Você está na página 1de 12

ADAT ISTIADAT SUKU BATAK

Batak merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia. Nama ini merupakan sebuah tema kolektif
untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal
dari Tapanuli dan Sumatera Timur, di Sumatera Utara. Suku bangsa yang dikategorikan sebagai
Batak adalah:Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola,
dan Batak Mandailing.
Saat ini pada umumnya orang Batak menganut agama Kristen Protestan, Kristen Katolik,
dan Islam Sunni. Tetapi ada pula yang menganut kepercayaan tadisional yakni:
tradisi Malim dan juga menganut kepercayaan animisme (disebut Sipelebegu atau Parbegu),
walaupun kini jumlah penganut kedua ajaran ini sudah semakin berkurang.
Konsep Religi Suku Bangsa Batak – Debata Mulajadi Na Bolon
Di daerah Batak atau yang dikenal dengan suku bangsa Batak, terdapat beberapa agama, Islam
dan Kristen (Katolik dan Protestan). Agama Islam disyiarkan sejak 1810 dan sekarang dianut
oleh sebagian besar orang Batak Mandailing dan Batak Angkola.
Agama Kristen Katolik dan Protestan disyiarkan ke Toba dan Simalungun oleh para zending dan
misionaris dari Jerman dan Belanda sejak 1863. Sekarang ini, agama Kristen (Katolik dan
Protestan) dianut oleh sebagian besar orang Batak Karo, Batak Toba, Batak Simalungun, dan
Batak Pakpak.
Orang Batak sendiri secara tradisional memiliki konsepsi bahwa alam ini beserta isinya
diciptakan oleh Debata Mulajadi Na Bolon (Debata Kaci-kaci dalam bahasa Batak Karo).
Debata Mulajadi Na Bolon adalah Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki kekuasaan di atas langit
dan pancaran kekuasaan-Nya terwujud dalam Debata Natolu, yaitu Siloan Nabolon (Toba) atau
Tuan Padukah ni Aji (Karo).
 Menyangkut jiwa dan roh, orang Batak mengenal tiga konsep yaitu sebagai berikut.
 Tondi, adalah jiwa atau roh seseorang yang sekaligus merupakan kekuatannya.
 Sahala, adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang.
 Begu, adalah tondi yang sudah meninggal.
Konsep Ikatan Kerabat Patrilineal Suku Bangsa Batak
Perkawinan pada orang Batak merupakan suatu pranata yang tidak hanya mengikat seorang laki-
laki atau perempuan. Perkawinan juga mengikat kaum kerabat laki-laki dan kaum kerabat
perempuan.
Menurut adat lama pada orang Batak, seorang laki-laki tidak bebas dalam memilih jodoh.
Perkawinan antara orang-orang rimpal, yakni perkawinan dengan anak perempuan dari saudara
laki-laki ibunya, dianggap ideal. Perkawinan yang dilarang adalah perkawinan satu marga dan
perkawinan dengan anak perempuan dari saudara perempuan ayahnya.
Kelompok kekerabatan orang Batak memperhitungkan hubungan keturunan secara patrilineal,
dengan dasar satu ayah, satu kakek, satu nenek moyang. Perhitungan hubungan berdasarkan satu
ayah sada bapa (bahasa Karo) atau saama (bahasa Toba). Kelompok kekerabatan terkecil adalah
keluarga batih(keluarga inti terdiri atas ayah, ibu, dan anak-anak).
Dalam kehidupan masyarakat Batak, ada suatu hubungan kekerabatan yang mantap. Hubungan
kekerabatan itu terjadi dalam kelompok kerabat seseorang, antara kelompok kerabat tempat
istrinya berasal dengan kelompok kerabat suami saudara perempuannya.
Tiap-tiap kelompok kekerabatan tersebut memiliki nama sebagai berikut.
 Hula-hula; orang tua dari pihak istri, anak kelompok pemberi gadis.
 Anak boru; suami dan saudara (hahaanggi) perempuan kelompok penerima gadis.
 Dongan tubu; saudara laki-laki seayah, senenek moyang, semarga, berdasarkan
patrilineal.
Konsep Pemimpin Politik Suku Bangsa Batak
Pada masyarakat Batak, sistem kepemimpinan terdiri atas tiga bidang.
1. Bidang adat. Kepemimpinan pada bidang adat ini tidak berada dalam tangan seorang
tokoh, tetapi berupa musyawarah Dalihan Na Tolu (Toba), Sangkep Sitelu (Karo). Dalam
pelaksanaannya, sidang musyawarah adat ini dipimpin oleh suhut (orang yang
mengundang para pihak kerabat dongan sabutuha, hula-hula, dan boru dalam Dalihan Na
Tolu).
2. Bidang agama. Agama Islam dipegang oleh kyai atau ustadz, sedangkan pada agama
Kristen Katolik dan Protestan dipegang oleh pendeta dan pastor.
3. Bidang pemerintahan. Kepemimpinan di bidang pemerintahan ditentukan melalui
pemilihan.
Konsep Agrikultural Suku Batak – Marsitalolo dan Solu. Orang Batak bercocok tanam padi di
sawah dengan irigasi. Pada umumnya, panen padi berlangsung setahun sekali. Namun, di
beberapa tempat ada yang melakukan panen sebanyak dua atau tiga kali dalam setahun
(marsitalolo).
Selain bercocok tanam, peternakan merupakan mata pencarian penting bagi orang Batak. Di
daerah tepi danau Toba dan pulau Samosir, pekerjaan menangkap ikan dilakukan secara intensif
dengan perahu (solu). Konsep Bahasa, Pengetahuan, dan Teknologi Suku Bangsa Batak
Bahasa, pengetahuan, dan teknologi adalah bentuk budaya dasar sebuah bangsa atau suku
bangsa. Mari kita ulas ketiga aspek tersebut pada suku bangsa Batak.
1. Bahasa
Suku Batak berbicara bahasa Batak. Bahasa Batak termasuk ke dalam rumpun bahasa Melayu –
Polinesia. Hampir setiap jenis suku Batak memiliki logat tersendiri dalam berbicara. Oleh karena
itu bahasa Batak memiliki 6 logat, yakni logat Karo oleh orang Batak Karo, logat Pakpak oleh
orang Batak Pakpak, logat Simalungun oleh orang Batak Simalungun, logat Toba oleh orang
Batak Toba, Mandailing, dan Angkola.
2. Pengetahuan
Masyarakat suku Batak mengenal sistem gotong royong kuno, terutama dalam bidang bercocok
tanam. Gotong royong ini disebut raron oleh orang Batak Karo dan disebut Marsiurupan oleh
orang Batak Toba. Dalam gotong royong kuno ini sekelompok orang (tetangga atau kerabat
dekat) bahu-membahu mengerjakan tanah secara bergiliran.
3. Teknologi
Teknologi tradisional suatu suku bangsa adalah bentuk kearifan lokal suku bangsa tersebut. Suku
bangsa Batak terbiasa menggunakan peralatan sederhana dalam bercocok tanam, misalnya bajak
(disebut tenggala dalam bahasa Batak Karo), cangkul, sabit (sabi-sabi), tongkat tunggal, ani-ani,
dan sebagainya.
Teknologi tradisional juga diaplikasikan dalam bidang persenjataan. Masyarakat Batak memiliki
berbagai senjata tradisional seperti hujur (semacam tombak), piso surit (semacam belati), piso
gajah dompak (keris panjang), dan podang (pedang panjang).
Di bidang penenunan pun teknologi tradisional suku Batak sudah cukup maju. Mereka memiliki
kain tenunan yang multifungsi dalam kehidupan adat dan budaya suku Batak, yang disebut kain
ulos.
Konsep Marga dalam Suku Bangsa Batak
Dalam “Kamus Besar Bahasa Indonesia”, kata ‘marga’ merupakan istilah antropologi yang
bermakna ‘kelompok kekerabatan yang eksogam dan unilinear, baik secara matrilineal maupun
patrilineal’ atau ‘bagian daerah (sekumpulan dusun) yang agak luas (di Sumatra Selatan).
Marga adalah identitasnya suku Batak. Marga diletakkan sebagai nama belakang seseorang,
seperti nama keluarga. Dari marga inilah kita dapat mengidentifikasi bahwa seseorang adalah
benar orang Batak.
Ada lebih dari 400 marga Batak, inilah beberapa di antaranya:
Aritonang, Banjarnahor (Marbun), Baringbing (Tampubolon), Baruara (Tambunan), Barutu
(Situmorang), Barutu (Sinaga), Butarbutar, Gultom, Harahap, Hasibuan, Hutabarat,
Hutagalung, Gutapea, Lubis, Lumbantoruan (Sihombing Lumbantoruan), Marpaung, Nababan,
Napitulu, Panggabean, Pohan, Siagian (Siregar), Sianipar, Sianturi, Silalahi, Simanjuntak,
Simatupang, Sirait, Siregar, Sitompul, Tampubolon, Karokaro Sitepu, Peranginangin
Bangun, Ginting Manik, Sembiring Galuk, Sinaga Sidahapintu, Purba Girsang, Rangkuti.

Masyarakat Batak yang menganut sistim kekeluargaan yang Patrilineal yaitu garis keturunan
ditarik dari ayah. Hal ini terlihat dari marga yang dipakai oleh orang Batak yang turun dari
marga ayahnya. Melihat dari hal ini jugalah secara otomatis bahwa kedudukan kaum ayah atau
laki-laki dalam masyarakat adat dapat dikatakan lebih tinggi dari kaum wanita. Namun bukan
berarti kedudukan wanita lebih rendah. Apalagi pengaruh perkembangan zaman yang
menyetarakan kedudukan wanita dan pria terutama dalam hal pendidikan.
Dalam pembagian warisan orang tua. Yang mendapatkan warisan adalah anak laki – laki
sedangkan anak perempuan mendapatkan bagian dari orang tua suaminya atau dengan kata lain
pihak perempuan mendapatkan warisan dengan cara hibah. Pembagian harta warisan untuk anak
laki – laki juga tidak sembarangan, karena pembagian warisan tersebut ada kekhususan yaitu
anak laki – laki yang paling kecil atau dalam bahasa batak nya disebut Siapudan. Dan dia
mendapatkan warisan yang khusus. Dalam sistem kekerabatan Batak Parmalim, pembagian harta
warisan tertuju pada pihak perempuan. Ini terjadi karena berkaitan dengan system kekerabatan
keluarga juga berdasarkan ikatan emosional kekeluargaan. Dan bukan berdasarkan perhitungan
matematis dan proporsional, tetapi biasanya dikarenakan orang tua bersifat adil kepada anak –
anak nya dalam pembagian harta warisan.

Dalam masyarakat Batak non-parmalim (yang sudah bercampur dengan budaya dari luar), hal itu
juga dimungkinkan terjadi. Meskipun besaran harta warisan yang diberikan kepada anak
perempuan sangat bergantung pada situasi, daerah, pelaku, doktrin agama dianut dalam keluarga
serta kepentingan keluarga. Apalagi ada sebagian orang yang lebih memilih untuk menggunakan
hukum perdata dalam hal pembagian warisannya.
Hak anak tiri ataupun anak angkat dapat disamakan dengan hak anak kandung. Karena sebelum
seorang anak diadopsi atau diangkat, harus melewati proses adat tertentu. Yang bertujuan bahwa
orang tersebut sudah sah secara adat menjadi marga dari orang yang mengangkatnya. Tetapi
memang ada beberapa jenis harta yang tidak dapat diwariskan kepada anak tiri dan anak angkat
yaitu Pusaka turun – temurun keluarga. Karena yang berhak memperoleh pusaka turun-temurun
keluarga adalah keturunan asli dari orang yang mewariskan.
Dalam Ruhut-ruhut ni adat Batak (Peraturan Adat batak) jelas di sana diberikan pembagian
warisan bagi perempuan yaitu, dalam hal pembagian harta warisan bahwa anak perempuan
hanya memperoleh: Tanah (Hauma pauseang), Nasi Siang (Indahan Arian), warisan dari Kakek
(Dondon Tua), tanah sekadar (Hauma Punsu Tali). Dalam adat Batak yang masih terkesan Kuno,
peraturan adat – istiadatnya lebih terkesan ketat dan lebih tegas, itu ditunjukkan dalam
pewarisan, anak perempuan tidak mendapatkan apapun. Dan yang paling banyak dalam
mendapat warisan adalah anak Bungsu atau disebut Siapudan. Yaitu berupa Tanak Pusaka,
Rumah Induk atau Rumah peninggalan Orang tua dan harta yang lain nya dibagi rata oleh semua
anak laki – laki nya. Anak siapudan juga tidak boleh untuk pergi meninggalkan kampong
halaman nya, karena anak Siapudan tersebut sudah dianggap sebagai penerus ayahnya, misalnya
jika ayahnya Raja Huta atau Kepala Kampung, maka itu Turun kepada Anak Bungsunya
(Siapudan).
Dan akibat dari perubahan zaman, peraturan adat tersebut tidak lagi banyak dilakukan oleh
masyarakat batak. Khususnya yang sudah merantau dan berpendidikan. Selain pengaruh dari
hukum perdata nasional yang dianggap lebih adil bagi semua anak, juga dengan adanya
persamaan gender dan persamaan hak antara laki – laki dan perempuan maka pembagian warisan
dalam masyarakat adat Batak Toba saat ini sudah mengikuti kemauan dari orang yang ingin
memberikan warisan. Jadi hanya tinggal orang-orang yang masih tinggal di kampung atau daerah
lah yang masih menggunakan waris adat seperti di atas. Beberapa hal positif yang dapat
disimpulkan dari hukum waris adat dalam suku Batak Toba yaitu laki-laki bertanggung jawab
melindungi keluarganya, hubungan kekerabatan dalam suku batak tidak akan pernah putus
karena adanya marga dan warisan yang menggambarkan keturunan keluarga tersebut. Dimana
pun orang batak berada adat istiadat (partuturan) tidak akan pernah hilang. Bagi orang tua dalam
suku batak anak sangatlah penting untuk diperjuangkan terutama dalam hal Pendidikan. Karena
Ilmu pengetahuan adalah harta warisan yang tidak bisa di hilangkan atau ditiadakan. Dengan
ilmu pengetahuan dan pendidikan maka seseorang akan mendapat harta yang melimpah dan
mendapat kedudukan yang lebih baik dikehidupannya nanti.
Kesimpulannya:
Dari isi makalah ini, maka dapat disimpulkan bahwa adat, hukm adat dan adat istiadat adalah
tiga hal yang berbeda tapi saling berkaitan satu sama lain. Dimana Adat memiliki perngertian
aturan-aturan perilaku serta kebiasaan yang telah berlaku di dalam pergaulan masyarakat.
Sedangkan Hukum Adat adalah sekumolan peraturan yang tidak tertulis, dan tidak terkodifikasi
namun hidup dan berkembang di tengah masyarakat serta memiliki sanksi bagi yang
melanggarnya. Terakhir, Adat istiadat adalah etika atau tata krama bersikap dan bergaul yang
sifatnya diturunkan dari para lelhur dan memiliki nila-nilai tersendiri.
Baik adat, hukum adat maupun istiadat merupakan tiga hal yang dimiliki oleh setiap daerah dan
biasanya terdapat perbedaan-perbedaaan diantara daerah-daerah tersebut. Namun dalam
perbedan-perbedaan tersebut terdapat (tersirat) suatu nilai moral yang sama, yang bertjuan untuk
tetap menghormati kebudayaan yang hidup di dalam masyarakat.

RUMAH BOLON

1. Struktur Bangunan Rumah Rumah adat Bolon merupakan sebutan bagi rumah adat suku
Batak di Sumatera Utara. Adanya beberapa sub suku Batak menyebabkan arsitektur rumah adat
satu ini juga terbagi ke dalam beberapa versi. Ada rumah bolon Toba, rumah Bolon Karo, rumah
bolon Simalungun, Rumah bolon Pakpak, rumah bolon Mandailing, dan rumah Bolon Angkola.
Kendati terdapat beragam versi arsitektur, rumah bolon secara umum memiliki beberapa
karakteristik yang membedakan rumah adat Sumatera Utara ini dengan rumah adat dari provinsi-
provinsi lain di Indonesia. Rumah Bolon merupakan rumah panggung yang hampir seluruh
bagiannya dibuat menggunakan bahan bangunan yang diperoleh dari alam. Tiang penopang
rumah yang tingginya sekitar 1,75 meter dari permukaan tanah dibuat dari gelondongan kayu
berdiameter > 40 cm, dindingnya terbuat dari anyaman bambu, lantainya terbuat dari papan,
sementara atapnya dibuat dari bahan daun rumbia atau ijuk. Untuk menguatkan ikatan antar
bahan hingga dapat bersatu rumah bolon tidak menggunakan satu paku pun. Ia dibuat dengan
sistem kunci antar kayu yang kemudian diikat menggunakan tali.

2. Fungsi Rumah Adat Pada masa silam, rumah Bolon merupakan rumah kediaman bagi 13
raja-raja batak. Namun, seiring perkembangannya, ia pun kemudian digunakan sebagai rumah
bagi penduduk suku Batak secara umum. Untuk menunjang fungsi tersebut, rumah adat
Sumatera Utara ini terbagi atas beberapa ruang berdasarkan peruntukannya, yaitu:

1. Ruangan jabu bong adalah ruangan khusus untuk kepala keluarga yang letaknya
berada di belakang di sudut sebelah kanan.

2. Ruangan jabu soding adalah ruangan khusus untuk anak perempuan yang letaknya
berada di belakang sebelah kiri berhadapan dengan jabu bong.

3. Ruangan jabu suhat adalah ruangan khusus untuk anak lelaki tertua yang telah
menikah yang letaknya berada di sudut kiri depan.

4. Ruangan tampar piring adalah ruangan untuk menyambut tamu yang letaknya berada
di sebelah jabu suhat.
5. Ruangan jabu tonga rona ni jabu rona adalah ruang keluarga yang ukurannya paling
besar dan letaknya berada di tengah rumah.

6. Kolong rumah digunakan sebagai tempat penyimpanan bahan pangan sekaligus


kandang ternak.

Pembagian ruangan seperti aturan di atas tidak berarti setiap ruangan harus dipisahkan
oleh dinding pemisah. Secara umum, bagian dalam rumah adalah ruang yang luas tanpa
sekat. Namun ruangan-ruangan tersebut dipisahkan oleh aturan adat yang membatasi dan
mengikat setiap anggota keluarga maupun para tamu yang datang. 3. Ciri Khas dan Nilai
Filosofis Rumah Bolon dapat menjadi rumah adat Sumatera Utara karena dianggap
memiliki beberapa keunikan tersendiri dalam desain arsitekturnya. Keunikan inilah yang
kemudian menjadi ciri khas sekaligus pembeda rumah adat ini dengan rumah adat
provinsi lainnya di Indonesia. Ciri khas dari rumah Bolon adat Batak tersebut antara lain:
Memiliki atap yang bentuknya seperti pelana kuda dengan sudut yang sangat sempit
sehingga cukup tinggi. Dindingnya pendek tapi cukup untuk berdiri karena rumah tidak
dilengkapi dengan plafon. Dinding bagian atas dilengkapi dengan anyaman-anyaman
yang mempercantik penampilan rumah. Di atas pintu depan terdapat gorga atau lukisan
hewan, seperti cicak dan kerbau yang didominasi dengan warna merah, hitam, dan putih.
Gambar cicak merupakan simbol bahwa masyarakat Batak adalah masyarakat yang
memiliki rasa persaudaraan yang begitu kuat antar sesamanya, sedangkan gambar kerbau
adalah simbol ucapan terimakasih.
LAGU DAERAH

BUTET

buteet-dipangungsian do amangmu ale-buteet.


da margurilla da mardarurat ale-buteet.
da margurilla da mardarurat ale-buteet.

buteet, sotung ngolngolan ro hamuna ale-buteet.


paima tona manang surat ale-buteet.
paima tona manang surat ale-buteet.

i doge doge doge i dogei doge doge.


i doge doge doge i dogei doge doge.

buteet, sotung sumolsol roha muna ale-buteet.


musunta i ikkon saut do talu ale-buteet.
musunta i ikkon saut do talu ale-buteet.

buteet, haru patibu ma magodang ale-buteet.


asa adong da palang merah ale-buteet.
da palang merah ni negara ale-buteet.

i doge doge doge i dogei doge doge.


i doge doge doge i dogei doge doge.

i doge doge doge i dogei doge doge.


i doge doge doge i dogei doge doge.

i doge doge doge i dogei doge doge.


i doge doge doge i dogei doge doge.
TARIAN DAERAH

TARI TOR TOR

Ketika kita dengar kata “Tor Tor Batak” maka kita akan membayangkan sekelompok orang
(Batak Toba) yang menari (manortor) diiringi seperangkat alat musik tradisional (gondang
sabangunan), dengan gerakan tari yang riang gembira, melenggak-lenggok yang monoton, yang
diadakan pada sebuah pesta suka maupun duka di wilayah Tapanuli. Tari Tor Tor ini juga sangat
terkenal sampai ke penjuru dunia, ini terbukti dari banyaknya turis manca negara maupun lokal
yang ingin belajar tarian ini, hal ini dikarenakan masyarakat Batak yang pergi merantau pun
dengan bangga selalu menampilkan Tari Tor Tor Sumatera Utara ini dalam acara perhelatannya.
Tari Tor Tor merupakan salah satu jenis tari yang berasal dari suku Batak di Pulau Sumatera.
Sejak sekitar abad ke-13, Tari Tor Tor sudah menjadi budaya suku Batak. Perkiraan tersebut
dikemukakan oleh mantan anggota anjungan Sumatera Utara 1973-2010 dan pakar Tari Tor Tor.
Dulunya, tradisi Tor Tor hanya ada dalam kehidupan masyarakat suku Batak yang berada di
kawasan Samosir, kawasan Toba dan sebagian kawasan Humbang. Namun, setelah masukknya
Kristen di kawasan Silindung, budaya ini dikenal dengan budaya menyanyi dan tarian modern.
Di kawasan Pahae dikenal dengan tarian gembira dan lagu berpantun yang disebut tumba atau
juga biasa disebut Pahae do mula ni tumba.
Sebelumnya, tarian ini biasa digunakan pada upacara ritual yang dilakukan oleh beberapa patung
yang terbuat dari batu yang sudah dimasuki roh, kemudian patung batu tersebut akan “menari”.
Jenis Tari Tor Tor:
 Tor Tor Pangurason yaitu tari pembersihan yang dilaksanakan pada acara pesta besar.
Namun sebelum pesta besar tersebut dilaksanakan, lokasi yang akan digunakan untuk
acara pesta besar wajib dibersihkan dengan media jeruk purut. Ini diperuntukkan, pada saat
pesta besar berlangsung tidak ada musibah yang terjadi.
 Tor Tor Sipitu Cawan atau disebut juga Tari Tujuh Cawan. Tor Tor ini dilaksanakan
pada acara pengangkatan raja. Tor Tor Sipitu Cawan menceritakan 7 putri yang berasal
dari khayangan yang turun ke bumi dan mandi di Gunung Pusuk Buhit dan pada saat itu
juga Pisau Tujuh Sarung (Piso Sipitu Sasarung) datang.
 Tor Tor Tunggal Panaluan yang merupakan suatu budaya ritual. Kemudian ada Tor Tor
Tunggal Panaluan yang dilaksanakan pada saat upacara ritual apabila suatu desa sedang
dilanda musibah. Untuk Tor Tor ini, penari dilakukan oleh para dukun untuk mendapatkan
petunjuk dalam mengatasi musibah tersebut.
Sekarang ini Tari Tor Tor menjadi sebuah seni budaya bukan lagi menjadi tarian yang lekat
hubungannya dengan dunia roh. Karena seiring berkembangnya zaman, Tor Tor merupakan
perangkat budaya dalam setiap kehidupan adat suku Batak.
Dalam hal tata busana tari Tor Tor sangatlah sederhana. Seseorang yang ingin menari Tor Tor
dalam sebuah pesta yang diikuti, cukup dengan memakai ulos yang merupakan tenunan khas
Batak. Ulos yang digunakan ada dua macam, ulos untuk ikat kepala dan ulos untuk selendang.
Namun motif ulos yang akan digunakan harus sesuai dengan pesta yang diikuti.
Selain sederhana dalam hal busana, Tor Tor juga sederhana dalam hal gerakan. Gerakan tangan
dan kaki yang cukup terbatas merupakan salah satu ciri tarian Tor Tor Sumatera Utara. Hentakan
kaki dari penari bergerak mengikuti iringan magondangi. Magondangi sendiri terdiri dari
berbagai alat musik tradisional yaitu gondang, tagading, suling, terompet batak, ogung (doal,
panggora, oloan), sarune, odap gordang dan hesek. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa gerak
Tor Tor Batak berbeda dalam setiap jenis musik yang diperdengarkan dan berbeda pula gerak
Tor Tor laki-laki dan gerak Tor Tor perempuan. Menurut para pemerhati Tor Tor, bahwa Tor
Tor yang dilakonkan juga dibedakan antara Tor Tor Raja dengan Tor Tor Natorop. Sementara
perangkat lain dalam acara tortor Batak biasanya harus ada orang yang menjadi pemimpin
kelompok Tor Tor dan pengatur acara/juru bicara (paminta gondang), untuk yang terakhir ini
sangat dibutuhkan kemampuan untuk memahami urutan gondang dan jalinan kata-kata serta
umpasa dalam meminta gondang.
Bagaimanapun juga, Tor Tor Batak adalah identitas seni budaya masyarakat Batak yang harus
dilestarikan dan tidak lenyap oleh perkembangan zaman dan peradaban manusia. Tari Tor Tor
Batak mengandung nilai-nilai etika, moral dan budi pekerti yang perlu ditanamkan kepada
generasi muda. Dan ini merupakan tugas kita bersama sebagai warga negara Indonesia agar tidak
ada lagi seni budaya asli peninggalan nenek moyang bangsa kita yang diklaim oleh negara lain.

MAKANAN KHAS DAERAH

IKAN ARSIK

BAHASA DAERAH

Bahasa yang digunakan oleh orang Batak ialah bahasa Batak dan sebagaian juga ada yang
menggunakan bahasa Melayu. Setiap puak memiliki logat yang berbeda-beda. Orang Karo
menggunakan Logat Karo, sementara logat Pakpak dipakai oleh Batak Pakpak, logat Simalungun
dipakai oleh Batak Simalungun dan logat Toba dipakai oleh orang Batak Toba, Angkola dan
Mandailing.
SENJATA TRADISIONAL

1. Tongkat Tunggal Panaluan

Ini merupakan salah satu senjata tradisional dari Sumatera Utara yang sakti dan hanya dimiliki
oleh Raja Batak. Saat ini, tombak tersebut disimpan di Museum Gereja Katolik di Kabupaten
Samosir.

2. Hujur Siringis

Senjata tradisional selanjutnya yaitu hujur siringis, bentuknya yang serupa dengan tombak,
digunakan oleh masyarakat Batak dalam berperang. Hujur siringis yang berbentuk kayu ini
ujungnya terbuat dari bahan logam yang runcing.

3. Piso Gaja Dompak

Piso gaja dompak yaitu senjata tradisional dari Sumatera Utara yang bentuknya seperti pisau dan
berfungsi sebagaimana pisau yaitu untuk memotong dan menusuk. Disebut piso gaja dompak
dikarenakan gagang yang terdapat dalam senjata tersebut terdapat ukiran yang berbentuk gajah.

Menurut masyarakat Sumatera Utara, piso gaja dompak ini dipercaya sebagai senjata pusaka
warisan kerajaan Batak pada masa Raja Sisingamangaraja I. Karena dianggap sebagai senjata
pusaka, senjata tradisional ini tidak diperuntukan untuk membunuh, masyarakat juga percaya
bahwa piso gaja ini mempunyai kekuatan supranatural.
4. Piso Silima Sarung

Piso pisau ini merupakan senjata tradisional dari Sumatera Utara. Yang mana arti dari Piso
Silima Sarung itu adalah di dalam satu sarung tersebut terdapat lima buat mata pisau.

5. Piso Sanalenggam

Piso yaitu senjata tradisional Sumatera Utara yang mempunyai gagang pisau yang
menggambarkan sosok pria yang matanya dihiasi oleh kepala tertunduk. Dalam motifnya
digunakan motif melilit dan melingkar leher.

6. Piso Toba

Piso toba juga merupakan senjata tradisional dari Sumatera yang terbuat dari bahan kayu,
kuningan dan besi. Diperkirakan dibuat pada abad 19.
7. Tumbuk Lada

Tumbuk lada adalah senjata tradisional karo yang digunakan digunakan dalam pertempuran jarak
dekat. Ia boleh dipegang dengan dua jenis genggaman yaitu dengan mata keatas ataupun mata ke
bawah tetapi sekarang pada umumnya jadi perhiasan atau pusaka yg dipakai di acara adat, atau
untuk keperluan pengobatan, maka diadakan upacara Ngelegi Besi Mersik kepada Kalibumbu.
Sejauh pengetahuan saya senjata ini bisa juga diisi jimat atau bisa juga diisi racun.

8. Piso Sitolu Sasarung

Senjata tradisional selanjutnya masih sebuah pisau yang mana arti dari piso sitolu sasarung itu
adalah di dalam sarung terdapat tolu atau tiga buah mata pisau. Pisau-pisau ini melambangkan
kehidupan bagi orang batak yang menyatu dengan 3 benua. Benua atas, benua bawah dan benua
tonga.

9. Piso Karo

Piso karo adalah senjata tradisional dari Sumatera Utara yang diperkirakan dibuat pada abad ke-
19 dengan mempunyai panjang sekitar 31-55 cm. Serta pegangannya terbuat dari kayu, gading,
rotan, dan sarungnya ditutupi dengan perak dan suasa.
10. Piso Gading

Piso gading merupakan salah satu senjata tradisional Sumatera Utara yang berasal dari Toba dan
dibuat sekitar pada abad ke-19. Piso gading terbuat dari bahan kayu, gading dan rotan yang
memiliki panjang sekitar 66 cm.

PAKAIAN ADAT
1. Pakaian Adat Suku Batak Toba

Suku Batak Toba merupakan salah satu suku di Sumatera Utara yang tinggal di daerah sekitar
Danau Toba. Suku ini memiliki pakaian adat dengan ciri khas yang berbeda terutama untuk kain
dalam pakaian adat yang digunakan. Dibawah ini bisa disimak penjelasan lengkapnya untuk
pakaian adat Suku Batak Toba:

Kain Yang Digunakan


Pakaian adat suku Batak Toba merupakan kain tenun atau yang dikenal dengan nama Ulos. Kain
ulos sendiri merupakan kain yang sering sekali dijadikan ciri khas suku Batak. Bahkan, ulos
sudah menjadi identitas dari pakaian adat Sumatera Utara tingkat nasional.

Kain ulos dibuat dengan cara ditenun secara manual menggunakan alat tradisional dan benang
sutra. Warna benang yang digunakan biasanya hitam, putih, perak, merah dan emas.

Pakaian adat ini tidak hanya digunakan di upacara adat saja melainkan juga dalam kehidupan
sehari – hari. Ulos yang digunakan oleh laki-laki disebut hande-hande untuk bagian atas. Dan
singkot untuk bagian bawahnya. Sedangkan untuk bagian kepala disebut bulang-bulang, detat
atau tali-tali.

Macam-Macam Kain Ulos


Terdapat berbagai macam jenis kain ulos dengan corak dan motif yang menarik, antara lain :
Kain ulos antakantak, Kain ulos bintang maratur, Kain ulos bolean, Kain ulos mangiring, Kain
ulos padang ursa, Kain ulos pinan lobu-lobu dan Kain ulis pinuncaan.

Dari setiap jenis ulos memiliki filosofi yang berbeda. Pada acara adat, biasanya orang
Batak.menggunakan ulos dan menjadikannya selendang. Ulos yang digunakan biasanya ukia
ragihotang, sadum, jugjaragidup dan runjat.