Você está na página 1de 19

PANDUAN RAWAT GABUNG

RUMAH SAKIT ISLAM LUMAJANG

Jalan Kyai Muksin 19 Lumajang, 67312

Kecamatan Lumajang

i
PENGESAHAN DOKUMEN RS. ISLAM LUMAJANG
NAMA KETERANGAN TANDA TANGAN TANGGAL

Khusnul Wakidah S.I Pembuat Dokumen 12 Maret 2018

dr. Elvi Widiastuti, Sp.OG Authorized Person 12 Maret 2018

Dr. R. Elyunar Dwi Nugroho, MMRS Direktur RS. Islam 12 Maret 2018

Lumajang

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul ..................................................................................................................... i


Lembar Pengesahan .......................................................................................................... ii
Daftar isi ............................................................................................................................. iii
Surat Keputusan Diraktur RS Islam Lumajang .................................................................. iv
BAB I DEFINISI ............................................................................................................ 1
BAB II RUANG LINGKUP .............................................................................................. 4
BAB III TATA LAKSANA ................................................................................................. 8
BAB IV DOKUMENTASI ............................................................................................... 13

iii
RUMAH SAKIT ISLAM LUMAJANG
Jalan Kyai Muksin 19 Lumajang 67312
Telp : 0334-887999, 893535 (hunting), Fax : 0334-890425 e-mail : rsi_lmj@yahoo.com

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT ISLAM LUMAJANG


Nomor : 092 / RSIL / SKEP-DIR / III / 2018

TENTANG

PANDUAN RAWAT GABUNG

DIREKTUR RUMAH SAKIT ISLAM LUMAJANG

Menimbang : a. bahwa dalam rangka memenuhi hak ibu dan bayi di Rumah Sakit Islam
Lumajang, maka perlu adanya panduan Rawat Gabung;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam a, perlu


ditetapkan dengan Keputusan Direktur Rumah Sakit Islam Lumajang
tentang Panduan Inisiasi Menyusu Dini.

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang


Rumah Sakit;

2. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 512/Menkes/Per/IV/2007 tentang Izin


Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran;

3. Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1051/Menkes/SK/XI/2008


tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Obstetri Emergency
Komprehensif (PONEK) 24 jam di Rumah Sakit.

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT ISLAM LUMAJANG TENTANG


PANDUAN RAWAT GABUNG.

KESATU : Panduan Rawat Gabung Rumah Sakit Islam Lumajang sebagaimana tercantum
dalam Lampiran Keputusan ini;

iv
KEDUA : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya, dan apabila di kemudian
hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan diadakan perbaikan
sebagaimana mestinya;

Ditetapkan di : Lumajang
Pada tanggal : 24 Jumadil Akhir 1439 H
12 Maret 2018 M

DIREKTUR,

dr. R. ELYUNAR DWI NUGROHO, MMRS


NIK. 01.71.0008

v
Lampiran Keputusan Direktur Rumah Sakit Islam Lumajang
Nomor : 092/RSIL/SKEP-DIR/III/2018
Tanggal : 24 Jumadil Akhir 1439 H / 12 Maret 2018 M
Tentang : KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT ISLAM LUMAJANG TENTANG
PANDUAN RAWAT GABUNG

PANDUAN RAWAT GABUNG


BAB I
DEFINISI

1.1 PENGERTIAN RAWAT GABUNG


Rawat Gabung adalah pelayanan yang diberikan kepada bayi baru lahir, ditempatkan
bersaam ibunya dalam satu ruangan
Rawat gabung dimaksudkan agar bayi mudah diamati dan dijaga serta dijangkau oleh
ibunya setiap saaat, sehingga memungkinkan pemberian ASI kepada bayi sesuai dengan
kebutuhanya.
Rawat gabung adalah membiarkan ibu dan bayinya bersama terus menerus. Pada rawat
gabung / rooming-in bayi diletakkan di box bayi yang berada di dekat ranjang ibu sehingga
mudah terjangkau. Ada satu istilah lain, bedding-in, yaitu bayi dan ibu berada bersama-sama di
ranjang ibu.

1.2 TUJUAN RAWAT GABUNG


Tujuan umum yaitu menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi.
Tujuan khusus :
1. Memenuhi hak ibu dan bayi untuk selalu berada disamping ibu setiap saat.
2. Bayi segera memperoleh colostrum dan airr susu ibu.
3. Bayi memperoleh strimulasi mental dini untuk tumbuh kembang anak.
4. Bayi bisa memperoleh ASI setiap saat.
5. Ibu memperoleh dukungan dari suami dan keluarga dalam permberian ASI.
6. Ibu memperoleh pengalaman dalam merawat payudara dan cara menyusui yang benar.
7. Ibu dan keluarga memperoleh pengalaman cara merawat bayu baru lahir.
8. ibu dapat mengamati dan menjaga bayinya setiap saat.

1.3 JENIS RAWAT GABUNG DI RUMAH SAKIT


Rawat gabung dapat dilakukan secara :
1. Rawat Gabung Penuh : cara perawatan ibu dan bayi bersama-sama dalam satu ruang
secara terus menerus selama 24 jam.

1
2. Rawat Gabung Parsial : cara perawatan ibu dan bayi terpisah pada waktu tertentu
(misalnya pada malam hari dan waktu kunjungan bayi dipisahkan dari ibunya. Untuk bayi
yang mengalami asfiksia, maka rawat gabung dilaksanakan setelah tindakan resusitasi
selesai.

1.4 MANFAAT RAWAT GABUNG


1. Mempercepat Mantapnya dan Terus Terlaksananya Proses Menyusui
Dengan rawat gabung ibu dapat memberi ASI sedini mungkin, juga lebih mudah
memberikan ASI. Adanya kontak terus menerus antara ibu dan bayinya memungkinkan
ibu segera mengenali tanda-tanda bayinya ingin minum sehingga ibu/bayi dapat
menyusui/menyusui on demand. Ibu yang melakukan rawat gabung menghasilkan ASI
yang lebih banyak, lebih dini, menyusui lebih lama, dan lebih besar kemungkinannya
menyusui eksklusif dibandingkan ibu yang tidak melakukan rawat gabung.

2. Memungkinkan Proses Bonding


Rawat gabung akan meningkatkan ikatan batin antara ibu dan bayinya. Makin banyak
waktu ibu bersama bayinya, makin cepat mereka saling mengenal. Ibu siap memberikan
respon setiap saat. Rawat gabung juga dapat menurunkan hormon stres pada ibu dan
bayi. Bonding merupakan dasar secure attachment bayi dikemudian hari. Pembentukan
pribadi dasar (basic trust) merupakan dasar pribadi kokoh yang tangguh pada anak,
adalah hasil dari secure attachment yang berjalan baik. Bayi/anak percaya pada
lingkungan, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang penuh percaya diri.

3. Peralatan Minimal
Jika dilakukan rooming in (bedding-in, bayi satu tempat tidur dengan ibu), akan
mengurangi pembelian boks bayi. Pada bedding-in, bimbingan posisi menyusui dengan
posisi ibu tidur sebaiknya dilakukan sejak di Rumah sakit yang masih mengenal kan botol
untuk memberikan minum bayi (walau isinya ASI perah) akan mempersulit bayi
melekatkan mulutnya pada payudara ibu.

4. Menurunkan Infeksi
Adanya kontak kulit dengan kulit antara bayi dan ibu memungkinkan bayi terpapar pada
bakteri-bakteri normal pada kulit ibu, yang dapat melindungi bayi terhadap kuman-kuman
berbahaya. Kolostrum (ASI berwarna bening yang keluar di awal kelahiran dan jumlahnya

2
sangat sedikit) mengandung banyak antibodi, yang segera didapat bayi, juga melindungi
bayi terhadap penyakit. Dahulu, pelayanan kesehatan sering mendorong bayi ke kamar
bayi bila jam besuk tiba. Kekhawatiran bayi tertular penyakit dari pengunjung merupakan
alasan utama. Ibu yang sakit flu cukup memakai masker saja. Menyusui di kala ibu sakit
memberikan paparan antibodi yang dihasilkan pada ibu yang sakit. Antibodi terhadap
penyakit tertentu tidak akan terjadi saat ibu sehat. Juga penekanan kualitas kolostrum
yang sangat baik.

5. Keuntungan Untuk Bayi


Bayi yang dirawat gabung akan lebih jarang menangis, lebih mudah ditenangkan, lebih
tidur. Mereka minum lebih banyak dan berat badan yang lebih cepat naik. Ikterus lebih
jarang terjadi. Bayi juga lebih hangat karena berada dalam kontak terus menerus dengan
kulit ibunya.

6. Melatih Ketrampilan Ibu Merawat Bayinya Sendiri


Tindakan perawatan bayi yang dilakukan di dekat ibunya akan membantu ibu melatih
keterampilan merawat bayinya sendiri, sehingga pada saat pulang ibu sudah tidak
canggung lagi merawat bayinya. Hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri ibu.

3
BAB II
RUANG LINGKUP

2.1. PERSYARATAN RAWAT GABUNG


Persyaratan dalam rawat gabung terdiri dari :
1. Kondisi Bayi
a. Semua bayi
b. Kecuali bayi beresiko dan mempunyai kelainan yang tidak memungkinkan untuk
menyusu pada ibu.
2. Ibu
Ibu dalam keadaan sehat jasmani dan rohani.
3. Ruangan Rawat Gabung

a. Untuk Bayi

1) Bayi ditempatkan dalam box tersendiri dekat dengan tempat tidur ibu.

2) Bila tidak terdapat tempat tidur bayi, diletakkan di tempat tidur samping ibu
(bedding - in).

3) Agar mengurangi bahaya bayi jatuh, sebaiknya diberi penghalang (side guard)

4) Tersedianya pakaian bayi.

b. Untuk Ibu

1) Tempat tidur ibu, diusahakan rendah agar memudahkan ibu naik/turun. (Bila perlu
ada tangga injakan naik ke tempat tidur).

2) Tersedianya perlengkapan perawatan nifas.

c. Ruangan

1) Ruangan cukup hangat, sirkulasi udara cukup, suhu minimal 28°C.


Ruangan unit ibu/bayi yang masih memerlukan pengamatan khusus harus dekat
dengan ruang petugas (di rumah sakit).

d. Sarana

1) Lemari pakaian (ibu dan bayi).

2) Tempat mandi bayi dan perlengkapannya.

4
3) Tempat cuci tangan ibu (air mengalir).

4) Kamar mandi tersendiri bagi ibu.

5) Sarana penghubung (bel/intercom)

6) Tersedia poster, leaflet, buku-buku, model tentang manajemen laktasi.

2.2. KRITERIA RAWAT GABUNG


1. Ibu dan Bayi dalam Keadaan Sehat
a. Lahir spontan, baik presentasi kepala maupun bokong.
b. Bila lahir dengan tindakan, maka rawat gabung dilakukan setelah bayi cukup sehat,
refleks mengisap baik, tidak ada tanda infeksi dan sebagainya.
c. Bayi yang lahir dengan sectio cesarea dengan anestesia umum, rawat gabung
dilakukan segera setelah ibu dan bayi sadar penuh (bayi tidak ngantuk), misalnya 4-
6 jam setelah operasi selesai. Bayi tetap disusukan meskipun mungkin ibu masih
mendapat infus.
d. Bayi tidak asfiksia setelah lima menit pertama (nilai Apgar minimal 7).
e. Umur kehamilan 37 minggu atau lebih.
f. Berat lahir 2000-2500 gram atau lebih.
g. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi intrapartum.

2. Ibu dan Bayi dalam Kondisi Tidak Sehat


a. Bayi yang sangat prematur.
b. Bayi berat lahir kurang dari 2000-2500 gram.
c. Bayi dengan sepsis.
d. Bayi dengan gangguan napas.
e. Bayi dengan cacat bawaan berat, misalnya : hidrosefalus, meningokel, anensefali,
atresia ani, abio/palato/galactoschizis, omfalokel, dan sebagainya).
f. Ibu dengan infeksi berat, misalnya KP terbuka, sepsis, dan sebagainya.
g. Kriteria-kriteria masih ditentukan juga oleh beberapa aspek pertimbangan klinis,
misalnya bayi dengan berat badan 2000-2500 gram meskipun keadaan lain-lainnya
dalam batas normal, perawatan gabungnya harus dengan pengawasan yang sangat
ketat.

5
2.3. PERAN DALAM MENCIPTAKAN RAWAT GABUNG

1. Peran Institusi

a. Pimpinan mengeluarkan kebijakan yang mendukung pelaksanaan rawat gabung

b. Mensosialisasikan kebijakan pada unsur terkait.

c. Menyiapkan sarana dan prasarana yang mendukung.

d. Menyiapkan SDM yang terampil.

e. Melakukan monitoring dan evaluasi.

f. Memberikan Reward dan Punishment secara internal.

2. Peran Tenaga Kesehatan

a. Melaksanakan kebijakan dan tata tertib rawat gabung.

b. Melaksanakan perawatan ibu dan anak.

c. Merencanakan, melaksanakan dan menilai kegiatan-kegiatan KIE (Komunikasi,


Informasi dan Edukasi) kepada ibu dan keluarganya.

d. Memotivasi ibu melakukan perawatan payudara, cara menyusui, perawatan bayi, dan
perawatan nifas.

e. Mengatasi masalah laktasi.

f. Memantau keadaan ibu dan bayi terutama dapat mengidentifikasi kelainan yang
timbul.

g. Melakukan pencatatan pelayanan yang diberikan.

3. Peran Ibu

a. Mempraktekkan hal-hal yang diajarkan petugas kesehatan, misalnya : merawat


payudara, kebersihan diri, menyusui dan merawat bayi.

b. Mengamati kelainan yang terjadi pada bayi atau dirinya dan melaporkan kepada
petugas

4. Peran Suami dan Keluarga

a. Memberikan dukungan pada ibu.

6
b. Membantu merawat ibu dan bayi.

c. Membantu persiapan alat kebutuhan ibu dan bayi.

d. Mengambil keputusan yang mendukung.

7
BAB III
TATA LAKSANA

3.1. PRAKTEK RAWAT GABUNG


1. Cara Memandikan Bayi
a. Siapkan alat-alat.
b. Cuci tangan sebelum dan sesudah memandikan bayi.
c. Bayi diletakkan telentang di atas tempat tidur / meja dengan alas perlak dan handuk.
d. Muka dan telinga dibersihkan dengan kain (waslap) basah kemudian dikeringkan
dengan handuk.
e. Seluruh tubuh bayi disabun dengan menggunakan waslap yang telah diolesi sabun
(leher, dada, perut, lipatan ketiak, kedua tangan / lengan, kedua kaki / tungkai,
bagian belakang bayi).
f. Bayi dibersihkan dengan menggunakan kain lap (waslap) basah dalam ember mandi
bayi.
g. Bayi diangkat dan dikeringkan dengan handuk.
h. Tali pusat ditutup dengan kain kasa yang telah direndam dalam alkohol 70%.
i. Dada, perut dan punggung diolesi minyak telon, tempat lipatan seperti pangkal paha,
ketiak dan leher diberi bedak supaya tidak mudah lecet, dan diberi pakaian.

2. Cara Menyusui
a. Cuci tangan sebelum dan sesudah menyusui.
b. Ibu duduk atau berbaring santai.
c. Payudara dipijat / massage supaya lemas.
d. Tekan areola antara ibu jari dan telunjuk sehingga keluar beberapa tetes ASI.
Oleskan ASI tersebut pada putting susu dan areola sekitarnya sebelum menyusui.
e. Bayi diletakkan di pangkuan bila ibu duduk, dan di sebelah ibu bila ibu tiduran.
f. Ibu harus memegang payudara dengan posisi ibu jari di atas dan keempat jari
lainnya di bagian bawah payudara.
g. Sebagian besar areola payudara harus berada di dalam mulut bayi.
h. Setiap payudara harus disusui sampai kosong, kurang lebih 10-15 menit.
i. Bayi menyusu pada dua payudara bergantian, setelah payudara pertama terasa
kosong.

8
j. Bila akan melepaskan mulut bayi dari putting susu, masukkan jari kelingking antara
mulut bayi dan payudara.
k. Sesudah selesai menyusui, oleskan ASI pada putting susu dan areola sekitarnya
serta biarkan kering oleh udara.
l. Bayi digendong di bahu ibu atau dipangku tengkurap agar dapat bersendawa.
m. Periksa keadaan payudara, mungkin ada perlukaan / pecah-pecah atau terbendung.
n. Bayi menyusu setiap kali membutuhkan, sebagian dengan posisi berubah-ubah.
o. Pakailah bahan penyerap ASI di balik kutang, di luar waktu menyusui.

3. Cara Merawat Tali Pusat

a. Siapkan alat-alat.

b. Cuci tangan sebelum dan sesudah merawat tali pusat.

c. Tali pusat dibersihkan dengan kain kasa yang dibasahi alkohol 70%.

d. Setelah bersih, tali pusat dikompres alkohol / povidon iodine 10% (betadine) lalu
dibungkus dengan kain kasa steril kering.

e. Setelah tali pusat terlepas / puput, pusar tetap dikompres dengan alkohol / povidon
iodine 10% sampai kering.

3.2. LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN RAWAT GABUNG


Untuk melaksanakan rawat gabung ibu dan bayi yang perlu dipersiapkan adalah institusi
pelayanan, ibu hamil, suami, dan atau keluarga, petugas, sarana dan prasarana pelayanan.

1. Institusi Pelayanan

a. Perlu adanya kebijkan yang tertulis dari Rumah Sakit yang merupakan komitmen
dari unsur terkait untuk menunjang keberhasilan pelaksanaan rawat gabung ibu dan
bayi.

b. Rawat gabung ibu dan bayi merupakan salah satu kegiatan/program untuk
mendukung keberhasilan menyusui pada program sayang ibu dan sayang bayi

c. Program sayang ibu dan sayang bayi dengan memberikan hak ibu antara lain :
medapat pelayanan yang sesuai standar, dekat dengan bayinya, bisa mencurahkan
kasih sayang sesuai keinginan.

9
d. Hak bayi, antara lain : mendapatkan gizi terbaik untuk tumbuh dan kembang. Gizi
terbaik bagi bayi adalah Air Susu Ibu (ASI) yang tidak dapat tergantikan oleh
apapun, dan juga dapat setiap saat mendapatkan ASI sesuai kebutuhan, mendapat
kasih sayang dan selalu dekat dengan ibunya.

2. Ibu Hamil, Suami dan atau Keluarga

a. Salah satu faktor keberhasilan menyusui adalah kesiapan calon ibu dan dukungan
dari keluarga. Sehingga sejak awal ibu hamil sudah memahami pengertian rawat
gabung.

b. Suami dan keluarga perlu juga mendapatkan informasi tentang rawat gabung ibu
dan bayi sejak masa kehamilan pada waktu pelayanan Antenatal Care (ANC).

c. Informasi dapat diperoleh melalui sosialisasi tentang rawat gabung ibu dan bayi
minimal 2 kali pertama pada ANC (trisemester 1 dan 2), dimulai secara kelompok,
dilanjutkan dengan konseling kepada ibu, suami dan keluarga.

3. Petugas
Kesiapan petugas dalam melaksanakan rawat gabung ibu dan bayi adalah sebagai
berikut:

a. Memahami pentingnya rawat gabung untuk kesejahteraan ibu dan bayi.


b. Mampu menilai persyaratan ibu dan bayi untuk dilakukan rawat gabung.
c. Terampil dalam memberikan asuhan rawat gabung untuk kesejahteraan ibu dan
bayi.
d. Terampil melakukan asuhan pada ibu dan bayi yang lahir dengan tindakan.
e. Mampu menolong ibu dalam memposisikan bayi dan perlekatan yang baik.
f. Mampu menolong ibu dalam mengatasi kendala yang timbul dalam menyusui
bayinya, misalnya : puting ibu lecet, payudara bengkak, dll.
g. Mampu menolong ibu memerah ASI, bila atas indikasi medis bayi harus berpisah
dari ibunya.
h. Memahami dan mampu melaksanakan laktasi yang benar.
i. Pelatihan petugas untuk menghindari hambatan dalam pelaksanaan rawat gabung.

10
4. Sarana dan Prasarana Pelayanan Rawat Gabung
Untuk melaksanakan rawat gabung perlu adanya saran dan prasarana yang mendukung,
antara lain :

a. Ruang klinik kebidanan (ANC) dilengkapi dengan ruang konsultasi dan pojok laktasi.
b. Kamar bersalin : ruang nifas dengan rawat gabung dengan ruang penyuluhan dan
bimbingan.
c. Ruang perinatologi, dilengkapi dengan ruang istirahat bagi ibu yang bayinya dirawat.
d. Sarana dan prasarana yang tersedia harus memenuhi persyaratan rawat gabung.

3.3. PELAKSANAAN RAWAT GABUNG IBU DAN BAYI

1. Pelaksanaan rawat gabung hendaknya disiapkan semenjak perawatan kehamilan (ANC).

2. Diawali dengan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) pada masa persalinan di kamar bersalin.

3. Dilanjutkan rawat gabung di ruang perawatan, antara lain :


a. Menyusui On Cue (melihat tanda-tanda bayi ingin menyusui).
b. Menyusui eksklusif.
c. Asuhan bayi baru lahir, antara lain :

1) Mencegah hypotermi.

2) Pemeriksaan klinis bayi.

3) Perawatan umum (merawat tali pusat, mengganti popok, memandikan bayi,


menjaga hygiene bayi).

4) Deteksi dini bayi baru lahir.


d. Asuhan ibu nifas, antara lain :

1) Puerperium.

2) Breast care, termasuk memerah dan menyimpan ASI.

3) Perdampingan menyusui, termasuk perlekatan dan posisi menyusui yang


benar, mengenali tanda bayi ingin menyusu, dan tanda bayi telah puas dalam
menyusu.

4) Mengenali hambatan nifas.

5) Asuhan ibu nifas pasca tindakan.

11
6) Membantu ibu bila ditemukan penyulit dalam menyusui (kelainan puting,
pembengkakan mamae, engorgement, dll).

7) Senam nifas.

e. Komunikasi Informasi Edukasi (KIE)


Keberhasilan dalam melaksanakan rawat gabung ibu dan bayi, untuk mendukung
keberhasilan menyusui, calon ibu perlu mendapatkan informasi tentang :

1) Nutrisi ibu menyusui.

2) Pengetahuan tentang menyusui secara eksklusif.

3) Kerugian bila bayi tidak mendapatkan ASI.

4) Manajemen laktasi yang benar, termasuk kendala dalam menyusui bayi.

5) Mengenali tanda-tanda bahaya pada ibu dan bayi.

6) Perawatan payudara, cara memerah, menyimpan dan memberikan ASI


dengan sendok.

7) KB terutama Metode Amenorrhoe Laktasi (MAL).

12
BAB IV
DOKUMENTASI

Pencatatan merupakan bukti dari kualitas pelayanan / asuhan yang diberikan kepada ibu dan bayi,
hal-hal yang perlu ditulis/direkam pada pencatatan dan pelaporan rawat gabung adalah :

4.1. Cakupan Rawat Gabung


1. Jumlah rawat gabung
a. Rawat gabung penuh
b. Rawat gabung parsial
2. Inisiasi menyusu dini
3. Menyusui On Cue

Pendokumentasian rawat gabung menggunakan formulir :


1. Formulir Follow Up Bayi
2. Informasi dan Persetujuan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan Rawat Gabung
3. Formulir Rawat Gabung dan ASI Eksklusif

4.2. Jumlah Persalinan


1. Persalinan normal.
2. Persalinan dengan tindakan.

4.3. Jumlah Ibu dan Bayi yang Bermasalah dalam Menyusui.

4.4. Jumlah Rujukan (dirujuk atau menerima rujukan).


Pencatatan dan pelaporan menggunakan sistem dan format yang telah ada, misalnya :
mencatat asuhan yang diberikan oleh petugas kesehatan untuk ibu dan bayi yaitu pada rekam
medis.

13
Alur pelaporan mengikuti sistem yang telah ada, misalnya : di rumah sakit dari ruangan di
koordinir oleh bagian pencatatan dan pelaporan RS. Pencatatan dan pelaporan ini penting
dilaksanakan, sebab catatan ini merupakan data yang dapat dianalisis dan dapat digunakan
sebagai bahan informasi.

Ditetapkan di : Lumajang
Pada tanggal : 24 Jumadil Akhir 1439 H
12 Maret 2018 M

DIREKTUR,

dr. R. ELYUNAR DWI NUGROHO, MMRS


NIK. 01.71.0008

14