Você está na página 1de 4

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Penyakit kencing manis semakin banyak diderita penduduk dunia. Jumalah

penderita kencing manis bertambah karena usia harapan hidup ( UHH) semakin

meningkat,terutama di negara-negara maju sehingga berdampak pada jumlah

penderita kencing manis juga semakin meningkat di dunia. Banyak penderita

kencing manis yang semakin berhasil bertahan sampai lanjut usia meskipun

sampai sekarang belom ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini (IKPI

DKI Jakarta ,2015).

Kencing manis atau diabetes militus (DM) merupakan penyakit

metabolisme yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula darah (glukosa)

seseorang didalam tubuh yang tinggi melebihi batas normal (hyperglycimea).

Kadar gula yang tinggi dikeluarkan melalui air seni (urin),sehingga air seni

mengandung gula atau manis sehingga disebut sebagai penyakit kencing manis.

Kencing manis pada akhirnya bisa menimbulkan komplikasi baik akut maupun

kronis (IKPI DKI Jakarta ,2015).

Berdasarkan laporan WHO, kasus kasus kencing manis di indonesia pada

tahun 2010 berjumlah sebesar 3% dari total penduduk indonesia (239.870.973)

atau sekitar 7 juta jiwa lebih menderita kencing manis. Bisa diartikan bahwa dari

100% orang penduduk indonesia 3 orang terkena kencing manis.Tahun 2013

kencing manis mengalami peningkatan menjadi 6% dari 247 juta penduduk

indonesia, atau sekitar 14.820.000 jiwa yang menderita kencing manis. Sebuah
peningkatan yang sangat fantastisyaitu sebesar 100% (meningkat sekitar 7 juta

lebih) hanya dalam kurun dalam waktu 3 tahun (IKPI DKI Jakarta ,2015).

Berdasarkan data Riset Kesehatan (RisKesdes) di indonesia terdapat 10 juta

orang penderita diabetes, dan 17,9 juta orang yang beresiko menderita penyakit

ini. Sementara provinsi jawa timur masuk 10 besar prevalensi penderita diabetes

se-indonesia atau menempati urutan kesembilan dengan prevalensi 6,8. Angka ini

satu tingkat diatas DKI Jakarta yang berada diurutan kesepuluh dengan prevalensi

11,1 (Kominfo Jawa timur,2015).

Diabetes juga dapat dianggap sebagai penyakit yang disebabkan oleh

kelainan reaksi kimia dalam hal penggunaan yang tepat dari karbohidrat, lemak,

dan protein dari makanan karena kekurangan pengeluaran atau kekurangan

insulin. Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh pankreas untuk mengatur

jumlah gula dalam darah. Gula darah tinggi adalah jika kadar gula darah pada saat

puasa lebih dari 126 mg / dl dan pada saat tidak cepat lebih dari 200 mg / dl. Ada

juga beberapa faktor siapa saja yang bisa terkena diabetes militu diantaranya,

kedua orang tua mengidap penyakit DM, pernah melahirkan bayi dengan berat

badan lahir > 4 kg, terkena virus tertentu misalnya virus morbili virus yang

menyerang kelenjar ludah dan lain-lain (Misdiarly,2006).

Akibat yang muncul secara akut dan kronik yang timbul beberapa bulan

atau beberapa tahun sesudah mengidap DM, Rambut terserang rambut mudah

rontok dan menyerang telinga, bila keadaan ini tidak segera diobati dan DM yang

dideritanya tidak dirawat dengan baik, pendengaran akan merosot dan bahkan

menjadi tuli. Penyakit DM dapat menyebabkan lensa mata menjadi keruh (tampak

putih) dan penderita mengeluh kabur, lensa yang keruh disebut katarak dan perlu
dioprasi (operasi ringan). Tanpa dioprasi katarak yang sudah parah tidak dapat

disembuhkan dan akan terus mengganggu penglihatan (Misdiarly,2006).

Adapun beberapa hal yang bisa dilakukan atau dianjurkan kepada orang

yang terkena diabetes militus yaitu dengan cara pencegehan primer dan sekunder.

Pencegahan primer seperti pola makan sehari hari harus seimbang dan tidak

berlebihan, olahraga yang teratur dan tidak banyak berdiam diri. Pencegahan

sekunder meliputi deteksi dini penderita diabetes militus, terutama bagi kelompok

yang beresiko tinggi terkena diabetes militus meliputi diet sehari hari harus

seimbang dan kuat, menjaga berat badan dalam batas normal, dan olah raga yang

teratur sesuai dengan kemampuan fisik dan umur (Swara, 2004).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan masalah

sebagai berikut:

1. Bagaimana obesitas pada penderita Diabetes Mellitus?

2. Bagaimana kadar gula darah pada penderita Diabetes Mellitus?

3. Adakah pengaruh obesitas terhadap kadar gula darah pada penderita

Diabetes Mellitus?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengaruh obesitas terhadap kadar gula darah pada

penderita Diabetes Mellitus.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Mengidentifikasi obesitas pada penderita Diabetes Mellitus.

2. Mengidentifikasi kadar gula darah pada penderita Diabetes

Mellitus.

3. Menganalisis pengaruh obesitas terhadap kadar gula darah pada

penderita Diabetes Mellitus.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Teoritis

Manfaat penelitian ini difokuskan untuk menganalisa dan

membuktikan teori tentang adanya pengaruh obesitas terhadap kadar

gula darah pada penderita Diabetes Mellitus.

1.4.2 Praktis

1. Bagi penulis

Sebagai proses dalam menambah pengetahuan dan wawasan

peneliti dengan cara mengaplikasikan teori-teori medical bedah

yang didapat selama perkuliahan, khususnya tentang teori Diabetes

Mellitus.

2. Bagi Responden / Masyarakat

Sebagai tambahan sumber informasi dan media untuk peningkatan

pengetahuan masyarakat mengenai pengaruh obesitas terhadap

kadar gula darah pada penderita Diabetes Mellitus, sehingga

masyarakat dapat lebih menjaga IMT sebagai upaya meminimalisir

terjadinya Diabetes Mellitus pada dirinya.