Você está na página 1de 7

IBM EFFERVESCENT JAHE DAN KUNYIT SEBAGAI INOVASI PRODUK

LOKAL BERBASIS POSDAYA KOTA MALANG

Ernanin Dyah Wijayanti1, Nur Candra Eka Setiawan2, Rizal Pratama Nugroho3,
Anggraeni In Oktavia4
1, 2, 3, 4
Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang, Malang
Alamat Korespondensi : Jl. Barito 5 Malang, Telp. (0341) 491132 Fax. (0341) 485411
E-mail: 1)nanin.wijayanti@gmail.com, 2)nur.candra.akfarpim@gmail.com, 3)rizal.prn@gmail.com,
4)
anggraeni_oktavia@yahoo.com

Abstrak

Sejalan dengan penyelenggaraan program Posdaya melalui kerjasama antara Akademi Farmasi Putra
Indonesia Malang dengan Pemerintah Kota Malang, maka kelompok Posdaya yang menjadi binaan
telah memulai usaha. Kelompok Posdaya binaan antara lain Posdaya Harapan Kita (Kelurahan
Balearjosari) dan Posdaya Bina Mandiri (Kelurahan Sukun). Kelompok Posdaya tersebut telah
memulai menjalankan usaha di bidang makanan-minuman kesehatan namun terkendala dalam
beberapa hal, antara lain inovasi produk, pengemasan, masa simpan produk, perijinan, pemasaran
dan modal. Oleh karena itu pada program ini dilaksanakan serangkaian kegiatan yang bertujuan
untuk memberikan solusi bagi kelompok Posdaya, meliputi pembinaan dalam pembuatan produk
lokal inovatif yaitu effervescent jahe dan kunyit, mulai dari proses produksi, penjaminan kualitas
produk yang meliputi pengemasan, pengujian expiration date dan perijinan hingga proses pemasaran.
Pelaksanaan program menggunakan metode pelatihan dan pendampingan hingga kelompok Posdaya
dapat menjalankan usaha secara mandiri. Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan dapat diketahui
bahwa masyarakat mitra IbM memberikan respon yang baik terhadap program IbM, salah satunya
ditunjukkan dengan kehadiran pada setiap kegiatan. Mitra IbM juga mampu membuat produk
effervescent berbahan dasar jahe dan kunyit sehingga terdapat peluang bagi masyarakat untuk
mengembangkan program hingga pada tahap produksi dan pemasaran produk setelah memperoleh
hasil uji expiration date dan perijinan. Namun pendampingan lebih lanjut terutama dalam hal
pemasaran masih perlu dilakukan untuk menstimulasi semangat dan motivasi masyarakat dalam
berwirausaha.

Kata kunci: effervescent, IbM, jahe, kunyit, Posdaya.

1. PENDAHULUAN

Kota Malang adalah salah satu kota di Provinsi Jawa Timur, yang berada di dataran tinggi
yang cukup sejuk. Kota Malang merupakan kota terbesar ke dua di Jawa Timur, setelah Kota
Surabaya [1]. Kota Malang dikenal dengan kota pelajar yang memiliki atmosfer yang menarik
sehingga banyak pendatang dari luar kota yang tinggal untuk belajar, bahkan pada ahirnya menetap
di Kota Malang. Hal ini menyebabkan jumlah populasi penduduk Kota Malang semakin meningkat
dari tahun ke tahun.
Kepadatan penduduk yang meningkat menjadi salah satu penyebab permasalahan yang terjadi
di Kota Malang, seperti kemacetan, suhu udara yang mulai panas, sampah serta munculnya masalah
kemiskinan di perkotaan. Survey yang dilakukan oleh Dinas Sosial dan Catatan Kependudukan Kota
Malang menunjukkan bahwa angka kemiskinan di Kota Malang masih tinggi, dari total jumlah
penduduk 845.638 jiwa, 300 ribu diantaranya masih tercatat sebagai warga miskin [2]. Pada tahun
2015, angka kemiskinan masih mencapai 4,6%, sehingga diupayakan turun menjadi 3,8% pada tahun
2019 [3]. Kemiskinan identik dengan daerah kumuh, penangguran, keterbelakangan dan
ketidakberdayaan sehingga merupakan masalah penting yang menjadi prioritas utama dalam
pembangunan nasional.
Pemkot Malang menyatakan akan berupaya semaksimal mungkin untuk menekan angka
kemiskinan di Kota Malang, salah satunya dengan memberikan bantuan dana hibah dan pemberian

502 SENASPRO 2017 | Seminar Nasional dan Gelar Produk


pelatihan kepada UMKM sehingga akan turut meningkatkan roda perekomonian [4]. Selain itu,
upaya lain juga telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Malang untuk menurunkan angka kemiskinan
yaitu melalui Program Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga). Posdaya adalah forum silaturohmi,
komunikasi, advokasi dan wadah kegiatan penguatan fungsi-fungsi keluarga secara terpadu. Dalam
hal-hal tertentu bisa juga menjadi wadah pelayanan keluarga secara terpadu, yaitu pelayanan
pengembangan keluarga secara berkelanjutan, dalam berbagai bidang, utamanya kesehatan,
pendidikan dan wirausaha, agar keluarga bisa tumbuh mandiri di desanya [5]. Program Posdaya
diselenggarakan dengan menjalin kerja sama antara Pemerintah Kota Malang, Yayasan Damandiri
dan Perguruan Tinggi se Malang Raya, salah satunya yaitu Akademi Farmasi Putra Indonesia
Malang. Kerja sama ini telah dimulai pada tahun 2014 degan fokus wilayah pada Kelurahan
Balearjosari Kecamatan Blimbing. Pada perkembangan selanjutnya, ada penambahan fokus wilayah
binaan yaitu Kecamatan Sukun, yang merupakan wilayah dengan sebaran warga miskin terbanyak.
Diantara 300 ribu penduduk miskin di Kota Malang, sebagian besar berada di wilayah Kecamatan
Sukun [6].
Pada kedua wilayah binaan tersebut, dibentuk kelompok-kelompok Posdaya untuk
mempermudah dalam proses pendampingan dan pembinaan. Warga yang dipilih adalah yang tidak
bekerja atau menjadi ibu rumah tangga, tergolong dalam kelompok ekonomi menengah ke bawah
dan memiliki komitmen untuk menjadi wirausaha.
Kelompok Posdaya yang telah terbentuk selanjutnya dibekali dengan pelatihan pembuatan
produk kesehatan dengan memanfaatkan bahan alam yang cukup melimpah di wilayah tempat
tinggalnya, antara lain jahe dan kunyit. Setelah memperoleh pelatihan, terdapat kelompok ibu PKK
di Kelurahan Balearjosari yang menindaklanjuti dengan membuka usaha menjual minuman
kesehatan dalam bentuk serbuk instan, antara lain jahe instan dan kunyit instan, sedangkan di
Kelurahan Sukun berupa manisan jahe. Dari segi kualitas produk, dapat dikatakan bahwa baik serbuk
instan maupun manisan tergolong baik, layak untuk dijual dan berpotensi untuk dikembangkan
menjadi produk lokal unggulan. Namun kedua kelompok tersebut belum dapat melakukan produksi
secara rutin dalam jumlah yang banyak. Pembuatan serbuk instan dan manisan jahe masih terbatas
dan sebagian besar dilakukan apabila ada pesanan. Selain itu, juga terdapat beberapa permasalahan
yang dihadapi oleh kelompok Posdaya antara lain dalam hal inovesi produk, pengemasan, masa
simpan produk, perijinan, pemasaran dan modal.
Sebuah produksi membutuhkan kontinyuitas sehingga dapat berkembang dan dikenal oleh
masyarakat luas. Untuk dapat mencapai hal tersebut, maka perencanaan produksi yang matang sangat
penting untuk dilakukan. Inovasi pun juga harus selalu dilakukan untuk dapat memberikan pilihan
dan kesesuaian dengan minat masyarakat. Selain itu, inovasi memang penting dilakukan mengingat
produk yang dibuat sudah banyak dijual di pasaran dengan berbagai merk dagang yang sudah dikenal
oleh masyarakat. Oleh karena itu perlu adanya pengembangan bentuk produk meskipun dengan
bahan baku yang sama. Salah satu produk yang banyak diminati masyarakat adalah effervescent.
Effervescent adalah sediaan yang harus dilarutkan ke dalam air terlebih dahulu sebelum dikonsumsi,
pada umumnya mengandung bahan aktif, campuran asam/garam asam, serta karbonat dan hydrogen
karbonat yang akan melepaskan karbondioksida ketika dilarutkan dalam air [7].
Dengan mempertimbangkan kesamaan bahan baku antara kelompok Posdaya Balearjosari dan
Sukun, yaitu jahe, serta tersedianya bahan baku lain yaitu kunyit yang cukup melimpah, maka
keduanya memiliki peluang untuk berinovasi dari segi bentuk produk menjadi effervescent jahe dan
kunyit, yang sejauh ini belum ada di pasaran. Sediaan effervescent memiliki kelebihan antara lain
mudah dalam mengembangkan formulasi rasa, aman bagi lambung dan keuntungan aspek
pemasaran. Selain itu sediaan tersebut lebih mudah mengalir dan lebih stabil [8]. Oleh karena itu
bentuk sediaan ini berpeluang untuk dikembangkan.
Kedua kelompok Posdaya yang menjadi sasaran program IbM berpotensi untuk dibina
menjadi wirausaha mandiri dan dapat meningkatkan perekonomian keluarga. Hal ini tentunya
mendukung program pemerintah Kota Malang dalam usaha mengentaskan kemiskinan dan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

2. METODE

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2017 503


1. Rancangan Kegiatan
Kegiatan ini ditujukan untuk kelompok Posdaya yang telah menjadi binaan Akademi Farmasi
Putra Indonesia Malang sehingga mudah untuk mengakses masyarakat yang menjadi sasaran
program, antara lain Posdaya Harapan Kita (Kelurahan Balearjosari) dan Posdaya Bina Mandiri
(Kelurahan Sukun). Dalam pelaksanaan program, akan melibatkan berbagai pihak terkait antara lain
dosen pelaksana, masyarakat/Mitra (kelompok Posdaya), mahasiswa, LPPM, pemerintah setempat
(RT/RW/Kelurahan) serta Dinas Kesehatan. Dengan kerja sama yang baik antara pihak-pihak terkait
dalam program ini, maka diharapkan program IbM yang diusulkan dapat terlaksana dengan lancar,
berhasil baik dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat sasaran.
Program IbM ditujukan untuk membekali masyarakat yang berkomitmen untuk menjadi
wirausaha dengan ilmu pengetahuan dan teknologi terkait dengan bidang usaha yang mulai
dijalankan. Selain pembekalan, masyarakat sasaran juga didampingi dalam menjalankan usahanya
hingga menjadi wirausaha mandiri.

2. Pelaksanaan Kegiatan
a. Survey
Tahap awal untuk memulai program adalah dengan melakukan survey pada kedua lokasi mitra
IbM, dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan situasi kelompok masyarakat yang menjadi
sasaran dan melakukan koordinasi awal dengan kelompok tersebut. Selain survey pada mitra, juga
dilakukan survey untuk persiapan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk melaksanakan program
IbM.

b. Sosialisasi
Sosialisasi bertujuan untuk menjelaskan dan memberikan gambaran lengkap tentang program
IbM yang akan dilaksanakan pada kedua lokasi mitra, serta melakukan kesepakatan jadwal
pelaksanaan program.

c. Pelatihan dan Pendampingan


Kegiatan pelatihan dilakukan dengan metode ceramah dan tanya jawab, disertai dengan
praktek atau simulasi untuk kegiatan pelatihan. Pelatihan yang diberikan meliputi pengenalan tentang
simplisia dari bahan rimpang, cara pembuatan simplisia, cara pembuatan serbuk instan dan
pembuatan effervescent. Materi pelatihan tersebut disajikan dalam bentuk modul dan slide power
point.
Setelah memperoleh pelatihan, dilakukan pendampingan pada masing-masing kelompok
untuk penjaminan kualitas produk yang meliputi pengemasan, pengujian expiration date, perijinan
hingga pemasaran produk. Kemasan yang menarik dan sesuai standar, adanya tanggal kadaluarsa
serta adanya nomor PIRT akan lebih menarik minat konsumen sehingga dapat meningkatkan daya
jual produk. Pada tahap pendampingan, masing-masing kelompok mengaplikasikan ilmu yang
diperoleh selama pelatihan dan penyuluhan.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan IbM telah dilaksanakan mulai bulan Mei hingga September 2017, dengan lokasi
pelaksanaan di Kelurahan Balearjosari, Kecamatan Blimbing dan Kelurahan Sukun, Kecamatan
Sukun Kota Malang. Jumlah peserta yang berpartisipasi dalam program ini cukup banyak, antara lain
21 orang dari Posdaya Harapan Kita dan 23 orang dari Posdaya Bina Mandiri. Tahapan kegiatan
yang meliputi survey, sosialisasi dan pelatihan telah dilaksanakan pada kedua wilayah. Survey
dilakukan dengan menemui Ketua Posdaya pada masing-masing kelurahan dan menyampaikan
tentang pelaksanaan program IbM yang telah disepakati pada tahun sebelumnya dan meninjau
perkembangan situasi dan kondisi kedua kelompok Posdaya yang menjadi binaan.
Tindak lanjut dari kegiatan survey yaitu sosialisasi yang dilakukan pada seluruh anggota
Posdaya. Dalam sosialisasi IbM disampaikan maksud dan tujuan dari program IbM, agenda
pelaksanaan kegiatan IbM serta tim pengabdi yang terlibat. Pada sesi tanya jawab terdapat beberapa

504 SENASPRO 2017 | Seminar Nasional dan Gelar Produk


pertanyaan yang diajukan oleh warga terkait dengan kegiatan dan produk yang dihasilkan hingga
pembahasan mengenai target waktu. Pada akhir sesi sosialisasi, tim pengabdi meminta dukungan
dari semua peserta untuk keberhasilan program IbM dengan cara berkomitmen untuk mengikuti
program IbM supaya target program ini dapat tercapai.

3.1 Pelatihan
Bahan utama yang digunakan dalam pelatihan ini adalah rimpang jahe emprit dan kunyit,
sesuai dengan bahan yang telah digunakan oleh kelompok Posdaya untuk membuat produk olahan.
Kedua bahan tersebut juga mudah diperoleh dan umum digunakan oleh masyarakat sebagai bumbu
masakan.
Terdapat tiga kultivar (varietas) jahe berdasarkan ukuran dan warna kulit rimpangnya, yaitu
jahe gajah (badak), jahe emprit (biasa) dan jahe merah (berem). Jahe gajah ukurannya besar, berkulit
putih atau kuning dan rasanya tidak terlalu pedas dapat diolah sebagai manisan dan asinan. Jahe
emprit yang ukurannya lebih kecil, berkulit putih atau kuning dan sangat pedas sering digunakan
untuk bumbu masakan dan obat. Jahe merah yang ukurannya sedang dan berkulit merah umumnya
digunakan untuk obat [9]. Jahe emprit (Zingiber officinale var. Rubrum) memiliki serat lembut,
beraroma tajam dan berasa pedas meskipun ukuran rimpang kecil. Rimpang jahe emprit juga
mengandung gizi cukup tinggi, antara lain 58% pati, 8% protein, 3-5% oleoresin dan 1-3% minyak
atsiri [10].
Kunyit merupakan salah satu jenis tanaman temu-temuan yang termasuk dalam familia
Zingiberaceae. Rimpang induk berbentuk bulat panjang dengan cabang seperti jari. Rimpang induk
memiliki rasa agak pahit, getir, kaya akan pigmen dan resin, sedangkan anak rimpang memiliki rasa
agak manis dan berbau aromatis. Senyawa utama pada rimpang kunyit adalah kurkuminoid (3-5%)
dan minyak atsiri (2,5-6%). Kunyit berkhasiat sebagai antioksidan, antitumor, antikanker,
antimikroba, antipikun dan antiracun [11].
Rimpang jahe dan kunyit yang sebelumnya diolah menjadi serbuk instan dikembangkan
menjadi bentuk produk serbuk effervescent melalui beberapa kegiatan pelatihan. Dalam kegiatan
pelatihan tahap pertama, anggota Posdaya diperkenalkan dengan simplisia dari bahan rimpang dan
serbuk instan. Penjelasan tentang pembuatan simplisia dimulai dari waktu pemanenan yang tepat,
cara melakukan sortasi dan menentukan kualitas rimpang yang baik, cara mencuci rimpang yang
benar, cara memotong rimpang dan ukuran yang tepat untuk proses pengeringan. Sedangkan
penjelasan tentang serbuk instan meliputi alat dan bahan yang dibutuhkan serta cara pembuatan.
Bahan rimpang sebaiknya dipilih yang cukup umur panennya, dibersihkan dari tanah, daun
dan akar dan kulitnya tidak dikupas. Rimpang dicuci dengan air mengalir untuk membersihkan dari
sisa tanah yang masih menempel kemudian dibilas pada nak air, ditiriskan dan dihindari kontaminasi
langsung dengan tanah atau lantai [12].
Pelatihan tahap dua yaitu pembuatan serbuk effervescent. Kegiatan pelatihan diawali dengan
metode ceramah dan tanya jawab tentang serbuk effervescent, jahe dan kunyit. Serbuk effervescent
dibuat dengan campuran bahan jahe/kunyit, gula, asam sitrat dan natrium bikarbonat.
Kelebihan produk effervescent adalah dapat menghasilkan larutan dengan cepat dan lebih
cepat diserap. Effervescent pada umumnya dibuat dengan bahan aktif yang dicampur sodium
bikarbonat dan asam organik seperti asam sitrat dan asam tartarat. Asam sitrat paling sering
digunakan sebagai sumber asam, sedangkan natrium bikarbonat digunakan sebagai sumber alkali
[13].
Pada kegiatan pelatihan, peserta selanjutnya dibagi dalam 4 kelompok sehingga masing-
masing peserta dapat melakukan praktek secara bergantian untuk membuat serbuk effervescent.
Peserta tampak sangat antusias ketika melaksanakan praktek, terlebih ketika sudah berhasil membuat
produk effervescent dan mencoba produk hasil buatan sendiri. Terdapat banyak pertanyaan yang
muncul ketika proses pelatihan, dan para peserta tampak puas dengan jawaban yang diberikan oleh
tim pengabdi.
Berikut adalah dokumentasi pelaksanaan kegiatan:

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2017 505


Gambar 1. Dokumentasi Kegiatan Pelatihan

3.2 Pengemasan
Serbuk effervescent jahe dan kunyit dikemas untuk penyajian 1 kali minum dengan takaran
25 gram ditambah dengan air dingin sebanyak 150-200 mL. Kemasan berupa sachet aluminium foil
berukuran 8x12 cm, dengan label merk Ginjozz, seperti pada gambar berikut.

A B
Gambar 2. A. Desain Label Produk, B. Kemasan Produk

3.3 Pengujian Expiration Date dan Perijinan


Pengujian expiration date dilakukan untuk menentukan masa simpan produk. Expiration
date (ED) atau tanggal kadaluarsa adalah tanggal yang ditetapkan berdasarkan waktu kadaluarsa
yang dihitung sejak produk dibuat [14]. Expiration Date menggambarkan batas waktu penggunaan
produk setelah diproduksi sebelum kemasannya dibuka, yang ditetapkan berdasarkan hasil uji
stabilitas produk [15].
Produk serbuk effervescent yang dibuat pada saat pelatihan digunakan sebagai sampel untuk
pengujian expiration date. Pengujian dilakukan melalui kerjasama dengan UPT Laboratorium Putra
Indonesia Malang. Hasil pengujian menunjukkan bahwa produk serbuk effervescent jahe dapat
bertahan apabila disimpan selama 100 hari pada suhu 8°C, 77 hari pada suhu 25°C dan 37 hari pada
suhu 40°C. Sedangkan produk serbuk effervescent kunyit dapat bertahan apabila disimpan selama
166 hari pada suhu 8°C, 90 hari pada suhu 25°C dan 55 pada suhu 40°C.
Produk serbuk effervescent juga didaftarkan pada Dinas Kesehatan Kota Malang untuk
memperoleh ijin PIRT. Hal yang perlu diperhatikan ketika mengurus perijinan adalah persentase
penggunaan bahan tambahan dalam pembuatan serbuk effervescent supaya tidak melebihi batas

506 SENASPRO 2017 | Seminar Nasional dan Gelar Produk


maksimal. Tahapan perijinan meliputi pengisian formulir, penyuluhan keamanan pangan dari Dinas
Kesehatan dan pendaftaran nomor PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga). Nomor PIRT merupakan
ijin resmi sebagai jaminan bahwa usaha indutri rumah tangga yang diedarkan/dipasarkan telah
memenuhi standar keamanan produk. Pada umumnya, nomor PIRT akan diterbitkan 2 minggu
setelah pelaksanaan penyuluhan dari Dinas Kesehatan.

4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan IbM dapat disimpulkan bahwa:
1. Masyarakat mitra IbM memberikan respon yang baik terhadap program IbM, salah satunya
ditunjukkan dengan kehadiran pada setiap kegiatan.
2. Masyarakat mitra IbM mampu membuat produk effervescent berbahan dasar jahe dan kunyit.
3. Terdapat peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan program hingga pada tahap produksi
dan pemasaran produk setelah memperoleh perijinan dan hasil uji masa simpan.
4. Pendampingan lebih lanjut terutama dalam hal pemasaran masih perlu dilakukan untuk
menstimulasi semangat dan motivasi masyarakat dalam berwirausaha.

5. UCAPAN TERIMA KASIH


Ucapan terima kasih disampaikan kepada Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat-
Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan-Kementerian Riset, Teknologi dan
Pendidikan Tinggi Republik Indonesia yang telah mendanai pelaksanaan kegiatan pengabdian
kepada masyarakat ini melalui Program Hibah IPTEK Bagi Masyarakat (IbM).

DAFTAR PUSTAKA

[1] Wikipedia. 2015. Kota Malang. [Online]. From: http://en.wikipedia.org. [Acessed on 1 June
2016].
[2] Halo Malang. 2014. Berita: Angka Kemiskinan Kota Malang Maasih Tinggi. [Online]. From:
http://www.halomalang.com. [Acessed on 1 June 2016].
[3] Malang Pagi. 2015. Berita: Pemkot Malang Masih Andalkan CSR dan Bantuan Pusat Entaskan
Kemiskinan. [Online]. From: http://www.malangpagi.com. [Acessed on 1 June 2016].
[4] Pemkot Malang. 2015. Berita: Pemkot Malang Terus Berupaya Tekan Angka Kemiskinan.
[Online]. From: http://www.malangkota.go.id. [Acessed on 1 June 2016].
[5] Yayasan Damandiri. 2010. Buku Posdaya. [Online]. From: http://www.damandiri.or.id.
[Acessed on 7 June 2016].
[6] Antara Jatim. 2014. Berita: Angka Kemiskinan Kota Malang Capai 4,8 Persen. [Online].
From: http://www.antarajatim.com. [Acessed on 1 June 2016].
[7] Palanisamy P., R. Abishekh, D. Y. Kumar. 2011. Formulation and Evaluation of Effervescent
Tablets of Aceclofenac. International Research Journal of Pharmacy. 2 (12): 185-190.
[8] Bhattacharyya, S. and Swetha G. 2014. Formulation and Evaluation of Effervescent Granules
of Fexofenadine Hydrochloride. The Pharma Innovation-Journal ISSN: 2277-7695. 3 (3): 1-
8.
[9] Setyawan, Ahmad D. 2002. Keragaman Varietas Jahe (Zingiber officinale Rosc.) berdasarkan
Kandungan Kimia Minyak Atsiri. Biosmart. 4 (2): 48-54.
[10] Sari, Hefika C., Sri Darmanti, Endah D. Hastuti. 2006. Pertumbuhan Tanaman Jahe Emprit
(Zingiber officinale var. Rubrum) pada Media Tanam Pasir dengan Salinitas yang Berbeda.
Buletin Anatomi dan Fisiologi. XIV (2): 19-29.
[11] Hartati, Sri Yuli. 2013. Khasiat Kunyit Sebagai Obat Tradisional dan Manfaat Lainnya. Warta
Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. 19 (2): 5-9.
[12] Fahma, F., W.A. Jauhari, P.N. Kusumawardhani. 2012. Perancangan Standart Operating
Procedures (SOP) Pengolahan Pasca Panen Rimpang Tanaman Obat dan Identifikasi Good
Manufacturing Practices (GMP) di Klaster Niofarmaka Karanganyar. Prosiding Seminar
Nasional Sains dan Teknologi Ke-3 Tahun 2012. Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim
Semarang. ISBN 978-602-99334-1-3

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2017 507


[13] Aslani, A., F. Fattahi. 2013. Formulation, Characterization and Physicochemical Evaluation
of Potassium Citrate Effervescent Tablets. Advanced Pharmaceutical Bulletin. 3 (1): 217-225.
[14] Herawati, Fauna. 2012. Beyond Use Date Produk Steril. Buletin Rasional. 10 (3): 22-24.
[15] Christina, Feby. 2012. Beyond Use date Produk Nonsteril. Buletin Rasional. 10 (3): 19-21.

508 SENASPRO 2017 | Seminar Nasional dan Gelar Produk