Você está na página 1de 5

2/19/2019 Arti Peristiwa Hukum dan Hubungan Hukum - hukumonline.

com

Ilmu Hukum
Hukum Perusahaan
Hukum Keluarga & Waris
Buruh & Tenaga Kerja
Hukum Perdata
Hukum Pidana
EVENTS & TRAINING
Events & Training
Kegiatan Terkini
Kalender Kegiatan
4 Arsip Kegiatan
Shares Coffee Break
Narasumber
Produk
4

Pro Bono Roundtable

Memahami Hukum Persaingan Usaha dan Kemitraan pada Era Digital dan Data Raksasa: Regulasi dan
Praktik Beracara (Angkatan V)

Hukumonline.com Human Resources Day 2019: Tantangan Perubahan Hubungan Industrial dalam
Revolusi Industri 4.0
PRODUK & JASA

KLINIK
Senin, 07 Mei 2018

Pertanyaan :

Arti Peristiwa Hukum dan Hubungan Hukum


Apakah yang sebenarnya disebut dengan peristiwa hukum? Apakah semua
peristiwa yang terjadi dinamakan dengan peristiwa hukum? Kemudian apakah
semua hubungan itu adalah hubungan hukum?
https://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt5aebc758a2210/arti-peristiwa-hukum-dan-hubungan-hukum 6/17
2/19/2019 Arti Peristiwa Hukum dan Hubungan Hukum - hukumonline.com

Punya pertanyaan lain ?


Silakan Login, atau Daftar ID anda.

4
Shares
Jawaban :
Intisari:
4

Secara sederhana peristiwa hukum itu adalah sebuah peristiwa yang dapat menggerakkan
hukum/menimbulkan akibat hukum. Tidak semua peristiwa dapat dikatakan sebagai peristiwa
hukum. Contoh peristiwa hukum: kelahiran, kematian, jual beli, dan sewa menyewa.

Sedangkan yang dimaksud dengan hubungan hukum ialah hubungan antara dua atau lebih subjek
hukum. Dalam hubungan hukum ini hak dan kewajiban pihak yang satu berhadapan dengan hak
dan kewajiban pihak yang lain. Tidak semua hubungan merupakan hubungan hukum karena suatu
hubungan hukum harus ada dasar hukum yang mengaturnya dan diikuti dengan adanya peristiwa
hukum.

Penjelasan lebih lanjut dapat Anda simak dalam ulasan di bawah ini.

Ingin Masalah Anda Segera Tuntas?


Konsultasikan Masalah Anda 
Percayakan masalah hukum Anda ke
ahlinya. Hubungi konsultan hukum Powered by:
a company of

profesional, hanya Rp299.000,- per 30


menit.

Ulasan:

Terima kasih atas pertanyaan Anda.

Peristiwa Hukum
Peristiwa hukum menurut Satjipto Rahardjo dalam bukunya Ilmu Hukum (hal. 35) adalah sesuatu yang bisa
menggerakkan peraturan hukum sehingga ia secara efektif menunjukkan potensinya untuk mengatur.

Lebih lanjut Satjipto Rahardjo menjelaskan bahwa peristiwa hukum ini adalah suatu kejadian dalam masyarakat
yang menggerakkan suatu peraturan hukum tertentu, sehingga ketentuan-ketentuan yang tercantum di dalamnya
lalu diwujudkan. Suatu peraturan hukum yang mengatur tentang kewarisan karena kematian akan tetap
merupakan rumusan kata-kata yang diam sampai ada seorang yang meninggal dan menimbulkan masalah
kewarisan. Kematian orang itu merupakan suatu peristiwa hukum. Secara lebih rinci: apabila dalam masyarakat
timbul suatu peristiwa, sedangkan peristiwa itu sesuai dengan yang dilukiskan dalam peraturan hukum, maka
peraturan hukum itu pun lalu dikenakan kepada peristiwa tersebut.[1]

Satjipto Rahardjo menyimpulkan bahwa tidak setiap peristiwa bisa menggerakkan hukum. Apabila A mengambil
sepeda motor miliknya sendiri, maka timbullah suatu peristiwa. Peristiwa ini tidak menggerakkan hukum untuk
bekerja, lain halnya apabila yang diambil oleh A adalah sepeda motor orang lain. Di sini hukum digerakkan untuk
https://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt5aebc758a2210/arti-peristiwa-hukum-dan-hubungan-hukum 7/17
2/19/2019 Arti Peristiwa Hukum dan Hubungan Hukum - hukumonline.com

bekerja, oleh karena hukum memberikan perlindungan terhadap orang lain yang mempunyai sepeda motor
tersebut. Oleh karena itu hanya peristiwa-peristiwa yang dicantumkan dalam hukum saja yang bisa
menggerakkan hukum dan untuk itu ia disebut sebagai peristiwa hukum.[2]

Hal yang sama juga disampaikan oleh R. Soeroso dalam bukunya Pengantar Ilmu Hukum (hal. 251).
Menurutnya, peristiwa hukum adalah:

Suatu rechtsfeit/suatu kejadian hukum.


Suatu kejadian biasa dalam kehidupan sehari-hari yang akibatnya diatur oleh hukum.
Perbuatan dan tingkah laku subjek hukum yang membawa akibat hukum, karena hukum mempunyai
kekuatan mengikat bagi subjek hukum atau karena subjek hukum itu terikat oleh kekuatan hukum.
4
Shares Peristiwa di dalam masyarakat yang akibatnya diatur oleh hukum. Tidak semua peristiwa mempunyai
akibat hukum, jadi tidak semua peristiwa adalah peristiwa hukum.

4
Jadi secara sederhana dapat kita simpulkan bahwa peristiwa hukum itu adalah sebuah peristiwa yang dapat
menggerakkan hukum/menimbulkan akibat hukum. Tidak semua peristiwa dapat dikatakan sebagai peristiwa
hukum.

Contoh Peristiwa Hukum


Sebagaimana pernah dijelaskan dalam artikel Banjir dan Gempa Bumi dari Kacamata Hukum, peristiwa
hukum ini terdiri dari:

1. Keadaan:

a. Alamiah: siang/malam hari


b. Kejiwaan: normal/abnormal
c. Sosial: keadaan perang

2. Kejadian: keadaan darurat, kelahiran/kematian, kadaluwarsa


3. Sikap tindak dalam hukum:

a. Menurut hukum: sepihak atau banyak pihak


b. Melanggar hukum:
i. exess du pouvoir/melampaui batas kekuasaan di bidang Hukum Tata Negara
ii. detournement de pouvoir/menyalahgunakan kekuasaan di bidang Hukum Administrasi
Negara
iii. di bidang hukum perdata: perbuatan melanggar hukum (lihat Pasal 1365 Kitab Undang-
Undang Hukum Perdata – “KUHPerdata)
iv. Strafbaar feit/peristiwa pidana yang sesungguhnya merupakan peristiwa atau
penyelewengan di tiga bidang lainnya, tetapi diancam dengan straf/pidana.
v. Sikap tindak lain: zaakwaarneming dalam Burgerlijk Wetboek (KUHPerdata)

Menurut Soeroso (hal. 252-253), macam-macam peristiwa hukum terdiri dari:

1. Peristiwa menurut hukum dan peristiwa melanggar hukum

Contoh:

a. Kelahiran, kematian, pendudukan tanah, pencemaran laut.


b. Lingkungan hidup, jual-beli, sewa menyewa, pemberian kredit, pembukaan rekening pada bank,
perjanjian negara, pembunuhan dan lain-lain.

Kejadian/peristiwa itu dapat terjadi karena:

a. Perbuatan manusia
b. Keadaan

https://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt5aebc758a2210/arti-peristiwa-hukum-dan-hubungan-hukum 8/17
2/19/2019 Arti Peristiwa Hukum dan Hubungan Hukum - hukumonline.com

Suatu peristiwa dapat menimbulkan akibat hukum.

Contoh:
Pasal 1239 KUHPerdata, yang berbunyi:

Tiap perikatan untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu apabila tidak dipenuhi kewajiban itu
oleh si berutang maka ia berkewajiban memberikan penggantian biaya, rugi dan bunga.

Dari contoh tersebut di atas terlihat bahwa adanya peristiwa-peristiwa tidak memenuhi kewajiban untuk
berbuat atau tidak berbuat sama sekali, akibat hukumnya mengganti biaya, rugi dan bunga.
4
Shares
2. Peristiwa hukum tunggal dan peristiwa hukum majemuk

Peristiwa hukum tunggal terdiri dari satu peristiwa saja.


4
Contoh: hibah (pemberian)

Peristiwa hukum majemuk, terdiri lebih dari satu peristiwa.


Contoh:

a. Dalam perjanjian jual-beli akan terjadi peristiwa tawar menawar, penyerahan barang, penerimaan
barang.
b. Sebelum perjanjian kredit akan terjadi perundingan, penyerahan uang dan di pihak lain penyerahan
barang bergerak sebagai jaminan gadai. Dengan pengembalian uang, maka di pihak lain berarti
pengembalian barang jaminan.

3. Peristiwa hukum sepintas dan peristiwa terus menerus

a. Peristiwa hukum sepintas, seperti pembatalan perjanjian tawar-menawar.


b. Peristiwa hukum terus menerus, seperti perjanjian sewa-menyewa. Uang sewa- menyewa berjalan
bertahun-tahun.

4. Peristiwa hukum positif dan peristiwa hukum negatif.

Hubungan Hukum
Menurut Soeroso (hal. 269), hubungan hukum ialah hubungan antara dua atau lebih subjek hukum. Dalam
hubungan hukum ini hak dan kewajiban pihak yang satu berhadapan dengan hak dan kewajiban pihak yang lain.

Hukum sebagai himpunan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan sosial memberikan suatu hak kepada
subjek hukum untuk berbuat sesuatu atau menuntut sesuatu yang diwajibkan oleh hak itu, dan terlaksananya
kewenangan/hak dan kewajiban tersebut diijamin oleh hukum.[3]

Setiap hubungan hukum mempunyai dua segi: Segi bevoegdheid (kekuasaan/kewenangan atau hak) dengan
lawannya plicht atau kewajiban. Kewenangan yang diberikan oleh hukum kepada subjek hukum (orang atau
badan hukum) dinamakan hak.[4]

Mengenai hubungan hukum ini, Logemann sebagaimana dikutip oleh Soeroso (hal. 270) berpendapat bahwa
dalam tiap hubungan hukum terdapat pihak yang berwenang/berhak meminta prestasi yang disebut dengan
prestatie subject dan pihak yang wajib melakukan prestasi disebut plicht subject.

Hubungan hukum memiliki 3 unsur yaitu:[5]

1. Adanya orang-orang yang hak/kewajiban saling berhadapan:

Contoh:
A menjual rumahnya kepada B.

https://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt5aebc758a2210/arti-peristiwa-hukum-dan-hubungan-hukum 9/17
2/19/2019 Arti Peristiwa Hukum dan Hubungan Hukum - hukumonline.com

A wajib menyerahkan rumahnya kepada B.


A berhak meminta pembayaran kepada B.
B wajib membayar kepada A.
B berhak meminta rumah A setelah dibayar.

2. Adanya objek yang berlaku berdasarkan hak dan kewajiban tersebut di atas (dalam contoh di atas objeknya
adalah rumah).
3. Adanya hubungan antara pemilik hak dan pengemban kewajiban atau adanya hubungan atas objek yang
bersangkutan.

Contoh:
4 A dan B mengadakan hubungan sewa menyewa rumah.
Shares
A dan B sebagai pemegang hak dan pengemban kewajiban.
Rumah adalah objek yang bersangkutan.
4
Syarat-syarat hubungan hukum adalah:[6]

1. Adanya dasar hukum, ialah peraturan-peraturan hukum yang mengatur hubungan hukum itu, dan
2. Timbulnya peristiwa hukum.

Contoh:
A dan B mengadakan perjanjian jual-beli rumah

a. Dasar hukumnya Pasal 1474 dan Pasal 1513 KUHPerdata yang masing-masing menetapkan bahwa si
penjual mempunyai kewajiban menyerahkan barang (Pasal 1474 KUHPerdata) dan sebaliknya si
pembeli berkewajiban membayar harga pembelian (Pasal 1513 KUHPerdata).
b. Karena adanya perjanjian jual-beli, maka timbul peristiwa hukum (jual-beli), ialah suatu perbuatan
hukum yang akibatnya diatur oleh hukum.

Jadi menjawab pertanyaan Anda, berdasarkan syarat tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak semua hubungan
merupakan hubungan hukum karena suatu hubungan hukum harus ada dasar hukum yang mengaturnya dan
diikuti dengan adanya peristiwa hukum.

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

Dasar hukum:
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Referensi:

1. R. Soeroso. 2011. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Sinar Grafika.


2. Satjipto Rahardjo. 1991. Ilmu Hukum. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

[1] Satjipto Rahardjo, hal. 35


[2] Satjipto Rahardjo, hal. 35
[3] Soeroso, hal. 270
[4] Soeroso, hal. 269
[5] Soeroso, hal. 271
[6] Soeroso, hal. 271

Perjuangan Anda Jangan Berhenti di Artikel Ini

https://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt5aebc758a2210/arti-peristiwa-hukum-dan-hubungan-hukum 10/17