Você está na página 1de 13

ONTOLOGI

Ontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Ontos berarti yang berada (being) dan
Logos berarti pikiran (logic). Jadi, Ontologi berarti ilmu yang membahas tentang hakiket
sesuatu yang ada/berada atau dengan kata lain artinya ilmu yang mempelajari tentang
“yang ada” atau dapat dikatakan berwujud dan berdasarkan pada
logika. Sedangkan, menurut istilah adalah ilmu yang membahas sesuatu yang telah
ada, baik secara jasmani maupun secara rohani. Disis lain, ontologi filsafat adalah
cabang filsafat yang membahas tentang prinsip yang paling dasar atau paling dalam
dari sesuatu yang ada.

Objek kajian Ontologi disebut “ Ada” maksudnya berupa benda yang terdiri dari alam ,
manusia individu, umum, terbatas dan tidak terbatas (jiwa). Di dalam ontologi juga
terdapat aliran yaitu aliran monoisme yaitu segala sesuatu yang ada berasal dari satu
sumber (1 hakekat).

Dalam aspek Ontologi diperlukan landasan-landasan dari sebuah pernyataan –


pernyataan dalam sebuah ilmu. Landasan-landasan itu biasanya kita sebut dengan
Metafisika. Metafisika merupakan cabang dari filsafat yang menyelidiki gerakan atau
perubahan yang berkaitan dengan yang ada (being).

Dalam hal ini, aspek Ontologi menguak beberapa hal, diantaranya:

1. Obyek apa yang telah ditelaah ilmu?


2. Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut?
3. Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir,
merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?
4. Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu?
Aspek ontologi ilmu pengetahuan tertentu hendaknya diuraikan/ditelaah secara :

1. Metodis : menggunakan cara ilmiah.


2. Sistematis :saling berkaitan satu sama lain secara teratur dalam satu keseluruhan.
3. Koheren : Unsur – unsur harus bertautan tidak boleh
mengandung uraian yang bertentangan.

1. Rasional : Harus berdasarkan pada kaidah berfikir yang benar (logis)


2. Komprehensif : Melihat obyek tidak hanya dari satu sisi/sudut pandang, melainkan secara
multidimensional atau secara keseluruhan.
3. Radikal : Diuraikan sampai akar persoalan, atau esensinya.
4. Universal : Muatan kebenaranya sampai tingkat umum yang berlaku dimana saja.
Hakikat dari Ontologi Ilmu Pengetahuan

1. Ilmu berasal dari riset (penelitian)


2. Tidak ada konsep wahyu
3. Adanya konsep pengetahuan empiris
4. Pengetahuan rasional, bukan keyakinan
5. Pengetahuan metodologis
6. Pengetahuan observatif
7. Menghargai asas verifikasi (pembuktian)
8. Menghargai asas skeptisisme yang redikal.
Jadi, Ontologi pengetahuan filsafat adalah ilmu yang mempelajari suatu yang ada atau
berwujud berdasarkan logika sehigga dapat diterima oleh banyak orang yang bersifat
rasional dapat difikirkan dan sudah terbukti keabsahaanya.

EPISTIMOLOGI

Secara etimologi, epistemologi merupakan kata gabungan yang diangkat dari dua kata
dalam bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan atau
kebenaran dan logos berarti pikiran, kata atau teori. Dengan demikian epistimologi
dapat diartikan sebagai pengetahuan sistematik mengenahi pengetahuan.Epistimologi
dapat juga diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar (teori of
knowledges). Epistimologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal
muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan.

Istilah epistimologi dipakai pertama kali oleh J. F. Feriere untuk membedakannya


dengan cabang filsafat lain yaitu ontologi (metafisika umum). Filsafat pengetahuan
(Epistimologi) merupakan salah satu cabang filsafat yang mempersoalkan masalah
hakikat pengetahuan. Epistomogi merupakan bagian dari filsafat yang membicarakan
tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan asal mula pengetahuan, batas –
batas, sifat sifat dan kesahihan pengetahuan. Objeck material epistimologi adalah
pengetahuan . Objek formal epistemologi adalah hakekat pengetahuan.

1. Logika Material adalah usaha untuk menetapkan kebenaran dari suatu pemikiran di tinjau dari
segi isinya. Lawannya adalah logika formal (menyelidiki bentuk pemikiran yang masuk akal).
Apabila logika formal bersangkutan dengan bentuk-bentuk pemikiran, maka logika material
bersangkutan dengan isi pemikiran. Dengan kata lain, apabila logika formal yang biasanya
disebut istilah’logika’berusaha untuk menyelidiki dan menetapkan bentuk pemikiran yang
masuk akal, maka logika material berusaha untuk menetapkan kebenaran dari suatu pemikiran
ditinjau dari segi isinya. Maka dapat disimpulkan bahwa logika formal bersangkutan dengan
masalah kebenaran formal sering disebut keabsahan (jalan) pemikiran. Sedangkan logika
material bersangkutan dengan kebenaran materiil yang sering juga disebut sebagai kebenaran
autentik atau otentisitas isi pemikiran.
2. Kriteriologia berasal dari kata kriterium yang berarti ukuran. Ukuran yang dimaksud adalah
ukuran untuk menetapkan benar tidaknya suatu pikiran atau pengetahuan tertentu. Dengan
demikian kriteriologia merupakan suatu cabang filsafat yang berusaha untuk menetapkan
benar tidaknya suatu pikiran atau pengetahuan berdasarkan ukuran tentang kebenaran.
3. Kritika Pengetahuan adalah pengetahuan yang berdasarkan tinjauan secara mendalam,
berusaha menentukan benar tidaknya suatu pikiran atau pengetahuan manusia.
4. Gnoseologia (gnosis = keilahian, logos = ilmu pengetahuan) adalah ilmu pengetahuan atau
cabang filsafat yang berusaha untuk memperoleh pengetahuan mengenai hakikat
pengetahuan, khususnya mengenahi pengetahuan yang bersifat keilahian.
5. Filsafat pengetahuan menjelaskan tentang ilmu pengetahuan kefilsafatan yang secara khusus
akan memperoleh pengetahuan tentang hakikat pengetahuan. J.A.Niels Mulder menjelaskan
bahwa epistimologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang watak, batas-batas dan
berlakunya dari ilmu pengetahuan. Abbas Hamami Mintarejo berpendapat bahwa
epistemologi adlah bagian filsafat atau cabang filsafat yang membicarakan tentang terjadinya
pengetahuan dan mengadakan penilaian atau pembenaran dari pengetahuan yang telah terjadi
itu.
Epistimologi adalah bagian filsafat yang membicarakan tentang terjadinya
pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode
dan kesahihan pengetahuan. Jadi, objek material epistimologi adalah pengetahuan,
sedangkan objek formalnya adalah hakikat pengetahuan itu.

Aspek estimologi merupakan aspek yang membahas tentang pengetahuan filsafat.


Aspek ini membahas bagaimana cara kita mencari pengetahuan dan seperti apa
pengetahuan tersebut. Dalam aspek epistemologi ini terdapat beberapa logika, yaitu:
analogi, silogisme, premis mayor, dan premis minor.

1. Analogi dalam ilmu bahasa adalah persaaman antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya
bentuk – bentuk yang lain.
2. Silogisme adalah penarikan kesimpilan konklusi secara deduktif tidak langsung, yang
konklusinya ditarik dari premis yang di sediakan sekaligus.
3. Premis mayor bersifat umum yang berisi tentang pengetahuan, kebenaran, dan kepastian.
4. Premis Minor bersifat spesifik yang berisi sebuah struktur berpikir dan dalil – dalilnya.
Dalam epistimologi dikenal dengan 2 aliran, yaitu:

1. Rasionalisme : Pentingnya akal yang menentukan hasil/keputusan.


2. Empirisme : Realita kebenaran terletak pada benda kongrit yang dapat diindra karena
ilmu atau pengalam impiris.
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Membahas tentang filsafat manajemen, tidak bisa kita pisahkan dengan sejarah filsafat. Seperti kita
ketahui filsafat mempunyai andil yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, segala
ilmu pengetahuan lahir dari rahim filsafat. Bisa dikatakan bahwa filsafat adalah induk segala ilmu
pengetahuan. Pada fase awalnya filsafat hanya melahirkan dua ilmu pengetahuan, yakni ilmu alam
(Natural Philosophy) dan ilmu sosial (Moral Philosophy) maka dewasa ini terdapat lebih dari 650 cabang
keilmuan.
Hal ini, menurut Ibnu Khaldun disebabkan oleh berkembangnya kebudayaan dan peradaban manusia.
Dalam abad ke 18 dengan bermunculannya negara-negara maju dibelahan dunia, muncul cabang ilmu
pengetahuan baru yakni manajemen, yang semula masih segan diakui sebagai ilmu pengetahuan. Hal ini
bukanlah suatu yang baru. Ilmu kemasyarakatan (yang sejak semula dinamakan sosiologi) harus
memperjuangkan kedudukannya untuk menjadi ilmu pengetahuan disamping ilmu-ilmu pengetahuan
yang lain.
Demikian pula halnya ilmu ”manajemen” yang menjadi bahan perbincangan kita sekarang. Barulah pada
masa Taylor dan Fuyol, seiring dengan tumbuhnya negara-negara industri ilmu manajemen itu mulai
dianggap sebagai ilmu. Kelahiran ilmu manajemen kemudian diadopsi oleh dunia pendidikan yang
kemudian disintesiskan menjadi ilmu PENGANTAR MANAJEMEN.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian dan penjelasan tentang ontologis?
2. Apa pengertian dan penjelasan tentang epistemologis?
3. Apa pengertian dan penjelasan tentang aksiologis?
4. Bagaimana landasan ontologis, epistimologis, aksiologis dalam ilmu manajemen (BISNIS)?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk dapat memahami pengertian ontologis.
2. Untuk dapat memahami pengertian epistemologi.
3. Untuk dapat memahami pengertian aksiologis.
4. Untuk memahami landasan ontology, epistimologi, dan aksiologi dalam ilmu manajemen (BISNIS).
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dan penjelasan tentang Ontologi


Sebelum kita mengkaji landasan ontologis dalam ilmu manajemen (bisnis), maka kita akan mengkaji
terlebih dahulu tentang masalah ontology.
Filsafat tentang ta meta ta physika Aristoteles berpusat pada to hei on,artinya pengada sekedar pengada.
Kata yunani on merupakan bentuk netral dari oon dengan bentuk negatifnya ontos.kata itu adalah bentuk
partisipasif dari kata kerja einai ( ‘ada’ atau ‘mengada’ ), jadi berarti yang-ada atau pengada. Maka objek
material bagi filsafat pertama itu terdiri dari segala-galanya yang ada. Dan dari segi formal ha-hal itu di
tinjau bukan menurut aspek ini atau itu yang terbatas, bukan juga sekedar manusia atau dunia atau
tuhan, tetapi menurut sifat atau hal mengadanya. Oleh karena itu walaupun Aristoteles sama sekali
belum mempergunakan nama itu, filsafat pertama ini kemudian hari akan disebut ontology.
Namun Aristoteles belum pula menyadari segala implikasi penemuannya itu. Sebelum Aritoteles bagi
plato sifat “ada” belum memiliki arti yang sangat istimewa. Jika dalam karyanya sophists diterangkan
jenis-jenis paling pokok yang termuat dalam konsep-konsep pengertian, maka plato menyejajarkan “ada”
dan “tidak-ada” identik dan berlainan, bergerak dan tidak-bergerak. Dengan keliru Aristoteles sendiri
masih berpendapat bahwa “mengada” itu hanya merupakan salah satu sifat di samping sifat-sifat lain,
walaupun sekaligus merupakan dasar pula untuk segala-galanya. Dan sesudah Aristoteles, Platinos juga
hanya akan mengikuti “mengada” sebagai sifat alam-dunia (physis) belaka. Menurut dia sifat mangada
itu di angkat dan di atasi oleh sifat “hidup” dan “berpikir”. Baru Thomas Aquinas akan mengelola rumus
Aristoteles sedemikian rupa, sehingga mencapai kepadanya yang penuh, yaitu “mengada” sebagai sifat
yang melengkapi dan yang mendasari segala sifat lainnya.
Maka menurut hasil perkembangan lebih kemudian tentang arti ‘mengada” sebagai objek pemikiran
filsafat pertama sebagai “ontologi” di akui menjadi ilmu yang paling universal. Objeknya meliputi segala-
galanya dengan seada-adanya. Maka einai dan to on lambat laun tidak hanya berarti “ada atau tidaknya”
tetapi meliputi segala-galanya saja menurut segala bagiannya (segi ekstensif) dan menurut segala
aspeknya (segi intensif). Namun dalam pengantar ini objek ontology belum dapat diperinci lebih lanjut,
baru akan menjadi lebih jelas dalam uraian (discours) seluruh ontogi sendiri.
1. Ontologi adalah suatu spesifikasi formal dan eksplisit dari konseptualisasi yang dapat dibagi.
Yang dimaksud dengan konseptualisasi adalah suatu model abstrak dari fenomena-fenomena yang ada
pada dunia nyata. Sedangkan kata eksplisit menunjukkan bahwa tipe dari konsep-konsep yang ada
berikut relasinya didefinisikan secara terbuka dan dengan tujuan tertentu. Kata formal merujuk pada
fakta bahwa suatu ontologi haruslah bisa dibaca dan diakses oleh mesin (machine-readable and
accessible). Konseptualisasi tersebut dapat dibagi karena ontologi menangkap pengetahuan-pengetahuan
yang telah disetujui oleh suatu kelompok.
2. Ontologi merupakan suatu deskripsi dari konsep-konsep dan hubungan-hubungan yang mungkin ada
bagi sebuah agent ataupun komunitas agent.
Pengertian ontologi seperti yang telah dijelaskan oleh Tom Gruber tersebut tidaklah mutlak. Terdapat
beberapa pengertian lain yang telah didefinisikan oleh pada ahli ontologi, diantaranya yaitu pengertian
menurut Smith B. (2005) yang menjelaskan bahwa:
1. Ontologi adalah ilmu tentang definisi, jenis, dan struktur dari obyek, properti-properti, kejadian-
kejadian, proses-proses dan relasi-relasi yang ada dalam setiap area kenyataan.
2. Untuk sebuah sistem informasi ontologi dapat diartikan sebagai suatu representasi dari beberapa
keberadaan awal domain kenyataan, dimana ontologi tersebut :
o Merefleksikan properti-properti yang dimiliki oleh obyek dalam domain dengan suatu cara tertentu
sehingga dihasilkan suatu korelasi sistematik antara kenyataan dengan representasi itu sendiri.
o Dapat dimengerti oleh domain expert.
o Cara penyusunannya memungkinkan ontologi tersebut untuk mendukung pemrosesan informasi secara
otomatis.
Ontologi menjelaskan berbagai macam hal yang ada dalam suatu domain masalah, termasuk di dalamnya
properti, konsep, aturan, serta bagaimana relasi-relasinya, dimana penjelasan tersebut akan mampu
mendukung model referensi standar yang dibutuhkan dalam integrasi data.
Objek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada
umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas
yang ada dalam konteks filsafat ilmu.
Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi
membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi
berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus;
menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.
Dari beberapa pengetahuan di atas dapat di simpulkan bawa;
1. Menurut bahasa, ontology ialah berasal dari bahasa yunani, On/Ontos=ada, logos=ilmu. Jadi, ontology
adalah tentang ilmu yang ada.
2. Menurut istilah, ontology ialah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan
ultimate reality baik yang berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak.
Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan
pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana (yang) “ada”
itu (being Sein, het zijn). Paham monoisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, Paham
dualisme, pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik yang pada akhimya
menentukan pendapat bahkan keyakinan kita masing-masing mengenai apa dan bagaimana (yang) ada
sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari.
Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi
tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan
yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang
belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah
sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala
sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal
dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).
Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:
1. Kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak.
2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas
tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.
Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan
konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme.
Naturalisme di dalam seni rupa adalah usaha menampilkan objek realistis dengan penekanan seting
alam. Hal ini merupakan pendalaman lebih lanjut dari gerakan realisme pada abad 19 sebagai reaksi atas
kemapanan romantisme. Salah satu perupa naturalisme di Amerika adalah William Bliss Baker, yang
lukisan pemandangannya dianggap lukisan realis terbaik dari gerakan ini. Salah satu bagian penting dari
gerakan naturalis adalah pandangan Darwinisme mengenai hidup dan kerusakan yang telah ditimbulkan
manusia terhadap alam.
Pertama-tama pada latar filsafat diperlukan dasar ontologis dari ilmu manajemen. Adapun aspek realitas
yang dijangkau teori dan manajemen melalui pengalaman pancaindra ialah dunia pengalaman manusia
secara empiris baik yang berupa tingkat kwalitas maupun kwantitas hasil yang dicapai. Objek materi ilmu
manjemen ialah sisi manajemen yang mengatur seluruh kegiatan kependidikan, yaitu, Perencanaan,
pengorganisasian, Pengerahan (motivasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, komonikasi,
koordinasi, dan negoisasi serta pengembangan organisasi) dan pengendalian (Meliputi
Pemantauan,penilaian, dan pelaporan).
1. Objek Formal
Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam
kuantitas atau jumlah, tealaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran
materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme. Yang natural ontologik akan diuraikan di
belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Dalam
tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi
menampilkan aspek materialisme dari mental.
Menurut aspek-aspek yang di selidiki, objek-objek material dapat di khususkan lagi. Misalnya manusia
saja dapat di pandang secara matematis, fisis, biotic, psikis dan sebagainya. Mereka di bedakan menurut
objek formal, ataupun menurut kepadatannya, yaitu menurut aspek intensitas. Maka muncullah
pertanyaan : Apakah terdapat suatu ilmu pengetahuan yang begitu padat (mendalam), sehingga
serentak membicarakan segala aspek atau sudut formal yang ada dalam objek (material) mana saja?
Ilmu pengetahuan sedemikian itu (andaikata ada) akan bersifat paling intensif (padat), dan akan memuat
segala aspek penyelidikan ilmiah mana saja.
2. Objek Material
Menurut hal-hal yang di selidiki, di kembangkan ilmu pengetahuan mengenai manusia, mengenai
binatang, tumbuhan, laut, atom, dan sebagainya. Mereka di bedakan menurut objek material, ataupun
menurut keluasannya, yaitu menurut aspek ekstensif. Maka layaklah bahwa timbul pertanyaan: Apakah
ada suatu ilmu pengetahuan begitu umum, sehingga serentak meliputi dan membicarakan segala-
galanya yang ada? Ilmu pengetahuan sedemikian itu (andaikan ada) akan bersifat paling ekstensif, dan
akan merangkum segala objek (material) penyelidikan ilmiah mana saja.
2.2 Pengertian dan penjelasan tentang Epistemologi.
Secara etimologi, epistemologi merupakan kata gabungan yang diangkat dari dua kata dalam bahasa
Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan, sedangkan logos lazim dipakai untuk
menunjukkan adanya pengetahuan sistematik. Dengan demikian epistemologi dapat diartikan sebagai
pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Webster Third New International Dictionary
mengartikan epistemologi sebagai “The Study of method and ground of knowledge, especially with
reference to its limits and validity”. Paul Edwards, dalam The Encyclopedia of Philosophy, menjelaskan
bahwa epistemologi adalah “the theory of knowledge.” Pada tempat yang sama ia menerangkan bahwa
epistemologi merupakan “the branch of philosophy which concerned with the nature and scope of
knowledge, its presuppositions and basis, and the general reliability of claims to knowledge.”
Epistemologi juga disebut logika, yaitu ilmu tentang pikiran. Akan tetapi, logika dibedakan menjadi dua,
yaitu logika minor dan logika mayor. Logika minor mempelajari struktur berpikir dan dalil-dalilnya, seperti
silogisme. Logika mayor mempelajari hal pengetahuan, kebenaran, dan kepastian yang sama dengan
lingkup epistemologi.
Gerakan epistemologi di Yunani dahulu dipimpin antara lain oleh kelompok yang disebut Sophis, yaitu
orang yang secara sadar mempermasalahkan segala sesuatu. Dan kelompok Shopis adalah kelompok
yang paling bertanggung jawab atas keraguan itu.
Oleh karena itu, epistemologi juga dikaitkan bahkan disamakan dengan suatu disiplin yang disebut
Critica, yaitu pengetahuan sistematik mengenai kriteria dan patokan untuk menentukan pengetahuan
yang benar dan yang tidak benar. Critica berasal dari kata Yunani, krimoni, yang artinya mengadili,
memutuskan, dan menetapkan. Mengadili pengetahuan yang benar dan yang tidak benar memang agak
dekat dengan episteme sebagai suatu tindakan kognitif intelektual untuk mendudukkan sesuatu pada
tempatnya.
Jika diperhatikan, batasan-batasan di atas nampak jelas bahwa hal-hal yang hendak diselesaikan
epistemologi ialah tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan,
validitas pengetahuan, dan kebenaran pengetahuan.
Masalah epistimologi bersangkutan dengan pertanyaan-partanyaan tentang pengetahuan. Jika kita
mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada
akhirnya tidak dapat di ketahui.Sebenarnya kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan
setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistimologi. Kita mungkin terpaksa mengingkari
kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan, atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa
yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian, atau mungkin dapat
menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak
dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya.
Dalam penyelesaiaan masalah epistimologi hendaknya kita mempelajari naskah psikologi yang baik dalam
bab-bab mengenai pengindraan, pencerahan, penyimakan dan pemikiran, karena di dalam suatu
penyelesaian yang di sarankan terhadap masalah, bahan-bahan keterangan yang terdapat di dalam
naskah tersebut harus di perhitungkan.
Makna pengetahuan jika di katakana masalah epistimologi bersangkutan dengan pertanyaan tentang
pengetahuan, apakah yang kita maksudkan dengan pengetahuan? Di misalkan saya berkata “Saya
mempunyai pengetahuan tentang kenyataan bahwa Caesar telah di bunuh”, atau “Saya tahu siapa yang
membunuh Cock Robin.” Tepatnya, apakah yang saya maksudkan? Yang pertama di antara kedua
pernyataan tersebut dapat di singkat membacanya,”Saya tahu Bahwa Caesar di bunuh”. Dapatlah kiranya
di mengerti bahwa kapanpun kita mempunyai pengetahuan, maka pengetahuan itu merupakan
pengetahuan mengenai sesuatu. Demikianlah di dalam kedua kalimat tersebut, terdapat fakta-fakta:
Caesar telah di bunuh dan Cock Robin di bunuh oleh seseorang yang saya ketahui.
2.3 Pengertian dan penjelasan tentang Aksiologi
Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu; axios yang berarti sesuai atau wajar.
Sedangkan logos yang berarti ilmu. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai. Menurut John Sinclair, dalam
lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, social dan agama.
Sistem mempunyai rancangan bagaimana tatanan, rancangan dan aturan sebagai satu bentuk
pengendalian terhadap satu institusi dapat terwujud.
Perkembangan yang terjadi dalam pengetahuan ternyata melahirkan sebuah polemik baru karena
kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa kita sebut sebagai netralitas pengetahuan (value
free). Sebaliknya ada jenis pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai atau yang lebih dikenal
sebagai value baound. Sekarang mana yang lebih unggul antara netralitas pengetahuan dan
pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai.
Bagi ilmuwan yang menganut faham bebas nilai kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan akan lebih
cepat terjadi. Karena ketiadaan hambatan dalam melakukan penelitian. Baik dalam memilih objek
penelitian, cara yang digunakan maupun penggunaan produk penelitian. Sedangkan bagi ilmuwan
penganut faham nilai terikat, perkembangan pengetahuan akan terjadi sebaliknya. karena dibatasinya
objek penelitian, cara, dan penggunaan oleh nilai.
Kendati demikian paham pengetahuan yang disandarkan pada teori bebas nilai ternyata melahirkan
sebuah permasalahan baru. Dari yang tadinya menciptakan pengetahuan sebagai sarana membantu
manusia, ternyata kemudian penemuannya tersebut justru menambah masalah bagi manusia. Meminjam
istilah carl Gustav Jung “bukan lagi Goethe yang melahirkan Faust melainkan Faust-lah yang melahirkan
Goethe”.
Dalam aksiologi, ada dua penilain yang umum digunakan, yaitu etika dan estetika. Etika adalah cabang
filsafat yang membahas secara kritis dan sistematis masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada
prilaku, norma dan adat istiadat manusia.
Etika merupakan salah-satu cabang filsafat tertua. Setidaknya ia telah menjadi pembahasan menarik
sejak masa Sokrates dan para kaum shopis. Di situ dipersoalkan mengenai masalah kebaikan,
keutamaan, keadilan dan sebagianya. Etika sendiri dalam buku Etika Dasar yang ditulis oleh Franz Magnis
Suseno diartikan sebagai pemikiran kritis, sistematis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan
pandangan-pandangan moral. Isi dari pandangan-pandangan moral ini sebagaimana telah dijelaskan di
atas adalah norma-norma, adat, wejangan dan adat istiadat manusia. Berbeda dengan norma itu sendiri,
etika tidak menghasilkan suatu kebaikan atau perintah dan larangan, melainkan sebuah pemikiran yang
kritis dan mendasar. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahi dan mampu
mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan.
Dalam perkembangan sejarar etika ada empat teori etika sebagai sistem filsafat moral yaitu, hedonisme,
eudemonisme, utiliterisme dan deontologi. Hedoisme adalah padangan moral yang menyamakan baik
menurut pandangan moral dengan kesenangan. Eudemonisme menegaskan setiap kegiatan manusia
mengejar tujuan. Dan tujuan manusia adalah kebahagiaan. Selanjutnya utilitarisme, yang berpendapat
bahwa tujuan hukum adalah memajukan kepentingan para warga negara dan bukan memaksakan
perintah-perintah ilahi atau melindungi apa yang disebut hak-hak kodrati. Selanjutnya deontologi, adala h
pemikiran tentang moral yang diciptakan oleh Immanuel Kant. Menurut Kant, yang bisa disebut baik
dalam arti sesungguhnya hanyalah kehendak baik. Semua hal lain disebut baik secara terbatas atau
dengan syarat. Misalnya kekayaan manusia apabila digunakan dengan baik oleh kehendak manusia.
Sementara itu, cabang lain dari aksiologi, yakni estetika dibahas dalam sesi lain. yang jelas, estetika
membicarakan tentang indah dan tidak indah.
2.4 Landasan ontology, epistemology, dan aksiolologi dalam ilmu manajemen
Setiap pembahasan tentang gejala atau objek sesuatu ilmu pengetahuan (Ilmu manajemen), paling
sedikit kita pertanyakan.
(1) apa hakikat gejala/objek itu (landasan ontologis).
(2) bagaimana cara mendapatkan atau penggarapan gejala/objek itu (landasan epistemologis).
(3) apa manfaat gejala/objek itu (landasan aksiologis).
Landasan Ontologi Ilmu Manajemen, Pertama-tama pada latar filsafat diperlukan dasar ontologis dari
manajemen. Adapun aspek realitas yang dijangkau teori dan manajemen melalui pengalaman pancaindra
ialah dunia pengalaman manusia secara empiris baik yang berupa tingkat kwalitas maupun kwantitas
hasil yang dicapai. Objek materi ilmu manjemen ialah sisi manajemen yang mengatur seluruh kegiatan
ekonomi (bisnis), yaitu, Perencanaan, pengorganisasian, Pengerahan (motivasi, kepemimpinan,
pengambilan keputusan, komonikasi, koordinasi, dan negosiasi serta pengembangan organisasi) dan
pengendalian (Meliputi Pemantauan,penilaian, dan pelaporan)
Tema dari tulisan ini adalah dengan pertimbangan bahwa globalisasi berdampak pada hampir semua
keputusan manajemen. Misalnya Internet telah mengubah hakikat pembelian dan penjualan di hampir
semua industri, serta telah mengubah secara mendasar perekonomian dan bisnis setiap industri di
seluruh dunia. Internet telah menjadi suatu alat manajemen strategis penting sudah merasuk pada
masyarakat. Lingkungan hidup telah menjadi suatu isu strategis yang penting sudah merambah kedesa-
desa yang masih perawan.
Manajemen adalah tentang bagaimana mencapai dan mempertahankan keunggulan kompetitif. Dengan
definisinya sebagai Ilmu pengetahuan dan seni perumusan dalam menerapkan, dan mengevaluasi
keputusan lintas fungsi yang memungkinkan suatu Organisasi untuk mencapai tujuannya telah
menimbulkan Istilah ”Manajemen” yang bersinonim dengan ”Perencanaan” namun Manajemen: lebih
sering digunakan didalam dunia akademis, sedangkan perencanaan lebih sering digunakan didalam dunia
bisnis termasuk tapi tidak dibatasi oleh Organisasi Manajemen yang mengacu pada perumusan,
implementasi dan evaluasi strategi. Sedangkan perencanaan lebih mengacu pada perumusan strategi.
Secara bertahap Manajemen dikembangkan dalam:
(a) Tahap I Perumusan meliputi Visi dan Misi, Peluang dan Tantangan, Kekuatan dan Kelemahan, Saaran
Jangka Panjang, Strategi Alternatif, Pemilihan Strategi.
(b) Tahap II Implementasi meliputi Sasaran Tahunan, Kebijakan, Motivasi Karyawan, Alokasi Sumber
Daya.
(c) Tahap III Evaluasi meliputi Peninjauan Internal dan Eksternal, Mengukur Kinerja, Tindakan Perbaikan.
Landasan Epistemologis Manajemen menurut Husaini (2006:7) pengertian manajemen adalah seni atau
ilmu mengelola sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) untuk mewujudkan suasana
atau kegiatan ekonomi (bisnis) dan proses dalam bisnis agar seorang produsen (pengusaha) secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaa, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa
dan Negara.
Manajemen dapat pula didefinisikan sebagai seni dan ilmu mengelola sumber daya alam (SDA) dan
sumber daya manusia (SDM) mencapai tujuan ekonomi secara efektif dan efisien. Sumber daya alam
(SDA) dan sumber daya manusia (SDM) adalah sesuatu alat yang dipergunakan dalam penyelenggaraan
kegiatan ekonomi yang meliputi enam hal:
(1) administrasi peserta (pelaku ekonomi)
(2) administrasi tenaga kerja (SDM)
(3) administrasi keuangan
(4) administrasi sarana dan prasarana
(5) admistrasi hubungan pelaku (produsen) dengan masyarakat (konsumen)
(6) administrasi layanan khusus.
Perencanaan adalah sejumlah kegiatan yang ditentukan sebelumnya untuk dilaksanakan pada suatu
periode tertentu dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan.
Tujuan perencanaan adalah:
(1) standar pengawasan
(2) Mengetahui kapan pelaksanaan dan selesainya suatu kegiatan ekonomi.
(3) mengetahui siapa saja yang terlibat
(4) mendapatkan kegiatan yang sitematis
(5) meminimalkan kegiatan yang tidak produktif
(6) mendeteksi hambatan dan kesulitan yang ditemui
(7) mengarahkan pada pencapaian tujuan.
Manfaat dari perencanaan adalah :
1.sebagai standar pengasaan dan pengawasan.
2.pemuilihan sebagai alterbatif terbaik
3.penyusunan skala proritas, baik sasaran maupun kegiatan
4.membantu manajer menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan.
6.alat yang memudahkan dalam berkoordinasi dengan pihak terkait.
7.alat yang meminimalkan pekerjaan yang tidak pasti.
Pengorganisasian adalah (1) penentuan sumber daya dan kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai
tujuan organisasi, (2) proses perencanaan dan pengembangan suatu organisasi, (3) penguasaan
tanggung jawab tertentu, (4) pendelegasian wewenangyang diperlukan untuk individu-individu dalam
melaksanakan tugas-tugasnya.
Tiga komponen pengorganisasian:
1. ada kerja sama.
2. ada orang (pelaksana).
3. adanya tujuan bersama.
Manfaat Pengorganisasian adalah:
1.Mengatasi terbatasnya kemampuan, kemauan, dan sumber dayayang dimiliki.
2.untuk mencapai tujuan yang lebih efektif dan efesien,
3.wadah memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara bersama-sama.
4.wadah mengembangkan potensi dan spesialisasi yang dimiliki sesorang.
5.wadah mendapatkan jabatan dan pembagian kerja.
6.dawah mencari keuntungan bersama.
7.wadah mengelola lingkungan bersama-sama.
8.wadah menggunakan kekuasaan dan pengawasan
9.wadah mendapatkan pengahrgaan.
10.wadah memenuhi kebutuhan manusia.
11.wadah menambah pergaulan
Salah satu fungsi manejeman adalah pengerahan atau pelaksanaan. Setelah melaksanakan perencaan
dan pengorganisian yang terpenting adalah implementasi dari perencaaan yaitu pelaksaan. Pelasanaan
dalam program organisasi sangat terggantung dari dua aspek, yaitu: Kepemimpinan, dan motivasi kerja
anggota organisasi. Antar pemimpin dan pelaksana mempunyai tugas dan bertanggung jawab masing
masing atas tugasnya. Program tidak akan berjalan sesuai dengan yang diinginkan apabila tidak
didukung oleh kepemimpinan yang kuat dan motivasi kerja para anggota organisasi.
Pengendalian adalah proses pemantauan, penilaian dan pelaporan perencanaan atas pencapaian tujuan
yang dicapai yang telah ditetapkan untuk tindakan korektif guna penyempurnaan lebih lanjut.
Pengendalian sering disebut dengan pengawasan atau controlling, tujuannnya adalah:
1. Menghentikan atau meniadakan masalah, penyimpangan, penyelewengan, pemborosan, banbatan dan
ketidak adilan.
2. Mencegah terulangnya kembali kesalahan penyimpangan, penyelewengan, pemborosan, banbatan dan
ketidak adilan.
3. Menciptakan cara yang lebih baik untuk membina yang telah baik.
4. Menciptakan suasana keterbukaan, kejujuran, partisipasi dan akuntabilitas organisasi.
5. Meningkatkan kelancaran operasi organisasi.
6. Memberikan opini atas kerja organisasi.
Menciptakan terwujudnya pemerintahan yang bersih. Manfaat pengawasan adalah menigkatnya
akuntabilitas dan keterbukaan dalam organisasi. Dasar epistemologis diperlukan dalam manajemen atau
pakar ilmu Manajemen demi mengembangkan ilmunya secara produktif dan bertanggung jawab.
Sekalipun pengumpulan data di lapangan sebagaian dapat dilakukan oleh tenaga pemula namun telaah
atas objek formil ilmu manajemen memerlukaan pendekatan fenomenologis yang akan menjalin studi
empirik dengan studi kualitatif-fenomenologis. Pendekaatan fenomenologis itu bersifat kualitaatif, artinya
melibatkan pribadi dan diri peneliti sabagai instrumen pengumpul data secara pasca positivisme. Karena
itu penelaaah dan pengumpulan data diarahkan oleh ilmuwan sebagaai pakar yang jujur dan menyatu
dengan objeknya. Karena penelitian tertuju tidak hanya pemahaman dan pengertian (verstehen, Bodgan
& Biklen, dalam Umaedi: 1999). Pemikiran ini telah mendorong munculnya pendekatan baru, yakni
pengelolaan peningkatan mutu atau kualitas di masa mendatang harus berbasis manajemen sebagai
institusi paling depan dalam kegiatan ekonomi. Pendekatan ini, kemudian dikenal dengan sekolah
manajemen (School Based Quality Management) atau dalam nuansa yang lebih bersifat pembangunan
(developmental) disebut School Based Quality Improvement.
Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah ini ditulis dengan tujuan;
a. Mensosialisasikan konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah bisnis khususnya
kepada masyarakat.
b. Memperoleh masukan agar konsep manajemen ini dapat diimplentasikan dengan mudah dan sesuai
dengan kondisi lingkungan Indonesia yang memiliki keragaman kultural, sosio-ekonomi masyarakat dan
kompleksitas geografisnya.
c. Menambah wawasan pengetahuan masyarakat khususnya masyarakat sekolah dan individu yang
peduli terhadap pendidikan, khususnya peningkatan mutu pendidikan.
d. Memotivasi masyarakat sekolah untuk terlibat dan berpikir mengenai peningkatan mutu
pendidikan/pada sekolah masing – masing.
e. Menggalang kesadaran masyarakat sekolah untuk ikut serta secara aktif dan dinamis dalam
mensukseskan peningkatan mutu pendidikan.
f. Memotivasi timbulnya pemikiran-pemikiran baru dalam mensukseskan pembangunan pendidikan dari
individu dan masyarakat sekolah yang berada di garis paling depan dalam proses pembangunan tersebut.
g. Menggalang kesadaran bahwa peningkatan mutu pendidikan merupakan tanggung jawab semua
komponen masyarakat, dengan fokus peningkatan mutu yang berkelanjutan (terus menerus) pada
tataran sekolah.
h. Mempertajam wawasan bahwa mutu pendidikan pada tiap sekolah harus dirumuskan dengan jelas dan
dengan target mutu yang harus dicapai setiap tahun.
Peran Esensial Pemimpin Kepemimpinan mempunyai peran strategis dalam upaya perbaikan kualitas.
Setiap anggota organisasi harus memberikan konstribusi penting dalam upaya tersebut. Namun, setiap
upaya perbaikan yang tidak didukung secara aktif oleh pimpinan, komitment, kreatifitas, maka lama-
kelamaan akan hilang.
Dasar Aksiologis Managemen, Aksiologi merupakan suatu pendidikan yang menguji dan mengintegrasikan
semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain nilai-nilai tersebut ditanamkan dalam
pribadi para pemimpin bisnis (Manajer), staf dan pegawai. Sesuai dengan tujuannya, maka manfaat
manajemen adalah;
Pertama, terwujudnya suasana ekonomi dan proses kegiatan perekonomian yang Aktif, Inovative, Kreatif,
Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM).
Kedua, terciptanya pelaku kegiatan ekonomi yang aktif mengembangkan potensinya untuk memiliki
kekuatan spritual keagamaan pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Ketiga, terpenuhinya salah satu dari 4 kompetensi tenaga kerja (tertunjangnya kompetensi profesional
sebagai pelaku ekonomi dan tenaga kerja sebagai manajer).
Keempat, tercapainya tujuan perekonomian secara efektif dan efisien.
Kelima, terbekalinya tenaga kependidikan dengan teori tentang proses dan tugas administrasi pendidikan
(tertunjangnya profesi sebagai manajer pendidikan atau konsultan manajemen pendidikan); Keenam,
teratasinya masalah mutu pendidikan.(Husaini, 2006:8)
Kemanfaatan teori Manajemen pendidikan tidak hanya perlu sebagai ilmu yang otonom tetapi juga
diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi pendidikan sebagai proses pembudayaan
manusia secara beradab. Oleh karena itu nilai manajemen pendidikan tidak hanya bersifat intrinsic
sebagai ilmu seperti seni untuk seni, melainkan juga nilai ekstrinsik dan ilmu untuk menelaah dasar-dasar
kemungkinan bertindak dalam praktek melalui kontrol terhadap pengaruh yang negatif dan meningkatkan
pengaruh yang positif dalam pendidikan. Dengan demikian ilmu pendidikan tidak bebas nilai mengingat
hanya terdapat batas yang sangat tipis antar pekerjaan administrasi pendidikan dan tugas pendidik
sebagi pedagok. Dalam hal ini relevan sekali untuk memperhatikan pendidikan sebagai bidang yang sarat
nilai seperti dijelaskan oleh Phenix (1966). Itu sebabnya pendidikan memerlukan teknologi pula untuk
menjembatani persoalan yang sedang berlangsung maupun yang akan terjadi.