Você está na página 1de 7

Oleh: R Giryadi

(pekerja teater)
Prolog
Sebelum menjadi pelakon/pemeran/aktor, ada baiknya, mari kita memahami ‘siapa
aktor’ dan bagaimana kedudukannya dalam sebuah pertunjukan teater dengan
perangkat artistik lainnya.

Saya menyederhanakan persiapan pemeran menjadi beberapa bagian. Sebenarnya,


persiapan menjadi aktor tidak hanya disiapkan saat sekian waktu sebuah pertunjukan
akan digelar, tetapi, aktor profesional telah menyiapkan hidupnya sebagai bagian dari
mempersiapkan dirinya menjadi aktor di atas panggung.

Karena itu mari kita simak persiapan menjadi aktor dengan bahasa yang sederhana
saja.

1. Aktor
Sebuah pertunjukan drama atau teater membutuhkan seorang
pemeran/pelakon/aktor. Melalui pelakon inilah drama atau teater berlangsung. Melalui
pelakon nilai-nilai drama bisa terungkap. Melalui pelakon konflik dalam drama bisa
diwujudkan.
Seorang pelakon, menjadi ‘alat’ untuk menghidupkan teks drama yang ditulis oleh
seorang penulis naskah drama. Kehadiran pelakon, menjadi penting dari teks drama
itu sendiri. Karena melalui pelakon, wujud teks drama bisa hidup.
Namun bagaimana seorang pelakon mampu menghidupkan teks drama itu dalan
kenyataan teater? Inilah yang menjadi menarik kita bicarakan. Karena bagimanapun
seorang pelakon adalah tetaplah pribadi yang utuh, yang mungkin berbeda dengang
tokoh yang ada dalam teks drama. Artinya, seorang pemeran atau pelakon atau
aktor/aktris adalah seniman yang dengan profesi dan prestasinya tidak terlepas dari
unsur-unsur kemanusiaan yang umum.
Fungsinya dalam sebuah pertunjukan drama, seorang pelakon juga menjadi penafsir
dan mewujudkannya dalam tafsir peran yang telah ditemukan, secara sadar
melibatkan diri dalam keutuhan kerja ensambel.
Pun demikian, kerja penafsiran ini, tetaplah tidak lepas dari konsep peran yang telah
digariskan sutradara berdasarkan naskah, serta mengembangkannya dalam
kenyataan teater (saat pertunjukan berlangsung). Melaksanakan kerja sama dengan
pemeran lain serta semua unsur produksi dalam kerja ensambel.
Pada dasarnya tidak sesederhana itu tugas dan fungsi aktor atau pelakon dalam
sebuah pertunjukan drama. Masalah yang dihadapi oleh seorang pelakon, memang
agak unik. Seorang pelakon berada dalam posisi antara ketegangan tokoh (teks) dan
pribadi (pelakon) yang utuh sebagai manusia yang punya latar belakang kejiwaan
sendiri.
Dengan penguasaan teknik pemeranan, seorang pelakon harus mendayagunakan
dan menyatukan secara proporsional seluruh peralatan pemeranannya. Dengan
modal ketrampilan dan bakat yang dipunyai ia harus mampu menampilkan gagasan
menjadi wujud watak-watak yang nyata, dengan efek yang diperhitungkan bagi
penontonnya.
Karena itu, seorang pelakon dituntut untuk bisa mengevaluasi dirinya sendiri dan
dalam hal ini ia harus (bisa) mengembangkan apa yang disebut sebagai ‘double
vision of himself’ (berperan ganda), yaitu sebagai (a)‘creator of role’ (sebagai pencipta
peran) dan sebagai (b) ‘the embodiment of a character.’ (mewujudkan karakter)
a. Sebagai kreator atau pencipta peran, ia tetaplah individu yang hidup dan
menyumbangkan kepekaan seninya dalam kerja kolektif seni teater. Sebagai individu
ia juga adalah wakil pribadi sutradara yang ingin membentangkan renungan seorang
pengarang.
b. Sebagai pelakon (bagian dari seni drama) ia dituntut untuk menghidupkan naskah di
atas pentas (mewujudkan karakter). Sebagai ‘alat artistik’ ia kadang-kadang bertindak
sebagai benda mati dan menuruti perintah dari yang ‘memperalatnya.’
Mengingat begitu pentingnya seorang pelakon, ia dituntut untuk memenuhi (memiliki)
kualitas-kualitas tertentu. Karena itu, pelakon juga dituntut tidak sekedar
mengembangkan talent, skill, creativity, tetapi juga menunjukan personality seorang
pemain.
Untuk mencapai itu, seorang pelakon harus mempunyai: kempuan, mau belajar, dan
latihan secara kontinyu. Pegangan pokok seorang pelakon adalah: belajar, berkarya,
berdisiplin dan bertanggungjawab, mempertahankan kepribadiannya.
Seorang pemeran harus selalu belajar meningkatkan daya tangkapnya terhadap ide-
ide sutradara dan belajar membuat ide-ide yang akan disodorkannya dalam sebuah
latihan.
Karenanya menjadi pelakon perlu memiliki sumberdaya dasar yang harus dijaganya
yaitu: jasmani dan rohani. Menguasai sumberdaya dasar ini sangat penting, sebelum
seorang pelakon memasuki ‘peran’ yang sebenarnya.
2. Fisik Aktor
Seorang aktor bekerja dengan fisiknya. Ia hadir dalam ruang pertunjukan sebagai
sosok yang plastis. Ia hadir bukan lagi sebagai dirinya tetapi sebagai ‘orang lain’ yang
direpresentasikan lewat gerak tubuh, mimik, dan emosi.
Fisik seorang aktor adalah alat utama yang harus dikuasai atau dilatih sehingga
mampu hadir sebagai sosok yang meruang dalam sebauh pertunjukan drama.
Penguasaan fisik ini meliputi: penguasaan tubuh/badan. Seorang aktor harus
menguasai kelenturan tubuhnya, ketegangan dan kekendoran otot-ototnya.
Seorang aktor perlu menguasai anggota tubuh/badannya yang meliputi penguasaan
terhadap jaringan-jaringan otot kepala, tangan, kaki dan lain sebagainya.
Seorang aktor juga perlu memiliki kualitas suara yang baik. Hal ini meliputi dengan
kualitas pernapasan, kualitas vokal, pengucapan, resonansi, dan ragam warna vokal.
Pancaindra seorang aktor juga perlu diasah dalam kaitannya dengan kepekaan-
kepekaan menangkap fenomena di atas pentas (kenyataan panggung). Panca indra
itu melingkupi daya pengelihatan, pendengaran, penciuman, perasaan kulit panas
dingin dan perasaan lidah, dan lain sebagainya.
Untuk mendapatkan fisik yang baik, seorang aktor perlu mempersiapkan dengan
latihan: olah tubuh, olah vokal, dan olah panca indra (kepekaan)
Latihan olah tubuh terdiri dari latihan-latihan yang meliputi ; peregangan otot, melatih
kelentukan tubuh terutama tulang punggung, melatih persendian, dan memperkuat
stamina.
Latihan olah vokal terdiri dari latihan-latihan dasar yang meliputi: latihan pernafasan,
pemanfaatan suara, dan latihan pengucapan, artikulasi dan diksi.
Tubuh dan gerakan seoarang pelakon sering dipersoalkan karena terkadang seorang
pelakon berdiri, berjalan, dan bergerak tampak kaku. Karena itu, tubuh, gerstur, mimik
adalah juga alat bicara.
Gerakan tubuh tertentu dapat menunjukan kejemuan, kegembiraan, duka,
kejengkelan, dan lain sebainya. Bahkan dalam gerakan tertentu menyarankan
perwataknyannya; seorang tua, penggelisah, tidak sabar.
Banyak sekali calon pemain yang merasa kikuk dan kaku bergerak diatas pentas,
meskipun diluar pentas ia mampu bergerak dengan luwes sekali. Namun ketika diatas
pentas, meletakan tangan, kaki, dan dirinya dalam satu posisi tertentu saja terkadang
begitu tidak wajar, bahkan cenderung kaku.
Sebab itu seorang calon pemain harus berlatih rilek. Untuk bisa rilek di atas panggung,
seorang pemeran harus menguasai pernapasan. Dengan menguasai pernapasan
tubuh menjadi rilek, rasa kikuk dan kaku hilang. Bahkan dengan penguasaan tubuh
yang baik, seorang pemeran akan mampu menyampaikan aktingnya dengan wajar.
Seorang pelakon perlu memiliki tubuh yang siap mengabdi pada akting. Dan
karenanya menyiapkan tubuh yang lentuk untuk kondisi apapun perlu dimiliki oleh
seorang pelakon.
3. Rohani Aktor
Rohani seoarang pelakon, sesuatu yang tidak begitu saja tampak dalam panggung.
Karena rohani aktor meliputi faktor internal pelakon yang ada dalam diri pribadi. Tetapi
tidak bisa dibohongi, pancaran rohani ini akan tetap membekas dalam sebuah praktik
pemeranan. Karenanya menjadi pelakon, pengalaman rohani akan memberikan
kualitas keaktorannya.
Penguasaan sarana rohani itu meliputi, pikir dan rasa, yang di dalamnya terdapat
masalah etika (sikap hidup dan moral), daya intelegensia (sikap pemikiran dan logika
yang wajar), dan masalah estetika (memiliki kepekaan pada keindahan).
Untuk mampu menggali rohani, seorang pelakon perlu melakukan latihan-latihan
diantaranya latihan konsentrasi. Konsentrasi adalah suatu kesanggupan yang
memungkinkan seorang pelakon mampu mengerahkan semua kekuatan rohani dan
pikiran ke arah sasaran yang jelas dan melanjutkannya secara terus menerus selama
dikehendaki.
Dasar dari ajaran konsentrasi adalah penguasaan diri sendiri, sedangkan upaya
penguasaan diri sendiri itu hanya dapat dicapai melalui telaah diri dan berlatih secara
mandiri.
Selain penguasaan diri sendiri, seorang pelakon harus mampu menggali emosi-emosi
yang mungkin sudah terkubur dalam ingatan. Inilah yang disebut ingatan emosi.
Ingatan emosi sangat dibutuhkan oleh seorang pelakon pada saat ia
merepresentasikan emosi-emosi tertentu bagi kelangsungan peran yang sedang
dijalankan. Untuk mewujudkan itu bukanlah pekerjaan mudah. Karena itu, seorang
pelakon dituntut bisa menggali emosi-emosi dalam dirinya yang mungkin bersesuai
dengan peran yang sedang di bawakan.
Iangatan emosi adalah perangkat sang pelakon untuk bisa mengungkap atau
melakukan hal-hal yang berada di luar dirinya-berdasar pada telaah pada diri,
bertelaah pada sumber-sumber motivasi atau lingkungan motivasi yang bisa diamati
dan dimanfaatkan sebagai sumber akting.
4. Aktor dan Naskah
Dimana posisi aktor, pemeran atau pelakon, ketika teks drama itu diwujudkan dalam
suatu pertunjukan?
Aktor atau seniman pemeran adalah seniman yang mewujudkan peran lakon (sosok-
sosok pelaku di dalam sebuah cerita atau lakon) kedalam realita seni pertunjukan.
Tugas seorang pelakon adalah menafsiran tokoh yang sedang diperankan.
Penafsiran ini tak lepas dari kemampuan pelakon untuk menggali ide-ide pengarang
terhadap tokoh dalam teks drama.
Menafsirkan tokoh adalah menggali seluruh kemungkinan watak/karakter, idea-idea
tokoh dalam kaitannya dengan seluruh tokoh-tokoh yang hadir dalam rentang waktu
drama berlangsung.
Namun sebagai seniman ia tidak bisa lepas dari unsur-unsur kemanusiaan yang
umum, dan juga fungsinya sebagai manusia utuh dalam lingkungan serta tata nilai
tempat ia hidup dan berkarya. Karena itu, aktor dalam kedudukannya sebagai
manusia yang hadir mewakili tokoh teks drama, menjadi sulit ketika terjadi tarik-
menarik dirinya dan tokoh yang sedang diperankan.
Karena itu keberadaan seorang pelakon di tengah kegiatanya sebagai seniman
penampil, tergantung kemampuan mengolah tiga unsur pokok yang ada pada dirinya.
Ketiga unsur tersebut adalah ‘Pelakon dan dirinya’, ‘Pelakon dan lakon’, ‘Pelakon dan
produksi.’
Pelakon dan dirinya, mengacu pada posisinya dalam seni peran. Yang menjadi media
seni peran adalah diri pelakon itu sendiri. Yang dimaksud diri adalah tubuh dan
sukmanya (bukan tubuh dan sukma tokoh yang sedang diperankan).
Pelakon dengan dirinya adalah pelakon dengan seluruh sumber daya yang
dimilikinya. Termasuk di dalamnya panca indra, anggota tubuh, vokal (suara),
imajinasi, emosi, daya ingat, dan intelegensia.
Semuannya itu adalah alat untuk menyampaikan pesan-pesan, idea-dea tokoh yang
ada dalam teks drama. Namun bagaimana pesan-pesan atau idea-idea tokoh itu
mampu hadir pada penonton dalam pengertian yang utuh, bukan sebagai sosok
dirinya tetapi sebagai sosok tokoh yang sedang diperankan?
Inilah yang dimaksud dengan ‘Pelakon dan lakon’. Dimana posisi si aktor (diri) dalam
menghadapi diri yang lain dalam sebuah lakon. Sebagai Pelakon ia juga harus bekerja
sama dengan perangkat-perangkat di luar dirinya (pelakon) dan diri (tokoh dalam teks
drama).
Pelakon harus tahu bagaimana sebuah naskah ditafsirkan agar ia mengerti
penafsiran yang diberikan padanya oleh sutradara. Menghadapi sebuah naskah,
mula-mula secara kasar seorang pelakon, mencoba mencari apa yang disebut
‘dramatic material’, yaitu segala sesuatu yang ada di dalamnya atau disarankan
olehnya: ucapan-ucapan, watak, tata pentas, ide-ide, dan lain-lain.
Bahan dramatik ini lalu digolongkan pada apa yang disebut ‘nilai-nilai’ untuk para
penonton. Nilai-nilai itu bisa terdiri dari; nilai-nilai intelektual, nilai emosional, dan nilai
abstrak.
Pemeran akan menghadapi dua nilai yaitu: intrinsik yang terkandung dalam naskah
dan ekstrinsik (di luar naskah) seperti dengan dirinya sendiri, sutradara, aktor lain,
pentas, setting, property, dan lain-lain.
Dalam menghadapi naskah pelakon perlu melakukan hal-hal: A. Analisa pikir dan rasa
terhadap gambaran watak yang akan dibawakannya. B, identifikasi terhadap watak.
C, personifikasi terhadap watak yang akan dibawakannya. D, hadir dalam pentas
dengan bantuan sutradara. E, latihan diluar latihan.
5. Aktor dan Vokal
Vokal, suara dan cakapan sering disebut kendaraan imajinasi. Karena itu vokal atau
suara aktor sangatlah menentukan bagaimana imajinasi itu sampai kepenonton
dengan kadar yang meyakinkan.
Secara formal unsur suara dalam pemeranan biasa disebut sebagai vokal untuk
membedakan dari pengertian bunyi yang umum.
Fungsi vokal (suara) yaitu sebagai perangkat ekspresi manusia. Sebagai perangkat
ekspresi pemeran, vokal telah bertambah fungsi dan takarannya, menjadi alat yang
bisa dibentuk dan dimainkan, dalam rangka untuk mewujudkan gambaran lengkap
sosok peran.
Namun pada dasarnya setiap aktor mempunyai daya lontar vokal yang memadai
juntuk berekspresi. Selain itu muatan emosi vokal masing-masing aktor juga berbeda-
beda.
Sebelum menentukan casting ada baiknya seorang pemeran dinilai suaranya.
Dengan suara yang berkualitas baik, idea-idea drama dimungkinkan sampai pada
penonton. Tidak hanya terdengar indah, tetapi kualitas suara bisa juga mempengarui
suasana batin penonton yang mendengarnya.
Suara pemain adalah bagian yang palingkhas dan telanjang dalam pemeranan.
Kedudukannya tidak bisa diakal-akali (dikamuflase) atau ditambal sulam dengan
teknik lain.
Olah vokal, suara dan pengucapan mengacu pada kemampuan berbicara dengan
kadar emosi tertentu, sederhana dan terpancar dari hati.
6. Aktor dan Ruang
Yang dimaksud ruang adalah atmosfir. Atmosfir teater terjadi atas empat usur:
naskah, pemain, tempat pertunjukan dan penonton yang ‘berinteraksi’ dalam satu
kesatuan waktu tertentu.
Atmosfir teater bisa tercipta bila sebuah naskah lakon dipertunjukan dengan tingkat
permainan secara optimal, bertenaga dan berpengaruh. Untuk mencapai itu, perlu
kerja ensemble antar unsur artistik teater yang dipandu oleh seoarang sutradara.
Sebagai aktor, ia harus mampu berada dalam ruang tersebut. Atau dalam istilahnya
laku meruang. Laku ini berada dalam posisi yang pas antara keseluruhan irama,
tempo, permainan, dalam satu kesatuan waktu.
Teater merupakan satu kesatuan unsur idea (naskah), permainan, tempat bermain
dan penonton. Maka laku dan kata yang meruang itu artinya lahir dari seni akting dan
penguasaan vokal yang mampu berkomunikasi dengan penontonnya.
Ruang dalam teater adalah media yang hidup dan dihidupkan secara insani, karena
itu ia adalah sarana ekspresi yang harus diperlakukan secara kreatif.
Tugas utama seorang pemeran/pelakon adalah membawakan peran sesuai dengan
porsi yang tersedia untuknya. Laku pentas yang meruang mengandung arti karya
pemeran tersebuyt telah memenuhi standar kelayakan karya seni, baik secara teknis
telah memiliki tiga unsur utama; membawa penjelasan, memperlihatkan suatu
pengembangan, dan mengacu pada suatu kesatuan (unity).
7. Aktor dan Aktor
Bermain drama adalah bekerjasama. Karena itu aktor hadir tidak lepas dengan
keberadaan aktor-aktor lainnya yang memerankan tokoh lain. Karena itu, sebagai
aktor juga harus mampu menempatkan diri diantara aktor-aktor yang lain.
Penempatan diri ini menyangkut bagaimana aktor mampu berinteraksi dengan baik,
sehingga kerja aktingnya merupakan kerja komunikasi yang intens bersama aktor
yang lain, sekecil apapun bentuknya.
Aktor, meski sedang menjalani sebagai peran utama (protagonis) harus tetap
memahami posisi dan porsi peran-peran lain seperti peran antagonis, yang sangat
bertentangan dengan peran yang sedang diperankan. Begitu sebaliknya.
Keberadaan aktor dalam sebuah pemeranan, tetap tidak akan lepas dari aktor lain.
Karenanya dalam berakting seorang aktor harus mempertimbangkan perkembangan
tokoh-tokoh yang lain, sehingga aktingnya dalam porsi yang pas.
Sebagai aktor ia harus mampu bekerjasama dengan aktor lain dalam mencapai tujuan
sebuah drama. Pada intinya suksesnya permainan itu terletak pada kesempurnaan
cara menanggapi di antara para pemain. Kecuali untuk adegan monolog, adegan ini
tidak dihidupkan oleh seorang pemain saja, melainkan harus dibantu oleh pemeran-
pemeran lainnya.
Dengan kata lain, seorang pemeran, tidak bisa berdiri sendiri di atas pentas. Aktingnya
merupakan hasil kerjasama, memahami, merespon, mendengar, bersama pemeran-
pemeran lain dalam rentang waktu yang sama.
Seorang aktor protagonis tidak akan hidup tanpa hadirnya aktor antagonis. Begitu pula
sebaliknya. Coba sekarang bayangkan, betapa janggalnya bila masing-masing aktor
ingin menonjolkan diri-sendiri dalam berperan di pertunjukan drama?
8. Aktor dan Sutradara
Siapa sutradara? Apakah sutradara penting kehadirannya dalam sebuah pertunjukan
drama, kalau aktor sendiri sudah mampu menafsirkan sebuah teks drama?
Apa yang dimaksud sutradara atau penyutradaraan di Indonesia pada umumnya tidak
berpadanan dengan kata directing dalam bahasa inggris. Di Indonesia, jika seorang
sedang menyutradarai, dia sedang tidak melakukan penyutradaraan, tetapi sedang
mengajari bermain drama.
Sering kita jumpai, seorang sutradara menjadi penafsir utama dalam sebuah proses
memahami peran dalam teks drama. Karenanya seorang aktor, (dalam kondisi
tertentu) akan menjadi alat penyampai tafsir dari sang sutradara.
Kondisi ini justru akan menyulitkan aktor untuk mengembangkan permainannya,
karena tuntutan tafsir dari sang sutradara. Meski tugas utama sutradara adalah
menafsirkan naskah bukan berarti, segala tafsir harus berpangku padanya. Karena
aktor tetaplah memiliki pribadi yang utuh untuk menafsirkan peran yang sedang
disandangkan.
Karena itu, antara aktor dan sutradara perlu bekerja sama dalam fungsinya untuk
mewujudkan tafsir teks drama yang selaras.
Sutradara sebagai penafsir utama dan aktor sebagai penafsir kedua, haruslah
mempunyai tujuan yang sama. Sebagai panafsir utama, tugas sutradara memberikan
dorongan kesadaran diri para pemain (penafsir kedua) agar dapat mengembangkan
tafsir utama, menjadi motif aktingnya. Disini sutradara harus berusaha agar pemain
menyadari bahwa hal itu sangat penting dalam pembentukan lakon.
Disinilah peran aktor sangat penting. Aktor tetap dituntut mampu mengembangkan
intruksi-intruksi sutradara sesuai dengan tafsirnya.
Analisis isi, analisis struktur, anailis sosok peran yang telah dibuat sutradara, haruslah
menjadi bagian yang memberi peluang dalam mengembangkan laku si aktor.
Dari analisis-analisis itulah nalar akan terbuka, dan daya kreatifpun akan bergetar,
untuk menghayati secara mendalam dalam membawakan laku secara pas, dan
melaksanakan peran dengan takaran yang berimbang dalam azas keutuhan,
keseimbangan, dan keselarasan.
Epilog
Itulah persiapan yang harus dilakukan oleh seorang aktor. Tentunya persiapan ini
sangat sederhana, dan masih bisa dikembangkan. Bergantung seberapa jauh kita
menginginkan takaran keaktoran itu menjadi berbobot hingga pertunjukan lebih
menarik.
Karena itu semua perpulang pada peserta workshop. Selebihnya mari kita diskusi dan
berpraktik.
@@@
Bahan Bacaan:
1. Bagi Masa Depan Teater Indonesia, Arifin C Noer dkk, (1983), PT Granesia
Bandung
2. Kumpulan Drama Remaja, A.Rumandi (edt), (1988), PT Gramedia, Jakarta
3. Menjadi Aktor, Suyatna Anirun, (1998),Studiklub Teater Bandung
4. Menjadi Sutradara, Suyatna Anirun (2002), STSI Press Bandung
5. Tentang Bermain Drama, Rendra (1989), Pustaka Jaya, Jakarta
6. Teater, Sebuah Perkenalan Dasar, Max Arifin (1980), Nusa Indah, NTT