Você está na página 1de 10

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM ANALISA BATUBARA

ANALISA NILAI KALOR PADA BATUBARA

Disusun Oleh:
Kelompok 2

Nur Aina (061640411602)


Radian Ramadhani (061640411603)
Reviana Herezky Ningsih (061640411605)
Safira Eva Ramadhana Salsabila (061640411606)
Siti Nurhidayati (061640411607)
Tamara Chosyatillah (061640411608)
Tri Fitria Adi Kusuma (061640411609)
Yella Ningtyas (061640411610)
Zella Astriyani (061640411611)
Andre Krismantoro (061640411919)
Jenni Hilmasari (061640411925)
Novianti (061640411932)

Kelas : 3 EGB
Instruktur : Ir. Hj. Sutini Pujiastuti Lestari,M.T

JURUSAN TEKNIK KIMIA


PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN (DIV) TEKNIK ENERGI
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2017/2018
ANALISA NILAI KALOR PADA BATUBARA

I. RUANG LINGKUP
Standar ini meliputi analisa nilai kalor kotor (gross calorific value) dari
batubara dengan menggunakan adiabatic bom kalorimeter Parr 6400.

II. STANDAR ACUAN


ASTM D 5856-iLa

III. PRINSIP
Kapasitas panas bom kalorimeter ditentukan dengan membakar sejumlah
berat asam benzoat dengan oksigen dan nilainya akan dibandingkan dengan
sampel yang akan dianalisa pada kondisi yang sama. Nilai panas dari sampel
yang dihitung dengan mengalikan kenaikan suhu koreaksi dengan kapasitas
panas dan membaginya denga berat sampel.

IV. DASAR TEORI


Nilai kalor adalah ukuran dari energi panas dalam batubara yang
digunakan sebagai faktor utama dalam penentuan harga batubara. Nilai kalor
adalah banyaknya panas yang dapat dilepaskan oleh setiap kilogram batubara
jika dibakar sempurna. Dalam SI, nilai kalor dinyatakan dalam satuan KJ/Kg.
Terdapat empat macam nilai kalor, yaitu :
1. Nilai kalor kotor pada volume konstan (GCV V)
2. Nilai kalor bersih pada volume konstan (NCV V)
3. Nilai kalor kotor pada tekanan konstan (GCV P)
4. Nilai kalor bersih pada tekanan konstan (NCV P)

Bom kalorimeter adalah salah satu alat yang dipakai untuk menentukan
atau mengukur nilai kalor kotor pada volume konstan, sedangkan nilai kalor
yang lain selanjutnya akan dapat dihitung jika komposisi bahan bakar telah
diketahui.
Metode penentuan nilai kalor batubara menggunakan bom kalorimeter
dengan membakar sejumlah kecil sampel batubara dalam oksigen di dalam
sebuah cawan yang ditempatkan dalam bejana kalorimeter. Selanjutnya
bejana beserta isinya ditempatkan di dalam bejana berongga yang lebih besar
dimana di dalam rongga dinding bejana diisi dengan air untuk membentuk
jacket, hal ini bertujuan untuk memperkecil transfer panas antara bejana
kalorimeter dengan lingkungan. Kemudian sampel batubara tersebut dibakar
dengan bantuan pemantik listrik, dan panas yang dilepaskan dari proses
pembakaran sampel tersebut kemudian diukur dengan cara mengukur
temperatur air dalam kalorimeter sebelum dan naiknya suhu dikalikan dengan
panas jenis air.
Kata gross (kotor) pada penilaian kalor batubara mengandunng
pengertian bahwa panas laten penguapan dari air yang terdapat dalam
batubara ditambah panas laten dari air yang terbentuk selama pemanasan
boiler.
Kata net (bersih) menandakan bahwa panas laten untuk membentuk uap
air tidak diperhitungkan dalam harga nilai kalor karena panas laten ini
terbuang dalam bentuk uap air. Secara aktual panas laten dan uap air ini tidak
bisa diperoleh kembali dalam kondisi operasi boiler, sehingga pabrik-pabrik
pembuat boiler harus menyatakan harga efisiensi boiler berdasarkan nilai
kalor bersih (Net Calorific Value), dan efisiensi ini sekitar 4% lebih tinggi
dari harga efisiensi yang dihitung berdasarkan nilai kalor kotor (Gross
Calorific Value). Hal ini harus diperhitungkan bila akan membandingkan
harga efisiensi boiler yang satu dengan boiler yang lain.
Proses pembakaran batubara dalam sebuah kalorimeter berbeda dengan
proses pembakaran batubara dalam boiler. Proses pembakaran dalam bom
kalorimeter berlangsung padda volume konstan, sedangkan proses
pembakaran pada boiler berlangsung pada tekanan konstan. Bila proses
pembakaran berlangsung pada tekanan konstan, maka gas hasil pembakaran
harus bebas memuai sehingga melakukan kerja, dengan demikian nilai kalor
pada tekanan konstan akan lebih tinggi dari pada nilai kalor yang diperoleh
dari bom kalorimeter bila panas ekivalen dengan kerja diperhitungkan. Selain
itu ada beberapa rumus yang dipakai untuk menghitung nilai kalor bahan
bakar, tetapi hal ini perlu dilakukann analisa dengan metode ultimat.
Ada dua cara untuk penentuan nilai kalor menggunakan bom kalorimeter
1. Nilai Kalor Atas (High Heating Value)
Nilai kalor atas yang diperoleh dimana hasil pembakaran bahan
bakar didinginkan sampai suhu kamar sehingga sebagian besar uap air
yanng terbentuk akan mengembun dan melepaskan panas latennya. Hasil
pengujian bom kalorimeter adalah temperatur air pendingin sebelum dan
sesudah penyalaan, dapat dihitung :

HHV = (T2-T1-TKp) x CV

Dimana,
HHV = Nilai Kalor Atas (KJ/Kg)
T1 = T air dingin sebelum penyalaan (oC)
TKp = Kenaikan temperatur
T2` = T air dingin sesudah penyalaan (oC)
CV = Panas jenis bom kalorimeter

2. Nilai Kalor Bawah


Nilai bahan bakar tanpa panas laten yang berasal dari pengembunan
uap air, dapat dihitung dengan cara :

LHV =HHV - 3240

V. ALAT DAN BAHAN


 Alat yang Digunakan
1. Bom Pembakaran (combustion bom)
2. Neraca analitik
3. Wadah kalorimeter (calorimeter vessel)
4. Jacket
5. Tempat sampel
6. Ignition fuse
 Bahan yang Digunakan
1. Batubara 60 mesh
2. Air (reagen water)
3. Asam Benzoat stand p.a (benzoic acid p.a)
4. Oxygen 99,5% murni

VI. KALIBRASI
Kalibrasi dilakukan dengan menggunakan control chart sample yang
dipilih diukur secara periodik dan hasilnya dibuat grafik. Batas harga yang
diterima ditentukan dan sistem pengukuran diasumsikan terkendali.

VII. LANGKAH KERJA

a. Penentuan Panas Pembakaran Asam Benzoat.


1. Menimbang 0,8 – 1,2 gram asam benzoate, dengan ketelitian 0,0001
gram.
2. Menyiapkan bomb yang sudah dicuci bersih, menambahkan 1 ml air
ke dalam bomb.
3. Memasang benang pembakaran pada bagian lignition.
4. Memasang bomb dan mengalirkan kedalam bomb dengan tekanan
antara 20 – 30 bar.
5. Memilih menu STANDARDIZATION untuk kalibrasi pada
OPERATION MODE, kemudian tekan tombol START.
6. Memasukkan sampel ID Number dan bomb ID Number, memasukkan
berat setimbang tekan ENTER.
7. Mengerjakan percobaan ini 5 – 10 kali percobaan.
b. Penentuan Nilai Kalor Sampel
1. Menimbang 0,8 – 1,2 gram asam benzoate, dengan ketelitian 0,0001
gram.
2. Menyiapkan bomb yang sudah dicuci bersih, dan mengeringkan.
3. Memasukkan sampel holder yang telah diisi sampel tertimbang ke
dalam bomb. Memasang benang pembakar pada bagian lignition.
4. Memasukkan bomb kedalam vessel, putar kekanan untuk mengunci.
5. Menutup cover dan memastikan cover terkunci.
6. Memilih menu DETERMINATION untuk penentuan nilai kalor
sampel pada OPERATION MODE, kemudian tekan tombol START.
7. Memasukkan sampel ID number dan bomb Head ID number,
Memasukkan berat tertimbang tekan enter.
8. Selesai analisa sampel, calorimeter akan menyimpan hasil analisa.
9. Memasukkan nilai koreksi asam dan sulfur pada analisa.
10. Mencetak data hasil analisa.
VII. DATA PENGAMATAN
VIII. ANALISA DATA

Pada analisa nilai kalor batubara bertujuan agar mahasiswa mampu


menggunakan nilai kalor dan batubara dengan menggunakan adiabatic
bomb calorimeter. Nilai kalor sendiri adalah ukuran dari energi panas yang
dilepaskan setiap kilogram pembakaran sempurna. Dimana nilai kalor dalam
batubara sendiri dgunakan untuk penentuan harga batubara. Nilai kalor
terbagi menjadi dua yaitu nilai kalor kotor dan nilai kalor bersih. Pada
percobaan kali ini digunakan sampel batubara berukuran 60 mesh seberat
0,9881 gram.

Nilai Gross Calorities Value (CGV) diperoleh melalui pembakaran


suatu sampel batubara dalam bomb calorimeter dengan mengembalikan
system ke ambient temperature. Sedangkan Net Caloritis Value (NCV)
dihitung dengan harga panas laten dan panas sensibel yang dipengaruhi oleh
total abu.

Pada percobaan yang dilakukan sampel batubara dimasukkan ke dalam


bomb dan dipasang benang pembakar pada bagian ignition. Benang ini
berfungsi untuk pengalir panas, dimana panas ini berasal dari kawat.
Selanjutnya bomb tersebut dimasukkan ke dalam kabel dan dianalisa selama
± 12 menit.

Setelah dianalisa didapatkan nilai Gross Calorities Value sebesar


5959,5742 cal/gr, dan saat bomb dikeluarkan dari alat maka akan berisi air
saja dimana air tersebut adalah aquadest sedangkan air yang telah
bercampur abu dialirkan melalui pipa dan ditampung pada bagian belakang
alat.

Air yang telah bercampur abu inilah yang akan dilakukan titrasi, yang
dimana titrasi ini digunakan untuk menentukan nilai akhir pada batubara
selanjutnya alat akan memberikan pretiminary report yang di print out
melalui computer. Sehingga diketahui nilai kalor yang didapatkan sebesar
5959,5742 cal/gr.
IX. KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa :

1. Semakin tinggi nilai kalor batubara maka semakin melalui nilai-nilai


jual batubara
2. Nilai kalor terbagi menjadi 2 yaitu :
 Gross Calorities Value (nilai H2O masih ada)
 Net Calorities Value (nilai H2O sudah hilang)
3. Nilai kalor digunakan untuk menentukan ukuran dan energy panas
dalam batubara
4. Nilai kalor yang didapatkan dari hasil praktikum adalah sebesar
5959,5742 cal/gr
DAFTAR PUSTAKA

Penuntun Praktikum Analisa Batubara. Penentuan Nilai Kalor. 2017. Palembang

Politeknik Negeri Sriwijaya.

Http://www.Academic.Edu/17680170/Penentuan Nilai Kalor