terbentuknya seseorang untuk

berperilaku adalah didasarkan pada pengetahuannya. Dalam hal ini

pengetahuan menjadi sumber informasi ibu menyusui dalam melakukan

perubahan perilaku kesehatan khususnya pemberian ASI eksklusif.

6. Tempat persalinan dan penolong persalinan diteliti karena ketersediaan

fasilitas kesehatan sebagai tempat persalinan dan perilaku petugas

kesehatan selaku penolong persalinan akan mendorong dan memperkuat

terbentuknya perilaku kesehatan dalam pemberian ASI eksklusif.

7. Dukungan kelurga diteliti karena keluarga merupakan orang terdekat ibu

menyusui dalam kegiatan sehari-harinya, dimana kebiasaan-kebiasaan

anggota keluarga akan mempengaruhi perilaku ibu menyusui. Dukungan


39

keluarga sangat dibutuhkan khususnya untuk yang baru pertama kali

hamil

8. Dukungan petugas kesehatan diteliti karena petugas kesehatan

merupakan referensi dalam perilaku masyarakat yang mana peranannya

dalam kesehatan dapat mendukung dan memperkuat terbentuknya

perilaku pemberian ASI eksklusif pada ibu menyusui.

Pada penelitian ini ada faktor yang menurut teori berhubungan dengan

pemberian ASI eksklusif, namun tidak dijadikan variabel dalam penelitian ini

yaitu sosial ekonomi, kondisi kesehatan, promosi susu formula, konsumsi

ASI, infeksi dan status gizi. Berikut adalah alasan variabel-variabel tersebut

tidak diteliti :

1. Sosial ekonomi tidak diteliti karena menurut wakil ketua Asosiasi

Menyusui Indonesia (AIMI), permasalahan utama pemberian ASI

eksklusif adalah perilaku dan bukan masalah ekonomi. Dan tujuan dalam

penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor perilaku ibu yang

berhubungan dalam pemberian ASI eksklusif.

2. Faktor Kondisi kesehatan tidak diteliti karena dalam kriteria sampel

penelitian ini, peneliti membatasi responden penelitian merupakan ibu dan

bayi yang dalam keadaan sehat dan tidak memiliki kelainan serta tidak

BBLR.

3. Faktor promosi susu formula tidak diteliti karena berkaitan dengan

variabel dukungan petugas kesehatan dan dukungan keluarga. Dimana


40

dalam penelitian ini ada tidaknya promosi susu formula menjadi

komponen pertanyaan pada variabel dukungan petugas kesehatan dan

dukungan keluarga. Sehingga ada tidaknya promosi susu formula dalam

pemberian ASI eksklusif terwakili oleh 2 komponen pertanyaan pada

kedua variabel tersebut.

4. Konsumsi ASI dan Infeksi tidak diteliti karena dalam hal ini kedua faktor

tersebut hanya menentukan derajat status gizi anak.

Berdasarkan uraian tersebut, maka kerangka konsep dalam penelitian

ini dapat dilihat pada gambar 3.1 sebagai berikut :


41

Gambar 3.1

Kerangka Konsep

Variabel bebas (independent) Variabel terikat (dependent)

Faktor Predisposisi
 Karakteristik Ibu
 Umur
 Paritas
 Pendidikan
 Pekerjaan
 Pengetahuan

Pemberian
Faktor Pemungkin
ASI Eksklusif
 Tempat Persalinan
 Penolong perslinan

Faktor Penguat

 Dukungan Keluarga
 Dukungan Petugas Kesehatan
42

3.2 Definisi Operasional

Tabel 3.1

Definisi Operasional

No Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur

Variabel Terikat (dependent)

1 Pemberian pemberian ASI saja kepada bayi tanpa Wawancara Kuesioner 0 = Tidak ASI Ordinal

Asi eksklusif tambahan makanan atau minuman lain seperti eksklusif

air putih, susu formula, jeruk, madu, air teh, 1 = ASI eksklusif

pisang bubur, susu, biscuit, bubur nasi tim

kecuali vitamin, mineral, obat, dan ASI yang

diperah yang diberikan selama 6 bulan

(Depkes RI, 2009).

Variabel Bebas (independent)

1 Umur ibu Lamanya hidup yang dicapai responden dari wawancara kuesioner 0 = < 20 tahun Ordinal
43

lahir sampai dilakukan penelitian atau > 35 tahun

1 = 20 tahun – 35

tahun (Arini,

2012)

2 Paritas ibu Jumlah anak yang pernah dilahirkan hidup wawancara kuesioner 0 = Primipara Ordinal

yaitu kondisi yang menggambarkan kelahiran 1 = Multipara

sekelompok atau beberapa kelompok wanita (Prawiraharjo,

selama masa reproduksi. (BKKBN, 2011) 2009)

3 Pendidikan Tingkat pendidikan yang dilihat berdasarkan wawancara kuesioner 0 = Rendah Ordinal

ibu lama tahun yang ditempuh untuk (≤9tahun)

menyelesaikan pendidikan formal terakhir 1 = Tinggi (> 9

tahun)

(Depdiknas,

2002)

4 Pekerjaan Kegiatan yang dilakukan ibu di luar atau di wawancara kuesioner 0 = Bekerja (PNS, Ordinal

ibu dalam rumah untuk membantu penghasilan swasta, buruh,


44

keluarga petani,

wiraswasta,

pedagang)

1 =Tidak bekerja,

IRT

(BPS, 2009)

5 Pengetahuan Kemampuan ibu dalam menjawab pertanyaan wawancara kuesioner 0 = Kurang

ibu yang diajukan di dalam kuesioner tentang (persentase

ASI eksklusif jawaban benar <

70%)

1 = Baik

(persentase

jawaban ≥ 70%)

(Hartuti, 2006)

6 Tempat Sarana/prasarana yang diperoleh ibu dalam Wawancar Kuesioner 0 = Bukan di Ordinal
45

bersalin proses melahirkan a fasilitas kesehatan

1 = Di fasilitas

kesehatan

(Asmijati, 2001)

7 Penolong Tenaga yang membantu ibu dalam Wawancar Kuesioner 0 = Non Nakes ( Ordinal

persalinan melahirkan bayinya a dukun beranak,

keluarga)

1 = Nakes (bidan,

perawat dan

dokter)

(Amran, 2007)

8 Dukungan Partisipasi aktif oleh petugas kesehatan agar Wawancar Kuesioner 0 = kurang Ordinal

petugas ibu dapat mempertahankan memberikan ASI a mendukung, jika

kesehatan eksklusif kepada anaknya. jawaban < 75%

total skor
46

1 = Mendukung,

jika jawaban ≥

75% total skor

(Padang, 2008)

9 Dukungan Peran aktif yang diberikan anggota keluarga Wawancar Kuesioner 0 = kurang Ordinal

keluarga yaitu suami, orang tua, mertua, pada ibu a mendukung, jika

menyusui dalam keberhasilan pemberian ASI jawaban < 75%

eksklusif. total skor

1 = Mendukung,

jika jawaban ≥

75% total

(Padang, 2008)
47

3.3 Hipotesis

a. Adanya hubungan antara faktor predisposisi (umur ibu, paritas ibu,

pendidikan ibu, pekerjaan ibu, dan pengetahuan ibu)dengan

rendahnya cakupan ASI ASI Eksklusif di kelurahan gerem wilayah

kerja puskesmas grogol kota cilegon tahun 2015

b. Adanya hubungan antara faktor pemungkin (Tempat persalinan

dan penolong persalinan) dengan rendahnya cakupan ASI ASI

Eksklusif di kelurahan gerem wilayah kerja puskesmas grogol kota

cilegon tahun 2015

c. Adanya hubungan antara faktor penguat (dukungan keluarga dan

dukungan petugas kesehatan) dengan rendahnya cakupan ASI ASI

Eksklusif di kelurahan gerem wilayah kerja puskesmas grogol kota

cilegon tahun 2015


BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

penelitian kuantitatif dengan desain penelitian Cross Sectional.Dimana

variabel independen dan variabel dependen dikumpulkan dalam waktu

yang bersamaan. Penelitian ini menganalisis faktor yang berhubungan

dengan rendahnya cakupan ASI Eksklusif di Kelurahan Gerem Wilayah

Kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon tahun 2015

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanan di Kelurahan Gerem Wilayah Kerja

Puskesmas Grogol Kota Cilegon pada bulan Maret-Mei tahun 2015.

Alasan pemilihan lokasi penelitian adalah karena cakupan ASI Eksklusif

di Puskesmas Grogol kota Cilegon masih rendah yang berdampak pada

masih bayaknya angka gizi buruk di wilayah kerja puskesmas grogol

khususnya di kelurahan Gerem yang merupakan wilayah yang paling

banyak memiliki anak dengan gizi buruk serta belum pernah dilakukannya

penelitian serupa di wilayah tersebut.

48
49

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian

4.3.1 Populasi Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek

atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang

di tetapkan oleh peneliti (Sugiyono, 2009).Populasi pada penelitian ini

adalah ibu yang memiliki bayi berusia 6 – 12 bulan di lokasi pada saat

penelitian.Pembatasan usia bayi yang dilakukan dalam penelitian ini,

karena pada usia 6 – 12 bulan ASI masih menjadi makanan utama bayi

yang dapat memenuhi 60 – 70% kebutuhan bayi. Menurut data

laporan bulanan wilayah kerja puskesmas Grogol Kota Cilegon sampai

pada bulan mei tahun 2015 populasi ibu yang memiliki bayi berusia 6-

12 bulan yaitu sebanyak 133 orang.

4.3.2 Sampel Penelitian

Pada penelitian ini yang akan dijadikan sampel penelitian

adalah ibu yang memiliki anak usia 6 – 12 bulan yang berdomisili di

Kelurahan Gerem Kecamatan Grogol Kota Cilegon. Adapun kriteria

inklusi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Ibu yang memiliki bayi usia 6 – 12 bulan

2. Bayi yang dimiliki ibu saat lahir dalam kondisi sehat, tidak

memiliki kelainan atau cacat bawaan seperti bibir sumbing ,

tidak prematur dan tidak BBLR

3. Ibu saat postpartum dalam keadaan sehat

4. Mampu berkomunikasi dengan baik

5. Bersedia menjadi responden


50

Kriteria eksklusi responden dalam penelitian ini adalah :

1. bayi memiliki kelainan dan cacat bawaan seperti bibir sumbing,

lahir prematur dan BBLR.

2. Ibu yang mengalami penyakit parah.

Pengambilan besar sampel dalam penelitian ini dihitung

berdasarkan rumus uji hipotesis beda dua proporsi (Lemeshow,

1997) :

( ⁄ )√ ̅( ̅) √ ( ) ( )
( )

Keterangan :

n = Jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian

– = Derajat kepercayaan (CI 95%) = 1,96

– = kekuatan uji 80 %

P = Rata-rata proporsi pada populasi

P1 = Proporsi ibu dengan variabel yang dinilai positif

yang memberikan ASI eksklusif

P2 = Proporsi ibu dengan variabel yang dinilai negatif

yang memberikan ASI eksklusif

Hasil penghitungan sampel minimal berdasarkan hasil

penelitian sebelumnya digunakan software sample size WHO

Hipothesis test for two population proportion dengan kekuatan uji β =


51

80%, maka didapatkan hasil hitung jumlah sampel seperti tabel

dibawah ini:

Tabel 4.1

Perhitungan Jumlah Sampel Berdasarkan Hasil Penelitian Terdahulu

No Variabel P1 P2 N Sumber

1 Pengetahuan Ibu 38,9% 11,8% 40 Hajijah, 2012

2 Umur Ibu 29,3 % 6,09 % 38 Zakiyah, 2012

3 Paritas Ibu 39,7 % 11,1 % 36 Hakim, 2012

4 Pendidikan Ibu 31% 9% 51 Nurpelita,

2007

5 Pekerjaan Ibu 11,4 % 55,6 % 17 Juliani, 2009

6 Tempat 0% 23,2 % 29 Rubinem, 2012

Persalinan

7 Dukungan 33,3 % 10,3 % 50 Aritonang,

Keluarga 2011

Berdasarkan hasil perhitungan jumlah sampel diatas, jumlah

sampel diambil yang terbanyak yaitu sebanyak 51 orang. Untuk

mengantisipasi kekurangan sampel akibat kendala yang terjadi di

lapangan, peneliti menambah sampel sebanyak 10% sehingga jumlah

sampel menjadi 56,1 dan dibulatkan menjadi 56 sampel penelitian.

4.3.3 Teknik Sampling

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah

Proportional Random Sampling dari populasi yang memenuhi kriteria


52

inklusi penelitian.Pengambilan sampel secara proporsi dilakukan

dengan mengambil subyek dari setiap strata atau setiap

wilayahditentukan seimbang dengan banyaknya subyek dalam masing-

masing strata atau wilayah (Arikunto, 2006).

Tahap pertama yang dilakukan adalah menyusun daftar

kerangka sampling (sampling frame) bayi usia 6 – 12 bulan yang

diperoleh dari data sasaran di tiap posyandu di kelurahan Gerem yang

terdiri dari nama bayi, umur bayi, orang tua, dan alamat (RT/RW).

Sedangkan untuk kondisi kesehatan bayi (BBLR/tidak) dan kondisi

kesehatan ibu diperoleh dari buku KIA yang ada di tiap

posyandu.Setelah itu, peneliti melakukan pengundian untuk

menentukan 56 orang ibu untuk dijadikan responden penelitian.

Adapun besar atau jumlah pembagian sampel untuk masing-masing

posyandu diperoleh dengan mengunakan rumus proportional random

sampling menurutSugiyono (2007) berikut ini :

n = x N1

Keterangan :

n : Jumlah sampel yang diinginkan setiap strata

N : Jumlah populasi ibu yang memiliki bayi berusia 6-12 bulan di

Kelurahan Gerem

X : Jumlah populasi pada setiap wilayah

N1 : Jumlah sampel penelitian (56)


53

Berdasarkan rumus, jumlah sampel dari masing-masing posyandu

tersebut yaitu:

Nama Posyandu Populasi Tiap Sampel Tiap

Posyandu ( X) Posyandu (n)

Wijaya Kusuma 15 7

Mawar 17 8

Sedap Malam 12 6

Melati 5 2

Pisang I 8 4

Pisang II 15 7

Dadali I 1 -

Dadali II 7 3

Flamboyan 6 3

Pepaya 12 6

PENI 14 6

Batu Lawang 9 4

Total 119 56

Setelah jumlah sampel di masing-masing posyandu di dapat,

kemudian dilakukan tehnik Simple Random Sampling (SRS)yaitu

pengambilan sampel secara acak sederhana dari populasi di masing-

masing posyandu, tehnik ini dibedakan menjadi dua cara yaitu dengan
54

mengundi (lottery technique) atau dengan menggunakan tabel bilangan

atau angka acak (random number) (Notoatmodjo, 2010).

Data ibu terpilih dikonfirmasi kepada kader poyandu di lokasi

penelitian untuk mengetahui lokasi rumah responden Untuk

pengambilan data, peneliti mendatangi rumah responden.Apabila

pengambilan data bersamaan dengan jadwal kegiatan posyandu,

peneliti menemui responden di posyandu.

4.3.4 Prosedur Penelitian

Prosedur Penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut,

pada bulan mei tercakup populasi bayi usia 6 – 12 bulan dan

didapatkan populasi sebanyak 133 bayi. Pada bulan oktober di

dapatkan jumlah populasi anak usia 6 – 12 bulan yaitu 128 bayi.

Namun setelah di kroschek melalui buku KIA dari masing-masing

responden dari populasi tersebut, sebanyak 9 bayi di keluarkan dari

sampel penelitian karena memiliki status BBLR. Sehingga terdapat

119 bayi yang akan dijadikan populasi sampel penelitian.

Dari populasi tersebut kemudian ditentukan besar sampel

penelitian dengan menggukanan uji hipotesis beda dua proporsi, dan di

dapatkan besar sampel sebanyak 56 bayi. Dari 56 bayi tersebut

dilakukan penarikan sampel dengan cara proportional random

sampling untuk menentukan jumlah sampel penelitian dari masing-

masing posyandu yang terdapat di kelurahan gerem.


55

Adapun jumlah sampel dari masing-masing posyandu tersebut

adalah sebagai berikut, posyandu wijaya kusuma 7 responden,

posyandu mawar 8 responden, posyandu sedap malam 6 responden,

posyandu melati 2 orang, posyandu pisang I 4 responden, posyandu

pisang II 7 responden, posyandu dadali II 3 responden, posyandu

flamboyan 3 responden, posyandu papaya 6 responden, posyandu

PENI 6 orang, posyandu batu lawang 4 responden, sedangkan dari

posyandu dadali I tidak ada responden yang dijadikan sampel

penelitian.

Untuk pemlihan responden penelitian dari masing-masing

posyandu dilakukan dengan carasimple random sampling (SRS)

dengan cara mengundi nomor responden di masing-masing posyandu

dengan mengurutkannya secara alfabetis terlebih dahulu dengan

Microsoft excel. Skema peneliian dapat dilihat dalam bagan 4.1


56

Gambar 4.1 Skema Penelitian

128 bayi usia 6 – 12 bulan di kelurahan


Gerem bulan Oktober tahun 2015

Kroscek buku KIA

119 bayi usia 6 – 12 bulan dijadikan 9 bayi dengan status BBLR


populasi sampel penelitian dikeluarkan dari penelitian

Uji hipotesis beda dua proporsi

56 Sampel penelitian / responden

Teknik Proportional Random Sampling

 posyandu wijaya kusuma 7


responden,
 posyandu mawar 8 responden
 posyandu sedap malam 6 responden
 posyandu melati 2 orang, Dilakukan
 posyandu pisang I 4 responden, simple random
 posyandu pisang II 7 responden, sampling untuk
 posyandu dadali II 3 responden, memilih
 posyandu flamboyan 3 responden, responden di
 posyandu papaya 6 responden, masing-masing
 posyandu PENI 6 orang, posyandu
 posyandu batu lawang 4 responden,
 posyandu dadali I tidak ada
responden yang dijadikan sampel
penelitian.
57

4.4 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner untuk

mengumpulkan data pemberian ASI eksklusif, umur ibu, paritas ibu,

tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ibu,tingkat pengetahuan ibu, tempat

persalinan, penolong persalinan, dukungan petugas kesehatan, dan

dukungan keluarga.

Kuesioner yang akan digunakan merupakan kuesioner yang sudah

di modifikasi dari kuesioner penelitian Hajijah (2012), Pertiwi (2012) dan

wulandari (2011)

4.5 Uji Validitas dan Uji Reliabilitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat

kevaliditan atau kesahihan suatu instrument.Suatu instrument yang valid

atau sahih mempunyai validitas yang tinggi.Sebaliknya instrument yang

kurang valid berarti mempunyai validitas rendah. Instrument dikatakan

valid apabila mampu mengukur apa yang digunakan (Arikunto, 1998).

Reliabilitas adalah suatu instrument cukup dapat dipercaya untuk

digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument tersebut sudah

baik (Arikunto, 1998).

Uji validitas dan reliabilitas instrument penelitian diperlukan untuk

mendapatkan instrument sebagai alat ukur yang dapat mengukur dengan

valid dan dapat menunjukkan hasil data yang sama bila digunakan

beberapa kali untuk mengukur objek penelitian.


58

Dengan menggunakan instrument yang valid dan reliable dalam

pengumpulan data, maka diharapkan hasil penelitian akan valid dan

reliable. Sehingga, instrument yang valid dan reliable merupakan syarat

mutlak untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan

reliabel.Sebagaimana menurut Hidayat (2007), agar diperoleh distribusi

nilai hasil pengukuran mendekati kurva normal sebaiknya jumlah

responden untuk uji validitas dan reliabilitas yaitu 20 orang.

4.6 Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Data primer diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner

berisi pertanyaan seputar ASI eksklusif dan faktor-faktor yang

berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif. Pengumpulan data ini

dilakukan sendiri oleh peneliti dengan dibantu kader posyandu di

kelurahan Gerem.

2. Data sekunder diperoleh dari penelusuran dokumen serta catatan

berupa daftar nama ibu dan bayi usia 6-12 bulan di kelurahan Gerem

wilayah kerja Puskesmas Grogol.


59

4.7 Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan manual dan aplikasi program

komputer dari hasil kuesioner dengan tahapan sebagai berikut :

1. Editing Tahapan pertama dari pengolahan dan analisis data adalah

penyuntingan (editing ) . Editing diperlukan untuk memastikan

kebersihan data , artinya data tersebut telah terisi, konsisten, relevan

dan dapat dibaca dengan baik. Dalam penelitian ini, editing dilakukan

dengan mengecek kelegkapan jawaban kuesioner.

2. Coding ;dilakukan agar data mentah dapat tersusun sistematis dan

mempermudah pengolahan data selanjutnya dengan merubah data

berbentuk huruf menjadi berbentuk angka atau dengan klasifikasi

pemberian kode pada jawaban. Berikut ini pengkodean kuesioer.

 Pemberian ASI eksklusif

0 : ibu tidak memberikan ASI eksklusif sampai dengan 6 bulan

1 : ibu memberikan ASI eksklusif sampai dengan 6 bulan.

 Umur Ibu

0 = Jika umur ibu kurang dari 20 atau lebih dari 35 tahun

1 = jika umur ibu antara 20-35 tahun

 Paritas Ibu

0 = Primipara

1 = Multipara

 Pendidikan Ibu

0 = Rendah : jika lama pendidikan kurang dari sama dengan 9th

1 = Tinggi : jika lama pendidikan lebih dari 9th


60

 Pekerjaan Ibu

0 = Bekerja

1 = Tidak Bekerja

 Pengetahuan Ibu

0 = Pengetahuan kurang : jika presentase jawaban benar < 70%

1 = Pengetahuan baik : jika presentase jawaban benar ≥ 70%

 Tempat Persalinan

0 = Bukan di fasilitas kesehatan

1 = Di fasilitas kesehatan

 Penolong Persalinan

0 = Non Nakes

1 = Nakes

 Dukungan Petugas Kesehatan

0 = Kurang mendukung

1 = Mendukung

 Dukungan Keluarga

0 = Kurang mendukung

1 = Mendukung

3. Data entry; memasukkan data hasil wawancara ke dalam sofware

statistik untuk dianalisis.

4. Data Cleaning; pembersihan data dilakukan dengan cara melihat

gambaran frekuensi dari variabel-variabel dan menilai kelogisannya.


61

4.7 Teknik dan Analisis Data

Analisis data yang dilakukan yaitu dengan menggunakan program

SPSS. Analisis data yang dilakukan yaitu analisis univariat dan bivariat.

1. Analisis Univariat

Analisis univariat adalah analisis yang dilakukan terhadap tiap variabel

dari hasil penelitian.Dalam analisis univariat hanya menghasilkan

distribusi dan persentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2002).

Variabel tersebut adalah pemberian ASI eksklusif, karakteristik

responden (umur, paritas, pendidikan, dan pekerjaan), pengetahuan

ibu,tempat persalinan, penolong persalinan, dukungan tenaga

kesehatan, dukungan keluarga.

2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat adalah analisis yang dilakukan terhadap dua variabel

yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2002).

Variabel ini menggunakan uji kai kuadrat (Chi Square) dengan

menggunakan tingkat kemaknaan alpha 5 %.Artinya, bila p-value <

alpha 5%, maka disimulkan hipotesis ditolak atau ada hubungan yang

bermakna secara statistik antara variabel independen dan dependen.


BAB V

HASIL PENELITIAN

5.1 Gambaran Lokasi Penelitian

Kelurahan Gerem merupakan satu dari 4 kelurahan yang ada di

wilayah kerja puskesmas Grogol Kota Cilegon.Kelurahan ini memiliki

luas wilayah 768 hektar dengan jumlah penduduk 11.504 jiwa.Kelurahan

ini memiliki 11 Rukun Warga (RW) dengan 38 Rukun Tetangga (RT)

dan 4.477 kepala keluarga.Berdasarkan karakteristik morfologi daratan

dan kemiringan lahan, secara garis besar Kelurahan Grogol termasuk

wilayah dengan bentuk perbukitan-terjal yang mempunyai

kemiringan lahan berkisar antara 15–40% hingga lebih dari 40%.

Adapun Batas-batas geografis Kelurahan Gerem adalah sebagai berikut

 Sebelah utara berbatasan dengan Desa Pekuncen

 Sebelah selatan berbatasan dengan Selat Sunda

 Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Sunda

 Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Mekarsari

Kelurahan Gerem memiliki 1 pusat pelayanan kesehatan berupa POS

Gizi yang membawahi 12 posyandu.Berikut adalah jadwal kegiatan

posyandu yang ada di wilayah kelurahan Gerem.

63
64

Tabel 5.1 Jadwal Kegiatan Posyandu Kelurahan Gerem

Nama Posyandu Wilayah Kerja Posyandu Pelaksanaan

Posyandu

Pepaya RW 01 Selasa Minggu ke-1

RT 01, 02, dan 03

Dadali II RW 02 RT 01 Rabu Minggu ke-3

Dadali I RW 02 Rabu minggu ke-2

RT 02 dan 03

Flamboyan RW 02 RT 04Rabu Minggu ke-1

Wijaya Kusuma RW 03 Selasa Minggu ke-2

RT 01, 02, 03, 04 dan 05

PENI RW 04 Senin Minggu ke-2

RT 01, 02, dan 03

Pisang I RW 05 Senin Minggu ke-3

RT 01, 02 dan 03

Sedap Malam RW 06 Senin Minggu ke-1

RT 01, 02, 03 dan 04

Melati RW 07 Kamis minggu ke-2


65

RT 01 dan 02

Mawar RW 08 RT 01, 02, 03, dan Kamis Minggu ke-1

04

RW 10 RT 01, 02 dan 03

Batu Lawang RW 09 RT 01 dan 02 Selasa Minggu ke-3

Pisang II RW 11 RT 01, 02 dan 03 Kamis minggu ke-3

Adapun salah satu kegiatan yang ada di setiap Posyandu di Kelurahan

Gerem yaitu kegiatan penimbangan sebagai upaya peninjauan gizi kurang

(UPGK) di Kelurahan Gerem yang terekapitulasi dalam cakupan SKDN..

Berikut adalah gambaran cakupan SKDN balita di Kelurahan Gerem.

Tabel 5.2

Sistem Kewaspadaan Dini Nasional (SKDN) Kelurahan Gerem tahun 2015

Data Cakupan

S K D N K/S D/S N/S N/D

Riil 1210 1210 1057 717 100% 87,4% 59,3% 67,8%

Target - - - - 90% 80% 60% 80%

Sumber : Laporan Kegiatan Gizi Puskesmas Grogol Kota Cilegon Tahun 2015

Berdasarkan data tersebut di ketahui bahwa dari seluruh balita (S) yang

memiliki KMS (K) di Kelurahan Gerem. Hanya sebanyak 1057 balita yang

datang dan melakukan penimbangan dalam kegiatan Posyandu (D) di

Kelurahan Gerem. Dan tercatat hanya 717 balita yang mengalami kenaikan
66

berat badannya (N). berdasarkan data cakupan yang tergambar dalam SKDN

kelurahan Gerem diketahui juga bahwa cakupan kegiatan penimbangan

(K/S), tingkat partisipasi masyarakat (D/S), serta efektifitas kegiatan

penimbangan (N/S) di Kelurahan Gerem sudah mencapai target Puskesmas

Grogol Kota Cilegon. hanya tingkat keberhasilan penimbangan (N/D) yang

masih belum mencapai target program gizi Puskesmas Grogol.

5.2 Analisis Univariat

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran

pemberian ASI eksklusif, umur ibu, paritas ibu, tingkat pendidikan ibu,

pekerjaan ibu, tingkat pengetahuan ibu, tempat persalinan, penolong

persalinan, dukungan petugas kesehatan, dan dukungan keluarga dan

hubungannya dengan pemberian ASI Eksklusif di kelurahan Gerem wilayah

kerja Puskesmas Grogol tahun 2015.

Untuk menggambarkan Variabel-Variabel dalam penelitian ini penulis

menggunakan analisis Univariat.Analisis univariat (descriptive analysis)

bertujuan untuk mendeskripsikan karakter masing-masing variabel yang

diteliti. Analisis ini juga digunakan untuk menyederhanakan atau meringkas

kumpulan data hasil pengukuran sehingga kumpulan data tersebut menjadi

informasi yang berguna ( Hastono, 2006).

Data univariat dalam penelitian ini terdiri dari pemberian ASI

eksklusif, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, usia ibu, pengetahuan ibu, tempat

persalinan ibu, penolong persalinan ibu, dukungan keluarga dan dukungan

tenaga kesehatan. Berikut adalah hasil analisis univariat tentang hal tersebut.
67

5.2.1 Gambaran Pemberian ASI eksklusif

Perilaku pemberian ASI eksklusif dibagi menjadi dua

kategori yaitu memberikan ASI eksklusif dan tidak memberikan ASI

eksklusif. Distribusi responden berdasarkan pemberian ASI eksklusif

dapat dilihat pada tabel 5.3

Tabel 5.3

Distribusi responden menurut pola pemberian ASI eksklusif

Pola Pemberian ASI Frekuensi (n) Persentase (%)

Eksklusif 27 48,2

Tidak Eksklusif 29 51,8

Total 56 100

Berdasarkan hasil distribusi pada tabel 5.3, terlihat bahwa dari 56

responden yang diteliti, responden yang memberikan ASI eksklusif

sebesar 48,2%. Dan responden yang tidak memberikan ASI eksklusif

sebanyak 51,8%. Masih banyaknya responden yang tidak memberikn ASI

secara eksklusif disebabkan oleh berbagai alasan responden

penelian.Alasan responden tidak memberikan ASI secara eksklusif kepada

bayinya dapat dilihat pada tabel 5.4


68

Tabel 5.4

Distribusi Alasan Responden Tidak Memberikan ASI Eksklusif

Frekuensi
Alasan
n %

ASI tidak cukup / ASI belum keluar 5 17,3

Ibu bekerja 1 3,45

Takut bayi lapar 8 27,59

Bayi menangis terus 15 51,72

Total 29 100

5.2.2 Gambaran Umur Ibu

Umur ibu dibedakan menjadi 2 kategori yaitu usia 20 sampai 35

tahun dan kelompok umur <20th atau> 35th. Distribusi responden

berdasarkan karekteristik umur ibu dapat dilihat pada tabel 5.5

Tabel 5.5

Distribusi responden menurut umur ibu

Umur Ibu Frekuensi (n) Persentase (%)

< 20 th atau >35th 13 23,2

20 – 35 th 43 76,8

Total 56 100
69

Berdasarkan tabel 5.5 menunjukkan bahwa dari 56 ibu diketahui

sebagian besar responden berumur 20-35 tahun (76,8%) sedangkan hanya

23,2% responden yang berumur < 20 tahun atau > 35 tahun. Dari tabel

diketahui bahwa responden besusia 20-35 tahun lebih banyak daripada

responden dengan kelompok umur < 20 tahun atau > 35 tahun.

5.2.3 Gambaran Paritas Ibu

Paritas ibu dibedakan menjadi 2 kategori yaitu multipara dan

primipara.Distribusi responden berdasarkan paritas ibu dapat dilihat pada

tabel 5.6.

Tabel 5.6

Distribusi Responden Menurut Paritas Ibu

Paritas Ibu Frekuensi (n) Persentase (%)

Primipara 15 26,8

Multipara 41 73,2

Total 56 100

Berdasarkan tabel 5.6 menunjukkan bahwa responden paling

banyak adalah ibu dengan multipara yaitu yang melahirkan lebih dari satu

orang anak (73,2%). Sedangkan 26,8% adalah ibu dengan primipara yaitu

yang mempunyai satu orang anak.


70

5.2.4 Gambaran Tingkat Pendidikan Ibu

Gambaran responden berdasarkan tingkat pendidikan ditampilkan

pada tabel 5.7.

Tabel 5.7

Gambaran Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tingkat Pendidikan Frekuensi (n) Persentase (%)

SD 6 10,7

SMP 14 25

SMA 34 60,7

PT 2 3,6

Total 56 100

Berdasarkan tabel 5.7 dapat terlihat bahwa sebagian besar

responden memiliki pendidikan dengan lulusan SMA yaitu sebanyak

60,7%.

Tingkat pendidikan ibu dalam penelitian ini dikategorikan

menjadi dua yaitu ibu dengan pendidikan rendah dan ibu dengan

pendidikan tinggi. Adapun gambaran kategori pendidikan ibu di kelurahan

Gerem dapat dilihat pada tabel 5.8


71

Tabel 5.8

Distribusi Responden Menurut Kategori Pendidikan Ibu

Tingkat Pendidikan Frekuensi (n) Persentase (%)

Rendah 20 35,7

Tinggi 36 64,3

Total 56 100

Berdasarkan tabel 5.8 menunjukkan bahwa dari 56 ibu diketahui

64,3 % ibu berpendidikan rendah (tamat SMP ke bawah), sisanya 35,7 %

ibu berpendidikan tinggi (tamat SMA ke atas).

5.2.5 Gambaran Pekerjaan Ibu

Status pekerjaan ibu dalam penelitian ini dikategorikan menjadi

dua yaitu ibu bekerja dan ibu tidak bekerja. Adapun gambaran status

pekerjaan ibu di kelurahan Gerem dapat dilihat pada tabel 5.9

Tabel 5.9

Distribusi responden menurut pekerjaan ibu

Pekerjaan Ibu Frekuensi (n) Persentase (%)

Tidak bekerja 55 98,2

Bekerja 1 1,8

Total 56 100
72

Dari data yang terdapat pada tabel 5.9 diketahui bahwa hampir

semua responden tidak bekerja (98,2 %) dan hanya ada satu responden

yang bekerja (1,8 %).

5.2.6 Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu

Tingkat pengetahuan ibu dalam penelitian ini dikategorikan

menjadi dua yaitu ibu dengan pengetahuan kurang dan ibu dengan

pengetahuan baik. Adapun gambaran tingkat pengetahuan ibu di kelurahan

Gerem dapat dilihat pada tabel 5.10

Tabel 5.10

Distribusi Responden Menurut Tingkat Pengetahuan Ibu

Tingkat Pengetahuan Frekuensi (n) Persentase (%)

Ibu

Kurang 21 37,5

Baik 35 62,5

Total 56 100

Berdasarkan tabel 5.10 menunjukkan bahwa dari 56 responden,

terdapat responden dengan pengetahuan kurang (37,5%) lebih sedikit

daripada responden dengan pengetahuan baik (62,5 %).


73

5.2.7 Gambaran Tempat Persalinan

Tempat persalinan dalam penelitian ini dikategorikan menjadi dua

yaitu non fasilitas kesehatan dan di fasilitas kesehatan.Adapun gambaran

tempat persalinan ibu di kelurahan Gerem dapat dilihat pada tabel 5.11

Tabel 5.11

Distribusi Responden Menurut Tempat Persalinan

Tempat Persalinan Frekuensi (n) Persentase (%)

Non Faskes 13 23,2

Di Faskes 43 76,8

Total 56 100

Berdasarkan tabel 5.11 menunjukkan bahwa dari 56 ibu diketahui

sebagian besar (76,8%) ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan

(rumah sakit, rumah bersalin, praktik bidan). Sedangkan (23,2%)

responden lainnya melakukan persalinan bukan di fasilitas kesehatan

(rumah sendiri).

5.2.8 Gambaran Penolong Persalinan

Penolong persalinan dalam penelitian ini dikategorikan menjadi

dua yaitu oleh non tenaga kesehatan dan tenaga kesehatan.Adapun

gambaran penolong persalinan di kelurahan Gerem dapat dilihat pada tabel

5.12.
74

Tabel 5.12

Distribusi Responden Menurut Penolong Persalinan

Penolong Persalinan Frekuensi (n) Persentase (%)

Non Nakes 6 10,7

Nakes 50 89,3

Total 56 100

Berdasarkan tabel 5.12 menunjukkan bahwa dari 56 ibu diketahui

89,3% ibu yang penolong persalinannya dibantu oleh tenaga kesehatan

(bidan dan dokter) dan hanya 10,7% ibu yang melahirkan bayinya dibantu

oleh non tenaga kesehatan (dukun /paraji).

5.2.9 Gambaran Dukungan Petugas Kesehatan

Dukungan petugas kesehatan dalam penelitian ini dikategorikan

menjadi dua yaitu tidak mendukung dan mendukung.Adapun dukungan

petugas kesehatan di kelurahan Gerem dapat dilihat pada tabel 5.13.

Tabel 5.13

Distribusi responden menurut dukungan petugas kesehatan

Dukungan Frekuensi (n) Persentase (%)

Petugas Kesehatan

Kurang Mendukung 11 19,6

Mendukung 45 80,4

Total 56 100
75

Berdasarkan tabel 5.13 menunjukkan bahwa dari 56 responden

diketahui 80,4% ibu mendapatkan dukungan dari petugas kesehatan untuk

memberikan ASI secara eksklusif pada bayi baru lahir, sisanya 19,6% ibu

tidak mendapat dukungan dari petugas kesehatan.

5.2.10 Gambaran Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga dalam penelitian ini dikategorikan menjadi

dua yaitu ibu tidak mendukung dan mendukung. Adapun gambaran

dukungan keluarga di kelurahan Gerem dapat dilihat pada tabel 5.14.

Tabel 5.14

Distribusi responden menurut dukungan keluarga

Dukungan Keluarga Frekuensi (n) Persentase (%)

Kurang Mendukung 17 30,4

Mendukung 39 69,6

Total 56 100

Berdasarkan tabel 5.14 menunjukkan bahwa dari 56 ibu diketahui

69,6% ibu mendapatkan dukungan dari keluarga untuk memberikan ASI

secara eksklusif pada bayi baru lahir, sedangkan sisanya 30,4% ibu tidak

mendapat dukungan dari keluarga.


76

5.3 Analisis Bivariat

Analisis bivariat merupakan analisis untuk melihat hubungan

variabel independen dengan variabel dependen.Analisis ini digunakan untuk

mengukur sejauh mana hubungan kemaknaan secara statistik (Sutanto,

2009).

5.3.1 Hubungan Umur Ibu dengan Pemberian ASI eksklusif

Umur ibu dikategorikan menjadi dua kelompok yaitu kelompok

umur <20 tahun atau > 35 dan kelompok umur 20-35 tahun. Hubungan

antara umur ibu dengan Pemberian ASI eksklusf ditunjukan tabel 5.15.

Tabel 5.15

Hubungan antara Umur Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif

Pemberian Asi Eksklusif


Total P-
Umur Ibu Ya Tidak
value
N % N % n %

< 20tahun atau > 4 30,8 9 69,2 13 100

35tahun
0,263
20tahun – 35tahun 23 53,5 20 46,5 43 100

Total 27 48,2 29 51,8 56 100

Berdasarkan tabel 5.15 hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa

dari 13 ibu yang berumur < 20tahu atau > 35tahun ada sebanyak 4 orang

(26,7%) ibu yang memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Sedangkan


77

dari 43 ibu yang berumur 20tahun – 35, sebanyak 23 orang ( 53,5 %) ibu

memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Dan berdasarkan hasil uji

statistic chi-square diperoleh P-value = 0,263. Karena p-value> 0,05,

maka berarti tidak ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara

umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif.

5.3.2 Hubungan Paritas Ibu dengan Pemberian ASI eksklusif

Paritas ibu dikategorikan menjadi dua kelompok yaitu kelompok

Multipara dan Primipara. Hubungan antara paritas ibu dengan Pemberian

ASI eksklusf ditunjukan pada tabel 5.16.

Tabel 5.16

Hubungan antara Paritas Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif

Pemberian Asi Eksklusif


Paritas Total P-
Ya Tidak
Ibu value
N % n % N %

Primipara 3 20 12 80 15 100

Multipara 24 58,5 17 41,5 41 100 0,024

Total 27 48,2 29 51,8 56 100

Berdasarkan tabel 5.16 hasil analisis bivariat hubungan antara

paritas ibu dengan pemberian ASI eksklusif menunjukkan bahwa dari 41

ibu multipara terdapat lebih banyak ibu yang memberikan ASI

eksklusifnya yaitu 24 orang (58,5%). Sedangkan dari 15 orang ibu

primipara, prosentase lebih besar terdapat lebih banyak ibu yang tidak
78

memberikan ASI eksklusif yaitu sebanyak 12 orang (80%).. Dan

berdasarkan hasil uji statistic chi-square diperoleh P-value = 0,024.

Karena p-value< 0,05, maka berarti ada hubungan yang bermakna antara

paritas ibu dengan pemberian ASI eksklusif.

5.3.3 Hubungan Pendidikan Ibu dengan Pemberian ASI eksklusif

Pendidikan ibu dikategorikan menjadi pendidikan tinggi dan

pendidikan rendah. Hubungan pendidikan ibu dan pemberian ASI

eksklusif digambarkan dalam tabel 5.17.

Tabel 5.17

Hubungan Antara Pendidikan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif

Pemberian Asi Eksklusif


Total P-
Pendidikan Ibu Ya Tidak
value
N % N % N %

Rendah 4 20 16 80 20 100

Tinggi 23 63,9 13 36,1 36 100 0,004

Total 27 48,2 29 51,8 56 100

Berdasarkan tabel 5.17 hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa

dari 20 responden yang berpendidikan rendah (tamat SMP ke bawah)

terdapatlebih banyak responden yang tidak memberikan ASI eksklusif

kepada bayinya dibandingkan dengan yang memberikan ASI eksklusif

pada bayinya yaitu sebanyak 16 orang (80%). Sedangkan dari 36 ibu

berpendidikan tinggi (tamat SMA ke atas) terdapat lebih banyak ibu yang
79

memberikan ASI eksklusif kepada bayinya yaitu sebanyak 23 orang

(63,9%). Dan berdasarkan hasil uji statistic chi-square diperoleh P-value =

0,004. Karena p-value< 0,05, maka berarti ada hubungan bermakna antara

pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif.

5.3.4 Hubungan Pekerjaan Ibu dengan Pemberian ASI eksklusif

Status pekerjaan ibu dikategorikan menjadi bekerja dan tidak

bekerja.Tabel 5.18 menggambarkan hubungan pekerjaan ibu dengan

pemberian ASI eksklusif.

Tabel 5.18

Hubungan Antara Pekerjaan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif

Pemberian Asi Eksklusif


Pekerjaan Total P-
Ya Tidak
Ibu value
n % n % n %

Bekerja 0 0 1 100 1 100

Tidak 27 49,1 28 50,9 55 100


1,000
bekerja

Total 27 48,2 29 51,8 56 100

Berdasarkan tabel 5.18 hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa

hanya ada satu orang responden yang bekerja dan tidak memberikan ASI

eksklusif. Sedangkan dari 55 responden yang tidak bekerja tidak ada

perbedaan yang cukup jauh, yaitu 27 orang (49,1%) responden yang


80

memberikan ASI eksklusif pada bayinya dan 28 orang (50,9%) responden

yang tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.. Dan berdasarkan

hasil uji statistic chi-square diperoleh P-value = 1,000. Karena nilai p-

value> 0,05, maka berarti dalam penelitian ini tidak ditemukan adanya

hubungan antara status pekerjaan ibu dengan pemberian ASI eksklusif.

5.3.5 Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pemberian ASI eksklusif

Pengetahuan ibu dikategorikan menjadi ibu berpengetahuan baik

dan kurang.Tabel 5.19 menggambarkan hubungan pengetahuan ibu dengan

pemberian ASI eksklusif.

Tabel 5.19

Hubungan Antara Pengetahuan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif

Pemberian Asi Eksklusif


Pengetahuan Total P-
Ya Tidak
Ibu value
N % N % n %

Kurang 3 14,3 18 85,7 21 100

Baik 24 68,6 11 31,4 35 100 0,000

Total 27 48,2 29 52,8 56 100

Berdasarkan tabel 5.19 hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa

dari 21 responden yang berpengetahuan kurang terdapat lebih banyak ibu

yang tidak memberikan ASI eksklusif yaitu sebanyak 18 orang (85,7%)

dibandingkan dengan responden yang memberikan ASI eksklusif.


81

Sedangkan dari 35 ibu yang berpengetahuan baik terdapat lebih banyak

ibu yang memberikan ASI eksklusif ada bayinya dibandingkan dengan

yang tidak memberikan ASI eksklusif pada bayinya yaitu sebanyak 24

orang (68,6%). Dan berdasarkan hasil uji statistic chi-square diperoleh P-

value = 0,000. Karena nilai p-value< 0,05 maka berarti terdapat hubungan

antara pengetahuan ibu dengan pemberian ASI eksklusif.

5.3.6 Hubungan Tempat Persalinan dengan Pemberian ASI eksklusif

Tempat persalinan dikategorikan menjadi Non fasilitas kesehatan

dan fasilitas kesehatan. Tabel 5.20 menggambarkan hubungan antara

tempat persalinan dengan pemberian ASI eksklusif.

Tabel 5.20

Hubungan Antara Tempat Persalinan dengan Pemberian ASI Eksklusif

Pemberian Asi Eksklusif


Total P-
Tempat Persalinan Ya Tidak
value
n % N % n %

Non Faskes 1 7,7 12 92,3 13 100

Faskes 26 60,5 17 39,5 43 100 0,003

Total 27 48,2 29 51,8 56 100

Berdasarkan tabel 5.20 hasil analisis bivariat hubungan antara

tempat persalinan dengan pemberian ASI eksklusif diperoleh bahwa dari

13 responden yang melahirkan bukan di fasilitas kesehatan lebih banyak


82

ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif pada bayinya dibandingkan

dengan yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya (92,3%) responden.

Sedangkan dari 43 responden yang melahirkan di fasilitas kesehatan

terdapat lebih banyak ibu yang melakukan pemberian ASI eksklusif

dibandingkan dengan yang tidak melakukan pemberian ASI eksklusif,

yaitu sebanyak 60,5 % responden. Dan berdasarkan hasil uji statistic chi-

square diperoleh P-value = 0,003. Karena nilai p-value< 0,05 maka berarti

terdapat hubungan antara tempat persalinan dengan pemberian ASI

eksklusif.

5.3.7 Hubungan Penolong Persalinan dengan Pemberian ASI eksklusif

Penolong persalinan dikategorikan menjadi tenaga kesehatan dan

non tenaga kesehatan.Tabel 5.21 menggambarkan hubungan penolong

persalinan dengan pemberian ASI eksklusif.

Tabel 5.21

Hubungan Antara Penolong Persalinan dengan Pemberian ASI Eksklusif

Pemberian Asi Eksklusif


Penolong Total P-
Ya Tidak
Persalinan value
n % N % n %

Non Nakes 0 0 6 100 6 100

Nakes 27 54 23 46 50 100 0,024

Total 27 48,2 29 51,8 56 100


83

Berdasarkan tabel 5.21 hasil analisis bivariat hubungan antara

penolong persalinan dengan pemberian ASI eksklusif diperoleh bahwa

dari 6 responden yang melahirkan dengan dibantu non tenaga kesehatan

dan tidak terdapat 1 responden pun yang memberikan ASI eksklusif pada

bayinya.. Sedangkan dari 50 responden yang melahirkan dengan dibantu

tenaga kesehatan ada 27 (54%) responden yang memberikan ASI eksklusif

pada bayinya. Dan berdasarkan hasil uji statistic chi-square diperoleh P-

value = 0,024. Karena nilai p-value< 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa

terdapat hubungan yang berarti antara penolong persalinan dengan

pemberian ASI eksklusif.

5.3.8 Hubungan Dukungan Petugas Kesehatan dengan Pemberian ASI

Eksklusif

Dukungan petugas kesehatans dikategorikan menjadi tidak

mendukung dan mendukung. Tabel 5.22 menggambarkan hubungan

dukungan petugas kesehatan dengan pemberian ASI eksklusif.


84

Tabel 5.22

Hubungan Antara Dukungan Petugas Kesehatan dengan Pemberian ASI Eksklusif

Pemberian Asi Eksklusif


Dukungan Petugas Total P-
Ya Tidak
kesehatan value
N % N % n %

Tidak Mendukung 0 0 11 100 11 100

Mendukung 27 60 18 40 45 100 0,001

Total 27 48,2 29 51,8 56 100

Berdasarkan tabel 5.22 hasil analisis bivariat hubungan antara

dukungan petugas kesehatan dengan pemberian ASI eksklusif diperoleh

bahwa dari 11 responden yang tidak mendapat dukungan petugas

kesehatan tidak terdapat satu pun responden yang memberikan ASI

eksklusif pada bayinya. Sedangkan dari 45 responden yang mendapat

dukungan petugas kesehatan terdapat lebih banyak responden yang

memberikan ASI eksklusif pada bayinya dibandingkan yang tidak

memberikan ASI eksklusif yaitu sebanyak 27 orang (60%). Dan

berdasarkan hasil uji statistic chi-square diperoleh P-value = 0,001.

Karena nilai p-value< 0,05 maka berarti dapat disimpulkan bahwa ada

hubungan antara dukungan petugas kesehatan dengan pemberian ASI

eksklusif.
85

5.3.9 Hubungan Dukungan Keluarga dengan Pemberian ASI Eksklusif

Dukungan keluarga dikategorikan menjadi tidak mendukung dan

mendukung.Tabel 5.23 menggambarkan hubungan pengetahuan ibu

dengan pemberian ASI eksklusif.

Tabel 5.23

Hubungan Antara Dukungan Keluarga dengan Pemberian ASI Eksklusif

Pemberian Asi Eksklusif


Dukungan Total P-
Ya Tidak
Keluarga value
n % N % n %

Tidak 1 5,9 16 94,1 17 100

Mendukung
0,000
Mendukung 26 66,7 13 33,3 39 100

Total 27 48,2 29 51,8 56 100

Berdasarkan tabel 5.23 hasil analisis bivariat hubungan antara

dukungan keluarga dengan pemberian ASI eksklusif diperoleh bahwa dari

17 orang ibu yang tidak mendapat dukungan dari keluarganya dalam hal

pemberian ASI eksklusif hamper semua responden tidak melakukan

pemberian ASI eksklusf pada bayinya yaitu 94,1%. Sedangkan dari 39

orang ibu yang mendapat dukungan dari keluarganya ada terdapat lebih

banyak ibu yang melakukan pemberian ASI eksklusif pada bayinya

dibandingkan yang tidak melakukan pemberian ASI eksklusif pada

bayinya, yaitu sebanyak 26 orang (66,7%). Dan berdasarkan hasil uji

statistic chi-square diperoleh P-value = 0,000. Karena nilai p-value< 0,05


86

maka berarti dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara dukungan

keluarga dengan pemberian ASI eksklusif.


BAB VI

PEMBAHASAN

6.1 Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang dapat

mempengaruhi hasil penelitian, yaitu :

1. Dalam melakukan wawancara dengan menggunakan kuesioner

terkadang proses wawancaranya terganggu dengan kondisi sekitar

yang ikut mempengaruhi jawaban responden. Selain itu jawaban

yang diberikan oleh responden terkadang tidak menunjukkan

keadaan sesungguhnya. Sehingga dalam hal ini kemungkinan bias

terjadi karena ketidakjujuran responden dalam memberikan

jawaban.

2. Karena keterbatasan waktu yang dimiliki peneliti, ada beberapa

responden penelitian yang pada saat pengambilan data dilakukan

bersamaan dengan kegiatan posyandu namun responden tidak hadir

dan juga tidak bisa ditemui di tempat tinggalnya, peneliti memilih

untuk menitipkan lembar kuesioner kepada kader posyandu untuk

diberikan kepada responden penelitian. Sehingga dalam hal ini

peneliti tidak dapat mengontrol jawaban yang diberikan responden

saat dilakukan wawancara oleh kader posyandu.

87
88

6.2 Gambaran Pemberian ASI Eksklusifbayi Usia 6-12 Bulan di

Kelurahan Gerem Wilayah Kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon

Tahun 2015

ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja kepada bayi tanpa

tambahan makanan atau minuman lain seperti air putih, susu formula,

jeruk, madu, air teh, pisang, bubur susu, biscuit, bubur nasi tim kecuali

vitamin, mineral, obat, dan ASI yang diperah yang diberikan selama 6

bulan (Depkes RI, 2009).

Pemberian ASI sangat penting bagi tumbuh kembang yang

optimal baik fisik maupun mental dan kecerdasan bayi. Oleh karena itu

pemberian ASI perlu mendapat perhatian para ibu dan tenaga kesehatan

agar proses menyusui dapat terlaksana dengan benar (Siregar, 2004).

Berdasarkan hasil analisis univariat dalam penelitian ini,

diketahui dari 56 responden yang diteliti responden yang memberikan

ASI secara eksklusif yaitu (48,2%), presentase tersebut lebih sedikit

dibandingkan responden yang tidak memberikan ASI eksklusif yaitu

(51,8 %). Keadaan ini mencerminkan bahwa perilaku ibu terhadap

pemberian ASI Eksklusif kepada bayinya cenderung masih relatif rendah

dibandingkan dengan target perbaikan gizi masyarakat dalam Renstra

Kemenkes RI tahun 2015-2019 yakni 50%bayi usia kurang dari 6 bulan

harus diberikan ASI secara Eksklusif.

Dari hasil jawaban kuesioner yang disebarkan pada responden

diperoleh keterangan bahwa mereka yang tidak bisa memberikan ASI

secara eksklusif kepada bayinya disebabkan karena beberapa alasan,


89

antara lain yaitu 51,72% beralasan karena bayi menangis terus dan

rewel, 27,59% alasan karena bayi masih lapar. Sehingga ibu

beranggapan bahwa kondisi bayi yang menangis terus dan rewel

diakbatkan karena bayi masih lapar yang kemudian hal tersebut memicu

ibu untuk memberikan makanan tambahan lain sebelum bayi berusia 6

bulan. Padahal faktanya adalah bahwa bayi yang menangis terus belum

tentu karena bayi lapar, namun diakibatkan oleh banyak hal seperti

merasa tidak aman, tidak nyaman, karena sakit dan sebagainya. Selain

itu, 17,3% responden beralasan karena produksi ASI yang tidak cukup

dan belum keluar, sehingga ibu beranggapan dengan kondisi tersebut ibu

tidak dapat memberikan ASI secara eksklusif pada bayinya. Sedangkan

faktanya adalah bahwa banyaknya frekuensi ibu yang sering menyusui,

maka akan meningkatkan produksi ASI yang dihasilkan ibu.

Rendahnya pemberian ASI eksklusif di kelurahan Gerem banyak

faktor yang mempengaruhi. Antara lain adalah paritas ibu, pendidikan

ibu, pengetahuan ibu, tempat persalinan, penolong persalinan, dukungan

petugas kesehatan dan dukungan keluarga khususnya suami.

Pada saat peneliti ikut serta pada kegiatan posyandu di kelurahan

Gerem, peneliti menemukan bahwa saat kegiatan posyandu setiap ibu

yang berkunjung ke posyandu mendapatkan MP-ASI berupa biskuit dan

susu kotak yang merupakan donasi dari perusahaan. Meskipun pada saat

kunjungan bidan desa tidak menganjurkan ibu menyusui di kelurahan

Gerem untuk memberikan makanan lain saat bayi berusia < 6 bulan,

namun ada kemungkinan jika makanan itu diberikan kepada bayinya saat
90

sampai dirumah. Sehingga dimungkinkan hal tersebut juga menjadi

penghambat dalam pemberian ASI eksklusif yang dilakukan ibu

menyusui di kelurahan Gerem

6.3 Analisis Hubungan Faktor Predisposisi dengan Pemberian ASI

Eksklusif

6.3.1 Analisis Hubungan Umur Ibu dengan Pemberian ASI

Eksklusif Pada bayi Usia 6-12 Bulan di Kelurahan Gerem

Wilayah Kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon Tahun 2015

Tidak semua wanita sama dalam menyusui. Sebagian

mempunyai kemampuan yang lebih besar dari pada yang lain.

Pada umumnya wanita yang lebih muda kemampuannya lebih

baik dari yang tua.Salah satu faktor penyebabnya adalah adanya

perkembangan kelenjar yang matang pada pubertas dan

fungsinya yang berubah sesudah kelahiran bayi (Ebrahim, 1978).

Dalam penelitian ini variabel umur dibagi menjadi dua

kategori yaitu < 20 tahun atau > 35 tahun dan 20 – 35

tahun.Berdasarkan hasil penelitian, 76,8 % responden berusia 20

– 35 tahun. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sebagian

besar responden berada dalam kelompok usia reproduksi dimana

usia tersebut adalah usia yang baik untuk melahirkan dan

menyususi. Menurut Roesli (2000), usia 20-35 tahun merupakan

rentang usia yang aman untuk bereproduksi dan pada umumnya

ibu pada usia tersebut memiliki kemampuan laktasi yang lebih

baik dibandingkan ibu yang berumur lebih dari 35 tahun.


91

Ibu yang berumur kurang dari 20 tahun masih belum

matang dan belum siap secara jasmani dan social dalam

menghadapi kehamilan, persalinan serta dalam membina bayi

yang dilahirkan (Depkes RI, 1994). Sedangkan menurut Arini,

umur lebih dari 35 tahun dianggap berbahaya, sebab baik alat

reproduksi maupun fisik ibu sudah jauh berkurang dan menurun,

selain itu bisa terjadi resiko bawaan pada bayinya dan juga dapat

mengakibatkan kesulitan pada kehamilan, persalian dan nifas.

Hasil uji statistic chi-squaredalam penelitian ini diperoleh

P-value = 0,263. Karena p-value > 0,05, maka berarti tidak

ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara umur ibu

dengan pemberian ASI eksklusif. Hasil tersebut sejalan dengan

penelitian Nurpelita (2007) dengan jumlah sampel sebanyak 109

ibu menyusui di wilayah kerja Puskesmas Buatan II Siak juga

menunjukkan tidak adanya hubungan antara umur ibu dengan

pemberian ASI eksklusif. Hal ini juga sama dengan penelitian

Utami (2012) yang menyatakan bahwa umur ibu tidak

berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif. Sejalan dengan

penelitian tersebut, Zakiyah (2012) juga menyimpulkan bahwa

tidak ada hubungan bermakna umur ibu dengan perilaku

pemberian ASI eksklusif.

Ketidak bermaknaan faktor umur dalam penelitian ini

dapat terjadi karena proporsi antara ibu pada kelompok umur 20-

35 tahun dengan ibu pada kelompok umur <20 atau >35 tahun
92

tidak jauh berbeda dalam pemberian ASI eksklusif. Dengan kata

lain ibu yang berumur 20-35 tahun yang mempunyai peluang

yang baik dalam memberikan ASI eksklusif pada kenyataanya

juga tidak memberikan ASI secara eksklusif pada bayinya. Hal

ini terbukti dari hasil analisis bivariat didapatkan proporsi dari 43

(76,8%) ibu berumur 20-35 tahun sebesar53,5% memberikan

ASI secara eksklusif pada bayinya, dan sebanyak 46,5% tidak

memberikan ASI secara eksklusif pada bayinya.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak hanya ibu

yang berumur <20 atau > 35 tahun saja yang tidak memberikan

ASI eksklusif, akan tetapi ibu yang berusia 20-30 tahun juga

berpeluang tidak memberikan ASI secara eksklusif pada bayinya,

meskipun pada rentang usia 20-35 tahun tersebut ibu mempunyai

peluang dan keadaan biologis yang baik untuk menyusui.

Selain itu ketidakbermaknaan faktor umur dalam

penelitian ini dikarenakan faktor umur bukan menjadi satu-

satunya variabel yang berhubungan dengan perilaku pemberian

ASI eksklusif. Sehingga meskipun menurut usianya seorang ibu

sudah siap jaringan payudaranya untuk menyusui, tetapi tidak

didukung oleh faktor lain seperti pengetahuan yang baik dari

responden terhadap ASI eksklusif maka pemberian ASI eksklusif

tetap tidak diberikan. Terbukti dalam penelitian ini bahwa dari

hasil crosstabs antara pengetahuan dengan umur ibu, ternyata

masih banyak ibu pada kelompok umur 20-35 tahun yaitu


93

sebesar32,6 % ibu mempunyai pengetahuan kurang baik terhadap

ASI eksklusif. Oleh karenanya dalam hal ini ibu harus lebih aktif

melakukan konsultasi pada Bidan guna memperoleh informasi

dan pengetahuan terkait menyusui dan dibutuhkan peran keluarga

khususnya suami karena merupakan individu terdekat ibu yang

dapat membantu ibu untuk terus memotivasi ibu dalam

pemberian ASI ekslusif kepada bayinya

6.3.2 Analisis Hubungan Paritas Ibu dengan Pemberian ASI

Eksklusif Pada bayi Usia 6-12 Bulan di Kelurahan Gerem

Wilayah Kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon Tahun 2015

Banyaknya anak yang dimiliki seorang ibu, diharapkan

agar tetap memberikan ASI eksklusif kepada anaknya.Karena hal

ini berkaitan dengan pengalaman ibu dalam pemberian ASI.

Berdasrkan hasil penelitian diperoleh bahwa prosentase

ibu multipara yaitu sebesar 73,2%, lebih besar jika dibandingkan

dengan ibu yang primipara yaitu sebesar 19,6 %. Adapun

proporsi ibu multipara yang memberikan ASI eksklusif yaitu 24

orang (58,5%) lebih besar proporsinya dibandingkan dengan ibu

primipara yang memberikan ASI eksklusif yaitu 3 orang (20%).

Sedangkan ibu multipara yang tidak memberikan ASI eksklusif

yaitu 17 orang (41,5%) lebih kecil dibandingkan dengan ibu

primipara yang tidak memberikan ASI eksklusif dan tidak

mendapat dukungan keluarga yaitu semua respoden 12 orang

(80%).
94

Analisis statistic dengan uji chi-square dalam penelitian

ini diperoleh P-value = 0,024. Karena p-value < 0,05, sehingga

berdasarkan uji statistik terdapat hubungan antara paritas ibu

dengan pemberian ASI eksklusif.Sehingga dalam hal ini berarti

pengalaman menyusui anak sebelumnya yang dimiliki responden

ikut berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Utami

(2012) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara

paritas ibu dengan pemberian ASI eksklusif. Namun penelitian

ini sejalan dengan Gatti (2008) yang dalam penelitiannya

mengenai persepsi ibu tentang kekurangan/ketidakcukupan suplai

ASI menyebutkan bahwa paritas dan pengalaman menyusui

berpengaruh secara signifikan terhadap kesuksesan menyusui,

dimana wanita yang baru pertama kali menyusui biasanya selalu

berfikir akan resiko dan masalah menyusui atau penghentian

menyusui di awal dibandingkan dengan wanita yang sudah

pernah menyusui sebelumnya.

Paritas seorang ibu sangat berpengaruh pada kesehatan

dan pengalaman ibu dalam memberikan ASI eksklusif pada

bayinya.Ibu yang memiliki pengalaman yang baik dalam

menyusui pada anak pertama makaakan menyusui secara benar

pada anak selanjutnya. Namun jika pada anak pertama ibu tidak

memberikan ASI eksklusif dan ternyata anaknya tetap sehat,


95

maka untuk anak selanjutnya ibu merasa bahwa anak tidak harus

diberi ASI eksklusif (Manuaba, 1998)

Dalam penelitian ini peneliti menyimpulkan bahwa ibu-

ibu yang multipara memiliki presentase yang lebih besar

dibanding dengan ibu primipara dalam pemberian ASI eksklusif

pada bayinya karena ibu-ibu multipara sudah memiliki

pengalaman dalam menyusui bayinya. Kemungkinan pada ibu

primipara tidak mampu memberikan ASI secara eksklusif

disebabkan karena ibu belum mempunyai pengalaman dalam hal

kehamilan, persalinan, menyusui dan merawat bayinya sehingga

cenderung memberikan makanan dan minuman selain ASI lebih

dini kepada bayinya.

Adapaun masih adanya ibu multipara yang tidak

memberikan ASI eksklusif dapat disebabkan karena ibu tersebut

memiliki tingkat pendidikan rendah dan pengetahuan yang

kurang baik terhadap ASI eksklusif. Terbukti bahwa dari 41 ibu

multipara sebanyak 36,6 % memiliki pendidikan rendah dan

sebanyak 31,7% memiliki pengetahuan yang kurang baik

terhadap ASI eksklusif. Sehingga meskipun ibu tersebut sudah

berpengalaman dalam hal pengasuhan bayi, namun dengan

pemahaman yang minim yang dimiliki ibu multipara maka

pemberian ASI eksklusif tidak dilakukan.


96

6.3.3 Analisis Hubungan Pendidikan Ibu dengan Pemberian ASI

Eksklusif Pada bayi Usia 6-12 Bulan di Kelurahan Gerem

Wilayah Kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon Tahun 2015

Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan

mutu hidup manusia. Secara umum, pendidikan orang tua

merupakan salah satu faktor yang penting dalam tumbuh

kembang anak, karena dengan pendidikan yang baik, maka orang

tua lebih memahami cara pengasuhan anak dalam pemenuhan

gizi anaknya.

Berdasrkan hasil penelitian diperoleh bahwa prosentase

ibu dengan pendidikan tinggi yaitu sebesar 64,3%, lebih besar

jika dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan rendah yaitu

sebesar 35,7 %. Adapun tingkat pendidikan yang banyak

ditamatkan oleh responden adalah pendidikan SMA sebesar

60,7%.

Proporsi ibu dengan pendidikan tinggi responden yang

memberikan ASI eksklusif yaitu 23 orang (63,9%) lebih besar

proporsinya dengan ibu berpendidikan rendah yang memberikan

ASI eksklusif yaitu 4 orang (20%). Sedangkan untuk proporsi ibu

dengan pendidikan rendah responden yang tidak memberikan

ASI eksklusif yaitu 16 orang (80%) lebih besar proporsinya

dibandingkan dengan ibu berpendidikan tinggi yang tidak

memberikan ASI eksklusif yaitu 13 orang (36,1%) . Analisis

yang dilakukan dengan menggunakan uji Chi Square diperoleh


97

hasil bahwa terdapat hubungan antara pendidikan dengan

pemberian ASI Eksklusif.

Dari hasil tersebut terlihat bahwa ibu di kelurahan Gerem

dengan pengetahuan tinggi cenderung memberikan ASI eksklusif

kepada bayinya dibandingkan dengan ibu berpendidikan

rendah.Dalam hal ini berarti pendidikan ibu ikut berpengaruh

terhadap pemberian ASI eksklusif.

Ibu dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan lebih

mudah menerima informasi baru khususnya tentang ASI

eksklusif sehingga ibu tersebut dapat memiliki pengetahuan dan

perhatian yang baik terhadap kebutuhan gizi anak yang

kemudian dengan bekal informasi dan pengetahuan tersebut

akhirnya mampu mempengaruhi perilaku seorang ibu untuk lebih

memilih memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.

Adapun masih adanya ibu dengan pendidikan tinggi yang

tidak memberikan ASI eksklusif di Kelurahan Gerem diakibatkan

adanya komunikasi antara ibu berpendidikan tinggi dengan ibu

berpendidikan rendah yang saling bertukar pengalaman.Sehingga

ada kemungkinan ibu dengan pendidikan tinggi yang tidak

memiliki pengetahuan baik terpengaruh oleh ibu-ibu responden

yang berpengetahuan rendah yang kebanyakan tidak memberikan

ASI secara eksklusif.


98

6.3.4 Analisis Hubungan Pekerjaan Ibu dengan Pemberian ASI

Eksklusif Pada bayi Usia 6-12 Bulan di Kelurahan Gerem

Wilayah Kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon Tahun 2015

Aktifitas ibu selama masa menyusui tentunya

berpengaruh terhadap intensitas pertemuan antara ibu dan

anak.Ibu yang bekerja cenderung memiliki waktu yang sedikit

untuk menyusui anaknya akbat kesibukan bekerja.Sedangkan ibu

yang tidak bekerja memilki waktu yang banyak untuk menyusui

anaknya.

Berdasrkan hasil penelitian diperoleh bahwa prosentase

ibu bekerja yaitu sebesar 1,8%, lebih kecil jika dibandingkan

dengan ibu yang tidak bekerja yaitu sebesar 98,2 %.

Adapun proporsi ibu tidak bekerja yang memberikan ASI

eksklusif yaitu 27 orang (49,1%) lebih kecil proporsinya

dibandingkan dengan ibu tidak bekerja yang tidak memberikan

ASI eksklusif yaitu 28 orang (50,9%). Sedangkan untuk proporsi

ibu bekerja hanya ada 1 orang dan responden tersebut tidak

memberikan ASI eksklusif.Analisis yang dilakukan dengan

menggunakan uji Chi Square diperoleh hasil bahwa tidakterdapat

hubungan antara pekerjaan ibu dengan pemberian ASI Eksklusif.

Dari hasil tersebut terlihat bahwa responden yang tidak

bekerja ternyata 50%nya masih tidak memberikan ASI eksklusif

kepada bayinya.Sehingga dalam hal ini berarti pekerjaan tidak

ikut berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif.


99

Masih banyaknya ibu tidak bekerja yang tidak

memberikan ASI eksklusif kemungkinan akibat kesibukan ibu

dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan adanya anak

lebih dari satu membuat perhatian ibu terbagi untuk mengurusi

pekerjaan rumah tangga dan anaknya yang lain.

Selain itu masih adanya anggapan bahwa ASI ibu tidak

cukup / tidak keluar sehingga ibu memberikan makanan lain

kepada bayinya menunjukkan bahwa ibu yang memiliki

pengetahuan rendah dan memiliki pemahaman yang kurang baik

terhadap ASI bisa menjadi penyebab ibu tidak memberikan ASI

kepada bayinya.. Sedangkan faktanya adalah semakin sering ibu

menyususi maka hal tersebut membuat produksi ASI semakin

banyak, sehingga tidak ada alasan ibu untuk tidak memberikan

ASI.Selain itu adanya alasan ibu bahwa anak yang terus

menangis adalah pertanda bahwa anak belum cukup kenyang

hanya dengan diberikan ASI saja juga menjadi penyebab ibu

tidak memberikan ASI secara eksklusif. Faktanya adalah kondisi

bayi menangis itu bukan hanya karena lapar, namun ada hal lain

yang membuatnya menangis seperti karena keadaan tidak

nyaman, tidak aman dan karena sakit.


100

6.3.5 Analisis Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pemberian ASI

Eksklusif Pada bayi Usia 6-12 Bulan di Kelurahan Gerem

Wilayah Kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon Tahun 2015

Pengetahuan dalam penelitian ini adalah segala sesuatu

yang ibu ketahui tentang ASI eksklusif, manfaat ASI eksklusif,

dan cara pemberian ASI eksklusif yang mampu menunjang ibu

dalam pemberian ASI eksklusif pada bayinya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang

memiliki pengetahuan baik tentang ASI eksklusif sebanyak 62,5

% (35 responden), sedangkan responden dengan pengetahuan

kurang baik tentang ASI eksklusif sebesar 37,5% (21 responden).

Adapun proporsi ibu dengan pengetahuan baik lebih

banyak yang melakukan pemberian ASI eksklusif (68,6%)

dibandingkan dengan yang tidak memberikan ASI eksklusif

(31,4%). Sedangkan pada kelompok ibu berpengetahuan kurang

lebih banyak yang tidak memberikan ASI eksklusif (85,7%)

dibandingkan dengan yang memberikan ASI eksklusif (14,%)

Analisis statistik dengan menggunakan uji Chi Square

dalam penelitian ini diperoleh hasil P-value = 0,000 ( P-value<

0,05 ). Hasil tersebut berarti bahwa terdapat hubungan antara

pengetahuan dengan pemberian ASI Eksklusif.Hal ini sejalan

dengan penelitian yang dilakukan oleh Novi Wahyuningrum

(2007) di Desa Sadang Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus

menyatakan ada hubungan yang signifikan antara penegtahuan


101

Ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI eksklusif.

Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Tri Rahayuningsih

(2005) di Kelurahan Purwoyoso Kecamatan Ngalingan yang

menyatakan ada hubungan yang cukup kuat antara pengetahuan

ibu tentang ASI dengan pemberian ASI eksklusif..

Berdasarkan hasil tersebut berarti dapat terlihat bahwa

mayoritas ibu di Kelurahan Gerem mampu memahami pengertian

dan maksud dari program ASI eksklusif. Sehingga pengetahuan

ikut berpengaruh terhadap perilaku pemberian ASI eksklusif di

kelurahan Gerem.Responden yang memberikan ASI eksklusif

telah memiliki pengetahuan yang baik tentang ASI, sehingga

responden memutuskan untuk memberikan ASI eksklusif kepada

bayinya.Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang ASI

dapat memberikan pengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif.

Secara teoritis Arisman (2004) mengemukakan bahwa

gangguan proses pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada prinsipnya

berakar pada kurangnya pengetahuan, rasa percaya diri,

dukungan keluarga dan lingkungan. Jadi pengetahuan ibu tentang

ASI eksklusif yang baik akan mempengaruhi seorang ibu dalam

memberikan ASI eksklusif pada bayinya.

Menurut peneliti, dalam hal ini tingkat pengetahuan

mempunyai kontribusi dalam merubah perilaku seseorang untuk

berbuat sesuatu. Pengetahuan yang baik yang dimiliki ibu di

Kelurahan Gerem terhadap ASI eksklusif akan memberikan


102

pengaruh terhadap keberhasilan menyusui. Adapun responden

dengan pengetahuan kurang baik yang tidak memberikan ASI

eksklusif kemungkinan disebabkan karena buku Kesehatan Ibu

dan Anak (KIA) merreka yang menjadi salah satu sumber

pengetahuan mereka tidak dikembalikan oleh kader posyandu.

Sehingga, ibu tidak memiliki kesempatan untuk membaca dan

memahami apa yang ada di buku KIA tersebut utamanya tentang

menyusui ASI eksklusif.

Namun, dalam penelitian ini hanya sekedar tahu saja

tidak menjamin perilaku terhadap pemberian ASI eksklusif bisa

berhasil, walaupun variabel lain sudah mendukung. Namun

dukungan dari petugas kesehatan baik itu bidan desa dan kader

posyandu melalui penyuluhan terutama dalam hal pemberian ASI

eksklusif sangat dibutuhkan ibu menyusui, agar manfaat ASI

dapat tersampaikan kepada ibu menyusui. Sehingga ibu lebih

termotivasi untuk melakukan pemberian ASI eksklusif kepada

bayinya..

Menurut peneliti pengetahuan yang baik pada ibu dalam

penelitian ini tidak terlepas dari tingginya pendidikan responden,

banyaknya responden yang melakukan persalinan di fasilitas

kesehatan dan dibantu tenaga kesehatan. Sehingga ibu menyusui

lebih banyak menerima informasi dan mahami tentang ASI

eksklusif yang kemudian dapat memotivasi dan mendorong ibu

untuk mau melakukan tindakan pemberian ASI eksklusif. Hal


103

tersebut terbukti dari analisis crosstabs bahwa dari 35 ibu yang

berpengetahuan baik 82,9 % merupakan ibu dengan pendidikan

tinggi, 85,7 % melakukan persalinan di fasilitas kesehatan dan

100% persalinannya dibantu oleh tenaga kesehatan.

6.4 Analisis Hubungan Faktor Pemungkin dengan Pemberian ASI

Eksklusif

6.4.1 Analisis Hubungan Tempat Persalinan dengan Pemberian

ASI Eksklusif Pada bayi Usia 6-12 Bulan di Kelurahan

Gerem Wilayah Kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon

Tahun 2015

Tempat persalinan berperan aktif dalam keberhasilan

pelaksanaan menyusui secara optimal.Untuk itu kebijakan tempat

persalinan di pelayanan kesehatan milik pemerintah maupun

swasta dalam melaksanakan rawat gabung yang memudahkan

bagi ibu secara langsung dapat menyusui bayinya menjadi

sangatlah penting (Irianto,1998).Tempat persalinan memberikan

pengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif pada bayi karena

merupakan titik awal bagi ibu untuk memilih apakah tetap

memberikan ASI eksklusif atau memberikan makanan lain

sebelum bayi berusia 6 bulan.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa responden

yang melakukan persalinan di fasilitas kesehatan yaitu sebesar

76,8% (43 responden), sedangkan responden yang melakukan

persalinan di non fasilitas kesehatan yaitu sebesar 23,2% (13


104

responden). Dari 43 responden yang melakukan persalinan di

fasilitas kesehatan di ketahui bahwa proporsinya lebih besar ibu

yang memberikan ASI eksklusif (60,5 %) dibandingkan dengan

yang tidak memberikan ASI eksklusif (39,5%). Sedangkan

diantara responden yang melakukan persalinan bukan di fasilitas

kesehatan proporsinya lebih kecil yang memberikan ASI

eksklusif (7,7%) dibandingkan dengan yang tidak memberikan

ASI eksklusif (92,3%).

Berdasarkan analisis statistik dengan uji chi square dalam

penelitian ini diperoleh P-value sebesar 0,003( P< 0,05 ),

sehingga ini berarti terdapat hubungan antara variabel tempat

persalinan dengan pemberian ASI eksklusif.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitianyang

dilakukan Utami (2012) yang menyatakan bahwa adanya

hubungan yang signifikan antara tempat persalinan dengan

perilaku pemberian ASI eksklusif.Sehingga tempat persalinan

memiliki hubungan bermakna dengan pemberian ASI eksklusif.

Menurut peneliti, dengan melakukan persalinan di

fasilitas kesehatan maka persalinan akan dibantu oleh tenaga

kesehatan baik bidan maupun dokter. Dimana bidan dan dokter

dianggapnya lebih berkompetensi dalam melakukan penolong

persalinan pada ibu melahirkan.Terbukti bahwa dari 43

responden yang melakukan persalinan di fasilitas kesehatan

seluruhnya yakni 100% persalinnanya ditolong oleh tenaga


105

kesehatan.Sehingga dengan demikian ibu menyusui akan

mendapatkan informasi dan pengetahuan serta dukungan dari

tenaga kesehatan dalam hal pemberian ASI eksklusif. Terbukti

bahwa dari 43 ibu yang melakukan persalinan di fasilitas

kesehatan seluruhnya mendapat dukungan petugas kesehatan

dalam hal pemberian ASI eksklusif, sedangkan dari 13 ibu yang

melakukan persalinan bukan di fasilitas kesehatan sebagian besar

responden yaitu 84,6% tidak memperoleh dukungan dari petugas

kesehatan dalam hal pemberian ASI eksklusif.

Dari hasil tersebut terlihat bahwa ibu yang melakukan

persalinan di fasilitas kesehatan akan cenderung memberikan

ASI eksklusif kepada bayinya. Sehingga tempat persalinan ikut

berpengaruh terhadap perilaku pemberian ASI ekskusif di

wilayah Kelurahan Gerem. Dengan melakukan persalinan di

fasilitas kesehatan, maka proses persalinan ibu juga dibantu oleh

petugas kesehatan. Sehingga ibu akan lebih banyak mendapat

informasi dan pengetahuan tentang ASI eksklusif dan

kebermanfaatannya yang kemudian hal tersebut dapat mendorong

dan memotivasi ibu untuk melakukan pemberian ASI eksklusif

kepada bayinya.
106

6.4.2 Analisis Hubungan Penolong Persalinan dengan Pemberian

ASI Eksklusif Pada bayi Usia 6-12 Bulan di Kelurahan

Gerem Wilayah Kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon

Tahun 2015

Selain tempat persalinan, keberhasilan menyusui bayi

juga sangat bergantung terhadap petugas kesehatan seperti

perawat, dokter, atau bidan.Karena penolong persalinan adalah

orang pertama yang akan membantu ibu melahirkan untuk

meakukan inisiasi menyusu dini (IMD).

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa responden

yang melakukan persalinan dengan dibantu tenaga kesehatan

yaitu sebesar 89,3% (50 responden), sedangkan responden yang

melakukan persalinan dengan tidak dibantu tenaga kesehatan

yaitu sebesar 10,7% (6 responden). Dari 50 responden yang

melakukan persalinan dengan dibantu tenaga kesehatan di

ketahui bahwa ibu yang memberikan ASI eksklusif yaitu (54 %)

tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan yang tidak

memberikan ASI eksklusif yaitu (46%).Sedangkan diantara

responden yang melakukan persalinan dengan tidak dibantu

tenaga kesehatan dalam hal ini seluruhnya (100%) tidak

memberikan ASI eksklusif.

Berdasarkan analisis hasil uji chi square yang dilakukan, P-

value hubungan penolong persalinan dengan pemberian ASI

eksklusif sebesar 0,024 ( P< 0,05), sehingga berdasarkan uji


107

statistik kedua variabel berhubungan. Artinya ada hubungan antara

penolong persalinan dengan perilaku pemberian ASI eksklusif.

Pada penelitian ini juga di dapatkan hasil bahwa sebagian

besar responden mempunyai proses persalinan dengan ditolong

oleh Bidan dibandingkan dengan dokter dan dukun/paraji.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan kebanyakan

penelitian lainnya yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan

antara penolong persalinan dengan pemberian ASI

eksklusif.Namun penelitian ini sejalan dengan penelitian

Tjandrarini (2000) yang menyatakan bahwa ada hubungan

penolong persalinan dengan pemberian ASI setelah

melahirkan.Faktanya penolong persalinan merupakan kunci

utama keberhasilan pemberian ASI eksklusif dan pencegahan

terhadap pemberian makanan prelakteal.Hal ini dikarenakan pada

waktu bayi baru lahir, peran penolong persalinan sangat dominan

khususnya dalam hal IMD yang merupakan salah satu kriteria

sukses menyusui.

Secara teoritis fikawati dan Pujonarti (1999)

mengungkapkan bahwa persalinan yang dilakukan oleh bidan desa

sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil

mengenai ASI eksklusif dan manajemen laktasi di daerah tempat

bidan desa bertugas.

Berdasarkan hasil penelitian masyarakat di wilayah

Kelurahan Gerem telah menyadari bahwa persalinan yang ditolong


108

oleh tenaga kesehatan lebih aman karena tenaga kesehatan

dianggap telah berkompetensi dalam membantu persalinannya.

Selain itu dengan melakukan persalinan dengan dibantu tenaga

kesehatan maka akan membuat ibu menyusui menjadi lebih

bertambah pengetahuannya karena lebih mendapatkan berbagai

informasi terkait perilaku menyusui yang baik.Karena pengetahuan

tidak hanya diperoleh melalui pendidikan formal, namum juga

dapat diperoleh dari petugas kesehatan termasuk penolong

persalinan.Terbukti berdasarkan analisis crosstabs diperoleh bahwa

dari 50 responden yang melakukan persalinan dengan dibantu

tenaga kesehatan baik itu bidan atau pun dokter sebagian besar

yaitu 35 ibu (70%) memiliki pengetahuan baik tentang ASI

eksklusif.

Selain itu adanya dukungan dari penolong persalinan juga

ikut berperan dalam pemberian ASI eksklusif. Terbukti bahwa dari

50 responden yang melakukan persalinan dengan bantuan tenaga

kesehatan, hampir seluruhnya yakni sebesar 90% ibu mendapat

dukungan dari petugas kesehatan guna melakukan pemberian ASI

eksklusif pada bayi baru lahir. Dimana salah satunya adalah adanya

perlakuan IMD yang dilakukan oleh penolong persalinan, dari 50

responden yang melakukan persalinan dengan bantuan tenaga

kesehatan sebanyak 68% ibu melakukan IMD. Sehingga ibu

semakin percaya diri untuk tetap memberikan ASInya karena

bayinya bisa tenang dalam pelukan ibu setelah lahir.


109

Dengan demikian, melalui pengetahuan yang baik terhadap

ASI eksklusif dengan disertai dorongan dan dukungan dari

penolong persalinan, makaibu menyususi menjadi termotivasi

untuk melakukan pemberian ASI eksklusif pada bayinya.

6.5 Analisis Hubungan Faktor Penguat dengan Pemberian ASI

Eksklusif

6.5.1 Analisis Hubungan Dukungan Petugas Kesehatan dengan

Pemberian ASI Eksklusif Pada bayi Usia 6-12 Bulan di

Kelurahan Gerem Wilayah Kerja Puskesmas Grogol Kota

Cilegon Tahun 2015

Peran petugas kesehatan dalam hal ini berupa penyuluhan

yang diberikan petugas kesehatan mengenai ASI eksklusif baik

saat prenatal maupun pascanatal.

Berdasrkan hasil penelitian diperoleh bahwa prosentase

ibu yang mendapat dukungan petugas kesehatan terhadap

pemberian ASI eksklusif yaitu sebesar 80,4%, nilai tersebut lebih

besar jika dibandingkan dengan ibu yang tidak mendapat

dukungan petugas kesehatan dalam pemberian ASI eksklusif

yaitu sebesar 19,6 %.

Adapun proporsi yang memberikan ASI eksklusif dan

mendapat dukungan petugas kesehatan, yaitu 27 orang (60%)

lebih besar proporsinya dibandingkan dengan responden yang

memberikan ASI eksklusif dan tidak mendapat dukungan

keluarga, yaitu tidak ada satu responden pun (0 %) yang


110

memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Sedangkan

responden yang tidak memberikan ASI eksklusif namun

mendapat dukungan petugas kesehatan, yaitu 14 orang (33,3%)

lebih kecil dibandingkan dengan yang tidak memberikan ASI

eksklusif dan tidak mendapat dukungan petugas kesehatan yaitu

semua respoden 11 orang (100%)

Analisis yang dilakukan dengan menggunakan uji Chi

Square diperoleh hasil P-value = 0,001 (P < 0,05), hal tersebut

berarti bahwa terdapat hubungan antara dukungan petugas

kesehatan dengan pemberian ASI Eksklusif.

Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan

oleh Lestari (2008), yang menyatakan bahwa ada hubungan

antara peran petugas kesehatan dengan pemberian ASI eksklusif.

Menurut Nining (2007) menyatakan bahwa komitmen

yang kuat dari para petugas kesehatan atau health provider

(dokter, bidan, perawat, manajemen rumah sakit dan lain-lain)

dalam promosi ASI sangat diperlukan oleh karena merekalah

yang selalu kontak langsung dengan masyarakat dan mempunyai

kesempatan yang banyak dan memungkinkan untuk memberikan

pejelasan dan penyuluhan tentang ASI.

Dari hasil penelitian yang di dapat terlihat bahwa

responden yang mendapat informasi tentang ASI Eksklusif dari

petugas kesehatan di kelurahan Gerem akan terdorong untuk

memberikan ASI eksklusif dibandingkan dengan yang tidak


111

pernah mendapatkan informasi dari petugas kesehatan yang akan

berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif..

Menurut peneliti, peran petugas kesehatan dalam

pemberian ASI eksklusif sangat berperan dalam keberhasilan

pemberian ASI eksklusif dengan memberikan konseling sejak

pemeriksaan kehamilan sampai pada pasca melahirkan.Karena

tenaga kesehatan adalah orang yang pertama membantu

persalinan ibu. Sehingga petugas kesehatan memegang peranan

penting dalam mendorong ibu di kelurahan Gerem untuk

memberikan ASI Eksklusif pada bayinya

Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa responden yang

mendapat informasi tentang ASI Eksklusif dari dari petugas

kesehatan akan terdorong untuk memberikan ASI eksklusif

dibandingkan dengan yang tidak pernah mendapatkan informasi

serta dukungan dari petugas kesehatan yang kemudian

berpengaruh terhadap perilaku ibu dalam pemberian ASI

eksklusif.

Namun masih banyaknya ibu yang tidak memberikan ASI

eksklusif meskipun mendapat dukungan dari petugas kesehatan

dikarenakan kurangnya motivasi individu ibu sendiri terhadap

pemberian ASI eksklusif.Meskipun telah mendapatkan dorongan

dan informasi dari petugas kesehatan terkait ASI eksklusif,

namun tidak yakin bahwa ASI saja sudah mencukupi kebutuhan

bayi selama 6 bulan. Hal ini terbukti bahwa masih adanya


112

anggapan ibu bahwa ASI yang ibu berikan tidak cukup sehingga

membuat bayi menangis karena masih lapar sehingga ibu tidak

tega melihat anak lapar dan kemudian memberikan makanan lain

selain ASI.

6.5.2 Analisis Hubungan Dukungan Keluarga dengan Pemberian

ASI Eksklusif Pada bayi Usia 6-12 Bulan di Kelurahan

Gerem Wilayah Kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon

Tahun 2015

Peran keluarga dalam hal ini adalah keterlibatan keluarga

dalam merawat bayi dan memberikan informasi mengenai ASI

eksklusif kepada ibu.Dalam pemberian ASI eksklusif, peranan

keluarga sangat menentukan berhasil tidaknya pemberian ASI

eksklusif pada bayi.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa prosentase

ibu yang mendapat dukungan keluarga terhadap pemberian ASI

eksklusif yaitu sebesar 69,6%, sedangkan yang tidak mendapat

dukungan keluarga yaitu sebesar 30,4 %. Adapun proporsi yang

memberikan ASI eksklusif dan mendapat dukungan keluarga,

yaitu 23 orang (66,7%) lebih besar proporsinya dibandingkan

dengan responden yang memberikan ASI eksklusif dan tidak

mendapat dukungan keluarga, yaitu 1 orang (5,9%), sedangkan

responden yang tidak memberikan ASI eksklusif namun

mendapat dukungan keluarga, yaitu 13 orang (33,3%) lebih kecil


113

dibandingkan dengan yang tidak memberikan ASI eksklusif dan

tidak mendapat dukungan keluarga.

Berdasarkan penelitian ini juga diperoleh bahwa

responden lebih banyak mendapat dukungan keluarga dari

suami.Dukungan suami yang diberikan suami kepada responden

dalam hal ini berupa membaantu istri dalam pekerjaan rumah dan

mengurus anaknya.

Analisis yang dilakukan dengan menggunakan uji Chi

Square diperoleh hasil dengan P-value = 0,000 (P < 0,05), hal

tersebut mennjukkan bahwa terdapat hubungan antara dukungan

keluarga dengan pemberian ASI Eksklusif.

Penelitian yang dilakukan Ida (2012) wilayah kerja

Puskesmas Kemiri Muka Kota Depok juga memiliki hasil yang

sama yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna

antara dukungan keluarga dengan pemberian ASI eksklusif. Ibu

yang mendapatkan dukungan keluarga yang baik dari keluarga

ibu berpeluang 4,11 kali memberikan ASI eksklusif

dibandingkan ibu yang mendapatkan dukungan rendah dari

keluarganya.

Selain itu, hasil penelitian ini juga sejalan dengan

penelitiannya Hector (2005) yang menyatakan bahwa salah satu

faktor yang efektif dalam praktik pemberian ASI adalah adanya

dukungan sosial termasuk dukungan keluarga ( suami ).Ibu-ibu

yang mendapat dukungan dari pasangannya (suami) memberikan


114

ASI lebih lama dibandingkan ibu yang tidak mendapatkan

dukungan dari pasangannya (suami).Dukungan dari suami dan

keluarga akan meningkatkan pemberian ASI kepada bayinya.

Sebaliknya dukungan sosial yang kurang maka pemberian ASI

menurun.

Secara teoritis Roesli (2000) mengatakan bahwa untuk

bisa memberikan ASI secara eksklusif, seorang ibu harus

mendapatkan dukungan dari berbagai pihak keluarga. Pihak

keluarga dalam hal ini suami, memegang peranan penting dalam

mendukung istri untuk menyusui eksklusif dan ayah merupakan

bagian yang vital dalam keberhasilan atau kegagalan menyusui.

Keterlibatan seorang ayah akan memberi motivasi ibu untuk

menyusui.

Berdasrkan hasil penelitian ini dapat dilihat bahwa ibu

menyususi di kelurahan Gerem yang mendapat informasi tentang

ASI Eksklusif dari keluarganya khususnya suami akan terdorong

untuk memberikan ASI eksklusif dibandingkan dengan yang

tidak pernah mendapatkan informasi atau dukungan dari

keluarganya..

Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa responden yang

mendapat informasi dan dukungan dari keluarganya khususnya

suamiakan terdorong untuk memberikan ASI eksklusif

dibandingkan dengan yang tidak pernah mendapatkan informasi

atau dukungan dari keluarganya.Karena keluarga khususnya


115

suami adalah orang terdekat ibu yang banyak berperan selama

kehamilan, persalinan dan setelah bayi lahir, termasuk menyusui.

Dukungan suami dalam bentuk apapun akan mempengaruhi

keadaan emosional ibu yang kemudian berdampak pada produksi

ASI, sehinggadalam hal ini peran keluarga khususnya suami

berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif yang dilakukan

ibu kepada bayinya.

Masih banyaknya ibu yang tidak memberikan ASI

eksklusif meskipun mendapat dukungan keluarga dalam

pemberian ASI eksklusif terjadi karena masih adanya anggapan

negatif yang dimiliki ibu. Dalam penelitian ditemukan bahwa

karena bayi rewel dan menangis ibu beranggapan bahwa kondisi

tersebut terjadi karena bayi masih lapar, sehingga ibu tidak tega

membiarkan bayinya kelaparan dan akhirnya ibu memberikan

makanan lain selain ASI sejak bayi berusia kurang dari enam

bulan.
BAB VII

SIMPULAN DAN SARAN

7.1 SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 56 ibu

bayiusia 6-12 bulan di Kelurahan Gerem wilayah kerja Puskesmas

Grogol Kota Cilegon tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan

perilaku pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6–12 bulan didapat

simpulan sebagai berikut:

1. Gambaran perilaku pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6 – 12

bulan di kelurahan Gerem wilayah kerja Puskesmas Grogol Kota

Cilegon tahun 2015 adalah sebesar 48,2 %. Angka tersebut masih

jauh dengan target standar pelayanan minimal ASI eksklusif yaitu

sebesar 80 %.

2. Pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6 – 12 bulan di kelurahan

Gerem wilayah kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon tahun 2015,

lebihbanyak dilakukan oleh ibu pada kelompok umur 20 – 35 tahun

yaitu sebesar 53,5 %.

3. Pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6 – 12 bulan di kelurahan

Gerem wilayah kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon tahun 2015,

paling banyak dilakukan oleh ibu dengan multipara yaitu sebesar

58,5%.

4. Pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6–12 bulan di kelurahan

Gerem wilayah kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon tahun 2015,

116
117

paling banyak dilakukan oleh ibu dengan tingkat pendidikan tinggi

(tamat SMA keatas) yaitu sebesar 63,9 %.

5. Dari 56 responden yang di teliti terdapat 98,2 % ibu yang tidak

bekerja, dari 98,2% ibu tidak bekerja hanya 49,1 % ibu yang

memberikan ASI eksklusif pada bayi usia 6–12 bulan di kelurahan

Gerem wilayah kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon tahun 2015

6. Pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6–12 bulan di kelurahan

Gerem wilayah kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon tahun 2015,

paling banyak dilakukan oleh ibu yang memiliki pengetahuan baik

tentang pemberian ASI eksklusif yaitu sebesar 68,6 %.

7. Pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6–12 bulan di kelurahan

Gerem wilayah kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon tahun 2015,

paling banyak dilakukan oleh ibu yang melakukan persalinan di

fasilitas kesehatan yaitu sebesar 60,5 %.

8. Pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6–12 bulan di kelurahan

Gerem wilayah kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon tahun 2015,

paling banyak dilakukan oleh ibu yang melakukan persalinan dengan

di bantu oleh tenaga kesehatan yaitu sebesar 54 %.

9. Pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6–12 bulan di kelurahan

Gerem wilayah kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon tahun 2015,

paling banyak dilakukan oleh ibu yang mendapatkan dukungan dari

petugas kesehatan untuk memberikan ASI secara eksklusif pada bayi

baru lahir yaitu sebesar 60 %.


118

10. Pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6–12 bulan di kelurahan

Gerem wilayah kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon tahun 2015,

paling banyak dilakukan oleh ibu yang mendapatkan dukungan dari

keluarga untuk memberikan ASI secara eksklusif pada bayi baru

lahir yaitu sebesar 66,7 %.

11. Terdapat hubungan antara paritas ibu, tigkat pendidikan ibu,

pengetahuan ibu, tempat persalinan, penolong persalinan, dukungan

petugas kesehatan dan dukungan keluarga dengan pemberian ASI

eksklusif pada bayi usia 6–12 bulan di kelurahan Gerem wilayah

kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegontahun 2015.

12. Tidak terdapat hubungan antara umur ibu dan status pekerjaan ibu

dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6–12 bulan di

kelurahan Gerem wilayah kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon

tahun 2015.

7.2 SARAN

7.2.1 Bagi Puskesmas

1) Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam

melakukan perbaikan sekaligus meningkatkan mutu

pelayanan kesehatan kemasyarakat.

2) Perlu adanya monitoring dan evaluasi terkait adanya kegiatan

pemberian PMT ASI berupa biskuit dan susu kotak yang

merupakan donasi dari perusahaan agar pemberiannya

dibatasi dan tepat sasaran dalam setiap kegiatan posyandu di

wilayah kerja puskesmas Grogol Kota Cilegon khususnya di


119

Kelurahan Gerem sehingga tidak mempengaruhi perilaku ibu

dalam memberikan ASI eksklusif

3) Perlu adanya kebijakan dari puskesmas kepada setiap

Posyandu agar buku KIA yang selama ini disimpan di

Posyandu di kembalikan kepada pemiliknya agar buku

tersebut bisa dimanfaatkan oleh ibu untuk memperoleh

pengetahuan terkait menyusui. Serta menambahkan sesi

penyuluhan dalam setiap kegiatan posyandu agar manfaat

ASI dapat tersampaikan kepada ibu menyusui. Sehingga ibu

lebih termotivasi untuk melakukan pemberian ASI eksklusif

kepada bayinya.

7.2.2 Bagi ibu dan keluarga

Begitu pentingnya manfaat dari pemberian ASI ekskusif,

maka penting bagi ibu yangmelahirkan perlu untuk memberikan

ASI eksklusif kepada bayinya. Untuk meningkatkan kesadaran

ibudalam hal tersebut, maka hal yang dapat dilakukan adalah:

1) Selama kehamilan, ibu perlu aktif melakukan konsultasi

bidan yang melakukan pemeriksaan kehamilannya guna

memperoleh informasi terkait menyusui dan mendapat

motivasi dari tenaga kesehatan untuk terus melakukan

pemberian ASI eksklusif kepada bayinya.

2) Selama kehamilan, penting bagi keluarga terutama suami

untuk terus mendampingi ibu saat melakukan konsultasi


120

kehamilan dengan bidan. Sehingga setelah kelahiran bayi,

suami dapat memberikan dukungan yang kepada ibu untuk

memberikan ASI eksklusif kepada bayinya karena suami

merupakan individu terdekat ibu menyusui.

7.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya

1. Berdasarkaninformasi yang diperoleh dalam hasil penelitian

ini diharapkan agar penelitian selanjutnya dapat menganalisis

faktor-faktor lainya yang belum diteliti yang mungkin dapat

berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif yang tidak

tergambarkan dalam penelitian ini dengan desain studi yang

berbeda dan jumlah sampel yang lebih banyak.

2. Penelitian selanjutnya harus lebih teliti dalam memodifikasi

kuesioner penelitian.
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, S., D. Hastuti, U. Sumarwan, 2004, Pengambilan Keputusan

Pemberian ASI Eksklusif kepada Bayi di Kota Bogor.Media GIZI

&KELUARGA, hal. 70-77

Abdullah, M. T. (1984), Lamanya Menyusui dan Faktor-Faktor yang

Mempengaruhinya (Analisa Data Moduler 1982-1983, Jakarta), Tesis

Magister, Universitas Indonesia, Depok.

Akre, james. 1994. Pemberian Makanan Untuk Bayi: Dasar-dasar

Fisiologis, terj. Sri D.B. Jakarta : Perinasia

Afifah, Diana Nur. 2007. Faktor yang Berperan dalan Kegagalan Praktik

Pemberian ASI Eksklusif(Studi Kualitatif di Kecamatan Tembalang,

Kota Semarang Tahun 2007). Tesis.PascaSarjana Universitas

Diponegoro Semarang.

Amalia, Linda dan Yovsyah. 2009. Pemberian ASI Segera pada Bayi Baru

Lahir. Jurnal Kesmas Nasional.Vol.3, No.4.hal 171- 175

Ambarwati, R., 2004, Faktor yang Berhubungan dengan Kegagalan

Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Padangsari Kabupaten

Ungaran, Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas

Diponegoro, Semarang, hal.50-65.


Amran, Yuli.2006. Pemodelan Faktor-Faktor yang Berperan Terhadap

Prilaku Ibu dalam Memberikan ASI Ekslusif di Propinsi Jawa Barat

dan Jawa Timur Tahun 2003, Dengan Pendekatan Multilevel

Modeling.Tesisi. FKM UI Depok

Anggraeni, Annisa. 2012. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan

Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu yang Melahirkan di Rumah

Bersalin Puskesmas Kecamatan Pesanggrahan Jakarta Selatan Tahun

2012. Skripsi.Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Islam

Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Anggraeni, Setyo. 2008

Arasta, Ludfi Dini. Hubungan Pelaksanaan Rawat Gabung dengan Perilaku

Ibu dalam Memberikan ASI Eksklusif di Polindes Harapan Bunda

Desa Kaligading Kecamatan Boja Kabupaten Kendal. 2010. Diakses

melalui http://akbid-purworejo.ac.id tanggal 2 april 2015.

Arini, H. 2012. Mengapa Seorang Ibu Harus Mneyusui. Yogyakarta:

FlashBooks.

Arisman. 2004. Gizi dalam Daur Kehidupan: Buku Ajar Ilmu Gizi. Buku

Kedokteran EGC: Jakarta.

Aritonang, Ctra BR (2011) Hubungan Karakteristik, Pengetahuan, Sikap

dan Dukungan Keluarga Ibu dengan Perilaku Pemberian ASI

Eksklusif di Puskesmas Bandar Huluan Kabupaten Simalungun

provinsi Sumatera Utara Tahun 201. Skripsi.Depok : FKM UI .

Aruldas K, Khan ME, Hazra A.2010. Increasing early and exclussive

breastfeeding in rural Uttral Pradesh. J Fam Welfare.


Asmijati. 2001. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian ASI

Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Tiga Raksa Kecamatan Tiga

Raksa Dati II Tangerang Tahun 2001. Tesis. FKM UI, Depok.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2013. Riset Kesehatan

Dasar 2013. Jakarta : Departemen kesehatan RI.Jakarta

Betran AP, Onis M, Lauer JA, Villar J. 2001. Ecological study of effect of

breast feeding on infant mortality in Latin America. Amerika Latin

dan Karibia: British Medical Journal

Depkes RI.2004.Kebijakan Departemen Kesehatan tentang Peningkatan

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Pekerja Wanita, Departemen Kesehatan

RI. Jakarta.

Depkes RI. 2009. Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu

dan Anak (PWS-KIA). Jakarta

Ebrahim, GJ. 1986. Air Susu Ibu, terj. Suharyono. Yogyakarta: Yayasan

Essentia Medica.

Ebrahim. 1978. Air Susu Ibu : Yayasan Essentia Medica.

Ester, Ibrahim.Analisis Faktor Determinan Pemberian ASI Eksklusif di

Kabupaten Tangerang Provinsi Banten Tahun 2002.Tesis.FKM-UI,

Depok.

Febriana, Nancy. 2000. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pemberian

ASI secar Eksklusif oleh Ibu Usia 15 – 35 Tahun Pada Bayinya yang

Berusia 0-6 Bulan (Analisis Data Sekunder SDKI tahun 1997).

Skripsi.FKM-UI, Depok.
Fikawati, Sandra dan Syafiq, Ahmad.2009.Penyebab Keberhasilan dan

KegagalancPraktik Pemberian ASI Eksklusif.Jurnal Kesehatan

Masyarakat Nasional Vol.4No.3 Desember 2009. Penerbit FKM UI.

Fikawati, S dan A. Pujonarti.1999.Peran Bidan Desa dalam Upaya

Pemasyarakatan ASI Eksklusif dan Manajemen Laktasi Pada Ibu

Hamil.MKMI.XXVII.No. 8. Hal 460-462.

Fivi, Diana. 2006. Hubungan Pola Asuh dengan Status Gizi Anank Batita di

Kecamatan Kuranji Kelurahan Pasar Ambacang Kota Padang 2004.

Jurnal Kesehatan Masyarakat

Gatti, L. 2008. Maternal Perception Of Insufficient Milk Supply In

BreastFeeding.J Nurs.Scholarch 40 (4) : 335-63.

Gerung, Albert A. 1989. Breastfeeding Promotion for Child Survival:

Indonesian Experience, Maternal and Child Care in Developing

Countries. Kessel and A.K. Awan (eds.). Switzerland: Ott Publishers

Gibney, MJ. 2009. Gizi Kesehatan Masyarakat (Hartono Andry dan

Widyastuti Palupi, Penerjemah). Jakarta : Penebit buku kedokteran

EGC...

Green, Lawrence, et al. 1980. Health Education Planning : A Diagnostic

Approach. The John Hopkins University. Mayfield Publishing

Company.

Hakim, Ramla. 2012. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian

ASI Eksklusif Pada Bayi 6-12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas

Nabire Kota Kabupaten Nebire Tahun 2012. Skripsi. FKM UI, Depok.
Handayani, Dini Saraswati. 2007. Gambaran Pengetahuan Ibu Menyusu

Tentang Pemberian ASI Eksklusif Berdasarkan Karakteristik Ibu di

Puskesmas Sukawarna Kota Bandung Periode Desember 2006 –

Januari 2007.

Hastuti. 2006. Pemberian ASI Eksklusif dan Faktor-Faktor yang

Berhubungan di Puskesmas Tarusan Kabupaten Pesisir selatan

Propinsi Sumatera Barat Tahun 2006. Tesis. FKM UI, Depok.

Heather LK, Katie HC, Suzanne CT. 2009.Risk factor for cessation of

breastfeeding prior to six months postpartum among a community

sampel of woman in Calgary, Alberta. Can J of Pub Health.

2009;68:1-4.

Hector D, King L, Webb K, Heywood P. ( 2005 ). Factors Affecting

Breastfeeding Practices: Applying A Conceptual Framework. NSW

Public Health Bull.200516(3-4):52-55.

Hidayah, N. (1999), Determinan Pemberian ASI Eksklusif Di Kabupaten

Purworejo Tahun 1999, Tesis Magister, Universitas Gadjah Mada,

Yogyakarta.

Hurlock, E.B. 1995. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang

RentangKehidupan, Alih Bahasa; Istiwidayanti & Soedjarwo,

Edisi5.Jakarta : Penerbit Erlangga.


Hurlock, Elizabeth B. 2004. Psikologi perkembangan, suatu pendekatan

sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga, 2004

Ida. 2012. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian ASI

Eksklusif 6 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kemiri Muka Kota

Depok Tahun 2011. Depok: FKM UI.

Irianto, Joko. 1998. Hubungan Tempat dan Penolong Persalinan dengan

Menyusui Secara Optimal. Majalah Kesehatan Masyarakat no.5

Jelliffe, D.B. 1994. Kesehatan Anak di Daerah Tropis. Jakarta: Bumi

Akasara

Kemenkes RI. 2013. Profil Kesehatan Indonesia 2012. Jakarta. Kemenkes

RI

King, F.S. 1991,Menolong Ibu Menyusui. Jakart: Gramedia.

KNPP RI.2008.Pemberdayaan Perempuan dalam Peningkatan Pemberian

ASI. Kemenkes RI

Krammer, Michael S et al. 2008. Breastfeeding and Child Cognitive

Development.Arch Gen Psychiatry.

Kristiyansari. 2009. ASI, Menyusui dan Sadari. Yogyakarta : Nuha Medika

Kusnadi. 2007. Analisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian

ASI eksklusif diKabupaten Tanggerang tahun 2006 (Analisis data

sekunder survey kinerja berdasarkan indikator Kabupaten Sehat tahun

2006).Tesis . FKM UI, Depok.


Lemeshow, 1997.Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan. Gadjah Mada

Universitas Press. Yogyakarta. Alih bahasa

Lestari. 2008. Faktor Ibu bayi yang Berhubungan dengan Pemberian ASI

Eksklusif di Indonesia Tahun 2007 ( Analisis Survei Demografi

Kesehatan Indonesia 2007). Skripsi. FKM UI. Depok.

Maas, L.T., 2004.Kesehatan Ibu dan Anak: Persepsi Budaya dan Dampak

Kesehatannya. FKM Universitas Sumatera Utara, USU DigitalLibrary.

Manuaba. 1998. Pemberian ASI dan Rawat Gabung. Ilmu Kebidanan,

Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC

Manuaba. 2009. Memahami Kesehatan reproduksi wanita ed 2. Jakarta:

EGC

Mascarenhas ML, Albernaz E, Silva M, Silveira RB.2006. Prevalence of

exclusive breastfeeding and its determiners in the first 3 months of life

in the South Brazil.J Pediatric. 82:289-94.

Nasir, Narila Mutia. 2002. Pemberian ASI Eksklusif dan Hal-Hal yang

berhubungan pada Bayi umur 4 – 11 Bulan di Kecamatan Pasar Rebo

Jakarta Timur Tahun 2001. Skripsi. Depok: FKM-UI.

Nining, S. Muktamar ASI eksklusif standar emas - aman, sehat,

berkelanjutan.Diposkan tanggal 12 Feb 2007.Diakses tanggal 28

januari 2016.Available at: http://kakak.org/home.php?page=arti

kel&id=12

Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan Kesehatan dan Perilaku

Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.


Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka

Cipta.

Nurpelita.(2007). faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI

Eksklusif di Wilayah kerja Puskesmas Buatan II Siak Tahun

2007.Tesis.Depok: FKM UI.

Nuryanto.2002. Hubungan Antara Pekerjaan Ibu dengan Kelangsungan

Pemberian ASISaja Pada Anak Usia 0-11 Bulan.Tesis FKM UI.

Depok

Pertiwi, Putri. 2012. Gambaran Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Pemberian ASI Eksklusif di Kelurahan Kunciran Indah Tangerang.

Jakarta: FIK UI

Prawirohardjo, S. 2009. Ilmu Kebidanan. Penerbit Yayasan Bina Pustaka

Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.

Pudjiadi, Solihin. 2000.Ilmu Gizi Klinis Pada Anak. Jakarta: Gaya Baru.

Pudjiadi, Solihin. 2001. Bayiku Sayang: Petunjuk Bergambar untuk

MerawatBayi dan Jawaban atas 62 Pertanyaan yang Mencemaskan.

Balai Penerbit Fakultas Kedokteran UI : Depok. hal. 16-33.

Rahayu, T. dan Asngad, A. 2000.Pola Pemberian ASI pada Ibu Karir dan

Non Karir Hubungannya Dengan Fertilitas Ibu. Unismuh Surakarta :

Surakarta

Riordan J. 2004. The biological specificity of breast milk. In: Breastfeeding

and human lactation. Boston, USA : Jones and Bartlett.

Roesli, Utami. 2004. ASI Eksklusif. Edisi II. Jakarta : Trubus Agriwidya.
Roesli, Utami. 2005. Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta: Trubus Agriwidya

Roesli, Utami. 2009. Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta: Trubus Agriwidya

Roesli, Utami, 2000.Mengenal ASI Ekslusif. Trubus Agriwidya

Setiawati, M. 2003. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Pemberian

ASI Eksklusif Dengan Praktek Menyusui[Laporan Penelitian]. FK

Universitas Diponegoro : Semarang

Shrimpton, R. 2001. Worldwide Timing of Growth Faltering: Implications

for Nutritional Interventions.

(Online).(http://www.pediatrics.org/cgi/content/full/107/5/e75,diakse

s 2 Maret 2014)

Siregar, Arifin. 2004. Pemberian ASI Ekslusif dan Faktor-Faktor yang

Mempengaruhi. Bagian Gizi Kesmas FKM USU.

Siswono. 2006. Akibat Remehkan ASI. (Online).Di akses tanggal 14 Juni

2014.Available at (www.gizi.net.ac.id).

Soetjiningsih.1997.ASI petunjuk untuk tenaga kesehatan.Jakarta : EGC.

Suradi, R, dan H.K.P. 2007.Bahan Bacaan Manajemen Laktasi,

Jakarta:Perinasia.

Suyatno.2001. Pengaruh Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)

Tradisional pada Usia Dini terhadap Pertumbuhan dan Kesakitan

Bayi, studi kohort pada bayi 0-4 bulan di Kabupaten Demak.

Universitas Diponegoro. Gizi Kesehatan.

Swarts, S., Kruger, H.S., dan Dolman, R.C (2010). Factor affecting mothers

choice of breastfeeding vs formula: Feeding in the lower Umfolozi


district war memorial hospital, Kwazulu-Natal. Journal of

Interdisciplinary Health Sciences, 15, 119-126.

Swasono, M. F., & Soselisa, H. L. 1998.Kehamilan, Kelahiran dan

perawatan ibu dan bayi: Dalam konteks budaya. Jakarta: UI-Press

Taveras EM, Capra AM, Braveman PA, Jensvold NG, Escobar GJ, Lieu

TA. 2003. Clinician Support and Psychosocial Risk Factor Associated

with Breastfeeding Discontinuation. Pediatrics.;112:108

Tjandrarini, Dwi Hapsari dkk. Telaah faktor karakteristik ibu dan

pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan pemberian kolostrum

lebih dari satu jam pertama setelah melahirkan (analisis data

sekunder survei demografi dan kesehatan Indonesia 1997). Laporan

Penelitian. Badan Penelitian dan pengembangan Kesehatan Pusat

Penelitian Ekologi Kesehatan , Departemen Kesehatan RI, Jakarta;

2000.

Tri Rahayuningsih. 2005. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Ibu

Tentang ASI Dengan Pemberian Kolostrum Dan ASI Eksklusif Di

Kelurahan Purwoyoso Kecamatan Ngaliyan.Under Graduates thesis,

Universitas Negeri Semarang.

Unicef. 1990. Strategy for Improved Nutrition of Children and Women in

Developing Countries. New York : Unicef Policy Review.

UPTD Puskesmas Grogol Kota Cilegon.


Utami, Hajijah Septia. 2012. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan

Perilaku Ibu dalam Praktek Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah

Kerja Puskesmas Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah Tahun

2012. Skripsi. FKM UI, Depok.

Wahyuningrum, Novi. 2007. Hubungan antara Pengetahuan Ibu tentang

ASIeksklusif dengan Pemberian ASI eksklusif di Desa Sadang

KecamatanJekulo Kabupaten Kudus .Skripsi.S1 Keperawatan-

STIKES NWU.

Wilar. 2010.

World Health Organization. 1998. Division of Child Health and

Development, Family and Reproductive Health. Evidence for the steps

for successful breastfeeding. Genewa: WHO

World Health Organization, 2009, Infant and young child feeding. Geneva:

WHO

World Health Organization. 2010. Infant and Young Child feeding. Geneva.

WHO.

Wulandari, Melli. faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian

makanan prelakteal pada bayi baru lahir di desa supat timur

kabupaten musi banyuasin. Sumatera selatan tahun 2011.Skripsi

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta. 2011


Yeni dan Minsarnawati. 2009. Perilaku yang Menghambat Pemberian ASI

Eksklusif Pada Ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Cibeber Tahun 2009.

Jurnal Kesehatan Reproduksi

Zakiyah. 2012. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian Asi

Eksklusif Di Kelurahan Semanan Kecamatan Kalideres Jakarta Barat

Tahun 2012. Skripsi. FKM UI, Depok.


LAMPIRAN
FormD
FORMULIR PE~ETUJUAN
PENGUMPULAN DATA
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : AM Mat.\~ l\ovW\ 0~1\C\,..k


NIM lotiJ\o (ooooog
Peminatan 6i~r

Telah melakukan perbaikan proposal skripsi berdasarkan masukan/saran dalam ujian proposal

yang dilakukan pada . ~~!:\.,.Pf1 ..~~}..~1.~ sebagai bahan pertimbangan untuk melanjutkan

ke tahap pengumpulan data .

Jakarta , ..... ... ..... ..... .. ......... ..... ...

iv1enyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

~- -~tL.
Dr. M·farid t-fc:!m'ienc. M.~i
NIP. I~Bl(o<(Olf ~ld- ~ oo=t NIP. (t:}f,50ba-l l~l(Os I 001

Penguji II Penguji Ill

., rrafanC&I c;a+ar, MAR~



Ra.J.ri ap,fani~ya.r. ~IYI.MHr -----' Ji .
Qr. M. fe~riq Ha~~ti;en~, M·-'i
NIP. 1'11Noi.JO'{ ;.oogta. J.oo=t NIP. tg(;,;o~a-1 l~€1yo; I 00(
Lampiran 2

KUESIONER PENELITIAN

FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN TERHADAP PERILAKU PEMBERIAN

ASI EKSKLUSIF DI KELURAHAN GEREM WILAYAH KERJA

PUSKESMAS GROGOL KOTA CILEGON TAHUN 2015

Assalamu’alaikum Wr, Wb.

Dengan Hormat,

Saya mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat, Peminatan Gizi Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sedang melakukan penelitian

skripsi dengan judul “Faktor - Faktor Yang Berhubungan Terhadap Perilaku Pemberian

Asi Eksklusif Di Kelurahan Gerem Wilayah Kerja Puskesmas Grogol Kota Cilegon Tahun

2015”.

Maka untuk kepentingan tersebut saya memohon bantuan kepada Ibu untuk mengisi

kuesioner penelitian ini.Keterlibatan Ibu dalam penelitian ini bersifat sukarela dan tanpa

paksaan, oleh karenanya anda diharapkan menjawab seluruh pertanyaan dengan sebenar-

benarnya dan sejujur-jujurnya untuk membantu kemurnian penelitian.Sebagaimana penelitian

ilmiah, semua keterangan identitas dan jawaban yang ibu berikan semata-mata untuk

kepentingan penelitian dan dijamin kerahasiaannya.Saya mengucapkan terima kasih atas

kerjasama dan kesediaan Ibu dalam penelitian ini.

Hormat Saya,

Peneliti

Ana Mahillatul Jannah


KUESIONER PENELITIAN

FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN TERHADAP PERILAKU PEMBERIAN

ASI EKSKLUSIF DI KELURAHAN GEREM WILAYAH KERJA

PUSKESMAS GROGOL KOTA CILEGON TAHUN 2015

Petunjuk Pengisian

 Isikan Jawaban yang menurut anda benar.

 Berikan jawaban anda atas setiap pernyataan/pertanyaan yang ada dengan memberi tanda

silang ( X ) pada pilihan jawaban yang telah disediakan.

 Jawaban pada kuesioner ini akan ami rahasiakan. Mohon anda menjawab dengan

sejujurnya.

A. IDENTITAS RESPONDEN

1. No. Responden :

2. Nama Ibu :

3. Umur Ibu :

4. Alamat :

5. No. Telp :

6. Nama Bayi:

7. Umur Bayi :

8. Pendidikan formal terakhir yang pernah ibu tempuh

a. Tidak sekolah

b. Tamat SD

c. Tamat SMP

d. Tamat SMA/SMK

e. Perguruan Tinggi
9. Pekerjaan ibu saat ini

a. PNS

b. Pegawai Swasta

c. Petani

d. Wiraswasta

e. Tidak Bekerja/IRT

B. PARITAS

10. Berapakah jumlah kelahiran yang ibu pernah alami sampai pada saat ini?..................

C. PENGETAHUAN TENTANG ASI EKSKLUSIF

11. Menurut Ibu, apa yang dimaksud dengan ASI eksklusif?

1) Memberikan ASI saja tanpa makanan lain kecuali vitamin, obat, dan minieral

selama 6 bulan

2) Memberikan ASI pada bayi sampai umur 4 bulan tanpa tambahan makanan dan

minuman lain

3) Memberikan ASI pada bayi sampai 6 bulan dengan tambahan makanan dan

minuman lain

4) Tidak tahu

12. Menurut ibu, apakah manfaat dari kolostrum/air susu bening dan berwarna

kekuningan?

1) Merupakan susu kotor/susu basi

2) Meningkatkan kekebalan tubuh


3) Bayi sehat

4) Tidak bermanfaat apapun bagi bayi

13. Apa yang sebaiknya dilakukan terhadap keluarnya kolostrum?

1) Dibuang

2) Dibiarkan dan tidak diberikan kepada bayi

3) Diberikan pada bayi

4) Tidak tahu

14. Menurut ibu, apa manfaat pemberian ASI eksklusif bagi bayi ibu?

1) Menghemat pengeluaran keluarga untuk membeli susu formula

2) Melindungi bayi terhadap penyakit infeksi

3) Membuat bayi terkena alergi

4) Tidak tahu

15. Kapan sebaiknya bayi yang baru lahir disusui?

1) 1 hari setelah lahir

2) kalau ASI sudah keluar

3) >1 jam setelah lahir

4) ≤ 1 jam setelah lahir

16. Sebaiknya usia berapa seorang bayi diperbolehkan diberi makan/minum seperti susu

formula, air teh, air putih, pisang, bubur, buah dan yang lainnya?

1) < 6 bulan

2) 4 bulan

3) 6 bulan

4) > 6 bulan
17. Selain bermanfaat bagi bayi, pemberian ASI eksklusif juga bermanfaat bagi ibunya.

Menurut ibu, apa manfaat ASI eksklusif bagi ibu?

1) Melindungi bayi dari penyakit

2) Menghemat pengeluaran keluarga untuk membeli susu formula

3) Meningkatkan jalinan kasih sayang

4) Tidak tahu

18. Makanan yang tepat untuk bayi sampai dengan usia 6 bulan adalah?

1) ASI saja

2) Susu formula saja

3) ASI dan susu formula

4) ASI dan makanan lumat dan susu formula

19. Menurut ibu setelah bayi diberikan ASI eksklusif, sampai usia berapa bayi

dilanjutkan diberikan ASI ?

1) ASI dihentikan setelah pemberian ASI eksklusif

2) 8 bulan

3) 1 tahun

4) 2 tahun

D. TEMPAT PERSALINAN

20. Dimana Ibu melahirkan?

1) Praktek Bidan

2) Rumah Sakit

3) Klinik bersalin

4) Puskesmas
5) Rumah sendiri

6) Rumah dukun/paraji

E. PENOLONG PERSALINAN

21. Siapa yang menolong persalinan ibu pada saat melahirkan (nama anak)?

1) Dokter SPOG

2) Bidan

3) Dukun/paraji

4) Keluarga

22. Pada saat setelah melahirkan, apakah penolong persalinan pernah

menganjurkan/menghimbau/memberikan susu formula atau makanan lain kepada

bayi ibu?

1) Pernah

2) Tidak Pernah

F. DUKUNGAN KELUARGA

23. Apakah keluarga terdekat ibu mendukung dalam pemberian ASI secara eksklusif?

(0) Tidak

(1) Ya

24. Siapa saja keluarga ibu yang mendukung ibu dalam pemberian ASI eksklusif?

(jawaban boleh lebih dari satu)

1) Suami

2) Orang tua

3) Mertua
4) Saudara Perempuan

5) Dll,…………..(sebutkan)

25. Apakah suami pernah memberikan ibu buku, majalah atau bahan informasi lainnya

tentang menyususi dan makanan untuk bayi?

(0) Tidak

(1) Ya

26. Apakah suami ibu menganjurkan agar bayi diberi susu formula saja agar bayi terlihat

sehat?

(0) Ya

(1) Tidak

27. Apakah suami dan keluarga terdekat ibu pernah menyarankan untuk memberikan

makanan tambahan seperti bubur susu, nasi tim, biscuit, pisang, dll kepada bayi

sebelum bayi berusia > 6 bulan?

(0) Ya

(1) Tidak

28. Apakah suami ikut bangun menemani sewaktu ibu menyusui bayi pada malam hari?

(0) Tidak

(1) Ya

29. Apakah suami ibu sering membantu pekerjaan rumah tangga saat ibu menyusui?

(0) Tidak

(1) Ya
G. DUKUNGAN PETUGAS KESEHATAN

30. Sewaktu ibu memeriksa kehamilan, apakah bidan/dokter pernah memberikan

penjelasan tentang ASI eksklusif?

(0) Tidak

(1) Ya

31. Setelah persalinan/melahirkan, apakah petugas kesehatan pernah memberikan

penjelasan ASI eksklusif?

(0) Tidak

(1) Ya

32. Setelah melahirkan apakah petugas kesehatan segera melakukan Inisiasi Menyusu

Dini (IMD)?

(0) Tidak

(1) Ya

33. Apakah setelah melahirkan bidan/ petugas kesehatan lainnya menganjurkan ibu untuk

memberikan makanan selain ASI (seperti: madu, air tajin, air teh, dll)?

(0) Ya

(1) Tidak

34. Setelah melahirkan, apakah petugas kesehatan memberikan susu formula atau

makanan dan minuman selain ASI pada bayi ibu?

(0) Ya

(1) Tidak
35. Apakah petugas kesehatan pernah menjelaskan manfaat dari pemberian ASI

eksklusif?

(0) Tidak

(1) Ya

H. PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF

36. Apakah ibu memberikan ASIsaja pada bayi ibu?

0) Ya

1) Tidak

37. Pada usia< 6 bulan, apakah ibu telah memberikan makanan/minuman selain ASI

kepada bayi ibu?

0) Ya

1) Tidak

(Jika jawaban tidak, maka pertanyaan no. 38 - 40 tidak perlu di jawab)

38. Sejak usia berapa bulan bayi ibu mulai diberikan makanan atau minuman tambahan

selain ASI?.......

39. Jenis makanan/minuman apa yang diberikan ibu saat bayi berumur < 6 bulan

(Jawaban boleh lebih dari 1)

1) air putih

2) air tajin

3) madu

4) Pisang

5) bubur buatan pabrik


6) bubur buatan sendiri

7) Susu formula bayi

8) Susu kental manis

9) Lain-lain, sebutkan…………………………………

40. Apakah alasan ibu tidak memberikan ASI saja atau memberikan ASI dengan

ditambah makanan/minuman lainnya?

1) ASI tidak cukup / ASI belum keluar

2) Ibu bekerja

3) Takut bentuk payudara berubah

4) Bidan/perawat yang menganjurkan

5) Suami/orang tua/mertua yang menganjurkan

6) Takut bayi lapar

7) Bayi menangis terus


Lampiran 3

Output Hasil Analisis Univariat

Frequency Table

pemberian ASI eksklusif


Frequenc Valid Cumulative
y Percent Percent Percent
Valid Tidak ASI
29 51.8 51.8 51.8
eksklusif
ASI eksklusif 27 48.2 48.2 100.0
Total 56 100.0 100.0

umur1
Frequenc Valid Cumulative
y Percent Percent Percent
Valid < 20th atau >
13 23.2 23.2 23.2
35th
20th - 35th 43 76.8 76.8 100.0
Total 56 100.0 100.0

paritas2
Frequenc Valid Cumulative
y Percent Percent Percent
Valid primipara 15 26.8 26.8 26.8
multipara 41 73.2 73.2 100.0
Total 56 100.0 100.0
pendidikan ibu
Frequenc Valid Cumulative
y Percent Percent Percent
Valid sd 6 10.7 10.7 10.7
smp 14 25.0 25.0 35.7
smu 34 60.7 60.7 96.4
PT 2 3.6 3.6 100.0
Total 56 100.0 100.0

tingkat pendidikan ibu


Frequenc Valid Cumulative
y Percent Percent Percent
Valid rendah 20 35.7 35.7 35.7
tinggi 36 64.3 64.3 100.0
Total 56 100.0 100.0

pengetahuan ibu
Frequenc Valid Cumulative
y Percent Percent Percent
Valid kurang 21 37.5 37.5 37.5
baik 35 62.5 62.5 100.0
Total 56 100.0 100.0

PekerjaanIbu
Frequenc Valid Cumulative
y Percent Percent Percent
Valid Bekerja 1 1.8 1.8 1.8
Tidak
55 98.2 98.2 100.0
Bekerja
Total 56 100.0 100.0
tempat persalinan ibu
Frequenc Valid Cumulative
y Percent Percent Percent
Valid Non
13 23.2 23.2 23.2
Faskes
Faskes 43 76.8 76.8 100.0
Total 56 100.0 100.0

tempat persalinan ibu


Frequenc Valid Cumulative
y Percent Percent Percent
Valid praktek
38 67.9 67.9 67.9
bidan
rumah sakit 5 8.9 8.9 76.8
rumah
13 23.2 23.2 100.0
sendiri
Total 56 100.0 100.0

Penolong Persalinan Ibu


Frequenc Valid Cumulative
y Percent Percent Percent
Valid Non
6 10.7 10.7 10.7
Nakes
Nakes 50 89.3 89.3 100.0
Total 56 100.0 100.0

penolong persalinan
Frequenc Valid Cumulative
y Percent Percent Percent
Valid Dokter
3 5.4 5.4 5.4
SPOG
Bidan 47 83.9 83.9 89.3
Dukun /
6 10.7 10.7 100.0
Paraji
Total 56 100.0 100.0

dukungan tenaga kesehatan


Frequenc Valid Cumulative
y Percent Percent Percent
Valid kurang
11 19.6 19.6 19.6
mendukung
mendukung 45 80.4 80.4 100.0
Total 56 100.0 100.0

Dukungan Keluarga
Frequenc Valid Cumulative
y Percent Percent Percent
Valid kurang
17 30.4 30.4 30.4
mendukung
mendukung 39 69.6 69.6 100.0
Total 56 100.0 100.0
Lampiran 4

Output Hasil Analisis Bivariat

Crosstabs

umur1 * pemberian ASI eksklusif

Crosstab

pemberian ASI eksklusif

Tidak ASI
eksklusif ASI eksklusif Total

umur1 < 20th atau > 35th Count 9 4 13

% within umur1 69.2% 30.8% 100.0%

20th - 35th Count 20 23 43

% within umur1 46.5% 53.5% 100.0%

Total Count 29 27 56

% within umur1 51.8% 48.2% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 2.064 1 .151
b
Continuity Correction 1.254 1 .263

Likelihood Ratio 2.112 1 .146

Fisher's Exact Test .209 .131

Linear-by-Linear Association 2.027 1 .155


b
N of Valid Cases 56

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.27.

b. Computed only for a 2x2 table


Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for umur1 (< 20th


2.588 .690 9.700
atau > 35th / 20th - 35th)

For cohort pemberian ASI


eksklusif = Tidak ASI 1.488 .918 2.415
eksklusif

For cohort pemberian ASI


.575 .243 1.362
eksklusif = ASI eksklusif

N of Valid Cases 56

paritas2 * pemberian ASI eksklusif

Crosstab

pemberian ASI eksklusif

Tidak ASI
eksklusif ASI eksklusif Total

paritas2 primipara Count 12 3 15

% within paritas2 80.0% 20.0% 100.0%

multipara Count 17 24 41

% within paritas2 41.5% 58.5% 100.0%

Total Count 29 27 56

% within paritas2 51.8% 48.2% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 6.532 1 .011
b
Continuity Correction 5.080 1 .024

Likelihood Ratio 6.912 1 .009

Fisher's Exact Test .015 .011


Linear-by-Linear Association 6.415 1 .011
b
N of Valid Cases 56

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.23.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for paritas2


5.647 1.379 23.118
(primipara / multipara)

For cohort pemberian ASI


eksklusif = Tidak ASI 1.929 1.239 3.005
eksklusif

For cohort pemberian ASI


.342 .120 .971
eksklusif = ASI eksklusif

N of Valid Cases 56

tingkat pendidikan ibu * pemberian ASI eksklusif

Crosstab

pemberian ASI eksklusif

Tidak ASI
eksklusif ASI eksklusif Total

tingkat pendidikan ibu rendah Count 16 4 20

% within tingkat pendidikan


80.0% 20.0% 100.0%
ibu

tinggi Count 13 23 36

% within tingkat pendidikan


36.1% 63.9% 100.0%
ibu

Total Count 29 27 56

% within tingkat pendidikan


51.8% 48.2% 100.0%
ibu
Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 9.919 1 .002
b
Continuity Correction 8.239 1 .004

Likelihood Ratio 10.453 1 .001

Fisher's Exact Test .002 .002

Linear-by-Linear Association 9.742 1 .002


b
N of Valid Cases 56

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9.64.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for tingkat


pendidikan ibu (rendah / 7.077 1.949 25.698
tinggi)

For cohort pemberian ASI


eksklusif = Tidak ASI 2.215 1.362 3.604
eksklusif

For cohort pemberian ASI


.313 .126 .778
eksklusif = ASI eksklusif

N of Valid Cases 56

PekerjaanIbu * pemberian ASI eksklusif

Crosstab

pemberian ASI eksklusif

Tidak ASI
eksklusif ASI eksklusif Total

PekerjaanIbu Bekerja Count 1 0 1

% within PekerjaanIbu 100.0% .0% 100.0%


Tidak Bekerja Count 28 27 55

% within PekerjaanIbu 50.9% 49.1% 100.0%

Total Count 29 27 56

% within PekerjaanIbu 51.8% 48.2% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square .948 1 .330
b
Continuity Correction .000 1 1.000

Likelihood Ratio 1.333 1 .248

Fisher's Exact Test 1.000 .518

Linear-by-Linear Association .931 1 .335


b
N of Valid Cases 56

a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .48.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

For cohort pemberian ASI


eksklusif = Tidak ASI 1.964 1.515 2.546
eksklusif

N of Valid Cases 56

pengetahuan ibu * pemberian ASI eksklusif


Crosstab

pemberian ASI eksklusif

Tidak ASI
eksklusif ASI eksklusif Total

pengetahuan ibu kurang Count 18 3 21

% within pengetahuan ibu 85.7% 14.3% 100.0%

baik Count 11 24 35

% within pengetahuan ibu 31.4% 68.6% 100.0%

Total Count 29 27 56

% within pengetahuan ibu 51.8% 48.2% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 15.491 1 .000
b
Continuity Correction 13.393 1 .000

Likelihood Ratio 16.762 1 .000

Fisher's Exact Test .000 .000

Linear-by-Linear Association 15.215 1 .000


b
N of Valid Cases 56

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10.13.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for pengetahuan


13.091 3.179 53.907
ibu (kurang / baik)

For cohort pemberian ASI


eksklusif = Tidak ASI 2.727 1.622 4.585
eksklusif

For cohort pemberian ASI


.208 .071 .608
eksklusif = ASI eksklusif
Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for pengetahuan


13.091 3.179 53.907
ibu (kurang / baik)

For cohort pemberian ASI


eksklusif = Tidak ASI 2.727 1.622 4.585
eksklusif

For cohort pemberian ASI


.208 .071 .608
eksklusif = ASI eksklusif

N of Valid Cases 56

tempat persalinan ibu * pemberian ASI eksklusif

Crosstab

pemberian ASI eksklusif

Tidak ASI eksklusif ASI eksklusif Total

tempat persalinan ibu Non Faskes Count 12 1 13

% within tempat
92.3% 7.7% 100.0%
persalinan ibu

Faskes Count 17 26 43

% within tempat
39.5% 60.5% 100.0%
persalinan ibu

Total Count 29 27 56

% within tempat
51.8% 48.2% 100.0%
persalinan ibu

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 11.134 1 .001
b
Continuity Correction 9.121 1 .003
Likelihood Ratio 12.797 1 .000

Fisher's Exact Test .001 .001

Linear-by-Linear Association 10.935 1 .001


b
N of Valid Cases 56

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.27.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for tempat


persalinan ibu (Non Faskes / 18.353 2.182 154.379
Faskes)

For cohort pemberian ASI


eksklusif = Tidak ASI 2.335 1.563 3.489
eksklusif

For cohort pemberian ASI


.127 .019 .849
eksklusif = ASI eksklusif

N of Valid Cases 56

Penolong Persalinan Ibu * pemberian ASI eksklusif


Crosstab

pemberian ASI eksklusif

Tidak ASI
eksklusif ASI eksklusif Total

Penolong Persalinan Ibu Non Nakes Count 6 0 6

% within Penolong
100.0% .0% 100.0%
Persalinan Ibu

Nakes Count 23 27 50

% within Penolong
46.0% 54.0% 100.0%
Persalinan Ibu

Total Count 29 27 56

% within Penolong
51.8% 48.2% 100.0%
Persalinan Ibu
Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 6.257 1 .012
b
Continuity Correction 4.281 1 .039

Likelihood Ratio 8.567 1 .003

Fisher's Exact Test .024 .015

Linear-by-Linear Association 6.145 1 .013


b
N of Valid Cases 56

a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2.89.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

For cohort pemberian ASI


eksklusif = Tidak ASI 2.174 1.610 2.935
eksklusif

N of Valid Cases 56

dukungan tenaga kesehatan * pemberian ASI eksklusif

Crosstab

pemberian ASI eksklusif

Tidak ASI ASI


eksklusif eksklusif Total

dukungan tenaga kesehatan kurang mendukung Count 11 0 11

% within
dukungan
100.0% .0% 100.0%
tenaga
kesehatan
mendukung Count 18 27 45

% within
dukungan
40.0% 60.0% 100.0%
tenaga
kesehatan

Total Count 29 27 56

% within
dukungan
51.8% 48.2% 100.0%
tenaga
kesehatan

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 12.745 1 .000
b
Continuity Correction 10.455 1 .001

Likelihood Ratio 16.990 1 .000

Fisher's Exact Test .000 .000

Linear-by-Linear Association 12.517 1 .000


b
N of Valid Cases 56

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5.30.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

For cohort pemberian ASI


2.500 1.748 3.576
eksklusif = Tidak ASI eksklusif

N of Valid Cases 56
Dukungan keluarga * pemberian ASI eksklusif

Crosstabulation
pemberian ASI eksklusif

Tidak ASI ASI


eksklusif eksklusif Total

dukungan keluarga kurang mendukung Count 16 1 17

% within
dukungan 94.1% 5.9% 100.0%
keluarga

mendukung Count 13 26 39

% within
dukungan 33.3% 66.7% 100.0%
keluarga

Total Count 29 27 56

% within
dukungan 51.8% 48.2% 100.0%
keluarga

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 17.520 1 .000
b
Continuity Correction 15.170 1 .000

Likelihood Ratio 20.307 1 .000

Fisher's Exact Test .000 .000

Linear-by-Linear Association 17.207 1 .000


b
N of Valid Cases 56

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8.20.

b. Computed only for a 2x2 table


Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for dukungan


keluarga (kurang mendukung 32.000 3.814 268.511
/ mendukung)

For cohort pemberian ASI


eksklusif = Tidak ASI 2.824 1.783 4.470
eksklusif

For cohort pemberian ASI


.088 .013 .598
eksklusif = ASI eksklusif

N of Valid Cases 56