Você está na página 1de 50

1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
1. HIV/AIDS
a. Definisi
AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immune Deficiency
Syndrome, yaitu menur unya kekebalan tubuh terhadap penyakit
karena infeksi virus HIV (Human Immunodeviciency Virus) (Djoerban
& Djazuli, 2006). Dari keterangan tersebut jelas bahwa sebelum
seseorang menderita AIDS dalam tubuhnya, terlebih dahulu terjadi
kerusakan sistem kekebalan tubuh. Akibat kerusakan kekebalan tubuh
tersebut tubuh penderita menjadi peka terhadap infeksi kuman yang
dalam keadaan normal sebenarnya tidak berbahaya. Infeksi kuman
bentuk ini disebut infeksi oportunistik. Infeksi oportunistik adalah
infeksi yang timbul karena mikroba yang berasal dari luar tubuh
maupun dalm tubuh manusia, namun dalam keadaan normal terkendali
oleh kekebalan tubuh (Yunihastuti, 2005)
b. Penyebab
AIDS disebabkan oleh virus yang mempunyai beberapa
nama, yaitu HTL II, LAV, RAV, yang nama ilmiahnya disebut dengan
Human Immunodeficency Virus (HIV), yang berupa agen viral
yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh darah dan punya
afinitas yang kuat terhadap limfosit T (Depkes, 2009). Penyebab
kelainan imun pada AIDS adalah suatu agen antiviral yang disebut
HIV dari kelompok Retrovirus Ribonucleic Acid (RNA).
Retrovirus mempunyai afinitas yang kuat terhadap limfosit T
(Hudak & Gallo, 2010). Disebut retrovirus RNA karena virus
tersebut menggunkan RNA sebagai molekul pembawaan informasi
genetik dan memiliki Enzim Reverse Transciptase. Enzim ini
memungkinkan virus mengubah informasi genetiknya yang berada
dalam RNA ke dalam bentuk Deoxy Nucleic Acid (DNA) yang
2

kemudian diintegrasikan pada informasi genetik sel limfosit yang


diserang. Dengan demikian HIV dapat memanfaatkan mekanisme
sel limfosit untuk menduplikasi dirinya menjadi virus baru yang
memiliki ciri HIV (Widoyono, 2011).
Menurut Bratawijaya & Rengganis (2010), tipe HIV ada 2,
yaitu Tipe 1 (HIV-1), penyebab utama AIDS yang merupakan bentuk
virus yang paling virulen, prevalensinya lebih banyak dan bermutasi
lebih cepat. Tipe 2 (HIV-2), menyebabkan penyakit yang serupa
dengan HIV-1. Patogenesisnya lebih rendah dibandingkan dengan
HIV-1 (Mandal at. al, 2008).
Keduanya merupakan virus yang menginfeksi sel CD4+T yang
memiliki reseptor dengan afinitas tinggi untuk HIV. Setelah infeksi
oleh HIV, terjadi penurunan sel CD4 secara bertahap yang
menyebabkan peningkatan gangguan imunitas yang diperantarai
sel dengan akibat kerentanan terhadap berbagai infeksi
opertunistik (Bratawijaya & Rengganis, 2010).
c. Tanda dan gejala
Menurut Nursalam (2006), tanda dan gejala penderita yang
terinfeksi HIV/AIDS biasanya penderita mengalami berat badanya
menurun lebih dari 10% dalam waktu singkat, demam tinggi
berkepanjangan (lebih dari satu bulan), diare berkepanjangan (lebih
dari satu bulan), batuk perkepanjangan (lebih dari satu bulan),
kelainan kulit dan iritasi (gatal), infeksi jamur pada mulut dan
kerongkongan, serta pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh
tubuh, seperti di bawah telinga, leher, ketiak dan lipatan paha.
Menurut WHO dan CDC (2002, dalam Widoyono, 2011),
manifestasi klinis HIV/AIDS pada penderita dewasa berdasarkan
stadium klinis yang disertai skala fungsional dan kalisifikasi klinis,
yaitu:
Stadium klinis I: pada skala I memperlihatkan kondisi
asimtomatis, dimana klien tetap melakukan aktivitas secara normal
maupun disertai adanya limfadenopati presistent generalisata.
3

Stadium klinis II: pada skala II memperlihatkan kondisi asimtomatis,


dimana klien tetap melakukan aktivitas normal tetapi disertai adanya
penurunan berat badan <10% dari berat badan sebelumnya,
manifestasi mukokotaneius minor (dermatitis seborhhoic, prurigo,
infeksi jamur pada kuku, ulserasi mukosa oral berulang, cheilitis
angularis), herpes zoster dalam 5 tahun terakhir, dan ISPA
berulang.
Stadium III: pada skala III memperlihatkan adanya kelemahan,
berbaring di tempat tidur <50% sehari dalam 1 bulan terakhir
disertai penurunan berat badan >10%, diare kronis dengan penyebab
tidak jelas >1 bulan, demam dengan penyebab yang tidak jelas
(intermitent atau tetap) >1 bulan, kandidiasis oral, oral hairy
leukoplakia, TB pulmoner dalam satu tahun terakhir, dan infeksi
bacterial berat (misal: pneumonia, piomiostitis).
Stadium klinis IV: pada skala IV memperlihatkan kondisi yang
sangat lemah, selalu berada ditempat tidur > 50% setiap hari dalam
bulan- bulan terakhir disertai HIV wasting syndrome (sesuai yang
ditetapkan CDC), peneumocystis carinii pneumonia (PCP),
encephalitis toksoplasmosis, diare karena cryptosporidiosis >1 bulan,
cryptococcosis ekstrapulmoner, infeksi virus sitomegalo, infeksi
herpes simpleks >1 bulan, berbagai infeksi jamur berat (histoplasma,
coccoidioidomycosis), kandidiasis esophagus, trachea atau bronkus,
mikobakteriosis atypical, salmonelosis non tifoid disertai eptikemia,
TB ekstrapulmoner, limfoma maligna, sarcoma Kaposi’s ensefalopati
HIV.
d. Komplikasi
Menurut Gunawan (2006), komplikasi dari penyakit HIV/AIDS
menyerang paling banyak pada bagian tubuh seperti:
1) Oral lesi
Lesi ini disebabkan karena jamur kandidia, herpes simpleks,
sarcoma kaposi, HPV oral, gingivitis, periodonitis HIV,
leukoplakia oral, penurunan berat badan, keletihan, dan cacat.
4

2) Neurologik
Pada neurologik, virus ini dapat menyebabkan kompleks dimensia
AIDS karena serangan langsung HIV pada sel saraf, berefek
perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik,
kelemahan, disfagia, dan isolasi sosial. Enselopaty akut karena
reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan
elektrolit, meningitis atau ensepalitis. Dengan efek seperti
sakit kepala, malaise demam, paralise, total/parsial, infrak
serebral kornea sifilis meningovaskuler, hipotensi sistemik,
dan maranik endokarditis.
3) Gastrointestinal
Pada gastrointestinal dapat menyebabkan beberapa hal seperti:
diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal,
limpoma, dan sarcoma kaposi. Dengan efek penurunan berat
badan, anoreksia, demam, malabsorbsi, dan dehidrasi. Hepatitis
karena bakteri dan virus, limpoma, sarcoma kaposi, obat illegal,
alkoholi. Dengan anoreksia, mual, muntah, nyeri abdomen, ikterik,
demam atritis. Penyakit anorektal karena abses dan fistula, ulkus
dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi dengan
efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan diare.
4) Respirasi
Infeksi karena pneumocitis, carinii, cytomegalovirus, virus
influenza, pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas
pendek, batuk, nyeri, hipoksia, keletihan, dan gagal nafas.
5) Dermatologic
Lesi kulit stafilokukus, virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis
karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekubitus
dengan efek nyeri, gatal, rasa terbakar, infeksi sekunder dan sepsis.
6) Sensorik
Pada bagian sensorik virus menyebabkan pandangan pada sarcoma
kaposis pada konjuntiva berefek kebutaan. Pendengaran pada otitis
5

eksternal dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek


nyeri.
e. Cara penularan
Cairan tubuh yang potensial menjadi media penularan HIV
adalah darah, cairan mani, cairan vagina, dan di dalam air susu ibu
(ASI). Pada umumnya resiko penularan HIV/AIDS terjadi melalui
hubungan seksual (homoseksualitas maupun heteroseksualitas).
Penularan biasanya dengan perantara transfusi darah/produk darah,
alat suntik atau alat medis lain (narkoba, tato), perinatal (ibu hamil
ke janin) (Nursalam, 2006).
Penyebaran virus HIV dapat melalui aktivitas yang melibatkan
kontak dengan cairan tubuh (Farnan & Enriquez, 2012). Secara lebih
terperinci, virus ini dapat ditularkan melalui cairan tubuh, semen,
vagina, air susu ibu, serebrospinal, sinoval, dan amnion (Ahluwalia,
2005).
f. Faktor resiko
Faktor risiko penularannya HIV/AIDS yang terjadi, yaitu :
1. Hubungan seksual secara heteroseksualitas maupu
homoseksualitas.
2. Penggunaan jarum suntik.
3. Parenatal dan perinatal dari ibu kepada anaknya (Guerrant el. al,
2011 & Volberding et. al, 2008).
g. Tindakan pencegahan
Menurut Widoyono (2005), tindakan pencegahan yang dilakukan
adalah menghindari hubungan seksual dengan penderita HIV
atau penderita AIDS, mencegah hubungan dengan pasangan yang
bergonta- ganti atau dengan orang yang mempunyai banyak pasangan,
menghindari hubungan seksual dengan pecandu narkotika obat suntik,
melarang orang- orang yang termasuk ke dalam kelompok beresiko
tinggi untuk melakukan donor darah, memberikan transfusi darah
hanya untuk pasien yang benar- benar memerlukan, dan memastikan
sterilitas alat suntik HIV dan AIDS adalah penyakit menular yang bisa
6

dicegah. HIV tidak menular melalui jabat tangan, berciuman,


menggunakan peralatan makan, kerja sama, berbagi ruangan, gigitan
nyamuk, dan kontak sosial biasa (KPAN, 2011).
h. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan klinis infeksi HIV/AIDS dikonsentrasikan pada
terapi umum dan terapi khusus serta pencegahan penularan yang
meliputi penderita dianjurkan untuk berisitirahat dan meminimalkan
tingkat kelelahan akibat infeksi kronis, dukungan nutrisi yang adekuat
berbasis makronutrien dan mikronutrien, konseling termasuk
pendekatan psikologis dan psikososial, motivasi dan pengawasan
dalam pemberian antiretroviral therapy (ARV), membiasakan gaya
hidup sehat antara lain dengan berolahraga yang ringan dan teratur,
mencegah hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti
atau orang yang mempunyai banyak pasangan.
i. Pemeriksaan diagnostic
Untuk membantu menegakkan diagnosa infeksi HIV/AIDS harus
berdasarkan pemeriksaan laboratorium dan pembagian gejala klinis
baik mayor maupun minor. Dinyatakan positif mengidap
HIV/AIDS apabila pemeriksaan tes HIV enzyme linked
immunosorbent assay (ELISA) dari metode yang berbeda
menunjukkan hasil reaktif dan telah dikonfirmasi dengan pemeriksaan
western bolt serta didapatkan dua gejala mayor dan satu gejala minor
(Nasronudin, 2007)
Diagnosa HIV pada umumnya baru dapat ditegakkan pada stadium lanjut dan
merupakan masalah yang paling sering di bidang klinik. Untuk mengubah hal ini
perlu ditingkatkan kepedulian terhadap infeksi HIV, perluasan fasilitas
diagnosis serta diterapkanya PITC (Provider Treatment and Conceling) (Djauzi,
2010).
7

Tabel 2.1 Gejala Mayor dan Minor Infeksi HIV/AIDS


No Gejala Karakteristik
1 Mayor  Berat badan menurun >10% dari bulan.
 Diare kronis yang berlangsung > 1 bulan.
 Demam lama berlangsung > 1 bulan
 Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis.
 Tuberkolosis.
 Ensefalopati HIV

2 Minor  Batuk menetap


 Dermatitis generalisata.
 Kandidiasis orofaringeal.
 Herpes zoster multisegmental berulang
 herpes simplek
 Limfadenopati generalisata

(Sumber: Modifikasi dari Nasrodin, 2007 dan Kurniawan & Nursalam, 2008)

Beberapa pemeriksaan laboratorium yang umum digunakan dalam menegakkan


infeksi HIV, yaitu:
a) ELISA
Merupakan pemeriksaan serologi standart/uji penapsian terhadap antibodi
HIV. Sensitivitasnya tinggi yaitu sebesar 98,1-100%. Biasanya tes ini
memberikan hasil positif 2-3 bulan setelah infeksi (Carroll, 2007)
b) Western Bolt
Merupakan tes konfirmasi uji pemastian terhadap komponen protein HIV.
Spesifitasnya tinggi yaitu sebesar 99,6-100%. Pemeriksaanya cukup sulit,
mahal, dan membutuhkan waktu sekitar 24 jam (Widoyono,2011).
c) PCR (Polymerase Chain Reaction)
Tes ini banyak digunakan pada bayi, karena ini dapat meminimalkan kerja
dari zat antimaternal yang dapat mengaburkan hasil pemeriksaan, seolah-
olah sudah ada infeksi pada bayi tersebut (Mandal at. al, 2008).
8

j. Peran perawat spesialis klinis HIV/AIDS


Program penanggulangan HIV/AIDS mempunyai tantangan yang cukup
besar sehubungan dengan angka prevalensi HIV/AIDS yang terus meningkat.
Peran tenaga kesehatan khususnya perawat spesialis dituntut untuk berperan
aktif dalam program tersebut melalui upaya pencegahan dan pengelolaan
pelayan keperawatan secara langsung. Dalam melakukan perananya, perawat
spesialis bertanggungjawab mengembangkan, melaksanakan, dan
mengevaluasi asuhan keperawatan HIV/AIDS yang komperehensif yang
sangat bermanfaat dalam program pengendalian lanjut infeksi HIV
(Kurniawati & Nursalam,2008).
2. Perilaku seksual
a. Pengertian
Perilaku seksual segala tingkah laku yang didorong oleh
hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis.
Dalam hal ini, perilaku seksual dapat diwujudkan dalam tingkah
laku yang bermacam- macam, mulai dari perasaan tertarik sampai
tingkah laku berkencan, bercumbu dan bersenggama (Sarwono,
2006)

b. Hal yang menyebabkan timbulnya perilaku seksual

Menurut Sarwono (2006), secara garis besar perilaku


seksual disebabkan oleh:

1) Meningkatnya libido seksual

Didalam upaya mengisi peran sosial, seseorang


mendapatkan motivasinya dari meningkatnya energi seksual
atau libido, energi seksual ini berkaitan erat dengan kematangan
fisik.
2) Penundaan usia perkawinan
9

Dengan meningkatnya taraf pendidikan masyarakat, dengan


makin banyak anak-anak perempuan yang bersekolah, makin
tertunda kebutuhan untuk mengawinkan anak-anak untuk
sekolah dulu sebelum mengawinkan mereka.
3) Tabu/ larangan

Sementara usia perkawinan ditunda, norma-norma agama


tetap berlaku dimana orang tidak boleh melaksanakan
hubungan seksual
10

sebelum menikah. Pada masyarakat modern bahkan larangan


tersebut berkembang lebih lanjut pada tingkah yang lain seperti
berciuman dan masturbasi.
4) Kurangya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi

Seseorang yang sudah mulai berkembang kematangan


seksual secara lengkap kurang mendapat pengarahan dari orang
tua mengenai kesehatan reproduksi khususnya tentang akibat-
akibat perilaku seksual pranikah maka mereka sulit
mengendalikan rangsangan-rangsangan dan banyak
kesempatan seksual pornografi melalui media massa yang
membuat mereka melakukan perilaku seksual secara bebas
tanpa mengetahui resiko-resiko yang dapat terjadi.
5) Pergaulan semakin bebas

Gejala ini banyak terjadi di kota-kota besar, banyak


kebebasan pergaulan antara jenis kelamin.

c. Bentuk-bentuk perilaku
seksual

Menurut Sarwono (2007) bentuk dari perilaku seksual


bermacam- macam dari perasaan tertarik, pacaran, kissing,
kemudian sampai intercourse

1) Kissing
11

Ciuman yang dilakukan untuk menimbulkan rangsangan


seksual seperti di bibir disertai dengan meraba pada bagian
sensitive yang dapat menimbulkan rangsangan seksual.
Berciuman dengan bibir
12

tertutup merupakan ciuman umum dilakukan. Berciuman


dengan mulut dan bibir terbuka, serta menggunakan lidah itulah
yang disebut french kiss. Kadang ciuman ini juga dinamakan
ciuman mendalam/ soul kiss.
2) Necking

Berciuman disekitar leher ke bawah. Necking merupakan


istilah yang digunakan untuk menggambarkan ciuman disekitat
leher dan pelukan yang lebih dalam.
3) Petting

Perilaku menggesek-gesekan bagian tubuh yang sensitif,


seperti payudara dan organ kelamin. Merupakan langkah
yang lebih mendalam dari necking. Ini termasuk merasakan
dan mengusap-usap tubuh pasangan termasuk lengan, dada,
bahu dada, kaki, dan kadang daerah kemaluan, baik di dalam
atau di luar pakaian.
4) Intercourse

Bersatunya dua organ seksualitas yang dilakukan oleh


pasangan pria dan wanita yang ditandai dengan pria ereksi
masuk ke dalam vagina untuk mendapatkan kepuasan
seksualnya.
d. Perilaku seksual beresiko
13

Perilaku seksual beresiko akan meningkatkan kemungkinan


seseorang terinfeksi HIV/AIDS. Faktor yang menentukan seseorang
berperilaku seksual beresiko antara lain jumlah pasangan seksual,
praktek seksual tertentu, pemilihan seseorang sebagai
pasangan seksual dan
14

penggunaan kondom. Variabel-variabel demografik merupakan


faktor yang telah lama dihubungkan dengan penularan HIV/AIDS.
Variabel demografik tersebut antara lain umur, jenis kelamin, status
perkawinan, etnis, migrasi, sosial ekonomi dan pendidikan.
Perilaku seksual beresiko dikelompokan menjadi tiga bagian
(Sonestein et. al, 1997) dalam Angreani, S (2005), yakni:

1) Kelompok tidak
beresiko

Kelompok tidak beresiko apabila tidak pernah


berhubungan seksual.
2) Kelompok beresiko
rendah

Apabila pernah berhubungan seksual dengan satu pasangan


saja, atau berhubungan seksual dengan banyak pasangan
namun selalu menggunakan kondom dengan baik dan benar.
3) Kelompok
beresiko tinggi

Apabila berhubungan seksual dengan lebih satu


pasangan tidak menetap atau komersial dan tidak
menggunakan kondom secara rutin.
15

Macam-macam perilaku seksual terdiri dari dua


macam, yaitu perilaku seksual beresiko dan perilaku seksual yang
aman (KPA, 2012).

1) Perilaku seksual beresiko

Kegiatan seksual beresiko tertular HIV antara lain :

a) Melakukan seks bersama orang yang sudah terinfeksi HIV


tanpa menggunakan kondom. Baik hubungan seks antara
pria dengan wanita, ataupun pria dengan pria.
b) Memiliki banyak pasangan seksual (bergonta-ganti
pasangan).

c) Hubungan seks anal yang merupakan kegiatan seks yang


paling beresiko menularkan HIV/AIDS pada penerima
penis, sedangkan pada kegiatan seks vaginal, perempuan
mempunyai resiko tertular yang lebih tinggi.
2. Perilaku seksual yang aman

Seks aman adalah istilah yang telah ada sejak tahun-


tahun awal epidemi HIV. Hal ini terdapat banyak hal yaitu :
a) Tidak melakukan hubungan seks.

b) Membatasi jumlah pasangan seksual, membatasi alkohol dan


penggunaan narkoba.
16

c) Menghindari pertukaran cairan tubuh, menggunakan alat


kontrasepsi (seperti kondom pria atau wanita).
d) Penggunaan obat HIV untuk mencegah penularan virus
bahkan seks yang lebih aman sering melibatkan kombinasi
dari pendekatan ini (AidsMeds, 2012).
17

e. Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual


beresiko terhadap HIV/AIDS

1) Umur

Menurut Green (1990) dalam Angreani, S (2005)


merupakan salah satu variabel demografik yang menjadi faktor
prediposisi terjadinya perilaku berhubungan dengan kesehatan
umur dan juga merupakan variabel penting dalam penelitian
sosial kesehatan. Sering dengan adanya perkembangan
HIV/AIDS, kelompok tertentu ditemukan lebih rentan memiliki
perilaku seksual beresiko terhadap HIV/AIDS. Hal ini salah
satunya berhubungan dengan variasi perilaku beresiko
berdasarkan umur. Kelompok umur remaja dikatakan
merupakan masa kritis dimana pemahaman terhadap penyakit
kesehatan masih belum cukup matang. Walaupun kelompok
remaja memiliki kemampuan kognitif untuk menentukan
perilaku yang sehat, pada prakteknya remaja sering terdorong
oleh kekuatan lain yang membuat mereka tidak berperilaku
secara sehat. Hal ini termasuk perilaku mencoba atau memulai
hubungan seksual. Berbeda dengan remaja, kelompok umur
dewasa kurang memiliki perilaku beresiko. Kelompok umur
dewasa melakukan perilaku yang sehat (Sarafino, 1994) dalam
Angreani, S (2005).

2) Pendidikan
18

Pendidikan berhubungan dengan kemampuan seseorang


untuk menerima dan merespon terhadap berbagai informasi.
Dimana tingkat
19

pendidikan yang setingkat SMA atau lebih mempunyai


kemampuan menyerap informasi yang bersifat mendidik yang
diberikan. Hal ini berarti dengan semakin tingginya tingkat
pendidikan kemampuan menyerap pesan kesehatan akan lebih
baik. Responden dengan pendidikan yang lebih baik akan lebih
baik pengetahuan dan tingkat kepedulianya terhadap
HIV/AIDS (Utomo at. al, 1998 dalam Angreani, S,
2005).

3) Status pernikahan

Menurut Utomo at. al (1998) dalam Angreani, S (2005)


status pernikahan menunjukan apakah seseorang telah menikah
atau belum menikah. Pernikahan pada prinsip dasarnya adalah
meningkatkan hubungan seseorang untuk lebih terikat.
Keterikatan tersebut salah satunya dalam berhubungan seksual
yang berhubungan dengan fungsi reproduksi yaitu
menghasilkan keturunan. Namun status pernikahan telah
menikah terkadang meningkatkan seseorang berperilaku
seksual dengan banyak pasangan.

3.
Homoseksuali
tas
20

a.
Pengert
ian

Homoseksualitas atau homoseksual adalah masalah


kompleks yang menyangkut berbagai aspek kehidupan manusia,
baik sosial maupun agama. Dalam buku Hawari (2009)
menyatakan bahwa istilah homoseksualitas mengacu kepada salah
satu bentuk perilaku seks yang
21

menyimpang, yang ditandai dengan adanya ketertarikan (kasih


sayang, hubungan emosional, dan secara erotik) dengan jenis
kelamin yang sama. Sedangkan menurut Carroll (2007) berpendapat
bahwa homoseksualitas adalah istilah yang digunakan untuk
mendeskripsikan kecenderungan umum seks dengan orang lain
yang berjenis kelamin yang sama.
Homoseksualitas dapat dijelaskan dalam beberapa dimensi.
Termasuk di antaranya adalah sikap untuk mendeskripsikan
hubungan seksual atau kecenderungan erotis, kesadaran akan
konsep diri homoseksualitas, atau hubungan seks dengan sesama
jenis. Orang yang menjalani perilaku homoseksualitas ini berasal
dari semua sosial, tingkat pendidikan bervariasi, mewakili semua
jenis pekerjaan dan profesi, mempunyai bermacam-macam
kepentingan dan kegemaran, dan mungkin sudah menikah atau
masih single (Siahaan, 2009; Irianto, 2010).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
dengan homoseksualitas mengacu pada individu yang
memiliki preferensi, perilaku seksual, dan ketertarikan baik secara
psikososial, sosial, dan seksualitas dengan individu lain, yang
memiliki jenis kelamin sama serta komunitas yang
mengidentifikasikan diri mereka sebagai kaum homoseksualitas.

b. Ekspresi homoseksualitas

Dalam keseharianya, kaum homoseksualitas


memperlihatkan ekspresi homoseksualitasnya (Kaerono, 2009;
22

Irianto, 2010), antara lain aktif, bertindak sebagai pria yang


agresif. Pasif, bertingkah laku dan
23

berperan pasif-feminim seperti wanita. Bergantian peran. Biasa


sebagai pria atau wanita dalam berhubungan seks.

Jeffires (2007) melaporkan bahwa pria latin yang


melibatkan diri dalam berhubungan sesama jenis lebih cenderung
bertindak sebagai pria yang agresif/aktif melalui orientasi seks yaitu
penetrasi anak dibandingkan dengan bukan pria latin. Hal ini
dikarenakan lebih kepada peran jati diri dalam bentuk maskulinitas
hemoragik. Peran maskulinitas ini adalah salah satu cara bagi pria
latin untuk menununjukkan dominasi sosial terhadap pasangan seks
yang berperan pasif.

Menurut Firdaus (2010) dan kartono (1989) ekspresi


homoseksualitas dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu :

a) Kategori homoseksualitas aktif (Top)

Kategori yang berperan sebagai laki-laki dalam hubungan dan


dalam kegiatan seksual, tipe ini yang melakukan penetrasi
penis. Kategori ini tidak selalu memiliki sifat maskulin, ada
beberapa yang mempunyai sifat feminim.
b) Kategori homoseksualitas pasif (Bottom)

Kategori yang berperan sebagai perempuan dalam hubungan


dan dalam kegiatan seksual, tipe ini yang menjadi objek sodomi.
Kategori ini tidak selalu memiliki sifat feminim, ada beberapa
yang mempunyai sifat maskulin.
24

c) Kategori homoseksualitas aktif-pasif atau netral (Versatile)

Kategori yang bergantian peran dan dalam kegiatan seksual,


tipe ini dapat berperan sebagai objek maupun yang melakukan
sodomi. Tipe ini dapat berperan sebagai laki-laki maupun
perempuan dalam suatu hubungan.

c. Tiga aspek acuan perilaku homoseksual

Menurut Adesla (2009), perilaku homoseksual mengacu


pada 3 aspek yaitu :

a) Orientasi seksual

Ketertarikan atau dorongan atau hasrat untuk terlibat secara


seksual dan emosional (ketertarikan yang bersifat romantis)
terhadap orang yang berjenis kelamin sama.
b) Perilaku seksual (sexual behavior)

Perilaku yang dilakukan antara dua orang yang berjenis kelamin


sama, tidak peduli orientasi seksual atau identitas gender.
c) Identitas seksual (sexual identity)

Yang mungkin dapat mengacu kepada perilaku atau orientasi


homoseksualitas.
d. Bentuk hubungan homoseksual

Kaum homoseksualitas cenderung memiliki banyak partner


seks. Mereka lebih menyukai hubungan yang bersifat impersonal
daripada hubungan yang permanen. Alasan mereka menjalin
hubungan impersonal
25

tersebut supaya kerahasiaan identitas homoseksualitasnya tetap


terjaga

(Siahaan, 2009).

Menurut Bell dan Weinberg (1978, dalam Siahaan,


2009), beberapa bentuk hubungan homoseksual, yaitu:

a. Close Coupled, yaitu hidup bersama dalam hubungan seperti


nikah.

Mereka cenderung tidak mempunyai atau mencari pasangan


lainya, serta tidak menemui banyak masalah dalam hubungan
tersebut.
b. Open Coupled, yaitu tinggal bersama dengan pasangan tetapnya,
namun tetap terlibat hubungan seksual dengan partner seks
lainya. Perilaku yeng cenderung membuat mereka rentan
terhadap infeksi menular seksual (IMS) dan HIV/AIDS.
c. Functional, yaitu melakukan hubungan seksual dengan
banyak pasangan yang tidak tetap dan berhubungan yang terjadi
bersifat impersonal. Mereka mengalami beberapa masalah
dalam hubunga n tersebut.
d. Asexual, yaitu memiliki sedikit hubungan homoseksual dan
banyak mengalami masalah seksualitas serta menyesali orientasi
seksualnya.
26

e. Karakteristik homoseksualitas

Menurut Pratikno (2005), beberapa karateristik kaum


homoseksualitas yang dapat diidentifikasikan adalah naluri
homoseksualitas tetap naluri seorang pria. Dalam
berkomunikasi, gaya bicaranya cenderung feminim, seadanya atau
bahkan talkactive. Sebagian
27

dari mereka berlaku pendiam saat berada dalam lingkungan umum


namun justru aktif dalam lingkunganya (sesama homoseksualitas).
Mereka nyaris tidak pernah kehabisan banyak pembicaraan. Ada
saja yang bisa dijadikan bahan pembicaraan, baik dengan
kelompoknya atau dengan orang sekelilingnya.

Hal tersebut umum dilakukan oleh pria homoseksualitas


yang sudah open status. Sedangkan untuk pria homoseksualitas
tertutup, mereka lebih banyak pendiam. Dimana kepribadian
cenderung tertutup dan jika tidak tahu, orang akan keliru
menafsirkan bahwa ia pria yang berwibawa.

Perfeksionis, mereka cepat melihat ketidaksempurnaan dan


segera memperbaikinya. Karena sifat mereka yang kadang
cenderung perfeksionis dan teliti maka terkadang orang menilainya
menjadi sangat hati-hati dan jarang mengambil keputusan beresiko.
Dalam pekerjaan, dia akan teliti dan tampak rapi, termasuk
bagaimana mengatur ruangan dan meja kerja, akan sangat rapi dan
bersih. Bahkan akan menempatkan benda- benda atau aksesoris
tambahan, seperti bunga ataupun pernak-pernik lain.

Cenderung sensitif, dia tahu dengan pasti apa yang kita


rasakan pada saat yang sangat tepat. Mereka lebih perhatian dan
memiliki empati yang lebih dalam ketika memperlakukan wanita
ketimbang pria normal yang cenderung menunjukkan otoritasnya di
hadapan wanita. Berpenampilan rapi, bersih dan modis,
hampir sebagian besar pria
28

homoseksual sangat memperhatikan dan menjaga penampilannya


dengan rapi dan semodis mungkin.

Selalu memakai pengharum tubuh dengan wewangian yang


memikat. Hal ini dilakukan agar aroma tubuhnya dapat menarik
perhatian sekelilingnya. Dan penggunaan parfum ini menyesuaikan
dengan penampilan rapi dan modisnya. Menyukai fitness, latihan
fitness dilakukan dengan tujuan untuk membentuk body atletis. Hal
ini dikarenakan mereka sangat memperhatikan penampilan. Sering
menggunakan bahasa tubuh sebagai alat komunikasi antar sesama
homoseksualitas, yaitu:
a. Tatapan mata yang lebih teduh.

b. Dengan menggunakan tatapan mata, maka dapat


memperkenalkan dir i kepada kelompok yang diidentifikasikan
sebagai kaum homoseksualitas.
c. Mengandalkan feeling yang dimiliki, menjadi penentu
identifikasi sesama kaum homoseksualitas.
d. Menunjukkan posisi tangan.

e. Dengan mengapitkan kedua telapak tanganya, dimana jari-


jarinya saling menyilang dan menggerak-gerakan kedua ibu
jarinya menandakan suatu pemberian sandi/tanda kepada
sesama kaum homoseksualitas.
29

f. Perkembangan homoseksualitas

Teori tentang homoseksualitas yang berkembang saat


ini pada dasarnya dibagi menjadi dua golongan (Carroll, 2007),
yaitu:
a) Esensialisme berpendapat bahwa homoseksualitas berbeda
dengan heteroseksual sejak lahir, hasil dari proses biologi dan
perkembangan. Teori ini menyiratkan bahwa homoseksualitas
merupakan abnormalitas perkembangan, yang membawa
perdebatan yang menyatakan bahwa homoseksualitas merupakan
penyakit.
b) Konstruksionis berpendapat bahwa homoseksualitas adalah
sebuah peran sosial yang telah berkembang secara berbeda
dalam budaya dan waktu yang berbeda, dan oleh karenanya tidak
ada perbedaan antara homoseksualitas secara ilmiah.

Berikut adalah jabaran dari berbagai pendekatan yang


memaparkan latar belakang terbentuknya perilaku homoseksualitas
(Carroll, 2007):
a. Pendekatan biologis

Teori biologis tentang homoseksualitas bersifat esensialis


yang mengatakan bahwa perbedaan orientasi seksual disebabkan
oleh adanya perbedaan secara fisiologis. Perbedaan ini biasa
disebabkan oleh genetik, hormon, urutan kelahiran atau sifat
fisik yang sederhana.
1) Genetik
30

Hammer, et. al. (1993, dalam Carroll, 2007)


menemukan bahwa pria homoseksualitas cenderung
memiliki saudara homoseksualitas dari pihak ibunya, dan
dengan menelusuri jejak
31

keberadaan gen homoseksualitas melalui garis


keturunan ibu, ditemukan pada 33 orang dari 40 saudara
laki-laki.
2) Hormon

Teori hormon dapat berkonsentrasi baik pada


ketidakseimbangan hormon sebelum kelahiran atau tingkat
hormon pada orang dewasa.
a) Tingkat hormon pada perinatal

Ketika hormon tertentu diberikan ke hewan yang hamil,


seperti tikus atau kelinci percobaan, pada periode kritis
dari perkembangan janin, keturunanya dapat dibuat untuk
menunjukkan perilaku homoseksualitas (Doner, 1976
dalam Carroll, 2007). Beberapa penelitian menemukan
bukti bahwa orientasi seksual dapat mempengaruhi
tingkatnya hormon perinatal menjadi lebih baik pada
manusia.
b) Tingkat hormon pada orang dewasa

Banyak peneliti membandingkan tingkat androgen dalam


darah pada homoseksualitas dewasa dengan pria
heteroseksualitas, dan umumnya tidak menemukan
perbedaan signifikan (Green, 1988 dalam Carroll, 2007).
Dari lima studi yang membandingkan tingkat hormon
pada lesbian dan wanita heteroseksualitas, diantaranya
tidak menemukan perbedaan tingkat testosteron atau
32

hormon lain. Sementara dua lainya menemukan tingkat


testosteron yang lebih tinggi pada lesbian (dan satu
menemukan
33

tingkat estrogen yang lebih rendah) (Dancy, 1990 dalam


Carroll,

2007).

3) Urutan kelahiran

Para peneliti juga meneliti efek dari urutan


kelahiran, ditemukan banyak dari pria gay telah dilahirkan
lebih dari banyak saudara memiliki saudara yang lebih tua
tetapi bukan kakak perempuan (Blanchard, 2004; Camperio-
Ciani et. al, 2004; Ridley,
2003 dalam Carroll, 2007). Telah diperkirakan bahwa
orientasi seksuali 1 dari 7 pria gay adalah hasil dari
urutan kelahiran fraternal (jumlah saudara tua mereka
memiliki) (Cantor et. al, 2002 dalam Carroll, 2007).
4) Fisiologi

Dua artikel pada awal tahun 1990-an


melaporkan penemuan perbedaan otak pria homoseksualitas
dan heteroseksualitas (S.lEvay, 1991; Swaab& Hofman,
1990 dalam Carroll, 2007). Kedua studi ini memfokuskan
pada hipotalamus, yang diketahui berperan penting pada
dorongan seksual, dan menemukan bahwa daerah-daerah
tertentu pada hipotalamus pria homoseksualitas berbeda
(lebih besar maupun lebih kecil) dengan pria
34

heteroseksualitas. Gallo (2000) juga menemukan


perbedaan struktural pada hipotalamus dalam hubungan
dengan orientasi seksualitas. Melalui studi tentang
panjang jari, Williams, et al (2000 dalam Carroll, 2007)
menemukan bahwa lesbian memiliki
35

panjang jari yang lebih mirip jari pria pada umumnya.


Dimana jari telunjuk lebih pendek daripada jari manis. Hal
ini mendukung ide bahwa lesbian mungkin memiliki
tingkat testosteron yang lebih daripada wanita
heteroseksualitas pada awal kehidupan.
b. Pendekatan psikologis

Pendekatan psikologis melihat perkembangan perilaku


homoseksualitas lebih sebagaian produk dari dorongan sosial
daripada bawaan lahir pada orang tertentu. Teori perkembangan
berfokus pada pola asuh seseorang dan sejarah pribadi untuk
menemukan asal usul homoseksualitas. Pertama kita akan
membahas teori perkembangan yang paling berpengaruh, teori
psikoanalitik, dan kemudian kita akan menguji ketidaksesuaian
pada gender, teori interaksi temanya sebaya, dan teori
behavioristic dari homoseksualitas (Carroll, 2007).
c. Pendekatan sosiologi

Pendekatan sosiologi mencoba menjelaskan bagaimana


dorongan sosial menghasilkan homoseksualitas di dalam
masyarakat. Konsep- konsep seperti homoseksualitas,
biseksualitas, heteroseksualitas adalah produk dari imajinasi
masyarakat dan tergantung pada bagaimana kita sebagai
masyarakat mendefinisikan sesuatu hal. Dengan kata lain, kita
mempelajari cara berfikir budaya kita dan mengaplikasikanya
pada diri kita (Carrroll, 2007).
36

Penggunaan istilah “homoseksualitas” yang mengacu pada


perilaku

sesama sejenis berkembang setelah revolusi industri


yang
37

membebaskan orang-orang secara ekonomi di perkotaan (Adam,


1987 dalam Carroll, 2007). Oleh karena itu, pendapat bahwa
apakah “homoseksualitas” atau “heteroseksualitas” bukanlah
fakta biologis tetapi hanya cara berfikir yang berubah seiring
dengan keadaan sosial.

d. Pendekatan interaksional biologis

Bem (1996, dalam Carroll, 2007) berpendapat bahwa


variabel biologis seperti genetik, hormon, dan neuroanatomi
otak, tidak menyebabkan orientasi seksual tertentu, tetapi lebih
berkontribusi pada temperamen masa kanak-kanak yang
mempengaruhi prefrensi anak pada aktivitas dan kelompok
sebaya yang sesuai dengan jenis kelaminya atau tidak.
Teori exotic-becomes-erotis yang ditemukan oleh Bem (1996,
dalam Carroll, 2007). Mengatakan bahwa perasaan seksuali
berubah dari pengalaman gender sejenis lebih sebagian eksotis,
atau berbeda dari orang itu, daripada yang berlawanan jenis. Ia
menyatakan bahwa anak-anak gay dan lesbian memiliki teman
bermain lawan jenis ketika tumbuh, dan membuat mereka
melihat sesama jenis lebih “eksotis” dan menarik

g. Jenis homoseksualitas

Menurut Sadarjoen (2005), homoseksualitas dapat


dibagi atas beberapa kualitas tingkah laku yang ditampilkanya
yaitu :
38

1) Homoseksual eksekutif

Bagi pria-pria yang memiliki kecenderungan homoseksual


eksekutif, daya tarik pada wanita sama sekali tidak
membuatnya
39

terangsang, bahkan ia sama sekali tidak mempunyai niat


seksual terhadap wanita. Ia akan merasa impoten, apabila
memaksakan diri untuk berhubungan seksual dengan wanita.
2) Homoseksualitas fakultatif

Pada homoseksualitas fakultatif biasanya mereka hanya


pada situasi yang mendesak dimana kemungkinan untuk
mendapatkan partner seks dari lawan jenis sangat sulit,
sehingga tingkah laku homoseksualitas akan timbul sebagai
usaha untuk menyalurkan hasrat seksualnya. Kondisi ini banyak
ditemukan di penjara.
3) Biseksualitas

Pada biseksualitas individu ini dapat memperoleh kepuasan


erotis secara optimal baik dengan lawan jenis maupun dengan
sesama jenis.

h. Pola aktivitas seksual beresiko pada homoseksualitas

Kaum homoseksualitas banyak yang ditemukan mengidap


penyakit menular seksual bahkan terinfeksi HIV. Hal ini
disebabkan oleh karena keterlibatan mereka dalam berbagai
aktivitas seksual yang promiskuitas (sering bergonta-ganti pasangan
seks) dan sangat beresiko.

Jenis-jenis aktivitas perilaku seksual (Pieter, Janiwarti, dan Saragih,


2011), yaitu:
40

1) Oral seks

Merupakan salah satu bentuk variasi dalam bercinta. Pada


umumnya dilakukan dengan kontak mulut dengan penis
(fellatio) atau kontak
41

mulut dengan vagina (cunnilingus). Fellatio berarti


menghisap dan

cunnilingus berarti
menjilat.

2) Seks anal

Yakni aktivitas seksual dengan memasukan penis ke dalam


anus. Aktivitas seks ini banyak dilakukan antara pria dengan
pria.
3) Seks genital

Merupakan aktivitas seksual yang paling umum dilakukan.


Aktivitas ini ditandai dengan kontak fisik antar organ seksual
pria dan organ seksual wanita.

Beberapa pola aktivitas seksual beresiko pada


homoseksualitas

(Kartono, 2009; Diggs, 2002), yaitu:

1) Anal eriotism tanpa pelindung


42

Intercourse seksual/sanggama melalui anus dianggap


sebagai praktik seks paling beresiko. Kurangnya
pelumasan pada jenis hubungan seks anal (melalui dubur)
dapat menyebabkan lecet pada penis dan mukos dubur,
sehingga mudah menularkan virus. Alasan melakukan seks anal
yakni untuk mencari hal yang baru dalam hubungan seks,
fantasi, dan kenikmatan.
2) Oral erotism dengan ejakulasi dan tanpa pelindung

Kontak seksual antara mulut dengan penis juga bisa


menularkan HIV. Apabila ada lesi di mulut atau luka di penis
akibat penyakit kelamin, bisa menjadi jalan HIV dan masuk ke
aliran darah.
43

3) Saling bertukar alat bantu

Meski HIV tidak bisa bertahan lama hidup di luar tubuh


manusia, resiko penularan melalui vibrator atau jenis alat bantu
seks lainya tetap ada. Resiko abrasi atau pengkikisan pada
dinding anus bias menjadi jalan masuk HIV.
4) Seks oral-anal/rimming

Tipe kontak seksual yang sering dilakukan oleh kaum


homoseksualitas dengan menggunakan bibir dan lidah untuk
menjilat anus pasangan seksnya saat berhubungan seks. Alasan
mereka melakukan seks oral anal untuk memperoleh variasi
dan kenikmatan. Praktik dari tipe kontak seksual ini
berdampak pada infeksi parasit usus.
5) Bergantian memasukan jari pada anus

Dalam hal peningkatan resiko penularan HIV, perilaku ini sama


bahayanya dengan saling bertukar alat bantu seks. Resiko
terjadi lesi pada mukosa anus dapat menjadi jalan masuk HIV
ke aliran darah.
6) Interfemoral coitus

Memanipulasi penis dan zakar diantara kedua paha atau alat


kemaluan pasangan. Gesekan yang terjadi saat berhubungan
seks bisa menyebabkan luka pada kemaluan atau bagian organ
44

tubuh yang menggunakan percing atau tindik dan menjadi jalan


masuk HIV.
45

B. Kerangka konsep

Kelompok resiko penularan HIV/AIDS:


46

1. Pengguna jarum suntik

2. Parenatal dan perinatal dari


ibu ke anaknya
Resiko
3. Heteroseksualitas
penularan
HIV/AID
S
47

4. Homoseksualitas
48

Pola aktivitas seksual


beresiko pada homoseksual :

a. Anal arotism tanpa


Macam-macam
pelindung.
perilaku
b. Oral erotism dengan
seksualitas :
ejakulasi dan tanpa
pelindung.
a. Perilaku
c. Seks oral
seksualitas
anal/rimming. d.
beresiko
Bergantian memasukan
tinggi
jari pada
b. Perilaku
anus.
seksualitas
e. Interfemoral coitus
beresiko
rendah f. Saling bertukar
alat bantu.

Faktor yang berhubungan


dengan perilaku beresiko
terhadap HIV /AIDS yaitu
:

a. Umur

b. Pendidikan

c. Status pernikahan
49

Keterangan :

: Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti


50

C. Pertanyaan peneliti

Bagaimana gambaran perilaku seksual pada kelompok


homoseksualitas yang beresiko menularkan HIV/AIDS ?.