Você está na página 1de 7

1.

Aliran Empirisme
Aliran Empirisme merupakan aliran yang mementingkan stimulasi eksternal dalam
perkembangan manusia. Aliran ini menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung pada
lingkungan, sedangkan pembawaan yang dibawanya dari semenjak lahir tidak dipentingkan.
Pengalaman yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari didapat dari dunia sekitarnya.
Pengalaman-pengalaman itu berupa stimulan-stimulan dari alam bebas maupun diciptakan oleh
orang dewasa dalam bentuk program pendidikan.
Tokoh utama aliran ini adalah filsuf Inggris bernama John Lock yang mengembangkan
paham Rasionalisme pada abad ke 18. Teori ini mengatakan bahwa anak yang lahir ke dunia
dapat diumpamakan seperti kertas putih yang kosong yang belum ditulisi atau dikenal dengan
istilah “tabularasa” (a blank sheet of paper). Teori ini mengatakan bahwa manusia yang lahir
adalah anak yang suci seperti meja lilin. Dengan demikian, menurut aliran ini anak-anak
yanglahir ke dunia tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa, sebagai kertas putih yang
polos. Oleh karena itu, anak-anak dapat dibentuk sesuai dengan keinginan orang dewasa yang
memberikan warna pendidikannya.
Aliran Empirisme dipandang sebagai aliran yang sangat optimis terhadap pendidikan, sebab
aliran ini hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Adapun
kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan keberhasilan
seseorang. Aliran ini masih menganggap manusia sebagai makhluk yang pasif, mudah dibentuk
atau direkayasa, sehingga lingkungan pendidikan dapat menentukan segalanya.
Pandangan sebagaimana di atas tentu saja patut dipertanyakan. Dalam kenyataan kehidupan
sehari-hari, akan ditemukan anak yang berhasil karena memang dirinya berbakat, meskipun pada
awal lingkungan sekitarnya tidak mendukung. Keberhasilan anak tersebut disebabkan oleh
kemauan yang luar biasa, sehingga menyebabkan dirinya sadar akan kemampuannya. Kesadaran
akan kemampuannya mendorong dirinya lebih berusaha dan terekspresikan dalam bentuk kerja
keras mencari dan menemukan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan kemampuannya.
Upaya itu menyebabkan dirinya mendapatkan lingkungan yang sesuai, yakni lingkungan yang
dapat mengembangkan bakat atau kemampuan yang ada dalam dirinya, sehingga anak tersebut
berhasil.

2. Nativisme
Paham ini menentang paham Empirisme yang dikemukakan John Lock. Nativs (dari bahasa
latin) memiliki arti terlahir. Menurut paham ini, dengan tokohnya seorang filsuf
JermanSchopenhauer (1788-1860), dikatakan bahwa anak-anak yang lahir ke dunia sudah
memiliki pembawaan atau bakatnya yang akan berkembang menurut arahnya masing-masing.
Pembawaan tersebut ada yang baik dan ada pula yang buruk.
Oleh karena itu, menurut paham ini perkembangan anak tergantung dari pembawaannya sejak
lahir. Berdasarkan aliran ini, keberhasilan pendidikan anak ditentukan oleh anak itu sendiri.
Aliran ini pun berkeyakinan bahwa manusia yang jahat akan menjadi jahat dan sebaliknya, yang
baik akan menjadi baik.
Jadi jelas di sini, bahwa menurut teori ini anak tumbuh dan berkembangnya tidak
dipengaruhi oleh lingkungan pendidikan baik lingkungan sekitar yang ada sehari-hari
maupunlingkungan yang direkayasa oleh orang dewasa yang disebut pendidikan. Dengan kata
lain, pendidikan, lingkungan masyarakat, dan orang tua tidak berpengaruh terhadap
perkembangananak karena setiap anak akan berkembang sesuai pembawaannya, bukan oleh
kekuatan-kekuatandari luar.

3. Naturalisme
Paham Naturalisme dipelopori oleh seorang filsuf Prancis J.J. Rousseaue yang muncul pada
abad ke-18. Nature dalam bahasa latin memiliki makna Alam. Berbeda dengan Schopenhaeuer,
Rousseaue berpendapat setiap anak yang baru dilahirkan pada hakikatnya memiliki pembawaan
baik. Namun pembawaan baik yang terdapat pada setiap anak itu akan berubah sebaliknya
karena dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan tersebut dapat berupa, lingkungan keluarga,
lingkungan sekolah, atau lingkungan masyarakat di sekitar dimana anak tumbuh dan
berkembang.
Berdasarkan pendapatnya tersebut, aliran ini dikenal juga dengan sebutan Negativisme.
Selanjutnya Rousseaue mengatakan, anak yang telahir dalam keadaan baik tersebut biarkan
berkembang secara alami. Ini artinya bahwa perkembangan anak yang dipengaruhi oleh
pendidikan apakah pendidikan di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat sebagai urun rembuk
orang-orang dewasa malah akan merusak pembawaan anak yang baik.
Hal ini seperti dikemukakan oleh J.J. Rousseaue, yaitu : “segala sesuatu adalah baik ketika ia
baru keluar dari alam, dan segala sesuatu menjadi jelek manakala ia sudah berada di tangan
manusia.”
Oleh karena itu, di sini jelas bahwa Rosseaue tidak berharap pada pendidikan. Dengankata lain
sekolah tidak perlu ada. Ia menginginkan perkembangan anak dikembalikan ke alam
yang mengembangkan anak secara wajar karena hanya alamlah yang paling tepat menjadi guru.

4. Konvergensi
Konvergensi artinya titik pertemuan. Pelopor aliran Konvergensi adalah William
Stern(1871-1939), seorang ahli ilmu jiwa berkebangsaan Jerman. Ia mengatakan bahwa
seseorang terlahir dengan pembawaan baik dan juga dengan pembawaan buruk. Ia pun mengakui
bahwa proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-
sama mempunyai peranan yang sangat penting.
Aliran ini menyampaikan bahwa bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan
berkembang dengan baik tanpa adanya lingkungan yang sesuaidengan perkembangan bakat itu.
Sebaliknya, lingkungan yang baik pun sulit mengembangkan potensi anak secara optimal apabila
tidak terdapat bakat yang diperlukan bagi perkembangan yang diharapkan anak tersebut.
Dengan demikian, paham ini menggabungkan antara pembawaan sejak lahir dan lingkungan
yang menyebabkan anak mendapatkan pengalaman. William Stern menjelaskan pemahamannya
tentang pentingnya pembawaan dan lingkungan itu dengan perumpamaan dua garis yang menuju
ke satu titik pertemuan. Oleh karena itu, teorinya dikenal dengan sebutan Konvergensi
(Konvergen berarti memusat kesatu titik).
Menurut teori konvergensi ada tiga prinsip : (1) pendidikan mungkin untuk dilaksanakan, (2)
pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik untuk
mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensiyang kurang baik, dan
(3) yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.
Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam
memahami tumbuh kembang manusia. Meskipun demikian terdapat variasi pendapat tentang
faktor-faktor mana yang paling penting dalam menentukan tumbuh kembang itu.Variasi-variasi
itu tercermin antara lain dalam perbedaan pandangan tentang strategi yang tepat untuk
memahami perilaku manusia. Seperti strategi disposisional / konstitusional, strategi
phenomenologist/ humanistik, strategi behavioral, strategi psikodinamik/psiko-analitik, dan
sebagainya.

Aliran pendidikan moderen di Indonesia


Menurut Mudyahardjo (2001: 142) macam-macam aliran pendidikan modern di Indonesia
adalah sebagai berikut:

1. Progresivisme

Progresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan


di sekolah berpusat pada anak (child-centered), sebagai reaksi terhadap pelaksanaan
pendidikan yang masih berpusat pada guru (teacher-centered) atau bahan pelajaran (subject-
centered).

2. Esensialisme

Esensialisme modern dalam pendidikan adalah gerakan pendidikan yang memprotes


gerakan progresivisme terhadap nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/sosial.
Menurut esensialisme nilai-nilai yang tertanam dalam nilai budaya/sosial adalah nilai-nilai
kemanusiaan yang terbentuk secara berangsur-angsur dengan melalui kerja keras dan susah
payah selama beratus tahun dan di dalamnya berakar gagasan-gagasan dan cita-cita yang
telah teruji dalam perjalanan waktu. Peranan guru kuat dalam mempengaruhi dan
mengawasi kegiatan-kegiatan di kelas.

3. Rekonstruksionalisme

Rekonstruksionalisme memandang pendidikan sebagai rekonstruksi pengalaman-


pengalaman yang berlangsung terus dalam hidup. Sekolah yang menjadi tempat utama
berlangsungnya pendidikan haruslah merupakan gambaran kecil dari kehidupan sosial di
masyarakat
4. Perennialisme

Perennialisme adalah gerakan pendidikan yang mempertahankan bahwa nilai-nilai universal


itu ada, dan bahwa pendidikan hendaknya merupakan suatu pencarian dan penanaman
kebenaran-kebenaran dan nilai-nilai tersebut. Guru mempunyai peranan dominan dalam
penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di kelas. Menurut perennialisme, ilmu
pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi, karena dengan ilmu pengetahuanlah
seseorang dapat berpikir secara induktif. Jadi dengan berpikir, maka kebenaran itu akan
dapat dihasilkan. Penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal
bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Dengan pengetahuan, bahan
penerangan yang cukup, orang akan mampu mengenal dan memahami faktor-faktor dan
problema yang perlu diselesaikan dan berusaha mengadakan penyelesaian masalahnya.

5. Idealisme

Aliran idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa.
Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di
antara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera.
Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini
memandang serta menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea. Tugas ide adalah
memimpin budi manusia dalam menjadi contoh bagi pengalaman. Siapa saja yang telah
menguasai ide, ia akan mengetahui jalan yang pasti, sehingga dapat menggunakan sebagai
alat untuk mengukur, mengklasifikasikan dan menilai segala sesuatu yang dialami sehari-
hari.
Para murid yang menikmati pendidikan di masa aliran idealisme sedang gencar-gencarnya
diajarkan, memperoleh pendidikan dengan mendapatkan pendekatan (approach) secara
khusus. Sebab, pendekatan dipandang sebagai cara yang sangat penting. Para guru tidak
boleh berhenti hanya di tengah pengkelasan murid, atau tidak mengawasi satu persatu
muridnya atau tingkah lakunya. Seorang guru mesti masuk ke dalam pemikiran terdalam
dari anak didik, sehingga kalau perlu ia berkumpul hidup bersama para anak didik. Guru
jangan hanya membaca beberapa kali spontanitas anak yang muncul atau sekadar ledakan
kecil yang tidak banyak bermakna.
Pola pendidikan yang diajarkan fisafat idealisme berpusat dari idealisme. Pengajaran tidak
sepenuhnya berpusat dari anak, atau materi pelajaran, juga bukan masyarakat, melainkan
berpusat pada idealisme. Maka, tujuan pendidikan menurut paham idealisme terbagai atas
tiga hal, tujuan untuk individual, tujuan untuk masyarakat, dan campuran antara keduanya.
ALIRAN-ALIRAN POKOK PENDIDIKAN DI INDONESIA
Aliran pokok pendidikan di Indonesia itu yang dimaksudkan adalah perguruan kebangsaan
Taman Siswa dan Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam.

1. PERGURUAN KEBANGSAAN TAMAN SISWA

Perguruan Kebangsaan Taman Siswa didirikan oleh Ki Hajar Dewantara, ( Lahir 2 Mei 1889
dengan nama Suwardi Suryaningrat ) pada tanggal 3 Juli 1932 di Yogyakarta, yakni dalam
bentuk yayasan, selanjutnya mulai didirikan taman Indira ( Taman kanak-kanak ) dan Kursus
Guru, selanjutnya Taman muda ( SD ), disusul Taman Dewasa merangkap Taman Guru ( Mulo-
Kweekschool ). Sekarang ini telah dikembangkan sehingga meliputi pula taman Madya,
Prasarjana, dan Sarjana sarjana Wiyata. Dengan demikian Taman Siswa telah meliputi semua
jenjang persekolahan.

a. Asas dan Tujuan Taman Siswa

Perguruan Kebangsaan taman Siswa mempunyai tujuh asas perjuangan untuk menghadapi
pemerintah colonial Belanda serta sekaligus untuk mempertahankan kelangsungan hidup bersifat
nasional, dan demokrasi. Ketujuh asas tersebut dikenal dengan “asas 1922” , sebagai berikut :

1) Bahwa setiap orang mempunyai hak mengatur dirinya sendiri ( Zelf Besschikkingsrecht
) dengan mengingat terbitnya persatuan dalam peri kehidupan umum.

2) Bahwa pengajaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah yang dalam arti lahir dan
batin dapat memerdekakan diri.

3) Bahwa pengajaran harus berdasar pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri.

4) Bahwa pengajaran harus tersebar luas sampai dapat menjangkau kepada seluruh rakyat.

5) Hidup dengan kekuatan sendiri

6) Bahwa sebagai konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri maka mutlak harus
membelanjai sendiri segala usaha yang dilakukan ( Zelfbegrotings-system ).

7) Berhamba pada anak didik


Dalam perkembangan selanjutnya Taman siswa melengkapi “ Asas 1922” tersebut dengan “
Dasar-dasar 1947 “ yang disebut pula “ Panca Dharma “ yaitu :

1. Asas Kemerdekaan

2. Asas Kodrat Alam

3. Asas Kebudayaan

4. Asas Kebangsaan

5. Asas Kemanusiaan

Tujuan Perguruan Kebangsaan Taman Siswa adalah :

Ø Sebagai Badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat tertib dan damai.

Ø Membangun anak didik menjadi manusia yang merdeka lahir batin, luhur akal budinya, serta
sehat jasmaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bertanggung jawab atas
keserasian bangsa, tanah air, serta manusia pada umumnya.

2. INS KAYU TANAM

Ruang pendidik INS ( Indonesia Nederlandsche School ) didirikan oleh Mohammad Sjafei ( lahir
di Matan, Kalbar tahun 1895 ) pada tanggal 31 Oktober 1926 di Kayu Tanam ( Sumatera barat ).

a. Asas dan tujuan Ruang Pendidik INS Kayu Tanam

Pada awal didirikan, Ruang Pendidik INS Kayu Tanam mempunyai asas-asas sebagai berikut :

1) Berpikir logis dan rasional

2) Keaktifan atau kegiatan

3) Pendidikan masyarakat

4) Memperhatikan pembawaan anak


5) Menentang intelektualisme

Setelah kemerdekaan Indonesia, Moh. Sjafei mengembangkan asas-asas pendidikan INS menjadi
dasar-dasar pendidikan Republik Indonesia, menjadi sebagai berikut :

Ke-Tuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan, Kerakyatan, Kebangsaan, Kebangsaan, Gabungan


antara pendidikan ilmu umum dan kejuruan, Percaya pada diri sendiri juga pada Tuhan,
Berakhlak ( bersusila ) setinggi mungkin, Bertanggung jawab akan keselamatan nusa dan bangsa,
Berjiwa aktif positif, Mempunyai daya cipta, Cerdas, logis dan rasional, Berperasaan tajam,
halus dan estetis,Gigih atau ulet yang sehat,Correct atau tepat,Emosional atau terharu,Jasmani
sehat dan kuat,Cakap berbahasa,Sanggup hidup sederhana, Sanggup mengerjakan sesuatu
pekerjaan, Sebanyak mungkin memakai kebuyaan nasional, Waktu mengajar para guru menjadi
objek dan murid sebagai subjek, Para guru mencontohkan pelajaran-pelajarannya, Diusahakan
agar pelajar mempunyai darah ksatria, Mempunyai jiwa konsentrasi, Pemeliharaan(perawatan)
sesuatu usaha, Menepati janji, Sebelum pekerjaan dimulai dibiasakan menimbangnya dulu
sebaik- baiknya, Kewajiban harus dipenuhi, Hemat.

Tujuan Ruang Pendidik INS kayu Tanam adalah :

1. Mendidik rakyat ke arah kemerdekaan

2. Memberi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat

3. Mendidik para pemuda agar berguna untuk masyarakat

4. Menanamkan kepercayaan terhadap diri sendiri dan berani bertanggung jawab

5. Mengusahakan mandiri dalam pembiayaan