Você está na página 1de 5

Dilema Robin, Pecundang yang Kekanak-kanakan (bagian akhir)

-robin-

Malam hari pukul setengah 9, para anggota UKL pun berkumpul di pool damri, untuk berangkat bersama
menaiki damri bisnis menuju bandung. Bus yang berangkat pukul 9, dengan berisikan 43 penumpang.
Saat menunggu bus berangkat, aku bertemu dengan Rina yang mengantarkan kak Momo untuk
berangkat malam itu. Aku hanya menyapanya sebentar sebelum masuk ke dalam bus.

Didalam bus, aku pun duduk disamping Anto dideretan belakang bus. Kami duduk disekitar teman-
teman seangkatan kami yang lain. Tepat pukul 9, bus pun berangkat menuju bandung, dengan 43
penumpang yang merupakan anggota UKL, bus tersebut disulap menjadi bus karyawisata yang ramai.
Dimulai dengan bermain kartu, bernyanyi bersama, sampai mengobrol sampai menuju pelabuhan
Bakauheni. Perjalanan ditempuh dengan cepat, hanya dalam waktu 2 jam, kami sudah berada di antrian
untuk masuk kedalam kapal di pelabuhan. Kami masuk kapal, ketika jam sudah menunjukkan pukul
setengah 12 malam.

Para anggota UKL pun bergegas menuju bagian penumpang, rombongan 43 orang memasuki ruangan
kapal yang cukup besar untuk menampung 150 penumpang. Entah kenapa, malam itu penumpang kapal
tidak terlalu ramai, sehingga kami bisa leluasa untuk duduk dimanapun tempat yang kami suka. Aku
memutuskan duduk bersama para seniorku, yaitu kak Tom, kak Vino, kak Gana, dan kak Momo. Kami
berbincang tentang banyak hal malam itu, tentang berita terkini sampai kehidupan perkuliahan,
ataupun trivia pengetahuan umum.

Aku memang lebih banyak mengobrol bersama para seniorku dibandingkan dengan yang lain, aku
merasa berbicara bersama mereka bisa menambah wawasanku yang terbilang masih muda.
Pembicaraan yang panjang pun akhirnya membahas mengenai soal asmara. Aku yang diketahui memiliki
persoalan asmara dengan anggota UKL lainnya pun tidak luput dari bahasan malam itu.

“rob, gimana sama Amanda?” Tanya kak Vino

“ya, gitulah kak” jawabku

“masih pacaran gak sih kalian?” Tanya kak Gana


“enggak sih, tapi masih deket kak” jawabku

“Robin ini kayak spora ya, mati satu tumbuh seribu” ucap kak Momo

“ya gak gitu juga sih kak, hehe” balasku

“ya kalo memang enggak, yaudah jangan deket sama cewek lain dong” balas kak Momo

Aku pun bingung untuk membalas apa, seolah mereka disana berkomplot untuk menyerangku mengenai
kehidupan asmaraku.

“jadi gimana, rob? Bakal balikan sama Amanda?” Tanya kak Tom

“belum tau, kak. Gue bingung soalnya gue punya prinsip gabakal balikan sama mantan” jawabku

“nah, kok masih deket, rob?” Tanya kak Momo

“ya gatau kak, hehe”

“bener sih, berarti Robin spora ya” ucap kak Vino

Aku pun merasa terserang kala itu, aku bingung untuk membalas apa dari pertanyaan yang seolah
menyudutkanku.

“terus gimana sama adik gue, rob? Tanya kak Momo

“ya kak, dia udah punya pacar kak. Gak boleh dideketin” balasku

“gue sih yakin dia gak bakalan lama pacaran sama pacarnya yang ini, 3 bulan lah paling lama” balas kak
Momo

“ya, kan gak ada yang tau kak” balasku

“udah gini aja, tungguin adek gue. Masa nanti pas adek gue putus, lo punya pacar?” ucap kak Momo

Gue cukup bingung dengan kata-kata tersebut, aku tidak memiliki balasan yang bisa mementahkan
pendapat kak Momo tersebut. Seolah melihatku kesulitan membalas, kak Tom pun ikut berbicara
“udah, mo. Biarin Robin aja yang memutuskan, kita mah ngasih saran aja” ucap kak Tom

“iya gak, Rob?” sambungnya

“iya kak, hehe” balasku sambil tersenyum canggung

Pembicaraan mengenai kehidupan asmaraku berhenti disitu, kami membahas hal lain sambil menunggu
kapal merapat di pelabuhan Merak. Obrolan kami yang banyak dan tidak habisnya, membuat perjalanan
melewati Selat Sunda ini, tidak terasa berjalan dengan cepat. Pukul setengah 3 pagi, kami pun sudah
berada di dalam bus untuk melanjutkan perjalanan menuju Bandung. Hasil pembicaraanku bersama
para seniorku malam itu, biasa kusebut sebagai sidang Selat Sunda. Karena sidang ini, menjadi salah satu
pemikiranku mengenai kelanjutan hubunganku bersama Amanda Kartikasari.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Setelah turun dari kapal, disepanjang perjalanan menuju Bandung, aku terus memikirkan perkataan dari
para seniorku saat di kapal. Aku sedang berada di usia dimana pandangan dari orang lain sangat penting
bagiku. Sehingga perkataan mereka mengenai aku seperti spora, sungguh merusak moodku hari itu. Aku
bukanlah seorang yang mudah tersinggung, tapi ketika kata-kata tersebut cukup menyakitkan, aku pun
merasa tersakiti oleh kata-kata mereka. Bukan berarti aku membenci mereka, aku hanya tidak suka
dengan kata-katanya, sehingga aku lebih memikirkan bagaimana agar kata-kata tersebut tidak terucap
lagi oleh mereka. Justru kata-kata mereka menjadi cambuk bagiku, agar berubah menjadi pribadi yang
lebih baik lagi, karena mereka perhatian terhadapku maka mereka mengucapkannya, pemikiran seperti
itu lah yang menemaniku selama perjalanan menuju Bandung.

Setelah sampai di Bandung pada pukul 7 pagi, bus kami berhenti di depan kampus. Kami pun
membubarkan diri menuju kos masing-masing. Aku, Amanda, dan beberapa anggota UKL yang tinggal di
daerah yang berdekatan, memutuskan untuk pulang bersama dengan menaiki angkutan umum.
Walaupun tempat kami terbilang dekat, kami menaiki angkot karena banyaknya barang bawaan yang
harus kami bawa. Di dalam angkot, aku duduk di depan Amanda yang terlihat begitu lelah. Suatu hal
yang wajar, mengingat kegiatan yang di lalui selama sehari kebelakang. Tidak banyak yang bisa
kuperbuat untuk menghiburnya, sebatas melemparkan senyumku kepadanya saat mata kami
berpapasan.
~~~~~~~~~~~~~~~

Aku masih penuh dengan dilema ketika sampai dikosan, aku belum bisa memutuskan bagaimana
hubunganku dengan Amanda kedepannya. Satu kata tersebut begitu menggoyahkan fikiranku, hal yang
sangat remeh jika kuingat sekarang. Gejolak hormon seorang remaja, begitu memengaruhiku dalam
mengambil keputusan saat itu. Aku tidak bisa memutuskan segala sesuatu dengan logika, aku hanya
mengikuti hal yang kuinginkan tanpa melihat sebab dan akibat dari perbuatanku.

Saat aku merapihkan barang dan bersiap untuk ke kampus, Amanda mengirim pesan lewat bbm,

“hari ini ke kampus, rob?”

“iya ini lagi siap-siap, kamu gimana?”

“iya nanti siang” jawabnya

“yaudah, istirahat aja dulu” ucapku

“oke” balasnya

Hubunganku dengan Amanda memang sedang dalam puncaknya, kami sudah kembali seperti seorang
kekasih. Namun kebimbanganku mengenai ucapan para seniorku belum bisa hilang, seolah terngiang
padaku dan membuatku risih karenanya. Namun fikiranku melayang kepada Amanda, wanita yang
sudah mengorbankan banyak hal untukku, yang telah tulus suka padaku. Ya wanita yang sudah mencuri
hatiku sejak tahun pertamaku di kampus.

Aku memikirkannya, aku harus mengambil keputusan tentang Amanda. Tahun ini sudah menjadi tahun
yang berat untuk kami berdua, perasaan kami terhalang kesibukkan dan kesalahpahaman yang
membuat kami menjauh. Hati kami sama-sama tahu apa yang kami inginkan, tapi tidak ada satu kata
pun terucap. Kami masih belum cukup dewasa untuk mengakui kembali perasaan masing-masing.
Amanda, hanya bisa menungguku dan aku pun tahu hal itu, tapi aku masih dalam dilema mengenai
keputusan apa yang harus diambil, gejolak hormonku membuatku memikirkan hal-hal yang tidak perlu.

Amanda, setelah putus denganku, didekati oleh begitu banyak lelaki lainnya. Hal itu kuketahui dari cerita
Tia, dan lini masa twitternya yang selalu ramai. Karena pada dasarnya dia adalah orang yang baik,
sehingga banyak orang yang tertarik kepadanya. Hal itu tidak bisa dihindari, dan aku merasa tidak begitu
aman mengenai saingan yang kumiliki. Bukan berarti, Amanda suka kepada semua orang yang suka
padanya, hanya saja aku merasa dengan begitu banyaknya orang yang mendekatinya, akan ada satu
waktu dimana Amanda melihat kelebihan orang lain yang tidak kumiliki. Aku bukanlah orang yang
memerlakukan dia dengan baik, bukan juga orang yang selalu ada disampingnya, bahkan aku masih
dilema dengan apa yang terjadi padaku dalam beberapa minggu terakhir.

Keraguan tidak datang hanya dari sisiku, Amanda juga mengetahui, bahwa aku sempat mendekati Rina.
Hal itu membuatnya menjaga jarak denganku, dan akupun menjaga jarak dengannya. Alasan-alasan
yang tidak dapat diucapkan, membuat kami saling menebak hati masing-masing. Kami sama-sama ragu
dengan apa yang kami inginkan. Hubungan kami memang kembali dekat, tapi seolah ada jarak disetiap
kami bertemu. Jarak tersebut semakin hari semakin melebar sehingga akhirnya membuat kami
menjauh.

Dilema dalam hatiku begitu besar, aku lebih memilih melepaskan Amanda. Bukan berarti aku lebih
memilih Rina, dia sudah bahagia dengan pacarnya. Aku hanya merasa, aku tidak layak untuk Amanda,
semua perlakuanku kepadanya selama setahun terakhir begitu membuatnya sedih. Amanda layak
mendapatkan laki-laki yang lebih baik dariku, dan aku memilih mundur darinya.

Kesalahanku adalah, aku tidak membicarakan hal ini kepada Amanda. Secara sepihak, aku pergi dari
hidupnya, tidak menjelaskan apa alasannya. Aku sudah menjadi lelaki jahat baginya, aku tidak tahu apa
yang harus aku lakukan. Seolah kedekatan kami selama 3 bulan terakhir, kembali menjauh karena
keraguan yang kumiliki. Maaf Amanda Kartikasari, karena pada akhirnya, aku hanya seorang pecundang
yang kekanak-kanakan.