Você está na página 1de 28

ANALISIS BOBOT SAHAM MENGGUNAKAN MODEL INDEKS TUNGGAL

PENGANTAR STATISTIKA KEUANGAN

Yogyakarta, 1 Juni 2016

Nama : Risqia Fadhilah Syahrir

NIM : 14/363654/PA/15849

Prodi : Statistika

Dosen Pengampu : Dr. Abdurakhman, M.Si.

DEPARTEMEN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016
Abstract

The objectives of this paper are to understand and try the optimum composition, return and
risk of portfolio which are formed by Single Index Model. This paper type using descriptive
study with quantitative approach. This paper uses data based on Yahoo! Finance. Writer got 10
samples of stocks. Data type is secondary data. Data analysis tool is Single Index Model. Result
of analysis in this 2015 until 2016 indicates that there are 2 stocks which establish an optimum
portfolio. These two stocks are TELKOM INDONESIA (52,785%), and GUDANG GARAM
(47,215%). The portfolio established from these stocks has expected return of 0,713262% and
involves risk of 0,02471572%.

Keyword: Portofolio, Single Index Model

2
Abstrak
Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui bobot portofolio yang dapat dibentuk dengan
Single Index Model. Dengan penggunaan model dalam penulisan paper ini dapat mengetahui
return portofolio dan risiko portofolio. Penulisan ini bersifat deskriptif dengan pendekatan
kuantitatif. Penulisan ini dengan mengambil data dari Yahoo! Finance. Diperoleh 10 sampel
perusahaan. Data yang dipakai adalah data sekunder dengan analisis data menggunakan
Single Index Model. Hasil dari analisis dalam penulisan ini dengan data tahun 2015-2016
terpilih 2 saham yang signifikan bobotnya dapat dihitung dengan Single Index Model untuk
membentuk portofolio yang dapat dipilih oleh investor, yaitu TELKOM INDONESIA
(52,785%), dan GUDANG GARAM (47,215%). Portofolio yang terbentuk dari 2 saham
tersebut memberikan expected return sebesar 0,713262% dan mengandung risiko sebesar
0,02471572%

Kata Kunci: Portofolio, Single Index Model

3
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Dewasa ini, setiap orang tidak bisa lepas dari uang. Dari waktu ke waktu, tentu saja
mereka menginginkan agar uang yang mereka punya bisa berkembang salah satunya
dengan cara investasi. Perkembangan dalam pasar modal semakin menarik banyak
investor untuk melakukan investasi. Menurut Tandelilin (2001) , investasi adalah
komitmen atas sejumlah dana atau sumberdaya lainnya yang dilakukan pada saat ini
dengan tujuan memperoleh keuntungan di masa yang akan datang. Investasi dilakukan
dengan cara membeli sekuritas yang diperkirakan dapat memberikan return yang baik
dan menjual sekuritas tersebut apabila sedang memerlukan dana atau menggantinya
dengan sekuritas lain yang dianggap lebih menjanjikan. Dalam meminimalisir risiko dari
investasi maka akan lebih bijak untuk melakukan investasi tidak hanya pada satu saham
saja. Oleh karena itu investor perlu membuat portofolio saham.
Sekuritas merupakan secarik kertas yang menunjukkan hak pemodal (yaitu pihak
yang memiliki kertas tersebut) untuk memperoleh bagian dari prospek atau kekayaan
organisasi yang menerbitkan sekuritas tersebut (Husnan, 1993). Pasar modal dapat
dikatakan sebagai sarana bagi para penjual dan pembeli agar dapat melakukan negosiasi
terhadap pertukaran suatu komoditas atau kelompok komoditas , dan komoditas yang
dipertukarkan di sini adalah modal (Ang, 1997). Pasar modal adalah bagian dari pasar
finansial yang menjalankan fungsi ekonomi dengan cara mengalokasikan dana secara
efisien dari pihak yang memiliki dana ke pihak yang memerlukan dana, dan fungsi
keuangan yang ditunjukkan dari kemungkinan memperoleh imbalan bagi pemilik dana
sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih.
Pasar modal adalah tempat bertemunya investor dengan emiten. Emiten pasar modal
adalah perusahaan-perusahaan yang telah menerbitkan dan menawarkan surat berharga
kepada masyarakat atau investor melalui penawaran umum dan investor adalah
perorangan atau lembaga yang menanamkan modalnya dalam saham perusahaan. Pasar
modal dapat juga berfungsi sebagai lembaga perantara (intermediaries). Fungsi ini
menunjukkan peranan penting pasar modal dalam menunjang perekonomian karena pasar
modal dapat menghubungkan pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang
kelebihan dana (Tandelilin, 2001).
Dalam investasi, investor bertujuan untuk memaksimalkan return. Return termasuk
salah satu faktor yang menjadi motivasi bagi investor untuk berinvestasi dan juga
merupakan imbalan atas keberanian investor di dalam mengambil resiko atas investasi
yang dilakukannya. Investor akan memperkirakan berapa tingkat pendapatan yang
diharapkan (expected return) dalam suatu periode tertentu di masa yang akan datang.
Agar dapat memperoleh keuntungan, para investor harus mengestimasi semua faktor
penting seperti return saham, risiko dan ketidakpastian saham, serta faktor lain yang
berhubungan dengan kegiatan investasi di pasar modal yang mempengaruhi return
investasi di masa mendatang.

4
William Sharpe (1963) mengembangkan model yang disebut dengan model indeks
tunggal (single-index model). Penentuan tingkat pengembalian aset yang diharapkan
digunakan model indeks tunggal. Model ini dapat digunakan untuk menyederhanakan
perhitungan di model Markowitz dengan menyediakan parameter-parameter input yang
dibutuhkan di dalam perhitungan model Markowitz. Di samping itu, model indeks
tunggal dapat juga digunakan untuk menghitung return ekspetasinya dan risiko portofolio.
Berdasarkan latar belakang masalah dan penelitian sebelumnya, maka penulis akan
membahas mengenai penggunaan Single Index Model dalam menjelaskan pengembalian
saham yang diunduh dari Yahoo! Finance (finance.yahoo.com) .

1.1. Pembatasan Masalah


Dalam penulisan ini, pembatasan masalah sangat diperlukan untuk menjamin
keabsahan dalam kesimpulan yang akan diperoleh. Agar tidak terjadi penyimpangan dari
tujuan semula dan pemecahan masalah lebih terkonsentrasi. Penulis hanya membatasi
pada teori dan analisis pembentukan portofolio dengan metodeSingle Index Model dan
analisis pengaruh variabel-variabelnya (return pasar, ukuran perusahaan dan rasio pasar)
terhadap excess return.

1.2. Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang
akan dikaji, yaitu :
1. Apa sajakah saham yang signifikan dapat dihitung bobotnya menggunakan
metode Single Index Model?
2. Berapa besar bobot saham dari portofolio menggunakan metode Single Index
Model?
3. Berapa besar return yang akan diperoleh dari portofolio saham menggunakan
metodeSingle Index Model?
4. Berapa besar riskyang akan diperoleh dari portofolio saham menggunakan
metodeSingle Index Model?

1.3. Tujuan Penulisan


Penulis akan menulis tujuan akan penulisan :
1. Mempelajari dan memahami salah satu metode yang dikembangkan terhadap
pembuatan portofolio saham.
2. Membentuk suatu portofolio dengan bobot yang dihitung menggunakan
metode Single Index Model.

1.4. Tinjauan Pustaka


Analisis ini dikembangkan oleh William Sharpe pada tahun 1963, dengan melakukan
penyederhanaan perhitungan model Markowitz dan menyediakan parameter input
untuk perhitungan Markowitz.

5
1.5. Metode Penulisan
Metode yang dipakai penulis dalam penulisan makalah ini adalah studi literatur dan
studi penelitian terdahulu. Studi literatur yaitu penulis mempelajari referensi-referensi
yang berkaitan dengan teori portofolio dan model penilaian (pricing model) yang
diperoleh dari perpustakaan-perpustakaan , internet, maupun media-media lain yang
relevan seperti buku elektronik (e-book), jurnal, dan artikel resmi yang diperoleh dari
situs-situs internet , serta bahan-bahan pendukung lainnya yang mendukung dalam
penulisan ini. Sedangkan untuk studi penelitian terdahulu, penulis mempelajari laporan
kerja praktek, skripsi, dan tesis yang sudah dibuat terlebih dahulu oleh para senior.
Penulis menggunakan data saham-saham yang diperoleh melalui situs
finance.yahoo.com.

1.6. Sistematika Penulisan


Penulisan akan disusun dalam 5 (lima) bab, yaitu :

BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang, pembatasan masalah, perumusan
masalah, tujuan penulisan, tinjauan pustaka, metode penulisan, dan
sistematika penulisan.
BAB II : LANDASAN TEORI
Berisi beberapa definisi, teorema yang mendasari, serta teori
pendukung yang relevan.
BAB III : MODEL INDEKS TUNGGAL TERHADAP PEMBENTUKAN
PORTOFOLIO
Berisi mengenai metode pembentukan portofolio dengan model
indeks tunggal.
BAB IV : STUDI KASUS
Mengenai penerapan metode dalam pembentukan portofolio dan
analisis model portofolio terhadap return saham (excess return) pada
saham yang penulis peroleh dari finance.yahoo.com.
BAB V : PENUTUP
Pada bab terakhir ini, penulis akan memberikan beberapa kesimpulan
dari hasil pembahasan pada bab-bab sebelumnya dan beberapa saran
yang dapat dipertimbangkan.

6
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Nilai Ekspektasi


Bain dan Engelhardt (1992) mendefinisikan nilai ekspektasi sebagai berikut :
Definisi 2.1.1Jika X variabel random dengan fungsi kepadatan peluang f(x) maka
nilai ekspektasi dari X didefinisikan sebagai berikut :

( ) ∑ ( )

( ) ∫ ( )

Nilai ekspektasi dari sering disebut momen ke-1 dari variabel random . Dengan
demikian, momen ke-2 dari variabel random dapat dinyatakan sebagai berikut :

( ) ∑ ( )

( ) ∫ ( )

Sehingga dapat disimpulkan bahwa momen ke- dari variabel random dapat
dituliskan sebagai berikut :

( ) ∑ ( )

( ) ∫ ( )

Dapat dituliskan sifat-sifat dari ekspektasi adalah sebagai berikut :


1. ( ) ( ) ( ) , jika dan adalah variabel random
sembarang.
2. ( ) ( ) ( ) , jika dan adalah variabel random
sembarang.
3. ( ) ( ) , jika dan adalah konstan.
4. ( ) ( ) ( ) jika dan independen.

2.2. Return Portofolio


Return merupakan pengembalian pendapatan yang diterima dari investasi ditambah
perubahan harga pasar, biasanya dinyatakan sebagai persentase dari harga pasar investasi
awal (Van Horne, 1997). Return yang diharapkan investor dari investasi yang
dilakukannya merupakan kompensasi atas biaya kesempatan (opportunity cost) dan
return yang terjadi (realized return). Return yang diharapkan merupakan tingkat return
yang diantisipasi investor di masa yang akan datang. Sedangkan return yang terjadi
(actual return) merupakan tingkat return yang telah diperoleh investor pada masa yang
7
telah lalu. Ketika investor menginvestasikan dananya, investor tersebut akan
mensyaratkan tingkat return tertentu, dan jika periode investasi berlalu, investor tersebut
akan dihadapkan pada tingkat return yang sesungguhnya diterima. Antara tingkat return
yang diharapkan dan tingkat return aktual yang diperoleh investor dari investasi yang
dilakukan mungkin saja berbeda. Perbedaan antara return yang diharapkan dengan return
yang benar-benar terjadi merupakan resiko yang harus selalu dipertimbangkan dalam
proses kegiatan investasi.
Return sebagai hasil dari investasi dapat berupa return realisasi (realized return)
maupun return yang diharapkan (expected return). Realized return merupakan return
yang telah terjadi, dihitung berdasarkan data historis. Return ini penting karena
digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja suatu perusahaan. Sedangkan expected
return adalah return yang diharapkan diperoleh investor di masa yang akan datang.
Pengukuran realized return dapat dilakukan dengan menggunakan return total, return
relatif, return kumulatif atau return yang disesuaikan. Expected return dihitung
berdasarkan rata-rata yang berasal dari suatu distribusi return, merupakan pengukuran
rata-rata atau central tendency dari suatu distribusi return (Elton and Gruber, 1995).
Penelitian ini menggunakan total return dan expected return.

2.3. Risiko Portofolio


Risiko adalah kerugian yang dihadapi oleh para investor (Fabozzi, 1995). Risiko
merupakan kemungkinan terjadinya peristiwa yang tidak menguntungkan (Brigham and
Weston, 1990). Risiko juga didefinisikan sebagai kemungkinan penyimpangan atau
variabilitas actual return suatu investasi dengan expected return (Elton dan Gruber,
1995).

Besarnya risiko dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:

1. Interest Rate Risk, adalah variabilitas return yang disebabkan oleh perubahan
tingkat suku bunga.
2. Market Risk, adalah variabilitas return yang disebabkan oleh fluktuasi pasar
secara keseluruhan.
3. Inflation Risk, adalah risiko yang mempengruhi seluruh saham yang diquote
dalam mata uang tertentu.
4. Business Risk, adalah risiko yang ditimbulkan karena melakukan investasi
pada industri atau lingkungan tertentu.
5. Financial Risk, adalah risiko yang timbul karena perusahaan menggunakan
instrumen uang.
6. Liquidity Risk, adalah risiko yang berhubungan dengan pasar sekunder
dimana instrumen investasi tersebut diperdagangkan.
7. Exchange Rate Risk, adalah risiko yang ditimbulkan karena perubahan nilai
tukar mata uang suatu negara terhadap negara lain apabila investor
melakukan investasi ke berbagai negara (diversifikasi internasional).
8. Country Risk, adalah risiko yang terkait dengan risiko atau keadaan politik
suatu negara tempat berinvestasi.

8
Pada teori investasi modern berbagai risiko tersebut digolongkan menjadi dua, yaitu
risiko sistematis (systematic risk/nondiversiable risk/market risk) dan risiko tidak
sistematis (unsystematic risk/diversiable risk).Systematic risk adalah risiko yang
dipengaruhi oleh kondisi diluar perusahaan seperti ekonomi, politik dan faktor makro
lain yang tidak dapat dihilangkan melalui diversifikasi. Unsystematic risk adalah risiko
yang dipengaruhi oleh kondisi perusahaan atau industri tertentu dan dapat diturunkan
dengan melakukan diversifikasi (Brigham and Daves, 2004).
Semakin banyak saham yang dimasukkan dalam portofolio berarti semakin tersebar
risikonya. Dan apabila jumlah aset ditambah, maka variance akan semakin kecil dan
nilainya akan menjadi nol bila jumlah aset pembentuk portofolio berjumlah tak
terhingga. Risiko portofolio dipengaruhi oleh rata-rata tertimbang atas masing-masing
risiko aset individual dan covariance antar aset yang membentuk portofolio tersebut. Jika
jumlah aset ditambah, maka variance akan semakin kecil dan nilainya akan menjadi nol
bila jumlah aset pembentuk portofolio berjumlah tak terhingga. Risiko yang diartikan
sebagai kemungkinan penyimpangan actual return terhadap expected return, bisa
menyimpang lebih kecil atau lebih besar. Risiko diukur berdasarkan penyebaran di
sekitar rata-rata atau yang biasa disebut dengan standar deviasi (deviation standard),
mengukur penyimpangan nilai-nilai actual return dengan nilai mean atau expected return.
Standar deviasi digunakan untuk mengukur risiko dari realized return, sedangkan risiko
dari expected return diukur dengan variance.

2.4. Konsep Return dan Risiko


Tujuan investor dalam berinvestasi adalah memaksimalkan return, tanpa melupakan
faktor resiko investasi yang harus dihadapinya. Return merupakan salah satu faktor yang
memotivasi investor berinvestasi dan merupakan imbalan atas keberanian investor
menanggunnng resiko investasi yang dilakukan. Hubungan tingkat resiko dan return
yang diharapkan merupakan hubungan yang bersifat searah dan linier. Artinya semakin
besar resiko suatu aset, semakin besar pula return yang diharapkan atas aset tersebut,
demikian sebaliknya. Gambar 2.1 berikut ini menunjukkan hubungan antara return yang
diharapkan dan resiko pada berbagai jenis aset yang mungkin bisa dijadikan alternatif
investasi.

Gambar 2.1. Hubungan risiko dan return yang diharapkan

Garis vertikal dalam gambar di atas menunjukkan besarnya tingkat return yang
diharapkan dari masing-masing jenis aset, sedangkan garis horisontal memperlihatkan
resiko yang ditanggung investor. Titik RF (risk free) pada gambar di atas menunjukkan
9
tingkat return bebas resiko (risk free rate) yang berarti satu pilihan investasi yang
menawarkan tingkat return yang diharapkan sebesar RF dengan resiko sebesar nol.
Kesimpulan yang ditarik dari pola hubungan antara resiko dan return yang diharapkan
adalah bahwa resiko dan return yang diharapkan mempunyai hubungan yang searah dan
linier. Artinya semakin tinggi resiko suatu aset, semakin tinggi pula tingkat return yang
diharapkan, demikian juga sebaliknya.

2.5. Portofolio Efisien


Portofolio efisien adalah kombinasi investasi yang memberikan nilai return yang
sama dengan tingkat risiko yang minimal atau dengan tingkat risiko yang sama akan
memberikan return yang maksimal (Brigham and Daves, 2004). Pembentukan portofolio
optimal dilakukan dengan memilih saham-saham berdasarkan return dan risiko yang
sesuai dengan profil investor. Menurut Sharpe, Alexander dan Bailey (1995), portofolio
dikategorikan efisien apabila memiliki tingkat risiko yang sama, mampu memberikan
tingkat keuntungan yang lebih tinggi, atau mampu menghasilkan tingkat keuntungan
yang sama, tetapi dengan risiko yang lebih rendah. Sedang Elton dan Gruber (1995)
mengukur portofolio efisien dengan ukuran theta (θ) Hlawitscha dan Tucker (1995)
menggambarkan portofolio efisien seperti terlihat pada gambar 2.2

Gambar 2.2. Portofolio Efisien

Garis yang menghubungkan titik B, M dan S merupakan portofolio yang terletak


pada efficient set, titik Rf menuju A merupakan security market line (SML), garis Rp
merupakan return portofolio, dan titik Rf merupakan titik risk free rate pada aset lain,
dan σp merupakan risiko dari portofolio, garis I’ merupakan preferensi investor yang
tergolong risk averse (tidak menyukai risiko), sehingga dana yang dimilikinya akan
diinvestasikan pada portofolio yang bergerak dari titik Rf ke M, garis I” merupakan
preferensi investor yang tergolong risk seeker (yang menyukai risiko), sehingga dana
yang dimikinya akan diinvestasikan pada portofolio yang bergerak dari titik M ke A.

10
Indifference curve adalah kurva yang menggambarkan tingkat kepuasan yang sama
antara return dan risiko. Kurva yang lebih curam mencerminkan profil investor yang risk
taker, yaitu investor yang berani mengambil risiko. Portofolio efisien adalah portofolio
yang mempunyai manfaat tertinggi bagi investor yang terletak pada titik singgung antara
indifference curve dengan efficient frontiers (Reilly and Brown, 2003). Efficient frontiers
menggambarkan set portofolio yang mempunyai return maksimal pada tingkat risiko
tertentu atau risiko minimum pada tingkat return tertentu (highest utility for investor).
Dalam membentuk portofolio efisien harus diperhatikan koefisien korelasi return
dari masing-masing aset yang membentuk portofolio. Koefisien korelasi tersebut
mencerminkan keeratan hubungan antar return dari aset-aset yang membentuk portofolio.
Apabila koefisien korelasi -1 (negatif sempurna) artinya return kedua aset mempunyai
kecenderungan perubahan berlawanan arah pada satu periode waktu. Sedangkan
koefisien korelasi sebesar +1 (positif sempurna) maka return kedua aset mempunyai
kecenderungan perubahan searah pada satu periode waktu sehingga pembentukan
portofolio atau diversifikasi tidak akan mempengaruhi (Brigham and Daves, 2004;
Markowitz, 1959). Jadi faktor penting dalam diversifikasi portofolio adalah korelasi yang
rendah antar return aset pembentuk portofolio. Makin rendah koefisien korelasi maka
semakin besar pula potensi manfaat dari diversifikasi tersebut. Ukuran portofolio efisien
tidak terlepas dari unsur return dan risiko, maka perhitungan secara matematis diperlukan
untuk mengukurnya. (Van Horne, 1992)

2.6. Portofolio Optimal


Portofolio efisien merupakan portofolio yang baik, tetapi bukan yang terbaik.
Portofolio yang terbaikadalah portofolio yang optimal. Portofolio efisien hanya
mempunyai satu dari faktor terbaik, yaitufaktor expected return atau faktor risikonya.
Sementara, portofolio yang optimal adalah portofolioyang memiliki kombinasi
expected return dan risiko yang terbaik.

Pembentukan portofolio optimal dapat dilakukan dengan beberapa metode, misal:


1. Pendekatan Markowitz
2. Pendekatan Single Index Model (Model Indeks Tunggal)

11
BAB III

MODEL INDEKS TUNGGAL TERHADAP PEMBENTUKAN PORTOFOLIO

Analisis portofolio dengan Single Index Model

Analisis ini dikembangkan oleh William Sharpe pada tahun 1963, dengan melakukan
penyederhanaan perhitungan model Markowitz dan menyediakan parameter input untuk
perhitungan Markowitz.

Pembentukan portofolio dengan menggunakan Single Index Model dapat dilakukan dengan
menyeleksi saham-saham yang akan dimasukkan ke dalam portofolio optimal, yaitu dengan
membandingkan excess return to beta (ERB) dengan cut off point sebagai batasannya. ERB
merupakan rasio antara excess return (selisih antara expected returns dengan return aktiva
bebas risiko) dengan beta.

Model ini didasarkan pada indikasi bahwa return-return sekuritas individual cenderung
berkorelasi dengan return pasar. Dengan dasar ini, return suatu sekuritas dan return pasar
mengikuti pola hubungan seperti ini,

dimana:

 = return sekuritas ke-i


 = variabel acak yang menunjukkan komponen dari return sekuritas ke-i yang
independen terhadap kinerja pasar
 = Beta yang merupakan koefisien yang mengukur perubahan Ri akibat dari
perubahan RM
 = return pasar

Penerapan Single Index Model untuk menghitung expected return dinyatakan dalam rumus
berikut:

 E( ) = Expected return sekuritas ke-i


 = variabel acak yang menunjukkan komponen dari return sekuritas ke-i yang
independen terhadap return pasar
 = Beta yang merupakan koefisien yang mengukur perubahan Ri akibat dari
perubahan RM
 E( ) = Expected return pasar

12
Selanjutnya, tahap pengukuran portofolio saham yang optimal dengan menggunakan Single
Index Model adalah:

a) Menghitung total realized return masing-masing saham :

Perhitungan total return masing-masing saham menggunakan data harga saham bulanan,
yaitu harga penutupan (closing price) pada tiap akhir bulan. Perhitungan dalam rumus ini
juga menggunakan unsur dividen. Jadi perhitungan total realized return merupakan total
perolehan capital gain dan yield yang berupa dividen.

*Pada paper ini diasumsikan dividennya nol

b) Hitung expected return masing-masing saham

Expected return umumnya dihitung berdasarkan data historis, yaitu dengan menggunakan
metode rata-rata (arithmetic mean). Biasanya peneliti menghitung expected return masing-
masing saham per bulan dengan menjumlahkan Ri selama periode analisa, kemudian dibagi
dengan jumlah periode analisis.


( )

Dalam membentuk portofolio yang optimal, saham yang memiliki ( )> 0 akan
dimasukkan dalam analisis selanjutnya, sedangkan saham yang memiliki ( )< 0 akan
diabaikan, karena berdasarkan asumsi bahwa investor akan bersikap rasional. Artinya,
investor tidak akan memilih saham yang tidak memberikan keuntungan.

c) Hitung market return dan expected market return

Market return atau RM dihitung dengan menggunakan data IHSG, karena indikator ini
menunjukkan kinerja bursa saham.

Perhitungan expected market return umumnya menggunakan metode arithmetic mean, yaitu
total return pasar selama t tahun analisis dibagi dengan jumlah n unit analisis (bulanan).


( )

13
d) Hitung alpha dan beta masing-masing saham

Perhitungan koefisien alpha dan beta masing-masing saham digunakan untuk menghitung
total risiko. Koefisien beta merupakan pengukuran volatilitas antara return-return suatu
sekuritas atau portofolio dengan return pasar. Jika volatilitas diukur dengan kovarian, maka
kovarian return antara sekuritas ke-i dengan return pasar adalah sebesar . Dengan
membagi kovarian dengan varian return pasar maka beta akan mengukur risiko
sekuritas ke- relative terhadap risiko pasar, atau disebut beta.

Perhitungan beta sekuritas adalah sebagai berikut :

Formula lain untuk menghitung adalah sebagai berikut :

∑ ( ̅ )( ̅ )
∑ ( ̅ )

dihitung untuk masing-masing saham. Perhitungan bisa diibaratkan sebagai pencarian


koefisien untuk variabel independen pada analisis regresi, di sini variabel independennya
adalah return pasar, sedangkan variabel dependennya adalah return suatu sekuritas.

Koefisien alpha menunjukkan besarnya perubahan return saham individual yang disebabkan
oleh perubahan return pasar.

( ) ( ( ))

e) Hitung total risiko masing-masing saham

Risiko investasi berkaitan dengan adanya ketidakpastian atas tingkat pengembalian (return).
Risiko disebut juga sebagai penyimpangan antara realized return dengan expected return.
Secara teoritis, asset atau sekuritas yang memiliki return yang tinggi cenderung memiliki
risiko yang tingi pula.

Hitung total risiko masing-masing saham, yaitu penjumlahan risiko sistematis dan risiko tidak
sistematis tiap aset.Risiko sistematis diukur dengan menggunakan beta dan varians market
return( ) . Risiko tidak sistematis diukur dari varians dari kesalahan residu .

14
f) Tentukan nilai return aktiva bebas risiko

Return aktiva bebas risiko umumnya mengacu pada tingkat suku bunga Sertifikat Bank
Indonesia (SBI) bulanan selama periode analisis. SBI dianggap sebagai aktiva bebas risiko
karena dikeluarkan oleh Bank Indonesia dan merupakan instrument investasi jangka pendek.
Besarnya merupakan rata-rata dari suku bunga selama periode analisis. Saham-saham
yang memiliki expected return lebih besar dari return aktiva bebas risiko, atau E(Ri)
> akan dimasukkan dalam analisis selanjutnya karena menghasilkan nilai ERB yang
positif.

g) Tentukan excess return to beta (ERB)

ERB merupakan selisih expected return dengan return aktiva bebas risiko. Pengukuran ERB
dimaksudkan untuk mengukur kelebihan return relative terhadap satu unit risiko yang tidak
dapat didiversifikasi yang diukur dengan beta. Nilai ERB merupakan angka yang dijadikan
dasar untuk menentukan apakah suatu saham dapat dimasukkan ke dalam portofolio optimal.

Nilai ERB dihitung dengan rumus:

( )

Urutkan sekuritas-sekuritas berdasarkan nilai ERB terbesar ke nilai terkecil. Sekuritas dengan
nilai ERB yang lebih besar akan berpeluang untuk lebih menguntungkan.

h) Hitung nilai Ai dan Bi serta cut-off point

Portofolio optimal terdiri dari saham-saham yang memiliki ERB tinggi. Saham dengan nilai
ERB rendah tidak akan dimasukkan dalam portofolio optimal. Untuk menentukan suatu asset
dimasukkan atau tidak dalam portofolio, diperlukan titik pembatas (cut-off point) yang
menentukan batas nilai ERB yang dikatakan tinggi dan yang dikatakan rendah.

1. Urutkan saham-saham berdasarkan nilai ERB terbesar ke terkecil.

2. Hitung nilai Ai dan Bi untuk masing-masing saham ke-i dengan rumus berikut.

[ ( ) ]


Besarnya cut-off point (C*) adalah nilai Ci dimana nilai ERB terakhir kali masih lebih besar
dari Ci. Sekuritas-sekuritas yang membentuk portofolio optimal adalah sekuritas-sekuritas
yang mempunyai nilai ERB lebih besar atau sama dengan nilai ERB di titik C*.Sekuritas

15
yang memiliki ERB lebih kecil dibanding nilai ERB di titik C* tidak diikutsertakan dalam
pembentukan portofolio optimal.

i) Tentukan proporsi dana masing-masing saham terpilih

Jika saham-saham pembentuk portofolio optimal telah tersusun, tentukan proporsi dana
masing-masing saham yang terpilih sebagai pembentuk portofolio optimal. Besarnya proporsi
dana masing-masing saham dihitung dengan rumus berikut.

( )

j) Hitung alpha dan beta portofolio

Single Index Model bertujuan untuk mereduksi jumlah variabel yang harus ditaksir. Model
ini mampu mempengaruhi variabel yang harus ditaksir karena memiliki karakteristik
tersendiri, yaitu beta portofolio, sebagai rata-rata dari beta masing-masing saham pembentuk
portofolio optimal. Beta portofolio dihitung dengan rumus berikut.

Alpha merupakan rata-rata dari alpha masing-masing saham pembentuk portofolio optimal.

k) Tentukan expected return dan risiko portofolio

Perhitungan tingkat pengembalian yang diharapkan (expected return) dari suatu portofolio
dilakukan dengan rumus berikut ini.

( ) ( )

Jika nilai expected return telah diketahui, kemudian hitunglah risiko portofolio atau disebut
pula varian portofolio dengan menggunakan rumus berikut.

[∑ ]

16
Jika asumsi yang berlaku adalah besarnya proporsi dana untuk setiap saham dalam portofolio
adalah sama, maka risiko tidak sistematis dalam portofolio saham akan semakin kecil dan
mendekati nol jika investor menambah jumlah saham dalam portofolio tersebut. Dengan
asumsi ini, risiko portofolio merupakan risiko yang hanya dipengaruhi oleh pasar, atau
berkaitan dengan beta dan varian market return. Risiko portofolio merupakan kuadrat dari
beta portofolio dan nilai varian market return seperti dalam rumus:

17
BAB IV

STUDI KASUS

Saya memilih 10 saham untuk dimasukkan ke dalam analisis model indeks tunggal, yaitu
saham dari perusahaan :

1. BMRI.JK (Bank Mandiri)


2. BBCA.JK (Bank BCA)
3. BBRI.JK (Bank BRI)
4. TLKM.JK (Telkom Indonesia)
5. PGAS.JK (Perusahaan Gas Negara)
6. ADHI.JK (Adhi Karya)
7. INDF.JK (Indofood)
8. GGRM.JK (Gudang Garam)
9. ANTM.JK (Aneka Tambang)
10. INCO.JK (Vale Indonesia)

Selanjutnya, tahap pengukuran portofolio saham yang optimal dengan menggunakan Single
Index Model adalah:

a) Menghitung total realized return masing-masing saham :

Pada kasus ini, saya asumsikan atau besar dividen tidak akan ikut diperhitungkan atau
dengan kata lain besar adalah nol. Data saham yang saya ambil adalah data mingguan
selama satu tahun yaitu dari 23 Mei 2015 sampai 23 Mei 2016.

*Pada paper ini diasumsikan dividennya nol

b) Hitung expected return masing-masing saham

Expected return umumnya dihitung berdasarkan data historis, yaitu dengan menggunakan
metode rata-rata (arithmetic mean).


( )

Dengan bantuan Microsoft Excel 2007, didapatkan ( ) adalah sebagai


berikut :

1. BMRI.JK
( ) = -0,002371206< 0
2. BBCA.JK
( ) = -0,000347956< 0
3. BBRI.JK
( ) = -0,00044 < 0

18
4. TLKM.JK
( ) = 0,005704004> 0
5. PGAS.JK
( ) = -0,01077611< 0
6. ADHI.JK
( ) = 0,00547494> 0
7. INDF.JK
( ) = 0,001014572> 0
8. GGRM.JK
( ) = 0,009701141> 0
9. ANTM.JK
( ) = 0,004155207> 0
10. INCO.JK
( ) = -0,010899325< 0

Dalam membentuk portofolio yang optimal, saham yang memiliki ( )> 0 akan
dimasukkan dalam analisis selanjutnya, sedangkan saham yang memiliki ( )< 0 akan
diabaikan, karena berdasarkan asumsi bahwa investor akan bersikap rasional. Artinya,
investor tidak akan memilih saham yang tidak memberikan keuntungan.

Jadi, berdasarkan perhitungan ( ) , maka saham yang akan dipilih adalah saham :

1. TLKM.JK
( ) = 0,005704004> 0
2. ADHI.JK
( ) = 0,00547494> 0
3. INDF.JK
( ) = 0,001014572> 0
4. GGRM.JK
( ) = 0,009701141> 0
5. ANTM.JK
( ) = 0,004155207> 0

Saham-saham tersebut dipilih karena memiliki ( ) . Selanjutnya kita akan menghitung


market return dan expected market return.

c) Hitung market return dan expected market return

Market return atau RM dihitung dengan menggunakan data IHSG, karena indikator ini
menunjukkan kinerja bursa saham.

19
Perhitungan expected market return umumnya menggunakan metode arithmetic mean, yaitu
total return pasar selama t tahun analisis dibagi dengan jumlah n unit analisis (bulanan).


( )

Dengan data mingguan IHSG dari 27 Mei 2015 sampai 27 Mei 2016 didapatkan , dan

 ( )
 ( )

d) Hitung alpha dan beta masing-masing saham

Perhitungan koefisien alpha dan beta masing-masing saham digunakan untuk menghitung
total risiko. Koefisien beta merupakan pengukuran volatilitas antara return-return suatu
sekuritas atau portofolio dengan return pasar. Jika volatilitas diukur dengan kovarian, maka
kovarian return antara sekuritas ke-i dengan return pasar adalah sebesar . Dengan
membagi kovarian dengan varian return pasar maka beta akan mengukur risiko
sekuritas ke- relative terhadap risiko pasar, atau disebut beta.

Perhitungan beta sekuritas adalah sebagai berikut :

Formula lain untuk menghitung adalah sebagai berikut :

∑ ( ̅ )( ̅ )
∑ ( ̅ )

dihitung untuk masing-masing saham. Perhitungan bisa diibaratkan sebagai pencarian


koefisien untuk variabel independen pada analisis regresi, di sini variabel independennya
adalah return pasar, sedangkan variabel dependennya adalah return suatu sekuritas.
Didapatkan besar sebesar :

1. TLKM.JK
= 0,020810083> 0
2. ADHI.JK
= -0,395629826< 0
3. INDF.JK
= 0,165886457> 0
4. GGRM.JK
= 0,115796756> 0

5. ANTM.JK
= -0,044724086< 0

20
Koefisien alpha menunjukkan besarnya perubahan return saham individual yang disebabkan
oleh perubahan return pasar.

( ) ( ( ))

Didapatkan besar sebesar :

1. TLKM.JK
=0,005690412> 0
2. ADHI.JK
= 0,003988046> 0
3. INDF.JK
= 0,00055698 > 0
4. GGRM.JK
= 0,008883154 > 0
5. ANTM.JK
= 0,004010698 > 0

Saya mengasumsikan bahwa saya tetap memilih saham baik itu dengan nilai positif
maupun negatif.

e) Hitung total risiko masing-masing saham

Risiko investasi berkaitan dengan adanya ketidakpastian atas tingkat pengembalian (return).
Risiko disebut juga sebagai penyimpangan antara realized return dengan expected return.
Secara teoritis, asset atau sekuritas yang memiliki return yang tinggi cenderung memiliki
risiko yang tingi pula.

Hitung total risiko masing-masing saham, yaitu penjumlahan risiko sistematis dan risiko tidak
sistematis tiap aset.Risiko sistematis diukur dengan menggunakan beta dan varians market
return( ) . Risiko tidak sistematis diukur dari varians dari kesalahan residu .

Didapatkan dari perhitungan excel bahwa :

1. Resiko dari TLKM.JK =


2. Resiko dari ADHI.JK = 0,004200627
3. Resiko dari INDF.JK = 0,002407027
4. Resiko dari GGRM.JK = 0,00186265
5. Resiko dari ANTM.JK = 0,008148701

f) Tentukan nilai return aktiva bebas risiko

21
Return aktiva bebas risiko umumnya mengacu pada tingkat suku bunga Sertifikat Bank
Indonesia (SBI) bulanan selama periode analisis. SBI dianggap sebagai aktiva bebas risiko
karena dikeluarkan oleh Bank Indonesia dan merupakan instrument investasi jangka pendek.
Besarnya merupakan rata-rata dari suku bunga selama periode analisis. Saham-saham
yang memiliki expected return lebih besar dari return aktiva bebas risiko, atau E(Ri)
> akan dimasukkan dalam analisis selanjutnya karena menghasilkan nilai ERB yang
positif.

Berdasarkan data dari website Bank Indonesia, didapatkan bahwa :

 Tingkat suku bunga tahunan adalah 6,75% (diakses 19 Mei 2016)


Karena data saham yang saya ambil adalah data mingguan maka tingkat suku bunga
harus diubah ke tingkat suku bunga mingguan dengan rumus :
( )
( ) ( )
Sedangkan dalam satu tahun terdapat 52 minggu, maka , sehingga :
 Tingkat suku bunga mingguan adalah 0,1256933%

Maka dapat dituliskan bahwa besar adalah 0,1256933% = 0,001256933

Didapatkan dari perhitungan excel untuk nilai ( ) sebesar :

1. TLKM.JK
( ) =0,005704004>0,001256933 =
2. ADHI.JK
( ) = 0,00547494>0,001256933 =
3. INDF.JK
( ) = 0,001014572<0,001256933 =
4. GGRM.JK
( ) = 0,009701141>0,001256933 =
5. ANTM.JK
( ) = 0,004155207>0,001256933 =

Maka saham Indofood tidak akan dilanjutkan dalam proses karena nilai ( )<

g) Tentukan excess return to beta (ERB)

ERB merupakan selisih expected return dengan return aktiva bebas risiko. Pengukuran ERB
dimaksudkan untuk mengukur kelebihan return relative terhadap satu unit risiko yang tidak
dapat didiversifikasi yang diukur dengan beta. Nilai ERB merupakan angka yang dijadikan
dasar untuk menentukan apakah suatu saham dapat dimasukkan ke dalam portofolio optimal.

22
Nilai ERB dihitung dengan rumus:

( )

Urutkan sekuritas-sekuritas berdasarkan nilai ERB terbesar ke nilai terkecil. Sekuritas dengan
nilai ERB yang lebih besar akan berpeluang untuk lebih menguntungkan.

Didapatkan dari perhitungan excel untuk nilai ( ) sebesar :

1. TLKM.JK
( ) =0,213697926
2. ADHI.JK
( ) = -0,010661498
3. GGRM.JK
( ) = 0,072922665
4. ANTM.JK
( ) = -0,064803432

Didapatkan masing-masing nilai ( ) , sehingga dapat diurutkan bahwa :

( ) ( ) ( ) ( )

Sehingga, Telkom Indonesia berpeluang paling besar untuk menguntungkan daripada ketiga
saham yang lain (Adhi Karya, Gudang Garam, dan Aneka Tambang) .

Pada tahap selanjutnya, akan dimasukkan hanya dari saham Telkom Indonesia dan Saham
Gudang Garam karena memiliki ( ) yang tinggi.

h) Hitung nilai Ai dan Bi serta cut-off point

Portofolio optimal terdiri dari saham-saham yang memiliki ERB tinggi. Saham dengan nilai
ERB rendah tidak akan dimasukkan dalam portofolio optimal. Untuk menentukan suatu asset
dimasukkan atau tidak dalam portofolio, diperlukan titik pembatas (cut-off point) yang
menentukan batas nilai ERB yang dikatakan tinggi dan yang dikatakan rendah.

1. Urutkan saham-saham berdasarkan nilai ERB terbesar ke terkecil.

2. Hitung nilai Ai dan Bi untuk masing-masing saham ke-i dengan rumus berikut.

[ ( ) ]

23

Besarnya cut-off point (C*) adalah nilai Ci dimana nilai ERB terakhir kali masih lebih besar
dari Ci. Sekuritas-sekuritas yang membentuk portofolio optimal adalah sekuritas-sekuritas
yang mempunyai nilai ERB lebih besar atau sama dengan nilai ERB di titik C*.Sekuritas
yang memiliki ERB lebih kecil dibanding nilai ERB di titik C* tidak diikutsertakan dalam
pembentukan portofolio optimal.

Berdasarkan perhitungan Microsoft Excel, didapatkan :

 SAHAM TELKOM INDONESIA


A1 = 0,104071696
B1 = 0,487003771
C1 = 0,000555556
 SAHAM GUDANG GARAM
A2 = 0,524957256
B2 = 7,19882163
C2 = 0,001155124

( )

( )

Sehingga karena ( ) ( ) lebih besar dari nilai masing-masing C-nya (C1 dan
C2) maka didapatkan :

C1 * = 0,000555556
C2 * = 0,001155124

i) Tentukan proporsi dana masing-masing saham terpilih

Jika saham-saham pembentuk portofolio optimal telah tersusun, tentukan proporsi dana
masing-masing saham yang terpilih sebagai pembentuk portofolio optimal. Besarnya proporsi
dana masing-masing saham dihitung dengan rumus berikut.

( )

Didapatkan hasil :

 ,
 ,

24
j) Hitung alpha dan beta portofolio

Single Index Model bertujuan untuk mereduksi jumlah variabel yang harus ditaksir. Model
ini mampu mempengaruhi variabel yang harus ditaksir karena memiliki karakteristik
tersendiri, yaitu beta portofolio, sebagai rata-rata dari beta masing-masing saham pembentuk
portofolio optimal. Beta portofolio dihitung dengan rumus berikut.

Maka nilai adalah :

Alpha merupakan rata-rata dari alpha masing-masing saham pembentuk portofolio optimal.

Didapatkan nilai alpha adalah dan nilai beta adalah

k) Tentukan expected return dan risiko portofolio

Perhitungan tingkat pengembalian yang diharapkan (expected return) dari suatu portofolio
dilakukan dengan rumus berikut ini.

( ) ( )

( ) ( )

( )

( )

( )

Jadi didapatkan tingkat pengembalian yang diharapkan sebesar 0,00713262

25
Jika nilai expected return telah diketahui, kemudian hitunglah risiko portofolio atau disebut
pula varian portofolio dengan menggunakan rumus berikut.

[∑ ]

Jika asumsi yang berlaku adalah besarnya proporsi dana untuk setiap saham dalam portofolio
adalah sama, maka risiko tidak sistematis dalam portofolio saham akan semakin kecil dan
mendekati nol jika investor menambah jumlah saham dalam portofolio tersebut. Dengan
asumsi ini, risiko portofolio merupakan risiko yang hanya dipengaruhi oleh pasar, atau
berkaitan dengan beta dan varian market return. Risiko portofolio merupakan kuadrat dari
beta portofolio dan nilai varian market return seperti dalam rumus:

Didapatkan besar resiko portofolio adalah 0,0002471572

RANGKUMAN

Jadi rangkumannya adalah, dari 10 saham kita mendapatkan 2 saham yang layak untuk dicari
bobotnya untuk dibuat sebagai portofolio yang dapat dipilih oleh investor, saham yang akan
dipilih yaitu :

 SAHAM TELKOM INDONESIA


 SAHAM GUDANG GARAM

Dengan bobot sahamnya adalah :



Dengan tingkat pengembalian yang diharapkan sebesar 0,00713262 dan resiko portofolio
adalah 0,0002471572

26
BAB V

KESIMPULAN

Maka pada bab ini kita dapat membuat rangkuman dan kesimpulan yaitu :

Single Index Model dikembangkan oleh William Sharpe pada tahun 1963, dengan melakukan
penyederhanaan perhitungan model Markowitz dan menyediakan parameter input untuk
perhitungan Markowitz. Pembentukan portofolio dengan menggunakan Single Index Model
dapat dilakukan dengan menyeleksi saham-saham yang akan dimasukkan ke dalam portofolio
optimal, yaitu dengan membandingkan excess return to beta (ERB) dengan cut off point
sebagai batasannya. ERB merupakan rasio antara excess return (selisih antara expected
returns dengan return aktiva bebas risiko) dengan beta. Tidak semua saham signifikan untuk
dihitung bobotnya menggunakan metode indeks tunggal ini, terdapat beberapa kriteria yang
harus dipenuhi semisal ekspektasi pengembalian dari masing-masing saham harus lebih besar
daripada nol, lalu juga mempertimbangkan dari segi IHSG dan tingkat suku bunga Bank
Indonesia, dll.

Pertama-tama saya memilih 10 saham yang akan diujicobakan menggunakan metode indeks
tunggal, yang bertujuan untuk membentuk portofolio dengan saham-saham yang signifikan
sesuai dengan kriteria dari metode Single Index Model, ternyata setelah diseleksi didapatkan
2 saham yang signifikan dapat dihitung bobotnya menggunakan metode single index model
yaitu saham dari perusahaan Telkom Indonesia dan saham dari Gudang Garam. Didapatkan
hasil bahwa bobot masing-masing adalah :


Lalu, berdasarkan perhitungan didapatkan hasil bahwa portofolio dengan 2 saham ini
memiliki tingkat pengembalian yang diharapkan sebesar 0,00713262 dan resiko portofolio
adalah 0,0002471572.

27
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/5682875/Makalah_fix

http://artikel.staff.uns.ac.id/2009/01/05/pembentukan-portofolio-saham-yang-optimal-
dengan-menggunakan-beberapa-model-analisis/

http://e-journal.uajy.ac.id/4776/2/1MM01746.pdf

http://nila.lecture.ub.ac.id/files/2015/03/12nd_Single-Index-Model.pdf

http://administrasibisnis.studentjournal.ub.ac.id/

28