Você está na página 1de 7

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN

“Meretas Sukses Publikasi Ilmiah Bidang Pendidikan Jurnal Bereputasi”


Kerjasama Program Studi S-3 Ilmu Pendidikan, Program Studi S-2 Pendidikan Luar Biasa
Universitas Sebelas Maret Surakarta dan ISPI Wilayah Jawa Tengah
Surakarta, 21 November 2015
ISBN: 978-979-3456-52-2

RANCANGAN IEP (INDIVIDUALIZED EDUCATIONAL PROGRAM)


BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
PADA PENDIDIKAN INKLUSIF

Rahmasari Dwimarta
PGSD Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta
rahmasari.dwimarta@yahoo.com

ABSTRAK

Pendidikan inklusif diberikan kepada peserta didik yang memiliki kelainan, memiliki potensi
kecerdasan dan bakat istimewa yang menerapkan sistem layanan pendidikan untuk anak berkebutuhan
khusus di sekolah reguler sebagai tujuan seumur hidup, dan sasaran akhir tercapainya warga negara
yang produktif dengan menerapkan pendidikan untuk semua. Program/rencana IEP (Individualized
Educational Program) bagi para siswa yang berkelainan untuk membantu guru/pendidik memastikan
bahwa siswa yang bersangkutan mengalami kemajuan di sekolah. Program IEP ini melayani kebutuhan
unik peserta didik dan merupakan layanan yang disediakan dalam rangka pencapaian tujuan yang
diinginkan serta bagaimana efektivitas program tersebut ditentukan dalam periode waktu yang spesifik.
Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan mengadakan studi penelaahan terhadap
buku, jurnal dan hasil-hasil penelitian (skripsi, tesis dan disertasi). Hasil analisis kajian teori bahwa
melalui program IEP (Individualized Educational Program) dapat mengakomodasi terhadap per-
bedaan individu, atau suatu program pembelajaran yang didasarkan kepada gaya, kekuatan dan
kebutuhan-kebutuhan khusus anak dalam belajar sehingga dapat mengoptimalisasi potensi peserta
didik dalam proses pembelajaran dan pendidikannya.
Langkah-langkah dalam rancangan PPI yaitu 1) Kerja sama guru dan orang tua, 2) Penjelasan
dan persetujuan 3) asesmen (menilai) kebutuhan khusus anak, 4) pembentukan tim PPI, 3)
mengembangkan tujuan jangka panjang dan pendek, 5) pengembangan IEP merancang metode dan
prosedur pembelajaran 6) menetapkan materi pembelajaran, dan 7) melakukan evaluasi kemajuan
belajar anak. Penerapan IEP (Individualized Educational Program) pada anak berkebutuhan akan lebih
berkembang karena dengan sekolah memberikan layanan sesuai dengan kecacatannyasehingga akan
meminimalisir anak putus sekolah, memunculkan rasa kepercayaan diri siswa dan adanya hak anak
untuk menempuh pendidikan.

Kata Kunci: Pendidikan Inklusif, IEP (Individualized Educational Program)


PENDAHULUAN
Seruan International Education For All pendidikan inklusif akan bergantung pada
(EFA) yang dikumandangkan UNESCO pekerjaan guru dan orang tua secara bersama-
sebagai kesepakatan global hasil World sama.
Education Forum di Dakar, Senegal tahun Pada sekolah inkusi sangat memerlu-
2000, penuntasan EFA diharapkan tercapai kan sistem layanan pendidikan untuk anak
pada tahun 2015. Program ini memungkinkan berkebutuhan khusus di sekolah reguler yaitu
anak-anak berkebutuhan khusus untuk kurikulum, kurikulum disusun untuk mewujud-
memperoleh ilmu pengetahuan di sekolah kan tujuan pendidikan menurut Muhammad
umum sebagaimana yang diperoleh anak-anak (2008:9) mengungkapkan bahwa: ”Kurikulum
normal yaitu di sekolah inklusif. Pendidikan khusus dibentuk berawal dari implikasi cacat
inklusif adalah sistem layanan pendidikan untuk dan bukannya bertujuan untuk memberi jalan
anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler. pada murid luar biasa dalam kurikulum umum”.
hal ini sesuai dengan kebijakan pemerintah Sekolah Inklusif memerlukan penerapan IEP
yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor (Individualized Educational Program) bagi
20 tahun 2003 pada pasal 32 dan siswa yang mengalami kelainan dan memerlu-
Permendiknas nomor 70 tahun 2009 yaitu kan pendidikan khusus karena menerapkan
dengan memberikan peluang dan kesempatan kurikulum sesuai dengan kecacatan siswa.
kepada anak berkebutuhan khusus untuk Dasar penyusunan IEP (Individualized
memperoleh pendidikan disekolah reguler Educational Program) dengan penyimpangan/
mulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah kelainan baik fisik, intelektual, sosial,
Pertama dan Sekolah Menengah Atas/ emosional, atau kondisi lain. Seperti tunanetra,
Kejuruan. Keberhasilan penyelenggaraan tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras,

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN UNS & ISPI JAWA TENGAH 2015 230
PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN
“Meretas Sukses Publikasi Ilmiah Bidang Pendidikan Jurnal Bereputasi”
Kerjasama Program Studi S-3 Ilmu Pendidikan, Program Studi S-2 Pendidikan Luar Biasa
Universitas Sebelas Maret Surakarta dan ISPI Wilayah Jawa Tengah
Surakarta, 21 November 2015
ISBN: 978-979-3456-52-2

berbakat, berkesulitan belajar spesifik, autis tindakan khusus untuk membantu meng-
dan penyimpangan/kelainan perilaku lainnya. optimalkan kemampuannya. Oleh karena itu
Menurut Loreman, Tim.,et.all (2005: penting untuk menerapkan IEP (Individualized
112) mengungkapkan bahwa “penerapan IEP Educational Program) bagi siswa berkelainan di
(Individualized Educational Program) memper- sekolah inklusif sesuai dengan kecacatannya
timbangkan akses dalam kurikulum umum, dengan rancangan IEP yang tepat.
pertimbangan bagaimana keterbatasan dan
atau ketidakmampuan berpengaruh terhadap METODE
belajar siswa, pertimbangan terhadap tujuan
Metode yang digunakan adalah studi
dan sasaran yang membuat perbedaan
kepustakaan, menurut Nazir (2003: 111)
terbesar untuk siswa yang bersangkutan, dan
mengemukakan bahwa “Studi kepustakaan
akhirnya memilih penempatan dalam
adalah teknik pengumpulan data dengan
lingkungan dengan keterbatasan minimal”. Hal
mengadakan studi penelaahan terhadap buku-
tersebut termasuk melakukan assesmen
buku, litertur-literatur, catatan-catatan, dan
terhadap siswa berkelainan dalam semua
laporan-laporan yang ada hubungannya
bidang yang berhubungan dengan dugaan
dengan masalah yang dipecahkan.”Peneliti
keterbatasan dan atau ketidakmampuan
melakukan kajian yang berkaitan dengan teori
mereka.
yang berkaitan dengan topik penelitian,
Menarik, Hasil penelitian Mulyono
mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya
(Abdurrahman, 2009: 119) menunjukkan
dari kepustakaan yang berhubungan.
bahwa banyak anak luar biasa termasuk
Sumber-sumber kepustakaan dalam
diantaranya yang berkesulitan belajar, belajar
penelitian ini diperoleh dari: buku, jurnal dan
bersama anak normal di Sekolah Dasar tetapi
hasil-hasil penelitian (skripsi, tesis dan
mereka tidak memperoleh pelayanan
disertasi). Sehingga dalam penelitian ini
pendidikan luar biasa. Hal tersebut menunjuk-
meliputi proses umum seperti: meng-
kan pentingnya penerapan IEP (Individualized
identifikasikan teori secara sistematis,
Educational Program) yang didefinisikan
penemuan pustaka, dan analisis dokumen
Mulyono sebagai bentuk pendidikan yang
yang memuat informasi yang berkaitan dengan
memberikan pelayanan pendidikan luar biasa
topik penelitian.
dengan pelayanan pendidikan pada umumnya.
Fakta yang diungkapkan oleh Mulyono tersebut
memberi pemahaman bahwa sekolah yang
HASIL
menganut sistem pendidikan inklusi tidak
Berdasarkan hasil analisis kajian teori
hanya memberi kesempatan kepada anak
dapat diketahui bahwa menerapkan IEP
berkebutuhan khusus untuk mengikuti kegiatan
(Individualized Educational Program) bagi
pendidikan di lembaganya bersama-sama
siswa berkelainan di sekolah inklusif bahwa
degan anak tipikal, tetapi juga dapat memberi
melalui program IEP (Individualized
kebutuhan yang sesuai dengan kemampuan
Educational Program) dapat mengakomodasi
anak berkebutuhan khusus.
terhadap perbedaan individu, atau suatu
Permasalahan tersebut diperkuat
program pembelajaran yang didasarkan
dengan Freiberg (1999:194) yang meng-
kepada gaya, kekuatan dan kebutuhan-
ungkapkan “sixty one percent of public school
kebutuhan khusus anak dalam belajar
teacher and 54% of private school teacher at
sehingga dapat mengoptimalisasi potensi
the elementary level reported that they had
peserta didik dalam proses pembelajaran dan
never had any training in teaching gifted
pendidikannya.
students”bahwa enam puluh satu persen dari
Senada dengan hasil penelitian
guru sekolah umum dan 54% dari guru sekolah
Arravey (dalam Lynch, 1994) menunjukkan
swasta di tingkat SD melaporkan mereka tidak
bahwa kelompok eksperiment (treatment) pada
pernah mendapat pelatihan dalam mengajar
32 orang anak dengan menggunakan IEP
siswa berbakat.
secara signifikan lebih tinggi dari kelompok
Sehingga sampai saat ini diduga masih
kontrol. Anak anak pada kelompok eksperimen
banyak sekolah-sekolah inklusif yang belum
lebih semangat dalam belajar. Ini dapat
mengembangkan dan mengelola Program
dipahami bahwa proses pembelajaran yang
pendidikan Individual bagi siswa berkelainan,
didasarkan kepada masalah dan kebutuhan
sehingga mereka harus mengikuti program
pendidikan secara umum tanpa adanya

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN UNS & ISPI JAWA TENGAH 2015 231
PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN
“Meretas Sukses Publikasi Ilmiah Bidang Pendidikan Jurnal Bereputasi”
Kerjasama Program Studi S-3 Ilmu Pendidikan, Program Studi S-2 Pendidikan Luar Biasa
Universitas Sebelas Maret Surakarta dan ISPI Wilayah Jawa Tengah
Surakarta, 21 November 2015
ISBN: 978-979-3456-52-2

anak lebih membantu pencapaian tujuan


pembelajaran anak. B. Pendidikan Inklusif
Pendidikan inklusif pada dasarnya
PEMBAHASAN menciptakan dan membangun pendidikan
A. Anak berkubutuhan khusus yang berkualitas dengan menerima
Anak dengan kebutuhan khusus secara keanekaragaman, dan mengahargai
signifikan mengalami kelainan atau perbedaan, membantu meningkatkan
penyimpangan baik fisik, mental mutu pendidikan dasar dan menengah
intelektual, sosial, maupun emosional dengan menekan angka tinggal kelas dan
dalam proses pertumbuhan atau per- putus sekolah.
kembangannya dibandingkan dibanding- Santoso (2012:17) berpendapat
kan dengan anak lain seusianya. Menurut bahwa:”Pendidikan inklusi merujuk pada
Suhaeri (1996:13) berpendapat bahwa pendidikan untuk semua yang berusaha
“Anak Luar Biasa juga dapat didefinisikan menjangkau semua orang tanpa kecuali.
sebagai Anak Berkebutuhan Khusus.Anak Perubahan pendidikan melalui perubahan
Luar biasa disebut Anak Berkebutuhan pemikiran dari pemikiran special education
Khusus, karena dalam rangka untuk (Pendidikan khusus) bergeser ke special
memenuhi kebutuhan hidupnya, anak ini needs education (pendiidkan kebutuhan
membutuhkan bantuan layanan khusus)”disini memungkinkan semua anak
pendidikan, layanan sosial, layanan berkesempatan untuk berpartisipasi
bimbingan dan konseling dan berbagai secara utuh dalam kegiatan kelas reguler.
layanan jenis lainnya yang bersifat Hal tersebut senada dengan
khusus”. Sedangkan menurut Wisastro Gunarhadi (2013:91) yang mengungkap-
(2006:5) menjelaskan bahwa “anak-anak kan bahwa: ”Inclusive education basically
luar biasa atau anak-anak khusus ialah refers to education that responds to the
anak seorang anak yang mempunyai unique needs of individuals in the society.
kelainan dalam bidang intelektual, fisik, Responding to children with diversity is
sosial, atau emosional demikian jelasnya considered the most significant
dari pada perkembangan serta consequence of the call for education for
pertumbuhan yang dianggap normal, all” dapat diartikan bahwa pendidikan
sehingga ia tidak dapat menerima inklusif mengacu pada pendidikan yang
penddikan dari sekolah-sekolah biasa”. merespon kebutuhan unik dari individu
Sehingga dapat ditarik kesimpulan dalam masyarakat. Menanggapi anak-
bahwa anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan keragaman dianggap
anak dengan karakteristik khusus yang konsekuensi paling signifikan dari
berbeda dengan anak pada umumnya panggilan untuk pendidikan untuk semua.
yang termasuk anak berkebutuhan khusus Manfaat pendidikan inklusif
antara lain: tunanetra, tunarungu, tuna- menurut Wardani (2011:1.36) adalah
grahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan “Pendidikan inklusi dianggap dapat
belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, memberi berbagai manfaat baik
anak dengan gangguan kesehatan. Setiap masyarakat umum maupun bagi anak luar
anak memiliki latar belakang kehidupan biasa sendiri. Masyarakat akan mulai mau
budaya dan perkembangan yang berbeda- menerima keberadaan anak luar biasa.
beda, dan oleh kaarena itu setiap anak Selain itu di sekolah inklusi juga
dimungkinkan akan memiliki kebutuhan memungkinkan anak berkebutuhan
khusus serta hambatan belajar yang khusus belajar bersama dengan anak
berbeda beda pula, sehingga setiap anak normal, dan diperlakukan selayaknya anak
sesungguhnya memerlukan layanan normal. Hal tersebut menunjukkan
pendidikan yang disesuiakan sejalan dampak positif sekolah inklusi terhadap
dengan hambatan belajar dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus dari segi
masing-masing anak Anak berkebutuhan psikologis”.
khusus dapat diartikan sebagai seorang Sehingga pendidikan inklusif
anak yang memerlukan pendidikan yang adalah pendidikan yang diberikan kepada
disesuiakan dengan hambatan belajar dan peserta didik yang memiliki kelainan,
kebutuhan masing-masing anak secara memiliki potensi kecerdasan dan bakat
individual. istimewa yang menerapkan sistem

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN UNS & ISPI JAWA TENGAH 2015 232
PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN
“Meretas Sukses Publikasi Ilmiah Bidang Pendidikan Jurnal Bereputasi”
Kerjasama Program Studi S-3 Ilmu Pendidikan, Program Studi S-2 Pendidikan Luar Biasa
Universitas Sebelas Maret Surakarta dan ISPI Wilayah Jawa Tengah
Surakarta, 21 November 2015
ISBN: 978-979-3456-52-2

layanan pendidikan untuk anak ber- suatu kurikulum atau suatu program
kebutuhan khusus di sekolah reguler. Jadi pembelajaran yang didasarkan kepada
sekolah inklusif merupakan komunitas gaya, kekuatan dan kebutuhan-kebutuhan
pembelajar bagi semua anak, pendidikan khusus anak dalam belajar. Ini menunjuk-
sebagai tujuan seumur hidup, dan sasaran kan bahwa PPI pada prinsipnya adalah
akhir tercapainya warga negara yang suatu program pembelajaran yang
produktif yang secara penuh ikut didasarkan kepada setiap kebutuhan
memberikan sumbangsih pada kehidupan individu (anak). Kedua pandangan di atas
ekonomi, sosial, dan budaya bagsa, mengandung pengertian bahwa siswalah
masyarakat, dan keluarga dengan yang harus mengendalikan program,
menerapkan pendidikan untuk semua. bukan program yang mengendalikan
siswa.
C. Rancangan IEP (Individualized IEP (Individualized Educational
Educational Program) Program) Menurut Getskow dan Konczal
Sekolah inkusif seharusnya menerapkan (1996: 20) mengungkapkan bahwa “An
sistem layanan pendidikan untuk anak IEP is an Individualized Educational
berkebutuhan khusus di sekolah reguler Program that has been specially designed
yaitu kurikulum khusus yang dibentuk for any student eligible for special
sesuai dengan kecacatan siswa. Seorang education. A child who has been identified
pendidik hendaknya mengetahui program as having special needs must be assessed
pembelajaran yang sesuai bagi anak to determine the nature and extent of his
berkebutuhan khusus. Pola pembelajaran or needs in order to create the optimal
yang harus disesuaikan dengan anak lerning environment. Disini IEP merupakan
berkebutuhan khusus biasa disebut Program Pendidikan Individual yang telah
dengan Individualized Education program dirancang khusus untuk setiap siswa
(IEP) atau Program Pembelajaran memenuhi syarat untuk pendidikan
Individual (PPI). Berdasarkan UNESCO khusus. Seorang anak yang telah di-
(1998:203) bahwa “Kurikulum Program identifikasi memiliki kebutuhan khusus
Pendidikan Individual (PPI) atau Indivilized harus dinilai untuk menentukan sifat dan
Educational Program (IEP) diperuntukan tingkat kebutuhannya atau dalam rangka
bagi peserta didik yang memang tidak menciptakan lingkungan pembelajaran
memungkinkan menggunakan kurikulum secara optimal.
reguler maupun modifikasi. Tingkat Alasan pelaksanaan PPI itu
kebutuhan pelayanan khususnya termasuk penting bagi ABK menurut Snell (1983,
kompleks”. Kurikulum disini terdapat dalam Ishartiwi, 2007), adalah: 1) semua
kurikulum reguler yaitu kurikulum utuh, ABK masih memiliki potensi untuk belajar;
kemudian kurikulum modifikasi yaitu 2) semua ABK membutuhkan pem-
kurikulum reguler yang dimodifikasi sesuai belajaran keterampilan, yang sesuai
dengan kebutuhan anak dan yang terakhir dengan kebutuhan kehidupan sehari-hari
yaitu kurikulum Kurikulum Program di rumah dan di masyarakat; 3) sekolah
Pendidikan Individual (PPI) atau Indivilized harus melaksanakan pembelajaran
Educational Program (IEP) yang keterampilan fungsional, sesuai kebutuhan
dikhususkan bagi peserta didik sesuai individual; 4) prinsip-prinsip pengembang-
dengan kecacatannya. an perilaku secara universal, dapat
PPI merupakan dokumen tertulis diterapkan sebagai metode pembelajaran;
yang dikembangkan dalam suatu rencana 5) penilaian hasil belajar dilakukan secara
pembelajaran bagi anak berkebutuhan informal (tidak penilaian kriteria standar),
khusus (child with special need). Mercer lebih sesuai diterapkan untuk penilaian
and Mercer (1989), mengemukakan tingkah laku fungsional; dan 6) prosedur
bahwa “program individualisasi merujuk dan tujuan pembelajaran disesuaikan
kepada suatu program pengajaran dimana dengan kemampuan anak.
siswa bekerja dengan tugas-tugas yang PPI/ IEP disusun untuk memenuhi
sesuai dengan kondisi dan motivasinya”. kebutuhan pembelajaran setiap anak
Sejalan dengan pendapat tersebut dalam upaya mengembangkan potensinya
dikemukakan oleh Lynch (1994:47) menurut Getskow dan Konczal (1996: 21)
mengemukakan bahwa IEP merupakan mengungkapkan bahwa “Mandates a

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN UNS & ISPI JAWA TENGAH 2015 233
PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN
“Meretas Sukses Publikasi Ilmiah Bidang Pendidikan Jurnal Bereputasi”
Kerjasama Program Studi S-3 Ilmu Pendidikan, Program Studi S-2 Pendidikan Luar Biasa
Universitas Sebelas Maret Surakarta dan ISPI Wilayah Jawa Tengah
Surakarta, 21 November 2015
ISBN: 978-979-3456-52-2

series of steps that must be taken before a yang harus diambil sebelum anak dengan
child with special needs can receive kebutuhan khusus dapat menerima
services. The following steps and layanan dengan mengikuti langkah-
terminology are described and outlined for langkah dan terminologi dijelaskan yang
the adult unfamiliar with the process” disini diuraikan dibawah ini:
dijabarkan serangkaian langkah-langkah

Writen Assassment Informed Assessment Team Development IEP IEP


Referral Plan Consent meeting of IEP implementation review

Parents
Teacher
agency

 Teacher and parent share


results
 Adjustments can be made
 Conference with parent
 Reason for assessment
 Selection of appropriate
tests and who will test the
child

Transition
 Must have parent or guardian services
signature before continuing discussed
with testing
 Notice of parent’s rights

May include:
 information shared by parents
 health study
 observations
 formal testing
 other agency assessments

 Egibility is determined
 IEP goals and objectives are developed
 Placement and services are determined
 Statement of the extent the child will
participate in regular educational program
 Date when the special educational services
begin and are projected to end
 Notices of rights and copies of reports signed
 Annual evaluation procedures explained
 Yearly review date set

Langkah-langkah IEP di atas yang pertama Tanggung jawab dalam mendidik anak-anak
yaitu guru dan orang tua merujukan siswa ke dengan kebutuhan khusus adalah tanggung
sekolah inklusi yang dituju sesuai dengan jawab yang harus dipikul bersama, baik oleh
pendapat Muhammad (2008:35) mengungkap- guru, orangtua, maupun seluruh masyarakat”.
kan bahwa: “Kolaborasi atau kesepakatan Adanya kerjasama antara orang tua
antara guru dan orangtua berperan penting dan guru akan ada keterbukaan untuk
dalam pendidikan anak dengan kebutuhan mrngidentifikasi langkah yang harus ditempuh
khusus karena kolaborasi keduanya dapat selanjutnya dalam penerapan pembelajaran
menambahkan efektivitas pembelajaran, di yang sesuai dengan kebutuhan anak. Kedua
samping meningkatkan pelayanan pendiidkan. yaitu merencanakan penilaian dimana dalam

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN UNS & ISPI JAWA TENGAH 2015 234
PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN
“Meretas Sukses Publikasi Ilmiah Bidang Pendidikan Jurnal Bereputasi”
Kerjasama Program Studi S-3 Ilmu Pendidikan, Program Studi S-2 Pendidikan Luar Biasa
Universitas Sebelas Maret Surakarta dan ISPI Wilayah Jawa Tengah
Surakarta, 21 November 2015
ISBN: 978-979-3456-52-2

rencana penilaian dilaksanakan pertemuan prosedur pembelajaran 6) menetapkan materi


dengan orang tua untuk memberikan alasan pembelajaran, dan 7) melakukan evaluasi
tentang penilaian tersebut serta pemilihan tes kemajuan belajar anak.
yang sesuai dan yang akan menguji anak Oleh karena itu Program Pembelajaran
tersebut. Langkah ketiga penjelasan dan Individual dijalankan oleh pendidik, terlebih
persetujuan dimana anak harus memiliki orang dahulu pendidik harus melakukan identifikasi
tua atau wali yang bertanda tangan sebelum terhadap kondisi dan kebutuhan anak
melanjutkan dengan pengujian serta pem- berkebutuhan khusus agar diperoleh informasi
beritahuan mengenai hak orang tua. Keempat yang akurat mengenai kebutuhan pem-
yaitu melakukan penilaian terhdap siswa. belajaran anak berkebutuhan khusus. Setelah
Kelima pertemuan dengan tim yaitu mungkin proses skrining atau assesment dilakukan dan
termasuk informasi bersama oleh orang tua, kebutuhan anak berkebutuhan khusus
tentang kesehatan anak, pengamatan, peng- teridentifikasi, maka Program Pembelajaran
ujian formal ataupun penilaian lembaga lain. Individual (IEP) dapat dijalankan di kelas-kelas
Keenam pengembangan IEP dimana pada reguler.
tahap ini menentukan kelayakan, tujuan dan
sasaran IEP dikembangkan, mementukan KESIMPULAN
penempatan dan jasa, pendapat sejauh anak Demikian telah dibahas mengenai
akan berpartisipasi dalam program pendidikan penerapan IEP (Individualized Educational
reguler, tanggal saat pendidikan khusus mulai Program) bagi siswa berkelainan di sekolah
dan diproyeksikan untuk mengakhiri, pemberi- inklusif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
tahuan hak dan salinan laporan yang ditanda- sistem pendidikan di sekolah inklusi belum
tangani, menjelaskan prosedur evaluasi tahun- mengacu pada kondisi dan kebutuhan siswa
an, pengaturan ulasan tanggal tahunan. berkenlainan, tetapi siswa yang bersangkutan
Langkah ketujuh yaitu pelaksanaan IEP dimana harus mengikuti sistem pendidikan yang
guru dan orangtua mendiskusikan hasil siswa berlaku umum. Oleh karena itu penting untuk
dan penyesuaian. Laangkah terahir yaitu dilakukan penerapan IEP (Individualized
pemmeriksaan kembali IEP yaitu membahas Educational Program) bagi siswa berkelainan di
peralihan belajar siswa. sekolah inklusif untuk memaksimalkan potensi
Sedangkan menurut Kitano and Kirby masing-masing siswa walaupun memiliki
(1986: 219) ada lima langkah yang harus kecacatan tetapi dengan menerapkan IEP
dilakukan untuk mengembangkan program (Individualized Educational Program) anak
pembelajaran yang diindividualisasikan, yaitu: akan lebih berkembang karena dengan sekolah
1) pembentukan tim PPI, 2) asesmen (menilai) memberikan layanan sesuai dengan
kebutuhan khusus anak, 3) mengembangkan kecacatannyassehingga akan meminimalisir
tujuan jangka panjang dan pendek, 4) anak putus sekolah, memunculkan rasa
merancang metode dan prosedur pem- kepercayaan diri siswa dan adanya hak anak
belajaran, dan 5) melakukan evaluasi ke- untuk menempuh pendidikan.
majuan belajar anak. Senada dengan
pernyataan Rocyadi dan Alimin (2005:21).
Langkah- langkah pengembangan rancangan
PPI setidaknya memperhatikan 6 (enam), yaitu:
DAFTAR PUSTAKA
a) asesmen, 2) merumuskan tujuan jangka
panjang, 3) merumuskan tujuan jangka pendek, Abdul hadis. 2006. Pendidikan Anak
4) menetapkan materi pembelajaran, 5) Berkebutuhan autistic. Bandung:
menetapkan kegiatan pembelajaran, 6) Alfabeta
evaluasi kemajuan hasil belajar.
Abdurrahman, Mulyono. 2009. Pendidikan Bagi
Dari ketiga pendapat terdapat per-
Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta:
samaan sehingga dapat ditarik kesimpulan Rineka Cipta
mengenai langkah-langkah dalam rancangan
PPI yaitu 1) Kerja sama guru dan orang tua, 2) Freiberg, Karen. 1999. Education Exceptional
Penjelasan dan persetujuan 3) asesmen Children. Amerika: University of
(menilai) kebutuhan khusus anak, 4) Maryland
pembentukan tim PPI, 3) mengembangkan
Getskow dan Konczal. 1996. Kids With Special
tujuan jangka panjang dan pendek, 5)
Needs Information and Activities to
pengembangan IEP merancang metode dan Promote Awareness and Under-

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN UNS & ISPI JAWA TENGAH 2015 235
PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN
“Meretas Sukses Publikasi Ilmiah Bidang Pendidikan Jurnal Bereputasi”
Kerjasama Program Studi S-3 Ilmu Pendidikan, Program Studi S-2 Pendidikan Luar Biasa
Universitas Sebelas Maret Surakarta dan ISPI Wilayah Jawa Tengah
Surakarta, 21 November 2015
ISBN: 978-979-3456-52-2

standing. California: The Learning


Works Nazir, Muhammad. 2003. Metode Penelitian.
Jakarta: Ghalia Indonesia
Gunarhadi. 2013. Learning English through
Special Education. Surakarta: Yuma Permendiknas no 70 tahun 2009 tentang
Pustaka Pendidikan Inklusif bagi peserta didik
yang mempunyai kelainan dan
Ishartiwi. 2007. Model Pembelajaran potensi kecerdasan dan/atau bakat
Terindividualisasikan Bagi Anak istimewa
Berkebutuhan Khusus. Tersedia di:
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/ Rochyadi & Alimin, 2005. Pengembangan
pengabdian/ishartiwi-mpd- Program Pembelajaran Individual
dr/makalah-model-pembelajaran-abk- Bagi Anak Tunagrahita. Jakarta:
3-8-sep-07.pdf. diunduh pada Departemen Pendidikan Nasional,
tanggal: 9 November 2015 Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi. Direktorat P2TK dan KPT.
Kitano, M. K. & Kirby, D. F. 1968. Gifted
Education: A Comprehensive View. Santoso. 2012. Cara memahami dan mendidik
Boston: Little, Brown and Company Anak Berkebutuhan Khusus.
Yogyakarta: Gosyen Publishing
Loreman, Tim.,et.all: 2005. Inclusif Education
(A pratical guide to supporting Suhaeri. 1996. Bimbingan Konseling Anak Luar
diversity in the Class Room). Biasa. Jakarta: Depdikbud
Singapore: South Wind Production.
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003.
Lynch, James. 1994. Proyection for Children tentang Sistem Pendidikan Nasional
with Special Need Education in Asian
Regio. USA: The World Bank UNESCO, (1998). Learning: The Treasure
Within. Report to UNESCO of the
Mercer, Cecil D & Mercer, Ann R.. 1989. International Commission on
Teaching Student with Learning Education for The Twenty first
Problems. Aus: Merill Publishing Century, Perancis: Paris.
Company A Bell & Howel Information
Company Wardani, dkk. 2011. Pengantar Pendidikan
Luar Biasa. Jakarta: Universitas
Muhammad, Jamila. 2008. Special Education Terbuka.
For Special Children. Bandung: PT.
Mizan Publika

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN UNS & ISPI JAWA TENGAH 2015 236