Você está na página 1de 12

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Rahasia mengenai asal-usul kehidupan masih menjadi tanya besar. Untuk


menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, beberapa ilmuwan mengemukakan
teori dengan melakukan penelitian sejak zaman sebelum masehi hingga saat ini.
Ada dua pandangan terpisah mengenai asal-usul kehidupan. Pandangan kreasionis
menyatakan bahwa bumi tak lebih dari 10.000 tahun usianya.

Beberapa teori diatas maka lahirlah teori asal-usul tentang kehidupan yang
dicetuskan oleh para ilmuan terdahulu. Dimana telah melahirkan teori abiogenesis
(Aristoteles). Aristoteles beranggapan bahwa makhluk hidup sebetulnya berasal
dari makhluk tak hidup, karena dia melihat semut itu selalu keluar dari tanah
sehingga beranggapan bahwa semut itu berasal dari tanah. Teori yang
dikemukakannya dikenal sebagai teori generatio spontanea, yang berarti makhluk
hidup terbentuk secara spontan. Teori ini dikenal juga sebagai teori abiogenesis,
yang menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari benda tak hidup. Hingga
beratus-beratus tahun kemudian muncullah beberapa ilmuwan yang berusaha
mematahkan teori abiogenesis yang dilontarkan oleh aristoteles yang masih
bertahan pada saat itu. Diantara ilmuwan tersebut, yakn Fransisco Redi (Italia,
1626-1697 ), Lazzaro Spallanzani (Italia, 1972-1799) dan Louis Pasteur ( Prancis,
1822-1895).

Ilmuwan bernama Lazzaro Spallanzani melakukan percobaan dengan


menggunakan kuah kaldu, dimana ditempatkan di suatu wadah. Pada wadah itu
ada yang terbuka, ada yang tertutup, dan ada pula yang tertutup dan sudah
dipanasi. Lazzaro mengamatinya, dan memperhatikan perubahan yang terjadi
pada air kaldu. Setelah beberapa hari, Lazzaro memperhatikan perubahan yang
terjadi pada kaldu, dimana yang tidak tertutup dan yang tertutup tapi tidak
dipanasi kaldunya berubah warna, sedang yang tertutup tapi dipanasi tidak
mengalami perubahan. Dari hal itu dia beranggapan bahwa adanya
mikroorganisme pada kaldu. Sehingga terjadi perubahan pada kaldu itu kecuali

1
pada kaldu yang telah dipanasi. Berdasarkan hal diatas maka patahlah teori
abiogenesis yang telah bertahan selama ratusan tahun lamanya.

1.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum asal usul kehidupan adalah memperkenalkan konsep-


konsep penting tentang asal-usul kehidupan.

2
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum

Tantangan untuk menjelaskan asal usul kehidupan merupakan sumber krisis


terbesar yang dihadapi teori evolusi. Molekul-molekul organik sangat kompleks
dan pembentukannya bukanlah suatu kebetulan. Selain itu, telah terbukti bahwa
sel organik mustahil terbentuk secara kebetulan. (Bilbina, 1996).

Pertanyaan “dari manakah asal kehidupan?”, telah dicoba dijawab dengan


berbagai teori dan percobaan. Diantaranya adalah percobaan Spallanzani yang
meragukan kebenaran Abiogenesis / Generatio spontanea dari Aristoteles.
(Kuncoro, 2007). Secara umum, teori asal-usul kehidupan ada dua yaitu,
abiogenesis ( makhluk hidup berasal dari benda mati) dan (biogenesis makhluk
hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya). (Kuncoro, 2007). Teori generatio
spontanea pertama kali dikemukakan oleh seorang bangsa Yunani, yaitu
Aristoteles (394 - 322 sebelum masehi). Teorinya mengatakan bahwa makhluk
hidup pertama penghuni bumi ini adalah berasal dari benda mati. Timbulnya
makhluk hidup pertama itu terjadi secara spontan karena adanya daya hidup.
Paham generatio spontanea bertahan cukup lama yaitu sejak zaman Yunani kuno,
(ratusan tahun sebelum masehi) hingga pertengahan abad ke – 17. Pada abad ini
paham generatio spontanea seolah-olah diperkuat oleh Antonie Van
Leeuwenhoek, seorang bangsa Belanda. Dia menemukan mikroskop sederhana
yang dapat digunakan untuk melihat jentik-jentik (makhluk hidup) amat kecil
pada setetes rendaman air jerami. Hal inilah yang seolah-olah memperkuat paham
abiogenesis. (Kuncoro, 2007).

Lazzaro Spallanzani (1729-1799), dalam usahanya untuk membuktikan


bahwa konsepsi abiogenesis itu tidak benar, mendidihkan kaldu daging, yaitu
suatu larutan nutrisi dalam labu selama satu jam lalu wadah tersebut ditutupi
rapat-rapat. Maka tak ada jasad renik dalam labu tersebut. Tetapi hasil
percobaannya ini diperkuat lagi dengan rangkaian Needham bahwa mikroba
tidaklah muncul karena generasi spontan. Needham bersikeras bahwa diperlukan
udara untuk generasi spontan mikroba dan bahwa udara itu dikeluarkan dari labu

3
selagi percobaan Spallanzani maka tak ada mikroba yang muncul. Perbedaan
pendapat ini dipecahkan oleh dua peneliti secara terpisah, yaitu Franz Schulze
(1815-1873) dan Theodor Schwann (1810-1882). Schulze memasukkan udara
melewati larutan asam pekat ke dalam labu berisi kaldu daging yang dididihkan,
sedangkan Schwann melalui udara melalui tabung membara ke dalam labu berisi
kaldu daging yang dididihkan. Maka di dalam masing-masing labu itu tidak ada
mikroba karena tertutup oleh asam dan panas yang luar biasa. Namun tetap saja
hal ini belum meyakinkan mereka yang menyokong konsep abiogenesis. (Pelczar,
2007).

Percobaan Louis Pasteur pada tahun 1865 melakukan percobaan dengan


labu yang berisi air kaldu yang ditutup oleh suatu pipa yang melengkung seperti
leher angsa dapat meyakinkan bahwa tidak ada kehidupan yang dapat timbul dari
benda mati. Maka disimpulkannya pendapat itu dengan ucapan Omne vivum ex
ovo, Omne ovum ex vivo. Pendapat pasteur didukung oleh John Tyndall yang
menemukan suatu metode yang disebut Tyndalisasi untuk mensterilkan
media yang mengandung bakteri tahan panas yang tidak dapat dimatikan dengan
perebusan. (Pelczar, 2007).

Ternyata bakteri yang tahan panas pembentuk spora. Dengan demikian


runtuhlah pandangan yang menganggap bahwa mikroba dapat terjadi dari benda
mati dan munculah paham biogenesis yang menyatakan bahwa makhluk hidup
berasal dari makhluk hidup sebelumnya. (Ristiani, 2008)

2.2 Tinjauan Khusus

Teori abiogenesis Aristoteles diragukan oleh banyak ahli diantaranya


Francesco Redi (Italia), Lazzaro Spallanzani (Italia) dan Louis Pasteur (Perancis).
Mereka percaya bahwa makhluk hidup berkembang dari makhluk hidup
sebelumnya. Teori mereka dinamakan teori biogenesis. (Syamsuri, 2000).

1. Percobaan Francesco Redi (1626-1697)

Orang yang pertama melakukan percobaan untuk menentang teori


abiogenesis adalah Francesco Redi (1626-1697). Redi menggunakan dua kerat

4
daging segar dan dua toples. Toples pertama diisi dengan kerat daging dan ditutup
rapat, sedangkan toples kedua diisi dengan kerat daging dan dibiarkan terbuka.
Setelah beberapa hari, stoples pertama tidak ditemukan larva lalat. Sedangkan
pada toples yang kedua, daging telah membusuk dan terdapat banyak larva. Redi
menyimpulkan bahwa larva bukan berasal dari daging yang membusuk,
melainkan berasal dari lalat yang masuk kemudian bertelur dan menetas menjadi
larva. Hasil percobaan ini mendapat sanggahan dari ilmuwan penganut teori
abiogenesis. Sanggahan tersebut adalah kehidupan pada stoples pertama tidak
dapat terjadi karena stoples tersebut tertutup sehingga tidak ada kontak dengan
udara. Akibatnya tidak ada daya hidup didalamnya. (Syamsuri, 2000).

Redi melakukan percobaan kedua, yaitu meletakkan daging pada toples


yang ditutup dengan kain kasa sehingga masih terjadi hubungan dengan udara,
tetapi lalat tidak dapat masuk. Hasilnya, ditemukan sedikit larva dan pada kain
kasa penutupnya ditemukan lebih banyak larva. Kesimpulannya, larva berasal dari
lalat yang hinggap di kain kasa dan beberapa telur jatuh pada daging. (Syamsuri,
2000).

2. Percobaan Spallanzani (1765)

Lazzari Spallanzani pada tahun 1765 melakukan percobaan yang


berlawanan dengan teori Needham, Spallanzani menyatakan bahwa Needham
tidak merebus tabung cukup lama sampai semua organisme terbunuh dan
Needham juga tidak menutup leher tabung dengan rapat sekali sehingga masih
ada organisme yang masuk dan tumbuh. (Supatmo, 1998).

Spallanzani menyimpulkan bahwa, timbulnya suatu kehidupan sebelumnya,


mikroorganisme yang terdapat dalam kaldu percobaannya timbul karena adanya
mikroorganisme yang telah ada sebelumnya di udara. (Ristiani, 2008).

Spallanzani mencoba memperlihatkan bahwa mikroorganisme tadi tidak


muncul secara tiba-tiba. Kemudian ia, melakukan suatu percobaan, ia
mendidihkan kaldu gizi dalam labu kemudian menutupnya rapat-rapat sehingga
tidak dimasuki apapun dari luar. Kalau itu tetap bersih atau bening (steril). Akan
tetapi, mereka sedemikian rupa sehingga generatio spontanea tidak dapat terjadi.
(Supatmo, 1998).

5
3. Percobaan Louis Pasteur (1864)

Louis Pasteur pada tahun 1864 melakukan percobaan menggunakan tabung


leher angsa. Pasteur sendiri meyakini bahwa sebuah sel pasti berasal dari sel
lainnya. Pasteur merebus kaldu hingga mendidih dan kemudian mendiamkannya.
Pada prinsipnya, udara mampu masuk ke dalam tabung, namun partikel debu akan
menempel pada lekungan leher tabung. Setelah sekian lama, ternyata tidak ada
bakteri yang tumbuh. Namun setelah Pasteur memiringkan tabung leher angsa
tersebut air kaldu dalam tabung kemudian ditumbuhi oleh mikroba. Hal ini
membuktikan bahwa kehidupan juga berasal dari kehidupan sebelumnya. Setelah
ditumbangkannya teori abiogenesis oleh Louis Pasteur maka berkembanglah teori
biogenesis. Dengan pernyataannya yang terkenal omne vivum ex ovo, omne ovum
ex vivo,yang artinya kehidupan berasal dari telur dan telur berasal dari kehidupan
karena telah ada kehidupan sebelumnya. (Pratiwi, 2004)

Terdapat dua hal yang penting dalam karya Pasteur yang tidak mendapat
perhatian. Yang pertama, beliau tidak membuktikan bahwa generatio spontanea
tidak pernah akan terjadi. Sesungguhnya tidak mungkin untuk membuktikan hal
negatif tentang sesuatu. Pasteur sebagaimana redi sebelum beliau, hanya
menunjukkan contoh-contoh generatio spontanea yang disangka-sangka benar itu
akan gagal, jika organisme hidup yang memang sudah ada ditiadakan bahwa
kehidupan tak diciptakan secara spontan tetap secara pasti kita tidak mempunyai
bukti yang kuat. Yang kedua jika hal itu benar-benar berarti bahwa generatio
spontanea dari kehidupan itu tidak mungkin, maka tentang asal-usul kehidupan itu
tidak mungkin, maka tentang asal-usul kehidupan tidak dapat diterangkan dengan
dasar ilmiah (Kimball, 1983).

6
III. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Praktikum Pengamatan “Asal Usul Kehidupan” dilakukan pada Selasa, 18


September 2018 - Senin, 24 September 2018 pukul 07.30 – 09.10 WIB di
Laboratorium Biologi Dasar, Fakultas Pertanian, UPN “Veteran” Jawa Timur.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

1. Dua buah tabung reaksi

2. Rak tabung reaksi

3. Panci

4. Kompor

3.2.2 Bahan

1. Air kaldu

2. Kapas.

3.3 Langkah Kerja

1. Menyiapkan panci dan kompor, lalu merebus air kaldu hingga


mendidih.

2. Menuangkan air kaldu ke dalam tabung reaksi I dan menutup mulut


tabung dengan kapas.

3. Menuangkan air kaldu ke dalam tabung reaksi II dan membiarkannya


terbuka.

4. Menaruh tabung reaksi pad arak dan membiarkannya seminggu dan


mengamati perubahannya.

5. Mendokumentasikan hasil pengamatan

7
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Tabel 1.1. Pengamatan asal usul kehidupan berdasarkan endapan, bau, warna
selama seminggu

Hari / Terbuka Tertutup


Tanggal

Warna Bau Endapan Warna Bau Endapan

Rabu, 19 Bening Belum Belum Bening Belum Belum


September menyengat terbentuk menyengat terbentuk
2018

Kamis, 20 Bening Belum Mulai Sedikit Berubah Terbentuk


September menyengat terbentuk keruh sedikit
2018 endapan

Jumat, 21 Mulai Lumayan Lebih Semakin Menyengat Terbuntuk


September keruh menyengat banyak keruh banyak
2018 endapan endapan

Senin,24 Lebih Semakin Lebih Sangat Sangat Banyak


September keruh menyengat banyak dari keruh menyengat endapan.
2018 sebelumnya

8
Tabel 1.2. Gambar Perubahan Kaldu selama Seminggu

Endapan

Rabu Kamis Jumat Senin

4.2 Pembahasan

Pembahasan dari hasil praktikum yang didapatkan, yaitu :

a. Hari pertama (Rabu) : Kaldu pada tabung terbuka maupun tertutup belum
mengalami perubahan, warna masih bening dan belum terdapat bau yang
menyengat. Selain itu belum terdapat endapan di permukaan kaldu.

b. Hari kedua (Kamis) : Kaldu pada tabung terbuka mulai terbentuk


endapan sedangkan warna dan bau tidak memiliki banyak perubahan.
Kaldu pada tabung tertutup sudah mulai terbentuk endapan, bau kaldu
mulai berubah, warna sedikit keruh.

c. Hari ketiga (Jumat) : Kaldu pada tabung terbuka mulai lebih banyak
endapan, warna mengeruh, dan bau lumayan menyengat (busuk). Kaldu
pada tabung tertutup kapas bau tidak enak, endapan semakin banyak,
warna semakin keruh.

d. Hari keempat (Senin) : Kaldu pada tabung terbuka mengalami


pengendapan lebih banyak dari sebelumnya, warna lebih keruh, dan bau
menyengat. Kaldu pada tabung tertutup warna, bau, dan endapannya lebih
menyengat dan lebih banyak dari tabung terbuka.

Perubahan pada air kaldu tersebut sesuai dengan percobaan Spalanzzi


dalam Ristiani, 2008, yang menyatakan bahwa mikroorganisme tidak muncul

9
secara tiba-tiba. Air kaldu yang direbus dan ditutup rapat membuat kaldu steril
dari mikrooganisme, sehingga generatio spontanea idak terjadi.
Mikroorganisme yang berada dalam tabung reaksi bukan berasal dari air
kaldu, melainkan dari mikroorganisme lain yang telah ada sebelumnya di
udara.

10
V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan praktikum diatas, dapat disimpulkan bahwa makhluk hidup


tidak muncul secara spontan, hal ini sesuai dengan teori dan percobaan
Spallanzani. Perubahan pada kaldu seperti adanya endapan dan bau busuk
dikarenakan adanya mikroorganisme yang berasal dari udara yang masuk kedalam
tabung reaksi.

5.2 Saran

Saran dalam praktikum ini baik untuk praktikan, laboran maupun asisten
yaitu saran saya agar kiranya alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini
dirawat dengan baik, dijaga kebersihannya, demi kenyamanan, kelancaran dan
keberhasilan dalam melakukan suatu percobaan ataupun praktikum selanjutnya.
Dan saya harap kepada asisten ataupun dosen pembimbing agar kiranya
membimbing kami dengan semua apa yang dimiliki sehingga nantinya dalam
praktikum berlangsung dengan lancar yang semestinya diharapkan kepada kita
semua.

11
DAFTAR PUSTAKA

Kimbal, John W. 1983. Biologi Edisi 5 Jilid 3. Erlangga: Jakarta

Kuncoro, Putra. 2007. Dasar Biologi. Jakarta: Erlangga

Lay, Bilbina. 1996. Kehidupan Biologi. Jakarta: PAU Bioteknologi.

Pelczar, Chan. 2007. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI Press.

Pratiwi. 2006. Biologi. Solo. Bandung: Rineka cipta

Ristiani, Ni Putu. 2008. Pengatur Mikrobiologi Umum. Bandung: Penerbit Proyek

Supatmo. 1998. Biologi dasar. Jakarta: Bumi Aksara

Syamsuri, Istamar. 2000. Biologi 2000. Jakarta: Erlangga

12