Você está na página 1de 10

Lex Crimen Vol. II/No.

7/November/2013

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA DARI Kata kunci: Anak di bawah umur,


ANAK DIBAWAH UMUR YANG pembunuhan
MELAKUKAN PEMBUNUHAN1
Oleh : Safrizal Walahe2 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
ABSTRAK Indonesia dengan berbagai macam
Ruang lingkup penelitian ini adalah pada permasalahan yang ada, yang kesemuanya
disiplin Ilmu Hukum, maka penelitian ini begitu kompleks dan membentuk suatu
merupakan bagian dari Penelitian Hukum mata rantai yang berhubungan dan tidak
kepustakaan yakni dengan cara meneliti dapat diputuskan, sehingga menyisakan
bahan pustaka atau yang dinamakan cerita tragis tentang nasib anak- anak
Penelitian Hukum Normatif, yaitu bangsa ini. Karena berbagai tekanan hidup,
penelitian yang dilakukan dengan cara mereka terjebak melakukan hal-hal yang
meneliti bahan pustaka atau data sekunder melanggar norma hukum yang hidup dalam
belaka. Hasil penelitian menunjukkan sanksi masyarakat.
apakah yang dikenakan terhadap anak yang Anak- anak yang melanggar norma yang
melakukan tindak pidana dan bagaimana hidup dalam masyarakat dan melakukan
pertanggungjawaban pidana dari anak di tindak pidana lazimnya disebut dengan
bawah umur yang melakukan ‘anak nakal’. Namun dalam Undang-
pembunuhan. Pertama, sanksi yang dapat Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang
dijatuhkan terhadap anak di bawah umur Sistem Peradilan Anak yang menggantikan
yang melakukan tindak pidana adalah Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997
sesuai dengan apa yang diatur dalam tentang Pengadilan Anak, istilah ‘anak
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 nakal’ digantikan dengan istilah ‘anak yang
tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yaitu berhadapan dengan hukum’. Dimana dalam
berupa pidana dan tindakan. Kedua, bahwa Bab I Pasal 1 butir 2 dikatakan bahwa:
pertanggungjawaban pidana anak di bawah “Anak yang berhadapan dengan hukum
umur yang melakukan pembunuhan adalah adalah anak yang berkonflik dengan
sesuai dengan ketentuan yang sudah diatur hukum, anak yang menjadi korban tindak
dalam KUHP dan UU No. 11 Tahun 2012 pidana dan anak yang menjadi saksi tindak
tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Dari pidana”. 3 Selanjutnya dalam butir 3
penelitian ini dapat disimpulkan bahwa disebutkan bahwa: “Anak yang berkonflik
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 dengan hukum yang selanjutnya disebut
tentang sistem Peradilan Anak telah ‘Anak’ adalah anak yang telah berumur 12
mengaturnya lewat sanksi pidana yang (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18
terdiri dari pidana pokok serta pidana (delapan belas) tahun, yang diduga
tambahan. Kemudian apabila benar melakukan tindak pidana”. 4
terbukti bahwa anak (di bawah umur) Bagi anak-anak sebagaimana disebutkan
melakukan tindak pidana pembunuhan dalam butir 3 tersebut bisa dijatuhkan
maka proses persidangan sesuai dengan hukuman atau sanksi berupa tindakan atau
ketentuan yang diatur dalam UU No. 11 pidana apabila terbukti melanggar
Tahun 2012 sedangkan hukumannya adalah perundang-undangan hukum pidana.
1/2 (satu perdua) dari hukuman orang Dalam Bab V Pasal 69 Undang-undang ini
dewasa.
3
Hadi Setia Tunggal, UU RI Nomor 11 Tahun 2012
tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, Harvarindo,
1
Artikel Skripsi Jakarta, 2013, hlm. 3.
2 4
NIM 090711578 Ibid.

43
Lex Crimen Vol. II/No. 7/November/2013

ditegaskan bahwa terhadap anak yang B. RUMUSAN MASALAH


berkonflik dengan hukum dapat dijatuhi 1. Sanksi apakah yang dikenakan
pidana dan tindakan5. Anak-anak terhadap anak yang melakukan tindak
membutuhkan rasa kasih sayang yang pidana?
merupakan kebutuhan psikis yang 2. Bagaimanakah pertanggung-jawaban
merupakan kebutuhan paling mendasar pidana dari anak di bawah umur yang
dalam kehidupan manusia apalagi bagi melakukan pembunuhan?
seorang anak. Perlindungan hukum anak
atau perlindungan anak secara yuridis C. METODE PENELITIAN
dapat meliputi perlindungan hukum anak Penelitian ini adalah penelitian hukum
dalam bidang hukum privat, dan dalam normatif atau penelitian hukum
bidang hukum publik. Perlindungan hukum kepustakaan, yaitu penelitian yang
anak dalam bidang hukum publik di dilakukan dengan cara meneliti bahan
antaranya meliputi perlindungan anak pustaka atau data sekunder belaka.6
dalam hukum pidana materil dan Adapun data sekunder dalam skripsi ini
perlindungan hukum anak dalam hukum mencakup :
pidana formil. Hukum pidana formil - Bahan hukum primer, yang terdiri dari
berkaitan dengan peradilan pidana anak peraturan perundang-undangan dalam
yang termasuk dalam bagian peradilan hal ini berupa: KUHP, UU No. 1/1974, UU
umum. No. 4/1979, UU No. 8/1981, UU No.
Dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 11/2012, UU No. 23 /2002.
2002 Tentang Perlindungan Anak pada - Bahan hukum sekunder, yang
Pasal 1 ayat (2) diberikan pengertian memberikan penjelasan mengenai
tentang ’perlindungan anak’ yaitu sebagai bahan hukum primer, seperti, karya-
berikut: karya tulis dari kalangan hukum,
”Perlindungan anak adalah segala pendapat para pakar hukum yang
kegiatan untuk menjamin dan berkaitan dengan isi dari skripsi.
melindungi anak dan hak-haknya agar - Bahan hukum tertier, yakni bahan yang
dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan memberikan petunjuk maupun
berpartisipasi secara optimal sesuai penjelasan terhadap bahan hukum
dengan hasrat dan martabat primer dan sekunder, seperti, kamus
kemanusiaan, serta mendapat hukum.
perlindungan dari kekerasan dan Bahan hukum yang terkumpul
diskriminasi.” kemudian diolah dan dianalisis secara
Berkaitan dengan perlindungan anak normatif kualitatif.
maka adalah menjadi tanggung jawab dan
kewajiban dari orang tua, masyarakat PEMBAHASAN
umum dan lembaga-lembaga yang diberi 1. Sanksi Hukum Bagi Anak Yang
wewenang oleh pengadilan serta Melakukan Tindak Pidana
pemerintah baik pusat maupun daerah, Anak yang belum berumur 12 (dua
ketentuan ini diatur dalam Pasal 20 sampai belas) tahun, walaupun melakukan tindak
dengan Pasal 26 Undang-Undang No. 23 pidana belum dapat diajukan ke sidang
tahun 2002. Terlebih apabila anak-anak pengadilan Anak. Hal demikian didasarkan
melakukan perbuatan-perbuatan
melanggar hukum.
6
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian
Hukum Normatif; Suatu Tinjauan Singkat, PT Raja
5
Ibid, hlm. 37. Grafindo Persada, Jakarta, 2003, hal-13.

44
Lex Crimen Vol. II/No. 7/November/2013

pada pertimbangan sosiologis, psikologis perundang-undangan tentang hal tersebut


dan paedagogis, bahwa anak yang belum akan menjadi pegangan bagi para petugas
berumur 12 (dua belas) tahun itu belum di lapangan, agar tidak terjadi salah
dapat mempertanggungjawabkan tangkap, salah tahan, salah didik, salah
7
perbuatannya. Anak yang belum berumur tuntut maupun salah mengadili, karena
12 (dua belas) tahun dan melakukan tindak menyangkut hak asasi seseorang.
pidana tidak dapat dikenai sanksi pidana Mengenai sanksi hukumnya, UU No. 11
maupun sanksi tindakan. Tahun 2012 telah mengaturnya
Untuk menentukan apakah kepada anak sebagaimana ditetapkan dalam Bab V Pasal
akan dijatuhkan pidana atau tindakan, 69 ayat (1), dan sanksi tersebut terdiri dari
maka Hakim mempertimbangkan berat dua (2) macam yaitu berupa:
ringannya tindak pidana yang dilakukan. Di 1. Pidana;
samping itu juga diperhatikan: keadaan 2. Tindakan.
anak, keadaan rumah tangga orang Berikut akan dibahas tentang 2 (dua)
tua/wali/orang tua asuh, hubungan antara jenis sanksi seperti yang disebutkan dalam
anggota keluarga, dan keadaan Pasal 69 ayat (1) UU Nomor 11 Tahun 2012.
lingkungannya. Dan juga Hakim wajib Sanksi yang pertama adalah sanksi
memperhatikan laporan Pembimbing berupa pidana. Pidana adalah hukuman
Kemasyrakatan. yang dijatuhkan atas diri seseorang yang
Dalam UU No. 11 Tahun 2012 tentang terbukti secara sah dan meyakinkan
Sistem Peradilan Pidana Anak, khusus melakukan tindak pidana. Menurut
mengenai sanksi terhadap anak ditentukan ketentuan Pasal 10 KUHP, hukuman itu
berdasarkan perbedaan umur anak yaitu, terdiri dari hukuman pokok dan hukuman
bagi anak yang belum berumur 14 tahun tambahan. Hukuman pokok terdiri dari
hanya dikenakan tindakan, demikian bunyi hukuman mati, hukuman penjara yang
Pasal 69 ayat (1) , sedangkan terhadap dapat berupa hukuman seumur hidup dan
anak yang telah mencapai umur di atas dua hukuman sementara waktu, hukuman
belas (12) sampai delapan belas (18) tahun kurungan dan hukuman denda. Sementara
dijatuhkan pidana. Pasal 70 mengatakan hukuman tambahan dapat berupa:
bahwa: ringannya perbuatan, keadaan pencabutan beberapa hak tertentu,
pribadi anak, atau keadaan pada waktu perampasan barang tertentu dan
dilakukan perbuatan atau yang terjadi pengumuman keputusan hakim.
kemudian dapat dijadikan dasar Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012
pertimbangan hakim untuk tidak tentang Sistem Peradilan Pidana Anak tidak
menjatuhkan pidana atau mengenakan mengikuti ketentuan sanksi pidana yang
tindakan dengan mempertimbangkan segi tertuang dalam Pasal 10 KUHP, namun
keadilan dan kemanusiaan. 8 membuat sanksi secara tersendiri. Pidana
Batasan umur tersebut tergolong sangat untuk anak dimuat dalam Pasal 71 sampai
penting dalam perkara pidana anak, karena dengan Pasal 81.
dipergunakan untuk mengetahui seseorang Berikut ini akan dijelaskan tentang sanksi
yang diduga melakukan kejahatan termasuk yang dapat dikenakan terhadap anak yang
kategori anak atau bukan. Adanya melakukan tindak pidana sebagaimana
ketegasan dalam suatu peraturan diatur dalam UU No. 11 Tahun 2012. Pasal
71 ayat (1) menyebutkan jenis-jenis pidana
7
Abintoro Prakoso, Pembaharuan Sistem Peradilan pokok adalah sebagai berikut:
Pidana Anak, Laksbang Grafika, Yogyakarta, 2013, 1. Pidana peringatan
hlm. 88.
8
Hadi Setia Tunggal, Op-Cit, hlm. 38.

45
Lex Crimen Vol. II/No. 7/November/2013

Dalam Pasal 72 disebutkan bahwa dan martabat anak serta tidak


pidana peringatan merupakan pidana membahayakan kesehatan fisik dan mental
ringan yang tidak mengakibatkan anak.
pembatasan kebebasan anak.
2. Pidana dengan syarat Sanksi hukum yang kedua adalah
Pidana dengan syarat diatur dalam Pasal tindakan. Dalam Pasal 82 dan Pasal 83 UU
73 sampai dengan Pasal 77. Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem
3. Pelatihan kerja Peradilan Pidana Anak, maka sanksi hukum
Jenis pidana pokok ‘pelatihan kerja’ tindakan itu adalah sebagai berikut:
diatur dalam Pasal 78 Pasal 82:
4. Pembinaan dalam lembaga (1)Tindakan yang dapat dikenakan kepada
Jenis pidana pokok ‘pembinaan di dalam anak meliputi:
lembaga’ diatur dalam Pasal 80 a. pengembalian kepada orang tua/wali;
5. Penjara b. penyerahan kepada seseorang;
Jenis pidana pokok penjara diatur dalam c. perawatan di rumah sakit jiwa;
Pasal 81 d. perawatan di Lembaga Penempatan
Dalam ayat (1) di atas disebutkan bahwa Anak Sementara (LPAS);
anak dijatuhi pidana penjara di Lembaga e. kewajiban mengikuti pendidikan
Pembinaan Khusus Anak (LPKA), menjadi formal dan/atau pelatihan yang
persoalan bilamana di daerah tersebut diadakan oleh pemerintah atau badan
tidak terdapat LPKA. Menurut swasta;
penjelasan Pasal 85 bahwa apabila di f. pencabutan surat izin mengemudi;
dalam suatu daerah belum terdapat dan/atau
LPKA, anaka dapat ditempatkan di g. perbaikan akibat tindak pidana.
Lembaga Pemsyarakatan yang (2)Tindakan sebagaimana dimaksud pada
penempatannya terpisah dari orang ayat (1) huruf d, huruf e, dan huruf f
dewasa. dikenakan paling lama 1 (satu) tahun.
(3)Tindakan sebagaimana dimaksud pada
Mengenai pidana tambahan, ayat (1) dapat diajukan oleh Penuntut
berdasarkan Pasal 71 ayat (2) dibagi atas Umum dalam tuntutannya, kecuali
dua (2) macam, yaitu: tindak pidana diancam dengan pidana
a. Perampasan keuntungan yang diperoleh penjara paling singkat 7 (tujuh) tahun.
dari tindak pidana; atau (4)Ketentuan lebih lanjut mengenai
b. Pemenuhan kewajiban adat. tindakan sebagaimana dimaksud pada
Di dalam penjelasan pasal 71 Undang- ayat (1) diatur dengan Peraturan
Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Pemerintah.
Sistem Peradilan Pidana Anak, tidaklah Mengenai ayat (1) huruf b yang
dijelaskan bagaiman yang dimaksud dengan menyebutkan bahwa anak yang berkonflik
pidana tambahan berupa ‘perampasan dengan hukum dapat diserahkan kepada
keuntungan yang diperoleh tindak pidana’, seseorang, menjadi pertanyaan bagaimana
hanyalah pidana tambahan berupa criteria seseorang tersebut yang akan
‘pemenuhan kewajiban adat’ yang menerima anak yang berkonflik dengan
dijelaskan. Dimana disebutkan bahwa yang hukum yang mendapatkan sanksi tindakan?
dimaksud dengan ‘pemenuhan kewajiban Hal ‘penyerahan kepada seseorang’,
adat’ adalah denda atau tindakan yang penjelasan Pasal 82 ayat (1) huruf b
harus dipenuhi berdasarkan norma adat menentukan bahwa seseorang tersebut
setempat yang tetap menghormati harkat adalah orang dewasa yang dinilai cakap,

46
Lex Crimen Vol. II/No. 7/November/2013

berkelakuan baik, dan bertanggung jawab anak itu sendiri, akan tetapi oleh karena
dan dipercaya oleh anak dan penyerahan terdakwa adalah seorang anak, maka tidak
itu dilakukan oleh Hakim. dapat dipisahkan kehadiran orang tua, wali
Untuk Pasal 82 ayat (1) huruf c yang atau orang tua asuhnya. Tanggung jawab
menyatakan bahwa anak diberikan anak dalam melakukan tindak pidana
perawatan di rumah sakit jiwa, maksudnya adalah anak tersebut bertanggung jawab
adalah bahwa tindakan ini diberikan dan bersedia untuk disidik, dituntut dan
kepada anak yang pada waktu melakukan diadili pengadilan, hanya saja, terdapat
tindak pidana menderita gangguan jiwa ketentuan-ketentuan dimana seorang anak
atau penyakit jiwa. tidak diproses sama halnya dengan
Untuk Pasal 82 ayat (1) huruf g, dimana memproses orang dewasa. Hal ini
terhadap anak yang berkonflik dengan dijelaskan dalam asas di dalam
hukum diberikan sanksi tindakan berupa pemeriksaan anak, yaitu:
‘perbaikan akibat tindak pidana’ misalnya a. Azas praduga tak bersalah anak dalam
memperbaiki kerusakan yang disebabkan proses pemeriksaan;
oleh tindak pidananya dan memulihkan b. Dalam suasana kekeluargaan;
keadaan sesuai dengan sebelum terjadinya c. Anak sebagai korban;
tindak pidana, demikian penjelasan pasal d. Didampingi oleh orang tua, wali atau
yang ada. penasehat hukum, minimal wali yang
mengasuh;
2. Pertanggungjawaban Pidana Dari Anak e. Penangkapan, penahanan sebagai upaya
Di Bawah Umur Yang Melakukan terakhir setelah dilakukan pertimbangan
Pembunuhan dengan catatan penahanan dipisahkan
Menurut Roeslan Saleh sebagaimana dari orang dewasa.
dikutip oleh Marlina bahwa, dipidana atau Pertanggungjawaban pidana dari anak di
tidaknya seseorang yang melakukan bawah umur yang melakukan tindak pidana
perbuatan pidana tergantung apakah pada akan dilihat dari aturan yang diatur dalam
saat melakukan perbuatan ada kesalahan KUHP maupun di luar KUHP.
atau tidak.9 Selanjutnya dikatakan pula
bahwa apakah seseorang yang melakukan 1.Pertanggungjawaban yuridis bagi anak di
perbuatan pidana itu memang mempunyai bawah umur di dalam KUHP
kesalahan maka tentu ia dapat dikenakan Hukum Pidana di Indonesia didasarkan
sanksi pidana, akan tetapi bila ia telah pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun
melakukan perbuatan yang terlarang dan 1946, tentang Kitab Undang-Undang
tercela, tetapi tidak mempunyai kesalahan Hukum Pidana (KUHP) yang bersumber
ia tentu tidak dipidana. 10 pada KUHP Belanda. KUHP ini merupakan
Pertanggungjawaban pidana hasil dari aliran klasik yang berpijak pada:
mensyaratkan pelaku mampu bertanggung a. Asas Legalitas, yang berarti bahwa
jawab. Ssesorang yang tidak dapat tiada pidana tanpa undang-undang,
dikenakan pertanggung jawaban pidana sebagaimana yang ditegaskan dalam Pasal
tidak dapat dimintakan pertanggung 1 ayat (1) KUHP. Jonkers mengatakan
jawaban pidana. bahwa:
Pada prinsipnya, tindak pidana yang “undang-undang merupakan sumber
dilakukan oleh anak adalah tanggung jawab langsung dari hukum pidana. Apa yang
dapat dipidana disebut dalam undang-
9
undang pidana. Apa yang tidak terkena
Marlina, Op-Cit, hlm.69.
10
Ibid.

47
Lex Crimen Vol. II/No. 7/November/2013

peraturan-peraturan itu, bagaimanapun 4. Tidak boleh ada perumusan delik yang


dapat dihukum, tidak dapat dipidana” 11 kurang jelas (syarat lex certa);
Asas ini lebih mengutamakan 5. Tidak ada ketentuan surut (retroaktif)
kepentingan formal daripada kepentingan dari ketentuan pidana;
hukum itu sendiri. Sekalipun hukum itu 6. Tidak ada pidana lain kecuali yang
jelas dan diperlukan oleh masyarakat, ditentukan undang-undang;
tetapi sepanjang hukum itu belum diatur 7. Penuntutan pidana hanya menurut cara
dalam undang-undang, hukum itu belum yang ditentukan undang-undang.
dapat ditegakkan. Dengan demikian, asas legalitas adalah
Pernyataan ini sejalan dengan pendapat suatu pertanggungjawaban yuridis yang
Moeljatno, bahwa: “Tidak ada perbuatan tertulis, tidak berlaku surut (retroaktif),
yang dilarang dan diancam dengan pidana, penegakannya tidak ditafsirkan secara
jika tidak ditentukan terlebih dahulu analogi dan eksistensinya harus sudah
dengan perundang-undangan. Biasanya ini diatur terlebih dahulu dalam undang-
dikenal dalam bahasa Latin sebagai Nullum undang sebelum perbuatan itu terjadi. Nilai
Delictum Nulla Poena Sine Praevia Lege yang paling mendasar dalam asas ini adalah
(tidak ada delik, tidak ada pidana tanpa jaminan kepastian hukum bagi seseorang
peraturan lebih dahulu).12 yang telah melakukan tindak pidana.
Dari pernyataan ini jelas bahwa undang-
undang merupakan kekuatan sentral dari b. Asas Kesalahan, yang berisikan
segala aturan yang ada. Sekalipun aturan bahwa seseorang hanya dapat dipidana
itu tampak jelas merugikan orang lain. karena telah terbukti bersalah melakukan
Karena aturan itu belum diatur dalam tindak pidana dengan sengaja atau karena
undang-undang, sehingga aturan yang kealpaan. Untuk menetukan seseorang
merugikan orang lain itutidak dilarang benar-benar bersalah, harus ada alat bukti
dalam undang-undang. Misalnya, yang cukutp, misalnya telah melakukan
perbuatan zina dilakukan oleh anak-anak perbuatan melanggar hukum, sebagaimana
sama-sama di bawah umur, tidak terikat unsure-unsur pasal yang didakwakan
dengan tali perkawinan, perbuatan penuntut umum, ada kesesuaian alat bukti
tersebut tidak dapat dikatakan tindak yang diajukan dalam persidangan.
pidana (perzinahan) sebagaimana yang Dari kedua asas ini, dapat ditarik
diatur dalam Pasal 284 KUHP. kesimpulan bahwa antara unsure kesalahan
Dalam asas legalitas terdapat 7 (tujuh) dan asas legalitas tidak adapat dipisahkan.
aspek yang dapat dibedakan yaitu:13 Asas legalitas merupakan jaminan
1. Tidak dapat dipidana kecuali kepastian hukum tertulis yang sekaligus
berdasarkan ketentuan pidana menurut sebagi pertanggungjawaban hukum dari
undang-undang; unsure kesalahan yang telah dilakukan oleh
2. Tidak ada penerapan undang-undang pelaku tindak pidana, pelanggar atau orang
pidana berdasarkan analogi; yang ikut serta melakukan tindakan pidana
3. Tidak dapat dipidana hanya berdasarkan tersebut.
kebiasaan; Pertanggungjawaban yuridis dalam
KUHP dapat didasarkan pada 2 (dua) visi,
yaitu: kemampuan fisik dan moral
11
Bunadi Hidayat, Pemidanaan Anak Di Bawah seseorang (pasal 44 ayat (1 dan 2) KUHP).
Umur, Alumni, Bandung, 2010, hlm. 39. Kemampuan fisik seseorang dapat dilihat
12
Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, Bina Aksara, dari kekuatan, daya dan kecerdasan
cet. I, Jakarta, 1983, hlm. 23.
13
Bunadi Hidayat, Op-Cit, hlm. 41.

48
Lex Crimen Vol. II/No. 7/November/2013

pikirannya.14 Secara eksplisit, istilah diserahkan kepada pemerintah atau


kemampuan fisik seseorang memang tidak badan hukum swasta untuk dididik
dapat disebutkan dalam KUHP, tetapi sampai berusia 18 (delapan belas) tahun.
secara implicit, seseorang yang kekuatan, (Pasal 46 KUHP);
daya, kecerdasan akalnya terganggu atau 3. Jika hakim menghukum sitersalah, maka
tidak sempurna, seperti idiot, imbicil, buta maksimal hukuman utama dikurangi
tuli, bisu sejak lahir, orang sakit, anak kecil sepertiga, jika perbuatannya diancam
(di bawah umur) dan orang yang sudah tua hukuman mati, dapat dijatuhi pidana
renta, fisiknya lemah, tidak dapt dijatuhi selama-lamanya 15 (lima belas) tahun
pidana. Demikian pula orang yang dan hukuman tambahan sebagaimana
kemampuan moralnya tidak sempurna, yang disebutkan dalam Pasal 10 KUHP
berubah akal seperti sakit jiwa, gila, huruf b angka 1 dan 3 tidak dijatuhkan
epilepsy dan macam-macam penyakit jiwa (Pasal 47 KUHP).
lainnya, juga tidak dapat dimintai
pertanggungjawaban yuridis. 2.Pertanggungjawaban pidana anak di
Kemampuan dalam melakukan bawah umur di luar KUHP
perbuatan hukum, pada hakikatnya Pertanggungjawaban pidana anak
merupakan salah satu persyaratan penting tidaklah cukup kalau hanya didasarkan
dalam mennetukan seseorang dapat pada hukum materiil seperti yang diatur
dimintai pertanggungjawaban yuridis atau dalam KUHP, karena KUHP tersebut
tidak. ketentuan hukumnya tidak saja masih
Bertalian dengan pertanggungjawaban bersifat konvensional, tetapi juga karena
yuridis terhadap anak di bawah umur, perilaku dan peradaban manusia sudah
setelah Pasal 45, 46 dan 47 KUHP dicabut, demikian kompleks bahkan
KUHP masih belum juga mengatur secara perkembangannya jauh lebih cepat
jelas tentang kedewasaan anak. Sebagai daripada aturan yang ada.15 Dengan
perbandingan bahwa dalam Pasal 45, Pasal demikian tidaklah dapat dihindarkan bahwa
46 dan Pasal 47 KUHP, ditentukan bahwa banyak muncul jenis-jenis kejahatan akibat
anak di bawah umur yang melakukan kemajuan teknologi, dan tidaklah dapat
tindak pidana: dihindarkan pula bahwa jenis-jenis
1. Jika tindak pidana dilakukan oleh anak kejahatan ini dapat dilakukan oleh anak-
berusia 9 (Sembilan) tahun sampai 13 anak (di bawah umur).
(tiga belas) tahun, disarankan kepada Oleh karena itu, melalui Pasal 103 KUHP,
hakim untuk mengembalikan anak masih dibenarkan adanya perbuatan lain
tersebut kepada orang tua atau walinya yang menurut undang-undang selain KUHP
dengan tanpa pidana; dapat dipidana sepanjang undang-undang
2. Jika tindak pidana tersebut dilakukan itu bertalian dengan masalah anak dan
oleh anak yang masih berusia 13 (tiga tidak bertentangan dengan KUHP (lex
belas) tahun sampai 15 (lima belas) Specialis Derogat Legi Generali).
tahun dan tindak pidananya masih Melalui asas ini pula, hukum pidana anak
dalam tingkat pelanggaran sebagaimana membenarkan undang-undang lain di luar
yang diatur dalam Pasal 489, 490, 492, KUHP yang bertalian dengan masalah anak
496, 497, 503, 505, 514, 517, 519, 526, seperti:
531, 532, 536 dan 540 KUHP, hakim
dapat memerintahkan supaya sitersalah
15 Ibid, hlm. 49.
14
Ibid, hlm. 46.

49
Lex Crimen Vol. II/No. 7/November/2013

1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Straf Zonder Schuld (tidak ada pidana,
tentang Sistem Peradilan Pidana; jika tidak ada kesalahan). 17
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 c. Keakurasian alat bukti yang diajukan
tentang Perlindungan Anak; penuntut umum dan terdakwa untuk
3. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 membuktikan kebenaran surat
tentang Narkotika; dakwaannya. Alat bukti ini, minimal
4. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1997 harus ada dua, jika tidak dipenuhi,
tentang Psikotropika; terdakwa tidak dapat dipidana (Pasal
5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 184 KUHAP).18
tentang Kekerasan Dalam Rumah Yang menjadi persoalan yuridis dari
Tangga; ketiga unsure di atas adalah unsure
6. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 ‘subyek’ atau pelaku tindak pidana.
tentang Hak Asasi Manusia jo. Undang- Sebelum Undang-Undang Nomor 3 Tahun
Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang 1997 tentang Pengadilan Anak
Pengadilan HAM; diberlakukan, Indonesia belum memiliki
7. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 batas usia minimum bagi anak yang dapat
tentang Tindak Pidana Terorisme; diajukan ke persidangan anak. Namun
Penggunaan undang-undang tersebut sekalipun demikian, tidak ada alasan bagi
dalam hukum pidana anak cukup beralasan, hakim untuk menolak perkara yang
karena dalam mencari kebenaran dan diajukan ke persidangan dengan alasan
keadilan dalam hukum pidana harus lebih belum ada hukum yang mengatur secara
menitikberatkan kebenaran hukum materiil jelas masalah batas usia minimum bagi
daripada kebenaran hukum formal. Untuk anak yang dapat diadili ke depan
itu, dalam mencari kebenaran hukum persidangan, oleh karena itu anak di bawah
materiil ini, hakim harus mengacu pada isi umur yang melanggar undang-undang
surat dakwaan yang disampaikan jaksa narkotika, psokotropika atau undang-
penuntut umum khususnya unsure-unsur undang lain di luar KUHP, dapat saja
pasal yang didakwakan termasuk dalam diajukan ke depan persidangan anak,
pembuatan putusan, harus mengacu pada sekalipun undang-undang tersebut tidak
unsure-unsur pasal yang didakwakan mengatur batasan usia minimum.
penuntut umum. Selanjutnya, dengan diberlakukannya
Untuk menentukan apakah perbuatan UU nomor 3 Tahun 1997 tentang
anak tersebut memenuhi unsure tindak Pengadilan Anak, tanggung jawab yuridis
pidana atau tidak, dapat dilihat minimal bagi anak menjadi lebih jelas dan lebih
melalui 3 (tiga) visi: mempunyai kepastian hukum dibanding
a. Subyek, artinya apakah anak tersebut dengan KUHP, terutama dalam hal telah
dapat diajukan ke persidangan anak? ditegaskannya batasan usia minimum bagi
Apakah anak tersebut memeiliki anak yang dapat diajukan ke depan
kemampuan bertanggung jawab persidangan anak menjadi 8 (delapan)
terhadap apa yang telah dilakukan.16 tahun sampai dengan 18 (delapan belas)
b. Adanya unsure kesalahan, artinya tahun (Pasal 4 ayat (1)). Dalam penjelasan
apakah benar anak itu telah melakukan Pasal 4 ayat (1) UU No. 3 Tahun 1997
perbuatan yang dapat dipidana atau tentang Pengadilan Anak, dijelaskan bahwa
dilarang oleh undang-undang. Hal ini batas umur 8 (delapan) tahun bagi anak
diperlukan untuk menghindari asas Geen
17
Ibid, hlm. 52.
16 18
Ibid, hlm. 51. Ibid.

50
Lex Crimen Vol. II/No. 7/November/2013

nakal yang dapat diajukan ke persidangaan tahun maka anak tersebut akan tetap
anak didasarkan atas pertimbangan diadili di persidangan anak.
sosiologis, psikologis dan pedagogis. Anak
yang belum mencapai 8 (delapan) tahun, PENUTUP
dianggap belum dapat A. Kesimpulan
dipertanggungjawabkan perbuatannya. 1. Bahwa sanksi yang dapat dijatuhkan
Batas usia minimum 8 (delapan) tahun ini, terhadap anak di bawah umur yang
secara pedagogis maupun psikologis jelas melakukan tindak pidana adalah sesuai
merugikan kepentingan anak. Anak yang dengan apa yang diatur dalam Undang-
berusia 8 (delapan) tahun yang diajukan Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang
jaksa ke persidangan anak, bisa saja dijatuhi Sistem Peradilan Pidana Anak yaitu
sanksi tindakan (Pasal 46 ayat (3 dan 4) UU berupa: pidana dan tindakan. Sanksi
No. 3 Tahun 1997). Padahal usia anak 8 pidana terdiri dari : pidana pokok
(delapan) tahun masih dalam taraf berupa; pidana peringatan, pidana
pengamatan terhadap perbuatan orang dengan syarat seperti pembinaan di luar
dewasa. Jika anak tersebut di penjara, anak lembaga, pelayanan masyarakat atau
ini akan terisolasi dari temannya maupun pengawasan, kemudian pelatihan kerja,
dari masyarakat, dan akan dinilai jahat oleh pembinaan dalam lembaga dan pidana
masyarakat dan atau teman di sekitarnya. penjara; serta pidana tambahan berupa:
Pada dasarnya, anak yang masih berusia 12 perampasan keuntungan yang diperoleh
(dua belas) tahun adalah anak yang masih dari tindak pidana dan pemenuhan
berada daam tingkat remaja awal (10 – 12 kewajiban adat. Sanksi tindakan berupa:
tahun), jiwanya masih labil, emosinya pengembalian kepada orang tua/wali,
masih tinggi dan belum dapat memecahkan penyerahan kepada seseorang,
masalah yang tergolong rumit. perawatan di rumah sakit jiwa,
Dengan diterbitkannya Undang-Undang perawatan di LPKS, kewajiabn mengikuti
Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem pendidikan formal dan/atau pelatihan
Peradilan Pidana Anak yang menggantikan yang diadakan oleh pemerintah atau
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 badan swasta, pencabutan SIM dan atau
tentang Pengadilan Anak yang perbaikan akibat tindak pidana.
menyebutkan bahwa ‘anak yang berkonflik 2. Bahwa pertanggungjawaban pidana
dengan Hukum’ adalah anak yang telah anak di bawah umur yang melakukan
berumur 12 ( dua belas) tahun tetapi belum pembunuhan adalah sesuai dengan
berumur 18 (delapan belas) tahun, maka ketentuan yang sudah diatur dalam
disini jelas bahwa para pembentuk undang- KUHP dan UU No. 11 Tahun 2012
undang telah sepakat bahwa umur 8 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
(delapan) tahun adalah memang suatu Apabila benar terbukti bahwa anak (di
umur yang masih belum dapat dimintakan bawah umur) melakukan tindak pidana
pertanggungjawaban atas perbuatan yang pembunuhan maka proses persidangan
dilakukannya, karena anak yang berumur sesuai dengan ketentuan yang diatur
demikian masih belum mengerti apa yang dalam UU No. 11 Tahun 2012 sedangkan
dilakukannya. Apabila anak yang belum hukumannya adalah ½ (satu perdua) dari
berumur 12 (dua belas) tahun melakukan hukuman orang dewasa.
atau diduga melakukan tindak pidana atau
dengan kata lain bahwa anak tersebut B. Saran
belum genap berumur 18 (delapan belas) 1. Bahwa sanksi yang ditetapkan dalam UU
No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem

51
Lex Crimen Vol. II/No. 7/November/2013

Peradilan Pidana Anak sudah baik dan SUMBER LAIN


benar adanya. UU No. 1 Tahun 1946 tentang Kitab
2. Bahwa anak yang sudah mampu Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
melakukan suatu tindak pidana berarti UU No. 4 Tahun 1979 tentang
anak tersebut sudah mampu untuk Kesejahteraan Anak.
bertanggung jawab atas perbuatannya. UU No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab
Undang-Undang Hukum Acara Pidana
DAFTAR PUSTAKA (KUHAP).
Huda, Chairil.., Dari Tiada Pidana Tanpa UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak-hak
Kesalahan menuju Kepada Tiada Asasi Manusia.
Pertanggungjawaban Pidana Tanpa UU No. 23 Tahun 2002 tentang
Kesalahan, Kencana Prenada Media, Perlindungan Anak.
Jakarta, 2006.,
Hidayat Bunadi, Pemidanaan Anak Di
Bawah Umur, Alumni, Bandung, 2010.
Maramis, Frans, Hukum Pidana Umum dan
Tertulis di Indonesia, RajaGrafindo
Persada, Jakarta, 2012.
Marlina, Peradilan Pidana Anak di
Indonesia, Refika Aditama, Bandung,
2009.
Moeljatno., Asas-asas Hukum Pidana, Bina
Akasara, Jakarta, 1983.
Poernomo Bambang, Asas-asas Hukum
Pidana, Ghalia Indonesia, Yogyakarta,
1992.
Prakoso Abintoro, Pembaharuan Sistem
Peradilan Pidana Anak, Laksbang
Grafika, Yogyakarta, 2013.
Saleh, Roeslan, Perbuatan Pidana dan
Pertanggungan Jawab Pidana, Akasara
Baru, Jakarta, 1981.
Soekanto Soerjono dan Sri Mamudji.,
Penelitian Hukum Normatif; Suatu
Tinjauan Singkat, PT Raja Grafindo
Persada, Jakarta, 2003.
Tunggal, Hadi Setia, UU RI Nomor 11 Tahun
2012, Harvarindo, Jakarta, 2013.
Teguh Prasetyo, Hukum Pidana,
RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2011.
Van Bemmelen, Hukum Pidana I, Bina Cipta,
Jakarta, 1979.
Wadong, Maulana Hasan., Pengantar
Advokasi dan Hukum Perlindungan Anak,
Gramedia, Jakarta, 2000.

52