Você está na página 1de 13

A.

Sejarah Penemuan Dan Perkembangan Analisis Kation Golongan IV


 Barium
Barium pertama kali diisolasi oleh Sri Humphry Davy,seorang ahli kimia
inggris, pada tahun 1808 melalui elektrolisis Baryta cair (BaO). Barium tidak
pernah ditemukan bebas di alam karena bereaksi dengan oksigen di udara,
membentuk barium oksida (BaO), dan dengan air, membentuk barium hidroksida
)Ba(OH)2) dan gas hidrogen (H2). Barium ini paling sering ditemukan sebagai barit
mineral (BaSO4) dan witherite (BaCO3) dan terutama diproduksi melalui elektrolisis
barium kloirda (BaCl2).
Barium digunakan sebagai getter, bahkan yang menggabungkan dan
menghapus jejak gas dari tabung vakum. Barium sulfat (BaSO 4), senyawa barium
umum digunakan sebagai pengisi untuk karet, plastik, dan resin. Barium
karbonat (BaCO3), digunakan dalam pembuatan keramik dan beberapa jenis kaca.

 Stronsium
Stronsium pertama kali ditemukan di kota Strontian di Skotland.
Stronsium adalah unsur kimia dengan lambang Sr dan ini berwarna kuning saat
terkena udara. Hal ini terjadi secara alami dalam mineral Celestine dan
Strontianite. Stronsium pertama kali ditemukan tahun 1790 oleh Adair Crawford,
seorang kimiawan Irlandia, saat mempelajari witherite mineral (BaCO3). Stronsium
pertama kali diisolasi tahun 1808 oleh Sir Humphry Davy, seorang ahli kimia
Inggris, melalui elektrolisis dari campuran stronsium klorida (SrCl2) dan oksida
merkuri (HgO). Stronsium diperoleh dari dua bijih yang paling utama, celestite
(SrSO4) dan strontianite (SrCO3), dengan memperlakukan mereka dengan asam
klorida, membentuk stronsium klorida.
Sebagian besar stronsium saat ini digunakan dalam pembuatan tabung
gambar televisi berwarna. Stronsium juga digunakan dalam memproduksi magnet
ferrite (kombinasi stronsium dengan besi) dan dalam penyulingan seng. Dua
senyawa strontium, yaitu strontium karbonat (SrCO3) dan strontium nitrat
(Sr(NO3)2), terbakar dengan nyala merah terang dan digunakan dalam kembang api
dan suara sinyal. Stronsium klorida kadang-kadang digunakan dalam pasta gigi
untuk gigi sensitive. Stronsium ranelate digunakan dalam pengobatan
osteoporosis.

 Sejarah Kalsium
Kalsium logam pertama kali diisolasi oleh Sir Humphry Davy pada tahun
1808 melalui elektrolisis dari campuran kapur (CaO) dan oksida merkuri HgO).
Nama unsur Kalsium (Ca) berasal dari kata latin untuk kapur. Kalsium logam
diperoleh dengan menggusur atom kalsium dalam kapur dengan atom aluminium
dalam wadah panas, tekanan rendah, sekitar 4,2% dari kerak bumi terdiri dari
kalsium.
Kalsium digunakan untuk menghilangkan oksigen, sulfur dan karbon dari
paduan tertentu. Kalsium karbonat digunakan untuk membuat cat putih, bubuk
pembersih, pasta gigi dan antasida perut. Kalsium nitrat (Ca(NO 3) digunakan pada
pembuatan pupuk.

B. Konsep Dasar Analisis Kation Golongan IV


Untuk tujuan analisis kualitatif analisis sistematik kation-kation diklasifikasikan dalam 5
golongan berdasarkan sifat-sifat kation itu terhadap beberapa reagenesia. Dengan pemakaian
reagenesia golongan secara sistematik, dapat ditetapkan ada tidaknya golongan kation.
Reagenesia golongan yang dipakai untuk klasifikasi kation yang paling umum, adalah asam
klorida, hidrogen sulfide, ammonium sulfide, dan ammonium karbonat. Klasifikasi ini
didasarkan dari ada tidaknya suatu endapan.
Kation golongan IV tidak dapat bereaksi dengan reagenesia golonga I, II, dan III. Kation-
kation ini membentuk endapan dengan ammonium karbonat dengan adanya ammonium
klorida, dalam susunan netral atau sedikit asam. Kation golongan ini adalah: kalsium,
stronsium, dan barium. Beberapa system klasifikasi golongan meniadakan pemakaian
ammonium klorida disamping ammonium karbonat sebagai reagensia golongan, dalam hal ini
magnesium, harus juga dimasukkan ke dalam golongan ini. Tetapi, dalam pengerjaan analisis
yang sitemmatis, ammonium klorida akan terdapat banyak sekali ketika kation-kation
golongan IV akan diendapkan, akan lebih bagus untuk tidak memasukkan magnesium ke
dalam golongan IV.
Kation golongan IV tidak dapat diendapkan langsung dari filtrate yang diperoleh setelah
pengendapan golongan IIIB, karena ia mengandung garam-garam amonium dalam
konsentrasi yang terlalu tinggi. Konsentrasi ammonium yang tinggi akan mencegah
pengendapan secara kuantitatif dari karbonat alkali tanah, karena ion ammonium
mengurangi konsentrasi ion karbonat dalam larutan melalui kesetimbangan: 𝐶𝑜32− + 𝑁𝐻4+ ↔
𝐻𝐶𝑜3− + 𝑁𝐻3 . Untuk menghilangkan garam ammonium dapat dilakukan melalui sublimasi atau
dengan asam nitrat pekat. Namun, ammonium harus ada didalam sampel walau hanya
sedikit agar tidak terjadi pengendapan magnesium, hal ini dapat dilakukan dengan
menambahkan sedikit ammonium klorida. Pengendapan dengan ammonium karbonat
berlangsung dalam rautan yang panas namun tidak sampai mendidih agar diperoleh bentuk
berupa butiran yang bisa disaring dan dicuci.

C. Beberapa Tipe/Jenis Analisis Kation Golongan IV


Dua langkah utama dalam analisis adalah identifikasi dan estimasi komponen-komponen
suatu senyawa. Langkah identifikasi dikenal sebagai analisis kualitatif sedangkan langkah
estimasi dikenal sebagai analisis kuantitatif.

1. Analisis kualitatif
Analisis kualitatif bertujuan untuk menemukan dan mengidentifikasi suatu zat. Jadi
analisis kualitatif berhubungan dengan unsur ion atau senyawa apa yang terdapat dalam
sampel. Analisis kualitatif menggunakan 2 macam uji, reaksi kering untuk zat-zat padat
dan reaksi basa untuk zat dalam larutan.
a) Reaksi kering
 Pemanasan
 Uji pipa-tiup
Suatu nyala mereduksi dihasilkan dengan menaruh pipa tiup teapt diluat
nyala dan meniup dengan lembut sehingga kerucut berayun pada zat yang
diperiksa. Suatu nyala dihasilkan dari memegang mulut pipa tiup kira-kira
sepertiga ke dalam nyala dan meniup meniup lebih kuat kearah sejajar
dengan puncak pembakar, puncak nyala dibiarkan mengenai zat itu. Sepeti
pada gambar 1.1:
 Uji nyala
Nyala Bunsen dibagi menjadi 3 bagian: kerucut biru dalam, ujung terang,
dan selubung luar. Seperti pada gambar 1.2:

 Uji spektroskopi (spectra nyala)


Uji nyala dalam analisis ialah memisah-misahkan cahaya atas rona-rona
komponennya dan mengidentifikasi berdasarkan warna rona nyalanya. Alat
yang digunakan spektrokop. Seperti pada gambar 1.3:

Spektrokop terdiri dari kalimator A yang melepaskan berkas sinar sejajar


pada prisma B, yang dipasang pada suatu meja putar, teleskop C dengan
mana spectrum tersebut diamati, dan sebuah tabung D yang berisi skala
garis-garis rujukan yang dapat diampitkan pada spectrum.
 Uji manik boraks, fosfat, dan natrium karbonat

b) Reaksi basah
Uji ini dibuat dengan zat-zat dalam larutan. Suatu reaksi diketahui berlangsung
dengan terbentuknya endapan, dengan pembebasan gas, dan dengan perubahan
warna.
 Tabung reaksi
 Gelas piala (beaker glass)
 Labu Erlenmeyer
 Batang pengaduk
 Botol cuci
 Pengendapan
Dengan mungganakan reagen yang berlebih agar proses terjadinya
pengendapan tampak terlihat.
 Pengendapan dengan hidrogen sulfide
Dalam uji ini digunakan menggunakan metode tekanan. Seperti gambar 1.4:

 Penyaringan
Dilakukan dengan menggunakan kain kasa agar filtrate dan endapan
terpisah.
 Melepaskan endapan dari kertas saring
 Membantu penyaringan
Alat sederhana yang digunkan adala menggunakan corong dengan pipa
panjang. Seperti pada gambar 1.5:

 Penguapan
Pengupan ini dilakukan dengan tujuan untuk penguapan mengurangu
volume atau penguapan sampai kering. Alat yang digunkan berupa pipa
kaca panjang yang buntu dengan pelelehan sekitar 1 cm dari 1 ujungnya,
yang ujungnya dicelukpan di dalam laruta. Seperti pada gambar 1.6:

 Mengeringkan endapan
 Membersihkan alat

2. Analisis kuantitatif
Analisis kuantitatif bertujuan untuk menentukan jumlah atau banyaknya zat. Jadi,
analisis kuantitatif berhubungan dengan berapa banyak suatu zat tertentu yang ada
dalam sampel. Jumlah banyaknya suatu zat tertentu dalam sampel, disebut.
kadar/konsentrasi, misal, molar. Persen berat, gram per liter, ppm.
Banyak sedikitnya sampel dan jumlah realatif konstituen penyusun sampel adalah
karakteristik penting metode analisis kuantutatif.
1) Analisis makro bila sampel yang dianalisis adalah lebih dari 0,1 gram,
2) Analisis semi mikro jumlah sampel antara 0,01 gram – 0,1 gram,
3) Analisis mikro jumlah sampel antara 1 mg – 10 mg.
Tahapan-tahapan dalam analisis kuantitatif:
1) Penarikan sampel,
2) Mengubah konstituen yang diinginkan kebentuk yang dapat terukur,
3) Pengukuran konstituen yang diinginkan,
4) Perhitungan dan interpretasi data analitik.

D. Komponen Peralatan Analisis Kation Golongan IV


1) Tabung reaksi

1.1
2) Rak tabung reaksi

1.2
3) Pembakar spiritus
1.3
4) Pipet tetes

1.4
5) Gelas ukur 10 mL
1.5

E. Cara Kerja Analisis Kation Golongan IV


 Prosedur 1
Prosedur ini dirancang untuk menghilangkan ion amonium melalui proses oksidasi
reduksi : NH4+ + NO3-  N2O(g) + 2H2O(l)
Prosedur ini bisa dihilangkan seandainya telah menyakini tidak ada garam amonium
dalam sampel. Jika larutan yang digunakan adalah hasil sentrifugasi golongan III,
prosedur ini cukup penting.

 Prosedur 2
Pengarutan konsentrasi ion NH4+ untuk mencegah pengendapan magnesium
karbonat, tetapi dapat mengendapkan karbonat yang lebih sulit larut dari kalsium
dan barium.

 Prosedur 3
Asam asetat, asam yang agak kuat, digunakan untuk membentuk buffer pada pH
optimal dalam langkah beikutnya.

 Prosedur 4
Karena kelarutan BaCrO4 pada pH rendah, sistem buffer asam asetat/ion asetat
digunakan untuk proses pengendapan ion Ba 2+ secara sempurna.

 Prosedur 5
Walaupun pembentukan endapan kuning pada prosedur 4 cukup menjamin adanya
ion Ba2+, tes nyala pada prosedur ini digunakan untuk memantapkan. Nyala hiaju
cerah sampai biru dari garam kloridanya menunjjukkan keberadaan Ba 2+ dalam
sampel.

 Prosedur 6
Langkah ini penting untuk memisahkan Ca 2+ dari ion CrO42- yang digunakan pada
prosedur 4.

 Prosedur 7
Kalsium oksalat, CaC2O4, diendapkan terbaik dalam suasana netral atau sedikit basa.
 Prosedur 8
Walaupun pembentukan endapan pada prosedur 7 sudah menggambarkan
keberadaan Ca2+ dalam sampel, tes nyala akan lebih memantapkannya. Warna tes
nyalanya kadan tidak spesifik, tetapi dengan membandingkan terhadap larutan CaCl2
dapat diidentifikasi keberadaan Ca2+. Seperti pada bagan 1.6:

Ba2+, Ca2+, (NH4)

HNO3 15 M, Uapkan, panaskan residu,

HCl 6 M, H2O

Ba2+, Ca2+, H+

NH3 6M, (NH4)2CO3 3M

BaCO3(S), CaCO3(S) Larutan, untuk analisis


selanjutnya

CH3COOH 6 M, Panaskan

Ba2+, Ca2+, (H+, CH3COO-)

CH3COONH4 3M

K2Cr2O7 0,1M, Panaskan

BaCrO4(S) Ca2+, (H+, Cr2O72-)

HCl 12M, Uji nyala NH3 6M, (NH4)2CO3 3M

Nyala kuning-hijau

CaCO3(S) Cr2O72-
2+
Ba positif
HNO3 6M, Panaskan

Ca2+, H+

NH3 6M, (NH4)2C204 0,1M

CaC2O4(S)

HCl 12M, Uji nyala

Nyala merah
terang

Ca2+ positif
F. Aplikasi analisis kualitatif kation golongan IV dalam kehidupan
Banyak proses dalam kehidupan sehari-hari membutuhkan konsep-konsep kimia
analitik dan pemisahan senyawa secara kimia, walaupun mungkin tidak disadari
sepenuhnya. Analisis obat dan makanan, analisis kandungan zat gizi dalam makanan,
sampai penanggulangan pencemarahn udara, berbagai aspek penting dalam dunia medis
merupakan proses pemisahan kimia. Misalnya minyak kayu putih yang kita pakai
merupakan hasil pemisahan secara ekstraksi dengan cara destilasi, minyak goreng yang
kita pakai juga diekstrak dari biji kelapa sawit, bahkan kopi instan yang kita minum
setiap hari adalah ekstrak yang diperoleh dari biji kopi.
Barium sulfat (𝐵𝑎𝑆𝑂4 ), merupakan senyawa barium umum yang digunakan sebgai
pengisi untuk karet, plastic, dan resin. Barium karbonat (𝐵𝑎𝐶𝑂3 ), yang digunakan untuk
pembuatan kramik dalam lumpur tanah liat yang digunakan dalam sumur pengeboran
minyak. Barium nitrat (𝐵𝑎(𝑁𝑂3 )2) , terbakar dengan warna hijau terang yang digunakan
dalam pembuatan kembang api.
Sebagian besar strosium digunakan dalam pembuatan tabung gambar televise
berwarna. Strosium juga digunakan dalam memproduksi magnet ferrite dan dalam
penyulingan seng. Strosium karbonat (𝑆𝑟𝑂3 ) dan strasium nitrat (𝑆𝑟(𝑁𝑂3 )2 ), terbakar
dengan nyala api merah terang dan digunakan dalam kembangapi dan suara sinyal.
Strosium klorida digunakan untuk bahan dalam pasta gigi untuk gigi sensitive namaun
pemanfaattannya tidak terlalu sering. Strosium ranelate digunakan dalam pengobatan
osteoporosis.
Kapur (𝐶𝑎(𝑂𝐻)2 ), merupakan bahan dasar kapur yang digunakan diindustri kimia.
Kalsium karbonat digunakan untuk membuat cat putih, bubuk pembersih, dan pasta gigi.
Kalsium sulfat (𝐶𝑎𝑆𝑂4 )/gypsum, yang digunakan untuk membuat plaster. Dan kalsium
fosfat alami (𝐶𝑎3 (𝑃𝑂4 )2 ), bahan utama yang ditemukan dalam tulang dan gigi. Serta
kalsium nitrat (𝐶𝑎(𝑁𝑂3 )2 ), yang digunakan pada pembuatan pupuk.

G. Kelebihan Analisis Kualitataf Golongan IV


 Deskripsi dan interpretasi dari informan dapat diteliti secara mendalam.
 Mempunyai landasan teori yang sesuai fakta.
 Penelitian lebih berjalan subyektif.
 Sangat efektif digunakan dalam mencari tanggapan dan pandangan karna bertemu
langsung.
 Adanya pemahaman khusus dalam menganalisa.

H. Kekurangan Analisa Kualitatif Golonga IV


 Peneliti bertanggung jawab besar terhadap informasi yang disampaikan oleh
informan.
 Bersifat sirkuler.
 Perbedaan antara fakta dan kebijakan kurang jelas.
 Ukuran penelitian kecil.
 Tidak efektif jika ingin meneliti secara keseluruhan atau besar-besaran.

I. Beberapa Penelitian Relevan Dalam Analisis Kation Golongan IV


I. Penyisihan Kandungan Cesium (Cs), Strosium (Sr), Dan Surfaktan
Pada Air Limbah Radioaktif Menggunakan Membrane Nanofiltrasi.
Limbah radioaktif merupakan salah satu jenis air limbah yang berbahaya
dan beracun. Limbah ini banyak dihasilkan dari pembangkitan listrik tenaga
nuklir, pemanfaatan radioisotop pada bidang medis dan agrikultur, serta
penelitian di laboratorium. Pada industri pembangkit listrik tenaga nuklir,
beberapa kegiatan operasional seperti laundry dan pembersihan lantai
menghasilkan air limbah yang mengandung radionuklida level rendah yang
memiliki waktu paruh yang panjang, diantaranya 90Sr dengan waktu paruh 30,2
tahun dan 137Cs dengan waktu paruh 28,8 tahun. Menurut Ding et. al. (2015),
kedua unsur tersebut merupakan radionuklida yang jumlahnya paling banyak
terkandung dalam air limbah radioaktif. Sr merupakan radionuklida yang banyak
ditemukan pada limbah dari reaktor nuklir sebagai hasil dari reaksi fisi nuklir dari
235U dan 239Pu. Radionuklida ini memiliki sifat toksik dan radioaktivitas yang
persisten kuat. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengolah limbah
radioaktif dengan level rendah khususnya yang mengandung Cs dan Sr. Beberapa
metode tersebut diantaranya presipitasi, absorpsi pertukaran ion,
elektrokoagulasi, dan pengolahan menggunakan membrane. Pada penelitian ini,
membran nanofiltrasi NF270 dipilih sebagai alternatif untuk menyisihkan cesium
(Cs), stronsium (Sr), dan surfaktan. Hal ini mengingat membran NF masih jarang
ditemui pada pengolahan air limbah radioaktif. Membran nanofiltrasi mampu
menyisihkan ion divalen dan ion monovalen dengan tekanan operasi yang lebih
rendah dan menghasilkan fluks yang lebih tinggi dibandingkan dengan membran
reverse osmosis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tekanan
operasi dan pH larutan terhadap kinerja membran dalam penyisihan Cs, Sr dan
surfaktan. Pada percobaan ini digunakan Stronsium Nitrat (Sr(NO3)2) sebagai
model Sr, dan Polysorbate 80 (Tween 80) sebagai model surfaktan digunakan
untuk membuat air limbah radioaktif sintetik tunggal dan campuran. Hidrogen
Klorida (HCl) dan Natrium Hidroksida (NaOH) digunakan sebagai pengatur kadar
pH air limbah radioaktif sintetik. Semua bahan tersebut merupakan standar
analisis yang dibeli dari Merck Millipore (Jerman). Membran flat sheet nanofiltrasi
NF270 (DOW FilmTecTM, Amerika) yang memiliki polimer penyusun berupa
komposit poliamida dengan pori sebesar 180 Da digunakan sebagai media
penyaring pencemar dalam air limbah radioaktif sintetik. Alat filtrasi membran
yang digunakan merupakan rangkaian sendiri dan terdiri atas (1) tangki umpan,
(2) pompa, (3) valve, (4) pressure gauge, (5) housing membran, dan (6) tangki
permeat. Penelitian ini menggunakan air limbah radioaktif sintetik yang
mengandung 1 mg/l Cs, 1 mg/l Sr, dan 100 mg/l surfaktan nonionik. Air limbah
radioaktif sintetik ini dibuat dengan melarutkan masing-masing Cs, Sr, dan
surfaktan ke dalam aquadest untuk memperoleh umpan tunggal serta melarutkan
ketiganya ke dalam aquadest untuk memperoleh larutan umpan campuran. pH
larutan dibuat bervariasi 4, 7, dan 9 dengan menambahkan HCl dan NaOH
menggunakan indikator pH sebagai pengukur pH. Analisa Kandungan Cs dan Sr
Konsentrasi Cs dan Sr pada larutan permeat diukur menggunakan inductively
coupled plasma optical emission spectrometry atau ICP-OES (PerkinElmer,
Amerika Serikat). Uji kandungan Cs dan Sr ini dilakukan di Laboratorium Kimia
Universitas Negeri Semarang. Hasil penelitian menunjukkan profil relative flux Sr
pada kondisi pH 4, 7, dan 9 menggunakan tekanan operasi 4, 5, dan 6 bar. Uji flux
Sr memberikan hasil yang serupa dengan Cs. Pada hasil uji flux umpan dengan pH
4, tekanan 6 bar memberikan hasil relative flux yang tertinggi. Sedangkan pada
umpan dengan pH 7 dan 9, hasil relative flux tertinggi berada pada tekanan 5 bar.
Fenomena pada uji flux Sr ini menghasilkan trend yang sama dengan uji flux Cs
karena keduanya merupakan unsur dengan ion positif, sehingga dapat dijelaskan
bahwa Cs dan Sr mengalami kesamaan fenomena pada saat uji flux. Dapat
disimpulkan bahwa Sr, semakin tinggi pH larutan maka semakin rendah tekanan
operasi yang dibutuhkan untuk memperoleh flux yang tinggi serta pH 4
menghasilkan flux tertinggi pada semua tekanan. Sedangkan untuk surfaktan,
tekanan optimum yang dibutuhkan setiap larutan berbeda-beda, namun pH 9
menghasilkan flux tertinggi pada semua tekanan. Flux yang dihasilkan dari uji
menggunakan umpan campuran lebih rendah dibandingkan hasil flux dengan uji
menggunakan umpan tunggal.
II. Analisis Kadar Kalisum (Ca) Pada Daun Kelor (Moringa Oleifera)
Kalsium merupakan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh manusia,
memiliki peranan penting dalam berbagai tahap metabolisme tubuh. Kalsium
berguna untuk mencegah Osteoporosis, pembekuan darah dan membangun tulang
gigi lebih kuat. Kekurangan kalsium dalam tubuh dapat menimbulkan defisiensi
kalsium yang berdampak pada berbagai keluhan pada tulang, gigi, darah, syaraf,
dan metabolisme tubuh. peneliti berkeinginan untuk melakukan penelitian
tentang analisa kadar kalsium (Ca) pada daun kelor (Moringa oleifera). Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisa Kadar Kalsium (Ca) pada Daun kelor (Moringa
oleifera). Tehnik pengambilan sampel pada penelitian ini dengan tehnik Accidental
Sampling. Adapun alat dan bahan yang digunkan adalah Spektrofotometer
Serapan Atom (SSA), alat pemanas, corong gelas, labu ukur 50 ml dan 1000 ml,
gelas ukur 50 ml, gelas piala 100 ml, pipet tetes, pipet volumetrik 1.0 ml; 1.5 ml
dan 2.0 ml, pipet ukur 5 ml, kaca arloji, alat penyaring, timbangan dan deksikator.
Daun Kelor (Moringa oleifera), larutan standar induk kalsium 1000 mg/l, kertas
saring whatman 40, aquades, tissue, label, asam nitrat (HNO3) pekat, dan asam
klorida (HCl) 37% dibuat menjadi HCl (1+1). Mengoptimalkan alat Spektrofotmeter
Serapan Atom (SSA) sesuai petunjuk penggunaan alat, kemudian mengukur
serapan HNO3 2% sebagai Blanko, mengukur serapan dari masing-masing larutan
kerja yang telah di buat pada panjang gelombang 422,7 nm dan melanjutkan
dengan pengukuran contoh uji yang sudah dipersiapkan. Hasil pemeriksaan kadar
kalsium dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut:

Kalsium penting untuk tanaman dan tanah. Kalsium tidak bergerak dari daun-
daun muda, sehingga ketersediaan kalsium sangat dibutuhkan selama siklus hidup
tanaman. Selain itu kalsium berfungsi mengatur serapan ion dan menjaga stabilitas
membran. Kalsium paling banyak terdapat dalam daun dengan ciri daun segar, lebar
dan berwarna hijau muda. Kalsium ataupun zat lain yang terdapat dalam tanah akan
mudah diserap bila pohon tumbuh dengan jarak 3-5 m, sehingga bagian tumbuhan
mudah berkembang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Daun Kelor (Moringa oleifera)
diperoleh kadar Kalsium pada sampel A 7.059,2 mg/L, sampel B 4.652,5 mg/L,
sampel C 3.180 mg/L dan sampel D 2.078,9 mg/L, sampel E 9.268,7 mg/L, dengan
adanya kalsium tersebut dapat memenuhi kebutuhan mineral dalam tubuh manusia.

III. Analisis Kalsium Dan Kalium Pada Ikat Gembung Dan Ikan Gabus

Ikan adalah salah satu contoh bahan pangan yang banyak mengandung protein,
mineral dan juga termasuk bahan pangan yang mudah rusak akibat kadar air
yang sangat tinggi, pH netral, tekstur lunak dan kandungan gizi tinggi sehingga
menjadi media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Terdapat beberapa ikan
yang beredar di masyarakat, yaitu ikan yang hidup di air tawar, antara lain seperti
ikan bawal, belut, gabus, gurami, lele, nila, dan ikan patin. Ikan yang hidup di air
laut, diantaranya ikan tongkol, tuna, salmon, kakap, tenggiri, dan kembung.
Mineral di dalam ikan berperan pada proses fisiologis, dalam sistem fisiologis
manusia, mineral tersebut dibagi menjadi dua bagian yaitu makroelemen seperti
kalsium (Ca), fosfor (P), kalium (K), sulfur (S), magnesium (Mg), natrium (Na), klor
(Cl). Selain makroelemen terdapat juga mikroelemen seperti kobalt (Co), mangan
(Mn), dan seng (Zn). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menetapkan
kandungan dari kalium dan kalsium pada ikan kembung serta ikan gabus, lalu
membandingkan kadar kalium dan kalsium yang terkandung pada ikan kembung
dan ikan gabus. Kadar kalium serta kalsium dapat dianalisis dengan metode
Spektrofotometri SerapanAtom (SSA). Metode ini digunakan karena memiliki
keuntungan dalam kecepatan analisis, dan dapat mengukur kadar logam dalam
jumlah kecil serta spesifik untuk setiap logam tanpa dilakukan pemisahan. Alat
yang digunakan dalam penelitian ini adalah blender (Merk Philips), neraca analitik
(Merk Martix), oven (Merk Binder), labu ukur (IWAKI Pyrex), pipet tetes (Merk
Sakti), pipet mikro (Merk Socorex), pipet volume (IWAKI Pyrex), perangkat
Spektrofotometer Serapan Atom, dan perangkat microwave digesti. Bahan yang
digunakan pada penelitian ini antara lain kalium sulfat (K2SO4) p.a, kalsium
klorida (CaCl2) p.a, sampel ikan gabus dan ikan kembung, HNO3 35% dan 0,1 N,
H2O2 30%. Daging ikan kembung dan ikan gabus ditimbang sebanyak 0,3 g, lalu
didestruksi dengan cara ditambahkan HNO3 35% 8 mL, dan H2O2 30% 2 mL dan
dimasukkan ke dalam vessel, lalu vessel dimasukkan ke dalam High Perfomance
Microwave Digestion System dan didestruksi selama 45 menit pada suhu 180℃.
Sampel hasil destruksi diambil sebanyak 1 mL, lalu ditambahkan larutan baku
kalium dengan konsentrasi 0,8 ppm dan 1 mL larutan sampel hasil destruksi
ditambahkan untuk larutan baku kalsium 2,5 ppm. Kemudian masing masing
laritan ditambahkan HNO3 0,1 N sampai tanda batas pada labu ukur 10 mL.
berdasarkan penelitian dapat ditari hasil penelitian seperti pada tabe 2.2 berikut:

2.2

Hasil analisis kalium dan kalsium pada sampel menunjukkan bahwa ikan
gabus memiliki kadar kalium dan kalsium lebih rendah dari ikan kembung. Hal
tersebut dikarenakan habitat antara ikan kembung dan ikan gabus yang berbeda.
Ikan kembung habitat hidupnya di air laut dengan salinitas (kadar garam) yang
cukup tinggi maka kadar kalium dan kalsiumnya lebih tinggi dari dengan ikan
gabus karena ikan gabus habitat hidupnya di air tawar dengan salinitas lebih
rendah dibandingkan dengan salinitas pada air laut. Metode SSA merupakan
metode yang valid untuk analisis kadar kalium dan kalsium pada ikan kembung
dan ikan gabus. Kadar kalium lebih besar dari kadar kalsium pada kedua jenis
ikan tersebut, serta kadar kalium dan kalsium pada ikan kembung (ikan laut)
lebih besar daripada ikan gabus (ikan tawar).
J. Kesimpulan
Kation golongan IV tidak dapat bereaksi dengan reagenesia golonga I, II, dan III.
Kation-kation ini membentuk endapan dengan ammonium karbonat dengan adanya
ammonium klorida, dalam susunan netral atau sedikit asam. Kation golongan ini adalah:
kalsium, stronsium, dan barium. Beberapa system klasifikasi golongan meniadakan
pemakaian ammonium klorida disamping ammonium karbonat sebagai reagensia
golongan, dalam hal ini magnesium, harus juga dimasukkan ke dalam golongan ini.
Tetapi, dalam pengerjaan analisis yang sitemmatis, ammonium klorida akan terdapat
banyak sekali ketika kation-kation golongan IV akan diendapkan, akan lebih bagus untuk
tidak memasukkan magnesium ke dalam golongan IV. Untuk menganalisis kation
golongan IV digunakan 2 metode yaitu metode kering dan metode basah, namun dalam
hal ini metode basah merupakan metode yag paling sering digunakan, karena dengan
metode ini peneliti dapat menyimpulkan ion-ion apa saja yang ada pada suatu sampel.
Kemudian analisis kuantitatif juga bisa digunakan karena kedua analisis ini sama-sama
penting. Unsur dari golongan IV ini sangat dekat dengan kehidupan manusia contohnya
saja kembang api, plastic, karet, dan tak jarang juga ditemupan pada bahan pasta gigi.
Analisis kation golongan IV ini tak luput dari kelebihan dan kekurangan yang ditimbulkan
pada saat melakukan penelitian. Ion-ion dari golongan IV ini juga ada ditemukan pada
daun, ikat, tanah dan lain sebagainya.

K. Daftar Pustaka
Khopkar, S.M., (1990), Konsep Dasar Kimia Analitik, Universitas Indonesia, Jakarta.