Você está na página 1de 14

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Farmakologi adalah ilmu yang mempelajari tentang obat dengan seluruh aspeknya.
Secara umum obat dapat diartikan sebagai semua bahan tunggal/campuran yang
dipergunakan oleh semua mahluk hidup untuk bagian dalam maupun luar, guna
mencegah, meringankan ataupun menyembuhkan penyakit. Sedangkan menurut UU
yang dimaksud obat ialah suatu bahan atau bahan-bahan yang dimaksudkan untuk
dipergunakan dalam menetapkan diagnosa, mencegah, mengurangi, menghilangkan,
menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau kelainan badaniah atau
rohaniah pada manusia atau hewan, untuk memperelok badan atau bagian badan
manusia.
Analgesik atau analgetik, adalah obat yang digunakan untuk mengurangi atau
menghilangkan rasa sakit atau obat-obat penghilang nyeri tanpa menghilangkan
kesadaran. Obat ini digunakan untuk membantu meredakan sakit, sadar tidak sadar
kita sering mengunakannya misalnya ketika kita sakit kepala atau sakit gigi, salah satu
komponen obat yang kita minum biasanya mengandung analgesik atau pereda nyeri.
Antipiretik adalah zat-zat yang dapat mengurangi suhu tubuh atau obat untuk
menurunkan panas. Hanya menurunkan temperatur tubuh saat panas tidak berefektif
pada orang normal. Dapat menurunkan panas karena dapat menghambat
prostatglandin pada CNS (Central Nervous System).

1.2. POKOK PEMBAHASAN


1. Pengertian Analgetik
2. Klasifikasi Analgetik
3. Pengetian Antipiretik
4. Macam-macam Antipiretik
2

BAB II
KAJIAN TEORITIS

2.1. PENGERTIAN ANALGETIK


Analgetika adalah obat-obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan rasa
nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Analgetika pada umumnya diartikan sebagai
suatu obat yang efektif untuk menghilangkan sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, dan
nyeri lain misalnya nyeri pasca bedah dan pasca bersalin, dismenore (nyeri haid) dan
lain-lain sampai pada nyeri hebat yang sulit dikendalikan. Hampir semua analgetik
ternyata memiliki efek antipiretik dan efek anti inflamasi.
Asam salisilat, paracetamol mampu mengatasi nyeri ringan sampai sedang, tetapi
nyeri yang hebat membutuhkan analgetik sentral yaitu analgetik narkotik. Efek
antipiretik menyebabkan obat tersebut mampu menurunkan suhu tubuh pada keadaan
demam sedangkan sifat anti inflamasi berguna untuk mengobati radang sendi (artritis
reumatoid) termasuk pirai /gout yaitu kelebihan asam urat sehingga pada daerah sendi
terjadi pembengkakan dan timbul rasa nyeri.
Analgesik anti inflamasi diduga bekerja berdasarkan penghambatan sintesis
prostaglandin (penyebab rasa nyeri). Rasa nyeri sendiri dapat dibedakan dalam tiga
kategori:
- Nyeri ringan (sakit.gigi, sakit kepala, nyeri otot, nyeri haid dll), dapat diatasi
dengan asetosal, paracetamol bahkan placebo.
- Nyeri sedang (sakit punggung, migrain, rheumatik), memerlukan analgetik perifer
kuat.
- Nyeri hebat (kolik/kejang usus, kolik batu empedu, kolik batu ginjal, kanker ),
harus diatasi dengan analgetik sentral atau analgetik narkotik.

2.2. KLASIFIKASI ANALGETIK


2.2.1. ANALGESIK OPIOID/ANALGESIK NARKOTIKA
Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat-sifat seperti
opium atau morfin. Golongan obat ini digunakan untuk meredakan atau
menghilangkan rasa nyeri seperti pada fractura dan kanker.
Macam-macam obat Analgesik Opioid:
A. TRAMADOL
3

INDIKASI:
Tramadol diindikasikan untuk mengobati dan mencegah nyeri yang
sedang hingga berat, seperti tersebut di bawah ini:
- Nyeri akut dan kronik yang berat.
- Nyeri pasca bedah.
KONTRA INDIKASI :
- Keracunan akut oleh alkohol, hipnotik, atau obat-obat yang
mempengaruhi SSP lainnya.
- Penderita yang mendapat pengobatan penghambat monoamin
oksidase (MAO).
- Penderita yang hipersensitif terhadap tramadol.
KOMPOSISI:
Tiap kapsul mengandung :
Tramadol Hidroklorida……………………………….50 mg
CARA KERJA OBAT :
Tramadol adalah analgesik kuat yang bekerja pada reseptor opiat.
Tramadol mengikat secara stereospsifik pada reseptor di sistem saraf
pusat sehingga menghentikan sensasi nyeri dan respon terhadap nyeri. Di
samping itu Tramadol menghambat pelepasan neutrotransmiter dari saraf
aferen yang bersifat sensitif terhadap rangsang, akibatnya impuls nyeri
terhambat.
EFEK SAMPING :
- Sama seperti umumnya analgesik yang bekerja secara sentral, efek
samping yang dapat terjadi: mual, muntah, dispepsia, obstipasi,
lelah, sedasi, pusing, pruritus, berkeringat, kulit kemerahan, mulut
kering dan sakit kepala.
- Meskipun Tramadol berinteraksi dengan reseptor apiat sampai
sekarang terbukti insidens ketergantungan setelah penggunaan
Tramadol, ringan.
PERHATIAN :
- Hati-hati bila digunakan pada penderita dengan trauma kepala,
peningkatan tekanan intrakranial, gangguan fungsi ginjal dan hati
yang berat atau hipersekresi bronkus; karena dapat meningkatkan
resiko kejang atau syok.
4

- Dapat terjadi penurunan fungsi paru apabila penggunaan Tramadol


dikombinasi dengan obat-obat depresi SSP lainnya atau bila
melebihi dosis yang dianjurkan.
- Tramadol tidak boleh digunakan pada penderita ketergantungan
obat. Meskipun termasuk agonis opiat,
- Tramadol sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil, kecuali
benar-benar diperlukan.
- 0,1% Tramadol diekskresikan melalui ASI (Air Susu Ibu).
- Lama pengobatan
Pada pengobatan jangka panjang, kemungkinan terjadi
ketergantungan, oleh karena itu dokter harus menetapkan lamanya
pengobatan. Tidak boleh diberikan lebih lama daripada yang
diperlukan.
INTERAKSI OBAT :
- Penggunaan Tramadol bersama dengan obat-obat yang bekerja pada
SSP (seperti: tranquillizer, hipnotik), dapat meningkatkan efek
sedasinya.
- Penggunaan Tramadol bersama dengan tranquillizer juga dapat
meningkatkan efek analgesiknya.
DOSIS:
Dewasa dan anak di atas 16 tahun :
- Dosis umum : dosis tunggal 50 mg Dosis tersebut biasanya cukup
untuk meredakan nyeri, apabila masih terasa nyeri dapat
ditambahkan 50 mg setelah selang waktu 4 – 6 jam.
- Dosis maksimum 400 mg sehari.
- Dosis sangat tergantung pada intensitas rasa nyeri yang diderita.
Penderita gangguan hati dan ginjal dengan bersihan klirens < 30
mL/menit : 50 – 100 mg setiap 12 jam, maksimum 200 mg sehari.
- Dosis yang dianjurkan untuk pasien dengan cirrhosis adalah 50 mg
setiap 12 jam.
KEMASAN:
Dus isi 5 strip @ 10 kapsul.
PENYIMPANAN:
Simpan di tempat sejuk dan kering, terlindung dari cahaya.
5

B. FENTANIL
INDIKASI :
Suplemen analgesik narkotik pada anestesi regional atau general.
KONTRA INDIKASI :
Depresi pernapasan. Cedera kepala. Alkoholisme akut. Serangan asma
akut. Intoleransi. Hamil, laktasi.
EFEK SAMPING :
Depresi pernapasan,
Sistem saraf : sakit kepala, gangguan penglihatan, vertigo, depresi, rasa
mengantuk, koma, eforia, disforia, lemah, agitasi, ketegangan, kejang,
Pencernaan : mual, muntah, konstipasi,
Kardiovaskular : aritmia, hipotensi postural,
Reproduksi, ekskresi & endokrin : retensi urin, oliguria,
Efek kolinergik : bradikardia, mulut kering, palpitasi, takikardia,
tremor otot, pergerakan yang tidak terkoordinasi, delirium atau
disorientasi, halusinasi,
Lain-lain : Berkeringat, muka merah, pruritus, urtikaria, ruam kulit.
DOSIS :
Premedikasi 100 mcg IM 30-60 mnt sblm op.
Tambahan pada anestesi regional 50-100 mcg IM/IV lambat selama
1-2 mnt bila tambahan analgesia diperlukan.
Pasca op (ruang pemulihan) 50-100 mcg IM, dpt diulangi dlm 1-2
jam bila perlu.
Sebagai analgesik tambahan terhadap anestesi umum: Dosis
rendah: 2 mcg/kg BB, Dosis sedang: 2-20 mcg/kg BB; Dosis tinggi:
20-50 mcg/kg BB.
Sebagai zat anestesi: 50-100 mcg/kg BB.

C. KODEIN
MEKANISME KERJA :
Sebuah prodrug 10% dosis diubah menjadi morfin.
Kerjanya disebabkan oleh morfin. Juga merupakan antitusif (menekan
batuk)
INDIKASI : Penghilang rasa nyeri minor
6

KONTRA INDIKASI :
Pada pasien yang hipersensitif terhadap kodein,penyakit hati, gangguan
ventilatori, wanita hamil
DOSIS :
Sebagai analgesik:
- Dewasa : 30 - 60 mg, tiap 4 - 6 jam sesuai kebutuhan.
- Anak-anak : 0,5 mg/kg BB, 4-6 kali sehari
EFEK SAMPING :
- Dapat menimbulkan ketergantungan.
- Mual, muntah, idiosinkrasi, pusing, sembelit.
- Depresi pernafasan terutama pada penderita asma, depresi jantung
dan syok.
PERINGATAN DAN PERHATIAN :
- Hati-hati penggunaan pada pasien dengan infark miokardial dan
penderita asma.
- Hindari minuman beralkohol.
- Tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan karena dapat
menyebabkan kerusakan fungsi hati.
- Hati-hati penggunaan obat ini pada penderita penyakit ginjal.
- Hati-hati pada pemberian jangka panjang

2.2.2. ANALGESIK NON-NARKOTIK


Obat Analgesik Non-Nakotik dalam Ilmu Farmakologi juga sering dikenal
dengan istilah Analgetik/Analgetika/Analgesik Perifer. Analgetika perifer
(non-narkotik), yang terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan
tidak bekerja sentral. Penggunaan Obat Analgetik Non-Narkotik atau Obat
Analgesik Perifer ini cenderung mampu menghilangkan atau meringankan
rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan
hingga efek menurunkan tingkat kesadaran. Obat Analgetik Non-Narkotik /
Obat Analgesik Perifer ini juga tidak mengakibatkan efek ketagihan pada
pengguna (berbeda halnya dengan penggunanaan Obat Analgetika jenis
Analgetik Narkotik). Macam-macam obat analgetik non-narkotik :
A. SANMOL SYRUP
INDIKASI :
Sanmol diindikasikan untuk meringankan rasa sakit pada keadaan sakit
kepala, sakit gigi, menurunkan demam yang menyertai influenza dan
demam setelah imunisasi.
7

KONTRA INDIKASI :
- Penderita dengan gangguan fungsi hati yang berat
- Hipersensitif terhadap paracetamol
KOMPOSISI :
Tiap 5 ml mengandung Paracetamol 120mg.
EFEK SAMPING :
- Penggunaan jangka lama dan dosis besar dapat menyebabkan
kerusakan hati.
- Reaksi hipersensitivitas.
MEKANISME KERJA OBAT :
SANMOL mengandung Paracetamol yang bekerja sebagai nalgesik,
bekerja dengan meningkatkan ambang rangsang rasa sakit dan sebagai
antipiretik, diduga bekerja langsung pada pusat penghantar panas di
hipotalamus.
PERHATIAN :
- Hati-hati penggunaan obat ini pada penderita penyakit ginjal.
- Bila setelah 2 hari demam tidak menurun atau setelah 5 hari nyeri
tidak menghilang, segera hubungi unit pelayanan kesehatan.
- Penggunaan obat ini pada penderita yang mengkonsumsi alkohol,
dapat mengakibatkan risiko kerusakan fungsi hati.
DOSIS :
1 – 2 tahun : 5 ml, 3 – 4 kali sehari.
2 – 6 tahun : 5 – 10 ml, 3 – 4 kali sehari
6 – 9 tahun : 10 – 15 ml, 3 – 4 kali sehari.
9 – 12 tahun : 15 – 20 ml, 3 – 4 kali sehari.
Atau menurut petunjuk dokter.
PENYIMPANAN :
Simpan pada suhu kamar (25 – 30 derajat C), terlindung dari cahaya.

B. IBUPROFEN
INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI
Ibuprofen adalah salah satu jenis anti-inflamasi non-steroid (AINS) yang
diindikasikan untuk meredakan nyeri ringan sampai sedang, nyeri setelah
operasi, nyeri pada penyakit sendi (seperti pengapuran sendi atau
8

rematik), nyeri otot, nyeri haid, serta menurunkan demam. Ibuprofen juga
memiliki efek anti-radang dan anti-pembekuan darah yang lemah.
Kontraindikasi absolut atau orang yang tidak dapat menggunakan
ibuprofen adalah orang yang alergi terhadap obat anti-inflamasi non–
steroid (AINS) seperti aspirin. Kontraindikasi relatif antara lain gangguan
perdarahan, luka pada lambung/usus 12 jari, sariawan, penyakit lupus,
kolitis ulseratif, dan wanita hamil trimester 3 (karena dapat menyebabkan
penutupan prematur pembuluh darah jantung). Orang yang mengalami
asma, radang mukosa hidung, atau biduran jika menggunakan aspirin atau
obat AINS lain sebaiknya tidak menggunakan ibuprofen. Hindari
penggunaan pada penderita gangguan hati berat dan gangguan ginjal.
MEKANISME KERJA OBAT :
Menghambat sintesis prostaglandin dgn menghambat COX-1 & COX-2
EFEK SAMPING
Efek samping yang paling sering timbul (1 – 10%) adalah mual, muntah,
diare, konstipasi, nyeri perut atau rasa terbakar pada perut bagian atas,
ruam kulit, penurunan kadar trombosit, penurunan kadar limfosit darah,
dan gangguan penglihatan.
Efek samping yang lebih jarang adalah luka pada kerongkongan, gagal
jantung, penyempitan saluran napas, gangguan ginjal, reaksi alergi kulit
berat, dan peningkatan kadar kalium darah.
Ibuprofen dapat mencetuskan serangan asma yang pada sebagian kecil
orang dapat berakibat fatal. Penggunaan ibuprofren jangka panjang dan
dalam dosis tinggi dapat menyebabkan kematian jaringan ginjal, tekanan
darah tinggi, dan serangan jantung. Penderita yang berisiko besar
mengalami hal tersebut adalah penderita lanjut usia, kekurangan cairan,
mengalami gagal jantung atau gangguan hati.
Gejala overdosis ibuprofen antara lain nyeri perut, muntah, mengantuk,
sakit kepala, terlinga berdenging, perdarahan saluran cerna, gangguan
fungsi hati, gagal ginjal, dan koma.
DOSIS
Dosis dewasa: 3 – 4 x 200 – 400 mg per hari.
Dosis anak: 20 mg/kg/hari dalam dosis terbagi.
9

Efek ibuprofen timbul 30 – 60 menit setelah dikonsumsi dan bertahan


selama 4 – 8 jam. Dosis maksimal ibuprofen adalah 1200 mg/hari. Dosis
maksimal pada anak dengan berat badan < 30 kg adalah 500 mg/hari.
Ibuprofen lebih baik diminum segera setelah makan.

C. MEFINAL
KOMPOSISI / KANDUNGAN
Tiap Kapsul Mefinal mengandung 250 mg Asam Mefenamat.
Tiap Kaplet Mefinal mengandung 500 mg Asam Mefenamat.
FARMAKOLOGI (CARA KERJA OBAT)
Mefinal mengandung asam mefenamat, yang merupakan kelompok
antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang bekerja dengan cara menghambat
sintesis prostaglandin dalam jaringan tubuh dengan menghambat enzim
siklooksigenase sehingga mempunyai efek analgesik, antiinflamasi dan
antipiretik. Mefinal adalah obat yang dapat mengurangi rasa nyeri,
mengurangi radang, dan mempunyai efek menurunkan demam.
INDIKASI / KEGUNAAN
Indikasi Mefinal adalah untuk meredakan nyeri ringan sampai sedang
seperti sakit kepala, sakit gigi, dismenore primer / nyeri saat haid,
termasuk nyeri karena trauma, nyeri otot dan nyeri sesudah operasi.
KONTRAINDIKASI
Kontraindikasi Mefinal adalah sebagai berikut :
 Mefinal jangan diberikan pada pasien yang hipersensitif atau
alergi terhadap asam mefenamat.
 Penderita yang dengan aspirin mengalami bronkospasme, rinitis
alergi, dan urtikaria.
 Penderita dengan tukak lambung dan usus.
 Penderita dengan gangguan ginjal yang berat.
EFEK SAMPING
Berikut ini efek samping Mefinal yang dapat terjadi :
 Gangguan saluran pencernaan seperti mual, muntah, diare dan
nyeri abdominal.
 Gangguan darah / hematologi seperti leukopenia, eosinofilia,
trombositopenia, dan agranulositopenia.
 Gangguan sistem saraf seperti rasa mengantuk, pusing,
penglihatan kabur, dan insomnia.
PERINGATAN DAN PERHATIAN
 Mefinal sebaiknya diminum sesudah makan.
 Hati-hati penggunaan mefinal pada wanita hamil, dan ibu
menyusui.
 Keamanan penggunaan Mefinal pada anak-anak di bawah 14
tahun belum diketahui dengan pasti.
INTERAKSI OBAT
Penggunaan Mefinal bersamaan dengan obat antikoagulan oral dapat
memperpanjang prothrombin time.
DOSIS DAN ATURAN PAKAI
10

Dosis Mefinal pada Dewasa dan anak-anak usia > 14 tahun : Dosis awal
500 mg, kemudian dianjurkan 250 mg tiap 6 jam sesuai dengan
kebutuhan.
KEMASAN
Mefinal kapsul 250 mg, Kotak, berisi 10 strip @ 10 kapsul.
Mefinal kaplet / tablet, Kotak, berisi 10 strip @ 10 kaplet.
KETERANGAN
Simpan pada suhu kamar.

2.3. PENGERTIAN ANTIPIRETIK


Antipiretik adalah golongan obat-obatan untuk demam. Demam sebenarnya adalah
mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman infeksi. Saat terjadi infeksi, otak kita
akan menaikkan standar suhu tubuh di atas nilai normal sehingga tubuh menjadi
demam. Obat antipiretik bekerja dengan cara menurunkan standar suhu tersebut ke nilai
normal.
Obat antipiretik diindikasikan untuk segala penyakit yang menghasilkan gejala demam.
Sejumlah pedoman menyatakan bahwa obat antipiretik sebaiknya diberikan jika demam
lebih dari 38,5 oC. Demam yang kurang dari 38,50C sebaiknya jangan cepat-cepat
diberi obat. Selain untuk menurunkan demam, sebagian besar obat-obat antipiretik
tersebut juga memiliki khasiat untuk mengurangi nyeri.

2.4. MACAM-MACAM OBAT ANTIPIRETIK


A. PARACETAMOL
INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI
Parasetamol atau asetaminofen diindikasikan untuk mengurangi rasa nyeri ringan
sampai sedang, seperti sakit kepala, sakit gigi, nyeri otot, dan nyeri setelah
pencabutan gigi serta menurunkan demam. Selain itu, parasetamol juga
mempunyai efek anti-radang yang lemah. Parasetamol tidak boleh diberikan pada
orang yang alergi terhadap obat anti-inflamasi non-steroid (AINS), menderita
hepatitis, gangguan hati atau ginjal, dan alkoholisme. Pemberian parasetamol juga
tidak boleh diberikan berulang kali kepada penderita anemia dan gangguan
jantung, paru, dan ginjal. Parasetamol terdapat dalam berbagai bentuk dan dalam
berbagai campuran obat sehingga perlu diteliti jumlahnya untuk menghindari
overdosis. Risiko kerusakan hati lebih tinggi pada peminum alkohol, pemakai
parasetamol dosis tinggi yang lama atau pemakai lebih dari satu produk yang
parasetamol.
11

EFEK SAMPING
Efek samping parasetamol jarang ditemukan. Efek samping dapat berupa gejala
ringan seperti pusing sampai efek samping berat seperti gangguan ginjal, gangguan
hati, reaksi alergi dan gangguan darah. Reaksi alergi dapat berupa bintik – bintik
merah pada kulit, biduran, sampai reaksi alergi berat yang mengancam nyawa.
Gangguan darah dapat berupa perdarahan saluran cerna, penurunan kadar
trombosit dan leukosit, serta gangguan sel darah putih. Penggunaan parasetamol
jangka pendek aman pada ibu hamil pada semua trimester dan ibu menyusui.
MEKANISME KERJA OBAT :
Paracetamol bekerja dengan mengurangi produksi prostaglandins dengan
mengganggu enzim cyclooksigenase (COX). Parasetamol menghambat kerja COX
pada sistem syaraf pusat yang tidak efektif dan sel edothelial dan bukan pada sel
kekebalan dengan peroksida tinggi. Kemampuan menghambat kerja enzim COX
yang dihasilkan otak inilah yang membuat paracetamol dapat mengurangi rasa
sakit kepala dan dapat menurunkan demam tanpa menyebabkan efek samping,tidak
seperti analgesik-analgesik lainnya
DOSIS ;
Untuk nyeri dan demam
a. Oral 2-3x sehari 0,5-1 gram, maximum 4 gram per hari, pada gangguan kronis
maksimum 2,5 gram per hari, anak-anak 4-6x 10mg/kg BB, yakni rata-rata
usia 3-12 bulan 60mg, 1-4 tahun 120-180mg,4-6 th 180mg, 7-12 th 240-
360mg, 4-6x sehari.
b. Rectal 20mg/kg setiap kali, dewasa 4x sehari 0,5-1 gram. Anak-anak usia 3-12
bulan 2-3x 120mg, 1-4 th 2-3x 240mg, 4-6 th 4x 240mg, dan 7-12th 2-3x 0,5
g.

B. ASAM ASSETIL SALISILAT


INDIKASI :
Nyeri ringan sampai sedang termasuk nyeri menstruasi, sakit kepala.
Sakit dan peradangan pada penyakit rematik dan gangguan tulang dan otot.
Demam, serangan migran akut.
KONTRA INDIKASI :
Hipersensitif terhadap asam asetilsalisilat lainnya, ulkus peptikum aktif atau
riwayat sebelumnya, hemophilia dan gangguan perdarahannya lainnya.
12

EFEK SAMPING :
Pada dosis rendah umumnyaringan dan jarang, tetapi sering terjadi pada dosis
untuk anti peradangan; gangguan saluran cerna, ulkus dengan perdarahan
tersembunyi; gangguan pendengaran seperti tinnitus, ketulian, vertigo, reaksi
hipersensitifitas dan angioedema.
MEKANISME KERJA OBAT :
Pada pemberian oral, sebagian salisilat diabsorbsi dengan daya absorbsi 70%
dalam bentuk utuh dalam lambung, tetapi sebagian besar absorbsi terjadi dalam
usus halus bagian atas. Sebagian AAS dihidrolisa, kemudian didistribusikan ke
seluruh tubuh. Salisilat segera menyebar ke seluruh tubuh dan cairan transeluler
setelah diabsorbsi.
DOSIS :
a. Nyeri ringan sampai sedang, demam, per oral dengan atau setelah makan,
DEWASA 300-900 mg tiap 4-6 jam jika perlu; maksimal 4 g sehari; ANAK
dibawah 16 tahun tidak direkomendasikan.
b. Nyeri ringan sampai sedang, demam, per rectal, DEWASA 600-900 mg
dimasukkan tiap 4 jam jika perlu; maksimal 3.6 g sehari; ANAK dibawah 16
tahun tidak direkomendasikan.

C. ANTALGIN
INDIKASI :
- Nyeri akut hebat sesudah luka atau pembedahan.
- Nyeri karena tumor atau kolik.
- Nyeri hebat akut atau kronik bila analgesik lain tidak menolong.
- Demam tinggi yang tidak bisa diatasi antipiretik lain.
KONTRA INDIKASI :
Alergi dipiron, granulositopenia, porfiria intermiten, defisiensi G6PD, payah
jantung, bayi < 3 bulan, hamil trisemester pertama dan 6 minggu terakhir.
KOMPOSISI :
Tiap tablet mengandung Antalgin 500 mg.
DOSIS :
Oral
Dewasa: 500 - 1000 mg 3 - 4 kali sehari (maksimum 3 gram sehari).
13

Anak-anak: 250 - 500 mg 3 - 4 kali sehari (maksimum 1 gram untuk < 6 tahun dan
2 gram untuk 6 - 12 tahun).
Parental
500 - 1000 mg sekali suntik. Jangan lebih dari 1 gram karena dapat menimbulkan
syok.
PERHATIAN :
Pengobatan harus segera dihentikan bila timbul gejala pertama turunnya jumlah sel
darah atau granulositopenia atau sakit tenggorokan atau tanda infeksi lain.
Hati-hati pada penderita yang pernah memiliki penyakit darah.
EFEK SAMPING :
Infeksi lambung, hiperhidrosis. Retensi cairan dan garam. Reaksi elaergi cukup
sering: reaksi kulit dan edema angioneurotik. Efek samping yang berat:
agranulositosis, pansitopenia dan nefrosis.
INTERAKSI OBAT :
Bila digunakan bersama dengan klorpromazine, dapat menimbulkan hipotermia
yang berat. Penggunaan pada ibu hamil dan menyusui: Jangan diberikan pada
wanita hamil karena potensi karsigonik dari metabolit nitrosamin.
Penggunaan pada anak: Jangan diberikan pada bayi kurang dari 3 bulan (atau BB <
5 kg).
MEKANISME KERJA OBAT :
bekerja secara sentral pada otak untuk menghlangkan nyeri, menurunkan demam,
dan menyembuhkan rheumatik. Antalgin memengaruhi hipotalamus dalam
menurunkan sensitifitas reseptor rasa sakit dan termostat yang mengatur suhu
tubuh. Obat ini hanya efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah sampai
sedang, misalnya sakit kepala. Obat ini juga efektif terhadap nyeri yang berkaitan
dengan inflamasi.
14

DAFTAR PUSTAKA

http://antometa208.blogspot.com/2013/05/pengertian-analgetik.html

http://nurfitrian4dewi.blogspot.com/p/macam-macam-obat-analgetik.html

http://antipiretiknsaid.blogspot.com/2011/12/mefinal-obat-paten-asam-mefenamat.html

http://www.hexpharmjaya.com/page/Spasminal.aspx

http://www.hexpharmjaya.com/page/tramadol.aspx

http://www.kerjanya.net/faq/5481-antipiretik.html

http://www.kerjanya.net/faq/4813-parasetamol.html

http://www.dechacare.com/Antalgin-P716.html

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/38265/4/Chapter%20II.pdf