Você está na página 1de 10

Afid Burhanuddin

Cara Memilih Masalah

Afid Burhanuddin
6 tahun yang lalu
A. Pengertian masalah.
Masalah adalah kata yang sering kita dengar dikehidupan sehari-hari, tak ada
seorangpun yang tak luput dari masalah baik masalah yang sifatnya ringan ataupun
masalah yang sifatnya berat. Masalah adalah suatu kendala atau persoalan yang harus
dipecahkan dengan kata lain masalah merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan
suatu yang diharapkan dengan baik.

Berikut merupakan pengertian masalah menurut beberapa ahli dan kamus Bahasa
Indonesia:

Munurut kamus BBI, Masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan.


Menurut Sugiyono (2009:52) masalah diartikan sebagai penyimpangan antara yang
seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antara teori dengan praktek, antara
aturan dengan pelaksanaan, antara rencana dengan pelaksana.
Menurut James Stoner, Masalah suatu situasi menghambat organisasi untuk mencapai
satu atau lebih tujuan.
Menurut Prajudi Atmosudirjo, Masalah adalah sesuatu yang menyimpang dari apa yang
diharapkan, direncanakan, ditentukan untuk dicapai sehingga merupakan rintangan
menuju tercapainya tujuan.
Menurut Roger Kaufman, Masalah adalah suatu kesenjangan yang perlu ditutup antara
hasil yang dicapai pada saat ini dan hasil yang diharapkan.
Menurut Dorothy Craig, Masalah adalah situasi atau kondisi yang akan datang dan
tidak diinginkan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa masalah penelitian adalah sesuatu hal atau kejadian
yang dijadikan sebuah penelitian dengan mempertimbangkan beberapa hal dalam
menentukan suatu masalah dalam penelitian sehingga memperoleh jawaban yang
diinginkan.

B. Mencari masalah penelitian yang benar.


Banyaknya masalah penelitian yang sering ditemukan, seringkali membuat seorang
peneliti harus memilih masalah penelitian yang paling layak diantara beberapa
masalah tersebut. Hal yang penting dijadikan pegangan dalam memilih masalah
penelitian ini adalah bahwa keputusan dan penentuan terakhir adalah terletak pada
peneliti itu sendiri.
Sebelum memilih masalah, terlebih dahulu peneliti harus menentukan topik
penelitian.

Untuk menentukan topik penelitian Narbuko dan Achmadi (2002) menyampaikan bahwa
sebelum menentukan topik penelitian, seorang peneliti harus terlebih dahulu
menanyakan pada diri sendiri tentang beberapa pertanyaan berikut:

“Apakah topik tersebut dapat dijangkaunya/ dikuasainya (manageble topic)?”

“Apakah bahan-bahan/ data-data tersedia dengan cukup (obtainable data)?”

“Apakah topik tersebut penting untuk diteliti (significancy of topic)?”

“Apakah topik tersebut menarik untuk diteliti dan dikaji (interested topic)?”

Setelah topik ditentukan selanjutnya peneliti harus memilih masalah penelitian yang
sesuai dengan topik tersebut. Pertimbangan dalam memilih masalah penelitian agar
masalah yang dipilih layak dan relevan untuk diteliti diungkapkan oleh Notoatmodjo
(2002), meliputi:

Masalah masih baru.


“Baru” dalam hal ini adalah masalah tersebut belum pernah diungkap atau diteliti
oleh orang lain dan topik masih hangat di masyarakat, sehingga agar tidak sia-sia
usaha yang dilakukan, sebelum menentukan masalah, peneliti harus banyak membaca
dari jurnal-jurnal penelitian maupun media elektronik tentang penelitian terkini.

Aktual.
Aktual berarti masalah yang diteliti tersebut benar-benar terjadi di masyarakat.
Sebagai contoh, ketika seorang dosen keperawatan akan meneliti tentang masalah
gangguan konsep diri pada pasien yang telah mengalami hemodialise berulang, maka
sebelumnya peneliti tersebut harus melakukan survey dan memang menemukan masalah
tersebut, meskipun tidak pada semua pasien.

Praktis.
Masalah penelitian yang diteliti harus mempunyai nilai praktis, artinya hasil
penelitian harus bermanfaat terhadap kegiatan praktis, bukan suatu pemborosan atau
penghamburan sumber daya tanpa manfaat praktis yang bermakna.

Memadai.
Masalah penelitian harus dibatasi ruang lingkupnya, tidak terlalu luas, tetapi juga
tidak terlalu sempit. Masalah yang terlalu luas akan memberikan hasil yang kurang
jelas dan menghamburkan sumber daya, sebaliknya masalah penelitian yang terlalu
sempit akan memberikan hasil yang kurang berbobot.

Sesuai dengan kemampuan peneliti.


Seseorang yang akan melakukan penelitian harus mempunyai kemampuan penelitian dan
kemampuan di bidang yang akan diteliti, jika tidak, hasil penelitiannya kurang
dapat dipertanggungjawabkan dari segi ilmiah (akademis) maupun praktis.

Sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah.


Masalah-masalah yang bertentangan dengan kebijaksanaan pemerintah, undang-undang
ataupun adat istiadat sebaiknya tidak diteliti, karena akan banyak menemukan
hambatan dalam pelaksanaan penelitiannya nanti.

Ada yang mendukung.


Setiap penelitian membutuhkan biaya, sehingga sejak awal sudah dipertimbangkan
darimana asal biaya tersebut akan diperoleh. Tidak jarang masalah-masalah
penelitian yang menarik akan mendapatkan sponsor dari instansi-instansi pendukung,
baik pemerintah maupun swasta. Berdasarkan beberapa pertimbangan tersebut, sebelum
melakukan pemilihan masalah penelitian, maka peneliti harus menjawab beberapa
pertanyaan berikut agar masalah yang diteliti layak dan relevan (Notoatmodjo,
2002):

Apakah masalah yang akan diteliti merupakan masalah yang sedang hangat di dalam
masyarakat saat ini?
Apakah masalah tersebut benar-benar aada di dalam masyarakat?
Sejauh mana masalah tersebut dirasakan? Apakah penduduk atau masyarakat merasakan
masalah tersebut?
Apakah masalah tersebut mempengaruhi kelompom tertentu, misalnya ibu hamil, bayi,
atau anak balita?
Apakah masalah tersebut berhubungan dengan masalah sosial, kesehatan atau ekonomi
yang luas?
Apakah masalah tersebut berhubungan dengaan kativitas program yang sedang berjalan?
Siapa lagi yang tertarik atau terlibat dalam masalah tersebut?
Dengan beberapa pertimbangan dan pertanyaan tersebut, diharapkan akan dapat
dirumuskan masalah penelitian yang layak dan relevan, sehingga masalah penelitian
memberikan manfaat, baik secara teoritis maupun aplikatif.
C. Memilih Masalah Penelitian.
Masalah penelitian yang biasa dilakukan untuk thesis ataupun desertasi pada umumnya
memusat pada peristiwa di bidang pendidikan yang diharapakan untuk menguraikan,
menjelaskan, dan mengembangkan suatu solusi. Dalam menentukan suatu masalah
penelitian memerlukan suatu pengertian yang mendalam dan imajinasi (Borg, 1983:72).

Pemilihan masalah penelitian yang tepat adalah masalah bagaimana menanyakan


pertanyaan yang baik yaitu pertanyaan yang sesuai dan penting dalam konteks
pendidikan. Meskipun tidak ada seperangkat standar prosedur untuk memilih masalah
penelitian, pertimbangan faktor-faktor khusus perlu diperhatikan. Masalah
penelitian harus menarik baik dari segi peneliti maupun komunitas pendidikan.
(Wiersma.1986:29)

Seluruh proses pencarian masalah penelitian adalah suatu langkah yang penting untuk
menjadi seorang yang profesional, sehingga hasil yang ia capai dalam penelitian
tersebut dapat mendukung profesinya berupa pengalaman yang berharga, memperoleh
informasi dan pengetahuan (Borg,1983: 72-73).

Untuk memilih/menemukan suatu masalah yang spesifik dalam penelitian menurut Borg
(1983: 75-82).yang harus dilakukan yaitu:

Mengidentifikasi lingkup masalah.


Langkah yang dapat ditempuh adalah menuliskan sebanyak mungkin tipe-tipe kajian
yang akan dilakukan dan aspek-aspek khusus yang paling menarik setelah area minat
profesional telah teridentifikasi, carilah masalah-masalah yang lebih khusus dalam
area ini yang dapat membentuk dasar-dasar untuk tesis.

Bekerja pada suatu team proyek penelitian.


Kerja pada kelompok biasanya berkenaan dengan studi yang lebih besar dan canggih
dibanding bila dilakukan perorangan oleh karenanya keterlibatan kerja ini
memberikan banyak hal tentang prosedur. Keuntungan lain adalah kesempatan belajar
akan kerja team penelitian akan bermanfaat dimasa yang akan datang. Juga banyak hal
yang dapat dipelajari dari anggota tim lain. Walau mempunyai keuntungan, kerja
proyek kelompok juga mempunyai kekurangan, barangkali yang paling terlihat adalah
hilangnya kesempatan untuk menemukan dan mengembangkan masalahnya sendiri.

Membaca literatur-literatur.
Membaca dalam artian membaca yang terprogram dan sistimatis. Carlah referensi-
referensi terbaru yang sesuai dengan studi kemudian seleksi 2 atau lebih buku
referensi dan buatlah review bab-bab yang bersangkutan. Kegiatan membaca ini akan
membantu mempersempit perhatian pada satu atau lebih sub topik yang khusus.

Meneliti teori-teori yang sudah ada.


Secara sederhana teori adalah penjelasan peristiwa fisik maupun perilaku. Teori
terdiri dari generalisasi (dalam ilmu-ilmu fisik disebut hukum) dan konstruk.
Generalisasi adalah pernyataan hubungan antara 2 atau lebih peristiwa; generalisasi
dapat digunakan untuk memprediksi peristiwa. Misalnya, pernyataan bahwasanya tutor
individu mengakibatkan prestasi sekolah meningkat adalah generalisasi. Bila
generalisasi dianggap benar, maka kita dapat memprediksi bahwasanya seorang murid
yang bila diberikan tutorial akan menunjukkan peningkatan dalam prestasi. Konstruk
adalah sejenis konsep yang digunakan dalam penelitian ilmiah untuk menggambarkan
peristiwa-peristiwa yang memberikan elemen-elemen serupa. Contoh konstruk adalah
motivasi, prestasi, kemampuan belajar, intelegensi dan nilai. Konstruk biasanya
didefinisikan dalam istilah yang operasional yang membutuhkan pengukuran. Misalnya
inteligensi didefinisikan dalam istilah skor yang berasal dari hasil test
intelegensi. Pengukuran operasional konstruk biasanya disebut variabel karena
tingkat konstruk yang ditunjukkan subyek yang berbeda bervariasi. Penelitian
teoritis biasanya terdiri atas pengetahuan hipotesis (spekulasi tentang hubungan 2
variabel atau lebih).

Ada beberapa keuntungan melakukan penelitian teoritis dalam pendidikan. Pertama,


teori cenderung memfokuskan arah penelitian. Kedua teori dapat memberikan dasar
rasional yang digunakan untuk menjelaskan atau menginterprestasi hasil-hasil
penelitian. Keuntungan yang lain adalah studi semacam ini dapat membantu
perkembangan suatu teori dan teori yang baik akan memungkinkan peneliti melakukan
prediksi situasi dalam rentang yang luas.

Melakukan replikasi penelitian.


Replikasi penelitian ini digunakan untuk:

Mengecek penemuan-penemuan studi yang sangat penting. Replikasi semacam ini penting
dalam membantu menguatkan atau menggugurkan validitas bukti baru.
Untuk mengecek validitas penemuan-penemuan penelitian pada populasi yang berbeda.
Tanpa replikasi kita tidak mampu untuk menentukan tingkat aplikasi penemuan-
penemuan pada pupulasi lain.
Untuk mengecek kecenderungan atau pembahasan dari waktu ke waktu.
Untuk mengecek penemuan-penemuan penting dengan menggunakan metodologi yang
berbeda.
Menurut Nasution (1996:16) Masalah dapat dipilih berdasarkan pertimbangan pribadi
dan praktis, misalnya:

Apakah masalah itu sesuatu yang baru, menarik serta menimbulkan rasa ingin tahu
pada peneliti?
Apakah masalah itu sesuai dengan jurusan, kemampuan dan latar belakang
pendidikannya?
Apakah masalah memerlukan alat-alat khusus dan kondisi kerja yang dapat dipenuhi
oleh calon peneliti?
Apakah dengan metode tertentu dapat dikumpulkan data yang diperlukan?
Apakah calon peneliti dapat menaggung segala pembiayaannya?
Apakah calon peneliti dapat menyelesaikannya dalam waktu yang tersedia?
Kriteria lain yang bersifat ilmiah yang perlu diperhatikan, agar masalah penelitian
itu memberikan sumbangan kepada perkembangan pengetahuan antara lain:

Masalah hendaknya bertalian dengan konsep-konsep yang pokok atau hubungan antara
konsep-konsep yang pokok.
Masalah itu hendaknya mengembangkan atau memperluas cara mentes suatu teori.
Masalah itu memberi sumbangan kepada pengembangan metodologi penelitian dengan
menemukan alat, teknik, atau metode baru.
Masalah itu hendaknya memanfaatkan konsep-konsep, teori, atau data dan teknik dari
disiplin-disiplin yang bertalian.
Masalah itu hendaknya dituangkan dalam desain yang cermat dengan uraian yang teliti
mengenai variabel-variabelnya serta menggunakan metode-metode yang paling sesuai.
(Nasution,1996:16)

JENIS-JENIS DAN CARA MERUMUSKAN MASALAH

A. Jenis-Jenis Masalah Penelitian.


Berdasarkan tingkat eksplanasinya.
Masalah penelitian bisa diklasifikasikan ke dalam tiga jenis bentuk masalah
penelitian yaitu deskriptif, komparasi, dan asosiasi (Sugiyono, 1994:36-39,
Arikunto (1993: 28-31).

Permasalahan Deskriptif.
Permasalahn deskrptif adalah suatu permasalahan yang berkenaan dengan variabel
mandiri, yaitu tanpa membuat perbandingan dan menghubungkan antar variabel.

Contoh dalam bentuk rumusan masalah penelitian:

1) Bagaimana sikap masyarakat Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang


terhadap KB Mandiri?

2) Bagaimanakah tingkat pemahaman unsur-unsur intrinsik puisi siswa kelas


VII SMP 2 Tulakan Tahun pelajaran 2012-2013?

Permasalahan Komparatif.
Permasalahan komparatif adalah suatu permasalahan penelitian yang bersifat
membandingkan keberadaan suatu variabel pada dua sampel atau lebih.
Contoh dalam bentuk rumusan masalah penelitian:

1) Adakah perbedaan kemampuan berpidato antara siswa yang bersasal dari SLTP
negeri dengan siswa yang berasal dari SLTP swasta?

2) Adakah kesamaan pola pengembangan karangan berita pada majalah dengan


berita pada surat kabar?

3) Mana yang lebih tinggi prestasi siswa anak guru dengan anak wiraswata?

Permasalahan Asosiatif
Permasalahan ini menghubungkan dua variabel atau lebih baik berupa hubungan
simetris, kausal, maupun interaktif.

1) Hubungan simetris/korelasi sejajar.

Hubungan simetris atau korelasi sejajar adalah suatu hubungan antara dua variabel
yang kedudukannya sejajar, tidak ada hubungan kausal.

Contoh dalam bentuk rumusan masalah:

a) Adakah hubungan antara kemampuan dibidang matematik dengan kemampuan


dibidang bahasa?

b) Adakah hubungan antara banyaknya semut di pohon dengan tingkat manisnya


buah ?

2) Hubungan kausal.

Hubungan kausal adalah hubungan yang menunjukkan sebab akibat. Dengan demikian ada
variabel independen (bebas) dan variabel dependen (terikat).

Contoh dalam rumusan masalah:

a) Adakah pengaruh banyaknya pujian terhadap semangat belajar siswa?

b) Seberapa besar pengaruh pengetahuan jenis karangan terhadap kemampuan


mengarang?

3) Hubungan interaktif

Hubungan interaktif adalah hubungan yang saling memepengaruhi. Dalam jenis ini
tidak diketahui mana varibel bebas dan mana variabel terikat.

Contoh dalam rumusan masalah:

a) Adakah hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa SMU?

b) Adakah hubungan antara kepandaian dengan kekayaan?

B. Cara Merumuskan Masalah Penelitian yang Benar.


Masalah penelitian berbeda dengan masalah-masalah lainnya. Tidak semua masalah
kehidupan dapat menjadi masalah penelitian. Masalah penelitian terjadi jika ada
kesenjangan antara yang seharusnya dengan kenyataan yang ada, antara apa yang
diperlukan dengan yang tersedia antara harapan dan kenyataan. Salah satu cara untuk
membuat perumusan masalah yang baik ialah dengan melakukan proses penyempitan
masalah dari yang sangat umum menjadi lebih khusus dan pada akhirnya menjadi
masalah yang spesifik dan siap untuk diteliti.

Kriteria Masalah Penelitian


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih masalah penelitian.
Memiliki nilai penelitian
Masalah yang akan dipecahkan akan berguna atau bermanfaat yang positif.
Memiliki fisibilitas
Fisibilitas artinya masalah tersebut dapat dipecahkan atau dijawab.
Faktor yang perlu diperhatikan, antara lain:
Adanya data dan metode untuk memecahkan masalah tersebut.
Batas-batas masalah yang jelas.
Adanya alat atau instrumen untuk memecahkannya.
Adanya biaya yang diperlukan.
Tidak bertentangan dengan hukum.
Sesuai dengan kualitas peneliti, artinya tingkat kesulitan masalah disesuaikan
dengan tingkat kemampuan peneliti.
Rumusan Masalah Penelitian yang Baik
Rumusan masalah penelitian yang baik, antara lain:
Bersifat orisinil, belum ada atau belum banyak orang lain yang meneliti masalah
tersebut.
Dapat berguna bagi kepentingan ilmu pengetahuan dan terhadap masyarakat.
Dapat diperoleh dengan cara-cara ilmiah.
Jelas dan padat, jangan ada penafsiran yang lain terhadap masalah tersebut.
Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya.
Bersifat etis, artinya tidak bertentangan atau menyinggung adat istiadat, ideologi,
dan kepercayaan agama.
Sumber Masalah Penelitian
Sumber masalah penelitian, antara lain:
Buku bacaan atau laporan hasil penelitian.
Pengamatan sepintas.
Pernyataan pemegang otoritas.
Perasaan intuisi.
Diskusi, seminar, dan pertemuan ilmiah lainnya.
Berdasarkan topik atau masalah penelitian yang telah ditemukan maka dapat dilakukan
tahapan-tahapan penelitian berikutnya. Studi Pendahuluan dan Merumuskan Masalah.

Studi Pendahuluan.
Setelah calon peneliti memilih dan menemukan masalah, langkah selanjutnya adalah
melakukan studi pendahuluan yang bertujuan untuk mendalami permasalahan sehingga
calon peneliti benar-benar dapat mempersiapkan perencanaan selanjutnya. Studi
pendahuluan ini mempunyai tujuan sebagaj berikut:
Agar peneliti tidak mengulang hasil penelitian orang lain.
Mengetahui dengan pasti apa yang diteliti.
Mengetahui di mana atau kepada siapa data atau informasi dapat diperoleh.
Memahami bagaimana teknik atau cara memperoleh data atau informasinya.
Dapat menentukan metode yang tepat untuk menganalisis data atau informasi tersebut.
Memahami bagaimana harus mengambil kesimpulan dan cara memanfaatkan hasilnya.
Studi pendahuluan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
Studi kepustakaan, yaitu membaca artikel, paper, buku-buku teori yang terkait,
hasil penelitian sebelumnya, dan sebagainya.
Bertanya, berkonsultasi dengan seseorang yang dianggap ahli atau narasumber.
Kunjungan ke lokasi atau ke daerah di mana masalah penelitian itu bersumber.
Bentuk-bentuk rumusan masalah.
Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan
pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri baik hanya pada satu variabel atau
lebih (variabel yang berdiri sendiri). Jadi dalam penelitian ini peneliti tidak
membuat perbandingan variabel itu pada sampel yang lain dan mencari hubungan
variabel itu dengan variabel yang lain.
Rumusan komparatif adalah rumusan masalah penelitian yang membandingkan keberadaan
satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda.
Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah penelitian yang bersifat
menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Terdapat tiga bentuk hubungan
yaitu: hubungan simetris, hubungan kausal, dan interaktif.
Merumuskan Masalah.
Setelah pengidentifikasian, pemilihan masalah, dan melakukan studi pendahuluan
serta sudah yakin terhadap masalah yang dipilih, kemudian dilakukan perumusan
masalah penelitian. Hasil perumusan masalah itu dapat dijadikan topik atau judul
penelitian. Perumusan masalah penelitian harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

Rumusan masalah berwujud kalimat tanya atau yang bersifat kalimat interogatif, baik
pertanyaan yang memerlukan jawaban deskriptif, maupun pertanyaan yang memerlukan
jawaban eksplanatoris, yaitu yang menghubungkan dua atau lebih fenomena atau gejala
di dalam kehidupan manusia.
Rumusan masalah harus jelas, padat, dan dapat dipahami oleh orang lain.
Rumusan masalah penelitian bermanfaat atau berhubungan dengan upaya pembentukan dan
perkembangan teori, dalam arti pemecahannya secara jelas, diharapkan akan dapat
memberikan sumbangan teoritik yang berarti, baik sebagai pencipta teori-teori baru
maupun sebagai pengembangan teori-teori yang sudah ada.
Perumusan masalah yang baik, juga hendaknya dirumuskan di dalam konteks kebijakan
pragmatis yang sedang aktual, sehingga pemecahannya menawarkan implikasi kebijakan
yang relevan pula, dan dapat diterapkan secara nyata bagi proses pemecahan masalah
bagi kehidupan manusia.
Rumusan masalah harus mengandung unsur data yang mendukung pemecahan masalah
penelitian.
Rumusan masalah harus merupakan dasar dalam membuat kesimpulan sementara
(hipotesis).
Masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian.
Cara untuk memformulasikan masalah.
Dengan menurunkan masalah dari teori yang telah ada, seperti masalah pada
penelitian eksperimental.
Dari observasi langsung dilapangan, seperti yang sering dilakukan oleh ahli-ahli
sosiologi. Jika masalah diperoleh dilapangan,maka sebaiknya juga menghubungkan
masalah tersebut dengan teori-teori yang telah ada, sebelumnya masalah tersebut
diformulasikan. Ini bukan berarti bahwa dalam memilih penelitian yang tidak
didukung oleh suatu teori tidak berguna sama sekali. Karena ada kalanya penelitian
tersebut dapat menghasilkan dalil-dalil dan dapat membentuk sebuah teori.
Fungsi Perumusan Masalah Penelitian.
Fungsi perumusan masalah, antara lain:

Sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan kata lain
berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan dapat dilakukan.
Sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian. Perumusan masalah
ini tidak berharga mati, akan tetapi dapat berkembang dan berubah setelah peneliti
sampai di lapangan.
Sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh
peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti.
Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana yang tidak perlu dapat
dilakukan peneliti, karena melalui perumusan masalah peneliti menjadi tahu mengenai
data yang bagaimana yang relevan dan data yang bagaimana yang tidak relevan bagi
kegiatan penelitiannya.
Dengan adanya perumusan masalah penelitian, maka para peneliti menjadi dapat
dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel
penelitian.

KESIMPULAN

1. Masalah penelitian adalah sesuatu hal atau kejadian yang dijadikan sebuah
penelitian dengan mempertimbangkan beberapa hal dalam menentukan suatu masalah
dalam penelitian sehingga memperoleh jawaban yang diinginkan.
Cara Mencari masalah penelitian yang benar yang diungkapkan oleh Notoatmodjo
(2002), meliputi:
Masalah masih baru.
Aktual.
Praktis.
Memadai.
Sesuai dengan kemampuan peneliti.
Sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah.
Ada yang mendukung.
Memilih Masalah Penelitian.
Untuk memilih/menemukan suatu masalah yang spesifik dalam penelitian menurut Borg
(1983: 75-82).yang harus dilakukan yaitu:

Mengidentifikasi lingkup masalah.


Bekerja pada suatu team proyek penelitian.
Membaca literatur-literatur.
Meneliti teori-teori yang sudah ada.
Melakukan replikasi penelitian.
Jenis-Jenis Masalah Penelitian berdasarkan tingkat eksplanasinya masalah penelitian
bisa diklasifikasikan ke dalam tiga jenis bentuk masalah penelitian yaitu
deskriptif, komparasi, dan asosiasi (Sugiyono, 1994:36-39, Arikunto (1993: 28-31).
Cara Merumuskan Masalah Penelitian yang Benar.
Salah satu cara untuk membuat perumusan masalah yang baik ialah dengan melakukan
proses penyempitan masalah dari yang sangat umum menjadi lebih khusus dan pada
akhirnya menjadi masalah yang spesifik dan siap untuk diteliti.

Faktor yang perlu diperhatikan, antara lain:


1) Adanya data dan metode untuk memecahkan masalah tersebut.

2) Batas-batas masalah yang jelas.

3) Adanya alat atau instrumen untuk memecahkannya.

4) Adanya biaya yang diperlukan.

5) Tidak bertentangan dengan hukum.

6) Sesuai dengan kualitas peneliti, artinya tingkat kesulitan masalah


disesuaikan dengan tingkat kemampuan peneliti.
Rumusan Masalah Penelitian yang Baik.
1) Bersifat orisinil.Dapat berguna bagi kepentingan ilmu pengetahuan dan
terhadap masyarakat.

2) Dapat diperoleh dengan cara-cara ilmiah.

3) Jelas dan padat, jangan ada penafsiran yang lain terhadap masalah
tersebut.

4) Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya.

5) Bersifat etis, artinya tidak bertentangan atau menyinggung adat istiadat,


ideologi, dan kepercayaan agama.

Bentuk-bentuk rumusan masalah.


1) Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang berkenaan
dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri baik hanya pada satu
variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri

2) Rumusan komparatif adalah rumusan masalah penelitian yang membandingkan


keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda.

3) Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah penelitian yang bersifat


menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Terdapat tiga bentuk hubungan
yaitu: hubungan simetris, hubungan kausal, dan interaktif.

Fungsi perumusan masalah, antara lain:


1) Sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan
kata lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan dapat
dilakukan.

2) Sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian.

3) Sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan
oleh peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan oleh
peneliti.

4) Dengan adanya perumusan masalah penelitian, maka para peneliti menjadi


dapat dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel
penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Addriadi, Irfan. 2013. “Cara Memformulasikan masalah penelitian”


(http://addriadis.blogspot.com) Didownload tanggal 09 April 2013 pukul 16:00 WIB.

Arikunto, Suharsimi. 2005. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Husada, Dian. 2010. “Cara merumuskan masalah penelitian”


(http://dianadewikirana.blogspot.com) Didownload tanggal 06 April 2013 pukul 10:13
WIB.

Mulyanto, Agus. 2009. “Jenis-jenis masalah penelitian”


(http://mulyanto.blogdetik.com) Didownload tanggal 06 April 2013 pukul 09:00 WIB.

Sahut, Suyatno. 2011. “Pengertian Masalah dan Jenis Masalah”


(http://yayatsahut.blogspot.com) Didownload tanggal 06 April 2013 pukul 16:15 WIB.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,


dan R & D). Bandung: IKAPI.

___________

Oleh: Maulidiah Novita Dewi

(Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian dosen pengampu Afid
Burhanuddin, M.Pd.)

Kategori: Metodologi Penelitian


Tinggalkan sebuah Komentar
Afid Burhanuddin

Kembali ke atas