Você está na página 1de 23

ANALISA JURNAL

PENGARUH TERAPI AIUEO TERHADAP KEMAMPUAN BICARA


PADA PASIEN STROKE HEMOREGIK (SH) YANG MENGALAMI
AFASIA MOTORIK

OLEH

VEROLINA ISMAIL

841717015

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

2018
BAB I

PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Stroke merupakan kelainan fungsi otak yang timbul secara
mendadak dan terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Penyakit ini
menyebabkan kecacatan berupa kelumpuhan anggota gerak, gangguan
bicara, proses berfikir sebagai akibat gangguan fungsi otak (Muttaqin,
2008, hlm.234). Prevalensi di Amerika pada tahun 2005 adalah 2,6%.
Prevalensi meningkat sesuai dengan kelompok usia yaitu 0,8% pada
kelompok usia 18 sampai 44 tahun, 2,7% pada kelompok usia 45 sampai
64 tahun, dan 8,1% pada kelompok usia 65 tahun atau lebih tua
(Satyanegara, 2010, hlm.227). Menurut Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, 2009 dalam Marlina (2010,) prevalensi stroke di
Indonesia mencapai angka 8,3 per 1.000 penduduk.
Rata-rata kasus stroke di jawa tengah mencapai 635,60 kasus
(Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2012, ). Kasus tertinggi
stroke di Jawa Tengah adalah di kota Semarang yaitu sebesar 3.986 kasus
(17,91%) (Dinkes Jateng, 2004). Angka kejadian stroke di RSUD
Tugurejo Semarang pada tahun 2010 mencapai 262 pasien, tahun 2011
mencapai 244 pasien, tahun 2012 mencapai 255 pasien, dan
meningkat pada tahun 2013 mencapai 307 pasien. Prevalensi stroke
non hemoragik dalam 4 tahun terakhir mencapai 661 pasien, dimana
angka kejadian ini lebih tinggi dari pada stroke hemoragik yang hanya
mencapai 407 pasien. Rata-rata pasien yang mengalami stroke
hemoragik maupun non hemoragik dalam 3 bulan terahir pada tahun.
Menurut (Data Rekam Media RSUD Tugurejo Semarang, 2014)
Masalah kesehatan yang muncul akibat stroke sangat bervariasi,
tergantung luas daerah otak yang mengalami infark atau kematian jaringan
dan lokasi yang terkena (Rasyid & Lyna,2007, ). Bila stroke
menyerang otak kiri dan mengenai pusat bicara, kemungkinan pasien
akan mengalami gangguan bicara atau afasia, karena otak kiri berfungsi
untuk menganalisis, pikiran logis, konsep, dan memahami bahasa
(Sofwan, 2010, hlm.35). Menurut Mulyatsih dan Airizal (2008,
hlm36), secara umum afasia dibagi dalam tiga jenis yaitu afasia motorik,
afasia sensorik, dan afasia global.Afasia motorik merupakan kerusakan
terhadap seluruh korteks pada daerah broca. Seseorang dengan afasia
motorik tidak bisa mengucapkan satu kata apapun, namun masih bisa
mengutarakan pikirannya dengan jalan menulis (Mardjono & Sidharta,
2004, hlm.205). Salah satu bentuk terapi rehabilitasi gangguan afasia
adalah dengan memberikan terapi wicara (Sunardi, 2006, hlm.7).
Terapi wicara merupakan tindakan yang diberikan kepada individu
yang mengalami gangguan komunikasi, gangguan berbahasa bicara,
gangguan menelan. terapi wicara ini berfokus pada pasien dengan
masalah-masalah neurologis, diantaranya pasien pasca stroke (Hearing
Speech & Deafness Center, 2006, dalam sunardi, 2006,).
Menurut Wardhana (2011,) penderita stroke yang mengalami
kesulitan bicara akan diberikan terapi AIUEO yang bertujuan untuk
memperbaiki ucapan supaya dapat dipahami oleh orang lain. Orang
yang mengalami gangguan bicara atau afasia akan mengalami
kegagalan dalam berartikulasi. Artikulasi merupakan proses
penyesuaian ruangan supraglottal. Penyesuaian ruangan didaerah laring
terjadi dengan menaikkan dan menurunkan laring, yang akan
mengatur jumlah transmisi udara melalui rongga mulut dan rongga
hidung melalui katup velofaringeal dan merubah posisi mandibula
(rahang bawah) dan lidah. Proses diatas yang akan menghasilkan bunyi
dasar dalam berbicara (Yanti, 2008).
Masalah yang sering muncul pada pasien stroke yaitu menurunnya
kemampuan bicara dan ekspresi wajah, dan adanya kesulitan menelan.
Oleh karena itu, pasien harus diberikan terapi. Salah satu terapi untuk
mengatasi masalah komunikasi yaitu latihan vokal A-I-U-E-O.Latihan
vokal adalah suatu ilmu/kiatyang mempelajari perilaku komunikasi
normal/abnormal yang dipergunakan untuk memberikan terapi pada
penderita gangguan perilaku komunikasi, yaitu kelainan kemampuan
bahasa, bicara, suara, irama/kelancaran, sehingga penderita mampu
berinteraksi dengan lingkungan secara wajar. Latihan vokal A-I-U-E-O
merupakan tindakan yang diberikan kepada klien stroke non hemoragik
yang mengalami gangguan komunikasi, gangguan berbahasa bicara dan
gangguan menelan. Tujuan latihan vokal A-I-U-E-O pada klien stroke,
yaitu: 1) Memperbaiki dan meningkatkan kemampuan komunikasi baik
dari segi bahasa maupun bicara, yang mana melalui rangsangan saraf
kranial V,VII,IX,X,dan XII. 2) Meningkatkan kemampuan menelan yang
mana melalui rangsangan saraf kranial V, VII, IX, X, dan XII. Proses
latihan vokal A-I-U-E-O, ketika pasien mengucapkan A-I-U-E-O sesuai
prosedur maka ada impuls yang dikirim ke otak atau pola gerator pusat di
bagian batang otak untuk proses menelan yaitu di nukleus traktus solitarius
dan nukleus ambigus dengan formatio retikularis maka akan mengaktifkan
motoneuron kranial, yaitu impuls aferen saraf trigeminus, glosofaringeus
dan vagus, akibat impuls eferennya yaitu ada rangsangan pada otot-otot di
wajah, mulut, bibir dan lidah, serta kelenjar air liur sehingga ada respon
untuk mengunyah, menelan dimulai maupun refleks pada organ laring dan
epiglotis.
Prosedur latihan vokal A-I-U-E-O 1) Atur posisi pasien duduk atau
dalam keadaan nyaman dan jangan berbaring. 2) Wajah pasien diposisikan
menghadap ke depan ke arah terapis 3) Kedua tangan pasien masing-
masing berada di samping kiri dan kanan. 4) Ajarkan pasien kembungkan
kedua bibir dengan rapat, kemudian kembungkan salah satu pipi dengan
udara, tahan selama 5 detik dan kemudian keluarkan. Lakukan secara
bergantian pada sisi yang lainnya. 5) Sebelumnya pasien dianjurkan untuk
julurkan lidah sejauh mungkin, kemudian cobalah untuk menyentuh dagu
dan coba pula untuk menyentuh hidung 6) Pasien dianjurkan untuk
mengucapkan huruf "A" dengan keadaan mulut terbuka 7) Selanjutnya
pasien dianjurkan untuk mengucapkan huruf "I" dengan keadaan mulut
gigi dirapatkan dan bibir dibuka 8) Kemudian pasien dianjurkan untuk
mengucapkan huruf "U" dengan keadaan mulut mencucu ke depan bibir
atas dan depan tidak rapat 9) Selanjutnya pasien dianjurkan untuk
mengucapkan huruf "E" dengan keadaan pipi, mulut dan bibir seperti
tersenyum 10) Setelah itu pasien dianjurkan untuk mengucapkan huruf
"O" dengan keadaan mulut dan bibir mencucu ke depan. 11) Kemudian
tanyakan respon pasien dan kembalikan pasien ke posisi semula atau
posisi nyaman.
b. Tujuan
1. Mendeskripsikan Terapi Aiueo Terhadap Kemampuan Bicara Pada
Pasien Stroke.
2. Mendeskripsikan Pengaruh Terapi Aiueo Terhadap Kemampuan
Bicara Pada Pasien Stroke Yang Mengalami Afasia Motorik.
c. Manfaat
1.3.1 Manfaat Praktis
Bagi Program Studi Profesi Ners, dapat dijadikan referensi tentang
Terapi Aiueo Terhadap Kemampuan Bicara Pada Pasien Stroke.
1.3.2 Manfaat Teoritis
Bagi Perawat di RS Toto Kabila, Diharapkan dapat dijadikan
sebagai acuan dalam menerapkan Terapi Aiueo Terhadap
Kemampuan Bicara Pada Pasien Stroke Yang Mengalami Afasia
Motorik.
BAB II

METODE DAN TINJAUAN TEORITIS

1.1 Metode Pencarian

Analisi Jurnal ini menggukan 4 media atau metode pencarian jurnal, yaitu
sebagai berikut :
1. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan alamat situs :
https://www.researchgate.net/profile/Wenny_Savitri/publication
2. Ebsco dengan alat situs : http://ebcj.mums.ac.ir/article_3765.html
3. Google schoolar dengan alamt situs :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27740618
Tahun
No Nama Jurnal
Penerbitan

1. PENGARUH TERAPI AIUEO TERHADAP KEMAMPUAN 2014


BICARA PADA PASIEN STROKE YANG MENGALAMI
AFASIA MOTORIK DI RSUD TUGUREJO SEMARANG*

2 Proposal karya tulis ilmiahaplikasi risetpemberia terapi 2016


AIUEOterhadap kemampuan bicarapada pasien stroke yang
mengalami afasia motorik di RSUD SALATIGA

3. Pengaruh Augmentative and Alternative Communication 2013


terhadap Komunikasi dan Depresi Pasien Afasia Motorik
4. Studi Metaanalisis terhadap Intensitas Terapi 2010
Pada Pemulihan Bahasa Afasia
5. POST-STROKE LANGUAGE DISORDERS 2011

Ket: * Jurnal Utama


1.2 Konsep Tentang Tinjauan Teoritis
Stroke

Definisi yang paling banyak diterima secara luas adalah bahwa stroke
adalah suatu sindrom yang ditandai dengan gejala dan atau tanda klinis
yang berkembang dengan cepat yang berupa gangguan fungsional otak fokal
maupun global yang berlangsung lebih dari 24 jam (kecuali ada intervensi bedah
atau membawa kematian), yang tidak disebabkan oleh sebab lain selain
penyebab vaskuler (Mansjoer, 2000). Menurut Geyer (2009) stroke adalah
sindrom klinis yang ditandai dengan berkembangnya tiba-tiba defisit neurologis
persisten fokus sekunder terhadap peristiwa pembuluh darah.Stroke merupakan
penyebab kecacatan nomor satu di dunia dan penyebab kematian nomor dua
di dunia. Duapertiga stroke terjadi di negara berkembang. Pada masyarakat
barat, 80% penderita mengalami stroke iskemik dan 20% mengalami stroke
hemoragik. Insiden stroke meningkat seiring pertambahan usia (Dewanto dkk,
2009).

Stroke pada anak-anak dan orang dewasa muda sering ditemukanjauh lebih
sedikit daripada hasil di usia tua, tetapi sebagian stroke pada kelompok usia
yang lebih muda bisa lebih buruk. Kondisi turun temurun predisposisi untuk
stroke termasuk penyakit sel sabit, sifat sel sabit, penyakit hemoglobin SC
(sickle cell), homosistinuria, hiperlipidemia dan trombositosis. Namun belum
ada perawatan yang memadai untuk hemoglobinopati, tetapi homosistinuria
dapat diobati dengan diet dan hiperlipidemia akan merespon untuk diet atau
mengurangi lemak obat jika perlu. Identifikasi dan pengobatan hiperlipidemia
pada usia dini dapat memperlambat proses aterosklerosis dan mengurangi
risiko stroke atau infark miokard pada usia dewasa (Gilroy, 1992).Stroke
hemoragik, yang merupakan sekitar 15% sampai 20% dari semua stroke,
dapat terjadi apabila lesi vaskular intraserebrum mengalami ruptur sehingga
terjadi perdarahan ke dalam ruang subarakhnoid atau langsung ke dalam
jaringan otak.Beberapa penyebab perdarahan intraserebrum: perdarahan
intraserebrum hipertensif; perdarahan subarakhnoid (PSA) pada ruptura
aneurisma sakular (Berry), ruptura malformasi arteriovena (MAV), trauma;
penyalahgunaan kokain, amfetamin; perdarahan

akibat tumor otak; infark hemoragik; penyakit perdarahan sistemik termasuk


terapi antikoagulan (Price, 2005).

Faktor Risiko terjadinya Stroke Tidak dapat dimodifikasi, meliputi: usia,


jenis kelamin, herediter,ras/etnik. Dapat dimodifikasi, meliputi: riwayat stroke,
hipertensi,penyakit jantung, diabetes mellitus, Transient Ischemic Attack
(TIA),hiperkolesterol, obesitas, merokok, alkoholik, hiperurisemia, peninggian
hematokrit (Mansjoer, 2000).

Gangguan pasokan aliran darah otak dapat terjadi di mana saja di dalam
arteri-arteri yang membentuk Sirkulus Willisi. Arteria karotis interna dan sistem
vertebrobasilar atau semua cabang-cabangnya. Secara umum, apabila aliran darah
ke jaringan otak terputus selama 15 sampai 20 menit, akan terjadi infark atau
kematian jaringan. Perlu diingat bahwa oklusi di suatu arteri tidak selalu
menyebabkan infark di daerah otak yang diperdarahi oleh arteri tersebut.
Alasannya adalah bahwa mungkin terdapat sirkulasi kolateral yang memadai
ke daerah tersebut. Proses patologik yang mendasari mungkin salah satu dari
berbagai proses yang terjadi di dalam pembuluh darah yang memperdarahi
otak. Patologinya dapat berupa (1) keadaan penyakit pada pembuluh itu sendiri,
seperti pada aterosklerosis dan trombosis, robeknya dinding pembuluh, atau
peradangan; (2) berkurangnya perfusi akibat gangguan status aliran darah,
misalnya syok atau hiperviskositas darah; (3) gangguan aliran darah akibat
bekuan atau embolus infeksi yang berasal dari jantung atau pembuluh
ekstrakranium; atau (4) ruptur vaskular di dalam jaringan otak atau ruang
subaraknoid (Price et al, 2006).

Afasia

Afasia adalah gangguan komunikasi yang disebabkan oleh kerusakan pada


bagian otak yang mengandung bahasa (biasanya di hemisfer serebri kiri otak).
Individu yang mengalami kerusakan pada sisi kanan hemisfer serebri kanan otak
mungkin memiliki kesulitan tambahan di luar masalah bicara dan bahasa.
Afasia dapat menyebabkan kesulitan dalam berbicara, mendengarkan,
membaca, dan menulis, tetapi tidak mempengaruhi kecerdasan. Individu
dengan afasia mungkin juga memiliki masalah lain, seperti disartria, apraxia,
dan masalah menelan. Global Afasia adalah afasia yang melibatkan semua
aspek bahasa dan mengganggu komunikasi lisan. Penderita tidak dapat
berbicara secara spontan atau melakukannya dengan susah payah,
menghasilkan tidak lebih dari fragmen perkataan. Pemahamanucapan biasanya
tidak ada; atau hanya bisa mengenali beberapa kata, termasuk nama mereka
sendiri dan kemampuan untuk mengulang prkataan yang sama adalah nyata
terganggu. Penderita mengalami kesulitan menamakan benda, membaca, menulis,
dan menyalin kata kata. Bahasa otomatisme (pengulangan omong kosong)
adalah karakteristik utama. Distribusi lesi terletak di seluruh arteri serebri,
termasuk area Wernicke dan Broca. Broca’s afasia (juga disebut anterior,
motorik, atau afasia ekspresif) ditandai dengan tidak adanya gangguan spontan
berbicara, sedangkan pemahaman hanya sedikit terganggu. Pasien dapat
berbicara dengan susah payah, memproduksi kata kata yang goyah dan tidak
lancar. Penamaan, pengulangan, membaca dengan suara keras, dan menulis juga
terganggu. Daerah lesi adalah di area Broca; mungkin disebabkan infark dalam
distribusi arteri prerolandic (arteri dari sulkus prasentralis). Afasia Wernicke (juga
disebut posterior, sensorik, atau reseptif aphasia) ditandai dengan penurunan
pemahaman yang kronik. Bicara tetap lancar dan normal mondar-mandir, tetapi
kata kata penderita tidak bisa dimengerti (kata salad, jargon aphasia). Penamaan,
pengulangan kata-kata yang di dengar, membaca, dan menulis juga nyata
terganggu. Area lesi ialah Area Wernicke (area 22). Mungkin disebabkan oleh
infark dalam distribusi arteri temporalis posterior. Afasia transkortikal. Kata-kata
yang didengar penderita dapat diulang, tapi fungsi linguistik lainnya
terganggu: tidak bisa bicara secara spontan untuk penderita transkortikal
motor afasia (sindrom mirip dengan Broca afasia), tidak mempunyai
pemahaman bahasa bagi penderita transkortikal afasia sensorik (sindrom mirip
dengan Wernicke afasia). Area lesi transkortikol motorik terletak di kiri
lobus frontal berbatasan dengan area Broca manakala lesi transkortikol
sensorik terletak di temporo-oksipital berhampiran Area Wernicke. Amnestik
(anomik) afasia. Jenis afasia yang ditandai dengan gangguan penamaan dan
mencari perkataan. Bicara masih spontan dan fasih tapi sulit untuk menemukan
kata dan mencipta ayat. Kemampuan untuk mengulang, memahami, dan
menulis kata-kata pada dasarnya normal. Daerah lesinya di korteks
temporoparietal atau di substansia nigra. Afasia konduksi. Pengulangan sangat
terganggu; fasih, bicara spontan terganggu oleh jeda untuk mencari kata-kata.
Pemahaman bahasa hanya sedikit terganggu. Daerah lesi ialah fasikulus arkuata.
Afasia subkortikal. Jenis aphasia yang mirip dengan yang dijelaskan dapat
diproduksi oleh subkortikal lesi pada berbagai situs (thalamus, kapsul internal
striatum anterior).

Masalah yang sering muncul pada pasien stroke yaitu menurunnya


kemampuan bicara dan ekspresi wajah, dan adanya kesulitan menelan. Oleh
karena itu, pasien harus diberikan terapi. Salah satu terapi untuk mengatasi
masalah komunikasi yaitu latihan vokal A-I-U-E-O.Latihan vokal adalah suatu
ilmu/kiatyang mempelajari perilaku komunikasi normal/abnormal yang
dipergunakan untuk memberikan terapi pada penderita gangguan perilaku
komunikasi, yaitu kelainan kemampuan bahasa, bicara, suara, irama/kelancaran,
sehingga penderita mampu berinteraksi dengan lingkungan secara wajar. Latihan
vokal A-I-U-E-O merupakan tindakan yang diberikan kepada klien stroke non
hemoragik yang mengalami gangguan komunikasi, gangguan berbahasa bicara
dan gangguan menelan. Tujuan latihan vokal A-I-U-E-O pada klien stroke, yaitu:
1) Memperbaiki dan meningkatkan kemampuan komunikasi baik dari segi bahasa
maupun bicara, yang mana melalui rangsangan saraf kranial V,VII,IX,X,dan XII.
2) Meningkatkan kemampuan menelan yang mana melalui rangsangan saraf
kranial V, VII, IX, X, dan XII. Proses latihan vokal A-I-U-E-O, ketika pasien
mengucapkan A-I-U-E-O sesuai prosedur maka ada impuls yang dikirim ke otak
atau pola gerator pusat di bagian batang otak untuk proses menelan yaitu di
nukleus traktus solitarius dan nukleus ambigus dengan formatio retikularis maka
akan mengaktifkan motoneuron kranial, yaitu impuls aferen saraf trigeminus,
glosofaringeus dan vagus, akibat impuls eferennya yaitu ada rangsangan pada
otot-otot di wajah, mulut, bibir dan lidah, serta kelenjar air liur sehingga ada
respon untuk mengunyah, menelan dimulai maupun refleks pada organ laring dan
epiglotis.

Prosedur latihan vokal A-I-U-E-O 1) Atur posisi pasien duduk atau dalam
keadaan nyaman dan jangan berbaring. 2) Wajah pasien diposisikan menghadap
ke depan ke arah terapis 3) Kedua tangan pasien masing-masing berada di
samping kiri dan kanan. 4) Ajarkan pasien kembungkan kedua bibir dengan rapat,
kemudian kembungkan salah satu pipi dengan udara, tahan selama 5 detik dan
kemudian keluarkan. Lakukan secara bergantian pada sisi yang lainnya. 5)
Sebelumnya pasien dianjurkan untuk julurkan lidah sejauh mungkin, kemudian
cobalah untuk menyentuh dagu dan coba pula untuk menyentuh hidung 6) Pasien
dianjurkan untuk mengucapkan huruf "A" dengan keadaan mulut terbuka 7)
Selanjutnya pasien dianjurkan untuk mengucapkan huruf "I" dengan keadaan
mulut gigi dirapatkan dan bibir dibuka 8) Kemudian pasien dianjurkan untuk
mengucapkan huruf "U" dengan keadaan mulut mencucu ke depan bibir atas dan
depan tidak rapat 9) Selanjutnya pasien dianjurkan untuk mengucapkan huruf "E"
dengan keadaan pipi, mulut dan bibir seperti tersenyum 10) Setelah itu pasien
dianjurkan untuk mengucapkan huruf "O" dengan keadaan mulut dan bibir
mencucu ke depan. 11) Kemudian tanyakan respon pasien dan kembalikan pasien
ke posisi semula atau posisi nyaman.
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini menggambarkan tentang Analisis Jurnal dengan judul Pengaruh
Terapi Aiueo Terhadap Kemampuan Bicara Pada Pasien Stroke Yang Mengalami
Afasia Motorik.

1.1 Hasil Penelitian


Penulis Tahun Metode Hasil SOURCE
Haryanto, 2014 one Pada hasil penelitian yang dilakukan Jurnal keperawatan
group pre-
setiyawan oleh Haryanto, setiyawan dan
post test
dan kusuma kusuma (2014) dengan menggunakan
design.
21 sampel didapatkan hasil
menunjukkan bahwa sebagian besar
responden sebelum mendapatkan
terapi AIUEO berada pada katagori
gangguan bicara sedang yaitu
sebesar 14 responden (66,7%),
sedangkan sesudah diberikan terapi
AIUEO jumlah tersebut menjadi
berkurang menjadi 2 responden
(9,5%).
Ulfa 2016 Media alat Pada hasil penelitian ulfa dengan karya tulis ilmiah
dan lembar menggunakan terapi AIUEO pada 1
observasi, pasien dengan jangka waktu
alat ukur pemberian terapi 4-10 hari. Pasien
skala tersebut mengalami strok non
komunikasi hemoregik. Hasil yang didapatkan
fungsional klien sudah mengalami peningkatan
debri kemampuan bicara walaupun masih
sedikit pelo dan lidah elevasi ke kiri
Amila, 2013 Desain Desain penelitian adalah kuasi
penelitian
adalah kuasi
Sitorus, eksperimen eksperimen dengan pendekatan
dengan
Herawati pendekatan post test non equivalent control
post test non group pada 21 responden yang
equivalent
control group terbagi menjadi 11 orang
pada 21
responden kelompok kontrol
yang terbagi dan 10 orang kelompok intervensi
menjadi 11
orang yang didapatkan melalui concecutive
kelompok
kontrol sampling. Instrumen penelitian untuk
dan 10 orang menilai kemampuan fungsional
kelompok
intervensi komunikasi dan depresi adalah
yang
kuesioner dan lembar observasi yang
didapatkan
melalui baku yaitu
concecutive
sampling. Derby Functional Communication
Instrumen Scale dan Aphasic Depression
penelitian
untuk Rating Scale. AAC merupakan
menilai
kemampuan alternatif
fungsional komunikasi pada pasien dengan
komunikasi
dan depresi keterbatasan komunikasi verbal.
adalah
kuesioner dan Media yang digunakan dalam
lembar komunikasi
observasi
yang baku ini adalah buku komunikasi yang
yaitu
berisi kegiatan sehari-hari, koran/
Derby
majalah, foto keluarga, kartu
Functional
bergambar,
Communicati
alat tulis dan lagu/ musik. Metode
on Scale dan
AAC berorientasi pada tugas
Aphasic
menunjuk gambar, penamaan,
Depression
mengulang,
Rating Scale.
menulis, membaca dan mengeja
huruf. Hasil penelitian menunjukkan
tidak terdapat perbedaan yang
bermakna
rata-rata kemampuan fungsional
komunikasi antara kelompok kontrol
dengan intervensi dengan nilai
p=0.542,
tetapi terdapat perbedaan yang
bermakna rata-rata depresi antara
kelompok kontrol dan intervensi
dengan
nilai p=0.022. Hasil penelitian ini
merekomendasikan kepada perawat
untuk menerapkan metode AAC
dalam memfasilitasi komunikasi,
sehingga dapat menurunkan depresi
pasien strok dengan afasia
motorik..
Dachrud 2010 Penelitian ini Penelitian ini menyimpulkan terapi Jurnal Psikologi
menggunakan intens dalam waktu singkat
metode
dapat meningkatkan hasil berbicara
metaanalisis
di mana data dan terapi bahasa untuk afasia.
dikumpulkan Sebanyak 27 pasien afasia kronis
dari sejumlah
studi primer dilatih selama 20 jam dalam 10
yang pernah hari, 12 pasien dilatih dengan
dilakukan program CIAT, 15 pasien dilatih
untuk menguji
hubungan dengan modul bahasa dalam tulisan
antara dan tambahan pelatihan
treatment
komunikasi. Hasil menunjukkan
dengan
pemulihan fungsi bahasa meningkat dengan
berbahasa
signifikan setelah pelatihan untuk
pada Afasia.
Treatment kedua kelompok dan kestabilan
yang tetap. Setelah hingga 6 bulan
dimasukkan
berikut analisis kasus tunggal
dalam studi
ini adalah menunjukkan peningkatan secara
terapi yang
diarah‐ signifikan pada 85% pasien tersebut.
kan untuk
memulihkan
kembali
kemam‐
puan
berbahasa
pada
penderita
afasia
setelah
mengalami
cedera otak.
Seleksi awal
mengelompok
kan studi yang
berisi
treatment
terhadap
afasia
sebanyak 32
studi.
Selanjutnya
dari 32 studi
yang ada,
dipilih 12
studi yang
telah diseleksi
yang
terkait dengan
terapi
pemulihan
berbahasa.

1.2 Pembahasan
Haryanto, setiyawan dan kusuma Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa kemampuan bicara mulai mengalami peningkatan pada hari ke 3
setelah diberikan terapi AIUEO, sedangkan pengaruh terapi AIUEO menjadi
bermakna dalam meningkatkan kemampuan bicara (p value <0,05) dimulai pada
hari ke 5 sampai dengan hari ke 7. Agar para penderita afasia dapat
memperoleh kembali bahasanya, maka ditempuh berbagai perlakuan
(treatment), seperti rehabilitasi, training, dan terapi. Treatment dan prosedur
treatment didefinisikan sebagai suatu hal yang perlu sebagai prasyarat jawaban
bersifat percobaan. Treatment yang didasarkan pada prosedur pembiasaan,
latihan dan target pencapaian waktu pada umumnya tergambar dengan baik
dan menjadi hal menarik serta dapat menjadi model bagi para perancang
terapi bicara dan bahasa pada afasia agar lebih efektif, efisien dan manjur.

Pemulihan berbahasa afasia sangat ditentukan oleh efektivitas treatment


yang diterapkan. Salah satunya penilaiannya adalah pada intensitas treatment.
Intensitas treatment dalam studi ini digambarkan dalam terminologi jam
terapi dalam periode belajar (Dachrud, 2010).Penelitian ini dilejaskan bahwa
dalam memberikan terapi AIUEO dilakukan dalam 2 kali sehari dalam 7
hari. Hal ini dalam memberikan treatment dengan sesering mungkin dapat
meningkatkan kemampuan bicara. Menurut (Bakhiet, et.al, 2007), latihansecara
intensif dapat meningkatkan neuralplasticity, reorganisasi peta kortikal dan
meningkatkan fungsi motorik. Neuroplastisitas otak merupakan perubahan
dalam aktivitas jaringan otak yang merefleksikan kemampuan adaptasi otak.
Dengan adanya kemampuan ini kemampuan motorik klien yang mengalami
kemunduran karena stroke dapat dipelajari kembali. Proses neuroplastisitas
otak terjadi melalui proses substitusi yang tergantung pada stimulus eksternal,
melalui terapi latihan dan proses kompensasi yang dapat tercapai melalui
latihan berulang untuk suatu fungsi tertentu (Wirawan, 2009).

Kemampuan Bicara Sebelum dan Sesudah Diberikan Terapi AIUEO


Pasien stroke dapat mengalami gangguan bicara, sangat perlu dilakukan
latihan bicara baik disartia maupun afasia. Speech therapy sangat dibutuhkan
mengingat bicara dan komunikasi merupakan faktor yang berpengaruh dalam
interaksi sosial. Kesulitan dalam berkomunikasi akan menimbulkan isolasi diri
dan perasaan frustasi (Sunardi, 2006). Setelah diberikan terapi AIUEO terjadi
peningkatan kemampuan bicara pada pasien. Hal ini sesuai hasil penelitian
bahwa yang semula ada 4 responden dengan gangguan bicara berat menjadi
tidak ada. Menurut Meinzer et al., (2005) menjelaskan bahwa 85% pasien
stroke mengalami peningkatan kemampuan bahasa secara signifikan setelah
menjalani terapi wicara yang intensif. Perbaikanperbaikan yang berkelanjutan
juga terjadi pada pasien-pasien tersebut selama enam bulan.

Pengaruh terapi AIUEO terhadap kemampuan bicara pada pasien stroke


yang mengalami afasia motorik. Hasil penelitan menunjukkan ada pengaruh terapi
AIUEO terhadap kemampuan bicara pasien stroke yang mengalami afasia
motorik. Menurut Wardhana (2011) penderita stroke yang mengalami kesulitan
bicara dapat diberikan terapi AIUEO yang bertujuan untuk memperbaiki ucapan
supaya dapat dipahami oleh orang lain. Teknik yang diajarkan pasien afasia
adalah menggerakkan otot bicara yang akan digunakan untuk mengucapkan
lambanglambang bunyi bahasa yang sesuai dengan pola-pola standar, sehingga
dapat dipahami oleh pasien. Hal ini disebut dengan artikulasi organ bicara.
Pengartikulasia bunyi bahasa atau suara akan dibentuk oleh koordinasi tiga
unsur, yaitu unsur motoris (pernafasan), unsur yang bervibrasi (tenggorokan
dengan pita suara), dan unsur yang beresonansi (rongga penuturan: rongga
hidung, mulut dan dada) (Gunawan, 2008).

Menurut Amila, Sitorus, Herawati AAC merupakan alternatif komunikasi


pada pasien dengan keterbatasan komunikasi verbal. Media yang digunakan
dalam komunikasi ini adalah buku komunikasi yang berisi kegiatan sehari-
hari, koran/ majalah, foto keluarga, kartu bergambar, alat tulis dan lagu/
musik. Metode AAC berorientasi pada tugas menunjuk gambar, penamaan,
mengulang, menulis, membaca dan mengeja huruf. Hasil penelitian menunjukkan
tidak terdapat perbedaan yang bermakna rata-rata kemampuan fungsional
komunikasi antara kelompok kontrol dengan intervensi dengan nilai p=0.542,
tetapi terdapat perbedaan yang bermakna rata-rata depresi antara kelompok
kontrol dan intervensi dengan nilai p=0.022. Hasil penelitian ini
merekomendasikan kepada perawat untuk menerapkan metode AAC dalam
memfasilitasi komunikasi, sehingga dapat menurunkan depresi pasien strok
dengan afasia motorik.

Afasia merupakan kesulitan dalam memahami dan/ atau memproduksi


bahasa yang disebabkan oleh gangguan (kelainan, penyakit) yang melibatkan
hemisfer otak dan terdiri dari afasia sensoris (wernicke) motorik (broca) dan
global. Afasia terjadi akibat cedera otak atau proses patologis strok dan
perdarahan otak serta dapat muncul perlahan seperti pada kasus tumor otak
pada lobus frontal, temporal atau parietalyang mengatur kemampuan berbahasa
yaitu area broca, area wernicke, dan jalur yang menghubungkan antara
keduanya. Kedua area ini biasanya terletak di hemisfer kiri otak dan pada
umumnya bagian hemisfer kiri merupakan tempat kemampuan berbahasa
(Kirshner, 2009; Price & Wilson, 2006). Diperkirakan sekitar 21−38% pasien
strok akut dapat mengalami afasia (Salter, Jutai, Foley, Hellings, & Teasell,
2006). Beberapa bentuk afasia mayor menurutLumbantobing (2011) adalah
afasia sensoris (wernicke)motorik (broca) dan global. Afasia motorik terjadi
akibat lesi pada area brocapada lobus frontal yang ditandai dengan kesulitan
dalam mengoordinasikan pikiran, perasaan dan kemauan menjadi simbol
bermakna dan dimengerti oleh orang lain dalam bentuk ekspresi verbal dan
tulisan. Jumlah penderita strok yang mengalami afasia tidak dapat diketahui
dengan pasti melalui rekam medik, jurnal, dan situs. Walaupun demikian,
afasia memiliki dampak negatif terhadap pasien dan orang di sekitar pasien.
Pasien strok dengan afasia mengalami hambatan dalam melaksanakan
aktivitas hidup sehari-hari karena ketidakmampuan pasien mengungkapkan apa
yang diinginkan, tidak mampu menjawab pertanyaan atau berpartisipasi dalam
percakapan yang membuatpasien menjadi frustasi, marah, kehilangan harga
diri, dan emosi pasien menjadi labil. Keadaan ini akhirnya menyebabkan
pasien depresi. Komunikasi dapat membantu seseorang dalam mengekspresikan
perasaan dan integritas diri (Sundin & Jonson (2003). Komunikasi juga
membantu perkembangan intelektual dan sosial, identitas diri, membantu
memahami kenyataan yang ada di sekeliling kita dan sarana pembentuk kesehatan
mental (Arwani, 2003). Afasia juga berdampak negatif terhadap kemandirian,
kemampuan fungsional, partisipasi sosial, kualitas hidup dan mortalitas yang
tinggi karena komunikasi yang tidak adekuat (Kirshner, 2009).

Afasia motorik adalah kesulitan berkata-kata tetapi dapat mengerti


pembicaraan afasia motorik timbul akibat gangguan pada pembuluh darah karotis
interna, yaitu cabangnya yang menuju otak bagian tengah (arteri selebri media)
tepatnya pada cabang akhir (arteri presentalis), afasia motorik ini disertai
kelemahan lengan lebih berat dari pada tungkai. Afasia motorik disebut juga
afasia Broca. Paul broca, ilmuwan Perancis, menemukan suatu area pada lobus
frontaliskiri yang jika rusak akan mengakibatkan kehilangan daya pengutaraan
pendapat dan perasaan dengan kata-kata. Tidak ada kelumpuhan alat bicara pada
gangguan ini. Daerah otak tersebut dikenal sebagai area broca(Sidharta dan
Mardjono, 2006).

Afasia motorik merupakan kerusakan terhadap seluruh korteks pada daerah


broca. Seseorang dengan afasia motorik tidak bisa mengucapkan satu kata apapun,
namun masih bisa mengutarakan pikirannya dengan jalan menulis (Mardjono &
Sidharta, 2004, hlm.205). Salah satu bentuk terapi rehabilitasi gangguan afasia
adalah dengan memberikan terapi wicara (Sunardi, 2006, hlm.7). Terapi wicara
merupakan tindakan yang diberikan kepada individu yang mengalami gangguan
komunikasi, gangguan berbahasa bicara, gangguan menelan. terapi wicara ini
berfokus pada pasien dengan masalah -masalah neurologis, diantaranya pasien
pasca stroke (Hearing Speech & Deafness Center, 2006, dalam sunardi, 2006,
hlm.1.

Racette, Bard, & Peretz (2004) berang‐kat dari observasi klasik dalam
neurologi bahwa pasien afasia melagukan kata‐kata yang tidak dapat mereka
lafalkan dengan cara lain. Penilaian lebih lanjut dengan menginvestigasi
produksi nyanyian dan ucapan dalam berbicara pada 8 pasien brain damage yang
menderita kesulitan berbicara akibat cedera pada otak sebelah kiri. Eksperimen
pertama, daya ingat pasien diuji dengan pengulangan kata‐kata dan catatan
tentang materi (hal‐hal) umum yang dikenal, seperti kata‐kata dalam doa dan
pepatah; tidak ditemukan pelafalan yang lebih baik dibandingkan berbicara
(bukan nyanyian). Eksperimen kedua, pasien afasia mengingat dan
mengulangi lirik dari lagu baru. Kembali lagi tidak menghasilkan kata‐kata
yang lebih baik dalam bernyanyi dibandingkan bila berbicara. Eksperimen
ketiga, ketika diper‐kenankan untuk bernyanyi atau berbicara disertai dengan
sebuah model yang difokuskan pada penggunaan indera pendengar selagi
mempelajari nyanyian baru, pasien afasia lebih mengingat dan mengulangi
kata‐kata ketika bernyanyi dibandingkan ketika berbicara. Pengurang‐an
kecepatan tidak memberikan dampak yang menguntungkan pada nyanyian yang
panjang pada penyesuaian dalam berbicara. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa bernyanyi dengan sinkronisasi model indera pendengaran – berkaitan
dengan koor nyanyian – adalah lebih efektif dibandingkan dengan koor pada
berbicara. Indikasi ini setidaknya terlihat pada orang‐orang Perancis,
peningkatan kata yang cukup jelas sebab bernyanyi yang berkaitan dengan koor
mungkin lebih diterima atau lebih sesuai dengan satu penghubung vocal‐auditory.
Dengan demikian, bernyanyi yang dikaitkan dengan koor menunjukkan makna
yang efektif pada terapi bicara.

1.3 Implikasi Keperawatan


Peran perawat sebagai bagian dari tim pelayanan kesehatan
diharapkan mampu memberikan asuhan keperawatan kepada pasien stroke
secara komprehensif dan terorganisasi sejak fase hiperakut hingga fase
pemulihan, sehingga dapat memengaruhi outcomepasien pasca strok. Pendapat
ini sejalan dengan Powlawsky, Schuurmans, Lindeman dan Hafstensdottir
(2010) yang menjelaskan tentang kontribusi perawat dalam latihan wicara
secara intensif yang dimulai pada fase akut menunjukkan hasil rehabilitasi
yang terbaik terhadap fungsi berbahasapasien afasia, sehingga perawat
mempunyai implikasi klinis untuk melakukan latihan ini. Peranan perawat pada
pasien strok setelah melewati fase akut adalah memenuhi kebutuhan sehari-hari,
mengkaji fungsi bicara dan berbahasa, serta menyesuaikan teknik berkomunikasi
dengan kemampuan pasien: bicara pelan dengan suara yang normal, menjadi
pendengar yang baik, dan menjelaskan setiap prosedur yang akan dilakukan
(Mulyatsih, 2010). Selain itu, perawat dapat berperan menjadi role model untuk
berkomunikasi dengan pasien yang mengalami afasia (Lewis, Heitkemper,
Dirkesen, O’Brien, & Bucher, 2007).
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

1.1 Kesimpulan
Teknik terapi AIUEO yaitu dengan cara menggerakan otot bicara
yang akan digunakan untuk mengucapkan lambang-lambang bunyi bahasa
yang sesuai dengan pola standart, sehingga dapat di pahami oleh pasien.
Pengaruh terapi AIUEO terhadap kemampuan bicara pada pasien
stroke yang mengalami afasia motorik. Hasil penelitan menunjukkan ada
pengaruh terapi AIUEO terhadap kemampuan bicara pasien stroke yang
mengalami afasia motorik.

1.2 Saran
1.2.1 Bagi Program Studi
Dengan literatur review ini diharapkan dapat memeberikan informasi
terkait Terapi Aiueo Terhadap Kemampuan Bicara Pada Pasien Stroke
Yang Mengalami Afasia Motorik.

1.2.2 Bagi Rumah Sakit


Dapat dijadikan acuan oleh perawat dalam melakukan Terapi Aiueo
Terhadap Kemampuan Bicara Pada Pasien Stroke Yang Mengalami
Afasia Motorik.
LEMBAR STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
TERAPI AIUEO PADA PASIEN STROKE

Prosedur latihan vokal A-I-U-E-O

A. Persiapan alat :
Tempat tidur
B. Cara Pelaksanaan
1. Atur posisi pasien duduk atau dalam keadaan nyaman dan jangan
berbaring.
2. Wajah pasien diposisikan menghadap ke depan ke arah terapis
3. Kedua tangan pasien masing-masing berada di samping kiri dan kanan.
4. Ajarkan pasien kembungkan kedua bibir dengan rapat, kemudian
kembungkan salah satu pipi dengan udara, tahan selama 5 detik dan
kemudian keluarkan. Lakukan secara bergantian pada sisi yang lainnya.
5. Sebelumnya pasien dianjurkan untuk julurkan lidah sejauh mungkin,
kemudian cobalah untuk menyentuh dagu dan coba pula untuk
menyentuh hidung.
6. Pasien dianjurkan untuk mengucapkan huruf "A" dengan keadaan mulut
terbuka.
7. Selanjutnya pasien dianjurkan untuk mengucapkan huruf "I" dengan
keadaan mulut gigi dirapatkan dan bibir dibuka
8. Kemudian pasien dianjurkan untuk mengucapkan huruf "U" dengan
keadaan mulut mencucu ke depan bibir atas dan depan tidak rapat
9. Selanjutnya pasien dianjurkan untuk mengucapkan huruf "E" dengan
keadaan pipi, mulut dan bibir seperti tersenyum.
10. Setelah itu pasien dianjurkan untuk mengucapkan huruf "O" dengan
keadaan mulut dan bibir mencucu ke depan.
11. Kemudian tanyakan respon pasien dan kembalikan pasien ke posisi
semula atau posisi nyaman.
DAFTAR PUSTAKA

Dachrud, M. (2010). Studi Metaanalisis terhadap Intensitas Terapi pada


Pemulihan Bahasa Afasia. Jurnal Psikologi.
http://jurnal.psikologi.ugm.ac.id/index.php/fpsi/article/view/38. Diperoleh 26
Mei 2014

Feigin, Valery. (2006). Panduan Bergambar Tentang Pencegahan dan Pemulihan


Stroke. Jakarta : PT. Bhuana Ilmu Populer.

Irfan, Muhammad. (2010). Fisioterapi Bagi Insan Stroke. Yogyakarta: Graha


Ilmu.

Kirshner, H.S. (2009). Aphasia. Diakses dari http://emedicine.medscape.com.

Price, S.A. & Wilson, L.M. (2006). Pathophysiology clinical concepts of


disease

process, patofisiologi: Konsep klinis prosesproses penyakit(Edisi keenam).


Jakarta: EGC.

Racette, A., Bard, C., & Peretz, I. (2006). Making non‐fluent aphasics speak:
Sing along! Brain, 129, 2571 – 2584

Syaifuddin. (2006). Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta :


EGC.