Você está na página 1de 60

Aljabar Linier

1 – Sistem Persamaan Linier

Fauzan Hanif Jufri, S.T., M.Sc.

Tim Dosen Aljabar Linier


Fakultas Teknik Universitas Indonesia
2019
Sub pokok bahasan
i. Pengenalan Sistem Persamaan Linier
ii. Eliminasi Gauss –Jordan
iii. Matriks dan operasi Matriks
iv. Aljabar Matriks, Matriks balikan
v. Matriks Elementer, cara mencari matriks balikan.
vi. Jenis-jenis matriks

FZN, Aljabar Linier 2


i. Pengenalan sistem persamaan linier
Sebuah garis dalam bidang
+ =

Disebut persamaan linier dalam peubah x dan y, dimana dan adalah koefisien
dan b adalah konstanta.
Sebuah garis dalam bidang
+ =

Disebut persamaan linier dalam peubah dan , dimana dan adalah


koefisien dan b adalah konstanta.

FZN, Aljabar Linier 3


i. Pengenalan sistem persamaan linier
Secara umum, sebuah persamaan linier dalam n peubah:
+ + ⋯+ =

dimana:
, ,…, disebut peubah (variable/unknown)
, ,…, disebut koefisien
b disebut konstanta

FZN, Aljabar Linier 4


i. Pengenalan sistem persamaan linier
Latihan 1
Apakah persamaan berikut linier terhadap x1, x2 dan x3

a. x1  5 x2  2 x3  1 d. x1  3x2  x1 x3  2

b. x1  7 x2  3x3 e. x12  x2  8 x3  5
1 3
c.  x1  2 x2  x3  7 3
f. x1 5
 2 x2  x3  4

FZN, Aljabar Linier 5


i. Pengenalan sistem persamaan linier
Suatu sistem yang terdiri dari lebih dari satu persamaan linier disebut sistem
persamaan linier (SPL).
Bentuk umum dari sistem persamaan linier:
+ + ⋯+ =
+ + ⋯+ =
+ + ⋯+ =


+ + ⋯+ =

FZN, Aljabar Linier 6


i. Pengenalan sistem persamaan linier
Contoh sistem persamaan linier:

a. x1  x2  1
2 x1  x2  6

b. 4 x1  x2  3x3  1
3x1  x2  9 x3  4

FZN, Aljabar Linier 7


i. Pengenalan sistem persamaan linier
Nilai-nilai peubah yang memenuhi suatu sistem persamaan linier disebut
Solusi/Penyelesaian suatu sistem persamaan linier.

Secara umum, jumlah solusi dari suatu SPL adalah sebagai berikut:
 0 solusi (tidak punya solusi)
 1 solusi
 tak hingga banyaknya solusi

SPL yang tidak punya solusi dikatakan SPL tak-konsisten.


SPL yang punya solusi dikatakan SPL konsisten.

FZN, Aljabar Linier 8


i. Pengenalan sistem persamaan linier
Secara geometri, solusi-solusi SPL dapat digambarkan.

FZN, Aljabar Linier 9


i. Pengenalan sistem persamaan linier
Latihan 2
Tentukan apakah SPL berikut mempunyai satu solusi, tak hingga banyaknya solusi
atau tidak punya solusi
a. x1  x2  0
2 x1  x2  6

b. x1  x2  4
3x1  3x2  6

c. 4 x1  2 x2  1
16 x1  8 x2  4

FZN, Aljabar Linier 10


i. Pengenalan sistem persamaan linier
Suatu SPL dapat dibentuk kedalam bentuk segiempat yang terdiri dari koefisien-
koefisian dan konstanta menurut padanan susunan peubahnya.
a11 x1  a12 x2  ...  a1n xn  b1 a11 a12 ... a1n b1 
a21 x1  a22 x2  ...  a2n xn  b2 a a ... a b 
 21 22 2n 2 

         
 
am1 x1  am2 x2  ...  amn xn  bm a a
 m1 m 2 ... a mn b m

Bentuk ini disebut Matriks yang diperbanyak.

FZN, Aljabar Linier 11


i. Pengenalan sistem persamaan linier
Metode dasar dalam mnyelesaikan/mencari solusi dari suatu SPL adalah dengan
menggantikan SPL dengan sistem baru yang disederhanakan dan memiliki
himpunan penyelesaian.
Sistem yang disederhanakan ini dapat diperoleh dengan melakukan serangkaian
proses yang disebut operasi-baris-dasar atau operasi-baris-elementer, yaitu:
 Mengalikan suatu baris dengan bilangan tak-nol (scale)
 Menukar 2 baris (swap)
 Menambahkan perkalian suatu baris ke baris lain (pivot)

FZN, Aljabar Linier 12


i. Pengenalan sistem persamaan linier
Latihan 3
Cari solusi dari SPL berikut dengan menggunakan operasi-baris-dasar.

2 x  4 y  3z  1
x  y  2z  9
3x  6 y  5 z  0

FZN, Aljabar Linier 13


i. Pengenalan sistem persamaan linier
Latihan 3 (sambungan)
2 x  4 y  3z  1 2 4 3 1 1 1 2 9 1 1 2 9
x  y  2z  9 1 1 2 9 2 4 3 1 0 2 7 17
3x  6 y  5 z  0 3 6 5 0 3 6 5 0 3 6 5 0
Tukar baris-1 dengan Tambahkan (-2) kali Tambahkan (-3) kali
baris-2 baris-1 ke baris-2 baris-1 ke baris-3

1 1 2 9 1 1 2 9 1 1 2 9 1 1 2 9
0 2 7 17 0 1  72  172 0 1  72  172 0 1  72  172
0 3 11 27 0 3 11 27 0 0  12  33 0 0 1 3
Kalikan baris-2 Tambahkan (-3) kali Kalikan baris-3 Tambahkan (-1) kali
dengan ½ baris-2 ke baris-3 dengan -2 baris-2 ke baris-1

FZN, Aljabar Linier 14


i. Pengenalan sistem persamaan linier
Latihan 3 (sambungan)
35 35
1 0 112 2 1 0 11
2 2 1 0 0 1
0 1  72  17
2 0 1 0 2 0 1 0 2
0 0 1 3 0 0 1 3 0 0 1 3
Tambahkan ( ⁄ ) kali Tambahkan ( ⁄ ) kali
baris-3 ke baris-2 baris-3 ke baris-1

Diperoleh: x1  1 x2  2 x3  3

FZN, Aljabar Linier 15


ii. Eliminasi Gauss-Jordan
Eliminasi Gauss
 Johann Carl Friedrich Gauss, 1777 - 1855, matematikawan Jerman.
 Eliminasi Gauss digunakan untuk memperoleh Matriks Eselon Baris

Eliminasi Gauss-Jordan
 Wilhelm Jordan, 1842 - 1899, ahli Geodesi Jerman.
 Eliminasi Gauss-Jordan digunakan untuk memperoleh Matriks Eselon Baris Tereduksi

FZN, Aljabar Linier 16


ii. Eliminasi Gauss-Jordan
Baris-nol : baris yang seluruh angkanya adalah angka 0.
Baris-tak-nol : baris yang mempunyai minimal 1 angka tak-nol.
Matriks eselon baris:
1) Jika suatu baris adalah baris-tak-nol, maka angka tak-nol pertama di baris tersebut harus angka 1. Angka 1
ini disebut satu-utama (leading 1).
2) Baris-nol harus dikelompokkan di dasar matriks.
3) Dalam 2 baris-tak-nol yang berurutan, satu-utama dalam baris yang lebih bawah harus terletak di sebelah
kanan dari satu-utama baris yang lebih atas.
Matriks eselon baris tereduksi: memenuhi sifat 1, 2, 3 ditambah
4) Masing-masing kolom yang berisi satu-utama mempunyai angka 0 di baris lainnya dalam kolom tersebut.

FZN, Aljabar Linier 17


ii. Eliminasi Gauss-Jordan
Latihan 4
Tentukan apakah matriks-matriks berikut termasuk ke dalam Matriks Baris Eselon
(EB) atau Matriks Baris Eselon Tereduksi (EBT).
1 3 1 0 9 1 0 0  1 0 4 7  1 0 0 7 
A
0 1 C   0 1 0  D   0 1 0  E  0 1 0 6  F  0 1 0 6 
1 0  0 0 1   0 0 1  0 0 1 5  0 0 1 5 
B
0 1 
1 0 1 0 0 2 1 9 0 7 0 2  1 0 0 0 0 2 
G  0 0 1 1 0 5  H   0 0 1 3 0 5  I  0 0 1 0 0 5 
0 0 0 0 1 3   0 0 0 0 1 3  0 0 0 0 1 3 
FZN, Aljabar Linier 18
ii. Eliminasi Gauss-Jordan
Dilakukan berurutan dari baris teratas untuk mendapatkan satu-utama di setiap baris dengan menggunakan
operasi-baris-dasar.
 0 2 0 8 
 0 1 2 2 
 
 4 2 2 2 
Langkah-1  0 2 0 8 
Perhatikan kolom paling kiri yang tidak seluruh anggotanya bernilai nol.  0 1 2 2 
 
 4 2 2 2 
Kolom paling kiri yang tidak seluruh
anggotanya bernilai nol.

Langkah-2 4 2 2 2 
 0 1 2 2 
Tempatkan baris yang memiliki kolom tak-nol di baris teratas.  
 0 2 0 8 
Baris-1 dan baris-3 dipertukarkan.

FZN, Aljabar Linier 19


ii. Eliminasi Gauss-Jordan
Langkah-3 1 12 12 12 
0 1 2 2 
Gunakan operasi untuk mendapatkan utama-satu baris teratas bernilai 1.  
0 2 0 8 
Baris-1 dikalikan ¼.

Langkah-4 1 12 12 12 
0 1 2 2 
Gunakan operasi untuk mendapatkan anggota pada kolom yang sama dari  
utama-satu bernilai nol. 0 2 0 8 
Anggota pada kolom yang sama dari utama-
satu bernilai nol.

Langkah-5 1 12 12 12 
0 1 2 2 
Jika anggota lain pada kolom yang sama dengan utama-satu pada suatu  
baris telah bernilai nol, maka baris tersebut dapat dikeluarkan dari operasi 0 2 0 8 
selanjutnya, dan ulangi langkah 3-5 untuk baris-baris tersisa
Baris-1 dikeluarkan.

FZN, Aljabar Linier 20


ii. Eliminasi Gauss-Jordan
ulangan Langkah-3 1 12 1
2
1
2
0 1 2 2 
Gunakan operasi untuk mendapatkan utama-satu baris teratas bernilai 1.  
0 2 0 8 
Baris-2 dikalikan -1.

ulangan Langkah-4 1 12 12 1
2 
0 1 2 2 
Gunakan operasi untuk mendapatkan anggota pada kolom yang sama dari  
utama-satu bernilai nol. 0 0 4 12 
Baris-3 ditambah 2 kali baris-2.

ulangan Langkah-5 1 12 12 1
2 
0 1 2 2 
Jika anggota lain pada kolom yang sama dengan utama-satu pada suatu  
baris telah bernilai nol, maka baris tersebut dapat dikeluarkan dari operasi 0 0 4 12 
selanjutnya, dan ulangi langkah 3-5 untuk baris-baris tersisa Anggota pada kolom yang sama dari utama-
satu bernilai nol.
FZN, Aljabar Linier
Baris-2 dikeluarkan. 21
ii. Eliminasi Gauss-Jordan
ulangan Langkah-3 1 12 12 1
2 
0 1 2 2 
Gunakan operasi untuk mendapatkan utama-satu baris teratas bernilai 1.  
0 0 1 3
Baris-3 dikalikan − ⁄ .
Matriks Eselon Baris.

Langkah-6 1 12 12 12 
0 1 0 4 
Langkah 3-5 dilakukan secara terbalik dari baris terbawah keatas.  
0 0 1 3
Baris-2 ditambah 2 kali baris-3.

1 12 0 2 
0 1 0 4 
 
0 0 1 3

Baris-1 ditambah − ⁄ kali baris-3.

FZN, Aljabar Linier 22


ii. Eliminasi Gauss-Jordan
ulangan Langkah-5 dan Langkah-6 1 12 0 2 
 0 1 0 4 
Jika anggota lain pada kolom yang sama dengan utama-satu pada suatu  
baris telah bernilai nol, maka baris tersebut dapat dikeluarkan dari operasi 0 0 1 3
selanjutnya, dan ulangi langkah 3-5 untuk baris-baris tersisa Anggota pada kolom yang sama dari utama-
satu baris terbawah bernilai nol.
Baris-3 dikeluarkan.

1 0 0 4 
 0 1 0 4 
 
0 0 1 3
Baris-1 ditambah − ⁄ kali baris-2.
Matriks Eselon Baris Tereduksi

Diperoleh:

x1  4 x2  4 x3  3

FZN, Aljabar Linier 23


ii. Eliminasi Gauss-Jordan
Sistem Persamaan Linier Homogen adalah suatu SPL yang semua nilan konstantanya adalah nol.
+ + ⋯+ =0
+ + ⋯+ =0
+ + ⋯+ =0


+ + ⋯+ =0

SPL Homogen memiliki dua kemungkinan solusi:


 Solusi Trivial: SPL Homogen yang solusinya hanyalah bernilai nol
= 0, = 0, … , = 0
 Solusi Non-trivial: SPL Homogen yang memiliki solusi lain selain solusi trivial.
= 0, = 0, … , = 0

FZN, Aljabar Linier 24


ii. Eliminasi Gauss-Jordan
Latihan 5
Tentukan solusi dari sistem persamaan linier berikut.
a) 3 x1  2 x2  x3  15 b) 2 x1  3x2  2 c) 5 x1  2 x2  6 x3  0
5 x1  3 x2  2 x3  0 2 x1  x2  1 2 x1  x2  3x3  1
3 x1  x2  3 x3  11 3 x1  2 x2  1
6 x1  4 x2  2 x3  30

Catatan:
Suatu SPL dengan matriks yang diperlebar yang memiliki 1-utama di kolom paling kanan tidak memiliki solusi (tak-konsisten).
Suatu SPL dengan matriks koefisien yang memiliki baris nol tidak memiliki solusi (tak-konsisten).
FZN, Aljabar Linier 25
iii. Matriks dan operasi matriks
Matriks adalah susunan yang terdiri atas bilangan-bilangan dan berbentuk persegi panjang.
Ukuran matriks adalah banyak baris × banyak kolom.
Anggota adalah bilangan di dalam matriks.
Vektor adalah matriks yang berukuran satu baris (vektor baris) atau satu kolom (vektor kolom)

Contoh Matriks:
2 6 8  2
1 2  2 3 6  1 2 3 5
5 5 7     2 7 8  
2 5 1
  1 3 5  
 0 

FZN, Aljabar Linier 26


iii. Matriks dan operasi matriks
Anggota suatu matriks didefinisikan sebagai berikut:

 a11 a12 ... a1n 


a  a11 a12 a13 
a22 ... a2 n 
Amn   21 A33   a21 a22 a23 
 ... ... ... ... 
   a31 a32 a33 
 am1 am 2 ... amn 

a11  1
1 2 3
a21  4
A   4 5 6 
a22  5
7 8 9  a32  8

FZN, Aljabar Linier 27


iii. Matriks dan operasi matriks
1) Matriks yang sama adalah matriks-matriks yang mempunyai ukuran yang sama dan anggota-
anggota yang berpadanan bernilai sama. Contoh:
 2 6 8 2 6 8
A   2 3 6 B   2 3 6
1 3 5 1 3 5

2) Penjumlahan matriks. Jika A dan B adalah matriks berukuran sama, maka jumlah atau selisih
matriks diperoleh dengan menjumlahkan atau mengurangkan anggota-anggota yang berpadanan.
Contoh:
2 3 1 2
A ; B 
5 7   4 2
 
3 5 1 1
A B   ; A  B 
9 9 1 5
 

FZN, Aljabar Linier 28


iii. Matriks dan operasi matriks
3) Perkalian dengan bilangan skalar. Jika A adalah matriks dan k adalah skalar, maka hasil kali
kA diperoleh dengan mengalikan k dengan setiap anggota matriks. Contoh:
 2 3
A  ; k 3
 5 7 
6 9
kA  3 A   
15 21

4) Perkalian matriks. Jika A adalah matriks berukuran × dan B adalah matriks berukuran ×
, maka hasil kalo AB adalah matriks berukuran × . Anggota-anggota hasil kali matriks AB
diperoleh dengan cara mengalikan anggota-anggota yang berpadanan dari setiap baris matriks A
dengan setiap kolom matriks B, lalu dijumlahkan.

FZN, Aljabar Linier 29


iii. Matriks dan operasi matriks

2 5  2
A22    B21   
3 4 6
 ab 
AB  AB21 AB21   11 
 ab21 
2
ab11   2 5     2  2    5  6   34 baris-1 matriks A, kolom-1 matriks B
6 
 2
ab21   3 4     3  2    4  6   30 baris-2 matriks A, kolom-1 matriks B
6
34 
AB   
30 
FZN, Aljabar Linier 30
iii. Matriks dan operasi matriks
5) Transpos matriks. Jika A adalah matriks berukuran × , maka AT adalah transpos matriks A
yang berukuran × . Anggota-anggota AT dapat diperoleh dengan cara mempertukarkan baris-
baris pada A menjadi kolom-kolom pada AT. Contoh:

FZN, Aljabar Linier 31


iii. Matriks dan operasi matriks
6) Trace matriks. Jika A adalah suatu matriks bujur sangkar, maka tr(A) adalah hasil penjumlahan
anggota-anggota pada diagonal matriks A. Contoh:

2 6 8
A   2 3 6  tr  A   2  3  5  10
1 3 5 

7) Pangkat suatu matriks. Jika A adalah suatu matriks bujur sangkar, maka pangkat bulat tak-
negative suatu matriks adalah:

A0  I An  AAA... A (n  0)

n faktor

FZN, Aljabar Linier 32


iii. Matriks dan operasi
matriks
8) Sifat-sifat operasi matriks

FZN, Aljabar Linier 33


iii. Matriks dan operasi matriks
Latihan 6
Diketahui:
1 1 7 3
2 6 8 3 1 0 2 5 0 2 
A   2 3 6 B  1 2 2 C
4 6 8 3
1 3 5 0 1 0   
1 0 2 7

• Hitung A+B
• Hitung Trace A, Trace B dan Trace C
• Hitung ×
• Hitung CT

FZN, Aljabar Linier 34


iv. Aljabar matriks, matriks balikan
Matriks Nol adalah suatu matriks yang semua anggotanya bernilai nol.
Matriks Identitas adalah suatu matriks bujur sangkar yang semua anggota diagonalnya bernilai satu
dan anggota lainnya bernilai nol. Notasi dari matriks identitas adalah I.

Contoh Matriks Nol

Contog Matriks Identitas

FZN, Aljabar Linier 35


iv. Aljabar matriks, matriks balikan
Sifat-sifat operasi matriks nol.

FZN, Aljabar Linier 36


iv. Aljabar matriks, matriks balikan
Jika A adalah suatu matriks bujur sangkar dan B adalah matriks yang berukuran sama, sehingga AB =
BA = I, maka matriks A dikatakan dapat dibalik (invertible) dan matriks B disebut matriks balikan
(invers) dari matriks A.
Matriks B juda dapat ditulis sebagai A-1.
Sebuah matriks hanya memiliki satu matriks balikan. Jika matriks A tidak dapat dibalik atau tidak ada
matriks B yang dapat memenuhi, maka matriks A dikatakan matriks singular.
Contoh: 3 5   2 5
A  B   1 3 
1 2   
 3 5   2 5   1 0 
AB     1 3    0 1   I dapat dikatakan B  A1
1 2    
 2 5  3 5  1 0 
BA    1 2    0 1   I dapat dikatakan A  B 1
  1 3    
FZN, Aljabar Linier 37
iv. Aljabar matriks, matriks balikan
Matriks = dapa dibalik jika − ≠ , dimana matriks balikannya dapat dicari dengan
rumus

− − −
= = −
− −
− −

FZN, Aljabar Linier 38


iv. Aljabar matriks, matriks balikan
Sifat-sifat operasi matriks balikan.

FZN, Aljabar Linier 39


iv. Aljabar matriks, matriks balikan
Latihan 7
Cari matriks balikan dari matriks-matriks berikut:

1 2  3 2 3 6
A  B  C 
1 3   2 3   2 4 

Catatan:
Suatu matriks 2x2 yang nilai ab-cd=0 adalah matriks yang tidak dapat dibalik (singular).
FZN, Aljabar Linier 40
v. Matriks elementer, Matriks balikan
Matriks Elementer atau Matriks Dasar adalah suatu matriks bujur sangkar ( × ) yang diperoleh
dari operasi-baris-dasar tunggal terhadap matriks identitas × ( ).
Notasi dari matriks dasar adalah E.
Suatu matriks elementer dapat dibalik, dan matriks balikannya adalah suatu matriks elementer juga.
Contoh matriks elementer:

1 0 0 0 
0 0 0 1  1 0 3 
1 0    0 1 0 
 0 3  0 0 1 0  
  0 0 1 
 
kalikan baris-2 I 2 dengan -3 0 1 0 0
Tambahkan 3 kali baris-3 ke baris-2 dari I 3
pertukarkan baris-2 dan baris-4 dari I 4

FZN, Aljabar Linier 41


v. Matriks elementer, Matriks balikan
Teorema:
Jika matriks dasar E diperoleh dari suatu operasi-baris-dasar terhadap matriks identitas × ( ),
dan jika suatu matriks A adalah suatu matriks berukuran × , maka hasil kali EA adalah suatu
matriks yang diperoleh dari operasi-baris-dasar yang sama dilakukan pada matriks A.

1 0 0  1 0 2 3
E  0 1 0  A   2 1 3 6 
 3 0 1  1 4 4 0 
tambahkan 3 kali baris-1 ke baris-3 dari suatu I 3

1 0 2 3
EA   2 1 3 6 
 4 4 10 9 
tambahkan 3 kali baris-1 ke baris-3 dari matriks A
FZN, Aljabar Linier 42
v. Matriks elementer, Matriks balikan
Latihan 8
Cari matriks elementer E.

 3 4 1  3 4 1
A   2 7 1 B   2 7 1 EA  B E  ...?
8 1 5  2 7 3

FZN, Aljabar Linier 43


v. Matriks elementer, Matriks balikan
Teorema:
Jika matriks A adalah suatu matriks × , maka pernyataan-pernyataan berikut ini ekuivalen, yaitu
semua benar atau semua salah.
1) A bisa dibalik
2) Ax = 0 hanya mempunyai solusi trivial
3) Bentuk matriks eselon baris tereduksi dari A adalah
4) A dapat diperoleh dari hasil kali matriks-matriks dasar

Pelajari pembuktian dari teorema ini di buku acuan.

FZN, Aljabar Linier 44


v. Matriks elementer, Matriks balikan
Dua matriks dikatakan Ekuivalen baris jika satu matriks dapat diperoleh melalui serangkaian
operasi-baris-dasar terhadap matriks lainnya.
 Misal matriks A dapat diperoleh melalui serangkaian operasi-baris-dasar terhadap matriks B, maka
matriks B dapat diperoleh melalui serangkaian balikan (invers) dari operasi-baris-dasar yang
sepadan terhadap matriks A. Dalam hal ini, maka dapat dikatakan bahwa A ekuivalensi baris
terhadap B atau A dan B adalah ekuivalen baris.
1 3 1  1 3 1  1 3 1 1 3 1 
  
A   4 2 2  1
 2 1 1
 
 2 1 1
  2b  b B   0 5 1
2 b2 2b1  b3 1 2
 4 5 3   4 5 3  2 1 1  2 1 1 

invers dari operasi-baris-dasar


1 3 1  1 3 1 1 3 1 1 3 1 
  
B   0 5 1  2 1 1
 
 2 1 1
  A   4 2 2 
2b1  b2 2b1  b3 2b2
 2 1 1   2 1 1  4 5 3  4 5 3 
FZN, Aljabar Linier 45
v. Matriks elementer, Matriks balikan
 Jika matriks A dan B adalah ekuivalen baris, maka matriks B dapat diperoleh dengan mengalikan
matriks-matriks dasar sesuai dengan operasi-baris-dasar terhadap matriks A.
1 3 1  1 3 1 1 3 1 1 3 1 
  
A   4 2 2  1
 2 1 1
 
 2 1 1
  B   0 5 1
b
2 2 2b1  b3 2b1  b2
 4 5 3   4 5 3  2 1 1  2 1 1 
  
1 0 0   1 0 0  1 0 0
0 1 0   0 1 0  2 1 0 
Matriks-matriks dasar   2     
0 0 1   2 0 1   0 0 1 
E1 E2 E3

E3 E2 E1 A  B
 1 0 0   1 0 0  1 0 0   1 3 1   1 3 1 
 2 1 0   0 1 0  0 1 0  4 2 2    0 5 1
   2    
 0 0 1   2 0 1  0 0 1   4 5 3   2 1 1 

FZN, Aljabar Linier 46


v. Matriks elementer, Matriks balikan
Ingat teorema bahwa jika suatu matriks A bisa dibalik maka bentuk matriks eselon baris tereduksi
dari A adalah , dan A dapat diperoleh dari hasil kali matriks-matriks dasar.
Ek ...E2 E1 A  I n
A  E11 E21 ...Ek1 I n
, , …, adalah matriks-matriks dasar
(sesuai dengan teori bahwa invers suatu matriks dasar adalah sebuah matriks dasar)

A dan adalah ekuivalen baris

FZN, Aljabar Linier 47


v. Matriks elementer, Matriks balikan
Matriks balikan (invers) suatu matriks dapat diperoleh dengan menggunakan prinsip dari ekuivalensi
baris.
 Ingat bahwa:
… =
=
 Maka dapat diperoleh invers dari matriks A
= … = …

Teorema:
Jika suatu matriks A dapat dibalik, maka matriks balikan ( ) dapat diperoleh dengan menemukan
serangkaian operasi-baris-dasar (matriks dasar) yang mereduksi matriks A menjadi , lalu
menerapkan operasi-baris-dasar (matriks dasar) yang sama terhadap .

FZN, Aljabar Linier 48


v. Matriks elementer, Matriks balikan
Contoh:
1 2 3
Cari invers dari matriks = 2 5 3
1 0 8

Penyelesaian:
Temukan serangkaian operasi-baris-dasar yang mereduksi matriks A menjadi matriks identitas, dan
lakukan serangkaian operasi-baris-dasar tersebut pada matriks identitas.

1 2 3 1 0 0
2 5 3 0 1 0  sandingkan matriks A dan matriks I

1 0 8 0 0 1 

FZN, Aljabar Linier 49


v. Matriks elementer, Matriks balikan
1 2 3 1 0 0 Maka diperoleh:
0 b2  2b1  b2
1 3 2 1 0   40 16 9 
  b3  1b1  b3
A1   13 5 3
 0 2 5 1 0 1 
1 2 3 1 0 0
 5 2 1
0 1 3 2 1 0  b3  2b2  b3

0 0 1 5 2 1 
1 2 3 1 0 0
0 1 3 2 1 0  b3  1b3

0 0 1 5 2 1
1 2 0 14 6 3 
0 b2  3b3  b2
 1 0 13 5 3
b1  3b3  b1
0 0 1 5 2 1
1 0 0 40 16 9 
0 1 0 13 5 3 b1  2b2  b1

0 0 1 5 2 1
Matriks
eselon baris tereduksi FZN, Aljabar Linier 50
v. Matriks elementer, Matriks balikan
Latihan 9
Cari matriks balikan dari matriks-matriks berikut:

1 6 4 Catatan:
A   2 4 1 Suatu matriks yang memiliki baris nol ketika melakukan operasi-baris-
dasar tidak memiliki invers (singular).
 1 2 5 
0 0 2 0
1 0 0 1 
B
0 1 3 0 
 
2 1 5 3

FZN, Aljabar Linier 51


v. Matriks elementer, Matriks balikan
Suatu Sistem Persamaan Linier (SPL) dapat diselesaikan dengan menggunakan matriks balikan.

Teorema:
Jika suatu matriks A berukuran × dapat dibalik, maka untuk setiap matriks b berukuran × 1,
sistem persamaan = tepat mempunyai satu penyelesaian, yaitu = .

FZN, Aljabar Linier 52


v. Matriks elementer, Matriks balikan
Latihan 10
Cari solusi dari Sistem Persamaan Linier (SPL) berikut:
2 x3  4
x1  x4  1
2 x2  3 x3  2
2 x1  x2  5 x3  3 x4  1

FZN, Aljabar Linier 53


v. Matriks elementer, Matriks balikan
Teorema:
Jika matriks A adalah suatu matriks × , maka pernyataan-pernyataan berikut ini ekuivalen, yaitu
semua benar atau semua salah.
1) A bisa dibalik
2) Ax = 0 hanya mempunyai solusi trivial
3) Bentuk matriks eselon baris tereduksi dari A adalah
4) A dapat diperoleh dari hasil kali matriks-matriks dasar
5) Ax = b konsisten untuk setiap matriks b, ×1
6) Ax = b tepat mempunyai satu solusi untuk setiap matriks b, ×1

Pelajari pembuktian dari teorema ini di buku acuan.

FZN, Aljabar Linier 54


vi. Jenis-jenis matriks
Matriks Diagonal adalah matriks persegi yang entri-entri off-diagonalnya bernilai 0.

FZN, Aljabar Linier 55


vi. Jenis-jenis matriks
Matriks Segitiga Atas adalah matriks persegi yang semua entri di bawah diagonalnya bernilai 0.
Matriks Segitiga Bawah adalah matriks persegi yang semua entri di atas diagonalnya bernilai 0.

FZN, Aljabar Linier 56


vi. Jenis-jenis matriks
Matriks Simetris adalah matriks persegi yang memiliki transpos sama dengan dirinya, = .

FZN, Aljabar Linier 57


1 – Sistem Persamaan Linier
Latihan Tambahan

FZN, Aljabar Linier 58


1 – Sistem Persamaan Linier
Penyelesaian Latihan Tambahan
Substitute the value of x, y, z into the equations
a  b  6  3  a b 3
2  b  2c  1  b 2c  1
a  3  2c  3  a 2c  0

1 1 0   a   3 
0 1 2   b   1 
    
1 0 2   c   0 
1
 a   1 1 0  3
b   0 1 2  1 
     
 c  1 0 2  0 
a  2, b  1, c  1

FZN, Aljabar Linier 59


1 – Sistem Persamaan Linier
PR
Kerjakan soal di Howard Anton Edisi 9:
Bab 1.2 no. 6 (a, b, c, d), 12 (a, b, d), 17
Bab 1.3 no. 5, 16 (a, c)
Bab 1.4 no. 7, 8
Bab 1.5 no. 3, 8 c, 10, 14
Bab 1.6 no. 15, 17, 18, 19, 21
Bab 1.7 no. 6, 10, 15

Dikumpulkan: 18 Februari 2019


FZN, Aljabar Linier 60