Você está na página 1de 8

Berita Kedokteran Masyarakat

(BKM Journal of Community Medicine and Public Health)

Accident Hazard Potential Identification as an Effort to


Minimise Work-related Accidents at PT. PGAS SOLUTION
Studi kualitatif pekerja tentang praktik indentifikasi potensi bahaya untuk mengurangi
kecelakaan di tempat kerja: studi di perusahaan gas swasta
Muhammad Harry Wijaya1, Agus Surono2
Abstract
Background The rate of fatal accidents in developing countries is four times higher
than industrialised countries. According to the Ministry of Manpower of the
Republic of Indonesia, there are 100.000 accident cases annually and according to
the Ministry of Health there is one casualty for every 15 seconds due to work
accidents and 160 workmen fallen ill.
Dikirim: PT. PGAS Solution is a subsidiary of PT. PGN (The National Gas Company) Tbk. PT.
Diterbitkan
: PGAS Solution focuses on four main aspects, namely: operation and maintenance
management, EPC management, trading management, and workshop and
warehouse management. Aside from handling oil and gas and its four main foci, PT.
PGAS Solution is also involved in development projects both as main contractor or
subcontractor. PT. PGAS Solution strives to keep improving awareness on safety as
the corporate culture. Hazard potential that may occurs including injury or sickness,
property damages, financial loss, accidents, work-related diseases, as well as toxic
substances, dust, virus, bacteria, fungi, and other. Research Objective : This research
is aimed to study accident hazard potential in construction works and appraising the
role of a company in lowering and controlling work-related accidents as an effort to
minimise work-related accidents at PT. PGAS Solution. Research Method : This
research used qualitative method with case study approach. This research used
purposive sampling with samples consisted of one project manager, safety
supervisor, and safety officer as key participants. Data credibility is established
through triangulation, data, and documentation. Result: The board of directors as
well as the HSSE (Health, Safety, Security, and Environment) team of PT. PGAS
Solution are committed to achieve zero accident aimed to intensify occupational
safety and health in projects in order to prevent miscommunication prompting work-
related accidents, together with cooperation of the workmen in support and
commitment to implement the company’s safety policy. Involvement and support
from the management and project manager are crucial in establishing procedures
and organising trainings to minimise work-related accidents and to create safe
working condition and also to encourage the workmen to be proactive in
occupational safety and health. Conclusion: PT. PGAS Solution in its Asrama Twin
Tower construction project is expected to reinforce supervision and socialisation to
its workers and implement strict regulation to everyone working in construction
projects using punishment and reward system. Safety unit of the project needs to be
more creative in providing engaging discussions during toolbox meetings or safety
talks to the workers in order to increase their performance regarding safety.
Keywords: K3, Hazard Potential Identification, Accident Hazard Potential, Hazard
Control.
Berita Kedokteran Masyarakat
(BKM Journal of Community Medicine and Public Health)

PENDAHULUAN mempengaruhi kualitas hidup dan produktivitas


Tingkat kecelakaan fatal di negara berkembang pekerja. Kecelakaan kerja mengakibatkan tingginya
empat kali lebih tinggi dibanding negara-negara angka kematian. Selain itu, masalah-masalah sosial
industri. Di negara-negara berkembang kebanyakan kejiwaan di tempat kerja seperti stres ada
kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang terjadi hubungannya dengan masalah-masalah kesehatan
Berita Kedokteran Masyarakat
(BKM Journal of Community Medicine and Public Health)

yang serius, termasuk penyakit-penyakit jantung, serta proses-proses yang terlibat dalam melindungi
stroke, kanker yang ditimbulkan oleh masalah keselamatan baik dilapangan maupun di wilayah
hormon, dan sejumlah masalah kesehatan mental. tidak terdapat kecelakaan kerja, dan semua tim dapat
Masalah kecelakaan dan kesehatan kerja merupakan bekerja dengan tenang dan maksimal. Adapun
bagian penting dalam agenda International Labour pencapaian yang telah dilakukan dengan
Organization. (6) mendapatkan penghargaan zero accident dalam
Karena masih tingginya kecelakaan kerja di Indonesia, melaksanakan program K3 dari Kementerian Tenaga
Data Kementerian Ketenagakerjaan menyebutkan, kerja Republik Indonesia pada Tahun 2016,
angka kecelakaan kerja beberapa tahun terakhir penghargaan bebas HIV dan AIDS di tempat kerja dari
cenderung naik. Pada 2011 terdapat 99.491 kasus Kementerian Tenaga kerja Republik Indonesia pada
atau rata-rata 414 kasus kecelakaan kerja per hari, Tahun 2016. (5)
sedangkan 2010 hanya 98.711 . kasus kecelakaan
kerja, 2009 terdapat 96.314 kasus, 2008 terdapat METODE
94.736 kasus, dan 2007 terdapat 83.714 kasus
(Kementerian Ketenagakerjaan, 2015). Sedangkan Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan
berdasarkan data pada tahun 2013, disebutkan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data
bahwa setiap 15 detik terdapat 1 tenaga kerja yang menggunakan teknik purposive sampling. Subjek
meninggal dunia akibat kecelakaan kerja dan 160 dalam penelitian ini adalah sebanyak 4 orang
tenaga kerja mengalami sakit akibat kerja . (7) informan kunci dengan level 1 orang project
Berdasarkan Departemen Keselamatan dan manager, 2 orang supervisor health safety and
Kesehatan Kerja Malaysia Department of environment, 1 orang safety health officer dengan
Occupational Safety and Health of Malaysia pada pengalaman kerja lebih 6 Bulan. Selain keempat
tahun 2008, kebijakan keselamatan dan kesehatan informan kunci tersebut, untuk menghindari bias
kerja merupakan dokumen tertulis yang peneliti turut melibatkan 5 orang pekerja harian
menunjukkan dedikasi perusahaan terhadap (buruh) sebagai subjek penelitian. Berdasarkan teknik
kesehatan, kesejahteraan, dan keselamatan pekerja. purposive sampling, maka buruh yang dilibatkan
Kebijakan tersebut merupakan dasar upaya dalam adalah buruh yang berpengalaman atau mandor
memastikan lingkungan kerja yang layak. Kebijakan masing-masing 1 orang pekerja di setiap divisi
tersebut harus mencakup seluruh kegiatan pekerjaan
perusahaan yang berkaitan dengan staf, peralatan Kredibilitas data dalam penelitian ini menggunakan
dan pemilihan material, prosedur dan rancangan triangulasi sumber kepada pelaksana K3 serta
kerja, serta penyediaan barang dan jasa. didukung oleh data dan dokumentasi. Penelitian
Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dilaksanakan setelah mendapatkan ethical clearance
ditempat kerja merupakan hal yang penting bagi perusahaan dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.
untuk meminimalkan risiko kecelakaan kerja pada setiap
kegiatan proses produksi. Dampak yang terjadi akibat
Pelaksanaan penelitian dilakukan pada minggu Ke-1
Kecelakaan kerja dapat merugikan karyawan serta bulan Juli 2018. Hasil penelitian dibuat dalam bentuk
perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung. verbatim kemudian dilakukan analisis data dengan
(9,15 )
koding transkip wawancara yang sudah dijadikan
Identifikasi bahaya (hazard identification) adalah verbatim.
identifikasi terhadap kejadian yang tidak diharapkan
yang dapat menyebabkan bahaya dan mekanisme Profil perusahaan yang diteliti
kejadiannya. Penilaian risiko terdiri atas rangkaian
proses yang berkaitan dengan analisis risiko, Milik - swasta atau pemerintah
penilaian besarnya risiko, penilaian apakah risiko Tahun berdiri
dapat diterima atau tidak, dengan tujuan akhir Lokasi (luas), apakah berada di lingkungan
menciptakan dan menimbang berbagai pilihan penduduk?
kontrol risiko. Penilaian risiko memiliki peran penting Jumlah karyawan.. karyawan mana yang memiliki
dalam pengambilan keputusan oleh suatu badan risiko dalam penelitian ini.
dalam rangka melaksanakan kebijakan keselamatan Jenis pekerjaan spesifik karyawan..
dan kesehatan. (14) apakah semua karyawan telah memiliki asuransi
Dalam menciptakan tempat kerja yang aman dan organisasi karyawan seperti apa
sehat, PT. Pgas Solution berusaha untuk terus sistem kontrak atau pegawai..
meningkatkan kesadaran akan keselamatan dan risiko
Berita Kedokteran Masyarakat
(BKM Journal of Community Medicine and Public Health)

ketika kami berkerja di dalam gedung yang


pencahayaan kurang dan memakai alat yang
isi informasi yang penting sehingga kita bisa getaran nya tinggi kami selalu di ingatkan
memahami konteks yang penting biasanya saat tbm untuk selalu bekerja
dengan hati-hati dan bekerja dengan aman
supaya tidak ada kecelakaan kerja atau
bahkan gangguan kesehatan baik itu ringan
maupun berat (P5)

HASIL ketika kami bekerja di daerah yang radiasi nya


tinggi kami selalu di ingatkan untuk bekerja
Toolbox meeting untuk komunikasi keselamatan kerja dengan aman dan selamat supaya tidak
Pekerja di PT. Pgas Solution mendapat informasi yang terpapar dan terjadi penyakit akibat kerja (P2)
disampaikan secara langsung dari HSSE (Health Di dalam ruang lingkup kerja proyek terdapat juga
Security Safety and Environment) manager tentang keadaan lingkungan kerja yang penuh sesak dan
peralatan kerja yang aman, dan disampaikan juga stress kerja yang cukup tinggi dikarenakan tekanan
tentang material yang dipakai sehingga tidak kerja yang berat sehingga menambah beban kerja
miskomunikasi dan terjadi kecelakaan kerja di yang berlebihan.
lapangan.
biasanya kami mendapatkan informasi rutin ketika biasa nya pak kami mengeluh di mess pekerja
toolbox meeting tentang potensi-potensi bahaya antar sesama pekerja karena target dan
material seperti jatuh, terpeleset, tertusuk paku tekanan yang tinggi supaya tercapai sebelum
dan lain sebagainya serta cara penggunaan
batas waktu itu yang membuat kami stress
peralatan kerja yang aman (P2)
karna harus kerja kejar-kejaran sama waktu
ketika di induction dan toolbox meeting setiap hari
kami selalu diperingatkan poteni bahaya dari
(P4)
material dan cara untuk bekerja secara aman Pelaksanaan MSDS
terutama cara penggunaan alat yang benar dan Untuk mengidentifikasi potensi-potensi bahaya di
tidak terjadi kecelakaan kerja (P5) lingkungan di proyek ini penanganan nya
Kegiatan dalam bekerja wajib memakai alat menggunakan MSDS (material safety data sheet).
pelindung diri dalam upaya pencegahan kecelakaan
kerja supaya tidak terjadi kecelakaan kerja. kalau terkait dengan bahaya lingkungan ini
Kecelakaan kerja di praktik kerja ini sangat berbahaya contoh nya bahaya menggunakan material
terutama jatuh dari ketinggian dan mengakibatkan seperti solar, alat las, bensin itu kita nah itu
kita sudah menyiapkan msds (material safety
fatality.
data sheet) didalam msds itu sudah lengkap
potensi bahaya disini sangat berat misalkan terjatuh
semua dsna ada penjelasan bagaimana
dari ketinggian, tertimpa benda jatuh dari atas, serta
kecelakaan seperti terkena peralatan kerja. Maka mitigasi nya, bagaimana cara pengelolaan
kami bekerja disini diwajibkan alat pelindung diri mateial2 b3, limbah2 b3, supaya tidak
supaya kami bekerja dengan aman dan selamat mencemari dilingkungan dan itu kita sudah
tidak terjadi kecelakaan kerja bahkan tertimpa terapkan dilapangan (P1)
benda yang jatuh dari atas (P5) Untuk senyawa-senyawa kimiawi seperti solar,
ketika bekerja juga kami tidak di perbolehkan untuk bensin, oli dan lain lain nya di proyek ini tidak
bercanda dikarenakan itu dapat menyebabkan
kecelakaan kerja bisa cidera ringan atau bahkan menyimpan terlalu lama dan detersediaan nya habis
fatal seperti tersandung dan terjatuh dari ketinggian sekali pakai supaya tiak terjadi pencemaran
akibat dari bercanda pada saat bekerja (P1) lingkungan.

Di awal mulai setiap melakukan pekerjaan HSE sudah untuk bahan-bahan kimia kami disni memakai
menyampaikan di tbm (toolbox meeting) harian namun kami mengorder ketika lagi ada butuh
dan langsung pakai habis, jadi kami sistem nya
setiap pagi bahwa potensi bahaya fisik berbahaya
beli ketika mau di gunakan dan langsung
yang menyebabkan kecelakaan kerja dan di himbau digunakan pada saat itu, kami tidak
agar bekerjalah dengan aman. menyimpan bahan-bahan kimia tersebut di
proyek ini, untuk menghindari potensi-potensi
bahaya atau kecelakaan yang di timbulkan
dari bahan-bahan kimia tersebut yang berisiko
sangat tinggi (P1)

Pelaksanaan JSA
Berita Kedokteran Masyarakat
(BKM Journal of Community Medicine and Public Health)

Pihak PT. Pgas Solution mewajibkan untuk membuat kami diwajibkan memakai apd ketika
JSA sebelum pekerjaan di proyek dimulai bekerja memasuki proyek ini untuk pencegahan dan
pengendalian kecelakaan kerja (P1)
untuk mengetahui potensi bahaya serta
mengendalikan bahaya. kami pekerja yang bekerja disini biasa nya
minimal menggunakan rompi, sepatu, helm
ya kita sebelum bekerja itu kita pastikan dlu safety, namun misalkan di ketegangan tinggi
alat yang kita pakai masih layak tidak, dan kita atau yang lain nya perlu di tambah lagi, kayak
lakukan pengecekan juga sebelum bekerja, sarung tangan, kacamata, takut ada percikan
serta sebelum melakukan pekerjaan kita disini api dari atas atau debu, dan misalkan kami
di wajibkan untuk membuat jsa juga, dalam bekerja di tempat yang tinggi kami diwajibkan
upaya ya pencegahan serta untuk untuk memakai safety body harness (P5)
pengendalian risiko nya dimana didalam jsa
sudah di tuliskan pekerjaan nya apa, risiko nya PEMBAHASAN
bagaimana dan cara pengendalian nya
PT. Pgas Solution seluruh jajaran manajemennya dan
bagaimana jadi sewaktu-waktu apabila ada
kesalahan kita sudah tau cara pengendalian HSE selalu berkomitmen dalam berupaya
bahayanya bagaimana (P4) menciptakan zero accident atau disebut juga dengan
kecelakaan nihil dengan tujuan untuk meningkatkan
Salah satu cara untuk pengendalian bahaya dengan keselamatan dan kesehatan kerja di proyek sehingga
menggunakan cara subtitusi yaitu mengganti metode tidak terjadi miss komunikasi yang dapat
bekerja dengan metode bekerja yang lebih aman menyebabkan kecelakaan kerja.
atau material yang tingkat bahayanya lebih rendah. Penyebab utama pekerja jatuh dari ketinggian yaitu:
buruknya pengawasan pekerja di lokasi, perilaku
Di proyek ini cara kami melakukan subtisusi pekerja yang berisiko di lokasi, tidak memadainya
adalah dengan cara memilih metode yang pendidikan keselamatan serta contoh penggunaan
lebih aman guna untuk meminimalkan harness keselamatan, penyediaan harness
kecelakaan kerja (P2) keselamatan yang tidak memadai, kontraktor
Ada beberapa cara kami mensubtitusi untuk mempekerjakan safety officer yang tidak kompeten,
pengendalian bahaya yaitu kami bekerja di penggunaan APD yang kurang benar oleh pekerja,
lapangan memakai metode yang lebih aman kurangnya inspeksi alat-alat kerja sebelum
yang tingkat bahaya nya rendah (P1) penggunaan, penggunaan peralatan konstruksi yang
tidak tepat oleh pekerja. (13)
Aspek yang paling berpengaruh adalah perusahaan
Di proyek ini telah membuat prosedur pekerjaan memberikan perlengkapan K3, dimana para pekerja
untuk bekerja secara aman sesuai bahaya yang ada akan merasa aman dan nyaman melakukan pekerjaan
dilapangan. konstruksi ketika dirinya dilindungi dengan adanya
biasanya kami bekerja mengikuti prosedur yang ada untuk
mengurangi atau tidak terjadi kecelakaan kerja serta di prosedur
perlengkapan K3 Sedangkan aspek lain yang diukur
kami para pekerja dilaranga menggunakan telepon seluler di adalah perusahaan memberikan latihan K3, dimana
tempat tertentu,atau dilarang memainkan handphone saat dengan pengetahuan yang dimiliki pekerja
bekerja serta mematuhi rambu-rambu keselamatan dan diharapkan pekerja memiliki kesadaran akan bahaya
kesehatan kerja yang ada” (P1) yang mengancam sehingga meminimalisir terjadinya
Alat pelindung diri sangat penting dan harus dipakai kecelakaan kerja. (1)
oleh semua pekerja pada semua pekerjaan sesuai Mempertimbangkan pengaruh penting dari tenaga
dengan jenis pekerjaannya dan diproyek ini juga kerja terhadap kualitas realisasi proses konstruksi,
diwajibkan menggunakan APD serta ada safety sign sangat penting untuk mengenal fitur pekerja
yang dipasang di proyek. konstruksi dan mengidentifikasi kelompok risikonya
dari aspek keselamatan kerja. Informasi tersebut
memiliki peran penting dalam menentukan tingkat
risiko dalam suatu jenis pekerjaan dan pada
keseluruhan proyek serta untuk menurunkan risiko
kecelakaan. (10)
Bahaya kerja pada industri konstruksi dapat berasal
dari risiko mekanisasi, perubahan kondisi kerja yang
disebabkan oleh kondisi di lokasi konstruksi, serta
perekrutan tidak resmi tenaga kerja imigran untuk
Berita Kedokteran Masyarakat
(BKM Journal of Community Medicine and Public Health)

mengurangi biaya. Potensi bahaya ini yang dapat langsung. (9, 15)
menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja. yaitu Dengan metode JSA (Job Safety Analysis) dapat
terjatuh dari ketinggian, tertusuk benda tajam, diidentifikasi jenis kecelakaan kerja atau potensi
tersengat listrik, tergores, terpotong, kulit terbakar, bahaya yang berhubungan dari setiap langkah
penurunan fungsi dengar, gangguan pernapasan, pekerjaan. (12)
patah tulang dan sampai kebutaan. (18) Dalam melakukan JSA hal yang dilakukan adalah
Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu menentukan pekerjaan yang akan dianalisis, setelah
keadaan aman dan sehat dalam pekerjaan, yang menentukan pekerjaan, membagi pekerjaan menjadi
meliputi pekerja, pekerjaan, dan lingkungan, beberapa langkah-langkah pekerjaan atau standar
sehingga pekerja dapat bekerja dengan rasa nyaman operasional prosedur, identifikasi potensi bahaya,
dan tenang. Tujuan manajemen keselamatan dan penilaian risiko, evaluasi risiko dan menentukan
kesehatan kerja, yaitu: sebagai alat untuk mencapai tingkat risiko dan pencegahannya serta lebih
derajat kesehatan tenaga kerja yang setinggi- meningkatkan pengawasan dalam bidang K3
tingginya, baik buruh, petani, nelayan, pegawai kususnya agar perusahaan dapat mencapai zero
negeri, atau pekerja-pekerja bebas, sebagai upaya accident. Langkah-langkah dalam membuat JSA:
pencegahan dan pemberantasan penyakit dan merinci langkah-langkah pekerjaan dari awal hingga
kecelakaan-kecelakaan akibat kerja, pemeliharaan, selesai pekerjaan, mengidentifikasi bahaya dan
dan peningkatan kesehatan, dan gizi tenaga kerja, potensi kecelakaan kerja berdasarkan langkah -
perawatan, dan mempertinggi efisiensi dan langkah kerja yang sudah ditentukan, menentukan
produktivitas tenaga manusia, pemberantasan langkah pengendalian berdasarkan bahaya-bahaya
kelelahan kerja, pelipat ganda gairah dan kenikmatan yang ada pada setiap langkah-langkah pekerjaan,
kerja. (11) mengkomunikasikan kepada semua pihak. (16)
Prinsip utama dalam menangani bahan-bahan Menyusun prosedur kerja yang benar merupakan
berbahaya tersebut adalah mendapat informasi salah satu keuntungan dari menerapkan JSA, yang
sebanyak mungkin lebih dahulu sebelum meliputi mempelajari dan melaporkan setiap langkah
menanganinya. Tidaklah mungkin dapat mengenal pekerjaan, mengidentifikasi bahaya pekerjaan yang
cara penanganan dari semua jenis bahan kimia, sudah ada atau potensi, melakukan penilaian risiko
bukan saja tidak praktis tetapi masing-masing (Risk Assessment) pada aktivitas kerja yang sudah
memiliki sifat yang berbeda. Cara penanganan yang ada atau berpotensi resiko dan menentukan jalan
tepat untuk setiap bahan kimia, hanya dapat terbaik untuk mengurangi dan mengeliminasi
diperoleh dari pabrik atau pemasok yang memang bahaya, setelah diketahui bahaya yang tidak bisa
telah berpengalaman dengan bahan tersebut. dikendalikan, maka dilakukan usaha untuk
Informasi spesifikasi bahan juga dapat dilihat dalam menghilangkan atau mengurangi resiko bahaya ke
MSDS terdapat keterangan mengenai suatu bahan tingkat level yang bisa diterima. (8)
yaitu identitas, sifat, penanganan dan lain-lain yang Pengendalian risiko berdasarkan pendekatan hirarki
berkaitan dengan keselamatan. Untuk itu sebelum pengendalian (hirarchy of controls) adalah
bahan kimia tersebut diterima, disimpan dan pengendalian rekayasa, Pengendalian administrasi
digunakan, maka keterangaan yang ada dalam MSDS yaitu rotasi dengan teman kerja, istirahat pada saat
tersebut harus dipahami. Menangani bahan jam istirahat. memberikan penyuluhan tentang
berbahaya tanpa mengetahui informasi tersebut di potensi bahaya dan risiko, membuat Standart
atas dapat mengakibatkan kecelakaan kerja dan sakit Operasional Prosedur (SOP), memasang tanda-tanda
akibat kerja. (4) bahaya, safety briefing sebelum bekerja dan serta
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan aspek memakai alat pelindung diri seperti sarung tangan,
penting dalam mengendalikan semua risiko yang ada boots, dan sebagainya. (17)
didalam operasional perusahaan sehingga Penerapan KESIMPULAN DAN SARAN
(K3) ditempat kerja dapat meminimalkan risiko Seluruh jajaran manajemennya dan HSSE selalu
kecelakaan kerja pada setiap kegiatan pekerjaan. (3) berkomitmen dalam berupaya menciptakan zero
Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) accident atau disebut juga dengan kecelakaan nihil
ditempat kerja merupakan hal yang penting bagi dengan tujuan untuk meningkatkan keselamatan dan
perusahaan untuk meminimalkan risiko kecelakaan kesehatan kerja di proyek sehingga tidak terjadi miss
kerja pada setiap pekerjaan. Dampak yang terjadi komunikasi yang dapat menyebabkan kecelakaan
akibat K3 dapat merugikan karyawan serta kerja dan upaya yang dilakukan dengan memberikan
perusahaan baik secara langsung maupun tidak himbauan terus menerus atau sosialisasikan kepada
Berita Kedokteran Masyarakat
(BKM Journal of Community Medicine and Public Health)

pekerja supaya pekerja untuk memperhatikan bahaya


potensi bahaya yang ada supaya dapat bekerja
dengan aman tersebut masih belum maksimal
Abstrak dalam bahasa indonesia
dikarenakan para pekerja ada yang mengeluh
dikarenakan beban kerja yang cukup berat serta DAFTAR PUSTAKA
target yang menuntut supaya pekerja dapat 1. Christina, W. Y., Djakar, L., Thoyib, A., 2012 Pengaruh
memenuhi target tersebut membuat pekerja Budaya Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3)
mengalami stress kerja dan menurun nya Terhadap Kinerja Proyek Konstruksi. Jurnal Rekayasa
produktivitas kerja sehingga dapat menyebabkan Sipil. Vol. 6 No. 1. Hal. 83-95
2. Departement Of Occupational Safety And Health,
potensi bahaya psikososial, ergonomi dan fisik serta 2008. Guidelines For Hazard Identification, Risk
para pekerja di proyek ikut serta mendukung dan Assesment And Risk Control. Malaysia.
berkomitmen untuk menjalankan kebijakan dari 3. Handayani, D. I., Purwanto, A 2014. Penilaian Risiko
perusahaan yang mewajibkan penggunaan APD Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jurnal Dinamika
Rekayasa. Vol 10 No 2. Hal. 68-75
dilokasi proyek perusahaan telah menerapkan
4. Harjanto, N. T., Sulisyanto, Sukesi, E. I., 2011.
hierarki pengendalian bahaya sesuai yang ada di Manajemen Bahan Kimia Berbahaya Dan Beracun
dalam OHSAS 18001:2007 untuk mencegah Sebagai Upaya Keselamatan Dan Kesehatan Kerja
kecelakaan kerja sekaligus menurunkan, Serta Perlindungan Lingkungan. Jurnal Batan. Vol. 4
mengendalikan bahaya ke tingkat bahaya yang lebih No. 8 Hal. 54-67
kecil yang tidak berbahaya dan tidak mengakibatkan 5. http://www.pgn-solution.co.id/m/komitmen.php?
t=hsse tentang kebijakan komitmen health safety
kecelakaan kerja yang berat atau fatality bahkan security environment (hsse) di akses 9 April 2018.
kerusakan properti dalam mengidentifikasi awal 6. ILO, 2001. Guideline On OHS Management System.
potensi-potensi bahaya yang ada di proyek pihak International Labour Organization, Geneva
perusahaan sudah menerapkan JSA (job safety 7. Kemenkes Republik Indonesia. Profil Kesehatan
Indonesia. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik
analysis) sebagai pedoman yang diwajibkan sebelum
Indonesia, 2014. Jakarta
memulai pekerjaan untuk menghilangkan atau 8. Mahendar, F., Pujotomo, D., 2014. Identifikasi Bahaya,
mengurangi potensi bahaya ke tingkat level yang bisa Pengendalian Resiko Dan Keselamatan Kerja Pada
diterima. Bagian Bengkel Repair Galangan Kapal Dengan
Saran Agar dapat meningkatkan lagi pengawasan Menggunakan Metode Job Safety Analysis (Jsa) Di Pt
Janata Marina Indah, Semarang. Journal Industrial
serta sosialisasi kepada para pekerja yang masih Engineering. Vol. 3 No. 2
terdapat tidak memakai APD serta menerapkan 9. Maryani, A., 2012, Pemodelan Kecelakaan Kerja
aturan tegas bagi semua pekerja di proyek konstruksi Konstruksi Yang Komprehensif Untuk Mengendalikan
dengan sistem punishment dan reward supaya tidak Biaya K3, Tesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember,
Surabaya
terjadi kecelakaan kerja. HSSE Manager harus lebih
10. Mucenski, V., Pesko, I., Drazic, J., Cirovic, G., Trivunic,
memperhatikan lagi masalah dokumen terutama M., Bibic, D., 2015 Construction Workers Injury Risk
terkait dokumen penting ditata dengan rapi dan Assessment in Relation to their Experience and Age.
sesuai. Project Manager, Staff serta tim HSSE dapat Journal Procedia Engineering Vol. 117. Hal. 525-533
lebih memperhatikan lagi masalah kebersihan agar 11. Muspawi, M., 2017. Pengelolaan Keselamatan &
Kesehatan Kerja Karyawan Dalam Sebuah Organisasi.
tidak terjadi penyakit akibat kerja. Jurnal Staimaarif. Vol. 11 No.1 Hal. 1-11.
Kepada HSSE Manager di proyek dapat lebih proaktif 12. Nurkholis., & Adriansyah, G., 2017 Pengendalian
dan lebih kreatif dalam memberikan pembahasan bahaya kerja dengan metode job safety analysis pada
yang menarik ketika toolbox meeting kepada pekerja penerimaan afval lokal baian warehouse di PT. ST.
Teknika: Engineering Sains Journal. Vol. 1 No. 1, Hal.
agar performa pekerja tentang keselamatan terus
11-16
meningkat. Kepada PT. Pgas Solution di proyek 13. Opaleye, O. S., 2013. Identifying Labour Risks On
pembangunan asrama twin tower perusahaan juga Building Sites In Gauteng. International Journal of
harus mempertimbangkan keselamatan kerja, Built Environment And Asset Management. Vol 1 No
menata tata letak penyimpanan dengan baik supaya 2. Hal.165-180
tidak terjadi kecelakaan kerja ketika mengambil
material serta harus adanya training khusus untuk
mengendalikan atau tanggap darurat ketika ada
kecelakaan pada bahan yang mudah terbakar.
Berita Kedokteran Masyarakat
(BKM Journal of Community Medicine and Public Health)

14. Saedi, A. M., Thambirajah J. J., & Pariatamby A .,


2014. A HIRARC Model For Safety And Risk Evaluation
At A Hydroelectric Power Generation Plant. Journal
Of Safety Science. Vol.70, Hal. 308-315
15. Sepang, B.A.W., 2013, Manajemen Risiko
Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Pada Proyek
Pembangunan Ruko Orlens Fashion Manado. Jurnal
Sipil Statik. Vol.1 No.4, Hal. 282-288. ISSN: 2337-6732
16. Suharianto, F., 2017, Study Tentang Job Safety
Analysis Dalam Identifikasi Potensi Bahaya Sebagai
Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja Pada Pekerjaan
Reparasi Kapal Kri Nala 363 Di PT. Dok Dan
Perkapalan Surabaya (Persero). Jurnal Pendidikan
Teknik Mesin. Vol. 06 No. 02, Hal. 104 – 107
17. Sumampouw, M. F., Doda, D. V., Sitanggang, E. P.,
2017. Analisis Potensi Bahaya Dan Tingkat Risiko
Dengan Menggunakan Metode Job Safety Analysis
(Jsa) Pada Bagian Produksi Salah Satu Industri Tepung
Kelapa. Jurnal Health. Vol. 5 No. 3 Hal. 59-74
18. Timofeeva., S.S., Ulrikh D. V., dan Tsvetkun N. V.,
2017. Professional Risks in Construction Industry.
Journal of Procedia Engineering, Vol. 206, Hal. 911-
917